TINJAUAN TEORI

1. Pengertian Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.

2. Anatomi Fisiologi Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cairan bikonkaf yang tidak berinti yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2 m pada bagian tengah tebalnya 1 m atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam perjalanannya melalui mikrosirkulasi konfigurasinya berubah. Stroma bagian luar yang mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta faktor Rh yang menentukan golongan darah seseorang. Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2 dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intrasellular. Molekulmolekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4 gugus heme, masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna. (Price A Sylvia, 1995, hal : 231)

3. Klasifikasi Anemia Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis. 2.3.1. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi: a. Anemia aplastik Anemia aplastik adalah anemia yang disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan susum tulang).

(Ngastiyah.1997.Hal:359)

1

Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI.2005.Hal:451) Anemia aplastik adalah kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang mengarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentukan darah dalam sumsum.(Sacharin.1996.Hal:412)

Penyebab: · · · · · · agen neoplastik/sitoplastik terapi radiasi antibiotic tertentu obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason benzene infeksi virus (khususnya hepatitis) ↓ Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi) Hambatan humoral/seluler ↓ Gangguan sel induk di sumsum tulang ↓ Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai ↓ Pansitopenia ↓ Anemia aplastik

a) Faktor congenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya.

2

b). Faktor didapat: · Bahan kimia : benzene, insektisida, senyawa As, Au, Pb. · Obat : kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santonin-kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti microbial. · Radiasi : sinar roentgen, radioaktif. · Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain – lain. · Infeksi : tuberculosis milier, hepatitis dan lain – lain. · Keganasan , penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik. (Mansjoer.2005.Hal:494)

Gejala-gejala: · · · Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll) Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat. Morfologis: anemia normositik normokromik

b. Anemia pada penyakit ginjal Gejala-gejala: · · · · Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl Hematokrit turun 20-30% Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopoitin

c. Anemia pada penyakit kronis Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan berbagai keganasan

d. Anemia defisiensi besi

3

kebutuhan meningkat selama hamil. malabsorbsi. makan ikan segar yang terinfeksi. polip. Anemia megaloblastik Penyebab: · · Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat Malnutrisi. menstruasi Gangguan absorbsi (post gastrektomi) Kehilangan darah yang menetap (neoplasma. dll. agen kemoterapeutik. infeksi cacing pita. sakit di sudut mulut Morfologi: anemia mikrositik hipokromik e. penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st gastrektomi) infeksi parasit. gastritis. hemoroid. ↓ 4 . meradang Stomatitis angularis. merah. varises oesophagus.) ↓ gangguan eritropoesis ↓ Absorbsi besi dari usus kurang ↓ sel darah merah sedikit (jumlah kurang) sel darah merah miskin hemoglobin ↓ Anemia defisiensi besi Gejala-gejalanya: · · · · Atropi papilla lidah Lidah pucat.Penyebab: · · · Asupan besi tidak adekuat. penyakit usus dan keganasan. pecandu alkohol.

yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah: · Pengaruh obat-obatan tertentu · Penyakit Hookin. Anemia hemolitika. leukemia limfositik kronik · Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase · Proses autoimun · Reaksi transfusi · Malaria ↓ Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit ↓ Antigesn pada eritrosit berubah ↓ Dianggap benda asing oleh tubuh ↓ sel darah merah dihancurkan oleh limposit ↓ Anemia hemolisis Tanda dan Gejala 5 . mieloma multiple.Sintesis DNA terganggu ↓ Gangguan maturasi inti sel darah merah ↓ Megaloblas (eritroblas yang besar) ↓ Eritrosit immatur dan hipofungsi f. limfosarkoma.

meliputi defisiensi besi. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia). piridoksin. folic acid. hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria). Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker) 4.5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera). hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. letih. kulit dan telapak tangan menjadi pucat. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial. bibir. 6 . Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi. (pada kelainan hemplitik) maka Apabila hemoglobin konsentrasi akan muncul dalam plasma kapasitas (hemoglobinemia). vitamin C dan copper 5. Perdarahan 3. kadar diatas 1. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl. lesu dan lelah Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang Gejala lanjut berupa kelopak mata. Hemolisis (eritrosit mudah pecah) 2. lidah. 4. invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Patofisiologi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi). plasmanya melebihi haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya.   Lemah. pajanan toksik. Etiologi: 1. terutama dalam hati dan limpa.

Manifestasi khusus pada anemia: 7 . hitung retikulosit dalam sirkulasi darah. jantung otot) ↓ beban jantung meningkat ↓ kerja jantung meningkat ↓ payah jantung 6. dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia. bising karotis. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya. Anemia ↓ viskositas darah menurun ↓ resistensi aliran darah perifer ↓ penurunan transport O2 ke jaringan ↓ Hipoksia jaringan (otak. b. Tanda Dan Gejala 1. 2. bising sistolik anorganik. tacicardi. 2. pembesaran jantung. pucat. Tanda-tanda umum anemia: a.Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1. c. d. e. seperti yang terlihat dalam biopsi.

Unsaturated iron-binding capacity serum Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta sumber kehilangan darah kronis 9. takikardi. indek sel darah merah. vitamin B12. hitung trombosit. pucat. pucat. ulserasi oral. tidur meningkat. sering berdebar-debar. Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl). telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl). anak tak tampak sakit. anemis. Kemungkinan Komplikasi Yang Muncul Komplikasi umum akibat anemia adalah:    Gagal jantung.a. b. farink. murmur sistolik. hepatosplenomegali. 7. infeksi bakteri. demam. anoreksia. hematokrit. lelah. ekimosis. Anak tampak lemas. sakit kepala. letargi. waktu protrombin. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional. kadar folat. kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. tampak pucat pada mukosa bibir. Parestisia dan Kejang. 8. Anemia aplastik: ptekie. waktu perdarahan. penelitian sel darah putih. lekas lelah. Anemia aplastik : ikterus. pengukuran kapasitas ikatan besi. epistaksis. Terapi yang Dilakukan Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang: 8 . kadar Fe.   Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Pemeriksaan Khusus dan Penunjang  Kadar Hb. dan waktu tromboplastin parsial. c.telapak tangan dan dasar kuku. iritabilitas. takikardi.

1. 4.  Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi. 9 . Anemia aplastik:   Transplantasi sumsum tulang Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG) 2. dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya. Anemia pada defisiensi besi   Dicari penyebab defisiensi besi Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros. sehingga Hb meningkat. Anemia megaloblastik  Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12.  Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam folat 1 mg/hari. Anemia pada penyakit ginjal   Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat Ketersediaan eritropoetin rekombinan 3. glukonat ferosus dan fumarat ferosus. bila difisiensi disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM. Anemia pada penyakit kronis Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan untuk aneminya. 5. secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi. besi sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah.

Gangguan pada sisten saraf Anemia difisiensi B 12 10 . Mudah lelah Kurangnya kadar oksigen dalam tubuh d. Pengkajian Keperawatan a.ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pusing kepala Pasokan atau aliran darah keotak berkurang e. Nadi cepat Kompensasi dari refleks cardiovascular g. Usia anak: Fe ↓ biasanya pada usia 6-24 bulan b. Pucat  pasca perdarahan  pada difisiensi zat besi  anemia hemolistik  anemia aplastik c. Eliminasi urnie dan kadang-kadang terjadi penurunan produksi urine Penurunan aliran darah keginjal sehingga hormaon renin angiotensin aktif untuk menahan garam dan air sebagai kompensasi untuk memperbaiki perpusi dengan manefestasi penurunan produksi urine h. Napas pendek Rendahnya kadar Hb f.

5 -5.1). Pola makan n. Pika Suatu keadaan yang berkurang karena anak makan zat yang tidakbergizi. perinsipnya : Tergantung berat ringannya anemia Tidak selalu berupa transfusi darah Menghilangkan penyebab dan mengurangi gejala Nilai normal sel darah Jenis sel darah 1. Anak yang memakan sesuatu apa saja yang merupakan bukan makanan seharusnya (PIKA) k. 5 Tahun 4. 8 – 12 Tahun 5 (4. 11 .9 (4.5).1 – 5. Suhu tubuh meningkat Karena dikeluarkanya leokosit dari jaringan iskemik m.i. mual. Gangguan cerna Pada anemia berat sering nyeri timbul nyeri perut.2). Pemeriksaan penunjang .Hematokrit o.7 (4.1 – 7. muntah dan penurunan nafsu makan j.4). rewel atau mudah tersinggung) l.Eritrosit . Iritabel (cengeng. Eritrosit (juta/mikro lt) umur bbl 5.6 (4.Hb . 1 Tahun 4.2 -5. Program terafi.

3. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder leucopenia. 8 – 12 Tahun 260.4 : Tujuan : Kriteria hasil : Intervensi : 12 . 8 – 12 Tahun 40. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Hemotokrit (%0)Bayi baru lahir 54. b.000 4. Intervensi Keperawatan a. Leokosit (per mikro lt) Bayi baru lahir 17. 1 Tahun 12 (11 – 15). Diagnosa Keperawatan a. Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel.000. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. d. Trombosit (per mikro lt)Bayi baru lahir 200.000 (5 – 15). perubahan proses pencernaan. e. penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). 5 Tahun 13. 2. 5 Tahun 8000 (5 – 13).5 (12. 5 Tahun 38. 3.000.5). 5 Tahun 260. 1 Tahun 10. 8 – 12 Tahun 8000 (5-12). 1 Tahun 36. Dx. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal.000.2. Hb (gr/dl)Bayi baru lahir 19 (14 – 24). 8 – 12 Tahun 14 (13 – 15. 1 Tahun 260.000 (8-38).5 – 15). c.

warna kulit/membrane mukosa. Menunjukkan pola defekasi normal d. gemericik menunjukkan CHF karena regangan jantung lama/peningkatan kopensasi urine adekuat 13 . Mempertahankan perfusi jaringan adekuat b.b. 5. Dx. R/ memberikan informasi tentang keadekuatan perfusi tanda vital stabil Membran mukosa untuk pengiriman oksigen / selama 3 x berwarna merah nutrisi ke sel. Mengalami peningkatan toleransi aktivitas e. Evaluasi Keperawatan a. dasar kuku.5 : TujuanKriteria Hasil : Intervensi 4. Implementasi Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang telah dibuat. 24 jam anak muda menunjukkan • perfusi yang kapiler adekuat • Haluaran Pengisian jaringan dan membantu kebutuhan intervensi. Mempertahankan asupan nutrisi adekuat dan berat badan stabil c. Infeksi tidak terjadi NO DX KEPERAWATAN TUJUAN • • KRITERIA HASIL INTERVENSI 1 Perubahan perusi jaringan setelah berhubungan penurunan seluler yang dengan dilakukan komponen tindakan diperlukan keperawatan Tanda- 1) Ukur tanda-tanda vital. 2) Auskultasi bunyi napas. observasi pengisian kapiler. R/ dispnea.

palpitasi. 4) Evaluasi respon verbal melambat. R/ iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko infark. 3) Observasi keluhan nyeri dada. agitasi. pertahankan suhu lingkungan dan tubuh supaya tetap hangat. R/ dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral karena hipoksia 5) Evaluasi keluhan dingin. Kolaborasi 6) Observasi hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap R/ mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons terhadap terapi.curah jantung. R/ vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. 7) Berikan tr ansfusi darah 14 . gangguan memori. bingung.

9) Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi. R/ kalori kekurangan makanan. memperbaiki defisiensi untuk mengurangi resiko perdarahan. mengawasi atau masukan kualitas konsumsi berhubungan kegagalan untuk mencerna keperawatan atau ketidak mampuan 3 x 24 jam / anak mampu yang mempertahan untuk kan berat sel darah badan yang stabil · · Berat badan normal Nilai mencerna absorpsi diperlukan pembentukan makanan nutrisi laboratorium 2) Berikan makanan sedikit dan dalam batas normal : · · Albumin : 4 – 5. Hb : 11 – 16 3) Observasi mual / muntah.8 g/dL frekuensi sering R/ makan sedikit dapat merah (SDM) normal. R/ transplantasi sumsum tulang dilakukan pada kegagalan sumsum tulang/ anemia aplastik. menurunkan kelemahan dan meningkatkan asupan nutrisi. Perubahan nutrisi kurang setelah dari kebutuhan tubuh dilakukan dengan tindakan · Asupan nutrisi adekuat 1) Observasi dan catat masukan makanan anak. R/ memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan.lengkap/packed sesuai indikasi R/ meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen. 15 . 8) Berikan oksigen sesuai indikasi.

R/ meningkatkan napsu makan dan pemasukan oral. R/ mengetahui efektivitas program mengetahui pengobatan. Menurunkan pertumbuhan bakteri.g/dL · · Ht : 31 – 43 % Trombosit 150. meminimalkan infeksi. mulut jaringan kemungkinan Teknik perawatan bila diperlukan rapuh/luak/perdarahan. Trombosit. Kolaborasi 5) Observasi laboratorium Eritrosit. R/ gajala GI menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ. 4) Bantu anak melakukan oral higiene. Ht. gunakan sikat gigi yang halus dan lakukan penyikatan yang lembut.000 400. 16 . 6) Berikan diet halus rendah serat. hindari makanan pedas atau terlalu asam sesuai indikasi.000 µL · Eritrosit : 3.5 x 1012 : – flatus.8 – 5. Albumin. sumber diet pemeriksaan : Hb. nutrisi yang dibutuhkan.

R/ bila ada lesi oral. 3) Hindari makanan yang menghasilkan gas. nyeri membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi anak. Konstipasi berhubungan atau diare setelah dengan dilakukan · Frekuensi defekasi setiap hari · Konsistensi feces lembek. tidak ada 1x 1) Observasi konsistensi. proses keperawatan 3 x 24 jam anak menunjukan perubahan pola defekasi yang normal. dan penurunan masukan diet. R/menurunkan abdomen. usus 2) Auskultasi bunyi usus. mengidentifikasi penyebab / factor pemberat dan lender / darah · Bising dalam normal intervensi yang tepat. distensi Kolaborasi 4) Berikan diet tinggi serat R/ serat menahan enzim pencernaan mengabsorpsi air dan dalam alirannya sepanjang traktus 17 . batas R/ bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi. R/ meningkatkan masukan protein dan kalori. Isocal. jumlah. R/membantu warna frekuensi feces. 7) Berikan suplemen nutrisi mis : ensure. tindakan perubahan pencernaan.

kunang – kunang. · Tanda – tanda vital dalam 1) Ukur tanda – tanda vital setiap 8 jam R/ manifestasi Intoleran berhubungan aktivitas setelah dengan dilakukan ketidakseimbangan antara tindakan suplai (pengiriman) kebutuhan. R/ membantu menetukan intervensi yang tepat. pusing. postur loyo. palpitasi. stimulant ringan. dengan tenang · Anak melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan · Anak tidak menunjukkan tanda – tanda keletihan 3) Bantu anak dalam aktivitas 18 . 6) Berikan obat antidiare mis : difenoxilat hidroklorida dengan atropine (lomotil) dan obat pengabsorpsi air mis Metamucil. R/ menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. oksigen keperawatan dan 3 x 24 jam anak melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. lemas.intestinal. 2) Observasi adanya tanda – tanda keletihan ( takikardia. R/ mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi. batas normal · Anak bermain dan istirahat kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. 5) Berikan pelembek feces. dispnea. laksatif sesuai indikasi. gerakan lambat dan tegang.

Tanda – tanda vital dalam 1) Ukur tanda – tanda vital setiap 8 jam. R/ meningkatkan istirahat. mencegah kebosanan dan menarik diri. R/ mencegah kelelahan. keperawata penurunan (respons tertekan). R/ demam mengindikasikan terjadinya infeksi. 3) Pertahankan teknik aseptik pada setiap prosedur perawatan. R/ mengurangi resiko penularan mikroorganisme kepada anak. 4) Berikan aktivitas bermain pengalihan sesuai toleransi anak.diluar batas toleransi anak. batas 2) Tempatkan anak di ruang isolasi bila memungkinkan dan beri tahu keluarga Resiko berhubungan penurunan daya infeksi setelah dengan dilakukan tahan tindakan · batas normal · Leukosit dalam normal · Keluarga menunjukkan perilaku pencegahan infeksi anak pada tubuh sekunder leucopenia. granulosit 3 x 24 jam inflamasi infek terjadi. R/ mencegah infeksi nosokomial. Kolaborasi 4) Observasi hasil 19 . tidak supaya menggunakan masker saat berkunjung.

pemeriksaan leukosit. R/lekositosis mengidentifikasikan terjadinya infeksi dan leukositopenia mengidentifikasikan penurunan daya tahan tubuh dan beresiko untuk terjadi infeksi 20 .

5 kg. lahir segera menangis 21 . Klien lahir secara SC atas indikasi letak lintang dan dry labour. Klien terlihat pucat. Ibu klien mengeluhkan makan minum sejak I bulan yang lalu klien sulit untuk makan dan minum. berat badan lahir 3. Ibu juga mengatakan dalam mengandung klien ibu tidak mempunyai riwayat komplikasi. tahun dan keluarga datang dengan keluhan panas naik turun sejak 1 bulan yang lalu disertai mimisan . Ibu klien mengatakan klien sering sariawan dengan gusi berdarah. Ibu klien mengatakan klien tidak mempunyai riwayat penyakit kronis atau pun riwayat operasi.TINJAUAN KASUS Klien berusia 4.

lahir segera menangis Riwayat imunisasi Riwayat makanan : lengkap : Susu formula 1 bulan : bubur susu 3x sehari 6 bulan : bubur nasi/tim 3x sehari  Riwayat tumbuh kembang : sesuai dengan umur 22 . ANAMNESA   Keluhan utama Riwayat penyakit sekarang : Panas : Pasien rujukan dari RS DKT dengan keluhan panas naik turun sejak 1 bulan. nyeri (-).5 kg.       Riwayat penyakit dahulu : belum pernah mondok. ANC teratur di labour. mual(+). gusi berdarah dan tampak pucat. kejang (). riwayat trauma (-) Riwayat penyakit keluarga : tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa. BAB dan BAK lancar. berat badan lahir 3. Muntah (-).1.. makan dan minum susah. mimisan (+). IDENTITAS PASIEN Nama Umur Berat badan Tinggi badan Agama Alamat : An. riwayat alergi (-) Riwayat kehamilan bidan Riwayat persalinan : lahir secara SC atas indikasi letak lintang dan dry : tidak pernah ada masalah kehamilan.s : 4 tahun : 19 kg : 97 cm : Islam : Bandung 2. sering sariawan.

T/E baik Ekstremitas : akral agak dingin.6 g/dL 687 x 103/Μl 23 .6 0C : lnn tidak membesar : simetris.6 pg 28. mata cekung (-). RBK -/: supel. lidah kotor (-).7 x 103/μL 4. timpani. bising - Jantung Paru Abdomen : vesikuler. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Vital sign : tampak sedikit anemis : compos mentis : T : 90/60 mmHg N : 132x/menit R : 38x/menit Leher Thorax S : 37.3.47 x 106/μL 7.000/dl 25. CRT 3 detik. retraksi (-) : S1-S2 reguler.0 fL 15. Kepala : mata : CA -/-.9 % 55. nyeri tekan (-).000 mg/dl 13. faring hiperemis (-). bising usus (+).3 g/dL 130. tonsil normal 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Darah rutin: AL AE Hb Tromb Leuko Ht MCV MCH MCHC AT : : : : : : : : : : 17.konjungtiva anemis Hidung : sekret (-). ketinggalan gerak (-). SI -/-.Wheezing -/-. nafas cuping hidung (-) Telinga : sekret (-) Mulut : bibir kering (-). Hepar lien tidak membesar.

Analisa Data Data Masalah Penyebab perfusi penurunan seluler komponen S : ibu klien mengatakan Perubahan klien sering panas sejak 1 jaringan bulan yang lalu Kadang mimisan Sering sariawan dan gusi berdarah O : perdarahan pada gusi Terlihat Pucat CRT : 3 detik N : 125x/m S : 37.3 g/d dan minum dari kebutuhan tubuh untuk mencerna atau ketidak mampuan makanan mencerna S : ibu mengatakan Resiko infeksi penurunan tubuh leucopenia. 24 .3 g/d S : ibu mengatakan klien Perubahan nutrisi kurang kegagalan makan kurang Mual (+) O : klien terlihat lemah Hb : 7.6 C TD : 90/60 mmhg R : 38x/m Hb : 7. granulosit daya tahan Kadang mimisan Sering sariawan dan gusi berdarah Makan dan minum susah O : perdarahan pada gusi Terlihat Pucat sekunder penurunan (respons inflamasi tertekan).5.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal.tranfusi PRC . Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder leucopenia. VS .3 g/d Tromb : 130. 3.CRT : 3 detik N : 125x/m S : 37. Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel.000/dl DIAGNOSA SEMENTARA Observasi Anemia SIKAP .paracetamol syr 3x1 cth bila panas . 2.Konsul ahli gizi 6. penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). Diagnosa dan Intervensi 1.monitor KU.ceftriaxone 2 x 300 mg .6 C TD : 90/60 mmhg R : 38x/m Hb : 7. 25 .000 mg/dl Leuko : 13.

dasar kuku. R/ iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko infark. gangguan memori. bingung. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam anak menunjukkan perfusi yang adekuat Kriteria Hasil : · · · · Tanda-tanda vital stabil Membran mukosa berwarna merah muda Pengisian kapiler Haluaran urine adekuat Intervensi : 1) Ukur tanda-tanda vital. gemericik menunjukkan CHF karena regangan jantung lama/peningkatan kopensasi curah jantung. pertahankan suhu lingkungan dan tubuh supaya tetap hangat. R/ memberikan informasi tentang keadekuatan perfusi jaringan dan membantu kebutuhan intervensi. observasi pengisian kapiler.Dx 1 : Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel. 3) Observasi keluhan nyeri dada. 4) Evaluasi respon verbal melambat. R/ dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral karena hipoksia 5) Evaluasi keluhan dingin. 2) Auskultasi bunyi napas. 26 . R/ dispnea. palpitasi. warna kulit/membrane mukosa. agitasi.

8 g/dL Hb : 11 – 16 g/dL Ht : 31 – 43 % Trombosit : 150.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal. memperbaiki defisiensi untuk mengurangi resiko perdarahan. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak mampu mempertahankan berat badan yang stabil Kriteria hasil : · Asupan nutrisi adekuat · Berat badan normal · Nilai laboratorium dalam batas normal : Albumin : 4 – 5. 9) Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi. Kolaborasi 6) Observasi hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap R/ mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons terhadap terapi. 7) Berikan transfusi darah lengkap/packed sesuai indikasi R/ meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen. R/ transplantasi sumsum tulang dilakukan pada kegagalan sumsum tulang/ anemia aplastik.R/ vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. Dx.000 – 400. 8) Berikan oksigen sesuai indikasi. R/ memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan.000 µL 27 .

Eritrosit : 3. 4) Bantu anak melakukan oral higiene. mengetahui sumber diet nutrisi yang dibutuhkan. 7) Berikan suplemen nutrisi mis : ensure.8 – 5. R/ meningkatkan napsu makan dan pemasukan oral. 2) Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering R/ makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan asupan nutrisi. Kolaborasi 5) Observasi pemeriksaan laboratorium : Hb.5 x 1012 Intervensi : 1) Observasi dan catat masukan makanan anak. R/ bila ada lesi oral. Eritrosit. flatus. nyeri membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi anak. hindari makanan pedas atau terlalu asam sesuai indikasi. 6) Berikan diet halus rendah serat. R/ gajala GI menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ. gunakan sikat gigi yang halus dan lakukan penyikatan yang lembut. 28 . Trombosit. Ht. 3) Observasi mual / muntah. Menurunkan pertumbuhan bakteri. Isocal. Albumin. Teknik perawatan mulut diperlukan bila jaringan rapuh/luak/perdarahan. meminimalkan kemungkinan infeksi. R/ mengetahui efektivitas program pengobatan. R/ mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.

R/ mencegah infeksi nosokomial. penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). Kriteria Hasil : · · · Tanda – tanda vital dalam batas normal Leukosit dalam batas normal Keluarga menunjukkan perilaku pencegahan infeksi pada anak Intervensi 1) Ukur tanda – tanda vital setiap 8 jam. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam infek tidak terjadi. Kolaborasi 4) Observasi hasil pemeriksaan leukosit.R/ meningkatkan masukan protein dan kalori. 2) Tempatkan anak di ruang isolasi bila memungkinkan dan beri tahu keluarga supaya menggunakan masker saat berkunjung. Dx. R/ demam mengindikasikan terjadinya infeksi.3 : Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder leucopenia. R/lekositosis mengidentifikasikan terjadinya infeksi dan leukositopenia mengidentifikasikan penurunan daya tahan tubuh dan beresiko untuk terjadi infeksi 29 . R/ mengurangi resiko penularan mikroorganisme kepada anak. 3) Pertahankan teknik aseptik pada setiap prosedur perawatan.

konjungtiva normal. HB 12 mg/dl A : Masalah teratasi P : hentikan intervens PARAF S : ibu mengatakan mimisan tidak ada.a. O : klien tidak terlihat lemah Klien mulai bermain. sariawan dan gusi berdarah tidak ada. Makan dan minum sudah mau O : perdarahan pada gusi(-) Pucat (-) CRT < 2 detik TTV Normal Hb : 12 g/dl Tromb : 150.000 mg/dl 30 . mimisan (-) TTV normal Hb : 12 mg/dl CRT< 2 detik A : Masalah teratasi P : hentikan intervensi S : ibu klien mengatakan klien dapat makan dan minum Mual (-). O : perdarahan (-) Anemis (-). EVALUASI NO NO DX I EVALUASI S : ibu mengatakan klien tidak panas lagi Tidak ada mimisan Gusi tidak berdarah.

000/dl A : Masalah teratasi P: hentikan intervensi 31 .Leuko : 10.

kedua. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. 1998. Price A Sylvia. Jakarta : EGC Soeparman. Marilynn E. Brunner & Suddarth.DAFTAR PUSTAKA Nursalam. EGC: Jakarta Donges. Sri Utami. Jakarta.Rencana Asuhan Keperawatan. 1995. Rekawati. Jakarta : EBC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Medika Robins. Jakarta : Medika. EGC: Jakarta Ngastiyah. 2001. Buku Ajar Patofisiologi. jilid 1 ed. 1999. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 32 . Dasar-dasar Patologi Penyakit. Ilmu Penyakit Dalam. 2005. . Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. 2005.1997.

33 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful