P. 1
Kapita Selekta Komunikasi-Pendidikan

Kapita Selekta Komunikasi-Pendidikan

|Views: 12|Likes:
Dipublikasikan oleh syulianingrum

More info:

Published by: syulianingrum on Jun 07, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2013

pdf

text

original

Sejumlah putra-putri Indonesia yang berprestasi dan berhasil mengaharumkan nama bangsa Indonesia Anak di bawah umur

terlibat sindikat peredaran uang palsu. Seorang bocah tewas dihabisi oleh temannya sendiri.

Jumlah anak-anak Indonesia yang putus sekolah jauh lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak yang berprestasi.


  

Pembukaan UUD 1945 alenia ke-4
UU No.20 tahun 2003, Pasal 5,6,7,10,11,12 Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Keputusan Presiden No.77 Tahun 2003 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia

  

Biaya sekolah yang mahal Tidak meratanya pendidikan Penyelewengan dana BOS dan BOP

Kualitas sumber daya manusia dan mutu
pendidikan di Indonesia masih rendah

Banyaknya anak-anak usia wajib belajar yang putus
sekolah

Data Anak-anak Putus Sekolah
Data tahun 2009 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa jumlah anak putus sekolah SD rata-rata 600.000 hingga 700.000 siswa per tahun. Jumlah anak putus sekolah SMP rata-rata 150.000 sampai 200.000 orang siswa setiap tahun.


 

Kemiskinan yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi Minimnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan, terutama pada keluarga miskin Kondisi geografis yang menjadi kendala anak-anak bersekolah Alokasi anggaran pendidikan yang tak tepat sasaran dan minim pengawasan

Kurangnya komunikasi persuasif yang dilakukan oleh orang tua sebagai panutan anak-anak.

Penelitian Firdaus (2005) menyebutkan bahwa rendahnya minat orang tua untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke Sekolah Menengah Pertama disebabkan (blog fisip uns): Faktor sosial budaya sebesar 87,3%. Faktor kurangnya biaya pendidikan (ekonomi tidak mampu) diperoleh sebesar 86,0%.  Faktor kurangnya tingkat kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan (faktor orang tua) diperoleh sebesar 59,1%.  Letak geografis sekolah sebesar 50,8%.
 

 

Anak-anak yang putus sekolah dapat mengganggu keamanan Semakin banyaknya jumlah kaum pengangguran dan mereka merupakan tenaga kerja yang tidak terlatih.

Kurang Gencarnya Kampanye atau Sosialisasi Program Peduli Pendidikan dari Pemerintah

Kurangnya sosialisasi Wajib Belajar (Wajar) 9 Tahun Kurangnya sosialisasi tentang pentingnya pendidikan

dari pemerintah

Pendekatan komunikasi antarpesonal (tatap muka)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->