Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN

PRAKTIKUM EKSPERIMEN FISIKA III


(MFS 3581)
PENGUKURAN LOSS TANGEN DIELEKTRIK
(FZP-7)

Disusun Oleh:
Nama/ No Mhs : Erwin Isna Megawati / 11978
Kelompok : Senin -IV
Hari/ Tanggal Praktikum : Senin / 18 April 2011
Rekan Kerja : Aji Wijayanto
Asisten : Reny Eryolamda
Dosen Pembimbing : Kuwat Triyana, Ph.D

LABORATORIUM FISIKA ZAT PADAT
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep penting dalam permasalahan dielektrIk adalah momen dipol listrik
yang merupakan ukuran pengaruh medan listrik pada sepasang muatan listrik
yang besarnya sam tapi berlawanan tanda. Ketika medan listrik diberikan pada
material dielektrik maka fenomena polarisasi muncul. Bahan dielektrik
dipergunakan terutama terkait dengan kemampuanya menyimpan muatan atau
energi elektrostik. Dalam kaitan ini diperkenalkan beberapa kontanta material
dielektrik berkaitan dengan interaksinya dengan medan listrik diantaranya
adalah permitifitas dan susceptibilitas untuk besaran makro dan konstanta
polarisasi untuk skala mikro. Di pihak lain material dielektrik juga sangat luas
dipakai sebagi isolasi tegangan / medan tinggi. Dalam keadaan demikian maka
fungsi utama material adalah untuk menahan medan listrik. Sebagai isolasi
dikenal kekuatan dielektrik / isolasi dan suatu konstanta penting yaitu rugi-rugi
dielektrik. Baik fungsinya sebagai dielektrik maupun sebagai isolasi, material
dielektrk, memegang peranan sangat penting dalam elektroteknik. Komponen-
komponen seperti kapasitor, hingga isolasi pada peralatan listrik, generaor,
peralatan listrik rumah tangga adalah beberapa contoh peran material dalam
kehidupan sehari-hari
Pengukuran loss tangen pada suatu bahan dielektrik dimaksudkan untuk
mengetahui sifat listrik dari bahan yang diukur tersebut. Setiap dielektrik
memiliki tingkat kerapatan fluks elektrostatik dalam suatu bahan bila diberi
potensial listrik. Tetapan dielektrik merupakan perbandingan energi listrik
yang tersimpan pada bahan tersebut jika diberi sebuah potensial, relative
terhadap ruang hampa. Tetapan dielektrik ini berhubungan dengan kemampuan
suatu bahan untuk menyimpan energi dan sifat optik suatu bahan dan juga
dapat menentukan jumlah energy yang hilang atau dissipasi energi yang
berhubungan langsung dengan loss tangen. Dari sinilah dapat kita ketahui sifat
listrik dari bahan yang kita uji tersebut. Karena itu, perlu dilakukannya
eksperimen pengukuran loss tangen dielektrik ini.

B. Tujuan
1. Mengetahui sifat listrik suatu bahan
2. Menentukan nilai rugi tangen suatu bahan dielektrik dan nilai tetapan
dielektriknya


















BAB II
DASAR TEORI

Medan listrik AC merupakan medan yang berosilasi sehingga dapat terjadi
pergeseran antara medan-medan E dan D yang mengakibatkan munculnya
komponen arus yang hilang (Smyt,1955) atau terjadinya disipasi energi. Secara
umum tetapan dielektrik suatu bahan dapat ditulis sebagai

+" (1)
Yang muncul dalam persamaan material dielektrik
=
0
(2)
Dengan ' c adalah bagian real, tetapan dielektrik yang berhubungan dengan
kemampuan bahan untuk menyimpan energi dan sifat optik suatu bahan.
Sedangkan " c adalah bagian imajiner, yang menentukan jumlah energi yang
hilang (dissipasi energi). Jika dianggap bahwa * c tidak bergantung pada waktu
(t) maka pendeferensialan persamaan (2) terhadap waktu memberikan,
dt
d
dt
d
O
E D
c c * = (3)
Sehingga sutitusi persamaan (1) ke persamaan (3) menghasilkan,
E
D
e c c c i i
dt
d
O
) " ' ( + = (4)
Jika dianggap bahwa E dan D adalah medan-medan harmonik. Besarnya
dissipasi ditentukan oleh ungkapan,

2
"
2
1
o O
d
E E
dt
D
e c c = - (5)
Persamaan (5) mengandung tanda negatif, sementara faktor dissipasi harus
bernilai positif sehingga " c harus bernilai negatif. Jadi persamaan (1) dapat ditulis
ulang dalam bentuk,
" ' * c c c i = (6)
Perbedaan tetapan dielektrik pada sejumlah bahan dapat muncul karena
berbedanya karakteristik polarisasi listrik atau melekuler dalam bahan-bahan
tersebut. Dalam bab ini akan dibahas berbagai sumber polarisasi listrik tersebut,
diantaranya polarisasi elektronik dan polarisasi ionik. Akhirnya akan ditinjau pula
sifat penting dari bahan-bahan fotoelektrik keduanya dihubungkan dengan
kemampuan polarisasi ionik (Omar, 1975).
1. Rugi Tangen (Loss Tangent)
Jika suatu bahan dielektrik dipengaruhi oleh medan listrik AC (bolak
balik), maka polarisasi P dan pergeseran D akan bervariasi dengan waktu
secara periodik. Pada umumnya P dan D akan ketinggalan fase relatif terhadap
E.
Jika diambil E dalam bentuk,
t e cos
o
E E = (7)
Maka,
) cos( o e = t
o
D D
(8)
Dengan o adalah sudut fase. Persamaan (6) dapat diubah menjadi,
t t e e sin cos
2 1
D D D + = (9)
Dengan D
1
=D
o
cos o dan D
2
=D
o
cos o , sehingga
o c cos '
o
o
E
D
= (10)
dan
o c sin "
o
o
E
D
= (11)
Perbandingan antara persamaan (10) dan (11) memberikan

'
"
tan
c
c
o = (12)
Persamaan (12) disebut rugi tangen (loss tangent) yang nilainya
berbanding lurus dengan " c . Rugi tangen ini berhbungan langsung dengan
jumlah energi yang terdissipasi atau hilang.

2. Dissipasi Energi
Laju hilangnya energi dalam bahan dapat dihitung sebagai berikut :
Laju arus polarisasi adalah
dt
dP
j = (13)
Laju panas per satuan volum dapat dituliskan sebagi berikut :
E - = j Q (14)
Vektor polarisasi diberikan dalam suku-suku tetapan dielektrik oleh hubungan
{ } ) ( 1 ) ( ) ( t t
r o
E P = e c c (15)
Sehingga substitusi persamaan (6) ke persamaan (15), memberikan
{ } ) ( 1 )" ( )' ( ) ( t i t
r r o
E P = e c e c c (16)
Yang dapat juga ditulis dalam bentuk
) ( ) ( ) ( t e t
i
r o
E P
o
e c c

- = (17)
Dengan } {
2 / 1
2 2
) ( " ) ( ' ) ( * e c e c e c
r r r
+ = dan ) " / ' ( tan
1
c c o

= .
Dengan demikian dari persamaan (13) dan (17) diperoleh rapat arus polarisasi
) ( ) ( ) ( ) ( *
) (
t e t e i j
i
r o
i
r o
E E
t o o
e c ec e c ec

= = (18)
Sehingga subtitusi persamaan (16)ke persamaan (14), akhirnya memberikan
2
0
. ) ( " ) 2 / 1 ( E e ec c
r
Q = (19)
Tampak bahwa laju dissipasi energi seperti yang tertulis pada
persamaan (19) sebanding dengan ) ( " e c
r
. Hal ini semakin menegaskan
anggapan bahwa ) ( " e c
r
atau bagian imjiner dari konstanta dielektrik adalah
bagian yang berhubungan langsung dengan jumlah energi yang hilang atau
terdissipasi.








BAB III
METODE EKSPERIMEN
A. Alat dan Bahan
1. Osiloskop
2. Plat kapasitor dengan rangkaian resistor (33 kilo ohm) dan kapasitor
3. Generator Frekuensi (AFG)
4. Mika
5. Kuarsa
6. Kaca
7. Jangka sorong

B. Tata Laksana
1. Osiloskop dikaliberasikan terlebih dahulu.
2. Alat dirangkai sesuai skema percobaan.
3. Percobaan pertama adalah pengukuran loss tangent dengan tanpa
dielektrik pada plat kapasitor.
4. Frekuensi pada AFG diset pada 100, 200, , 1000 KHz.
5. Tampilan Lissajous pada osiloskop dihitung besar

dan

-nya.
6. Percobaan diulangi untuk bahan mika, kuarsa, dan kaca.












C. Skema Alat


C
V


R
Ground


D. Analisa Data
Grafik hubungan
T
V
V
u
Vs f
y
V
V
T
=
u

Vy





Vx

sin( +)

= 0 + =

sin
Osiloskop
H G V
m/Vr
f=x


=
(

2
)
1/2


= =
(

2
)
1/2



1. Menentukan tetapan dielektrik

+ = " +
R C V
V
C V
I
o
R
o
R
e e
c = = "

AR f V
d V
o T
c t
c
u
) 2 (
"=

\

f
d
AR
V
V
o
T
t c c
u
2 "
=


y m x

persamaan gradien :
d
AR
m
o
t c c 2 "
=

t c
c
2
"
AR
md
o
=

m
AR
d
o
A = A
t c
c
2
"

2. Mencari nilai D (loss tangen dielektrik)
'
" ) (V
tan D
2
1
2 2
T
c
c
o
u
u
=

= =
V
V

=
(

0
2
)
1 2

0

"
'
tan
' "
' ''
" tan
* ' " i
c
c
o
c c
c c
c o
c c c
=
c A
A = A =
c
=


Dimana :
d = jarak antara kedua plat kapasitor (tebal bahan)
A = Luas plat kapasitor
1
4

0
= permitivitas ruang hampa
R = resistansi 22 10
3













BAB IV
HASIL EKSPERIMEN
A. DATA
1. Tabel Data Pengukuran Loss Tangen Tanpa Dielektrik(vacum)


100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0.10
0.20
0.30
0.38
0.40
0.42
0.45
0.40
0.40
0.40
0.18
0.30
0.40
0.45
0.55
0.58
0.60
0.62
0.64
0.64

2. Tabel Data Pengukuran Loss Tangen mika


100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0.20
0.40
0.48
0.62
0.70
0.80
0.82
0.82
0.85
0.85
0.30
0.50
0.62
0.81
0.90
0.99
1.02
1.10
1.18
1.20

3. Pengukuran Loss Tangen Kuarsa


100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0.10
0.30
0.40
0.50
0.60
0.62
0.70
0.75
0.79
0.80
0.28
0.48
0.69
0.89
0.99
1.02
1.10
1.20
1.25
1.30

4. Tabel Data Pengukuran Loss Tangen Kaca


100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0.05
0.25
0.40
0.50
0.59
0.62
0.65
0.70
0.72
0.75
0.4
0.6
0.8
0.9
1.00
1.10
1.15
1.20
1.25
1.30







B. GRAFIK
1. Grafik Pengukuran Loss Tangen Tanpa Dielektrik (

) vs f

2. Grafik Pengukuran Loss Tangen pada Mika (

) vs f



3. Grafik Pengukuran Loss Tangen pada Kuarsa (

) vs f


4. Grafik Pengukuran Loss Tangen pada Kaca (

) vs f











C. HASIL PERHITUNGAN
1. Tanpa dielektrik
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

=
(0.45
2
0.38
2
)
1
2
0.38
= 0,63

Tetapan dielektrik:

" = 0,21 0,13


2. Mika
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

=
(0.99
2
0.80
2
)
1
2
0.80
= 0,73

Tetapan dielektrik:

" = 0,05 0,04


3. Kuarsa
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

=
(1,1
2
0.70
2
)
1
2
0.70
= 1,21

Tetapan dielektrik:

" = 0,87 1,05


4. Kaca
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

=
(1,0
2
0.59
2
)
1
2
0.59
= 1,37

Tetapan dielektrik:

" = 1,74 2,38



BAB V
PEMBAHASAN
Untuk mengamati dan mempelajari sifat dielektrik suatu bahan, maka bahan
tersebut harus diletakkan dalam medan gaya listrik. Medan gaya listrik dicirikan
dengan vektor kekuatan medan listrik (E) dan vektor perpindahan dielektris (D).
Hubungan kedua karakter tersebut adalah
E D c =
dimana adalah konstanta dielektrik bahan. Nilai dari konstanta dielektrik bahan
diberikan dengan hubungan
r
c c c
0
=
dimana
0
adalah konstanta dielektrik suatu vakum, dan
r
, konstanta dielektrik
relatif, yang merupakan karakteristik dari bahan. Pada kasus tegangan bolak-balik
(AC), kekuatan medan berubah secara periodik:
t i
e E E
e
0
=
sedemikian sehingga hubungan antara perpindahan dielektrik dan kekuatan medan
dapat dinyatakan dengan
t i t i i t i
e E e e E e E D
e e o o e
c c c
-
= = =
0 0
) (
0
) (
dimana ) sin (cos o o c c c
o
i e
i
= =
-
, contoh c c c ' ' ' =
-
i . Konstanta dielektrik
kompleks * terdiri atas dua bagian: bagian riil dinamakan konstanta dielektrik
atau permittivity, sementara bagian imajiner dinamakan faktor kehilangan.
Kuosien dari dua bagian tersebut memberikan gradien kehilangan (loss tangent),
c c o ' ' ' = / tan .
Pada eksperimen atau praktikum Pengukuran Tingkat Loss Tangen
dielektrik menggunakan metode perhitungan atau rumus dan menggunakan grafik.
Metode grafik yang digunakan yaitu menggunakan program KaleidaGraph.
Dengan metode grafik ini memiliki kelebihan dan kekurangan.
kelebihanya antara lain adalah
1. lebih mudah untuk dipahami
2. lebih cepat menentukan nilai gradien
3. relative lebih sederhana dari pada metode lain
4. praktikan juga dapat mempunyai gambaran dari data yang telah didapatkan
sedangkan kelemahanya yaitu
1. hanya mencakup baberapa data
2. kekurang akuratan dalam menentukan nilai karena keterbatasan skala
Pada percobaan kali ini kita bertujuan untuk dapat mengetahui sifat listrik
suatu bahan dielektrik dengan mengukur nilai loss tangent dielektrik dan tetapan
dielektriknya. Percobaan dilakukan pada beberapa bahan yang berbeda yaitu
antara lain saat plat tanpa dielektrik, dengan mika, kuarsa dan kaca. Percobaan
pertama dilakukan dengan mengkalibrasi osiloskop kemudian kita mengukur
besar

dan

pada tampilan lissajous osiloskop. Dimana

dan

masing-
masing merupakan besar tegangan pada plat X dan Y pada osiloskop dari plat
kapasitor. Semakin besar frekuensi yang masuk ke plat kapasitor, semakin besar

nya dan untuk

nya semakin besar pula tetapi ada yang nilainya sama. Grafik
yang akan kita analisa merupakan plotting antara frekuensi () dengan

.
Dari grafik didapatkan nilai gradient yang selanjutnya dapat digunakan untuk
menghitung besarnya jumlah energy yang hilang ("). Selanjutnya dapat
ditentukan nilai rugi tangent dielektriknya dan tetapan dielektriknya.
Hasil pengukuran loss tangent tanpa dielektrik adalah 0,63 dengan tetapan
dielektrik 0,21 0,13. Pada mika loss tangennya adalah 0,73 dengan tetapan
dielektriknya 0,05 0,04. Kuarsa dengan loss tangen 1,21 dan tetapan
dielektriknya 0,87 1,05 sedangkan pada kaca loss tangen nya terukur 1,37
dengan besar tetapan dielektriknya 1,74 2,38. Dari hasil pengukuran tersebut
dapat kita analisa bahwa nilai loss tangen dielektik dan tetapan dielektrik beberapa
bahan yang kita ukur beragam menunjukkan sifat listriknya. Semakin besar
tetapan dielektriknya maka semakin besar pula kemampuan bahan tersebut untuk
menyimpan energi listrik yang dilewtkan terhadapnya.
Dari hasil percobaan diperoleh hasil bahwa kaca adalah sifat listriknya yang
paling baik sedangkan mika adalah yang paling buruk. Hasil pengukuran juga
dipengaruhi oleh tebal bahan. Pada eksperimen kali ini kita belum sempat
memvariasikan tebal bahan kaca karena mengingat waktu yang sempit. Tapi
secara analisa jelas bahwa semakin tebal bahan yang kita uji maka sifat listriknya
semakin baik.
Sifat dielektrik merupakan suatu bilangan yang kompleks yang dinyatakan
dalam dua bagian terdiri dari kelompok real dan imaginer, dimana bagian real
adalah tetapan dielektrik dan bagian imaginer adalah faktor kehilangan dielektrik.
Tetapan dielektrik menunjukkan kemampuan bahan untuk menyimpan energi
listrik sedangkan faktor kehilangan dielektrik menunjukkan kemampuan bahan
unluk melepaskan energi yang nilainya selalu positif dan biasanya lebih kecil dari
tetapan dielektrik. Nilai rugi dielektrik yang besar memiliki arti tetapan dielektrik
imajiner besar dan tetapan dielektrik riil kecil. Dalam pemakaiannya kondisi ini
sebaiknya dihindari karena energi yang terdisipasi dalam bentuk panas besar,
sebaliknya energi yang disimpan kecil. Nilai rugi dielektrik yang kecil memiliki
arti tetapan dielektrik imajiner kecil dan tetapan dielektrik riil besar. Dalam
pemakaiannya frekuensi-frekuensi yang menghasilkan keadaan ini dapat dipilih
karena energi yang terdisipasi dalam bentuk panas kecil, sebaliknya energi yang
disimpan besar. Dalam eksperimen kali ini, ada beberapa nilai khususnya pada
vacum dielektrik dan bahan mika yang kurang sesuai dengan teori. Hal ini terjadi
karena data yang diperoleh ada yang konstan. Sehingga didapatkan nilai gradien
negatif. Dan nilai loss tangen lebih besar dari tetapan dielektriknya.





BAB VI
APLIKASI DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KE DEPAN
1. Antena Mikrostrip
Konsep antena Mikrostrip diperkenalkan pada awal tahun 1950an di
USA oleh Deschamps dan di Perancis oleh Gutton dan Baissinot, baru pada
tahun 1970an dengan kedatangan teknologi printed-circuit, beberapa kemajuan
pada area penelitian ini mulai menghasilan perkembangan antena praktis untuk
pertama kalinya. Antena mikrostrip merupakan salah satu jenis antena yang
berbentuk papan tipis dan mampu bekerja pada frekuensi yang sangat tinggi.
Antena mikrostrip dibuat dengan menggunakan sebuah substrat yang
mempunyai tiga buah lapisan struktur dari substrat tersebut. Lapisan-lapisan
pada substrat :Patch, dielektrik, groundplane . Pola-pola dalam lapisan
mikrostrip yang utama biasa disebut patch, yang memiliki bentuk geometris
sederhana, misalkan sirkular, persegi panjang, segitiga atau bentuk lain. Bentuk
paling sederhana dalam peralatan Mikrostrip adalah berupa sisipan dua buah
lapisan konduktif yang saling paralel yang dipisahkan oleh suatu substrat
dielektrik. Konduktor bagian atas adalah potongan metal yang tipis (biasanya
tembaga atau emas), yang merupakan fraksi kecil dari suatu panjang
gelombang. Konduktor bagian bawah adalah bidang pentanahan yang secara
teori bernilai tak-hingga. Keduanya dipisahkan oleh sebuah substrat dielektrik
yang non-magnetik. Konstanta dielektrik dari substrat berkisar dari 1,17
sampai kisaran 25, dengan loss tangent mulai dari 0,0001 sampai 0,004.
Konduktor atas dapat berupa bentuk apapun, bisa persegi-panjang, lingkaran,
segi-tiga, elips, helix, cincin lingkaran, dsb. Untuk mencari dimensi antena
mikrostrip (W dan L), harus diketahui terlebih dahulu parameter bahan yang
akan digunakan yaitu tebal dielektrik (h), konstanta dielektrik(r), tebal
konduktor (t) dan rugi-rugi bahan (rugi-rugi tangensial). Panjang antena
mikrostrip harus disesuaikan, karena apabila terlalu pendek maka bandwidth
akan sempit sedangkan apabila terlalu panjang bandwidth akan menjadi lebih
lebar tetapi efisiensi radiasi akan menjadi kecil. Dengan mengatur lebar dari
antenna mikrostrip (W) impedansi input juga akan berubah. Pendekatan yang
digunakan untuk mencari panjang dan lebar antena mikrostrip dapat
menggunakan persamaan berikut ini, dengan diketahui frekuensi 1,8 GHz.
Substrat FR-4, r = 4.4 ,n= 1.5 mm, dan f = 0.05 m.
2. Pengukuran loss tangen dapat diaplikasikan pada pengaruh kontaminasi
terhadap loss tangen dielektrik dan breakdown minyak transformator. Jika loss
tangent telah didapatkan, selanjutnya baru diuji dengan alat infrared
thermograph tipe Thermo Tracer dan treatment minyak transformator Minyak
transformator merupakan media isolasi dan pendingin pada transformator. Oleh
karena itu kemurnian dari minyak transformator harus selalu diperhatikan.
Salah satu karakteristik material isolasi yang penting adalah faktor daya atau
tangen rugi-rugi dielektrik (loss tangen). Nilainya dapat digunakan sebagai
petunjuk bagaimana kualitas dielektrik tersebut. Karakteristik tangen delta (tan
) merupakan alat yang berharga untuk mengevaluasi dielektrik dan cukup
peka untuk mendeteksi dan menilai kerusakan dielektrik karena telah
dipergunakan dalam waktu yang cukup lama. Pengujian tangen dapat
menentukan apakah zat-zat kontaminan yang ada masih dalam batas yang
diizinkan.
Rugi dielektrik pada tegangan bolak-balik diakibatkan oleh rugi polarisasi dan
rugi konduksi dari ion. Sifat rugi-rugi ini merupakan ukuran kualitas isolasi.
Selain itu nilai-nilai tersebut juga dapat menjelaskan mekanisme fisik yang
terjadi dan dapat membantu pemilihan isolasi yang sesuai untuk penerapan-
penerapan khusus. Penempatan nilai fungsi tangen = f (V) pada tegangan
mula V
e
dapat disimpulkan rugi-rugi ionik tambahan, akan tetapi perubahan
konduktivitas elektrolit yang bergantung pada kuat medan juga menghasilkan
bentuk kurva yang sama. Bentuk tangen = f (V) menunjukkan nilai
temperatur batas dengan rugi konduksi ion melebihi rugi polarisasi ion. Rugi
dielektrik dari suatu isolasi dengan kapasitansi C pada frekuensi jaringan dapat
dihitung dengan menggunakan faktor disipasi.

Skema alat penguji minyak transformator

Untuk menentukan kekuatan dielektrik dan breakdown dari suatu minyak
transformator yang belum dipakai, minyak campuran (minyak transformator
baru ditambah minyak transformator yang sudah dipakai), dan minyak
transformator yang sudah dipakai dapat dilakukan melalui pengujian loss
tangent dielektrik ini.












BAB VII
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan didapatkan:
1. Tanpa dielektrik
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

= 0,63

Tetapan dielektrik:

" = 0,21 0,13


2. Mika
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

= 0,73

Tetapan dielektrik:

" = 0,05 0,04


3. Kuarsa
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

= 1,21

Tetapan dielektrik:

" = 0,87 1,05


4. Kaca
Loss tangen:
=
(

2
)
1
2

= 1,37

Tetapan dielektrik:

" = 1,74 2,38



Loss tangen diaplikasikan untuk mengelompokkan suatu material atau bahan,
apakah merupakan good dielectric (tan d >> 1) atau merupakan good conductor
(tan d <<1)
Nilai rugi dielektrik yang besar memiliki arti tetapan dielektrik imajiner besar
dan tetapan dielektrik riil kecil

















DAFTAR PUSTAKA
Staf Laboratorium Fisika Zat Padat. 2011. Buku Penuntun Praktikum Eksperimen
Fisika III. Laboratorium Fisika Zat Padat. Yogyakarta: Fakultas MIPA
UGM.
http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/baijournal/Harmen_Ranc
ang%20Bangun.pdf
http://www.batan.go.id/ptrkn/file/Epsilon/vol_12_02/4.Edit_teguh.pdf
http://www.fi.itb.ac.id/~rahmat/Kuliah/DevFotonik/INTERAKSI_GELOMBANG
_ELEKTROMAGNETIK_DAN_MATERI.pdf
Edi Suharyadi. 1998. Analisis Tanggap frekuensi dielektrik dalam bahan-bahan
batuan alami dan NaCl. Skripsi S1. Yogyakarta:UGM.
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/16294











LAMPIRAN
1. Tanpa Dielektrik















=

"

0
2




"
=

0
2

=
2,5410
5
1.25 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,25 10
2
)
2
22000 2

= -0,13


"
=

0
2

f(KHz)
sumbu x


Sumbu y
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0.56
0.67
0.75
0.84
0.73
0.73
0.75
0.65
0.63
0.63
=
1.25 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,25 10
2
)
2
22000 2
9.39 10
5

= 0,05

=
(

2
)
1
2

=
(0.45
2
0.38
2
)
1
2
0.38
= 0,63

=
"

=
"

=
0,13
0,63
= 0,21

=
"

=
0.05
0,63
= 0.08

" = 0,21 0,13




2. Dengan bahan mika
f(KHz)
sumbu x


Sumbu y
100
200
300
400
500
600
0.67
0.80
0.77
0.77
0.78
0.80





=

"

0
2




"
=

0
2

=
1,4510
5
1.0 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,8 10
2
)
2
22000 2

= -0,04



"
=

0
2

=
1.0 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,8 10
2
)
2
22000 2
5.17 10
5

= 0,01

=
(

2
)
1
2

=
(0.99
2
0.80
2
)
1
2
0.80
= 0,73

=
"

=
"

=
0,04
0,73
= 0,05

=
"

=
0.01
0,73
= 0.01

" = 0,05 0,04


700
800
900
1000
0.80
0.74
0.72
0.71

3. Dengan bahan kuarsa






=

"

0
2




"
=

0
2

=
1,710
4
1.5 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,25 10
2
)
2
22000 2

= 1,05

"
=

0
2

=
1.5 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,25 10
2
)
2
22000 2
7,64 10
5

f(KHz)
sumbu x


Sumbu y
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0.36
0.63
0.58
0.56
0.61
0.61
0.64
0.63
0.63
0.62
= 0,47

=
(

2
)
1
2

=
(1,1
2
0.70
2
)
1
2
0.70
= 1,21

=
"

=
"

=
1,05
1,21
= 0,87

=
"

=
0.47
1,21
= 0.39

" = 0,87 1,05




4. Dengan bahan kaca
f(KHz)
sumbu x


Sumbu y
100
200
300
400
500
600
700
0.30
0.42
0.50
0.56
0.59
0.56
0.57





=

"

0
2




"
=

0
2

=
3,410
4
1.7 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,25 10
2
)
2
22000 2

= 2,38

"
=

0
2

=
1.7 10
3
8.85 10
12

1
2
(1,25 10
2
)
2
22000 2
1,10 10
4

= 0,76

=
(

2
)
1
2

=
(1,0
2
0.59
2
)
1
2
0.59
= 1,37

=
"

=
"

=
2,38
1,37
= 1,74

=
"

=
0.76
1,37
= 0.55

" = 1,74 2,38



800
900
1000
0.58
0.58
0.58