TEORI GRANULASI

Rezlie Bellatasie 0811013126

1

Granulasi
 Granulasi adalah proses pembesaran

ukuran, dimana partikel kecil dibentuk sedemikian rupa menjadi partikel dengan ukuran lebih besar.

2

Granulasi
 Tujuan utama:
 Memperbaiki laju alir
 Memperbaiki kompresibilitas dari campuran

partikel  Mencegah segregasi

 Granulasi membutuhkan tahapan yang

lebih banyak.

3

Keuntungan granulasi  Meningkatkan laju alir  Densifikasi  Meningkatkan karakteristik kompresibilitas  Distribusi warna yang lebih baik  Pengurangan debu  Mencegah segregasi  Membuat permukaan hidrofobik menjadi lebih hidrofilik 4 .

Kekurangan granulasi  Proses yang lebih kompleks menyebabkan validasi dan kontrol lebih sulit  Membutuhkan waktu. tempat dan peralatan lebih  Stabilitas perlu diperhatikan untuk obat higroskopis dan termolabil  Banyak kehilangan material pada tiap-tiap proses 5 .

Granulasi kering Granulasi basah Granulasi Lain-lain 6 .

Tipe granulasi Proses umum Granulasi basah Metode spesifik Wet massing Fluid bed granulation Spray drying Pan granulation Extrusion and pelltizing Roller compaction slugging Granulasi kering Lain-lain Humidification Prilling Melt pelltization 7 .

Mekanisme ikatan partikel  Adhesi  ikatan antara partikel berbeda  Kohesi  ikatan antara partikel yang sama  Kekuatan ikatan ditentukan oleh:  Ukuran partikel  Struktur granul  Kandungan air  Tegangan permukaan dari cairan 8 .

Mekanisme ikatan untuk aglomerasi  Kekuatan adhesi dan kohesi akibat lapisan     cairan tak bergerak Kekuatan interfacial dan tekanan kapiler pada permukaan cairan yang bebas bergerak Jembatan solid Kekuatan tarikan antara partikel solid Ikatan yang saling mengisi 9 .

 Gaya tarik menarik antar molekul. 10 .Mekanisme Ikatan pada Granulasi Basah  Daya kohesif yang terbentuk pada saat aglomerasi secara garus besar disebabkan karena pembentukan jembatan cair antar partikel padat. Van der Walls dan kekuatan elektrostatik juga memainkan peran walau tidak besar.

 Mekanisme ikatan bergantung pada daya kapiler dan daya interfacial antar partikel.  Seperti dijelaskan oleh Barlow. terdapat 4 istilah:  Pendular  Funicular  Capillary  Droplet 11 .

c. Pendular Funicular Capillary Droplets 12 . b.Mekanisme Ikatan Pada Granulasi Basah a. d.

menjadi bifase (liquid-solid) dimana granul terdapat dalam bentuk capillary dan droplet. 13 ..  Mekanisme aglomerasi merupakan perubahan bertahap dari fase trifase (air-liquid-solid) dimana granul terdapat dalam bentuk pendular dan funicular.Cont.

tanpa ada bantuan dari gaya-gaya lain. 14 . hanya tegangan pada permukaan saja yang menahan agar droplet terjaga bentuknya. Keempat keadaan tersebut menggambarkan keadaan dimana terjadi penambahan liquid .  Pada kondisi droplet. mengakibatkan terjadinya perubahan daya kapiler sampai kondisi droplet tercapai.

cairan benar-benar menutupi sekeliling granul. Funicular. Capillary. Pendular. menghasilkan bagian luar yang terdiri dari cairan dan bagian dalam padatan. 15 . 4. 3.1. tidak ada lagi pori-pori yang kosong. 2. Air membentuk cincin seperti lensa pada ujung titik kontak antar partikel. Partikel ditahan oleh gaya tegangan pada interface solidliquid-air dan tekanan hidrostatik. kadar cairan bertambah dan cincin yang terbentuk semakin besar. kadar cairan masih sedikit. Droplet. kadar cairan bertambah.

6  Funicular : 13. Mekanisme aglomerasi merupakan perubahan dari fase trifase (udara-cairsolid) menjadi bifase (liquid-solid).6 < %MC <100%  Capillary : %MC =100 16 .  Kandungan air / % moisture content per volume:  Pendular : 0< %MC < 13.

permukaan basah. densitas lebih tinggi Sferis.Karakteristik granul pada stage berbeda Tipe agregat Pendular Funicular Capillary Karakteristik Nonsferis. densitas rendah Hampis sferis. densitas tinggi Kneaded capillary Densitas dan konsistensi maksimal 17 . permukaan kering. permukaan kering.

Mekanisme Pembentukan Granul Kapur et al Nukleasi Transisi Pembentukan bola 18 .

partikel yang ditambahkan pada nuklei melalui jembatan pendular . Transisi pembentukan nuklei: . Pembentukan bola pembentukan granul terus menerus membentuk granul sferis.1.2/lebih nuclei yang digabungkan 3. 2. Nukleasi tahap awal granulasi. 19 . partikel berkontak satu sama lain dan saling melekat.

Mekanisme Aglomerasi Sastry & Fuerstenau Pelapisan Penghancuran dan pelapisan koalesensi Transfer abrasi 20 .

21 .1. Koalesensi : 2/lebih granul bergabung untuk membentuk granul yang lebih besar 4. Penghancuran dan Pelapisan : beberapa granul hancur menjdi fragmenyang meneyebar pada granul lain membentuk lapisan pada material yang masih membentuk granul. 2. 3. Pelapisan : campuran serbuk yang ditambahkan pada granulasi menyebar pada granul yang telah terbentuk. Transfer abrasi : material terabrasi karena gesekan menyebar k granul lain dan memperbesar ukurannya. membentuk lapisan permukaan dan memperbesar ukuran granul.

Mekanisme Aglomerasi 22 .

Mekanisme aglomerasi 23 .

24 . para peneliti berusaha untuk menggambarkan gambar teoritis untuk menggambarkan gaya pada aglomerasi. dll. laju disolusi.  Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.Model untuk Menerangkan Kekuatan Aglomerat  Kekuatan ikatan yang terbentuk pada proses aglomerasi akan mempengaruhi sifat produk akhir seperti friabilitas.

Ikatan terdistribusi secara statistik pada tiap bagian fraksi 4. 25 . Terdapat jumlah besar ikatan pada bagian persilangan (stressed cross section).Asumsi Rumpf mengenai daya regangan: 1. Partikel digambarkan sebagai sejumlah besar sferis monodispersi yang terdistribusi secara statistik pada aglomerat. Kekuatan ikatan interpartikel diantara partikel individual equivalen dengan nilai rata-rata aglomerat. 2. 3.

Daya regang menurut Rumpf  Persamaan 1 Dimana: Ts : daya regang D : diameter partikel sferis ε : porositas K: nilai rata-rata kontak antar partikel sferis H : daya regang dari satu ikatan diantara partikel 26 .

 Persamaan 2  Persamaan 3 27 .

a. daya regangan dapat dinyatakan sbb (dianggap bahwa partikel basah pada permukaan): Persamaan 4 Ƴ = tegangan permukaan liquid ɸ = sudut yang terbentuk F = fungsi untuk ɸϬ 28 . Jembatan Liquid Bergerak  Untuk 2 patikel pendular sferis halus.

29 .

daya regang akan mencapai konstan atau berkurang dengan menurunnya kadar cairan dalam granul. Menurut Pietsch dan Carr.  Pietsch menggambarkannya sbb: persamaan 5 persamaan 6 untuk pendular 30 .

31 .

 Persamaan Laplace untuk kondisi capillary persamaan 7 p : tekanan r : radius capillary Ϭ : sudut kontak  Persamaan 8 untuk partikel sferis monodispersi P : tekanan maksimum 32 .

 Persamaan 9 untuk partikel irregular: K : konstanta yang berkaitan dengan permukaan spesifik serbuk (6-8)  Persamaan 10 untuk kondisi funicular s : fraksi saturasi 33 .

Kegagalan terjadi hanya melalui jembatan tsb. Ikatan Antar Partikel  Untuk granul dengan ikatan yang lebih besar (ikatan dengan cairan viskositas tinggi): 1. 34 .B. 2. Padatan yang menjembatani material terdistribusi ke seluruh partikel secara seragam. Memiliki kekuatan regangan yang konstan 3.

Daya regang:  WB/WP : rasio berat dari bonding material     dan partikel ρp : densitas partikel ρB : densitas bonding material ε: porositas massa Ϭ : daya regang bonding material 35 .

Namun hal ini tidak bisa ditentukan dari 36 . kekuatan dari ikatan terdapat pada hubungan yang paling lemah. Kekuatan ikatan bergantung pada:  Kekuatan kohesiv yang diberikan partikel  Kekuatan ikatan interfacial dari bonding material dengan partikel  Kekuatan kohesiv dari bonding material  Kekuatan interfacia dari partikel kedua  Kekuatan kohesiv dari partikel kedua  Menurut Blomquist.

 Rumpf menggunakan persamaan yang menghitung gaya van der Walls pada partikel: Dimana: d : diameter (cm) dari partikel sferis x : jarak antar partikel (cm) 37 . Ketika tidak terdapat kekuatan ikatan antar partikel. maka kekuatan lain yang relatif lebih rendah berkontribusi dalam aglomerasi.

Thank You 38 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful