Anda di halaman 1dari 6

4. Pembahasan 4.1 Latar Belakang 4.2 Landasan Teori 1.

1 Komposisi Wax adalah material termoplastik, berbentuk padat pada suhu kamar tetapi meleleh tanpa mengalami dekomposisi dan membentuk cairan kental pada suhu yang lebih tinggi. Dental wax terdiri dari campuran dari material termoplastik yang dapat dilunakkan dengan pemanasan dan dikeraskan dengan pendinginan. Komponen utama komposisi dental wax adalah natural, dan sintetis. (Applied Dental Material,John F.McCabe,hal 40) Natural wax berasal dari mineral, sayur-sayuran, atau hewan. Sedangkan sintetis wax berasal dari sintesis kimia dari molekul natural wax. Pada dasarnya, sintetis wax lebih homogen dan lebih murni dari natural wax. Pewarnaan juga ditambahkan untuk menambah keestetikan. Beberapa juga terkandung filler yang kompatibel untuk mengontrol ekspansi dan shrinkage dari produk. (Philips` Science of Dental Material,Anusavice,hal 285)

1.2 Tipe Wax Malam kedokteran gigi dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu pattern wax dan processing wax. 1. Pattern wax adalah malam yang digunakan untuk membuat bentukan-bentukan saat restorasi atau aplikasi-aplikasi lain. Syarat material pattern wax : Pattern wax harus tepat sesuai bentuk, ukuran, dan kontur dari aplikasi yang akan dikonstruksi. Tidak ada perubahan dimensi pada pattern wax setelah pembentukan Setelah pembentukan casting mould, wax harus bisa dilepas melalui perebusan, atau pembakaran tanpa meninggalkan residu.( Applied Dental Materials, John McCabe,hal 40) Pattern waxes terdiri dari casting wax, baseplate wax, dan inlay wax. Casting wax Baseplate wax a. Umum : Baseplate wax digunakan terutama untuk membuat oklusi rims dan untuk menahan gigi buatan untuk baseplates selama pembuatan gigi palsu. b. Bahan : Baseplate adalah terutama terdiri dari bees wax, parafin, dan bahan pewarna, yang dicampur bersama, dilemparkan ke dalam blok, dan digulung

menjadi lembaran. Lembarannya berwarna merah atau pink, mempunyai lebar 3 inci dan panjang 6 inci. Baseplate wax relatif keras dan sedikit rapuh pada suhu kamar tetapi menjadi lembut dan lentur ketika dipanaskan. c. Penggunaan : Baseplate wax harus mampu menahan gigi porselen atau akrilik, pada temperatur normal ruangan maupun pada temperatur mulut. d. Jenis : Ada dua jenis baseplate wax yang tercantum dalam katalog Federal Supply,yaitu keras dan menengah. Jenis keras cocok untuk digunakan di iklim hangat tetapi cenderung retak dan mengelupas pada suhu rendah. Jenis media ini cocok untuk digunakan pada suhu rendah tetapi mengalir berlebihan pada suhu tinggi. Inlay wax. a. Umum: Inlay wax digunakan untuk menyiapkan pola. Pola ini direproduksi dalam bahan emas atau lainnya dalam pembuatan inlay, mahkota, dan gigi palsu parsial tetap dan lepasan . b. Bahan : Untuk keberhasilan dalam prosedur ini, wax harus memiliki sifat yang akan memungkinkan adaptasi sangat dekat dengan ukuran gigi akan direparasi, harus memberikan kebebasan dari distorsi, adanya ukiran rinci tanpa mengelupas atau chipping, dan tidak boleh meninggalkan residu berlebihan ketika akan dihapus dari cetakan dengan cara dibakar. Wax harus mengeras pada suhu tubuh tetapi dapat dilunakkan pada suhu cukup rendah agar dapat dimanipulasi dalam keadaan plastik di mulut tanpa cedera pada pulpa atau jaringan mulut. Warnanya harus kontras dengan warna gigi dan jaringan mulut untuk mempermudah pengukiran, wax berwarna gading digunakan untuk menghindari resiko kontaminasi warna ketika porselen atau akrilik restorasi dibangun. Karena pentingnya kualitas tertentu dari lilin, ADA telah mengembangkan spesifikasi tertentu pada. c. Penggunaan : Inlay wax tersedia dalam warna biru, hijau, gading, atau tongkat ungu tua, dalam bentuk preformed untuk gigi palsu parsial, dan dikemas dalam kaleng solid. Keras pada suhu kamar dan patah apabila dibengkokkan. Wax ini tetap keras pada suhu mulut dan dapat diukir baik di dalam atau diluar mulut. Wax ini melunak dengan panas kering atau dengan perendaman dalam air hangat sampai lentur.

Keakuratan dan stabilitas dimensional pattern wax tergantung pada perubahan dimensional yang terjadi saat pengerasan dan pendinginan wax.

2. Processing wax Processing wax terdiri dari boxing, utility, dan sticky wax. - Boxing Wax

Boxing wax digunakan untuk membentuk kotak di sekitar cetakan dari mulut ketika membuat cor (model). Boxing wax membatasi aliran baik plaster of Paris atau batu bahan gypsum buatan. Boxing wax biasanya dikeluarkan dalam bentuk strip merah berukuran lebar 1 1/2 inci , 12 inci, dan tebal 1/8 inci. Boxing wax yang lembut dan lentur pada suhu kamar cukup untuk dibentuk menjadi bentuk yang diinginkan tanpa pemanasan. Untuk pelunakan lebih lanjut, sepotong wax dapat melewati api terbuka.

Utility wax Utility wax digunakan untuk menahan kunci rim dan sebaliknya untuk cetakan adaptasi untuk cetakan individu, untuk membentuk daerah pos-dam pada cetakan, untuk membentuk garis pada cetakan awal dan akhir. Utilitas wax bersifat lunak pada suhu kamar tanpa menggunakan pemanasan. Utilitas wax biasanya dijual dalam bentuk tongkat dan berwarna merah. Terdapat dalam bentuk tali,sehingga terkadang disebut lilin tali.

Sticky wax a. Umum : Sticky wax memiliki banyak kegunaan dalam kegiatan klinik dan laboratorium gigi. Sticky wax menahan pecahan gigi tiruan dan merakit komponen gigi palsu parsial tetap dan gigi palsu untuk perbaikan . b. Bahan : Wax menjadi lengket saat meleleh dan memiliki sifat berpegang pada permukaan dari berbagai bahan. Lilin lengket terdiri dari bees wax, parafin, dan resin. Wax jenis ini biasanya berbentuk tongkat heksagonal dengan berbagai warna, sering oranye atau ungu. Sticky wax rapuh pada suhu kamar dan mengasumsikan konsistensi cairan kental saat dipanaskan.

4.3 Sifat Secara umum wax memiliki sifat-sifat fisis yang seperti temperatur transisi solid-solid, thermal ekspansi dan kontraksi, flow dan tekanan internal sedangkan sifat mekanis seperti tekanan residual dan ductility. 1. Suhu transisi padat-padat Suhu transisi padat-padat ini diperoleh dengan memanaskan malam secara merata hingga masa malam lunak dan merupakan saat yang tepat untuk memanipulasi malam. Keadaan ini disebabkan karena kisis kristal yang stabil (orthombik) berubah menjadi bentuk

heksagonal yang terjadi di bawah titik cair malam. Malam yang tetap kaku pada suhu mulut mempunyai suhu transisi padat-padat di atas suhu 37 C. 2. Ekspansi dan Kontraksi Termis Koefisien ekspansi termis malam lebih tinggi dari bahan kedokteran gigi lainnya. Malam ini berekspansi sebanyak 0,7% dengan kenaikan temperatur 20 C atau berkontraksi sebesar 0.35% bila didinginkan dari 37 C menjadi 25 C. Koefisien ekspansi termal linier rata-rata di atas kisaran temperatur tersebut adalah 350*10-6 per derajat C. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan pada pola atau desain sewaktu didinginkan dari suhu cairnya ke suhu kamar. Ekspansi dan kontraksi sewaktu pemanasan ini dapat menyebabkan hasil yang diperoleh sedikit berbeda dari dimensi ukuran yang sebenarnya. Jumlah perubahan dimensi karena pemanasan dipengaruhi oleh berbagai cara penanganan malam. Jika malam dibiarkan dingin tanpa diberi tekanan, suhu transisi tidak begitu nyata jika malam dipansakann kembali,demikian pula perubahan koefisien linier dari ekspansi termal tidak begitu besar. 3. Aliran (flow) Sifat aliran suatu malam sangat menentukan dalam menghasilkan detil cetakan yang sempurna. Sifat aliran pada setiap malam berbeda-beda sesuai dengan penggunaannya di kedokteran gigi. Sifat aliran malam dan campuran malam meningkat apabila suhu naik sampai di atas suhu transisi padat-padat. 4. Tegangan dalam ( internal stress) Tegangan dalam adalah tegangan yang timbul pada malam yang diakibatkan adanya pemanasan malam yang tidak merata. Malam yang mengalami internal stress akan mengalami distorsi apabila dilakukan pemanasan ulang. Malam mempunya kenduktivitas termal yang rendah, sehingga membuatnya sulit untuk mencapai pemanasan yang merata. Jika malam dicetak atau dibentuk tanpa pemanasan adekuat di atas suhu transisi padat-padat, akan muncul stress pada bahan. Jika setelah itu malam dipanaskan, stress akan terlepas dan menghasilkan distorsi. 5. Melting range (rentang leleh) Wax mungkin mengandung beberapa tipe molekul yang masing-masing molekul tersebut memiliki rentang berat molekul sehingga wax memiliki melting range (rentang leleh) daripada melting point (rentan leleh). 6. Residual stress Perubahan dimensi yang dihasilkan dari pemanasan dari contoh lilin yang dibentuk berdasarkan kompresi atau ketegangan dan dijelaskan dengan contoh malam ketika dilakukan kompresi selama pendinginan,atom dan molekulnya dipaksa lebih dekat

daripada ketika mereka berada pada keadaan tanpa tekanan eksternal. Setelah malam contoh itu mencapai suhu ruangan dan tanpa diberi beban, gerakan molekul-molekul terbatas, dan keterbatasan inilah yang menjadi residual stress pada malam contoh. 7. Ductility Seperti sifat flow, ductility juga meningakat bersamaan dengan meningkatnya suhu pada malam. Secara umum.malam dengan suhu lebur lebih rendah memiliki ductility lebih besar daripada suhu lebur yang tinggi. Ductility pada malam campuran sangat dipengaruhi oleh suhu lebur dari komponen malam. Secara umum, malam campuran yang komponennya memiiki meltig ranges yang lebih luas akan memiliki ductility yang yang lebih besar daripada malam campuran yang memiliki melting range yang lebih sempit(narrows). (Restorative Dental Material,hal 433-435)

DISTORSI Distorsi pada malam kemungkinan menjadi masalah yang dapat terjadi saat pembentukan maupun pelepasan bentukan dari mulut atau die. Distorsi bisa disebabkan karena perubahan suhu, dan relaksasi dari tegangan yang disebabkan oleh kontraksi saat pendinginan, udara yang tersumbat, pencetakan, pengukiran, pelepasan,serta waktu dan suhu penyimpanan. Faktor-faktor yang menyebabkan distorsi antara lain: 1. Thermal Expansion Inlay Wax memiliki ekspansi termal yang lebih tinggi dibanding bahan kedokteran gigi yang lain. Hal ini dapat dilihat dari grafik dibawah ini.

Temperature(oC) Gambar 4.1 Ekspansi termal dari malam inlay (Anusavice, 2003) Keterangan : Pada grafik A menunjukan ekspansi termal ketika malam dibawah tekanan dimana malam mendingin dari keadaan cairan. Grafik B adalah hasil.

(Anusavice, 2003) Cara pengukuran/perhitungan persentase distorsi yang dibentuk yaitu dengan rumus:

Jarak akhir-jarak awal --------------------------Jarak akhir x 100%

2. Internal Stress Wax dimanipulasi tanpa dilakukan pemanasan yang cukup hingga diatas suhu transisi padat-padat sehingga dapat terjadi tekanan yang sangat besar pada material. Tekanan ini disebut dengan internal stress. Stress ini timbul dari kontraksi pada saat pendinginan, udara yang terjebak mengakibatkan perubahan bentuk(distorsi) selama molding serta waktu dan suhu selama penyimpanan. Tekanan yang dilepaskan oleh wax tersebut pada saat didiamkan menimbulkan suatu kontraksi.

3. Elastic memory Saat internal stress sudah terlepas dari dalam malam, suhu malam telah menurun di bawah suhu transisi solid-solid dan bentuk molekul dalam malam akan menjadi stabil kembali dan akan berhenti mengalami distorsi dan kembali mengeras atau cenderung ke bentuk semula sesudah dimanipulasi (elastic memory). Elastic memory yang ditunjukkan terjadi lebih besar selama pengukuran ekspansi termal pada malam yang dibiarkan pada udara bebas daripada malam yang didiamkan dalam air (Anusavice, 2003).