Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

Hak dan Kewajiban Tingkat K-3 dapat tercapai apabila prinsip-prinsip berhubungan dengan hak dan kewajiban pemerintah, pengusaha dan pihak buruh diterapkan secara baik. Secara normatif, hal itu menyangkut : pertama, dari aspek regulasi dan pengawasan mempunyai kerangka perundang-undangan, kebijakan, peraturan-peraturan dan tugas-tugas operasional yang terdefenisikan secara jelas serta otoritas dan kompetensi kelembagaan pengawas yang bertujuan mendukung upaya-upaya pengusaha dan pekerja memperbaiki tingkat K-3.

Kedua, pengusaha yang bertanggung jawab. Managemen perusahaan yang berusaha keras mematuhi semua hukum, peraturan dan kode etik yang relevan dengan K-3, mensosialisasikan, mengidentifikasi potensi bahaya dan pengaruhnya terhadap K-3 memastikan bahwa mereka berusaha mengurangi bahaya (resiko kerja), yang terimplementasikan dalam kebijakan penanggulangan K-3 yang tersistematisir dalam manajemen perusahaan (Manajemen Kesehatan dan Keselamatan kerja).

Ketiga, Semua buruh harus bekerjasama erat dengan pengusaha dan otoritas pengawas regulasi (Depnakertrans) untuk mempromosikan kesehatan dan keselamatan kerja. Para buruh/ pekerja melalui wakil mereka mempunyai hak dan tugas berperan serta dalam semua hal yang terkait dengan K-3. Hal ini mencakup hak untuk memperoleh informasi yang tepat dan menyeluruh dari pengusaha tentang resiko kerja; memperhatikan tindakan dan kelalaian mereka di tempat kerja; memelihara alat kerja dan pelindung kerja; melaporkan bila buruh percaya bahwa pelindung K-3 yang disediakan perusahaan tidak sesuai atau tidak cukup. Atau percaya bahwa pengusaha mereka gagal memenuhi ketentuan hukum, aturan dan prosedur kode praktek K-3 dan membawa masalah ke tingkat pengawas ketenagakerjaan atau badan lain yang berkompeten, serta pekerja mempunyai hak untuk pemeriksaan kesehatan tanpa dipungut biaya dan penanggulangan apabila oleh kondisi tertentu dalam kerja menyebabkan gangguan kesehatan dan atau kecelakaan kerja.

Bentuk Kecelakaan Kerja Hasil studi ini menunjukkan bahwa kecelakaan kerja diperkebunan terkait dengan bentuk operasi kerja di perkebunan mulai dari proses replanting, penanaman, pemeliharaan tanaman sampai proses produksi. Temuan penting menunjukkan bidang kerja yang paling rentan terhadap resiko kecelakaan adalah buruh bagian pemanen, bagian penyemprotan hama dan pemupukan.

Bentuk kecelakaan kerja di perkebunan, khususnya perkebunan sawit dan karet adalah tertimpa pelepah dan buah, mata terkena kotoran dan tatal (getah) bagi buruh bagian panen dan pembersihan lahan.Terkena tetesan gromoxone, roun-dup dan terhirup racun pestisida, fungisida dan insektisida terutama pekerjaan yang berhubungan dengan penyemprotan.

Bentuk kecelakaan kerja tersebut berdampak pada resiko cacad anggota tubuh seperti mata buta bagi pemanen buah sawit dan penderes karet, cacad kelahiran terutama bagi wanita penyemprot, bahkan menumui ajal ketika tertimpa tandan buah sawit (TBS).

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

Kerakteristik penyebab umum kecelakaan antara lain tempat kerja (ancak) yang tidak rata (berbukit), pohon sawit/karet yang bengkok, pohon karet/sawit yang relatif tinggi, bersemak lebat, ancak berlobang dapat dikategorikan lingkungan kerja yang tidak aman dalam arti resiko tinggi terhadap kecelakaan.

Penyebab terperinci, berdasarkan analisis kronologis diakibatkan oleh kelalaian buruh, kekurang terampilan, alat kerja serta pelindung kerja yang tidak cukup dan mandor pengawas tidak punya standart operasi pengawasan, serta tidak ada pengawasan sewaktu buruh bekerja dapat dikategorikan perilaku yang tidak aman. Penyebab pokok adalah perusahaan mengabaikan tanggung jawab K-3;tidak mensosialisasikan keselamatan kerja kepada buruh menyebabkan rendahnya kesadaran buruh atas keselamatan kerja, tidak pernah melatih pekerja terampil manjaga keselamatan kerja, upah yang rendah, pekerja memacu kerja demi premi sehingga mengabaikan aspek keselamatan kerja, serta target kerja (beban kerja) tinggi tidak diimbangi oleh pola makan (gizi) yang cukup.

Fakta dilapangan dari 6 perkebunan besar disumatera utara, ditemukan 47 kasus kecelakaan terindentifikasi selama 4 bulan terakhir (Jan sampai April 2008). 47 kasus tersebut, 32 (68,08%) korban diantaranya dikategorikan kecelakaan ringan seperti tertusuk duri sawit,

ketimpa pelepah, gigitan serangga berbisa dan keseleo akibat jalan licin. 11 (23,40%) cacat

kebanyakan cacat mata (mengecil, mengalami rabun bahkan buta)

yang sudah terkontaminasi dengan zat kimiawi, kotoran berondolan sawit dan tertimpa tandan buah segar, tubuh terkena bahan (TBS) kimiawi beracun akibat tingginya interaksi pada saat

penyemprotan

kena tatal (getah karet)

dan 2 orang buruh (4,25) jiwanya melayang, 1 orang kena sengatan listrik dan

1 orang lagi tertimpa tandan buah segar waktu memanen.

Analisis Kronologis Kasus Yuswardi : Minimnya alat Pelindung Kerja Yuswardi (45 tahun) salah seorang buruh tetap (SKU) sudah bekerja 12

di PTPN II tepatnya di

estate Sawit Seberang tetapi bidang kerjanya berpindah-pindah. Awalnya pembabat, kemudian serabutan dan 3 bulan terakhir di bidang pemanenan. Sekitar bulan pebruari 2008, seperti

biasa Ia berangkat kerja dengan perlengkapan kerja dodos, angklong. Perlengkapan pelidung kerja hanya sepatu boot tanpa menggunakan pelindung tangan (kaos), pelindung mata (kacamata) dan pelindung kepala (helm). Tinggi pohon sawit yang akan di panen masih 2 meter, tetapi ancaknya miring (tidak rata) dan pohon sawit bengkok (tidak lurus) sehingga menyulitkan proses memanen. Pengakuanya ia belum biasa memanen di ancak yang demikian. Tepatnya sekitar tengah hari ia mengalami kecelakaan kerja, ketika saat mendodos tandan

buah segar (TBS) berat komedil sekitar 15-20 kg jatuh ke batang pohon lalu

kemudian berguling dengan cepat sehingga tidak sempat menghindar akhirnya menimpa mata kaki dan pengelangan kakinya. Ia menganggap kecelakaan biasa sehingga tidak dilaporkan ke

perusahaan. Selang 1 hari kakinya mulai bengkak, tapi masih memaksakan diri pergi kerja dan

setelah pulang kerja

untuk sembuh sehingga ia bingung. Atas saran temanya sesama buruh agar ia cepat melapor ke mandor atau asisten kebun. Ia pun menuruti saran temanya dan melapor ke mandor untuk

ketanah

kemudian ia pergi ke tukang urut. Tapi esok harinya tidak ada gejala

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

diperiksa di klinik. Sampai di klinik setelah diperiksa perawat, kemudian disarankan ke rumah sakit rujukan. Setelah diperiksa Dokter ternyata pergelangan kakinya retak dan harus diopname selama 2 minggu. (Hasil investigasi CO KPS, 24 pebruari 2008)

Kasus yang dialami Yuswardi salah satu kasus kecelakaan kerja yang penyebabnya antara lain tempat kerja (ancak) yang miring dan pohon sawit yang bengkok. Kondisi lingkungan kerja tersebut dapat dikategorikan lingkungan kerja yang tidak aman atau paling tidak, lingkungan kerja yang mempunyai resiko tinggi terhadap kecelakaan, dimana semestinya pihak perusahaan (mandor) turut juga mengawasi buruh bekerja terutama buruh yang belum berpengalaman menghadapi resiko yang demikian.

Selain itu, yang menjadi penyebab pokok adalah tidak memberikan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja kepada buruh, sehingga pengetahuan dan kesadaran buruh tentang keselamatan kerja terutama kewaspadaan menghadapi pekerjaan beresiko tinggi termasuk juga kesadaran mengkategorikan kecelakaan kerja. Yuswardi baru tiga bulan terakhir bekerja sebagai pemanen belum cukup berpengalaman bekerja pada tempat kerja yang beresiko tinggi serta ia tidak langsung melapor dan mengobati kakinya yang tertimpa buah sawit adalah suatu bentuk perilaku kerja yang tidak aman bagi keselamatan dan kesehatan kerja.

Sedangkan penyebab terperinci sesuai dengan kronologis kejadian adalah tertimpa buah sawit yang diakibatkan oleh kelalaian atau kekurang hati-hatian Yuswardi. Tetapi kasus tersebut tidak semata-mata kesalahan buruh. Seperti diungkapkan dalam kronologis kejadian Yuswardi baru 3 bulan terakhir bekerja di bidang pemanen, masih belum berpengalaman terutama menghadapi keadaan yang beresiko tinggi. Yuswardi belajar proses memanen hanya berdasarkan naluriah dan berlangsung secara alamiah.

Dalam kasus ini dapat juga dilihat bahwa penyebab pokok adalah bahwa perusahaan mengabaikan pentingnya pelatihan keselamatan kerja dan tidak menyediakan informasi yang cukup berkaitan dengan kegiatan kerja yang beresiko tinggi seperti lahan yang tidak rata (miring) dan pohon sawit yang bengkok. Pengetahuan serta kesadaran buruh yang rendah tentang aspek keselamatan kerja dan tidak mempunyai standar operasi pengawasan pada lingkungan kerja yang beresiko. Atau dengan kata lain perusahaan tidak mempunyai perencanaan kerja yang terperinci di bagian pemanenan terutama dalam menghadapi keadaan yang beresiko tinggi.

Alat Pelindung Kerja (Kaca Mata) Tidak Standar

Saman (38 tahun) salah seorang buruh tetap (SKU), sudah 10 tahun kerja bagian panen karet (penderes) di PT Bakrey Sumatra Plantation (BSP) di daerah Asahan tepatnya diestate Aek

Slabat. Sebagaimana

etrel, mangkok, tangga dan keranjang lateks. Selain itu juga membawa peralatan pelindung sepatu, baju penutup dan kacamata. Kecelakaan kerja yang menimpa Saman terjadi tanggal 2 maret 2008. Waktu kerja gerimis lalu menyiapkan peralatan kerja dan pelindung kerja secara lengkap dan tangga untuk menaiki pohon karet yang sudah tinggi. Tetapi entah kenapa waktu itu mata sebelah kanan gatal dan ia pun menggaruknya. Hal ini menyebabkan matanya

biasanya pergi bekerja tidak lupa membawa peratalatan kerja pisau

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

semakin perih dan berair. Karena merasa kesakitan ia pun melapor ke mandor selanjutnya dibawa ke klinik. Saman diperiksa oleh perawat dan dibersihkan dengan air dingin. Merasa tidak sanggup mengobati, lalu perawat merujuk ke rumah sakit Kartini. Di rumah sakit sekitar seminggu diopname, tetapi sayang mata kanannya sudah terlanjur rusak berdampak pada cacat permanen atau kebutaan pada mata sebelah kanan. (Hasil Investigasi CO KPS, 21 Maret

2008)

Kasus Saman di atas merupakan kasus menarik karena pengakuannya ia bekerja mengikuti proses kerja dan melengkapi diri dengan peralatan dan pelindung kerja secara lengkap (perilaku yang aman).

Tetapi ia bekerja pada saat gerimis sehingga kemungkinan besar racun yang berasal dari getah atau bahan kimia lain bisa jadi bercampur dengan hujan gerimis merembes ke daerah mata kanan sementara kaca mata yang dipakai tidak mampu melindunginya (lingkungan yang tidak aman).

Dengan demikian Saman akhirnya menyadari bahwa walaupun sudah pakai kaca mata bukan jaminan buruh penderes tidak kena tatal, kecuali kaca mata seperti yang dipakai oleh perenang yang melekat ke wajah sehingga tidak ada ruang terbuka, maka tidak mungkin terkena tatal.

Dari pengalaman tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penyebab terperinci adalah getah, kotoran atau bahan kimia lainya kena di dalam mata Saman. Sedangkan penyebab pokok adalah karena pihak managemen tidak menyediakan peralatan pelindung kerja yang aman (alat pelindung kerja yang tak cukup memadai).

Perusahaan lalai tentang pentingnya keselamatan kerja dengan tidak menyediakan peralatan pelindung kerja (kaca mata) yang standar sehingga terhindar dari kena tatal. Perusahan mengabaikan pentingnya pelatihan keselamatan kerja dan tidak menyediakan informasi yang cukup berkaitan dengan kegiatan kerja yang beresiko tinggi, dan mengabaikan pentingnya pengetahuan serta kesadaran buruh tentang aspek keselamatan kerja.

Supriati :

Melahirkan Anak

7,5

ons

Adalah

Serdang Bedagai. Kurang lebih 8 tahun ia telah melakoni pekerjaan sebagai penyemprot tanpa

ada rotasi kerja. Awalnya Supriati mengatakan di bagian pundak juga mengalami gatal dan luka

karena tetesan dari racun yang di angkat di punggungnya. kemudian gugur rambut,

kabur diakibatkan terkena racun pada saat menyemprot. Supriati mengaku, kini matanya kabur dan hanya memiliki jarak pandang sampai 2 (dua) meter. Dan sekarang dia harus menggunakan kacamata. Kalau dulu pandangan jelas, sekarang kalau pergi harus menggunakan kaca mata. Kadang kalau mata sakit, dipake juga bekerja. Supriati juga menjelaskan kalau mata di sebelah kiri sudah mencapai minus 3, sedangkan mata sebelah kanan mencapai minus 4. Supriati juga mengaku akibat meracun, dia tidak teridentifikasi sudah hamil 6 bulan. Sehingga pada saat hamil dia menyemprot terus, pada saat melahirkan anaknya hanya seberat 7,5 ons (tidak sampai 1 kilo). Pernah dia mencek kehamilan ke dokter kebun,

Supriati (45 tahun), mulai masuk kerja sejak tahun 1999 di PT Socfindo Mata Pao

mata

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

pihak rumah sakit mengatakan dia tidak hamil, hanya sakit biasa saja, sampai di cek ke rumah sakit medan (Elisabeth) tetap dikatakan tidak hamil. Katanya tidak apa2, sampai ke rumah sakit Gleneagles, dikatakan hanya sakit, setelah itu pulang ke rumah periksa dukun kampung, baru dikatakan hamil, sehingga saya berhenti bekerja semprot. Dahulu mereka masih diberikan susu sebanyak 1 kaleng dalam setengah bulan, kalau sekarang sudah tidak dapat susu, sekarang yang didapatkan adalah baju dan sepatu, baju diberikan 1 kali dalam 3 bulan sedangkan sepatu 1 kali dalam 6 bulan. Sementara alat seperti sarung tangan tidak diberikan. Masker juga tidak diberikan, sehabis bekerja supriati merasakan mulutnya pahit, tetapi dia mengatasi dengan meminum teh manis. Masker dan kaca mata tidak dikasih. Sementara alat seperti sarung tangan tidak diberikan. Masker dan kaca mata tidak dikasih. Pernah mereka meminta masker dan kaca mata dengan cara berontak, tetapi yang diberikan hanya masker yang tipis, sedangkan kacamata tidak diberikan. Masker yang diberikan hanya masker yang tipis dan tembus. (Hasil Investigasi CO KPS, Maret 2008)

Kasus yang menimpa Supriati, menggambarkan betapa buruknya sistem perlindungan keselamatan kerja dengan membiarkan praktek kerja yang tidak aman. Pada hal Supriati dan buruh penyemrot lainya sangat sering berinteraksi dengan bahan-bahan kimiawi yang berbahaya, antara lain racun gromokson, roundrup yang semestinya dalam menyemprot harus memenuhi syarat ketentuan proses kerja yang aman antara lain alat pelindung kerja seperi sarung tangan, masker, kaca mata serta pakaian pelindung yang cukup atau memenuhi standar menutupi bagian tubuh sehingga meminimalkan terjadinya resiko kecelakaan.

Selain itu, tidak adanya rotasi kerja dengan tujuan mengurangi frekwensi interaksi dengan bahan kimiawi. Supriati mengaku bekerja sebagai penyemprot semala 8 tahun tanpa adanya rotasi, kemudian diperburuk oleh makanan tambahan atau puding (gizi) yang tidak cukup menangkal penyakit. Dampak yang muncul adalah gejala keracunan bahkan mengancam bayi yang ada dalam kandugannya.

Pada saat pertama bekerja mereka bekerja menggunakan semprot micron, semprot yang menggunakan baterai tanpa dipompa.mereka dalam satu hari menyemprot sebanyak 8 (delapan) jirigen berisi 5 (lima ) liter dalam satu hari. Tetapi sekarang sudah mencapai 30 jirigen dalam satu hari, biasanya kami bekerja sampai jam 2 (dua) setiap hari. Kami menyemprot memutas sekeliling sawit, kena penyakit mata secara perlahan, semakin sering menyemprot mata semakin kabur, dan sering pening sesudah menyemprot.

Supriati mengatakan sekarang matanya kabur dan hanya memiliki jarak pandang sampai 2 (dua) meter. Dan sekarang dia harus menggunakan kacamata. Kalau dulu pandangan jelas, sekarang kalau pergi harus menggunakan kaca mata. Kadang kalau mata sakit, dipake juga bekerja. Supriati juga menjelaskan kalau mata di sebelah kiri sudah mencapai minus 3, sedangkan mata sebelah kanan mencapai minus 4. pada saat menyemprot sering merasakan dada sesak, dahulu mereka masih diberikan susu sebanyak 1 kaleng dalam setengah bulan, kalau sekarang sudah tidak dapat susu, sekarang yang didapatkan adalah baju dan sepatu, baju diberikan 1 kali dalam 3 bulan sedangkan sepatu 1 kali dalam 6 bulan. Sementara alat seperti sarung tangan tidak diberikan. Masker juga tidak diberikan, sehabis bekerja supriati merasakan mulutnya pahit, tetapi dia mengatasi dengan meminum teh manis. Masker dan kaca mata tidak dikasih.

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

Pernah mereka meminta masker dan kaca mata dengan cara berontak, tetapi yang diberikan hanya masker yang tipis, sedangkan kacamata tidak diberikan. Masker yang diberikan hanya masker yang tipis dan tembus.

Supriati mengatakan di bagian pundak juga mengalami gatal dan luka karena tetesan dari racun yang di angkat di punggungnya, kami peracun menunjukkan langsung keadaanya.

Supriati juga mengatakan akibat meracun, dia tidak teridentifikasi sudah hamil 6 bulan. Sehingga pada saat hamil dia menyemprot terus, pada saat melahirkan anaknya hanya seberat 7,5 ons (tidak sampai 1 kilo). Pernah dia mencek kehamilan ke dokter kebun, pihak rumah sakit mengatakan dia tidak hamil, hanya sakit biasa saja, sampai di cek ke rumah sakit Medan (Elisabeth) tetap dikatakan tidak hamil. Katanya tidak apa2, sampai ke rumah sakit Gleneagles, dikatakan hanya sakit, setelah itu pulang ke rumah periksa dukun kampung, baru dikatakan hamil, sehingga saya berhenti bekerja semprot.

Supriati mengatakan kalau menymprot dengan cara micron sebanyak 4 orang satu mandoran, dengan luas yang disemprot sebanyak 4 ha, kami mengerjakan sampai jam 2, kalau mau cari premi harus menyemprot sebanyak 8 ha, dengan premi 4 ribu untuk setiap ha.

Pada saat menyemprot supriati mengatakan tidak ada instruksi dari mandor tentang keselamatan mereka, tetapi lebih menekankan instruksi agar pada saat melakukan semprotan tidak merusak tanaman. Kalau kerja kami diminta hati-hati tetapi perlengkapan tidak disesuaikan. Pernah kami melakukan protes kepada mandor, mendor menjawab, kalau mau masih makan gaji jangan melawan

Dia mengatakan sampai sekarang masih sering matanya gatal dan berair, tetapi kalau meminta obat mata ke klinik sering dimarahi bidan dan mandor nya. Sehingga kami lebih sering memilih membeli sendiri.

Untuk mencegah kecelakaan kerja seharusnya pihak perkebunan memberikan pendidikan dan latihan kerja tentang bahaya, resiko dan dampak zat-zat kimia yang digunakan, melakukan pemerikasaan kesehatan berkala kepada dokter ahli, dan merotasi buruh yang bekerja di bagian yang berhubungan dengan bahan kimia yang berbahaya.

Hal ini mengakibatkan banyak buruh kebun belum mengerti K-3 termasuk hak dan kewajiban perusahaan perkebunan, pemerintah baik dalam bentuk pengetahuan dan kaitannya dengan operasi kerja mereka. Pada hal K-3 berfungsi untuk melindungi dan menjaga diri buruh tersebut agar terhindar dari kecelakaan kerja yang merugikan mereka. Pemberiaan alat kerja dan pelindung kerja yang tidak cukup dan tidak memenuhi standart keselamatan kerja. Sebagai contoh, kaca mata yang diberikan perusahaan tidak menutup keseluruhan permukaan mata, dan jika digunakan mudah terkena embun menyebabkan penglihatan kabur sehingga menganggu proses kerja. Alasan itu sering kali digunakan buruh untuk tidak menggunakan kaca mata saat bekerja.

Akibatnya rata-rata buruh tidak menggunakan karena mengganggu proses kerja sementara target-target yang tinggi juga menjadi salah satu pertimbangan buruh untuk menggunakannya.

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

Sementara upah rendah yang diterima buruh seringkali menjadi kendala menyebabkan mereka bekerja tidak memperdulikan aspek keselamatan kerja. Banyak buruh perkebunan bekerja tanpa memiliki alat kerja dan pelindung kerja yang memadai.

Dari sisi ekonomi, buruh tidak mampu menyediakan alat dan pelindung kerja karena upah rendah, membeli makanan bergizi untuk mengganti sel-sel tubuh mereka yang keracunan karena upah yang mereka terima sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan minimum setiap hari. Oleh karena itu, buruh kebun akan bekerja sebanyak mungkin dengan melibatkan seluruh anggota keluarga hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan makan dengan kualitas yang memprihatinkan, sementara beban kerja memerlukan energi yang tinggi tidak sebanding dengan kualitas makanan yang dikonsumsi setiap

Supardi, Pelepah Membawa Maut Tak sedikitpun terbesit di benak Kadijah , senin pertengahan Mei 2007 kehilangan

Supardi

suami tercinta. Seperti biasa pasangan suami istri ini berangkat menuju tempat kerja (ancak). Supardi (52 tahun) adalah salah seorang buruh bekerja lebih dari 25 tahun di perkebunan PT Lonsum Tbk wilayah Langkat tepatnya di divisi Turangi Estate. Pagi itu Supardi masih

mengkayuh sepeda dan istrinya duduk dibelakang sembari memegang kereta

di ancak suami istri bekerja sebagaimana biasanya. Mentari semakin naik, waktunya wolon

(makan siang). Pasangan ini pun siap menyantap makanan yang telah disiapkan dari rumah. 30 menit mereka istirahat kemudian Supardi melanjutkan pekerjaanya mengegrek sawit dengan

ketinggian pohon sekitar 15-20

perusahaan serta premi yang diharapkan apabila melampaui target. Sementara istri membereskan sisa makanan. Tiba-tiba Kadijah dikejutkan dengan suara minta tolong. Ia pun terjaga dan mendekati suaminya. Ternyata suaminya telah terkapar tepat disebelahnya pelepah sawit. Kemudian dengan bantuan buruh lainya korban dibawa ke klinik kebun. Supardi tak bergerak, tiada lumuran darah. Namun setelah perawat membuka bajunya ternyata di dada

kirinya berbentuk diagonal luka dalam. Supardi tak tertolong ternyata ia telah meninggal dunia.

sorong. Sampai

meter, agar dapat mengejar target sesuai dengan ketentuan

(Hasil investigasi

CO KPS, 28 September 2007)

Kasus ketimpa pelepah membawa maut ! suatu kasus ganjil karena selama ini diperkebunan kasus yang sampai mencabut nyawa adalah ketimpa buah sawit ke bagian kepala buruh, kasus tersengat arus listrik pembatas perkebunan. Tapi itulah realitasnya, kasus yang dialami Supardi. Demi mengejar target dan premi Supardi bekerja walaupun dalam keadaan kondisi kesehatan yang tidak bagus dan alat pelindung kerja yang minim. Keselamatan dirinya, diabaikan karena kebutuhan mendesak yaitu premi untuk biaya sekolah anaknya setingkat SMA di Medan.

Dari kasus ini tampak betapa buruknya pengawasan terhadap buruh yang bekerja. Mandor misalnya yang bertanggung jawab dilapangan tidak pernah peduli tentang keadaan buruh, bagi mereka pengawasan hanya dalam konteks bagaimana buruh bekerja dengan cepat sesuai dengan target-target perusahaan.

Sementara perusahaan gagal membuat sistem pengaturan pengawasan dan pengaturan

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

target-target kerja sesuai dengan produktivitas rata-rata dengan mempertimbangkan usia.

Penetapan basis borong secara sepihak oleh perusahaan berdasarkan standart potensi kerja rata-rata manusia, tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi kemampuan sehubungan dengan penurunan kemampuan oleh karena faktor usia misalnya menjelang usia pensiun (45 tahun ke atas) turut juga mempengaruhi dampak dari kecelakaan kerja. Kasus pada buruh tertimpa pelepah hingga menemui ajal adalah salah satu contoh bagaimana tingkat kerentanan usia buruh pada tingkat keparahan (Severity Rate) kecelakaan kerja.

Misnan : buruknya pelayanan bagi buruh yang mengalami kecelakaan kerja.

Misnan (57 tahun)

perkebunan socfindo mata pao, sekarang dia tinggal di kampung Liberia. Umur misnan sudah 57 tahun, dia mengatakan seandainya tidak curi Umur dia sudah pensiun sekarang, tetapi karena dia mencuri umur ( mengurangi umurnya ) pada saat masuk kerja, dia seharusnya sudah pensiun. Dia mengatakan sudah sangat kepingin pensiun dan sudah berencana tinggal di pantai ketika pensiun nantinya, disampin bekerja sebagai buruh kebun dia juga bekerja sebagai nelayan, setiap pulang kerja, dia sempatkan melaut untuk menangkap ikan, hasil tangkapannya langsung di jual ke orang yang membeli di pantai, jika berlebih dia akan menjual ke tetangga di sekitar rumahnya. Misnan pernah mengalami terkilir pada saat terjatuh, pada saat itu dia menyotong hasil buah panen dengan beko. dia harus melewati jembatan yang hanya satu batang kayu, dia tergelincir dan jatuh ke dalam paret sawit, pada saat itu badannya terkilir. Setelah kejadian dia melapor ke klinik, dia hanya disuruh beristirahat. Karena hanya disuruh beristirahat dan tidak pernah diobati, dia pun pergi berobag ke tukang kusuk dengan biaya sendiri.

buruh di bagian pemanen yang sudah bekerja selama 23 tahun di

Kisah yang dialami Misnan menggambarkan betapa buruknya pelayanan bagi buruh yang mengalami kecelakaan kerja.

Misnan mengatakan kalau bekerja sebagai pemanen, sering mengalami kecelakaan kerja, seperti tertimpa buah, tertimpa pelepah. Kalau tertimpa pelepah sudah sering, badan luka dan kepala berdarah, paling diobati sendiri. Pernah ada temannya yang meninggal karena tertimpa buah, pas memanen buah, dia mengelak, dia menghindar, rupanya buah memantul ke dahan dan jatuh menimpa badannya, langsung tidak sadarkan diri, pada saati itu langsung di bawa ke rumah sakit Pamela di tebing tinggi, setelah seminggu di rawat langsung meninggal.

Misnan mengatakan tidak ada perbedaan kerja antara yang tua dan muda, kalau mengegrek sama saja, target kerja sama, perhari dia harus memanen 150 janjang untuk yang berat 5 kg, Misnan mengatakan jika diandaikan perjalanan yang dia lalui mulai jam 08.oo- 14.00 ,itu sama saja berjalan sejauh dari mata pao ke Lubuk pakam, mencapai 50 km dalam setiap hari, ditambah lagi beban mengangkat dan mengumpulkan hasil panen. Misnan mengatakan bidan dan perawat di klinik itu jarang, mereka banyak Proyek nya. Sekarang buruh lebih sering berobat sendiri, kalau biayanya tidak berat.

Misnan, bekerja pada tahun 85, dia mengatakan dulu pada saat awal bekerja memang

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DI PERKEBUNAN

Written by Gindo N Wednesday, 14 April 2010 22:49

diberikan kaca mata, untuk melindungi mata dari berondol, tetapi kaca mata itu tidak tepat, kalau kita menunduk sering jatuh, dan kalau sering di pakai, kacamatanya jadi kabur, sehingga terasa mengganggu. Tidak ada perintah dari mandor tentang peralatan kerja, paling kalau ada datang dari kantor medan atau dari belgia diingatkan supaya menggunakan perlengkapan kerja dan baju seragam.

Tentang kecelakaan kerja misnan mengatakan, setiap kerja, biasanaya badan dan wajah pasti gatal, terkena sampah buah sawit yang berjatuhan, sampah buah sawit ini yang sering mengakibatkan kebutaan , karena pada saat mengenai mata, biasanya buruh langsung menggaruk mata, pada hal sampah yang ada di mata itu sangat tajam, sehingga dapat menggores lensa mata. Kecelakaan kerja seperti itu sangat sering dialami oleh buruh, tetapi tidak langsung di obati secara serius karena resikonya tidak langsung terasa, buruh hanya kepikiran untuk bekerja, selama belum mengganggu pekerjaan, mereka akan menghiraukan kecelakaan yang mereka alami.

Misnan tidak tau jenis-jenis tanggungan jamsosteknya, yang penting kalau pensiun dapat astek 6 juta dan kalau meninggal ada juga santunan, dia tidak tahu betapa besarnya. Dia mengatakan tidak pernah ada sosialisasi dari astek tentang jaminan, dia tahu dari temannya yang sudah pensiun, dia tidak pernah diberitahu oleh serikatnya (SPSI) tentang jamsostek, tentang SPSI pun dia tidak tahu. Yang penting di potong setiap bulan, katanya.

Misnan mengatakan penanganan kalau kecelakaan kerja pada saat bekerja, harus melapor ke mandor kemudian mandor membawa mereka ke bidan, jika bisa ditangani, akan diobati di klinik, sedangkan kalau gak sanggup di kirim ke rumah sakit, kalau dulu biasanya yang digunakan adalah rumah sakit Pamela, sekarang ke rumah sakit Melati atau ke Elisabeth medan.

Penutup Dengan demikian di sektor perkebunan, potensi kecelakaan kerja cukup tinggi. Sayangnya masih kerap terjadi di mana perkebunan yang tidak mengidentifikasi potensi resiko, penyebaran informasi yang cukup bagi buruh tentang resiko dan penanggulangan kecelakaan terutama penyediaan P3K dan pondok berlindung ketika cuaca buruk serta pembiaran buruh bekerja tanpa menggunakan peralatan perlengkapan kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Tidak ada antisipasi pencegahan keracunan dan perlindungan kesehatan buruh.