Anda di halaman 1dari 7

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

PERSEMAIAN
PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penguasaan dan pemahaman terhadap teori Pembangunan dan Manajemen Persemaian tidak cukup diperoleh di bangku kuliah, namun perlu dilengkapi dengan kondisi riil yang ada yaitu praktek lapang. Adanya kegiatan praktek lapang, terbuka peluang bagi mahasiswa untuk mengamati, memahami, menganalisa dan mempraktekan langsung semua kegiatan Pembangunan dan Manajemen Persemaian hutan di lapangan. Kegiatan Pembangunan dan Manajemen Persemaian adalah merupakan salah satu aspek kegiatan Pembinaan Hutan yang sangat vital, dan keberhasilan Pembangunan Persemaian akan menentukan proses keberhasilan Pembangunan Hutan secara keselurhan. Berdasarkan hal tersebut di atas, mahasiswa Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB diwajibkan untuk mengikuti kegiatan Praktek Lapang Pembinaan Hutan dengan salah satu topik materinya adalahTeknik Pembangunan dan Manajemen Persemaian. Dengan adanya praktek lapang ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami, melaksanakan dan memecahkan masalah yang dihadapi di lapangan, khususnya permasalahan di bidang Pembangunan dan Manajemen Persemaian. B. TUJUAN Praktek lapang ini bertujuan untuk : a. Mendapatkan pemahaman secara menyeluruh dari kegiatan Pembangunan dan Manajemen Persemaian (macam kegiatan, peralatan, proses kegiatan, personalia, hasil yang diperoleh) dan permasalahan yang dihadapinya. b. Meningkatkan kemampuan dari segi teknik maupun manajerial dalam Pembangunan Persemaian dalam arti Persemaian sebagai Produsen bibit siap tanam dengan kualitas yang baik dan tepat waktu. c. Memahami Susunan organisasi Personalia di Persemaian, hak dan kewajiban dari masing-masing Personil di Persemaian serta kualifikasinya. d. Menghayati suasana kerja di persemaian dan suasana hidup berinteraksi sesama karyawan di lingkungan hutan. A. UMUM

MATERI 1 PEMBUATAN BEDENG DAN MEDIA TABUR

Bentuk Pengajaran : Praktek Lapangan Tempat : Lapangan Peserta : Mahasiswa Fak Kehutanan IPB Semester 6

B. DASAR TEORI Ukuran benih-benih kehutanan sangat bervariasi mulai dari yang sangat halus seperti Eucalyptus spp, sampai dengan yang berukuran besar seperti benih Eusideroxylon zwageri. Benih-benih yang berukuran kecil perlu disemaikan terlebih dahulu di dalam bedeng-bedeng tabur, agar diperoleh kecambah yang seragam pada waktu penyapihan. Bedeng tabur dibuat dengan ukuran 5 x 1 m dengan arah memanjang utaraselatan. Media untuk penaburan diusahakan dari bahan yang mudah disterilkan misalnya pasir, tanah halus, campuran pasir dan tanah halus dengan perbandingan 2 :1 dan tidak perlu memperhatikan kandungan unsur hara, yang penting media tersebut bebas dari hama penyakit, cukup sarang. Untuk melindungi benih dari terik sinar matahari dan juga kemungkinan tetesan air hujan yang terlalu besar, maka bedeng tabur perlu diberi naungan. C. BAHAN DAN ALAT 1. 1. 2. 4. Cangkul Meteran Gergaji Tali raffia 5. Parang 6. Bambu 7. Atap dari daun alang-alang/rumbia 8. Tali plastik

D. PETUNJUK KERJA 1. 2. 3. 4. Ukur calon bedeng tabur seluas 5 x 1 m dengan arah utara-selatan Gemburkan tanahnya dan buang akar-akar dan batu-batuan yang ada Pada tepi bedengan diberi bambu untuk menahan media tabur Masukkan media tabur berupa campuran pasir dan tanah halus sampai setinggi permukaan bingkai bambu. 5. Buat naungan dengan daun alang-alang atau rumbia. Atap naungan dibuat miring ke barat dengan ketinggian 1 meter di bagian timur dan 0.5 m di bagian barat. 6. Jarak antar bedeng dan jalan pemeriksaan dibuat selebar 0.5 m. 7. Cata prestasi kerja pada masing-masing kegiatan pada Tabel 1.

Materi Persemaian

Materi Persemaian

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Tabel 1. Prestasi kerja Volume Kegiatan Total M, m3, dst Prestasi kerja Per HOK

F. PEMBAHASAN

Jenis Kegiatan

Waktu kerja (menit) Efektif Istirahat

Rata-rata E. PERTANYAAN 1.Mengapa arah bedengan dibuat utara-selatan? 2.Mengapa media tabur tidak perlu mengandung hara yang banyak ? 3.Mengapa atap naungan dibuat miring ke barat ? 4. Bahas Prestasi Kerjanya
Materi Persemaian Materi Persemaian

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

MATERI 2 PENABURAN BENIH A. UMUM Bentuk Pengajaran : Praktek Lapangan Tempat : Lapangan Peserta : Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB Semester 6 B. DASAR TEORI Sebelum dilakukan penaburan benih, terlebih dahulu harus diperhatikan sifat-sifat dari benih yang akan di tabur. Beberapa sifat yang perlu diperhatikan diantaranya adalah : ukuran dan dormansi benih. Benih yang berukuran sangat halus penaburannya harus dicampur dengan pasir halus. Benih-benih yang mempunyai dormansi kulit, sebelum di taburkan harus dipatahkan dahulu dormansinya. Teknik pamatahan dormansi kulit ada berbagai macam, misalnya di rendam dalam air mendidih selama beberapa menit, dilanjutkan dengan perendaman dalam air dingin selama 24 jam, disanggrai, dikikir atau di rendam dalam larutan asam pekat. Disaming sifat benih, kualitas dan kemurnian benih juga perlu di perhatikan, sehingga proses seleksi perlu dilakukan sebelum penaburan dimulai. Penaburan dapat dilakukan melalui tiga cara, tergantung dari ukuran benihnya yaitu; sebar merata, sebar garis dan sebar dengan jarak tertentu. C. BAHAN DAN ALAT 1. 2. 2. 3. Benih Kaliandra Air Pemanas air Ember

Tabel 2. Prestasi kerja untuk masing-masing kegiatan. Jenis Kegiatan Volume Waktu kerja Kegiatan (menit) Efektif Istirahat Total M, m3, dst

Prestasi kerja Per HOK

Rata-rata E. PERTANYAAN 1. Sebutkan lima jenis benih yang ukurannya sangat halus, sehingga untuk penaburannya perlu dicampur dengan pasir. 2. Apakah semua benih perlu dilakukan pematahan dormansinya sebelum ditaburkan ? 3. Apa gunanya naungan di bedeng tabur ? 4. Bahas prestasi kerjanya F. PEMBAHASAN

D. PETUNJUK KERJA 1. 2. 3. 4. Ambil benih yang akan di tabur dan lakukan seleksi Beri perlakuan pendahuluan sesuai sifat benihnya Basahi media tabur dengan air sampai jenuh Taburkan benih ke dalam bedeng tabur dengan metode jarak tertentu (2 x 1 cm) atau metode lain sesuai sifat benihnya 5. Setelah benih di taburkan, agar tidak di ganggu semut/serangga, maka di atas benih ditaburkan tanah halus atau pasir, kemudian dipadatkan secara perlahanlahan. Benih ditabur sedalam 1,5 tebal benih 6. Catat Prestasi kerja masing-masing kegiatan pada Tabel 2.

Materi Persemaian

Materi Persemaian

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

MATERI 3 PEMBUATAN BEDENG DAN MEDIA SAPIH A. UMUM Bentuk Pengajaran : Praktek Lapangan Tempat : Lapangan Peserta : Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB Semester 6 B. DASAR TEORI Pada dasarnya pembuatan bedeng sapih sama dengan bedeng tabur, baik ukurannya maupun arahnya. Perbedaannya hanyalah terletak pada dasar dari bedengan tersebut. Karena bedeng sapih diperuntukkan untuk menaruh poly bag yang berisi media semai, maka dasar bedengan harus rata dan perlu diberi lapisan koral atau batu kerikil. Maksud pemberian koral atau batu kerikil adalah supaya akar-akar bibit tidak menembus tanah. Jarak antar bedeng sapih adalah 0.5 cm yang berfungsi sebagai saluran air dan juga jalan pemeriksaan. Untuk jenis bibit tertentu perlu diberi naungan untuk beberapa minggu pertama dengan intensitas yang bervariasi tergantung jenisnya. Naungan di bedeng sapih dapat mempergunakan paranet yang mempunyai Intensitas cahaya 45 %, 55 % atau 75 %. C. BAHAN DAN ALAT 1. 2. 3. 4. 5. Cangkul Parang Bambu Meteran Gergaji

dilipat ke arah luar agar plastik tidak mudah robek karena pengaruh panas dan hujan. Sebagai pupuk dasar dapat diberi pupuk TSP sebanyak 0.1 g/kantong 6. Kantong plastik yang telah terisi media kemudian di tata di bedeng sapih dan disiram sampai jenuh. 7. Untuk setiap mahasiswa membuat 100 kantong media. 8. Catat prestasi kerja masing-masing kegiatan pada Tabel 3. Tabel 3. Prestasi kerja Jenis Kegiatan Waktu kerja (menit) Efektif Istirahat Volume Kegiatan Total M, m3, dst Prestasi kerja Per HOK

Rata-rata E. PERTANYAAN 1. 2. 3. 4. 5. Sebutkan jenis-jenis pohon yang perlu naungan dan tidak perlu naungan pada waktu dipersemaian Mengapa pada Pinus dan Dipterocarpaceae diperlukan mikoriza? Sebutkan bahan)bahan lain yang dapat dipergunakan sebagai media sapih Sebutkan bahan-bahan lain yang dapat dipergunakan sebagai wadah semai Bahas prestasi kerjanya

D. PETUNJUK KERJA 1. Ukurlah panjang dan lebar masing-masing bedeng. 2. Buatlah batas tepi tiap bedeng dengan menggunakan bambu, kayu atau batu bata sebagai penahan kantong plastik. Tinggi tepi bedengan kurang lebih 10 cm. 3. Ukuran kantong plastik yang dipergunakan disesuaikan dengan jenis tanaman. Untuk bibit yang berasal dari stek, puteran, cabutan maupun benih yang besar digunakan kantong plastik yang berukuran besar. Ukuran kantong plastik yang biasa dipergunakan adalah 12 x 18 X 0,04 cm, 15 X 18 x 0.04 cm atau 18 x 20 x 0.04 cm. 4. Persiapkan media sapih yang terdiri dari top soil yang telah di ayak, kompos dengan perbandingan 6 : 4. 5. Kantong plastik yang akan dipergunakan harus diberi lobang di bagian samping atau bawahnya, yang berguna untuk aerasi, kemudian bagian atas
Materi Persemaian

F. PEMBAHASAN

Materi Persemaian

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

MATERI 4 PENYAPIHAN PADA POLY BAG A. UMUM Bentuk Pengajaran : Praktek Lapangan Tempat : Lapangan Peserta : Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB Semester 6 B. DASAR TEORI Setelah kecambah di bedeng tabur cukup tinggi, kurang lebih 2 cm, maka diperlukan penyapihan, yaitu kecambah dipindahkan ke bedeng sapih/kantong plastik. Media dalam kantong plastik harus lembab. Penyapihan dilakukan pada pagi atau sore hari. Dengan menggunakan bantuan kayu atau bambu sebagai pencungkil, kecambah pada bedeng tabur dicabut secara hati-hati, akar tidak boleh rusak atau patah, kemudian ditanam pada kantong plastik yang sudah terisi media, satu kantong satu kecambah. C. BAHAN DAN ALAT 1. 2. 3. 4. Bibit yang sudah siap sapih dari bedeng tabur maupun cabutan/puteran Kayu/bambu sebagai pencungkil Ember/piring plastik Air

Tabel 4. Prestasi kerja Jenis Kegiatan Waktu kerja (menit) Efektif Istirahat Volume Kegiatan Total M, m3, dst Prestasi kerja Per HOK

D. PETUNJUK KERJA 1. Siapkan alat pencungkil yang terbuat dari kayu atau bambu yang salah satu ujungnya diruncingkan. 2. Siapkan ember kecil atau piring plastik yang telah diisi air bersih 3. Cabutlah kecambah yang berukuran kurang lebih 2 cm dengan menggunakan bantuan alat pencungkil. Kumpulkan kecambah yang sudah dicabut di ember kecil atau piring plastik. Jumlah kecambah yang dicabut disesuaikan dengan kemam puan atau prestasi penanaman pada saat itu. 4. Basahi media sapih pada polybag, kemudian buatlah lobang dengan menggunakan alat pencukil yang salah satu ujujngnya tidak runcing. Putarlah alat pencukil ke arah luar sehingga lobang tanam lebih besar. 5. Tanamlah kecambah secara hati-hati. Akar tidak boleh rusak atau melipat, bila akar tunjang terlalu panjang dapat dipotong dengan gunting yang tajam. 6. Timbunlah lobang dengan tanah halus dan tekanlah secara perlahan sehingga posisi kecambah dalam keadaan tegak. 7. Siramlah media dengan air sampai lembab. 8. Catat prestasi kerja pada masing-masing kegiatan pada Tabel 4.

Rata-rata

E. PERTANYAAN 1. 2. 3. 4. Mengapa waktu penyapihan yang paling baik adalah pagi atau sore hari? Diantara waktu pagi dan sore hari mana yang lebih baik? Mengapa akar tidak boleh terlipat pada waktu penyapihan? Mengapa kecambah perlu dikumpulkan terlebih dahulu dalam wadah yang berisi air? 5. Bagaimana dengan prestasi kerjanya ? F. PEMBAHASAN

Materi Persemaian

Materi Persemaian

10

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

MATERI 5 PEMBUATAN PUTERAN DAN CABUTAN A. UMUM Bentuk Pengajaran : Praktek Lapangan Tempat : Lapangan Peserta : Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB Semester 6 B. DASAR TEORI Bibit yang akan di tanam di lapangan dapat diperoleh dari anakan alam. Potensi anakan alam dapat diketahui dari jumlah anakan yang ada melalui kegiatan inventarisasi. Data ini sangat membantu sebelum melakukan kegiatan pembuatan bibit cabutan maupun putaran. Ukuran bibit yang dapat dibuat cabutan sebaiknya bibit yang masih kecil, daunnya baru 2 sampai 4 helai sedangkan bibit putaran dapat berupa semai yang tingginya mulai 20 cm dsampai 4 meter bahkan lebih. C. BAHAN DAN ALAT 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bibit siap tanam Bibit anakan alam Pisau/gunting Gergaji Golok Kantong goni 5. Kantong plastik 6. Alat pemutar bibit 7. Tali rafia III.

5. Padatakan sedikit tanah desekeliling bibit tersebut 6. Galilah tanah mengelilingi batang kira-kira selebar proyeksi tajuk , kemudian potonglah akar tunjangnya dengan gergaji atau golok sampai bibit dapat terangkat. 7. Masukkan bibit beserta tanahnya ke dalam kantong goni kemudian ikatlah dengan tali rafia. 8. Angkut ke tempat penyimpanan sementara dan tataah secara rapih. 9. Setiap mahasiswa membuat 2 bibit PEMBUATAN CABUTAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Siapkan wadah ember kecil yang berisi air Carilah bibit anakan alam yang berdaun 2 helai Bersihkan rumput dan semak yang ada disekeliling bibit Basahi tanah disekeliling bibit tersebut Cabutlah bibit secara hati-hati dengan bantuan alat pencukil bibit Masukkan bibit ke dalam wadah ember yang berisi air Setelah terkumpul banyak, segera di bawa ke bedeng penyapihan yang telah disiapkan sebelumnya dan bibit langsung di tanam.

Cata prsetasi kerja pada masing-masing kegiatan di atas pada Tabel 5 Tabel 5. Prestasi kerja Jenis Kegiatan Waktu kerja (menit) Efektif Istirahat Volume Kegiatan Total M, m3, dst Prestasi kerja Per HOK

D. PETUNJUK KERJA I. PEMBUATAN PUTERAN BIBIT KECIL 1. 2. 3. 4. 5. 6. Siapkan alat pemutar bibit Siapkan kantong plastik atau pelepah pisang atau daun lain yang lebar Carilah bibit anakan alam (Caliandra) yang berdaun antara 2-4 helai di lapangan Bersihkan rumput dan semak di sekitar bibit Padatakan sedikit tanah desekeliling bibit tersebut Tanjapkan alat pemutar bibit kira-kira 5-10 cm dari batang bibit, kemudian putarkan alatnya sampai bibit dapat terangkat. 7. Masukkan bibit beserta tanahnya ke dalam kantong plastik atau wadah yang lain dan segera disiram 8. Angkut ke bedeng penyapihan dan tataah secara rapih. 9. Setiap mahasiswa membuat 50 bibit II. 1. 2. 3. 4. PEMBUATAN PUTARAN BIBIT BESAR Siapkan alat pemutar bibit besar Siapkan kantong goni yang sudah dibelah Carilah bibit anakan alam (Aghatis) yang tingginya 2-3 m di lapangan Bersihkan rumput dan semak di sekitar bibit

Rata-rata

Materi Persemaian

11

Materi Persemaian

12

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

Praktek Pengelolaan Hutan Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

E. PERTANYAAN 1. Jelaskan alasan mengambil bibit dari alam? 2. Apa keuntungan dan kerugian membuat putaran bibit besar? 3. Bagaimana dengan prestasi kerjanya? F. PEMBAHASAN

Materi Persemaian

13

Materi Persemaian

14