Anda di halaman 1dari 17

EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Penilaian dalah salah satu komponen dalam proses pembelajaran, yang meliputi:
(1). (2). (3).

Tujuan pembelajaran, Metode pembelajaran, Penilaian hasil belajar. PENGERTIAN, KEDUDUKAN, DAN SYARAT-SYARAT UMUM EVALUASI Pengertian Penilaian

1. a.

Pengukuran/penilaian adalah suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal telah dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru. Pengertian ini menunjukkan bahwa pengukuran bersifat kuantitatif. Pengukuran bermaksud menentukan luas, dimensi, banyaknya derajat atau kesanggupan suatu hal atau benda. Tugas pengukuran berhenti pada mengetahui "berapa banyak pengetahuan yang telah dimiliki siswa", tanpa memperhatikan arti dan penafsiran mengenai banyaknya pengetahuan yang dimiliki itu. Apabila hasil pengukuran itu ditafsirkan b. Kedudukan Evaluasi dalam Proses Pendidikan

Penilaian meliputi semua aspek batas belajar. Menurut Schwartz dan kawankawannya, penilaian adalah suatu program untuk mem berikan pendapat dan penentuan arti atau faedah suatu pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah pengalaman yang diperoleh berkat proses pendidikan. Pengalaman tersebut tampak pada perubahan tingkah laku atau pola kepribadian siswa. Jadi pengalaman yang diperoleh siswa adalah pengalaman sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Dalam hal ini, penilaian adalah suatu upaya untuk memeriksa sejauh mana siswa telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar dan pembelajaran. c. Syarat-syarat Umum Evaluasi

Penilaian yang akan dilaksanakan harus memenuhi persyaratan atau kriteria sebagai berikut (1). Memiliki validitas, (2). Mempunyai reliabilitas, (3). Objektivitas, (4). Efisiensi, dan (5). Kegunaan/ Kepraktisan. Validitas. Artinya penilaian harus benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya, barometer adalah alat pengukur tekanan udara dan tidak tepat bila digunakan untuk mengukur temperatur udara. Demikian pula suatu tes memiliki suatu validitas bila tes itu benar-benar mengukur hal yang hendak di tes. Sebuah tes inteligensi, validitasnya dapat diperkirakan dengan kriteria lain, yakni dengan ukuran yang diprakirakan oleh guru. Misalnya seorang guru telah lama bergaul dengan siswa tertentu. Dia dapat melihat kapasitas siswa itu berada di bawah pengawasannya. Apabila antara hasil tes dengan pendapat guru tak seberapa berbeda (kore lasinya tinggi), maka dapat dinyatakan bahwa tes itu mempunyai validitas yang tinggi. Kriteria lain yang dapat digunakan untuk mengukur validitas tes itu ialah

membandingkannya dengan hasil yang telah diperoleh oleh seorang ahli lain. Jadi validitas suatu tes menunjukkan ukuran/tingkat di mana tes itu dapat dipergunakan untuk mengukur suatu tujuan objek tertentu. Reliabilitas. Suatu alat evaluasi memiliki reliabilitas, bila menunjukkan ketetapan hasilnya. Dengan kata lain, orang yang akan dites itu akan mendapat skor yang sama bila dia dites kembali dengan alat uji yang sama. Reliabilitas suatu tes biasanya dinyatakan dengan koefisien korelasi. Suatu alat evaluasi yang tinggi bila reliabilitasnya menunjukkan koefisien korelasi 1.00, sedangkan tes yang reliabilitasnya rendah mempunyai koefisien korelasi 0.00. Untuk mengetahui besar kecilnya reliabilitas suatu tes dapat ditempuh berbagai cara, yakni dengan cara mengulangi kembali tes itu (test-retest), atau dengan cara comparable forms atau split halves method. Pendek kata, semua alat evaluasi yang digunakan oleh guru harus cukup reliabel sekalipun tidak begitu tinggi. Objektivitas. Suatu alat evaluasi harus benar-benar mengukur apa yang diukur, tanpa adanya interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan alat evaluasi itu. Guru harus menilai siswa dengan kriteria yang sama bagi setiap pekerjaan tanpa membeda-bedakan si A atau si B dan seterusnya. Selain dari itu, interpretasi siswa terhadap instruksi dalam alat evaluasi harus sama, instruksinya harus jelas dan tegas, tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda. Objektivitas dalam penilaian sering diperlukan dalam menggunakan : questioner, essay test, observation, rating scale, check list dan alat-alat lainnya. Sering terjadi suatu alat evaluasi yang dibuat oleh seorang guru menimbulkan berbagai interpretasi, sehingga hasilnya sangat berbeda-beda, karena setiap siswa mempunyai interpretasinya masing-masing terhadap alat tersebut. Perbedaan interpretasi itu mungkin disebabkan adanya istilah-istilah yang sulit dipahami. Untuk menghindarkan kesalahpahaman ini, perlu dilakukan percobaan terlebih dulu dan menetapkan kriteria untuk mengontrol hasilnya. Objektivitas juga diperlukan pada waktu membuat skor hasil tes. Guru harus menggunakan kriteria yang sama. Efisiensi. Suatu alat evaluasi sedapat mungkin dipergunakan tanpa membuang waktu dan uang yang banyak. Ini tidak berarti, bahwa evaluasi yang memakan waktu, usaha dan uang sedikit dianggap alat evaluasi yang baik. Hal ini tergantung pada tujuan penggunaan alat evaluasi dan banyaknya siswa yang dinilai dan sebagainya. Suatu alat evaluasi diharapkan dapat digunakan dengan sedikit biaya dan usaha yang sedikit, dalam waktu yang singkat, dan hasil yang memuaskan. Efisiensi dapat dicapai dengan cara : Si penilai mampu memilih alat yang tepat untuk tujuan tertentu. Si penilai dapat mempertimbangkan perlu tidaknya mempergunakan beberapa macam alat penilai. Si penilai hanya memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan tujuan yang sama. Kegunaan/Kepraktisan. Ciri lain dari alat evaluasi ialah usefulness (harus berguna). Untuk memperoleh keterangan tentang siswa, sehingga guru dapat memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi para siswanya.

2.

EVALUASI HASIL BELAJAR Evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku siswa. a. 1). Fungsi dan Tujuan Evaluasi Hasil Belajar Fungsi evaluasi hasil belajar : Untuk diagnostik dan pengembangan. Hasil evaluasi menggam barkan kemajuan, kegagalan dan kesulitan masing-masing siswa. Untuk menentukan jenis dan tingkat kesulitan siswa serta faktor penyebabnya dapat diketahui dan hasil belajar atau hasil dari evaluasi tersebut. Berdasarkan data yang ada selanjutnya dapat didiagnosis jenis kesulitan apa yang dirasakan oleh siswa, dan selanjutnya dapat dicarikan alternatif cara mengatasi kesulitan tersebut melalui proses bimbingan dan pengajaran remedial. Untuk seleksi. Hasil evaluasi dapat digunakan dalam rangka menyeleksi calon siswa dalam rangka penerimaan siswa baru dan/atau melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Siswa yang lulus seleksi berarti telah memenuhi persyaratan pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan, sehingga yang bersangkutan dapat diterima pada suatu jenjang pendidikan tertentu. Untuk kenaikan kelas. Hasil evaluasi digunakan untuk menetapkan siswa mana yang memenuhi rangking atau ukuran yang ditetapkan dalam rangka kenaikan kelas. Sebaliknya siswa yang tidak memenuhi rangking tersebut dinyatakan tidak naik kelas atau gagal, dan harus mengulangi program studi yang sama sebelumnya. Untuk penempatan. Para lulusan yang ingin bekerja pada suatu instansi atau perusahaan perlu menyiapkan transkrip program studi yang telah ditempuhnya, yang juga memuat nilai-nilai hasil evaluasi belajar. Pihak penerima biasanya memperhatikan daftar nilai tersebut sebagai bahan pertimbangan mengenai tingkat kemampuan calon pegawai tersebut. Jadi evaluasi hasil penilaian berfungsi menyediakan data tentang lulusan agar dapat ditempatkan sesuai dengan kemampuannya.

2).

3).

4).

Evaluasi hasil belajar memiliki tujuan-tujuan tertentu : 1). Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar. 2). Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan-kegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik keseluruhan kelas maupun masing-masing individu. 3). Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitannya dan menyarankan kegiatan-kegiatan remedial (perbaikan). 4). Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal kemajuannya sendiri dan merangsangnya untuk melakukan upaya perbaikan.

5). 6).

Memberikan informasi tentang semua aspek tingkah laku siswa, sehingga guru dapat membantu perkembangannya menjadi warga masyarakat dan pribadi yang berkualitas. Memberikan informasi yang tepat untuk membimbing siswa memilih sekolah, atau jabatan yang sesuai dengan kecakapan, minat dan bakatnya. Sasaran Evaluasi Hasil Belajar Ranah Kognitif (Pengetahuan/pemahaman)

b. 1).

Penilaian terhadap pengetahuan pada tingkat satuan pelajaran menuntut perumusan secara lebih khusus setiap aspek pengetahuan, yang dikategorikan sebagai: konsep, prosedur, fakta, dan prinsip. Tiap kategori dirinci menjadi suatu struktur dan urutan tertentu, misalnya dari konsep yang sederhana menuju ke konsep-konsep yang lebih kompleks. Dengan struktur tersebut dapat ditentukan urutan pelajaran dan isi pelajaran, sebagaimana dirumuskan dalam satuan pelajaran. Teknik penilaian terhadap pengetahuan dalam kontek ini dikembangkan dalam tes tertentu. Evaluasi akhir pengajaran terhadap ketercapaian tujuan-tujuan aspek pengetahuan perlu dilakukan secara terpisah di samping evaluasi terhadap perilaku sebagaimana telah dikemukakan di atas. Untuk menilai pengetahuan dapat kita pergunakan pengujian sebagai berikut
a).

b).

c).

Sasaran penilaian aspek pengenalan (recognition) Caranya, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan bentuk pilihan berganda, yang menuntut siswa agar melakukan identifikasi tentang fakta, definisi, contoh-contoh yang betul (correct). Sasaran penilaian aspek mengingat kembali (recal) Caranya, dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka tertutup langsung untuk mengungkapkan jawaban-jawaban yang unik. Sasaran penilaian aspek pemahaman (komprehension) Caranya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut identifikasi terhadap pernyataan-pernyataan yang betul dan yang kelim konklusi atau klasifikasi; dengan daftar pertanyaan matching (menjodohkan) yang berkenaan dengan konsep, contoh, aturan, penerapan, langkah-langkah dan urutan, dengan pertanyaan bentuk essay (open ended) yang menghendaki uraian, perumusan kembali dengan kata-kata sendiri, contohcontoh. Ranah Afektif Sasaran evaluasi ranah afektif (sikap dan alat) meliputi aspek-aspek, sebagai berikut Aspek penerimaan, yakni kesadaran peka terhadap gejala dan stimulus serta menerima atau menyelesaikan stimulus atau gejala tersebut. Sambutan, yakni aktif mengikuti dan melaksanakan sendiri suatu gejala di samping menyadari/menerimanya. Aspek penilaian, yakni perilaku yang, konsisten, stabil dan mengandung kesungguhan kata hati dan kontrol secara aktif terhadap perilakunya. Aspek organisasi, yakni perilaku menginternalisasi, mengorganisasi dan memantapkan interaksi antara alat-alat dan menjadikannya sebagai suatu pendirian

2). :
a). b). c). d).

e).

yang teguh. Aspek karakteristik diri dengan suatu alat atau kompleks alat, ialah menginternalisasikan suatu nilai ke dalam sistem nilai dalam diri individu, yang berperilaku konsisten dengan sistem nilai tersebut.

Ranah dan aspek tiap ranah yang akan diukur, masing-masing dirinci menjadi sejumlah karakteristik, selanjutnya tiap karakteristik dijabarkan menjadi sejumlah atribut. Tiap atribut diberikan indikator sebagai petunjuk perubahan perilaku. Berdasarkan atribut-atribut tersebut dapat disusun pertanyaan-pertanyaan untuk pengukuran. 3). a). Ranah Keterampilan Sasaran evaluasi keterampilan reproduktif: Aspek keterampilan kognitif, misalnya masalah-masalah yang familier untuk dipecahkan dalam rangka menentukan ukuran-ukuran ketepatan dan kecepatan melalui latihan-latihan (drill) jangka panjang, evaluasi dilakukan dengan metode-metode objektif tertutup. Aspek keterampilan psikomotorik dengan tes tindakan terdapat pelaksanaan tugas yang nyata atau yang disimulasikan, dan berdasarkan kriteria ketepatan, kecepatan, kualitas penerapan secara objektif. Contoh : latihan mengetik, keterampilan menjalankan mesin, dan lain-lain. Aspek keterampilan reaktif, dilaksanakan secara langsung dengan pengamatan objektif terhadap tingkah laku pendekatan atau penghindaran; secara tak langsung dengan kuesioner sikap. Aspek keterampilan interaktif, secara langsung dengan meng hitung frekuensi kebiasaan dan cara-cara yang baik yang dipertunjukkan pada kondisi-kondisi tertentu.

b).

c).

d).

Evaluasi Keterampilan Produktif : a). Aspek keterampilan kognitif, misalnya masalah-masalah yang tidak familier untuk dipecahkan dan pemecahannya tidak begitu rumit, dengan menggunakan metode terbuka tertutup (open ended methods). b). Aspek keterampilan psikomotorik, yakni tugas-tugas produktif yang menuntut perencanaan strategi. Evaluasi terhadap hasil dan proses perencanaan ialah dengan observasi dan diskusi. c). Aspek keterampilan reaktif, secara langsung mengamati sistem nilai masyarakat dalam tindakannya di luar sekolah. d). Aspek keterampilan interaktif dengan observasi keterampilan dalam situasi senyatanya. c. Prosedur Evaluasi Hasil Belajar

1). Persiapan Pada tahap ini, guru menyusun kisi-kisi (blue print). Pekerjaan semacam ini sebenarnya sangat menolong sekali demi keberhasilan tujuan pengajaran, tetapi di samping hal tersebut sangat banyak menyita waktu dan tugas

tambahan yang dibebankan kepada guru. Blue print inipun dapat dianggap sebagai guide dalam pengembangan pola belajar lebih lanjut, melalui instrumen evaluasi yang direvisi terus sesuai dengan kebutuhan dalam proses belajar mengajar. Melalui cara ini, tes evaluasi dapat berfungsi sebagai bagian integral dalam sistem mengajar dan bersifat langsung. Bentuk item yang dapat disusun bisa dalam bentuk pilihan berganda, bentuk essay atau berbagai bentuk lainnya. Tetapi bentuk/tipe item apa saja yang akan digunakan, guru perlu mempertimbangkan, mempertimbangkan berapa jumlah waktu yang tersedia dan berapa item dan luas skopnya pada tes yang akan diberikan. Dalam penyusunan kisi-kisi (blue print) tersebut ditempuh langkah-langkah, sebagai berikut : Langkah 1. Menetapkan ruang lingkup materi pelajaran yang akan diujikan berdasarkan pokok bahasan, satuan bahasan, atau topik yang telah ditetapkan dalam Garis-garis Besar Program Pembelajaran. Langkah 2. Merumuskan tujuan pengajaran khusus sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam GBPP (biasanya telah dirumuskan pada waktu penyusunan PPSI/Satuan Pelajaran), dengan memperhatikan ranah-ranah kognitif, afektif, dan keterampilan. Langkah 3. Menetapkan jumlah butir soal berdasarkan topik-topik dan aspek tujuan/ranah, yang disusun dan tersebar secara proposional.

Langkah 4. Mengidentifikasi bentuk-bentuk soal, berupa tes objektif (BS, Pilihan Berganda, Isian, Menjodohkan), atau bentuk essay (terbuka atau terbatas). Langkah 5. Menetapkan proporsi tingkat kesulitan butir-butir soal yang mencakup keseluruhan perangkat instrumen penilaian tersebut. Sebagai ancang-ancang dapat digunakan proporsi : Sulit (25%), Sedang (50%), dan Mudah (25%). Persentase tersebut supaya disebarkan secara normal. Setelah kelima langkah tersebut ditempuh, maka akan diperoleh suatu kisi-kisi penilaian yang lengkap dan menyeluruh.

Topik 1 Tujuan Pengetahuan Sukar Sedang Mudah Pemahaman Sukar Sedang Mudah BS 1 3 1 PG 1 1 1 1 ISI 1 1 JDH BS 1 3 1 -

Topik 2 PG 1 1 1 1 ISI 1 JDH 1 BS 2 6 2 PG 2 2 2 2

Jumlah ISI 1 2 JDH TOTAL 2 8 2 3 2 4

Aplikasi

Sukar Sedang Mudah

1 3 1 5

1 1 3 1 5

1 1 1 1 3

1 1 1 1 1 1 3

1 3 1 5

1 1 3 1 5

1 1 1 2

1 1 1 1 2

2 6 2 10

2 2 6 2 10

1 1 2 1 2 5

1 2 2 1 2 2 5

2 5 2 7 15 8 30

Jumlah

Sukar Sedang Mudah Total

Sumber :

Psikologi Kependidikan Abin Syamsudin M, 1981

Kisi-kisi menggambarkan suatu alat evaluasi yang terdiri dari 30 butir soal, yang terdin dari: a. Topik 16 soal mengukur topik 1 14 s oal mengukur topik 2 12 soal mengenal aspek pengetahuan 9 soal mengenai aspek pemahaman 9 soal mengenal aspek aplikasi 7 butir soal sukar (23%) 15 butir soal sedang (50%) 5 butir soal mudah (27%) BS PG ISI JDH = 10 Soal = 10 Soal = 5 Soal = 5 Soal

b. Aspek Tujuan c. Tingkat kesukarannya

d. Bentuk

2).

Penyusunan Alat Ukur Pada tahap ini, guru menentukan jenis alat ukur yang akan digunakan berdasarkan tujuan dari pengukuran tersebut dan aspek/ranah apa yang hendak diukur. Alat evaluasi dibagi menjadi dua jenis, yakni : penilaian dengan tes dan penilaian bukan dengan tes. Penilaian dengan tes. Ada dua macam tes . (1). Educational test, untuk mengukur kemampuan siswa di sekolah atau prestasi belajar, (2). Mental test, atau tes intelegensi, untuk mengukur intelegensi seseorang, (3). Aptitude test, untuk mengetahui bakat seseorang. Tes Lisan dan Tertulis. Bentuk tes tersebut banyak digunakan oleh guru, karena penting untuk mengukur ketercapaian tujuan-tujuan pembelajaran. Keuntungan penggunaan tes lisan (oral tes), ialah sebagai berikut: a). Tes ini memberikan pengalaman melakukan ekspresi secara lisan pada para siswa. b). Siswa mendapat manfaat tertentu dengan mendengarkan respons/jawaban dari siswa

c).

lainnya. Pertanyaan-pertanyaan lisan yang dijawab oleh siswa lebih banyak dan lebih luas dibandingkan dengan yang dapat ditulis oleh siswa terhadap pertanyaan tertulis dalam jangka waktu yang sama. Kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh siswa segera dapat diketahui dan diperbaiki pada waktu itu juga. Tes tertulis banyak menggunakan penglihatan yang sewaktu membaca dan menulis sesuatu jawaban. Pengaruh faktor-faktor dari luar pada waktu ujian, misalnya sulit menyatakan pendapat secara lisan, dapat dihindari.

d). e). f).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka sebaiknya guru menggunakan kedua jenis tes itu dalam bentuk kombinasi secara bervariasi dan dengan materi tertentu, supaya kelemahan-kelemahan yang ada pada suatu jenis tes dapat dikurangi. Pembuatan dan Penggunaan Tes 1)
2). 3). 4). 5).

6). 7).

Penyusunan tes hendaknya berdasarkan pada hal-hal sebagai berikut Tes harus tertuju untuk menilai hanya tujuan yang telah dirumuskan. Tekanan harus lebih besar pada tujuan-tujuan yang lebih penting. Jenis pertanyaan harus khusus dan sesuai dengan tujuan yang spesifik dan perlu memperhatikan tingkat kesulitan tes agar sesuai dengan kemampuan murid. Pertanyaan dalam tes hendaknya dirumuskan sedemikian rupa sehingga mudah dimengerti oleh murid untuk diberikan jawaban atau untuk dipecahkan. Pertanyaan-pertanyaan haruslah sanggup membedakan antara murid yang telah mencapai tujuan dan yang belum. Organisasi tes itu harus sedemikian rupa sehingga murid-murid dapat segera melihat apa yang perlu diperbuatnya serta bagaimana cara membuatnya. Dapat dilengkapi dengan penginderaan melalui pendengaran dalam tes lisan tentang subjek yang sama. Tidak perlu mengerjakan tulisan dan membuat paper, jadi lebih meringankan murid. Guru tak perlu memeriksa pekerjaan tertulis, jadi lebih meringankan guru.

Tetapi sebagai alat penilaian, tes tertulis dalam beberapa hal lebih dapat dipertanggungjawabkan, jika dibandingkan dengan tes lisan. 1). Semua murid menjawab sejumlah daftar pertanyaan yang sama, guru akan mempunyai dasar yang jelas untuk memperbandingkan hasil-hasil tes murid. 2). Jawaban-jawaban tertulis atas pertanyaan-pertanyaan tertulis, dapat dinilai lebih objektif daripada jawaban-jawaban lisan. 3). Dengan tes objektif tertulis, setiap murid menjawab sejumlah besar pertanyaan di dalam suatu jangka waktu tertentu di dalam kelas. Sedangkan dalam tes lisan muridmurid hanya berkesempatan menjawab sedikit pertanyaan, samplingnya terbatas, kurang reliabel. 4). Kesulitan dan pentingnya pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh murid yang berbeda-beda adalah sama. Angka yang didapat akan menjadi dasar perbandingan.

Tes tertulis memberikan catatan mengenai hasil belajar murid yang dapat dianalisis secara teliti untuk maksud-maksud diagnostik. 6). Tes harus dinilai seobjektif mungkin. 7). Murid harus memiliki kesempatan yang cukup untuk menye lenggarakannya. 8). Gunakan pertanyaan-pertanyaan lebih dari satu tipe dengan maksud memperluas skope pengukuran (completion, multiple choice, true false, essay, matching). 9). Susunlah pertanyaan-pertanyaan dari tingkat yang mudah sampai ke tingkat yang sulit. 10). Lengkapi dengan petunjuk-petunjuk dan kunci scoring agar murid mengetahui dengan tepat bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu akan diskor.
5).

Pertanyaan Objektif dan Subjektif Pada pokoknya ada dua jenis pertanyaan ialah : jenis objektif dan jenis subjektif. Dalam jenis objektif, penilaian dilakukan secara mekanis dan objektif, dan pada jenis subjektif kadang-kadang penilaian dilakukan secara intuitif dan subjektif. Baik tes bentuk objektif maupun tes bentuk essay masing-masing ada kebaikan dan kelemahannya. Akan tetapi perlu diketahui bahwa jenis tes essay dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengetahui kepandaian anak dalam menyusun buah pikiran mereka untuk menyimpulkan sesuatu, sehingga karenanya dapatlah dikatakan yang tertinggi. Lagi pula dalam memeriksa tes essay itu tidak dapat dinilai antara benar dan salah saja, karena ada beberapa tingkat kebenaran. Penilaian Bukan dengan Tes Di bawah ini akan diuraikan beberapa alat penilaian yang bukan termasuk tes. Dalam praktiknya alat-alat ini sering digunakan bersama-sama tergantung pada tujuan penilaian dan aspek yang akan dinilai, sehingga dapat diperoleh gambaran menyeluruh tentang perkembangan seorang anak. Check list. Check list mempunyai berbagai tujuan dalam fungsinya sebagai alat penilaian. Check list sering sekali digunakan untuk menilai perbuatan yang kompleks atau tugas-tugas tertentu walaupun kadang-kadang bentuknya sederhana sekali, yaitu hanya terdiri dan item-item yang dapat dijawab dengan ya atau tidak. Akan tetapi menyusun itemitem itulah yang sukar. Perlu diketahui bahwa dalam check list harus dimasukkan komponen yang esensial dari keterampilan yang hendak dinilai itu, misalnya mengenai hubungan sosial, kesehatan pada umumnya mental hygien, serta pemeliharaan alat-alat sekolah. Dengan check list, guru akan dapat segera mengetahui keadaan anak dalam situasi tertentu, karena secara keseluruhannya, apakah is orang teliti, ceroboh, cepat marah atau sportif. Rating Scale. Rating scale agak berbeda dari check list, karena rating scale menunjukkan tingkat-tingkat yang dicapai oleh murid, yang terdiri dari lebih dari dua kategori, sedangkan check list hanya terdiri dan dua kategori saja, ya atau tidak. Rating scale mempermudah penilaian mengenai sifat -sifat atau karaktristik yang

bersifat kuantitatif. Karna itu rating scale ini mempunyai 3 bentuk : descriptive scale, numerical scale, dan graphic scale. Murid yang dinilai ditempatkan dalam satu tingkat ukuran yang telah ditentukan. Sifat -sifat yang hendak dinilai itu hendaknya dimanifestasikan ke dalam tingkah laku yang dapat diobservasi se hingga dengan mudah dapat disusun alat penilainya. Tujuan dan rating scale ialah untuk menyimpulkan/merangkum, mengorganisasi dan menjumlahkan suatu akumulasi daripada observasi-observasi terhadap tingkah laku anak-anak. Jadi perbedaan pokok antara check list dan rating scale ialah pada bentuknya saja, yaitu rating scale menunjukkan letak kedudukan murid pada ukuran murid, sedangkan bentuk check list, hanya menunjukkan apakah murid itu mempunyai sikap atau sifat tertentu atau tidak. Kartu Partisipasi Harian. Kartu partisipasi harian ialah kartu penilaian untuk menilai partisipasi dan kegiatan sehari-hari, misalnya dalam diskusi. Laporan Lisan dan Tulisan. Laporan ini dibuat atau disusun oleh murid sendiri. Dalam laporan lisan murid diberi kesempatan mengutarakan sesuatu kepada gurunya. Dengan Laporan ini guru dapat mengetahui kesanggupan murid mengapresiasikan sesuatu, kesanggupan menyusun pikiran secara logis, kesanggupan memimpin, dan sebagainya. Laporan tertulis prinsipnya sama saja, hanya teknisnya berbeda. Laporan jenis ini perlu bagi murid yang pemalu. Kartu Angka. Kartu ini berisi skor atau angka dalam mata pelajaran tertentu dalam tiap kali murid mendapat skor dari gurunya. Bila tiba saatnya, maka skor-skor itu dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh guru untuk menetapkan kemajuan belajar siswa. 3). Pelaksanaan Pengukuran Pengukuran terhadap hasil belajar dilaksanakan dengan cara/ bentuk tertentu sesuai dengan maksud dan tujuan pengukuran tersebut, yang dirancang dengan model desain evaluasi, yakni evaluasi sumatif, evaluasi formatif, evaluasi reflektif, dan kombinasi ketiga model. a). Evaluasi sumatif, ialah suatu bentuk pelaksanaan evaluasi yang dilakukan pada waktu berakhirnya suatu program pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Model/bentuk evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui hasil akhir yang dapat dicapai oleh siswa, yakni penguasaan pengetahuan. Hasil penilaian ini sekaligus menggambarkan keberhasilan proses belajar mengajar. Evaluasi sumatif berfungsi menyediakan informasi untuk membuat keputusan untuk menentukan kelulusan, atau untuk menentukan suatu program dapat diteruskan dengan program baru atau perlu dilakukan pengulangan program pembelajaran.
b).

Evaluasi formatif, ialah suatu bentuk pelaksanaan evaluasi yang dilakukan selama berlangsungnya program dan kegiatan pembelajaran. Tujuan pelaksanaan evaluasi ini ialah untuk memperoleh informasi balikan terhadap proses belajar mengajar. Bila terdapat kelemahan dalam proses belajar mengajar, maka dapat segera dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya. Pelaksanaan evaluasi ini berfungsi diagnostik, yakni untuk perbaikan, yang dilakukan dengan metode pengajaran remedial. Evaluasi reflektif, ialah suatu bentuk pelaksanaan evaluasi yang dilakukan sebelum proses

c).

d).

pembelajaran berlangsung. Tujuan dari pelaksanaan evaluasi ini ialah untuk memperoleh informasi mengenai tingkat kesiapan dan tingkat penguasaan bahan pelajaran oleh siswa, sehingga dapat disusun dan diramalkan kemungkinan keberhasilannya setelah mengalami proses belajar mengajar kelak. Fungsi pelaksanaan evaluasi ini bersifat prediktif (peramalan). Kombinasi pelaksanaan evaluasi, misalnya antara bentuk reflektif dan bentuk sumatif. Tujuan pelaksanaan evaluasi ini ialah untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar, misalnya dalam bentuk desain pra-postes. Dengan demikian dapat diketahui kontribusi komponen-komponen sistem pembelajaran itu terhadap keberhasilan belajar siswa.

3.

EVALUASI PEMBELAJARAN Evaluasi pembelajaran adalah evaluasi terhadap proses belajar mengajar. Secara sistemik, evaluasi pembelajaran diarahkan pada komponen-komponen sistem pembelajaran, yang mencakup komponen input, yakni perilaku awal (entry behavior) siswa, komponen input instrumental, yakni kemampuan profesional guru/tenaga kependidikan, komponen kurikulum (program studi, metode, media), komponen administratif (alat, waktu, dana); komponen proses ialah prosedur pelaksanaan pembelajaran; komponen output ialah hasil pembelajaran yang menandai ketercapaian tujuan pembelajaran. Dalam hal ini perhatian hanya ditujukan pada evaluasi terhadap komponen proses dalam kaitannya dengan komponen input instrumental. a. Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran Evaluasi pembelajaran berfungsi dan bertujuan: 1). Untuk pengembangan. Untuk mengembangkan suatu program pendidikan, yang meliputi program studi, kurikulum, program pembelajaran, desain belajar mengajar, pada hakikatnya adalah pengembangan dalam bidang perencanaan. Perencanaan mengandung nilai strategis, karena merupakan acuan dalam rangka operasionalisasi pendidikan/ pembelajaran. Pengembangan setiap rencana/program membutuhkan data dan informasi yang akurat, dan untuk itu diperlukan instrumen evaluasi yang handal. Dalam konteks inilah evaluasi dapat memberikan sumbangan yang sangat bermakna bagi pendeskripsian kebutuhan program, perumusan tujuan, spesifikasi kemampuan, perumusan pengalaman belajar, menganalisis materi program, menetapkan strategi pembelajaran, menetapkan media dan sumber, serta merancang prosedur evaluasi. Perumusan aspek-aspek program tersebut hendaknya didukung oleh data/informasi yang dihasilkan oleh sistem penilaian (evaluasi). Untuk Akreditasi Berbeda dengan fungsi pertama, evaluasi juga berfungsi dan bertujuan untuk menetapkan kedudukan suatu program pembelajaran berdasarkan ukuran/kriteria tertentu, sehingga suatu program dapat dipercaya, diyakini dan dapat dilaksanakan terus, atau sebaliknya program itu harus diperbaiki/disempurnakan. Suatu program yang diyakini kehandalannya berarti telah diakreditasikan. Untuk menetapkan

2).

akreditasi program diperlukan data/informasi pendukung, berdasarkan penilaian dengan tolok ukuran tertentu. Pihak yang memberikan evaluasi akreditasi biasanya berbeda dengan pihak yang mengembangkan program, dan bukan pula yang menjadi pihak pelaksana program. Pengumpulan data dapat saja bersumber dari para pengembangan program, pelaksana/pemakai program, pemakai lulusan program, dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan informasi mengenai program yang dinilai itu. Masing-masing fungsi evaluasi tersebut dilaksanakan dengan cara yang berbeda. Evaluasi untuk pengembangan dilaksanakan dengan metode eksploratori dan metode deskriptif, sedangkan penilaian untuk akreditasi umumnya dilaksanakan dengan metode eksplanasi, atau dengan teknik expo facto. b. Sasaran Evaluasi Hasil Pembelajaran

Sasaran evaluasi pembelajaran adalah untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang dinilai dalam sistem pembelajaran. Jawaban atas pertanyaan tersebut berkenaan dengan halhal, atau objek atau aspek-aspek penilaian pembelajaran. Sehubungan dengan jawaban atas pertanyaan itu, ada 4 hal pokok yang dijadikan sebagai sasaran evaluasi pembelajaran, yakni tujuan pembelajaran, unsur dinamis pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan kurikulum. Keempat sasaran itu tampaknya berbeda satu dengan yang lainnya, namun sangat erat kaitannya dalam arti evaluasi terhadap suatu sasaran seringkali tidak dapat dipisahkan secara tegas dan evaluasi terhadap sasaran lainnya. 1). Evaluasi Tiyuan Pembelajaran Setelah berlangsung proses pembelajaran, maka dipandang perlu dilakukan evaluasi tentang tujuan dari pembelajaran tersebut berdasarkan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Hal ini penting, karena dengan cara ini dapat ditetapkan apakah tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya perlu dipertahankan atau perlu diperbaiki, dengan implikasinya perlu pula perbaikan program pembelajaran selanjutnya. Evaluasi terhadap tujuan pembelajaran bertitik tolak dari tiga pertanyaan, yang dapat dianggap sebagai kriteria evaluasi tujuan, yakni :
a). Apakah tujuan pembelajaran menggambarkan perilaku yang diharapkan dicapai oleh

siswa setelah mengalami proses pembelajaran? Perilaku yang dimaksudkan adalah perilaku yang tampak, dapat diamati, dan dapat diukur maupun perilaku yang tak tampak. Untuk mengevaluasi tujuan tersebut si penilai perlu memperhatikan 'kata kerja' yang digunakan dalam perumusan tujuan serta aspek-aspek rincian dari berbagai ranah yang dijadikan sebagai acuan tujuan khusus.
b). Apakah tujuan pembelajaran menggambarkan kondisi ter tentu di mana siswa

diharapkan mempertunjukkan kemampuannya setelah mengalami proses pembelajaran? Evaluasi terhadap aspek ini penting, karena pada akhir pembelajaran siswa diharapkan dapat mempertunjukkan/ mendemonstrasikan tingkah laku tertentu dengan cara tertentu setelah jangka waktu tertentu pula. Karna itu, kondisi yang digambarkan dalam rumusan tujuan pembelajaran harus dibatasi/dipersyaratkan. Jika tidak, berarti tujuan pembelajaran dinilai belum/kurang memenuhi criteria 'kondisi'.

c). Apakah dalam rumusan tujuan pembelajaran menggambarkan batas minimal

(paling rendah) perilaku yang dapat diterima? Hal ini perlu diberikan penilaian, karena bertalian dengan tingkat penguasaan, kualifikasi, prestasi yang diharapkan untuk menyatakan lulus tidaknya siswa dalam perilaku tertentu. Untuk itu juga perlu diperhatikan ukuran minimal yang dapat diterima mengenai perilaku tertentu. Bila rumusan tujuan telah menggambarkan kriteria ini, maka berarti tujuan tersebut telah memenuhi kriteria kualifikasi minimal perilaku (performance). 2). Evaluasi Unsur Dinamis Pembelajaran Unsur-unsur pembelajaran pada hakikatnya merupakan unsur penunjang dalam proses pembelajaran. Besarnya dan kuatnya dukungan unsur-unsur yang ada turut menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Karena itu sasaran-sasaran, sebagaimana dikemukakan di bawah ini, perlu dilakukan penilaian secara cermat dan saksama, sehingga mutu program pembelajaran semakin meningkat.
a). Evaluasi terhadap motivasi belajar siswa. Evaluasi terhadap sasaran ini bertujuan

untuk mengetahui apakah dorongan belajar siswa sudah memadai, dan apakah upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk menggerakkan motivasi belajar itu sudah sesuai dengan prinsip-prinsip yang disarankan? Dengan evaluasi, guru memperoleh data/informasi mengenai hal-hal tersebut. Jika hasilnya menunjukkan pada nilai 'kurang', maka berarti guru perlu dan seyogianya melakukam upaya-upaya perbaikan pada rancangan teknik motivasi yang lebih baik.
b). Evaluasi terhadap bahan pelajaran. Evaluasi terhadap sasaran ini bertujuan untuk

memperoleh gambaran mengenai ruang lingkup, urutan, kedalaman, kesesuaian bahan pelajaran dilihat dari segi tujuan, kegunaan, kemampuan daya serap siswa, penguasaan bahan oleh guru, dan temuan-temuan Iptek serta kondisi lingkungan masyarakat sekitar. Lagi pula bahan pelajaran yang terlalu luas, atau terlalu sulit, atau sistem penyajian yang tidak sistematik, dan tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran akan tampak pengaruhnya pada hasil belajar siswa, serta tingkat penguasaannya. Gambaran tentang nilai sasaran ini dapat diperoleh melalui evaluasi bahan pelajaran. c). Evaluasi terhadap alat bantu belajar. Sasaran evaluasi ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat ketepatan, kesesuaian, kedayagunaan dan keampuhan alat bantu yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi guru dapat mengetahui tepat tidaknya alat bantu yang telah digunakan, sesuai tidaknya antara alat dan tujuan pembelajaran, besar kecilnya daya guna alat bantu tersebut, dan besar kecilnya sumbangan alat terhadap keberhasilan belajar siswa. Jika hasil evaluasi menunjukkan nilai kurang, maka berarti perlu dikembangkan dan dipilih alat bantu lain berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
d). Evaluasi terhadap suasana belajar. Evaluasi terhadap sasaran ini bertujuan untuk

memperoleh gambaran tentang keadaan dan dukungan suasana belajar (khususnya lingkungan kelas) terhadap proses pembelajaran. suasana belajar dipengaruhi oleh sikap, guru, perilaku disiplin siswa, keadaan dan situasi dalam kelas, pengorganisasian kelas, sistem penyampaian bahan pelajaran oleh guru, dan kondisi diri siswa sendiri. Berdasarkan hasil evaluasi guru dapat mengetahui kontribusi suasana belajar itu terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar siswa. Evaluasi terhadap

sasaran ini memang agak rumit, karena erat kaitannya dengan pengaruh lingkungan interpersonal dan kultural, baik di dalam maupun di luar kelas. Namun demikian, berdasarkan data yang ada, guru dapat melakukan upaya perbaikan sedemikian rupa agar suasana belajar dalam kelas menjadi lebih efektif.
e). Evaluasi terhadap keadaan subjek didik. Evaluasi terhadap sasaran ini bertujuan

untuk mengetahui tentang keadaan diri subjek peserta didik (siswa) yang berperan dalam proses pembelajaran. Keadaan itu mencakup, antara lain : keadaan jasmaniah dan keadaan mental psikologis, pengalaman, latar belakang keluarga, lingkungan masyarakat, dan perilaku awal (entry behavior) sebelum mengikuti proses pembelajaran. Unsur-unsur tersebut besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar serta kelancaran dan mutu pem belajaran itu sendiri. Berdasarkan hasil evaluasi dapat diperoleh gambaran nyata tentang keterkaitan antara keadaan subjek dengan hasil belajar. Dengan kata lain, jika hasil belajar siswa menunjukkan kurang atau menurun dari biasanya, maka guru dapat memperkirakan bahwa keadaan diri subjek didik dalam posisi kurang mengntungkan. Guru perlu memikirkan rancangan program untuk memperbaiki keadaan ini, bila perlu dengan bantuan tenaga bimbingan dan penyu luhan sekolah. 3). Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Sasaran ini perlu dinilai untuk mengetahui derajat keterlaksanaan daripada pembelajaran itu. Aspek-aspek yang perlu dinilai terdiri dari: a). Tahap permulaan pembelajaran, yang meliputi aspek -aspek, sebagai berikut: (1). Metode yang digunakan (ketepatan, sistematika) (2). Penyampaian materi pelajaran (3). Kegiatan siswa (4). Kegiatan guru (5). Penggunaan unsur penunjang. b). Tahap inti pembelajaran, meliputi: (1). Metode yang digunakan (ketepatan, sistematika) (2). Materi yang disajikan (3). Kegiatan siswa (4). Kegiatan guru (5). Penggunaan unsur penunjang. c). Tahap akhir pembelajaran, meliputi (1). Kesimpulan yang dibuat mengenai materi (2). Kegiatan siswa (3). Kegiatan guru (4). Prosedur/teknik penilaian. d). Tahap tindak lanjut, meliputi (1). Kegiatan siswa (2). Kegiatan guru

(3). Produk yang dihasilkan. 4). Evaluasi Kurikulum / GBPP Sasaran ini perlu dilakukan evaluasi terutama yang berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum. Dalam hubungan ini, evaluasi berpijak pada pertanyaanpertanyaan, sebagai berikut: a). Berapa banyak dan berapa luas/kedalaman mengenai tingkat ketercapaian tujuan yang telah ditentukan dalam GBPP? b). Sejauh mana ruang lingkup dan urutan pokok bahasan/sub-sub pokok/topik telah disampaikan dan diserap oleh siswa? c). Bagaimana tingkat pelaksanaan/penggunaan strategi pembel ajaran yang telah digariskan dalam GBPP itu? d). Hingga mana ketercapaian hasil belajar siswa? Prosedur Evaluasi Pembelajaran

c.

Penetapan prosedur evaluasi pembelajaran berdasarkan fungsi, tujuan, dan sasaran yang hendak dievaluasi. Ada beberapa bentuk atau teknik yang dapat digunakan, ialah: 1). Studi Kasus. Studi kasus adalah suatu prosedur evaluasi dalam upaya mempelajari satu orang siswa atau sekelompok siswa yang dijadikan sebagai kasus, dengan cara menghimpun data dan informasi dari semua pihak yang terkait dengan kasus tersebut, dan dengan berbagai teknik pengukuran yang relevan. Informnasi yang dikumpulkan antara lain hal-hal yang berkenaan dengan (1). Informasi umum, (2). situasi masyarakat yang mempengaruhi siswa ter sebut, (3). Tatar belakang keluarga, (4). catatan sekolah, (5). abilitas mental, (6). kondisi jasmaniah, dan (7). pengalaman-pengalaman di luar sekolah. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi mempelajari catatan, observasi, pembahasan, pertemuan, analisis, kunjungan dan sebagainya. Inventories dan Questionaires. Memang agak sulit memisahkan antara check list, inventoris dan questionaire ini, dalam praktik sulit dibedakan. Dengan kata lain digolongkan baik inventoris maupun check list dapat digolongkan dalam questionaire. Biasanya inventoris ini jarang digunakan oleh guru, karena didasarkan pada penelitian yang intensif, lebih panjang dan lebih luas dari check list. Adapun caranya sama saja dengan check list, yaitu dengan memberikan tanda atau jawaban ya atau tidak. Dan inventoris ini digunakan untuk menyelidiki mental, sikap, dan kepribadian. Humprey dan Traxler, mengemukakan maksud dari inventories ialah : a). Memungkinkan individu murid menentukan secara pasti masalah-masalah spesifik dan daerah permasalahan yang ada. b). Murid-murid mengenal bahwa mereka mempunyai masalah-masalah umum.

2).

c). Memberikan informasi kepada sekolah mengenai masalah-masalah murid baik secara

individual maupun sebagai suatu kelompok. Data inventoris tentu saja untuk dipergunakan dalam memberikan bimbingan kepada murid-murid itu. Questionaire terdiri dari satu seri pertanyaan atau statemen. dengan maksud dapat dijawab oleh murid yang akan dinilai itu mengenai : minat, sikap, pendapat, dan pertimbangannya. Questionaire ini disusun dengan maksud untuk mengetahui latar belakang murid, mengenai kedudukan sosial ekonominya, sikapnya terhadap sesuatu, minat pertimbangannya. Hasil dari questionaire ini penting untuk memberikan bimbingan kepada murid-murid. 3). Observasi. Guru dapat memperoleh epidensi tentang murid secara langsung dari murid itu sendiri atau dari teman-temannya. Tentu saja epidensi ini perlu diinterprestasikan dulu sebelum digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Guru berinteraksi dengan murid baik di dalam maupun di luar kelas untuk melihat dan mendengar apa yang diperbuat oleh murid. Guru tentu tidak mungkin menaruh perhatian hal yang dilakukan oleh murid-murid semuanya sekaligus. Akan tetapi dengan menentukan tujuan yang spesifik, guru dapat mengarahkan perhatiannya kepada hal-hal tertentu saja. Observasi dilakukan oleh baik guru yang tradisional maupun guru yang modern. Hanya saja, guru tradisional tidak dapat menggunakan hasil observasi itu dengan sebaik-baiknya dan juga dalam mengadakan observasi itu, mereka tidak memperhatikan syarat-syarat observasi, yakni:

Adanya objek yang khusus. Adanya tujuan yang mengarahkan pokok -pokok yang diobservasi. Membuat catatan-catatan khusus bahkan dilengkapi pula dengan check list dan inventories.

4).

Anecdotal records. Dipergunakan untuk mencatat kejadian-kejadian singkat yang insidental mengenai sosial adjustment dan emosional adjustment Karenanya maka anecdotal records harus diambil dari kejadian-kejadian insidental, faktual, aktual tanpa interpretasi dan dibubuhi perasaan-perasaan yang dirasakan oleh guru. Lagi pula kejadiankejadian itu haruslah bersifat penting, dan bermakna dalam pertumbuhan/perkembangan murid. Tujuan anecdotal records ialah memberikan gambaran ten-tang perubahan pertumbuhan dan perkembangan murid dalam jangka waktu tertentu. Catatan singkat itu mengenai kepribadiannya, hubungan sosialnya, sikap sopan santun, sikap menolong, kecerdasan berpikir dan sebagainya. Catatan-catatan yang dibuat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : (1). Catatan itu harus representatif. (2). Lukisannya harus pasti, tidak dimasukkan tafsiran guru. (3). Bila perlu guru mencobanya dalam situasi tertentu. 5).Wawancara (interview) Merupakan alat bagi guru untuk mengadakan hubungan sehari-hari dengan murid, orang tua murid, administrator, dan lain-lain. Interviu itu dapat dipergunakan sebagai alat evaluasi yang formal. Dengan demikian guru dapat

memperoleh keterangan mengenai sikap, perasaan, harapan dan hal-hal yang disukai murid dan juga problem yang sedang dihadapinya. lnterviu harus dilaksanakan dalam suasana yang ramah tamah di mana murid dengan bebas menjawab pertanyaan guru, sangat diharapkan dalam suatu interviu terjalin hubungan yang baik.