Anda di halaman 1dari 25

Laporan Praktikum Teknik Penyimpanan dan Penggudangan

Hari/tanggal Dosen Asiten

: Rabu, 18 April 2012 : Ir. Sugiarto, M.Si : (F34080012) (F34080141)

1. Lintang Zulqaidah F. 2. Luh Pastiniasih

PENYAKIT PASCA PANEN KOMODITI PERTANIAN

Oleh : Elok Pratiwi Nadhira Afina Putri Feri Julianto (F34100085) (F34100112) (F34100114)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Produk pascapanen hortikultura segar buah-buahan dan sayur-sayuran adalah produk yang masih hidup dicirikan dengan adanya aktivitas metabolisme yaitu respirasi. Respirasi adalah proses oksidasi dengan memanfaatkan gula sederhana dimana dengan keterlibatan enzim dirubah menjadi CO2, H2O dan energi kimia berupa adenosin triphosphate (ATP) disamping energi dalam bentuk panas. Karena suplai karbohidrat terputus karena aktivitas fotosintesis terhambat setelah panen untuk produk sayuran dan suplai terputus dari tanaman induknya untuk buah-buahan, maka semua suplai untuk aktivitas respirasi hanya berasal dari tubuh bagian tanaman yang dipanen itu sendiri. Akibatnya, selama periode pascapanennya terjadi

kemunduran-kemunduran mutu kesegarannya. Kemunduran ini akan dibarengi dengan tumbuh dan perkembangan agenagen perusak lainnya seperti mikroorganisme pembusuk dan serangga perusak. Konsep segitiga penyakit yang secara umum dikenal di dunia penyakit tanaman berlaku juga dalam penyakit pascapanen. Hal ini sangat menentukan berat ringannya tingkat keparahan penyakit pasca panen. Faktor penentu tingkat keparahan penyakit pascapanen tersebut berperan penting dalam menentukan timbul dan berkembangnya penyakit pascapanen baik selama penyimpanan maupun saat pemasaran. Penyakit pascapanen sangat menentukan kelangsungan produk tanaman setelah dipanen, sehingga perlu diketahui macam faktor yang berperanan dalam menentukan keparahan penyakit pascapanen tersebut. Mengetahui potensi serangan penyakit pascapanen pada buah dan sayur sangat penting agar dapat dilakukan tindakan pencegahan sehingga mutu komoditi hasil panen tetap terjaga dengan baik.

B. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanda tanda serangan penyakit pasca panen, mengidentifikasi kerusakan komoditi pertanian akibat penyakit pasca panen, mengidentifikasi/menentukan jenis penyakit pasca panen,

menentukan penyebab penyakit pasca panen (fisiologis, kapang/jamur,bakteri), serta dapat menentukan cara pencegahan terjadinya serangan penyakit pasca panen.

II. A. Alat dan Bahan

METODOLOGI

Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop lengkap dengan gelas objek dan gelas penutupnya. Sedangkan bahan yang digunakan adalah bebuahan dan sesayuran (wortel, brokoli, kacang panjang, cabe merah, tomat, jambu biji, apel, melon, pepaya, terong, selada, kentang) yang terkena serangan penyakit pasca.

B. Metode Amati buah/sayur secara visual dengan mata telanjang

Buat gambar dari gejala penyakit yang nampak

Ambil cairan sampel dan amati di bawah mikroskop

Identifikasi penyebab penyakit pasca panen

III. A. Hasil Pengamatan 1. Pengamatan visual

PEMBAHASAN

B. Pembahasan Kehilangan hasil akibat kebusukan komoditi merupakan dasar

dikembangkannya teknik penanganan hasil pertanian. Penyakit - penyakit pascapanen merupakan kenyataan yang menentukan dipilihnya suatu penerapan teknik penanganan. Mengetahui mikroorganisme penyebab penyakit, komoditi inang, dan teknik penanganann merupakan hal yang saling terkait bagi suksesnya upaya mempertahankan komoditi panen agar tetap segar hingga sampai pada konsumen (Amiarsi, 1996). Praktek - praktek penanganan yang diterapkan atau dilakukan mungkin saja juga berpengaruh terhadap kepekaan komoditi panenan terhadap penyebab penyakit. Hal ini dikarenakan tingkat kematangan, pemasakan dan penuaan komoditi. Selain itu bekas bekas pemotongan, luka memar ataupun lecet memberi kesempatan mikroorganisme penyebab penyakit akan lebih mudah menginfeksi komoditi tersebut. Kondisi tekanan akibat suhu tinggi atau rendah memungkinkan perubahan dalam aspek fisiologis yang tentunya akan memudahkan bagi berkembangnya penyebab penyakit. Faktor utama bagi perkembangan penyakit pascapenen komoditi adalah inang (buah atau sayur) , penyebab penyakit (mikroorganisme patogen), dan lingkungan. Faktor lingkungan terdiri atas suhu, kelembaban relatif dan komposisi atmosfer ruang simpan. Ketiga faktor utama ini sering dikenal sebagai konsep segitiga penyakit (Wills, 1989). Terdapat dua jenis penyakit pascapanen pada hortikultura, yaitu penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Penyakit non parasiter merupakan jenis penyakit pada suatu komoditi yang penyebabnya bukan karena organisme lain melainkan disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Penyakit non parasiter ini meliputi kerusakan mekanis, kerusakan fisiologis, penguapan, kerusakan akibat respirasi, kerusakan fisk,

kerusakan akibat suhu, kerusakan akibat kelembabap relatif, maupun perubahan biologis lainnya. Sedangkan penyakit parasiter merupakan penyakit - penyakit komoditi hasil panen yang disebabkan oleh patogen seperti jamur, bekteri, dan virus. Penyakit parasit pascapanen merupakan penyakit yang memang terjadi pada saat di lapang (sebelum dipanen), hanya saja patogen pada saat itu dalam keadaan dorman, dan setelah pemanenan serta kondisi mendukung bagi berkembangnya atau aktivitas patogen tersebut, barulah terjadi perkembangan atau aktifnya patogen tersebut, sehingga terjadi perkembangan penyakit yang ditandai terlebih dahulu dengan adanya gejala gejala serangan penyakit. Jamur merupakan mikroorganisme penting bagi suatu penyakit pascapenen buah dan sayuran serta tanaman hias. Jamur yang sering merupakan patogen pascapanen tergolong kelas Ascomycetes dan berhubungan dengan fungi imperfecti. Sedangkan kelas Phycometecex yang sering merupakan patogen meliputi Rhizopus, Phytopthora, dan Pythium. Sedangkan kelas Basidiomycetes merupakan jamur yang paling jarang sebagai patogen pascapenen komoditi pertanian. Penyakit pascapanen yang disebabkan oleh bakteri dapat terjadi akibat infeksi bakteri sejak di lapang maupun saat periode pascapanen selama periode pengumpulan hasil panen, sortasi, pencucian, packing maupun pengangkutan dan penyimpanan (Martoredjo, 1983). Faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ketiga jenis mikroba tersebut berbeda satu sama lain dia antaranya adalah aktivitas air (Aw) bahan pangan, suhu penyimpanan, ketersediaan oksigen, pH bahan pangan dan kandungan zat gizi. Faktor lingkungan fisik tersebut apabila berada pada kondisi optimal makan pertumbuhan mikroba akan berlangsung baik. Beberapa golingan buah busuk yakni buah lunak dan basah atau busuk bonyok, busuk keras dan kering atau busuk mummi, dan busuk biasa atau bercak nekrosa. Mikroba patogen dijumpai sangat banyak selama buah berada di tanaman maupun di dalam ruang simpan. Meskipun demikian hanya beberapa jenis patogen yang mampu tumbuh dan berkembanag dan menimbulkan kerusakan pada produk pascapenen. Perkembangan patogen pascapanen sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan khususnya suhu pH, nutrisi, dan kandungan air yang harus tersedia.

Selain itu, patogen pascapanen harus bekerja sama dengan enzim yang dihasilkan untuk menguraikan jaringan inang yang mengakibatkan kelarnya nutrisi yang sesuai bagi pertumbuhan patogen dari jaringan yang terurai tersebut ( Murtiningsih, 1994). Setiap jenis buah dan sayur hanya diserang oleh kelompok jamur parasit dan kemungkinan oleh bakteri yang unik dan relatif kecil. Kelompok ini memerlukan persyaratan nutrisi dan kemampuan enzimatis untuk perkembangannya di dalam jaringan inangnya. Kerusakan yang terjadi pada buah dan sayur yang telah dipanen disebabkan karena organ komoditi tersebut masih melakukan proses metabolisme dengan menggunakan cadangan makanan yang terdapat dalam buah. Berkurangnya cadangan makanan tersebut tidak dapat digantikan karena buah sudah terpisah dari pohonnya sehingga mempercepat proses hilangnya nilai gizi buah dan sayur. Sedangkan tingkat kerusakan buah dipengaruhi oleh difusi gas ke dalam dan ke luar buah yang terjadi melalui lentisel yang tersebar di permukaan buah. Perlambatan proses tersebut tentunya secara teoritis dapat pula dilakukan sehingga dapat memperlambat laju perusakan. Pembusukan atau munculnya mikroorganisme pada buah merupakan akibat kerusakan fisik pada buah pada saat menyimpan yang ditimbulkan mikroorganisme, selain itu proses metabolisme juga dapat mempengaruhi terjadinya kebusukan kebusukan karenan respirasi yang berlebihan (Syarief dan Halid, 1993). Buah dan sayur yang telah terkena serangan mikroorganisme patogen pasti akan memperlihatkan gejala gejala yang tidak semestinya. Gejala gejala tersebut dapat berupa adanya perubahan fisik maupun perubahan komposisi. Perubahan fisik atau morfologis antara lain ditandai dengan adanya perubahan warna, timbulnya memar, perubahan bentuk dan permukaan yang diserang, serta keberadaan miselium. Sedangkan perubahan komposisi ditandai dengan nutrisi yang berkurang bahkan hilang (Firdaus, 2005). Perbahan warna pada komoditi seperti daun yang menguning atau bahkan berubah menjadi kecoklatan pada sayur, begitu pula dengan permukaan kulit buah yang berubah menjadi kecoklatan hingga kehitaman. Terbentuknya memar pada buah dan sayur terjadi karena komoditi jatuh atau terbentur yang dapat menyebabkan kebusukan. Perubahan bentuk juga merupakan salah satu indikasi bahwa suatu

komoditi telah terserang penyakit, hal ini biasanya terjadi pada buah yang telah matang, buah akan berubah bentuk menjadi penyok, bisa juga buah dan sayur yang segar akan menjadi keriput setelah diserang penyaki. Selain itu buah dan sayur yang terserang penyakit akan tumbuh miselium, hal ini terjadi pada komoditi yang diserang kapang. Gejala lain terjadinya pembusukan pada buah adalah tampak bintik atau bercak kecil pada buah atau sayur, bintik ini kemudian membesar. Buah dan sayur yang telah terserang penyakit juga akan menghasilkan cairan dan lendir dan berbau, juga rasanya menjadi asam. Dari hasil pengamatan terlihat kerusakan yang terjadi karena pembusukan yang diakibatkan oleh umur simpan yang terlalu lama dan juga penyimpanan pasca panen yang tidak sesuai, dalam praktikum kali ini digunakan beberapa komoditi pada kelompok pertama komoditi yang digunakan yang digunakan sebagai pengamatan adalah apel, dilihat secara visual keadaan apel yang telah membusuk memperlihatkan keadaan visual yang tidak sehat hal ini dibuktikan dengan warna dari apel itu sendiri yang sudah tidak segar kembali yaitu berwarna merah kecoklatan serta terdapat memar hitam yang diakibatkan oleh bakteri yang menyerang komoditi tersebut. Tidak hanya warna dan memar yang terlihat dalam kondisi fisik apel tersebut, selain itu juga tekstur yang dimiliki oleh apel sangat lunak serta keadaan tampak apel dari luar memiliki kulit seperti keriput, dalam keadaan ini tidak ada lendir yng terlihat namun aroma yang dihasilkan dari apel tersebut memiliki bau busuk yang menyengat serta kering tidak seperti buah apel seperti biasanya. Komoditi yang kedua adalah sayuran brokoli sama halnya dengan apel brokoli yang diamati memiliki

penampakan visual yang juga tidak sehat hal ini terlihat dari warna sayuran yang memiliki warna hijau gelap dan memiliki tektur yang lembek sehingga pada kondisi seperti ini sudah tidak dapat untuk dikonsumsi kembali,berbeda dengan apel pada brokoli tedapat lendir yang terdapat pada pemukaan hal ini semakin menunjukan adanya pembusukan yang diakibatkan oleh bakteri serta memiliki aroma bau seperti bau busuk dan juga layu serta berair yang diakibatkan karena penanganan yang salah seewaktu pasca panen dan juga organisme komuditi tekah dihancurkan oleh bakteri penyerang komuditi tersebut. Dari hasil pengamatan secara visual terdapat bukti yang menguatkan adanya pembusukan yang diakibatkan karena adanya bakteri yaitu

baik kedua komoditi yang diamati yaitu apel dan brokoli sama sama terdapat kapang yang tumbuh apabila diamati oleh mikroskop. Apel adalah jenis buah buahan yang berwarna merah kulitnya jika masak, namun bisa juga kulitnya berwarna hijau atau kuning. Kulit buahnya agak lembek, daging buahnya keras dan ada beberapa biji di dalamnya. Penyakit yang menyerang tanaman apel dapat merusak pohon, bunga, dan buah. Penyakit yang pertama adalah Embun Tepung (Podosphaera leucoticha). Gejalanya terdapat serangan pada buah muda berwarna kecoklatan dan pada buah tua warna kulit menjadi coklat muda seperti sawo. Cara pengendaliannya secara kultur teknis dengan membersihkan rumput di sekitar tanaman dan memotong buanga atau buah yang terinfeksi, dikumpulkan kemudian dibakar. Secara kimia dengan fungisida seperti

dinokap/karathane ukuran 4 gram per liter. Penyemprotan setelah pengguguran daun sampai tunas berumur 4-5 minggu dengan jarak 7 hari. Penyakit Bercak Daun (Marssonina coronaria J.J. Davis) memiliki gejala adanya serangan pada daun yang berumur 4-6 minggu setelah perompesan (pemotongan ranting dan daun yang tidak produktif). Mulanya pada daun timbul bercak putih tidak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam, dimulai dari daun tua, daun muda hingga seluruh bagian gugur. Cara pengendaliannya secara kultur teknis, mengatur jarak tanam tidak terlalu rapat, bagian yang terserang dibuang dan dibakar. Secara kimia, yaitu menyemprot fungisida Agrisan 60 WP ukurannya 2 gram per liter air, dosis 1000 2000 gram per hektar sejak 10 hari setelah rompes dengan jarak waktu (interval) seminggu. Selain itu dapat juga menggunakan Delseme MX 200 ukurannya 2 gram per liter air, Henlate 0,5 gram per liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dengan jarak waktu 7 hari hingga 4 minggu. Penyakit Jamur Upas (Cortisium salmonicolor Berk et Br) gejalanya meliputi 4 stadium, yaitu: (1) Stadium laba-laba: jamur membentuk miselium tipis menyerupai sarang laba-laba dan belum menembus jaringan; (2) Stadium bongkol: miselium jamur mulai membentuk hifa dan menginfeksi kulit; (3) Stadium Cortisium: jamur membentuk kerak berwarna merah jambu dan makin tua berubah warna menjadi lebih muda atau putih. Pada fase ini infeksi sudah parah dan pada kulit kayu di bawah kerak telah membusuk dan mongering; (4) Stadium Necator:

jamur membentuk bulatan-bulatan kecil berwarna merah tua, bagian pinggiran busuk dan mengering. Cara pengendaliannya secara kultur teknis, dengan membersihkan rumput dan mengurangi kerimbunan tajuk, mengurangi kelembaban kebun, menghilangkan bagian tanaman yang sakit dan lukanya ditutup dengan ter atau obat penutup luka. Secara kimia, dengan menyemprotkan/menyaput dengan kapur tohor ditambah fungisida (Copper Sandoz atau Derosal 60 WP setelah perompesan dengan ukuran 2 gram per liter air). Kanker pada apel (Botryosphaeria sp.) memiliki gejala adanya serangan pada buah di kebun maupun di gudang panen. Bermula buah timbul bercak coklat kecil, membusuk, meluas hingga seluruh buah melembung dan busuk berair serta warna kulit buah menjadi pucat. Cara pengendaliannya secara kultur teknis dengan memetik buah tidak terlalu masak. Secara kimia dengan menyemprot pada tanaman sehat dengan fungisida seperti Difoliatan 4F (ukuran 100 cc per 10 liter air), Copper Sandoz, Benomyl (ukuran 0,5 gram per liter air) dan Antracol 70 WP (ukuran 2 gram per liter air). Penyakit Busuk Buah (Gloeosporium sp.) dengan gejala adanya serangan pada buah di kebun maupun di gudang panen. Mula-mula timbul bercak kecil kehijau-hijauan, membusuk, berbentuk bulat, selanjutnya bercak berubah wanca menjadi coklat dan terdapat bintik-bintik berwarna hitam. Pada akhirnya warna buah menjadi oranye. Cara pengendaliannya secara kultur teknis dengan memetik buah tidak terlalu masak. Kemudian menanam varietas yang tahan penyakit ini, yaitu varietas Manalagi. Secara kimia dengan menyemprotkan fungisida pada tanaman atau apabila buah akan disimpan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam fungisida seperti benomil 0,5 gram per liter air. (Anonim, 2011). Brokoli merupakan sayuran yang mendapat prioritas untuk ditingkatkan produksinya. Salah satu penyakit yang menyerang adalah Soft rots yang disebabkan oleh Erwina carotovora yang tidak hanya menyerang tenaman yang masih berada dalam perkebunan, tetapi juga pada saat penyimpanan atau pemasaran. Selain itu bakteri ini berkembang sangat cepat. Busuk lunak adalah penyakit yang merugikan pada tanaman-tanaman sayur termasuk brokoli, baik di lapangan maupun dalam penyimpanan dan pengankutan sebagai tindakan pascapanen. Gejala umum pada tanaman brokoli adalah busuk basah, berwarna coklat atau kehitaman pada daun,

batang, umbi. Bercak bercak tersebut membesar dan membentuk lekukan, bentuknya tidak teratur, berwarna coklat kehitaman. Jika kelembaban tinggi jaringan yang sakit tampak basah, berwarna krem atau kecoklatan, dan tampak agak berbutir butir halus. Di sekitar bagian yang sakit terjadi pembentukan pigmen coklat tua atau hitam. Pada serangan lanjut daun terinfeksi melunak berlendir dan mengeluarkan bau yang khas. Jaringan yang membusuk pada mulanya tidak berbau, tetapi dengan adanya seranagn bakteri sekunder jaringan tersebut menjadi berbau menyengat (Machmud, 1984). Untuk mengendalikan penyakit ini digunakan beberapa cara antara lain melakukan sanitasi dengan menjaga kebersihan kebun khususnya dari sisa-sisa tanaman sakit sebelum penanaman, menanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat untuk menghindari kelembaban yang terlalu tinggi, pada waktu pemeliharaan diusahakan sejauh mungkin menghindari terjadinya luka, mencuci hasil panen dengan air yang mengandung chlorine, dan menyimpannya dalam ruangan yang cukup kering dan mempunyai ventilasi yang cukup sejuk dan difumigasi sebelumnya (Anonim, 2010). Pada kelompok kedua komoditi yang diamati adalah kentang dan juga kacang panjang, pada pengamatan kali ini pengamatan yang digunakan adalah pengamatan secara visual dan pengamatan mikroskopis, pada saat pengamatan yang dilakukan dengan visual terlihat bentuk yang tidak sesuai dengan keadaan awal seperti warna yang dihasilkan dari warna kentang yaitu warna coklat selain itu juga terdapat beberapa ciri yang menunjukan hal yang membuktikan bahwa komoditi tersebut sudah tidak baik lagi yaitu tekstur yang dimiliki dari kentang itu sendiri adalah lunak namun pada bagian permukaan kulit kentang terasa kulit kentang kasar namun pada pengamatan komoditi kentang tidak ada lendir serta bau yang timbul juga tidak ada. Komoditi yang kedua yang diamati oleh kelompok dua adalah kacang panjang, pada komoditi kacang panjang ini warna yang terdapat adalah hijau yang disertai dengan memar hitam yang terdapat di dalam komoditi tersebut. Selain itu juga pada bagian tekstur kacang panjang terdapat lubang lubang yang diakibatkan telah dimakan oleh ulat atau semacam mikroba yang lainnya sehingga merusak tekstur kacang panjang tersebut, sama halnya dengan kentang komoditi kacang panjang pun tidak memiliki lendir serta bau dalam penampakan visualnya.

Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu atau semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari. Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat. Kentang menjadi makanan pokok di banyak negara barat. Zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bahan adalah kalori 347 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium (Ca) 20 gram, fosfor (P) 30 mg, besi (Fe) 0,5 mg dan vitamin B 0,04 mg. Beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang kentang, yang pertama adalah Penyakit busuk daun (jamur Phytopthora infestans) dengan gejala timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah, lalu bercak-bercak ini akan berkembang dan warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium, selanjutnya daun akan membusuk dan mati. Pengendaliannya menggunakan Antracol 70 WP, Dithane M-45, Brestan 60, Polyram 80 WP, Velimek 80 WP dan lain-lain. Penyakit layu bakteri Pseudomonas solanacearum memiliki gejala beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendaliannya dengan cara menjaga sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pemberantasan secara kimia dapat menggunkan bakterisida, Agrimycin atu Agrept 25 WP. Penyakit busuk umbi (Jamur Colleotrichum coccodes) memiliki gejala daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Pada bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendaliannya dengan cara pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Penyakit fusarium (jamur Fusarium sp.) Gejala infeksi pada umbi

menyebabkan busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian dengan menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Penyakit bercak kering (Early Blight) atau jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang biak di daerah kering. Gejala daun terinfeksi berbercak kecil yang tersebar tidak teratur, berwarna coklat tua, lalu

meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian dengan pergiliran tanaman. Penyakit karena virus, antara lain Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung, Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun, Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis local, Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung, Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas . Gejalanya akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendaliannya tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, memberantas vektor dan pergiliran tanaman. Kacang panjang merupakan tumbuhan yang dijadikan sayur atau lalapan. Ia tumbuh dengan cara memanjat atau melilit. Bagian yang dijadikan sayur atau lalapan adalah buah yang masih muda dan serat-seratnya masih lunak, kacang panjang ini mudah didapati di kawasan panas di Asia. Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum ) serangan ini dapat diamati pada bibit yang baru berkecambah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendaliannya dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV). Gejala yang timbul daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian dengan menggunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.) disebabkan oleh Penyakit ditularkan kutu daun. Gejala yang timbul adanya pertumbuhan tanaman masih terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk sapu. Pengendalian dengan

menggunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum ). Gejala yang timbul adalah tanaman mendadak layu dan serangan berat menyebabkan tanaman bisa mati. Pengendaliannya dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam (Anonim, 2011). Pada kelompok ketiga komoditi yang digunakan adalah tomat dan juga wortel. Pengamatan yang pertama dihasilkan setelah dilakukan pengamatan secara visual adalah pada tomat warna yang biasanya adalah warna merah namun pada kondisi ini warna atau kondisi yang terihat adalah warna merah yang sudah menghitam serta terdapat memar hitam yang terdapat pada permukaan yang disertai pula dengan tekstur yang suah sangat lunak dan juga kulit yang ada sudah

mengkeriput. Selain dari tekstur warna dan juga memar pada tampilan visual yang terdapat pada tomat, juga terdapat miselium juga yang ada pada permukaan tersebut, aroma yang dihasilkannya pun adalah bau tomat namun juga bau busuk yang sudah mulai timbul. Pada pengamatan yang selanjutnya adalah pengamatan dengan menggunakan miroskopis hasil dari pengamatan mikroskopis ini terlihat kapang yang berbentuk sepert bulatan. Pada komoditi yang kedua adalah wortel dari hasil pengamatan secara visual dihasilkan bahwa wortel yang sduah mulai membusuk akan memiliki warna orange wortel yang disertai dengan warna yang mulai menghitam, selain itu juga terdapat lendir dan juga misselium yang terdapat pada wortel dan aroma yang dihasilkan adalah aroma wortel pada umum nya namun disertai dengan bau yang mulai membusuk. Tomat banyak disukai masyarakat Indonesia untuk dikomsumsi sebagai bahan pelengkap makanan. Namun budidaya tanaman tomat harus dilestarikan dan jangan sampai punah gara-gara perawatan yang belum mendetail akan gejala hama dan penyakit pada tanaman tomat tersebut. Hama dan penyakit pada tanaman tomat bisa dimusnahkan dari sekarang. Pengetahuan tentang hama dan penyakit pada tanaman tomatmempengaruhi hasil panen setiap orang yang berbeda. Penyakit pada tanaman tomat terdapat beberapa macam. Ulat buah tomat (Heliothis armigera Hubner) dengan ciri panjang ulat 4 cm dan akan makin panjang pada temperatur rendah. Warna ulat bervariasi dari hijau,

hijau kekuning-kuningan, hijau kecoklat-coklatan, kecoklat-coklatan sampai hitam. Pada badan ulat bagian samping ada garis bergelombang memanjang, berwarna lebih muda. Pada tubuhnya kelihatan banyak kutil dan berbulu. Telur berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan mengkilap dan sesudah 2-4 hari berubah warna menjadi coklat. Panjang sayap ngengat bila dibentangkan 4 cm dan panjang badan antara 1,5-2,0 cm. Sayap bagian muka berwarna coklat dan sayap belakang berwarna putih dengan tepi coklat. Gejalanya ulat ini menyerang daun, bunga dan buah tomat. Ulat ini sering membuat lubang pada buah tomat secara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi pada umumnya terkena infeksi sehingga buah menjadi busuk lunak. Pengendalian: (1) ngengat tertarik pada cahaya ultraviolet sehingga dengan sinar tersebut diadakan perangkap; (2) telur dan ulat adapat dikumpulkan dan dibakar atau dimatikan; (3) ditepi kebun ditanam jagung untuk mengurangi serangan pada tanaman tomat; (4) tanaman liar disekitar areal pertanaman tomat dibersihkan; (5) disemprot dengan insektisida, misalnya Diazinon dan Cymbush. Penyakit busuk buah Rhizoctonia disebabkan cendawan Thanatephorus cucumeris (Frank) Donk. Gejalanya muncul bercak cekung kecil berwarna coklat. Bercak ini membesar dan timbul lingkaran-lingkaran sepusat. Warna bercak menjadi coklat tua dan bagian tengahnya sering kali retak. Pengendalian: (1) air pengairan harus bersih dan bebas penyakit; (2) penanaman jangan terlalu dalam; (3) diberi lanjaran supaya buah tomat tidak menyentuh tanah; (4) diberi mulsa plastik transparan; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6) melakukan rotasi tanaman; (7) gulma dan sisa-sisa tanaman sakit harus dibersihkan dan dibakar; (8) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif chlorothalonil dengan interval 7-8 hari sekali untuk menanggulangi timbulnya penyakit busuk buah. Busuk buah antraknosa disebabkan cendawan Colletotrichum coccodes (Wallr.) Hughes. Penyakit ini dapat menyerang buah, batang dan akar tanaman tomat. Gejalanya buah tomat tampak ada bercak kecil berair, bulat dan cekung yang makin membesar, berwarna coklat, kelihatan ada lingkaran-lingkaran sepusat, dan kemudian menjadi hitam. Pada pangkal buah kelihatan ada bercak ungu yang terletak dekat tangkai. Bila serangan terjadi pada akar dan batang, warna jaringan cortex akan menjadi coklat dan daun menjadi layu. Pengendalian: (1) sisa tanaman sakit tidak boleh dipendam dalam tanah; (2) melakukan rotasi tanaman selama 1-2 tahun; (3)

diberi mulsa dan lanjaran agar buah tidak menyentuh tanah; (4) menanam tanaman tomat yang resisten; (5) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif kaptafol (Anonim, 2011). Terdapat beberapa jenis penyakit pada wortel. Yang pertama yaitu bercak daun Cercospora disebabkan adanya cendawan (jamur) Cercospora carotae (Pass.) Solheim. Gejala yang timbul pada daun-daun yang sudah tua timbul bercak-bercak berwarna coklat muda atau putih dengan pinggiran berwarna coklat tua sampai hitam. Pengendalian: (1) disinfeksi benih dengan larutan fungisida yang mengandung tembaga klorida satu permil selama 5 menit; (2) pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili. Penyakit Nematoda bintil akar disebabkan mikroorganisme nematoda Sista (Heterodera carotae). Gejalanya umbi dan akar tanaman wortel menjadi salah bentuk, berbenjol-benjol abnormal. Pengendalian dengan melakukan pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili, pemberaan lahan dan penggunaan nematisida seperti Rugby 10 G atau Rhocap 10 G. Busuk alternaria disebabkan cendawan Alternaria dauci Kuhn. Gejala timbul pada daun terjadi bercak-bercak kecil, berwarna coklat tua sampi hitam yang dikelilingi oleh jaringan berwarna hijau-kuning (klorotik). Pada umbi ada gejala bercak-bercak tidak beraturan bentuknya, kemudian membusuk berwarna hitam sampai hitam kelam. Pengendalian: sama dengan cara yang dilakukan pada Cercospora. Kelompok empat bahan yang digunakan sebagai pengamatan adalah jambu dan juga cabai pada pengamatan yang pertama yaitu pengamatan secara visual terlihat warna yang berbeda dari jambu sebab jambu yang diamati pada saat ini adalah jambu yang sudah berwarna hitam, selain berwarna hitam jambu ini juga terdapat suatu miselium yang mana disertai dengan tekstur yang lembek dan juga terdapat lendir pada permukaan buah jambu tersebut perubahan ini diakibatkan oleh adanya mikroorganisme yang menyerang sehingga mempercepat proses pembusukan serta penyakit yang didapat karena penyimpanan pasca panen yang tidak sesuai . Ttanda tanda kebusukan semakin diperjelas dengan aroma yang busuk dan juga terdapat belatung pada jambu. Sama hal nya dengan jambu, komoditi kedua yang digunakan sebagai pengamatan secara visual yaitu cabai juga menunjukan ciri-ciri

sayur yang telah membusuk hal ini ditandai dengan warna yang dimiliki merah kehitaman lalu tekstur yang dimilikin oleh cabai sudah lembek atau lunak, terdapat lendir pada permukaan cabai, aroma yang dihasilkan busuk dan terdapat belatung yang memakan komoditi tersebut. Sedangkan apabila dengan menggunakan pengamatan secara mikroskopis didapatkan hasil bahwa pada buah jambu terdapat kapang bulat yang berwarna hitam yang mana kapang ini memakan sehingga

membuat usak sebuah jaringan, sedangkan pada cabai ditemukan kapang dengan terdapat benang benang berwarna hitam. Cabai adalah salah satu jenis sayur yang sering dimanfaatkan buahnya. Biasanya buah cabai diolah mentah sebagai sambal. Cabai banyak mengandung vitamin A, vitamin B, vitaminC, dan pigmen terutama pada bagian kulit dan bijinya. Jenis sayuran ini rentan terhadap penyakit pasca panen apabila penyimpanannya kurang benar. Penyakitnya bertahap, diawali dengan terjadinya kerusakan terlebih dahulu. Dikatakan penyakit karena mampu mengambi lkomponen kimia dari bahan komoditi kemudian merombak senyawa kimia secaraenzimatis. Kerusakan yang terjadi antara lain kerusakan mekanis, biologis, dan mikrobiologis. Kerusakan mekanis yang terjadi dibuktikan adanya goresan akibat penanganan selama panen dan pasca panen yang salah seperti penggunaan alat yang kurang sesuai. Kerusakan biologis dan mikrobiologis terjadi karena adanya kontaminasi dari kapang. Dengan timbulnya lendir dan serabut putih atau yang sering disebut miselia yang dihasilkan oleh kapang, maka cabai pun dikatakan terkena penyakit. Kerusakan biologis dan mikrobiologis itupun dapat terjadi karena terpacu karena adanya kerusakan mekanis. Adanya goresan pada cabai, membuat kulitnya menjadi terbuka sehingga melakukan respirasi yang berlebih. Menurut (Junaidi, 2009), penyakit yang sering menyerang tanaman cabai di antaranya adalah rebah semai , layu fusarium, layu bakteri , antraknose / patek , busuk Phytophthora, bercak daun Cercospora, penyakit virus. Penyakit busuk Phytopthora gejalanya adalah bagian tanaman yang terserang terdapat bercak coklat kehitaman dan lama kelamaan membusuk. Penyakit ini dapat menyerang tanaman cabai pada bagian daun, batang maupun buah. Sedangkan penyakit anthracnose pada cabai memiliki gejala awalnya adalah kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang

kemudian meluas dan akhirnya membusuk. Timbulnya bercak hitam yang dilihat dari hasil pengamatan juga terjadi karena adanya aktifitas dari kapang. Kapang yang sudah mengontaminasi menghasilkan miselia (ditandai dengan serabut putih) dan lender. Kapang tumbuh karena dipacu oleh kondisi cabai itu sendiri yang memiliki Aw yang rendah. Maka kerusakakn atau kerugian yang didapatkan adalah penampilan yang kurang baik karena warnanya yang coklat kehitaman, berbau busuk, dan meningkatkan kadar air cabai. Secara mekanis untuk mencegah penyakit pada cabai ini dapat dilakukan dengan pengemasan dan penyimpanan yang baik. Bisa dilakukan dengan pembungkusan cabai dengan plastic LDPE kemudian menyimpannya di pendingin dengan suhu sekitar 3-6oC. Bisa juga dengan jalan melapisi sayuran dengan lapisan lilin sehingga mampu melindungi permukaan, menutup retak dan penyok pada kulit, menekan kehilangan air, serta menjaga respirasinya dan secara kimiawi dapat dilakukan dengan jalan memberikannya pengawet (preservative) seperti SO2, Na nitrit, dan garam atau gula. Dapat juga dengan penggunaan radiasi sinar gamma walupun dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan mutasi. Pemberian desinfektan diberikan dengan penggunaan chlorine dan SOPP. Penyakit yang menterang jambu biji adalah penyakit karena ganggang (Cihephaleusos Vieccons) yang menyerang daun tua dan muncul pada musim hujan. Gejala timbul adanya bercak-bercak kecil di bagian atas daun disertai serat-serat halus berwarna jingga yang merupakan kumpulan sporanya. Pengendalian dengan menyempotakan fungisida seperti Dlsene 200 MX. Penyakit yang disebabkan jamur Ceroospora psidil , jamur karat poccinia psidil, dan jamur allola psidil. Gejala ditandai dengan adanya bercak pada daun berwarna hitam. Pengendalian dengan menyempotakan fungisida seperti Dlsene 200 MX. Penyakit karena cendawan (jamur) Rigidoporus Lignosus. Gejala adanya rizom berwarna putih yang menempel pada akar dan apabila akar yang kena dikupas akan nampak warna kecoklatan. Pengendalian: dengan menyempotakan fungisida seperti Dlsene 200 MX. Pada kelompok lima terdapat beberapa komuditi yang digunakan untuk pengamatan secara visual komoditi yang pertama adalah pepaya yang mana pada penampakan secara visual pepaya ini warna yang dimiliki komoditi tersebut adalah warna hijau yang mana terdapat warna putih yang ditumbuhi oleh mikroba selain itu

terdapat memar warna htam

yang diakibatkan karena tekstur dari komuditi itu

sendiri yang sudah lunak pada bagian pepaya yang sudah busuk selain itu juga terdapat miselium dan aroma yang dimiliki oleh pepaya sudah memudar dan menjadi bau busuk. Pada komuditi kedua yang digunakan adalah selada, pada komoditi ini terdapat tanda tanda juga yang menunjukan bahwa komuditi ini sudah mulai membusuk di antaranya adalah warna yang dimiliki selada berwarna hijau pudar lalu juga terdapat memar dan memiliki lendir yang terdapat pada permukaan selada. Komoditi yang selanjutnya digunakan adalah wortel yang mana wortel memiliki warna permukaan orange kecoklatan yang sudah tidak fresh lagi,selain itu juga terdapat memar namun tidak disertai dengan adanya miselium tekstur yang dimiliki oleh wortel ini juga lunak dan juga terdapat lendir yang terdapat pada permukaan yang serta bau yang dihasilkan adalah bau busuk.Komuditi yang terakhir digunakan adalah kacang panjang pada penampilan warna ini jika dilihat dari pengamatan secara visual terdapat warna hijau tua yang mana terdapat memar dan juga

misselium pada bagian permukaan komuditi , tekstur yang dimiliki komoditipun berbeda yaitu keras namun pada bentuk nya menyerupai bentuk seperti menciut dan memiliki bau yang busuk. Tanaman selada sering menjadi sasaran kutu daun. Insektisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan kutu ini antara lain Diazinon; Bayrusil, atau Orthene 75 SP. Semprotkan dengan dosis 2 cc/l air. Hama thrips, ciri serangan thrips ialah daun menguning, mengering, dan tcrakhir tanaman mati. Penyakit yang sering ditemui di lahan selada ialah busuk batang. Gejalanya ditandai oleh batang yang melunak dan berlendir. Penyebabnya ialah cendawan Rhizoctonia solani. Bila menyerang tanaman di persemaian, sering mengakibatkan busuk akar. Saat kondisi lahan lembap serangan penyakit bisa menghebat, Untuk pencegahannya, kebersihan lahan harus dijaga dan kelembapan lahan dikurangi. Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang dan nematoda. Penyakit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya. Cara pencegahan: perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase serta sebarkan Natural GLIO ke lubang tanam, penyakit busuk akar

disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita. Yang berikutnya adalah Nematoda, tanaman yang terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati. Pengendaliannya dengan penyemprotan PESTONA ke lubang tanam. Pada kelompok terakhir yaitu kelompok enam, komoditi yang digunakann adalah terong dan juga melon, pada saat pengamatan secara visual yang terdapat pada terong didapatkan hasil yaitu warna yang terdapat pada terong adalah ungu lalu terdapat memar dan memiliki tekstur penyok serta keriput yang disertai dengan adanya lendir dan bau busuk. Lalu pada komoditi yang kedua adalah melon, pada melon pengamatan yang dihasilkan adalah warna yang terdapat pada melon berwarna hijau tua lalu tidak, terdapat memar maupun miselium yang terdapat pada permukaan, tekstur yang dimiliki pun lembek yang disertai dengan lendir dan aroma yang busuk. Macam penyakit yang menyerang melon, gejala serta bagaimana cara pengendaliannya antara lain layu bakteri ynag disebabkan bakteri Erwina tracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini disebabkan dengan perantara kumbang daun otengoteng (Aulacophora femoralis Motschulsky). Gejalanya terjadi pengerutan daun sehingga menyebabkan warna daun menjadi kuning yang kemudian menyebabkan kelayuan. Pengendalian dengan pensterilisasi lahan, perendaman benih dengan bakterisida Agrimyciin (oxytetracycline dan streptomycin sulfate) atau Agrept (streptomycin sulfate) dengan konsentrasi 1,2 gram/liter. Penyakit busuk pangkal batang (gummy stem bligt) yang disebabkan cendawan Mycophaerekka melonis (Passerini) Chiu et Walker. Gejala pangkal batang yang terserang mula-mula seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat dan kemudian tanaman layu dan mati; daun tanaman yang terserang akan mengering apabila diremas seperti kerupuk dan berbunyi kresek-kresek apabila diterpa angin. Pengendalian dengan penggunaan mulsa php dan pembersihan daun-daun yang terkena penyakit. Penyakit yang mungkin menyerang terong antara lain, Layu Bakteri yang disebabkan bakteri Pseudomonas solanacearum yang mana dapat hidup lama yang berada didalam tanah yang diakibatkan serangan pada temperatur cukup tinggi sehingga menyebabkan kelayuan tanaman secara mendadak. Pada penyakit ini bagian yang diserang adalah xylem atau pembuluh angkut sehingga menyebabkan pasokan air yang diambil dari tanah akan terhambat dan menyebabkan kelayuan

sistemik. Pengendaliannya dengan mengatur jarak tanaman agar jalan nya air dari unsur hara tanah akan lancar dan juga lakukan pergiliran penanaman tumbuhan. Busuk Buah yang disebabkan jamur Phytophthora sp, Phomopsis vexans, Phytium sp. Gejala serangan terdapat bercak bercak seperti warna kecoklatan.yang menandakan kebusukan buah. Pengendalian dengan penyemprotan dengan menggunakan fungisida. Antraknose yang disebabkan jamur Gloesporium

melongena terdapat bercak-bercak yang melekuk dan bulat yang akan membesar sehingga berwarna coklat dengan titik-titik hitam. Penangan pasca panen pada buah melon dilakukan dengan peyimpanan bebuahan yang sesuai dengan kondisi fisik buah tersebut, beberapa penyakit yang terdapat pada melon seperti kapang dan memar yang diakibatkan karena adanya mikroorganisme dan lukanya buah. Hal tersebut dapat diatasi dengan pengendalian sebelum pasca panen seperti sanitasi. Secara umum dari pengamatan menunjukan bahwa hasil pengamatan dan literatur tidak jauh berbeda, hanya saja jenis mikroba yang menyerang komoditi saat pengamatan belum bisa ditentukan.

IV. A. Kesimpulan

PENUTUP

Hasil pertanian yang telah melalui proses pemanenan dapat mengalami kerusakan baik karena perlakuan selama panen, pengangkutan maupun

penyimpanan. Terdapat dua jenis kerusakan pascapanen pada hortikultura, yaitu penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Penyakit non parasiter merupakan jenis penyakit pada suatu komoditi yang penyebabnya bukan karena organisme lain melainkan disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Penyakit non parasiter ini meliputi kerusakan mekanis, kerusakan fisiologis, penguapan, kerusakan akibat respirasi, kerusakan fisk, kerusakan akibat suhu, kerusakan akibat kelembabap relatif, maupun perubahan biologis lainnya.Sedangkan penyakit parasiter merupakan penyakit penyakit komoditi hasil panen yang disebabkan oleh patogen seperti jamur, bekteri, dan virus. Dalam praktikum ini diketahui bahwa buah dan sayuran yang dijadikan bahan pengamatan telah mengalami kebusukan yang disebabkan oleh mikroba. Buah dan sayur yang telah terkena serangan mikroorganisme patogen pasti akan memperlihatkan gejala gejala yang tidak semestinya. Gejala gejala tersebut dapat berupa adanya perubahan fisik maupun perubahan komposisi. Perubahan fisik atau morfologis antara lain ditandai dengan adanya perubahan warna, timbulnya memar, perubahan bentuk dan permukaan yang diserang, serta keberadaan miselium. Sedangkan perubahan komposisi ditandai dengan nutrisi yang berkurang bahkan hilang. Agar menjaga produk tersebut tidak segera mengalami kerusakan baik dari segi fisik maupun biologis, maka dilakukanlah suatu cara melalui metode-metode penanganan pascapanen tertentu diwujudkan berupa pengendalian agar buah atau sayur dapat dipertahankan mutunya seperti dengan cara sanitasi pada kebun dan penyemprotan fungisida yang sesuai dengan kondisi. Dengan menganalisa penyakit

yang timbul maka dengan mudah dapat menentukan bentuk penanganan yang terbaik bagi komoditas hasil pertanian tersebut.

B. Saran Saran untuk praktikum kali ini yaitu sebaiknya disediakan jumlah mikroskop yang mencukupi agar pengamatan dapet berlangsung efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Amiarsi.D. 1996. Pengaruh Teknik Penyimpanan terhadap Mutu Buah dalam : J. Hort. 6 (4) 392-401 Anonim.2010. Penyakit pada Tanaman Kubis dan Kacang Tanah. http://titinrahayu08.student.ipb.ac.id/2010/06/19/penyakit-pada-tanamankubis-dan-kacang-tanah/ (20 April 2012) Anonim.2011. Hama pada Tanaman Apel. http://penyuluhthl.wordpress.com/2011/05/20/hama-pada-tanaman-apeldan-cara-mengatasinya/ (20 April 2012) Anonim.2011. Penyakit pada Kacang Panjang. http://www.blogiztic.net/info/tanaman/ahama-dan-penyakit-pada-tanamankacang-panjang.html (20 April 2012) Anonim.2011. Penyakit pada Tanaman Tomat. http://www.blogiztic.net/info/tanaman/hama-dan-penyakit-pada-tanamantomat.html (20 April 2012) Firdaus, Miftahul. 2005. Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura. http://miftakhulfirdaus.wordpress.com/2011/03/28/pasca-panenpengolahan-dan-pemasaran-hasil-pisang/. (24 April 2012) Junaidi, Wawan. 2009. Penyakit cabai. http://www.blogiztic.net/info/tanaman/hamadan-penyakit-pada-tanaman-tomat.html (20 April 2012) Machmud. 1984. Kerusakan Bahan Pangan. Jakarta : Gramedia Martoredjo, Toekidjo.1983. Ilme Penyakit Lepas Panen. Ghalia Indonesia Murtiningsih, Yulianingsih dan Imam Muhajir. 1991. Penyakit pascapanen pada buah pisang Raja Sere, Emas dan Lampung serta pengendaliannya. J. Hort 1(3) 35-38. Syarief, Rizal dan Hariyadi Halid. 1993.Teknologi Penyimpanan Pangan. Jakarta: Arcan

Wills, R.B.H.,et al. 1989. Postharvest An Introduction to The Handling of Fruit and Vegetables. An A VI Book