Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan. Bahkan dengan tersedianya program-program komputer, seperti spreadsheet atau programprogram akuntansi, atau program-program yang khusus ditulis untuk tujuan laporan keuangan, perhitungan rasio-rasio keuangan menjadi hal yang mudah dilakukan, dan bisa dilakukan secara rutin. Tantangan analis bukan melakukan perhitungan semacam itu, melainkan melakukan analisis dan menginterpretasikan rasio-rasio keuangan yang muncul. Analisis semacam itu mengharuskan seorang analisis untuk melakukan beberapa hal: (1) Menentukan dengan jelas tujuan dari analisis (2) Memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari laporan-laporan keuangan dan rasio-rasio keuangan yang diturunkan dari laporan keuangan tersebut (3) Memahami kondisi perekonomian dan kondisi bisnis lain pada umumnya yang berkaitan dengan menggunakan alat-alat analisis seperti rasio-rasio keuangan atau rasiorasio lainnya. Sebelum melakukan analisis, seorang analis harus memahami ketiga langkah diatas, baru kemudian melakukan analisis dengan menggunakan alat-alat analisis seperti rasio-rasio keuangan atau rasio-rasio lainnya. Untuk itu maka penulis menjelaskan beberapa contoh tujuan-tujuan analisis laporan keuangan, agar dipahami bagaimana suatu tujuan akan menentukan jalannya analisis. Juga akan memaparkan beberapa bentuk laporan keuangan yang pokok yaitu: Neraca, Laporan Rugi-Laba, dan Laporan Aliran kas. 1.2. Tujuan a. Secara umum, penulisan bertujuan : Untuk Memahami laporan keuangan yang meliputi penyusunan laporan keuangan, prosedur dan aturan pencatatan, dan sebagainnya. Meningkatkan pengetahuan tentang Analisis Laporan Keuangan. b. Sedangkan secara khusus, makalah ini disusun untuk: Untuk memenuhi salah satu syarat tugas mata kuliah ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Semester 5, Jurusan Ekonomi Akuntansi dengan dosen Dr. Suparman Ali., M.Si.. di Universitas Pasundan Bandung. 1.3. Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode pendekatan deskriptif dimana penulis akan menafsirkan, serta menguraikan data yang penting yang diperoleh dari buku yang sesuai atau berhubungan dengan materi yang telah ditetapkan. BAB II KAJIAN TEORI 2.1. TUJUAN ANALISIS KEUANGAN Beberapa tujuan analisis keuangan bisa disebutkan disini. Tujuan ini pada dasarnya ingin bertanya apa yang akan diperoleh dari analisis keuangan yang dilakukan?. Tujuan ini akan menentukan arah analisis, batasan-batasan dalam analisis, dan hasil yang diharapkan. Berikut ini beberapa contoh tujuan analisis keuangan. 2.1.1. Investasi Pada Saham Sertifikat saham merupakan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Investor bisa membeli, menahan, dan kemudian menjual saham tersebut. Membeli dan menahan saham berarti investor memiliki perusahaan tersebut dan berhak atas laba perusaaan, meskipun juga berarti berhak atas rugi yang diperoleh perusahaan (apabila rugi). Menjual saham berarti melepas kepemilikan perusahaan dan dengan demikian melepas hak-hak yang melekat pada saham. Investor atau calon investor akan tertarik pada tingkat keuntungan (return) yang diharapkan untuk masa-masa mendatang relatif terhadap resiko perusahaan tersebut. Yang paling menarik tentu saja adalah perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan tinggi, tetapi mempunyai tingkat resiko yang rendah. Apabila tingkat keuntungan perusahaan naik, tetapi risiko perusahaan juga naik, maka perusahaan tidak akan menarik lagi. Perusahaan akan tetap menarik apabila tambahan keuntungan tersebut bisa mengkompensasi tambahan risiko yang muncul. Secara umum biasanya investor bersifat tidak menyukai risiko (risk averse),sehingga factor tingkat keuntungan dan risiko harus dipertimbangkan bersama-sama untuk menentukan menarik tidaknya suatu perusahaan. Investor saham akan memperoleh tingkat keuntungan dari dividen yang dibagikan,ditambah perbedaan nilai perusahaan pada waktu pertama kali investasi dengan nilai pada beberapa waktu kemudian (capital gain). Apabila perusahaan tersebut go public (menjual pasarnya dipasar modal), maka capital gain adalah selisih harga jual saham dengan harga beli saham. Apabila selisih tersebut negative, maka yang diperoleh adalah capital loss. Tingkat keuntungan yang tinggi berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan tingkat keuntungan tersebut. Tingkat keuntungan masa lalu (past performance) bisa dipakai untuk menilai kemampuan perusahaan sekaligus memproyeksikan kemampuan perusahaan pada masa-masa mendatang. Hal ini berlanjut dengan proyeksi tingkat keuntungan yang diharapkan pada masamasa mendatang. Risiko yang berkaitan dengan investasi saham pada dasarnya sama dengan risiko yang berkaitan dengan perusahaan pada umumnya. Beberapa faktor tersebut antaralain adalah kondisi

perekonomian seperti resesi, inflasi, factor-faktor industri seperti persaingan, perubahan teknologi, kekuatan tawar-menawar dari supplier, pembeli, tersedianya barang-barang substitusi,factor-faktor dari perusahaan itu sendiri seperti kualitas manajemen, goodwill yang dipunyai, paten-paten yang dipunyai. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan, dan mempengaruhi tingkat keuntungan perusahaan. 2.1.2. Pemberian Kredit Dalam analisis ini, yang menjadi tujuan pokok adalah menilai kemampuan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman yang diberikan beserta bunga yang berkaitan dengan pinjaman tersebut. Pihak pemberi pinjaman (kreditor) memperoleh keuntungan dari bunga yang dibebankan atas pinjaman tersebut. Pihak peminjam juga harus memperoleh kembali pinjaman pokoknya, dengan dibayar langsung pada akhir periode pinjaman (pada waktu jatuh tempo) atau dibayar dengan angsuran. Pinjaman bisa bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Ini juga akan mempengaruhi tujuan dan lingkup analisis keuangan. Pinjaman jangka pendek biasanya berjangka enam bulan sampai satu atau dua tahun, seperti pinjaman dari bank. Pinjaman jangka menengah biasanya berkisar antara lima sampai sepuluh tahun, seperti dalam pinjaman dari bank jangka panjang atau pinjaman obligasi jangka menengah. Pinjaman jangka panjang bisa lebih dari sepuluh tahun, bahkan ada yang dua puluh tahun, seperti pada obligasi jangka panjang. 2.1.3. Kesehatan Pemasok (supplier) Perusahaan yang tergantung pada supply pemasok akan mempunyai kepentingan pada pemasok tersebut. Perusahaan ingin memastikan bahwa pemasok tersebut sehat dan bisa bertahan terus. Dengan kemungkinan kerjasama yang terus menerus, analis Dari pihak perusahaan akan berusaha menganalisis profitabilitas perusahaan pemasok, kondisi keuangan, dan kemampuan untuk menghasilkan kas untuk memenuhi operasi sehari-harinya, dan kemampuan membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo. Pengetahuan akan kondisi keuangan supplier juga akan bermanfaat bagi perusahaan dalam melakukan negosiasi dengan supplier. 2.1.4. Kesehatan Pelanggan (Costumer) Apabila perusahaan akan memberikan penjualan kredit kepada pelanggan maka perusahaan memerlukan informasi keuangan pelanggan, terutama informasi mengenai kemampuan pelanggan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Analisis yang dilakukan akan tergantung pada besarnya kredit, jangka waktu kredit, jenis usaha pelanggan, besar kecilnya usaha pelanggan dan lain-lain. 2.1.5. Kesehatan Perusahaan ditinjau dari Karyawan Karyawan atau calon karyawan barangkali akan tertarik menganalisis keuangan perusahaan untuk memastikan apakah perusahaan atau perusahaan yang akan dimasuki tersebut mempunyai prospek keuangan yang bagus. Beberapa factor yang bisa dianalisis antara lain profitabilitas perusahaan, kondisi keuangan perusahaan, dan kemampuan menghasilkan kas dari perusahaan (cash generating ability).

2.1.6. Pemerintah Pemerintah bisa menganalisis keuangan perusahaan untuk menentukan besarnya pajak yang dibayarkan, atau menentukan tingkat keuntungan yang wajar bagi suatu industri. Bagi industri yang diatur (regulated industry), tingkat keuntungan biasanya ditentukan oleh pemerintah dengan menambahkan sejumlah persentase tertentu diatas biaya modalnya. Apabila perusahaan akan menjual sahamnya ke pasar modal, maka pemerintah (dalam hal ini Bapepam) akan menganalisis keuangan perusahaan untuk menentukan layak tidaknya perusahaan tersebut untuk go public. 2.1.7. Analisis Internal Pihak internal perusahaan sendiri (seperti pihak manajemen) akan memerlukan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan. Informasi semacam ini bisa digunakan sebagai basis evaluasi prestasi manajemen. Bagi pihak manajemen, informasi keuangan tertentu dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, untuk perencanaan atau untuk mengevaluasi perubahan strategi. 2.1.8. Analisis Pesaing Kondisi keuangan pesaing bisa dianalisis oleh perusahaan untuk menentukan sejauh mana kekuatan keuangan pesaing. Informasi semacam ini bisa dipakai untuk penentuan strategi perusahaan seperti strategi harga, strategi merebut pangsa pasar, atau keputusan keputusan lainnya. 2.1.9. Penilaian Kerusakan Kadangkala analisis keuangan juga bisa dipakai untuk menentukan besarnya kerusakan yang dialami oleh perusahaan. Misalkan barang dagangan perusahaan mengalami kebakaran dan perusahaan mengasuransikan barang dagangan tersebut, analisis keuangan bisa dipakai oleh pihak asuransi untuk menentukan besarnya kerusakan yang dialami oleh perusahaan. Informasi ini bisa dipakai untuk menentukan besarnya ganti rugi yang dibayarkan ke perusahaan. Setelah analis mengidentifikasi tujuan dari analisis keuangan, ia bisa merumuskan arah dan lingkup analisisnya. Secara umum biasanya profitabilitas perusahaan menjadi perhatian pokok untuk setiap tujuan yang dihadapi oleh perusahaan. Analisis internal, analisis oleh investor, analisi pesaing merupakan tipe analisis yang sangat memerlukan informasi profitabilitas. Analisis risiko juga cukup penting karena risiko merupakan imbangan profitabilitas untuk menentukan prospek dan kesehatan perusahaan. Analisis risiko untuk jangka waktu yang pendek dilakukan dengan menganalisis likuiditas perusahaan. Analisis kredit banyak memerlukan jenis anlisis semacam ini. Sedangkan untuk analisis risiko jangka panjang, diperlukan analisis solvabilitas. Analisis pinjaman jangka panjang seperti dalam obligasi akan banyak menggunakan jenis analisis ini. 2.2. KEGIATAN-KEGIATAN PERUSAHAAN

Laporan keuangan dalam hal ini bisa dianggap sebagai laporan yang menyajikan ringkasan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan.akuntansi sering didefinisikan sebagai Sistem untuk mengukur hasil-hasil transaksi bisnis suatu perusahaan, dan meringkaskan hasilhasil (transaksi) tersebut ke dalam suatu bentuk yang bisa dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Untuk memahami laporan keuangan tersebut, diperlukan pemahaman kegiatankegiatan bisnis yang akan dianalisis. 2.2.1. Lingkungan perusahaan Lingkungan eksternal perusahaan bisa dikelompokkan kedalam lingkungan makro dan lingkungan industri dimana perusahaan beroperasi. Faktor-faktor dalam lingkungan makro yang menentukan perusahaan antara lain: kondisi perekonomian secara keseluruhan, GNP (Gross National Product), inflasi, tingkat bunga, tingkat pengangguran, dan peraturan pemerintah. Factor-faktor dalam industri yang bisa mempengaruhi perusahaan antaralain: persaingan, teknologi, dan kekuatan tawar menawar antara perusahaan dengan supplier atau dengan pembeli. Kondisi internal perusahaan itu sendiri juga akan menentukan perusahaan seperti manajemen perusahaan, karyawan perusahaan, dan reputasi perusahaan. Pemahaman terhadap kedua factor di atas (lingkungan makro dan industri), dan faktor internal perusahaan, diperlukan untuk menganalisis kondisi keuangan. 2.2.2. Tujuan dan Strategi Perusahaan Tujuan bisa didefinisikan sebagai target atau hasil akhir yang ingin dicapai dimana seluruh kegiatan perusahaan diarahkan untuk mencapai target atau tujuan akhir tersebut. Sedangkan strategi bisa diartikan sebagai cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan perusahaan tergantung dari misi perusahaan. Tetapi pada umumnya tujuan perusahaan mempunyai tujuan yang bersifat ekonomis dan non ekonomis; tujuan ekonomis adalah memperoleh keuntungan. Untuk mencapai tujuan tersebut, bisa digunakan strategi yang berbedabeda. 2.2.3. Kegiatan investasi dan pendanaan Investasi suatu perusahaan tercermin dalam aktiva tersebut. Investasi tersebut perlu pendanaan. Perusahaan memperoleh pendanannya dari berbagai sumber: pemilik saham, kreditur (misal bank), supplier (misal dalam bentuk hutang dagang), dari karyawan (misal dalam bentuk hutang gaji), dari pemerintah (hutang pajak). Pinjaman jangka panjang biasanya digunakan untuk investasi atau asset yang mempunyai jangka waktu yang panjang pula. Struktur aset biasanya akan menentukan struktur hutang-hutang jangka panjang dan hutang jangka pendek. Perusahaan retailer yang biasanya mempunyai proporsi piutang dan persediaan yang besar akan cenderung lebih banyak menggunakan hutang jangka pendek dibandingkan perusaaan lainnya. Perusahaan utilities (misal listrik) yang mempunyai aset yang berusia lama (seperti generator listrik) akan cenderung lebih banyak menggunakn hutang jangka panjang dibandingkan perusahaanperusahaan lain pada umumnya. Struktur modal (hutang versus modal sendiri) akan ditentukan oleh beberapa faktor seperti agresivitas manajemen, tingkat pajak perusahaan, dan tingkat leverage. Semakin agresive pihak manajemen, yang berarti semakin berani mengambil risiko, perusahaan akan cenderung menggunakan hutang lebih banyak. Semakin tinggi tingkat pajak

yang membebani perusahaan, perusahaan akan cenderung menggunakan hutang yang lebih banyak karena perusahaan bisa memanfaatkan penghematan pajak yang timbul dari bunga yang dibayarkan (bunga bisa dikurangkan dari pajak, sedangkan dividen tidak bisa dipakai sebagai pengurang pajak). Semakin tinggi leverage perusahaan, semakin kecil fleksibilitas yang dipunyai perusahaan, yang berarti perusahaan akan menggunakan tambahan hutang yang lebih sedikit. Sama seperti pemahaman terhadap kegiatan investasi dan pendanaan juga akan memberi latar belakang pemahaman kondisi keuangan perusahaan lebih baik lagi. 2.2.4. Operasi Kegiatan-kegiatan investasi dan pendanaan diatas kemudian diterjemahkan ke dalam kegiatan operasional perusahaan. Melalui kegiatan operasional inilah perusahaan berusaha mencapai tujuan pokoknya, yaitu meningkatkan nilai perusahaan atau menungkatkan nilai saham yang berarti meningkatkan kemakmuran pemegang saham (pemilik perusahaan). 2.3. LAPORAN KEUANGAN YANG POKOK Secara umum ada tiga bentuk laporan keuangan yang pokok yang dihasilkan oleh suatu perusahaan: 1. Neraca 2. Laporan Rugi Laba 3. Laporan Aliran kas Laporan-laporan keuangan tersebut pada dasarnya ingin melaporkan kegiatan-kegiatan perusahaan: kegiatan investasi, pendanaan, dan operasional, sekaligus mengevaluasi keberhasilan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Metode-metode penilaian (valuation) dan pengukuran (measurement) yang mendasari penyusunan laporanlaporan keuangan tersebut diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang disusun oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). 2.3.1. Neraca Neraca digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Neraca bisa digambarkan sebagai potret kondisi keuangan suatu perusahaan pada suatu waktu tertentu (snapshot keuangan perusahaan), yang meliputi aset (sumber daya atau resources) perusahaan dan klaim atas aset tersebut (meliputi hutang dan saham sendiri). Aset perusahaan menunjukan penggunaan dana atau keputusan investasi pada masa lalu, sedangkan klaim perusahaan menunjukkan sumber dana tersebut atau keputusan pendanaan pada masa lalu. Dana diperoleh dari pinjaman (hutang) dan dari penyertaan pemilik perusahaan (modal). Persamaan neraca bisa ditunjukkan sebagai berikut ini: Aset = Hutang + Modal Pemilik

Persamaan diatas bisa dibaca sebagai berikut ini: aset suatu perusahaan sama dengan hutang plus modal (atau klaim terhadap aset tersebut oleh kreditor dan pemilik perusahaan). Aset/ aktiva menampilkan daftar spesifik kekayaan perusahaan (kas, piutang, persediaaan, aktiva tetap), sedangkan sisi pasiva menampilkan daftar spesifik orang atau badan (entity) yang memberikan dana untuk memperoleh aset tersebut (dan dengan demikian klaim terhadap aset tersebut), seperti supplier, pemerintah, bank, pemegang saham. Dengan demikian neraca menampilkan keseimbangan atau kesamaan antara keputusan investasi dengan keputusan pendanaan. 2.3.2. Laporan Rugi-Laba Laporan rugi-laba merupakan laporan prestasi perusahaan selama jangka waktu tertentu. Berbeda dengan neraca yang merupakan snapshot, maka laporan rugi-laba mencakup suatu periode tertentu. Laporan rugi-laba biasanya ditulis dengan judul sebagai berikut: Laporan rugi-laba untuk tahun yang berakhir dengan 31 desember 1994. dalam jangka waktu tertentu, total aset perusahaan berubah disebabkan oleh kegiatan investasi, pendanaan, dan kegiatan operasional. Aset bertambah jika perusahaan membeli pabrik baru atau mendirikan bangunan baru. Hutang bertambah jika perusaaan meminjam dana dari bank untuk membeli pabrik. Hutang juga bertambah apabila perusahaan mengeluarkan obligasi untuk membiayai pendirian bangunan. Struktur modal dengan demikian akan berubah. Dalam kegiatan sehari-hari perusahaan memproduksi, kemudian menjual barang dagangan. Penjualan akan menghasilkan kas, menghasilkan keuntungan yang bisa ditahan atau bisa juga dibagi sebagai dividen. Kegiatan operasional juga akan merubah struktur aset. Laba bersih merupakan selisih antara total pendapatan dikurangi dengan total biaya. Pendapatan mengukur aliran masuk aset bersih setelah dikurangi hutang dari penjualan barang atau jasa. Biaya mengukur aliran keluar aset bersih karena digunakan atau dikonsumsikan untuk memperoleh pendapatan. Pendapatan bisa dibedakan menjadi pendapatan operasional yaitu pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan pokok perusahaan, dan pendapatan non operasional atau pendapatan lain-lain yang dihasilkan oleh kegiatan sampingan perusahaan. Apabila perusahaan berada dalam bisnis makanan,sebagai contoh, maka pendapatan yang dihasilkan dari penjualan makanan merupakan pendapatan operasional. Dalam kegiatan bisnis yang normal, kadang-kadang perusahaan menjual sebagian asetnya. Penjualan aset ini bukan merupakan kegiatan pokok perusahaan meskipun ada kaitannya dengan operasi bisnis yang normal. Apabila menghasilkan untung penjualan aset ini dikelompokkan kedalam pendapatan lain-lain. 2.3.3. Laporan Aliran Kas Komponen laporan keuangan yang ketiga adalah laporan aliran kas atau laporan perubahan posisi keuangan. Laporan ini menyajikan informasi aliran kas masuk atau keluar bersih pada suatu periode, hasil dari tiga kegiatan pokok perusahaan yaitu operasi, investasi, dan pendanaan. Operasi

Aliran kas dari operasi perusahaan

Kas dibayarkan untuk operasi

Kas yang diterima dari penjualan barang dan jasa

= +/Investasi Kas diterima dari penjualan investasi bangunan, pabrik, peralatan Kas dibayarkan untuk investasi akuisisi, pabrik, bangunan dan peralatan Aliran kas bersih dari investasi +/Pendanaan Kas diterima dari hutang (obligasi), emisi saham Kas dibayarkan untuk dividen, pembelian saham kembali, pembayaran hutang Aliran kas dari pendanaan == = Aliran kas bersih untuk periode tertentu Gambar Komponen Laporan Aliran Kas =

Aliran kas diperlukan terutama untuk mengetahui kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya. Ada beberapa kasus di mana perusahaan menguntungkan (selalu memperoleh laba), tetapi tidak mampu membayar hutang-hutangnya kepada supplier, karyawan, dan kreditur-kreditur lainnya. Perusahaan-perusahaan yang sedang tumbuh biasanya mengalami kejadian semacam itu: menguntungkan tetapi tidak mempunyai kas yang cukup.

2.4. INFORMASI AKUNTANSI Data akuntansi merupakan salah satu sumber pokok analisis keuangan, kerena itu pemehaman terhadap data akuntansi, seperti proses penyusunannya, pelaporannya, akan sangat bermanfaat sebagai latar belakang analisis keuangan. 2.4.1. Akuntansi dan Informasi Akuntansi Akuntansi bisa didefinisikan sebagai proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pengkomunikasiaan informasi ekonomi yang bisa dipakai untuk penilaian (judgmen) dan pengambilan keputusan oleh pemakai informasi tersebut. Karena biasanya pemakai hanya bisa menampung dan menganalisis informasi yang terbatas, maka tujuan pelaporan akuntansi adalah membuat sistem pemrosesan dan komunikasi yang meringkas informasi perusahaan yang sangat banyak ke dalam bentuk yang bisa dipahami. 2.4.2. Tujuan Pelaporan Keuangan Berikut ini tujuan-tujuan laporan keuangan yang semuannya bersifat umum, berkaitan dengan pemakai eksternal yang bermacam-macam jenisnya bukan pemakai internal yang spesifik seperti manajemen. Informasi yang bermanfaat untuk Pengambilan keputusan Informasi yang bermanfaat untuk Memperkirakan aliran kas untuk pemakai Eksternal Informasi yang bermanfaat untuk Memprakirakan aliran kas perusahaan Informasi mengenai sumber daya ekonomi dan klaim terhadap sumber daya tersebut Informasi mengenai pendapatan dan komponen-komponenya Informsi Aliran Kas Laporan aliran kas disajikan melalui laporan analisis aliran kas 2.5. ANALISIS RASIO 2.5.1. Analisis Laporan Keuangan Beberapa hal perlu diperhatikan dalam analisis laporan keuangan yaitu : (1) Dalam analisis, analisis juga harus mengidentifikasi adanya trend-trend tertentu dalam laporan keuangan.

(2) Angka-angak yang berdiri sendiri sulit dikatakan baik tidaknnya. Untuk itu diperlukan pembanding yang bisa dipakai utnuk melihat baik tidaknya angka yang dicapai oleh perusahaan. (3) Dalam analisis perusahaan, membaca dan menganalisis laporan keuangan dengan hati-hati adalah penting. (4) Analisis barang kali memerlukan informasi lain. Kadang kala semua informasi yang diperlukan bisa diperoleh melalui analisis mendalami laporan keuangan. 2.5.2. Analisis Rasio Pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokan ke dalam lima macam katagoro, yaitu : (1) Rasio Likuiditas Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. (2) Rasio Aktivitas Rasio yang mengukur sejauh mana efektifitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset. (3) Rasio Solvabilitas Rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya. (4) Rasio Profitabilitas Rasio yang melihat kemempuan perusahaan menghasilkan laba (profitabilitas) (5) Rasio Pasar Rasio ini melihat perkembangan nilai perusahaan menghasilkan laba (profitabilitas) 2.6. BEBERAPA KEUANGAN ISU DALAM ANALISIS PERBANDINGAN LAPORAN

Beberapa isu yang harus dipertimbangkan dalam analisis laporan keuangan agar laporan keuangan lebih bisa diperbandingkan (comparabli). Isu-isu tersebut adalah: (1) Laporan keuangan yang disesuaikan kembali (2) Perbedaan klasifikasi rekening

(3) Perbedaan prinsip-peinsip akuntansi (4) Perbedaan periode pelaporan (5) Perbandingan dengan data histories dan dengan perusahaan lain 2.7. ANANALIS CROSS-SECTION 2.7.1. Perbandingan Cross section Analsis cross section (perbandingan dengan perusahaan atau industri yang sejenis) akan bermanfaaat untuk melihat prestasi perusahaan relatif terhadap industri dan juga bermanfaat dalam kasus khusus seperti untuk menentukan bonus bagi manjemen perusahaan. Bonus bagi manajemen perusahaan pada beberapa perusahaan ditentukan berdasarkan keuntungan perusahaan relatif terhadap industri. 2.7.2. Perhitungn rata-rata Industri Untuk menghitung rata-rata industri seorang analisis mempunyai beberapa alternatif : (1) Menghitung nilai tunggal sebagai perbandingan, (2) Menghitung nilai tunggal dengan dispersinya (standar deviasinya), (3) Menghitung nilai untuk percentile tertentu (misal menghitung nilai untuk perusahaanperusahaan yang mempunyai ukuran 25% paling kecil). 2.8. ANALISI TIME SERIES DAN FORECASTING DATA KEUANGAN 2.8.1. Analisis Times Series Dalam analisis keuangan, analisis terhadap data histories diperlukan untuk melihat tren-tren yang mungkin timbul. Kemudian kita bisa menganalisis apa yang terjadi dibalik tren-tren angka tersebut. Data histories perusahaan sebaiknya juga dibandingkan dengan data historis industri untuk melihat apakah tren suatu perusahaan bergerak relatif lebih baik terhadap tren industri. 2.8.2. Analisis Data Keuangan Dalam analisis time series, perhatian terhadap data histories (ex-post) sering digunakan untuk melihat pola-pola yang sistematik terhadap data tersebut. Dalam konteks analisis histories semacam itu, analisis mempunyai pilihan yang banyak terhadap faktor-faktor yang diperkirakan akan mempengaruhi suatu variable. Dalam konteks analisis masa mendatang (ex-ante) seperti forecasting, pilihan seorang analisis menjadi serba terbatas. Seorang analisis tidak tahu pasti beberapa nilai faktor-faktor di atas, dia harus memperkirakan nilai tersebut sebelum memperkirakan nilai variable yang diteliti tersebut. Analis tersebut terpaksa harus memfokuskan

pada beberapa variable saja yang lebih sedikit dan bisa diperkirakan lebih pasti. Analisis time series klasik biasanya memfokuskan pada analisis musiman. BAB III PEMBAHASAN Analisis keuangan sangat bergantung pada informasi yang diberikan oleh laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi yang penting di samping informasi lain seperti informasi industri, kondisi perekonomian, pangsa pasar perusahaan, kualitas manajemen dan lainnya. Ada tiga macam laporan keuangan yang pokok yang dihasilkan, (1) Neraca, (2) Laporan Rugi Laba, dan (3) Laporan Aliran Kas. Disamping ketiga laporan pokok tersebut, dihasilkan juga laporan pendukung seperti laporan laba ditahan, perubahan modal sendiri, dan diskusi-diskusi oleh pihak manajemen. Neraca awal dihasilkan pada awal periode. Kemudian transaksi dan kejadian muncul selama periode tertentu, dan mempengaruhi laporan rugi-laba dan laporan aliran kas. Kemudian kedua laporan tersebut akan berpengaruh terhadap neraca akhir suatu perusahaan. Suatu transaksi melibatkan transfer yang mempunya nilai antara perusahaan dengan pihak luar. 3.1. Neraca Salah satu tujuan pelaporan keuangan biasanya dikatakan untuk membantu investor, kreditur, dan pihak-pihak lain menaksir besar, waktu (timing), serta tingkat ketidakpastian aliran kas suatu perusahaan atau entitas. Tujuan yang lebih spesifik adalah untuk memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, dan modal sendiri dari suatu entitas atau perusahaan. Informasi tersebut siringkas dalam neraca. Neraca dengan demikian meringkas posisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Neraca menampilkan sumber daya ekonomis (aset), kewajiban ekonomis (hutang), modal saham, dan hubungan antaritem tersebut. Neraca tidak memberikan informasi nilai perusahaan secara langsung, tetapi informasi tersebut bisa dilihat dengan mempelajari neraca digabung dengan laporan keuangan yang lain. Secara lebih spesifik, neraca dimaksudkan membantu pihak eksternal untuk menganalisis (1) likuiditas perusahaan, (2) fleksibilitas keuangan, (3) kemampuan operasional, dan (4) kemampuan menghasilkan pendapatan selama periode tertentu. 3.1.1. Pengakuan dalam Neraca Pengakuan dalam konteks neraca adalah proses pencatatan dan pelaporan dalam laporan keuangan secara formal. Pengakuan tersebut melibatkan pos-pos dan angka-angka dengan jumlah totalnya. Supaya bisa diakui, item (yang berarti juga informasi dalam item tersebut) harus (1) memenuhi definisi elemen, (2) bisa diukur, (3) relevan, (4) reliable. Dengan demikian agar memenuhi tujuan neraca yang memberi informasi yang relevan perusahaan harus menentukan apa, bagaimana, dan dimana pelaporan elemen dalam neraca. Tiga tahap akan dilalui oleh suatu perusahaan :

(1) Identifikasi item-item yang memenuhi definisi elemen (2) Pengukuran (penilaiaan) elemen-elemen tersebut (3) Pelaporan (klasifikasi) dari elemen-elemen tersebut. Elemen-elemen dalam neraca bisa didefinasikan sebagai kelas atau blok yang luas yang mencakup item-item yang membentuk elemen tersebut. Blok-blok tersebut akan membentuk neraca. Masing-masing elemen dalam neraca akan didiskusikan berikut ini. Elemen-elemen yang akan dibicarakan disini lebih banyak mengacu ke neraca suatu perusahaan yang bertujuan mencari keungtungan (profit oriented). Ada tiga blok atau elemen yang besar yaitu aset (aktiva), hutang, dan modal. Aset adalah manfaat ekonomis yang akan diterima pada masa mendatang, atau akan dikuasai oleh perusahaan sebagai hasil dari transaksi atau kejadian. Aset merupakan sumber ekonomi yang akan dipakai perusahaan untuk menjalankan kegiatannya. Atribut pokok suatu aset adalah kemempuan memberikan jasa atau manfaat pada perusahaan yang memakai aset tersebut. Hutang bisa didefinisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang mungkin timbul dimasa mendatang dari kewajiban perusahaan sekarang untuk mentransfer aset atau memberikan jasa kepihak lain di masa mendatang,, sebagai akibat transaksi atau kejadian di masa lalu. Hutang muncul terutama karena penundaan pembayaran untuk barang atau jasa yang telah diterima perusahaan dan dari dana yang dipinjam. Hutang lainnya muncul akibat dari pengambilan sumberdaya ekonomi dimuka sebelum memberikan jasa atau barang ke konsumen. Contoh hutang semacam ini adalah penjualan dibayar dimuka. Hutang lainnya muncul karena peraturan pemerintah, misal hutang pajak atau pajak yang belum dibayarkan. Modal saham adalah sisa dari aset bisnis dikurangi dengan hutang-hutangnya. Modal saham merupakan bentuk kepemilikan suatu usaha. Modal saham menduduki urutan sesudah hutang dalam hal klaim terhadap aset perusahaan, dan dengan demikian memiliki klaim terhadap sisa perusahaan. Dari sudut pandang perusahaan, modal saham perusahaan mencerminkan pihak yang menanggung resiko pokok perusahaan dan ketidakpastiaan yang diakibatkan oleh kegiatan perusahaan, dan memperoleh imbalan sebagi konsekuensinnya. Modal saham dimulai dari investasi atau penyetoran sejumlah sumber daya ekonomi, kemudian diperbaharui dengan tambahan investasi, laba yang ditahan, dan perubahan-perubahan lain dalam ase dan hutang perusahaan. Agar suatu elemen bisa dilaporkan di dalam neraca, elemen tersebut harus bisa diukur dengan rentabilitas tertentu dalam unit moneter. Ada beberapa pengukuran yang bisa dipakai, tetapi elemen dalam neraca kebanyakan diukur dengan kos histories (historical cost). Historical cost merupakan harga pertukaran pada saat aset pertama kali diperoleh atau pertama kali hutang muncul. Harga pertukaran ini akan dicatat terus dalam neraca sampai pertukaran atau transaksi yang lain muncul. Aset tertentu, seperti pabrik, peralatan, bangunan, diukur dan dilaporkan berdasarkan nilai yang telah disesuaikan dengan depresiasi. Historical cost banyak dipakai dalam pengukuran karena metode ini mempunyai rentabilitas yang tinggi. Kritik terhadap metode ini

adalah jumlah yang dilaporkan tidak relevan atau tidak serelevan dibandingkan dengan metode lainnya. Historical Cost Historical cost suatu aset merupakan harga pertukaran pada saat transaksi di mana aset pertama kali diperoleh/dibeli. Current Cost Current Cost suatu aset adalah jumlah kas (atau ekuivalen kas) yang dibutuhkan pada tanggal neraca untuk memperoleh aset yang sama. Current Exit Value Current Exit Value atau sering disebut sebagai current marker values suatu aset adalah jumlah kas (atau ekuivalen kas) yang akan diperoleh pada tanggal neraca dengan menjual aset, dalam kondisnya yang sekarang, dalam proses likuiditas yang teratur/wajar. Contoh likuidasi yang tidak wajar adalah apabila suatu aset dijual obral. Net Realizable Value Net Realizable Value suatu aset adalah jumlah kas (atau ekuivalen kas) di mana suatu aset diharapkan bisa ditukar dalam operasi normal perusahaan, dikurangi biaya-biaya yang berkaitan dengan transaksi pertukaran tadi (seperti biaya pengumpulan, biaya pelepasan aset). Peresent Value Peresent Value suatu aset adalah diskonto atas jumlah bersih aliran kas masuk yang diharapkan dikurangi jumlah aliran kas keluar yang diharapkan, berkaitan dengan suatu aset. Pendekatan ini memperhitungkan nilai tukar waktu uang. Alternative pengukuran yang lain seperti current cost, current market value, dan present value digunakan pada situasi yang tertentu utnuk elemen-elemen yang tertentu. Misal, surat berharga yang dimiliki untuk tujuan jangka pendek (bukan investasi) akan dapat dicatat berdasarkan market value. Penggunaan metode pengukuran tersebut akan tergantung pada trade off antara relevansi dan reliabilitas. Klasifikasi neraca didasarkan pada tiga blok besar di atas, yaitu aset, hutang, dan modal sendiri. Klasifikasi yang bisa dijumpai untuk perusahaan akan nampak seperti berikut. 1. Aktiva/Aset a. Aktiva lancar b. Investasi Jangka Panjang

c. Bangunan, Pabrik, dan Peralatan d. Aktiva Tidak berwujud e. Aktifa Lainnya 2. Hutang a. Hutang Lancar b. Hutang Jangka Panjang c. Hutang Lainya 3. Modal Saham a. Modal Saham Disetor (1) Saham Nominal (2) Agio atau Capital Surplus b. Laba Yang Ditahan c. Modal lainnya Berikut ini contoh neraca suatu perusahaan : Tabel Neraca PT ABC PT ABC NERACA 31 Desember 19X2 AKTIVA Aktiva Lancar Kas 14.300 Surat Berharga 19.700 Piutang Dagang 68.000

Cadangan Piutang Tidak Terbayar ( 3.000) 65.000 Persediaan (Lower Cost or Market) Bahan Mentah 32.000 Barang Dalam Proses 49.500 Barang Jadi 66.100 147.600 Item Dibayar Di muka: Asuransi 4.800 Bahan Kantor 2.200 7.000 Total Aktiva Lancar 253.600 Investasi Jangka Panjang Investasi pada PT XYZ 17.000 Dana Untuk Pelunasan Obligasi 17.400 34.400 Kos Ak.Dep Bersih_ Bangunan 36.000 - 36.000 Pabrik 428.000 207.000 221.000 Peralatan 192.000 63.700 128.300 656.000 270.700 385.300 Total Aktiva Tetap 385.300 Aktiva Tidak Berwujud

Merek Dagang 12.600 Paten 16.900 Total Aktiva Tidak Berwujud _29.500 Total Aktiva 702.800 HUTANG DAN MODAL Hutang Hutang Lancar Hutang Dadang 87.100 Hutang Pegawai 3.300 Hutang Pajak 27.400 Uang Muka Pelanggan 19.600 Porsi Lancar dari Hutang J.Panjang 8.400 Total Hutang Lancar 145.800 Hutang Jangka Panjang Obligasi (jatuh tempo tahun 2000) 90.000 Dikurangi: Diskonto Obligasi Yang belum diamortisasi ( 8.200 ) 81.800 Hutang Bank 52.600 Hutang Pensiun 34.700 Total Hutang Jangka Panjang 169.100 Hutang Lainnya 14.300 Total Hutang 329.200

Modal Saham Modal Disetor Modal Saham Nominal (Rp 5, 20.000 lembar Diotorisasi, 14.300 dikeluarkan) 71.500 Capital Surpuls 173.900 Total Modal Disetor 245.400 Modal lainnya Donasi 12.000 Laba Yang Ditahan 116.200 Total Modal Saham 373.600 Total hutang dan Modal Saham 702.800 Laporan pendukung lainnya bisa dilaporkan secara terpisah. Laporan tersebut antara lain laporan perubahan modal saham, laporan detail komposisi hutang jangka panjang, laporan harga pokok penjualan, dan lainnya. 3.2. Laporan Rugi-Laba Laporan rugi-laba meringkas hasil dari kegiatan perusahaan selama periode akuntansi tertentu. Laporan ini sering dipandang sebagi laporan akuntansi yang paling penting dalam laporan tahunan. Kegiatan perusahaan selama periode tertentu mencakup aktivitas rutin atau operasional, disamping aktivitas-aktivitas yang sifatnya tidak rutin dan jarang muncul. Di samping itu perusahaan mungkin memutuskan untuk menghentikan lini bisnis tertentu, melakukan perubahan metode akuntansi, melaporakan item-item luar biasa. Aktivitas-aktivitas ini perlu dilaporkan dengan semestinya agar pembaca laporan keuangan memperoleh informasi yang relevan. Laporan keuangan diharapkan bisa memberikan informasi yang berkaitan dengan tingkat keuntungan (Return on Investmen), risiko, fleksibilitas keuangan, dan kemampuan, dan kemampuan operasional perusahaan. ROI merupakan ukuran keseluruhan prestasi perusahaan. Investor menanamkan uang dengan harapan akan memperoleh return atas investasi tersebut di samping menjaga investasinya agar tidak berkurang nilainya. Risiko berkaitan dengan ketidakpastian hasil yang akaan diperoleh perusahaan pada masa mendatang. Fleksibilitas keuangan adalah kemampuan perusahaan utnuk menyesuaikan terhadap kesempatan atau kebutuhan tidak seperti yang diharapkan. Fleksibilitas keuangan mencerminkan kemampuan perusahaan menyesuaikan operasi terhadap kenaikan aliran kas operasional, dan kemampuan menjual aset tanpa menggangu jalnnya operasi perusahaan. Kemampuan operasional mengacu

pada kemampuan perusahaan menjaga aktivitas perusahaan berdasarkan tingkat kegiatan tertentu, misal menjaga jumlah penjualan yang dihasilkan, atau menjaga kapasitas yang digunakan Secara unum sumbangan laporan keuangan dalam hal penyampaian informasi bisa ditingkatkan apabila laporan keuangan : (1) Memberikan informasi mengenai prestasi operasional perusahaan terpisah dari aspek lain yang berkaitan dengan prestasu perusahaan. (2) Menyajikan hasil dari aktivitas atau kejadian tertentu yang signifikan utnuk memprediksi jumlah, waktu (timing), ketidakpastian aliran kas, dan pendapatan di masa mendatang. (3) Memberikan informasi yang bermanfaat untuk menilai Return on Invesment suatu perusahaan. (4) Memberikan umpan balik (feedback) ke pemakai laporan keuangan sebagai evaliasi prediksi terhadap pendapatan dan komponennya yang dilakukan sebelumnya. (5) Memberikan informasi untuk membantu menaksir biaya untuk menjaga kemampuan operasional perusahaan. (6) Menyajikan informasi mengenai seberapa efektif manajemen telah melakukan kewajibannya yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya ekonomi perusahaan. Nampaknya komponen dari laba bersih lebih penting dibandingkan dengan jumlah total laba bersih sebagai bahan informasi untuk tujuan analisis seperti yang disebutkan di muka. Konsekuensinya, komponen dari laba bersih seharusnya dilaporkan secara terpisah, apalagi apabila komponen tersebut cukup signifikan untuk menaksir pendapatan atau laba perusahaan pada masa mendatang. Komponen laba dari laba operasional, operasi yang dihentikan, item-item luar biasa, seharusnya dilaporkan secara terpisah. Begitu juga akan lebih baik apabila ada informasi yang terpisah untuk setiap segmen geografis, dan bidang industri untuk perusahaan yang bergerak pada banyak bidang industri. 3.2.1. Elemen Rugi-Laba Supaya bisa dilaporkan dalam laporan rugi-laba, suatu item harus memenuhi definisi elemen rugi-laba. Elemen rugi-laba merupakan blok-blok besar ynag membentuk laporan rugi-laba, dan mencakup item-item yang lebih kecil yang membentuk elemen atau blok besar. Ada tiga elemen pokok dalam laporan rugi-laba: (1) Pendapatan Operasional, (2) Beban Operasional, dan (3) Untung atau Rugi (Gain or Loss). Pendapatan didefinisikan sebagai aset masuk atau aset yang naik nilainya atau hutang yang semakin berkurang atau kombinasi ketiga hal di muka, selama periode di mana perusahaan memproduksi dan menyerahkan barang atau memberikan jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi pokok perusahaan. Beban

operasional bisa didefinisikan sebagai aset keluar atau pihak lain memanfaatkan aset perusahaan memproduksi dan menyerahkan barang, memberikan jasa, atau melaksanakan aktivitas lain yang merupakan operasi pokok perusahaan. Untung (Gain) didefinisikan sebagai kenaikan modal saham dari transaksi yang bersifat insidentiat dan bukan merupakan kegiatan pokok perusahaan dan dari transaksi lainnya yang mempengaruhi perusahaan selama periode tertentu, kecuali yang berasal dari pendapatan operasional dan investasi oleh pemilik saham. Rugi (Loss) didefinisikan sebagai penurunan modal saham dari transaksi yang bersifat insidentiat dan bukan merupakan kegiatan pokok perusahaan dan dati transaksi yang mempengaruhi perusahaan selama periode tertentu, kecuali yang berasal dari beban operasional dan distribusi ke pemilik saham. Contoh sumber gain atau loss adalah transaksi kurs mata uang asing, naik atau turunnya nilai sumberdaya atau hutang pada waktu masih dimiliki. Isi laporan rugi-laba biasanya mencakup elemen-elemen seperti berikut ini. 1. Pendapatan Operasional Perusahaan a. Penjualan (bersih) b. Harga Pokok Penjualan c. Biaya Operasional d. Pendapatan dan Biaya lainnya e. Biaya Pajak yang berkaitan dengan Operasi Perusahaan 2. Hasil dari Operasi yang Dihentikan a. Pendapatan (Rugi) dari operasi perusahaan yang dihentikan (bersih pajak) b. Untunk (Rugi) yang berkaitan dengan pelepasan lini bisnis yang dihentikan (bersih pajak) 3. Item-item luar biasa (bersih pajak pendapatan) 4. Efek kumulatif perubahan prinsip akuntansi (bersih pajak pendapatan) 5. Laba bersih 6. Laba perlembar saham Berikut ini contoh laporan Rugi-Laba Tabel Laporan Rugi-Laba PT ABC

PT ABC LAPORAN RUGI LABA Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 19X2 Pendapatan Penjualan 150.000 Dikurangi: Retur Penjualan 4.000 Potongan penjualan 2.300 ( 6.300 ) Penjualan Bersih 143.700 Pendapatan bunga 1.800 Pendapatan Dividen 600 Total Pendapatan 146.100 Beban Operasional Harga Pokok Penjualan 86.000 Biaya Penjualan 10.200 Biaya Administrasi dan Umum 16.000 Biaya Depresiasi 7.800 Rugi Penjualan Aset 4.000 Biaya Bunga 2.100 Pajak Pendapatan 6.000 Total Beban Operasional (132.100) Laba Operasional 14.000 Hasil dari Operasi Yang Dihentikan Pendapatan dari lini bisnis Yang dihentikan (bersih pajak 1.950) 4.550

Rugi pengahapusan lini bisnis (bersih pajak, 3.150) (7.350) (2.800) Pendapatan sebelum item-item luar biasa 11.200 Rugi karena gudang terbakar (1.750) Efek kumulatif perubahan metode deprisiasi (bersih pajak 600) 1.400 ( 350 ) Laba bersih 10.850 Laba perlembar saham Komponen Laba Laba perlembar saham (5.000 lb)

Laba Operasional (14.000 / 5.000 lembar) 2,80 Hasil dari Operasional Yang dihetikan (0,56) Item luar biasa (0,35) Efek kumulatif perubahan metode akuntansi 0,28 Laba bersih (10.850 / 5.000 lembar) 2.17

3.3. Laporan Aliran Kas Laporan aliran kas dimaksudkan untuk mengisi gap informasi. Tujuan pokok laporan aliran kas adalah untuk memberikan informasi mengenai penerimaan dan pembayaran kas perusahaan selama periode tertentu. Tujuan kedua laporan aliran kas adalah untuk memberikan informasi mengenai efek kas dari kegiatan investasi, pendanaan, dan operasi perusahaan selama periode tertentu. Salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai aliran dana perusahaan. Laporan aliran kas akan bermanfaat untuk mencapai tujuan ini. Lebih jauh lagi,

laporan keuangan bisa memberi informasi likuiditas perusahaan, fleksibilitas keuangan perusahaan, dan kemampuan operasional perusahaan. Laporan aliran kas bermanfaat karena bisa memberikan informasi yang bisa memenuhi tujuan di atas. Laporan keuangan apabila digunakan bersama laporan lainnya akan membantu pihak eksternal menganalisis: (1) Kemampuan perusahaan menghasilkan aliran kas masa mendatang yang positif (2) Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban dan membayar dividen (3) Kebutuhan perusahaan akan pendanaan eksternal (4) Alas an terjadi perbedaan-perbedaan antara laba bersih perusahaan dengan penerimaan dan pengeluaran kasnya (5) Aspek kas dan nonkas dari transaksi investasi dan pendapatan selama periode tertentu. Laporan aliran kas bertujuan untuk melihat efek kas dari kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan. Aktivitas operasi meliputi semua transaksi dan kejadian lain yang bukan merupakan kegiatan investasi atau pendanaan. Ini termasuk transaksi yang melibatkan produksi, penjualan, penyerahan barang, atau penyerahan jasa. Aktivitas investasi meliputi pemberian kredit, pembelian atau penjualan investasi jangka panjang seperti pabrik dan peralatan. Aktivitas pendanaan meliputi transaksi untuk memperoleh dana dan distribusi retrun ke pemberi dana dan pelunasan hutang. Ada 2 metode penyusunan laporan aliran kas, yakni metode langsung dan metode tidak langsung. Metode yang biasa digunakan adalah metode tidak langsung. Dalam metode ini laba bersih ditaruh pada baris pertama, kemudian penyesuaian dilakukan terhadap laba bersih sebagi berikut ini : (1) Untuk menghilangkan sejumlah tertentu (seperti depresiasi) yang dimasukan dalam laba bersih tetapi tidak melibatkan aliran kas masuk atau keluar pada aktivitas operasi (2) Untuk memasukan perubahan-perubahan dalam aktiva lancar (selain kas) dan hutang lacar yang berkaitan dengan siklus operasi perusahaan yang mempengaruhi aliran kas yang berbeda dengan laba bersih. Aliran kas untuk aktivitas investasi yang sering dapat diklasifikasikan sebagai berikut ini : (1) Penerimaan kas dari penjualan investasi pada saham atau obligasi (2) Penerimaan kas dari penjualan bangunan, pabrik, dan peralatan (3) Pembayaran untuk investasi pada surat berharga (saham atau obligasi) (4) Pembayaran untuk pembelian bangunan, pabrik, dan peralatan

Aktivitas pendanaan yang sering dimasukan ke dalam kegiatan pendanaan sering diklasifikasikan sebgai berikut ini : (1) Penerimaan dari emisi surat berharga (obligasi, saham) (2) Pembayaran dividen (3) Pelunasan hutang atau obligasi (4) Pembayaran untuk membeli sahan kembali (treasury stock) Aktivitas operasi yang sering dimasukan dalam operasi adalah: Aliran Kas Masuk Operasi (1) Pengumpulan dari pelanggan (2) Bunga atau dividen yang dikumpulkan Aliran kas Keluar Operasi (1) Pembayaran ke pemasok (supplier) atau karyawan (2) Pembayaran bunga (3) Pembayaran pajak pendapatan Disamping laporan keuangan seperti dijelaskan dimuka, tamahan informasi di luar laporan keuangan juga perlu dipelajari supaya diperoleh informasi yang lebih lengkap. Informasi tersebut dilaporkan dalam lampiran. Beberapa hal yang dilaporkan di luar laporan keuangan (dalam lampiran) adalah: (1) Ringkasan Prinsip atau Metode Akuntansi yang dipakai (2) Aset dab Hutang yang belum pasti (3) Peristiwa kemudian Laporan-laporan pelengkap akan membantu analisis keuangan memahami kondosi keuangan suatu perusahaan. Laporan bersama dengan informasi yang diperoleh dari pihak luar (seperti analisis industri) akan memberi gambaran yang lebih lengkap mengenai perusahaan serta prospek dan risikonya.

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Analisis keuangan pada dasarnya ingin melihat prospek dan risiko perusahaan. Prospek bisa dilihat dari tingkat keuntungan (profitabilitas) dan risiko bisa dilihat dari kemungkinkan peusahaan mengalami kesulitan keuangan atau mengalami kebangkrutan.

Ada tiga macam laporan keuangan yang pokok yang dihasilkan, (1) Neraca, (2) Laporan Rugi Laba, dan (3) Laporan Aliran Kas. Pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokan ke dalam lima macam katagoro, yaitu : Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, Rasio Pasar. Neraca menampilkan sumber daya ekonomis (aset), kewajiban ekonomis (hutang), modal saham, dan hubungan antaritem tersebut. Laporan rugi-laba meringkas hasil dari kegiatan perusahaan selama periode akuntansi tertentu. Laporan ini sering dipandang sebagi laporan akuntansi yang paling penting dalam laporan tahunan. Laporan aliran kas dimaksudkan untuk mengisi gap informasi. Tujuan pokok laporan aliran kas adalah untuk memberikan informasi mengenai penerimaan dan pembayaran kas perusahaan selama periode tertentu.

4.2. Saran

Untuk mahasiswa dituntut untuk memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari laporan-laporan keuangan dan rasio-rasio keuangan. Dengan membuat makalah ini mahasiswa harus bisa membuat Analisis Laporan Keuangan suatu perusahaan dimasa yang akan datang.