P. 1
STRATEGI PENINGKATAN EKONOMI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU MELALUI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR (LIQUID WASTE) KELAPA SAWIT MENJADI BIODIESEL

STRATEGI PENINGKATAN EKONOMI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU MELALUI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR (LIQUID WASTE) KELAPA SAWIT MENJADI BIODIESEL

|Views: 236|Likes:
Dipublikasikan oleh KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 09, 2012
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

02/20/2014

STRATEGI PENINGKATAN EKONOMI

KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU
MELALUI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR (LIQUID WASTE)
KELAPA SAWIT MENJADI BIODIESEL
M. YUSUF SIREGAR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
PERNYATAAN MENGENAI TESIS
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Strategi Peningkatan Ekonomi
Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau Melalui Pengolahan Limbah Cair
(Liquid Waste) Kelapa Sawit Menjadi Biodiesel adalah karya saya dengan arahan
dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, September 2008
M. Yusuf Siregar
NIM. A153054175
ABSTRACT
M YUSUF SIREGAR. Strategy to Enhance Economic Condition of Kuantan
Singingi Regency Riau Province through The Treatment of Liquid Waste of
Oil Palm to become Biodiesel. Guided by Lukman M. Baga and SOEBROTO
HADISOEGONDO
Previously Indonesia constitues a net-exporter country in the field of oil
fuel (BBM) but currently has become net-importer of BBM as of 2000. Kuansing
Regency is capable to produce liquid waste of 35,640 ton per-day or 1.07 million
ton per-month. But up to now the treatment of such liquid waste has not been well
utilized economically as raw material for bio-diesel and therefore such liquid
waste is deemed as “waste” that provides negative externality against community
existing surrounding factory. Meanwhile in one side there is a need for Fuel Oil
(BBM) that is sufficiently big in order to support energy procurement in Kuantan
Sengingi Regency. Based on analysis of Locations Quotient (LQ) and
Specialization Index (SI), conclusion can be made that Sub-district of Benai
Constitutes a strategic location for the development of bio-diesel industry the raw
material of which is originated from (liquid waste) in Kuantan Sengingi Regency.
Financially the development of bio-diesel with its raw material is originated from
liquid waste in Kuantan Sengingi Regency is deemed feasible with Net Present
Value (NPV) of Rp. 33.37 billion, Internal Rate of Return (IRR) of 41.51% and
Break Event Point (BEP) during 2 years. While the development program of
Kuantan Sengingi Regency relating to the development of bio-diesel industry the
raw material of which is originated from liquid waste by using análisis of SWOT
(Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats), then rangking of priority can be
obtained i.e., the issuance of regional regulation treatement of waste from PKS
factory in Kuantan Sengingi Regency, establishment of cooperation with foreign
party whether in the aspect of capital, technology development and marketing,
and the development of populist bio-diesel industry with basis of network
economy.
Key words: biodiesel, liquid waste, regional development.
RINGKASAN
M YUSUF SIREGAR. Strategi Peningkatan Ekonomi Kabupaten Kuantan
Singingi Provinsi Riau Melalui Pengolahan Limbah Cair (Liquid Waste) Kelapa
Sawit Menjadi Biodiesel. Dibimbing oleh LUKMAN M. BAGA dan SUBROTO
HADISUGONDO.
Indonesia dulunya merupakan negara net-exporter di bidang bahan bakar
minyak (BBM) kini telah menjadi net-impoter BBM sejak tahun 2000. Hal ini
sungguh ironis karena terjadi pada saat harga minyak dunia tidak stabil dan
cenderung mengalami peningkatan. Pada periode bulan Januari-Juli 2006,
produksi BBM Indonesia hanya mencapai 1,03 juta barel per hari, sedangkan
konsumsi BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari sehingga terdapat defisit
BBM sebesar 270.000 barel yang harus dipenuhi melalui impor. Dengan harga
minyak dunia mencapai US$ 108 per barel, untuk memenuhi defisit tersebut
Indonesia harus menyediakan budget setiap harinya sekitar US$ 29.160.000 per
hari atau sekitar Rp 170 miliar per hari.
Setiap 1 ton tandan buah segar (TBS) akan dihasilkan limbah cair (liquid
waste) sebanyak 600-700 kg. Jika dihitung secara matematis maka masing-masing
PKS di Kabupaten Kuantan Singingi akan menghasilkan liquid waste sebesar 324
ton per hari. Sehingga Kabupaten Kuansing dapat memproduksi liquid waste
sebanyak 35.640 ton sehari atau 1,07 juta ton per bulan. Tetapi hingga saat ini
pengelolaan liquid waste tersebut belum dimanfaatkan secara baik dan ekonomis
sebagai bahan baku biodiesel, dan karenanya liquid waste tersebut masih dianggap
“limbah” yang memberikan eksternalitas negatif bagi masyarakat di sekitar
pabrik. Sementara disatu sisi, dirasakan ada kebutuhan akan Bahan Bakar Minyak
(BBM) yang cukup besar untuk mendukung pengadaan energi di Kabupaten
Kuantan Singingi. Masalahnya adalah bagaimana menyelesaikan kedua kondisi
diatas yang bersifat “negatif” sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat di
wilayah Kabupaten Kuantan Singingi secara khusus dan secara umum untuk
Provinsi Riau.
Metode untuk menentukan lokasi yang strategis dalam pengembangan
industri biodiesel yang bahan bakunya berasal dari limbah cair (liquid waste) di
Kabupaten Kuantan Singingi dianalisis dengan menggunakan Location Quetient
(LQ) dan Specialization Indeks (SI). Metode untuk mengetahui layak tidaknya
pengembangan industri biodiesel diatas dianalisis secara finansial dengan
komponen-komponen yang dilihat adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate
of Return (IRR) dan Break Even Point (BEP). Sedangkan metode untuk
merencanakan program pengembangan pabrik biodiesel diatas dianalisis dengan
menggunakan analisis SWOT (strengts, weaknesses, opportunities, threats).
Analisis Location Quetient (LQ) menunjukkan bahwa perkebunan kelapa
sawit pada tahun 2005 merupakan sektor basis bagi beberapa kecamatan
diantaranya kecamatan Kuantan Mudik, Singingi, Singingi Hilir, Kuantan Tengah,
Benai dan Cerenti. Sedangkan berdasarkan luas lahan perkebunan kelapa sawit,
hanya kecamatan Gunung Taor dan Kuantan Hilir pada tahun 2005 yang bukan
merupakan sektor basis dari perkebunan ini. Sedangkan berdasarkan
Specialization Indeks (SI) diketahui bahwa komoditi perkebunan kelapa sawit di
Kabupaten Kuantan Singingi bukan merupakan komoditi terspesialisasi baik
secara luas dan produksi. Berdasarkan kedua analisis tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa Kecamatan Benai merupakan lokasi yang strategis bagi
pengembangan industri biodiesel yang bahan bakunya berasal dari limbah cair
(liquid waste) di Kabupaten Kuantan Singingi.
Secara finansial pengembangan biodiesel yang bahan bakunya berasal dari
limbah cair (liquid waste) di Kabupaten Kuantan Singingi dikatakan layak. Nilai
Net Present Value (NPV) sebesar Rp. 33,37 miliar; artinya investasi di bidang ini
dinyatakan menguntungkan atau diterima. Nilai Internal Rate of Return (IRR)
sebesar 41,51%; artinya kegiatan perkebunan ini dapat dilanjutkan. Sedangkan
nilai Break Even Point (BEP) yaitu 2 tahun; artinya kegiatan perkebunan akan
memperoleh keuntungan pada tahun ke-2 setelah mulai dilakukan kegiatan
produksi atau tahun ke 4 setelah penanaman kelapa sawit.
Berdasarkan analisis SWOT (strengts, weaknesses, opportunities, threats)
menunjukkan empat strategi yang dapat dilakukan untuk mendukung program
pembangunan di Kabupaten Kuantan Singingi. Pertama, pembuatan peraturan
daerah tentang pemanfaatan liquid waste sebagai energi alternatif. Kedua,
integrasi pengolahan limbah pabrik PKS di Kabupaten Kuantan Singingi. Ketiga,
mengadakan kerjasama dengan pihak asing baik dalam permodalan,
pengembangan teknologi dan pemasaran. Keempat, pengembangan industri
biodiesel kerakyatan berbasis ekonomi jaringan.
Kata kunci: biodiesel, liquid waste, pembangunan daerah
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2008
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah; pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang
wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya Tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.
STRATEGI PENINGKATAN EKONOMI
KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU
MELALUI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR (LIQUID WASTE)
KELAPA SAWIT MENJADI BIODIESEL
M. YUSUF SIREGAR
Tugas Akhir
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Profesional pada
Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
Dosen Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: A. Faroby Falatehan, SP.ME
Judul Tugas Akhir : Strategi Peningkatan Ekonomi Kabupaten Kuantan
Singingi Provinsi Riau Melalui Pengolahan Limbah
Cair (Liquid Waste) Kelapa Sawit Menjadi Biodiesel.

Nama : M. Yusuf Siregar

N I M : A 153054175

Menyetujui
Komisi Pembimbing,
Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec
K e t u a
Ir. Soebroto Hadisoegondo, MS
A n g g o t a
Mengetahui,
Ketua Program Studi
Manajemen Pembangunan Daerah
Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec
Dekan Sekolah Pascasarjana
Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS
Tanggal Ujian : 5 Agustus 2008 Tanggal Lulus :
PRAKATA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT
Tuhan Yang Maha Esa atas segala rachmat dan karuniaNya ilmiah ini berhasil
diselesaikan pada bulan Mei 2008, ini ialah pembangunan daerah disektor
pengembangan limbah cair (liquid waste) dari kelapa sawit menjadi biodiesel.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan dan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini,
antara lain:
1. Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec sebagai Ketua Program Studi Ilmu-ilmu
Management Pembangunan Daerah (MPD) Sekolah Parcasarjana IPB.
2. Ir. Lukman M Baga, M.AEc sebagai ketua dan Ir. Subroto Hadisugondo
MS selaku anggota Komisi Pembimbing yang tidak hanya memberikan
bimbingan saja, tetapi juga mendidik penulis menuju kepada pendewasaan
pemikiran.
3. Kepada rekan-rakan seperjuangan Program Studi MPD “angkatan 2007”
Trimakasih yang tak terhingga kepada istri tercinta Nur Chadidjah dan
ketiga putri tersayang serta dua cucu kebanggan atas doa-doanya yang telah
memberikan banyak pengorbanan menanti penulis selesai. Semoga Allah SWT
memberikan rahmat dan karunia atas segala pengorbanan yang ada.
Penulis menyadari keterbatasan dalam penulisan tesis ini, sehingga tesis
ini masih jauh dari sempurna, untuk itu diharapkan saran dan kritikan dari semua
pihak yang sifatnya membangun demi perbaikan tesis ini. Akhirnya, Penulis
berharap semoga tesis ini berguna bagi berbagai pihak. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Bogor, September 2008
M.Yusuf Siregar
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1951 di Sisoma Pandangsidempuan
dari ayah Djasinaloan Siregar dan ibu Tiamah Sormin. Penulis merupakan anak
pertama dari 3 (tiga) bersaudara.
Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai
Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Padangsidempuan Tapanuli Selatan
Provinsi Sumatera Utara tahun 1971, Pada tahun 1972 penulis pindah ke Jakarta
dan bekerja di Cipta Sarana Real Estate.
Penulis lulus dari mahasiswa di Universitas Jaya Baya Jakarta Jurusan
Teknik Sipil dan Perencanaan pada tahun 1997.
Jabatan terakhir di Pemerintahan adalah Staf Pribadi Wakil Presiden
Republik Indonesia hingga tahun 2004.
Pada tahun 2005, penulis diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan
ke Program Magister Sains (S2) di Institut Pertanian Bogor pada Program Studi
Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan kemudian pindah
ke Program Studi Managemen Pembangunan Daerah.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...................................................................................................... i
DAFTAR TABEL.............................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR......................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... vii
I. PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah........................................................................... 4
1.3. Tujuan................................................................................................ 5
1.4. Kegunaan........................................................................................... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 7
2.1. Kelapa Sawit...................................................................................... 7
2.2. Biodiesel ........................................................................................... 8
2.2.1. Asal Mula Biodiesel ............................................................. 8
2.2.2. Pembuatan Biodiesel Berbahan Baku Minyak Sawit (CPO) 10
2.3. Peranan Biodiesel dalam Pembangunan Ekonomi Daerah................ 13
2.4. Kelayakan Finansial dan Kelayakan Ekonomi .................................. 17
III. METODOLOGI PENELITIAN................................................................... 20
3.1. Kerangka Pemikiran ......................................................................... 20
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 23
3.3. Jenis Data, Sumber Data dan Responden ......................................... 23
3.4. Metode Analisis Data ........................................................................ 23
3.4.1. Analisis Location - Quotient (LQ) ........................................ 24
3.4.2. Analisis Specialization Indeks (SI) ....................................... 25
3.4.3. Net Present Value (NPV) ..................................................... 26
3.4.4. Internal Rate of Return (IRR) .............................................. 26
3.4.5 Break Event Point (BEP) ...................................................... 27
3.4.6. Analisis SWOT ..................................................................... 28
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN.................................... 30
4.1. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam............................................... 30
4.1.1. Sejarah................................................................................... 30
4.1.2.Letak dan Luas Wilayah......................................................... 30
4.1.3. Iklim dan Curah Hujan.......................................................... 31
4.2. Pemerintahan ..................................................................................... 31
4.3. Kependudukan, Ketenagakerjaan dan Mata Pencaharian.................. 32
4.4. Kondisi Perekonomian ..................................................................... 33
4.5. Potensi Pertanian Kabupaten Kuantan Singingi ................................ 34
4.5.1. Potensi Sektor Perkebunan.................................................... 35
4.5.2. Potensi Sektor Peternakan..................................................... 36
4.5.3. Potensi Sektor Pertanian Tanaman Pangan........................... 37
4.6. Kultur Masyarakat dan Kelembagaan ............................................... 39
V. KONDISI PERKEBUNAN KABUPATEN KUANTAN SINGINGI.......... 41
5.1. Profil Industri Perkebunan ................................................................ 41
5.1.1. Perkebunan Besar Swasta ..................................................... 41
5.1.2. Perkebunan Rakyat................................................................ 43
5.2. Kondisi Perkebunan........................................................................... 43
VI. ANALISIS PENENTUAN LOKASI PENDIRIAN PABRIK BIODIESEL
DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI ................................................ 45
6.1. Location Quotient (LQ) ..................................................................... 45
6.2. Specialization Indeks (SI) ................................................................. 47
VII. ANALISIS FINANSIAL PABRIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT
DAN BIODIESEL ...................................................................................... 49
7.1. Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) ........................................... 49
7.1.1. Biaya Investasi ...................................................................... 49
7.1.1.1. Investasi Tanaman..................................................... 50
7.1.1.2. Investasi Non Tanaman ............................................ 51
7.1.1.3. Investasi Proyek PKS dan Jembatan ........................ 51
7.1.2. Penyusutan ............................................................................ 51
7.1.3. Biaya Operasional ................................................................ 52
7.1.4. Profil Produksi ..................................................................... 52
7.1.5. Penerimaan ........................................................................... 53
7.1.6. Net Present Value (NPV) ..................................................... 54
7.1.7. Internal Rate of Return (IRR) .............................................. 54
7.1.8. Break Event Point (BEP) ..................................................... 54
7.2. Pabrik Biodiesel (Liquid Waste) ....................................................... 55
7.2.1. Syarat Lokasi Pabrik Biodiesel .......................................... 58
7.2.2. Biaya Pembangunan Pabrik Biodiesel (Liquid Waste)
Kapasitas 10.000 liter/hari atau 100.000 ton/tahun ............ 59
7.2.3. Penyusutan .......................................................................... 59
7.2.4. Biaya Operasional .............................................................. 59
7.2.5. Biaya Pengangkutan Bahan Baku ...................................... 60
7.2.6. Perkiraan Harga Pokok Biodiesel ...................................... 61
7.2.7. Penerimaan Pabrik Biodiesel (Proyek B)............................ 63
7.1.8. Net Present Value (NPV) ................................................... 63
7.1.9. Internal Rate of Return (IRR) ............................................ 64
7.1.10. Break Event Point (BEP) ................................................... 64
VIII. ANALISIS INTERNAL-EKSTERNAL PABRIK BIODIESEL
DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI ............................................. 65
8.1. Faktor Internal .................................................................................. 66
8.1.1. Kekuatan .............................................................................. 66
8.1.2. Kelemahan ............................................................................ 71
8.2. Faktor Eksternal ................................................................................ 75
8.2.1. Peluang ................................................................................. 75
8.2.1. Ancaman .............................................................................. 84
8.3. Strategi Pengembangan Biodiesel di Kabupaten Kuantan Singingi..87
8.4. Program Pembangunan Biodiesel Berbasis Liquid Waste Dalam
Kaitannya Dengan Pembangunan Daerah di Kabupaten Kuantan
Singingi.............................................................................................. 89
IX. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 92
9.1. Kesimpulan........................................................................................ 92
9.2. Saran.................................................................................................. 93
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 95
LAMPIRAN....................................................................................................... 96
DAFTAR TABEL
Hal
1. Ketersediaan Energi Fosil di Indonesia......................................................2
2. Potensi Energi Alternatif Indonesia ...........................................................2
3. Kandungan yang terdapat pada Liquid Waste............................................4
4. Unsur-unsur Perbedaan dalam Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi .19
5. Luas (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit di Provinsi Riau.....................20
6. Alat Analisis ...............................................................................................24
7. Diagram matrik SWOT ..............................................................................28
8. Sebaran Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kabupaten Kuantan
Singingi Tahun 2004-2005.........................................................................32
9. Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2004-2005 ........33
10. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut
Lapangan Usaha di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2003-2005 ........34
11. Komoditas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi Menurut
Kecamatan Tahun 2005..............................................................................35
12. Jumlah Ternak Besar dan Kecil di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun
2005 ............................................................................................................37
13. Jumlah Kebutuhan Ketersediaan Dan Kekurangan Beras Di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2005....................................................................38
14. Produksi Berbagai Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2005 (dalam Ton) ...............................................38
15. Daftar Pabrik Pengolahan Hasil Perkebunan di Kabupaten Kuantan
Singingi Tahun 2006 ..................................................................................42
16. Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan di Kabupaten Kuantan
Singingi Tahun 2001-2005.........................................................................43
17. Kuoisen Lokasi (LQ) Komoditi Perkebunan Menurut Luas Lahan (Ha)
dan Produksi (Ton) di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2001-2005....45
18. Kuoisen Lokasi (LQ) Komoditi Perkebunan Kelapa Sawit Menurut
Luas Lahan (Ha) dan Produksi (Ton) per Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2004 dan 2005....................................................46
19. Kuoisen Spesialisasi (SI) Komoditi Perkebunan Kelapa Sawit Menurut
Luas Lahan (Ha) dan Produksi (Ton) per Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2004 dan 2005....................................................47
20. Kuoisen Spesialisasi (SI) Komoditi Perkebunan Kelapa Sawit Menurut
Luas Lahan (Ha) dan Produksi (Ton) per Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2004 dan 2005....................................................48
21. Ringkasan Estimasi Biaya Investasi Tanaman Tahun Permulaan Sampai
Dengan Tahun ke Tiga (Rp./ha) .................................................................50
22. Estimasi Biaya Penyusutan Invesatasi Non Tanaman dan Proyek
(Rp. 000).....................................................................................................52
23. Profil Produksi dan Ekstraksi MKS dan IKS .............................................53
24. Perbandingan Biodiesel dan Petrodiesel.....................................................56
25. Biaya Pembangunan Pabrik Biodiesel (Liquid waste) Berkapasitas
10.000 liter/hari (Rp. 000) ..........................................................................59
26. Estimasi Biaya Penyusutan Investasi Pabrik Biodiesel (Rp. 000,-) ...........59
27. Biaya Operasional Pabrik Biodiesel ..........................................................60
28. Biaya Transportasi Liquid Waste dari PKS (Rp. 000,-) .............................61
29. Perkiraan Harga Pokok Produksi Biodiesel................................................61
30. Perbandingan Harga Masing-masing Proyek .............................................62
31. Penerimaan Pabrik Biodiesel (Proyek B) ...................................................63
32. IFAS dan EFAS Pendirian Pabrik Biodiesel (Liquid Waste) di
Kabupaten Kuantan Singingi......................................................................66
33. Jumlah Pencari Kerja di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2001-2005.69
34. Kondisi Infrastruktur Jalan Berdasarkan Jenis Permukaan Jalan Tahun
2005 ............................................................................................................72
35. Kondisi Infrastruktur Jalan Berdasarkan Status Jalan Tahun 2005............72
36. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) pada beberapa Percobaan Limbah
Cair .............................................................................................................
74
37. Produktivitas Kelapa Sawit pada areal aplikasi limbah cair (liquid waste)
pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) di beberapa kebun milik PT.
Perkebunan Nusantara III. ..........................................................................75
38. Kebutuhan Minyak Solar Menurut Sektor Tahun 1994 - 2004. .................77
39. Perkembangan Produksi dan Impor Minyak Solar dari 1994-2004 ...........78
40. Proyeksi Target Produksi Biodiesel s/d Tahun 2025 (dalam ribu
kiloliter). .....................................................................................................
80
41. Contoh Tumbuhan Penghasil Minyak yang ada di Indonesia. ...................85
42. Matriks SWOT ...........................................................................................87
43. Fokus Program dan Masing-masing Penanggungjawabnya dalam
Pendirian Pabrik Biodiesel Berbasis Liquid Waste di Kabupaten
Kuantan Singingi ........................................................................................91
DAFTAR GAMBAR
Hal
1. Bagan Alir Kerangka Pemikiran Pengembangan Pabrik CPO Menjadi
Biodiesel Sebagai Salah Satu Alternatif Peningkatan Ekonomi Daerah
di Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau..........................................22
2. Bahan Material Biodiesel Yang Diperoleh Dari CPO (Crude Palm Oil)
dan Limbah Cair (Liquid waste) (BPPT, 2006)..........................................55
3. Diagram Pabrik Biodiesel (Liquid Waste)..................................................55
4. Liquid waste (limbah cair/CPO Parit) ........................................................57
5. Tren Harga Minyak Dunia (Sep 2006-Sep 2007).......................................81
DAFTAR LAMPIRAN
Hal

1. Biaya Investasi Tanaman Tahun Permulaan (N+0, Data Hipotetik) .........97
2. Biaya Investasi Tanaman Tahun Pertama (N+1, Data Hipotetik). ............99
3. Biaya Investasi Tanaman Tahun Kedua (N+2, Data Hipotetik)................101
4. Biaya Investasi Tanaman Tahun Ketiga (N+3, Data Hipotetik) ...............103
5. Estimasi Biaya Investasi Non Tanaman (Data Hipotetik).........................105
6. Estimasi Biaya Investasi Proyek PKS dan Jembatan Permanen (Data
Hipotetik)...................................................................................................107
7. Perencanaan Biaya Investasi (Rp. 000, Data Hipotetik) ...........................108
8. Estimasi Biaya Penyusutan Investasi Non Tanaman dan Proyek Selama
10 Tahun (Rp. 000, Data Hipotetik ...........................................................
109
9. Estimasi Biaya Operasional Perusahaan Kelapa Sawit (luas 10 000 ha)
dengan Faktor Koreksi Inflsi 3% dan Pola Distribusi Biaya Mengikuti
Umur Tanaman dan Profil Produksi (Rp. 000)..........................................110
10. Estimasi Penerimaan (Rp. 000, Data Hipotetik)........................................111
11. Biaya Pembangunan Pabrik Biodiesel (Rp. 000, data hipotetik). .......114
12. Biaya Operasional (Rp. 000, data Hipotetik). ...........................................115
13. Biaya Penyusutan (Rp. 000, data Hipotetik). ............................................116
14. Biaya Transportasi (Rp. 000, data Hipotetik)............................................117
15. Analisis Kelayakan (data Hipotetik). ........................................................118
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dulunya merupakan negara net-exporter di bidang bahan bakar
minyak (BBM) kini telah menjadi net-impoter BBM sejak tahun 2000. Hal ini
sungguh ironis karena terjadi pada saat harga minyak dunia tidak stabil dan
cenderung mengalami peningkatan. Pada periode bulan Januari-Juli 2006,
produksi BBM Indonesia hanya mencapai 1,03 juta barel per hari, sedangkan
konsumsi BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari sehingga terdapat defisit
BBM sebesar 270.000 barel yang harus dipenuhi melalui impor. Dengan harga
minyak dunia mencapai US$ 108 per barel, untuk memenuhi defisit tersebut
Indonesia harus menyediakan budget setiap harinya sekitar US$ 29.160.000 per
hari atau sekitar Rp 170 miliar per hari (Hambali, 2007).
Keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
menyebabkan pemerintah mengambil kebijakan untuk mengurangi subsidi
terhadap bahan bakar minyak (BBM). Sehingga sejak tahun 2005 sampai saat ini
harga BBM telah mengalami kenaikan beberapa kali. Kenaikan ini sangat terasa
bagi masyarakat yang memiliki pendapatan rendah. Untuk meringankan beban
masyarakat maka pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan diantaranya
adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun, dalam kenyataannya program ini
belum sepenuhnya dapat membantu masyarakat untuk keluar dari persoalan krisis
energi.
Dimasa mendatang, kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) semakin
besar karena meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang menggunakan solar
dan premium, jumlah penduduk yang menggunakan minyak tanah, dan jumlah
industri yang menggunakan solar dan minyak bakar. Ketergantungan akan bahan
bakar minyak yang berasal dari fosil ini dapat dilihat dari dominasi pemakaiannya
yaitu 52,5 persen, gas bumi 19 persen, batu bara 21,5 persen, air 3,7 persen panas
bumi 3 persen, dan energi terbarukan hanya sekitar 0,2 persen (Direktorat Jenderal
Listrik dan Pemanfaatan Energi, 2006). Selanjutnya dijelaskan bahwa cadangan
minyak bumi Indonesia hanya sekitar 9 miliar barel dan produksi Indonesia hanya
sekitar 500 juta barel per tahun. Ini artinya jika minyak bumi terus digunakan dan
tidak ditemukan cadangan minyak baru atau tidak ditemukan teknologi baru untuk
meningkatkan cadangan minyak bumi, diperkirakan cadangan minyak bumi
Indonesia akan habis dalam waktu 23 (dua puluh tiga tahun).
Tabel 1. Ketersediaan Energi Fosil di Indonesia.
Energi Fosil Minyak Bumi Gas Batu Bara
Sumber daya 86,9 miliar barel 384,7 TSCF 57 miliar ton
Cadangan 9 miliar barel 182 TSCF 19,3 miliar ton
Produksi 500 juta barel 3,0 TSCF 130 juta ton
Ketersediaan 23 tahun 62 tahun 146 tahun
Sumber: Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, 2006.
Untuk mengatasi masalah krisis di Indonesia, pemerintah berupaya keras
untuk mencari sumber-sumber energi alternatif. Sebagai bentuk nyata keseriusan
pemerintah akan hal tersebut maka dikeluarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun
2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai
Bahan Bakar Lain. Selain itu, pada tanggal 24 Juli 2006 juga diterbitkan Surat
Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 10 Tahun 2006 tentang Tim Nasional
(Timnas) Pengembangan Bahan Bakar Nabati untuk Percepatan Pengurangan
Kemiskinan dan Pengangguran.
Tabel 2. Potensi Energi Alternatif Indonesia.
Sumber Potensi Capasitas Terbangun
Hydro 75.000 MW 4.200 MW (6%)
Geothermal 27.000 MW 802 MW (4%)
Mini/Micro Hydro 459 MW 64 MW (14%)
Biomass 49.810 MW 302 MW (6%)
Solar Energy 4,8 kWh/m
2
/day 5 MW
Wind Energy 3-6 m/sec 0,5 MW
Sumber: IEA Task 33 Meeting, Dresden 12-14 Juni 2006.
Potensi energi yang bersumber dari biomass salah satunya adalah kelapa
sawit. Produksi minyak kelapa sawit Indonesia sudah mengalami peningkatan
yang sangat mengesankan bagi seluruh dunia. Jika pada tahun 1985 produksi
minyak kelapa sawit Indonesia hanya 1,3 juta ton maka untuk tahun 2006
meningkat menjadi 15,9 juta ton Crude Palm Oil (CPO). Menurut Oil World
tahun 2006 bahwa Malaysia yang selama ini menjadi penghasil CPO terbesar di
dunia hanya mampu menghasilkan 15,8 juta ton, Thailand 0,82 juta ton, Nigeria
0,815 juta ton, dan Colombia 0,711 juta ton
1
.
Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, Indonesia sangat potensial
menjadi produsen biodiesel dengan memanfaatkan minyak yang berbasis sawit,
baik CPO itu sendiri maupun turunannya. Hampir seluruh produk CPO dapat
diolah menjadi biodiesel, dari yang terbaik dengan kadar Free Fatty Acid (FFA)
kurang dari 5% hingga Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) berkadar FFA lebih
dari 70%. Bahkan Liquid waste atau limbah CPO dari Pabrik Kelapa Sawit dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel
2
.
Visi pembangunan pemerintah daerah provinsi Riau pada subsektor
perkebunan adalah terwujudnya kebun untuk kesejahteraan masyarakat Riau
tahun 2020 dengan tingkat pendapatan rata-rata sebesar US$ 2.000/KK/tahun.
Bentuk nyatanya adalah dengan membangun kebun kelapa sawit, membagi lahan
kebun kelapa sawit dan memberikan bantuan modal bagi penduduk miskin di
Provinsi Riau. Lahan perkebunan diperoleh dari lahan yang dulunya dikuasai oleh
perusahaan dan koperasi yang dicabut izin usahanya. Bantuan modal untuk
membangun kebun dilakukan dengan sharing budget antara pemerintah Provinsi
Riau dengan kabupaten/kota di Riau. Pembangunan kebun dengan sharing budget
tersebut direncanakan selama 5 tahun yang dimulai sejak tahun 2005 sampai
2009. Untuk tahun 2005 pemerintah daerah melalui APBD Provinsi Riau
menganggarkan Rp. 83 miliar sebagai bantuan modal bagi pembangunan kebun
kelapa sawit untuk rakyat miskin.
Provinsi Riau sangat berpotensi untuk menghasilkan kelapa sawit terbesar
karena memiliki lahan perkebunan seluas 1,34 juta hektar dengan rata-rata
produksi sebesar 3,3 juta ton per tahun yang tersebar di berbagai kabupaten.
Khususnya Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) luas perkebunan kelapa sawit
sebesar 128.190 hektar dengan rata-rata produksi kelapa sawit per tahun sebesar
732.675 ton atau setara dengan 19,41 persen dari total keseluruhan produksi
kelapa sawit di Provinsi Riau (BPS Provinsi Riau, 2006).
1
“Pertumbuhan CPO Indonesia Paling Tinggi di Dunia” (Kompas, 08 Juli 2006).
2
“BBM dari Singkong, Minyak Jarak, dan Kelapa Sawit”. www.bppt.co.id (27 Agustus 2007).
1.2 Perumusan Masalah
Produktivitas lahan kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi lebih
besar dibandingkan dengan kabupaten lain sebesar yang ada di Provinsi Riau,
yaitu sebesar 5,72 ton/ha. Kabupaten Kuantan Singingi mempunyai Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) sebanyak 12 unit dengan rata-rata produksi 45
ton per jam (Bapedda dan BPS Kabupaten Kuantan Singingi, 2004). Dengan hasil
perkebunan tersebut, maka Kabupaten Kuantan Singingi berpotensi cukup besar
sebagai produsen minyak kelapa sawit Crude Palm Oil (CPO) dan liquid waste
(limbah cair) untuk dijadikan bahan baku biodiesel.
Produksi CPO yang cukup besar akan menghasilkan limbah cair yang
cukup besar pula, karena dalam proses produksi CPO akan diperoleh produk
samping berupa limbah paret (FFA 20-70%) atau disebut dengan limbah cair atau
liquid waste. Setiap 1 ton tandan buah segar (TBS) akan dihasilkan limbah cair
(liquid waste) sebanyak 600-700 kg. Jika dihitung secara matematis maka masing-
masing PKS tersebut akan menghasilkan liquid waste sebesar 324 ton per hari.
Sehingga Kabupaten Kuantan Singingi dapat memproduksi liquid waste sebanyak
35.640 ton sehari atau 1,07 juta ton per bulan. Tetapi hingga saat ini pengelolaan
liquid waste tersebut belum dimanfaatkan secara baik dan ekonomis sebagai
bahan baku biodiesel, dan karenanya liquid waste tersebut masih dianggap
“limbah” yang memberikan eksternalitas negatif bagi masyarakat di sekitar
pabrik. Kandungan bahan-bahan kimiawi yang terdapat di dalam liquid waste
pada pabrik pengolahan kelapa sawit, meliputi Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Kandungan yang terdapat pada Limbah Cair (liquid waste)
3
.
Parameter Rata-rata Baku Mutu KLH
pH 4,2 6-9
BOD (mg/liter) 25.000 100
COD (mg/liter) 50.000 350
TS (mg/liter) 40.000 250
SS (mg/liter) 18.000 25
Lemak (mg/liter) 6.000 -
3
“BBM dari Singkong, Minyak Jarak, dan Kelapa Sawit”. www.bppt.co.id (27 Agustus 2007).
Sementara disatu sisi, dirasakan ada kebutuhan akan Bahan Bakar Minyak
(BBM) yang cukup besar untuk mendukung pengadaan energi di Kabupaten
Kuantan Singingi. Masalahnya adalah bagaimana menyelesaikan kedua kondisi
diatas yang bersifat “negatif” sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat di
wilayah Kabupaten Kuantan Singingi secara khusus dan secara umum untuk
Provinsi Riau.
1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas maka tujuan umum
penelitian adalah mengkaji upaya-upaya menemukan nilai tambah (value added)
bagi komoditas kelapa sawit dengan mengembangkan peluang bagi industri
Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) secara khusus dalam ikut mengatasi masalah
kekurangan energi dan mengolah eksternalitas negatif yang ditimbulkan dari
limbah sawit (liquid waste). Diharapkan hasilnya akan menjadi solusi untuk
pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi dalam menyediakan substitusi
Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan mengadakan biodiesel yang setara. Selain
itu, pengolahan limbah cair (liquid waste) menjadi biodiesel juga dapat menjaga
kualitas lingkungan di Kabupaten Kuantan Singingi dan wilayah sekitarnya.
Selain tujuan umum di atas terdapat juga tujuan khusus yang ingin dicapai dalam
penelitian ini yaitu:
1. Mengkaji lokasi yang strategis dan efisien untuk mendukung
pengembangan pabrik biodiesel, terkait dengan pengadaan bahan baku
limbah cair (liquid waste) dari pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) yang
ada di Kabupaten Kuantan Singingi.
2. Mengkaji kelayakan finansial dari upaya pengembangan pabrik
pengolahan biodiesel berbasis limbah cair (liquid waste) yang bahan
bakunya bersumber dari pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) di
Kabupaten Kuantan Singingi.
3. Mengkaji strategi pengembangan industri pengolahan biodiesel,
khususnya untuk operasional di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi.
1.4 Kegunaan
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Mendapatkan informasi tentang pengembangan pabrik pengolahan
biodiesel berbasis liquid waste pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS)
untuk meningkatkan ekonomi rakyat dan daerah di Kabupaten Kuantan
Singingi.
2. Memberikan masukan kepada stakeholders yang terkait sebagai
rekomendasi terhadap usaha pengembangan pabrik pengolahan biodiesel
berbasis liquid waste pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) sebagai
energi alternatif untuk menanggulangi kelangkaan bahan bakar minyak
(BBM) di Kabupaten Kuantan Singingi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kelapa Sawit
Kelapa sawit (elaeis guineensis) merupakan tumbuhan tropis yang
tergolong dalam famili Palmae dan berasal dari Nigeria, Afrika Barat (Fauzi,
2002). Selanjutnya Sargeant (2001) menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari
Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit
di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Namun demikian, kelapa sawit justru
hidup subur di luar daerah asalnya seperti di Indonesia dan Malaysia.
Buah kelapa sawit terdiri dari kulit buah yang keras dan licin (exocarp),
daging buah (pulp mesocarp), cangkang (shell endocarp) dan inti (kernel
endosperm). Exocarp dan mesocarp disebut pericarp yaitu bagian buah yang
banyak mengandung Crude Palm Oil (CPO), inti (endosperm) menghasilkan
minyak inti sawit (Palm Karnel Oil / PKO). Ukuran buah sawit bervariasi dari 2
sampai 5 cm dengan berat rata-rata 30 gram. Proses pembentukan minyak pada
lapisan mesocarp berlangsung selama 24 hari (Setyamidjaja,1991).
Menurut Sastrosayono (2006) kelapa sawit berbuah setelah berumur 2,5
tahun atau lebih kurang berumur 30 bulan setelah ditanam di lapangan.
Pemanenan dilakukan bila 60% atau lebih buah kelapa sawit yang telah matang
panen ditandai dengan adanya buah yang jatuh dari tandannya. Pemanenan yang
terlalu cepat, menghasilkan rendemen yang rendah. Sedangkan keterlambatan
panen mengakibatkan peningkatan kandungan asam lemak bebas. Selanjutnya
Mangoensoekarjo (2005) menyarankan pemanenan lebih baik dilakukan dengan
memotong tandan buahnya. Dijelaskan bahwa Tandan Buah Segar (TBS) atau
fresh fruit bunch (FFB) kelapa sawit terdiri dari buah kelapa sawit (74%) dan
tandan kosong (26%). Buah kelapah sawit yang diproses di PKS akan
menghasilkan: minyak sawit mentah atau CPO (21 – 22%), minyak inti/karnel
atau PKO (0,4 – 0,6%), sabut (0,6 – 0,7%) dan tempurung (13 -15%). Sedangkan
tandan kosong mengandung air (63%), Crude Palm Oil Parit atau liquid waste
(1,9 %) dan kandungan bahan lainnya (35,1%).
Pericarp, selain menghasilkan CPO juga menghasilkan limbah berupa
sabut yang biasanya digunakan sebagai bahan bakar ketel pada PKS (Pabrik
Kelapa Sawit). Tandan kosong biasanya dibakar dan digunakan sebagai pupuk.
Sabut dan tandan kosong juga dapat digunakan sebagai substrat pertumbuhan
mikrobial untuk menghasilkan enzim dan digunakan sebagai pakan ternak dengan
kandungan protein tinggi
4
.
2.2 Biodiesel
2.2.1 Asal Mula Biodiesel
Terjadinya krisis minyak bumi tahun 1973 menimbulkan kembali perhatian pada pemakaian minyak
nabati sebagai bahan bakar diesel. Padahal pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar diesel sudah
dikembangkan Dr. Rudolf Christian Karl Diesel (1859–1913) yang menciptakan motor diesel. Tahun 1910,
Rodolf Diesel, menggunakan minyak kacang tanah sebagai bahan bakar untuk menjalankan mesinnya pada suatu
pameran Pekan Raya Dunia di Paris. Namun dengan tersedianya bahan bakar fosil yang melimpah, maka penelitian
dan pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar diesel ditinggalkan orang.
”Der Gebrauch von Pflanzenöl als Krafstoff mag heute Unbedeutend sein. Aber derartige Produkte
konnen im Laufe der Zeit ebenzo wichting werden wie Petroleum und Diese Köhle-Teer-Produkte von heute”
(Pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar untuk saat ini sepertinya tidak berarti, tetapi pada saatnya nanti akan
menjadi penting, sebagaimana penggunaan minyak bumi dan produk batubara pada saat ini) (Karl Diesel tahun
1910).
Saat ini (97 tahun setelah kalimat itu diucapkan) apa yang diyakini Karl Diesel terbukti. Orang heboh
melakukan pengembangan bahan bakar nabati. Berbagai penelitian telah dilakukan secara intensif oleh berbagai
lembaga riset dari berbagai penjuru dunia dengan menggunakan konsep baru.
Tujuan utama pengembangan biodiesel ini adalah menciptakan green fuel
yang ramah lingkungan. Pengembangan biodiesel yaitu untuk mensubstitusi
bahan bakar fosil yang suatu saat akan habis. Sedangkan bahan dasar biodiesel itu
tersedia di alam dan bisa diperbarui. Indonesia secara geografis diuntungkan
untuk pengembangan bahan dasar biodiesel, karena memiliki lahan-lahan berjuta-
juta hektar yang siap ditanami (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2003).
Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (2004), secara ekonomi
pengembangan biodiesel yang berbahan baku kelapa sawit dapat mengontrol
demand and supply produk perkebunan tersebut. Jika kelebihan untuk kebutuhan
4
“Era Bioteknologi dan Sumberdaya Litbang” oleh Prof.Dr.Ir.E. Gumbira.Sa'id, MADev, Direktur
Akademik dan Kemahasiswaan MMA-IPB dan Kepala Laboratorium Bioindustri, Jurusan TIN
FATETA-IPB. http://www.bogor.net/mma/mma1.htm (06 Januari 2008)
pangan, seperti minyak goreng, di samping diekspor dapat dipakai untuk bahan
bakar minyak, sehingga dapat mengontrol harga CPO.
Sedangkan menurut Pakpahan (2002) di samping nilai lebih yang begitu
besar bagi kepentingan bangsa Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi pada
masa depan, sejauh ini biodiesel masih memiliki titik-titik lemah. Misalnya soal
minyak nabati mempunyai viskositas yang lebih tinggi dibandingkan bahan bakar
diesel fosil. Hal ini mempengaruhi atomisasi bahan bakar dalam ruang bakar
motor diesel. Atomisasi yang kurang baik akan menurunkan daya mesin. Hal ini
menyebabkan terjadinya pembentukan deposit yang berlebihan pada ruang bakar
dan bagian-bagian motor yang bersentuhan dengan hasil pembakaran.
Pembakaran menjadi tidak sempurna.
Oleh sebab itu, viskositas dalam minyak nabati harus diturunkan dulu. Salah satu cara untuk menurunkan
viskositas tersebut adalah melakukan modifikasi minyak nabati melalui proses transesterifikasi metil ester nabati
atau FAME. Inti dari proses ini adalah bertujuan agar bisa diproduksi bahan bakar yang sesuai dengan sifat dan
kinerja diesel fosil. Agar kinerja pada system injeksi motor diesel menjadi sempurnya, bisa saja dilakukan
modifikasi sifat-sifat fisika-kimia minyak nabati sesuai dengan sifat-sifat fisika-kimia bahan bakar diesel fosil yakni
dengan menggunakan campuran minyak nabati dengan bahan bakar diesel fosil. Tentu saja hal ini tidak cukup, dan
untuk mengubah komposisi kimiawinya, dilakukanlah suatu proses sederhana yang disebut proses transesterifikasi.
Bahan yang sudah mengalami proses ini disebut FAME, dan FAME ini yang dicampurkan ke dalam solar, sehingga
muncul hasilnya, yaitu produk biodiesel B-5 atau B-10, B-20, dan seterusnya (Pakpahan, 2002).
2.2.2 Pembuatan Biodiesel Berbahan Baku Minyak Sawit (CPO)
Biodiesel merupakan salah satu jenis bahan bakar dari minyak nabati yang
memiliki sifat menyerupai minyak diesel/solar yang dibuat melalui proses
transesterifikasi. Proses pembuatan biodiesel dari minyak sawit disebut
transesterifikasi (trans – ester – ifikasi). Transeterifikasi merupakan perubahan
bentuk dari satu jenis ester menjadi bentuk ester yang lain. Dalam proses
transesterifikasi diperlukan katalis untuk mempercepat proses. Lemigas sendiri,
menggunakan methanol dengan NaOH sebagai katalisnya. Selanjutnya campuran
tersebut ditambahkan ke dalam reaktor yang berisi CPO, lalu diaduk sesuai
dengan kondisi operasi yang diinginkan
5
.
Menurut Darnoko (2001) Biodiesel yang berasal dari crude palm oil
(CPO) harus diolah terlebih dahulu, karena warna asli CPO itu gelap sekali.
5
“Mengenal Biodiesel? Crude Palm Oil?” Warta Utama Edisi No: 5/Thn XLI, Mei 2006.
http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1295&Itemid=507
(30 September 2007).
Sedangkan untuk menjadi bahan bakar, maka CPO diproses lebih lanjut dalam
proses transesterifikasi. Untuk mempercepat reaksinya digunakan katalis
methanol dan ethanol. Dalam produk hasil transesterifikasi, kedua unsur katalis
(methanol dan ethanol) tidak keluar, karena fungsinya semata-mata sebagai
katalis, yaitu untuk mempercepat proses transesterifikasi. Dari CPO akan keluar
dua jenis unsur, yaitu 20% tearin dan 80% olein. Unsur olein direaksikan dalam
proses transesterifikasi menggunakan katalis ethanol dan methanol untuk
mempercepat reaksi sehingga didapatkan FAME (fatty acid methyl ester).
Selanjutnya dijelaskan oleh Prihandana, et al (2007) bahwa dari proses
transesterifikasi akan dihasilkan juga gliserin, tapi gliserin ini tidak bisa dipakai
untuk bahan bakar, kecuali untuk kosmetik dan sabun. Dari hasil proses
transesterifikasi keluar unsur FAME yang akan digunakan sebagai bahan bakar
atau yang dikenal dengan “biodiesel”. Saat ini yang dikembangkan dan dijual oleh
Pertamina adalah biodiesel jenis B-5, yang berarti formulasi 5 persen FAME dan
95 persen solar murni. Unsur-unsur FAME dan solar murni di-blending dengan
metode blending flash. Prosesnya cepat, sehingga begitu di-blending langsung
bercampur. Setelah dicampur, langsung masuk ke inland blending, lalu masuk ke
isso tank. Proses pencampuran antara solar murni dan FAME itu berlangsung
hanya sekitar 10 menit.
Beberapa teknik baru pada saat ini yang banyak digunakan untuk proses
produksi pembuatan biodiesel (asam lemak metil ester) adalah transesterifikasi
menggunakan katalis biologis (biocatalyst) dan transesterifikasi tanpa katalis.
Refined fatty oil yang memiliki kadar asam lemak bebas (free fatty oil) rendah,
sekitar 2% bisa langsung diproses dengan metode transesterifikasi menggunakan
katalis alkalin untuk menghasilkan metil ester dan gliserol. Namun bila kadar
asam minyak tersebut masih tinggi, maka sebelumnya perlu dilakukan proses
praesterifikasi terhadap minyak tersebut. Kandungan air dalam minyak tumbuhan
juga harus diperiksa sebelum dilakukan proses transesterifikasi (Salis et al, 2005).
Transesterifikasi merupakan metode yang saat ini paling umum digunakan
untuk memproduksi biodiesel dari refined fatty oil. Metode ini bisa menghasilkan
biodiesel (FAME) hingga 98% dari bahan baku minyak nabati. Bila bahan baku
yang digunakan adalah minyak mentah yang mengandung kadar asam lemak
bebas (free fatty acid - FFA) tinggi (lebih dari 2% ), maka perlu dilakukan proses
praesterifikasi untuk menurunkan kadar asam lemak bebas hingga sekitar 2%.
Selain untuk menurunkan kadar asam, pada proses praesterifikasi juga
perlu dilakukan pengurangan kadar air. Pada prinsipnya, pengurangan kadar air
bisa dilakukan dengan dua cara, separasi gravitasi atau separasi distilasi. Separasi
gravitasi mengandalkan perbedaan densitas antara minyak dengan air: air yang
lebih berat akan berposisi di bagian bawah untuk selanjutnya dapat dipisahkan.
Sedangkan separasi distilasi mengandalkan titik didih air sekitar 100
o
C dan pada
beberapa kasus digunakan pula tekanan rendah untuk memaksa air keluar dan
terpisah dari minyak (Ramadhas, 2005 dalam Hidayat, 2006).
Menurut Elisabeth (2001) Bila bahan baku minyak yang digunakan
merupakan minyak yang telah diproses (refined fatty oil) dengan kadar air dan
asam lemak bebas yang rendah, maka proses esterifikasi dengan katalis alkalin
bisa langsung dilakukan terhadap minyak tersebut. Transesterifikasi pada
dasarnya terdiri atas 4 tahapan, yakni:
1. Pencampuran katalis alkalin (umumnya sodium hidroksida atau potassium
hidroksida) dengan alkohol (umumnya methanol). Konsentrasi alkalin
yang digunakan bervariasi antara 0,5 - 1 wt% terhadap massa minyak.
Sedangkan alkohol diset pada rasio molar antara alkohol terhadap minyak
sebesar 9:1.
2. Pencampuran alkohol+alkalin dengan minyak di dalam wadah yang dijaga
pada temperatur tertentu (sekitar 40 - 60
o
C) dan dilengkapi dengan
pengaduk (baik magnetik ataupun motor elektrik) dengan kecepatan
konstan (umumnya pada 600 rpm - putaran per-menit). Keberadaan
pengaduk sangat penting untuk memastikan terjadinya reaksi methanolisis
secara menyeluruh di dalam campuran. Reaksi methanolisis ini dilakukan
sekitar 1 - 2 jam.
3. Setelah reaksi methanolisis berhenti, campuran didiamkan dan perbedaan
densitas senyawa di dalam campuran akan mengakibatkan separasi antara
metil ester dan gliserol. Metil ester dipisahkan dari gliserol dengan teknik
separasi gravitasi.
4. Metil ester yang notabene biodiesel tersebut kemudian dibersihkan
menggunakan air distilat untuk memisahkan zat-zat pengotor seperti
methanol, sisa katalis alkalin, gliserol, dan sabun-sabun (soaps). Lebih
tingginya densitas air dibandingkan dengan metil ester menyebabkan
prinsip separasi gravitasi berlaku: air berposisi di bagian bawah
sedangkan metil ester di bagian atas.
Minyak nabati merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan baik sebagai pengganti maupun
subsitusi bahan bakar diesel. Sebagai bahan bakar pengganti, diharapkan minyak nabati dapat menggantikan
pemakaian bahan bakar diesel fosil. Dan sebagai substitusi bahan bakar diesel diharapkan minyak nabati dapat
mengurangi kebutuhan terhadap bahan bakar diesel fosil. Minyak nabati sebagai bahan bakar diesel menurut
jenisnya dapat dibagi atas :
1. Crude vegetable oil (CVO), yaitu minyak nabati mentah hasil pemerasan
atau ekstraksi buah atau biji nabati yang telah melalui proses penyaringan
dan pembersihan.
2. Refined vegetable oil (RVO), yaitu hasil pemurnian dari CVO.
3. Methyl/ethyl ester vegetable oil yaitu hasil transesterifikasi dari VCO atau
RVO.
Dalam pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar diesel dapat dilakukan melalui beberapa pilihan
atau alternatif antara lain:
1. Bisa saja CVO murni.
2. Campuran CVO dengan bahan bakar diesel fosil.
3. RVO murni.
4. Campuran RVO dengan bahan bakar diesel fosil.
5. Methyl/Ethyl ester vegetable oil murni.
6. Campuran Methyl/Ethyl ester vegetable oil dengan bahan bakar diesel fosil.
2.3 Peranan Biodiesel dalam Pembangunan Ekonomi Daerah
Pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses perbaikan yang
berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara
keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi. Pengertian
pembangunan adalah mengadakan atau membuat atau mengatur sesuatu yang
belum ada sebelumnya. Menurut Todaro (1997) pembangunan harus memenuhi
tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman
praktis dalam memahami pembangunan yang paling hakiki, yaitu kecukupan
(sustenance), jatidiri (self-esteem), serta kebebasan (freedom). Artinya
pembangunan dalam berbagai skala, baik lokal maupun regional, nasional maupun
internasional, meliputi suatu wilayah yang mempunyai tekanan utama pada
pembangunan perekonomian, keadaan fisik dan non fisik.
Menurut Arsyad (1999) pembangunan ekonomi dapat diartikan sebagai
kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan
ekonomi dan kualitas hidup masyarakatnya. Jadi pembangunan ekonomi harus
dipandang sebagai suatu proses dimana ada saling keterkaitan dan saling pengaruh
antara faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya proses pembangunan ekonomi
dimaksud, yang dapat diidentifikasi dan dianalisis secara seksama, sehingga
diketahui tuntunan peristiwa yang akan mewujudkan peningkatan kegiatan
ekonomi dan taraf kesejahteraan masyarakat dari satu tahap pembangunan ke
tahap pembangunan berikutnya.
Tujuan pembangunan regional pada dasarnya adalah untuk mencapai
pertumbuhan pendapatan perkapita yang lebih cepat, menyediakan kesempatan
kerja yang cukup, pemerataan pendapatan, yang dapat mengurangi perbedaan
kemakmuran antar daerah, serta mendorong perubahan struktur perekonomian
yang seimbang antara sektor pertanian dan sektor industri (Todaro, 1997). Salah
satu unsur penting yang tidak dapat dapat ditinggalkan dalam pembangunan suatu
wilayah adalah pengambilan keputusan untuk menentukan lokasi yang tepat bagi
pelaksanaan dan pengembangan suatu kegiatan, baik ditinjau dari sisi rumah
tangga, perusahaan maupun pemerintah.
Tentang teori lokasi yang berkaitan dengan industri, Djojodipuro (1992)
menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang menentukan dalam penentuan
suatu lokasi yakni, biaya transport dan biaya tenaga kerja serta kekuatan
aglomerasi atau deglomerasi. Selanjutnya teori basis ekonomi menjelaskan
tentang kemampuan suatu daerah/wilayah dalam suatu sektor terhadap
perkembangan ekonomi daerah, yakni dibagi menjadi dua sektor kegiatan yaitu
sektor basis dan sektor bukan basis dan juga daerah dibagi menjadi daerah yang
bersangkutan dan daerah lain.
Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk melihat seberapa jauh
manfaat keberadaan suatu industri bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan
pengembangan daerah bersangkutan, yaitu melalui pendekatan teoritis maupun
pendekatan empiris. Teori tentang industri yang berkaitan dengan wilayah,
dikemukakan oleh Glasson (1997) yang bertumpu pada pendekatan; (a) biaya
minimum terhadap faktor-faktor, (b) analisis pasar yang berdasarkan kepada
permintaan, (c) keuntungan maksimal (profit maximum).
Struk (1985) dalam Tambunan (1990) mengklasifikasikan lokasi industri
yang beroperasi, berdasar pada zona kota dan manfaat yang dihasilkan. Menurut
penyebarannya wilayah industri dapat dibagi dalam tiga wilayah, yaitu:
1. Central Zona (Wilayah Inti Kota) di sekitar CBD
2. Intermediate Zona (Wilayah Peralihan Kota) di pertengahan kota
3. Outer Zona (Wilayah Pinggiran Kota) di luar kota.
Di wilayah inti kota, luas lahan relatif sempit sehingga sering
menimbulkan persoalan apabila ada satu kegiatan dengan adanya kegiatan lain
diwilayah yang sama, maka akan memberikan dampat pada harga lahan yang
semakin tinggi, sehingga jenis industrinya juga sangat tinggi. Di wilayah
peralihan, lahan yang ada relatif lebih luas dan kepadatan penduduk relatif rendah,
disini industri dapat menempati areal yang lebih luas. Sementara yang luas berada
di pinggiran kota dan memungkinkan industri menempati areal yang lebih luas
juga, hanya saja keragaman industri menjadi lebih rendah dibandingkan dengan
yang ada di dalam kota.
Richardson (1965) dalam Sihotang (1977) menyatakan ada beberapa
teknik analisis regional yaitu: Multipler regional, ekonomi basis, analisis input-
output, analisis biaya dan manfaat. Dari beberapa konsep tersebut salah satu
konsep yang dapat menjelaskan pertumbuhan ekonomi daerah adalah dengan
konsep basis ekonomi. Teknik yang dicakup dalam konsep dimaksud merupakan
pendekatan yang dapat menjelaskan pertumbuhan daerah dengan kajian sektor
industri basis, dan akibatnya konsep basis ekonomi dapat digunakan untuk
mengukur tingkat pertumbuhan daerah terutama untuk pertumbuhan ekonomi dan
penyerapan tenaga kerja daerah melalui efek ukuran multiplier.
Glasson (1970) dalam Sihotang (1977) menjelaskan bahwa kegiatan sektor
basis dalam suatu daerah akan menambah permintaan terhadap barang dan jasa
yang dihasilkan oleh sektor basis dan akan menaikkan volume kegiatan pada
sektor non basis. Dengan demikian kegiatan sektor basis mempunyai peranan
sebagai penggerak pertama, dimana setiap perubahan dalam aktivitas ekonomi
tersebut akan mempunyai efek pengganda terhadap perubahan perekonomian
suatu wilayah. Selanjutnya dijelaskan bahwa perkembangan regional biasanya
disebabkan karena kemampuan wilayah yang bersangkutan untuk menghasilkan
barang dan jasa yang diperlukan dalam perekonomian nasional dan
mengekspornya dengan tetap mempertimbangkan faktor keunggulan komparatif
wilayah tersebut terhadap wilayah lain.
Selanjutnya menurut Hischman dalam Streeten (1976) pada prinsipnya
pembangunan atau pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan suatu proses yang
tidak seimbang. Hubungan antar keduanya akan menimbulkan trickle down effect,
yaitu suatu mekanisme dimana hasil yang dicapai oleh sektor unggulan akan
merembes ke sektor lainnya. Namun keberhasilannya masih ditentukan oleh
adanya berbagai persyaratan, yang dalam prakteknya lebih banyak sulit dipenuhi.
Keberadaan sektor industri dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi suatu
daerah merupakan salah satu sektor yang dapat diandalkan, meskipun tidak secara
khusus sektor industri tersebut merupakan tulang punggung dari kemajuan
daerah/wilayah. Perkembangan perekonomian daerah/wilayah harus dilihat secara
menyeluruh dan kemampuan dari satu sektor yang harus dapat memberi efek pada
terhadap kemajuan sektor lainnya. Hal tersebut berkaitan dengansekali dampak
yang ditimbulkan dari suatu sektor secara eksplisit yang akan menyentuh
komponen kehidupan masyarakat seperti tingkat pendapatan, kesempatan kerja,
produksi dan distribusi barang dan jasa.
Sektor yang sangat dominan dalam pembentukan Pembanguan Ekonomi
Daerah di Indonesia adalah sektor pertanian terutama perkebunan, dan saat ini
telah terjadi perubahan paradigma pembangunan pertanian dari menghasilkan
produk primer menjadi produk olahan. Dengan konsep seperti itu pada akhir-akhir
ini telah tumbuh secara pesat pemikiran baru untuk menjadikan biodiesel sebagai
produk subsitusi BBM. Latar belakang pengembangan energi alternatif bahan
bakar minyak nabati yang berbasis pada sektor pertanian, dan didukung dengan
jumlah penduduk terbesar yang masih bekerja pada basis pertanian, maka
pengembangan industri minyak sawit (CPO) untuk menghasilkan biodiesel
diharapkanakan dapat menunjang pembangunan regional (Dja’far &
Wahyono, 2003).
Memperhatikan hal-hal tersebut dan mengkaitkan dengan keberadaan
kebun-kebun sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, maka potensi ekonomi daerah
sangat ditentukan oleh keberadaan kebun tersebut. Komponennya dapat
digolongkan kepada komposisi komoditi unggulan, sehingga produksinya dapat
mendukung program pembangunan daerah melalui peningkatan secara konsisten
pendapatan perkeluarga dan per kapita.
Masalahnya adalah bagiamana hal itu mungkin diwujudkan, tidak lain
adalah dengan mengoptimalkan hasil produksi dan hasil olahan, termasuk
memanfaatkan limbah cair (liquid waste). Dengan mengolah limbah cair (liquid
waste) menjadi biodiesel yang memenuhi persyaratan kualitas, maka limbah cair
(liquid waste) yang “mengganggu” lingkungan dapat dimanfaatkan bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat secara langsung (bertambahnya lapangan
kerja karena dapat dibangun pabrik) dan tidak langsung (melakukan peningkatan
pajak dan pendapatan daerah).
2.4 Kelayakan Finansial dan Kelayakan Ekonomi
Menurut Gittinger (1982), aspek finansial terutama menyangkut
perbandingan antara pengeluaran dengan pendapatan (revenue earning) dari suatu
industri, serta waktu didapatkannnya hasil (returns). Untuk mengetahui secara
komprehensif tentang kinerja layak atau tidaknya suatu aktivitas industri maka
dikembangkan berbagai kriteria yang pada dasarnya membandingkan antara biaya
dan manfaat atas dasar suatu tingkat harga umum tetap yang diperoleh suatu
industri yang menggunakan nilai sekarang (present value) yang telah didiskonto
selama umur industri tersebut.
Penilaian industri jangka panjang yang paling banyak diterima adalah
metode Discounted Cash Flow Analysis (DCF) atau Analisis Aliran Kas yang
Didiskonto (Gittinger, 1982). Analisis DCF mempunyai keunggulan yaitu; uang
mempunyai nilai waktu, yang merupakan ciri-ciri yang membedakannya dari
teknik lain. Ciri pokok dari analisis DCF adalah direncanakan untuk menilai harga
suatu industri, dengan memperhitungkan unsur waktu kejadian dan besarnya
aliran pembayaran tunai (cash flow). Dimana biaya dipandang sebagai negative
cash flow sedangkan pendapatan/penerimaan sebagai positive cash flow. Asumsi
kunci yang digunakan adalah bahwa uang yang ada sekarang lebih berharga dari
jumlah uang yang sama di masa yang akan datang. Nilai uang untuk waktu
mendatang yang dihitung dengan bunga adalah nilai uang yang telah
direncanakan, dimana proses perhitungannya disebut compounding
(pemajemukan). Sedangkan faktor untuk mengkonversi nilai masa depan ke nilai
sekarang disebut discount rate dan prosesnya disebut discounting.
Sebelum memulai suatu usaha terlebih dahulu dilakukan studi
pendahuluan yang dikenal sebagai studi kelayakan. Studi awal ini diperlukan bagi
seluruh jenis usaha termasuk juga industri pengolahan biodiesel. Gray (1994),
menjelaskan bahwa kriteria investasi merupakan salah satu cara yang
dikembangkan untuk mencari ukuran yang menyeluruh sebagai dasar penerimaan
atau penolakan suatu usaha.
Beberapa metode yang dikembangkan untuk menilai kelayakan suatu
usaha dikelompokkan berdasarkan nilai uang, yaitu Net Present Value (NPV),
Internal Rate of Return (IRR); dan berdasarkan nilai waktu, yaitu Break Event
Point (BEP), dan Analisis Sensitivitas.
Sedangkan, analisis ekonomi ditujukan untuk mengestimasi nilai ekonomi
industri terhadap perekonomian masyarakat. Dalam analisis ekonomi dilakukan
penyesuaian penyesuaian harga finansial agar dapat menggambarkan nilai sosial
secara menyeluruh baik untuk input maupun output. Harga pasar barang atau jasa
diubah agar lebih mendekati opportunity cost (nilai barang atau jasa dalam
alternatif pemanfaatan yang terbaik) sosial yang merupakan harga bayangan
(shadow price accounting price), atau lebih tepat lagi dikatakan bahwa harga
bayanagan adalah setiap harga barang atau jasa yang bukan merupakan harga
pasar (belum diketahui) untuk menggambaarkan distribusi pendapatan dan
tabungan masyarakat (Kadariah, 1988).
Dalam analisis ekonomi harga pasar tidak selalu menggambarkan nilai
kelangkaan, sehingga pendapatan berubah nilainya menjadi opportunity cost.
Untuk menyatakan nilai ekonomi tersebut ke dalam nilai tukar domestik ada
beberapa cara, diantaranya adalah: 1) menggunakan harga bayangan nilai tukar
luar negri (shadow price of foreign exchange), yang akan meningkatkan nilai
produk yang diperdagangkan karena muncul premium terhadap nilai tukar luar
negeri yang disebabkan oleh kebijakan perdagangan, dan 2) menggunakan nilai
tukar resmi dan menerapkan faktor konversi terhadap opportunity cost atau nilai
pemanfaatan barang yang tidak diperdagangkan yang dinyatakan kedalam nilai
tukar domestik. Faktor konversi tersebut akan mengurangi nilai barang yang tidak
diperdagangkan relatif terhadap barang yang diperdagangkan yang
memungkinkan adanya premium nilai tukar. Disebabkan karena analisis finansial
maupun analisis ekonomi menggunakan pendekatan yang berbeda, maka
perhitungan yang digunakan juga berbeda. Lebih rinci pada Tabel 4 dapat dilihat
unsur-unsur yang membedakan kedua alat analisis tersebut.
Tabel 4. Unsur-unsur Perbedaan dalam Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi
UNSUR FINANSIAL EKONOMI
HARGA Harga yang dipakai adalah
harga yang berlaku setempat
(market price) atau harga
yang diterima pengusaha
Harga yang dipakai adalah harga
bayangan (shadow price), yang
merupakan opportunity cost
SUBSIDI Besarnya subsidi menambah
manfaat industri
Subsidi merupakan biaya. Harga
pasar harus disesuai kan untuk
menghilangkan pengaruh subsidi.
Jika subsidi menurunkan harga
barang-barang input, maka
besarnya subsidi harus
ditambahkan pada harga pasar
barang-barang input.
PAJAK Besarnya pajak diperhitung
kan dalam biaya industri
Pajak tidak diperhitungkan dalam
biaya industri, karena merupakan
transfer payment
UPAH Upah yang digunakan adalah
upah yang berlaku setempat
Upah yang digunakan adalah upah
bayangan (shadow price)
BUNGA
MODAL
Bunga modal dibedakan atas:
- Bunga yang dibayarka
kreditor dianggap biaya
- Untuk bunga modal tidak
dianggap biaya
Besarnya bunga modal biasanya
tidak dipisahkan/ dikurangkan
dari hasil kotor, atau tidak
diperhitungkan dalam biaya.
Sumber: Hakim, 2006.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Kerangka Pemikiran
Total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia tahun 2006 sejumlah
6.074.926 ha, dari jumlah tersebut sejumlah 4.582.733 ha atau 75,4 % berada di
Pulau Sumatera dengan lahan terluas di Provinsi Riau yaitu 1.409.715 ha
6
. Luas
dan produksi kelapa sawit di Provinsi Riau tersebar di berbagai kabupaten kecuali
Kabupaten Pekanbaru dengan komposisi sebagai dalam Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Luas (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit di Provinsi Riau
No. Kabupaten Luas
(ha)
Produksi
(ton)
Produktivitas
(ton/ha)
1. Kuantan Singingi 128.169 732.675 5,72
2. Indragiri Hulu 146.791 627.206 4,27
3. Indragiri Hilir 77.787 79.609 1,02
4. Pelalawan 197.356 481.658 2,44
5. Siak 131.168 420.031 3,20
6. Kampar 215.033 520.648 2,42
7. Rokan Hulu 338.661 412.627 1,22
8. Bengkalis 90.808 158.644 1,75
9. Rokan Hilir 136.606 335.901 2,46
10. Pekanbaru 0 0 0,00
11. Dumai 19.020 5.361 0,28
Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Riau Tahun 2004.
Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat bahwa produktivitas lahan di
Kabupaten Kuantan Siningi untuk komoditi kelapa sawit lebih besar dibandingkan
dengan kabupaten lain yang ada di Provinsi Riau. Selain itu, Kabupaten Kuantan
Singingi secara adminstratif sangat strategis karena berdekatan dengan Provinsi
Jambi yang juga merupakan penghasil kelapa sawit.
Dilain pihak, Kabupaten Kuantan Singingi dalam beberapa tahun ini
mengalami defisit energi yang terlihat dari adanya pemadaman bergilir aliran
listrik dan dibeberapa daerah belum ada penerangan listrik serta seringkali karena
6
Derektorat Jenderal Perkebunan “Perkembangan Industri Kelapa Sawit di Indonesia Sangat
Signifikan dan Fantastis” www.ditjenbun.co.id (08Agustus 2008)
terlambatnya pasokan BBM dari Pulau Jawa maka seringkali SPBU kehabisan
stok BBM.
Pencarian energi alternatif merupakan salah satu solusi untuk mengatasi
permasalahan defisit energi yang terjadi di Kabupaten Kuantan Singingi. Dengan
produksi kelapa sawit yang sangat besar dibandingkan dengan kabupaten lain
yang terdapat di Provinsi Riau maka produksi limbah cair (liquid waste) juga akan
semakin banyak. Saat ini, pemanfaatan limbah cair (liquid waste) oleh perusahaan
kelapa sawit (PKS) yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi hanya sebatas
sebagai pupuk organik bagi tanaman kelapa sawit.
Peluang pemanfaatan limbah cair (liquid waste) menjadi biodiesel di
Kabupaten Kuansing sangat besar. Selain ditunjang oleh adanya bahan baku yang
berlimpah dan tenaga kerja yang banyak, peluang tersebut diperbesar oleh sarana
dan prasarana yang telah dibangun oleh pemerintah daerah seperti jalan raya dan
juga pembanguna pelabuhan.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu untuk mengetahui lokasi yang
strategis untuk pendirian pabrik biodiesel di Kabupaten Kuantan Singingi. Tujuan
ini akan dianalisis dengan menggunakan Location Quotient (LQ) dan
Specialization Indeks (SI).
Selain itu, analisis finansial perlu dilakukan untuk mengetahui kelayakan
dari pembangunan pabrik biodiesel jika dikombinasikan dengan pabrik
pengolahan kelapa sawit maupun pembangunan pabrik biodiesel yang terpisah
dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Analisis tersebut meliputi analisis
Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Break Event
Point (BEP).
Kedua macam analisis diatas digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam perumusan program pembangunan pabrik biodiesel di Kabupaten Kuantan
Singingi dengan bahan bakunya berasal dari limbah cair (liquid waste) kelapa
sawit. Hal tersebut juga mempertimbangkan program-program pemerintah yang
terkait dengan pengembangan energi alternatif. Pada gilirannya, analisis tentang
kekuatan, kelemaha, peluang dan ancaman dari proses dan upaya pendirian pabrik
biodiesel berbasisi limbah cair (liquid waste) kelapa sawit dapat dilakukan untuk
menetapkan strategi dari rangkaian diagram operasionalnya. Berikut dicantumkan
skema kerangka berpikir yang diuraikan dimuka.
Kebutuhan Energi
Kabupaten Kuantan
Singingi
Ketersediaan Energi
Kabupaten Kuantan
Singingi
Defisit Energi
Kabupaten Kuantan
Singingi
Alternatif Energi
Limbah Cair
(Liquid Waste) PKS
Pabrik Biodiesel
Alternatif Lokasi
Pendirian Pabrik
Biodiesel
Kombinasi antara
PKS dan Pabrik
Biodiesel
Pabrik PKS dan
Biodesel Berdiri
Sendiri-sendiri
Analisis Lokasi
(LQ dan SI)
Analisis Finansial
(NPV, IRR, BEP)
Program Pemerintah
Analisis SWOT
Analisis Internal Analisis Eksternal
Strategi Pengolahan Limbah Cair (Liquid Waste) Menjadi
Biodiesel di Kabupaten Kuantan Singingi
Pemerintah Masyarakat PKS dan Industri
Biodiesel
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.
Waktu pelaksanaan penelitian mulai dari bulan November 2007 sampai Desember
2007.
3.3. Jenis Data, Sumber Data, dan Responden
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pemilik PKS,
masyarakat, dan stakeholder-stakeholder yang terkait. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari hasil-hasil kajian yang telah dipublikasikan maupun yang tidak oleh
dinas-dinas terkait, LSM, maupun dari institusi pendidikan, dan lainnya. Antara
lain: (a) Riau Dalam Angka, (b) Kabupaten Kuantan Singingi dalam angka, (c)
Indeks harga konsumen skala propinsi dan kabupaten serta harga-harga mesin
pabrik, (d) statistik kelapa sawit nasional, regional dan kabupaten, (e).
Responden dalam penelitian ini terdiri dari tiga kelompok yaitu
masyarakat, pemerintah dan industri pengolahan kelapa sawit (PKS). Sistem
pemilihan responden menggunakan metode proposive sampling. Responden untuk
kelompok masyarakat terdiri dari masyarakat yang ada disekitar pabrik
pengolahan kelapa sawit (PKS) dimana tiap PKS diambil 2 orang. Untuk
pemerintah terdiri dari (a) Gubernur Provinsi Riau, (b) Bupati Kabupaten Kuantan
Singingi, (c) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Riau, (d)
Kelapa Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kuantan Singingi,
(e) Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, (f) Kelapa Dinas Perkebunan
Kabupaten Kuantan Singingi, dan (g) Dinas-dinas yang terkait dengan penelitian
ini.
3.4 Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah untuk menjawab
tujuan dari penelitian ini. Alat analisis untuk masing-masing tujuan dapat dilihat
pada Tabel 6.
Tabel 6. Alat Analisis
Tujuan Motode Analisis Output
Menentukan lokasi yang
strategis untuk
pembangunan pabrik
biodiesel yang berbasis
limbah cair (liquid
waste) kelapa sawit.
- Location Quetient
(LQ).
- Specialization Indeks
(SI).
Alternatif lokasi
pembangunan pabrik
biodiesel yang berbasis
limbah cair (liquid
waste) kelapa sawit.
Mengetahui layak
tidaknya pembangunan
pabrik biodiesel yang
berbasis limbah cair
(liquid waste) kelapa
sawit.
- Net Present Value
(NPV).
- Internal Rate of Return
(IRR).
- Break Even Point
(BEP).
Layak tidaknya
pembangunan pabrik
biodiesel yang berbasis
limbah cair (liquid
waste) kelapa sawit.
Merencanakan program
pengembangan
pembangunan pabrik
biodiesel yang berbasis
limbah cair (liquid
waste) kelapa sawit.
Analisis SWOT (strengts,
weaknesses,
opportunities, threats)
Program-program
pengembangan pabrik
biodiesel yang berbasis
limbah cair (liquid
waste) kelapa sawit.
3.4.1 Location Quotient (LQ)
Metode LQ digunakan untuk mengetahui sektor-sektor basis dan non basis
dari sub sektor perekonomian di masing-masing kabupaten. Penerapan metode
LQ di lokasi penelitian didefinisikan sebagai pembanding antara pangsa relatif
sektor i (kelapa sawit) terhadap output wilayah (kabupaten) dengan pangsa relatif
sektor i terhadap output wilayah (provinsi). Persamaan yang digunakan untuk
menentukan suatu sektor ekonomi merupakan sektor basis atau bukan basis
kelapa sawit di kabupaten Kuantan Singingi di formulasikan sebagai berikut:
X Xi
X Xi
LQi
L L
/
/
=
Dimana:
LQ
i
= Indeks Location Quotient komoditas i
X
i
L
= Ouput sektor i (kelapa sawit) di lokasi penelitian (kabupaten)
X
L
= Total output di lokasi penelitian (kabupaten)
X
i
= Output sektor i (kelapa sawit) pada tingkat provinsi
X = Total output pada tingkat provinsi
Kriteria penilaian dalam penentuan ukuran derajat basis dan non basis
adalah jika nilai indeks LQ lebih besar dari satu (LQ > 1) maka komoditas
tersebut termasuk dalam sektor basis, sedangkan bila nilainya sama dengan atau
lebih kecil dari satu (LQ < 1) maka tidak termasuk dalam sektor basis.
3.4.2 Specialization Indeks (SI)
Specialization Indeks merupakan salah satu indeks yang
menggambarkan pembagian wilayah berdasarkan aktivitas (komoditas)
yang ada. Atau dengan kata lain untuk melihat kecenderungan komoditas
(khususnya kelapa sawit) pada kabupaten Kuantan Singingi yang bisa
berspesialisasi. Kemudian kabupaten tersebut menjadi pusat komoditas
kelapa sawit. Persamaan Specialization Indeks adalah :
_
=
|
|
.
|

\
|
÷ =
n
i l
j
il
ij
X
X
X
X
SIi
1
2
1
Dimana:
X
ij
= Ouput sektor i di Kabupaten Kuantang Singingi
X
iL
= Total output di Kabupaten Kuantang Singingi
X
j
= Jumlah output sektor j (kelapa sawit)
X
L
= Total output sektor/kabupaten (Kabupaten Kuantang Singingi)
Kriteria :
1. Jika nilainya mendekati 0 berarti tidak ada ke-khasan untuk
mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Artinya sub wilayah
(kabupaten) yang diamati tidak memiliki aktivitas khas yang relatif
menonjol perkembangannya dibandingkan dengan kabupaten lain.
2. Jika nilainya mendekati 1 berarti terdapat ke-khasan. Artinya
subwilayah (kabupaten) yang diamati memiliki aktivitas (komoditas)
khas yang perkembangannya relatif menonjol dibandingkan dengan
kabupaten lain sehingga bisa berspesialisasi pada komoditas tersebut.
3.4.3 Net Present Value (NPV)
NPV adalah selisih antara present value dari investasi dengan nilai
sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang.
Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan.
NPV dapat dirumuskan sebagai berikut:
_
=
÷
÷
=
n
t
i
t
Ct Bt
NPV
0
) 1 (
Dimana:
Bt = Benefit sosial kotor sehubungan dengan sesuatu proyek pada tahun ke-t
Ct = Biaya sosial kotor sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t, tidak
dilihat apakah biaya tersebut dianggap bersifat modal atau biaya rutin.
n = Umur ekonomis dari proyek
t = Waktu perhitungan analisis
i = Interst (Bunga Bank)
3.4.4 Internal Rate of Return (IRR)
Metode IRR ini digunakan untuk mencari tingkat bunga yang
menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di masa datang, atau
penerimaan kas, dengan mengeluarkan investasi awal. Caranya, dengan
menghitung nilai sekarang dari arus kas suatu investasi dengan menggunakan
suku bunga yang wajar, misalnya 10 %. kemudian di bandingkan dengan biaya
investasi, jika nilai investasi lebih kecil, maka di coba lagi dengan penghitungan
suku bunga yang lebih tinggi demikian seterusnya sampai biaya investasi menjadi
sama besar. Apabila dengan suku bunga wajar tadi nilai investasi lebih besar,
maka harus di coba lagi dengan suku bunga yang lebih rendah sampai
mendapatkan nilai investasi yang sama besar dengan nilai sekarang. Persamaan
untuk mengetahui IRR adalah sebagai berikut:
( )
1 2
2 1
1
1
i i
NPV NPV
NPV
i IRR ÷
+
+ =
Dimana:
IRR = Nilai Internal Rate of Return
NPV
1
= Nilai NPV negative
NPV
2
= Nilai NPV positif
i
1
= Tingkat bunga yang menyebabkan NPV negatif
i
2
= Tingkat bunga yang menyebabkan NPV positif
3.4.5 Break Event Point (BEP)
BEP adalah suatu metoda analisis yang digunakan untuk mengetahui
hubungan antar beberapa variabel di dalam kegiatan perusahaan, seperti tingkat
produksi yang dilaksanakan, biaya yang dikeluarkan, serta pendapatan yang
diterima perusahaan dari kegiatannya. Pendapatan perusahaan merupakan
penerimaan yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan, sedangkan biaya
operasionalnya merupakan pengeluaran yang juga karena kegiatan perusahaan.
Dari biaya operasional diatas di bagi menjadi 3 bagian yaitu, biaya tetap, biaya
variabel, dan biaya semi variabel.
Analisis Break Event Point (BEP) perlu dilakukan pada suatu perusahaan
mengingat BEP adalah analisis pulang pokok dan dapat digunakan untuk ananlisis
perencanaan laba. BEP merupakan alat untuk menentukan pada tingkat produksi
dan harga untuk memberikan titik dimana penjualan akan impas menutup biaya
tetap dan biaya variabel, dengan rumus umum adalah sebagai berikut:
Sedangkan untuk menentukan penjualan dirumuskan sebagai berikut:
Dimana:
Penjualan BEP = Penjualan produk pada titik impas (Rp)
BEP = Jumlah Produk pada titik impas (unit)
Penjualan BEP
=
1 – (Biaya Variabel / Penjualan)
Biaya Tetap
BEP
=
Harga Jual/Unit – Biaya Variabel/Unit
Biaya Tetap/Unit
3.4.6 Analisis SWOT
Analisis ini digunakan untuk merumuskan strategi pelaksanaan dari
industri pengembangan pabrik pengolahan liquid waste menjadi biodisel. Analisis
SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasikan berbagai faktor secara
sistematis dalam rangka merumuskan strategi pemecahan permasalahan. Analisis
ini didasarkan pada logika dengan memaksimalkan kekuatan (strengths) dan
peluang (opportunities) namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan
(weaknesses) dan ancaman (threats). Analisis SWOT mempertimbangkan faktor
lingkungan internal strengths dan weaknesses serta lingkungan eksternal
opportunities dan threats yang dihadapi (Marimin, 2004).
Analisis SWOT membandingkan faktor eksternal peluang dan ancaman
dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan sehingga dari analisis dapat
diambil suatu keputusan strategi pengembangan pabrik pengolahan liquid waste
menjadi biodisel. Matrik SWOT menggambarkan secara jelas bagaimana peluang
dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki. Dari matriks ini akan terbentuk empat kemungkinan
alternatif strategi.
Tabel 7. Diagram matrik SWOT
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Kekuatan
STRENGTHS (S)
Kelemahan
WEAKNESSES (W)
Peluang
OPPORTUNITIES (O)
Strategi SO Strategi WO
Ancaman
THREATS (T)
Strategi ST Strategi WT
Alternatif strategi yang diperoleh dari matrik diatas adalah:
a. Strategi SO : menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan yang
dimiliki untuk mendapatkan peluang yang sudah ada.
b. Strategi ST : menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan yang
dimiliki untuk mengatasi ancaman.
c. Strategi WO : menciptakan strategi yang berusaha mendapatkan peluang
yang ada dengan mengatasi kelemahan yang ada.
d. Strategi WT : menciptakan strategi yang berusaha meminimalkan
kelemahan dan menghindari ancaman.
BAB IV
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1 Kondisi Geografis dan Kondisi Alam
4.1.1 Sejarah
Kabupaten Kuantan Singingi pada awalnya di bawah Kabupaten Indragiri
Hulu sebagai sebuah kecamatan. Kemudian setelah dikeluarkannya Undang-
undang Nomor 53 Tahun 1999 Kabupaten Indragiri Hulu dimekarkan menjadi
2 (dua) Kabupaten yaitu Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan
Singingi. BPS Kuantan Singingi (2005) mencatat bahwa saat ini terdapat
12 (duabelas) kecamatan.
4.1.2 Letak dan Luas Wilayah
Letak Kabupaten Kuantan Singingi yaitu 0
0
00 LU sampai 01
0
00 LS dan
101
0
02 sampai 101
0
55 BT, dengan luas wilayah 7.656,03 km
2
dengan jarak dari
permukaan laut 120 km dengan ketinggian berkisar 25-30 m dari permukaan laut.
Kabupaten ini secara administratif berbatasan langsung dengan :
- Sebelah Utara dengan Kabupaten Kampar dan Pelalawan
- Sebelah Selatan dengan Provinsi Jambi
- Sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat
- Sebelah Timur dengan Kabupaten Indragiri Hulu
Dilihat dari letak dan posisi Kabupaten Kuantan Singingi yang berada
dibagian selatan Provinsi Riau dan dijalur tengah lintas Sumatera maka
Kabupaten ini memiliki peranan yang cukup strategis sebagai simpul perdagangan
untuk menghubungkan daerah produksi dan pelabuhan terutama pelabuhan Kuala
Enok. Sehingga Kabupaten Kuantan Singingi memiliki peluang untuk
mengembangkan sektor-sektor pertanian secara umum, perdagangan barang dan
jasa, transportasi dan perbangkan seta pariwisata (RPJMD Kuantan Singingi,
2006).
4.1.3 Iklim dan Curah Hujan
Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya beriklim tropis dengan suhu
udara maksimum 32,6
0
C-36,5
0
C dan suhu minimum berkisar antara
19,2
0
C-22,0
0
C. Rata-rata curah hujan di Kabupaten ini berkisar antara 229,5-
1.093mm per tahun dengan keadaan musim berkisar:
- Musim hujan jatuh pada bulan September sampai dengan Februari
- Musim kemarau jatuh pada bulan Maret sampai dengan Agustus
4.2 Pemerintahan
Secara administrasi Kabupaten Kuantan Singingi beribukota di Teluk
Kuantan yang dipimpin oleh seorang Bupati dengan dibantu oleh seorang Wakil
Bupati. Pada tahun 2001 Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari 6 kecamatan
definitif dan 6 kecamatan pembantu, yang mencakup 10 kelurahan, 189 desa
definitif dan satu desa persiapan. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun
2002, maka jumlah kecamatan menjadi 12 kecamatan definitif dengan jumlah
keluarhan 10 dan 190 desa definitif. Pada tahun 2006 jumlah desa dan kelurahan
masing-masing kecamatan berubah 189 desa dan 11 kelurahan dengan distribusi
masing-masing kecamatan sebagai berikut:
- Kecamatan Kuantan Mudik, membawahi 29 desa dan 1 kelurahan
- Kecamatan Hulu Kuantan, membawahi 11 desa
- Kecamatan Gunung Taor, membawahi 13 desa
- Kecamatan Singingi, membawahi 12 desa, 1 kelurahan
- Kecamatan Singingi Hilir, membawahi 12 desa
- Kecamatan Kuantan Tengah, membawahi 23 desa dan 3 kelurahan
- Kecamatan Benai, membawahi 24 desa dan 2 kelurahan
- Kecamatan Kuantan Hilir, membawahi 26 desa dan 2 kelurahan
- Kecamtan Pangean, membawahi 14 desa
- Kecamatan Logas Tanah Darat, membawahi 13 desa
- Kecamatan Cerenti, membawahi 10 desa dan 2 kelurahan
- Kecamatan Inuman, membawahi 11 desa
4.3 Kependudukan, Ketenagakerjaan dan Mata Pencaharian
Masalah kependudukan di Kabupaten Kuantan Singingi sama halnya
dengan permasalahan kependudukan di Kabupaten-Kabupaten lainnya di
Indonesia, yaitu bagaimana untuk mencapai manusia yang berkualitas dan
pertumbuhan penduduk yang terkendali.
Permasalahan tersebut coba diatasi oleh pemerintah daerah Kabupaten
Kuantan Singingi dengan berbagai program kependudukan yang meliputi
pengendalian kelahiran, menurunkan tingkat kematian bayi dan anak,
perpanjangan usia dan harapan hidup, penyebaran penduduk yang seimbang serta
pengembangan potensi penduduk sebagai modal pembangunan yang harus
ditingkatkan. Penyebaran penduduk pada masing-masing kecamatan di Kabupaten
Kuansing dapat dilihat pada Tabel 8:
Tabel 8. Sebaran Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kabupaten Kuantan
Singingi Tahun 2004-2005.
Laki-laki (jiwa) Perempuan (jiwa)
Kepadatan
Penduduk/km
2
Kecamatan
2004 2005 2004 2005
Luas
(Km
2
)
2004 2005
Kuantan Mudik 14.984 14.792 14.912 15.225 1.385,92 21,57 21,66
Hulu Kuantan 3.577 3.811 3.973 4.316 384,40 19,64 21,14
Gunung Taor 5.483 5.689 5.970 6.251 165,25 69,31 72,25
Singingi 11.424 10.665 10.545 11.837 1.953,66 11,25 11,52
Singingi Hilir 12.397 10.164 13.122 14.207 1.530,97 16,67 15,92
Kuantan Tengah 20.964 20.926 21.601 21.960 291,74 145,90 147,00
Benai 14.378 13.804 15.396 15.784 249,36 119,40 118,66
Kuantan Hilir 13.351 13.481 14.570 14.604 263,06 106,14 106,76
Pangean 7.466 7.579 7.829 8.055 145,34 105,24 107,57
Logas Tanah Darat 7.922 7.438 8.134 8.793 380,34 42,21 42,67
Cerenti 6.495 6.560 7.174 7.079 456,00 29,98 29,91
Inuman 6.279 6.624 8.152 7.919 450,01 32,07 32,32
Sumber: BPS Provinsi Riau 2006.
Masalah kependudukan akan selalu berkaitan dengan masalah
ketenagakerjaan dimana tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi
menimbulkan penyediaan (supply) tenaga kerja yang tinggi pula. Sedangkan
penawaran tenaga kerja yang tinggi tanpa diimbangi dengan kesempatan kerja
(demand) yang cukup maka akan menimbulkan pengangguran. Untuk Kabupaten
Kuantan Singingi saat ini hanya mampu menyerap 49,30% tenaga kerja yang
tersebar di berbagai lapangan usaha seperti yang terlihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan
Usaha di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2004-2005.
Lapangan Usaha Persentase
Pertanian 68,43
Pertambangan 0,47
Industri 6,55
Listrik Gas dan Air 0,21
Konstruksi 2,30
Perdagangan 13,14
Transportasi dan Komunikasi 2,99
Keuangan -
Jasa 5,90
Lainnya -
Sumber: BPS Provinsi Riau, 2006.
Tabel diatas menunjukkan bahwa mata pencaharian penduduk Kabupaten
Kuantan Singingi adalah di sektor pertanian karena tanah pertanian sangat erat
kaitannya dengan adat masyarakat Kuansing. Penggegas adat masa silam sudah
menyadari bahwa kemakmuran masyarkat adat atau anak negeri sangat ditentukan
oleh keadaan hutan dan tanah maka dalam masyarakat Kuansing terdapat istilah
delapan tapak tempat berpijak untuk mencari penghidupan antara lain; (1)
berladang (bertani sawah dan sayur-sayuran); (2) berkebun (karet); (3) beternak
(aym itik kerbau sapi dan kambing); (4) Baniro (membuat manisan dan gula dari
pohon enau); (5) Bapakarangan (alat tangkap ikan); (6) mandulang (mendulang);
(7) bertukang; dan (8) berniaga.
Delapan tapak yang telah dirintis oleh para leluhur di Kabupaten Kuansing
mulai ditinggalkan generasi saat ini. Padahal sistem ini menurut Firdaus (2006)
mampu menjaga perekonomian rumah tangga agar tetap stabil karena dengan
sistem ini setiap rumah tangga dapat memiliki dua atau tiga mata pencaharian.
Sehingga jika terjadi ekonomi sulit atau hama menyerang tanaman maka rumah
tangga masih bisa bertahan karena masih memiliki sumber penghasilan lainnya.
4.4 Kondisi Perekonomian
Berbagai program pembangunan telah dan akan dilaksanakan oleh
pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi untuk dapat lebih menggerakkan roda
perekonomian di Kabupaten ini. Untuk itu pemerintah daerah Kabupaten
Kuansing mengusahakan agar sektor-sektor perekonomian harus dapat
menciptakan nilai tambah. Karena makin besar nilai tambah yang diaraih oleh
suatu sektor maka semakin besar peranan sektor tersebut terhdap perekonomian
daerah. Tentunya dalam mengejar nilai tambah tersebut perlu adanya evaluasi
agar dapat mengukur tingkat kemajuan pembangunan yang telah dicapai oleh
masing-masing sektor. Salah satu indikator tersebut adalah angka Produk
Domestik Regional Bruto dimana sebaran PDRB Kabupaten Kuansing dapat
dilihat pada Tabel 10 berikut ini.
Tabel 10. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut
Lapangan Usaha di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2003-2005.
Lapangan Usaha 2003 2004 2005
Pertanian 62,39 59,32 61,48
Pertambangan 2,10 4,29 4,97
Industri 16,12 17,95 16,80
Listrik Gas dan Air 0,19 0,18 0,16
Konstruksi 4,63 4,02 3,70
Perdagangan 5,76 5,37 5,37
Transportasi dan Komunikasi 1,40 1,38 1,19
Keuangan 1,05 1,13 1,01
Jasa 6,36 6,14 5,31
Sumber: BPS Provinsi Riau, 2007.
Tabel 10 diatas menunjukkan bahwa sektor yang memberikan peranan
terbesar dalam waktu 3 tahun terakhir (2003-2005) adalah sektor pertanian. Hal
ini sesuai dengan ciri mata pencaharian dari masyarakat di Kabupaten Kuantan
Singingi yang masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sektor
kedua yang memberikan peranan terhadap PDRB Kabupaten ini adalah sektor
Industri.
4.5 Potensi Pertanian Kabupaten Kuantan Singingi
Kabupaten Kuantan Singingi memiliki potensi yang besar untuk
pengembangan sektor pertanian terutama sektor perkebunan peternakan dan
tanaman pangan. Ketersediaan lahan untuk perkebunan masih sangat memadai
tetapi permasalahannya adalah para petani perkebunan tidak mampu mengelolah
lahan lebih besar dan tidak optimalnya pemanfaatan lahanyang tidak tergarap
dengan alasan ekonomi dan teknologi. Adapun program-program yang telah
dilaksanakan pemerintah untuk mendorong potensi yang ada di Kabupaten ini
antara lain:
1. Program peremajaan karet rakyat proyek peremajaan karet rakyat (PPKR).
2. Proyek penganekaragaman tanaman perkebunan
3. Program pola inti rakyat perkebunan (PIR BUN)
4.5.1 Potensi Sektor Perkebunan
Perkebunan memiliki kedudukan yang penting di dalam pengembangan
pertanian baik di tingkat nasional maupun di tingkat regional. Tanaman
perkebunan yang merupakan tanaman perdagangan yang cukup potensial di
daerah ini ialah kelapa sawit dan karet. Data luas dan produksi tanaman
perkebunan tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 11 dibawah ini.
Tabel 11. Komoditas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi Menurut
Kecamatan Tahun 2005
Komoditi Perkebunan
Karet Kelapa Sawit Lainnya
Kecamatan
Areal
(Ha)
Produksi
(Ton)
Areal
(Ha)
Produksi
(Ton)
Areal
(Ha)
Produksi
(Ton)
Kuantan
Mudik
13.230,15 14.956,00 21.789,00 187.387,00 5.088,00 5.088,00
Hulu
Kuantan
10.345,54 10.717,00 2.123,00 16.270,00 259,25 12.308,95
Gunung
Taor
11.083,69 14.329,00 177,00 828,00 387,58 2.761,11
Singingi 16.335,75 18.944,00 14.699,00 168.315,00 519,00 3.890,11
Singingi
Hilir
11.864,37 14.111,00 21.269,20 177.763,00 392,50 3.391,48
Kuantan
Tengah
13.230,15 14.956,00 21.789,00 187.387,00 5.088,00 20.251,08
Benai 12.395,84 12.854,00 18.299,80 182.358,00 638,20 3.433,38
Kuantan
Hilir
15.539,85 14.266,00 145,00 562,00 322,59 1.535,22
Pangean 9.717,69 13.243,00 2.564,00 12.666,00 354,30 826,94
Logas
Tanah Darat
7.005,79 5.259,00 9.445,00 38.578,00 283,84 3.637,07
Cerenti 22.062,00 12.184,00 7.485,00 110.164,00 148,46 838,31
Inuman 10.600,00 8.629,00 4.326,00 37.621,00 101,39 352,93
Total 158.686,40 166.551,00 109.883,00 966.299,00 8.673,61 43.194,68
Sumber: Kuantan Singingi Dalam Angka Tahun 2005.
Komoditi-komoditi diatas berpotensi untuk menyerap tenaga kerja dimana
komoditi yang paling berpotensi adalah komoditi kelapa sawit. Pengembangan
komoditas ini ditunjang dengan adanya pabrik pengolahan kelapa sawit milik
perusahaan swasta. Sehingga komoditas ini merupakan keunggulan kompetitif
bagi Kabupaten Kuantan Singingi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD).
4.5.2 Potensi Sektor Peternakan
Berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singingi pada
tahun 2005 bahwa di setiap kecamatan memiliki usaha peternakan tradisional.
Usaha peternakan yang sangat menonjol adalah peternakan kerbau sapi dan
kambing. Jenis ternak ini jika ditinjau dari sejarah pemeliharaan dan
perkembangannya maka ternak-ternak ini terutama sapi mulai dikenalkan oleh
pemerintah Belanda dimana tujuan utamanya hanya sebatas untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat lokal akan kebutuhan daging. Sapi-sapi lokal di Kabupaten
ini berpostur badan kecil dan berwarnah merah.
Pembangunan sektor kehutanan di Kabupaten Kuantan Singingi tidak
hanya untuk meningkatkan populasi dan produksi tetapi juga untuk memperbaiki
gizi masyarakat dan meningkatkan pendapatan peternak (Bappeda dan BPS
Kabupaten Kuantan Singingi 2005). Populasi ternak di Kabupaten Kuantan
Singingi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Jumlah Ternak Besar dan Kecil di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun
2005.
Jenis Ternak (Ekor)
Kerbau Sapi Kecamtan
Ayam Itik
Jantan Betina Jantan Betina
Kuantan Mudik 82.672 797 505 1.380 1.014 2.032
Hulu Kuantan 14.886 - 146 481 155 589
Gunung Taor 33.985 708 210 437 569 722
Singingi 49.585 1.836 773 1.151 152 302
Singingi Hilir 22.578 1.172 211 1.050 137 198
Kuantan Tengah 77.067 7.355 470 2.001 405 2.187
Benai 46.893 2.638 292 1.472 785 2.738
Kuantan Hilir 47.575 1.503 269 640 342 1.099
Pangean 28.085 3.969 255 1.473 224 1.384
Logas Tanah Darat 16.776 333 3 2 178 851
Cerenti 29.878 1.944 189 1.014 152 1.043
Inuman 28.541 3.249 202 804 398 1.400
Total 478.512 25.504 3.525 11.905 4.511 14.545
Sumber: Kuantan Singingi Dalam Angka Tahun 2005.
4.5.3 Potensi Sektor Pertanian Tanaman Pangan
Tanaman pangan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan karena
sumber air khususnya irigasi cukup tersedia. Selain itu adanya dukungan
ketersediaan lahan yang cukup dan layak namun permasalahannya adalah
kurangnya peran dari kelembagaan pertanian baik kelembagaan irigasi maupun
kelompok tani dalam pengoptimalan pemanfaatan lahan melalui peningkatan
intensitas tanam dan diversifikasi tanaman.
Kabupaten Kuantan Singingi merupakan wilayah yang memiliki lahan
potensial untuk pengembangan tanaman pangan khususnya padi sawah. Tanaman
ini juga merupakan komoditas unggulan untuk menunjang ketahanan pangan
penduduk di Kabupaten ini sehingga pemerintah membuat program kawasan
unggulan pangan. Untuk mendukung program tersebut pemerintah daerah telah
membangun prasarana irigasi dan pengairan yang jumlahnya mencapai 35 daerah
irigasi (DI) dan daerah pengairan (DP) yang tersebar hampir di seluruh kecamatan
dengan luas mencapai 7.940 hektar. Namun kecamatan-kecamatan di Kabupaten
ini masih ada yang defisit beras seperti yang terlihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Jumlah Kebutuhan Ketersediaan Dan Kekurangan Beras Di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2005.
Ketersediaan
Kecamatan
Kebutuhan
Beras (Ton)
Produksi
(Ton)
Gabah
(Ton)
Beras
(Ton)
Kelebihan/
Kekurangan
(Ton)
Kuantan Mudik 3.516,60 4.671,00 4.437,45 2.884,45 -632,26
Hulu Kuantan 882,24 1.507,60 1.432,22 930,94 48,70
Gunung Taor 1.339,80 5.490,96 5.216,41 3.390,67 2.050,87
Singingi 2.679,12 295,83 281,04 182,68 -2.496,44
Singingi Hilir 3.143,52 0,00 0,00 0,00 -3.143,52
Kuantan Tengah 5.010,52 7.819,26 7.428,30 4.828,39 -182,21
Benai 3.338,28 7.126,10 6.769,79 4.400,37 1.062,09
Kuantan Hilir 3.159,96 3.838,44 3.646,52 2.370,24 -789,72
Pangean 1.958,76 5.695,07 5.410,32 3.516,71 1.557,95
Logas Tanah Darat 1.752,24 550,00 522,50 339,63 -1.412,62
Cerenti 1.555,32 1.372,50 1.303,87 847,52 -707,80
Inuman 1.612,56 1.880,69 1.786,66 1.161,33 -451,23
Total 29.949,00 39.697,45 38.265,08 24.852,80 -5.096,20
Sumber: Kuantan Singingi Dalam Angka Tahun 2005.
Sebagian besar dari kecamatan-kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi
menghasilkan padi dari sawah irigasi. Jika pemanfaatan sistem air irigasi secara
optimal maka produksi beras dan gabah akan lebih meningkat karena saat ini
masyarakat hanya menanam sekali dalam setahun (Dinas Tanaman Pangan
Kabupaten Kuantan Singingi, 2005).
Tabel 14. Produksi Berbagai Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Di
Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2005 (Ton).
Jenis Komoditas Pertanian Tanaman Pangan
Kecamatan
1 2 3 4 5 6 7
Kuantan Mudik 30 48 60 140 10 5 -
Hulu Kuantan 3 16 20 105 20 20 -
Gunung Taor 40 16 40 315 - - -
Singingi 160 232 580 980 - 165 -
Singingi Hilir 465 976 700 1.715 300 115 -
Kuantan Tengah 60 168 160 175 - 40 -
Benai 170 200 500 1.330 80 95 -
Kuantan Hilir 35 8 40 - 80 15 -
Pangean 85 112 - 490 20 10 -
Logas Tanah Darat 110 144 260 770 220 110 -
Cerenti 45 16 - 210 50 - 18,30
Inuman 30 16 40 35 - - -
Total 1.260 1.952 2.400 6.265 780 575 18,30
Ket:1=Kacang Panjang; 2=Cabe/Lombok; 3=Terong; 4=Ketimun; 5=Kangkung; 6=Bayam;
7=Tomat
Sumber: Kuantan Singingi Dalam Angka Tahun 2005.
Produksi tanaman pangan yang dihasilkan oleh petani di Kabupaten
Kuantan Singingi masih bersifat skala mikro dan bersifat musiman. Untuk
memenuhi kekurangan produk tanaman pangan di kabupaten ini maka pemerintah
daerah mendatangkan dari Provinsi Riau dan daerah lain yang memiliki surplus
produksi tanaman pangan. Jenis tanaman pangan yang sering terjadi kekurangan
adalah tomat dan cabe.
4.6 Kultur Masyarakat dan Kelembagaan
Masyarakat Kuantan Singingi mempunyai kultur budaya yang berpotensi
dan relevan untuk dikembangkan menjadi barometer pembangunan seperti
budaya dalam mengelola hutan atau tanah milik suatu puak (suku) hutan atau
tanah biasa, disebut tanah ulayat yang berasal dari tanah wilayah, yakni tanah
dilokasi bersangkutan yang dikuasai atau dimiliki oleh suatu kaum dimana
pemakainnya diatur oleh sistem tata nilai adat suku yang bersangkutan. Tanah
ulayat tersebut ada yang dimiliki oleh suatu persukuan dan ada pula yang
merupakan milik bersama semua warga (Hamidi 2000). Lebih lanjut dikatakan
bahwa hutan atau tanah yang merupakan milik bersama atau milik persukuan ini
tidak bisa diperjualbelikan. Tanah ulayat berdasarkan fungsi dapat dibagi menjadi:
(1) tanah pekarangan; (2) tanah perladangan dan kebun; (3) rimba simpanan atau
rimba terlarang; (4) padang gembala atau tanah kandang; (5) tanah pekuburan
rimba kampung sialang; dan (6) tanah Koto.
Berdasarkan fungsi-fungsi diatas maka tanah ulayat dapat dibagi ke dalam
tiga kategori pertama, kelompok tanah pekarangan yang terdiri dari tanah koto
tanah pekuburan dan tanah rimba kepungan sialang. Kedua, kelompok tanah
perladangan dan kebun dimana fungsi tanah perladangan sebagai sumber
pendapatan untuk kebutuhan makanan sedangkan kebun untuk mendapatkan
belanja tambahan keperluan lainnya. Ketiga, kelompok rimba simpanan yakni
suatu kawasan hutan yang dibiarkan lestari yang biasanya dilarang mengelolah
atau mengambil hasilnya yang akan menyebabkan hutan itu menjadi rusak.
Tanah pekarangan dan kebun adalah tanah yang dimiliki oleh keluarga
suatu suku sebagai tempat usaha tani, dan menjadi sumber mata pencaharian
utama baik dengan usaha bertanam padi maupun sebesar tempat beternak
termasuk usaha perkebunan karet dan kebun kelapa. Tanah perladangan dan
kebun ini dalam adat diperbolehkan untuk diperjualbelikan sepanjang diketahui
oleh ninik mamak tetua adat.
Rimba simpanan atau hutan larangan adalah ketentuan adat yang
menganjurkan pada masyarakat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan hutan
termasuk satwa yang ada di dalamnya. Kawasan hutan ini memberikan
kesempatan kepada fauna dan satwa untuk tetap hidup dalam lingkungannya
tetapi karena perkembangan industri yang sangat pesat saat ini yang diiringi oleh
berdirinya perusahaan besar yang membabat hutan menjadi hutan industri maka
hutan sebagian besar telah punah begitu juga satwa di dalam.
Selanjutnya padang gembala dan tanah kandang juga merupakan tanah
yang dimiliki oleh suku yang ditetapkan oleh adat. Lahan ini diperuntukkan
khusus bagi peternak seperti ternak kerbau dan ternak sapi. Tanah kandang oleh
adat tidak dapat diperjualbelikan kepada siapapun sepanjang masih dipergunakan
untuk kepentingan peternakan masyarakat. Apabila ketiga kelompok tanah ulayat
tersebut terpelihara dan dikelola dengan baik menurut kelembagaan adat yang ada
dan sesuai dengan fungsinya masing-masing maka dapat menopang tatanan
kehidupan masyarakat dalam berusaha.
BAB V
KONDISI PERKEBUNAN
KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
5.1 Profil Industri Perkebunan
Usaha perkebunan adalah kegiatan usaha tani yang paling banyak
dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi. Hasil utama sektor
perkebunan di Kabupaten ini antara lain kelapa sawit, karet dan kakao dimana
pengembanganya dilakukan melalui:
a. Pola swadaya/partial, dimana pembangunan kebun dilakukan oleh
masyarakat dan pengadaan bibit serta penyuluhan dilakukan oleh petugas
dinas perkebunan.
b. Pola UPP (Unit Pelayanan Pengembangan), dimana pembangunan kebun
dan penyuluhan dilakukan/dibantu aparat UPP, sedang pendanaannya
melalui kredit lunak jangka panjang.
c. Pola PIR, dimana pelaksanaan pembangunan kebun dilakukan oleh
perusahaan perkebunan dari lahan kebun, lahan tanaman pangan,
pekarangan dan rumah dengan menggunakan kredit lunak jangka panjang.
d. Pola pembangunan perkebunan besar, dimana pembangunan kebun
dilakukan oleh Perkebunan Besar Swasta (PBS) maupun BUMN dengan
hak guna usaha.
Dari beberapa pola pembangunan sektor perkebunan di Kabupaten
Kuantan Singingi dikelompokkan menjadi dua, yaitu perkebunan swasata besar
dan perkebunan rakyat.
5.1.1 Perkebunan Besar Swasta
Jumlah perkebunan besar swasta yang terdapat di Kabupaten Kuantan
Singingi pada tahun 2000 adalah 21 perusahaan dengan luas peruntukan lahan
sebesar 227.251 ha. Namun dari 21 perusahaan tersebut hanya 14 perusahaan
yang aktif dengan luas lahan yang digunakan sebesar 89.366 ha (Dinas
Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2001). Untuk tahun 2006 jumlah
perusahaan tersebut menjadi 19 perusahaan dengan tiga perusahaan yang masih
dalam taraf pembangunan (Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi,
2007). Penurunan jumlah perusahaan ini disebabkan karena umur dari perusahaan
yang sudah tua.
Tabel 15. Daftar Pabrik Pengolahan Hasil Perkebunan di Kabupaten Kuantan
Singingi Tahun 2006.
Nama Perusahaan Lokasi Pabrik Komoditi
Kapasitas
Ton/Jam
Keterangan
PT. Perkebunan Pantai Raja Tg. Pauh
Singingi Hilir
Kelapa
Sawit
40 Aktif
PT. Mustika Agrosari Sel. Paku
Singingi Hilir
Kelapa
Sawit
40/80 Aktif
PT. Adimulia Agrolestari Tg. Pauh
Singingi Hilir
Kelapa
Sawit
40 Aktif
PT. Surya Agrolika Reksa Tg. Pauh
Singingi Hilir
Kelapa
Sawit
30/60 Aktif
PT. Wanasari Nusantara Petai
Singingi
Kelapa
Sawit
40 Non Aktif
PT. Ganda Buanindo Kelapa
Sawit
Aktif
PT. Udaya Lohjinawi Kelapa
Sawit
Aktif
PT. Tribakti Sarimas Cengar
Kuantan
Mudik
Kelapa
Sawit
60 Aktif
PT. Duta Palma Nusantara Benai
Kuantan
Tengah
Kelapa
Sawit
60 Aktif
PT. Cerenti Subur Cerenti Kelapa
Sawit
45 Aktif
PT. Warna Jingga Timur Banjar Nan
Tigo
Inuman
Kelapa
Sawit
45 Aktif
PT. Citra Riau Sarana Kelapa
Sawit
30 Aktif
PT. Gatipura Mulya Kelapa
Sawit
Aktif
PT. Asia Sawit Makmur Jaya Jake
Kuantan
Tengah
Kelapa
Sawit
30/50 Taraf
Pembangunan
PT. Bangun Persada Tata
Makmur
Kelapa
Sawit
Aktif
PT. Manunggal Muara Palma Kebun Lado
Singingi
Kelapa
Sawit
60 Taraf
Pembangunan
PT. Andalas Agro Lestari Logas
Singingi
Kelapa
Sawit
30 Aktif
CV. Cahaya Indah Kelapa
Sawit
Aktif
PT. Perkebunan Nusantara V Kelapa
Sawit
Aktif
Sumber: Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2007.
5.1.2 Perkebunan Rakyat
Lokasi perkebunan rakyat umumnya tersebar di sekitar kawasan
pemukiman dan perkebunan besar yang berfungsi sebagai plasma dari perkebunan
besar. Jenis komoditi yang dibudidayakan antara lain kelapa sawit, karet, kakao,
dan kopi. Untuk perkebunan kelapa sawit, bersama pihak swasta, masyarakat
mengembangkannya melalui pola Kredit Koperasi Primer Anggota (melalui
pinjaman kredit bank). Dengan pola ini, sebelum menghasilkan buah sawit,
masyarakat bekerja untuk perkebunan besar dengan upah tertentu. Setelah
berhasil, masing-masing petani menguasai kebun dengan luas ± 2 ha/KK yang
buahnya dibeli oleh perusahaan dengan harga yang berlaku.
5.2 Kondisi Perkebunan
Luas usaha perkebunan di Kabupaten Kuantan Singingi sampai dengan
tahun 2005 adalah 1.133.594,63 ha dengan produksi 1.176.044,66 ton yang
tersebar di 12 kecamatan, seperti yang terlihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan di Kabupaten Kuantan
Singingi Tahun 2001-2005.
Tahun
Komoditi
2001 2002 2003 2004 2005
Karet
Luas (ha) 120.959,80 124.782,00 129.503,80 158.676,81 158.531,62
Produksi (ton) 136.008,54 136.876,00 157.643,00 166.531,62 166.551,00
Kelapa Sawit
Luas (ha) 102.732,00 105.598,33 107.568,03 110.859,03 109.883,03
Produksi (ton) 492.701,60 910.403,20 922.783,75 1.222.587,95 966.299,00
Kelapa
Luas (ha) 8.081,00 6.086,75 5.981,25 4.420,80 4.421,80
Produksi (ton) 32.293,23 23.299,31 14.931,06 30.506,16 31.084,56
Aneka Tanaman
Luas (ha) 3.719,70 3.777,50 3.810,00 4.210,20 4.342,21
Produksi (ton) 8.632,99 8.921,14 9.039,90 10.971,46 12.110,10
Total Luas Perkebunan
Kabupaten (ha)
235.492,50 240.244,58 246.863,08 278.166,84 1.133.594,63
Total Produksi Perkebunan
Kabupaten (ton)
669.636,36 1.079.499,65 1.104.397,71 1.430.597,19 1.176.044,66
Sumber: Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2007.
Secara umum Tabel 16 menunjukkan bahwa ada tiga komoditi (karet,
kelapa sawit, dan kelapa) di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi yang sangat
berpengaruh terhadap produksi perkebunan. Dari tiga komoditi tersebut komoditi
kelapa sawit merupakan komoditi yang sangat berpotensi untuk dikembangkan,
karena ditunjang oleh adanya 16 (enambelas) industri pengolahan minyak kelapa
sawit yang tersebar terdapat di daerah ini. Selain itu, harga komoditi tersebut juga
mengalami peningkatan tiap tahunnya.
BAB VI
ANALISIS PENENTUAN LOKASI PENDIRIAN PABRIK BIODIESEL
DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
6.1 Location Quotient (LQ)
Dalam teori basis akan diketahui arah dari perkembangan suatu wilayah
yang dapat dilihat dari indikator ekspor wilayah yang bersangkutan. Dalam hal
ini, ekspor dilihat dari barang dan jasa. Dari sektor basis tersebut juga terdapat
sektor non basis dan kedua sektor tersebut akan mendukung dalam pertumbuhan
wilayah. Sektor basis merupakan sektor yang melayani permasaran barang dan
jasa keluar batas perekonomian wilayah. Sedangkan sektor non basis adalah
sektor yang melayani pemasaran barang dan jasa di dalam batas perekonomian
wilayah yang bersangkutan.
Pengukuran kuosien lokasi (LQ) dimaksudkan untuk mengetahui apakah
sektor perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi merupakan sektor
basis atau sektor non basis. Pengukuran ini menggunakan data luas dan produksi
perkebunan komoditi kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi selama periode
2001-2005.
Tabel 17. Kuoisen Lokasi (LQ) Komoditi Perkebunan Menurut Luas Lahan (Ha)
dan Produksi (Ton) di Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2001-2005.
Tahun
Komoditi
2001 2002 2003 2004 2005
Karet
Luas 2,18 2,47 2,69 2,64 0,68
Produksi 1,43 2,01 2,24 1,68 1,59
Kelapa Sawit
Luas 0,94 0,87 0,82 0,75 0,18
Produksi 1,09 1,05 1,04 1,11 1,08
Kelapa
Luas 0,13 0,10 0,11 0,07 0,02
Produksi 0,33 0,19 0,12 0,16 0,22
Aneka Tanaman
Luas 0,41 0,36 0,36 0,44 0,10
Produksi 0,39 0,39 0,39 0,22 0,34
Sumber: Data Primer diolah, 2007.
Pada Tabel 17 dapat dilihat bahwa selama selang waktu tahun 2001-2005
untuk komoditi karet berdasarkan luas lahan maupun produksi secara umum nilai
LQ lebih besar dari 1. Hal ini memberikan arti bahwa komoditi karet baik secara
luas lahan dan produksi merupakan komoditi basis. Pada tahun 2001-2003 dari
segi luas lahan komoditi karet mengalami peningkatan namun pada tahun 2004
mengalami penurunan yang kemudian berangsur-angsur mengalami peningkatan
lagi. Namun dari segi produksi, komoditi ini mulai mengalami penurunan sejak
tahun 2004.
Untuk komoditi kelapa sawit, berdasarkan Tabel 17 diatas, maka hanya
dari segi produksi komoditi ini dapat dikatakan sebagai komoditi basis karna
nilainya lebih dari 1 sejak tahun 2001-2005. Komoditi ini memiliki fluktuasi yang
sangat beragam dalam memberikan kontribusi terhadap ekspor perkebunan
komoditi kelapa sawit (CPO). Hal ini dapat dilihat dari nilai LQ yang mengalami
peningkatan dan penurunan setiap tahunnya.
Tabel 18. Kuoisen Lokasi (LQ) Komoditi Perkebunan Kelapa Sawit Menurut
Luas Lahan (Ha) dan Produksi (Ton) per Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2004 dan 2005.
2004 2005
Kecamatan
Luas Produksi Luas Produksi
Kuantan Mudik 4,41 0,60 5,60 1,10
Hulu Kuantan 1,44 0,39 1,72 0,50
Gunung Taor 0,16 0,03 0,16 0,06
Singingi 4,29 0,91 4,81 1,07
Singingi Hilir 4,83 0,89 6,54 1,11
Kuantan Tengah 2,68 0,43 5,60 1,02
Benai 3,25 0,43 6,03 1,12
Kuantan Hilir 0,08 0,02 0,09 0,04
Pangean 2,03 0,33 2,09 0,58
Logas Tanah Darat 5,05 0,78 5,82 0,99
Cerenti 0,12 0,00 2,60 1,09
Inuman 0,12 0,05 2,97 0,98
Sumber: Data Primer diolah, 2007.
Tabel 18 menunjukkan bahwa peranan sektor perkebunan kelapa sawit di
masing-masing kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi mulai mengalami
peningkatan dari tahun 2004 ke 2005. Dimana pada tahun 2004 berdasarkan
produksi, sektor perkebunan kelapa sawit bukan merupakan sektor basis namun
pada tahun 2005 sektor ini merupakan sektor basis bagi beberapa kecamatan yaitu
kecamatan Kuantan Mudik, Singingi, Singingi Hilir, Kuantan Tengah, Benai dan
Cerenti. Sedangkan berdasarkan luas lahan perkebunan kelapa sawit, hanya
kecamatan Gunung Taor dan Kuantan Hilir pada tahun 2005 yang bukan
merupakan sektor basis dari perkebunan ini. Berdasarkan Tabel 18 dapat dilihat
bahwa kecamatan Benai baik secara luas lahan maupun produksi dari perkebunan
kelapa sawit yang memiliki nilai LQ terbesar.
6.2 Specialization Indeks (SI)
Analisis Kuosien Spesialisasi bertujuan untuk mengetahui apakah
perkebunan kelapa sawit di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi merupakan
komoditi yang utama (spesialisasi). Hal ini dapat ditunjukkan oleh nilai |, apabila
|•1 artinya perkebunan kelapa sawit di wilayah ini merupakan komoditi utama
sektor perkebunan, sebaliknya jika |<1 maka perkebunan kelapa sawit bukan
merupakan komoditi unggulan di sektor ini.
Tabel 19. Kuoisen Spesialisasi (SI) Komoditi Perkebunan Kelapa Sawit Menurut
Luas Lahan (Ha) dan Produksi (Ton) per Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2004 dan 2005.
Tahun
Komoditi
2001 2002 2003 2004 2005
Karet
Luas 0,14 0,15 0,16 0,18 -0,03
Produksi 0,03 0,03 0,04 0,02 0,03
Kelapa Sawit
Luas -0,02 -0,03 -0,05 -0,07 -0,22
Produksi 0,03 0,02 0,02 0,04 0,03
Kelapa
Luas -0,11 -0,11 -0,10 -0,10 -0,10
Produksi -0,05 -0,05 -0,05 -0,05 -0,05
Aneka Tanaman
Luas -0,01 -0,01 -0,01 -0,01 -0,02
Produksi -0,01 -0,01 -0,01 -0,01 -0,01
Sumber: Data Primer diolah, 2007.
Tabel 20. Kuoisen Spesialisasi (SI) Komoditi Perkebunan Kelapa Sawit Menurut
Luas Lahan (Ha) dan Produksi (Ton) per Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi Tahun 2004 dan 2005.
2004 2005
Kecamatan
Luas Produksi Luas Produksi
Kuantan Mudik 0,17 -0,16 0,22 0,04
Hulu Kuantan 0,02 -0,25 0,03 -0,20
Gunung Taor -0,04 -0,40 -0,04 -0,39
Singingi 0,16 -0,04 0,18 0,03
Singingi Hilir 0,19 -0,05 0,27 0,04
Kuantan Tengah 0,08 -0,23 0,22 0,01
Benai 0,11 -0,23 0,24 0,05
Kuantan Hilir -0,04 -0,40 -0,04 -0,39
Pangean 0,05 -0,27 0,05 -0,17
Logas Tanah Darat 0,20 -0,09 0,23 0,00
Cerenti -0,04 -0,41 0,08 0,04
Inuman -0,04 -0,39 0,10 -0,01
Sumber: Data Primer diolah, 2007.
Berdasarkan Tebel 19 dan 20, bahwa komoditi perkebunan kelapa sawit di
Kabupaten Kuantan Singingi bukan merupakan komoditi terspesialisasi baik
secara luas dan produksi. Hal ini berarti bahwa dalam suatu wilayah atau suatu
kecamatan tidak terdapat satu pun kecamatan yang mengkhususkan industri
kelapa sawit walaupun komoditi kelapa sawit memberikan kontribusi yang besar
bagi perekonomian masing-masing kecamatan.
Nilai kousien spesialisasi diatas juga mengindikasikan bahwa masing-
masing kecamatan memiliki industri yang beragam baik dari segi luasan dan
produksi. Selain itu, nilai kousien spesialisasi juga mengindikasikan bahwa biaya
sumberdaya domestik dalam proses produksi pada perkebunan kelapa sawit relatif
masih besar atau dengan kata lain bahwa biaya-biaya produksi yang ditanggung
oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit belum ekonomis. Kecilnya nilai kousien
spesialisasi juga memperlihatkan bahwa ada perkebunan kelapa sawit di luar
Kabupaten Kuantan Singingi, seperti di Kabupaten Kampar, Indragiri Hilir dan
Hulu, Pelalawan dan Pekanbaru yang secara administrasi berdampingan langsung
dengan Kabupaten Kuantan Singingi memberikan kontribusi terhadap produksi
kelapa sawit di Provinsi Riau.
BAB VII
ANALISIS FINANSIAL
PABRIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT DAN BIODIESEL
Perhitungan kelayakan finansial suatu proyek dinilai dengan menggunakan
konsep nilai uang yang akan didapatkan dari proyek tersebut (nilai masa depan,
future value) dan nilai uang bersih saat ini (Net Present Value, NPV) dengan
menggunakan tingkat faktor diskon (tingkat suku bunga) tertentu. Selain itu perlu
juga diketahui bagaimana tingkat IRR (internal rate of return) dari proyek
tersebut sehingga apabila IRR lebih besar dari rata-rata tertimbang biaya modal
(WACC, weighted average cost of capital) maka proyek tersebut dapat dikatakan
layak untuk dijalankan. Penelitian ini mencakup dua analisis finansial yaitu (1)
kelayakan finansial perkebunan kelapa sawit (10.000 ha) dan (2) analisis
kelayakan finansial pabrik pengolahan biodiesel (liquie waste) dengan kapasitas
10.000 liter/hari.
7.1 Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS)
Penentuan luas kebun kelapa sawit sebanyak 10.000 ha di lakukan karena
biasanya pemerintah daerah hanya mengeluarkan izin pembukaan hutan untuk
perkebunan kelapa sawit berkisar antara 5.000-20.000 ha. Selain itu dengan luas
diatas maka pabrik pengolahan biodiesel dengan sumber bahan baku dari limbah
cair (liquid waste) pengolahan kelapa sawit dapat berjalan secara
berkesinambungan.
7.1.1 Biaya Investasi
Biaya investasi ditentukan oleh jadwal penanaman kelapa sawit di
lapangan serta periode pembelian dan atau pembuatan alat/mesin/bangunan untuk
digunakan di dalam memproduksi minyak kelapa sawit.
7.1.1.1 Investasi tanaman
Untuk biaya invesatasi tanaman terdiri dari biaya investasi awal, biaya
pemeliharaan dan alokasi biaya tidak langsung, selengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 21.
Tabel 21. Ringkasan Estimasi Biaya Investasi Tanaman Tahun Permulaan Sampai
Dengan Tahun ke Tiga (Rp./ha)
Keterangan Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Total
Biaya Investasi Awal
Land Clearing 2.352.318 - - - 2.352.318
Pembibitan kelapa sawit - - - - -
Pengawetan tanah 1.413.996 - - - 1.413.996
Penanaman kacang-
kacangan 1.249.247
- - -
1.249.247
Penanaman kelapa sawit 1.440.021 - - - 1.440.021
Pembautan prasarana 2.803.566 - - - 2.803.566
Survei dan sensus 44.896 - - - 44.896
Subtotal 9.304.045 - - - 9.304.045
Biaya Pemeliharaan
Piringan dan gawangan 808.125 281.931 281.931 1.371.988
Pengendalian lalang 28.348 20.376 13.584 62.308
Pemupukan tanaman 700.327 1.092.215 1.763.515 3.556.056
Pengendalian hama dan
penyakit 44.847 21.658 48.845 115.350
Tunas pokok
Kastrasi dan sanitasi 47.625 56.120 103.745
Penyisipan dan konsolidasi
pokok doyong 46.771 8.979 8.979 64.729
Perawatan parit dan
konservasi tanah 151.448 151.448 302.896
Perawantan prasarana 675.305 520.314 520.314 1.715.934
Survei dan sensus 22.448 22.448 22.448 67.344
Sub total 2.326.170 2.166.995 2.862.184 7.355.349
Alokasi biaya tidak
langsung 400.000 400.000 400.000 1.200.000
Total biaya 9.304.045 2.726.170 2.566.995 3.262.184 17.859.394
Sumber: Data Primer diolah, 2007 (selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1-4).
7.1.1.2 Investasi Nontanaman
Biaya investasi nontanaman yang dibutuhkan untuk membangun 10.000
ha kebun kelapa sawit adalah Rp. 5,4 juta/ha, dengan rincian sebagai berikut:
1. Bangunan Rp. 28,58 milyar
2. Kendaraaan dan alat berat Rp. 19,30 milyar
3. Mesin-mesin Rp. 2,48 milyar +
Total Rp. 50,36 milyar (untuk 10.000 ha)
Estimasi masing-masing komponen dapat dilihat pada lampiran 5.
7.1.1.3 Investasi Proyek PKS dan Jembatan
Biaya investasi proyek PKS dan jembatan permanen yang dibutuhkan
untuk membangun 10.000 ha kebun kelapa sawit adalah Rp. 7,44 juta/ha, dengan
rincian sebagai berikut:
1. Satu unit PKS @ 60 ton TBS/jam Rp. 70,40 milyar
2. Jembatan Permanen Rp. 4,04 milyar +
Total Rp. 74,44 milyar (untuk 10.000 ha)
Estimasi masing-masing komponen dapat dilihat pada lampiran 6.
7.1.2 Penyusutan
Penyusutan biaya invesatasi non tanaman dan proyek dilakukan selama 10
tahun terhitung sejak tahun pertama, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 22
dibawah ini.
Tabel 22. Estimasi Biaya Penyusutan Invesatasi Non Tanaman dan Proyek
(Rp. 000).
Tahun Total Penyusutan Tahun Total Penyusutan
1 1.293.920 9 12.479.770
2 2.276.863 10 12.479.770
3 2.994.582 11 11.185.849
4 6.849.899 12 10.202.907
5 11.229.275 13 9.485.187
6 11.784.710 14 5.629.870
7 12.479.770 15 1.250.495
8 12.479.770 16 695.060
Sumber: Data Primer diolah, 2007 (selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 8).
7.1.3 Biaya Operasional
Proyeksi biaya operasional kebun seluas 10.000 ha selama satu siklus
penanaman (25 tahun) sebesar Rp. 1,69 triliun yang terdiri dari 47% biaya
pemeliharaan tanaman 31% biaya panen dan transpor 8% biaya tidak langsung
PKS 11% biaya pengolahan dan 3% biaya kantor pusat/perwakilan. Biaya
operasional ini sudah termasuk faktor koreksi inflasi sebesar 3% per tahun
(lampiran 9).
7.1.4 Profil Produksi
Produktivitas tanaman ditentukan oleh profil produksi yang mengikuti
umur tanaman. Untuk tanah mineral podzolik merah kuning di Kabupaten
Kuantan Singingi dengan menggunakan sumber genetik dari pemasuk kecambah
legitim maka profil produksi dan ekstraksi MKS (oil extraction rate; OER) dan
IKS (karel extraction rate; KER) dari penanaman 10.000 ha kelapa sawit
disajikan pada Tabel 23 berikut ini.
Tabel 23. Profil Produksi dan Ekstraksi MKS dan IKS
Tahun Ton TBS/ha OER (%) KER (%)
3
7,00 20,00 4,50
4
15,00 21,00 4,75
5
19,00 22,00 5,00
6
23,00 23,00 5,25
7
26,00 23,50 5,25
8
28,00 23,50 5,50
9
28,00 23,75 5,50
10
28,00 23,75 5,50
11
28,00 23,75 5,50
12
28,00 23,75 5,50
13
28,00 23,75 5,50
14
26,00 23,75 5,50
15
25,00 23,75 5,50
16
24,50 23,75 5,50
17
24,00 23,75 5,50
18
23,00 23,75 5,50
19
23,00 23,75 5,50
20
22,00 23,75 5,50
21
21,00 23,75 5,50
22
20,00 23,75 5,50
23
19,00 23,75 5,50
24
18,00 23,75 5,50
25
17,00 23,45 5,42
Sumber: Data Primer, 2007.
7.1.5 Penerimaan
Revenue adalah penerimaan proyek selama satu siklus tanaman (25 tahun),
dan besarnya revenue dari perkebunan kelapa sawit ditentukan oleh luas
penanaman, produktivitas tanaman, ekstraksi MKS dan IKS, serta tingkat harga
jual yang berlaku saat itu. Dimana harga jual MKS untuk perhitungan revenue
diambil pada harga USD 400/ton dan harga IKS diasumsikan 55% dari harga
MKS dan bersifat tetap selama 1 siklus tanaman. Asumsi ini adalah perkiraan
konservatif dengan melihat kecenderungan yang terjadi selama ini, namun dalam
kenyataannya harga MKS berfluktuasi. Nilai MKS dan IKS yang diperoleh dari
kebun seluas 10.000 ha adalah sebagai berikut (selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran 10):
1. MKS Rp. 4.286 miliar
2. IKS Rp. 554 miliar +
Total Rp. 4.840 miliar (untuk satu siklus tanaman)
7.1.6 Net Present Value (NPV)
NPV adalah nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada
masa mendatang. Nilai ini merupakan selisih nilai kini dari benefit dengan nilai
kini dari biaya. Nilai NPV untuk usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas
10.000 ha dan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton
TBS/jam adalah Rp. 246,03 miliar; artinya investasi di bidang ini dinyatakan
menguntungkan atau diterima.
7.1.7 Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan suku bunga maksimal untuk mencapai NPV yang bernilai
sama dengan nol, jadi dalam keadaan batas impas. Nilai IRR untuk usaha
perkebunan kelapa sawit dengan luas 10.000 ha dan pabrik pengolahan minyak
kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam adalah 27,30%; artinya kegiatan
perkebunan ini dapat dilanjutkan.
7.1.8 Break Event Point (BEP)
BEP merupakan menentukan pada tingkat produksi dan harga untuk
memberikan titik dimana penjualan akan impas menutup biaya tetap dan biaya
variabel. Nilai BEP untuk usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas 10.000 ha
dan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam
adalah 8 tahun; artinya kegiatan perkebunan akan memperoleh keuntungan pada
tahun ke-8 setelah mulai dilakukan kegiatan penanaman.
7.2 Pabrik Biodiesel (Liquid Waste)
Produksi biodiesel dari sumberdaya kelapa sawit diperoleh dengan dua
cara yaitu CPO (Crude Palm Oil) dan Liquid waste (limbah cair), proses ini dapat
dilihat sebagai berikut:
Gambar 2. Bahan Material Biodiesel Yang Diperoleh Dari CPO (Crude Palm Oil)
dan Limbah Cair (Liquid waste) (BPPT, 2006)
CPO parit merupakan limbah proses pembuatan CPO, tetapi masih
memiliki kandungan minyak yang dianggap kurang ekonomis untuk diproses
sebagai CPO. Potensi ekstraksi bahan baku biodiesel dari CPO parit diperkirakan
mencapai dua persen dari total produksi CPO.
Gambar 3. Diagram Pabrik Biodiesel (Liquid Waste).
Liquid Waste
Modal
Labor
Preparation Trans-esterification
Cleansing Drying
Distilation Refining
Biodiesel Limbah Cair Limbah Padat
Perbandingan antara biodiesel dan petrodiesel (solar) dapat dilihat pada
Tabel 24.
Tabel 24. Perbandingan Biodiesel dan Petrodiesel.
No. Physical/Chemical Property Biodiesel Petrodiesel
1. Composition Methyl ester of
faty accids
Hidrocarbon
2. Density, g/ml 0.8624 0.8750
3. Viscosity, cSt 5.55 4.0
4. Flash point,
0
C 172 98
5. Cetane number 62.4 53
6. Moisture, % 0.2 0.3
7. Engine power Energi produced
128 000 BTU per
Gallon
Energi produced
130 000 BTU per
Gallon
8. Energi Torque Similar Similar
9. Engine modification Not necessary
10. Fuel consumption Similar Similar
11. Lubrication Higher Lower
12 Emission Less carbon
monoxide, total
hidrocarbon,
sulphur dioxide
and nitrous
dioxide.
More carbon
monoxide, total
hidrocarbon,
sulphur dioxide
and nitrous
oxide.
13. Handling Less flamable More flamable
14. Environmental Toxicity low Toxicity 10 times
higher
15. Provision Renewable Non renewable
Sumber: Pakpahan (2001).
Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan
Teresterial LPPM ITB (2004) karakteristik biodiesel adalah:
a. Dibuat melalui proses metanolisis/etanolisis minyak lemak dengan produk
sampingan berupa gliserin.
b. Memiliki nilai kalor netto (LHV) 31-34 MJ/liter (80-90% dari solar).
c. Viskositas di bagian atas rentang persyaratan solar sehingga lebih baik
untuk pelumasan selinder.
d. Bercampur sempurna dengan solar pada berbagai perbandingan.
e. Berkadar belerang hampir tidak ada: 0-24 ppm; tetapi pada umumnya
berkadar belerang < 15 ppm. Kadar belerang solar di Indonesia sekarang
1500-4100 ppm sehingga sering menimbulkan Emisi SPM (Solid
Particulate Matter) dan asap hitam (opasitas tinggi).
f. Molekulnya mengandung oksigen (oxygenate) sehingga kebutuhan
oksigen untuk pembakaran sempurna lebih sedikit dan menghasilkan lebih
sedikit CO (carbon monoxide).
g. Berasal dari sumber yang terbaharukan sehingga berdasarkan konversi
internasional bahwa pembakaran dari biodiesel tidak menghasilkan emisi
karbon dioksida.
Berdasarkan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBPMP,
2003) bahwa keunggulan penggunaan biodiesel adalah:
a. Campuran biodiesel 30% mempunyai daya maksimum yang paling
mendekati daya solar 100%.
b. Unjuk kerja lapang traktor roda dua dengan bahan bakar campuran 30%
biodiesel tidak berbeda nyata dengan penggunaan solar 100%.
c. Emisi gas buang dengan bahan bakar campuran biodiesel relatif lebih
kecil, baik kadar opasitas (FSN dan m/m
3
), CO, dan HC.
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan liquid
waste (limbah cair) yang dihasilkan dari produksi CPO (crude palm oil). Menurut
Nasikin (2004) biodiesel adalah metil ester yang dihasilkan dari reaksi
transesterifikasi trigleserida yang salah satunya berasal dari liquid waste (limbah
cari) hasil pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (crude palm oil).
Gambar 4. Liquid waste (limbah cair/CPO Parit)
Kelebihan pembuatan biodiesel dengan bahan baku limbah cair CPO
(liquid waste) adalah sebagai berikut:
1. Meniadakan pencemaran limbah terhadap pencemaran air tanah dan
sungai.
2. Transfer Pricing karena penggunaan biodiesl berbahan baku ini akan
menekan pokok produksi CPO. Apabila Pabrik CPO menggunakan
Biodiesel berbahan baku ini, maka biaya yang dikeluarkan hanya
Rp. 4.785,00 perliter (harga standar yang dibuatkan untuk biodiesel mutu
standar) harga ini dapat ditekan lagi karena CPO parit hanya Rp. 300,00
perliter. Harga ini dapat ditekan lagi jika terjadi kontrak tetap dengan
pabrik CPO yang ada karena akan dapat terbantu terhadap solusi limbah
cair yang di hasilkan.
3. Memperoleh CDM (clean development mechnism).
4. Bisa di bangun terintegrasi dengan pabrik CPO karena berfungsi sebagai
pengolah limbah.
7.2.1 Syarat Lokasi Pabrik Biodiesel
Pabrik biodiesel berkapasitas 10 ton/hari dibangun diatas lahan seluas 1 ha
(10.000 m
2
). Peralatan proses pabrik akan menempati bangunan seluas 26 x 24
m
2
, sedangkan area di sekitar bangunan akan digunakan sebagai lahan
penyimpanan bahan mentah, penyimpanan biodiesel, bangunan mess operator, dll.
Lahan yang disediakan untuk pabrik biodiesel harus memenuhi kriteria
sebagai berikut:
1. Dekat dengan sungai
2. Lokasi mudah diakses
3. Lokasi pabrik dekat dengan sumber bahan baku.
7.2.2 Biaya Pembangunan Pabrik Biodiesel (Liquid Waste) Kapasitas 10.000
liter/hari atau 100.000 ton/tahun.
Biaya investasi pabrik biodiesel dengan bahan baku berbasis limbah cair
pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 10.000 liter/hari, dengan rincian perhitungan
dapat dilihat pada Tabel 25 sebagai berikut:
Tabel 25. Biaya Pembangunan Pabrik Biodiesel (Liquid waste) Berkapasitas
10.000 liter/hari (Rp. 000)
Uraian Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
Sewa Tanah 376,5 376,5 376,5 376,5 376,5 376,5
Pabrik
Biodiesel 6.500.000 0 0 0 0 0
Bangunan dan
Perumahan 3.172.365 1.057.455 528.727,5 528.727,5 0 0
Kendaraan 1.015.000 203.000 203.000 203.000 203.000 203.000
Total 10.687.741,5 1.260.831,5 732.104,0 732.104,0 203.376,5 203.376,5
Sumber: Data Primer diolah, 2007 (selengkapnya lihat lampiran 11).
7.2.3 Penyusutan
Penyusutan biaya invesatasi pabrik biodiesel berbasis limbah cair (liquid
waste) kelapa sawit dilakukan selama 10 tahun terhitung sejak tahun pertama
pendirian pabrik, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 26 dibawah ini.
Tabel 26. Estimasi Biaya Penyusutan Invesatasi Pabrik Biodisel (Rp. 000).
Tahun Total Penyusutan Tahun Total Penyusutan
1 723.613,00 9 134.449,25
2 187.322,00 10 134.449,25
3 134.449,25 11 134.449,25
4 134.449,25 12 134.449,25
5 134.449,25 13 134.449,25
6 134.449,25 14 134.449,25
7 134.449,25 15 134.449,25
8 134.449,25 16 134.449,25
Sumber: Data Primer (diolah), 2007.
7.2.4 Biaya Operasional
Biaya operasional dari pabrik Biodiesel selama satu siklus proses produksi
kelapa sawit (22 tahun) yang terdiri dari biaya pemeliharaan mesin dan kendaraan,
biaya tidak langsung, dan biaya kantor pusat/perwakilan. Biaya operasional ini
sudah termasuk faktor koreksi inflasi sebesar 3% per tahun.
Tabel 27. Biaya Operasional Pabrik Biodiesel (Rp. 000)
Tahun Total Penyusutan Tahun Total Penyusutan
0 9.908,00 12 120.870,00
1 30.618,00 13 115.320,00
2 59.495,00 14 112.264,00
3 84.978,00 15 109.422,00
4 101.603,50 16 107.252,00
5 115.542,00 17 104.191,00
6 123.656,00 18 101.578,00
7 127.290,00 19 97.168,00
8 127.340,00 20 92.768,00
9 127.410,00 21 88.368,00
10 127.440,00 22 83.978,00
11 124.842,00
Sumber: Data Primer (diolah), 2007.
7.2.5 Biaya Pengangkutan Bahan Baku
Bahan baku merupakan salah satu faktor yang menjadi penentu dalam
pendirian pabrik Biodiesel. Asumsi yang digunakan Rp 50/40 km/liter artinya,
setiap liter bahan baku (liquid waste) yang diangkut dari pabrik pengolahan kelapa
sawit (PKS) dengan jarak 40 km maka harganya adalah Rp 50,-. Analisis biaya
pengangkutan bahan baku dilakukan selama satu siklus produksi kelapa sawit
mulai dari tahun ke-3 (23 tahun).
Tabel 28. Biaya Tansportasi Liquid Waste dari PKS (Rp. 000,-).
Tahun Total Penyusutan Tahun Total Penyusutan
0 7.467,60 12 94.234,00
1 23.469,60 13 89.789,00
2 46.228,00 14 87.299,80
3 66.141,60 15 84.988,40
4 79.298,80 16 83.210,40
5 90.322,40 17 80.721,20
6 96.723,20 18 78.587,60
7 99.568,00 19 75.031,60
8 99.568,00 20 71.475,60
9 99.568,00 21 67.919,60
10 99.568,00 22 64.363,60
11 97.434,40
Sumber: Data Primer (diolah), 2007.
7.2.6 Perkiraan Harga Pokok Biodiesel
Harga pokok per liter produksi biodiesel yang terdiri dari bahan-bahan
kimia, tenaga kerja, dan pemeliharaan, dengan rincian dapat dilihat pada Tabel 29
sebagai berikut:
Tabel 29. Perkiraan Harga Pokok Produksi Biodiesel
Komponen Harga (Rp./liter)
Kimia
- MeOH
- H
2
SO
4
- KOH
- Steam
- Listrik, Air
- Nitrogen
300
100
30
100*
30*
5
Tenaga Kerja 15
Pemeliharaan 60
Pengembalian Modal 260
Total biaya 900
Sumber: BPPT, 2006.
Ket: *=PKS dengan kapasitas 60 ton TBS/jam
Berdasarkan harga pokok produksi diatas maka kita dapat membadingkan
komposisi harga dari masing-masing proyek yang disajikan sebagai berikut ini:
Tabel 30. Perbandingan Harga Masing-masing Proyek
Bahan Baku Lokasi Pabrik
Komponen
A B C D
Biaya Bahan Baku (Rp./kg) 3.600 0 0 600
Biaya Produksi (Rp./kg) 900 900 900 900
Sub Total (sebelum PPn)* 4.500 900 900 1500
PPn (10%) 405 81 81 135
Transportasi (Rp./liter)** 300 300 0 300
Harga Jual (Rp./liter) 4.755 1.191 891 1.785
Ket: Proyek A = Bahan Baku dari CPO
Proyek B = Bahan Baku dari Liquid Waste dari pabrik PKS sendiri
Proyek C = Lokasi Pabrik PKS sama dengan Lokasi Pabrik Biodiesel (liquid waste)
Proyek D = Lokasi Pabrik PKS berbeda dengan lokasi Pabrik Biodiesel (liquid waste)
* 1 kg = 0,9 liter
** asumsi rata-rata jarak dari masing-masing PKS adalah 240 km = Rp 50/40km/liter
Proyek A merupakan pendirian pabrik biodiesel yang berbasiskan CPO
(Clude Palm Oil) yang lokasi pendiriannya berada pada jarak yang paling optimal
dari masing-masing pabrik pengolahan kelapa sawit. Dalam kondisi demikian
maka harga jual dari pada produk biodiesel yang dihasilkan adalah
Rp 4.755,-/liter. Sedangkan Proyek B yang berbahan baku limbah cair (liquid
waste) kelapa sawit dengan lokasi yang sama dengan pabrik pengolahan kelapa
sawit dan hanya mengandalkan bahan baku dari pada pabrik tersebut. Maka harga
jual yang diperoleh adalah Rp 1.191,-/liter.
Berdasarkan lokasi pabrik maka ada dua proyek yang diusulkan. Pertama,
Proyek C dimana bahan baku hanya berasal dari pabrik pengolahan kelapa sawit
yang didirikan sendiri dan biodiesel yang dihasilkan untuk keperluan pabrik
biodiesel itu sendiri maupun untuk kepentingan pabrik PKS. Dimana, sisa
biodiesel yang ada dapat dijual dengan harga Rp 891/liter, namun pembeli harus
datang membeli di perusahaan biodiesel. Kedua, Proyek D merupakan pabrik
biodiesel yang didirikan dengan sumber bahan baku berasal dari pabrik
pengolahan kelapa sawit yang tersebar di Kabupaten Kuantan Singingi dan daerah
sekitarnya. Lokasi proyek ini berada pada jarak yang optimal dari pabrik-pabrik
PKS sehingga akan menghemat biaya transportasi bahan baku dan pemasaran
hasil. Harga jual yang ditawarkan adalah Rp 1.785,-/liter.
7.2.7 Penerimaan Pabrik Biodiesel (Proyek B)
Revenue adalah penerimaan proyek selama satu siklus tanaman (23 tahun),
dan besarnya revenue dari pabrik biodiesel ditentukan oleh luas penanaman,
produktivitas tanaman, serta tingkat harga jual yang berlaku saat itu.
Tabel 31. Penerimaan Pabrik Biodiesel berdasarkan asumsi Proyek B.
Tahun Produksi (ton) Harga (Rp./ton) Penerimaan (Rp.)
0 264,60 1.640,00 555.882.264
1 831,60 1.722,00 1.834.411.471
2 1.638,00 1.808,10 3.793.896.452
3 2.343,60 1.898,51 5.699.599.823
4 2.809,80 1.993,43 7.175.060.745
5 3.200,40 2.093,10 8.581.115.250
6 3.427,20 2.197,76 9.648.687.069
7 3.528,00 2.307,64 10.429.095.582
8 3.528,00 2.423,03 10.950.550.361
9 3.528,00 2.544,18 11.498.077.879
10 3.528,00 2.671,39 12.072.981.773
11 3.452,40 2.804,96 12.404.988.771
12 3.339,00 2.945,20 12.597.401.918
13 3.181,50 3.092,46 12.603.344.089
14 3.093,30 3.247,09 12.866.641.674
15 3.011,40 3.409,44 13.152.275.878
16 2.948,40 3.579,91 13.520.979.846
17 2.860,20 3.758,91 13.772.331.394
18 2.784,60 3.946,86 14.078.720.264
19 2.658,60 4.144,20 14.113.757.804
20 2.532,60 4.351,41 14.117.102.296
21 2.406,60 4.568,98 14.085.496.843
22 2.280,60 4.797,43 14.015.438.089
Sumber: Data Primer (diolah), 2007.
7.2.8 Net Present Value (NPV)
NPV adalah nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada
masa mendatang. Nilai ini merupakan selisih nilai kini dari benefit dengan nilai
kini dari biaya. Nilai NPV untuk pabrik biodiesel berkapasitas (10.000 liter/hari)
yang digabungkan dengan usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas 10.000 ha
dan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam
adalah Rp. 33,37 miliar; artinya investasi di bidang ini dinyatakan
menguntungkan atau diterima.
7.2.9 Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan suku bunga maksimal untuk mencapai NPV yang bernilai
sama dengan nol, jadi dalam keadaan batas impas. Nilai IRR untuk pabrik
biodiesel berkapasitas (10.000 liter/hari) yang digabungkan dengan usaha
perkebunan kelapa sawit dengan luas 10.000 ha dan pabrik pengolahan minyak
kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam adalah 41,51%; artinya kegiatan
perkebunan ini dapat dilanjutkan.
7.2.10 Break Event Point (BEP)
BEP merupakan menentukan pada tingkat produksi dan harga untuk
memberikan titik dimana penjualan akan impas menutup biaya tetap dan biaya
variabel. Nilai BEP untuk pabrik biodiesel berkapasitas (10.000 liter/hari) yang
digabungkan dengan usaha perkebunan kelapa sawit dengan luas 10.000 ha dan
pabrik pengolahan minyak kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton TBS/jam adalah
2 tahun; artinya kegiatan perkebunan akan memperoleh keuntungan pada tahun
ke-2 setelah mulai dilakukan kegiatan produksi atau tahun ke 4 setelah penanaman
kelapa sawit.
BAB VIII
ANALISIS INTERNAL-EKSTERNAL
PABRIK BIODIESEL DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Penggunaan liquid waste untuk memenuhi kebutuhan bahan baku
biodiesel perlu dipertimbangkan. Untuk proses pembuatan biodiesel mungkin
dapat ekonomis karena harga liquid waste cukup rendah. Potensi ekstraksi bahan
baku biodiesel dari liquid waste diperkirakan mencapai dua persen dari total
produksi Crude Palm Oil. Secara ekonomi pengembangan biodiesel berbahan
baku liquid waste cukup kompetitif karena harga liquid waste tersebut hanya
Rp.400 per kilogram (Wirawan, 2004), tetapi volume ketersediaan liquid waste
pada suatu pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) sangat terbatas, sehingga untuk
pengembangan biodiesel skala ekonomi akan muncul masalah dalam
pengangkutan dan pengumpulan. Lokasi pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS)
yang tersebar berakibat pada meningkatnya biaya untuk pengumpulan dan
pengangkutan liquid waste dari pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) ke pabrik
biodiesel sehingga akan mempengaruhi keekonomian penggunaan liquid waste
sebagai sumber bahan baku biodiesel.
Pendirian pabrik Biodiesel (liquid waste) di Kabupaten Kuantan Singingi
memerlukan strategi dan arahan dalam pelaksanaan agar optimasi antara berbagai
pihak dapat dicapai. Strategi dan arahan tersebut dapat diperoleh dengan
mengetahui faktor internal dan eksternal yang sering disebut dengan analisis
SWOT (Strength, Weaknesees, Opportunities and Treats). Kekuatan dan
kelemahan merupakan faktor internal yang mempengaruhi pendirian pabrik
Biodiesel (liquid waste) di Kabupaten Kuantan Singingi. Sedangkan peluang dan
ancaman merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi pendirian pabrik
tersebut yang bisa secara nasional maupun internasional.
Faktor internal yang ada dilakukan pembobotan dan perangkingan yang
kemudian dimasukkan kedalam tabel IFAS (Iternal Strategic Factors Analysis
Summary). Sedangkan faktor eksternal akan dimasukkan kedalam tabel EFAS
(External Strategic Factors Analysis Summary). Kedua tabel diatas dapat dilihat
berikut ini:
Tabel 32. IFAS dan EFAS Pendirian Pabrik Biodiesel (Liquid Waste) di
Kabupaten Kuantan Singingi.
No. Faktor-faktor Strategis
Bobot
(B)
Rating
(R)
Nilai
(B x R)
Kode
Internal
Kekuatan
Potensi ketersediaan bahan baku 0,20 4 0,80 S1
Tersedianya sumberdaya manusia 0,10 2 0,20 S2
Dukungan pemerintah 0,15 3 0,45 S3
Meningkatnya kesadaran masyarakat 0,05 1 0,05 S4
Sub Total Kekuatan 0,50
Kelemahan
Keterbatasan infrastruktur 0,25 3 0,75 W1
Belum adanya peraturan daerah 0,15 2 0,30 W2
Pemanfaatan liquid waste sebagai
pupuk organik
0,10 1 0,10 W3
Sub Total Kelemahan 0,50
1.
Total IFAS 1,00
Eksternal
Peluang
Peningkatan harga dan kebutuhan
energi
0,20 4 0,80 O1
Proyeksi produksi biodiesel 0,05 1 0,05 O2
Terbukanya kesempatan bagi swasta 0,10 2 0,10 O3
Kenaikan harga minyak mentah 0,15 3 0,15 O4
Sub Total Peluang 0,50
Ancaman 1,00
Adanya energi alternatif lainnya 0,25 3 0,75 T1
Isu lingkungan 0,10 1 0,10 T2
Konflik lahan 0,15 2 0,15 T3
Sub Total Ancaman 0,50
2.
Total EFAS 1,00
Sumber: Data Primer, 2007 (diolah)
8.1 Faktor Internal
Faktor internal yang mempengaruhi pendirian pabrik biodiesel berbasis
liquid waste di Kabupaten Kuantan Singingi dibagi menjadi dua yaitu kekuatan
dan kelemahan. Masing-masing faktor diuraikan sebagai berikut:
8.1.1 Kekuatan
Faktor-faktor yang menjadi kekuatan dalam pendirian pabrik biodiesel
berbasis liquid waste di Kabupaten Kuantan Singingi antara lain:
1. Potensi ketersediaan bahan baku limbah cair (liquid wasate) dari pabrik
pengolahan kelapa sawit (PKS)
Perkembangan luas areal kelapa sawit selama dua dekade terakhir
menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, yaitu dari 290 ribu Ha pada
tahun 1980 menjadi 5,5 juta ha pada tahun 2005 atau tumbuh sekitar
12,9% per-tahun. Pertumbuhan yang tertinggi terjadi pada perkebunan
rakyat, yaitu dari 6 ribu ha tahun 1980 menjadi 2,9 juta ha pada tahun
2005 atau tumbuh 32,1% per-tahun. Sedangkan pada perkebunan besar
swasta tumbuh 15,6% per-tahun dan perkebunan besar negara hanya
tumbuh 5,2% per-tahun.
Dari segi areal, Indonesia memiliki areal perkebunan kelapa sawit nomor
satu di dunia. Namun dari segi produksi, Malaysia masih merupakan
negara produsen nomor satu di dunia. Tahun 2005, Malaysia memiliki
areal perkebunan kelapa swait seluas 3,7 juta ha. Tapi negara jiran ini
mampu memproduksi minyak sawit sebesar 14,9 juta ton. Sedangkan
Indonesia hanya memproduksi sekitar 12 juta ton. Ini berarti, tingkat
produktivitas perkebunan kelapa sawit di Malaysia jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan Indonesia. Malaysia, rata-rata produktivitasnya
sudah mencapai 4 ton CPO/ha/th. Sedangkan Indonesia baru mencapai
3 ton/ha/tahun.
Tahun 2006 Provinsi Riau merupakan provinsi yang memiliki areal
perkebunan kelapa sawit yang terluas di Indonesia yaitu 1.409.715 ha
dengan produksi sebesar 3,3 juta ton/tahun. Luas perkebunan kelapa sawit
di Provinsi Riau tersebar pada 11 (sebelas) kabupaten. Kabupaten Rokan
Hulu memiliki areal yang paling luas bila dibandingkan dengan
Kabupaten/Kota lainnya, yaitu 338.661 ha atau 22.86 persen dari total
jumlah keseluruhan, diikuti oleh Kabupaten Kampar seluas 215.033 ha
atau 14.51 persen dan Kabupaten Pelalawan seluas 197.356 ha atau 13.32
persen. Sedangkan Kabupaten yang paling sedikit areal untuk perkebunan
kelapa sawit adalah Kota Dumai seluas 19.020 ha atau 1.28 persen.
Namun, dari segi produksi, Kabupaten Kuantang Singingi justru
mempunyai jumlah produksi yang paling banyak, yaitu 732.675 ton atau
19.41 persen dari total keseluruhan produksi sawit di Provinsi Riau.
Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak 627.206 ton atau 16.61 persen dan
Kabupaten Kampar sebanyak 520.648 ton atau 13.79 persen. Sedangkan
Kabupaten/Kota yang paling sedikit jumlah produksi kelapa sawitnya
adalah Kota Dumai sebanyak 5.361 ton atau 0.14 persen.
Hasil dari proses pengolahan kelapa sawit sebanyak 1 ton menghasilkan
140-200 kg CPO tergantung pada kualitas buah. Selain menghasilkan
CPO, proses pengolahan kelapa sawit juga menghasilkan berbagai limbah
diantaranya limbah cair (liquid waste), serat, cangkang, tandan kosong
kelapa sawit (TKKS). Pengolahan 1 ton kelapa sawit akan menghasilkan
600-700 kg, 190 kg serat dan cangkang, serta 230 kg TKKS. Sehingga
potensi Provinsi Riau sebagai penghasil limbah cair (liquid waste) sebesar
1,98-2,31 miliar ton/tahun. Sedangkan, untuk Kabupaten Kuantan Singingi
sebesar 439,61-512,87 juta ton/tahun.
2. Tersedianya sumberdaya manusia yang dapat dibina dan diarahkan untuk
menjadi tenaga kerja yang handal.
Berdasarkan data statistik tahun 2004, penduduk kabupaten Kuantan
Singingi berjumlah 246.253 jiwa, yang terdiri dari laki-laki berjumlah
124.720 jiwa (50,65 persen) dan perempuan berjumlah 121.533 jiwa
(49,35 persen). Jumlah rumah tangga sebesar 60.678 rumah tangga dengan
rata-rata penduduk 4,06 per rumah tangga, dengan rata-rata laju
pertumbuan penduduk Kabupaten Kuantan Singingi dari tahun 2001
sampai tahun 2005 sebesar 4,8 persen per tahun. Laju pertumbuhan
penduduk yang relatif lebih tinggi ini disebabkan oleh perkembangan
perekonomian Kuantan Singingi yang cukup signifikan sehingga
mendorong migrasi.
Pencari kerja tahun 2005 di Kabupaten Kuantan Singingi berjumlah
11.447 orang, yang terdiri dari 5.571 laki-laki dan 5.876 perempuan. Dari
jumlah pencari kerja tersebut 99 orang tamat Sekolah Dasar (SD), 153
orang tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), 5.878 orang tamat
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), 821 orang tamat Program
Diploma, dan 4.496 orang lulusan Program Strata Sarjana. Jumlah pencari
kerja per tahunnya dapat dilihat pada Tabel 33 berikut ini.
Tabel 33. Jumlah Pencari Kerja di Kabupaten Singingi Tahun 2001-2005.
Tahun Jumlah Pencari Kerja Pertumbuhan (%)
2001 368
2002 1.052 65,02
2003 1.517 30,65
2004 4.861 68,79
2005 11.447 57,54
Sumber: Dinas Kependudukan dan Tenaga Kerja Kabupaten Kuantan Singingi, 2005.
3. Adanya dukungan pemerintah pusat terhadap penyediaan energi alternatif
yang bersumber dari liquid wasate.
Adanya kebijakan nasional yang mensyaratkan kondisi emisi kendaraan
harus pada tahap EURO 2. Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan
sejumlah peraturan seperti:
- Instruksi Presiden Republik Indonesia No 1 Tahun 2006 tentang
Upaya Percepatan Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar
Nabati.
- Peraturan Presiden Republik Indonesia No 5 Tahun 2006 tentang
Kebijakan Energi Nasioanal.
- Keputusan Presiden Republik Indonesia No 10 Tahun 2006 tentang
Pembentukan Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati.
- Rancangan Peraturan Pemerintah No 148 Tahun 2006 tentang
Pemberian Insentif Pajak Untuk Bidang Usaha Bahan Bakar Nabati.
Menurut Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk
Teknologi dan Sumber Daya Manusia (Evita Legowo), dalam seminar
Pengelolaan Energi Nasional yang dilakukan oleh Pusdatin ESDM pada
hari Selasa, 19 Desember 2007 yang lalu, kenaikan harga minyak dunia
akan meningkatkan pemasukan negara dari sub sektor migas, akan tetapi
disisi lain jumlah subsidi yang harus disediakan oleh Pemerintah juga
meningkat. Hal ini disebabkan karena disamping Indonesia mengekspor
minyak bumi, juga mengimpor BBM. Penerimaan diperoleh dari minyak
mentah yang dieskpor, sementara subsidi meningkat karena 57% BBM
yang dipasarkan di dalam negeri mengandung komponen subsidi. Realisasi
subsidi untuk tahun 2007 diperkirakan mencapai 38.280.385 kilo liter atau
Rp. 87.774,57 miliar (dengan asumsi ICP US$ 72,42 dan kurs Rp. 9.215).
Jumlah ini mencakup subsidi BBM dan Subsidi LPG masing-masing
sebesar 38.224 061 KL (Rp. 87.648,66 miliar) untuk BBM dan 36.324 KL
(Rp. 125,91 miliar) untuk LPG.
Selain itu, pada taraf internasional terdapat Protokol Kyoto tentang Clean
Development Mechanism (CDM) dan Standardisasi Internasional seperti
ISO 14.000 tentang Sistem Pengendalian Lingkungan. Dengan demikian,
keberadaan industri biodiesel sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan
mulai di perhitungkan dan dianggap memiliki potensi besar untuk
dikembangkan. Sementara itu, sampai saat ini importir Eropa tidak mau
membeli produk-produk dari pabrik yang tidak memperhatikan aspek
lingkungan.
4. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan energi
alternatif dari liquid waste.
Isu lingkungan yang kian menuntut penggunaan bahan bakar minyak
(BBM) yang ramah lingkungan, menyebabkan munculnya ide-ide
penggunaan energi alternatif yang bersumber dari produk tumbuh-
tumbuhan. Energi alternatif ini digunakan sebagai pencampur maupun
pengganti bahan bakar minyak yang berasal dari fosil. Salah satu bahan
bakar alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut
adalah biodiesel yang bersumber dari limbah cair (liquid waste) kelapa
sawit.
Kabupaten Kuantan Singingi memiliki potensi sumberdaya bahan baku
limbah cair (liquid waste) kelapa sawit yang sampai saat ini belum
termanfaatkan secara maksimal. Para pengusaha perkebunan kelapa sawit
di Kabupaten Kuantan Singingi menggunakan liquid waste sebagai pupuk
organik dan sebagian lagi dibuang ke sungai melalui proses pensteliran.
Dilain pihak, kebutuhan energi untuk perusahaan perkebunan masih
dicukupi dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) maupun dari penggunaan
limbah cangkang (shell) sebagai penggerak steam turbin.
Banyak usaha yang telah dilakukan oleh perusahaan perkebunan kelapa
sawit di Kabupaten Kuantan Singingi untuk menanggapi isu lingkungan
tersebut diantaranya dengan melakukan penelitian tentang pemanfaatan
limbah kelapa sawit yang dihasilkan. Selain itu sebagian pabrik telah
menggunakan campuran bahan bakar alternatif (biodiesel) dengan minyak
solar untuk memenuhi kebutuhan energi pabrik.
8.1.2 Kelemahan
Faktor-faktor yang menjadi kelemahan dalam pendirian pabrik biodiesel
berbasis liquid waste di Kabupaten Kuantan Singingi antara lain:
1. Keterbatasan infrastruktur penunjang, serta terpusatnya infrastruktur di
daerah ibu kota provinsi yaitu Pekanbaru.
Infrastruktur wilayah merupakan aspek yang vital dalam pembangunan
daerah baik dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi maupun
sosial. Infrastruktur wilayah tersebut terdiri dari sistem transportasi, sistem
pengairan, energi, telekomunikasi dan prasarana perumahan. Kebutuhan
akan infrastruktur wilayah tidak terlepas dari fungsi dari perannya
terhadap pembangunan yaitu sebagai pengarah pembentukan struktur
tataruang, pemenuhan kebutuhan wilayah, pemacu pertumbuhan suatu
wilayah dan pengikat wilayah.
Persoalannya adalah infrastruktur penunjang untuk kegiatan pendukung
aktivitas dari pabrik biodiesel berbasis limbah cair (liquid waste) pabrik
pengolahan kelapa sawit umumnya terletak di ibu kota Provinsi Riau yaitu
Kota Pekanbaru. Infrastruktur tersebut antara lain pelabuhan laut, udara
dan darat. Fungsi dari infrastruktur tersebut adalah untuk pengangkutan
bahan baku serta pendistribusian atau pemasaran produk biodiesel (liquid
waste) ke daerah lain.
Bidang transportasi dan perhubungan memegang peranan yang strategis
dalam pengembangan wilayah maupun untuk menunjang perkembangan
perekonomian daerah. Untuk lebih jelasnya infrastruktur jalan di
Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2005 berdasarkan status, jenis dan
kondisi permukaannya dapat dilihat pada Tabel 34 dan 35.
Tabel 34. Kondisi Infrastruktur Jalan Berdasarkan Jenis Permukaan Jalan
Tahun 2005.
Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten
Jenis Permukaan
Km % Km % Km %
Aspal 124,54 100 79,35 54,54 285,83 14,83
Kerikil - - 66,13 45,46 724,45 37,58
Tanah - - - - 917,32 47,59
Jumlah 124,54 100 145,48 100 1927,60 100
Sumber: Dinas Kimpraswil Kabupaten Kuantan Singingi, 2005.
Tabel 35. Kondisi Infrastruktur Jalan Berdasarkan Status Jalan Tahun
2005
Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Jenis
Permukaan Km % Km % Km %
Baik 118,31 95 100,98 69,30 459,287 23,83
Sedang 6,23 5 38,50 26,46 1175,213 60,97
Rusak - - 6,00 4,24 293,121 15,20
Jumlah 124,54 100 145,47 100 1927,60 100
Sumber: Dinas Kimpraswil Kabupaten Kuantan Singingi, 2005.
2. Belum tersedianya dukungan dari pemerintah daerah yang terkait dengan
pemanfaatan energi alternatif yang bersumber dari limbah cair (liquid
waste) pabrik pengolahan kelapa sawit.
Peraturan daerah yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Kuantan
Singingi mengenai pemanfaatan energi alternatif yang merupakan
tindaklanjut dari Kepres No. 5 Tahun 2006 dan Inpres No. 1 Tahun 2006
sampai saat ini belum ada termasuk dalam pengelolaan liquid waste
menjadi biodiesel. Kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap hal
ini lebih disebabkan oleh status kabupaten yang masih baru sehingga
kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan masih terkait dengan aturan-aturan
yang menyangkut tata pemerintahan lama. Arah kebijakan utama
pembangunan Kabupaten Kuantan Singingi dalam mengemban visi dan
mencapai misi pembangunan berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2006-
20011 antara lain:
- Pengentasan kemiskinan melalui peningkatan ekonomi kerakyatan
dan kesejahteraan masyarakat.
- Peningkatan pendidikan masyarakat.
- Peningkatan kesehatan masyarakat.
- Peningkatan bidang penunjang lainnya seperti infrastruktur, agama,
hukum dan HAM, adat dan budaya, serta penyandang masalah
kegiatan sosial.
Semua itu masih dalam proses persiapan awal sehingga efektivitasnya
masih belum penuh. Sedangkan arah kebijakan umum pada sektor
perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kuantan
Singingi Tahun 2006-20011 yaitu mengembangkan perekonomian yang
berorientasi global berdasarkan keunggulan produk perkebunan. Namun,
dari sisi pemanfaatan energi alternatif, terutama yang bersumber dari
limbah cair (liquid waste) pabrik pengolahan kelapa sawit, belum memiliki
arah kebijakan utama maupun yang umum.
3. Pemanfaatan limbah cair (liquid waste) pabrik pengolahan kelapa sawit
sebagai pupuk organik oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Khusus untuk limbah cair, PKS memiliki potensi menghasilkan
limbah cair per ton TBS yang paling besar dibandingkan dengan
limbah lainnya (sekitar 50%). Lubis dan Tobing (1989) menyatakan
bahwa setiap proses produksi 1 ton MSM dihasilkan limbah cair
sebanyak 5 ton dengan BOD 20.00060.000 mg/l. Limbah cair kelapa
sawit (LCPKS) akan menjadi bahan pencemar bila dibuang ke sungai.
Keadaan tersebut akan membahayakan kehidupan manusia dan
sejumlah biota di sungai. Ditinjau dari segi kandungan haranya, setiap
1 ton limbah PKS mengandung hara setara dengan 1,56 kg Urea,
0,25 kg TSP, 2,50 kg MOP, dan 1,00 kg kieserite (Lubis dan
Tobing, 1989). Limbah cair PKS disamping sebagai sumber hara
makro dan mikro yang penting bagi tanaman juga merupakan sumber
bahan organic yag dapat berperan pada perbaikan sifat kimia dan sifat
fisik tanah antara lain peningkatan kapasitas tukar kation (KTK) dan
orositas tanah (Huan, 1987). Pemanfaatan limbah cair sebagai
pupuk/bahan pembenah tanah di perkebunan kelapa sawit sangat
dimungkinkan atas dasar adanya kandungan hara dalam limbah
ersebut. Pemanfaatan limbah ini disamping sebagai sumber
pupuk/bahan organik juga akan mengurangi biaya pengolahan limbah
sebesar 50-60% (Pamin et al, 1996).
Berbagai hasil penelitian dan pengamatan aplikasi limbah cair pada
perkebunan kelapa sawit umumnya melaporkan bahwa aplikasi tesebut
secara nyata dapat meningkatkan produksi kelapa sawit (Tabel 36).
Hasil percobaan PPKS menunjukkan bahwa kombinasi pemberian
limbah cair dengan dosis 12,66 mm ECH perbulan dengan pupuk
organik sebanyak 50% dari dosis standar kebun, dapat meningkatkan
produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 36% dibanding pada
perlakuan tanpa aplikasi limbah cair dengan aplikasi pupuk standar
kebun 100%.
PT. PN III juga telah melakukan aplikasi limbah cair PKS di
beberapa kebun antara lain kebun Aek Nabara Selatan, Sisumut,
Torgamba dan Sei Baruhur. Dosis aplikasi limbah yang digunakan
adalah 10 cm ECH/ha/th dengan frekuensi aplikasi setiap dua bulan
(setiap aplikasi 185 m3/ha) dan pemberian pupuk anorganik dosis
standar. Hasil pengamatan produktivitas tanaman kelapa sawit pada
aplikasi limbah cair tersebut menunjukkan adanya peningkatan
roduktiitas rata-rata sebesar 19,5% (Tabel 37).
Tabel 36. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) pada beberapa Percobaan
Limbah Cair.
Malaysia
Parameter
PORIM
EBOR
RS
United
Plantation
Guthrie
Indonesia
TBS (kg/ha/thn) 25,8
(160)
20,8
(129)
28,8
(129)
31,8
(116)
29,3
(136)
Jumlah Tandan
(tandan/ha/thn)
- 987
(111)
- 1268
(104)
909
(129)
Bobot Tandan
(kg/tandan)
- 21,1
(103)
- 25,2
(103)
32,2
(106)
Sumber: Sutarta et al, 2000.
Keterangan: angka dalam tanda kurung menyatakan persen terhadap kontrol (tanaman
yang tidak diberi limbah cair kelapa sawit).
Tabel 37. Produktivitas Kelapa Sawit pada areal aplikasi limbah cair
(liquid waste) pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) di
beberapa kebun milik PT. Perkebunan Nusantara III.
Produktivitas Kelapa Sawit
(kg/ha/thn) Kebun Flatbed
Luas
Efektif
(ha) 1998 1999
Aek Nabara Selatan 20.170 150 21.920 (105) 24.419 (109)
Sisumut 10.335 100 16.284 (133) 14.826 (107)
Torgamba 20.202 140 21.904 (155) 19.056 (105)
S. Baruhur 16.484 100 20.256 (123) 20.684 (119)
Sumber: Sutarta et al (2000)
Keterangan: angka dalam kurung menyatakan persentase terhadap kontrol (tanaman yang
tidak diberi limbah cair PKS).
Kenaikan produksi TBS tersebut disebabkan oleh adanya kenaikan
kedua komponen produksi yaitu jumlah tandan dan bobot tandan.
Berdasarkan hasil penelitian PPKS, dosis aplikasi limbah cair yang
dianjurkan adalah 12,66 mm ECH/bulan yang dikombinasikan dengan
50% dosisi pupuk standar kebun. Dosis 12,66 mm ECH/bulan setara
dengan 126.000 liter/ha.
8.2 Faktor Eksternal
Faktor eksternal dalam pendirian pabrik biodiesel berbasis liquid waste
dibagi menjadi dua, yaitu peluang dan ancaman. Kedua variabel tersebut
dijabarkan sebagai berikut:
8.2.1 Peluang
Faktor-faktor yang menjadi peluang dalam pendirian pabrik biodiesel
berbasis liquid waste di Kabupaten Kuantan Singingi antara lain:
1. Harga dan kebutuhan energi semakin meningkat.
Dalam sekitar 10 tahun terakhir dari 1994 sampai dengan 2004,
penggunaan minyak solar diperkirakan mencapai rata-rata lebih 41 persen
dari total penggunaan BBM dalam negeri. Minyak solar tersebut diperoleh
dari produksi kilang minyak dalam negeri dan dari impor. Karena harga
minyak solar sangat bergantung pada harga minyak mentah dunia maka
dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia diperkirakan akan
semakin meningkatkan harga minyak solar.
Minyak solar sebenarnya adalah BBM yang diperuntukkan untuk sektor
transportasi. Namun dalam kenyataannya bahan bakar tersebut banyak
pula yang dipergunakan untuk sektor-sektor lainnya seperti sektor industri
dan pembangkit listrik. Sesuai dengan perkembangan penduduk,
kebutuhan minyak solar untuk sektor transportasi, industri, dan
pembangkit listrik dari tahun ke tahun semakin meningkat seperti
diperlihatkan pada Tabel 37. Selama sepuluh tahun terakhir, yaitu dari
tahun 1994 sampai dengan tahun 2004 total kebutuhan minyak solar untuk
semua sektor meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sekitar lima persen
per tahun, sehingga total kebutuhan atau penggunaan minyak solar
tersebut meningkat lebih dari 1,5 kali lipat selama periode tersebut. Sesuai
dengan peruntukkannya, sebagian besar dari dari minyak solar
dipergunakan untuk sektor transportasi, disusul untuk sektor industri dan
pembangkit listrik. Meskipun pangsa penggunaan minyak solar untuk
sektor pembangkit listrik paling kecil, namun kebutuhan minyak solar
pada sektor tersebut yang paling pesat pertumbuhannya, yaitu meningkat
lebih dari sembilan persen per tahun, sedangkan kebutuhan minyak solar
pada sektor transportasi dan industri, masing-masing hanya meningkat
4,26 persen dan 4,69 persen per tahun. Rendahnya pertumbuhan
kebutuhan minyak solar pada sektor transportasi, menyebabkan pangsa
penggunaannya cenderung menurun, sedangkan pangsa penggunaan
minyak solar pada sektor-sektor lainnya cenderung meningkat.
Tabel 38. Kebutuhan Minyak Solar Menurut Sektor Tahun 1994 - 2004.
Transportasi Industri Listrik
Tahun
Jumlah
(.000 kl)
(%)
Jumlah
(.000 kl)
(%)
Jumlah
(.000 kl)
(%)
Total
1994 8.443,64 52,72 5.664,89 35,37 1.908,81 11,92 16.016,87
1995 9.150,97 53,91 5.993,30 35,31 1.830,73 10,78 16.975,01
1996 10.326,97 54,85 6.264,81 33,27 2.235,72 11,87 18.827,52
1997 11.436,52 52,33 6.384,02 29,21 4.032,16 18,45 21.852,71
1998 10.818,50 54,88 5.877,91 29,82 3.017,71 15,31 19.714,12
1999 11.076,53 54,57 6.162,78 30,36 3.058,21 15,07 20.297,53
2000 12.152,82 55,06 6.674,51 30,24 3.244,92 14,70 22.072,25
2001 12.946,41 55,40 7.047,81 30,16 3.373,57 14,44 23.367,79
2002 12.650,85 52,25 7.015,91 28,98 4.546,07 18,78 24.212,84
2003 12.108,93 50,32 6.833,49 28,40 5.122,02 21,28 24.064,45
2004 12.816,78 48,39 8.956,06 33,81 4.714,89 17,80 26.487,75
Sumber: Diadaptasi dan diolah dari Ditjen. Migas, 1994-2004.
Kecenderungan meningkatnya penggunaan minyak solar pada sektor lain
selain transportasi tersebut kemungkinan disebabkan kemudahan dalam
memperoleh minyak solar karena tersedia di seluruh Depot di Indonesia,
serta perubahan dalam pola industri. Perubahan ini dapat terjadi akibat
pergeseran jenis industri yang dahulu memakai jenis energi lain seperti
minyak bakar, batubara serta listrik, berubah menjadi pemakai minyak
solar yang mungkin dipakai untuk pembangkit listrik diesel sendiri. Sektor
industri maupun pembangkit listrik dapat lebih mudah memperoleh
walaupun dengan harga yang berbeda dengan solar untuk transportasi.
Harga minyak solar untuk transportasi karena masih diatur secara
tersendiri lebih murah dibandingkan harga minyak diesel industri terutama
sebelum tahun 2004. Meskipun terjadi penurunan pangsa penggunaan
minyak solar pada sektor transportasi, tetapi sektor transportasi masih
tetap paling dominan dalam penggunaan minyak solar dibandingkan
dengan sektor-sektor lainnya. Mengingat jenis penggunaaannya sektor
transportasi sulit untuk menggantikan kebutuhan bahan bakarnya (BBM)
dengan jenis bahan bakar yang lain, sehingga jumlah konsumsi sektor
transportasi akan sensitif terhadap fluktuasi harga minyak.
Penyediaan minyak solar untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam
negeri diperoleh selain dari hasil pengilangan minyak di dalam negeri juga
dari impor. Adanya impor minyak solar tersebut menunjukkan
ketidakmampuan kilang minyak dalam negeri untuk memenuhi seluruh
kebutuhan minyak solar dalam negeri. Perkembangan besarnya produksi
minyak solar baik yang diproduksi dari kilang dalam negeri maupun yang
diimpor dapat dilihat pada Tabel 39.
Tabel 39. Perkembangan Produksi dan Impor Minyak Solar dari 1994-
2004.
Produksi Import
Tahun
Jumlah
(.000 kl)
(%)
Jumlah
(.000 kl)
(%)
Total
(.000 kl)
1994 11.682 76,50 3.588 23,50 15.270
1995 13.209 78,87 3.538 21,13 16.747
1996 14.212 74,86 4.773 25,14 18.985
1997 13.759 62,81 8.148 37,19 21.907
1998 14.553 74,25 5.048 25,75 19.601
1999 14.751 71,88 5.770 28,12 20.521
2000 15.249 67,95 7.194 32,05 22.443
2001 15.253 65,94 7.879 34,06 23.132
2002 14.944 60,79 9.637 39,21 24.581
2003 15.035 60,16 9.955 39,84 24.990
2004 15.685 55,97 12.339 44,03 28.024
Sumber: Diadaptasi dan diolah dari Ditjen. Migas, 1994-2004.
Tabel 38 dan 39 memperlihatkan perkembangan kebutuhan dan
penyediaan minyak solar. yang terdiri atas sektor transportasi, industri dan
pembangkit tenaga listrik dari tahun 1994 sampai dengan 2004. Total
penyediaan atau konsumsi minyak solar dalam negeri meningkat dengan
pertumbuhan rata-rata sekitar enam persen per tahun. Sebagian besar
peningkatan tersebut ditunjang oleh pesatnya kebutuhan yang meningkat
dengan pertumbuhan konsumsi minyak solar rata-rata sekitar 5,16 % per
tahun, sedangkan pertumbuhan sektor transportasi sebesar 4,26 % per
tahun. Dengan pertumbuhan produksi minyak solar dari kilang dalam
negeri hanya sekitar tiga persen per tahun, maka selama 10 tahun terakhir
ini (1994 – 2004) impor minyak solar meningkat cepat dengan laju
pertumbuhan sebesar 13,15 % per tahun. Dari perkembangan selama
beberapa tahun ini, terlihat bahwa produksi minyak solar tidak mengalami
pertumbuhan yang cukup berarti, sehingga dengan peningkatan kebutuhan
minyak solar, maka impor solar akan makin meningkat yang pada
akhirnya akan membebani anggaran pembangunan serta mengurangi
ketahanan energi Indonesia. Oleh karena itu, perlu dikembangkan bahan
bakar alternatif sebagai pengganti minyak solar atau setidaknya
mengurangi impor, terutama yang dapat dipenuhi di dalam negeri, antara
lain melalui penerapan teknologi GTL (gas to liquid), pencairan batubara,
serta BTL (biomas to liquid) yang terdiri dari pengolahan minyak nabati
dan pengolahan bahan berbasis selulosa.
2. Proyeksi produksi biodiesel oleh pemerintah Indonesia.
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, total
kebutuhan biodiesel saat ini mencapai 4.12 juta kiloliter per tahun.
Sementara kemampuan produksi biodiesel pada tahun 2006 baru 110 ribu
kiloliter per tahun. Pada tahun 2007 kemampuan produksi direncanakan
akan ditingkatkan menjadi 200 ribu kiloliter per tahun. Produsen-produsen
lain merencanakan juga akan beroperasi pada 2008 sehingga kapasitas
produksi akan mencapai sekitar 400 ribu kiloliter per tahun.
Cetak biru (blueprint) Pengelolaan Energi Nasional mentargetkan
produksi biodiesel sebesar 0.72 juta kiloliter pada tahun 2010 untuk
menggantikan 2 % konsumsi solar yang membutuhkan 200 ribu hektar
kebun sawit dan 25 unit pengolahan berkapasitas 30 ribu ton per tahun
dengan nilai investasi sebesar Rp1.32 triliun; hingga menjadi sebesar 4.7
juta kiloliter pada tahun 2025 untuk mengganti 5 % konsumsi solar yang
membutuhkan 1.34 juta hektar kebun sawit dan 45 unit pengolahan
berkapasitas 100 ribu ton per tahun dengan investasi mencapai Rp. 9
triliun.
Dengan asumsi pertambahan produksi biodiesel rata-rata 150 ribu kiloliter
per tahun selama periode 2006-2015, dan meningkat menjadi 300 ribu
kiloliter per tahun selama periode 2016-2025, maka proyeksi target
produksi biodiesel seperti pada Tabel 40.
Tabel 40. Proyeksi Target Produksi Biodiesel s/d Tahun 2025 (dalam ribu
kiloliter).
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2015 2025
Produksi 110,0 262,5 415,0 567,5 720,0 1.500 4.700
Pertambahan rata-rata per
thn
152,5 152,5 152,5 152,5 152,5 156,0 320,0
Ket: * Target produksi 2006-2007 cfm. Balitbang Deptan
** Target Produksi 2010 s/d 2025 cfm. Cetak Biru Pengelolaan Energi Nasional
*** Proyeksi Target produksi 2008-2009 dengan asumsi pertambahan produksi rata-
rata 150 ribu kiloliter per thn
Saat ini pabrik biodiesel milik BPPT berkapasitas 1.5 ton per hari telah
beroperasi di kawasan Puspitek Serpong (Tahun 2006), dan mulai bulan
Juli 2006 pabrik biodiesel kedua dengan kapasitas 3 ton per hari milik
BPPT juga akan beroperasi. Kedua pabrik tersebut menggunakan multi
bahan baku seperti CPO dalam berbagai mutu, minyak jarak, minyak mutu
rendah dari limbah pabrik minyak goreng dan kopra. Pabrik pengolahan
biodiesel tidak membutuhkan biaya investasi besar sehingga dapat
dikembangkan melalui unit kecil dan dikelola oleh usaha kecil dan
menengah (UKM). Sebagai gambaran, pabrik dengan kapasitas produksi 3
ton per hari hanya membutuhkan investasi Rp. 3.9 miliar dan masa
pengembalian sekitar 3 tahun.
3. Dibukanya kesempatan kepada pihak swasta untuk berperan dalam
kegiatan hulu hingga hilir dalam usaha biodiesel.
Dengan pembukaan pabrik biodiesel yang berbasiskan liquid waste di
Kabupaten Kuantan Singingi akan menimbulkan ketahanan terhadap
persediaan energi. Hal ini mengakibatkan sektor industri, listrik,
transportasi dan sektor-sektor lain yang sangat tergantung pada kebutuhan
energi akan berproduksi secara kontinue. Selain itu persaingan usaha akan
menguntungkan karena adanya ketersediaan energi yang kontinue dengan
harga yang relatif bersaing.
4. Kenaikan harga minyak dunia.
Biodiesel sampai saat ini masih diposisikan sebagai barang substitusi
BBM bukanlah barang yang bersifat indepeden. Artinya permintaan
Biodiesel selain tergantung dari harga Biodiesel itu sendiri, juga
tergantung dari harga BBM. Jika harga BBM mengalami kenaikan, maka
konsumen akan beralih ke Biodiesel dan berlaku sebaliknya. Harga
minyak dunia yang sangat tinggi seperti saat ini, merupakan berkah
tersendiri untuk pengembangan Biodiesel di Kabupaten Kuantan Singingi.
Meskipun harga minyak dunia saat ini berada pada level 108 US$/barel,
tidak menutup kemungkinan bahwa harga minyak dunia akan mengalami
penurunan. Kondisi ini didukung oleh data sejarah harga minyak dunia,
ketika harga mencapai titik kulminasi maka harga cenderung turun.
Penurunan harga minyak dunia akan mempengaruhi harga jual minyak
dalam negeri, walaupun harga jual BBM tidak murni diserahkan oleh
mekanisme pasar, tetapi jika terjadi penurunan harga minyak dunia, maka
pemerintah memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan harga jual
minyak dalam negeri.
Data sejarah menunjukkan harga minyak dunia sangat fluktuatif dan
sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Harga minyak dunia pada awal
tahun 1970-an berada pada level 3US$/Barel, tetapi dengan adanya krisis
Arab Israel menyebabkan harga minyak naik sebesar lebih dari 300% yaitu
menjadi 12US$/barel dan terus bergerak naik menjadi 14US$/barel pada
tahun 1978. Krisis Irak-Iran pada tahun 1981 mendorong kenaikan harga
minyak pada level 35US$/Barel. Sedangkan sejak tahun 1983-2002, harga
minyak berada antara 10US$/barel – 30US$/Barel. Sedangkan dari tahun
2002 sampai saat ini, harga terus merangkak naik pada level 95US$/barel.
Gambar 5 . Tren Harga Minyak Dunia (Sep 2006-Sep 2007)
Kenaikan harga minyak secara drastis sejak tahun 2002 disebabkan 5
faktor utama (Dartanto, 2005): Pertama, permintaan minyak yang cukup
besar dari India dan Cina. Kedua, kondisi geopolitik dinegara-negara
OPEC seperti Nigeria, Irak, Iran, Venezuela mendorong penurunan
produksi minyak dunia serta meningkatkan resiko usaha dalam upaya
eksploitasi minyak. Ketiga, badai Katrina dan Rita yang melanda Amerika
Serikat dan merusak kegiatan produksi minyak di Teluk Meksiko.
Keempat, ketidakmampuan dari OPEC untuk menaikkan jumlah produksi.
Kelima, adanya motif spekulasi di future market sehingga mendorong
kenaikan harga minyak dunia.
Jika terjadi perubahan dari kelima faktor diatas seperti terjadi kestabilan
politik khususnya di Irak dan Nigeria, serta pulihnya kegiatan operasional
di Teluk Meksiko, maka penawaran minyak dunia akan bertambah
sehingga akan menurunkan harga minyak dunia. Selain itu, patut diketahui
bahwa OPEC adalah sebuah organisasi kartel yang memiliki karakteristik
yaitu setiap anggota memiliki kecenderungan untuk berbuat kecurangan
dalam kuota produksi. Dalam sebuah kartel maka kondisi nash equilibrium
akan terjadi jika semua anggota mematuhi kesepakatan atau seluruh
anggota tidak mematuhi kesepakatan. Pada kondisi harga minyak tinggi,
anggota OPEC memiliki kecenderungan untuk memproduksi secara besar-
besaran sehingga terjadi kelebihan penawaran dan pada akhirnya akan
mendorong penurunan harga minyak. Indikasi anggota OPEC dan Non-
OPEC berlomba-lomba memproduksi minyak terlihat dari indikasi
penurunan harga minyak dari 78,4 US$/Barel menjadi 66.25 US$/Barel
dalam kurun waktu 2 bulan (Republika Online, 11/09/2006).
Selain itu, berdasarkan data ramalan EIA dalam Annual Energy Outlook
2006, skenario low price menunjukkan bahwa harga minyak dunia akan
mengalami penurunan sampai sekitar 30US$/Barel, sedangkan skenario
High Price harga minyak dunia akan terus merangkak naik mendekatai
level 100US$/Barel. Berdasarkan ramalan ini, para pelaku usaha Biodiesel
harus mampu mencermati dan menyiapkan diri untuk mengambil langkah-
langkah strategis jika harga minyak dunia mengikuti skenario low price.
Selain fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah juga merupakan
faktor penting yang mempengaruhi masa depan pengembangan
Biofuel/Biodiesel di Indonesia. Penentuan harga BBM dalam negeri
sebagai barang substitusi dari Biofuel/Biodiesel tidak hanya ditentukan
oleh harga minyak dunia saja tetapi juga terkait dengan nilai tukar rupiah.
Jika nilai tukar rupiah terus mengalami apresiasi maka harga jual BBM
dalam negeri akan semakin murah. Nilai tukar rupiah selama setahun
terakhir relatif stabil dikisaran Rp. 9.000 – 9.500 rupiah/US$. Tetapi
seiring dengan perbaikan ekonomi dan peningkatan ekspor Indonesia,
maka nilai tukar rupiah diperkirakan akan mengalami apresiasi dibawah
Rp. 9.000. Jika harga minyak dunia berada pada level 70 US$/Barel maka
harga jual keekonomian BBM dalam negeri adalah berkisar antara Rp.
4.430 – 5.540/liter sangat tergantung dari nilai tukar rupiah. Jika harga
minyak dunia pada masa yang akan datang sebesar 45 US$/Barel, maka
harga jual keekonomian BBM dalam negeri adalah berkisar antara Rp.
3.040 – 3.450/liter.
Pertanyaan yang akan muncul adalah: Apakah industri Biodiesel di
Indonesia mampu bertahan jika kondisi diatas benar-benar terjadi? Tetapi
kita tidak perlu terlalu pesimistis, karena masih ada ruang dan waktu bagi
industri Biodiesel untuk melakukan inovasi baik dalam bidang produksi
maupun pemasaran. Pada sisi produksi, pengusaha harus mampu
melakukan efisien dalam proses produksi dengan menekan biaya produksi,
mempercepat proses learning by doing, terus melakukan riset untuk
mengembangkan Biofuel/Biodiesel dari bahan baku yang murah dan
terjamin ketersediannya. Disisi pemasaran, industri Biodiesel harus me-
reposisi dari Biofuel/Biodiesel sebagai barang substitusi BBM menjadi
barang yang relatif independent atau menjadikan pemakaian Biodiesel
sebagai life style. Jika Biofuel/Biodiesel bukan lagi barang substitusi
BBM, maka kondisi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah tidak
banyak mempengaruhi masa depan Biodiesel.
8.2.2 Ancaman
Faktor-faktor yang menjadi peluang dalam pendirian pabrik biodiesel
berbasis liquid waste di Kabupaten Kuantan Singingi antara lain:
1. Bertumbuhnya energi alternatif lainnya.
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki berbagai sumber jenis tanaman
penghasil minyak, misalnya Kelapa Sawit, Kelapa, Jarak Pagar (Jetropha
Curcas), Kacang tanah, Biji Matahari dsb. Berdasarkan data dari
Departemen Pertanian, Indonesia memiliki kurang lebih 30 jenis tanaman
penghasil minyak. Apabila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh,
sumber hayati tersebut memiliki potensi yang cukup besar dalam
penyediaan bahan bakar dalam hal ini bio-diesel.
Pabrik biodiesel yang ada di Indonesia saat ini adalah Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT) 3 ton/hari, Pemerintah daerah Riau 8
ton/hari, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (P2KS) 1 ton/hari, PT Energi
Alternative Indonesia (Pt. EAI) 1 ton/hari.
Potensi material yang paling siap untuk produksi biodiesel saat ini adalah
CPO yang merupakan hasil dari kebun sawit. Indonesia adalah produsen
CPO ke dua terbesar setelah Malaysia, dengan produksi thn 2005
diperkirakan mencapai 13.6 juta ton dengan komposisi ekport sekitar 9.66
juta ton dan 3.94 juta ton konsumsi dalam negri. Dari data perkembangan
luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia diprediksi pada tahun
2010 jumlah areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 10 juta
Ha, dengan produksi 15 juta ton/tahun. Namun karena minyak kelapa
sawit adalah minyak yang bisa dikonsumsi oleh sektor pangan maka
peluang terjadi perebutan material antara sektor pangan dan sektor bahan
bakar (biodiesel) mungkin terjadi.
Kegiatan budi daya tanaman penghasil minyak non-pangan sangat ini
cukup marak dilakukan setelah terjadi kenaikan harga minyak mentah
dunia, serta naiknya harga BBM dalam negri. Jarak Pagar atau Jetropha
Curcas dipilih sebagai tanaman yang layak untuk dibudi dayakan karena
minyak yang dihasilkan tidak bisa dimakan, sehingga nantinya diharapkan
tidak terjadi perebutan material antara industri pangan dan bahan bakar,
bisa tumbuh dilahan kritis sehingga memiliki efek reboisasi, batangnya
bisa berfungsi sebagai kayu bakar, serta cukup besar produktivitasnya.
Kemampuan produksi tanaman jarak pagar berkisar 5 ton biji/Ha thn,
dengan potensi lahan kritis di Indonesia sekitar 20 juta Ha, maka hal ini
akan berpotensi menghasilkan biodiesel sebesar 40 juta ton/tahun.
Tabel 41. Contoh Tumbuhan Penghasil Minyak yang ada di Indonesia.
Nama
Indonesia
Nama Latin Letak
Minyak
Persen
biji
kering
Ket
Alpukat Persea Gratissima Daging Buah 40-80 P
Bidaro Ximenia Americana Inti biji 49-61 NP
Cokelat Theobroma Cacao Biji 54-58 P
Jagung Zea Mays Biji 30-33 P
Jarak Kaliki Ricinus Communis Biji 45-50 NP
Jarak pagar Jetropha Curcas Inti biji 40-60 NP
Kacang
Suuk
Arachis hypogea Biji 35-55 P
Kapok Ceiba Pentandra Biji 24-40 NP
Karet Hevea Brasiliensis Biji 40-50 NP
Kecipir Psophocarpus Tetrag Biji 15-20 P
Kelapa Cocos Nucifera Daging buah 60-70 P
Kelor Moringa Oleifera Biji 30-49 P
Kemiri Aleurites Moluccana Inti biji 57-69 NP
Kusambi Sleichera Trijuga Daging biji 55-70 NP
Nimba Azadirachta Indica Daging biji 40-50 NP
Saga Utan Adenanthera Pavonina Inti biji 14-28 P
Sawit Elais Guineensis Serabut dan
daging buah
45-70
dan 46-
54
P
Seminai Madhuca Utilis Inti biji 50-70 P
Wijen Sesamum Arientale Biji 45-55 P
Keterangan: P=Pangan NP=Non Pangan
Sumber: Sulistyono, 2007.
2. Isu lingkungan.
Pengembangan tanaman perkebunan, kelapa sawit khususnya, akhir-akhir
ini mendapat sorotan karena dianggap merusak lingkungan. Memasuki
awal abad 21, masalah lingkungan masih akan tetap mendapat tekanan,
khususnya dari kalangan LSM lingkungan. Ada beberapa argumen yang
digunakan untuk menyatakan perluasan areal kelapa sawit dapat merusak
lingkungan. Pertama, areal kelapa sawit dianggap berasal dari lahan hutan
yang memberi keuntungan ganda pada pengusaha dalam bentuk kayu dan
produk kelapa sawit. Hal ini memang tidak sepenuhnya benar karena
banyak juga kebun yang berasal dari lahan yang bukan hutan.
Pengusahaan kebun secara monokultur juga dijadikan argumen lain untuk
mendukung kekhawatiran bahwa kelapa sawit dapat merusak lingkungan.
Kasus serangan belalang di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat diyakini
berkaitan dengan habisnya hutan di wilayah tersebut akibat kelapa sawit.
Masalah banjir juga sering dikaitkan dengan perluasan kelapa sawit. Situasi
tersebut akan mempersulit pengembangan kelapa sawit pada masa
mendatang. Untuk itu, pengembanan kelapa sawit harus menerapkan konsep
berkelanjutan dan menerapkan teknologi dengan dampak lingkugan yang
minimal.
3. Konflik lahan.
Masalah lain yang masih harus diantisipasi dalam pengembangan kelapa
sawit adalah konflik lahan dan penjarahan, baik itu penjarahan kebun
maupun produksi. Masalah ini cukup mengkhawatirkan perusahaan
perkebunan, karena masalah ini sudah menyebar lintas wilayah dan
komoditas. Nilai kerugian finansial yang ditimbulkan oleh konflik lahan
dan penjarahan ini, walaupun bervariasi bergantung sumbernya,
sebenarnya sudah sangat besar. Sebuah laporan menyebutkan bahwa
kerugian penjarahan di perkebunan sudah mencapai Rp 5 triliun yang
diderita oleh sekitar 120 perusahaan perkebunan. Selanjutnya,
penyerobotan atau okupasi lahan perkebunan diperkirakan sudah mencapai
lebih dari 100 ribu ha. Situasi ini tidak hanya mencemaskan bagi
perusahaan yang sudah ada, tetapi juga membuat perusahaan baru
membatalkan atau menunda usaha investasi di bisnis perkebunan. Untuk
itu, model pembangunan industri minyak sawit harus benar-benar
memanfaatkan aspek kesinambungan dan keadilan, khususnya dengan
masyarakat sekitar. Dengan perkataan lain, masyarakat sekitar sejak awal
sudah dilibatkan agar menampung aspirasi mereka tertampung secara fair.
8.3 Strategi Pengembangan Biodiesel di Kabupaten Kuantan Singingi
Memperhatikan hasil analisis dimuka dan juga uraian tujuan penelitian ini
yang yang berorientasi menghasilkan kajian tentang kelayakan usaha
pengembangan pabrik biodiesel berbasis limbah cair (liquid waste) dari pabrik
pengolahan kelapa sawit (PKS) pada umumnya maka sasaran jangka pendek
dirumuskan “terwujudnya program pembangunan pabrik biodiesel di Kabupaten
Kuantan Singingi yang dapat melibatkan kegiatan masyarakat setempat melalui
jaringan ekonomi”. Untuk itu, dirumuskan beberapa strategi dan arahan dalam
pendirian pabrik biodiesel (liquid waste) di Kabupaten Kuantan Singingi dengan
teknik matriks SWOT sebagaimana yang terlihat pada Tabel 42.
Tabel 42. Matriks SWOT
Kekuatan (Strengths)
1. Potensi ketersediaan bahan
baku
2. Tersedianya sumberdaya
manusia
3. Dukungan pemerintah
4. Meningkatnya kesadaran
masyarakat
Kelemahan (Weaknesses)
1. Keterbatasan infrastruktur
2. Belum adanya peraturan
daerah
3. Pemanfaatan liquid waste
sebagai pupuk organik.
Peluang (Opportunity)
1. Peningkatan harga dan
kebutuhan energi.
2. Proyeksi produksi
biodiesel
3. Terbukanya kesempatan
bagi swasta
4. Kenaikan harga minyak
mentah.
Strategi SO
Pengembangan Industri
Biodiesel Kerakyatan Berbasis
Ekonomi Jaringan
Strategi WO
Pembuatan Peraturan Daerah
Tentang Pemanfaatan Liquid
waste Sebagai Energi
Alternatif
Ancaman (Threats)
1. Adanya energi alternatif
lainnya.
2. Isu lingkungan
3. Konflik lahan
Strategi ST
Integrasi Pabrik PKS di
Kabupaten Kuantan Singingi
Strategi WT
Menyelenggarakan kerjasama
dengan Pihak Asing Baik
dalam Permodalan,
pengembangan Teknologi
dan pemasaran
Strategi SO merupakan strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki
oleh perusahaan biodiesel (liquid waste) dan memanfaatkan peluang yang ada
untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan. Strategi yang diusulkan adalah
pengembangan industri biodiesel kerakyatan berbasis ekonomi jaringan. Artinya,
industri biodiesel harus mengadopsi teknologi tinggi sebagai faktor pemberi nilai
tambah terbesar dari proses ekonomi kerakyatan yang dibangun oleh perusahaan.
Faktor skala ekonomi dan efisiensi yang akan menjadi dasar kompetisi bebas
menuntut keterlibatan jaringan ekonomi rakyat, yakni berbagai sentra-sentra
kemandirian ekonomi rakyat, skala kecil hingga besar dengan pola pengelolaan
yang menganut siklus produksi yang pendek.
Strategi WO merupakan strategi yang berusaha meminimalkan kelemahan
yang ada pada perusahaan biodiesel (liquid waste) untuk dapat memanfaatkan
peluang yang ada. Strategi yang diusulkan adalah pembuatan peraturan daerah
mengenai pemanfaatan energi alternatif dalam hal ini biodiesel yang
memanfaatkan limbah cair (liquid waste) yang berasal dari pabrik-pabrik
pengolahan kelapa sawit yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi. Dalam
pembuatan peraturan daerah tersebut perlu dibuat naskah akademik yang
mencakup analisis sisi teknis dan ekonomi sehingga kebijakan yang dikeluarkan
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Strategi ST merupakan strategi yang memanfaatan kekuatan yang akan
dimiliki oleh perusahaan biodiesel (liquid waste) untuk mengatasi ancaman.
Strategi yang diusulkan adalah perlunya integrasi pengolahan limbah cair (liquid
waste) antara pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit di Kabupaten Kuantan
Singingi. Artinya, secara skala ekonomi jika pabrik-pabrik pengolahan kelapa
sawit berdiri sendiri dalam mengelolah limbah cairnya maka secara ekonomi akan
memberikan harga pokok biodiesel yang lebih mahal. Sebaliknya, jika pabri-
pabrik pengolahan kelapa sawit dapat melakukan integrasi pengolahan limbah
tersebut maka harga biodiesel (liquid waste) per satuannya akan lebih murah.
Strategi WT merupakan strategi yang berusaha meminimalkan kelemahan
yang ada serta mencegah ancaman. Strategi yang diusulkan adalah
menyelenggarakan kerjasama dengan “pihak asing” dalam pengelolaan pabrik
biodiesel (liquid waste) baik dari segi modal, teknologi dan pemasaran. Hal ini
sangat berarti karena dana yang dibutuhkan untuk membangun suatu pabrik
biodiesel cukup besar dan tidak ada alokasi anggaran pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Sedang dari sisi teknologi, akan terkait dengan penggunaan
teknologi mutakhir untuk membuat kegiatan efisien. Apabila nantinya kebutuhan
dalam negeri dapat tercukupi, perlu untuk memasarkannya ke luar negeri (ekspor)
dan saat itulah pentingnya ada kerjasama dengan pihak asing.
8.4 Program Pembangunan Biodiesel Berbasis Liquid Waste Dalam
Kaitannya Dengan Pembangunan Daerah di Kabupaten Kuantan
Singingi.
Dalam situasi saat ini, setiap orang sepertinya sedang merasakan
banyaknya kebijakan publik yang implementasi dan kinerjanya tidak seperti yang
diharapakan, seperti program ketenagakerjaan yang tidak memenuhi target,
kampanye lingkungan yang bahkan mengasilkan hal yang sebaliknya, dan
kebijakan lainnya. Dengan bertolak dari rumusan strategi jangka pendek yang
telah diutarakan dimuka dan juga menguntungkan kebanyakan dari berbagai
kebijakan tersebut dalam implementasinya ternyata memberikan hasil yang sangat
berlainan dengan yang diharapkan sehingga diperlukan pengendalian yang efektif.
Misalnya; dalam program deregulasi industri yang seharusnya dapat
meningkatkan kompetensi industrinya, namun dalam kenyataan malah makin
memperkuat terbentuknya konglomerasi.
Persoalan substansial dari suatu kebijakan sangat dibutuhkan dalam
membentuk produk kebijakan yang baik dan benar. Karena itu dibutuhkan
penjelasan tentang bagaimana kebijakan tersebut dapat diimplementasikan agar
sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Pakpahan (2002) terdapat tiga hal yang
biasanya perlu diperhatikan dalam membentuk produk kebijakan yang baik dan
benar, yaitu: (1) proses kelembagaan, yang dimulai dengan disepakatinya aturan
main, etika dan nilai yang ingin diterapkan; (2) pengembangan hubungan kolektif
antara pelaku; dan (3) pengembangan budaya pelaku, cara bentidak dan
legistimasinya.
Dengan demikian, kebijakan prioritas mengenai penciptaan energi
alternatif (biodiesel) yang berbasis liquid waste di Kabupaten Kuantan Singingi
juga harus memperhatikan rangkaian tujuan pembangunan lima tahun pemerintah
(2005-2009) yang terdiri dari:
1. Peningkatan kesempatan kerja
2. Penanggulangan kemiskinan
3. Peningkatan investasi dan ekspor
4. Revitalisasi pertanian
5. Revitalisasi perikanan
6. Revitalisasi kehutanan
7. Peningkatan perdesaan
8. Peningkatan pendidikan
9. Peningkatan kesehatan
Dari kesembilan target pemerintah di atas yang sekaligus terkait erat
dengan pengembangan pabrik biodiesel berbasis liquid waste di Kabupaten
Kuantan Singingi, antara lain adalah peningkatan kesempatan kerja,
penanggulangan kemiskinan, peningkatan investasi dan ekspor serta peningkatan
perdesaan.
Terkait hasil analisis SWOT, yang menunjukkan empat strategi yang dapat
dilakukan untuk mendukung program pembangunan di Kabupaten Kuantan
Singingi, maka urutan prioritasnya disusun, sebagai berikut:
1. Pembuatan Peraturan Daerah Tentang Pemanfaatan Liquid waste Sebagai
Energi Alternatif.
2. Integrasi pengolahan limbah Pabrik PKS di Kabupaten Kuantan Singingi.
3. Mengadakan kerjasama dengan Pihak Asing Baik dalam Permodalan,
pengembangan Teknologi dan pemasaran.
4. Pengembangan Industri Biodiesel Kerakyatan Berbasis Ekonomi Jaringan.
Implementasi dari kebijakan prioritas diatas akan terjabarkan melalui
penetapan fokus kegiatan/program dan penanggungjawabnya. Melalui mekanisme
tersebut, diharapkan koordinasi dan sinergi serta kejelasan tanggungjawab dari
masing-masing pelaksana pada masing-masing level dapat terbangun sejak
perumusan program/kegiatan dilakukan sampai dengan implementasi di lapangan.
Rincian fokus program/kegiatan dan masing-masing penaggungjawabnya dapat
dilihat pada Tabel 43.
Tabel 43. Fokus Program dan Masing-masing Penanggungjawabnya dalam
Pendirian Pabrik Biodiesel Berbasis Liquid Waste di Kabupaten
Kuantan Singingi.
Kebijakan Fokus Program/Kegiatan Penanggungjawab
Melakukan Studi
ANDAL
Melakukan workshop
tentang energi alternatif
yang bersumber dari
liquid waste
Pembuatan Peraturan
Daerah Tentang
Pemanfaatan Liquid
waste Sebagai Energi
Alternatif
Sosialisasi dan
membangun komitmen
dari pemerintah daerah
Kabupaten Kuantan
Singingi dengan
menghasilkan peraturan
daerah yang efektif
Pemilik pabrik, dunia
pendidikan, lembaga
swadaya masyarakat,
DPRD dan pemerintah
daerah kabupaten
Kuantan Singingi
Membangun komitmen
diantara para PKS yang
terkait dengan
penyediaan bahan baku
(liquid waste)
Integrasi Pabrik PKS di
Kabupaten Kuantan
Singingi
Pembangunan sarana dan
prasarana transportasi
yang dapat
menghubungkan antara
PKS dengan pabrik
biodiesel (liquid waste).
Pemilik pabrik, pabrik
pengolahan kelapa sawit
(PKS) dan pemerintah
daerah Kabupaten
Kuantan Singingi
Promosi mengenai
potensi liquid waste
sebagai salah satu energi
alternatif subsitusi BBM
Pemilik pabik dan
pemerintah daerah
Kabupaten Kuantan
Singingi
Mengadopsi teknologi
terbaru dalam
pengelolaan liquid waste
menjadi biodiesel
(teknologi ramah
lingkungan)
Mengadakan kerjasama
dengan Pihak Asing
Baik dalam Permodalan,
pengembangan
Teknologi dan
pemasaran
Mengadakan kontrak
kerja dengan perusahaan
lain dalam penampungan
hasil olahan (biodiesel)
Pemilik pabrik
Sosialisasi tentang
manfaat penggunaan
biodiesel
Pengembangan Industri
Biodiesel Kerakyatan
Berbasis Liquid waste
Pemberdayaan industri
kecil dan menengah yang
Pemilik pabik dan
pemerintah daerah
Kabupaten Kuantan
Singingi
menggunakan energi
yang bersumber dari
biodiesel (liquid waste)
Perekrutan tenaga kerja
lokal
Pemilik pabrik
BAB IX
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
1. Penelitian ini telah berhasil menunjukkan tingkat kelayakan usaha untuk
membangun pabrik biodiesel (liquid waste) yang menguraikan kaitan
dengan program pembangunan wilayah disekitarnya. Hal ini ditunjukkan
dengan hasil uji kelayakan teknis pembangunan pabrik yang dinyatakan
layak didirikan di Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi
Riau.
2. Dengan kelayakan tersebut, masalah pengendalian limbah pabrik
pengolahan kelapa sawit (PKS) yang selama ini dilakukan akan dapat
ditangani dengan konsep pengolahan melalui pabrik biodiesel di
Kecamatan Benai. Dengan demikian secara ekonomi ditemukan nilai
tambah bagi “side product” dari PKS. Keberhasilan membangun pabrik
dengan memakai teknologi yang memadai akan dapat menghasikan
biodiesel sebagai nproduk subsitusi BBM yang bersumber dari fosil.
Dengan demikian program ini akan dapat menangani dua masalah besar
yang dihadapi diwilayah-wilayah perkebunan kelapa sawit secara khusus.
3. Untuk pedoman operasional dari optimasi proses pembangunan
dirumuskan uraian kerangka perencanaan strategi sebagai berikut:
Visi pengembangan biodiesel berbasisi liquid waste di Kabupaten Kuantan
Singingi diformulasikan sebagai berikut:
“Menghasilkan Biodiesel dengan memanfaatkan Limbah Cair (Liquid waste)
dari Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) yang ikut mendukung
penanggulangan krisis energi (BBM)”
Sedang rumusan misinya secara umum diformulasikan sebagai berikut:
“Memanfaatkan Limbah Cair (Liquid Waste) Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit
(PKS) sebagai produk sampingan PKS Menjadi Biodiesel yang bernilai dan
dapat memberikan manfaat berupa peningkatan pembangunan wilayah
disekitarnya melalui peningkatan aspek ekonomi (PAD, pengurangan
kemiskinan, dan pengangguran)”
Visi dan misi diatas dapat mendasari upaya kajian lebih lanjut untuk
mendapatkan lokasi strategi bagi pendirian pabrik biodiesel berbasis liquid waste
di kabupaten Kuantan Singingi. Melalui analisis LQ (Location Quotient) dan SI
(Spesialization Indeks) kecamatan Benai merupakan lokasi yang cocok untuk
pendirian pabrik biodiesel tesebut.
Secara finansial pabrik biodiesel dengan bahan baku liquid waste pabrik
pengolahan kelapa sawit (PKS) di kabupaten Kuantan Singingi dinyatakan layak.
Apabila integrasi antara Pabrik Kelapa Sawit dan pabrik Biodiesel dapat
diwujudkan maka integrasi ini akan akan dapat diproduksi Biodiesel (liquid
waste) dengan harga paling kompetitif.
7.2 Saran
1. Pembangunan pabrik ini selain menghasilkan output yang memberikan
manfaat besar, yaitu memberikan nilai tambah pada liquid waste, juga ikut
menekan dampak pengaruh lingkungan. Namun juga perlu tetap dilakukan
analisis ANDAL agar proses pembangunannya tidak berdampak
negatifdimasa mendatang.
2. Diperlukan peran aktif dari pemerintah daerah Kabupaten Kuantan
Singingi dalam mendukung program dimaksud, diantaranya melalui
pengembangan program-progam dukungan fasilitas tertentu dalam hal
pengembangan iklim usaha, pengembangan kegiatan advokasi serta sejauh
mungkin dapat mengintegrasikannya dengan perencanaan pembangunan
dari lingkup pembangunan Provinsi Riau dengan pembangunan nasional.
3. Diperlukan dukungan keterbukaan mengundang investor asing baik dari
pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi maupun pemerintah pusat
melalui dukungan pengaturan yang lebih kondusif dan positif sifatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, L. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah.
Edisi Pertama. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.
Yogyakarta.
Azhar. 2003. Respon Produksi dan Ekspor Minyak Sawit Sumatera Utara. Tesis
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Bapedda dan BPS Kabupaten Kuansing. 2004. Pendapatan Regional Kuantan
Singingi Tahun 2003. Kabuapaten Kuantan Singingi.
BPS Propinsi Riau. 2006. Riau Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Propinsi Riau.
Darnoko. 2001. Teknologi Produksi Biodisel dan Prospek Pengembangannya di Indonesia. Warta Pusat Penelitian
Kelapa Sawit. Jakarta
Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2001. Data Statistik Perkebunan
Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2000. Riau.
Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2007. Data Statistik Perkebunan
Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2006. Riau.
Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi. 2006. Pokok-pokok Pikiran
dan Permasalahan Pemanfaatan Biofuel. Seminar Nasional Bioful
“Implementasi Biofuel Sebagai Energi Alternatif” Jakarta 5 Mei 2006.
Dja’far dan Wahyono, T. 2003. Skala Usaha dan Break Even Point Perusahaan
Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. PPKS. Jakarta.
Djojodipuro, M. 1992. Teori Lokasi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. Jakarta.
Efendi, I. 2006. Strategi Penanggulangan Dampak Keberadaan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit di Kabupaten Kampar. Tesis Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.
Elisabeth, J. 2001. Biodisel Sawit: Bahan Bakar Alternatif Ramah Lingkungan. Warta Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. LRPI. Jakarta.
Fauzi, Y. 2002. Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta
Gittinger, J. P. 1982. Economic Analysis of Agricultural Projects. The Johns
Hopkins University Press. Baltimore. Maryland USA.
Gray. 1994. Pengantar Evaluasi Proyek. Gramedia. Jakarta
Hambali, E. 2007. Teknologi Bioenergi. Cetakan Pertama. AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Hidayat, D. 2006. Analisis Peranan Perkebunan Kelapa Sawit di Propinsi Riau Dalam Era Otonomi Daerah. Tesis
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Kadariah. 1988. Pengatar Evaluasi Proyek. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. Jakarta.
Kismanto, A. 2006. Integrated Biodisel Plant and Palm Oil Mill. BPPT. Jakarta.
Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. 2003. Makalah Seminar Pengembangan Agribisnis Perkebunan Menggalang
Investasi Untuk Mengembangkan Agribisnis Perkebunan Berbasis Teknologi. LRPI. Jakarta.
Mangoensoekarjo, S. 2005. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Media Perkebunan. 2001. Serap Tenaga Kerja 16,9 Juta Lebih. Media
Perkebunan. Jakarta.
Pahan, I. 2007. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Cetakan Kedua. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pakpahan, A. 2002. The Direction and Policy of The Indonesian Government for The Development of Palm
Industry. Proceeding of Chemistry and Procedings of Chemistry and Technology Conference. Bali.
Prihandana, R., Handroko, R., Nuramin., M. 2007. Menghasilkan Biodiesel Murah, Mengatasi Polusi dan
Kelangkaan BBM. Agromedia. Jakarta.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2004. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit dan Produk Turunannya. Pusat
Penelitian Kelapa Sawit. Jakarta.
Sahirman, S. 1994. Kajian Pemanfaatan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Untuk
Memproduksi Gas Bio. Tesis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Salis, A., Pinna, M., Monduzzi, M., Solinas, V. 2005. Biodiesel Production From
Triolein and Short Chain Alcohols Through Biocatalysis. Journal of
Biotechnology, 119, 291 – 299.
Sargeant, H. J. 2001. Vegetation Fires in Sumatera Indonesia: Oil Palm
Agriculture in The Wetlands of Sumatera: Destruction or Development.
Forest Fire Presentation. Palembang.
Setyamidjaja, D. 1991. Karet Budidaya dan Pengolahan. Kanisius, Jakarta.
Sihotang, P. 1977. Dasar-dasar Ilmu Ekonomi Regional (Terjemahan Richardson,
HW). Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Unversitas Indonesia. Jakarta.
Streeten, P. 1976. Balanced versus Unvalanced Growth in Meier, Gerald.
Leading Issues in Economic Development, (3
ed
). Oxford Unversity Press.
New York.
Tambunan, M. P. 1990. Penyebaran Industri di Kota Administratip Tanggerang.
Tesis Jurusan Geogrfi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia. Jakarta.
Todaro, M. P. 1997. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga (Terjemahan
Burhanudin Abdullah). Erlangga. Jakarta.
Wirawan, S. S. 2004. Perkiraan Reference Energy System Biodiesel. BPPT.
Jakarta.
9
7
L
a
m
p
i
r
a
n

1
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

P
e
r
m
u
l
a
a
n

(
N
+
0
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
k
e
r
j
a
a
n


B
i
a
y
a

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

J
e
n
i
s

D
e
s
k
r
i
p
s
i

L
u
a
s

(
H
a
)

T
o
t
a
l

(
R
p
.
)

R
p
.
/
H
a

S
t
a
n
d
a
r

I
n
p
u
t
/
h
a

R
o
t
a
s
i
/
t
a
h
u
n

R
p
.
/
u
n
i
t

L
a
n
d

C
l
e
a
r
i
n
g








-

I
m
a
s

d
a
n

t
u
m
b
a
n
g









T
e
n
a
g
a

1
6

H
K

(
o
p
e
r
a
t
o
r

+

h
e
l
p
e
r
)

1
0
0
0
0

-



1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8


A
l
a
t

C
h
a
i
n
s
a
w
:

8

u
n
i
t
/
h
a

1
0
0
0
0

-



1

k
a
l
i

4
8
,
9
0
0

-

R
u
m
p
u
k

m
e
k
a
n
i
s

B
u
l
d
o
s
e
r

1
0
0
0
0

2
2
,
5
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0

2
,
2
5
0
,
0
0
0

5

H
M

1

k
a
l
i

4
5
0
,
0
0
0

-

S
e
m
p
r
o
t

l
a
l
a
n
g

2

H
K

(
4
0
%

a
r
e
a
)

4
0
0
0

1
7
9
,
5
8
3
,
3
6
0

1
7
,
9
5
8

2

H
K

2

k
a
l
i

2
2
,
4
8
8


T
e
n
a
g
a

I
n
i
t
i
a
l

A
m
y
p
h
o
s
a
t
e

6

l
i
t
.
h
a

(
4
0
%
)

4
0
0
0

7
0
8
,
0
0
0
,
0
0
0

7
0
,
8
0
0

6

l
i
t
e
r

1

k
a
l
i

2
9
,
5
0
0


B
a
h
a
n

F
o
l
-
u
p

A
m
y
p
h
o
s
a
t
e

1

l
i
t
e
r

(
4
0
%
)

4
0
0
0

1
1
8
,
0
0
0
,
0
0
0

1
1
,
8
0
0

1

l
i
t
e
r

1

k
a
l
i

2
9
,
5
0
0

-

A
l
a
t
-
a
l
a
t

K
n
a
p
s
a
c
k

S
p
r
a
y
e
r

(
1

u
n
i
t
/
1
0
0

h
a
/
t
a
h
u
n
)

4
0
0
0

1
7
,
6
0
0
,
0
0
0

1
,
7
6
0

0
.
0
1

u
n
i
t

1

k
a
l
i

4
4
0
,
0
0
0

S
u
b

T
o
t
a
l



2
3
,
5
2
3
,
1
8
3
,
3
6
0

2
,
3
5
2
,
3
1
8




P
e
m
b
u
a
t
a
n

P
a
r
i
t

d
a
n

K
o
n
s
e
r
v
s
i

T
a
n
a
h








-

P
a
r
i
t

(
1
x
1
x
1
)
m

2
5

m
/
h
a
,

S
O

=

5
4

m
/
H
M

1
0
0
0
0

1
,
7
3
6
,
1
1
1
,
1
1
1

1
7
3
,
6
1
1

0
.
4
6

H
M

1

k
a
l
i

3
7
5
,
0
0
0

-

P
a
r
i
t

(
2
x
2
x
2
)
m

0

m
/
h
a
,

S
O

=

2
8

m
/
H
M

1
0
0
0
0

-

-

-

1

k
a
l
i

3
7
5
,
0
0
0

-

P
a
r
i
t

(
4
x
4
x
4
)
m

0

m
/
h
a
,

S
O

=

1
3

m
/
H
M

1
0
0
0
0

-

-

-

1

k
a
l
i

3
7
5
,
0
0
0

-

P
a
r
i
t

J
a
l
a
n

4
3

m
/
h
a
,

S
O

=

1
3

m
/
H
M

1
0
0
0
0

1
2
,
4
0
3
,
8
4
6
,
1
5
4

1
,
2
4
0
,
3
8
5

3
.
3
1

H
M

1

k
a
l
i

3
7
5
,
0
0
0

-

T
e
r
a
s

b
e
r
s
a
m
b
u
n
g

(
m
e
k
a
n
i
s
)

0

m
/
h
a
,

S
O

=

7
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0

-

-


1

k
a
l
i

4
5
0
,
0
0
0

-

T
a
p
a
k

k
u
d
a

0

T
K
/
h
a
,

S
o

=

8

T
K
/
H
K

1
0
0
0
0

-

-


1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l



1
4
,
1
3
9
,
9
5
7
,
2
6
5

1
,
4
1
3
,
9
9
6




9
8
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

1
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

P
e
r
m
u
l
a
a
n

(
N
+
0
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
n
a
n
a
m
a
n

K
a
c
a
n
g
-
k
a
c
a
n
g
a
n








-

B
a
h
a
n









C
.

m
u
c
o
n
o
i
d
e
s

4

k
g
/
h
a

1
0
0
0
0

6
8
0
,
0
0
0
,
0
0
0

6
8
,
0
0
0

4

k
g

1

k
a
l
i

1
7
,
0
0
0


P
.

j
a
v
a
n
i
c
a

2

k
g
/
h
a

1
0
0
0
0

1
,
4
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0

1
4
0
,
0
0
0

2

k
g

1

k
a
l
i

7
0
,
0
0
0


C
.

c
a
e
r
u
l
e
u
m

0
.
5

k
g
/
h
a

1
0
0
0
0

2
5
0
,
0
0
0
,
0
0
0

2
5
,
0
0
0

0
.
5

k
g

1

k
a
l
i

5
0
,
0
0
0


R
h
i
z
o
b
i
u
m

1

p
k
t
/
1
0

k
g

s
e
e
d
s

1
0
0
0
0

9
7
,
5
0
0
,
0
0
0

9
,
7
5
0

0
.
6
5

p
a
k
e
t

1

k
a
l
i

1
5
,
0
0
0


R
P

R
P
:

S
e
e
d
s

(
1
:
1
)

1
0
0
0
0

6
9
,
2
1
2
,
0
0
0

6
,
9
2
1

6
.
5

k
g

1

k
a
l
i

1
,
0
6
5

-

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a









M
e
n
a
n
a
m

4

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

8
9
7
,
9
1
6
,
8
0
0

8
9
,
7
9
2

4

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8


R
a
w
a
t

K
a
c
a
n
g
a
n

3
.
5

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

4
,
7
1
4
,
0
6
3
,
2
0
0

4
7
1
,
4
0
6

3
.
5

H
K

6

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

P
e
m
u
p
u
k
a
n









S
t
a
r
t
e
r

d
o
s
e

N
P
K

1
5
:
1
5
:
6
:
4

3
0

k
g

1
0
0
0
0

7
8
4
,
7
4
0
,
0
0
0

7
8
,
4
7
4

3
0

k
g

1

k
a
l
i

2
,
6
1
6


D
o
l
o
m
i
t
e

4
0
0

k
g

1
0
0
0
0

1
,
2
4
0
,
0
0
0
,
0
0
0

1
2
4
,
0
0
0

4
0
0

k
g

1

k
a
l
i

3
1
0


U
r
e
a

1
5

k
g

1
0
0
0
0

2
2
7
,
7
0
0
,
0
0
0

2
2
,
7
7
0

1
5

k
g

1

k
a
l
i

1
,
5
1
8


R
P

1
5
8

k
g

1
0
0
0
0

1
,
6
8
2
,
3
8
4
,
0
0
0

1
6
8
,
2
3
8

1
5
8

k
g

1

k
a
l
i

1
,
0
6
5


T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

0
.
5

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

4
4
8
,
9
5
8
,
4
0
0

4
4
,
8
9
6

0
.
5

H
K

4

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l



1
2
,
4
9
2
,
4
7
4
,
4
0
0

1
,
2
4
9
,
2
4
7




P
e
n
a
n
a
m
a
n

K
e
l
a
p
a

S
a
w
i
t








-

B
i
b
i
t

1
3
6

p
o
k
o
k
/
h
a

1
0
0
0
0

9
,
5
2
0
,
0
0
0
,
0
0
0

9
5
2
,
0
0
0

1
3
6

p
o
k
o
k

1

k
a
l
i

7
,
0
0
0

-

P
a
n
c
a
n
g

4

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

8
9
7
,
9
1
6
,
8
0
0

8
9
,
7
9
2

4

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

L
o
b
a
n
g
,

n
g
e
c
e
r

d
a
n

t
a
n
a
m


1
0
0
0
0

2
,
9
1
8
,
2
2
9
,
6
0
0

2
9
1
,
8
2
3

1
3

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

T
r
a
n
s
p
o
r
t

b
i
b
i
t

1
3
6

p
o
k
o
k
/
h
a

1
0
0
0
0

3
4
0
,
0
0
0
,
0
0
0

3
4
,
0
0
0

1
3
6

p
o
k
o
k

1

k
a
l
i

2
5
0

-

P
u
p
u
k

l
u
b
a
n
g

t
a
n
a
m

(
R
p
.
)

1
3
6

p
o
k
o
k
/
h
a

x

0
.
5
0

k
g

1
0
0
0
0

7
2
4
,
0
6
4
,
0
0
0

7
2
,
4
0
6

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
5
0

k
g

1
.
0
6
5

S
u
b

T
o
t
a
l



1
4
,
4
0
0
,
2
1
0
,
4
0
0

1
,
4
4
0
,
0
2
1




P
e
m
b
u
a
t
a
n

P
r
a
s
a
r
a
n
a








-

P
e
m
b
u
a
t
a
n

p
r
a
s
a
r
a
n
a

l
.
k
.

1
0
0
0
0

m

1
0
0
0
0

1
0
5
,
8
8
2
,
3
5
3

1
0
,
5
8
8

0
.
0
2

H
M

1

k
a
l
i

4
5
0
,
0
0
0

-

J
a
l
a
n

a
c
e
s
s

(
1
0
0
%
)

1
0

m
/
h
a
,

S
O

=

3
3
.
3
3

m
/
H
M

1
0
0
0
0

1
,
3
2
3
,
5
2
9
,
4
1
2

1
3
2
,
3
5
3

0
.
2
9

H
M

1

k
a
l
i

4
5
0
,
0
0
0

-

J
a
l
a
n

u
t
a
m
a

(
1
0
0
%
)

3
3
.
3
3

m
/
h
a
,

S
o

=

4
5
.
4
5

m
/
H
M

1
0
0
0
0

3
,
3
3
3
,
0
0
0
,
0
0
0

3
3
3
,
3
0
0

0
.
7
4

H
M

1

k
a
l
i

4
5
0
,
0
0
0

-

J
a
l
a
n

p
e
n
g
u
m
p
u
k

(
1
0
0
%
)

l
e
b
a
r

7

m
,

t
e
b
a
l

0
,
1

m

1
0
0
0
0

2
2
,
7
4
8
,
2
5
0
,
0
0
0

2
,
2
7
4
,
8
2
5

3
0
.
3
3

m
3

1

k
a
l
i

7
5
,
0
0
0

-

T
i
m
b
u
n
a
n

j
a
l
a
n

u
t
a
m
a
/
p
e
n
g
u
m
p
u
k

(
1
0
0
%
)

t
a
m
b
a
h
a
n

I

p
e
r

1
0
0

h
a

x

R
p
.

3
.
2
5
0
.
0
0
0
,
-

1
0
0
0
0

3
2
5
,
0
0
0
,
0
0
0

3
2
,
5
0
0

0
.
0
1

u
n
i
t

1

k
a
l
i

3
2
5
,
0
0
0
-

J
e
m
b
a
t
a
n

k
a
y
u

R
e
h
a
b

j
e
m
b
a
t
a
n

k
a
y
u

1

p
e
r

2
5

h
a

1
0
0
0
0

2
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0

2
0
,
0
0
0

0
.
0
4

u
n
i
t

1

k
a
l
i

5
0
0
,
0
0
0

S
u
b

T
o
t
a
l



2
8
,
0
3
5
,
6
6
1
,
7
6
5

2
,
8
0
3
,
5
6
6




S
u
r
v
e
i

d
a
n

S
e
n
s
u
s








-

I
n
i
t
i
a
l

p
a
t
o
k
/
p
a
n
c
a
n
g

r
u
m
p
u
k
/
t
i
t
i
k

t
a
n
a
m


1
0
0
0
0

4
4
8
,
9
5
8
,
4
0
0

4
4
,
8
9
6

2

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l



4
4
8
,
9
5
8
,
4
0
0

4
4
,
8
9
6




T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

T
a
h
u
n

A
w
a
l

(
T
a
h
u
n

0
)



9
3
,
0
4
0
,
4
4
5
,
5
9
0

9
,
3
0
4
,
0
4
5




9
9
L
a
m
p
i
r
a
n

2
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

P
e
r
t
a
m
a

(
N
+
1
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
k
e
r
j
a
a
n



B
i
a
y
a


K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

J
e
n
i
s

D
e
s
k
r
i
p
s
i

L
u
a
s

(
H
a
)


T
o
t
a
l

(
R
p
.
)



R
p
.
/
H
a


S
t
a
n
d
a
r

I
n
p
u
t
/
h
a

R
o
t
a
s
i
/
t
a
h
u
n


R
p
.
/
u
n
i
t


R
a
w
a
t

P
i
r
i
n
g
a
n

d
a
n

G
a
w
a
n
g
a
n





2

H
K

1
2

k
a
l
i

2
2
,
4
4
7
.
9
2

-

R
a
w
a
t

K
a
c
a
n
g
a
n

2

K
H
/
h
a
/
r
o
t
a
s
i

1
0
0
0
0

5
,
3
8
7
,
5
0
0
,
8
0
0

5
3
8
,
7
5
0

2

H
K

6

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

R
a
w
a
t

g
a
w
a
n
g
a
n
/
p
i
r
i
n
g
a
n

2

K
H
/
h
a
/
r
o
t
a
s
i

1
0
0
0
0

2
,
6
9
3
,
7
5
0
,
4
0
0

2
6
9
,
3
7
5




S
u
b

T
o
t
a
l



8
,
0
8
1
,
2
5
1
,
2
0
0

8
0
8
,
1
2
5




P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n

l
a
l
a
n
g








-

R
u
t
i
n

w
i
p
i
n
g





0
.
0
5

l
i
t
e
r

4

k
a
l
i

2
9
,
5
0
0

-

B
a
h
a
n

A
m
y
p
h
o
s
a
t
e

0
.
0
5

l
i
t
/
h
a

1
0
0
0
0

5
9
,
0
0
0
,
0
0
0

5
,
9
0
0

0
.
2
5

H
K

4

k
a
l
i

2
9
,
4
4
8

-

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a


1
0
0
0
0

2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0

2
2
,
4
4
8




S
u
b

T
o
t
a
l



2
8
3
,
4
7
9
,
2
0
0

2
8
,
3
4
8




P
e
m
u
p
u
k
a
n

t
a
n
a
m
a
n

(
p
a
d
a

b
u
l
a
n

k
e
-
2
,
6
,

d
a
n

8
)






1
,
5
1
8

-

B
a
h
a
n





1
3
6

p
o
k
o
k

1

k
g

2
,
3
0
6


U
r
e
a

0
.
7

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

1
,
4
4
5
,
1
3
6
,
0
0
0

1
4
4
,
5
1
4

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
5

k
g

1
,
0
6
5


M
O
P

0
.
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

1
,
5
6
7
,
8
0
8
,
0
0
0

1
5
6
,
7
8
1

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
5

k
g

4
,
9
0
4


R
o
c
k

P
h
o
s
p
a
t
e

0
.
4
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

6
5
1
,
6
5
7
,
6
0
0

6
5
,
1
6
6

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
1
0

k
g

2
,
6
5
1


C
u
S
o
4

0
.
1

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

6
6
6
,
9
1
6
,
8
0
0

6
6
,
6
9
2

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
2

k
g

8
0


Z
n
S
o
4

0
.
0
1
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

5
4
,
0
8
0
,
4
0
0

5
,
4
0
8

1
3
6

p
o
k
o
k

1
.
7
5
0

k
g

1
,
3
5
5


L
S
D

1
.
7
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

1
9
0
,
4
0
0
,
0
0
0

1
9
,
0
4
0

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
2
5

k
g

5
,
5
0
9


K
i
e
s
e
r
i
t
e

0
.
2
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

4
6
0
,
7
6
8
,
0
0
0

4
6
,
0
7
7

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
3

k
g

1
,
0
6
5


H
G
F
B

0
.
0
3

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

2
2
4
,
7
5
9
,
0
4
0

2
2
,
4
7
6



1
0
0

-

P
u
p
u
k

l
u
b
a
n
g

t
a
n
a
m

(
R
p
.
)

0
.
1
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

-




2
0

-

T
r
a
n
s
p
o
r
t





1
3
6

p
o
k
o
k

3
.
7
9
5

k
g

2
2
,
4
4
8


E
x
t
e
r
n
a
l

3
.
7
4
5

k
g

x

1
3
6

p
o
k
o
k

x

R
p
.

1
0
0
,
-

1
0
0
0
0

5
1
6
,
1
2
0
,
0
0
0

5
1
,
6
1
2

1
3
6

p
o
k
o
k

3
.
8
0

k
g



I
n
t
e
r
n
a
l

3
.
7
4
5

k
g

x

1
3
6

p
o
k
o
k

x

R
p
.

2
0
,
-

1
0
0
0
0

1
0
3
,
2
2
4
,
0
0
0

1
0
,
3
2
2

1

H
K

1
0

k
a
l
i


-

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

0
.
5

H
K
/
h
a

x

1
0

r
o
t
a
s
i

1
0
0
0
0

1
,
1
2
2
,
3
9
6
,
0
0
0

1
1
2
,
2
4
0




S
u
b

T
o
t
a
l



7
,
0
0
3
,
2
6
5
,
8
4
0

7
0
0
,
3
2
7




1
0
0
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

2
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

P
e
r
t
a
m
a

(
N
+
1
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n

H
a
m
a

d
a
n

P
e
n
y
a
k
i
t








-

R
a
c
u
n

T
i
k
u
s





4

k
g

1

k
a
l
i

1
2
,
0
0
0


B
a
h
a
n

2
5
0

p
c
s
/
h
a

x

1

k
a
m
p
a
n
y
e

5
0
0
0

2
1
4
,
2
8
5
,
7
1
4

2
1
,
4
2
9

0
.
7
5

k
g

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8


T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

0
.
2
5

H
K
/
h
a
/
r
o
t

x

R
p
.

1
8
.
6
0
0
,
-

5
0
0
0

8
4
,
1
7
9
,
7
0
0

8
,
4
1
8

7
.
5
0

m

1

k
a
l
i

4
,
0
0
0

-

P
a
g
a
r

B
a
b
i

3
7
.
5
0
0

m

x

R
p
.

4
.
0
0
0
,
-

5
0
0
0

1
5
0
,
0
0
0
,
0
0
0

1
5
,
0
0
0




S
u
b

T
o
t
a
l



4
4
8
,
4
6
5
,
4
1
4

4
4
,
8
4
7




T
u
n
a
s

P
o
k
o
k








K
a
s
t
r
a
s
i

d
a
n

s
a
n
i
t
a
s
i








P
e
n
y
i
s
i
p
a
n

d
a
n

K
o
n
s
o
l
i
d
a
s
i

p
o
k
o
k

d
o
y
o
n
g






2

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

S
e
n
s
u
s

p
o
k
o
k

0
.
2
5

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

1
1
2
,
2
3
9
,
6
0
0

1
1
,
2
2
4

4

p
o
k
o
k

1

k
a
l
i

7
,
0
0
0

-

B
i
b
i
t

4

p
o
k
o
k
/
h
a

1
0
0
0
0

2
8
0
,
0
0
0
,
0
0
0

2
8
,
0
0
0

-

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

L
u
b
a
n
g
,

n
g
e
c
e
r
,

d
a
n

t
a
n
a
m

0
.
2

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

4
4
,
8
9
5
,
8
4
0

4
,
4
9
0

4

p
o
k
o
k

1

k
a
l
i

2
5
0

-

T
r
a
n
s
p
o
r
t

b
i
b
i
t

4

p
o
k
o
k
/
h
a

1
0
0
0
0

1
0
,
0
0
0
,
0
0
0

1
,
0
0
0

-

1

k
a
l
i

1
2
,
0
0
0

-

M
e
r
a
c
u
n

t
i
k
u
s
:

B
a
h
a
n

4

p
o
k
o
k
/
h
a

x

3

p
c
s

1
0
0
0
0

2
0
,
5
7
1
,
4
2
9

2
,
0
5
7




S
u
b

T
o
t
a
l



4
6
7
,
7
0
6
,
8
6
9

4
6
,
7
7
1




P
e
r
a
w
a
t
a
n

p
a
r
i
t

d
a
n

k
o
n
s
e
r
v
a
s
i

t
a
n
a
h








P
e
m
e
l
i
h
a
r
a
a
n

p
r
a
s
a
r
a
n
a





1

m
3

2

k
a
l
i

3
7
,
5
0
0

-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

a
c
c
e
s
s

(
1
0
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

0
.
6
7

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

9

m
,

t
e
b
a
l

2
0

c
m

1
0
0
0
0

4
5
2
,
2
5
0
,
0
0
0

4
5
,
2
2
5

2
3
.
3
3

m
3

1

k
a
l
i

3
7
,
5
0
0

-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

m
a
i
n

(
4
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

1
0

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

9

m
,

t
e
b
a
l

2
0

c
m

4
0
0
0

3
,
4
9
9
,
6
5
0
,
0
0
0

3
4
9
,
9
6
5

1
8
.
0
0

m
3

1

k
a
l
i

3
7
,
5
0
0

-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

c
o
l
l
e
c
t
i
o
n

(
4
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

3
3
.
3
3

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

7

m
,

t
e
b
a
l

1
0

c
m

4
0
0
0

2
,
7
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0

2
7
0
,
0
0
0

0
.
0
0

H
M

1

k
a
l
i

1
7
0
,
0
0
0

-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

a
c
c
e
s
s

(
1
0
0
%
)

0
.
6
7

m
/
h
a
,

S
O

=

8
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0

1
,
9
9
3
,
2
5
0

1
9
9

0
.
0
1
2
5

m

1

k
a
l
i

1
7
0
,
0
0
0

-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

m
a
i
n

(
1
0
0
%
)

1
0

m
/
h
a
,

S
O

=

8
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0

4
2
,
5
0
0
,
0
0
0

4
,
2
5
0

0
.
0
3

m

1

k
a
l
i

1
7
0
,
0
0
0

-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

c
o
l
l
e
c
t
i
o
n

(
1
0
0
%
)

3
.
3
3

m
/
h
a
,

S
O

=

1
0
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0

5
6
,
6
6
1
,
0
0
0

5
,
6
6
6




S
u
b

T
o
t
a
l



6
,
7
5
3
,
0
5
4
,
2
5
0

6
7
5
,
3
0
5




S
u
r
v
e
i

d
a
n

S
e
n
s
u
s





1

H
K

2

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

F
i
n
a
l

s
u
r
v
e
y
/
p
a
t
o
k

p
e
r
b
a
t
a
s
a
n


1
0
0
0
0

2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0

2
2
,
4
4
8




S
u
b

T
o
t
a
l



2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0

2
2
,
4
4
8




T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

T
a
h
u
n

A
w
a
l

(
T
a
h
u
n

1
)



2
3
,
2
6
1
,
7
0
1
,
9
7
3

2
,
3
2
6
,
1
7
0




1
0
1
L
a
m
p
i
r
a
n

3
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

K
e
d
u
a

(
N
+
2
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
k
e
r
j
a
a
n



B
i
a
y
a


K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

J
e
n
i
s

D
e
s
k
r
i
p
s
i

L
u
a
s

(
H
a
)


T
o
t
a
l

(
R
p
.
)



R
p
.
/
H
a


S
t
a
n
d
a
r

I
n
p
u
t
/
h
a

R
o
t
a
s
i
/
t
a
h
u
n


R
p
.
/
u
n
i
t


R
a
w
a
t

P
i
r
i
n
g
a
n

d
a
n

G
a
w
a
n
g
a
n








-

G
a
r
u
k

p
i
r
i
n
g
a
n

t
i
d
a
k

d
i
l
a
k
u
k
a
n

1
0
0
0
0


-


-

-

-











2
2
,
4
4
8


-

S
e
m
p
r
o
t

p
i
r
i
n
g
a
n

0
.
3
3

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0


















2
9
6
,
3
1
2
,
5
4
4
















2
9
,
6
3
1

0
.
3
3

H
K

4

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8



T
e
n
a
g
a

0
.
2

l
i
t
/
h
a

A
m
y
p
h
o
s
a
t
e

1
0
0
0
0
















2
3
6
,
0
0
0
,
0
0
0















2
3
,
6
0
0

0
.
2

l
i
t
e
r

4

k
a
l
i











2
9
,
5
0
0



K
i
m
i
a

0
.
0
5

l
i
t
/
h
a

S
t
a
r
a
n
e

1
0
0
0
0
















2
3
8
,
0
0
0
,
0
0
0















2
3
,
8
0
0

0
.
0
5

l
i
t
e
r

4

k
a
l
i










1
1
9
,
0
0
0


-

R
a
w
a
t

g
a
w
a
n
g
a
n

2
.
5

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0














1
,
9
0
5
,
0
0
0
,
0
0
0














1
9
0
,
5
0
0

2
.
5

H
K

4

k
a
l
i












1
9
,
0
5
0


-

S
o
l
o

p
u
m
p

1

u
m
i
t

p
e
r

1
0
0

h
a

1
0
0
0
0



















4
4
,
0
0
0
,
0
0
0

















4
,
4
0
0

0
.
0
1

u
n
i
t

1

k
a
l
i








4
4
0
,
0
0
0


-

S
e
m
p
r
o
t

u
n
i
t

@

R
p
.
2
.
5
0
0
,
-
/
h
a
/
r
o
t

(
1

u
n
i
t

=
3
.
3
3
3

h
a
)

1
0
0
0
0

















1
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0
















1
0
,
0
0
0

1

u
n
i
t

4

k
a
l
i














2
,
5
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l







2
,
8
1
9
,
3
1
2
,
5
4
4







2
8
1
,
9
3
1




P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n

l
a
l
a
n
g








-

R
u
t
i
n

w
i
p
i
n
g









B
a
h
a
n

0
.
0
4

l
i
t
/
h
a

x

R
p
.

1
5
.
0
0
0
,
-

1
0
0
0
0



















3
5
,
4
0
0
,
0
0
0


















3
,
5
4
0

0
.
0
4

l
i
t
e
r

3

k
a
l
i











2
9
,
5
0
0


T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

0
.
5

H
K
/
h
a

x

R
p
.

6
.
0
0
0
,
-

1
0
0
0
0


















1
6
8
,
3
5
9
,
4
0
0
















1
6
,
8
3
6

0
.
2
5

H
K

3

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l









2
0
3
,
7
5
9
,
4
0
0








2
0
,
3
7
6




P
e
m
u
p
u
k
a
n

t
a
n
a
m
a
n

(
p
a
d
a

b
u
l
a
n

k
e

1
2
,
1
6
,
1
8
,

d
a
n

2
0
)







-

B
a
h
a
n









U
r
e
a

1

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0













2
,
0
6
4
,
4
8
0
,
0
0
0












2
0
6
,
4
4
8

1
3
6

p
o
k
o
k

1

k
g
















1
,
5
1
8



M
O
P

1
.
2

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0














3
,
7
6
2
,
7
3
9
,
2
0
0













3
7
6
,
2
7
4

1
3
6

p
o
k
o
k

1
.
2

k
g













2
,
3
0
6



R
o
c
k

P
h
o
s
p
a
t
e

0
.
9

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0















1
,
3
0
3
,
3
1
5
,
2
0
0













1
3
0
,
3
3
2

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
9

k
g















1
,
0
6
5



C
u
S
o
4

0
.
0
7
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0


















5
0
0
,
1
8
7
,
6
0
0
















5
0
,
0
1
9

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
7
5

k
g













4
,
9
0
4



Z
n
S
o
4

0
.
0
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

















1
8
0
,
2
6
8
,
0
0
0
















1
8
,
0
2
7

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
5

k
g















2
,
6
5
1



L
S
D

0
.
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0


-


-

1
3
6

p
o
k
o
k

-


















3
1
0



K
i
e
s
e
r
i
t
e

0
.
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0


















9
2
1
,
5
3
6
,
0
0
0
















9
2
,
1
5
4

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
5

k
g















1
,
3
5
5



H
G
F
B

0
.
0
6

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0


















4
4
9
,
5
1
8
,
0
8
0















4
4
,
9
5
2

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
6

k
g














5
,
5
0
9


-

P
u
p
u
k

l
u
b
a
n
g

t
a
n
a
m

(
R
p
.
)

0
.
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0















1
,
1
2
2
,
3
9
6
,
0
0
0














1
1
2
,
2
4
0

0
.
5

H
K

1
0

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8

-

T
r
a
n
s
p
o
r
t









E
x
t
e
r
n
a
l

3
.
7
9

k
g

x

1
3
6

p
o
k
o
k

x

R
p
.

1
2
5
,
-

1
0
0
0
0


















5
1
4
,
7
6
0
,
0
0
0

















5
1
,
4
7
6

1
3
6

p
o
k
o
k

3
.
7
9

k
g


















1
0
0



I
n
t
e
r
n
a
l

3
.
7
9

k
g

x

1
3
6

p
o
k
o
k

x

R
p
.

2
2
,
-

1
0
0
0
0


















1
0
2
,
9
5
2
,
0
0
0
















1
0
,
2
9
5

1
3
6

p
o
k
o
k

3
.
7
9

k
g



















2
0


S
u
b

T
o
t
a
l





1
0
,
9
2
2
,
1
5
2
,
0
8
0




1
,
0
9
2
,
2
1
5




1
0
2
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

3
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

K
e
d
u
a

(
N
+
2
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n

H
a
m
a

d
a
n

P
e
n
y
a
k
i
t








-

R
a
c
u
n

T
i
k
u
s

(
3
0
%
)









B
a
h
a
n

(
3
0
%
)

2
5
0

p
c
s
/
h
a

x

1

k
a
m
p
a
n
y
e

x

3
0
%

3
0
0
0



















1
2
8
,
5
7
1
,
4
2
9

















1
2
,
8
5
7

3
.
5
7

k
g

1

k
a
l
i












1
2
,
0
0
0



T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

(
3
0
%
)

0
.
2
5

H
K
/
h
a

x

3
0
%
-

3
0
0
0




















5
0
,
5
0
7
,
8
2
0



















5
,
0
5
1

0
.
7
5

H
K

1

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8
-

P
a
g
a
r

B
a
b
i

(
5
0
%
)

3
7
.
5
0
0

m

x

R
p
.

4
.
0
0
0
,
-

5
0
0
0




















3
7
,
5
0
0
,
0
0
0


















3
,
7
5
0

7
.
5
0

m

2

k
a
l
i

















5
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l










2
1
6
,
5
7
9
,
2
4
9








2
1
,
6
5
8




K
a
s
t
r
a
s
i

d
a
n

s
a
n
i
t
a
s
i








-

K
a
s
t
r
a
s
i

(
b
l
n

1
9

d
a
n

2
1
)


1
0
0
0
0

















4
7
6
,
2
5
0
,
0
0
0
















4
7
,
6
2
5

1
.
2
5

H
K

2

k
a
l
i












1
9
,
0
5
0


S
u
b

T
o
t
a
l









4
7
6
,
2
5
0
,
0
0
0








4
7
,
6
2
5




P
e
n
y
i
s
i
p
a
n

d
a
n

K
o
n
s
o
l
i
d
a
s
i

p
o
k
o
k

d
o
y
o
n
g








-

S
e
n
s
u
s

p
o
k
o
k

0
.
2
5

H
K
/
h
a

x

R
p
.

6
.
0
0
0
,
-

1
0
0
0
0




















8
9
,
7
9
1
,
6
8
0


















8
,
9
7
9

0
.
2
0

H
K

2

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8


S
u
b

T
o
t
a
l












8
9
,
7
9
1
,
6
8
0










8
,
9
7
9




P
e
r
a
w
a
t
a
n

p
a
r
i
t

d
a
n

k
o
n
s
e
r
v
a
s
i

t
a
n
a
h








-

C
u
c
i

p
a
r
i
t

(
4
x
4
x
4
)
m

+

p
i
r
i
n
g
a
n

4
3

m
,

S
O

E
x
c
a
v
a
t
o
r
:

1
2
5

m
/
H
M

1
0
0
0
0














1
,
2
9
0
,
0
0
0
,
0
0
0













1
2
9
,
0
0
0

0
.
3
4

H
M

1

k
a
l
i









3
7
5
,
0
0
0


-

C
u
c
i

p
a
r
i
t

(
2
x
2
x
2
)
m


0

m
,

S
O

E
x
c
a
v
a
t
o
r
:

2
5
0

m
/
H
M

4
0
0
0


-


-

-

1

k
a
l
i









3
7
5
,
0
0
0


-

C
u
c
i

p
a
r
i
t

(
1
x
1
x
1
)
m

2
5

m
,

S
O

M
a
n
u
a
l

2
5

m
/
H
K

4
0
0
0

















2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0















2
2
,
4
4
8

1
.
0
0

H
K

1

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8


-

R
a
h
a
b

t
e
r
e
s
a
n

N
o
r
m
a

H
K

5
0
%

d
a
r
i

p
e
m
b
u
a
t
a
n

b
a
r
u

1
0
0
0
0


-


-

-

1

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8


-

R
a
h
a
b

t
a
p
a
k

k
u
d
a

N
o
r
m
a

H
K

5
0
%

d
a
r
i

p
e
m
b
u
a
t
a
n

b
a
r
u

1
0
0
0
0


-


-

-

1

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8


S
u
b

T
o
t
a
l








1
,
5
1
4
,
4
7
9
,
2
0
0







1
5
1
,
4
4
8




P
e
m
e
l
i
h
a
r
a
a
n

p
r
a
s
a
r
a
n
a







-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

a
c
c
e
s
s

(
1
0
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

0
.
6
7

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

9

m
,

t
e
b
a
l

2
0

c
m

1
0
0
0
0

















4
5
2
,
2
5
0
,
0
0
0
















4
5
,
2
2
5

1

m
3

1

k
a
l
i












3
7
,
5
0
0


-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

m
a
i
n

(
4
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

1
0

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

9

m
,

t
e
b
a
l

2
0

c
m

3
0
0
0














2
,
6
2
4
,
7
3
7
,
5
0
0













2
6
2
,
4
7
4

2
3
.
3
3

m
3

1

k
a
l
i












3
7
,
5
0
0


-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

c
o
l
l
e
c
t
i
o
n

(
4
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

3
3
.
3
3

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

7

m
,

t
e
b
a
l

1
0

c
m

3
0
0
0













2
,
0
2
5
,
0
0
0
,
0
0
0













2
0
2
,
5
0
0

1
8
.
0
0

m
3

1

k
a
l
i












3
7
,
5
0
0


-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

a
c
c
e
s
s

(
1
0
0
%
)

0
.
6
7

m
/
h
a
,

S
O

=

8
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0























1
,
9
9
3
,
2
5
0






















1
9
9

0
.
0
0

H
M

2

k
a
l
i










1
7
0
,
0
0
0


-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

m
a
i
n

(
1
0
0
%
)

1
0

m
/
h
a
,

S
O

=

8
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0



















4
2
,
5
0
0
,
0
0
0


















4
,
2
5
0

0
.
0
1
2
5

m

2

k
a
l
i










1
7
0
,
0
0
0


-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

c
o
l
l
e
c
t
i
o
n

(
1
0
0
%
)

3
.
3
3

m
/
h
a
,

S
O

=

1
0
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0




















5
6
,
6
6
1
,
0
0
0


















5
,
6
6
6

0
.
0
3

m

1

k
a
l
i










1
7
0
,
0
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l







5
,
2
0
3
,
1
4
1
,
7
5
0






5
2
0
,
3
1
4




S
u
r
v
e
i

d
a
n

S
e
n
s
u
s








-

F
i
n
a
l

s
u
r
v
e
y
/
p
a
t
o
k

p
e
r
b
a
t
a
s
a
n


1
0
0
0
0

















2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0















2
2
,
4
4
8

0
.
5

H
K

2

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8


S
u
b

T
o
t
a
l









2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0







2
2
,
4
4
8




T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

T
a
h
u
n

A
w
a
l

(
T
a
h
u
n

2
)





2
1
,
6
6
9
,
9
4
5
,
1
0
3



2
,
1
6
6
,
9
9
5




1
0
3
L
a
m
p
i
r
a
n

4
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

K
e
t
i
g
a

(
N
+
3
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
k
e
r
j
a
a
n



B
i
a
y
a


K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

J
e
n
i
s

D
e
s
k
r
i
p
s
i

L
u
a
s

(
H
a
)


T
o
t
a
l

(
R
p
.
)



R
p
.
/
H
a


S
t
a
n
d
a
r

I
n
p
u
t
/
h
a

R
o
t
a
s
i
/
t
a
h
u
n


R
p
.
/
u
n
i
t


R
a
w
a
t

P
i
r
i
n
g
a
n

d
a
n

G
a
w
a
n
g
a
n








-

G
a
r
u
k

p
i
r
i
n
g
a
n

t
i
d
a
k

d
i
l
a
k
u
k
a
n

1
0
0
0
0

-

-

-

-











2
2
,
4
4
8


-

S
e
m
p
r
o
t

p
i
r
i
n
g
a
n

0
.
3
3

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

2
9
6
,
3
1
2
,
5
4
4

2
9
,
6
3
1

0
.
3
3

H
K

4

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8



T
e
n
a
g
a

0
.
2

l
i
t
/
h
a

A
m
y
p
h
o
s
a
t
e

1
0
0
0
0

2
3
6
,
0
0
0
,
0
0
0

2
3
,
6
0
0

0
.
2

l
i
t
e
r

4

k
a
l
i











2
9
,
5
0
0



K
i
m
i
a

0
.
0
5

l
i
t
/
h
a

S
t
a
r
a
n
e

1
0
0
0
0

2
3
8
,
0
0
0
,
0
0
0

2
3
,
8
0
0

0
.
0
5

l
i
t
e
r

4

k
a
l
i










1
1
9
,
0
0
0


-

R
a
w
a
t

g
a
w
a
n
g
a
n

2
.
5

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

1
,
9
0
5
,
0
0
0
,
0
0
0

1
9
0
,
5
0
0

2
.
5

H
K

4

k
a
l
i












1
9
,
0
5
0


-

S
o
l
o

p
u
m
p

1

u
m
i
t

p
e
r

1
0
0

h
a

1
0
0
0
0

4
4
,
0
0
0
,
0
0
0

4
,
4
0
0

0
.
0
1

u
n
i
t

1

k
a
l
i








4
4
0
,
0
0
0


-

S
e
m
p
r
o
t

u
n
i
t

@

R
p
.
2
.
5
0
0
,
-
/
h
a
/
r
o
t

(
1

u
n
i
t

=
3
.
3
3
3

h
a
)

1
0
0
0
0

1
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0

1
0
,
0
0
0

1

u
n
i
t

4

k
a
l
i














2
,
5
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l



2
,
8
1
9
,
3
1
2
,
5
4
4

2
8
1
,
9
3
1




P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n

l
a
l
a
n
g








-

R
u
t
i
n

w
i
p
i
n
g









B
a
h
a
n

0
.
0
4

l
i
t
/
h
a

x

R
p
.

1
5
.
0
0
0
,
-

1
0
0
0
0

2
3
,
6
0
0
,
0
0
0

2
,
3
6
0

0
.
0
4

l
i
t
e
r

2

k
a
l
i











2
9
,
5
0
0



T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

0
.
5

H
K
/
h
a

x

R
p
.

6
.
0
0
0
,
-

1
0
0
0
0

1
1
2
,
2
3
9
,
6
0
0

1
1
,
2
2
4

0
.
2
5

H
K

2

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8


S
u
b

T
o
t
a
l



1
3
5
,
8
3
9
,
6
0
0

1
3
,
5
8
4




P
e
m
u
p
u
k
a
n

t
a
n
a
m
a
n

(
p
a
d
a

b
u
l
a
n

k
e

1
2
,
1
6
,
1
8
,

d
a
n

2
0
)







-

B
a
h
a
n









U
r
e
a

2

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

4
,
1
2
8
,
9
6
0
,
0
0
0

4
1
2
,
8
9
6

1
3
6

p
o
k
o
k

1

k
g
















1
,
5
1
8



M
O
P

2

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

6
,
2
1
7
,
2
3
2
,
0
0
0

6
2
1
,
7
2
3

1
3
6

p
o
k
o
k

1
.
2

k
g













2
,
3
0
6



R
o
c
k

P
h
o
s
p
a
t
e

2

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

2
,
8
9
6
,
2
5
6
,
0
0
0

2
8
9
,
6
2
6

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
9

k
g















1
,
0
6
5



C
u
S
o
4

t
i
d
a
k

d
i
l
a
k
u
k
a
n

1
0
0
0
0

-

-

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
7
5

k
g













4
,
9
0
4



Z
n
S
o
4

t
i
d
a
k

d
i
l
a
k
u
k
a
n

1
0
0
0
0

-

-

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
5

k
g















2
,
6
5
1



L
S
D

t
i
d
a
k

d
i
l
a
k
u
k
a
n

1
0
0
0
0

-

-

1
3
6

p
o
k
o
k

-


















3
1
0



K
i
e
s
e
r
i
t
e

1

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

1
,
8
4
3
,
0
7
2
,
0
0
0

1
8
4
,
3
0
7

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
5

k
g















1
,
3
5
5



H
G
F
B

0
.
0
6

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

4
4
9
,
5
1
8
,
0
8
0

4
4
,
9
5
2

1
3
6

p
o
k
o
k

0
.
0
6

k
g














5
,
5
0
9


-

P
u
p
u
k

l
u
b
a
n
g

t
a
n
a
m

(
R
p
.
)

0
.
5

k
g
/
p
o
k
o
k

1
0
0
0
0

8
9
7
,
9
1
6
,
8
0
0

8
9
,
7
9
2

0
.
5

H
K

1
0

k
a
l
i











2
2
,
4
4
8


-

T
r
a
n
s
p
o
r
t




-





E
x
t
e
r
n
a
l

7
.
0
6

k
g

x

1
3
6

p
o
k
o
k

x

R
p
.

1
2
5
,
-

1
0
0
0
0

9
6
0
,
1
6
0
,
0
0
0

9
6
,
0
1
6

1
3
6

p
o
k
o
k

3
.
7
9

k
g


















1
0
0



I
n
t
e
r
n
a
l

7
.
0
6

k
g

x

1
3
6

p
o
k
o
k

x

R
p
.

2
2
,
-

1
0
0
0
0

1
9
2
,
0
3
2
,
0
0
0

1
9
,
2
0
3

1
3
6

p
o
k
o
k

3
.
7
9

k
g



















2
0


S
u
b

T
o
t
a
l



1
7
,
5
8
5
,
1
4
6
,
8
8
0

1
,
7
5
8
,
5
1
5




1
0
4
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

4
.

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

T
a
h
u
n

K
e
t
i
g
a

(
N
+
3
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n

H
a
m
a

d
a
n

P
e
n
y
a
k
i
t








-

S
e
n
s
u
s

h
a
m
a

d
a
n

p
e
n
y
a
k
i
t


1
0
0
0
0

2
6
9
,
3
7
5
,
0
4
0

2
6
,
9
3
8

0
.
1

H
K

1
2

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

R
&
D

F
e
e


1
0
0
0
0

4
0
,
0
0
0
,
0
0
0

4
,
0
0
0


I

k
a
l
i

4
,
0
0
0

-

M
e
r
a
c
u
n

T
i
k
u
s

(
3
0
%
)









B
a
h
a
n

(
3
0
%
)

2
5
0

p
c
s
/
h
a

x

1

k
a
m
p
a
n
y
e

x

3
0
%

3
0
0
0

1
2
8
,
5
7
1
,
4
2
9

1
2
,
8
5
7

3
.
5
7

k
g

1

k
a
l
i

1
2
,
0
0
0


T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

(
3
0
%
)

0
.
2
5

H
K
/
h
a

x

3
0
%
-

3
0
0
0

5
0
,
5
0
7
,
8
2
0

5
,
0
5
1

0
.
7
5

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

P
a
g
a
r

B
a
b
i

(
5
0
%
)

3
7
.
5
0
0

m

x

R
p
.

5
0
0
,
-

5
0
0
0

-

-

7
.
5
0

m

-

5
0
0

S
u
b

T
o
t
a
l



4
8
8
,
4
5
4
,
2
8
9

4
8
,
8
4
5




K
a
s
t
r
a
s
i

d
a
n

s
a
n
i
t
a
s
i








-

K
a
s
t
r
a
s
i

(
b
l
n

2
3
)


1
0
0
0
0

2
8
0
,
5
9
9
,
0
0
0

2
8
,
0
6
0

1
.
2
5

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

T
u
n
a
s
a
n

S
a
n
i
t
a
s
i


1
0
0
0
0

2
8
0
,
5
9
9
,
0
0
0

2
8
,
0
6
0

1
.
2
5

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l



5
6
1
,
1
9
8
,
0
0
0

5
6
,
1
2
0




P
e
n
y
i
s
i
p
a
n

d
a
n

K
o
n
s
o
l
i
d
a
s
i

p
o
k
o
k

d
o
y
o
n
g








-

S
e
n
s
u
s

p
o
k
o
k

0
.
2
5

H
K
/
h
a

1
0
0
0
0

8
9
,
7
9
1
,
6
8
0

8
,
9
7
9

0
.
2
0

H
K

2

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l



8
9
,
7
9
1
,
6
8
0

8
,
9
7
9




P
e
r
a
w
a
t
a
n

p
a
r
i
t

d
a
n

k
o
n
s
e
r
v
a
s
i

t
a
n
a
h








-

C
u
c
i

p
a
r
i
t

(
4
x
4
x
4
)
m

+

p
i
r
i
n
g
a
n

4
3

m
,

S
O

E
x
c
a
v
a
t
o
r
:

1
2
5

m
/
H
M

1
0
0
0
0

1
,
2
9
0
,
0
0
0
,
0
0
0

1
2
9
,
0
0
0

0
.
3
4

H
M

1

k
a
l
i

3
7
5
,
0
0
0

-

C
u
c
i

p
a
r
i
t

(
2
x
2
x
2
)
m


0

m
,

S
O

E
x
c
a
v
a
t
o
r
:

2
5
0

m
/
H
M

4
0
0
0

-

-

-

1

k
a
l
i

3
7
5
,
0
0
0

-

C
u
c
i

p
a
r
i
t

(
1
x
1
x
1
)
m

2
5

m
,

S
O

M
a
n
u
a
l

2
5

m
/
H
K

4
0
0
0

2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0

2
2
,
4
4
8

1
.
0
0

H
K

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

R
a
h
a
b

t
e
r
e
s
a
n

N
o
r
m
a

H
K

5
0
%

d
a
r
i

p
e
m
b
u
a
t
a
n

b
a
r
u

1
0
0
0
0

-

-

-

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

-

R
a
h
a
b

t
a
p
a
k

k
u
d
a

N
o
r
m
a

H
K

5
0
%

d
a
r
i

p
e
m
b
u
a
t
a
n

b
a
r
u

1
0
0
0
0

-

-

-

1

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l



1
,
5
1
4
,
4
7
9
,
2
0
0

1
5
1
,
4
4
8




P
e
m
e
l
i
h
a
r
a
a
n

p
r
a
s
a
r
a
n
a







-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

a
c
c
e
s
s

(
1
0
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

0
.
6
7

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

9

m
,

t
e
b
a
l

2
0

c
m

1
0
0
0
0

4
5
2
,
2
5
0
,
0
0
0

4
5
,
2
2
5

1

m
3

1

k
a
l
i

3
7
,
5
0
0

-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

m
a
i
n

(
4
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

1
0

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

9

m
,

t
e
b
a
l

2
0

c
m

3
0
0
0

2
,
6
2
4
,
7
3
7
,
5
0
0

2
6
2
,
4
7
4

2
3
.
3
3

m
3

1

k
a
l
i

3
7
,
5
0
0

-

K
r
o
k
o
s

j
a
l
a
n

c
o
l
l
e
c
t
i
o
n

(
4
0
%
)

P
a
n
j
a
n
g

3
3
.
3
3

m
/
h
a
,

l
e
b
a
r

7

m
,

t
e
b
a
l

1
0

c
m

3
0
0
0

2
,
0
2
5
,
0
0
0
,
0
0
0

2
0
2
,
5
0
0

1
8
.
0
0

m
3

1

k
a
l
i

3
7
,
5
0
0

-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

a
c
c
e
s
s

(
1
0
0
%
)

0
.
6
7

m
/
h
a
,

S
O

=

8
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0

1
,
9
9
3
,
2
5
0

1
9
9

0
.
0
0

H
M

2

k
a
l
i

1
7
0
,
0
0
0

-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

m
a
i
n

(
1
0
0
%
)

1
0

m
/
h
a
,

S
O

=

8
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0

4
2
,
5
0
0
,
0
0
0

4
,
2
5
0

0
.
0
1
2
5

m

2

k
a
l
i

1
7
0
,
0
0
0

-

G
r
a
d
i
n
g

j
a
l
a
n

c
o
l
l
e
c
t
i
o
n

(
1
0
0
%
)

3
.
3
3

m
/
h
a
,

S
O

=

1
0
0
0

m
/
H
M

1
0
0
0
0

5
6
,
6
6
1
,
0
0
0

5
,
6
6
6

0
.
0
3

m

1

k
a
l
i

1
7
0
,
0
0
0

S
u
b

T
o
t
a
l


5
,
2
0
3
,
1
4
1
,
7
5
0

5
2
0
,
3
1
4




S
u
r
v
e
i

d
a
n

S
e
n
s
u
s








-

F
i
n
a
l

s
u
r
v
e
y
/
p
a
t
o
k

p
e
r
b
a
t
a
s
a
n


1
0
0
0
0

2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0

2
2
,
4
4
8

0
.
5

H
K

2

k
a
l
i

2
2
,
4
4
8

S
u
b

T
o
t
a
l



2
2
4
,
4
7
9
,
2
0
0

2
2
,
4
4
8




T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

T
a
h
u
n

A
w
a
l

(
T
a
h
u
n

0
)



2
8
,
6
2
1
,
8
4
3
,
1
4
3

2
,
8
6
2
,
1
8
4




1
0
5
L
a
m
p
i
r
a
n

5
.

E
s
t
i
m
a
s
i

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n

(
D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

N
a
m
a

P
e
r
k
i
r
a
a
n






A
.

B
a
n
g
u
n
a
n

(
2

k
e
b
u
n
,

1

P
M
K
S
)

S
a
t
u
a
n

J
u
m
l
a
h


H
a
r
g
a

p
e
r

u
n
i
t



T
o
t
a
l



R
p
/
h
a


1

L
o
n
g

H
o
u
s
e

+

i
n
s
t
a
l
a
s
i

a
i
r

+

f
u
r

U
n
i
t

1










3
9
4
,
4
1
2
,
0
0
0
.
0
0





















3
9
4
,
4
1
2
,
0
0
0
.
0
0


















3
9
,
4
4
1
.
2
0
2

R
u
m
a
h

g
e
n
e
r
a
l

m
a
n
a
g
e
r

+

f
u
r

U
n
i
t

1










2
4
9
,
3
5
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
4
9
,
3
5
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
4
,
9
3
5
.
0
0


3

R
u
m
a
h

e
s
t
a
t
e

m
a
n
a
g
e
r

+

f
u
r

U
n
i
t

2











1
5
9
,
8
5
0
,
0
0
0
.
0
0






















3
1
9
,
7
0
0
,
0
0
0
.
0
0



















3
1
,
9
7
0
.
0
0


4

R
u
m
a
h

m
i
l
l

m
a
n
a
g
e
r

+

f
u
r

U
n
i
t

1











1
5
9
,
8
5
0
,
0
0
0
.
0
0






















1
5
9
,
8
5
0
,
0
0
0
.
0
0



















1
5
,
9
8
5
.
0
0


5

R
u
m
a
h

a
s
i
s
t
e
n

k
e
b
u
n
,

K
T
U

d
a
n

l
a
i
n
-
l
a
i
n

U
n
i
t

1
2











1
0
7
,
4
5
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
,
2
8
9
,
4
0
0
,
0
0
0
.
0
0
















1
2
8
,
9
4
0
.
0
0


6

R
u
m
a
h

a
s
i
s
t
e
n

P
M
K
S
,

K
T
U

U
n
i
t

5











1
0
7
,
4
5
0
,
0
0
0
.
0
0






















5
3
7
,
2
5
0
,
0
0
0
.
0
0



















5
3
,
7
2
5
.
0
0


7

R
u
m
a
h

k
a
r
y
a
w
a
n

T
1

(
@

1

p
i
n
t
u
)

U
n
i
t

2
3












6
6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0



















1
,
5
1
8
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0

















1
5
1
,
8
0
0
.
0
0

8

R
u
m
a
h

k
a
r
y
a
w
a
n

T
2

(
@

2

p
i
n
t
u
)

U
n
i
t

1
6
0













5
7
,
7
0
0
,
0
0
0
.
0
0

















9
,
2
3
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0















9
2
3
,
2
0
0
.
0
0


9

R
u
m
a
h

k
a
r
y
a
w
a
n

(
T
5
-
L
B

(
@

5

p
i
n
t
u
)

U
n
i
t

1
0
0












1
0
3
,
5
7
5
,
0
0
0
.
0
0

















1
0
,
3
5
7
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0














1
,
0
3
5
,
7
5
0
.
0
0


1
0

R
u
m
a
h

k
a
r
y
a
w
a
n

T
5
-
L
K

(
@

5

p
i
n
t
u
)

U
n
i
t

1
6













8
8
,
7
5
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
,
4
2
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0
















1
4
2
,
0
0
0
.
0
0


1
1

R
u
m
a
h

p
o
m
p
a

b
i
b
i
t
a
n

U
n
i
t

2














8
,
3
0
0
,
0
0
0
.
0
0
























1
6
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















1
,
6
6
0
.
0
0


1
2

k
a
n
t
o
r

b
e
s
a
r

+

p
e
r
a
l
a
t
a
n

+

k
o
m
p
u
t
e
r

U
n
i
t

2











3
8
1
,
4
2
7
,
0
0
0
.
0
0





















7
6
2
,
8
5
4
,
0
0
0
.
0
0


















7
6
,
2
8
5
.
4
0


1
3

G
u
d
a
n
g

m
a
t
e
r
i
a
l

1
0
m

x

2
4
m

U
n
i
t

2










1
2
2
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
4
5
,
2
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
4
,
5
2
0
.
0
0


1
4

G
u
d
a
n
g

p
u
p
u
k

s
e
m
e
n
t
a
r
a

7
m

x

2
4
m

U
n
i
t

2












5
8
,
8
0
0
,
0
0
0
.
0
0























1
1
7
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















1
1
,
7
6
0
.
0
0


1
5

K
a
n
t
o
r

a
f
d
e
l
i
n
g

U
n
i
t

5












5
3
,
3
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
6
6
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
6
,
6
5
0
.
0
0


1
6

P
o
s

h
a
n
s
i
p

U
n
i
t

5















7
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0























3
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















3
,
5
0
0
.
0
0


1
7

M
e
s
j
i
d

U
n
i
t

5












9
0
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















4
5
3
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















4
5
,
3
0
0
.
0
0


1
8

G
e
r
e
j
a

U
n
i
t

1












6
9
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0























6
9
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















6
,
9
5
0
.
0
0


1
9

K
e
d
a
i

k
o
p
e
r
a
s
i

U
n
i
t

5












3
9
,
9
0
0
,
0
0
0
.
0
0






















1
9
9
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0



















1
9
,
9
5
0
.
0
0


2
0

P
e
n
i
t
i
p
a
n

b
a
y
i
/
b
a
l
a
i

k
a
r
y
a
w
a
n

U
n
i
t

5












5
4
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
7
3
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
7
,
3
0
0
.
0
0

2
1

P
o
l
i
k
l
i
n
i
k

s
e
n
t
r
a
l

U
n
i
t

1










1
0
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















1
0
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
0
,
2
0
0
.
0
0


2
2

W
o
r
k
s
h
o
p
/
k
a
n
t
o
r

t
r
a
k
s
i

+

t
o
o
l
s

U
n
i
t

1










2
4
5
,
9
8
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
4
5
,
9
8
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
4
,
5
9
8
.
0
0

2
3

K
a
m
a
r

g
e
n
s
e
t

+

a
n
t
i
p
e
t
i
r

U
n
i
t

6













1
5
,
9
0
0
,
0
0
0
.
0
0























9
5
,
4
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















9
,
5
4
0
.
0
0


2
4

T
a
n
g
k
i

s
o
r
a
l

1
0

t
o
n

U
n
i
t

2













1
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0























3
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















3
,
0
0
0
.
0
0


2
5

G
a
r
a
s
i

k
e
n
d
a
r
a
a
n
-
2

(
l
a
n
t
a
i

t
a
n
a
h
)

U
n
i
t

2












2
4
,
3
0
0
,
0
0
0
.
0
0























4
8
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















4
,
8
6
0
.
0
0


2
6

T
e
m
p
a
t

c
u
c
i

k
e
n
d
a
r
a
a
n


U
n
i
t

1














6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0

























6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0























6
0
0
.
0
0


2
7

L
a
p
a
n
g
a
n

t
e
n
i
s

U
n
i
t

1












6
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0























6
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















6
,
2
0
0
.
0
0


2
8

L
a
p
a
n
g
a
n

s
e
p
a
k

b
o
l
a

U
n
i
t

5













1
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0
























7
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















7
,
5
0
0
.
0
0


T
o
t
a
l

B
a
n
g
u
n
a
n


















2
8
,
5
8
1
,
1
9
6
,
0
0
0
.
0
0














2
,
8
5
8
,
1
1
9
.
6
0


1
0
6
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

5
.

E
s
t
i
m
a
s
i

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n

(
D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

B
.

K
e
n
d
a
r
a
a
n

d
a
n

A
l
a
t

B
e
r
a
t





1

K
e
n
d
a
r
a
a
n







1
.

F
o
r
d

E
s
c
a
p
e

4

x

4

(
G
M
)

U
n
i
t

1










3
3
1
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















3
3
1
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















3
3
,
1
0
0
.
0
0



2
.

F
o
r
d

R
a
n
g
e
r

D
C

H
u
r
r
i
c
a
n
e

2
.
5

4

x

4

(
E
M
)

U
n
i
t

2










2
7
9
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















5
5
9
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















5
5
,
9
0
0
.
0
0



3
.

F
o
r
d

R
a
n
g
e
r

D
C

B
a
s
e

2
.
9

4

x

4

(
M
i
l
l

M
g
r
.
)

U
n
i
t

1










2
3
7
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
3
7
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
3
,
7
0
0
.
0
0



4
.

F
o
r
d

R
a
n
g
e
r

S
C

P
i
c
k
u
p

2
.
9

4

x

4

(
A
s
.

K
e
b
u
n
)

U
n
i
t

1
0











1
8
9
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
,
8
9
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0
















1
8
9
,
5
0
0
.
0
0



5
.

F
o
r
d

A
m
b
u
l
a
n
c
e

4

x

4


U
n
i
t

1










2
3
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
3
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
3
,
5
0
0
.
0
0



6
.

F
o
r
d

P
e
o
p
l
e

M
o
v
e
r

4

x

4

(
p
o
o
l
)

U
n
i
t

2









2
3
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















4
6
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0

















4
6
,
0
0
0
.
0
0



7
.

T
r
u
k

s
e
m
p
r
o
t

P
S

1
2
0

U
n
i
t

2











1
9
1
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















3
8
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0

















3
8
,
2
0
0
.
0
0



8
.

D
u
m
p

t
r
u
c
k

P
S

1
2
0

U
n
i
t

3
0











1
8
0
,
7
5
0
,
0
0
0
.
0
0


















5
,
4
2
2
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0
















5
4
2
,
2
5
0
.
0
0



9
.

S
e
p
e
d
a

m
o
t
o
r

G
L

P
r
o

(
A
s
.

L
a
i
n
n
y
a
)

U
n
i
t

7













1
6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0






















1
1
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0



















1
1
,
2
0
0
.
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l









9
,
6
3
3
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0






9
6
3
,
3
5
0
.
0
0


2

A
l
a
t

B
e
r
a
t







1
.

R
o
a
d

G
r
a
d
e

K
o
m
a
t
s
u

G
D
5
1

1
A
-
1

U
n
i
t

2










9
5
4
,
8
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
,
9
0
9
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0
















1
9
0
,
9
6
0
.
0
0



2
.

E
x
c
a
v
a
t
o
r

K
o
m
a
t
s
u

P
C

1
0
0

U
n
i
t

2










7
9
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
,
5
8
4
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0
















1
5
8
,
4
0
0
.
0
0



3
.

B
u
l
l
d
o
z
e
r

K
o
m
a
t
s
u

D
8
5

E
S
S
2

U
n
i
t

2







1
,
4
9
6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0

















2
,
9
9
2
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0















2
9
9
,
2
0
0
.
0
0



4
.

W
h
e
e
l

T
r
a
c
t
o
r

F
o
r
d

T
S
-
9
0

4
W
D

U
n
i
t

8









2
8
8
,
2
0
0
,
0
0
0
.
0
0

















2
,
3
0
5
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0















2
3
0
,
5
6
0
.
0
0



5
.

P
o
s
t

H
o
l
e

D
i
g
g
e
r

U
n
i
t

8












3
5
,
2
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















2
8
1
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















2
8
,
1
6
0
.
0
0



6
.

T
r
a
i
l
e
r

8

T
o
n

U
n
i
t

1
0













5
5
,
5
9
8
,
4
0
0
.
0
0






















5
5
5
,
9
8
4
,
0
0
0
.
0
0



















5
5
,
5
9
8
.
4
0



7
.

T
r
a
i
l
e
r

T
a
n
g
k
i

A
i
r

3

T
o
n

U
n
i
t

2












2
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0























4
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















4
,
0
0
0
.
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l








9
,
6
6
8
,
7
8
4
,
0
0
0
.
0
0






9
6
6
,
8
7
8
.
4
0


T
o
t
a
l

K
e
n
d
a
r
a
a
n

d
a
n

A
l
a
t

B
e
r
a
t






1
9
,
3
0
2
,
2
8
4
,
0
0
0
.
0
0




1
,
9
3
0
,
2
2
8
.
4
0


C
.

M
e
s
i
n
-
m
e
s
i
n






1

L
i
s
t
r
i
k







1
.

G
e
n
s
e
t

1
2
0

K
V
A

(
a
f
d
e
l
i
n
g
)

U
n
i
t

5











1
9
0
,
5
2
0
,
0
0
0
.
0
0





















9
5
2
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















9
5
,
2
6
0
.
0
0



2
.

G
e
n
s
e
t

6
0

K
V
A

(
e
m
p
l
.

S
t
a
f
f
)

U
n
i
t

2












8
6
,
6
8
0
,
0
0
0
.
0
0






















1
7
3
,
3
6
0
,
0
0
0
.
0
0



















1
7
,
3
3
6
.
0
0

3
.

G
e
n
s
e
r
t

1
5

K
V
A

(
k
o
n
t
o
r

k
e
b
u
n
)

U
n
i
t

2












2
3
,
3
2
0
,
0
0
0
.
0
0























4
6
,
6
4
0
,
0
0
0
.
0
0




















4
,
6
6
4
.
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l









1
,
1
7
2
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0








1
1
7
,
2
6
0
.
0
0


2

A
i
r







1
.

P
o
m
p
a

a
i
r

(
I
S
O

1
0
0

x

6
2
-
2
0
0
)

U
n
i
t

2












6
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















1
2
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
2
,
0
0
0
.
0
0


2
.

I
n
s
t
a
l
a
s
i

p
i
p
a

d
a
n

f
i
t
t
i
n
g

b
i
b
i
t
a
n

h
a

6
0













1
2
,
2
0
2
,
0
0
0
.
0
0






















7
3
2
,
1
2
0
,
0
0
0
.
0
0



















7
3
,
2
1
2
.
0
0



3
.

T
a
n
g
k
i

a
i
r

1
5

t
o
n

+

t
o
w
e
r

6

m

U
n
i
t

2












6
2
,
2
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















1
2
4
,
4
0
0
,
0
0
0
.
0
0


















1
2
,
4
4
0
.
0
0

4
.

S
u
m
u
r

b
o
r

U
n
i
t

2











1
6
5
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0




















3
3
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0

















3
3
,
0
0
0
.
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l









1
,
3
0
6
,
5
2
0
,
0
0
0
.
0
0







1
3
0
,
6
5
2
.
0
0


T
o
t
a
l

M
e
s
i
n
-
m
e
s
i
n









2
,
4
7
9
,
1
2
0
,
0
0
0
.
0
0







2
4
7
,
9
1
2
.
0
0


T
O
T
A
L

C
A
P
E
X







5
0
,
3
6
2
,
6
0
0
,
0
0
0
.
0
0



5
,
0
3
6
,
2
6
0
.
0
0


1
0
7
L
a
m
p
i
r
a
n

6
.

E
s
t
i
m
a
s
i

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

P
K
S

d
a
n

J
e
m
b
a
t
a
n

P
e
r
m
a
n
e
n

(
D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

N
a
m
a

P
e
r
k
i
r
a
a
n

S
a
t
u
a
n

J
u
m
l
a
h


H
a
r
g
a

p
e
r

U
n
i
t

(
R
p
.
)


T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

(
R
p
.
)

B
i
a
y
a

p
e
r

H
e
k
t
a
r

(
R
p
.
/
h
a
)

A
.

P
a
b
r
i
k

K
e
l
a
p
a

S
a
w
i
t







K
a
p
a
s
i
t
a
s

6
0

t
o
n

T
B
S
/
j
a
m

U
n
i
t

1








7
0
,
4
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0


7
0
,
4
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















7
,
0
4
0
,
0
0
0
.
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l





7
0
,
4
0
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















7
,
0
4
0
,
0
0
0
.
0
0


B
.

J
e
m
b
a
t
a
n

P
e
r
m
a
n
e
n







G
o
r
o
n
g
-
g
o
r
o
n
g

(
7
0
%

j
e
m
b
a
t
a
n
)

U
n
i
t

3
4
0















5
,
9
0
0
,
0
0
0
.
0
0




2
,
0
0
6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0
























2
0
0
,
6
0
0
.
0
0



B
o
x

C
u
l
v
e
r
t

(
2
0
%

j
e
m
b
a
t
a
n
)

U
n
i
t

4
0














2
4
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0







9
8
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0

























9
8
,
0
0
0
.
0
0



J
e
m
b
a
t
a
n

p
e
r
m
a
n
e
n

(
1
0
%

j
e
m
b
a
t
a
n
)

U
n
i
t

2
0














5
2
,
5
0
0
,
0
0
0
.
0
0




1
,
0
5
0
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0
























1
0
5
,
0
0
0
.
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l







4
,
0
3
6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0
























4
0
3
,
6
0
0
.
0
0


T
O
T
A
L

C
A
P
E
X





7
4
,
4
3
6
,
0
0
0
,
0
0
0
.
0
0





















7
,
4
4
3
,
6
0
0
.
0
0


1
0
8
L
a
m
p
i
r
a
n

7
.

P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

B
i
a
y
a

I
n
v
e
s
t
a
s
i

(
R
p
.

0
0
0
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n


h
a



T
a
h
u
n

0



T
a
h
u
n

1



T
a
h
u
n

2



T
a
h
u
n

3



T
a
h
u
n

4



T
a
h
u
n

5


F
a
s
e

1

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n












3
,
0
0
0


2
7
,
9
1
2
,
1
3
4




8
,
1
7
8
,
5
1
1







7
,
7
0
0
,
9
8
4






9
,
8
0
2
,
7
5
3


-


-


F
a
s
e

2

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n












3
,
0
0
0


-


2
7
,
9
1
2
,
1
3
4







8
,
1
7
8
,
5
1
1






7
,
7
0
0
,
9
8
4






9
,
8
0
2
,
7
5
3


F
a
s
e

3

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n












4
,
0
0
0


-


-





3
7
,
2
1
6
,
1
7
8




1
0
,
9
0
4
,
6
8
1




1
0
,
2
6
7
,
9
7
8




1
3
,
0
7
0
,
3
3
7


S
u
b

T
o
t
a
l

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n










1
0
,
0
0
0


2
7
,
9
1
2
,
1
3
4


3
6
,
0
9
0
,
6
4
5





5
3
,
0
9
5
,
6
7
3




2
8
,
4
0
8
,
4
1
8




2
0
,
0
7
0
,
7
3
1




1
3
,
0
7
0
,
3
3
7


S
a
l
d
o

A
w
a
l



-


2
7
,
9
1
2
,
1
3
4





6
4
,
0
0
2
,
7
7
9


1
1
7
,
0
9
8
,
4
5
2


1
4
5
,
5
0
6
,
8
7
0


1
6
5
,
5
7
7
,
6
0
1


A
k
t
i
v
a

T
e
t
a
p

T
a
n
a
m
a
n



2
7
,
9
1
2
,
1
3
4


3
6
,
0
9
0
,
6
4
5





5
3
,
0
9
5
,
6
7
3




2
8
,
4
0
8
,
4
1
8




2
0
,
0
7
0
,
7
3
1




1
3
,
0
7
0
,
3
3
7


S
a
l
d
o

A
k
h
i
r



2
7
,
9
1
2
,
1
3
4


6
4
,
0
0
2
,
7
7
9



1
1
7
,
0
9
8
,
4
5
2


1
4
5
,
5
0
6
,
8
7
0


1
6
5
,
5
7
7
,
6
0
1


1
7
8
,
6
4
7
,
9
3
8


T
o
t
a
l

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
n
a
m
a
n


1
7
8
,
6
4
7
,
9
3
8















I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n








K
e
t
e
r
a
n
g
a
n


T
a
h
u
n

0



T
a
h
u
n

1



T
a
h
u
n

2



T
a
h
u
n

3



T
a
h
u
n

4



T
a
h
u
n

5



T
a
h
u
n

6


T
a
n
a
h






3
,
7
6
5
,
0
0
0







B
a
n
g
u
n
a
n
/
P
e
r
u
m
a
h
a
n






5
,
6
6
0
,
2
4
2




3
,
3
2
5
,
6
5
0




4
,
6
3
8
,
0
0
0









8
3
8
,
1
5
0






5
,
5
3
1
,
7
7
7






3
,
4
3
9
,
7
0
0






5
,
1
4
5
,
6
7
7


K
e
n
d
a
r
a
a
n
/
A
l
a
t

B
e
r
a
t






6
,
0
6
4
,
1
2
2




6
,
2
5
1
,
0
5
3




2
,
3
4
8
,
6
7
7







2
,
3
5
0
,
0
1
7






1
,
3
8
5
,
6
5
7








9
0
3
,
8
5
3


-


M
e
s
i
n
-
m
e
s
i
n






1
,
2
1
4
,
8
4
0







2
5
2
,
7
2
0







1
9
0
,
5
2
0









1
6
5
,
0
0
0








4
6
5
,
5
2
0


-








1
9
0
,
5
2
0


S
u
b

T
o
t
a
l

I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n




1
6
,
7
0
4
,
2
0
4




9
,
8
2
9
,
4
2
3




7
,
1
7
7
,
1
9
7







3
,
3
5
3
,
1
6
7






7
,
3
8
2
,
9
5
4






4
,
3
4
3
,
5
5
3






5
,
3
3
6
,
1
9
7


T
o
t
a
l

I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n




5
4
,
1
2
6
,
6
9
5















I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k








K
e
t
e
r
a
n
g
a
n


T
a
h
u
n

0



T
a
h
u
n

1



T
a
h
u
n

2



T
a
h
u
n

3



T
a
h
u
n

4



T
a
h
u
n

5



T
a
h
u
n

6


P
a
b
r
i
k

K
e
l
a
p
a

S
a
w
i
t


-


-


-





3
5
,
2
0
0
,
0
0
0




3
5
,
2
0
0
,
0
0
0


-


-


J
e
m
b
a
t
a
n

P
e
r
m
a
n
e
n


-


-


-



-






1
,
2
1
0
,
8
0
0






1
,
2
1
0
,
8
0
0






1
,
6
1
4
,
4
0
0


S
u
b

T
o
t
a
l

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k
















-
















-
















-






3
5
,
2
0
0
,
0
0
0




3
6
,
4
1
0
,
8
0
0






1
,
2
1
0
,
8
0
0






1
,
6
1
4
,
4
0
0


T
o
t
a
l

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k




7
4
,
4
3
6
,
0
0
0







1
0
9
L
a
m
p
i
r
a
n

8
.

E
s
t
i
m
a
s
i

B
i
a
y
a

P
e
n
y
u
s
u
t
a
n

I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n

d
a
n

P
r
o
y
e
k

S
e
l
a
m
a

1
0

T
a
h
u
n

(
R
p
.

0
0
0
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

K
a
t
e
g
o
r
i

I
n
v
e
s
t
a
s
i


R
p
.

0
0
0



T
a
h
u
n

0



T
a
h
u
n

1



T
a
h
u
n

2



T
a
h
u
n

3



T
a
h
u
n

4



T
a
h
u
n

5



T
a
h
u
n

6



T
a
h
u
n

7



T
a
h
u
n

8


L
a
h
a
n

(
2
5

t
a
h
u
n
)

:

T
a
h
u
n

0

1
0
,
0
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n

(
1
0

T
a
h
u
n
)
:











T
a
h
u
n

0

1
6
,
7
0
4
,
2
0
4

-

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

T
a
h
u
n

1

9
,
8
2
9
,
4
2
3

-

-

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

T
a
h
u
n

2

7
,
1
7
7
,
1
9
7

-

-

-

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

T
a
h
u
n

3

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

3
8
,
5
5
3
,
1
6
7

-

-

-

-

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

T
a
h
u
n

4

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

4
3
,
7
9
3
,
7
5
4

-

-

-

-

-

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

T
a
h
u
n

5

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

5
,
5
5
4
,
3
5
3

-

-

-

-

-

-

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

T
a
h
u
n

6

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

6
,
9
5
0
,
5
9
7

-

-

-

-

-

-

-

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

T
o
t
a
l

P
e
n
y
u
s
u
t
a
n



1
,
6
7
0
,
4
2
0

2
,
6
5
3
,
3
6
3

3
,
3
7
1
,
0
8
2

7
,
2
2
6
,
3
9
9

1
1
,
6
0
5
,
7
7
5

1
2
,
1
6
1
,
2
1
0

1
2
,
8
5
6
,
2
7
0

1
2
,
8
5
6
,
2
7
0

K
a
t
e
g
o
r
i

I
n
v
e
s
t
a
s
i


R
p
.

0
0
0



T
a
h
u
n

9



T
a
h
u
n

1
0



T
a
h
u
n

1
1



T
a
h
u
n

1
2



T
a
h
u
n

1
3


T
a
h
u
n

1
4


T
a
h
u
n

1
5


T
a
h
u
n

1
6


L
a
h
a
n

(
2
5

t
a
h
u
n
)

:

T
a
h
u
n

0

1
0
,
0
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

4
0
0

I
n
v
e
s
t
a
s
i

N
o
n

T
a
n
a
m
a
n

(
1
0

T
a
h
u
n
)
:










T
a
h
u
n

0

1
6
,
7
0
4
,
2
0
4

1
,
6
7
0
,
4
2
0

1
,
6
7
0
,
4
2
0

-

-

-

-

-

-

T
a
h
u
n

1

9
,
8
2
9
,
4
2
3

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

9
8
2
,
9
4
2

-

-

-

-

-

T
a
h
u
n

2

7
,
1
7
7
,
1
9
7

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

7
1
7
,
7
2
0

-

-

-

-

T
a
h
u
n

3

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

3
8
,
5
5
3
,
1
6
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

3
,
8
5
5
,
3
1
7

-

-

-

T
a
h
u
n

4

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

4
3
,
7
9
3
,
7
5
4

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

4
,
3
7
9
,
3
7
5

-

-

T
a
h
u
n

5

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

5
,
5
5
4
,
3
5
3

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

5
5
5
,
4
3
5

-

T
a
h
u
n

6

+

I
n
v
e
s
t
a
s
i

P
r
o
y
e
k

6
,
9
5
0
,
5
9
7

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

6
9
5
,
0
6
0

T
o
t
a
l

P
e
n
y
u
s
u
t
a
n


1
2
,
8
5
6
,
2
7
0

1
2
,
8
5
6
,
2
7
0

1
1
,
1
8
5
,
8
4
9

1
0
,
2
0
2
,
9
0
7

9
,
4
8
5
,
1
8
7

5
,
6
2
9
,
8
7
0

1
,
2
5
0
,
4
9
5

6
9
5
,
0
6
0

T
o
t
a
l

P
e
n
y
u
s
u
t
a
n

1
2
8
,
5
6
2
,
6
9
5









1
1
0
L
a
m
p
i
r
a
n

9
.

E
s
t
i
m
a
s
i

B
i
a
y
a

O
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

P
e
r
u
s
a
h
a
a
n

K
e
l
a
p
a

S
a
w
i
t

(
l
u
a
s

1
0

0
0
0

h
a
)

d
e
n
g
a
n

F
a
k
t
o
r

K
o
r
e
k
s
i

I
n
f
l
s
i

3
%

d
a
n

P
o
l
a

D
i
s
t
r
i
b
u
s
i

B
i
a
y
a

M
e
n
g
i
k
u
t
i

U
m
u
r

T
a
n
a
m
a
n

d
a
n

P
r
o
f
i
l

P
r
o
d
u
k
s
i

(
R
p
.

0
0
0
)

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n


T
a
h
u
n

3



T
a
h
u
n

4



T
a
h
u
n

5



T
a
h
u
n

6



T
a
h
u
n

7



T
a
h
u
n

8



T
a
h
u
n

9



T
a
h
u
n

1
0


T
a
h
u
n

1
1


T
a
h
u
n

1
2


T
a
h
u
n

1
3



T
a
h
u
n

1
4


B
i
a
y
a
P
e
m
e
l
i
h
a
r
a
a
n

T
a
n
a
m
a
n

8
,
2
9
0
,
4
9
1

1
7
,
0
7
8
,
4
1
1

2
9
,
3
1
7
,
9
3
9

3
0
,
1
9
7
,
4
7
7

3
1
,
1
0
3
,
4
0
2

3
0
,
4
9
2
,
3
4
4

3
1
,
4
0
7
,
1
1
4

3
2
,
3
4
9
,
3
2
8

3
3
,
3
1
9
,
8
0
8

3
4
,
3
1
9
,
4
0
2

3
5
,
3
4
8
,
9
8
4

3
6
,
4
0
9
,
4
5
3

B
i
a
y
a

P
a
n
e
n

d
a
n

T
r
a
n
s
p
o
r
1
,
8
9
0
,
0
0
0

6
,
1
1
8
,
2
0
0

1
2
,
4
1
2
,
5
3
0

1
8
,
2
9
2
,
2
5
0

2
2
,
5
8
8
,
9
6
2

1
9
,
5
2
5
,
9
4
1

2
1
,
5
3
6
,
9
5
9

2
2
,
8
3
5
,
5
1
1

2
3
,
5
2
0
,
5
7
6

2
4
,
2
2
6
,
1
9
3

2
4
,
9
5
2
,
9
7
9

2
5
,
1
5
0
,
8
2
1

B
i
a
y
a

T
i
d
a
k

L
a
n
g
s
u
n
g

P
K
S

4
,
2
0
6
,
9
9
9

4
,
3
3
3
,
2
0
9

4
,
4
6
3
,
2
0
5

4
,
5
9
7
,
1
0
1

4
,
7
3
5
,
0
1
4

4
,
8
7
7
,
0
6
5

5
,
0
2
3
,
3
7
7

5
,
1
7
4
,
0
7
8

5
,
3
2
9
,
3
0
0

5
,
4
8
9
,
1
7
9

5
,
6
5
3
,
8
5
5

5
,
8
2
3
,
4
7
0

B
i
a
y
a

P
e
n
g
o
l
a
h
a
n

5
2
5
,
0
0
0

1
,
6
9
9
,
5
0
0

3
,
4
4
7
,
9
2
5

5
,
0
8
1
,
1
8
1

6
,
2
7
4
,
7
1
2

7
,
3
6
1
,
3
9
0

8
,
1
1
9
,
5
5
6

8
,
6
0
9
,
1
1
7

8
,
8
6
7
,
3
9
1

9
,
1
3
3
,
4
1
2

9
,
4
0
7
,
4
1
5

9
,
4
8
2
,
0
0
2

B
i
a
y
a

K
a
n
t
o
r

P
u
s
a
t

1
,
6
5
0
,
0
0
0

1
,
6
9
9
,
5
0
0

1
,
7
5
0
,
4
8
5

1
,
8
0
3
,
0
0
0

1
,
8
5
7
,
0
9
0

1
,
9
1
2
,
8
0
2

1
,
9
7
0
,
1
8
6

2
,
0
2
9
,
2
9
2

2
,
0
9
0
,
1
7
1

2
,
1
5
2
,
8
7
6

2
,
2
1
7
,
4
6
2

2
,
2
8
3
,
9
8
6

T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

O
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

1
6
,
5
6
2
,
4
9
0

3
0
,
9
2
8
,
8
2
0

5
1
,
3
9
2
,
0
8
4

5
9
,
9
7
1
,
0
0
9

6
6
,
5
5
9
,
1
8
0

6
4
,
1
6
9
,
5
4
2

6
8
,
0
5
7
,
1
9
2

7
0
,
9
9
7
,
3
2
6

7
3
,
1
2
7
,
2
4
6

7
5
,
3
2
1
,
0
6
2

7
7
,
5
8
0
,
6
9
5

7
9
,
1
4
9
,
7
3
2

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n


T
a
h
u
n

1
5



T
a
h
u
n

1
6



T
a
h
u
n

1
7



T
a
h
u
n

1
8



T
a
h
u
n

1
9



T
a
h
u
n

2
0



T
a
h
u
n

2
1



T
a
h
u
n

2
2



T
a
h
u
n

2
3



T
a
h
u
n

2
4



T
a
h
u
n

2
5


B
i
a
y
a
P
e
m
e
l
i
h
a
r
a
a
n

T
a
n
a
m
a
n

3
4
,
5
7
8
,
1
9
3

3
5
,
6
1
5
,
5
3
9

3
6
,
6
8
4
,
0
0
5

3
7
,
7
8
4
,
5
2
6

3
8
,
9
1
8
,
0
6
1

4
0
,
0
8
5
,
6
0
3

4
1
,
2
8
8
,
1
7
1

4
2
,
5
2
6
,
8
1
6

4
3
,
8
0
2
,
6
2
1

4
5
,
1
1
6
,
6
9
9

4
6
,
4
7
0
,
2
0
0

B
i
a
y
a

P
a
n
e
n

d
a
n

T
r
a
n
s
p
o
r

2
8
,
6
3
5
,
1
0
3

2
8
,
1
0
2
,
9
2
2

2
8
,
1
4
3
,
5
4
6

2
8
,
2
2
0
,
3
5
3

2
8
,
4
5
8
,
8
6
9

2
8
,
4
3
5
,
7
6
1

2
8
,
5
1
4
,
6
8
0

2
8
,
0
4
1
,
1
5
5

2
7
,
5
1
3
,
5
5
6

2
6
,
9
2
9
,
0
6
4

2
6
,
2
8
4
,
7
4
1

B
i
a
y
a

T
i
d
a
k

L
a
n
g
s
u
n
g

P
K
S

5
,
9
9
8
,
1
7
5

6
,
1
7
8
,
1
2
0

6
,
3
6
3
,
4
6
3

6
,
5
5
4
,
3
6
7

6
,
7
5
0
,
9
9
8

6
,
9
5
3
,
5
2
8

7
,
1
6
2
,
1
3
4

7
,
3
7
6
,
9
9
8

7
,
5
9
8
,
3
0
8

7
,
8
2
6
,
2
5
7

8
,
0
6
1
,
0
4
5

B
i
a
y
a

P
e
n
g
o
l
a
h
a
n

9
,
4
4
5
,
6
6
6

9
,
2
7
0
,
1
1
9

9
,
2
8
3
,
5
1
9

9
,
3
0
8
,
8
5
5

9
,
3
8
7
,
5
3
3

9
,
3
7
9
,
9
1
0

9
,
4
0
5
,
9
4
3

9
,
2
4
9
,
7
4
4

9
,
0
7
5
,
7
0
9

8
,
8
8
2
,
9
0
7

8
,
6
7
0
,
3
6
8

B
i
a
y
a

K
a
n
t
o
r

P
u
s
a
t

2
,
3
5
2
,
5
0
5

2
,
4
2
3
,
0
8
1

2
,
4
9
5
,
7
7
3

2
,
5
7
0
,
6
4
6

2
,
6
4
7
,
7
6
6

2
,
7
2
7
,
1
9
9

2
,
8
0
9
,
0
5
1

2
,
8
9
3
,
2
8
5

2
,
9
8
0
,
0
8
4

3
,
0
6
9
,
4
8
6

3
,
1
6
1
,
5
7
1
T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

O
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

8
1
,
0
0
9
,
6
4
2

8
1
,
5
8
9
,
7
8
1

8
2
,
9
7
0
,
3
0
6

8
4
,
4
3
8
,
7
4
7

8
6
,
1
6
3
,
2
2
7

8
7
,
5
8
2
,
0
0
1

8
9
,
1
7
9
,
9
7
9

9
0
,
0
8
7
,
9
9
8

9
0
,
9
7
0
,
2
7
8

9
1
,
8
2
4
,
4
1
3

9
2
,
6
4
7
,
9
2
5

B
i
a
y
a

O
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

1
,
6
9
2
,
2
8
0
,
6
7
5











1
1
1
L
a
m
p
i
r
a
n

1
0
.

E
s
t
i
m
a
s
i

P
e
n
e
r
i
m
a
a
n

(
R
p
.

0
0
0
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n

T
a
h
u
n

0

T
a
h
u
n

1

T
a
h
u
n

2


T
a
h
u
n

3



T
a
h
u
n

4



T
a
h
u
n

5



T
a
h
u
n

6



T
a
h
u
n

7



T
a
h
u
n

8



T
a
h
u
n

9



T
a
h
u
n

1
0


T
o
n

T
B
S
/
h
a

-

-

-

7

1
5

1
9

2
3

2
6

2
8

2
8

2
8

M
K
S

(
%
)

-

-

-

0
.
2
0
0

0
.
2
1
0

0
.
2
2
0

0
.
2
3
0

0
.
2
3
5

0
.
2
3
5

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

I
K
S

(
%
)

-

-

-

0
.
0
4
5

0
.
0
4
8

0
.
0
5
0

0
.
0
5
3

0
.
0
5
3

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

H
a
r
g
a

M
K
S
/
t
o
n

-

-

-

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

H
a
r
g
a

I
K
S
/
t
o
n

-

-

-

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1




2
1
,
0
0
0

4
5
,
0
0
0

5
7
,
0
0
0

6
9
,
0
0
0

7
8
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2





2
1
,
0
0
0

4
5
,
0
0
0

5
7
,
0
0
0

6
9
,
0
0
0

7
8
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
3






2
8
,
0
0
0

6
0
,
0
0
0

7
6
,
0
0
0

9
2
,
0
0
0

1
0
4
,
0
0
0

1
1
2
,
0
0
0

T
o
t
a
l

P
r
o
d
u
k
s
i




2
1
,
0
0
0

6
6
,
0
0
0

1
3
0
,
0
0
0

1
8
6
,
0
0
0

2
2
3
,
0
0
0

2
5
4
,
0
0
0

2
7
2
,
0
0
0

2
8
0
,
0
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1




1
5
,
2
8
8
,
0
0
0

3
4
,
3
9
8
,
0
0
0

4
5
,
6
4
5
,
6
0
0

5
7
,
7
6
6
,
8
0
0

6
6
,
7
2
1
,
2
0
0

7
1
,
8
5
3
,
6
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2





1
5
,
2
8
8
,
0
0
0

3
4
,
3
9
8
,
0
0
0

4
5
,
6
4
5
,
6
0
0

5
7
,
7
6
6
,
8
0
0

6
6
,
7
2
1
,
2
0
0

7
1
,
8
5
3
,
6
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
1






2
0
,
3
8
4
,
0
0
0

4
5
,
8
6
4
,
0
0
0

6
0
,
8
6
0
,
8
0
0

7
7
,
0
2
2
,
4
0
0

8
8
,
9
6
1
,
6
0
0

9
5
,
8
0
4
,
8
0
0

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S




1
5
,
2
8
8
,
0
0
0

4
9
,
6
8
6
,
0
0
0

1
0
0
,
4
2
7
,
6
0
0

1
4
9
,
2
7
6
,
4
0
0

1
8
5
,
3
4
8
,
8
0
0

2
1
5
,
5
9
7
,
2
0
0

2
3
3
,
4
3
3
,
2
0
0

2
4
1
,
0
4
0
,
8
0
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1




1
,
8
9
1
,
8
9
0

4
,
2
7
9
,
2
7
5

5
,
7
0
5
,
7
0
0

7
,
2
5
2
,
2
4
5

8
,
1
9
8
,
1
9
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2





1
,
8
9
1
,
8
9
0

4
,
2
7
9
,
2
7
5

5
,
7
0
5
,
7
0
0

7
,
2
5
2
,
2
4
5

8
,
1
9
8
,
1
9
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
1






2
,
5
2
2
,
5
2
0

5
,
7
0
5
,
7
0
0

7
,
6
0
7
,
6
0
0

9
,
6
6
9
,
6
6
0

1
0
,
9
3
0
,
9
2
0

1
2
,
3
3
2
,
3
2
0

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S




1
,
8
9
1
,
8
9
0

6
,
1
7
1
,
1
6
5

1
2
,
5
0
7
,
4
9
5

1
8
,
6
6
3
,
6
4
5

2
3
,
0
5
8
,
0
3
5

2
7
,
1
1
7
,
0
9
0

2
9
,
4
2
9
,
4
0
0

3
0
,
8
3
0
,
8
0
0

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e




1
7
,
1
7
9
,
8
9
0

5
5
,
8
5
7
,
1
6
5

1
1
2
,
9
3
5
,
0
9
5

1
6
7
,
9
4
0
,
0
4
5

2
0
8
,
4
0
6
,
8
3
5

2
4
2
,
7
1
4
,
2
9
0

2
6
2
,
8
6
2
,
6
0
0

2
7
1
,
8
7
1
,
6
0
0

1
1
2
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

1
0
.

E
s
t
i
m
a
s
i

P
e
n
e
r
i
m
a
a
n

(
R
p
.

0
0
0
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n


T
a
h
u
n

1
1



T
a
h
u
n

1
2



T
a
h
u
n

1
3



T
a
h
u
n

1
4



T
a
h
u
n

1
5



T
a
h
u
n

1
6



T
a
h
u
n

1
7



T
a
h
u
n

1
8



T
a
h
u
n

1
9



T
a
h
u
n

2
0


T
o
n

T
B
S
/
h
a

2
8

2
8

2
8

2
6

2
5

2
5

2
4

2
3

2
3

2
2

M
K
S

(
%
)

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

I
K
S

(
%
)

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

H
a
r
g
a

M
K
S
/
t
o
n

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

H
a
r
g
a

I
K
S
/
t
o
n

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

7
8
,
0
0
0

7
5
,
0
0
0

7
3
,
5
0
0

7
2
,
0
0
0

6
9
,
0
0
0

6
9
,
0
0
0

6
6
,
0
0
0

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

7
8
,
0
0
0

7
5
,
0
0
0

7
3
,
5
0
0

7
2
,
0
0
0

6
9
,
0
0
0

6
9
,
0
0
0

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
3

1
1
2
,
0
0
0

1
1
2
,
0
0
0

1
1
2
,
0
0
0

1
1
2
,
0
0
0

1
1
2
,
0
0
0

1
0
4
,
0
0
0

1
0
0
,
0
0
0

9
8
,
0
0
0

9
6
,
0
0
0

9
2
,
0
0
0

T
o
t
a
l

P
r
o
d
u
k
s
i

2
8
0
,
0
0
0

2
8
0
,
0
0
0

2
8
0
,
0
0
0

2
7
4
,
0
0
0

2
6
5
,
0
0
0

2
5
2
,
5
0
0

2
4
5
,
5
0
0

2
3
9
,
0
0
0

2
3
4
,
0
0
0

2
2
7
,
0
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

6
7
,
4
3
1
,
0
0
0

6
4
,
8
3
7
,
5
0
0

6
3
,
5
4
0
,
7
5
0

6
2
,
2
4
4
,
0
0
0

5
9
,
6
5
0
,
5
0
0

5
9
,
6
5
0
,
5
0
0

5
7
,
0
5
7
,
0
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

6
7
,
4
3
1
,
0
0
0

6
4
,
8
3
7
,
5
0
0

6
3
,
5
4
0
,
7
5
0

6
2
,
2
4
4
,
0
0
0

5
9
,
6
5
0
,
5
0
0

5
9
,
6
5
0
,
5
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
1

9
6
,
8
2
4
,
0
0
0

9
6
,
8
2
4
,
0
0
0

9
6
,
8
2
4
,
0
0
0

9
6
,
8
2
4
,
0
0
0

9
6
,
8
2
4
,
0
0
0

8
9
,
9
0
8
,
0
0
0

8
6
,
4
5
0
,
0
0
0

8
4
,
7
2
1
,
0
0
0

8
2
,
9
9
2
,
0
0
0

7
9
,
5
3
4
,
0
0
0

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

2
4
2
,
0
6
0
,
0
0
0

2
4
2
,
0
6
0
,
0
0
0

2
4
2
,
0
6
0
,
0
0
0

2
3
6
,
8
7
3
,
0
0
0

2
2
9
,
0
9
2
,
5
0
0

2
1
8
,
2
8
6
,
2
5
0

2
1
2
,
2
3
4
,
7
5
0

2
0
6
,
6
1
5
,
5
0
0

2
0
2
,
2
9
3
,
0
0
0

1
9
6
,
2
4
1
,
5
0
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

8
,
5
8
8
,
5
8
0

8
,
2
5
8
,
2
5
0

8
,
0
9
3
,
0
8
5

7
,
9
2
7
,
9
2
0

7
,
5
9
7
,
5
9
0

7
,
5
9
7
,
5
9
0

7
,
2
6
7
,
2
6
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

8
,
5
8
8
,
5
8
0

8
,
2
5
8
,
2
5
0

8
,
0
9
3
,
0
8
5

7
,
9
2
7
,
9
2
0

7
,
5
9
7
,
5
9
0

7
,
5
9
7
,
5
9
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
1

1
2
,
3
3
2
,
3
2
0

1
2
,
3
3
2
,
3
2
0

1
2
,
3
3
2
,
3
2
0

1
2
,
3
3
2
,
3
2
0

1
2
,
3
3
2
,
3
2
0

1
1
,
4
5
1
,
4
4
0

1
1
,
0
1
1
,
0
0
0

1
0
,
7
9
0
,
7
8
0

1
0
,
5
7
0
,
5
6
0

1
0
,
1
3
0
,
1
2
0

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

3
0
,
8
3
0
,
8
0
0

3
0
,
8
3
0
,
8
0
0

3
0
,
8
3
0
,
8
0
0

3
0
,
1
7
0
,
1
4
0

2
9
,
1
7
9
,
1
5
0

2
7
,
8
0
2
,
7
7
5

2
7
,
0
3
2
,
0
0
5

2
6
,
3
1
6
,
2
9
0

2
5
,
7
6
5
,
7
4
0

2
4
,
9
9
4
,
9
7
0
T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

2
7
2
,
8
9
0
,
8
0
0

2
7
2
,
8
9
0
,
8
0
0

2
7
2
,
8
9
0
,
8
0
0

2
6
7
,
0
4
3
,
1
4
0

2
5
8
,
2
7
1
,
6
5
0

2
4
6
,
0
8
9
,
0
2
5

2
3
9
,
2
6
6
,
7
5
5

2
3
2
,
9
3
1
,
7
9
0

2
2
8
,
0
5
8
,
7
4
0

2
2
1
,
2
3
6
,
4
7
0

1
1
3
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

1
0
.

E
s
t
i
m
a
s
i

P
e
n
e
r
i
m
a
a
n

(
R
p
.

0
0
0
,

D
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n


T
a
h
u
n

2
1



T
a
h
u
n

2
2



T
a
h
u
n

2
3



T
a
h
u
n

2
4



T
a
h
u
n

2
5


T
o
n

T
B
S
/
h
a

2
1

2
0

1
9

1
8

1
7

M
K
S

(
%
)

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
8

0
.
2
3
5

I
K
S

(
%
)

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
5

0
.
0
5
4

H
a
r
g
a

M
K
S
/
t
o
n

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

3
,
6
4
0

H
a
r
g
a

I
K
S
/
t
o
n

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

2
,
0
0
2

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1

6
3
,
0
0
0

6
0
,
0
0
0

5
7
,
0
0
0

5
4
,
0
0
0

5
1
,
0
0
0

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2

6
6
,
0
0
0

6
3
,
0
0
0

6
0
,
0
0
0

5
7
,
0
0
0

5
4
,
0
0
0

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
3

9
2
,
0
0
0

8
8
,
0
0
0

8
4
,
0
0
0

8
0
,
0
0
0

7
6
,
0
0
0

T
o
t
a
l

P
r
o
d
u
k
s
i

2
2
1
,
0
0
0

2
1
1
,
0
0
0

2
0
1
,
0
0
0

1
9
1
,
0
0
0

1
8
1
,
0
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1

5
4
,
4
6
3
,
5
0
0

5
1
,
8
7
0
,
0
0
0

4
9
,
2
7
6
,
5
0
0

4
6
,
6
8
3
,
0
0
0

4
3
,
5
3
2
,
5
8
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2

5
7
,
0
5
7
,
0
0
0

5
4
,
4
6
3
,
5
0
0

5
1
,
8
7
0
,
0
0
0

4
9
,
2
7
6
,
5
0
0

4
6
,
6
8
3
,
0
0
0

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
1

7
9
,
5
3
4
,
0
0
0

7
6
,
0
7
6
,
0
0
0

7
2
,
6
1
8
,
0
0
0

6
9
,
1
6
0
,
0
0
0

6
5
,
7
0
2
,
0
0
0

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

M
K
S

1
9
1
,
0
5
4
,
5
0
0

1
8
2
,
4
0
9
,
5
0
0

1
7
3
,
7
6
4
,
5
0
0

1
6
5
,
1
1
9
,
5
0
0

1
5
5
,
9
1
7
,
5
8
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
1

6
,
9
3
6
,
9
3
0

6
,
6
0
6
,
6
0
0

6
,
2
7
6
,
2
7
0

5
,
9
4
5
,
9
4
0

5
,
5
3
3
,
9
2
8

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

3
0
0
0

h
a

t
h
-
2

7
,
2
6
7
,
2
6
0

6
,
9
3
6
,
9
3
0

6
,
6
0
6
,
6
0
0

6
,
2
7
6
,
2
7
0

5
,
9
4
5
,
9
4
0

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

P
r
o
d
u
k
s
i

4
0
0
0

h
a

t
h
-
1

1
0
,
1
3
0
,
1
2
0

9
,
6
8
9
,
6
8
0

9
,
2
4
9
,
2
4
0

8
,
8
0
8
,
8
0
0

8
,
3
6
8
,
3
6
0

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

I
K
S

2
4
,
3
3
4
,
3
1
0

2
3
,
2
3
3
,
2
1
0

2
2
,
1
3
2
,
1
1
0

2
1
,
0
3
1
,
0
1
0

1
9
,
8
4
8
,
2
2
8

T
o
t
a
l

R
e
v
e
n
u
e

2
1
5
,
3
8
8
,
8
1
0

2
0
5
,
6
4
2
,
7
1
0

1
9
5
,
8
9
6
,
6
1
0

1
8
6
,
1
5
0
,
5
1
0

1
7
5
,
7
6
5
,
8
0
8

1
1
4
L
a
m
p
i
r
a
n

1
1
.

B
i
a
y
a

P
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

P
a
b
r
i
k

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
R
p
.

0
0
0
,

d
a
t
a

h
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

N
a
m
a

P
e
r
k
i
r
a
a
n

S
a
t
u
a
n

J
u
m
l
a
h

H
a
r
g
a

P
e
r

U
n
i
t

T
o
t
a
l

R
p
.
/
h
a

R
u
m
a
h

G
e
n
e
r
a
l

M
a
n
a
g
e
r

U
n
i
t

1

2
4
9
3
5
0
0
0
0

2
4
9
3
5
0
0
0
0

2
4
9
3
5
0
0
0
0

R
u
m
a
h

E
s
t
a
t
e

M
a
n
a
g
e
r

U
n
i
t

1

1
5
9
8
5
0
0
0
0

1
5
9
8
5
0
0
0
0

1
5
9
8
5
0
0
0
0

R
u
m
a
h

M
i
l
l

M
a
n
a
g
e
r

U
n
i
t

1

1
5
9
8
5
0
0
0
0

1
5
9
8
5
0
0
0
0

1
5
9
8
5
0
0
0
0

R
u
m
a
h

A
s
i
s
t
e
n

P
a
b
r
i
k

U
n
i
t

5

1
0
7
4
5
0
0
0
0

5
3
7
2
5
0
0
0
0

5
3
7
2
5
0
0
0
0

R
u
m
a
h

K
a
r
y
a
w
a
n

U
n
i
t

5
0

6
6
0
0
0
0
0
0

3
3
0
0
0
0
0
0
0
0

3
3
0
0
0
0
0
0
0
0

G
u
d
a
n
g

P
e
n
y
i
m
p
a
n
a
n

B
a
h
a
n

K
i
m
i
a

U
n
i
t

1

1
0
3
5
0
0
0
0
0

1
0
3
5
0
0
0
0
0

1
0
3
5
0
0
0
0
0

G
u
d
a
n
g

B
a
h
a
n

B
a
k
u

U
n
i
t

2

1
2
6
0
0
0
0
0
0

2
5
2
0
0
0
0
0
0

2
5
2
0
0
0
0
0
0

K
a
n
t
o
r

B
e
s
a
r

+

P
e
r
a
l
a
t
a
n

+

K
o
m
p
u
t
e
r

U
n
i
t

1

3
8
1
4
7
5
0
0
0

3
8
1
4
7
5
0
0
0

3
8
1
4
7
5
0
0
0

P
o
s

H
a
n
s
i
p

U
n
i
t

2

7
0
0
0
0
0
0

1
4
0
0
0
0
0
0

1
4
0
0
0
0
0
0

T
a
n
g
k
i

B
a
h
a
n

B
a
k
a
r

(
1
0

t
o
n
)

U
n
i
t

2

1
5
0
0
0
0
0
0

3
0
0
0
0
0
0
0

3
0
0
0
0
0
0
0

G
a
r
a
s
i

K
e
n
d
e
r
a
a
n

U
n
i
t

4

2
5
0
0
0
0
0
0

1
0
0
0
0
0
0
0
0

1
0
0
0
0
0
0
0
0

T
o
t
a
l



1
4
0
0
4
7
5
0
0
0

5
2
8
7
2
7
5
0
0
0

5
2
8
7
2
7
5
0
0
0







K
e
n
d
a
r
a
a
n






1
.

F
o
r
d

E
s
c
a
p
e

4

x

4

(
G
M
)

U
n
i
t

1

3
3
1
,
0
0
0
,
0
0
0

3
3
1
,
0
0
0
,
0
0
0

3
3
1
,
0
0
0
,
0
0
0

2
.

F
o
r
d

R
a
n
g
e
r

D
C

H
u
r
r
i
c
a
n
e

2
.
5

4

x

4

(
E
M
)

U
n
i
t

1

2
7
9
,
5
0
0
,
0
0
0

2
7
9
,
5
0
0
,
0
0
0

2
7
9
,
5
0
0
,
0
0
0

3
.

F
o
r
d

R
a
n
g
e
r

D
C

B
a
s
e

2
.
9

4

x

4

(
M
i
l
l

M
g
r
.
)

U
n
i
t

1

2
3
7
,
0
0
0
,
0
0
0

2
3
7
,
0
0
0
,
0
0
0

2
3
7
,
0
0
0
,
0
0
0

4
.

F
o
r
d

R
a
n
g
e
r

S
C

P
i
c
k
u
p

2
.
9

4

x

4

(
A
s
.

P
a
b
r
i
k
)

U
n
i
t

5

1
8
9
,
5
0
0
,
0
0
0

9
4
7
,
5
0
0
,
0
0
0

9
4
7
,
5
0
0
,
0
0
0

5
.

F
o
r
d

A
m
b
u
l
a
n
c
e

4

x

4


U
n
i
t

1

2
3
5
,
0
0
0
,
0
0
0

2
3
5
,
0
0
0
,
0
0
0

2
3
5
,
0
0
0
,
0
0
0

T
o
t
a
l



1
,
2
7
2
,
0
0
0
,
0
0
0

2
,
0
3
0
,
0
0
0
,
0
0
0

2
,
0
3
0
,
0
0
0
,
0
0
0

1
1
5
L
a
m
p
i
r
a
n

1
2
.

B
i
a
y
a

O
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

(
R
p
.

0
0
0
,

d
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

0

T
a
h
u
n

1

T
a
h
u
n

2

T
a
h
u
n

3

T
a
h
u
n

4

T
a
h
u
n

5

T
a
h
u
n

6

T
a
h
u
n

7

T
a
h
u
n

8

T
a
h
u
n

9

T
a
h
u
n

1
0

T
a
h
u
n

1
1

B
i
a
y
a

P
e
n
g
e
l
o
l
a
a
n

9
4
0
8

2
9
5
6
8

5
8
2
4
0

8
3
3
2
8

9
9
9
0
4

1
1
3
7
9
2

1
2
1
8
5
6

1
2
5
4
4
0

1
2
5
4
4
0

1
2
5
4
4
0

1
2
5
4
4
0

1
2
2
7
5
2

B
i
a
y
a

K
a
n
t
o
r

P
u
s
a
t

5
0
0

1
0
5
0

1
2
5
5

1
6
5
0

1
6
9
9
.
5

1
7
5
0

1
8
0
0

1
8
5
0

1
9
0
0

1
9
7
0

2
0
0
0

2
0
9
0

T
o
t
a
l

9
9
0
8

3
0
6
1
8

5
9
4
9
5

8
4
9
7
8

1
0
1
6
0
3
.
5

1
1
5
5
4
2

1
2
3
6
5
6

1
2
7
2
9
0

1
2
7
3
4
0

1
2
7
4
1
0

1
2
7
4
4
0

1
2
4
8
4
2

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

1
2

T
a
h
u
n

1
3

T
a
h
u
n

1
4

T
a
h
u
n

1
5

T
a
h
u
n

1
6

T
a
h
u
n

1
7

T
a
h
u
n

1
8

T
a
h
u
n

1
9

T
a
h
u
n

2
0

T
a
h
u
n

2
1

T
a
h
u
n

2
2

B
i
a
y
a

P
e
n
g
e
l
o
l
a
a
n

1
1
8
7
2
0

1
1
3
1
2
0

1
0
9
9
8
4

1
0
7
0
7
2

1
0
4
8
3
2

1
0
1
6
9
6

9
9
0
0
8

9
4
5
2
8

9
0
0
4
8

8
5
5
6
8

8
1
0
8
8

B
i
a
y
a

K
a
n
t
o
r

P
u
s
a
t

2
1
5
0

2
2
0
0

2
2
8
0

2
3
5
0

2
4
2
0

2
4
9
5

2
5
7
0

2
6
4
0

2
7
2
0

2
8
0
0

2
8
9
0

T
o
t
a
l

1
2
0
8
7
0

1
1
5
3
2
0

1
1
2
2
6
4

1
0
9
4
2
2

1
0
7
2
5
2

1
0
4
1
9
1

1
0
1
5
7
8

9
7
1
6
8

9
2
7
6
8

8
8
3
6
8

8
3
9
7
8

1
1
6
L
a
m
p
i
r
a
n

1
3
.

B
i
a
y
a

P
e
n
y
u
s
u
t
a
n

(
R
p
.

0
0
0
,

d
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

K
a
t
e
g
o
r
i

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
h
u
n

0

T
a
h
u
n

1

T
a
h
u
n

2

T
a
h
u
n

3

T
a
h
u
n

4

T
a
h
u
n

5

T
a
h
u
n

6

T
a
h
u
n

7

T
a
h
u
n

8

T
a
h
u
n

9

T
a
h
u
n

1
0

T
a
h
u
n

1
1

S
e
w
a

T
a
n
a
h

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

B
a
n
g
u
n
a
n

d
a
n

P
e
r
u
m
a
h
a
n

3
1
7
2
3
6
.
5

1
0
5
7
4
5
.
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5
K
e
n
d
a
r
a
a
n

4
0
6
0
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

T
o
t
a
l

7
2
3
6
1
3

1
8
7
3
2
2

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

K
a
t
e
g
o
r
i

I
n
v
e
s
t
a
s
i

T
a
h
u
n

1
2

T
a
h
u
n

1
3

T
a
h
u
n

1
4

T
a
h
u
n

1
5

T
a
h
u
n

1
6

T
a
h
u
n

1
7

T
a
h
u
n

1
8

T
a
h
u
n

1
9

T
a
h
u
n

2
0

T
a
h
u
n

2
1

T
a
h
u
n

2
2

S
e
w
a

T
a
n
a
h

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

3
7
6
.
5

B
a
n
g
u
n
a
n

d
a
n

P
e
r
u
m
a
h
a
n

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

5
2
8
7
2
.
7
5

K
e
n
d
a
r
a
a
n

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

8
1
2
0
0

T
o
t
a
l

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
3
4
4
4
9
.
3

1
1
7
L
a
m
p
i
r
a
n

1
4
.

B
i
a
y
a

T
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

(
R
p
.

0
0
0
,

d
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

0

T
a
h
u
n

1

T
a
h
u
n

2

T
a
h
u
n

3

T
a
h
u
n

4

T
a
h
u
n

5

T
a
h
u
n

6

T
a
h
u
n

7

T
a
h
u
n

8

T
a
h
u
n

9

T
a
h
u
n

1
0

T
a
h
u
n

1
1

L
i
q
u
i
d

W
a
s
t
e

5
8
8
0

1
8
4
8
0

3
6
4
0
0

5
2
0
8
0

6
2
4
4
0

7
1
1
2
0

7
6
1
6
0

7
8
4
0
0

7
8
4
0
0

7
8
4
0
0

7
8
4
0
0

7
6
7
2
0

B
i
o
d
i
e
s
e
l

1
5
8
.
7
6

4
9
8
.
9
6

9
8
2
.
8

1
4
0
6
.
1
6

1
6
8
5
.
8
8

1
9
2
0
.
2
4

2
0
5
6
.
3
2

2
1
1
6
.
8

2
1
1
6
.
8

2
1
1
6
.
8

2
1
1
6
.
8

2
0
7
1
.
4
4

T
o
t
a
l

6
0
3
8
.
7
6

1
8
9
7
8
.
9
6

3
7
3
8
2
.
8

5
3
4
8
6
.
1
6

6
4
1
2
5
.
8
8

7
3
0
4
0
.
2
4

7
8
2
1
6
.
3
2

8
0
5
1
6
.
8

8
0
5
1
6
.
8

8
0
5
1
6
.
8

8
0
5
1
6
.
8

7
8
7
9
1
.
4
4

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

1
2

T
a
h
u
n

1
3

T
a
h
u
n

1
4

T
a
h
u
n

1
5

T
a
h
u
n

1
6

T
a
h
u
n

1
7

T
a
h
u
n

1
8

T
a
h
u
n

1
9

T
a
h
u
n

2
0

T
a
h
u
n

2
1

T
a
h
u
n

2
2

L
i
q
u
i
d

W
a
s
t
e

7
4
2
0
0

7
0
7
0
0

6
8
7
4
0

6
6
9
2
0

6
5
5
2
0

6
3
5
6
0

6
1
8
8
0

5
9
0
8
0

5
6
2
8
0

5
3
4
8
0

5
0
6
8
0

B
i
o
d
i
e
s
e
l

2
0
0
3
.
4

1
9
0
8
.
9

1
8
5
5
.
9
8

1
8
0
6
.
8
4

1
7
6
9
.
0
4

1
7
1
6
.
1
2

1
6
7
0
.
7
6

1
5
9
5
.
1
6

1
5
1
9
.
5
6

1
4
4
3
.
9
6

1
3
6
8
.
3
6

T
o
t
a
l

7
6
2
0
3
.
4

7
2
6
0
8
.
9

7
0
5
9
5
.
9
8

6
8
7
2
6
.
8
4

6
7
2
8
9
.
0
4

6
5
2
7
6
.
1
2

6
3
5
5
0
.
7
6

6
0
6
7
5
.
1
6

5
7
7
9
9
.
5
6

5
4
9
2
3
.
9
6

5
2
0
4
8
.
3
6

1
1
8
L
a
m
p
i
r
a
n

1
5
.

A
n
a
l
i
s
i
s

K
e
l
a
y
a
k
a
n

(
d
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

0

T
a
h
u
n

1

T
a
h
u
n

2

T
a
h
u
n

3

T
a
h
u
n

4

T
a
h
u
n

5

T
a
h
u
n

6

P
r
o
d
u
k
s
i

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
t
o
n
)

2
6
4
.
6
8
3
1
.
6
1
6
3
8
2
3
4
3
.
6
2
8
0
9
.
8
3
2
0
0
.
4
3
4
2
7
.
2
H
a
r
g
a

(
R
p
.
)

1
6
4
0
1
7
2
2
1
8
0
8
.
1
1
8
9
8
.
5
0
5
1
9
9
3
.
4
3
0
2
5
2
0
9
3
.
1
0
1
7
6
3
2
1
9
7
.
7
5
6
8
5
1
T
o
t
a
l

M
a
n
f
a
a
t

(
R
p
.
)

5
5
5
8
8
2
2
6
4
1
8
3
4
4
1
1
4
7
1
3
7
9
3
8
9
6
4
5
2
5
6
9
9
5
9
9
8
2
3
7
1
7
5
0
6
0
7
4
5
8
5
8
1
1
1
5
2
5
0
9
6
4
8
6
8
7
0
6
9
B
i
a
y
a

P
r
o
d
u
k
s
i

S
e
w
a

T
a
n
a
h

3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
P
a
b
r
i
k

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
1
0
.
0
0
0

l
i
t
e
r
/
h
a
r
i
)

6
5
0
0
0
0
0
0
0
0
B
a
n
g
u
n
a
n

d
a
n

P
e
r
u
m
a
h
a
n

3
1
7
2
3
6
5
0
0
0
1
0
5
7
4
5
5
0
0
0
5
2
8
7
2
7
5
0
0
5
2
8
7
2
7
5
0
0
K
e
n
d
a
r
a
a
n

1
0
1
5
0
0
0
0
0
0
2
0
3
0
0
0
0
0
0
2
0
3
0
0
0
0
0
0
2
0
3
0
0
0
0
0
0
2
0
3
0
0
0
0
0
0
2
0
3
0
0
0
0
0
0
B
i
a
y
a

p
e
n
y
u
s
u
t
a
n

7
2
3
6
1
3
0
0
0
1
8
7
3
2
2
0
0
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
B
i
a
y
a

o
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

9
9
0
8
0
0
0
3
0
6
1
8
0
0
0
5
9
4
9
5
0
0
0
8
4
9
7
8
0
0
0
1
0
1
6
0
3
5
0
0
1
1
5
5
4
2
0
0
0
1
2
3
6
5
6
0
0
0
B
i
a
y
a

t
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

6
0
3
8
7
6
0
1
8
9
7
8
9
6
0
3
7
3
8
2
8
0
0
5
3
4
8
6
1
6
0
6
4
1
2
5
8
8
0
7
3
0
4
0
2
4
0
7
8
2
1
6
3
2
0
T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

1
1
4
2
7
3
0
1
2
6
0
1
4
9
7
7
5
0
4
6
0
9
6
3
4
3
1
0
5
0
1
0
0
5
0
1
7
4
1
0
5
0
3
5
5
5
1
3
0
5
2
6
4
0
7
9
9
0
3
3
6
6
9
8
0
7
0
P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

T
o
t
a
l

-
1
0
8
7
1
4
1
8
9
9
6
3
3
6
6
6
1
0
1
1
.
2
2
8
3
0
4
6
5
4
0
2
4
6
9
4
5
8
2
4
1
3
6
6
7
1
5
0
5
6
1
5
8
0
5
4
7
0
7
2
6
0
9
3
1
1
9
8
8
9
9
9
P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

S
e
t
e
l
a
h

P
a
j
a
k

-
1
1
9
5
8
5
6
0
8
9
6
3
7
0
3
2
7
1
1
2
.
3
3
1
1
3
5
1
1
9
4
2
5
1
6
4
0
4
0
6
5
5
7
3
3
8
6
5
6
1
7
7
8
8
6
0
1
7
7
9
8
6
1
0
2
4
3
1
8
7
8
9
9
1
1
9
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

1
5
.

A
n
a
l
i
s
i
s

K
e
l
a
y
a
k
a
n

(
d
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

7

T
a
h
u
n

8

T
a
h
u
n

9

T
a
h
u
n

1
0

T
a
h
u
n

1
1

T
a
h
u
n

1
2

T
a
h
u
n

1
3

P
r
o
d
u
k
s
i

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
t
o
n
)

3
5
2
8
3
5
2
8
3
5
2
8
3
5
2
8
3
4
5
2
.
4
3
3
3
9
3
1
8
1
.
5

H
a
r
g
a

(
R
p
.
)

2
3
0
7
.
6
4
4
6
9
3
2
4
2
3
.
0
2
6
9
2
8
2
5
4
4
.
1
7
8
2
7
4
2
6
7
1
.
3
8
7
1
8
8
2
8
0
4
.
9
5
6
5
4
7
2
9
4
5
.
2
0
4
3
7
5
3
0
9
2
.
4
6
4
5
9
3

T
o
t
a
l

M
a
n
f
a
a
t

(
R
p
.
)

1
0
4
2
9
0
9
5
5
8
2
1
0
9
5
0
5
5
0
3
6
1
1
1
4
9
8
0
7
7
8
7
9
1
2
0
7
2
9
8
1
7
7
3
1
2
4
0
4
9
8
8
7
7
1
1
2
5
9
7
4
0
1
9
1
8
1
2
6
0
3
3
4
4
0
8
9

B
i
a
y
a

P
r
o
d
u
k
s
i

S
e
w
a

T
a
n
a
h

3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0

P
a
b
r
i
k

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
1
0
.
0
0
0

l
i
t
e
r
/
h
a
r
i
)

B
a
n
g
u
n
a
n

d
a
n

P
e
r
u
m
a
h
a
n

K
e
n
d
a
r
a
a
n

B
i
a
y
a

p
e
n
y
u
s
u
t
a
n

1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0

B
i
a
y
a

o
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

1
2
7
2
9
0
0
0
0
1
2
7
3
4
0
0
0
0
1
2
7
4
1
0
0
0
0
1
2
7
4
4
0
0
0
0
1
2
4
8
4
2
0
0
0
1
2
0
8
7
0
0
0
0
1
1
5
3
2
0
0
0
0

B
i
a
y
a

t
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

8
0
5
1
6
8
0
0
8
0
5
1
6
8
0
0
8
0
5
1
6
8
0
0
8
0
5
1
6
8
0
0
7
8
7
9
1
4
4
0
7
6
2
0
3
4
0
0
7
2
6
0
8
9
0
0

T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

3
4
2
6
3
2
5
5
0
3
4
2
6
8
2
5
5
0
3
4
2
7
5
2
5
5
0
3
4
2
7
8
2
5
5
0
3
3
8
4
5
9
1
9
0
3
3
1
8
9
9
1
5
0
3
2
2
7
5
4
6
5
0

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

T
o
t
a
l

1
0
0
8
6
4
6
3
0
3
2
1
0
6
0
7
8
6
7
8
1
1
1
1
1
5
5
3
2
5
3
2
9
1
1
7
3
0
1
9
9
2
2
3
1
2
0
6
6
5
2
9
5
8
1
1
2
2
6
5
5
0
2
7
6
8
1
2
2
8
0
5
8
9
4
3
9

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

S
e
t
e
l
a
h

P
a
j
a
k

1
1
0
9
5
1
0
9
3
3
5
1
1
6
6
8
6
5
4
5
9
2
1
2
2
7
0
8
5
7
8
6
2
1
2
9
0
3
2
1
9
1
4
5
1
3
2
7
3
1
8
2
5
4
0
1
3
4
9
2
0
5
3
0
4
5
1
3
5
0
8
6
4
8
3
8
3

1
2
0
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

1
5
.

A
n
a
l
i
s
i
s

K
e
l
a
y
a
k
a
n

(
d
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

1
4

T
a
h
u
n

1
5

T
a
h
u
n

1
6

T
a
h
u
n

1
7

T
a
h
u
n

1
8

T
a
h
u
n

1
9

P
r
o
d
u
k
s
i

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
t
o
n
)

3
0
9
3
.
3
3
0
1
1
.
4
2
9
4
8
.
4
2
8
6
0
.
2
2
7
8
4
.
6
2
6
5
8
.
6
H
a
r
g
a

(
R
p
.
)

3
2
4
7
.
0
8
7
8
2
3
3
4
0
9
.
4
4
2
2
1
4
3
5
7
9
.
9
1
4
3
2
5
3
7
5
8
.
9
1
0
0
4
1
3
9
4
6
.
8
5
5
5
4
3
4
1
4
4
.
1
9
8
3
2
T
o
t
a
l

M
a
n
f
a
a
t

(
R
p
.
)

1
2
8
6
6
6
4
1
6
7
4
1
3
1
5
2
2
7
5
8
7
8
1
3
5
2
0
9
7
9
8
4
6
1
3
7
7
2
3
3
1
3
9
4
1
4
0
7
8
7
2
0
2
6
4
1
4
1
1
3
7
5
7
8
0
4
B
i
a
y
a

P
r
o
d
u
k
s
i

S
e
w
a

T
a
n
a
h

3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
P
a
b
r
i
k

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
1
0
.
0
0
0

l
i
t
e
r
/
h
a
r
i
)

B
a
n
g
u
n
a
n

d
a
n

P
e
r
u
m
a
h
a
n

K
e
n
d
a
r
a
a
n

B
i
a
y
a

p
e
n
y
u
s
u
t
a
n

1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
B
i
a
y
a

o
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

1
1
2
2
6
4
0
0
0
1
0
9
4
2
2
0
0
0
1
0
7
2
5
2
0
0
0
1
0
4
1
9
1
0
0
0
1
0
1
5
7
8
0
0
0
9
7
1
6
8
0
0
0
B
i
a
y
a

t
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

7
0
5
9
5
9
8
0
6
8
7
2
6
8
4
0
6
7
2
8
9
0
4
0
6
5
2
7
6
1
2
0
6
3
5
5
0
7
6
0
6
0
6
7
5
1
6
0
T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

3
1
7
6
8
5
7
3
0
3
1
2
9
7
4
5
9
0
3
0
9
3
6
6
7
9
0
3
0
4
2
9
2
8
7
0
2
9
9
9
5
4
5
1
0
2
9
2
6
6
8
9
1
0
P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

T
o
t
a
l

1
2
5
4
8
9
5
5
9
4
4
1
2
8
3
9
3
0
1
2
8
8
1
3
2
1
1
6
1
3
0
5
6
1
3
4
6
8
0
3
8
5
2
4
1
3
7
7
8
7
6
5
7
5
4
1
3
8
2
1
0
8
8
8
9
4
P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

S
e
t
e
l
a
h

P
a
j
a
k

1
3
8
0
3
8
5
1
5
3
8
1
4
1
2
3
2
3
1
4
1
7
1
4
5
3
2
7
7
4
3
6
1
1
4
8
1
4
8
4
2
3
7
7
1
5
1
5
6
6
4
2
3
3
0
1
5
2
0
3
1
9
7
7
8
3
1
2
1
L
a
n
j
u
t
a
n

L
a
m
p
i
r
a
n

1
5
.

A
n
a
l
i
s
i
s

K
e
l
a
y
a
k
a
n

(
d
a
t
a

H
i
p
o
t
e
t
i
k
)
.

U
r
a
i
a
n

T
a
h
u
n

2
0

T
a
h
u
n

2
1

T
a
h
u
n

2
2

P
r
o
d
u
k
s
i

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
t
o
n
)

2
5
3
2
.
6
2
4
0
6
.
6
2
2
8
0
.
6
H
a
r
g
a

(
R
p
.
)

4
3
5
1
.
4
0
8
2
3
6
4
5
6
8
.
9
7
8
6
4
8
4
7
9
7
.
4
2
7
5
8
1
T
o
t
a
l

M
a
n
f
a
a
t

(
R
p
.
)

1
4
1
1
7
1
0
2
2
9
6
1
4
0
8
5
4
9
6
8
4
3
1
4
0
1
5
4
3
8
0
8
9
B
i
a
y
a

P
r
o
d
u
k
s
i

S
e
w
a

T
a
n
a
h

3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
3
7
6
5
0
0
P
a
b
r
i
k

B
i
o
d
i
e
s
e
l

(
1
0
.
0
0
0

l
i
t
e
r
/
h
a
r
i
)

B
a
n
g
u
n
a
n

d
a
n

P
e
r
u
m
a
h
a
n

K
e
n
d
a
r
a
a
n

B
i
a
y
a

p
e
n
y
u
s
u
t
a
n

1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
1
3
4
4
4
9
2
5
0
B
i
a
y
a

o
p
e
r
a
s
i
o
n
a
l

9
2
7
6
8
0
0
0
8
8
3
6
8
0
0
0
8
3
9
7
8
0
0
0
B
i
a
y
a

t
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

5
7
7
9
9
5
6
0
5
4
9
2
3
9
6
0
5
2
0
4
8
3
6
0
T
o
t
a
l

B
i
a
y
a

2
8
5
3
9
3
3
1
0
2
7
8
1
1
7
7
1
0
2
7
0
8
5
2
1
1
0
P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

T
o
t
a
l

1
3
8
3
1
7
0
8
9
8
6
1
3
8
0
7
3
7
9
1
3
3
1
3
7
4
4
5
8
5
9
7
9
P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

S
e
t
e
l
a
h

P
a
j
a
k

1
5
2
1
4
8
7
9
8
8
5
1
5
1
8
8
1
1
7
0
4
6
1
5
1
1
9
0
4
4
5
7
7

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->