Anda di halaman 1dari 13

Tugas Akuntansi Syariah

Akuntansi Ijarah

* * * * *

Disusun oleh: Cahyawati Yenny Austriani Asri Wulandini Purwandaka Wahyuni Mega F Anita Sulistia Ragil

(04312196) (04312242) (04312467) (04312525) (07312377)

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA

2009

AKUNTANSI IJARAH

A. Pendahuluan Ijarah adalah transaksi sewa menyewa atau sebuah aset. Dalam transaksi Ijarah yang ditekankan atau yang menjadi obyek jaminan transaksi adalah penggunaan manfaat atas sebuah aset. Ijarah adalah akad sewa-menyewa antara pemilik majur (obyek sewa) dan mustajir (penyewa) untuk mendapatkan imbalan atas obyek sewa yang disewakannya. Ijarah muntahiyah bittamlik adalah akad sewa-menyewa antara pemilik obyek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas obyek sewa yang disewakannya dengan opsi perpindahan hak milik obyek sewa pada saat tertentu sesuai dengan akad sewa. Perpindahan hak milik obyek sewa kepada penyewa dalam Ijarah muntahiyah bittamlik dapat dilakukan dengan : 1. hibah; 2. penjualan sebelum akad berakhir sebesar harga yang sebanding dengan sisa cicilan sewa; 3. penjualan pada akhir masa sewa dengan pembayaran tertentu yang disepakati pada awal akad; dan 4. penjualan secara bertahap sebesar harga tertentu yang disepakati dalam akad. Pemilik obyek sewa dapat meminta penyewa menyerahkan jaminan atas Ijarah untuk menghindari risiko kerugian. Jumlah, ukuran dan jenis obyek sewa harus jelas diketahui dan tercantum dalam akad. Rukun Ijarah adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Mustajir / penyewa Muajjir / pemilik barang Majur / barang atau obyek sewaan Ajran atau Ujrah / harga sewa atau manfaat sewa Ijab Qabul Syarat-syarat Ijarah adalah : 1. Pihak yang terlibat harus saling ridha 2. Majur (barang/obyek sewa) ada manfaatnya : a. manfaat tersebut dibenarkan agama / halal b. manfaat tersebut dapat dinilai dan diukur / diperhitungkan c. manfaatnya dapat diberian kepada pihak yang menyewa d. Majur wajib dibeli Mustajir

Jenis barang / jasa yang dapat disewakan


2

1. Barang modal; aset teap, misalnya bangunan, gedung, kantor, ruko, dan lain-lain. 2. Barang produksi : mesin, alat-alat berat, dan lain-lain 3. Barang kendaraan transportasil darat, laut dan udara. 4. Jasa untuk membayar ongkos : a. b. c. d. Uang sekolah / kuliah Tenaga kerja Hotel Angkut dan transportasi, dan sebagainya

Dewan Syariah Nasional menetapkan aturan tentang ijarah sebagaimana tercantum dalam fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 09/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 13 April 2000Himpunan fatwa, Edisi kedua, hal 62-64): Pertama: Rukun dan Syarat Ijarah 1. Pernyataan Ijab dan Qabul 2. Pihak-pihak yang berakad (berjontrak), terdiri atas Pembiayaan Sewa (lessorm pemilik asset, LKS) dan penyewa (Lesse, pihak yang mengambil manfaat dari pengguna asset nasabah) 3. Obtek Kontrak, embayaran (sewa) dan manfaat dari pengguna asset nasabah 4. Manfaat dari pengguna asset dalam ijarah adalah obyek kontrak yang harus dijamin, karena ia rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan asset itu sendiri. 5. Sighat Ijarah adalah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak, baik yang secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent, dengan cara penawaran dari pemilik asset (LKS) dan penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah). Kedua: Ketentuan Obyek Ijarah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Obyek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/jasa ijarah Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah Manfaat arus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas, termasuk jangka waktunya bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan sewa dalam ijarah Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak Kelenturan (flexibility) dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu, tempat dan jarak

Ketiga: Kewajiban LKS dan nasabah dalam pembiayaan ijarah 1. Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa a. Menyediakan aset yang disewakan
3

b. Menanggung biaya pemeliharaan aset c. Menjaminan bila terdapat cacat pada aset yang disewakan 2. Kewajiban nasabah sebagai penyewa a. Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan aset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak b. Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (tidak materiil) c. Jika aset yang disewa rusak, bukan karena dari pelanggaran dari penggunaan yang di bolehkan, uga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya, ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut

Sedangkan fatwa yang berkaitan dengan al ijarah Muntahiyah al Bittamlik sebagaimana tercantum dalam fatwa dewan syariah nasional NO 27 /DSN-MUI/III/2002 tanggal 28 Maret 2002 (Himpunan Fatwa Edisi kedua, hal 167-168) sebagai berikut: Pertama: Ketentuan umum Akad Al-ijarahal muntahiyyah bil a tamlik 1. Pihak yang melakukan al ijarah al-Muntahiyyah bi al-Tamik harus melaksanakan akad ijarah terlebih dahulu. Akad pemindahan kepemilikan, baik dengan jual beli, atau pemberian, hanya dapat dilakukan setelah masa ijarah selesai 2. Janji Pemindaha kepemilikan yang disepakati di awal akad ijarah adalah wad yang hukumnya tidak mengikat. Apabila janjian itu ingin dilaksanakan, maka harus ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa ijarah selesai

STANDAR AKUNTANSI

a. bank sebagai pemilik obyek sewa 1. Obyek sewa diakui sebesar biaya perolehan pada saat perolehan obyek sewa dan disusutkan sesuai dengan : 2. kebijakan penyusutan pemilik obyek sewa untuk aktiva sejenis jika merupakan transaksi ijarah; dan 3. masa sewa jika merupakan transaksi IMBT 2. Pendapatan ijarah dan IMBT diakui selama masa akad secara proporsional kecuali pendapatan IMBT melalui penjualan secara bertahap maka besar pendapatan setiap periode akan menurun secara progresif selama masa akad karena adanya pelunasan bagian per bagian obyek sewa pada saat periode tersebut.

3. Piutang pendapatan ijarah dan IMBT diukur sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan pada akhir periode pelaporan. 4. Jika biaya akad menjadi beban pemilik obyek sewa maka biaya tersebut dialokasikan secara konsisten dengan alokasi pendapatan IMBT selama masa akad. (PSAK 59, Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 111) 5. Pengakuan biaya perbaikan obyek sewa adalah sebagi berikut : a. biaya perbaikan tidak rutin obyek sewa diakui pada saat terjadinya; b. jika penyewa melakukan perbaikan rutin obyek sewa dengan persetujuan pemilik obyek sewa maka biaya tersebut dibebankan kepada pemilik obyek sewa dan diakui sebagai beban pada periode terjadinya perbaikan tersebut; dan c. dalam IMBT melalui penjualan secara bertahap biaya perbaikan obyek sewa yang dimaksud dalam huruf (a) dan (b) ditanggung pemilik obyek sewa maupun penyewa sebanding dengan bagian kepemilikan masing-masing di dalam obyek sewa. 6. Perpindahan hak milik obyek sewa dalam IMBT melalui hadiah diakui pada saat seluruh pembayaran sewa telah diselesaikan dan obyek sewa yang telah diserahkan kepada penyewa. Obyek sewa dikeluarkan dari aktiva pemilik obyek sewa pada saat terjadinya perpindahan hak milik obyek sewa. 7. Perpindahan hak milik obyek sewa dalam IMBT melalui penjualan obyek sewa dengan harga sebesar sisi ciciln sewa sebelum berakhirnya masa sewa diakui pada saat penyewa membeli obyek sewa. Pemilik obyek sewa mengakui keuntungan atau kerugian atas penjualan tersebut sebesar selisih antara harga jual dan nilai buku bersih obyek sewa. 8. Pengakuan pelepasan obyek sewa dalam IMBT melalui pembayaran sekedarnya adalh sebagai berikut : a. perpindahan hak milik obyek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa telah diselesaikan dan penyewa membeli obyek sewa dari pemilik obyek sewa. b. obyek sewa dikeluarkan dari aktiva pemilik obyek sewa pada saat terjadinya perpindahan hak milik obyek sewa. c. jika penyewa berjanji untuk membeli obyek sewa tetapi kemudian memutuskan tidak melakukannya dan nilai wajar obyek sewa ternyata lebih rendah dari nilai bukunya, maka selisihnya diakui sebagai piutang pemilik obyek sewa kepada penyewa; dan
5

d. jika penyewa tidak berjanji untuk membeli obyek sewa dan memutuskan untuk tidak melakukannya, maka obyek sewa dinilai sebesar nilai wajar atau nilai buku, mana yang lebih rendah dari nilai buku, maka selisihnya diakui sebagai kerugian pada periode berjalan. 9. Pengakuan pelepasan obyek sewa dalam IMBT melalui penjualan obyek sewa secara bertahap adalah sebagai berikut : a. perpindahan hak milik sebagian obyek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa telah diselesaikan dan penyewa membeli sebagian obyek sewa dari pemilik obyek sewa; b. nilai buku bagian obyek sewa yang telah dijual dikeluarkan dari aktiva pemilik obyek sewa pada saat terjadinya perpindahan hak milik bagian obyek sewa; c. pemilik obyek sewa mengakui keuntungan atau kerugian sebesar selisih antara harga jual dan nilai buku atas bagian obyek sewa yang telah dijual; dan d. jika penyewa tidak melakukan pembelian atas obyek sewa yang tersisa maka perlakuan akuntansinya sesuai dengan pragraf 115 huruf (c) dan (d). 10. Dalam IMBT jika obyek sewa mengalami penurunan nilai permanen sebelum perpindahan hak milik kepada penyewa dan penurunan nilai tersebut timbul bukan akibat tindakan penyewa atau kelalaiannya, serta jumlah cicilan ijarah yang sudah dibayar melebihi nilai sewa yang wajar, maka selisih antara keduanya, (jumlah yang sudah dibayar penyewa untuk tujuan pembelian aktiva tersebut dan nilai sewa wajarnya) diakui sebagai kewajiban kepada penyewa dan dibebankan sebagai kerugian pada periode terjadinya penurunan nilai.

b. bank sebagai penyewa 1. Beban ijarah dan IMBT diakui secara proporsional selama akad 2. Jika biaya akad menjadi beban penyewa maka biaya tersebut dialokasikan secara konsisten dengan alokasi baban ijarah atau IMBT selama masa akad 3. Jika biaya pemeliharaan rutin dan operasi obyek sewa berdasarkan akad menjadi beban penyewa maka biaya tersebut diakui sebagai beban pada saat terjadinya, biaya pemeliharaan rutin dan operasi dalam IMBT melalui penjualan obyek sewa secara bertahap akan meningkat
6

4.

5.

6.

7.

8. 9.

secara progresif sejalan dengan peningkatan kepemilikan obyek sewa. Perpindahan hak milik obyek sewa dalam IMBT melalui hadiah diakui pada saat seluruh pembayaran sewa ijarah telah diselesaikan dan obyek sewa telah diterima penyewa. Obyek sewa yang diterima diakui sebagai aktiva penyewa sebesar nilai wajar pada saat terjadinya. Penerimaan obyek sewa tersebut disisi lain akan menambah a. saldo laba, jika sumber pendanaan berasal dari modal bank; b. dana investasi tidak terikat, jika sumber pendauran berasal dari simpanan pihak ketiga; atau c. saldo laba dan dana investasi tidak terlihat secara proporsional, jika sumber pendanaan berasal dari modal bank dan simpanan pihak ketiga. Perpindahan hak milik obyek sewa dalam IMBT melalui pembelian obyek sewa dengan harga sebesar sisa cicilan sewa sebelum berkahirnya masa sewa diakui pada saat penyewa membeli obyek sewa. Penyewa mengakui obyek sewa yang diterima diakui sebagai aktiva penyewa sebesar kas yang dibayarkan. Pengakuan penerimaan obyek sewa dalam IMBT melalui pembayaran sekadarnya adalah sebagai berikut : a. perpindahan hak milik obyek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa ijarah telah diselesaikan dan penyewa membeli obyek sewa dari pemilik obyek sewa; dan b. obyek sewa yang diterima diakui sebagai aktiva penyewa sebesar kas yang dibayarkan. Pengakun penerimaan obyek sewa diakui dalam IMBT melalui pembelian obyek sewa secara bertahap adalah sebagberikut : a. perpindahan hak milik sebagian obyek sewa diakui jika seluruh pembayaran sewa ijarah telah diselesaikan dan penyewa membeli sebagian obyek sewa dari pemilik sewa; dan b. bagian obyek sewa yang diterima diakui sebagai ktiva penyewa sebesar biaya perolehannya. Obyek sewa yang telah dibeli oleh penyewa disusutkan sesuain dengan kebijakan penyusutan penyewa. Jika obyek sewa mengalami penurunan nilai permanen sebelum perpindahan hak milik kepada penyewa dan penurunn nilai tersebut timbul bukan akibat tindakan penyewa atau kelalaianya, serta jumlah ciciln sewa yang sudah dibayara melebihi nilai yang wajar, maka selisih antara keduanya (jumlah yang sudah diby penyewa untuk tujuan pembelian aktiva tersebut dan nilai sewa
7

wajarnya) diakui sebagai piutang jatuh tempo penyewa kepada pemilik sewa dan mengoreksi beban IMBT

c. penjualan dan penyewaan kembali 1. Jika nasabah menjual aktiva kepda bank dan menyewany kembali, maka perlakuan Akuntansi bnk sebagai pemilik obyek sewa diterapkan. 2. Jika bank menjual aktiva kepada nasabah dan menyewanya kembali, maka perlakuan Akuntansi bank sebagai penyewa diterapkan sebagai berikut : a. keutungan atau kerugian penjualan aktiva diakui bank pada saat terjadinya transaksi penjualan jika penyewaan kembali dilakukan secara ijarah; dan b. keuntungan atau kerugian penjualan aktiva dialokasikan sebagai penyesuaian terhadap beban ijarah selama masa akad jika penyewaan kembali dilakukan secara IMBT

d. sewa dan penyewaan kembali Contoh: Akutansi Ijarah (ilustrasi jurnal)

Bank sebagai pemilik objek sewa Pada saat perolehan Dr. Aktiva Ijarah Kr. Kas/Rekening

Pada saat penyusutan

Dr. Biaya penyusutan Kr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah

Pada saat penerimaan sewa dari lessee

Dr. Kas/Rekening penyewa Kr. Pendapatan sewa


8

Pada saat pembebanan beban perbaikan

Dr. Beban perbaikan Aktiva Ijarah Kr. Kas/Rekening Apabila dalam masa sewa diketahui penurunan kualitas objek sewa

yang bukan disebabkan tindakan atau kelalaian penyewa yang mengakibatkan jumlah cicilan yang telah diterima lebih besar dari nilai sewa yang wajar Dr. Biaya pengembalian kelebihan penerimaan sewa Kr. Kas/hutang pada penyewa/rekening penyewa beban pengembalian merupakan offseting account pendptn sewa

Pada saat pengalihan objek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik melalui hibah pada saat seluruh pendapatan sewa telah diterima dan objek sewa tidak memiliki nilai sisa. Dr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah Kr. Aktiva ijarah Melalui penjualan objek sewa sebelum berakhirnya masa sewa dengan harga jual sesuai sisa cicilan sewa

harga jual lebih besar dari nilai buku

Dr. Kas/rekening penyewa Dr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah Kr. Aktiva ijarah Kr. Keuntungan penjualan aktiva ijarah Harga jual sama dengan nilai buku

Dr. Kas/rekening penyewa Dr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah


9

Kr. Aktiva ijarah

harga jual lebih kecil dari nilai buku

Dr. Kas/rekening penyewa Dr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah Dr. Kerugian penjualan aktiva ijarah Kr. Aktiva ijarah Penjualan objek sewa dengan harga sekedarnya setelah seluruh

penerimaan sewa diterima dan objek sewa tidak memiliki nilai sisa Dr. Kas/rekening penyewa Dr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah Kr. Keuntungan penjualan aktiva ijarah Kr. Aktiva ijarah Jika penyewa berjanji untuk membeli tetapi kemudian

membatalkan dan nilai wajar objek sewa lebih rendah dari nilai buku dan dibebankan kepada penyewa (dibebankan sebesar porsi penurunan nilai aktiva ijarah) Dr. Piutang kepada penyewa Kr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah Jika penyewa tidak berjanji untuk membeli dan kemudian

memutuskan untuk tidak membeli, nilai wajar objek sewa lebih rendah dari nilai buku maka penurunan nilai buku tersebut diakui sebagai kerugian
10

Dr. Beban penyusutan aktiva Kr. Akumulasi penyusutan aktiva ijarah Bank sebagai penyewa (mustajir/lessee) Pembayaran sewa dalam satu periode

Dr. Biaya sewa aktiva ijarah Kr. Kas/ rekening pemilik objek sewa (muajjir/lessor)

Pembayaran sewa lebih dari satu periode

Dr. Sewa dibayar dimuka aktiva ijarah Kr. Kas/rekening pemilik objek sewa (muajjir/lessor)

Pada saat amortisasi sewa dibayar dimuka

Dr. Biaya sewa aktiva ijarah Kr. Sewa dibayar dimuka aktiva ijarah

CONTOH SOAL Ijarah Aktiva Ijarah Harga Perolehan : Rp 150.000.000 Masa Penyusutan (bulan) : 60 (5 tahun) Nilai Penyusutan (bulan) : Rp 2.500.000 Nilai Buku akhir tahun ke lima : Rp Ijarah Masa Ijarah (bulan) : 36 Nilai ijarah 1 tahun : Rp 54.000.000 Nilai Angsuran per bulan : Rp 4.500.000 Proyeksi Keuntungan Selama 3 (tiga) Tahun Nilai Total ijarah : Rp 162.000.000 (4,5 juta*36) Nilai beban penyusutan : Rp 90.000.000 (2,5juta*36) Keuntungan sewa : Rp 72.000.000 IMBT Aktiva Ijarah Harga Perolehan Masa Penyusutan (bulan) Nilai Penyusutan (bulan)
11

: Rp150 juta : 36 : Rp4,17juta

Nilai Buku akhir tahun ke tiga Ijarah Masa Ijarah (bulan) Nilai ijarah 1 tahun Nilai Total ijarah Nilai Angsuran per bulan Proyeksi Keuntungan Selama Tiga Tahun Nilai Total ijarah Nilai beban penyusutan Keuntungan sewa Perolehan aktiva ijarah

: Rp : 36 : Rp54 juta : Rp 162juta (Rp54*3) : Rp4,5juta : Rp 162juta : Rp 150juta : Rp 12juta

Objek Ijarah diakui sebesar harga perolehan Db. Aktiva Ijarah Kr. Kas/Rekening Rp150 juta Rp150 juta

Jurnal :

Jurnal Ijarah: Db. Beban penyusutan-AI Rp 2,5 juta Kr. Akumulasi penyusutan AI Jurnal Ijarah Muntahiyah bittamlik: Db. Beban penyusutan-AI Rp4,17 juta Kr. Akumulasi penyusutan AI

Rp 2,5 juta

Rp4,17 juta

Pendapatan Ijarah Kas adalah pendapatan ijarah yang diterima oleh Bank dalam bentuk kas. Pendapatan Ijarah kas ini diperhitungkan dalam bagi hasil. Diakui sebesar angsuran nasabah Jurnal Db. Kas / Rekening penyewa Rp 4,5 juta Kr. Pendapatan Ijarah Kas Rp 4,5 juta Ilustrasi 2 - IMBT Aktiva Ijarah Harga Perolehan Masa Penyusutan (bulan) Nilai Penyusutan (bulan) Nilai Angsuran per bulan : Rp300 juta : 24 : Rp. 12.500.000,01 : Rp 14.832.679,11

Proyeksi Keuntungan Selama Tiga Tahun Nilai Total ijarah : Rp 355.984.298,40


12

Nilai beban penyusutan Keuntungan sewa Saat Pencairan Db Aktiva Ijarah Kr Kas / rekening

: Rp 300.000.000,00 : Rp 55.984.298,40

300.000.000,300.000.000,-

Saat angsuran Db Kas/rekening 14.832.678,87 Kr Pendp. Sewa Ijarah 14.832.678,87 Db Biaya Penyusutan ijarah 12.500.000,01 Kr Akumulasi Penyusutan Ijarah 12.500.000,01 Saat lunas dan pengalihan aktiva Db Akum peny ijarah 300.000.000,Kr Aktiva Ijarah 300.000.000,-

Daftar pustaka
Akuntansi syariah, Konsep Modal dan Kewajiban Menurut Syariah, http://pksm.mercubuana.ac.id/modul/32037-11-728037632814.doc.

13

Anda mungkin juga menyukai