Anda di halaman 1dari 33

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTIKUM OCEANOGRAPHY

Laporan Praktikum Oceanography ini disusun sebagai tugas akhir menyelesaikan Praktikum Oceanography dan salah satu syarat lulus mata kuliah Oceanography.

Malang, 10 Juni 2011

Menyetujui, Koordinator Asisten Asisten Laporan

Wahyu Nurcahyani NIM.0810820056

Fitri Sukmaningtyas NIM.0810853005

Mengetahui, Dosen Penanggung Jawab Praktikum,

M.A Zainul Fuad, S.Kel NIP. 198010052005011002

LEMBAR PERSEMBAHAN

Atas nama Tuhan Yang Maha Esa, dengan ini kami dapat menyelesaikan Laporan Ketik Oceanography. Persembahan ini kami tujukan kepada : 1. Orang tua kami yang telah memberi doa dan dukungan kepada kami

sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu. 2. Para dosen pembimbing Mata Kuliah Oceanography yang telah memberikan ilmunya kepada kami. 3. Para asisten yang telah membimbing, membantu, memperlancar serta mempermudah dalam mengerjakan tugas ini. 4. 5. Teman-teman atas kerja samanya dalam mengerjakan laporan ini. Perpustakaan pusat Universitas Brawijaya yang telah meminjamkan buku

sehingga kita menjadi lebih mudah dalam mencari literatur.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ketik Oceanografi ini untuk memenuhi tugas praktikum lapang Oceanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Dosen Pembimbing mata kuliah Oceanografi yang telah membimbing kami dengan pemberian materi di dalam kelas. Serta semua pihak yang telah membantu menyiapkan, memberikan masukan dan menyusun laporan ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan serta pengetahuan, kami menyadari bahwa dalam laporan ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan komentar yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan kekurangan kami di masa yang akan datang dan semoga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Amin.

Malang, 10 Juni 2011

Tim Penyusun

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari lautan. Ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang murni, tetapi merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang lain. Ilmu-ilmu lain yang termasuk di dalamnya ialah ilmu tanah (geology). Ilmu bumi (geography). Ilmu fisika (physics), ilmu kimia (chemistry). Ilmu hayat (biology) dan ilmu iklim (metereology) (Hutabarat, 2008). Laut, seperti halnya daratan, dihuni oleh biota, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme hidup. Biota laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai, permukaan laut sampai dasar laut yang teluk sekalipun. Keberadaan biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia (Romimohtarto, 2009).

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum oceanografi ini adalah agar praktikan dapat mengkaji perilaku cahaya dilautan dengan sifat optis air, mengukur suhu air laut, gelombang, pasang surut air laut, arus, salinitas, Ph, dan oksigen terlarut (DO). Sedangkan tujuan dari praktikum Oceanografi ini adalah praktikan mampu mengaplikasikan dan menjelaskan perilaku cahaya dilautan dengan sifat optis air, mengukur suhu air laut, gelombang, pasang surut air laut, arus, salinitas, Ph, dan oksigen terlarut (DO).

1.3 Waktu dan Tempat Praktikum oceanografi ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 21 Mei 2011, pukul 09.00-selesai. Tempat Praktikum oceanografi ini adalah di Pelabuhan Perikanan Pantai Kota Probolinggo Propinsi Jawa Timur.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perairan Laut lautan merupakan suatu tempat mata pencaharian bagi orang orang asia tenggara yang telah berumur berabad abad lamanya. Tidak dimanapun juga hal ini benar benar dapat dilihat di Indonesia di mana Negara ini terdiri dari lebih kurang 13.000 pulau yang tersebar. Sejak dulu lautan telah memberi manfaat kepada manusia untuk diprgunakan sebagai suatu sarana untuk berpergian, perniagaan dan perhubungan dari suatu tempat ke tempat lain. Akhir akhir ini diketahui bahwa lautan banyak mengandung sumber sumber alam yang berlimpah limpah jumlahnya dan bernilai berjuta juta dolar (hutabarat, 2008). Laut adalah bagian dari bumi kita yang tertutup oleh air asin. Kata laut sudah dikenal sejak dahulu kala oleh bangsa kita dan bahkan oleh bangsa-bangsa di beberapa Negara di asia tenggara seperti filiphina, Malaysia, Thailand, singapura, dan mungkin beberapa suku bangsa lain di kawasan ini. Laut lepas yang luas yang dibatasi oleh benua-benua kita kenal sebagai samudera. Di perairan Indonesia, hampir semua bentuk dasar laut dapat ditemukan seperi paparan, lereng, cekungan dan jeluk berupa basin dan palung. (Romimohtarto,2009).

2.2 Parameter Fisika 2.2.1 Suhu suhu di laut adalah salah satu factor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik akivitas metabolisme maupun

perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis hewan yang terdapat di berbagai tempat di dunia. Sebagai contoh, binatang karang di mana

penyebarannyan sangat di batasi oleh perairan yang hangat yang terdapat di daerah tropic dan subtropik (Hutabarat, 2008).

Secara keseluruhan, sebagian besar air samudra itu dingin. Kurang dari 10% volume air laut di muka bumi suhunya lebih dari 100C dan lebih dari 75% suhunya di bawah 40C . alas an utama dari perbandingan ini adalah karena sinar matahari hanya mampu menembus laut sampai beberapa ratus meter saja. Sedangkan pengaruh penyinaran matahari musiman hanya mencapai kira kira 100 m. akibatnya di samudra terdapat lapisan atas yang relative hangat dihubungkan dengan lapisan transisi mendadak ke air dingin yang merupakan kolom air samudra sisanya. Daerah (lapisan) dengan penurunan suhu cepat ke bawah ini disebut termoklin (Romimohtarto,2009). Menurut abdulmunthalib (2009) stratifikasi vertikal kolom air yang

berdasarkan perbedaan panas (perbedaan suhu) pada setiap kedalaman perairan dikelompokkan menjadi 3 yaitu: 1) Epilimnion merupakan lapisan bagian atas perairan. Lapisan ini bagian yang hangat kolom air, suhu relatif konstan (perubahan suhu sangat kecil secara vertikal). Seluruh massa air di lapisan ini tercampur dengan baik karena pengaruh angin dan gelombang.

2) Metalimnion atau yang sering disebut Termoklin, terletak di bawah lapisan epilimnion. Perubahan suhu dan panas secara vertikal relatif besar pada lapisan ini. Setiap penambahan kedalaman satu meter terjadi penurunan suhu air sekitar 10C.

3) Hipolimnion, terletak di bawah lapisan termoklin. Lapisan ini lebih dingin, bercirikan adanya perbedaan suhu secara vertikal relatif kecil. Sifat massa airnya stagnan, tidak mengalami percampuran (mixing) dan memiliki kekentalan air (densitas) yang lebih besar. Pada umumnya di wilayah tropis memiliki perbedaan suhu air permukaan dengan bagian dasar hanya sekitar 2 - 30C.

2.2.2 Kecepatan arus arus laut permukaan merupakan pencerminan langsung dari pola angina yang bertiup pada waktu itu. Jadi arus permukaan ini digerakkan oleh angin. Air dilapisan bawahnya ikut terbawa, karena adanya gaya coriolis (coriolis force), yakni gaya yang diakibatkan oleh perputaran bumi, maka arus dipermukaan laut berbelok kekanan dari arah angina dan arus di lapisan bawahnya akan berbelok lebih

kekanan lagi dari arah arus permukaan. Ini terjadi di belahan bumi utara. Di belahan bumi selatan terjadi hal sebaliknya (Romimahtarto, 2009). Kecepatan arus dan arah arus dapat diukur dengan menggunakan alat pengukur arus (current meter). Alat elektronik tersebut berbenuk seperti roket atau torpedo yang pada bagian belakang terdapat sayap dan baling baling. Baling baling akan berputar sesuai dengan kecepatan arus yang akan diukur. Dari alat tersebut dihubungkan dengan sebuah alat penunjuk arah dan kecepatan melalui sebuah kabel yang cukup panjang (Wibisono, 2011). El Nino dan La Nina sesungguhnya adalah kondisi abnormal iklim pada area Samudra Pasifik yang terletak pada daerah ekuatorial. Kedua gejala alam ini mempunyai kondisi anomali yang berbeda, El Nino dicirikan dengan naiknya suhu permukaan laut (warm phase) sedangkan La Nina mempunyai kondisi yang sebaliknya yaitu turunnya suhu permukaan air laut (cold phase) pada area katulistiwa Samudra Pasifik (Reindo, 2011).

2.2.3 Kecerahan Faktor lain yang mempengaruhi proses penyerapan dalam air laut antara lain lumpur dan mikroorganisme (fitoplankton), sehingga tingkat kecerahan suatu perairan sangat mempengaruhi intensitas cahaya yang terserap dalam kolom air di perairan tersebut (Sediandi, 2003). Penyinaran cahaya matahari akan berkurang secara cepat sesuai dengan makin tingginya kedalaman lautan. Pada perairan yang dalam dan jernih proses fotosintesa hanya terdapat sampai kedalaman sekitar 200 meter saja. Adanya bahan bahan yang melayang layang dan tingginya nilai kekeruhan di perairan dekat pantai penetrasi cahaya akan berkurang di tempat ini. Akibatnya penyebaran tanaman hijau di sini hanya dibatasi sampai pada kedalaman antara 15 dan 40 meter (Hutabarat, 2008).

2.2.4 Sifat Optis Air Fenomana umum optik sering disebabkan oleh interaksi dari cahaya matahari atau bulan dengan atmosfer, awan, air, atau debu dan material lainnya. Satu contoh umum yaitu pelangi, ketika cahaya matahari dipantulkan dan dibiaskan oleh tetesan-tetesan air. Beberapa, seperti sinar hijau, sangat jarang terjadi

sehingga kadang terpikir seperti cerita dongeng. Lain-lain, seperti fatamorgana, umum terjadi di lokasi tertentu (Afrianti, 2008). Sifat optis air sangat berhubungan dengan intensitas matahari Semakin lama matahari berada. Sifat optic air dimiliki semakin besar sudut dating semakin besar. Intensitas matahari semakin besarmaka sifat optis air akan bervariasi (Nybaken, 1985). Penyerapan matahari di permukaan air laut mempunyai karakteristik tersendiri di setiap perairan. Secara teoritis perjalanan sinar matahari mengalami dua peristiwa alam sekaligus. Dimana lebih kurang 15% di pantulkan kembali ke udara dan sisanya terserap dalam tubuh air laut yang diikuti oleh proses pembiasan sesuai sifat optic air laut itu sendiri (Sediandi, 1993).

2.2.5 Pasang Surut pasang surut merupakan salah satu gejala laut yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan biota laut, khususnya diwilayah pantai. Proses terjadinya saat akan memendek secara perlahan lahan (paras air sedang naik), dan pada saat yang lain akan memanjang kembali. Tinggi rendahnya paras laut ini diukur dari suatu paras panutan yang telah ditentukan sendiri, yang dinamakan datum. Datum ini biasanya ditentukan pada tingkat air rendah pada pasut bulan penuh atau purnama biasa. Jadi kalau air rendah yang terjadi pada pasut purnama luar biasa maka paras laut akan terletak di bawah datum (Romimahtarto, 2009). Karena adanya gaya tarik bulan yang kuat, maka bagian bumi yang terdekat ke bulan akan tertarik membengkak hingga perairan samudra di situ akan naik dan menimbulkan pasang. Pada saat yang sama, bagian bola bumi di baliknya akan mengalami keadaan serupa atau pasang pula. Sementara itu pada sisi lainnya yang tegak lurus terhadap poros bumi-bulan, air samudra akan bergerak ke samping hingga menyebabkan terjadinya keadaan surut di situ (Nontji, 2007). Pasang terutama disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara dua tenaga yang terjadi di lautan, yang berasal dari gaya sentrifugal yang disebabkan oleh perputaran bumi pada sumbunya dan gaya gravitasi yang bersal dari bulan. Gaya sentrifugal adalah suatu tenaga yang didesak kearah luar dari pusat bumi yang besarnya lebih kurang sama dengan tenaga yang yang ditarik ke permukaan bumi. Tidak sama halnya dengan gaya tarik gravitasi bulan dimana gaya ini terjadi

tidak merata pada bagian bagian di permukaan bumi. Gaya ini ebih kuat terjadi pada daerah daerah yang letaknya lebih dekat dengan bulan, sehingga gaya yang terbesar terdapat padabagian bumi terdekat dengan bulan dan gaya yang paling lemah terdapat pada bagian yang letaknya terjauh dari bulan (Hutabarat, 2008).

2.2.6 gelombang Gelombang selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti hentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang dalam keadaan sma sekali diam. Hembusan angin sepoi sepoi dalam keadaan sama sekali diam. Hembusan angin sepoi sepoi pada cuaca yang tenang sekalipun sudah cukup untuk dapat menimbulkan riak gelombang. Sebaliknya dalam keadaan dimana terjadi badai yang besar dapat menimbulkan suatu gelombang besar yang dapat mengakibatkan suatu kerusakan hebat pada kapal atau daerah daerah pantai (Hutabarat, 2008). Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin di atas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tangensial pada partikel air. Angin yang bertiup di permukaan laut mula mula menimbulkan riak gelombang (ripples). Jika kemudian angin berhenti bertiup maka riak gelombang akan hilang dan permukaan laut merata kembali. Tetapi jika angin ini bertiup lama maka riak gelombang membesar terus walaupun kemudian angin berhenti bertiup. Ombak yang sederhana dapat dilihat sebagai alun (swell) yang terjadi pada keadaan laut tenang. Jika diperhatikan, alun ini mempunyai puncak puncak (crests) dan lembah lembah (troughs). Selagi gelombang berjalan bergerak di air, jarak anatara dua titik serupa yang berurutan yakni antara satu puncak dan pucak berikutnya atau pada antara satu lembah dan lembah berikutnya dinamakan panjang gelombang (Romimahtarto, 2009). Ukuran besar kecilnya gelombang umumnya ditentukan berdasarkan tinggi gelombang. Tinggi gelombang ini bisa hanya beberapa millimeter saja tetapi juga bisa sampai puluhan meter. Apabila kita mengamati perambatan gelombang di laut, seolah olah tampak air laut itu bergerak maju beserta dengan gelombangnya. Tetapi kenyataan sebernarnya tidaklah demikian. Pada perambatan gelombang, yang bergerak maju sebenarnya adalah bentuknya saja, hampir tidak bergerak maju (Nontji, 2007). partikel airnya sendiri

2.3 Parameter Kimia 2.3.1 pH Biasanya pH air larutan 7,6 8,3 dan terutama mengandung ion HCO3-. pH tetap konstan yaitu 7,6 8,3. Fakta inilah yang menjamin berbagai jenis ikan laut dapat hidup. Pengukuran pH air laut itu sulit, sebab adanya pengaruh temperature dan slinitas. Bila temperature naik atau tekanan naik maka proses dissosiasi itu merubah konstante disosiasi H2CO3, dan akibatnya pH turun dan kadar oksigen juga turun (brotowidjoyo, 1999). Konsentrasi ion zat air dalam air laut yang dinyatakan dengan PH adalah konstan, berbeda-beda antara 7,6 dan 8,3. Penyanggan terutama merupakan hasil dari kesetimbangan karbondioksid, asam karbonat, dan kesetimbangan bikarbonatkarbonat, effek penyanggan dari partikel-pertikel tanah liat yang halus dan lebih kurang ukuranya, asam borat, pada nilai PH yang lebih tinggi pengendapan kalsium atau kalsium karbonat dimudahkan(Zottoli, 1983).

2.3.2 Salinitas Ciri paling khas pada air laut yang diketahui oleh semua orang ialah rasanya yang asin. Ini disebabkan karena di dalam air laut terlarut bermacam macam garam, yang paling utama adalah garam natrium klorida (NaCl) yang sering pula disebut garam dapur. Garam dapur banyak diproduksi di Madura dan juga di daerah lainnya diperoleh dengan menguapkan air laut hingga tersisa Kristal Kristal garamnya. Selain garam klorida, di dalam air laut terdapat pula garam garam magnesium, kalsium, kalium dan sebagainya. Dalam literature oseanologi dikenal istilah salinitas yang maksudnya ialah jumlah berat semua garam yang terlarut dalam satuliter air, biasanya dinyatakan dengan satuan %0 (Nontji,2007) Menurut teori, zat zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan laut. Bersama gas-gas ini, terlarut pula hasil kikisan kerak bumi dan besama garam garam ini merembes pula air, semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Kadar garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak menjumpai bahwa air laut makin lama makin asin (Romimahtarto,2009)

2.3.3 DO Dilapisan permukaan laut konsentrasi gas oksigen sangat bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh suhu. Makin tinggi suhu makin berkurang tingkat kelarutan oksigen. Tapi anehnya semakin dalam pada beberapa ratus meter di bawah permukaan air laut, walaupun suhu makin menurun ternyata kadar oksigennya jua semakin berkurang sehingga bisa di temukan lapisan air laut dengan kadar oksigen minimum. Di laut oksigen terlarut (dissolved oxygen) berasal dari dua sumber yakni dari atmosfer dan dari hasil proses fotosintesis fitoplankton dan berjenis tanaman lain. Keberadaan oksigen dalam air laut sangat diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pemanfaatan bagi kebanyakan organism untuk kehidupan, antara lain pada proses respirasi di mana oksigen diperlukan untuk pembakaran (metabolisme) bahan organic sehingga terbentuk energy yang diikuti dengan pembentukan CO2 dan H2O (Wibisono, 2005). Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut (Salmin, 2005).

3. METODOLOGI

3.1 Alat dan fungsi 3.1.1 Parameter Fisika Alat yang digunakan dalam praktikum Oceanografi dan fungsinya adalah: Kecepatan Arus Stopwatch Kompas : untuk mengukur waktu. : untuk menunjukkan arah.

Botol bekas air mineral (600 ml) 2 buah : sebagai pemberat (yang berisi air lokal) dan sebagai pelampung (yang kosong). Tali rafia Kecerahan : sebagai penghubung antara kedua botol.

Secchi disk Penggaris Tali rafia

: untuk mengukur kecerahan perairan. : untuk mengukur panjang. : untuk menandai D1 dan D2

Suhu Thermometer : untuk mengukur suhu/ tempreature perairan.

Sifat Optik Air Secchi disk Penggaris Tali rafia : untuk mengukur kecerahan perairan. : untuk mengukur panjang. : untuk menandai D1 dan D2.

Gelombang Tongkat berskala 2 m Stopwatch : untuk mengukur tinggi gelombang. : untuk mengukur waktu.

Pasang Surut Tide Staff : untuk mengukur pasang surut.

3.1.2 Parameter Kimia Alat yang digunakan dalam praktikum oceanografi serta fungsinya adalah: pH Kotak standart : untuk mencocokan perubahan warna yang terjadi sebagai tempat sampel air laut. Salinitas Refraktometer : untuk mengukur salinitas air laut Pipet tetes : untuk mengambil preparat

Oksigen terlarut (DO) Water sampler : sebagai wadah untuk mengambil air laut. Botol DO Buret Statif Pipet tetes 2ml Corong : untuk membantu memasukkan cairan kedalam wadah. Pipet volume :untuk memindahkan secara tepat suatu volume tertentu sesuai kapasitas alat. : sebagai tempat air laut yang diambil samplenya. : sebagai tempat Na2S2O3 / tempat titrasi : sebagai tempat menggantungkan buret. : untuk mengambil larutan dalam hitungan tetes, 44 tetes =

3.2 Bahan dan Fungsi 3.2.1 Parameter Fisika Bahan yang digunakan dalam praktikum oceanografi serta fungsinya adalah: Kecepatan Arus Air laut : sebagai bahan sampel yang akan di uji.

Kecerahan Sampel air laut : sebagai perairan yang diukur kecerahannya. Karet gelang : sebagai pemberi tanda antara d1 dan d2.

Suhu Sampel air laut : sebagai perairan yang diukur suhunya.

Sifat optik air Sampel air laut : sebagai perairan yang diukur sifat optik air.

Gelombang Sampel air laut : sebagai perairan yang diukur gelombangnya. Pasang Surut 3.2.2 Sampel air laut : sebagai perairan yang diukur pasang surutnya.

Parameter Kimia Bahan yang digunakan dalam praktikum oceanografi serta fungsinya adalah: pH

pH paper Air laut

: sebagai indikator asam basa. : sebagai bahan yang akan diuji.

Salinitas Aquades Air laut Tissue : untuk membersihkan membran Refraktometer. : sebagai bahan uji. : untuk mengelap membrane Refraktometer.

Oksigen Terlarut (DO) MnSO4 NaOH + KI H2SO4 : untuk mengikat O2. : melepas I2 membentuk endapan coklat. : melarutkan endapan coklat.

Amylum

: sebagai indikator warna ungu dan pengkondisian suasana basa

Na2S2O3 Air laut

: mengikat I2 dengan membentuk 2NaI. : sebagai bahan yang di uji.

3.3 Prosedur Kerja 3.3.1 Parameter Fisika A. Pengukuran Suhu


Thermometer

Dicelupkan kedalam air selama 3 menit. Dilakukan dengan cara membelakangi cahaya matahari. Diangkat thermometer. Dibaca nilai suhu pada skala dengan cepat, Dicatat dalam skala berapa C.
Hasil

B. Pengukuran Kecepatan Arus

Rangkaian dua Botol air mineral 600 ml Diisi air laut pada salah satu botol Diikat dengan botol yang kosong dengan menggunakan tali raffia sepanjang 5 m Dihubungkan dengan tali raffia botol yang kosong Dihitung waktu dengan menggunakan stopwatch saat botol dijatuhkan ke dalam perairan. Dicatat waktu yang ditempuh selama botol dijatuhkan hingga tali tertegang sempurna.

Hasil

C. Pengukuran Kecerahan
Secchi disk

Disiapkan secchi disk Diturunkan kedalam perairan. Dilihat sampai tidak tampak pertama kali diberi tanda (d1). Diukur panjang d1 dengan tongkat skala Dimasukkan kedalam perairan sampai benar benar tidak terlihat. benar-benar Ditarik pelan-pelan hingga tampak pertama kali dan diberi tanda (d2). pelan pelan Diukur panjang d2 dengan tongkat skala panja Diangkat kepermukaan Dihitung kecerahan dengan rumus Dicatat hasil perhitungannya
Hasil

:D=

D. Pasang Surut Tide Staff Dipasang pada daerah pasang surut yang masih terendam air pukul 10.30 WIB Hasil

Dicatat skala awal sebagai t0 Pukul 14.30 WIB dicatat tinggi permukaan air setelahnya sebagai t1 (cm) Dihitung dengan hasil pengukuran tersebut (cm/jam)

E. Gelombang

Tinggi gelombang Tongkat berskala 2 m Ditancapkan tongkat skala dalam air. Diukur selisih antara puncak dengan lembah gelombang (sebagai tinggi gelombang) Dilakukan pengukuran sampai dengan 3 kali. Dicatat hasil pengamatannya

Hasil

Periode gelombang Tongkat berskala 2 m Disiapkan tongkat berskala Ditancapkan pada perairan pantai Dihitung dengan stopwatch pada puncak pertama menyentuh tongkat Dimatikan ketika datang pucak selajutnya yang menyentuh tongkat berskala Dicatat hasil pengamatannya Hasil

3.3.2 Parameter Kimia A. Pengukuran pH


pH paper

Hasil

Dimasukkan pH paper kedalam air sekitar beberapa cm. Ditunggu sampai beberapa saat, diangkat pH paper. Dikibas-kibaskan sampai setengah kering. Kemudian dicocokkan perubahan warnanya. dengan kotak standar pH.

B. Pengukuran Salinitas

Refraktometer

Dibersihkan kaca refraktometer dengan aquades menggunakan washing bottle Dibersihkan dengan tisu pada bagian kaca optiknya secara searah Diambil air sampel dengan pipet tetes. Diteteskan pada optik refraktometer sebanyak 1 tetes. Ditutup pelan-pelan agar tidak terdapat gelembung udara pada kaca refraktometer Diarahkan pada arah cahaya matahari Ditentukan salinitas perairan dengan melihat skala pada sisi kanan atas. Dicatat hasil pengamatannya

Hasil

C. Pengukuran Oksigen Terlarut (DO)


Water Sampler

Di ukur dan di catat volume botol DO terlebih dahulu Disiapkan water sampler yang didalamnya terdapat botol DO yang telah dihubungkan dengan selang. Disumbat salah satu ujung selang yang telah dihubungkan dengan botol DO. Dimasukkan water sampler ke dalam air Didekatkan ujung selang ditelinga hingga terdengar bunyi blub yang menandakan botol DO telah terisi penuh. Diangkat water sampler. Dibuka tutup water sampler, dikeluarkan botol DO yang terisi penuh dengan air. Ditutup botol DO, dibolak-balik, jika masih terdapat gelembung udara, maka percobaan diulangi lagi. Di buka tutup botol yang berisi sample air tersebut Di tambahkan 2 ml MnSO4 dan 2 ml NaOH + KI Di bolak-balik dan dibiarkan sampai terjadi endapan coklat Di buang air yang bening dan endapan tersisa diberi 2ml H2SO4 pekat dan dikocok sampai larut Diberi 4 tetes amilum, dititrasi dengan Na2SO3 0,025 N sampai jernih Dicatat ml titran Dihitung menggunakan rumus :

Vtitran x N V

titran

x 8 x 1000

total

Do 4

Hasil

4. Pembahasan

4.1. Data hasil Pengamatan Pasang Kecepatan arus (m/s) Keceraha n (cm) Suhu ( C)
o

Salinitas (ppt)

pH

Gelomban g

surut (cm/jam )

DO (mg/L)

0, 195

329 321,5

31 30

31

15

10

12, 195

Kecepatan arus Panjang tali yang dipakai Lama waktu Kecepatan arus Arah arus =5m = 25,66 detik = 0,195 m/detik = Dari Timur ke Barat

Kecerahan Hasil Pengukuran: 1. Pengukuran pada pukul 10.45 WIB Kedalaman secchi disk ( mulai tidak tampak): 355 cm Kedalaman secchi disk (mulai tampak): 303 cm Nilai kecerahan (rata-rata pengukuran): 329 cm 2. Pengukuran pada pukul 11.45 WIB Kedalaman secchi disk ( mulai tidak tampak): 340 cm Kedalaman secchi disk (mulai tampak): 303 cm Nilai kecerahan (rata-rata pengukuran): 321,5 cm

Suhu 1. Pengukuran pada pukul 10.45 WIB Suhu air laut = 31o C 2. Pengukuran pada pukul 11.45 WIB Suhu air laut = 30o C

Salinitas Nilai salinitas = 31 ppt

Derajat keasaman Nilai pH = 8

Gelombang Tinggi gelombang Puncak (cm) Lembah (cm) Selisih (cm) I 115 107 8 II 122 105 17 III 122 102 20

Selisih = 8+ 17+20 3 3 = 15 cm

Periode gelombang Pengukuran kePeriode gelombang I II III Ratarata 7,3

10

Pasang surut Skala awal pada tide staf Skala akhir pada tide staf Selang waktu pengukuran Kecepatan pasang surut = 40 cm = 80 cm = 4 jam = 10 cm/jam

Oksigen terlarut Nilai kandungan O2 di perairan = mg/l DO = Vtitran x N titran x 8 x 1000 V botol DO- 4 = 15 x 0,025 x 8 x 1000 250 - 4 = 12,195122 mg/L

4.2 Analisa Prosedur

4.2.1 Parameter Fisika 4.2.1.1 Suhu Cara pengukuran suhu pertama yang mesti dilakukan adalah dipersiapkan alatnya yaitu Thermometer Hg, setelah dipersiapkan thermometer Hg kemudian dicelupkan langsung kedalam laut dengan membelakangi matahari. Biarkan beberapa saat kemudian diangkat dan secepatnya dibaca nilai suhu pada skala Thermometer Hg sebelum terpengaruh oleh suhu sekitar. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran suhu yaitu membelakangi sinar matahari, badan thermometer tidak tersentuh oleh tangan pembaca skala dengan cepat dan waktu perendaman dalam air selama 3 menit.

4.2.1.2 Kecerahan Alat yang digunakan pada praktikum kecerahan adalah secchi disk, tongkat skala dan karet gelang. Pengukuran kecerahan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pukul 10.45 dan 11.45. Cara pengukuran praktikum kecerahan yaitu secchi disk diturunkan pelan-pelan hingga batas pertama kali tidak tampak, ditandai dengan karet gelang, dan diukur panjang tali menggunakan tongkat skala, dihitung sebagai D1 dan dicatat kedalamnya, lalu secchi disk diturunkan lebih dalam lagi hingga benar-benar tidak tampak kemudian ditarik pelan-pelan hingga pertama kali terlihat, ditandai dengan karet gelang, dan diukur panjang tali dan dihitung sebagai D2.

Dicatat kedalamnya. Rata-rata hasil pengukuran tersebut merupakan nilai kecerahan perairan dihitung dengan rumus : D=

D1 + D2 2

4.2.1.3 Pasang Surut Pada pengukuran pasang surut alat yang digunakan yaitu tide staff. Tide staff disiapkan. Tide staff dipasang pada daerah pasang surut yang masih terendam air pada pukul 10.30 WIB 14.30 WIB. Kemudian catat tinggi permukaan air pada tide staff sebagai T0 (cm) kemudian tunggu 4 jam. Setelah 4 jam catat lagi tinggi permukaan air sebagai T1 (cm) dan kemudian dihitung kecepatan pasang surut sebagai selisih kedua hasil pengukuran tersebut dengan menggunakan rumus:

T (cm / jam) dan dicatat didalam data. T

4.2.1.4 Gelombang a. Tinggi Gelombang Pada pengukuran tinggi gelombang alat yang digunakan yaitu tongkat berskala. Setelah tingkat disiapkan, bawa tongkat skala di tepi pantai kemudian ditancapkan, diamati gelombang yang datang dicatat berapa tinggi gelombang saat menyentuh tongkat skala. Cara pengukuran harus dengan hati-hati dan cermat karena gelombang datang dengan cepat. Pengukuran ini diulangi sebanyak 3x kemudian catat hasilnya.

Tide staff Puncak II

Puncak I

lembah

b. Periode gelombang Tongkat skala yang sudah ditancapkan diperairan pantai diamati, apabila gelombang datang, stopwatch dinyalakan saat puncak pertama gelombang menyentuh tongkat skala dan dimatikan saat puncak gelombang selanjutnya yang menyentuh tongkat skala. Dicatat hasilnya dalam tabel pengamatan ke-1 dan diulangi langkah-langkah diatas untuk pengamatan 2 dan 3, sehingga diperoleh hasil rata-rata dari periode gelombang tersebut.

4.2.1.5 Kecepatan Arus Pada pengukuran kecepatan arus hal pertama yang dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan seperti botol bekas air mineral 600 ml 2 buah, stopwatch dan kompas sedangkan bahannya adalah tali plastik dan perairan laut. Setelah Menyiapkan alat dan bahan, kemudian ambil 1 botol air mineral, kemudian isi dengan air laut dan dihubungkan dengan botol kosong menggunakan tali rafia. Kemudian diikatkan lagi pada tali rafia dan kemudian dihanyutkan mengikuti arus tidak lupa dicatat waktu yang ditempuh pada panjang tali 5 meter dan dihitung dengan menggunakan rumus V =

s . Sebelum dihanyutkan harus mengetahui arah t

arus air laut. Setelah itu dicatat hasil pengamatannya.

4.2.1.6 Sifat Optis Air Mula-mula disiapkan alatnya yaitu secchi disk dan tongkat skala, bahannya yaitu kolom air laut.pertama-tama diturunkan pelan-pelan secchi disk. Diamati sampai tidak tampak pertama kali, lalu diberi tanda pada tali secchi disk dengan karet gelang, selanjutnya ditarik pelan-pelan secchi disk sampai batas pertama kali tampak. Kemudian diberi tanda pada tali secchi disk dengan karet gelang, lalu diangkat secchi disk. Bersamaan dengan pencelupan secchi disk ini tadi dicatat juga waktu saat untuk pencelupan. Setelah secchi disk diangkat, lalu diukur panjang dari pangkal secchi disk sampai pada batas tanda karet gelang pertama kali tidak tampak dan dicatat sebagai D1. selanjutnya diukur panjang tali dari pangkal secchi disk sampai pada batas tanda karet gelang pertama kali tampak dan dicatat sebagai D2. kemudian dihitung rata-rata hasil pengukuran dengan rumus : D = dicatat hasilnya.

D1 + D2 , dan 2

4.2.2

Parameter Kimia

4.2.2.1 pH Mula-mula disiapkan alat dan bahan diantaranya pH meter dan sampel air laut. Setelah diambil sampai air dari laut dengan wadah botol bekas air mineral. Selanjutnya dicelupkan pH paper kedalam sampel air. Lalu dikibas-kibaskan sampai setengah kering, supaya tepat mendapatkan warna akhirnya. Kemudian dicocokkan perubahan warnanya dengan kotak standar. Selanjutnya dicatat warna apa yang sama dengan warna kotak standar kemudian dilihat berapa pH tersebut dan dicatat hasilnya.

4.2.2.2 Salinitas Pada pengukuran salinitas, hal pertama yang dilakukan adalah Menyiapkan alat dan bahan seperti refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur salinitas air, sampel air laut. Tisu digunakan untuk membersihkan lensa refraktometer setelah ditetesi aquades, aquades sendiri digunakan untuk

mengkalibrasi refraktometer dan pipet tetes digunakan untuk meneteskan aquades

ke lensa refraktometer. Diambil sampel air laut dengan menggunakan pipet tetes dan diteteskan 2 tetes pada membran refraktometer. Setelah itu ditutup membran dengan penutupnya diusahakan tidak terdapat gelembung karena akan

mempengaruhi pengukuran salinitas. Kemudian diarahkan refraktometer menuju sumber cahaya agar terlihat dengan jelas, lalu dilihat langsung nilai salinitasnya yang tertera pada lensa refraktometer (ppt) pada sebelah kanan dan catat hasilnya.

4.2.2.3 DO Pada pengukuran DO, disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan. Alat yang digunakan pada pengukuran DO adalah water sampler yang berfungsi sebagai tempat botol DO, kemudian botol DO yang berfungsi sebagai tempat sampel air. Buret sebagai tempat titrasi larutan, statistik sebagai penyangga buret, pipet tetes sebagai alat pengambil larutan dengan volume kecil, corong berfungsi untuk memasukkan larutan Na-thiosulfat kedalam buret. Setelah Menyiapkan alat, disiapkan juga bahan. Bahan yang digunakan antara lain NaOH + KI yang berfungsi untuk membentuk endapat coklat. Alumilum untuk pengkondisian suasana basa. Na thiosulfat sebagai lauratn titran dan aquades untuk membersihkan alat-alat.

Setelah Menyiapkan alat dan bahan tersebut, hal pertama yang perlu dilakukan adalah dibuka tutup water sampler dan selanjutnya dimasukkan botol DO yang telah dibuka tutupnya sebelumnya kedalam water sampler. Kemudian disambung selang pada tutup water sampler dan dimasukkan dalam perairan, lalu diletakkan selang didekat telinga dan ditunggu sampai berbunyi blub. Kemudian ditutup yang ujung selang diangkat dari perairan, dibuka tutup water sampler, kemudian ditutup, botol DO diangkat dan dihomogenkan. Setelah itu menuju ke daratan. Kemudian ditetesi 2ml larutan MnSo4 untuk mengikat O2 dan melarutkan I2, setelah itu dihomogenkan. Lalu ditetesi 2ml NaOH+KI untuk mendapatkan endapan coklat lalu dihomogenkan. Ditunggu sampai cairan bening dan endapan terpisah lalu di buang cairan beningnya, lalu di beri kertas label agar tidak tertukar dengan yang lainnya. Kemudian di tetesi 2ml H2SO4 dan di homogenkan sampai endapan terlarut, lalu di tetesi sebanyak 4 tetes amylum lalu di titrasi dengan Na2S2O3 0,025N sampai

terjadi perubahan tidak berwarna pertama kali (bening pertama), lalu di catat ml titran, Kemudian hitung DO dengan rumus :

DO =

Vtitran x N V

titran

x 8 x1000

total

Do 4

, dan dicatat hasilnya.

4.3. Analisa hasil

4.3.1. Parameter fisika a. Suhu Dari hasil praktikum tentang pengukuran suhu air laut hasil pengukurannya yaitu, suhu air laut pada pukul 10.45 WIB adalah 310C dan pada pukul 11.45 WIB adalah 300C. Menurut Nontji (2007) suhu air permukaan di perairan Nusantara kita umumnya berkisar antara 28-310C.

b. Kecerahan dan sifat optis air Berdasarkan pengukuran sifat optis air dan kecerahan pada pukul 10.45 WIB didapat hasil 329 cm, pada pukul 11.45 WIB didapatkan hasil 321,5 cm. Dengan kenaikan sudut datang cahaya matahari semakin besar terjadi pula penurunan kecerahan yang berarti intensitas cahaya matahari yang masuk di perairan juga berkurang karena beberapa faktor yaitu : adanya fitoplankton hidup dengan konsentrasi yang bervariasi, zat organic terlarut yang dihasilkan dari degradasi fitoplankton. Faktor cahaya matahari yang masuk kedalam air akan mempengaruhi sifat-sifat optis. Sifat optis air sangat berhubungan dengan intensitas matahari semakin lama berada. Sifat optis air dimiliki semakin besar sudut datang semakin besar. Intensitas matahari semakin besar maka sifat optis air bervariasi (Nyabaken, 1985).

c. Pasang surut Dari data perhitungan didapat nilai pasang surut adalah cm/jam. Pengukuran ini didapatkan pada tidal staf skala awal yaitu 40 cm dan skala akhir 80 cm dengan selang waktu 4 jam dan kecepatan pasang surut adalah 10 cm/jam. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi pasang surut pada praktikum ini adalah pasang surut rendah. Kisaran pasang surut (tidal range), yakni perbedaan tinggi air pada saat pasang maksimum dengan tinggi air pada saat surut minimum, rata rata berkisar antara 1 hingga 3 m (Nontji, 2007).

d. Gelombang Pada praktikum hasil pengamatan yang dilakukan sebanyak 3 kali yaitu puncak I = 115 cm, puncak II = 122 cm, puncak III = 122 cm sedangkan lembah I = 107 cm, lembah II = 105 cm, lembah III = 102 cm. Didapatkan selisih I = 8 cm, selisih II = 17cm, selisih III = 20 cm. tinggi gelombang rata-rata adalah 15 cm. Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin di atas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tangensial pada partikel air. Angin yang bertiup di permukaan laut mula-mula menimbulkan riak gelombang (ripples) (Romimohtarto, 2009).

e. Kecepatan arus Dari data hasil perhitungan kecepatan arus didapatkan nilai yaitu 0,195 m/detik, dengan arah arus dari timur menuju barat. Menurut Hutabarat (2008) gerakan air di permukaan air laut terutama disebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya. Juga paling tidak ada tiga faktor lain selain angin yaitu bentuk topografi dasar lautan dan pulau-pulau yang ada di sekitarnya, gaya coriolis, dan perbedaan tekanan air

4.3.2. Parameter kimia a. pH Dari hasil data dan perhitungan pH didapatkan nilai pH perairan adalah 8. ini berarti kondisi perairan di lokasi praktikum adalah basa. Biasanya pH air larutan 7,6 8,3 dan terutama mengandung ion HCO3-. pH tetap konstan yaitu 7,6 8,3. Fakta

inilah yang menjamin berbagai jenis ikan laut dapat hidup. Pengukuran pH air laut itu sulit, sebab adanya pengaruh temperature dan slinitas. Bila temperature naik atau tekanan naik maka proses dissosiasi itu merubah konstante disosiasi H2CO3, dan akibatnya pH turun dan kadar oksigen juga turun (brotowidjoyo, 1999).

b.Salinitas Dari hasil pengamatan diperoleh nilai salinitas yaitu 31 ppt. Di perairan samudra, salinitas biasanya amtara 34-35 ppt. di perairan pantai karena terjadi pengenceran, misalnya karena pengaruh aliran sungai, salinitas bisa turun menjadi rendah (Nontji, 2007).

c. DO Dari hasil perhitungan didapatkan nilai DO yaitu 12, 195 mg/l. Dan kondisi ini dapat dsimpulkan bahwa kondisi perairan adalah ideal. Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut, kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas(Salmin, 2005).

5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka diperoleh beberapa kesimpulan yaitu : Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam yang terlarut dalam air. Laut adalah bagian dari bumi kita yang tertutup oleh air asin pH adalah kepekatan ion-ion yang terlepas dalam suatu perairan. suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena penyebaran organisme baik di lautan maupun perairan tawar dibatasi oleh suatu perairan tersebut. Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan ke dalam air dan dinyatakan dalam persen. Arus adalah pergerkan massa air secara vertikal dan horizontal sehingga menuju keseimbangan. Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin di atas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tangensial pada partikel air. Menurut teori, zat zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan laut. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik benda-benda astronomi.

pH DO

Data hasil praktikum nilai

Parameter parameter kimia

8 12,195 mg/l 31 ppt

Salinitas Suhu

Parameter fisika

Pada pukul 10.45 Pada pukul 11.45

: 31 C : 300C

kecepatan arus Gelombang Kecerahan

0,195 m/s 15 Cm Pukul 10.45 WIB Pukul 11.45 WIB : 329 cm : 321,5 cm

pasang surut

Skala awal pada tide staff = 80 cm Skala akhir pada tide staff = 40 cm Selang waktu pengukuran = 4 jam Kecepatan pasang surut = 10 cm/jam

5.2 Saran Dari praktikum oceanografi yang telah dilakukan diharapkan para praktikan untuk berhati-hati dalam melaksanakan praktikum karena para praktikan langsung berada di tengah lautan juga berhati-hati dalam menggunakan alat praktikum karena kebanyakan alat terbuat dari bahan pecah belah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulmunthalib.

2009.

Stratifikasi

Perairan.

http://www.abdulmuthalib.co.cc/2009/08/stratifikasi-dalam-perairantergenang.html. diakses pada tanggal 08 Juni 2011. Pukul 15.40 WIB

Arfianti.Dini.2008. http// www. Oceanografi_sifat optis air.org.id/ ?php./diakses pada tanggal 3 Juni 2011, pada pukul 13.00 WIB.

Hutabarat & Evans.1985. Pengantar Oseanografi. Penerbit Universitas Indonesia (UI Press) ; Jakarta.

Marindo.2007. http// www.Marindo_Oceanografi.org.id / diakses pada 8 Juni 2011 pukul 04.01 WIB

Nontji, Anugerah.2007. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan ; Jakarta.

Nybaken. 1985. Biologi Laut. Penerbit Erlangga ; Jakarta.

Reindo,

2011.

El

Nino

dan

La diakses

Nina. pada

http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi23/elnino_lanina.htm. tanggal 06 Juni 2011 pukul 17.00 WIB

Romimohtarto, Kasijan. 2009. Biologi Laut. Penerbit Djambatan ; Jakarta.

Salmin, 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator untuk Menentukan Kualitas Perairan. Oseana, Volume XXX, Nomor 3, 2005 : 21 26.

Sediandi dan Yusuf, 1993. Stratifikasi BiomasaFitoplankton dalam kaitannya dengan tingkat kecerahan di perairan teluk waisaria, Pulau Seram, Maluku Tengah. Jurnal

Wibisono. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan . Penerbit Universitas Indonesia (UIPress) Jakarta.

Zootoli. 1983. http// www. Oceanografi kimia.org.id. / daikses pada tanggal 08 Juni 2011