Anda di halaman 1dari 51

Tinjauan Mengenai Perencanaan dan Pelaksanaan Proyek Pemasangan Listrik oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor

(Studi Kasus pada unit bisnis Bapak Piet Undap)

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Magang Semester genap Tahun Akademik 2010/2011

Oleh :

Farid Wajdi 170610080156

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2011

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2011

LEMBAR PENGESAHAN

Nama NPM Judul

: Farid Wajdi : 170610080156 : Tinjauan Mengenai Perencanaan dan Pelaksanaan Proyek Pemasangan Listrik oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor (Studi Kasus pada unit bisnis Bapak Piet Undap).

Telah Disetujui oleh Pembimbing Bandung, ...2011 Dosen Pembimbing

Arianis Chan, S.IP, M.Si NIP 132 303 762

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Karunia-Nya sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Laporan ini merupakan hasil kerja praktek penulis di PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor yang dilaksanakan dari Tanggal 4 Januari 2011 samapai dengan 4 Februari 2011. Penyusunan laporan kerja praktek ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan pada program Jurusan Administrasi Niaga Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam melakukan kerja praktek ini penulis banyak mendapatkan pengalaman berharga, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak terkait dengan pembuatan laporan praktek kerja yang dilakukan di PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Orang tua dan keluarga tercinta, yang memberikan dukungan moril maupun materil kepada penulis untuk selalu berusaha mencapai hasil yang terbaik. 2. Ibu Arianis Chan, S.IP, M.Si, selaku Dosen Pembimbing penulisan laporan kerja praktek. 3. Bapak H. Sukirnawan, S.E, selaku Manajer PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor. 4. Bapak Sigit Setiawan (Supervisor SDM) selaku pembimbing lapangan.

5. Bapak Diman Supriyanto (Supervisor Penagihan) selaku pembimbing lapangan. 6. Bapak Deddy Hidayat. F (Supervisor Pelayanan Palanggan). 7. Bapak Mugianto (Supervisor Penyambungan). 8. Bapak Puryadi, Bapak Tatang Iriana, Bapak Agus Santoso, Bapak Endang Bahrudin, Bapak Abd. Hafid. A, dan Bapak Entis. S yang telah memberi masukan-masukan dalam proses diskusi tentang proses instalasi pasang lisrik baru serta seluruh Staf dan Karyawan PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor. 9. Teman-teman kerja praktek yang telah bersama-sama

melaksanakan kerja praktek 10. Iman Nur Arief dan Dwi Putri Melani yang telah membantu penulis mencari bahan teori untuk penulisan laporan kerja praktek. Penulis sadar bahwa dalam mengerjakan laporan ini masih ada banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar bisa bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, 14 Februari 2011

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Halaman Judul ........................................................................................... Halaman Pengesahan ................................................................................. Kata Pengantar ........................................................................................... Daftar Isi.................................................................................................... Daftar Gambar ........................................................................................... Daftar Tabel............................................................................................... i ii iii v vi vii

I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1.2 Tujuan.................................................................................................. 1.3 Identifikasi Masalah ............................................................................. 1.4 Manfaat ................................................................................................ 1.5 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan ............................................................ 1.6 Metode Pengambilan Data........................................................................ 1.7 Sistematika Penlisan............................................................................. 1 2 3 3 4 4 5

II. Landasan Teori 2.1 Pengertian Manajemen Proyek ............................................................. ..... 2.2 Network Planning......................................................................................... 2.3 Perencanaan dan Penjadwalan Proyek Dengan PERT/CPM....................... 2.3.1 Simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan dalam metode PERT/CPM ............................................................. 2.3.2 Penentuan Waktu... 2.3.3 Notasi Yang Digunakan................................................................... 2.3.4 Asumsi dan Cara Perhitungan.......................................................... 2.3.4.1 Perhitungan Maju................................................................... 2.3.4.2 Perhitungan Mundur.............................................................. 2.3.4.3 Perhitungan Kelonggaran Waktu (Float atau Slack)..... 2.3.4.4 Lintasan Kritis......................................................................... 9 14 15 16 17 18 20 20 6 7 8

2.3.5 Kegunaan Critical Path Method (CPM)............................................. 2.4 Percepatan Proyek.................................................................................... 2.5 Penjadwalan Proyek instalasi listrik di PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor..

22 23

23

III. Pembahasan Kegiatan Kerja Praktek 3.1 Pelaksanaan perencanaan proyek instalasi listrik....................................... 3.2 Deskripsi perencanaan dan pelaksanaan proyek instalasi listrik oleh PT PLN (Persero) UPJ Cieteureup untuk pemasangan listrik di lokasi Unit bisnis Bapak Piet Undap............................................ 3.2.1 Analisa proses perencanaan dan pelaksanaan proyek pemasangan listrik dengan menggunakan metode CPM (Critical Path Method)...................................................................... 3.3 Kendala-kendala yang timbul dalam pelaksanaan instalasi pemasangan listrik serta solusi yan dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor pada Unit Bisnis Bapak Piet Undap............................................................... 39 29 27 24

IV. Deskripsi dan Perbaikan Sistem Kerja 4.1 Kesimpulan................................................................................................. 4.2 Rekomendasi............................................................................................... Daftar Pustaka.............................................................................................. Daftar Lampiran............................................................................................. 41 42 viii ix

DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Contoh Diagram Jaringan.............. Gambar 2.2 Sebuah event yang harus diselesaikan dahulu sebelum event yang lain dimulai.................................................. Gambar 2.3. Tiga kegiatan yang harus diselesaikan lebih dahulu sebelum kegiatan lain dimulai..................................................... Gambar 2.4. Dua kegiatan yang harus dimulai terlebih dahulu sebelum dua kegiatan lain dimulai Gambar 2.5. Dua kegiatan yang harus selesai terlebih dahulu sebelum kegiatan lain dimulai dan kegiatan lain boleh dimulai jika salah satu dari dua kegiatan sudah selesai Gambar 2.6a dan 2.6b. kegiatan yang harus digambarkan dengan menggunakan dummy 14 Gambar 2.7. Lingkaran kejadian. 16 Gambar 2.8. Initial event yang terjadi pada hari ke nol.. 18 Gambar 2.9. Event yang menggabungkan beberapa aktivitas.. 18 Gambar 2.10. Saat paling lambat memulai aktivitas 19 Gambar 2.11. Event yang mengeluarkan beberapa aktivitas............. 19 Gambar 3.1 Network proses administrasi pemasangan listrik baru.... 31 Gambar 3.2 Network proses perisiapan kerja instalasi pemasangan listrik baru.. 34 Gambar 3.3 Network proses pelaksanaan pemasangan listrik baru..... 37 13 13 12 12 11

DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Deskripsi Rencana Proses Administasi Pemasangan Listrik.........27 Tabel 3.2 Deskripsi Rencana Persiapan Kerja...... 28 Tabel 3.3 Deskripsi Rencana Pelaksanaan Kerja.. 28 Tabel 3.4 Aktivitas proses administrasi pemasangan listrik..30 Tabel 3.5 Pengkodean aktivitas proses administrasi pemasangan listrik.30 Tabel 3.6 Jumlah waktu yang dibutuhkan pada setiap jalur-jalur aktivitas.....31 Tabel 4.7 Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S....32 Tabel 3.8 Aktivitas Persiapan kerja.......33 Tabel 3.9 Pegkodean aktivitas proses persiapan kerja instalasi pemasangan listrik ........33 Tabel 3.10 Jumlah waktu yang dibutuhkan pada setiap jalur-jalur aktivitas......34 Tabel 3.11 Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S..35 Tabel 3.12 Aktivitas proses pelaksanaan kerja instalasi pemasangan listrik.......36 Tabel 3.13 Pengkodean aktivitas proses administrasi pemasangan listrik...36 Tabel 3.15 Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan ............37 Tabel 4.14 Jumlah waktu yang dibutuhkan pada setiap jalur-jalur aktivitas..........38

Bab I Pendahuluan
1. 1
Latar Belakang Masalah PT PLN (Persero) sebagai satu-satunya lembaga BUMN yang berwenang dalam usaha pendistribusian listrik, berusaha untuk memberikan pelayanan yang memuaskan kepada semua pelanggannya mengingat kebutuhan masyarakat akan tenaga listik dari waktu ke waktu semakin meningkat. Hal tersebut disadari oleh PT PLN (Persero) dalam komitmennya untuk melayani kebutuhan akan tenaga listrik kepada masyarakat khalayak. Oleh karena itu, PT PLN (Persero) perlu untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya. Perkerjaan dalam pemasangan listrik dapat disebut juga sebagai suatu proyek dalam unit bisnis kegiatan di PT PLN (Persero), karena itu perlu dilakukan suatu perencanaan proyek yang baik agar tujuan proyek tersebut dapat dicapai dengan baik dan sesuai dengan prosedur atau standar manajemen mutu. Dalam melakukan perencaan proyek, salah satu metode yang dapat digunakan dari ilmu manajemen operasi adalah Critical Path Method (CPM) . Metode ini dapat membantu menyelesaikan dan mengatasi permasalahan yang sering terjadi di dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan proyek. Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan jelas. Salah satu perbedaan tugas kegiatan proyek dengan kegiatan operasional, yaitu pada kegiatan proyek terdapat bermacam-macam kegiatan yang memerlukan berbagai disipilin ilmu, di samping intensitas kegiatan di dalam periode siklus yang berubah-ubah. Untuk itu perlu dilakukan penyusunan jadwal kegiatan dalam proyek agar proyek dapat diselesaikan dalam batas waktu yang telah ditentukan. Suatu proyek merupakan kombinasi dari kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan dan harus dilaksanakan dengan menggunakan suatu urutan tertentu sebelum seluruh tugas dapat diselesaikan secara tuntas. Kegiatan-kegiatan ini

saling berkaitan sehingga ada kemungkinan suatu kegiatan tidak dapat dimulai sebelum kegiatan lainnya terselesaikan. Suatu kegiatan dalam suatu proyek biasanya dipandang sebagai suatu pekerjaan yang dalam penyelesaiannya memerlukan waktu, tenaga, dan biaya. PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor merupakan bagian dari salah satu unit yang dibawahi oleh PT PLN (Persero) APJ Gunung Putri Bogor; yang mempunyai wewenang tugas meliputi wilayah Kecamatan Gunung Putri, Kecamatan Citeureup, Kecamatan Wanaherang, Kecamatan Babakan Madang, Kecamatan Kelapa Nunggal, dan Kecamatan Bukit Sentul. PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor sebagai salah satu unit yang mempunyai tugas melayani pelanggan dalam hal pemasangan baru, penambahan/pengurangan daya, perubahan data administrasi pelanggan, ganti meter/geser tiang, serta bertanggung jawab terhadap pemeliharaan jaringan tenaga listrik di wilayah tersebut. Dalam hal ini, penulis akan menuangkan suatu karya tulis yang diberi judul : Tinjauan Mengenai Perencanaan dan Pelaksanaan Proyek

Pemasangan Listrik oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor (Studi Kasus pada unit bisnis Bapak Piet Undap).

1. 2

Tujuan Sesuatu yang direncanakan bahkan diprogramkan dengan baik sudah

barang tentu mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang akan dicapai. Dengan persyaratan-persyaratan tertentu dan dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai pula diharapkan mendapatkan hasil semaksimal mungkin dalam jangka waktu yang ditentukan. Demikian juga halnya dengan kerja praktek ini, mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuan dari kerja praktek ini adalah: 1) Untuk mengetahui dan mempelajari proses perencanaan dan pelaksanaan proyek pemasangan listrik yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor.

2) Untuk mengetahui dan memahami sistem kerja dari keseluruhan proses proyek pemasangan listrik yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor, serta mengenal masing-masing urutan kegiatan dan proses instlasasi pemasangan listrik dengan analisa Critical Path Method (CPM). 3) Mahasiswa dapat membandingkan antara pengetahuan yang didapat di perkuliahan dengan kenyataan di lapangan serta diharapkan dapat menumbuhkan dan menciptakan pola berpikir konstruktif yang lebih berwawasan bagi mahasiswa.

1. 3

Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mencoba

mengidentifikasi permasalahan, yaitu sebagai berikut : 1. Bagaimana proses perencaan dan pelaksanaan proyek pemasangan listrik yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor? 2. Menganalisa sistem kerja, yaitu tentang proses perencanaan dan pelaksanaan proyek pemasangan listrik yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor dengan metode Critical Path Method (CPM). 3. Kendala apa saja yang muncul mulai dari perencanaan dan pelaksanaan proyek pemasangan listrik serta solusi yang dilakukan oleh pihak PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor?

1. 4

Manfaat Laporan kerja praktek ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain

sebagai berikut : 1) Dapat menjadi tambahan ilmu pengetahuan bagi penulis dan sebagai perbandingan dari teori-teori yang telah dipelajari diperkuliahan.

2) Dapat menjadi masukan bagi perusahaan dan sebagai bahan informasi dalam bidang operasional, khususnya mengenai masalah perencanaan dan pelaksanaan proyek. 3) Dapat menambah tambahan informasi bagi para pembaca untuk lebih mengetahui efektifitas dari perencanaan dan pelaksanaan proyek guna mendukung tujuan yang hendak dicapai.

1. 5

Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Praktek kerja ini dilaksanakan di PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor.

Adapaun waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan kerja praktek ini dimulai dari tanggal 4 Januari 2011 s.d 4 Februari 2011 atau setara dengan 180 jam kerja.

1. 6

Metode Pengambilan Data Metodologi penulisan yang digunakan untuk sebagai rujukan untuk

pembuatan laporan kerja praktek ini, yaitu : 1) Studi lapangan atau observasi Yaitu dengan pengamatan langsung pada objek secara langsung dan melakukan penganalisaan terhadap proses kerja di PT PLN (Persero) UPJ Citerureup Bogor. 2) Metode wawancara Dengan wawancara atau interview dengan karyawan yang berkepentingan untuk melaksanakan proses instalsasi pemasangan listrik . 3) Studi pustaka Mencari data dari buku-buku untuk mendapatkan landasan teoritis yang berhubungan dengan judul penulisan laporan kerja praktek.

1. 7

Sistematika Penulisan Laporan Kerja Praktek ini disusun dalam empat bab dengan sistematika

penulisan sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Berisikan hal-hal umum yang memaparkan latar belakang permasalahan, tujuan, batasan masalah, waktu dan tempat pelaksanaan, metodologi dan sistematika penulisan laporan. BAB II : LANDASAN TEORI Berisikan mengenai teori dasar mengenai pengertian manajemen proyek, network planning dan Critical Path Method (CPM). BAB III : DESKRIPSI DAN PERBAIKAN SISTEM KERJA Berisi analisa mengenai proses proyek instalasi listrik yang terjadi di daerah Citeureup Bogor yang dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor, yaitu pada unit bisnis Bapak Piet Undap. BAB IV : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Menutup laporan kerja praktek ini dengan memberikan kesimpulan dan rekomendasi untuk penanganan proses proyek instalasi listrik agar menjadi lebih baik.

Bab II Landasan Teori


2. 1
Pengertian Manajemen proyek Dewasa ini manajemen proyek sangan dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan konstruksi, baik dalam skala besar maupun skala kecil. Menurut buku Wahana Komputer (2005:10) mengemukakan bahwa : Manajemen proyek sendiri adalah penerapan fungsi-fungsi menajemen secara sistematis pada suatu proyek, dengan menggunakan

resource/sumber daya (manusia, barang, dan peralatan) secara efektif dan efisien agar tujuan proyek tercapai secara optimal. Trihendradi (2005:1) mengemukakan bahwa : Manajemen proyek adalah pengelolaan suatu proyek yang mencakup proses pelingkupan, perencanaan, penyediaan staf, pengorganisasian, dan pengontrolan suatu proyek. Kunci sukses manajemen proyek adalah pengetahuan seorang manajer proyek tentang pemanfaatan tiga hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi, ketiga hal tersebut adalah uang, waktu dan cakupan pekerjaan (Wahana Komputer, 2005:12).

Manajemen proyek yang efektif adalah bagaimana merencanakan, mengelola dan menghantarkan proyek tepat waktu dan dalam rentang anggaran. Jika dalam mengerjakan tugas dan menggunakan alat serta bahan, manusia tidak dibatasi oleh waktu dan biaya tentu saja manajemen proyek tidak diperlukan. Dalam mengatur suatu proyek, hal yang paling penting adalah merencanakan proyek itu dengan sangat hati-hati dan teliti untuk menciptakan hasil yang optimal.

2. 2

Network Planning Network Planning adalah suatu model yang digunakan dalam

menyelenggarakan proyek yang didalamnya terdiri dari informasi tentang kegiatan-kegiatan dalam network diagram proyek yang bersangkutan. Informasi tersebut mengenai sumber daya yang akan digunakan oleh kegiatan yang bersangkutan tentang jadwal pelaksanaannya. a) Manfaat Network Planning Kegunaan network planning terhadap suatu proyek antara lain : 1. Menyusun urutan kegiatan proyek yang memiliki sejumlah besar komponen dengan hubungan ketergantungan yang kompleks. 2. Membuat perkiraan jadwal proyek yang paling ekonomis. 3. Mengusahakan fluktuasi minimal penggunaan sumber daya. 4. Mengetahui kegiatan-kegiatan yang bersifat kritis. b) Langkah-langkah menyusun rencana proyek dengan menggunakan metode CPM : 1. Menentukan aktivitas individu Dari rincian struktur kerja, keseluruhan aktivitas dapat disusun dalam suatu proyek. Susunan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menambahkan serangkaian aktivitas dan informasi lamanya waktu untuk langkah selanjutnya. 2. Menentukan urutan masing-masing aktivitas Sebagian aktivitas bergantung pada selesainya kegiatan yang lain. Kegiatan pendahulu sangat berguna untuk menggambarkan diagram CPM. 3. Gambar diagram jaringan Setelah aktivitas dan urutannya ditentukan, maka diagram CPM dapat digambar berdasarkan urutan aktivitas pendahulunya. 4. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk tiap-tiap aktivitas Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap aktivitas diperkirakan berdasarkan pengalaman-pengalaman terdahulu atau pengetahuan si perencana. CPM ditentukan oleh model yang tidak

mempertimbangkan variasi angka waktu penyelesaian, jadi hanya satu angka yang digunakan untuk estimasi waktu aktivitas. 5. Identifikasi jalur kritis Jalur kritis adalah jalur yang tidak memiliki kelonggaran waktu dalam jaringan. Ciri utama dari jalur kritis adalah bahwa setiap pengerjaan suatu aktivitasnya tidak dapat ditunda, karena akan mempengaruhi durasi waktu penyelesaian proyek. Oleh karena itu, jalur kritis merupakan aspek yang penting dalam perencanaan proyek.

2. 3

Perencanaan dan Penjadwalan Proyek dengan PERT/CPM Pengelolaan proyek berskala besar yang berhasil, memerlukan

perencanaan, penjadwalan, dan pengkoordinasian yang hati-hati dari berbagai aktivitas yang saling berkaitan. Untuk itu diperlukan prosedur yang didasarkan atas penggunaan network (jaringan) dan teknik-teknik network dalam

perencanaan, penjadwalan, dan pengkoordinasian suatu proyek. Menurut Sitinjak (2006:215), mengemukan sebagai berikut : Penggunaan jaringan dalam bidang manajemen umumnya yaitu penggunaan teknik jaringan aktivitas, atau sering dikenal sebagai teknik jaringan proyek, suatu proyek melibatkan berbagai aktivitas yang saling berhubungan baik langsung atau tidak langsung.

Oleh Sitinjak (2006:215) jaringan proyek dapat dibuat sebagai berikut : Jaringan proyek dibuat dengan mengacu pada ketentuan yang

diberlakukan, misalnya AOA (Activity On Arrow), di mana aktivitas digambarkan atau dilambangkan pada busur panah, AON (Activity On Node), yaitu aktivitas dilambangkan sebagai simpul.

Network planning pada prinsipnya adalah hubungan ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan (variables) yang

digunakan/divisualisasikan dalam diagram network (Badri, 1997:13).

Menurut Hillier dan Lieberman (1990:371) mengemukakan bahwa : Prosedur yang paling utama dan terkenal pada saat ini dikenal sebagai PERT (Program Evaluation and Review Technique) dan CPM (Critical Path Methode), walaupun terdapat banyak variasi dengan nama yang berbeda-beda. Program Evaluation Review Technique (PERT) merupakan suatu metoda penjadwalan dengan menimbang durasi aktivitas yang bersifat tidak pasti (Wibowo, 2007).

Jalur kritis (CP / Critical Path) adalah jalur terpanjang dan didefinisikan sebagai waktu minimal yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek. PERT dan CPM memiliki perbedaan penting. Namun saat ini perbedaan keduanya digabungkan menjadi apa yang disebut PERT-type system.

Menurut Dimyati, T. T. dan A. Dimyati (2004:175) mengatakan bahwa : Walaupun PERT-type system sering digunakan untuk mengevaluasi penjadwalan program penelitian dan pengembangan, namun sekarang ini digunakan pula untuk mengukur dan mengendalikan kemajuan berbagai tipe proyek khusus lainnya, sebagai contoh dari tipe-tipe proyek ini adalah program-program konstruksi, pemrograman komputer, rencana pemeliharaan, dan pemasangan sistem komputer.

2.3.1 Simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan dalam


metode PERT/CPM Simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan suatu network dalam PERT-type system adalah sebagai berikut: Anak panah = arrow, menyatakan sebuah kegiatan atau aktifitas. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang

memerlukan duration (jangka waktu tertentu) dalam pemakaian sejumlah resource (sumber tenaga, peralatan, material, biaya. Panjang

ataupun kemiringan anak panah tidak mempunyai arti apapun. Sehingga tidak perlu menggunakan skala. Kepala anak panah menjadi arah bahwa kegiatan dimulai dari permulaan dan menuju akhir.

Lingkaran kecil = node, menentukan sebuah kejadian atau event. Kejadian di sini didefinisikan sebagai ujung atau pertemuan dari satu atau beberapa kegiatan. Anak panah terputus-putus, menyatakan kegiatan semu atau dummy. Dummy disini digunakan untuk membatasi mulainya kegiatan. Seperti halnya arrow panjang, ketebalan dan kemiringan dummy tidak perlu berskala. Perbedaan dummy dengan kegiatan biasa adalah dummy tidak mempunyai durasi (jangka waktu tertentu) karena tidak memakai atau menghabiskan sejumlah resource.

Anak panah tebal = menyatakan kegiatan pada lintasan/kegiatan kritis. Anak panah putus-putus = menyatakan kegiatan semu atau dummy. Dummy di sini berguna untuk membatasi mulainya kegiatan. Seperti halnya kegiatan biasa, panjang dan kemiringan dummy ini juga tidak berarti apa-apa sehingga tidak perlu berskala. Bedanya dengan kegiatan biasa ialah bahwa dummy tidak mempunyai duration (jangka waktu terentu karena tidak memakai atau menghabiskan sejulah resources.

Dalam pelaksanaannya simbol-simbol di atas digunakan dengan mengikuti aturan-aturan sebagai berikut: 1) Di antara dua event yang sama, hanya boleh digambarkan satu anak panah. 2) Nama suatu aktivitas dinyatakan dengan huruf atau dengan nomor event. 3) Aktivitas harus mengalir dari event bernomor rendah ke event bernomor tinggi. 4) Diagram hanya memiliki sebuah initial event dan sebuah terminal event.

Aturan-aturan tersebut dapat digambarkan dalam contoh diagram jaringan dalam gambar 2.1.

6 1 5 Initial Event 3 Terminal Event 7

Gambar 2.1 Contoh Diagram Jaringan.

Adapun logika kebergantungan kegiatan-kegiatan itu dinyatakan sebagai berikut. 1. Jika kegiatan A harus diselesaikan dahulu sebelum kegiatan B dapat dimulai, maka hubungan antara kedua kegiatan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.2.

A 1 2

B 3

Gambar 2.2 Sebuah event yang harus diselesaikan dahulu sebelum event yang lain dimulai. Kegiatan A bisa juga ditulis (1,2) dan kegiatan B(2,3).

2. Jika kegiatan C, D, dan E harus selesai sebelum kegiatan F dapat dimulai, maka hubungan dari keempat kegiatan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.3.

1 C

Gambar 2.3. Tiga kegiatan yang harus diselesaikan lebih dahulu sebelum kegiatan lain dimulai.

3. Jika kegiatan G dan H harus dimulai sebelum kegiatan I dan J maka hubungan keempat kegiatan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.4.

G 3 H

J 5

Gambar 2.4. Dua kegiatan yang harus dimulai terlebih dahulu sebelum dua kegiatan lain dimulai.

4. Jika kegiatan K dan L harus selesai sebelum kegiatan M dapat dimulai, tetapi N sudah dapat dimulai bila kegiatan L sudah selesai, maka hubungan keempat kegiatan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.5. K 1 3 M 5

Dummy

L 2 4

N 6

Gambar 2.5. Dua kegiatan yang harus selesai terlebih dahulu sebelum kegiatan lain dimulai dan kegiatan lain boleh dimulai jika salah satu dari dua kegiatan sudah selesai.

Fungsi Dummy diatas adalah memindahkan seketika itu juga (sesuai dengan arah panah) keterangan tentang selesainya kegiatan L dari lingkungan kejadian no. 3 ke lingkungan kejadian no. 4.

5. Jika kegiatan P, Q, dan R mulai dan selesai pada lingkaran kejadian yang sama, maka kita dapat menggambarkan kejadian tersebut dengan menggunakan dummy untuk membedakan ketiga kejadian tersebut, dan hubungan ketiga kegiatan dapat dilihat pada gambar 2.6.a dan 2.6.b.

P 1 R Q

2 4 3 .. Gambar 2.6a

atau

2 1 Q 3

P 4 R .. Gambar 2.6b

Gambar 2.6a dan 2.6b. kegiatan yang harus digambarkan dengan menggunakan dummy.

Kegiatan

P = (1,2) Q = (1,4) R = (1,3) atau

P = (2,4) Q = (1,4) R = (3,4)

Dalam hal ini tidak menjadi soal di mana saja meletakkannya dummy tersebut, pada permulaan atau pada akhir A.

2.3.2 Penentuan Waktu


Setelah suatu network ditentukan dan digambarkan, maka langkah berikutnya adalah mengestimasi waktu yang diperlukan untuk masing-masing

aktivitas, dan menganalisis seluruh diagram network untuk menentukan waktu terjadinya masing-masing kejadian (event).

Menurut Dimyati, T. T. dan A. Dimyati (2004:180) mengungkapkan bahwa : Dalam menganalisis dan mengestimasi waktu, maka akan didapatkan suatu lintasan tertentu dari kegiatan-kegiatan pada network, yang menentukan jangka waktu penyelesaian seluruh proyek.

Lintasan yang dimaksud adalah lintasan kritis (critical path). Selain lintasan kritis, masih terdapat lintasan-lintasan lain yang mempunyai jangka waktu yang lebih pendek dari pada lintasan kritis, dan biasa disebut dengan float, di mana float mempunyai waktu untuk bisa terlambat, sehingga berapapun panjangnya float tidak akan mempengaruhi proyek yang telah dijadwalkan.

Float sendiri terbagi menjadi dua jenis yaitu, total float dan free float. Float memberikan kelonggaran waktu pada sebuah network. Float juga digunakan pada waktu mengerjakan penentuan jumlah material, peralatan, dan tenaga kerja.

Menurut Dimyati, T.T dan A. Dimyati (1999:187) mendefinisikan total float dan free float adalah sebagai berikut : Total float adalah jumlah waktu di mana waktu penyelesaian suatu aktivitas dapat diundur tanpa mempengaruhi saat paling cepat dari penyelesaian proyek secara keseluruhan. Sedangkan yang dimaksud dengan free float adalah jumlah waktu di mana penyelesaian suatu aktivitas dapat diukur tanpa mempengaruhi saat paling cepat dimulainya aktivitas yang lain atau saat paling cepat terjadinya event lain pada network.

2.3.3 Notasi yang digunakan


Untuk memudahkan perhitungan penentuan waktu, maka digunakan notasi-notasi sebagai berikut:

a) TE = earliest event occurrence time, yaitu saat tercepat terjadinya event/aktivitas. b) TL = lates event occurrence time, yaitu saat paling lambat terjadinya event. c) ES = earliest activity start time, yaitu saat tercepat dimulainya aktivitas. d) EF = earliest activity finish time, yaitu saat paling lambat dimulainya aktivitas. e) LS = latest activity start time, yaitu saat paling lambat dimulainya aktivitas. f) LF = latest activity finish time, yaitu saat paling lambat diselesaikannya aktivitas. g) t = activity duration time, yaitu waktu yang diperlukan untuk suatu aktivitas (biasa dinyatakan dalam hari). h) S = total slack/total float. i) SF = free slack/free float.

2.3.4

Asumsi dan cara perhitungan Dalam melakukan perhitungan penentuan waktu digunakan tiga buah asumsi dasar, yaitu : 1) Proyek hanya memiliki satu initial event (titik awal) dan satu terminal event (titik akhir). 2) Saat tercepat terjadinya initial event adalah hari ke-nol. 3) Saat paling lambat terjadinya terminal event adalah TL = 0 untuk event ini.

Adapun perhitungan yang harus dilakukan terdiri atas dua cara, yaitu cara perhitungan maju (forward computation) dan perhitungan mundur (backward computation). Untuk melakukan perhitungan maju dan perhitungan mundur, digunakan lingkaran kejadian (event), lingkaran kejadian ini dibagi atas tiga bagian dan digambarkan seperti gambar 2.7.

a b c

Gambar 2.7. Lingkaran kejadian. Keterangan : a = ruang untuk nomor event. b = ruang untuk menunjukkan saat paling cepat terjadinya event (TE), yang merupakan hasil perhitungan maju. c = ruang untuk menunjukkan saat paling lambat terjadinya event (TL), yang merupakan hasil perhitungan mundur. Setelah network dari suatu proyek digambarkan, dan setiap node dibagi menjadi tiga bagian , maka langkah selanjutnya adalah memberi nomor pada masing-masing node. Kemudian mencantumkan pada setiap anak panah (kegiatan) perkiraan waktu pelaksanaan masing-masing kegiatan. Letak angka yang menunjukkan waktu kegiatan, terletak di bawah anak panah. Satuan waktu yang digunakan pada seluruh proyek harus sama, sebagai contoh pemakaian minggu, hari dan lain-lain. Yang paling penting adalah apabila perhitungan dilakukan dengan tidak menggunakan komputer, maka sebaiknya duration ini menggunakan angka-angka yang bulat.

2.3.4.1 Perhitungan Maju


Setelah menentukan network, langkah selanjutnya adalah

menentukan perhitungan maju dan mundur. Pada perhitungan maju, perhitungan bergerak mulai dari initial event menuju terminal event (maksudnya ialah menghitung saat yang paling tercepat terjadinya events).

Dalam perhitungan maju, ada tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu : 1) Saat tercepat terjadinya initial event ditentukan pada hari ke nol sehingga untuk initial event berlaku TE = 0. 2) Kalau initial event terjadi pada hari ke-nol, maka initial event dapat dilihat pada gambar 2.8. i 0 (i,j) t j

Gambar 2.8. Initial event yang terjadi pada hari ke nol. ES(i,j) = TE(j) = 0 EF(i,j) = ES(i,j) + t(i,j) maka, EF(i,j) = TE(i,j) + t(i,j)

3) Event yang menggabungkan beberapa aktivitas (merge event) dapat dilihat pada gambar 2.9. EF(i1,j) EF(i2,j) EF(i3,j) Gambar 2.9. Event yang menggabungkan beberapa aktivitas. Menurut Dimyati, T. T. dan A. Dimyati (1999:183) mengemukakan bahwa: Sebuah event hanya dapat terjadi jika aktivitas-aktivitas yang mendahuluinya telah diselesaikan. Maka saat paling cepat terjadinya sebuah event sama dengan nilai terbesar dari saat tercepat untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang berakhir pada event tersebut, sehingga Te(j) = max(EF(i1,j),EF(i2j),EF(in, j)).

2.3.4.2 Perhitungan Mundur


Setelah melakukan perhitungan maju, langkah selanjutnya melakukan perhitungan mundur, pada perhitungan mundur, perhitungan bergerak dari terminal event menuju ke initial event. Tujuannya ialah untuk menghitung saat paling lambat terjadinya events dan saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitas-aktivitas (TL, LS, dan LF). Seperti halnya pada perhitungan maju, pada perhitungan mundur ini pun terdapat tiga langkah, yaitu. 1) Pada terminal event berlaku TL = TE. 2) Saat paling lambat untuk memulai suatu aktivitas sama dengan saat paling lambat untuk menyelesaikan aktivitas itu dikurangi dengan duration aktivitas tersebut, dapat dilihat pada gambar 2.10. i (i,j) j
TE TL

Gambar 2.10. Saat paling lambat memulai aktivitas. LS = LF t LS(i1,j) = TL dimana TL = TE maka LS(i1,j) = TL(j) t(i1,j) 3) Event yang mengeluarkan beberapa aktivitas (burst event) dapat dilihat pada gambar 2.11.
LS(i1,j)

LS(i2,j) LS(i3,j)

Gambar 2.11. Event yang mengeluarkan beberapa aktivitas. Setiap aktivitas hanya dapat dimulai apabila event yang mendahuluinya telah terjadi. Oleh karena itu, saat paling lambat terjadinya sebuah event sama dengan nilai terkecil dari saat-saat paling lambat untuk memulai aktivitas-aktivitas yang berpangkal pada event tersebut.

TL(i)

= min (LS(i,j1), LS(i,j2),..,LS(i,jn))

Setelah kedua perhitungan diatas (perhitungan maju dan perhitungan mundur) selesai, barulah float dapat dihitung.

2.3.4.3 Perhitungan Kelonggaran Waktu (Float atau Slack)


Setelah perhitungan maju dan perhitungan mundur selesai dilakukan, maka langkah berikutnya harus dilakukan perhitungan kelonggaran waktu dari aktivitas (i,j) yang terdiri dari total float dan free float. Untuk menghitung total float dan free float digunakan rumus sebagai berikut : S(i1,j) SF(i1,j) = TL(j) TE(i) (t(i1,j)) = TE(j) TE(i) (t(i1,j))

Keterangan : S = Total float dari kejadian i menuju ke j. S = Free float dari kejadian i menuju ke j.

Menurut Dimyati, T. T. dan A. Dimyati (1999:188) mengemukakan bahwa : Dalam perhitungan float terdapat suatu aktivitas yang tidak mempunyai kelonggaran (float), yang biasa disebut sebagai aktivitas/kegiatan kritis. Dengan kata lain, aktivitas kritis mempunyai S
(i,j)

= SF

(i,j )

= 0.

Aktivitas-aktivitas kritis akan membentuk lintasan kritis yang dimulai dari initial event sampai ke terminal event. Aktivitas-aktivitas inilah yang tidak boleh ditunda pelaksanaannya, sehingga jika pelaksanaannya ditunda, akan

menimbulkan keterlambatan penyelesaian proyek.

2.3.4.4

Lintasan Kritis Pada saat ini, penjadwalan dengan hanya memperhitungkan durasi dan

ketergantungan pekerjaan saja tidak cukup. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam menjadwalkan suatu proyek. Salah satu faktor yang paling menentukan adalah waktu penjadwalan suatu proyek. Oleh

karena itu, banyak sekali metode yang dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, salah satu metode tersebut adalah metode lintasan kritis.

Menurut Hillier, S. F dan Lieberman (1990:376) mendefinisikan lintasan kritis adalah : Lintasan kritis suatu proyek adalah lintasan dalam suatu jaringan kerja sedemikian sehingga kegiatan pada lintasan ini memiliki kelambanan nol.

Menurut Badri (1997:23) adalah sebagai berikut : Lintasan kritis adalah jalur atau jalan yang dilintasi atau dilalui yang paling menentukan berhasil atau gagalnya suatu pekerjaan. Dengan kata lain lintasan kritis adalah lintasan yang paling menentukan penyelesaian proyek secara keseluruhan. Menurut Trihendradi (2005:34) mengungkapkan bahwa : Lintasan kritis memiliki arti penting dalam pengelolaan proyek karena lintasan kritis merupakan waktu atau durasi penentu penyelesaian proyek. Penundaan atau keterlambatan tugas dalam kategori lintasan kritis menyebabkan penundaan penyelesaian proyek secara keseluruhan. Keterlambatan tugas dalam kategori lintasan non-kritis tidak akan menunda penyelesaian proyek. Wiwoho (2007) mengungkapkan bahwa : Metode Lintasan Kritis (Critical Path Method - CPM) merupakan metode yang digunakan untuk menjadwalkan pekerjaan-pekerjaan dalam suatu proyek. Dalam metode ini, pekerjaan-pekerjaan dan ketergantungannya dimodelkan dalam suatu jaringan yang kemudian dianalisis untuk mendapatkan waktu tercepat dalam menyelesaikan masing-masing pekerjaan.

Menurut Badri (1997:24) manfaat yang diperoleh jika mengetahui lintasan kritis adalah sebagai berikut : 1. Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis menyebabkan seluruh proyek tertunda penyelesaiannya.

2. Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya bila pekerjaan-pekerjaan yang ada di lintasan kritis dapat dipercepat. 3. Pengawasan atau kontrol hanya diperketat pada lintasan kritis saja, sehingga pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis perlu pengawasan ketat agar tidak tertunda dan kemungkinan di trade off (pertukaran waktu dengan biaya yang efisien) dan crash program (diselesaikan dengan waktu yang optimum dipercepat dengan biaya yang bertambah pula) atau dipersingkat waktunya dengan tambahan biaya atau lembur. Time slack (kelonggaran waktu) terdapat pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak dilalui oleh lintasan kritis. Ini memungkinkan bagi manajer untuk memindahkan tenaga kerja, alat-alat, dan biaya-biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis demi efisiensi.

2.3.5 Kegunaan Critical Path Method (CPM)


Menurut Jay Haizer & Barry Render (2009:94), CPM sangat penting karena sangat membantu menjawab pertanyaan berikut mengenai proyek-proyek dengan ribuan aktivitas. 1. Kapan keseluruhan proyek dapat selesai? 2. Apa sajakah aktivitas atau tugas penting pada proyek, yaitu aktivitasaktivitas yang bila terlambat akan membuat keseluruhan proyek tertunda? 3. Aktivitas apakah yang nonkritis, yakni aktivitas yang dapat berjalan lambat tanpa membuat tertundanya penyelesaian keseluruhan proyek? 4. Berapa besar probabilitas proyek dapat selesai pada tanggal tertentu? 5. Pada tanggal tertentu, apakah proyek masih tetap dalam jadwal, lebih lambat dari jadwal, atau lebih cepat dari jadwal? 6. Pada tanggal tertentu, apakah uang yang dibelanjakan sama, lebih sedikit, atau lebih besar dibandingkan uang yang dianggarkan? 7. Apakah cukup sumber daya untuk menyelesaikan proyek tepat waktu?

8. Jika proyek ingin diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat apakah jalan yang terbaik mencapai sasaran ini dengan biaya seminimal mungkin?

2.4 Percepatan Proyek


Pada kondisi dan situasi tertentu, manajer proyek diharuskan dapat menyelesaikan proyek dalam waktu relatif lebih cepat dibandingkan waktu pada lintasan kritis. Dalam kondisi seperti ini, program linier digunakan untuk menentukan alokasi sumber daya sedemikian sehingga meminimalkan biaya tambahan yang harus dikeluarkan supaya proyek selesai lebih cepat dari waktu yang telah dijadwalkan.

2.5 Penjadwalan Proyek instalasi listrik di PT PLN (Persero) UPJ


Citeureup Bogor Penjadwalan proyek adalah rencana pengurutan kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan sasaran khusus dengan saat penyelesaian yang jelas. Sebelum proyek dikerjakan, perlu adanya tahap-tahap pengelolaan proyek yang meliputi tahap perencanaan, tahap penjadwalan, dan tahap pengkoordinasian. Dari ketiga tahapan ini, tahap perencanaan dan penjadwalan adalah tahap yang paling menentukan berhasil/tidaknya suatu proyek, karena penjadwalan adalah tahap ketergantungan antar tugas yang membangun proyek secara keseluruhan. Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, akan dibahas proses menentukan lintasan kritis dari proyek instalasi listrik yang dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor pada unit bisnis Bapak Piet Undap. Penentuan lintasan kritis ini dicari dengan menggunakan metode PERT/CPM.

Bab III Deskripsi dan Perbaikan Sistem Kerja


3.1 Deskripsi Pelaksanaan perencanaan proyek instalasi listrik
Dalam bab ini dijelaskan hasil dari perencanaan yang dilakukan untuk menghindari masalah-masalah yang timbul dalam suatu proyek dalam pelaksanaan pembangunan proyek instalasi atau pemasangan listrik. Untuk lebih jelasnya akan dibagi menjadi beberapa sub-bab berdasarkan hasil yang diperoleh dari kerja praktek yang dilakukan. Berikut ini adalah uraian selengkapnya mengenai pengolahan data yang didapat dari kerja praktek tersebut. Perencanaan instalasi yang berskala besar seperti insdustri, kantor dan lain sebagainya perlu menggunakan suatu perencanaan jaringan kerja (network planning) karena aktivitas yang dilakukan dalam proyek ini relatif banyak. Perencanaan jaringan kerja tetap tidak dapat menjamin pelaksanaan proyek pemasangan listik tidak melibihi batas waktu yang telah ditentukan atau direncanakan tetapi dapat memberikan informasi-informasi penting sehinga dapat diketahui aktifitas mana yang memiliki kelongaran dan aktifitas mana yang kritis. Informasi yang didapat dari perencanaan jaringan kerja (netwok planning) sangat berguna dalam menunjang perencanaan proyek pemasangan atau instalasi listrik agar pengerjaan proyek tersebut bisa terselasaikan dengan tepat waktu dan seefektif mungkin. Dinas engineering pada PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor, menyusun rancang bangun atas rencana peningkatan kinerja serta pengembangan sarana penyaluran termasuk penyambungan pelanggan sehingga dapat diperoleh kinerja instalasi yang handal dan bermutu dengan mengacu pada Target Mutu Pelayanan (TMP). Sedangkan Dinas Konstruksi mengelola manajemen konstuksi, peningkatan pengembangan sarana penyaluran tenaga listrik sehingga kebutuhan beban dapat terpenuhi sesuai dengan rencana. Dalam pelaksanaan pada suatu perencanaan dalam proyek pemasangan atau instalsai listrik pada PT PLN (persero) UPJ Citeureup Bogor, diserahkan pada unit-unit PLN yang berbeda dalam suatu wilayah kerjanya. Dalam hal ini penulis melaksanakan kegiatan kerja praktek di PT PLN (persero) UPJ Citeureup

Bogor, dimulai dari Bagian Pelayanan Pelaggan dan Bagian Penyambungan Pelanggan. Berikut penulis uraikan rangkaian proses perencanaan proyek pemasangan listrik yang dilaksanakan di unit bisnis Bapak Piet Undap, meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 1. Proses Administrasi : a. Permohonan calon pelanggan untuk pemasangan listrik kepada bagian administrasi pelayanan pelanggan dengan membawa fotocopy KTP/SIM, fotocopy rekening listrik tetangga terdekat, dan surat kuasa bila dikuasankan (pengisian TUL I-01). b. Baigan Administrasi Pelayanan Pelanggan meng-input data calon pelanggan pada TUL I-01 dan mencetak TUL I-01 serta penandatanganan TUL I-01 oleh calon . c. Pendistribusian data pelanggan ke Bagian Teknik Distribusi untuk survey lokasi. d. Bagian Teknik Distribusi melakukan survey ke lokasi, pembuatan laporan hasil survey, kelengkapan material. e. Bagian pelayanan pelanggan membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB). f. Menentukan golongan atau ketegori pemasangan daya listrik, mengevaluasi laporan hasil survey, menandatangani Surat Jawaban Permohonan Sambungan (SJPS) dan menandatangi Surat

Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) dengan daya 16500 vA. g. Pembayaran oleh pihak konsumen atas Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau biaya penyambungan pasang baru. h. Pembuatan Surat Perintah Kerja (SPK) oleh bagian Administrasi Pelayanan Pelanggan yang ditujukan kepada Bagian Teknik Distribusi.

2. Persiapan Kerja : a. Persiapan material oleh Bagian Teknik Distibusi sesuai dengan RAB yang telah dibuat. (Kode 7) b. Pengangkutan material dan alat kerja menuju lokasi pengerjaan instalasi pemasangan listrik.

3. Pelaksanaan Kerja : a. Pengecekan penempatan kWh meter dan penentuan sambungan kabel listrik di tempat yang telah ditentukan dalam peta Perintah Kerja (PK) yang telah disetujui bersama. b. Perakitan aksesoris kWh meter. c. Pemasangan KWH meter . d. Pemasangan pondasi kabel listrik. e. Pemasangan kabel listrik dari tiang ke kWh meter. f. Melaksanakan penyegelan kWh meter. g. Memverifikasi dan menguji hasil penyambungan baru. h. Pelanggan dan staf bagian teknik mengisi dan menandatangi berita acara TUL I-01. i. Setelah pemasangan dilakukan, perintah kerja (PK) dan perubahan data pelanggan (PDL) diserahkan kembali kepada Bagian Penyambungan.dan Bagian Cater & Rekening untuk kemudian dibuatkan rekening listrik. j. Proses mutasi data oleh bagian penyambungan.

3.2 Deskripsi perencanaan dan pelaksanaan proyek instalasi listrik oleh PT


PLN (Persero) UPJ Cieteureup untuk pemasangan listrik di lokasi Unit bisnis Bapak Piet Undap Proyek instalasi pemasangan listrik yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup yang dilaksanakan di lokasi unit bisnis Bapak Piet Undap. Pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan hasil perencanaan yang telah dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup selama 30 hari (berdasarkan TMP) dengan rincian sebagai berikut : (Tabel 3.1) Deskripsi Rencana Proses Administasi Pemasangan Listrik.
No. 1 Jenis Pekerjaan Permohonan calon pelanggan untuk pemasangan listrik kepada bagian administrasi pelayanan pelanggan dengan membawa fotocopy KTP/SIM, fotocopy rekening listrik tetangga terdekat, dan surat kuasa bila dikuasankan (pengisian TUL I-01). Baigan Administrasi Pelayanan Pelanggan meng-input data calon pelanggan pada TUL I01 dan mencetak TUL I-01 serta penandatanganan TUL I-01 oleh calon pelanggan. Pendistribusian data pelanggan ke Bagian Teknik Distribusi untuk survey lokasi. Bagian teknik distribusi melakukan survey ke lokasi, pembuatan laporan hasil survey, kelengkapan material. Bagian pelayanan pelanggan membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB). Menentukan golongan atau ketegori pemasangan daya listrik, mengevaluasi laporan hasil survey, menandatangani Surat Jawaban Permohonan Sambungan (SJPS) dan menandatangi Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) dengan daya 16500 vA. Pembayaran oleh pihak konsumen atas Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau biaya penyambungan pasang baru. Pembuatan Surat Perintah Kerja (SPK) oleh bagian Administrasi Pelayanan Pelanggan yang ditujukan kepada Bagian Teknik Distribusi. Waktu (hari kerja)

1/3

1/3

3 4

1/3

(Tabel 3.2) Deskripsi Rencana Persiapan Kerja.


No. 1 Persiapan Jenis Pekerjaan material oleh Bagian Teknik 8 Waktu (hari kerja)

Distibusi sesuai dengan RAB yang telah dibuat. (Kode 7) 2 Pengangkutan material dan alat kerja menuju lokasi pengerjaan instalasi penasangan listrik.

(Tabel 3.3) Deskripsi Rencana Pelaksanaan Kerja.


No. Jenis Pekerjaan Pengecekan penempatan kWh meter dan penentuan sambungan kabel listrik di 1 tempat yang telah ditentukan dalam peta Perintah Kerja (PK) yang telah disetujui bersama. 2 3 4 5 Perakitan aksesoris kWh meter. Pemasangan KWH meter. Pemasangan pondasi kabel listrik. Pemasangan kabel listrik dari tiang ke kWh meter. 6 7 Melaksanakan penyegelan kWh meter. Memverifikasi dan menguji hasil penyambungan baru. 8 Pelanggan dan staff bagian teknik mengisi dan menandatangi berita acara TUL I-01. Setelah pemasangan dilakukan, perintah kerja (PK) dan perubahan data pelanggan 9 (PDL) diserahkan kembali kepada Bagian Penyambungan.dan Bagian Cater & Rekening untuk kemudian dibuatkan rekening listrik. 10 proses mutasi data oleh bagian penyambungan. 1 1 1/4 1/4 1 1 Waktu (hari kerja)

Dari ketiga tabel di atas dapat dilihat rangkaian aktivitas yang dibutuhkan dalam proyek pemasangan listrik oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor pada unit bisnis Bapak Piet Undap dengan estimasi waktu yang telah ditentukan selama 30 hari berdasarkan TMP yang telah ditetapkan PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor (23hari merupakan waktu pengerjaan proyek dan 7 hari merupakan waktu tambahan jika terjadi hambatan dalam pengerjaan proyek).

Untuk proses administrasi membutuhkan waktu Untuk persiapan kerja membutuhkan waktu Untuk perlaksanaan kerja membutuhkan waktu Estimasi waktu yang diperkirakan jika terjadi hambatan Total waktu yang dibutuhkan

= = = = =

7 hari 9 hari 7 hari 7 hari 30 hari

3.2.1 Analisa proses perencanaan dan pelaksanaan proyek pemasangan listrik dengan menggunakan metode CPM (Critical Path Method)

Pada pembahasan ini, penulis mencoba memberikan cara alternatif untuk perencanaan instalasi pemasangan listrik yang dikakukan pada unit bisnis Bapak Piet Undap, yaitu dengan menggunakan Metode Jalur Kritis (CPM). Sesuai dengan sub bab sebelumnya, proses keseluruhan terbagi menjadi tiga bagian. Penyelesaian berikut ini dibagi berdasarkan tahapan pelaksanaan proyek tersebut. Data yang diperoleh dari pihak perusahaan menunjukan hubungan antar aktivitas dalam proses administrasi

pemasangan listrik dimana setiap aktivitas merupakan aktivitas pendahulu bagi aktivitas selanjutnya. Berdasarkan landasan teori pada Bab II, perencanaan proyek dengan menggunakan metode CPM meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

1. Proses administrasi pemasangan listrik a) Menentukan Aktivitas Individu Langkah ini dimaksudkan untuk menyususn aktivitas yang dibutuhkan dalam proses administrasi. Susunan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menambahkan serangkaian aktivitas lainnya yang dibutuhkan dan informasi lamanya waktu. (Tabel 3.4) Aktivitas proses administrasi pemasangan listrik.
Aktivitas 1 2 3 4 5 6 7 8 Kode Aktivitas A B C D E F G H Waktu (hari kerja) 1/3 1/3 1/3 2 1 1 1 1

b) Menentukan urutan masing-masing aktivitas Setelah diketahui aktivitas yang dibutuhkan dalam proses administrasi, aktivitas tersebut kemudian diurutkan sesuai dengan proses pengerjaannya. Langkah ini sangat berguna untuk menggambarkan diagram CPM proses administrasi. (Tabel 3.5) Pengkodean aktivitas proses administrasi pemasangan listrik.
Aktivitas 1 2 3 4 5 6 7 8 Kode Aktivitas A B C D E F G H Aktivitas Pendahulu A B C D E F G

c) Gambar diagram jaringan Aktivitas di atas dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Start

A,1/3

B,1/3

C,1/3

D,2

H,1

G,1

F,1

E,1

Gambar 3.1 Network proses administrasi pemasangan listrik baru.

d) Waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk tiap-tiap jalur aktivitas Untuk waktu yang dibutuhkan pada tiap-tiap aktivitas bisa dilihat pada tabel di bawah ini :

(Tabel 3.6) Jumlah waktu yang dibutuhkan pada setiap jalur-jalur aktivitas.
No 1. Jalur-jalur kegiatan Waktu yang dibutuhkan (dalam hari)
0,33 + 0,33 + 0,33 + 2 + 1 + 1 + 1 + 1 = 7

A-B-C-D-E-F-G-H

Berdasarkan

diagram

CPM

atau

gambar

kegiatan

penyelesaian proses administrasi tersebut, dapat diketahui bahwa jalur kritisnya adalah A-B-C-D-E-F-G-H. Dengan demikian dapat diketahui bahwa waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses administrasi selama 7 hari.

e) Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S, menggunakan rumusrumus berikut : ES EF LS LF S = Early Start = Early Finish = Late Start = Late Finish = Slack menggunakan = LF LS atau LS ES rumus-rumus tersebut, hasil = ES + t = LF t

Dengan

perhitungannya adalah sebagai beikut : (Tabel 4.7) Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S.
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kegiatan A B C D E F G H Kegiatan Sebelumnya A B C D E F G Waktu Aktivitas 0.33 0.33 0.33 2 1 1 1 1 ES 0 0.33 0.66 0.99 2.99 3.99 4.99 5.99 EF 0.33 0.66 0.99 2.99 3.99 4.99 5.99 6.99 LS 0 0.33 0.66 0.99 2.99 3.99 4.99 5.99 LF 0.33 0.66 0.99 2.99 3.99 4.99 5.99 6.99 S 0 0 0 0 0 0 0 0

Dari hasil perhitungan tersebut dapat diperoleh nilai S (Slack), dimana kegiatan A-B-C-D-E-F-G-H memiliki nilai S = 0, artinya jalur yang dilewati oleh kegiatan-kegiatan tersebut adalah jalur kritis dan hal tersebut sesuai dengan perhitungan sebelumnya dimana jalur kritisnya adalah A-B-C-D-E-F-G-H. kesimpulannya bahwa tahapan proses administrasi pemasangan listrik dapat selesai dalam waktu 7 hari.

2. Proses persiapan kerja Pada tahap persiapan kerja, hanya terdiri dari dua aktivitas dan aktivitas pertama meruapakan kegiatan pendahulu bagi aktivitas selanjutnya. a) Menentukan Aktivitas Individu Setelah diketahui aktivitas yang dibutuhkan dalam proses persiapan kerja, aktivitas tersebut kemudian diurutkan sesuai dengan proses pengerjaannya. (Tabel 3.8) Aktivitas Persiapan kerja.
Aktivitas 1 2 Kode Aktivitas A B Waktu (hari kerja) 8 1

b) Menentukan urutan masing-masing aktivitas Setelah diketahui aktivitas yang dibutuhkan dalam proses persiapan kerja, aktivitas tersebut kemudian diurutkan sesuai dengan proses pengerjaannya. Berikut uraian tabel masingmasing aktivitas.

(Tabel 3.9) Pegkodean aktivitas proses persiapan kerja instalasi pemasangan listrik.
Aktivitas 1 2 Kode Aktivitas A B Aktivitas Pendahulu A

c) Gambar diagram jaringan Aktivitas di atas dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Start A,8 B,1

Gambar 3.2 Network proses perisiapan kerja instalasi pemasangan listrik baru.

d) Waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk tiap-tiap jalur aktivitas Untuk waktu yang dibutuhkan pada tiap-tiap aktivitas bisa dilihat pada tabel di bawah ini : (Tabel 3.10) Jumlah waktu yang dibutuhkan pada setiap jalur-jalur aktivitas.
No 1. Jalur-jalur kegiatan Waktu yang dibutuhkan (dalam hari)
8+1=9

A-B

Berdasarkan

diagram

CPM

atau

gambar

kegiatan

penyelesaian proses persiapan kerja tersebut, dapat diketahui bahwa jalur kritisnya adalah A-B. Dengan demikian dapat diketahui bahwa waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses persiapan kerja selama 9 hari.

e) Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S, menggunakan rumusrumus berikut : ES EF LS LF S = Early Start = Early Finish = Late Start = Late Finish = Slack = LF LS atau LS ES = ES + t = LF t

Dengan

menggunakan

rumus-rumus

tersebut,

hasil

perhitungannya adalah sebagai beikut : (Tabel 3.11) Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S
No.
1 2

Kegiatan
A B

Kegiatan Sebelumnya
A

Waktu Aktivitas
8 1

ES
0 8

EF
8 9

LS
0 8

LF
8 9

S
0 0

Dari hasil perhitungan tersebut dapat diperoleh nilai S (Slack), dimana kegiatan A-B memiliki nilai S = 0, artinya jalur yang dilewati oleh kegiatan-kegiatan tersebut adalah jalur kritis dan hal tersebut sesuai dengan perhitungan sebelumnya dimana jalur kritisnya adalah A-B. Kesimpulannya bahwa tahapan proses persiapan kerja membutuhkan waktu selama 9 hari.

3. Proses Pelaksanaan Kerja Pada tahapan pelaksanaan kerja, sebagian aktivitas dapat dikerjakan dalam waktu yang bersanaan dengan aktivitas yang lain, sehingga hal ini dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan pada tahap pelasanaan kerja ini.

a) Menentukan Aktivitas Individu Langkah ini dimaksudkan untuk menyususn aktivitas yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan kerja. Susunan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menambahkan

serangkaian aktivitas lainnya yang dibutuhkan dan informasi lamanya waktu.

(Tabel 3.12) Aktivitas proses pelaksanaan kerja instalasi pemasangan listrik.


Aktivitas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode Aktivitas A B C D E F G H I J Waktu (hari kerja) 1 1/2 1/2 1 1/2 1/2 1/2 1/2 1 1

b) Menentukan urutan masing-masing aktivitas Setelah diketahui aktivitas yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan kerja, aktivitas tersebut kemudian diurutkan sesuai dengan proses pengerjaannya. Langkah ini sangat berguna untuk menggambarkan diagram CPM proses pelaksanaan kerja instalasi listrik.

(Tabel 3.13) Pengkodean aktivitas proses administrasi pemasangan listrik.


Aktivitas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode Aktivitas A B C D E F G H I J Aktivitas Pendahulu A B A D C,E F G H I

c) Gambar diagram jaringan Aktivitas di atas dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
B,1/2 C,1/2

Start

A,1

F,1/2

G,1/2

D,1

E,1/2

J,1

I,1

H,1/2

Gambar 3.3 Network proses pelaksanaan pemasangan listrik baru.

d) Waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk tiap-tiap jalur aktivitas Untuk waktu yang dibutuhkan pada tiap-tiap aktivitas bisa dilihat pada tabel di bawah ini : (Tabel 4.14) Jumlah waktu yang dibutuhkan pada setiap jalur-jalur aktivitas.
No 1. 2. Jalur-jalur kegiatan Waktu yang dibutuhkan (dalam hari)
1 + 0,5 + 0.5 + 0.5 + 0.5 + 0.5 + 1 + 1 = 5.5 1 + 1 + 0.5 + 0.5 +0.5 + 0.5 + 1 + 1 = 6

A-B-C -F-G-H-I-J A-D-E-F-G-H-I-J

Berdasarkan

diagram

CPM

atau

gambar

kegiatan

penyelesaian proses administrasi tersebut, dapat diketahui bahwa jalur kritisnya adalah A-D-E-F-G-H-I-J (tanda panah tebal). Dengan demikian dapat diketahui bahwa waktu keseluruhan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses pelaksanaan kerja selama 6 hari.

e) Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S, menggunakan rumusrumus berikut : ES EF LS LF S = Early Start = Early Finish = Late Start = Late Finish = Slack menggunakan = LF LS atau LS ES rumus-rumus tersebut, hasil = ES + t = LF t

Dengan

perhitungannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini adalah sebagai beikut : (Tabel 3.15) Perhitungan ES, EF, LS, LF, dan S.
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kegiatan A B C D E F G H I J Kegiatan Sebelumnya A B A D C,E F G H I Waktu Aktivitas 1 0.5 0.5 1 0.5 0.5 0.5 0.5 1 1 ES 0 1 1.5 1 2 2.5 3 3.5 4 5 EF 1 1.5 2 2 2.5 3 3.5 4 5 6 LS 0 1.5 2 1 2 2.5 3 3.5 4 5 LF 1 2 2.5 2 2.5 3 3.5 4 5 6 S 0 0.5 0.5 0 0 0 0 0 0 0

Dari hasil perhitungan tersebut dapat diperoleh nilai S (Slack), dimana kegiatan A-D-E-F-G-H-I-J memiliki nilai S = 0, artinya jalur yang dilewati oleh kegiatan-kegiatan tersebut adalah jalur kritis dan hal tersebut sesuai dengan perhitungan sebelumnya dimana jalur kritisnya adalah A-D-E-F-G-H-I-J. Kesimpulannya bahwa tahapan proses administrasi

pemasangan listrik dapat selesai dalam waktu 6 hari.

Simpulan dari keseluruhan waktu yang dibutuhkan mulai dari proses administrasi samapai dengan pelaksanaan kerja dengan menguraikannya dengan menggunakan metode CPM adalah sebagai berikut : Proses Administrasi = 7 hari 9 hari 6 hari + 22 hari

Proses persiapan atau perencanaan kerja = Proses pelaksanaan kerja Akumulasi seluruh waktu = =

Dengan asumsi tidak terjadinya kendala selama pengerjaan proyek pemasangan instalasi listrik baru, waktu yang dibutukan hanya 22 hari, yang bearti bahwa waktu pengerjaan menjadi lebih cepat 1 hari dari waktu yang telah diperkirakan sebelumnya.

3.3 Kendala-kendala yang timbul dalam perencanaan dan pelaksanaan


instalasi pemasangan listrik serta solusi yan dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor pada Unit Bisnis Bapak Piet Undap

Adapun kendala-kendala yang muncul pada proses perencanaan dan pelaksanaan pemasangan instalasi listrik diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Calon pelanggan menunda pembayaran Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah dibuat oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor pertanggal 01 Desember 2010 menjadi tanggal 03 Januari 2011, sehingga waktu penyelesaian proyek instalasi lisrik pasang baru menjadi agak lebih lama dari waktu yang telah rencanakan. 2. Saat staf bagian teknik tiba dilokasi dan melakukan pengecekan lokasi pemasangan kWh meter berdasarkan peta yang tertera pada Surat Perintah Kerja (SPK). Pelanggan dan staf bagian teknik tidak menemui kesepakan untuk melaksanakan pemasangan, dikarenakan pihak

pelanggan meminta pemasangan kWh meter berbeda lokasi dengan apa

yang telah tertera pada SPK (hasil survey) situasi pemasangan kWh meter, sehingga pemasangan pada hari itu batal. 3. Material yang dibutuhkan, seperti OKA kWh engselnya ada yang terlepas, sehingga proses perakitan kWh meter menjadi terhambat.

Adapun solusi yang dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup dalam upaya mengatasi kendala-kendala yang muncul, yaitu sebagai berikut : 1. PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor mencoba membuatkan kembali Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) pertanggal 3 Januari 2011 yang baru kepada calon pelanggan guna terciptanya kesepakatan bersama mengenai proses administrasi. 2. Mengenai ketidaksepakatan kedua belah pihak antara calon pelanggan dan staf PLN mengenai penempatan kWh meter di lokasi pemasangan, PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor mencoba memberikan masukan mengenai letak penempatan kWh meter yang sesuai dengan prosedur. Setelah calon pelanggan menyepakati masukan dari staf PLN, barulah pemasangan dapat dilaksanakan. 3. Staf PLN yang berada dilokasi mencoba memperbaikinya dengan segera mungkin dengan menggunakan peralatan seperti tang, obeng, kawat, dan peralatan lainnya.

Bab IV
Kesimpulan dan Rekomendasi

4.1

Kesimpulan Analisis jaringan kerja dengan menggunakan Critcal Path Method (CPM)

adalah merupakan suatu perpaduan pemikiran yang logis, digambarkan dengan suatu jaringan yang berisi lintasan-lintasan kegiatan dan memungkinkan

pengolahan secara analitis. Analisa jaringan kerja dengan menggunakan Critcal Path Method (CPM) memungkinkan suatu perencanaan yang efektif dari suatu rangkaian yang mempunyai interaktivitas.

Adapun Manfaat Analisis Jaringan Kerja yakni: 1. Untuk melengkapi rancangan 2. Untuk memperbaiki metode perencanaan dan pengawasan 3. Memperbaiki komunikasi dan pengambilan keputusan dan secara umum untuk mempertinggi effektivitas manajemen dalam menyelesaikan proyek. 4. Untuk penghematan biaya 5. Untuk penghematan waktu, dan 6. Mempertinggi daya guna (effisiensi) kerja, baik manusia maupun peralatan serta menjamin ketepatan selesainya suatu proyek.

Pada bab deskripsi dan perbaikan sistem kerja telah dipaparkan dengan jelas mengenai proses perencanaan dan pelaksanaan proyek instalasi listrik baru oleh PT PLN (Persero) UPJ Citeureup Bogor yang telah dilaksanakan di unit bisnis Bapak Piet Undap dalam kurun waktu selama 23 hari. Dengan penggunaan Critcal Path Method (CPM), pelaksanaan proyek tersebut dapat diperbaiki dan dipercepat menjadi 22 hari (dengan asumsi tidak terjadinya kendala selama pengerjaan proyek pemasangan instalasi listrik tersebut), yang bearti bahwa waktu pengerjaan menjadi lebih cepat 1 hari dari waktu yang telah diperkirakan sebelumnya.

4.2

Rekomendasi Dengan penggunaan Critcal Path Method (CPM) telah terbukti sebagai

suatu disiplin ilmu yang bermanfaat untuk penentuan perencanaan dan pelaksanaan proyek, baik dalam skala besar maupun kecil. Dengan metode ini, diharapkan manajer mampu dalam mengorganisir dan menganalisis serta merealisasikan Critcal Path Method (CPM) kedalam suatu bentuk perencanaan dan pelaksanaan proyek agar waktu perencanaan dan pelaksanaan proyek tersebut dapat selesai dengan cepat dan efektif.

Daftar Pustaka
Badri, S. 1997. Dasar-dasar Network Planning. Jakarta: PT. Rika Cipta. Jay Hazier dan Barry Render. 2009. Operations Management. Jakarta: Salemba Empat Dimyati, T. T. dan A. Dimyati. 2004. Operation Research Model-model Pengambilan Keputusan. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Hillier, S. F dan Lieberman. 1990. Pengantar Riset Operasi. Bogor: PT. Gelora Aksara Pratama. Trihendradi, C. 2005. Microsoft Project 2003 Langkah Cerdas Merencanakan Menjadwalkan dan Mengontrol Proyek. Yogyakarta: ANDI. Wahana Komputer. 2005. Mengelola Proyek Konstruksi dengan Primavera project planer. Yogyakarta: ANDI. Sitinjak. T. J. R. 2006. Riset Operasi Untuk Pengambilan Keputusan Manajerial Dengan Aplikasi Excel. Yogyakarta: Graha Ilmu. Wibowo, A. 2007. Menggunakan Alternatif Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Teori Samar. http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/

articles.php?PublishedID=CIV01030101. (20 Januari 2011).