Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1. Pengamatan folikel pada sapi betina Di Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya hampir beberapa perse rata-rata masyarakatnya beternak. Namun banyak kendala yang disebabkan karena kurangnya perhatian dari pemerintah yang tidak

memperhatikan para peternak. Sehingga banyak Kendala dalam beternak khususya pada pemeliharaan ternak betina. Selain kurangnya pengetahuan

tentang tata cara beternak juga di pengaruhi oleh beberapa factor antara lain tidak memahami dalam mengamati folikel-folikel pada ternak khususnya pada ternak betina. Pada hal ternak betina memiliki banyak fungsinya salah satunya adalah Ternak betina tidak hanya menghasilkan sel kelamin (ovum) yang penting peranannya dalam membentuk individu baru, tetapi juga menyediakan tempat beserta lingkungannya untuk perkembangan individu baru, mulai dari pembuahan dan pemeliharaan selama awal kehidupan sampai melahirkan. Organ reproduksi ternak betina terbentuk sebelum dilahirkan sesuadah dilahirkan organ tersebut berkembang tahap demi tahap sampai hewan mencapai dewasa kelamin dan mampu untuk mengandung dan melahirkan anak. Ovarium terbentuk dari sel sel lembaga didalam ovarium. Berat ovum didalam ovarium pada waktu lahir, tetapi hanya beberapa bagian kecil saja folikel yang menyelubungi ovum dapat menjadi dewasa dan melepaskan ovum untuk dibuahi sperma. Folikel ini menjadi dewasa dengan terbentuknya lapisan lapisan sel granulosa yang mengelilingi ovum. Pendewasaan folikel disertai dengan penimbungan cairan yang menyebabkan ovum terdesak kesalah satu posisi folikel itu dan berada didalam benjolan massal sel yang bergranulosa. Didalam folikel yang menjadi dewasa, ovum yang berdegenerasi, sehingga folikelnya ikut

berdegenerasi. Melihat tahap tahap perkembangan folikel sangat penting bagi proses terbentuknya ovum yang sangat dibutuhkan dalam proses reproduksi pada hewan betina, maka dilakukan praktikum ilmu Reproduksi Ternak

mengenaimengenai pengamatan terhadap folikel yang terdapat pada sapi betina. Folikel yang ada pada ternak betina diawali pada folikel primordial, folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier dan folikel de graaf. Ovum yang telah dilepaskan dari folikel di ovarium akan memasuki rahim melalui tuba fallopii. Ovum tersebut akan bertemu dengan sel sperma selama berada dalam tuba fallopii ini. Ketika terjadi kopulasi maka sel sperma akan berenang menuju tuba fallopii untuk mencari ovum untuk dibuahi. Masuknya kepala sel sperma menembus lapisan ovum akan memicu penyelesaian meiosis II ovum yang tertahan pada metafase II. 2. Kelainan ovary pada ternak sapi betina. Selain kurangnya pemengetahuan tentang folikel yang ada pada ternak betina yang sangat di perhatikan adalah adanya kelainan pada ovary. Kelainan pada ovary dapat disebabkan dari pakan juga pada linkungan disekitar tempat ternak berada. Dalam Upaya meningkatkan populasi ternak. Populasi ternak bisa mengalami kegagalan apabila tingkat reproduksi ternak rendah. Apabila reproduksi ternak prima maka fertilitas dan tingkat kelahiran ternak meningkat. Kegagalan reproduksi ternak dapat berupa kegagalan kebuntingan atau abortus.

B. Tujuan dan Manfaat Tujuan dalam praktikum pengamatan terhadap folikel pada sapi betina dan kelainan Ovary adalah untuk mengetahui perkembangan dan pembentukan folikel pada sapi betina dan juga untuk mengetahui kelainan yang terjadi didalam ovarium. Manfaat dari praktikm pengamatan terhadap folikel pada sapi betina dan kelainan ovary adalah agar dapat mengetahui proses perkembangan pada folikel sapi betiana dan dapat mengetahui pula kegagalan apa saja yang disebabkan pada kelainan ovaryum.

II. TINJAUAN PUSTAKA

a. Pengamatan Folikel Indonesia dengan kondisi geografis dan ekologi yang bervariasi telah menciptakan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Di dalam

keanekaragaman hayati, terdapat keragaman di dalam jenis yang disebut plasma nutfah. Jadi plasma nutfah adalah keanekaragaman genetik di dalam jenis (Sumarno 2002). Dengan keanekaragaman plasma nutfah, terbuka peluang yang besar bagi upaya program pemuliaan guna memperoleh manfaat secara optimal (Kurniawan et al. 2004). Plasma nutfah yang ada harus dipertahankan eksistensinya atau keberadaannya, karena plasma nutfah merupakan aset negara yang tak ternilai. Plasma nutfah merupakan bahan genetik yang memiliki nilai guna, baik secara nyata maupun yang masih berupa potensi. Upaya mengurangi atau bahkan mencegah terjadinya erosi genetik yang makin meningkat terhadap plasma nutfah, maka perlu perhatian dalam bentuk kegiatan inventarisasi (koleksi), pendataan (dokumentasi) dan pelestarian (konservasi) (Azmi et al. 2006). Keanekaragaman bangsa sapi di Indonesia terbentuk dari sumberdaya genetik ternak asli dan impor. Keanekaragaman ternak menurut Subandriyo dan Setiadi (2003) penting dalam rangka pembentukan rumpun ternak modern dan akan terus berlanjut sampai masa yang akan datang. Punahnya keanekaragaman plasma nutfah ternak tidak akan dapat diganti meskipun dengan kemajuan bioteknologi, paling tidak hingga saat ini. Proses perkembangan sapi di Indonesia telah menghasilkan plasma nutfah ternak yang lebih beragam. Sarbaini (2004) mengelompokkan ternak sapi Indonesia ke dalam tiga kategori, yaitu (1) ternak asli, (2) ternak yang telah beradaptasi, dan (3) ternak impor. Beberapa diantara sumberdaya ternak sapi tersebut menurut Utoyo (2002) dan Martojo (2003)

adalah Sapi Bali, juga sapi hasil silangan yang telah menjadi sapi lokal seperti Sapi Pesisir, Sapi Aceh, Sapi Madura, Sapi Sumba Ongole (SO) dan Sapi Peranakan Ongole (PO). Folikel adalah struktur berisi cairan yang merupakan tempat pertumbuhan sel-telur (oocyte). Bagian penutup dari folikel mengandung sel-sel yang memproduksi hormon betina (estrogen) dinamakan Estradiol 17 beta. Setelah melepaskan sel telur (ovulasi), sel-sel produsen hormon ini ganti membuat hormon penunjang implantasi dinamakan Progesteron. Struktur ini warnanya kuning dan dinamakan Corpus Luteum (Brown, 1992). 1.Folikel berasal dari epitel lembaga karena proses invaginasi. Dimana secara bertahap folikel akan berpisah dari epitel lembaga dan terpancang di bawah tunica albuginea di dalam lapisan parenchyma. Di sini folikel akan mengalami perubahan-perubahan untuk menjadi dewasa, ovulasi dan pembentukan corpus luteum (Frandson, 1992). Folikel pada semua periode perkembangan dapat ditemukan pada kedua ovarium dewasa normal belum menopause. Folikel terletak di korteks ovarium dan dibagi menjadi dua berdasarkan tipe fungsinya, yaitu primordial (nongrowing) dan follikel yang tumbuh (growing). Folikel yang tumbuh dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu primer, skunder, tertier, matur (de Graaf) dan atretik. Tiga tingkatan pertama. 2. Folikel artesia Folkel artesia adalah break-down dari folikel ovarium. Hal ini terjadi terus-menerus sepanjang hidup seorang wanita, saat ia lahir dengan sekitar 2 000 000 folikel dan hanya akan ovulasi sekitar 500 dalam hidupnya. Sel-sel granulosa berhenti tumbuh dan melepaskan diri dari lapisan basal. oosit Die dan seluruh unit phagocytosed Teka internasional sel dapat bertahan dan mengeluarkan androgen, di mana mereka yang dikenal sebagai sel interstisial, yaitu aktif dari melahirkan sampai menopause. Contribute a better translation 3.Folikel Primer Folikel primordial mengadakan migrasi ke stroma cortex ovarium dan folikel ini dihasilkan sebanyak 200.000 buah. Sejumlah folikel primordial berupaya berkembang selama kehidupan intrauteri dan selama masa

kanak-kanak, tetapi tidak satupun mencapai pemasakan. Pada waktu pubertas satu folikel dapat menyelesaikan proses pemasakan dan disebut folikel de Graaf dimana didalamnya terdapat sel kelamin yang disebut oosit primer.

4. Folikel skunder Meiosis terjadi di dalam ovarium ketika folikel de Graaf mengalami pemasakan dan selesai sebelum terjadi ovulasi. Inti oosit atau ovum membelah sehingga kromosom terpisah dan terbentuk dua set yang masingmasing mengandung 23 kromosom. Satu set tetap lebih besar dibanding yang lain karena mengandung seluruh sitoplasma, sel ini disebut oosit sekunder. Sel yang lebih kecil disebut badan polar pertama. Kadang-kadang badan polar primer ini dapat membelah diri dan secara normal akan mengalami degenerasi. 5. dinamika perkembangan folikel selama siklus estrus folikel merupakan struktur seperti lepuh yang berkembang didalam ovaria. setiap folikel berisi satu sel telur yang akan dibebaskan ke dalam oviduk pada saat ovulasi. folikel ovaria secara terus menerus berkembang dan regresi selama siklus estrus berlangsung. perkembangan folikel ovaria sapi telah diketahui dalam bentuk 2 atau 3 gelombang. folikel-folikel primordial, dengan oosit tunggal dikelilingi oleh epitel folikel skuamosa, berkembang di dalam ovaria selama kehidupan fetus. setelah kelahiran, kebanyakan oosit berhenti pada stadium diktiat dari profase meiotik pertama. folikel-folikel primordial memasuki fase pertumbuhan ketika sel-sel folikel skuamosa mengalami proliferasi dan membentuk beberapa lapisan dari selsel granulosa. dengan pertumbuhan folikel, lapisan ini terletak di tengah-tengah ovaria. lapiran sel-sel teka mengalami diferensiasi dari jaringan ikat sekitarnya menjadi 2 lapisan, eksterna dan interna, serta oosit memperoleh zona pelusida. folikel-folikel yang sedang berkembang membentuk rongga-rongga yang berisi cairan, yaitu antra folikel. diameter oosit mencapai kurang lebih 2 kalinya pada saat terbentuk folikel antra.

folikulogenesis merupakan pembentukan folikel-folikel graaf (folikel matang, preovulasi) dari cadangan folikel-folikel primordial (folikel yang belum berkembang). cadangan folikel-folikel primordial sapi tetap stabil, dengan kurang lebih 133.000 folikel dari lahir sampai dengan umur 4 tahun, namun jumlahnya akan berkurang secara cepat sampai jumlahnya menjadi sekitar 3.000 di dalam ovaria sapi umur 15 - 20 tahun. folikel yang sedang berkembang dapat dibedakan menjadi 2 kelompok: folikel-folikel preantrum dan antrum. kedua kelompok folikel meningkat jumlahnya dari lahir sampai usia 70 hari. jumlah folikel preantrum yang sedang berkembang relatif tetap, 200 - 250 folikel dalam sepasang ovaria sampai sapi mencapai umur 4 tahun, kemudian jumlahnya menurun seiring dengan penurunan folikel primordial, sampai jumlah kurang dari separuhnya pada usia 15 - 20 tahun. Perkembangan folikel ke stadium antrum dapat berlangsung tanpa pengaruh kerjaan gonadotropin, namun kecepatan perkembangan preantrum dipercepat oleh hormon gonadotropin. folikel-folikel dari berbagai ukuran ada di dalam ovaria sapi setiap hari, sebagai konsekuensinya terjadilah pertumbuhan, regresi dan penggantian oleh folikel-folikel besar lainnya sepanjang siklus estrus. folikel terbesar pada hari ke 3 akan diganti oleh folikel terbesar yang lain pada hari ke 8. folikel terbesar ini akan diganti oleh folikel terbesar lainnya pada hari ke 13, semua folikel-folikel besar ini akan diganti oleh folikel terbesar lain pada hari ke 18, akhirnya folikel ini yang akan mengalami ovulasi. adanya folikel-folikel besar akan berpengaruh menghambat pertumbuhan folikel-folikel lain yang lebih kecil. 6. fungsi korpus luteum korpus luteum merupakan suatu kelenjar endokrin yang berkembang dari folikel graaf setelah ovulasi, berasal dari sel-sel teka dan granulosa. peran utama korpus luteum adalah sintesa dan sekresi progesteron untuk pemeliharaan kebuntingan dan pengaturan siklus estrus. sintesa dan sekresi progesteron diatur oleh mekanisme luteotropik dan luteolitik. karena stimuli luteotropik dan luteolitik terjadi berganti-ganti selama siklus estrus dan kebuntingan, maka

stimuli dan hambatan sintesa dan sekresi progesteron pada keseimbangan stimuli ini. korpus luteum sapi mempunyai 2 tipe sel yang berbeda: sel-sel lutea besar, dengan diameter 30 - 50 m, dan sel-sel lutea kecil, dengan diameter 15 - 20 m,

keduanya mempunyai kemampuan sekresi progesteron. jumlah sel-sel lutea besar lebih sedikit dibanding dengan sel-sel lutea kecil, dengan perbandingan 1 : 20, namun volume total sel-sel besar lebih banyak dibanding dengan sel-sel lutea kecil, perbandingan 30% : 16% dari seluruh volume korpus luteum. pada korpus luteum sapi, sel-sel lutea kecil berasal dari sel-sel teka dan sel-sel besar berasal dari sel-sel granulosa. Kelenjar pituitari anterior menghasilkan lh yang dianggap sebagai hormon luteotropik primer pada sapi. progesteron disekresi dalam pola pulsatil dengan frekuensi lebih tinggi daripada pembebasan lh. hampir setiap pulsatil fsh pada awal atau pertengahan fase lutea pada sapi diikuti dengan pulsatil progesteron. ada hubungan antara pulsatil fsh dan pembebasan progesteron, sehingga di samping lh, juga fsh diduga mempunyai sifat luteotropik atau membantu pertumbuhan korpus luteum. b. Kelainan ovarium perubahan ovarium selama siklus estrus sapi dapat dilihat pada gambar 2. pada saat estrus (hari 0 atau 21) terdapat folikel masak, proses ovulasi terjadi pada hari 1. korpus luteum akan berkembang pada bekas tempat ovulasi, mulai hari 2 sampai mencapai ukuran maksimum pada hari 15. selanjutnya korpus luteum akan mengalami regresi sampai hari 20. pertumbuhan folikel di dalam ovaria sapi umumnya terjadi dalam 2 gelombang dinamika perkembangan. folikel gelombang pertama akan mengalami regresi pada hari 12, sedang folikel gelombang kedua akan mencapai ukuran maksimum hari 21 dan berakhir ovulasi pada hari berikutnya.

III. METODE PRAKTIKUM

a. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 28 April 2012, jam 10.00 Wita. Bertempat di Laboratorium Lantai Tiga Fakultas Peternakan Unifersitas Haluoleo. b. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum pengamatan folikel pada sapi betina dapat dilihat pada Tabel 1. Table 1. Alat yang digunakan pada praktikum pengamatan pada folikel dan kelainan pada ovary. No. Alat Kegunaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Silet Cawan petri Pinset Gunting Talang Gloves Kamera Tisu Untuk memotong atau membelah ovarium Untuk menyimpan ovarium Untuk menahan ovarium yang akan dibelah Untuk memotong ovarium Untuk menyimpan ovarium Untuk memnbungkus tangan Untuk mengambil gambar Untuk membersihkan tempat bahan praktikum

Bahan yang digunakan pada praktikum pengamatan pada folikel sapi betina dan kelainan pada ovary dapat dilihat pada Tabel 2. Table 2. Bahan yang digunakan pada praktikum pengaamatan folikel pada sapi betina dan kelainan pada ovary No. Bahan Kegunaan 1. Ovarium sapi betina Sebagai sampel yang akan diamati

c. Prosedur Kerja Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum pengamatan folikel pada sapi betina adalah sebagai berikut: 1. Mengambil ovarium sebagai sampel yang digunakan untuk mengamati folikel pada sapi betina dan kelainan ovary. 2. 3. 4. 5. 6. Meletakan sampel diatas meja Mangambil silet, cawan porselin, dan pingset Membelah ovarium Mengamati folikel-folikel yang ada didalam ovarium Mengamati kelainan yang ada pada ovarium

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan 1. Ovarium Utuh


a.

Gambar 1. Ovarium Utuh Keterangan : a. Folikel primodial b. Folikel primer c. Folikel sekunder d. Folikel tersier e. Folikel degraff

2.

Ovarium Setelah di Belah

Gambar 2. Ovarium Setelah di Belah

Keterangan : a. Korteks b. Mod

3.

Folikel yang Sudah Ovulasi/ Keluar

Gambar 3. Folikel yang Sudah Ovulasi/ Keluar Keterangan : a. Folikel


b. Corpus luteum B. Pembahasan

1. Folikel Primordial Berdasarkan dari hasil pengamatan maka dapat diketahui bahwa folikel primordial yang diamati memiliki selapis sel folikel kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Toilehere (1985), bahwa folikel primordial terdiri dari satu bakal sel telur yang fase ini disebut Oogonium selapis tebal folikel ini berkumpul dibawah tunica albugenae. Folikel primordial disebut juga folikel primer yang terdiri dari Oosit primer dan dikelilingi oleh sel sel kubus selapis atau sel sel folikel. Hal ini sesuai dengan pendapat Brown (1992) bahwa folikel primordial disebut juga folikel primer muda (awal) yang dikelilingi oleh epitel pipih selapis. Folikel folikel primer terdiri dari oosit primer yang dikelilingi oleh epitel pipih atau epitel kubu sel pipih yang

disebut juga sel sel folikel. Diameter dari folikel ini adalah 40mm dan terletak pada permukaan ovarium dan belum memiliki membran vitaline. Hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1992), bahwa folikel primer berdiameter 40m dan dikelilingi oleh membran basal. Folikel ini terletak dekat atau melekat pada bagian permukaan ovarium dan umumnya tidak terbungkus oleh membran vitelinne. Pada awal pertumbuhan folikel primordial hanya dilapisi oleh selapis sel sel epitel granulosa tapi lambat laun dilapisi oleh selapis sel. Sel ini berkembang dan membentuk folikel selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985) bahwa pada pertumbuhan awal dari folikel terdapat satu lapisan tunggal yang lambat laun akan mengalami perubahan menjadi dua lapisan dan selanjutnya terbentuk folikel sekunder. Pendapat tersebut juga didukung oleh Nalbandov (1990), bahwa folikel pada ovarium mengalami beberapa tahap perkembangan yang diawali dengan folikel primer dimana terbetuk lapisan tebal dibawah tunica albugenia.

Pertumbuhan folikel terjadi pada hewan betina yang masih dalam kandungan dan setelah lahir. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukra (2000), bahwa dari 50.000 stok folikel primordial pada saat lahir 3-4 folikel bertumbuh setiap hari dan yang berovulasi hanya 50-200 folikel. 2. Folikel Preantrum(primer) Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa folikel preantrum yang diperoleh yaitu membentuk suatu lapisan multiselular yang membentuk suatu membran zona peluicida antara oogenium. Hal ini sesuai dengan pendapat Toilehere (1985), bahwa sekelompok sel sel folikel memperbanyak diri membentuk suatu lapisan multiseluler dan membentuk suatu membran zona peluicida. Berdasarkan gambar yang diperoleh maka diketahui bahwa folikel preantrum dimana jumlah sel granulanya lebih banyak dibandingkan folikel primer sehingga nampak lebih besar. Ovum didalam volikel terbungkus oleh selaput zona pelluicida. Hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1992), bahwa folikel sekunder mempunyai jumlah sel sel granulosa lebih banyak sehingga ukuran lebih besar dari folikel primer dan terletak

tak jauh dari permukaan ovarium.ovum telah mempunyai pembungkus tipis dari permukaan membran viteline terdapat zona pelluicida. Jumlah folikel sekunder pada hewan betina yang sedang dalam proses pertumbuhannya kurang dari sepertiga jumlah folikel primer. Dari hasil pengamatan folikel preantrum yang dapat terlihat lapisan multiselular disekeliling vitellus dan terlihat zona pelluicida jika dibandingkan dengan literatur maka terlihat jelas bahwa pada fase ini folikel dilapisi dengan lapisan multiselular dan zona peluicida dipenuhi oleh ooplasma juga terdapat folikuler cell. Pada fase ini terjadi penungkatan ukuran oosit dan tinggi sel sel folikel tahap ini juga disebut tahap istirahat, (Anonima, 2010). Folikel sekunder berdiameter sekitar 12mm dengan ukuran oosit didalamnya berdiameter 80m. Folikel ini dilapisi oleh zona peluicida ini berkaitan dengan mikrovili permukaan oosit. Hal ini sesuai dengan pendapat Brown (1992), bahwa folikel preantrum ditandai oleh berkembangnya 3-5m lapis glikoprotein tebal yang disebut zona peluicida yang mengintari membran plasma oosit. Dan pada bagian ini terdapat penetrasi persial oleh mikrovili permukaan oosit. 3. Folikel Antrum (tersier) Dari hasil pengamatan yang dilakukan maka dapat diketahui bahwa folikel antrum, dimana sel sel granulosa semakin banyak hingga folikel nampak lebih besar, dan terdapat rongga antrum dan sel sel telur semakin menonjol. Hal ini sesuai dengan pendapat partodihardjo (1992), bahwa pada folikel anthrum sel sel granulosa lebih banyak sehingga seluruh folikel nampak lebih besar letaknya lebih jauh dari cortex ovarium. Terdapat antrum dan berisi cairan folikel, linguar foliculi, sel telur didalamnya semakin menonjol. Pertumbuhan folikel sekunder menjadi folikel tersier (antrum) terjadi saat hewan dewasa. Pertumbuhan folikel dari folikel sekunder menjadi dewasa dilanjutkan pada waktu hewan mengalami siklus birahi. Folikel tersier timbul sewaktu sel sel pada lapisan folikel memisahkan diri dan membentuk lapisan rongga. Hal ini sesuai

dengan pendapat (Anonima, 2010) bahwa folikel tersier timbul sewaktu waktu sel pada lapisan folikuler memisahkan diri untuk membentuk lapisan dan rongga. Antrum dan ke oogenium akan menonjol. Antrum dibatasi oleh banyaknya lapisan folikuler yang dikenal secara umum sebagai membran granulosa dan diisi oleh suatu cairan jernih yang kaya akan protein dan estrogen. Dari hasil pengamatan folikel antara terlihat pada fase ini folikel terdapat rongga yang berisi cairan folikuler yang tampak semakin melebar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Anonima, 2010), bahwa folikel terdapat dalam rongga yang berisi cairan folikuler yang tampak semakin melebar. Jumlah yang diperoleh sebanyak 3 folikel. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat sukra (2000), bahwa jumlah folikel antara yang dapat tumbuh sekitar 100-400 folikel, dengan ukuran diameter rata-rata 0,29-8mm. 4. Folikel Preovulatori (de graaf) folikel yang telah matang dan siap untuk diovulasikan sel sel granuloasa semakin banyak, rongga antrum semakin besar, ukuran folikel juga semakin besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1992), bahwa folikel preovulatori adalah folikel terakhir dan terbesar pada ovarium terdapat pada hewan hewan betina yang birahi atau yang menjelang birahi. Oosit pada folikel de graff sudah berkembang menjadi sel telur. Sel sel cumulus yang bersandar pada membran bassal, meliputi dinding folikel yang disebut antrum granulosa. Hal ini sesuai dengan (Anonima, 2010), bahwa oosit dan folikel de graff sudah berkembang menjadi sel telur, folikel cumulus oophorus yang bersandar pada membran bassal, menyelimuti dinding yang disebut statum granulosa. Jaringan pengikat yang ada dipermukaan luar membran bassal disebut theca, yang terdiri dari theca interna dan theca externa. Diameter folikel de graff berbeda beda menurut jenis hewan karena ukurannya yang selalu bertambah, folikel de graff yang matang menonjol keluar melalui permukaan ovarium bagian selaput jenuh. Pertumbuhannya meliputi dua lapisan sel stromata cortex yang mengelilingi sel sel folikuler. Hal ini sesuai dengan

pendapat Toilehere (1985), bahwa pertumbuhan folikel de graff meliputi lapisan sel stroma cortex yang mengelilingi lapisan sel folikuler. Lapisan sel tersebut menentukan thecfafoliculli yang dapat dibagi atas theca interna yaitu vesikuler dan theca externa yaitu fibrous. Perkembangan besar bulu bulu daerah cortex dikelilingi folikel, dan pembentukan dua lapisan theca, suatu jala vesculer berbentuk keranjang berkembang dikelilingi folikel, terutama pada theca interna.

C. PENUTUP

a. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut : Tahap tahap perkembangan folikel terbagi atas empat yaitu: a. Folikel primordial sebagai tahap istirahat hanya memiliki selapis sel folikuler kecil, tidak terdapat zona pelluicida dan folikel berkumpul dibawah tunica albugenia. b. Folikel tersier ditandai dengan lapisan multiseluler dikelilingi vitellus, terbentuk membran atau zona pelluicida antara oogenium dan sel folikuler juga mengalami peningkatan ukuran oosit. c. Folikel primer yaitu tahap dimana terdapat rongga atau antrum dan rongga tersebut terisi cairan ooplasma dan berderensiasi menjadi beberapa lapis pada dinding folikel. d. Folikel preovulasi(de graaf), rongga membentuk seperti ulan sabit dimana cumulus ophourus yang mengarah ke antrum dan bertaut pada sel sel granulosa dan terletak berbentangan dengan sisi yang akan pecah.

b. Saran Adapun saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya sebelum praktikum dimulai, setiap asisten mengarahkan praktikannya tentang cara-cara melakukan praktikum dengan baik agar praktikum yang dilakukan berjalan dengan baik dan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima, 2010. Histologi Sistem Genetalia. http//www.Google.com. Posted By INK Bes. Diakses, 29 Maret 2012. Anonimb, 2010. Hubungan Sistem Reproduksi Manusia dengan Sistem yang Lain dalam Tubuh. http://peternakanuin.com/ 2007/11/anatomi materi kebidanan. Diakses, 30 April 2012 Anonimc, 2010. Embriogenesis, Fertilisasi, Implantasi, Ovulasi, Partus, Pengaruh Hormonal dan Proses Oogenesis. http://Blog spot by omahe dewe.com. Diakses, 2 Mei 2012 Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner II Edisi Ketiga. UI-Press. Jakarta bartolome, j. a., silvestre, f. t., artechte, a. c. m., kamimura, s., archbald, l. f. and thatcher, w. w. 2002. the use of ovsynch and heatsynch for resynchronization of cows open at pregnancy diagnosis by ultrasonography. j. dairy sci. 81: 390-342. Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Marawali, A. 2001. Dasar-Dasar Ilmu reproduksi Ternak. Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Pendidikan Tinggi Badan Kerjasama Pergiruan Tinggi Negeri Indonesia Timur, Kupang. Partodihardjo, S. 1985. Ilmu Produksi Hewan. Produksi Mutiara, Jakarta. Salisbury, G.M. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Sukra. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio, Benih Masa Depan Direktorat Jendral Pendidikan dan Departeman Pendidikan Nasional, Jakarta. Toelihere, M.R. 1979. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung.

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU REPRODUKSI TERNAK

PENGAMATAN FOLIKEL DAN KELAINAN OVARIUM PADA SAPI BETINA

OLEH : NAMA STAMBUK KELAS JURUSAN KELOMPOK ASISTEN : NUR HAYATI : D1B4 10 092 :B : PETERNAKAN : I (SATU) : WD. ASTRYANI SARI K.

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012