Anda di halaman 1dari 16

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN Nama Usia : Ny. N : 47 tahun

Jenis Kelamin : Wanita Pekerjaan Agama Alamat Status : PNS AL : Islam : Jl. Pitara Rt04/16 No. 11. Pancoran Mas. Depok : Menikah

ANAMNESIS Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 31 Mei 2012 pukul 09.15 WIB. Keluhan Utama: Mata merah di mata kanan sejak 5 jam SMRS.

Keluhan Tambahan: Terasa megganjal dan sedikit berair.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke Poli RSAL dr. Mintoharjo dengan keluhan mata merah di mata kanan sejak 5 jam SMRS. Pasien mengaku awalnya setelah bangun pagi, pasien merasa mata kanan menganjal dan sedikit berair. Kemudian pasien menggosok-gosok dan setelah dilihat ternyata mata kanan pasien merah. Pasien menyangkal keluahan nyeri, gatal,

kotoran pada mata, silau, pandangan mata kabur, sakit tenggorok, dan demam. Riwayat trauma pada mata disangkal. Keluarga dan teman yang mempunyai keluhan yang sama disangkal. Riwayat alergi disangkal. Mata kanan pasien belum diobati. Riwayat Penyakit Dahulu Tahun 2011 pasien pernah mengalami keluhan yang sama kemudian berobat di Poli RSAL Mintoharjo diberi obat tetes polynel dan cendo lyteers, setelah diberi pengobatan membaik. Riwayat diabetes mellitus dan hipertensi disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga Ayah pasien mempunyai riwayat hipertensi. Riwayat Kebiasaan Pasien sehari-hari bekerja sebagai PNS RSAL. Tidak merokok. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Tampak sakit sedang, gizi cukup : Compos mentis : Tekanan darah: 130/80 mmHg Nadi: 82x/menit Kepala Mata Telinga : Normocephali : Lihat status oftalmologi : Normotia, sekret -/-, serumen -/suhu: Afebris pernapasan: 17x/menit

Hidung Mulut Leher Thoraks

: Septum deviasi (-), sekret -/-, konka hiperemis -/: lidah kotor (-),tonsil T1-T1 tenang, faring hiperemis (-) : KGB dan tiroid tidak teraba membesar : Paru: Suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/Jantung: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen Ekstremitas Status Oftalmologi OD (mata kanan) 6/6

: Datar, supel, nyeri tekan (-), Bising Usus (+) normal : Simetris, oedem (-)

OS (mata kiri) visus Kedudukan bola mata Ortoforia 6/6

Bola

mata

bergerak

ke

Pergerakan bola mata

Bola

mata

bergerak

ke

segala arah Ptosis (-), lagoftalmus (-), blefaritis (-), hordeolum (-), kalazion (-), ektropion (-), entropion (-), oedem (-), trikiasis (-), hematoma (-) Injeksi (+), sekret (+) di konjungtiva tarsal, konjungtiva Palpebra

segala arah Ptosis (-), lagoftalmus (-), blefaritis (-), hordeolum (-), kalazion (-), ektropion (-), entropion (-), oedem (+), trikiasis (-), hematoma (-) Injeksi (-), kemosis (-)

sekret (-), subkonjungtiva bleeding (-), pinguekula (-), folikel (-), papil (-)

pterigium(-),subkonjungtiva bleeding (-), pinguekula (-), folikel (-), papil (-) jernih, kekeruhan setempat (-), neovaskular (-), ulkus kornea (-), perforasi (-), kornea

jernih, kekeruhan setempat (-), neovaskular (-), ulkus kornea (-), perforasi (-),
3

benda asing (-) Dalam, hifema (-), hipopion (-), flare (-). Warna cokelat, kripti baik, atrofi (-) Tepi reguler, bentuk bulat, refleks cahaya langsung +, refleks cahaya tak langsung + Jernih Tidak terlihat Tidak dilakukan Tidak dilakukan Lensa Vitreus humor Funduskopi TIO Pupil Iris COA Dalam, hifema (-), hipopion (-), flare (-). Warna cokelat, kripti baik, atrofi (-) Tepi reguler, bentuk bulat, refleks cahaya langsung +, refleks cahaya tak langsung + Jernih Tidak terlihat Tidak dilakukan Tidak dilakukan

RESUME Wanita berusia 47 tahun datang ke Poli RSAL Mintohardjo mata merah di mata kanan sejak 5 jam SMRS. Mata kanan pasien terasa mengganjal dan sedikit berair. Penglihatan tidak kabur.1 tahun yang lalu pasien pernah mengalami keluhan yang sama kemudian berobat di Poli RSAL diberi obat tetes mata yaitu Polynel dan cendo lyteers da nada perbaikan. Pada pemeriksaan ophthalmologi OD didapatkan visus 6/6, konjungtiva terdapat injeksi (+) dan sekret di konjungtiva tarsal (+). DIAGNOSIS KERJA Konjungtiva bakteri akut nonpurulen OD DIAGNOSIS BANDING Konjungtivitisi viral OD PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan Sitologik dengan pewarnaan Giemsa.
4

PENATALAKSANAAN Medikamentosa 1. Dexametason 0,1%, Neomisin dulfat 3,5mg/ml, Polimiksin B sulfat 6000iu/ml diberikan 6x kali/hari sebanyak 2 tetes mata di mata kanan. 2. Rawat jalan.

Non medikamentosa 1. Menghindari kontaminasi terhadap mata yang sehat dan mata orang lain. 2. Tidak menggosok mata yang sakit kemudian menyentuh mata yang sehat. 3. Mencuci tangan setiap kali selesai memegang mata yang sakit dan menggunakan tisu. 4. Handuk atau sapu tangan baru yang digunakan untuk membersihkan mata yang sakit. PROGNOSIS ad vitam ad sanationam ad fungsionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

ANALISA KASUS Pasien pada kasus ini datang dengan keluhan mata merah pada mata kanan sejak 5 jam SMRS. Mata kanan terasa mengganjal dan sedikit berair. Penglihatan tidak kabur. Dari keluhan tersebut kemungkinan penyebabnya antara lain : Konjungtivitis bakteri akut, konjungtivitis viral, perdarahan subkonjungtiva, pterigium dan pinguekula. Pada pemeriksaan ophthalmologi OD didapatkan visus 6/6, konjungtiva terdapat injeksi (+) , sekret di konjungtiva tarsal (+),perdarahan subkonjungtiva (-), jaringan fibrovaskukar (-) dan.benjolan kongjuntiva (-). Dari hasil pemeriksaan tersebut semakin mendukung ke diagnosis konjungtivitis karena hanya terdapat injeksi konjungtiva (+) dan sekret di konjungtiva tarsal (+). Etiologi pada kasus ini masih mungkin bakteri dan viral. Bateri penyebab

mungkin Haemophilus aegypitus (iklim tropik) atau bisa juga Streptococcus pneumoniaae (iklim sedang). Sehingga menimbulkan gejala akut pada pasien tersebut.. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan fokus infeksi, tidak ada demam sehingga faktor virus (Adenovirus tipe 3 dan 7) dapat dieliminasi meskipun idealnya harus dilakukan pemeriksaan sitologik dengan pewarnaan Giemsa. Pada bateri didapatkan neutrofil sedangkan pada viral didapatkan limfosit-monosit-sel berisi nukleus sedikit plasma. Penatalaksanaan pada pasien ini dibagi dua yaitu medikamentosa dan non medikamentosa. Medikamentosa yaitu Dexametason 0,1%, Neomisin dulfat 3,5mg/ml, Polimiksin B sulfat 6000iu/ml diberikan 6x kali/hari sebanyak 2 tetes mata di mata kanan dan rawat jalan. Non medikamentosa yaitu menghindari kontaminasi terhadap mata yang sehat dan mata orang lain, tidak menggosok mata yang sakit kemudian menyentuh mata yang sehat, Mencuci tangan setiap kali selesai memegang mata yang sakit dan menggunakan tisu, dan handuk atau sapu tangan baru yang digunakan untuk membersihkan mata yang sakit.

TINJAUAN PUSTAKA

KONJUNGTIVA Anatomi Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbital di forniks dan melipat berkali-kali. Adanya lipatanlipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik.

Gambar 3.1. Anatomi konjungtiva

Histologi Secara histologis, lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal . Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus yang diperlukan untuk dispersi air mata. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan dapat mengandung pigmen. Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisialis) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar pada mata. Perdarahan dan Persarafan Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular konjungtiva yang sangat banyak. Konjungtiva juga menerima persarafan dari percabangan pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit .

Konjungtivitis
Definisi Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit ini adalah penyakit mata yang paling umum di dunia. Karena lokasinya, konjungtiva terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor lingkungan lain yang mengganggu . Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental . Jumlah agen-agen yang pathogen dan dapat menyebabkan infeksi pada mata semakin banyak, disebabkan oleh meningkatnya penggunaan oat-obatan topikal dan agen

imunosupresif sistemik, serta meningkatnya jumlah pasien dengan infeksi HIV dan pasien yang menjalani transplantasi organ dan menjalani terapi imunosupresif . Pembagian Konjungtivitis Konjungtivitis Bakteri Konjungtivitis Bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Pada konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan keluhan mata merah, sekret pada mata dan iritasi mata. Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk, yaitu hiperakut, akut, subakut dan kronik. Konjungtivitis bakteri hiperakut biasanya disebabkan oleh N gonnorhoeae, Neisseria kochii dan N meningitidis. Bentuk yang akut biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptyus. Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis bakteri subakut adalah H influenza dan Escherichia coli, sedangkan bentuk kronik paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder atau pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis . Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian mengenai mata yang sebelah melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang yang terlalu sering kontak dengan penderita, sinusitis dan keadaan imunodefisiens. Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti streptococci, staphylococci dan jenis Corynebacterium. Perubahan pada mekanisme pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normal tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat terjadi karena adanya kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ sekitar ataupun melalui aliran darah . Penggunaan antibiotik topikal jangka panjang merupakan salah satu penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata, serta resistensi terhadap antibiotik Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalah sistem imun
9

yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi pada konjungtiva . Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri biasanya dijumpai injeksi konjungtiva baik segmental ataupun menyeluruh. Selain itu sekret pada kongjungtivitis bakteri biasanya lebih purulen daripada konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus yang ringan sering dijumpai edema pada kelopak mata . Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami gangguan pada konjungtivitis bakteri namun mungkin sedikit kabur karena adanya sekret dan debris pada lapisan air mata, sedangkan reaksi pupil masih normal. Gejala yang paling khas adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari sewaktu bangun tidur. Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena mungkin saja penyakit berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh pada pasien yang lebih tua. Pada pasien yang aktif secara seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular seksual dan riwayat penyakit pada pasangan seksual. Perlu juga ditanyakan durasi lamanya penyakit, riwayat penyakit yang sama sebelumnya, riwayat penyakit sistemik, obatobatan, penggunaan obat-obat kemoterapi, riwayat pekerjaan yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi terhadap obat-obatan, dan riwayat penggunaan lensa-kontak. Komplikasi Blefaritis marginal kronik sering menyertai konjungtivitis bateri, kecuali pada pasien yang sangat muda yang bukan sasaran blefaritis. Parut di konjungtiva paling sering terjadi dan dapat merusak kelenjar lakrimal aksesorius dan menghilangkan duktulus kelenjar lakrimal. Hal ini dapat mengurangi komponen akueosa dalam film air mata prakornea secara drastis dan juga komponen mukosa karena kehilangan sebagian sel goblet. Luka parut juga dapat mengubah bentuk palpebra superior dan menyebabkan trikiasis dan entropion sehingga bulu mata dapat menggesek kornea dan menyebabkan ulserasi, infeksi dan parut pada kornea .
10

Terapi

spesifik

konjungtivitis

bakteri

tergantung

pada

temuan

agen

mikrobiologiknya. Terapi dapat dimulai dengan antimikroba topikal spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi topical dan sistemik . Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus dibilas dengan larutan saline untuk menghilangkan sekret konjungtiva. Konjungtivitis Virus Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus, dan berkisar antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri dan dapat berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis bakteri . Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus, tetapi adenovirus adalah virus yang paling banyak menyebabkan penyakit ini, dan herpes simplex virus yang paling membahayakan. Selain itu penyakit ini juga dapat disebabkan oleh virus Varicella zoster, picornavirus (enterovirus 70, Coxsackie A24), poxvirus, dan human immunodeficiency virus . Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak dengan penderita dan dapat menular melalu di droplet pernafasan, kontak dengan benda-benda yang menyebarkan virus (fomites) dan berada di kolam renang yang terkontaminasi Mekanisme terjadinya konjungtivitis virus ini berbeda-beda pada setiap jenis konjungtivitis ataupun mikroorganisme penyebabnya. Mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit ini dijelaskan pada etiologi. Gejala klinis pada konjungtivitis virus berbeda-beda sesuai dengan etiologinya. Pada keratokonjungtivitis epidemik yang disebabkan oleh adenovirus biasanya dijumpai demam dan mata seperti kelilipan, mata berair berat dan kadang dijumpai pseudomembran. Selain itu dijumpai infiltrat subepitel kornea atau keratitis setelah terjadi konjungtivitis dan bertahan selama lebih dari 2 bulan . Pada konjungtivitis ini

11

biasanya pasien juga mengeluhkan gejala pada saluran pernafasan atas dan gejala infeksi umum lainnya seperti sakit kepala dan demam . Pada konjungtivitis herpetic yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) yang biasanya mengenai anak kecil dijumpai injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, fotofobia ringan dan sering disertai keratitis herpes. Konjungtivitis hemoragika akut yang biasanya disebabkan oleh enterovirus dan coxsackie virus memiliki gejala klinis nyeri, fotofobia, sensasi benda asing, hipersekresi airmata, kemerahan, edema palpebra dan perdarahan subkonjungtiva dan kadang-kadang dapat terjadi kemosis. Diagnosis pada konjungtivitis virus bervariasi tergantung etiologinya, karena itu diagnosisnya difokuskan pada gejala-gejala yang membedakan tipe-tipe menurut penyebabnya. Dibutuhkan informasi mengenai, durasi dan gejala-gejala sistemik maupun ocular, keparahan dan frekuensi gejala, faktor-faktor resiko dan keadaan lingkungan sekitar untuk menetapkan diagnosis konjungtivitis virus. Pada anamnesis penting juga untuk ditanyakan onset, dan juga apakah hanya sebelah mata atau kedua mata yang terinfeksi. Konjungtivitis virus sulit untuk dibedakan dengan konjungtivitis bakteri berdasarkan gejala klinisnya dan untuk itu harus dilakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi pemeriksaan lanjutan jarang dilakukan karena menghabiskan waktu dan biaya. Konjungtivitis virus bisa berkembang menjadi kronis, seperti

blefarokonjungtivitis. Komplikasi lainnya bisa berupa timbulnya pseudomembran, dan timbul parut linear halus atau parut datar, dan keterlibatan kornea serta timbul vesikel pada kulit . Konjungtivitis virus yang terjadi pada anak 1 tahun atau pada orang dewasa umumnya sembuh sendiri dan mungkin tidak diperlukan terapi, namun antivirus topikal atau sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea. Pasien konjungtivitis juga diberikan instruksi hygiene untuk meminimalkan penyebaran infeksi .

12

- Konjungtivitis Alergi Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang paing sering dan disebabkan oleh reaksi inflamasi pada konjungtiva yang diperantarai sistem imun. Reaksi hipersensitivitas yang paling sering terlibat pada alergi di konjungtiva adalah reaksi hipersensitivitas tipe I . Konjungtivitis alergi dibedakan atas lima subkategori, yaitu konjungtivitis alergi musiman dan konjungtivitis alergi tumbuh-tumbuhan yang biasanya dikelompokkan dalam satu grup, keratokonjungtivitis vernal, keratokonjungtivitis atopik dan

konjungtivitis papilar raksasa. Etiologi dan faktor resiko pada konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai dengan subkategorinya. Misalnya konjungtivitis alergi musiman dan tumbuh-tumbuhan biasanya disebabkan oleh alergi tepung sari, rumput, bulu hewan, dan disertai dengan rinitis alergi serta timbul pada waktu-waktu tertentu. Vernal konjungtivitis sering disertai dengan riwayat asma, eksema dan rinitis alergi musiman. Konjungtivitis atopik terjadi pada pasien dengan riwayat dermatitis atopik, sedangkan konjungtivitis papilar rak pada pengguna lensa-kontak atau mata buatan dari plastic. Gejala klinis konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai dengan sub-kategorinya. Pada konjungtivitis alergi musiman dan alergi tumbuh-tumbuhan keluhan utama adalah gatal, kemerahan, air mata, injeksi ringan konjungtiva, dan sering ditemukan kemosis berat. Pasien dengan keratokonjungtivitis vernal sering mengeluhkan mata sangat gatal dengan kotoran mata yang berserat, konjungtiva tampak putih susu dan banyak papila halus di konjungtiva tarsalis inferior. Sensasi terbakar, pengeluaran sekret mukoid, merah, dan fotofobia merupakan keluhan yang paling sering pada keratokonjungtivitis atopik. Ditemukan jupa tepian palpebra yang eritematosa dan konjungtiva tampak putih susu. Pada kasus yang berat ketajaman penglihatan menurun, sedangkan pada konjungtiviitis papilar raksasa dijumpai tanda dan gejala yang mirip konjungtivitis.

13

Diperlukan riwayat alergi baik pada pasien maupun keluarga pasien serta observasi pada gejala klinis untuk menegakkan diagnosis konjungtivitis alergi. Gejala yang paling penting untuk mendiagnosis penyakit ini adalah rasa gatal pada mata, yang mungkin saja disertai mata berair, kemerahan dan fotofobia. Komplikasi pada penyakit ini yang paling sering adalah ulkus pada kornea dan infeksi sekunder . Penyakit ini dapat diterapi dengan tetesan vasokonstriktor-antihistamin topikal dan kompres dingin untuk mengatasi gatal-gatal dan steroid topikal jangka pendek untuk meredakan gejala lainnya Konjungtivitis Jamur Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu. Selain Candida sp, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh Sporothrix schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis walaupun . Konjungtivitis Parasit Konjungtivitis parasit dapat disebabkan oleh infeksi Thelazia californiensis, Loa loa, Ascaris lumbricoides, Trichinella spiralis, Schistosoma haematobium, Taenia solium dan Pthirus pubis walaupun jarang . Konjungtivitis kimia atau iritatif Konjungtivitis kimia-iritatif adalah konjungtivitis yang terjadi oleh pemajanan substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis. Substansi-substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis dan dapat menyebabkan konjungtivitis, seperti asam, alkali, asap dan angin, dapat menimbulkan gejala-gejala berupa nyeri, pelebaran pembuluh darah, fotofobia, dan blefarospasme.

14

Selain itu penyakit ini dapat juga disebabkan oleh pemberian obat topikal jangka panjang seperti dipivefrin, miotik, neomycin, dan obat-obat lain dengan bahan pengawet yang toksik atau menimbulkan iritasi. Konjungtivitis ini dapat diatasi dengan penghentian substansi penyebab dan pemakaian tetesan ringan . Konjungtivitis lain Selain disebabkan oleh bakteri, virus, alergi, jamur dan parasit, konjungtivitis juga dapat disebabkan oleh penyakit sistemik dan penyakit autoimun seperti penyakit tiroid, gout dan karsinoid. Terapi pada konjungtivitis yang disebabkan oleh penyakit sistemik tersebut diarahkan pada pengendalian penyakit utama atau penyebabnya Konjungtivitis juga bisa terjadi sebagai komplikasi dari acne rosacea dan dermatitis herpetiformis ataupun masalah kulit lainnya pada daerah wajah.

15

DAFTAR PUSTAKA

1.

Vaughan D, Asbury T. 1992. Oftalmologi Umum. Jilid 2. Edisi I. Yogyakarta: Widya Medika.

2. 3.

Ilyas, Sidarta. 1999. Ilmu Penyakit Mata. Edisi III. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Almatsier M,Djuanda A, Sani A et all. 2006. MMS. Volume VII. Jakarta: CMP Medica.

4. 5.

Wijana, Nana. 1983. Ilmu penyakit Mata. Jakarta. James Bruce, Chris Chew, Anthony Bron. 2006. Oftalmologi. Edisi XI. Jakarta : Erlangga.

6.

Schwab IR, Dawson CR. 2000. Konjungtiva : Oftalmologi Umum. Edisi XIV. Jakarta : Widya Medika.

16