Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAN POHON PT.

SURYA HUTANI JAYA (SHJ) SITE SEBULU

DI SUSUN OLEH : NAMA NIM : ANAS RULLAH : 1004015050

FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Hampir setiap jenis tanaman/pohon memerlukan kondisi lingkungan yang khusus untuk dapat tumbuh secara optimal. Sedang kondisi lingkungan itu sendiri sangat berfariasi seperti letak geografis, kesuburan tanah, iklim dsb. Untuk itu pemilihan jenis tanaman haruslah didasarkan pada pemilihan yang obyektif melalui uji coba jenis (specias trial). Apabila suatu jenis tanaman telah dapat di pilih dan kemudian akan di kembangkan lebih lanjut, maka langkah berikutnya yang harus di lakukan adalah mencari tempat asal atau sumber benih dengan jalan melakukan uji coba tempat asal benih dari jenis yang telah dipilih tersebut. Penggunaan benih dari tempat asal yang geografik dan ekologik tepat. Merupakan syarat utama bagi keberhasilan usaha penanaman. Tanpa memperhatikan hal ini kemungkinan besar uasaha penanaman akan dapat mengecewakan, yaitu pada permulaannya tanaman dapat tumbuh tetapi lama kelamaan mundur dan tidak produktif serta menurun kualitas kayunya pada waktu panen, oleh karena itu pemilihan tempat asal benih/sumber benih merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penanaman. Kegiatan pemuliaan pohon hutan dimanapun di dunia ini, selalu dibarengi dengan biaya yang banyak. Akan tetapi apabila program pemuliaan yang di lakukan nantinya berhasil, maka biaya yang dikeluarkan tadi sangatlah kecil bila dibandingkan dengan keuntungan-keuntungan yang akan di perolehnya. Keuntungan dari hasil program pemuliaan pohon hutan ini telah Nampak dan dapat dirasakan oleh Negara-negara yang sejak dulu telah melaksanakan

kegiatan pemuliaan pohon secara intensif, sehingga yang berpartisipasi dalam program pemuliaan pohon hutan tidak saja Lembaga Perguruan tinggi, Lembaga penelitian ataupun Dinas Kehutanan. Tetapi juga turut aktif dari pengusaha industry-industri Hasil Hutan. Diberikan contoh suatu program

Pemuliaan pohon hutan, Forest Tree Breeding ialah penerapan asas-asas gen baik pada penanaman hutan untuk pemperoleh pohon-pohon yang memiliki sifat dan hasil yang lebih tinggi nilainya (Soerianegara, 1979). Bidang-bidang ilmu dasar dan penunjang seperti Genetika merupakan ilmu penunjang yang penting ialah ilmu sel dan taksonomi, anatomi, morfologi, geografi tumbuhan, ekologi, fisiologi dan silvika.

1.2.Tujuan Praktikum Dapat menyeleksi pohon plus berdasarkan nilai-nilai genetic dan fenotip Menyeleksi pohon-pohon plus berdasarkan nilai genetif dan fenotip dari material control pollination Menambah wawasan dan pengalaman pada mata kuliah pemuliaan pohon. Dapat mengetahui cara penyeleksian melalui uji Labolatorium di PT. Surya Hutani Jaya (SHJ) site Sebulu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengolahan Sumber Benih Sumber benih adalah suatu tegakan hitan benih alam maupun tanaman yang di kelola untuk menghasilkan benih. A. Macam-macam sumber benih Menurut tingkatan mutu genetic benih yang di hasilkan sumber benih dapat di bagi menjadi : 1. Tegakan Benih (TB) 2. Areal Pengumpulan Benih (APnB) 3. Kebun Benih (KB) 1. Tegakan Benih (TB) Tegakan benih (seed stand) adalah areal tegakan hutan baik berasal dari hutan alam maupun tanaman yang di tunjuk untuk sementara sebagai tempat pengumpulan benih. Penunjukan tegakan benihdidasarkan atas kemampuan

menghasilkan benih yang banyak lokasi mudah di capai dan memiliki bentuk tegakan yang relative baik. Sebagian atau seluruh tegakan benih yang kondisi tegakannya memenuhi persyaratan dapat dikukuhkan dan dikelola lebih lanjut sebagai Areal Pengumpulan Benih (APnB) yang sifatnya permanen.

2. Areal Pengumpulan Benih (APnB) Areal Pengumpulan Benih (seed Production Area) adalah suatu areal tegakan benih yang kwalitas tegakannya ditingkatkan melalui penebangan penjarangan pohon-pohon yang berpenotipe

(pertumbuhan dan bentuk batang) jelek dan dikelola secara khusus untuk menghasilkan benih berkualitas baik secara cepat dan berlimpah.

3. Kebun Benih (KB) Kebun benih adalah suatu areal tanaman hutan yang di bangun melalui semai atau klon dengan bahan tanaman baik benih atau bagian tanaman yang berasal dari pohon-pohon terpilih (plus trees) disolir dari kontaminasi penyerbukan liar dari sumber luar serta dikelola secara intensif untuk menghasilkan benih unggul secara berlimpah berkesinambungan dan mudah di pelihara. Menurut cara pembangunan dan bahan tanaman yang digunakan dan bahan tanaman yang digunakan kebun benih dapat dibedakan menjadi : a. Kebun Benih Semai Seleksi Massa (KBSM) Kebun benih yang dibangun memakai bahan tanaman benih yang berasal dari pohon-pohon plus yang belum di uji dan tanpa keharusan untuk memelihara identitas dari masing-masing family (pohon Plus). Benih yang berasal dari banyak pohon plus di campur menjadi satu (bulked). b. Kebun Benih Semai Dengan Uji Keturunan (KBSUK) Bahan tanaman benih yang di pakai sama dengan kebun benih sampai seleksi massa, hanya saja identitas masing-masing family tetap dipelihara mulai dari persemaian sampai penanaman untuk seleksi. Seleksi disini didasarkan atas hasil uji coba keturunan (progeny test) masing-masing family. Family yang jelek pertumbuhannya di tebang sehingga akhirnya kebun benih berdiri dari family pohon yang unggul saja. c. Kebun Benih Semai (KBS) Bahan tanaman benih yang di pakai berasal dari pohonpohon plus yang telah diuji dan terbukti mampu mempertahankan sifat unggulnya .

Identitas masing-masing family (Pohon plus) tetap di jaga unntuk kepentingan penyiangan lebih lanjut. d. Kebun Benih Klon (KBK) Kebun benih yang di bangun melalui pembiakan vegetative (penyambungan, penempelan, stek atau cangkok) dimana bahan tanamannya berasal dari pohon-pohon plus.

2.2

Pembangunan Sumber Benih A. Tegakan Benih Pembangunan tegakan benih dilakukan melalui penunjukkan dan pengukuhan dari hutan alam atau hutan tanaman yang sudah ada. a. Tujuan dari penunjukkan Tujuan dari penunjukan tegakan benih adalah : 1. Memproduksi benih dengan kwalitas baik dengan cara hanya mengundu benih dari pohon-pohon yang baik saja. (tumbuh subur, batang lurus, dan sehat). 2. Memusatkan pengumpulan benih pada beberapa bagian dari hutan yang di perlukan secara khusus sehingga lebih mudah mengatur dan mengawasinya. b. Syarat-syarat tegakan Tegakan yang akan di tunjuk sebagai sebagai tegakan benih harus memungkinkan pelaksanaan pengolahannya secara berdaya guna dan berhasil guna. Oleh karenanya tegakan tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. Umur Tegakan Tegakan yang dipilih seharusnya cukup umur tetapi tidak terlalu tua, sehingga memungkinkan masa pembangunan yang baik dan menghasilkan tanaman. benih benih berlimpah untuk hutan

Mengingat daur biologis tanaman berbeda-beda maka tegakan hutan dapat digolongkan atas : Penghasil benih cepat (5-10 th) misalnya : Acacia mangium, Eucalyptus urophylla. Albizia falctaria,

Leucaena leucocephala. Penghasil benih sedang (10-30th) misalnya : Pinus merkusii, Shorea sp, Altingia excelsa dan lain-lain. Penghasil benih lambat (25-50th) misalnya : Tectona grandis, Dicspyros celebica. Untuk hutan alam yang tidak diketahui umumnya dapat di lakukan melalui pendekatan umur. Misalnya untuk jenis-jenis family Dipterocarpaceae batas minimum diameter setinggi dada untuk pohon induk adalah 35 cm. hal ini didasarkan atas pertimbangan bahan pohon-pohon dari family dipterocarpaceae dengan diamrter 35 cm atau lebih telah mampu menghasilkan benih yang baik. 2. Penotipe pohon Tegakan yang di pilih seharusnya memiliki penotipe yang baik, diantaranya adalah berbatang lurus, dominan dan bertajuk Co baik,

menempati

kedudukan

yang

dominan

(pertumbuhan subur) serta bebas darihama penyakit. 3. Komponen Jenis Tegakan benih di usahakan sedapat mungkin terdiri atas pohon-pohon satu jenis. Untuk hutan alam tegakan benih hendaknya memilih jenis utama 60 % dari seluruh jenis yang ada. 4. Lokasi Tegakan (accessibility) Untuk memudahkan pengawasan dan pengolahan maka lokasi tegakan hendaknya memenuhi persyaratan antara lain : mudah di datangi, dekat jalan angkutan dan mudah mendapatkan tenaga kerja.

5. Dalam suatu kelompok tegakan benih luas tegakan sedapat mungkin cukup luas tidak kurang dari 10 ha. Keuntungan dari satu kelompok tegakan benih yang cukup luas antara lain : Biaya pengolahan sumber benih persatuan luas dan biaya pengumpulan benih per kilogram lebih rendah. Benih yang di kumpulkan mempunyai dasar genetic (genetice base) yang luas. c. Cara Pelaksanaan Penunjukkan Pelaksanaan penunjukan tegakan benih meliputi kegiatan-kegiatan : 1. Pemilihan calon areal Pemilihan calon areal dilakukan dengan alat bantu berupaya peta situasi, peta vegetasi atau register tanaman dan keterangan lainnya. 2. Inventarisasi Tegakan Inventarisasi tegakan dilakukan untuk mengetahui

komposisi dan potensi tegakan dari calon tegakan benih yang akan di tunjuk. Inventarisasi tegakan pada hutan alam dilakukan dengan membuat unit-unit contoh yang berupa jalur selebar 20 m, jarak antara jalur 200 m dan intensitas sampling 10 %. Inventarisasi dilakukan untuk tingkat pohon dengan mengukur tinggi, diameter bentuk batang dan kesehatan pohon. Untuk pohon-pohon yang memenuhi persyaratan sebagai pohon induk (pohon benih) kemudian diberi tanda pada ketinggian 140 cm dengan cat warna kuning selebar 10 cm melingkar pohon dan diberi nomor secara berurutan dimulai pada setiap blok. Luas 0,1 ha (jari-jari 17,8 m) dengan intensitas 10 % atau dengan cara sensus 100%. 3. Pemancangan batas dan pemetaan Batas-batas areal tegakan benih di beri tanda batas yang jelas. Tanda batas areal sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan lama yaitu dari batu semen atau kayu yang awet (misalnya kayu
8

ulin). Bila menggunakan bahan maka ukurannya dengan diameter 18 20 cm, panjangnya 150 cm dan di tanam sedalam 60 cm. pada bagian bawah (120 cm) di cat hitam, bagian atas di cat merah selebar 31 cm. Pemancangan tanda batas yang pertama di mulai dari sudut darat laut dan penomoran selanjutnya searah jarum-jarum mengelilingi areal tegakan benih. Tata batas tersebut dii atas kemudian di gambarkan pada peta kerja ( skala 1 : 10.000) dan di nyatakan juga dalam peta situasi ( skala 1 : 25.000 ). 4. Pengukuhan Untuk member dasar hukum dan keselamatan serta kesinambungan tegakan benih yang telah di tunjuk, maka hasil inventarisasi, penyebaran dan pemancangan batas yang di tuangkan dalam peta tersebut diatas dimintakan persetujuan kepada mentri kehutanan untuk dikukuhkan sebagai areal sumber benih tegakan benih. B. Kebun Benih Seleksi Massa Kegiatan pembangunan kebun benih seleksi massa meliputi pekerjaanpekerjaan : 1. Pemilihan Pohon Plus Pohon plus adalah pohon yang penotipenya sangat superior bila dibandingkan dengan pohon-pohon sekeliling pada keadaan

lingkungan yang sama. Cara Pemilihan Pohon Plus pohon plus dapat dipilih baik dari hutan alam maupun hutan tanaman. Lokasi pemilihan dianjurkan pada keadaan lingkungan dan umur pohon yang sama. Criteria pemilihan berdasarkan pada penampakan pohon dari luar ( phenotype ) dengan membandingkan satu pohon dengan pohon sejenis sekelilingnya. Phenotype yang dinilai biasanya meliputi : Tinggi dan diameter pohon

Bentuk batang Bentuk percabangan dahan dan ranting Bentuk tajuk Kemampuan bebas dari bahaya serangan hama dan penyakit Kemampuan menghasilkan benih Sifat-sifat khusus lainnya

Penilaian pada sifat-sifat tersebut di atas biasanya dilakukan dengan menggunakan nilai score. Nilai score dari masing-masing sifat di jumlah dan nilai score akhirmerupakan cerminan dari

tingkatan pohon plus tersebut. Pohon pohon plus yang telah terpilih di beri tanda dan nomor urut. Tanda pohon plus biasanya berupa dua strip dengan cat kuning melingkar pohon pada ketinggian 1,40 m. untuk memudahkan pengecekan maka pohon-pohon plus yang terpilih perlu di petakan. 2. Pengunduhan Buah dan Ekstraksi Benih Pengunduhan buahpada pohon plus biasanya dilakukan dengan memenjat pohon tersebut dan memetik/mengaet buahnya dan mengumpulkan dalam wadah yang telah ditentukan, di buatkan tanda berdasar nomor urutmasing-masing pohon plus. Buah-buah dalam pohon plus kemudian di ekstraksi untuk mengeluarkan benihnya. Benih-benih dari masing-masing pohon plus disimpan dalam wadah sendiri-sendiri dan diberi label menurutnomor masing-masing pohon plus. 3. Penyemaian Benih Benih dari pohon-pohon plus dicampur sampai merata kemudian di semaikan sebagaimana teknik penyampaian masing-masing jenis tanaman. 4. Penanaman Syarat-syarat lokasi kebun benih :

10

Lapangan landai sampai datar Kesuburan tanah tinggi Dekat dengan jalan angkutan dan sumber tenaga kerja Bebas dari bahaya api dan pengembalaan

Bibit dari persemaian ditanam di lokasi kebun benih seleksi massa mengikuti ketentuan sebagai berikut : Rancangan : Pada pembangunan KBSM tidak diperlukan rancangan khusus, jadi bibit ditanam sebagaimana tanaman hutan biasa.

Jarak Tanam: Jarak tanam yang biasa dipakai adalah 4 x 4 m atau 6 x 6 m tergantung dari jenis tanamannya menanam dengan jarak tanaman yang relative jarang memungkinkan terbentuknya pembangunan yang lebih banya. Seleksi: Seleksi dilakukan atas dasar fenotif tegakan yang ada pohon-pohon dengan fenotif yang jelek ditebang dan yang berfenotif baik dibiarkan untuk menghasilkan benih yang baik C. Kebun Benih Semai Dengan uji Keturunan (KBSUK) Kegiatan pembangunan KBSUK hamper sama dengan KBSM yaitu meliputi pekerjaan-pekerjaan pemilihan pohon plus, pengunduhan buah dan ekstrasi benih, penyemaian benih dan penanaman luar. Perbedaan yanga ada terutama pada pekerjaan penyemaian benih dan penanaman. a. Penyemaian Benih Pada pembangunan KBSUK benih dari pohon-pohon plus tetap dipisah-pisahkan nomor masing-masing plus (family). Benih ditabur pada bedengan penaburan (Gemination bed) menurut masing-masing pohon plus (family). Penyapihan bibit dilakukan pada bedengan

11

penyapihan juga sendiri-sendiri menurut masing-masing family dan diberi label. Tetap bibit dari masing-masing family pada areal penyapihan mengikuti rancangan percobaan. Yang bias dipakai yaitu rancangan acak lengkap berblok (Randonized complete blok design) dengan 5 sampai 10 kali ulangan dan plot terdiri atas 4 sampai 5 pohon berjajar. b. Penanaman Mengongat pembangunan KBSUK merupakan pegangan

pelaksanaan uji keturunan maka penanaman berbeda dengan tanaman hutan biasa. Penanaman disini mengikuti rancangan percobaan dan identitas dari masing-masing family masih dipertahankan terus. c. Rancangan percobaan Rancangan percobaan untuk menanam KBSUK dapat bermacammacam tetapi yang lazim dipakai yaitu : Rancangan acak lengkap berblok dengan ulangan 5 10 kali dan plot terdiri dari 4 5 pohon berjajar ( tree plot ). d. Pengangkutan Bibit Bibit dari persemaian diangkut secara hati-hati family dengan family lengkap dengan labelnya mengikuti rancangan yang ada. Pengangkutan yang ceroboh mengakibatkan bibit dapat tertukar dari satu family ke family lain. e. Jarak Tanam Bibit dalam rancangan percobaan di tanam dengan jarak tanam 3 x 3 m atau 4 x 4 m. f. Seleksi Seleksi dilakukan atas dasar hasil uji keturunan yang dilakukan yaitu dengan menebang seluruh pohon-pohon dari family yang jelek dan pohon-pohon dari family yang baik.

12

D. Kebun Benih Semai (KBS) Kegiatan pembangunan KBS meliputi pekerjaan-pekerjaan yang sama dengan pembangunan KBSUK dan KBSM yaitu : pemilihan pohon plus, pengunduhan buah dan ekstraksi buah, penyamaian benih dan penanaman. Perbedaan yang ada hanya pada benih yang di pakai pada KBS adalah berasal dari pohon-pohon plus yang sudah di uji keturunan. Sehingga benih yang dipakai betul-betul sudah unggul. Perkawinan yang sekerabat dinamakan in breeding. Hal ini dihindarkan mengingat bahwa perkawinan sekerabat menurunkan keturunan yang secara genetic kurang baik (inferior). Jarak Tanam yang dipakai biasanya : 6 x 6 m atau 10 x 10 m. E. Kebun Benih Klon Kegiatan pembangunan kebun benih klon meliputi pekerjaan-pekerjaan : a. Penanaman/pembuatan root stock Root stock adalah bibit atau tanaman yang dipakai sebagai tanaman sebelah bawah dalam pembangunan kebun benih klon dengan memakai pembiakan vegetative secara penyambungan (grafting) atau secara tempel (budding). Bibit untuk root stock dihasilkan oleh benih biasa (tidfak perlu benih dari pohon plus). Umur bibit atau tanaman untuk dapat di pakai sebagai bahan sambungan atau tempel, tergantung dari jenisnya. Apabila kegiatan penyambungan/penempelan akan dilaksanakan dilapangan, maka root stock ditanam di lapangan sesuai dengan jarak tanaman pada kebun benih klon yaitu 6 x 6 m atau 10 x 10 m. b. Pemilihan Pohon Plus Sama seperti pemilihan pohon plus pada kebun benih seleksi massa, KBSUK dan KBS. c. Pengambilan bahan untuk pembiakan vegetative Bahan tanaman yang diambil dari pohon plus bentuknya tergantung dari cara pembiakan fegetatif mana yang akan di pakai.

13

Cara penyambungan dipakai scion/pucuk batang atau cara tempel dipakai mata tunas, cara stek dipakai pucuk batang/ranting. Mengingat dari keberhasilan pembiakan fegetatif tidak lepas dari bahan yang diambil dari pohon plus maka diharapkan bahwa pengambilan bahan tersebut harus hati-hati jangan sampai rusak dan dijaga kelembabannya. d. Pelaksanaan pembiakan vegetative Kegiatan pembiakan fegetatif pada pembangunan KBK dilakukan melalui berbagai cara antara lain : a. Cara penyambungan (grafting) Cara pembiakan ini sangat lazim dipakai pada dapat

pembangunan KBK terutama untuk jenis-jenis Conifera seperti : Pinus merkusii, Pinus caribaceae, A. cuninghamii dan lain-lain. Pelaksanaan penyambungan dilakukan dengan mengambil scion dari pohon plus kemudian disambung pada root stock. Teknik penyambumgan dapat macam-macam antara lain : Whip and tangue grafting Splice grafting Side grafting Cleft grafting

yang telah disambung pada root stock kemudian diikat erat dan dilapisi lilin agar terlindung dari air yang sering mengakibatkan busuk. Apabila diperlukan tanamn yang telah di grafting dapat juga ditutup dengan plastic dan kaca untuk mengurangi penguapan, hal ini terutama apabila pelaksanaan grafting dilakukan di lapangan. b. Cara penempelan (Budding) Ada beberapa jenis tanaman yang cara pembiakan vegetatipnya melalui cara penempelan (budding) misalnya : Tectona grandis (jati)

14

Pelaksanaan penempelan dilaksanakan dengan mengambil mata tunas (bud) dari pohon-pohon plus kemudian ditempelkan pada root stock yang telah tersedia. Kegiatan ini biasanya dilakukan di persemaian atau di rumah kaca. Teknik penempelan dapat macam-macam antara lain : T. Budding Pated Budding (tepuk tangan) Flute Budding (seruling) Ring budding Chit budding (serpih)

Maka tunas yang telah di tempelkan pada root stock kemudian di ikat erat dengan tali atau pita ( budding tape ) dan bekas luka di oksi dengan lilin agar tidak busuk. Setelah tunas tumbuh menjadi bibit yang cukup kuat kemudian di pindahkan/di tanam di lapangan. c. Cara stek (cutting) Beberapa jenis tanaman dapat dikembangbiakkan secara fegetatif melalui cara stek (cutting). Misalnya : Eucalyptus sp, Shorea sp, dan lain-lain. Pelaksanaan stek dilakukan dengan mengambil bagian tanaman dari pohon-pohon plus kemudian di tumbuhkan akar dan tunasnya. Kegiatan ini biasanya dilakukan di persemaian atau di rumah kaca dengan menggunakan bantuan hormon penumbuh akar. Teknik stek (cutting) dan bermacam-macam tergantung dari jenis tanamannya antara lain : Steam cutting Leaf cutting Leaf bud cutting Root cutting

15

Setelah stek tumbuh akar dan tunas sampai telah menjadi bibit siap di tanam kemudian dipindahkan kelapangan. d. Cara cangkok ( air layering ) Beberapa jenis tanaman dapat dikembangbiakkan secara fegetatif melelui cara cangkok ( air layering ) misalnya : Acacia mangium. Pelaksanaan cangkok dilakukan langsung pada pohon plusnya yaitu dengan mengerat atau memotong kulit dari cabang atau rooting selebar - 1 inchi melingkar. Untuk mempercepat tumbuhnya akar di atas/di bawah luka tersebut di oksi dengan hormone penumbuh akar, kemudian luka tersebut di tutup dengan media yang mudah menyerap air misalnya damp sphogum moss atau peat moos atau media tanah biasa dan akhirnya di bungkus dengan kertas film/greajeng atau dengan plastic biasa dan diikat. Setelah akar tumbuh dan kemudian dipindahkan ke kantong plastic dengan media tanah atau lainnya. Bibit di pindahkan ke lapangan setelah keadaannya siap untuk di tanam. F. Penanaman di Lapangan a. Rancangan tata letak Bibit hasil pembiakan fegetatif ditanam di lapangan dengan menggunakan rancangan (design) tata letak. Rancangan di buat sedemikian rupa sehingga bibit dari satu family ( asal pohon plus yang sama/tidak di tanam berdekatan satu sama lain ). Hal ini dimaksudkan agar nantinya terjadi penyerbukan menyilang dan bukan sekeralat ( in breeding ). Rancangan yang dapat di pakai bermacam-macam tetapi yang biasa dipakai adalah Rondown Complete design dengan catatan bila 2 pohon yang berasal dari satu family berdekatan kemudian harus dipindahkan ke tempat lain.

16

b. Jarak tanam Jarak tanam yang di pakai biasanya antara 6 x 6 m atau 10 x 10 m tergantung jenis tanamnya. Penanaman dengan jarak tanam yang lebar di maksudkan untuk mempercepat dan memperbanyak pembungaan. c. Jumlah klon atau family Jumlah klon/family atau pohon plus yang di pakai untuk pembangunan kebun benih klon tergantung dari luas kebun yang akan di bangun. Tetapi minimal klon atau family yang di pakai adalah 20 family, hal ini untuk mencegah perkawinan sekerabat ( in breeding ) dan memperluas dasar genetic dari benih yang akan di hasilkan.

17

BAB III METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu Praktikum Praktikum dilaksanakan di areal PT. Surya Hutani Jaya Site Sebulu pada tanggal 28 Mei 2012, mulai pukul 11.00 wita sampai selesai. PT. Surya Hutani Jaya termasuk dalam grup Inhutani Sinar Mas yang mendapatkan izin pengelolaan hutan seluas 183.300 ha berdasarkan SK Menhut No.156/Kpts-11/1996. Tujuan pengusahaan hutan PT. Surya Hutani Jaya Sebulu adalah HTI Pulp dengan areal penanaman seluas 80.00090.000 ha dan daur tanam berkisar antara 5-6 tahun. 3.2. Peralatan dan Bahan Adapun peralatan dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Peralatan tulis-menulis, yang digunakan untuk mencatat materi dan data-data yang diberikan pada saat praktikum. 2. Kamera (bisa juga menggunakan kamera HP) , yang digunakan untuk dokumentasi dan sebagai bahan untuk laporan dalam lampiran. 3. Komputer, digunakan untuk membuat dan menyusun laporan. 3.3. Prosedur Praktikum Praktikum kali ini terdiri atas dua sesi, yaitu sebagai berikut : 1. Sesi pertama : perkenalan dan penjelasan sekilas mengenai sejarah dan kegitan operasional yang dilakukan PT. Surya Hutani Jaya. 2. Sesi kedua : melakukan kunjungan dan mendapatkan penjelasan secara langsung di lapangan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan PT. Surya Hutani Jaya. Misalnya :

18

Menyeleksi pohon plus berdasarkan nilai-nilai genetic dan phenotyp Menyeleksi pohon-pohon plus berdasarkan nilai-nilai genetic dan phenotyp dari material control pollination. Pengenalan penyeleksian tanaman di Labolatorium dengan menggunakan gel.

19

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Perlindungan dan Pengamanan Hama Penyakit 1. Pemantauan dini persemaian dan tanaman muda 2. Integrated pest dan disease management Pengendalian Kebakaran Hutan 1. Pemantauan hot spot setiap hari 2. Deteksi dini asap dari patrol dan menara api 3. Sekat bakar (jalur hijau dan jalur kuning) 4. Pembentukan satgasdamkarhut 5. MPA (Masyarakat Peduli Api) Perlindungan Flora Fauna 1. Patrol kawasan lindung 2. Penjagaan (guard) di titik akses 3. Pengayaan tanaman Pendataan Komunitas dalam Areal Kerja 1. Sosialisasi hak dan kewajiban masyarakat areal kerja 4.2. Clonal Forestry Clonal forestry adalah teknologi pembangunan Hutan Tanaman dengan menggunakan clone-clone unggulan dengan perpaduan silvikultur intensif untuk mendapatkan produktivitas hutan tanaman yang optimal. Clonal forestry mempunyai keunggulan, produk yang dihasilkan seragam/homogen yang berefek terhadap produktivitas hutan tanaman.

20

4.3. Clone Unggulan Syarat-syarat clone unggulan antara lain adalah : Cepat tumbuh Tingkat pertumbuhan tinggi Sifat kayu sesuai dengan kebutuhan industri Tahan terhadap serangan hama penyakit tertentu Mudah dikembangbiakkan secara vegetatif Dapat tumbuh baik diberbagai kondisi tapak

4.4. Prinsip Pemilihan Jenis Tanaman Terdapat beberapa prinsip dalam pemilihan jenis tanaman, prinsipprinsip tersebut antara lain sebagai berikut : Sesuai dengan kebutuhan industri Kesesuaian dengan lahan Pertumbuhan (riap) Ketahanan terhadap hama penyakit Penguasaan teknik silvikultur

4.5. Penelitian dan Pengembangan Clonal and Nursery Silvikultur Soil and Nutrient Pest and Disease Tissue Culture Breedin Clonal Test

21

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Meskipun PT. Surya Hutani Jaya terhitung dan terbilang sukses dalam kegitan operasionalnya dan dalam kegiatan pemuliaan pohon namun perusahaan ini ternyata juga mengalami berbagai macam kendala dalam menjalankan kegiatannya, baik dari kendala yang mudah hingga pada kendala yang rumit sekalipun. Selain itu untuk melaksanakan kegiatannya PT. Surya Hutani Jaya juga harus melakukan pemilihan pada jenis tanaman untuk disesuaikan dengan kondisi serta keadaan lahan yang dimiliki ole perusahaan tersebut.

5.2. Saran Sebaiknya sebelum mengikuti praktikum, praktikan terlebih dulu membaca dan mempelajari materi yang akan disampaikan agar apabila ada yang tidak dimengerti dapat langsung ditanyakan kepada pemateri. Pada saat praktikum berlangsung seharusnya praktikan menyimak serta mencatat apa yang disampaikan oleh pemateri dan aktif bertanya.

22

DAFTAR PUSTAKA Aenonim, 1982. Program Pemuliaan Pohon Hutan. Departemen Pertanian, Direktorat Jendral Kehutanan. Direktorat Reboisasi dan Rehabilitas, NO.02.,Jakarta Coster, C. & F.E. Eidman. 1934. Selection-oenderzoek dan Djati, (Tectona grandis l.f) peng.pendek NO.40, Lembaga Penelitian Kehutanan, Bogor Falconer, D.s. 1967. Introduction to quantitative genetics. The Ronald Press Company, New York Harahap, R. 1971. Percobaan sambungan pada Pinus merkusii Jungh et De Vriese dengan dan tanpa perlindungan. Laporan NO.140, Lembaga Penelitian Hutan, Bogor Harjono, et all. 1959. Percobaan Okulasi Djati. Pengumuman NO.68 Lembaga Penelitian Hutan, Bogor Koesriningroem, R. dan Setyati,H. 1973. Pembiakkan Vegetatif. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor Mahistede,J.P. dan E.S.Haber, 1957. Plant Propagation. John Willey dan Sons; Inc. New York Meijer-Dress,E. 1940. The genus Agathis in Malesia.pull.Jard.Bot.Bt.29. Ser.III, 16:455-474 Nienstaedt, et all. 1958. Vegetative Propagation in forest Genetics. Pesearch and Practice. Jour. Forestry 56:826-839

23

LAMPIRAN

INOFASI SILVIKULTUR Menuju clonal forestry Eucalyptus pellita

24

25