Anda di halaman 1dari 36

LABORATORIUM KIMIA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN FUNGSI HATI

Di Susun Oleh: Kelompok I Golongan Kamis Maisarah Bassarang St. Raiyani Soendaria Intan Riska Amalia Nasriah Hijrah Al Kautsar B Merliana Mansyur Yuliana Amal Rezka Putra Sri Hidayanti Sulfiana H. Ambo Lau Asisten: Christian

MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Hati merupakan organ tubuh yang berkaitan erat dengan metabolisme protein dan asam amino, lemak, dan karbohidrat. Hati juga berfungsi mensintesis protein plasma, faktor pembekuan, asam empedu, katabolisme hormon dan sebagai organ detoksifikasi. Beberapa macam fungsi hati yaitu fungsi pengolahan zat makanan yang diserap usus, fungsi penyimpanan, dan pembentukan zat yang diperlukan tubuh, dan penetralan obat atau racun. Beberapa orang yang suka mengkonsumsi alkohol, dapat

mengalami gangguan fungsi hati, sehingga memerlukan pantauan jika pasien sedang menjalani masa perawatan dan penyembuhan akan suatu penyakit. Selain itu, kebanyakan obat-obat yang beredar di dunia kedokteran memiliki efek samping hepatotoksik yang memerlukan perhatian khusus dan evaluasi. Untuk beberapa kasus pada tubuh manusia, tidak sedikit yang mengalami gangguan fungsi hati seperti hepatitis virus, perlemakan hati, obat-obatan, infeksi lain, alkohol dan lainlain. Sering juga terdapat penyakit dalam yang disebabkan oleh gangguan fungsi hati, dimana terkadang penyakit tersebut bisa juga disebabkan oleh gangguan organ lain. Oleh karena itu, dalam dunia medis diperlukan beberapa tes dan pemeriksaan untuk mempertegas diagnosa adanya gangguan fungsi hati yang dialami oleh pasien.

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan I.2.1 Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara pemeriksaan fungsi hati dengan beberapa parameter dengan menggunakan spesimen darah. I.2.2 Tujuan Percobaan 1. Untuk mengetahui dan mamahami cara melakukan pemeriksaan pada fungsi hati dengan parameter SGPT dan SGOT yang terdapat dalam spesimen darah dengan menggunakan fotometer/Humalyzer. 2. Untuk mengetahui dan memahami cara pemeriksaan fungsi hati meliputi keterampilan melakukan pemeriksaan spesimen darah dan mengukur kadar enzim alkali fosfatase (ALP) yang terdapat dalam spesimen darah dengan menggunakan fotometer/Humalyzer. 3. Untuk mengetahui dan memahami cara pemeriksaan fungsi hati meliputi keterampilan melakukan pemeriksaan spesimen darah dan mengukur kadar albumin yang terdapat dalam spesimen darah dengan menggunakan fotometer/Humalyzer. 4. Untuk mengetahui dan memahami cara pemeriksaan fungsi hati meliputi keterampilan melakukan pemeriksaan spesimen darah dan mengukur kadar bilirubin direct dan total yang terdapat dalam spesimen darah dengan menggunakan fotometer/Humalyzer.

I.3. Prinsip Percobaan 1. SGPT dan SGOT Pemeriksaan ini diawali dengan pengambilan spesimen yaitu serum yang diperoleh dari hasil sentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Serum dianalisis nilai SGPT atau SGOT nya menggunakan humalyzer. Reagen dan kuvet terlebih dahulu dihangatkan pada suhu 37C kemudian sampel dimasukkan ke dalam kuvet sebanyak 100 l dan dicampur dengan reagen buffer 1000 l, diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37C. selanjutnya dicampur dengan penambahan reagen substrat 250 l, absorbansinya dibaca setelah 1 menit dan hasil SGPT atau SGOT nya dicatat. 2. ALP (Alkali Fosfatase) Pemeriksaan fungsi hati yang meliputi pemeriksaan enzim ALP diawali dengan pengambilan spesimen yaitu serum yang diperoleh dari hasil sentrifus 3 mL darah yang diperoleh dari teknik flebotomi. Spesimen tersebut kemudian diperiksa nilai enzim ALP nya dengan menggunakan humalyzer dimana sampel terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kuvet sebanyak 20 L dan dicampur dengan larutan buffer 1000 L dan diinkubasikan selama 5 menit pada suhu 37 oC. Selanjutnya dicampur dengan penambahan reagen substrat 250 L. Reaksi didasarkan pada prinsip p-Nitrophenylphosphatase + AMP yang dikatalisis oleh ALP akan menghasilkan ANP, PO4 dan p-nitrofenol. Kemudian nilai absorbansi

dibaca setelah 1 menit dijalankan stopwatch. Pembacaan diulang pada menit 1, 2, dan 3. 3. Albumin Pemeriksaan fungsi hati yang meliputi pemeriksaan albumin diawali dengan pengambilan spesimen yaitu serum yang diperoleh dari hasil sentrifus 3 mL darah yang diperoleh dari teknik flebotomi. Spesimen tersebut kemudian diperiksa nilai enzim ALP nya dengan menggunakan Humalyzer dimana sampel terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kuvet sebanyak 10 L dan dicampur dengan reagen warna 1000 L dan diinkubasikan selama 5 menit pada suhu 20-25oC. Reaksi didasarkan pada prinsip yaitu albumin dengan brom kresol hijau dalam buffer sitrat membentuk warna kompleks sebanding dengan konsentrasi albumin dalam sampel yang dibaca setelah 1 menit dijalankan stopwatch (ukur sampel dan standar terhadap blanko dalam 30 menit). 4. Bilirubin Pemeriksaan fungsi hati yang meliputi pemeriksaan bilirubin direct dan total diawali dengan pengambilan spesimen yaitu serum yang diperoleh dari hasil sentrifus 3 mL darah yang diperoleh dari teknik flebotomi. Spesimen tersebut kemudian diperiksa nilai bilirubin direct dan totalnya dengan menggunakan Humalyzer dimana untuk pengukuran bilirubin total sampel terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kuvet sebanyak 1000 L dan dicampur reagen T-nitrit 1 tetes (40 L) dan diinkubasikan selama 5 menit pada suhu 37 oC, sedangkan untuk

pengukuran bilirubin directnya, sampel dimasukkan dalam kuvet sebanyak 1000 L dan dicampur dengan penambahan D-nitrit sebanyak 1 tetes dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 25 oC. Reaksi didasarkan pada prinsip bilirubin bereaksi dengan diazotased sulphanilic acid (DSA) membentuk warna merah azo. Serapan pada 546 nm sebanding dengan konsentrasi bilirubin dalam sampel. Absorbansi diukur pada menit pertama setelah stopwatch dijalankan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Fungsi dan Anatomi Hati Hati adalah organ metabolik terbesar dan terpenting di tubuh. Organ ini penting bagi sistem pencernaan untuk sekresi garam empedu, tetapi hati juga melakukan berbagai fungsi lain, mencakup hal-hal berikut: 1. Pengolahan metabolik kategori nutrien utama (karbohidrat, lemak, protein) setelah penyerapan mereka dari saluran pencernaan 2. Detoksifikasi atau degradasi zat-zat sisa dan hormon serta obat dan senyawa asing lainnya 3. Sintesis berbagai protein plasma, mencakup protein-protein yang penting untuk pembekuan darah serta untuk mengangkut hormon tiroid, steroid, dan kolesterol dalam darah 4. Penyimpanan glikogen, lemak, besi, tembaga, dan banyak vitamin 5. Pengaktifan vitamin D, yang dilaksanakan oleh hati bersama dengan ginjal 6. Pengeluaran bakteri dan sel darah merah yang usang berkat adanya makrofag residen 7. Ekskresi kolesterol dan bilirubin yang terakhir adalah produk

penguraian yang berasal dari destruksi sel darah merah yang sudah usang. Hati tersusun menjadi unit-unit fungsional yang dikenal sebagai lobulus, yaitu susunan heksagonal jaringan yang mengelilingi sebuah

vena sentral, bersudut enam dengan lubang mewakili vena sentral. Di tepi luar setiap potongan lobulus terdapat tiga pembuluh: cabang arteri hepatica, cabang vena porta, dan duktus biliaris. Darah dari cabangcabang arteri hepatica dan vena porta tersebut mengalir dari perifer lobulus ke dalam ruang kapiler yang melebar yang disebut sinusoid. Sinusoid ini terdapat di antara barisan sel-sel hati ke vena sentral. Sel-sel Kupffer melapisi bagian dalam sinusoid dan menghancurkan sel darah merah yang usang serta bakteri yang lewat bersama darah. Hepatosit tersusun di antara sinusoid-sinusoid dalam lempeng yang tebalnya dua lapis sel, sehingga setiap tepi lateral berhadapan dengan darah sinusoid. Vena sentral dari semua lobulus hati menyatu untuk membentuk vena hepatica, yang menyalurkan darah keluar dari hati. Terdapat sebuah saluran tipis penyalur empedu, kanalikulus biliaris, yang berjalan di antara sel-sel di dalam setiap lempeng hati. Hepatosit secara terus menerus mengeluarkan empedu ke dalam saluran tipis tersebut yang

mengangkutnya ke duktus biliaris di perifer lobulus. Duktus biliaris dari berbagai lobulus menyatu untuk akhirnya membentuk duktus biliaris komunis yang menyalurkan empedu dari hati ke duodenum. Setiap hepatosit berkontak dengan sinusoid di satu sisi dengan kanalikulus biliaris di sisi lain. (1:565-566).

Bilirubin adalah produk sisa yang dieksresikan di empedu Bilurubin, konstituen utama empedu, sama sekali tidak berperan dalam pencernaan, tetapi merupakan salah satu dari beberapa produk sisa yang diekskresikan dalam empedu. Bilirubin adalah pigmen empedu utama yang berasal dari penguraian sel darah merah yang usang. Sel darah merah yang usang dikeluarkan dari darah oleh makrofag yang melapisi sinusoid hati dan yang terletak di bagian tubuh lain. Bilirubin adalah produk akhir yang dihasilkan oleh penguraian bagian heme (mengandung besi) dari hemoglobin yang terkandung di dalam sel-sel darah marah tersebut. Bilirubin ini diestraksi dari darah oleh hepatosit dan secara aktif diekstraksi dari darah oleh hepatosit dan secara aktif diekskresikan ke dalam empedu.(1:568) Bilirubin adalah pigmen kuning yang menyebabkan empedu berwarna kuning. Di dalam saluran pencernaan, pigmen ini mengalami modifikasi oleh enzim-enzim bakteri yang kemudian menyebabkan tinja

berwarna coklat khas. Dalam keadaan normal, sejumlah kecil bilirubin direabsorpsi oleh usus untuk kembali ke darah, dan akhirnya menjadi penentu utama warna kuning pada air kemih. Ginjal baru mampu mengeksresikan bilirubin apabila zat ini telah dimodifikasi sewaktu melalui hati dan usus. (1:568). Apabila jumlah bilirubin yang dibentuk lebih cepat daripada yang dapat dieksresikan., terjadi penimbunan bilirubin di tubuh yang mengalami kelainan ini tampak kuning, warna ini terutama jelas di bagian putih mata. Ikterus dapat ditimbulkan oleh tiga mekanisme: 1. Ikterus prahepatik atau hemolitik disebabkan oleh penguraian

(hemolisis) berlebihan sel darah merah, sehingga hati menerima lebih banyak bilirubin daripada kemampuan hati mengekskresikan 2. Ikterus hepatik terjadi jika hati sakit dan tidak mampu menangani beban normal bilirubin 3. Ikterus pascahepatik atau obstruktif terjadi jika duktus biliaris tersumbat, misalnya oleh batu empedu, sehingga bilirubin tidak dapat dieliminasi melalui feses. (1:568). Metabolisme Normal Bilirubin Bilirubin berasal dari hasil pemecahan hemoglobin oleh sel retikuloendotelial, cincin heme setelah dibebaskan dari besi dan globin diubah menjadi biliverdin yang berwarna hijau. Biliverdin berubah menjadi bilirubin yang berwarna kuning. Bilirubin ini dikombinasikan dengan albumin membentuk kompleks protein-pigmen dan ditransportasikan ke

dalam sel hati. Bentuk bilirubin ini sebagai bilirubin yang belum dikonjugasi atau bilirubin indirek berdasar reaksi diazo dari Van den Berg, tidak larut dalam air dan tidak dikeluarkan melalui urin. Didalam sel inti hati albumin dipisahkan, bilirubin dikonjugasikan dengan asam glukoronik yang larut dalam air dan dikeluarkan ke saluran empedu. Pada reaksi diazo Van den Berg memberikan reaksi langsung sehingga disebut bilirubin direk. (2). Bilirubin indirek yang berlebihan akibat pemecahan sel darah merah yang terlalu banyak, kekurangmampuan sel hati untuk melakukan konjugasi akibat penyakit hati, terjadinya refluks bilirubin direk dari saluran empedu ke dalam darah karena adanya hambatan aliran empedu menyebabkan tingginya kadar bilirubin didalam darah. Keadaan ini disebut hiperbilirubinemia dengan manifestasi klinis berupa ikterus.(2) Penyebab penyakit hati Beberapa penyebab penyakit hati antara lain: 1. Infeksi virus hepatitis, dapat ditularkan melalui selaput mukosa, hubungan seksual atau darah (parenteral). 2. Zat-zat toksik, seperti alkohol atau obat-obat tertentu. 3. Genetik atau keturunan, seperti hemochromatosis. 4. Gangguan imunologis, seperti hepatitis autoimun, yang ditimbulkan

karena adanya perlawanan sistem pertahanan tubuh terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Pada hepatitis autoimun, terjadi perlawanan terhadap sel-sel hati yang berakibat timbulnya peradangan kronis.

5. Kanker, seperti Hepatocellular Carcinoma, dapat disebabkan oleh senyawa karsinogenik antara lain aflatoksin, polivinil klorida (bahan pembuat plastik), virus, dan lain-lain. Hepatitis B dan C maupun sirosis hati juga dapat berkembang menjadi kanker hati. (3) Klasifikasi Penyakit Hati Penyakit hati dibedakan menjadi beberapa jenis, berikut beberapa macam penyakit hati yang sering ditemukan, yaitu: 1. Hepatitis Istilah hepatitis dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati. Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis terdiri dari beberapa jenis: hepatitis A, B, C, D, E, F, dan G. Hepatitis A, B, dan C adalah yang paling banyak ditemukan. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut (hepatitis A), kronik (hepatitis B dan C) ataupun kemudian menjadi kanker hati (hepatitis B dan C).

Tabel 1 Memperlihatkan perbandingan virus hepatitis A, B, C, D, dan E

2. Sirosis Hati Setelah terjadi peradangan dan bengkak, hati mencoba

memperbaiki dengan membentuk bekas luka atau parut kecil. Parut ini disebut fibrosis yang membuat hati lebih sulit melakukan fungsinya. Sewaktu kerusakan berjalan, semakin banyak parut terbentuk dan mulai menyatu, dalam tahap selanjutnya disebut sirosis. Pada sirosis, area hati yang rusak dapat menjadi permanen dan menjadi sikatriks. Darah tidak dapat mengalir dengan baik pada jaringan hati yang rusak dan hati mulai menciut, serta menjadi keras. Sirosis hati dapat terjadi karena virus Hepatitis B dan C yang berkelanjutan, alkohol, perlemakan hati atau penyakit lain yang

menyebabkan sumbatan saluran empedu.

Sirosis tidak dapat disembuhkan, pengobatan dilakukan untuk mengobati komplikasi yang terjadi seperti muntah dan keluar darah pada feses, mata kuning, serta koma hepatikum. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya sirosis hati adalah pemeriksaan enzim SGOT-SGPT, waktu protrombin dan protein (Albumin-Globulin) Elektroforesis (rasio Albumin-Globulin terbalik). 3. Kanker Hati Kanker hati yang banyak terjadi adalah Hepatocellular Carcinoma (HCC). HCC merupakan komplikasi akhir yang serius dari hepatitis kronis, terutama sirosis yang terjadi karena yang virus dilakukan hepatitis untuk B<C dan

hemochromatosis.

Pemeriksaan

mendeteksi

terjadinya kanker hati adalah AFP dan PIVKA II. 4. Perlemakan hati Perlemakan hati terjadi bila penimbunan lemak melebihi 5% dari berat hati atau mengenai lebih dari separuh jaringan sel hati. Perlemakan hati ini sering berpotensi menjadi penyebab kerusakan hati dan sirosis hati. Kelainan ini dapat timbul karena mengkonsumsi alkohol berlebih, disebut ASH (Alkoholic Steatohepatitis), maupun bukan karena alkohol, disebut NASH (Non Alkoholic Steatohepatitis). Pemeriksaan yang dilakukan pada kasus perlemakan hati adalah terhadap enzim SGOT, SGPT, dan Alkali Fosfatase.

5. Kolestasis dan Jaundice Kolestasis merupakan keadaan akibat kegagalan produksi dan atau pengeluaran empedu. Lamanya menderita kolestasis dapat menyebabkan gagalnya penyerapan lemak dan vitamin A, D, E, dan K oleh usus, juga adanya penumpukan asam empedu, bilirubin, dan kolesterol di hati. Adanya kelebihan bilirubin dalam sirkulasi darah dan penumpukan pigmen empedu pada kulit, membran mukosa dan bola mata (pada lapisan sclera) disebut jaundice. Pada keadaan ini kulit penderita terlihat kuning, warna urin menjadi lebih gelap sedangkan feses lebih terang. Biasanya gejala tersebut timbul bila kadar bilirubin total dalam darah melebihi 3 mg/dl. Pemeriksaan yang dilakukan untuk kolestatis dan jaundice yaitu terhadap Alkali Fosfatase, Gamma GT, Bilirubin Total, dan Bilirubin Direk. 6. Hemochromatosis Hemochromatosis merupakan kelainan metabolisme besi yang ditandai dengan adanya pengendapan besi secara berlebihan di dalam jaringan. Penyakit ini bersifat genetik atau turunan. Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi terjadinya hemochromatosis adalah pemeriksaan terhadap Transferin dan Ferritin. 7. Abses Hati Abses hati dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau amoeba. Kondisi ini disebabkan karena bakteri berkembang biak dengan cepat, menimbulkan gejala demam dan menggigil/abses yang diakibatkan

karena amubiasis prosesnya berkembang lebih lambat. Abses hati, khususnya yang disebabkan karena bakteri, sering kali berakibat fatal. (3). Tanda-Tanda dan Gejala Klinis Adapun gejala yang menandai adanya penyakit hati adalah sebagai berikut: a. Kulit atau sclera mata berwarna kuning (ikterus) b. Badan terasa lelah atau lemah c. Gejala-gejala menyerupai flu, misalnya demam, rasa nyeri pada seluruh tubuh d. Kehilangan nafsu makan, atau tidak dapat makan atau minum e. Mual dan muntah f. Gangguan daya pengecapan dan penghiduan g. Nyeri abdomen, yang dapat disertai dengan perdarahan usus h. Tungkai dan abdomen membengkak i. Di bawah permukaan kulit tampak pembuluh-pembuluh darah kecil, merah dan membentuk formasi laba-laba (spider naevy), telapak tangan memerah (palmar erythema), terdapat flapping tremor, dan kulit mudah memar. Tanda-tanda tersebut adalah tanda mungkin adanya sirosis hati j. Darah keluar melalui muntah dan rectum (hematemesis-melena) k. Gangguan mental, biasanya pada stadium lanjut (encephalopathy hepatic)

l. Demam yang persisten, menggigil dan berat badan menurun. Ketiga gejala ini mungkin menandakan adanya abses hati. (3). Uji Fungsi Hati (UFH) Uji Fungsi Hati merupakan suatu kumpulan analisis laboratorium yang berkaitan dengan hati, baik fungsi hati maupun suatu kondisi hati yang sebenarnya buka fungsi hati. Analit atau zat yang diperikasa dapat berupa produk metabolisme sel hati (hepatosit), enzim, protein lain, antigen virus, DNA atau RNA virus maupun antibodi sebagai hasil respons imun humoral tubuh.(4). Jenis-Jenis UFH Berdasarkan fungsi hati maka dikenal UFH untuk masing-masing fungsi tersebut. Untuk uji fungsi sintesis dikenal kadar albumin serum, elektroforesis protein serum, aktivitas enzim kolinesterase

(cholinestersase), dan uji masa protrombim dengan respons terhadap vitamin K. Bila ada gangguan fungsi sintesis sel hati maka kadar albumin serum akan menurun (hipoalbuminemia), pada elektroforesis dapat dilihat fraksi albumin menurun sehingga rasio A/G menjadi terbalik (dari albumin yang lebih banyak menjadi globulin yang lebih banyak, juga dapat dilihat apakah terdapat pola hiperglobulinemia poliklonal); aktivitas enzim kolinesterase menurun, faktor-faktor koagulasi menurun terutama yang melalui jalur ektrinsik sehingga masa protrombin akan memanjang, yang tidak dapat menjadi normal walaupun diberikan vitamin K dengan suntikan.

Untuk uji fungsi ekskresi dikenal kadar bilirubin serum, dibedakan bilirubin total, bilirubin direk (conjugated), dan bilirubin indirek

(unconjugated), bilirubin urin, serta produk turunannya seperti urobilinogen dan urobilin dalam urin, sterkolbilinogen dan stekobilin dalam tinja, serta kadar asam empedu serum. Bila ada gangguan fungsi ekskresi maka kadar bilirubin total serum meningkat terutama bilirubin direk, bilirubin urine mungkin positif, sedangkan urobilinogen dan urobilin serta sterkobilinogen dan sterkobilin mungkin menurun sampai tidak terdeteksi. Kadar asam empedu meningkat, lebih jelas pada pasca makan (postprandial). Untuk fungsi detoksifikasi ada kadar amoniak. Bila ada gangguan fungsi maka kadar amoniak meningkat karena kegagalan mengubahnya menjadi ureum. Kadar yang tinggi mungkin menyebabkan gangguan kesadaran, yaitu ensefalopati atau koma hepatik. Terdapat pula pengukuran aktivitas beberapa enzim. Dalam hal ini enzim-enzim tersebut tidak diperiksa fungsinya dalam proses metabolisme di hati tetapi aktivitasnya dalam darah (serum) dapat menunjukkan adanya kelainan hati tertentu. Aktivitas enzim alanin transaminase (ALT) atau serum glutamate pyruvate transferase (SGPT) dan enzim aspartate transaminase (AST) atau serum glutamate oxaloacetate transferase (SGOT) meningkat bila ada perubahan permeabilitas atau kerusakan dinding sel hati, sebagai penanda gangguan integritas sel hati

(hepatoselular). Aktivitas enzim fosfatase alkali (alkaline phosphatase = ALP) dan -glutamil transferase (GGT) meningkat pada kolestasis. (4). Tabel 2. Jenis Uji Fungsi Hati dan manfaat Diagnostiknya. (4).

Uji laboratorium untuk fungsi hati biasanya tidak menentukan etiologi pasti penyakit hati. Pemeriksaan-pemeriksaan ini hanya memberi petunjuk apakah hati normal atau sakit, dan apabila sakit, seberapa luas dan berat penyakitnya. Bersama-sama dengan riwayat dan pemeriksaan fisik, uji fungsi hati kadang-kadang dapat menunjukan kemungkinan penyakit hati yang spesifik. (4). Uji fungsi hati lebih mudah dipahami dan diinterpretasikan kalau kita meninjaunya menurut gangguan patofisiologik yang menyebabkan hasil uji tersebut menjadi abnormal. Ada empat pertanyaan patofisiologik yang bermanfaat untuk dipertanyakan: (4) 1. Apakah ada cedera sel hati yang berlangsung terus menerus, dan seberapa beratnya? 2. Adakah hiperbilirubinemia dan atau kolestasis? 3. Apakah fungsi-fungsi metabolik hati terganggu?

4. Apakah proses penyakitnya akut atau kronis? Pertanyaan 1 (cedera sel hati?) dapat dijawab dengan uji-uji serum sebagai berikut : a. Gamma Glutamil Transferase (GGT) b. Glutamat oxaloacetate Transaminase (SGOT) atau Aspartat Amino Transferase (AST) c. Glutamat Piruvat Transferase (SGPT) atau Alanin Amino Transferase (ALT) d. Laktat dehidrogenase (LDH), bukan uji yang sangat sensititf atau spesifik untuk penyakit hati. Sekurang-kurangnya ada tiga situasi yang uji SGPT nya dapat memberikan informasi yang tidak dapat diperoleh hanya dengan uji SGOT saja: 1. Pada penyakit jantung, peningkatan SGPT sensitif untuk gagal jantung. Kadar transaminase (SGOT dan SGPT) dapat cukup tinggi sehingga menyebabkan keracunan dengan hepatitis virus dan disebabkan oleh iskemia dan nekrosis sentrilobuler. 2. Pada hepatitis virus, rasio SGPT-SGOT lebih besar dari 1. Rasio ini kurang dari 1 pada hepatitis alkoholok 3. Pada hepatitis virus, peningkatan SGPT lebih tinggi dan menetap lebih lama dibanding peningkatan SGOT Pada pertanyaan 2 (Hiperbilirubinemia atau Kolestasis?), hiperbilirubinemia berarti peningkatan kadar bilirubin, sedangkan

kolestasis adalah terhentinya aliran empedu. Pada pertanyaaan ini kita menggunakan kolestasis untuk merujuk peningkatan kadar asam empedu serum, alkali fosfatase (ALP), GGT, dan 5-nukleotidase dengan atau tanpa hiperbilirubinemia. Meskipun tidak biasa diukur, peningkatan kadar asam empedu selalu ada pada kolestasis. Pertanyaan 2 dapat dijawab dengan menggunakan uji-uji berikut: 1. ALP 2. GGT 3. 5-Nukleotidase 4. Asam empedu 5. Bilirubin total 6. Bilirubin direk Pengujian GGT serum cenderung kurang digunakan. Pengujian ini mempunyai manfaat-manfaat sebagai berikut: a. Merupakan indikator yang sensitif untik mendeteksi kolestasis b. Merupakan indikator yang sensitif untuk hati c. Merupakan uji saring yang sensitif untik kecanduan alkohol d. Bermanfaat untuk membedakan peningkatan kadar ALP serum pada penyakit hati dari peningkatannya pada penyakit tulang e. Lebih spesifik disbanding kadar ALP serum atau SGOT untuk penyakit hati. Serum orang sehat hampir tidak mengandung bilirubin

terkonjugasi. Pengukuran kadar bilirubin terkonjugasi serum secara rutin memberikan suatu batas rujukan tertinggi (yaitu 0,2 mg/100 mL).

Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dalam serum, meskipun kadar bilirubin totalnya normal, merupakan indikator yang sensitif untuk penyakit hati. Pada dasarnya, kalau ALP hati dalam serum atau bilirubin direk atau keduanya meningkat karena kolestasis, GGT serum, dan asam-asam empedu akan meningkat. Pertanyaan 3 (Gangguan metabolik?) dapat dijawab dengan ujiuji serum dan plasma sebagai berikut: 1. Protein total 2. Albumin 3. Elektroforesis Protein Serum (SPE) 4. Masa Protrombin (PT) 5. Masa Tromboplastin Parsial (PTT) 6. Glukosa 7. Kolinesteras 8. Nitrogen Urea Serum (SUN) 9. Amonia Albumin kemampuan serum, hati untuk kolinesterase, mensintesis PT, dan PTT, mengukur mengukur

protein.

Glukosa

kemampuannya untuk menyimpan glikogen, sementara SUN dan ammonia mengukur fungsi ekskresi hati (peningkatan glutamine cairan serebrospinal mempunyai arti yang sama dengan peningkatan ammonia plasma)

Pertanyaan 4 (Penyakit akut versus kronik?) dapat dijawab dengan uji-uji serum berikut: 1. Globulin (protein total minus albumin) 2. SPE 3. Pengukuran kuantitatif masing-masing immunoglobulin Penyakit kronis sering ditandai dengan meningkatnya kadar gammaglobulin dan penurunan kadar albumin. Memanjangnya PT dan PTT dapat juga terjadi pada penyakit kronis. Persiapan Pasien Kecuali untuk uji asam empedu 2 jam postprandial, tidak ada persiapan khusus yang diperlukan untuk uji fungsi hati. Puasa yang terlalu lama (24-48 jam) dapat meningkatkan kadar bilirubin serum 1-2 kali. Pengumpulan dan Penanganan Spesimen Satu tabung darah beku sudah cukup untuk kebanyakan uji fungsi hati (yaitu uji-uji yang menggunakan serum). Darah yang diambil dalam sebuah tabung berisi natrium sitrat cukup untuk PT dan PTT (yaitu uji-uji yang menggunakan plasma). Tabung hendaknnya diisi penuh, dicampur dengan baik dan dikirim ke laboratorium secepatnya. Kalau hematokrit pasien melebihi 70%, darah untuk penetapan PT hendaknya diambil dalam sebuah tabung berisi 15-20% lebih sedikit antikoagulan dibanding normal. Spesimen-spesimen yang menunjukkan hemolisis hendaknya tidak digunakan untuk pengukuran-pengukuran SGOT dan SGPT serum karena

aktivitas kedua enzim ini dalam eritrosit adalah masing-masing 7-15 kali lebih tinggi, dibanding dalam serum. Serum untuk pengukuran bilirubin harus bebas dari lipemia dan hemolisis serta harus dilindungi dari cahaya. (5:232-234). Tabel 3. Nilai Aspartate Aminotransferase (AST, SGOT) Serum. (6)

Tabel 4. Nilai Alanine Aminotransferase (ALT, SGPT) Serum. (6)

Tabel 5. Nilai Bilirubin (Total, Direct/Conjugated dan Indirect/Unconjugated) Serum. (6)

Tabel 6. Nilai Gamma-Glutamyltranspeptidase (GGTP)Blood. (6)

Tabel 7. Nilai AlbuminSerum. (6)

Tabel 8. Nilai Gamma Globulin Plasma. (6)

Tabel 9. Nilai Alkaline Phosphatase Serum. (6)

Tabel 10. Nilai Rujukan Berbagai Uji Fungsi Hati. (7)

BAB III METODE PERCOBAAN

III.1 Alat Percobaan Alatalat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah jarum, spoit, tourniquet, kuvet, pipet mikro, tabung sentrifuge, sentrifuge, fotometer, dan Humalyzer Junior. III.2 Bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah asam sulfanilat, asam hidroklorit, kafein, natrium benzoat, natrium nitrit (pengukuran bilirubin); buffer sitrat (pH 4,2), bromkresol green, albumin, natrium azida (pengukuran albumin); 2-amino-2-metil-1-propanol (pH 10,4), magnesium asetat, zink sulfat, natrium azida, p-nitrophenyl phospat, serum (pengukuran ALP). III.3 Cara Kerja A. Pengukuran SGOT/SGPT 1. Pengambilan Spesimen - Alat dan bahan disiapkan - Bagian pengambilan darah dibersihkan dengan alkohol 70% - Tourniquet dipasang pada bagian atas lengan (probandus diminta mengepal dan membuka tangannya berkali-kali) - Darah diambil melalui vena mediana cubital - Tourniquet dilepaskan secara perlahan-lahan dan diambil darah sesuai jumlah yang diinginkan

- Darah dimasukkan disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm, serumnya diambil 2. Analisis Spesimen - Reagen dan kuvet dihangatkan pada suhu yang dikehendaki (suhu 37C dijaga konstan selama pemeriksaan) - Spesimen sebanyak 100 l dimasukkan ke dalam kuvet dengan mikropipet - Reagen buffer ditambahkan sebanyak 1000 l, dicampur dalam kuvet - Diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37C - Reagen substrat ditambahkan sebanyak 250 l, dicampur - Absorbansi dibaca setelah 1 menit, dan hasil SGPT/ SGOT dicatat B. Pengukuran bilirubin 1. Bilirubin total - Disiapkan alat dan bahan - Diatur kondisi pemeriksaan suhu 20-25C - Dipipet ke dalam kuvet reagen bilirubin total pada blanko sampel 1000 l dan sampel 1000 l. - Dipipet ke dalam kuvet reagen T-nitrit pada sampel 1 tetes (40l). - Dicampur dengan baik dan diinkubasi selama 5 menit. - Dipipet ke dalam kuvet sampel 100 l dan blanko sampel 100 l. - Dicampur dengan baik dan diinkubasi pada suhu kamar 10-30 menit.

- Diukur absorbansi sampel terhadap blanko sampel (A546) 2. Bilirubin direct - Disiapkan alat dan bahan - Diatur kondisi pemeriksaan suhu 20-25C - Dipipet ke dalam kuvet reagen bilirubin direct pada blanko sampel 1000 l dan sampel 1000 l. - Dipipet ke dalam kuvet reagen D-nitrit pada sampel 1 tetes (40l). - Dicampur dengan baik dan ditambahkan sampel dalam 2 menit. - Dipipet ke dalam kuvet sampel 100 l dan blanko sampel 100 l. - Dicampur dengan baik dan diinkubasi pada suhu kamar 5 menit tepat. - Diukur absorbansi sampel terhadap blanko sampel (A546) C. Pengukuran ALP - Disiapkan alat dan bahan - Diatur kondisi pemeriksaan dengan celah optic 1cm, suhu 30C atau 37C, panjang gelombang Hg 405 nm, 400-420 nm dan pengukuran terhadap udara (kenaikan absorbansi) - Dihangatkan reagen dan kuvet sampai pada suhu yangb dikehendaki dan suhu dijaga konstan (0,5C) selama tes - Dilakukan percobaan dengan metode start reagen dimana dipipet kedalam kuvet sampel 20 l dan larutan buffer 1000 l. - Dicampur dan diinkubasi selama 1 menit pada suhu 30C atau 37C - Kemudian dipipet ke dalam kuvet substrat 250 l

- Dicampur ke dalam sampel dan larutan buffer tadi yang diinkubasi - Dibaca absorbansi setelah 1 menit dan dijalankan stopwatch, baca lagi absorban tepat setelah 1,2, dan 3 menit. - Dilakukan percobaan dengan metode starf sampel dimana dipipet ke dalam kuvet sampel 20 l dan reagen kerja 1000 l. - Dicampur dan dibaca absorbansi setelah 1 menit dan dijalankan stopwatch. Baca lagi absorbansi tepat setelah 1, 2, 3 menit. D. Pengukuran albumin - Disiapkan alat dan bahan - Diatur kondisi pemeriksaan dengan suhu 20-25 C, setelah optic 1cm, panjang gelombang Hg 546 nm. - Dipipet ke dalam kuvet sampel atau standard 10 l - Dipipet ke dalam kuvet reagen warna 1000 l dan reagen blanko 1000 l - Dicampur dengan baik - Diinkubasi selama 5 menit pada 20-25C - Diukur absorbansi sampel dan standard terhadap reagen blanko dalam 30 menit.

BAB V PEMBAHASAN Hati merupakan organ padat yang terbesar yang letaknya di rongga perut di bagian kanan atas. Organ ini mempunyai peran yang penting karena merupkan merupakan regulator dari semua metabolisme

karbohidrat, protein, dan lemak. Tempat sintesa dari berbagai komponen protein, pebekuan darah, kolesterol, ureum, dan zat-zat lain yang sangat vital. Selain itu juga merupakan tempat pembentukan dan penyaluran asam empedu serta pusat pendetoksifikasi racun dan penghancuran (degradasi) hormon-hormon steroid seperti estrogen. Karena faal hati dalam tubuh mempunyai multifungsi maka tes faal hatipun beraneka ragam sesuai dengan apa yang hendak kita nilai.Pemeriksaan fungsi hati dilakukan terhadap contoh darah. Sebagian besar pemeriksaan bertujuan untuk mengukur kadar enzim atau bahanbahan lainnya dalam darah, sebagai cara untuk mendiagnosis kelainan di hati. Pemeriksaan yang dilakukan kali ini adalah pengukuran terhadap ALP, SGPT, SGOT, dan bilirubin. Pengerjaan dilakukan dengan pengambilan spesimen darah

sebanyak 3 cc kepada probandus. Spesimen darah kemudian disentrifuse selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Spesimen darah yang sudah terpisah dengan serumnya kemudian diambil dan ditambahkan dengan reagen untuk masing-masing pemeriksaan.

Alkalin Fosfatase (ALP) adalah enzim yang dihasilkan di dalam hati, tulang & plasenta; yang dilepaskan ke hati bila terjadi cedera atau pada aktivitas normal tertentu, misalnya pertumbuhan tulang atau kehamilan. Pengerjaannya adalah dengan mengambil 20 l serum darah dan ditambahkan 1000 l larutan buffer (R1) dengan mengunakan pipet mikron lalu dihomogenkan dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu kamar. Setelah diinkubasi spesimen serum ditambahkan substrat 250 l (R2) kemudian dibaca absorbansinya. Pada pemeriksaan ini didapatkan hasil 223 U/B pada menit ke-I untuk spesiman kelompok 1, 2, 3, dan 4 masingmasing adalah 207 U/B, 185 U/B, 197 U/B. Dari hasil penelusuran pustaka diketahui bahwa nilai tersebut melebihi kadar normal yang mana nilai normalnya adalah 2-5 U/B. Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) atau Aspartat Transaminase (AST) adalah enzim yg dilepaskan ke dalam darah jika hati, jantung, otot atau otak mengalami luka. Pada pemeriksaan ini didapatkan hasil untuk spesiman kelompok 1, 2, 3, dan 4 masing-masing adalah 13,9 g U/mL, 15,9 g U/mL, 17,4 g U/mL, dan 19,7 g U/mL. Dari hasil penelusuran pustaka diketahui bahwa nilai tersebut normalnya adalah 540 g U/mL. Serum Glutamic Piruvic Transaminase (SGPT) atau Alanin

Transaminase (ALT) adalah enzim yang dihasilkan di hati, yang dilepaskan ke dalam darah jika sel hati mengalami luka. Pada pemeriksaan ini didapatkan hasil untuk spesiman kelompok 1, 2, 3, dan 4

masing-masing adalah 5,2 U/ mL. Dari hasil penelusuran pustaka diketahui bahwa nilai tersebut normal yang mana nilai normalnya adalah 5-35 U/mL. Dari hasil yang didapatkan adapun kesalahan diantaranya adalah: 1. Human of error 2. Kesalahan saat pengambilan yang menyebabkan terjadinya hemolisis 3. Waktu inkubasi yang terlalu lama memepengaruhi hasil (out of range) 4. Alat yang belum dikalibrasi yang terjadi

DAFTAR PUSTAKA

1. Sherwood, Lauralee. 2002. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC 2. Katzung, Betram G. 2007. Basic and Clinical Pharmacology 10th Ed. New York: Mc Graw-Hill Companies 3. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hati. Jakarta: Departemen Kesehatan 4. Anonim. 2010. Pemeriksaan Laboratorium Uji Fungsi Hati. Diakses dari http://www.abclab.co.id. Diakses tanggal 15 Maret 2012 5. Speicher, Carl E. 1996. Pemilihan Uji Laboratorium Yang Efektif. Jakarta: EGC 6. Chernecky, Cynthia C. 2008. Laboratory Test and Diagnostic Procedures. Philadelphia: Saunders, An Imprint of Elsevier 7. Sylvia, A Price. 2002. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Penerbit Buku Kedokteran, EGC: Jakarta