Anda di halaman 1dari 9

I.

PENDAHULUAN Prinsip dasar negara demokrasi selalu menuntut dan mengharuskan adanya

pemencaran kekuasaan, agar kekuasaan tak terpusat di satu tangan. Kekuasaan yang berpusat di satu tangan bertentangan dengan prinsip demokrasi karena membuka peluang terjadinya kesewenang-wenangan dan korupsi. Negara kesatuan adalah negara yang kekuasaannya dipencar ke daerah-daerah melalui pemberian otonomi atau pemberian wewenang kepada daerah-daerah untuk mengurus dan mengatur rumah tangga mereka sendiri melalui desentralisasi atau melalui dekonsentrasi. Daerah-daerah tersebut mendapat hak yang datang dari, atau diberikan oleh pemerintah pusat berdasarkan undang-undang dan berdasarkan konstitusi. Pada era reformasi tahun 1998, politik hukum otonomi daerah Indonesia, yang di masa orde baru tertuang dalam UU No. 5 Tahun 1974, kembali dipersoalkan karena dianggap sebagai instrument otoritarisme pemerintah pusat. UU No. 5 Tahun 1974 kemudian diganti dengan UU No. 22 Tahun 1999 yang kembali meletakkan prinsip otonomi luas dalam hubungan antara pusat dan daerah. Lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 merupakan wujud dari paradigma yang dianut pada era reformasi yang berbeda dengan paradigma di masa orde baru. Paradigma orde baru adalah paradigma pembangunan ekonomi yang menekankan stabilitas, intregrasi dan pengendalian secara sentralistik melalui perencanaan yang terpusat. Hal ini kemudian menimbulkan penyeragaman kebijakan yang mematikan kreativitas daerah. Oleh sebab itu, paradigma yang dianut oleh UU tentang pemerintah daerah haruslah diubah dari paradigma pembangunqn ke paradigma pelayanan dan pemberdayaan dengan pola kemitraan yang desentralistik. UU No. 22 Tahun 1999 ternyata juga dirasa kurang memuaskan dan dipandang harus diubah lagi. Maka lahirlah kemudian UU No. 32 Tahun 2004. Namun demikian, paradigma UU ini secara umum tetap relevan dengan paradigma UU No. 22 tahun 1999 sebagaimana dikemukakan diatas. Di era otonomi daerah ini kedudukan Peraturan Daerah (Perda) menjadi sangat kuat, bukan saja karena otonomi kelembagaan yang dapat membentuknya, tetapi juga karena Perda dapat berlaku begitu diundangkan di dalam Lembaga Daerah. Perda sekarang dapat berlaku tanpa pengawasan prefentif seperti dulu. Hal ini akhirnya berdampak pada

banyaknya Peraturan Daerah yang memiliki muatan materi melampaui batas kewenangan dari Pemerintah Daerah itu sendiri. Banyak ditetapkannya Peraturan Daerah yang bernuansa agama adalah salah satu bukti pelanggaran yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan melampaui batas kewenangan yang seharusnya masalah agama merupakan kewenangan dari Pemerintah Pusat. Peraturan daerah berbasis agama sangat tidak sejalan dengan sistem hukum Indonesia, dimana kesatuan hukum yang dibangun untuk mencapai tujuan negara seharusnya selalu bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Banyaknya Peraturan Daerah berbasis agama yang berlaku di Indonesia memberikan ancaman terhadap kerangka dasar/pijakan politik hukum Indonesia karena substansi yang terkandung di dalam Peraturan Daerah berbasis agama menciptakan in-toleransi hidup beragama yang berdasarkan pada keadaban dan kemanusiaan. II. PERMASALAHAN Berdasarkan pendahuluan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimana mewujudkan sistem hukum Indonesia yang universal dan netral dalam era otonomi daerah? III. PEMBAHASAN Tujuan negara Indonesia secara definitif tertuang di dakam alinea keempat Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi : Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, Memajukan kesejahteraan umum, Mencerdaskan kehidupan bangsa, Ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan Keadilan Sosial. Tujuan negara tersebut harus diraih oleh negara sebagai organisasi tertinggi bangsa Indonesia yang penyelenggaraannya harus didasarkan pada Pancasila. Dari sini dapat dipahami bahwa Pancasila merupakan pedoman utama kegiatan penyelenggaraan negara yang didasarkan atas prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradap, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang

dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika hukum diartikan sebagai alat untuk meraih cita-cita dan mencapai tujuan negara maka politik hukum diartikan sebagai arah yang harus ditempuh dalam pembuatan dan penegakkan hukum guna mencapai cita-cita dan tujuan negara tersebut. Dengan kata lain politik hukum adalah upaya menjadikan hukum sebagai proses pencapaian cita-cita dan tujuan. Dengan arti yang demikian, maka politik hukum nasional harus berpijak pada empat prinsip cita hukum (rechtside) Indonesia (Pancasila), yaitu :
1. Melindungi semua unsur bangsa demi integrasi atau keutuhan bangsa.

2. Mewujudkan keadilan sosial dalam ekonomi dan kemasyarakatan. 3. Mewujudkan demokrasi (kedaulatan rakyat) dan nomokrasi (kedaulatan hukum). 4. Menciptakan toleransi hidup beragama berdasar keadaban dan kemanusiaan. Untuk meraih cita dan tujuan negara dengan landasan dan panduan tersebut maka diperlukan suatu sistem hukum nasional yang dapat dijadikan wadah atau pijakan dan kerangka kerja politik hukum nasional. Menurut Satjipto Rahardjo, hukum tidak berada dalam ruang hampa melainkan ada pada masyarakat dengan kekhasan akar budayanya masing-masing. Karena hukum bertugas melayani masyarakat maka sistem hukum juga harus sama khasnya dengan akar budaya masyarakat yang dilayaninya. Sistem hukum Pancasila adalah sistem hukum yang khas untuk masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai dasar ideologi negara sangat tepat untuk negara Indonesia yang multi ras, multi kultur, multi etnis, dan multi agama. Pancasila merupakan konsep prismatik yang mengandung unsur-unsur yang baik dan cocok dengan nilai khas budaya Indonesia yang sudah hidup di kalangan masyarakat selama berabad-abad. Konsepsi prismatik ini dapat dilihat dari empat hal. Pertama, Pancasila memuat unsur yang baik dari pandangan individualism dan kolektivisme. Disini diakui bahwa manusia sebagai pribadi mempunyai hak dan kebebasan asasi namun sekaligus melekat padanya kewajiban asasi sebagai makhluk Tuhan dan sebagai makhluk sosial. Kedua, Pancasila mengintegrasikan konsep negara hukum

Rechtsstaat yang menekankan pada civil law dan kepastian hukum dan konsepsi negara hukum the Rule of Law yang menekankan pada common law dan rasa keadilan. Ketiga, Pancasila menerima hukum sebagai alat pembaruan masyarakat (law as tool of social engineering) sekaligus sebagai cermin rasa keadilan yang hidup di masyarakat (living law). Keempat, Pancasila menganut paham religious nation state, tidak menganut atau dikendalikan oleh satu agama tertentu (negara agama) tetapi juga tidak hampa agama (negara sekuler) karena negara harus melindungi dan membina semua pemeluk agama tanpa diskriminasi karena kuantitas pemeluknya. Konsepsi prismatik yang seperti itu kemudian melahirkan beberapa penuntun sebagai landasan kerja politik hukum nasional yaitu :
1. Hukum harus mampu menjaga integrasi bangsa dan negara baik secara

ideologis maupun secara teritorial. 2. Hukum harus diciptakan secara demokratis dan nomokratis berdasarkan hikmah kebijaksanaan. Pembuatannya berdasarkan atas kesepakatan rakyat baik diputuskan melalui musyawarah mufakat maupun pemungutan suara, dan hasilnya dapat diuji konsistensinya secara yuridis dengan rechtside. 3. Hukum harus bertujuan mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial. 4. Hukum harus berdasarkan toleransi beragama yang berkeadapan dalam arti tidak boleh ada hukum publik (mengikat komunitas yang ikatan primordialnya beragama) yang didasarkan pada ajaran agama tertentu. Dari uraian di atas tampak bahwa sistem hukum nasional Indonesia adalah sistem hukum yang bukan berdasar agama tertentu tetapi memberi tempat kepada agamaagama yang dianut oleh rakyat untuk menjadi sumber hukum atau memberi bahan terhadap produk hukum masional. Hukum di Indonesia haruslah netral dan universal. Netral artinya hukum yang substansinya berisi nilai-nilai yang tidak bersumber dari agama dan adat tertentu. Sedangkan universal artinya hukum yang merupakan kristalisasi dari berbagai nilai-nilai agama dan adat yang hidup di Indonesia, secara universal diakui oleh agama-agama dan adat-adat yang ada di Indonesia.

Negara tidak dapat membuat hukum yang mewajibkan (memberlakukan) hukum agama tertentu tetapi dapat membuat pengaturan pelaksanaan hukum agama yang telah dilaksanakan atas kesadarannya sendiri oleh para penganutnya. Jadi hukum-hukum berdasar agama yang dibuat negara terbatas pada melayani dan melindungi atas kesadaran yang tumbuh sendiri dari pemeluk-pemeluknya agar tidak terjadi konflik antara yang satu dengan yang lain. Hukum agama sebagai sumber hukum disini diartikan sebagai sumber hukum materiil (sumber bahan hukum) dan bukan harus menjadi sumber hukum formal (dalam bentuk tertentu) menurut peraturan perundang-undangan. Sejalan dengan itu maka setiap Peraturan Daerah pun harus tunduk pada kaidah penuntun yang sama dengan produk hukum tingkat nasional yakni : harus menjaga integrasi (tidak diskriminatif), dibuat secara demokratis dan nomokratis, menjamin keadilan sosial, dan menjamin toleransi beragama yang berkeadapan. Peraturan Daerah berbasis agama yang banyak disorot belakangan ini juga harus dibuat berdasarkan kaidah-kaidah tersebut. Artinya jika ada dugaan pelanggaran oleh dan di dalam sebuah Peraturan Daerah atas kaidah-kaidah tersebut maka harus diuji atau diawasi sesuai dengan instrument hukum yang tersedia seperti pembatalan (tindakan represif) oleh pemerintah, uji materi oleh lembaga yudisial (judicial review), dan revisi sendiri oleh lembaga legislative (legislative review). Pada era reformasi ini kedudukan Peraturan Daerah (Perda) sangatlah kuat. Ini sejalan dengan pemberian kedudukan kepada Daerah yang juga kuat jika dibandingkan dengan pada era Orde Baru. Di era Orde Baru secara substantif sebenarnya tidak ada otonomi daerah, sebab yang ternyata ada adalah desentralisasi yang sentralistis. Daerah tidak dapat menentukan kepala daerahnya sendiri secara demokratis, DPRD dijadikan subordinasi Pemerintah Daerah, kekayaan ekonomi daerah disedot habis untuk kepentingan politik pusat. Namun pada era reformasi semuanya ditata ulang sesuai dengan semangat demokratisasi. Otonomi luas kemudian dianut dalam UU No. 22 Tahun 1999 untuk kemudian semangat ini diperkuat dengan dimasukkannya otonomi luas di dalam amandemen atas Pasal 18 UUD 1945. Bahkan otonomi luas yang menekankan pada demokratisasi ini kemudian diperkuat dengan lahirnya UU No. 32 Tahun 2004.

Di dalam era otonomi luas ini kedudukan Peraturan Daerah sangat kuat, bukan saja karena otonomi kelembagaan yang dapat membentuknya, tetapi juga karena Perda itu dapat langsung berlaku begitu diundangkan di dalam Lembaga Daerah. Peraturan Daerah sekarang dapat berlaku tanpa pengawasan preventif seperti dulu. Sekarang pengawasan terhadap Peraturan Daerah hanyalah pengawasan represif yang dapat berbentuk : 1. Pembatalan sampai waktu tertentu (dalam waktu 60 hari) bukan disahkan dulu oleh Pusat. 2. Judicial Review (dalam waktu 180 hari) oleh Mahkamah Agung. Dengan demikian kalau memang ada Peraturan Daerah yang di anggap menyimpang dari empat kaidah penuntun itu sebenarnya tersedia instrumentinstrumen hukum untuk meluruskannya. Instrument-instrumen itu misalnya menyangkut seleksi perencanaan Peraturan Daerah melalui Program Legislasi Daerah (Pasal 15 ayat (2) UU No. 10 Tahun 2004). Program Legislasi Daerah (Prolegda) adalah cermin tentang Peraturan Daerah-Peraturan Daerah yang akan dibuat dalam satu periode pemerintahan sekaligus menjadi mekanisme pembuatan Peraturan Daerah itu sendiri. Dari Prolegda akan tercermin politik hukum di tingkat daerah dalam arti hukum-hukum (Peraturan Daerah) apa yang akan dibuat oleh Daerah selama satu periode. Prolegda ini sangat penting mengingat bahwa menurut UU No. 32 Tahun 2004 Peraturan Daerah itu mempunyai kedudukan yang kuat karena dapat langsung berlaku tanpa pengawasan preventif. Dalam kedudukannya yang demikian maka kalau isi sebuah Peraturan Daerah salah, misalnya bertentangan dengan empat kaidah penuntun di negara hukum Pancasila maka akbiatnya bisa sangat serius. Itulah alasan perlunya Prolegda. Instrumen lainnya adalah Represif pembatalan Peraturan Daerah oleh Pusat (Pasal 145 UU No. 32 Tahun 2004) dan uji materi atau judicial review (Pasal 24A UUD 1945). Pengujian yang bersifat politis dapat dilakukan melalui legislative review atau political review yakni melalui proses politik agar lembaga legislatif yang membuatnya melakukan perubahan sesuai dengan hak legislasinya. IV. KESIMPULAN

Sistem hukum yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia adalah Sistem Hukum Pancasila. Sistem ini memiliki ciri khas yaitu bersifat netral dan universal. Netral artinya hukum yang substansinya berisi nilai-nilai yang tidak bersumber dari agama dan adat tertentu. Sedangkan universal artinya hukum yang merupakan kristalisasi dari berbagai nilai-nilai agama dan adat yang hidup di Indonesia, secara universal diakui oleh agama-agama dan adat-adat yang ada di Indonesia. Oleh karena itu dalam Sistem Hukum Pancasila terdapat kaidah penuntun yang menjadi landasan bagi setiap kebijakan di bidang perundang-undangan yakni : harus menjaga integrasi (tidak diskriminatif), dibuat secara demokratis dan nomokratis, menjamin keadilan sosial, dan menjamin toleransi beragama yang berkeadapan. Sehingga sistem hukum nasional Indonesia adalah sistem hukum yang bukan berdasar agama tertentu tetapi memberi tempat kepada agama-agama yang dianut oleh rakyat untuk menjadi sumber hukum atau memberi bahan terhadap produk hukum nasional. Hukum agama sebagai sumber hukum disini diartikan sebagai sumber hukum materiil (sumber bahan hukum) dan bukan harus menjadi sumber hukum formal (dalam bentuk tertentu) menurut peraturan perundangundangan. Sejalan dengan itu maka setiap Peraturan Daerah pun harus tunduk pada kaidah penuntun seperti yang telah disebutkan diatas. Peraturan Daerah berbasis agama yang banyak disorot belakangan ini juga harus dibuat berdasarkan kaidahkaidah tersebut. Artinya jika ada dugaan pelanggaran oleh dan di dalam sebuah Peraturan Daerah atas kaidah-kaidah tersebut maka harus diuji atau diawasi sesuai dengan instrument hukum yang tersedia seperti pembatalan (tindakan represif) oleh pemerintah, uji materi oleh lembaga yudisial (judicial review), dan revisi sendiri oleh lembaga legislative (legislative review).

V. DAFTAR PUSTAKA Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, Jakarta, PT Rajagrafindo Persada, 2010

Prof. Dr. Arief Hidayat, SH, MS & Airlangga Surya Nagara, SH, Negara Hukum Pancasila (Suatu Model Ideal Penyelenggaraan Negara Hukum), Makalah disampaikan pada Semiloka Pendidikan Pancasila dan Konstitusi 2011, Kerjasama MKRI, Pemda Prov Jatim, dan APHAMK Satjipto Rahardjo, Sisi-sisi Lain Hukum di Indonesia, Yogyakarta, Genta Publishing, 2003 Serafina Shinta Dewi, SH, Peraturan Daerah Syariat Islam Dalam Politik Hukum Indonesia, http://www.kumham-jogja.info/karya-ilmiah Ruslan Burhani, Pemerintah Biarkan 64 Perda Berbasis Agama,

http://www.antaranews.com/257072

MEWUJUDKAN SISTEM HUKUM YANG NETRAL DAN UNIVERSAL DALAM ERA OTONOMI DAERAH

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Ujian Mata Kuliah Politik Hukum Dosen Pengampu: PROF. DR. ARIEF HIDAYAT, SH. MS.

Disusun Oleh : Nama : Raharjani Prasetyaning Putri, SH NIM Kelas : 11010111400097 : HET-HKI

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011