Anda di halaman 1dari 15

Fungsi masjid selain sebagai tempat ibadat ialah juga sebagai tempat penyebaran dakwah dan ilmu Islam;

tempat menyelesaikan masalah individu dan masyarakat; tempat menerima duta-duta asing; tempat pertemuan pemimpin-pemimpin Islam; tempat bersidang; dan madrasah bagi anakanak mempelajari ilmu agama & fardu ain. Setelah berhijrah ke Madinah, pendidikan Islam pertama kali berpusat di masjid-masjid dan Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dijadikan Rasulullah sebagai institusi pendidikan. Di dalam masjid, beliau mengajar dan memberi khutbah dalam bentuk halaqah di mana para sahabat duduk mengelilingi beliau untuk mendengar dan melakukan tanya-jawab tentang urusan agama dan kehidupan sehari-hari. Semakin luas wilayah-wilayah yang ditaklukan oleh kaum muslimin maka semakin meningkat pula jumlah masjid yang didirikan. Di antara masjid yang dijadikan pusat penyebaran ilmu dan pengetahuan ialah Masjid Nabawi, Masjidil Haram, Masjid Kufah serta Masjid Basrah. b.3.1.3. Suffah Al-Suffah merupakan ruang atau bangunan surau yang bersambung dengan masjid. Suffah dapat disebut sebagai sebuah sekolah kerana kegiatan pengajaran dan pembelajaran dilakukan secara teratur dan sistematik. Contohnya Masjid Nabawi yang mempunyai suffah yang digunakan untuk majlis ilmu. b.3.1.4. Kuttab Ia ditumbuhkan oleh orang Arab sebelum kedatangan Islam dan bertujuan untuk memberi pendidikan kepada anak-anak dikalangan rakyat jelata. Sungguhpun begitu, institusi tersebut tidak mendapat perhatian dari masyarakat Arab kerana sebelum kedatangan Islam, hanya 17 orang Quraisy yang tahu membaca dan menulis. Kemahiran-kemahiran asas seperti membaca dan munlis dilakukan oleh kebanyakan guru-guru yang mengajar secara sukarela. Selain itu, Rasulullah juga pernah memerintkah tawanan perang Badar yang mampu membaca dan menulis supaya mengajar 10 orang anak-anak Islam sehingga mereka tahu membaca dan menulis dengan baik. b.3.2. Masa Tabiin dan Seterusnya Masa ini meliputi zaman kerajaan Umaiyyah (662-750M) dan Abbaisiyah (751-1258M). Pada zaman ini, institusi pendidikan yang awal seperti masjid dan kuttab terus dikembangkan hasil dorongan dan motivasi dari para khalifah yang memerintah. Selain itu, institusi pendidikan tinggi dan lanjutan mulai diperkenalkan sehingga melahirkan banyak sarjana dan cerdikpandai Islam dalam pelbagai ilmu. b.3.2.1. Manazil ulama & istana Terdapat beberapa rumah ulama yang digunakan sebagai tempat pertemuan untuk majlis-majlis ilmu seperti rumah Ibnu Sina, Muhammad Ibnu Tahir Bahrom dan Abu Sulayman. Di samping itu istana khalifah turut dijadikan tempat perkembangan ilmu. Sebagai contoh Khalifah Muawiyah Ibnu Abi Sufyan yang mengundang ulama dan cerdik pandai untuk mendiskusikan sejarah peperangan, sejarah raja-raja Parsi, sejarah bangsa Arab dan sistem pemerintahan negara. b.3.2.2. Perpustakaan Perpustakaan secara umum dapat dibagi menjadi tiga bagian: Perpustakaan Umum Perpustakaan umum ialah perpustakaan yang didirikan untuk kegunaan orang banyak. Perpustakaan umum pertama didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyidin di Kota Baghdad dan dikenal sebagai Baitul Hikmah. Ia berfungsi sebagai gedung buku yang terdiri dari buku-buku dan penulisan pelbagai bahasa seperti bahasa Yunani, Parsi, Hindu, Latin dan sebagainya. Perpustakaan Semi Umum

Ia kebiasaannya kepunyaan khalifah atau raja-raja yang didirikan di dalam istana. Perpustakaan ini tidak dibuka untuk orang ramai tetapi hanya terbuka untuk orang-orang tertentu saja yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. Umpamanya kerajaan Fatimiyah telah mendirikan perpustakaan terbesar di istana Kaherah untuk menyaingi perpustakaan khalifahkhalifah Baghdad Perpustakaan Khusus Ia merupakan perpustakaan khusus yang tidak membenarkan siapa pun menggunakan perpustakaan ini melainkan empunya perpustakaan. Ia biasanya dibina oleh ulama dan sasterawan di rumah masing-masing Contohnya, Perpustakaan Hunain Ibnu Ishaq. b.3.2.3. Madrasah Sekolah-sekolah atau madrasah awalnya didirikan untuk menggantikan masjid-masjid yang sudah tidak dapat menampung keperluan pendidikan dari segi ruang dan kelengkapan pembelajaran. Madrasah Baihaqiyah merupakan madrasah pertama yang didirikan oleh penduduk Naisabur.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masjid sebagai tempat duduk atau setiap tempat yang digunakan untuk beribadah. Masjid memegang peranan penting dalam penyelenggaraan Pendidikan Islam, karena itu masjid merupakan sarana yang pokok dan mutlak keperluannya dalam masyarakat. Memang masjid/langgar merupakan instusi pendidikan yang pertama di bentuk dalam lingkungan masyarakat Muslim. Pada dasarnya masjid atau langgar mempunyai fungsi yang tidak terlepas dari kehidupan keluarga sebagai lembaga pendidikan. Berfungsi sebagai penyempurna pendidikan dalam keluarga, agar selanjutnya anak mampu melaksanakan tugas-tugas hidup dalam masyarakat dan lingkungan. Untuk lebih mengetahui lebih lagi tentang masjid sebagai pusat pendidikan dan dakwah kita akan mengetahui terlebih dahulu pengertian dari masjid, latar belakang, histories/sejarah berdirinya Masjid, serta Fungsinya.

BAB II

PEMBAHASAN A. Pengertian Masjid Secara harfiah mesjid diartikan sebagai tempat duduk atau setiap tempat yang dipergunakan untuk beribadah. Mesjid juga berarti tempat shalat berjamaah atau tempat shalat untuk umum (orang banyak). B. Latar Belakang berdirinya masjid Masjid berasal dari bahasa arab sajada yang berarti tempat sujud atau tempat menyembah Allah SWT. Bumi yang kita tempati ini adalah masjid bagi kaum muslimin. Setiap muslim boleh melakukan shalat di wilayah manapun di bumi inierkecuali dia atas kuburan, di tempat yang bernajis, dan di tempattempat yang menurut ukuran syariat Islam tidak sesuai untuk dijadikan tempat shalat. Rasullullah bersabda :

Setiap bagian dari bumi Allah adalah tempat sujud (masjid). (HR Muslim) Pada hadist yang lain Rasulullah besabda pula :

) (

telah dijadikan bagi kita bumi ini sebagai tempat sujud dan keadaan nya bersih. (HR Muslim)

) (

Masjid tidak bias dilepaskan dari masalah shalat. Berdasarkan sabda Nabi SAW. Diatas, setiap orang bias melakukan Shalat dimana saja-di rumah, di kebun, di jalan, di kendaraan dan di tempat lainnya. Selain itu, masjid merupakan tempat orang berkumpul dan melakukan shalat secara berjamaah, dengan tujuan meningkatkan solidaritas dan silahturrahmi di kalangan kaum muslimin. Di masjid pulalah tempat terbaik untuk melangsungkan shalat jumat. Dimasa Nabi SAW. Ataupun dimasa sesudahnya, masjid menjadi pusat atau sentral kegiatan kaum muslimin. Kegiatan di bidang pemerintahan pun mencakup, ideology, politik, ekonomi, social, peradilan , dan kemiliteran dibahas dan di pecahkan di lembaga Masjid. Masjid juga berfungsi sebagai pusat pengembangan kebudayaan Islam terutama saat gedung-gedung khusus untuk itu belum didirikan. Masjid juga merupakan ajang halaqah atau diskusi, tempat mengaji, dan memperdalam ilmu-ilmu pengetahuan agama ataupun umum. Pertumbuhan remaja masjid dewasa ini juga termasuk upaya memaksimalkan fungsi kebudayaan yang diemban masjid. Kalau saja tidak ada kewajiban Shalat, tentu tidak ada yang namanya Masjid di dalam Islam. Memang, shalat sudah di syariatkan pada awal kelahiran islam sebanyak empat rakaat, dua di pagi hari dan dua di sore hari. Penetapan Shalat menjadi lima waktu seperti sekarang ini baru disyariatkan menjelang Nabi Hijrah ke Madinah. Sampai saat itu, ibadah shalat dilakukan dirumah-rumah. Tiadanya usaha mendirikan masjid karena lemahnya kedudukan umat Islam yang sangat lemah, sedangkan tantangan dari penduduk Makkah begitu ganasnya. Penduduk Makkah tampak belum siap menerima ajaran Nabi SAW. Walau telah 13 tahun dakwah dilancarkan. Masjid Pertama Dalam Islam Masyarakat Madinah yang dikenal berwatak lebih halus lebih bisa menerimaSyiar Nabi Muhammad SAW. Mereka dengan Antusias mengirim utusan sambil mengutarakan ketulusan hasrat mereka agar Rasulullah pindah saja ke Madinah. Nabi setuju, setelah dua kali utusan dating dua tahun berturut-turut di musim haji dalam dua peristiwa yang dikenal dengan baiat Aqabah I dan Aqabah II.

Saat yang dirasa tepat oleh Nabi untuk berhijrah itu pun tiba. Waktu kaum kafir Makkah mendengar kabar ini, mereka mengepung rumah Nabi, tetapi usaha mereka gagal total berkat perlindungan Allah SWT. Nabi keluar rumah dengan meninggalkan Ali bin Abi Thalib yang beliau suruh mengisi tempat tidur beliau. Pada saat itu, para pengepung tertidur dengan nyenyak. Begitu terbangun, mereka menemukan sasaran yang diincar tak lagi berada di tempat. Pengejaran yang dilakukan kaum kafir Makkah sia-sia. Dengan mengambil rute jalan yang tidak biasa, diseling persembunyian di sebuah gua, Nabi sampai desa Quba yang terletak sebelah barat Laut Yasrib, kota yang di belakang hari berganti nama m enjadi Madinatur Rasul, kota Nabi, atau Madinah saja. Di desa itu Nabi beristarahat selama empat hari. Dalam tempo pendek itulah Nabi membangun masjid yang di sebut Masjid Quba. Tiga Masjid Suci Perkembangan masjid Quba memang kalah pesat dibandingkan dengan masjidil Haram dan Masjid Nabawi, terutama setelah wafatnya nabi Muhammad SAW. Wajar karena kedua masjid di Makkah dan di Madinah, fungsi apa-apa. Yang menjadikan ia sebagai sarana kemakmuran adalah kita semua. Mulai dari para ustadz, mubaligh, remaja, mahasiswa, dan rakyat umum; yang memberi dan menerima ilmu dan segala macam kearifan perikehidupan yang sangat diperlukan untuk pegangan hidup di alam dunia ini. Masjid dapat merupakan tempat kita pulang, tempat kita berangkat, tempat kita bertanya. Kalau seseorang mempunyai pertanyaan, baik itu menyangkut segala aspek kehidupan duniawi maupun persoalan yang berdimensi ukhrawi, jangan bingung k e mana dia mencari jawaban atas pertanyaannya. Datanglah ke masjid ! di antara pengasuh masjid, niscaya ada yang lebih mengetahui rahasia soal-soal keduniaan. C. Fungsi Masjid Fungsi utama Masjid adalah tempat sujud kepada Allah SWT, tempat Shalat, dan tempat beribadah kepada-Nya. Lima kali sehari semalam umat Islam dianjurkan mengunjungi masjid guna melaksanakan shalat berjamaah. Masjid juga merupakan tempat yang paling banyak dikumandangkan nama Allah melalui azan, qamat, tahlil, istigfar, dan ucapan lain yang dianjurkan dibaca di Masjid sebagai bagian dari lafaz yang berkaitan dengan pengagungan asma Allah. Selain itu fungsi masjid adalah : 1. Masjid merupakan tempat kaum muslimin beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT; 2. Masjid adalah tempat kaum muslimin beritikaf, membersihkan diri, mengembleng batin untuk membina kesadaran dan mendapatkan pengalaman batin/keagamaan sehingga selalu terpelihara keseimbangan jiwa dan raga serta kebutuhan kepribadian; 3. Masjid adalah tempat bermusyawarah kaum muslimin guna memecahkan persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat. 4. Masjid adalah tempat kaum Muslimin berkonsultasi, mengajukan kesulitan-kesulitan, meminta bantuan dan pertolongan; 5. Masjid adalah tempat membina keutuhan ikatan jamaah dan kegotoroyongan di dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. 6. Masjid dengan majelis taklimnya merupakan wahana untuk meningkatkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan muslim; 7. Masjid adalah tempat pembinaan dan pengembangan kader-kader umat; 8. masjid tempat mengumpulkan dana, menyimpan, dan membagikannya; dan 9. Masjid tempat melaksanakan peaturan dan supervise sosial.

Fungsi-fungsi tersebut telah diaktualisasikan dengan kegiatan operasional yang sejalan dengan Program pembangunan. Umat Islam bersyukur bahwa dalam decade akhir-akhir ini masjid semakin tumbuh dan berkembang, baik dari segi jumlahnya maupun keindahan arsitekturnya. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan ekonomi umat, peningkatan gairah, dan semaraknya kehidupan beragama. Fenomena yang muncul, terutama di kota-kota besar, memperlihatkan banyak masjid telah menunjukkan fungsinya sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan, dan kegiatan-kegiatan social lainnya. Dengan demikian, keberadaan masjid memberikan manfaat bagi jamaah-nya dan bagi masyarakat lingkungannya. Fungsi Masjid yang semacam itu perlu terus dikembangkan dengan pengelolaan yang baik dan teratur, sehingga dari masjid lahir Insan-insan muslim yang berkualitas dan masyarakat yang sejahtera. Dari masjid diharapkan pula tumbuh kehidupan khaira ummatin, predikat mulia yang diberikan Allah kepada umat Islam. Allah SWT berfirman :

$Y=9 My_z& >pB& uyz NGZ. x6ZJ9$# `t cqygYs?ur tbrD's?$ryJ9$$/ ...... 3 tbqZBs?ur!$$/
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah. (Ali Imran : 110) Sebagai Pusat Dakwah Dakwah Bil Hal Dakwah bil hal disebut juga dakwah pembangunan. Dakwah bil hal merupakan kegiatan-kegiatan dakwah yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat, baik rohani maupun jasmani. Dakwah bil hal mempunyai ruang lingkup yang amat luas. Kegiatan dakwah bil hal dititik beratkan pada upaya : Meningkatkan kualitas pemahaman dan amal keagamaan pribadi muslim sebagai bibit generasi bangsa yang mengacu kemajuan ilmu dan tekhnologi. Meningkatkan kesadaran dan tata hidup beragama dengan memantapkan dan mengukuhkan ukhwah islamiah; Meningkatkan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara di kalangan umat Islam sebagai perwujudan dari pengalaman ajaran Islam; Meningkatkan kecerdasan dan kehidupan sosial ekonomi umat melalui pendidikan dan usaha ekonomi; Meningkatkan taraf hidup umat, terutama kaum dhuafa dan masakin; Memberikan pertolongan dan pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan melalui berbagai kegiatan sosial, seperti pelayanan kesehatan, panti asuhan, yatim piatu, dan orang-orang jompo; Menumbuhkembangkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat kemanusiaan. Kegiatan dakwah bil hal ini sebenarnya telah banyak dilakuakn oleh bebagai organisasi dan lembaga Islam. Akhir-akhir ini, himpunan-himpunan dan kelompok-kelompok kerja menunjukkan kiprahnya dalam berbagai bentuk kegiatan. Simaklah itu dari, misalnya makin banyaknya panti asuhan yang dikelola umat islam, rumah-rumah sakit dan balai pengobatan islam, pendidikan kejuruan dan keterampilan yang diselenggarakan oleh lembaga Islam, semaraknya kegiatan koperasi di pesantren, serta majelis talim. Kesemuanya ini mengisaratkan bahwa dakwah bil hal makin bergairah. Pada dasarnya, setiap kegiatan dakwah yang bercorak sosial.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

!$#ur=t 4 (#rgstGt br& cq7t A%y` m 4 dgJ9$#

1. 2. 3. 4.

1.

di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan atau mensucikan diri; dan Allah menyukai orang-orang yang suci-bersih. (At-Taubah : 108) Kalau kita mendapat kesempatan mengurus masjid, kita harus berusaha senantiasa meningkatkan kualitas kita sebagai mukmin dan berusaha masuk golongan orang-orang yang terbaik dalam pandangan Allah SWT. Menurut Rasulullah saw. Orang-orang yang terbaik dalam pandangan Allah ialah mereka yang : Luasnya ilmunya; Kuatnya takwanya kepada Allah; Rajin menghubungkan silahturrahmi; dan Tiada henti-hrntinya melakukan amar makruf nahi munkar. Tidak semua masjid dicintai oleh Allah SWT, ada diantaranya yang disebut masjid Dhirar (At-Taubah : 108). Masjid itu dibangun oleh orang-orang munafik dengan tujuan mengganggu kaum muslimin karena kekufurannya, memecah belah kaum muslimin, dan menjadikan masjid untuk menunggu kedatangan tentara romawi yang akan memorak-porandakan kaum muslimin, Allah SWT melarang Nabi Muhammad SAW. Memasuki masjid tersebut. (at-taubah : 108). Atas perintah Allah, Rasulullah meruntuhkan masjid itu. Salah satu suri tauladan yang harus dicontoh dari Rasulullah saw. Ialah cara beliau membina ummat. Dalam masa hanya 20 tahun, beliau berhasil membangun satu ummat yang tadinya dikenal asyaddu kufran wanifaaqan (at-taubah : 97), menjadi umat pilihan, sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran : kamu adalah sebaik-baik umat yang ditampilkan ke tengah-tengah masyarakat.. (ali Imran : 110). Menurut para ulama, ada lima unsure yang menyebabkan keberhasilan Muhammad saw. Dalam membina umat : Memantapkan Aqidah Nabi Muhammad SAW. Meletakkan dasar bagi pembinaan umat dengan menetapkan aqidah, sehingga tertanam roh tauhid :

WxsWtB !$# z>u y#x. ts? Ns9r& $yg=r& Bpt7hs ;otyftx. ZpyJ=x.Zpt6hs !$yJ9$# M/$rO$ygsur
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tuhid), seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim : 24). Roh tauhid yang tertanam itu ibarat sebuah pohon yang subur, yang pokok dan akarnya terhujam kuat dan kokoh ke dalam bumi, tidak bias di goyahkan apalagi di runtuhkan, dan pucuknya menjulang ke langit, hanya satu cita-cita, yaitu ridha Allah. Roh tauhid yang demikianlah yang melahirkan pribadi muslim utama, seperti Abu bakar siddiq, Umar bin Khatab. Dengan roh tauhid itu kaum muslimin di zaman rasulullah saw. Dapat memanfaatkan akal mereka dengan sebaik-baiknya; pikiran, perasaan, dan kemauan yang terbina dengan sempurna dan melahirkan manusia-manusia muslim yang bersikap dewasa dalam segala hal, tanpa terpengaruh oleh nafsu. 2. Menyempurnakan Ibadah Dengan tertanamnya roh tauhid, menjadi lebih mudah bagi rasulullah saw. Menyempurnakan ibadah di kalangan kaum muslimin. Mereka dengan patuh mengikuti contoh yang diberikan Nabi.

Soal agamamu adalah soal aku sabda Nabi saw

Itulah jaminan, tidak seorangpun berani menambah-nambahi atau mengurangi apalagi mengadaadakan suatu yang tidak ada (bidah). Berbeda dengan yang terjadi di alam kita sekarang ini. Pada umumnya, kita ragu-ragu malahan takut dan meredam perbedaan paham (Khilafiyah). Kita cenderung tidak mengangkat soal-soal Khilafiyah ke permukaan demi menjaga keutuhan persatuan. Benarkah kita bias bersatu dengan membiarkan soal-soal Khilafiyah itu tak tertuntaskan? Bersatu dalam arti yang sesungguhnya kah? Ada yang berpendapat, jamastumun-nisa, batal wudhu kalau seorang menyentuh wanita; yang lain berpendapat, laamastum itu bukan menyentuh, melainkan menggauli (bersetubuh). Ini soal khalifiyah yang mudah diselesaikan asal kita tahu jalannya. Firman Allah SWT : .. Kalau kamu berbeda paham dalam sesuatu soal, kembalikan persoalannya kepada Allah dan Rasul, (kepada Al-Quran dan Sunnah), kalau kamu (benar) beriman kepada Allah dan hari kemudian; yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa : 59). Tampak bahwa yang menjadi dasar penyelesaian adalah keikhlasan dan cinta kepada kebenaran. Tetapi masalah yang kita hadapi lebih serius dari khilafiyah, yakni taabuuudi perbuatan yang tidak diperintahkan Allah dan Rasul untuk melakukannya yang sudah merupakan penyimpangan dari agama karena mengadakan syariat sendiri. Ini bias termasuk ke dalam perbuatan Syirik. Firman Allah SWT : .janganlah kamu menjadi orang-orang musrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka (dengan demikian) mereka akan menjadi beberapa golongan, dan tiap golongan bermegah dengan golongannya. (Ar-Rum : 31-32). 3. Perbaikan Hubungan Manusia dengan Manusia (muamalah) Setelah rasulullah saw. Berhasil menanamkan roh tauhid dan pelaksanaan inadah dengan baik, lahirlah syarat yang ketiga yaitu perbaikan hubungan manusia dengan manusia (muamalah, menurut Quran dan Sunnah, dengan hati yang bersih dan jiwa yang ikhlas. Contoh untuk ini adalah seorang ahli syurga. Setelah diselidiki oleh seorang sahabat, Abdullah bin Amir, orang yang dimaksudkan oleh rasul itu ternyata memiliki keluhuran budi :

)(

tiada jalan jiwaku sifat palsu terhadap salah seorang kaum mukmin, dan aku tidak mempunyai rasa dengki terhadap seseorang tentang nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya. (HR. Ahmad) 4. Perbaikan Ekonomi (Maisyah) Setiap manusia berhak membebaskan dirinya dari kemiskinan. Di dalam Islam, mencari nafkah adalah jihad fi sabilillah. Sebagai contoh dalam hal ini dapat dikemukakan seorang sahabat yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ia bebas berusaha tapi terikat, bukan oleh peraturan manusia, pada keyakinannya terhadap agama. Ia berhasil dalam bisnisnya, ia menjadi orang yang kaya raya. Kekayaannya berfungsi social. Ia menikmati hasil usahanya dan orang lain pun dapat pula merasakannya. Namun Abdurrahman bin Auf di abadikan Allah SWT di dalam kitab suci Al-Quran : Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli untuk ingat kepada Allah, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, karena takut kepada hari yang (pada hari itu) berbolak balik hati dan pandangan manusia. (An-Nur : 37) 5. Membina Kehidupan Bernegara (daulah)

a.

Dalam membina kehidupan bernegara, Rasulullah saw. Meletakkan beberapa dasar utama : Musyawarah, sesuai dengan firman Allah SWT :

NhuZt/ 3uq NdBr&ur


dan dalam urusan mereka, bermusyawarahlah antara sesame mereka(Asy-Syura : 38)

tG$#ur Nk]t #$$s (( #s*s ( DF{$# Nlm;Ndr$xur 4 !$# n?t |MBzt@.uqtGs


dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan itu, apabila engkau sudah mendapatkan keputusan, maka berserah dirilah (tawakal) kepada Allah (Ali Imran : 159) [246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya. b. Menghormati Hak asasi Manusia Penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan salah satu syarat dalam menjalankan pemerintahan yang terbuka. Rasulullah saw memperaktekkannya 15 abad silam. Sungguh tidak mudah membentuk pemerintahan yang demikian, jika pembinaan dan pengemblengan akhlak pribadi-pribadi belum memadai. Dalam kehidupan benegara yang baik, siapa pun dilarang melakukan manipulasi, menyalahgunakan kekuasaan, menghianati amanat, dan mementingkan diri sendiri. Allah berfirman dengan nada keras : Apabila jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isra) Peringatan Allah yang lain juga keras : Katakanlah: " dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu (Al-Anam : 65) Sebagai Pusat Pendidikan Membina Kerja Sama Remaja Masjid Remaja Masjid, sebagai bagian dari remaja pada umumnya, dewasa ini berhadapan dengan berbagai remaja yang muncul di dalam masyarakat. Ada kenakalan remaja, perkelahian pelajar, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, pergaulan bebas, dan sebagainya. Keadaan ini m embuat resah dan gelisah para orang tua dan masyarakat. Masa depan para remaja itu sendiri rusak, juga masa depan bangsa, Negara dan agama. Dalam usaha memecahkan dan menanggulangi problematika remaja dalam masyarakat, kegiatankegiatan yang dapat dilaksanakan adalah : a. Pengajian Remaja Agama merupakan benteng yang paling kuat dalam menghadapi berbagai pengaruh dan perbuatan yang negatif. Dengan pemahaman agama, mereka sukar terpengaruh dan terposok kedalam perbuatan dan tindakan negative dan merusak. Apabila agama cukup ditanamkan, misalnya melalui pengajian Remaja, berbagai problematika remaja tidak akan muncul dalam masyarakat. Pengajian ini diadakan dan dilaksanakan oleh remaja masjid. Melalui pengajian ini dapat ditanamkan nilai-nilai ajaran agama yang dapat membentengi dirinya dari berbagai pengaruh dan perbuatan negative. b. Diskusi Remaja

Kegiatan diskusi juga perlu diadakan oleh remaja masjid. Problematika remaja di dalam masyarakat dibicarakan dalam diskusi ini, guna mengupayakan pemecahan dan penyalahgunaannya. Wadah ini juga merupakan ajang pertukaran pikiran. Mereka mengemukakan pendapat secara bebas tentang masalah yang mereka hadapi. Dari mereka pula akan diperoleh gagasan-gagasan yang jernih dan relevan dengan permasalahan yang dihadapi. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin. c. Jumpa Remaja Acara Jumpa Remaja adalah mengundang para remaja yang ada di sekitar masjid untuk bersamasama berkumpul, berbincang-bincang, makan bersama, dan sebagainya. Kegiatan ini mungkin diadakan di masjid, mungkin pula dilaksanakn di tempat lain : di rumah, di taman, atau di gedung pertemuan. d. Kemah Remaja Kemah Remaja melibatkan sejumlah remaja masjid berkemah bersama. Disitu digelar sejumlah acara yang terarah dan bermanfaat bagi para remaja. Bakti Sosial dalam Masyarakat di tempat berkemah patut benar dimasukkan ke dalam agenda acara, sehingga remaja masjid terlatih memperhatikan dan memperdulikan masyarakat sekitarnya. Tempat Pendidikan Nonformal Masyarakat manapun menyadari bahwa pendidikan mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia. Melalui pendidikanlah terbentuk manusia yang siap dengan hasil kerja nyata. Di jalur nonformal, pendidikan manusia berlangsung dalam dimensi kehidupan yang sangat luas. Bebeda jauh dengan pendidikan formal, yang terlalu lama menggumuli teori; basis pendidikan nonformalsekitar 80 persen justru bertumpu pada praktek. Di jalur pendidikan formal, porsi praktek teramat minim. Nafkah yang dicari, jika dilakukan dengan pasrah (positif) kepada Allah, akan mengalir dengan sendirinya. Kuncinya terletak pada pengabdian makhluk terhadap sang khalik. Manusia sesungguhnya makhluk tanpa daya, dengan periode kehidupan duniawi yang pendek. Wujud pengabdian manusia yang paling langsung terhadap sang Pencipta-Nya merupakan cara membentuk pribadi yang istiqamah. Selain Shalat, Allah juga mengajarkan agar umat-Nya saling berhubungan. Pada keseimbangan antara memelihara dimensi vertical (hablum minallah) dan dimensi horizontal (hablum minannas) inilah terletak fitrah keutamaan manusia. Shalat sebagai tiang agama memberikan motivasi mendasar bagi umat untuk melangkah di jalan yang di ridhai-Nya. Dengan mendirikan shalat, manusia dituntun kejalan yang lurus. Dengan shalat, manusia berharap perantauan kehidupan duniawinya mendapatkan ganjaran yang layak di alam baka. Shlat memang boleh dilakukan dimana saja, tetapi sebaik-baiknya tempat adalah di masjid atau mushala. Apa sebab? Tak lain Karena masjid merupakan tempat ibadah resmi pengajian, musyawarah, pendidikan, dan kegiatan lain guna membina akhlak, mendalami masalah-masalah islam, dan menemukan jawaban atas beraneka ragam problem umat. Masjid memang sarana penggemblengan jiwa, agar manusia cukup siap mengurangi lautan kehidupan. Artinya, pendidikan nonformal dapat pula dilakukan di Masjid. Cakupan pendidikan nonformal jauh lebih luas dari sekedar format kelembagaan dalam proses belajar-mengajar. Di zaman Rasulullah, masjid menjadi tempat berkompetisi dalam arti positif. Waktu itu belum dikenal yang namanya sekolah dalam arti positif. Waktu itu belum dikenal yang namanya sekolah atau universitas. Masjidlah ajang pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama, dan tempat Tranfer of knowlwdge dari rasulullah kepada para sahabat. Sekarang masjid sudah berfungsi ganda, sebagai tempat ibadah dan untuk mendidik putra-putri generasi penerus cita-cita umat. Aktifnya kegiatan remaja/generasi muda Islam kian semarak. Kelompok Muda Islam ini bersungguh-sungguh memahami Islam secara mendalam. Di sekolah, mereka memperoleh pelajaran agama hanya dua jam dalam seminggu. Jumlah yang jauh dari memadai untuk

a. b. c.

membentuk akhlak putra-putri, untuk memahami Islam secara Khaffah, dan menggali potensi kandungan Al-Quran. Beruntunglah putra-putri kita yang sempat membina diri di madrasah-madrasah. Banyak diantara remaja yang bersekolah umum tidak mampu membaca Al-Quran ketika mereka memasuki sekolah Islam. Dalam hal shalat pun kebanyakan mereka belum melakukannya dengan benar. Masjid menyediakan jawabannya. Melalui pendidikan dan pengajaran agama di masjid diharapkan muncul generasi muda Islam yang andal. Dengan masjid sebagai media membentuk pikiran remaja, akan lahir generasi yang potensial bagi kelangsungan dan perkembangan Islam di masa mendatang. Dalam hal ini fungsi mesjdi akan lebih efektif bila di dalamnya disediakan fasilitas-fasilitas terjadinya proses belajar mengajar. Fasilitas yang dimaksudkan adalah : Perpustakaan, yang menyediakan berbagai buku bacaan dengan berbagai disiplin keilmuan. Ruang diskusi, yang digunakan untuk berdiskusi sebelum atau sesudah shalat jamaah. Program inilah yang dikenal dengan istilah Itikaf ilmiah Ruang Kuliah, baik digunakan untuk training remaja masjid, atau juga untuk madrasah diniah, yang oleh Omar Amin Hoesin diistilahkan dengan sekolah masjid. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari Pembahasan mengenai Masjid sebagai pusat pendidikan dan dakwah dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Masjid sebagai Pendidikan Non Formal. 2. Masjid sebagai kegiatan Dakwah dan pembinaan Umat B. Saran Penulis menyarankan agar kita tidak mengahabiskan waktu yang tidak berguna, dimana waktu kita gunakan yang ada untuk belajar di Masjid untuk menambah Ilmu Pengetahuan ajaran agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan demikian adanya masjid penulis menyarankan agar kita senantiasa sadar akan pentingnya menegakkan Syariat Islam dalam kehidupan keseharian supaya tercipta kehidupan bahagia dan sejahtera dan di Ridhai Allah SWT.

Berbicara tentang sejarah pendidikan Islam di Indonesia tidak terlepas dari peran pondok pesantren. Pada masa kolonial, pesantrenlah yang menjadi sentral pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu keislaman. Salah seorang yang meneliti bagaimana perkembangan pendidikan Islam di Indonesia adalah Karel A Steenbrink. Dalam bahasa kita muslim, red- ia sering disebut sebagai orientalis.

Hal ini sengaja diangkat menjadi tema makalah karena ketertarikan penulis terhadap sosok Karel A Steenbrink yang dikenal kritis terhadap tradisinya sendiri. Ia juga pernah hidup dan bersentuhan dengan dunia pesantren selama

sekitar 1 tahun. Selain itu penulis juga tertarik untuk mengetahui bagaimana orang asing -orientalis, red- menilai pendidikan Islam di Indonesia khususnya pesantren.

Ada dua hal ini yang akan menjadi fokus dalam penulisan makalah ini yaitu bagaimana perkembangan pesantren dari zaman kolonial Belanda hingga zaman kemerdekaan dan apakah pesantren berperan penting dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia.

Semoga makalah yang serba kekurangan ini dapat menambah pengetahuan kita tentang perkembangan pendidikan Islam di Indonesia atau paling tidak sebagai bahan pancingan untuk lebih memperdalam pengetahuan kita tentang sejarah pendidikan islam di Indonesia. Dan akhirnya ucapkan terimakasih saya kepada Ibu dosen yang telah membimbing kami selama satu semester ini. Banyak hal-hal baru yang saya dapatkan. Dan juga ucapan terimakasih saya kepada teman-teman seperjuangan yang merupakan calon-calon intelek dan pemikir sekelas Fazlurrahman dan Harun Nasution.

Pesantren dalam Tinjauan Sejarah

Penelitian terhadap pendidikan Islam di Indonesia terutama Jawa sudah dimulai pada awal abad ke 19 yang dilakukan oleh pihak kolonial Belanda. Tujuannya adalah ingin meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal membaca dan menulis. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki undang-undang dan peraturan pendidikan di Indonesia.

Dari beberapa hasil penelitian, dilaporkan bahwa ada beberapa orang pandai dalam tulis-menulis yang memberikan pelajaran bahasa dan huruf Arab, Jawa ataupun Latin. Disimpulkan juga adanya pendidikan agama Islam dengan menggunakan bahasa arab, yang merupakan lembaga pendidikan paling penting diantara orang-orang Indonesia/jawa yang lazimnya disebut dengan pesantren.[3] Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, pemerintah kolonial (Belanda, red) hendak melaksanakan satu jenis pendidikan yang berdasarkan pribumi murni, secara teratur dan disesuaikan dengan masyarakat desa yang dihubungkan erat pada pendidikan Islam yang sudah ada sebelumnya. Prinsip mereka adalah harus menghormati unsur pribumi dalam masyarakat dan keengganan menolak kebudayaan asli dalam hubungannya dengan kebudayaan asing yang bercorak barat. Ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Brugmans -peneliti Belanda- bahwa pendidikan pribumi harus menjadi prioritas.

Kebijaksanaan ini menurut Steenbrink diilhami oleh sifat kurang senang terhadap politik asosiasi dan oleh sikap positif mempertahankan unsur ketimuran. Pandangan ini memang tidak dapat dipertahankan jika membicarakan usaha penggabungan pendidikan Islam yang telah ada. Pada akhir abad ke 19, beberapa kali diusulkan agar lembaga pendidikan Islam yang ada dimamfaatkan pada kebijaksanaan untuk mengembangkan sistem pendidikan umum. Akan tetapi pada reorganisasi dan pengembangan sistem pendidikan kolonial, dalam kenyataanya pemerintah selalu memilih jalan lain dari pada menyesuaikan diri dengan pendidikan Islam.

Tokoh pertama dari kalangan pegawai kolonial Belanda yang secara penuh bekerja untuk pendidikan masyarakat non-eropa adalah J.A Van Der Chijs. Ia menolak untuk menyesuaikan pendidikan Islam yang ada berdasarkan alasan teknis pendidikan. Ia mengatakan bahwa ia sangat setuju bila sekolah pribumi diselingi dengan kebiasaan pribumi, akan tetapi ia menolaknya karena kebiasaan tersebut terlalu jelek dan tidak dapat digunakan dalam sekolah pribumi. Kebiasaan yang dimaksud diantaranya adalah metode membaca teks arab yang hanya dihafal tanpa dimengerti. Sehingga tradisi didaktis ini tidak dapat dimanfaatkan sebagai titik tolak untuk mengembangkan suatu sistem pendidikan umum.[4] Pada saat yang sama beberapa sekolah pun didirikan di Minahasa dan Maluku yang dikelola oleh zending[5] dan mendapat subsidi dari pemerintah. Tidak jauh berbeda dengan pendidikan Islam (pesantren, red), sekolah ini juga bergerak dalam bidang agama. Bible pun banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa melayu untuk diajarkan kepada peserta didik. Dalam bidang sejarah, buku sejarah hidup Rasul paulus dan negri palestina juga menjadi buku utama dalam pendidikan di sekolah ini. Sekolah ini khusus mendidik dan mempersiapkan para pemimpin agama sebagaimana pesantren. Dalam perkembangan selanjutnya, sekolah zending ini akhirnya masuk dalam sistem pendidikan umum pemerintahan. Pelajaran agama sudah mulai dikurangi dan diganti dengan pelajaran umum. Ini dapat dilakukan secara mudah karena adanya kemauan yang kuat dan didorong oleh subsidi pemerintah.

Menurut Steenbrink secara teknis memasukkan sekolah zending ke dalam sistem sekolah umum lebih mudah dari pada memasukkan pesantren ke dalam sistem pendidikan umum. Hal itu antara lain karena para murid sekolah zending sudah terbiasa denga tulisan huruf latin. Bahasa melayu yang merupakan bahasa yang asing bagi para murid kenyataannya lebih mudah dipahami dibandingkan dengan bahasa arab. Bagi para pengajar dan pegawai dalam pemerintahan, bahasa melayu sangat penting dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Disamping itu para murid sekolah zending sudah diajarkan ilmu hitung yang tidak kurang perannya dalam menunjang pendidikan umum. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kedekatan sekolah ini secara organisatoris dengan pihak pemerintahan sebagaimana sudah disebutkan diatas.. Sehingga pemerintah sering turun tangan membantu dan mencampuri masalah pendidikan di sekolah ini. Berbeda halnya dengan pendidikan Islam (pesantren, red) yang agak sulit untuk menjalin hubungan dengan pemerintah.[6] Seiring berjalannya waktu, pada awal abad ke 20 tumbuh keinginan oleh para pemikir untuk membuat sebuah sistem pendidikan umum dan mencari kemungkinan untuk melibatkan pendidikan Islam. Hal ini disebabkan karena pendidikan Islam dibiayai oleh rakyat sendiri sehingga sering mendapat kendala, dan bila sistem pendidikan umum dapat terealisasi, maka biaya yang ditanggung oleh rakyat akan lebih murah karena ada subsidi dari pemerintah. Akan tetapi karena alasan politis, penggabungan sistem tersebut tidak terlaksana sebagai akibat konsekuensi logis dari kebijakan pemerintahan Belanda yang tidak ingin campur tangan dengan pendidikan Islam.

Sejak saat itu, pendidikan Islam mengambil jalan sendiri, lepas dari pemerintahan, tetap berpegang pada tradisinya sendiri tetapi juga terbuka untuk perubahan dalam tradisinya. Semenjak permulaan abad ke 20, pendidikan Islam mulai mengembangkan satu model pendidikan sendiri yang terpisah dari sistem pendidikan Belanda dan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sistem pendidikan umum di Indonesia bukanlah timbul akibat penyesuaiannya dengan pendidikan Islam akan tetapi pendidikan Islamlah yang lama kelamaan menyesuaikan diri dan masuk ke dalam sistem pendidikan umum.

Steenbrink juga menggambarkan bagaimana situasi pendidikan Islam pada awal abad ke 20. Ada dua hal yang disampaikannya.[7] Pertama, pengajaran Al Quran. Menurutnya ini adalah pendidikan yang paling sederhana karena hanya dipusatkan pada Al Quran, terutama surat al fatihah dan surat-surat pendek di dalam juz amma. Biasanya hanya dilaksanakan secara individual di rumah kiayi, guru, langgar, atau surau. Selain membaca, para santri juga dituntut untuk dapat menghafal. Di samping itu terkadang para guru juga mengajarkan kaidah-kaidah tajwid dan bacaan-bacaan dalam shalat serta beberapa doa. Kedua, pengajian kitab. Pada umumnnya pengajian kitab ini berbeda dengan pengajian Al Quran. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari tiga sisi, yaitu: - Para murid pengajian kitab ini pada umumnya masuk asrama dalam lingkungan lembaga yang lazim disebut dengan pesantren. pendidikan agama Islam

- Mata pelajaran yang diberikan kepada murid lebih banyak dari pada pengajian Al Quran.

- Pendidikan tidak hanya diberikan secara individual tetapi juga secara berkelompok.

Untuk meresapkan jiwa ke-islaman, pesantren tidak hanya dihormati sebagai tempat belajar, tetapi lebih ditekankan sebagai tempat tinggal yang seluruhnya dipenuhi dan diresapi dengan nilai-nila agama. Tidak ada tempat lain yang melaksanakan shalat berjamaah dengan penuh kekhusyuan selain di pesantren. Pada malam hari suara lantunan ayat-ayat Al Quran terdengar merdu. Pada pertigaan malam para santri dengan penuh ketaatan melaksanakan shalat malam bersama-sama.

4. Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia Ada 4 faktor pendorong penting yang mengarahkan pada perubahan Islam di Indonesia pada permulaan abad ke 20, yaitu:[8] 1. Semejak tahun 1900 di beberapa tempat muncul keinginan untuk kembali kepada Quran dan Sunnah yang dijadikan titik tolak untuk menilai kebiasaan agama dan kebudayaan yang ada. Tema sentral dari kecenderungan ini adalah menolak taqlid. Dorongan ini juga dipengaruhi oleh Muhammad Abduh dan murid-muridnya yang juga menyuarakan penolakan atas taqlid. Meskipun sebagian besar umat Islam tetap berpegang pada apa yang dibawa oleh empat mazhab, khususnya mazhab imam Syafii. 2. Perlawanan nasional terhadap penguasa kolonial Belanda. Penentangan terhadap kolonialisme selalu bersifat nasionalis. Organisasi yang didirikan atas dasar Islam tidak semuanya berhasil mempertahankan dasar ini karena ketidakkonsitenan mereka.

3.

Usaha yang kuat dari orang-orang Islam untuk memperkuat organisasinya di bidang sosial ekonomi, baik demi kepentingan mereka sendiri maupun untuk kepentingan rakyat banyak.

4.

Dorongan pembaharuan pendidikan Islam. Karena cukup banyak orang dan organisasi Islam tidak puas dengan metode tradisional dalam mempelajari Quran dan studi agama, maka pribadi-pribadi dan organisasi Islam pada permulaan abad ke 20 ini berusaha memperbaiki pendidikan Islam baik dari segi metode maupun isinya. Mereka juga mengusahakan kemungkinan memberikan pendidikan umum untuk orang Islam. Garis pemisah yang membedakan antara kelompok muslim Indonesia kebanyakan ditentukan oleh dorongan pertama, yaitu ide yang berkenaan dengan taqlid. Hal ini telihat dari kenyataan bahwa kebanyakan studi menyebut kelompok yang menolak taqlid sebagai reformis dan modernis, dan penganut mazhab tertentu sebagai ortodoks dan konservatif. Dan fenomena ini masih ditemukan hingga sekarang ini.

Selanjutnya penulis akan sedikit memaparkan bagaimana seorang Karel Steenbrink melihat seorang pimpinan agama. Dalam garis besarnya, pimpinan umat Islam pada permulaan abad ke-20 terbagi ke dalam dua kelompok: Pertama,terdiri dari para pegawai yang pada umumnya menjabat sebagai penghulu, yang mengurusi mesjid di kota-kota besar dan berkedudukan sebagai anggota pengadilan agama, sambil merangkap sebagai penasehat agama pada pengadilan umum. Tokoh ini selalu diperankan oleh ketua pengadilan agama, yang juga merangkap kepala penghulu di kabupaten.Kedua, para guru agama. Bila mereka pemimpin pesantren biasanya disebut dengan kiayi, syaikh, atau ustadz. Memang perlu diakui bahwa antara para pegawai (penghulu) dengan para pemimpin sering tidak sejalan. Pegawai lebih didahulukan oleh pemerintah dari pada pemimpin pesantren. ini terbukti dalam kasus haji, bahwa para pegawai lebih didahulukan dari pada pemimpin haji. Pemimpin agamu pun sering menganggap rendah para pegawai agama sebagai orang yang tidak mempunyai pengetahuan agama yang memadai dan hanya mengharapkan gaji daroi pemerintah. Mereka juga tidak suka melamar sebagai pegawai agama dan menganggap kedudukan itu tidak cocok bagi pemimpin pesantren.

DALAM PESANTREN TERCIPTA TRIPUSAT PENDIDIKAN YANG TERPADU, YAITU PENDIDIKAN RUMAH TANGGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT. PESANTREN BUKAN HANYA MENANAMKAN ASPEK KOGNITIF, TETAPI JUGA AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK. PESANTREN BUKAN HANYA MENGASAH KECERDASAN OTAK DAN KETRAMPILAN TANGAN, TETAPI JUGA KEKUATAN MENTAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL. DENGAN BENTUK PESANTREN INILAH PONDOK GONTOR SANGAT KONSISTEN MENERAPKAN DISIPLIN BERASRAMA BAGI PARA PENGHUNINYA. ASRAMA PENUH DENGAN PROGRAM PENDIDIKAN, BUKAN SEKADAR SEBAGAI TEMPAT TIDUR SANTRI. DENGAN SISTEM ASRAMA, PARA SANTRI BISA BERINTERAKSI DENGAN PARA GURU SECARA LEBIH EFEKTIF DAN PRODUKTIF. SELAIN ITU, SANTRI DAPAT SEPENUHNYA TERWARNAI OLEH PROGRAM-PROGRAM PENDIDIKAN PONDOK SEHINGGA STERIL DARI PENGARUH KULTUR MASYARAKAT SEKITAR YANG KURANG EDUKATIF DAN ISLAMI. SISTEM ASRAMA DAPAT PULA MENDIDIK SANTRI DALAM HAL KEMANDIRIAN, LEADERSHIP, UKHUWAH, DAN BERSOSIALISASI DENGAN TEMAN-TEMANNYA YANG

MEMILIKI LATAR BELAKANG BUDAYA YANG BERANEKA RAGAM. KEISTIMEWAAN LAIN DARI SISTEM ASRAMA PONDOK GONTOR ADALAH MENGUTAMAKAN METODE KETELADANAN DENGAN MENJADIKAN KIYAI DAN GURU GURU SEBAGAI FIGUR SENTRAL. ASRAMA PONDOK GONTOR JUGA MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG KONDUSIF DENGAN MASJID SEBAGAI PUSAT YANG MENJIWAI SELURUH SANTRI.