Anda di halaman 1dari 9

Banyak sekali kejahatan tindak pidana yang terjadi di negara kita ini, contoh kongkrit yang akan saya

bahas dalam l makalah ini adalah kejahatan tindak pidana korupsi dan cara penanggulangannya. Korupsi merupakan tindakan yang sangat merugikan masyarakat dan negara. Tetapi sebagian besar yang melakukan korupsi adalah para penjabat negara yang tidak bertanggung jawab. oleh sebab itu korupsi di Indonesia sulit untuk ditangani.Dalam memberantas korupsi sebaiknya dilakukan secara preventif dan represif. Berdasarkan yang telah dikemukakan di atas, saya mencoba untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul Akibat dan Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia. Karya tulis ilmiah ini bertujuan sebagai wacana serta tindakan preventif secara tidak langsung untuk diri saya sendiri khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Harapan saya karya ilmiah ini dapat berhasil baik dan dapat memberikan wawasan tambahan bagi sang pembaca. Mohon maaf bila ada kesalahan pada penulisan dan ejaan kata pada makalah ini sesuai dengan Ejaan Yang Telah disempurnakan

BAB I PENDAHULUAN Dalam mempelajari tindak pidana korupsi maka sudah seharusnya kita terlebih dahulu mengetahui asal usul istilah korupsi itu sendiri. Korupsi berasal dari bahasa latin corrptio atau coruptus yang kemudian muncul dalam bahasa Eropa seperti Inggris coruption , bahasa belanda korruptie kemudian muncul dalam bahasa indonesia korupsi. Sehingga arti korupsi itu adalah jahat, busuk, mudah disuap. Pada mulanya tindak pidana korupsi hanya terbatas pada tindak penyuapan saja, yang kemudian meluas yang tidak hanya terbatas pada hal diatas saja.

Latar Belakang Korupsi di Indonesia. Dalam kamus bahasa indonesia pengertian korupsi menurut poerwadarminta adalah sebagai perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya. Seperti diketahui bahwa perkara tindak pidana korupsi merupakan perkara yang dapat digolongkan ke dalam apa yang disebut: White collar crime yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang punya kedudukan tinggi dalam masyarakat dan dilakukan sehubungan dengan tugas/ pekerjaannya. Menurut pendapat Edwin H. Sutherland dalam bukunya Principles of Criminology yang dikutip oleh Momon Martasaputra, S.H. dalam bukunya asas-asas kriminolgi , dikatakan : bahwa kejahatan itu bersumber di masyarakat, masyarakat yang memberi kesempatan untuk melakukan kejahatan dan masyarakat sendiri yang akan menanggung akibatnya dari kejahatan itu, walaupun secara tidak langsung , oleh karena itu untuk mencari sebab-sebab kejahatan adalah di masyarakat. Untuk melihat apa sebabnya seorang menjadi jahat, haruslah dilihat pertama-tama keadaan masa lampaunya, bagaimana pengaruh masa lampau terhadap orang itu, lalu bagaimana perkembangan kehidupan orang-prang tersebut sampai saat melakukan kejahatan itu, tetapi seseorang yang pada masa lampau telah melakukan kejahatan kenakalan anak-anak belum tentu setelah dewasanya ia jadi jahat, mungkin juga ia menjadi seorang yang baik. Menurut pendapat DR. Andi Hamzah, S.H. Muda Pati Adhyaksa, tentang kiasan atau sebab apa orang melakukan perbuatan korupsi di Indonesia, antara lain disebabkan karena faktor-faktor: Kurangnya gaji pegawai negeri dibandingkan dengan kebutuhan yang makin hari makin meningkat.

Latar belakang kebudayaan atau kultur indonesia. Manajemen yang kurang baik dan kontrol yang kurang efektif dan kurang efisien. Modernasi mengembangbiakan korupsi karena membawa perubahan nilai dasar atas masyarakat. Pendapat-pendapat tersebut memang benar, namun yang utama adalah faktor mental, yaitu bahwa faktor mental yang tidak sehat lebih dominan untuk mendorong terjadinya perbuatan korupsi. Sebab sekalipun faktor-faktor lainnya terdapat pada diri seseorang, akan tetap apabila ia bermental sehat tidak akan melakukan perbuatan korupsi. Oleh karena itu kejahatan tidak saja dilakukan oleh orang-orang miskin, atau kurang pendidikan, akan tetapi juga dapat dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan sosial, ekonomi, maupun politik yang tinggi, seperti halnya dengan kejahatan korupsi atau manipulasi.

BAB II PEMBAHASAN Pengertian Korupsi Korupsi adalah perbuatan tercela dan merupakan penyakit masyarakat. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kata atau istilah korupsi secara resmi digunakan sebagai istilah hukum dalam Peraturan perundang-undangan tentang korupsi, yaitu berturut-turut dalam: Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat tanggal 16 april 1958 Nomor: Prt/Peperpu/013/1958, dan Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Laut tanggal 17 April 1958 Nomor: Prt/Z.I/I/7; Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tanggal 9 Juni 1960 Nomor 24,

Lembaran Negara Tahun 1960 No.72, tentang Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi; Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ( Lembaran Negara Tahun 1971 No.19 ). Seperti diketahui bahwa perkara Tindak Pidana Korupsi merupakan perkara yang dapat digolongkan ke dalam apa yang disebut: White collar crime yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat dan dilakukan sehubungan dengan tugas/ pekerjaannya. Jadi perbedaan antara kejahatan korupsi dengan kejahatan lainnya, hanyalah terketak pada tingkat sosial ekonomi atau pendidikan pribadi pelaku-pelakunya. Khusus di negara kita ini masalah korupsi merupakan problema yang ruwet yang dihadapi Pemerintah karena korupsi telah menjadi suatu penyakit di dalam masyarakat yang dapat menghambat jalannya pembangunan negara. Akibat Korupsi Segala bentuk korupsi dalam arti luas, baik itu korupsi dalam bidang politik, ilmiah, waktu maupun korupsi dalam bidang materiil, mempunyai akibat yang sangat buruk terhadap pemerintah dan negara. Terlebih-lebih bagi nagara yabg sedang membangun di segala bidang seperti negara Indonesia sekarang, korupsi dapat menghambat Pembangunan Nasional pada umumnya dan Perekonomian Negara pada khususnya. Menurut pendapat DR. Andi Hamzah, S.H. dalam bukunya (disertai UNNAS) Undang-undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Sebagai Sarana Pembangunan, dikemukakan bahwa mengenai akibat korupsi ada 2 pendapat. Pendapat pertama, mengatakan bahwa korupsi tidak selalu berakibat negatif, kadang-kadang positif manakala korupsi itu berfungsi sebagai uang pelicin bagaikan

fungsi minyak pelumas pada mesin. Pendapat pertama ini banyak dianut oleh Peneliti Barat.Pendapat kedua, mengatakan bahwa korupsi itu tidak pernah membawa akibat positif, seperti antara lain: Korupsi memantapkan dan memperbesar masalah-masalah yabg menyangkut kurangnya hasrat untuk terjun di bidang usaha dan mengenai kurang tumbuhnya perasaan nasional. Korupsi dapat membahayakan stabilitas politik dan kesatuan negara bertambah lemah.. Korupsi mengakibatkan turunnya disiplin nasional. Saya sebagai penulis sependapat dengan pendapat kedua, yaitu bahwa korupsi dengan segala bentuknya tidak pernah membawa akibat positif. Korupsi pada umumnya mengakibatkan disiplin yang rendah, merugikan masyarakat dan menurunkan wibawa Pemerintah. Dihubungkan dengan masalah korupsi, maka tujuan pembangunan nasional tidak akan tercapai apabila korupsi sebagai penyakit masyarakat tidak diberantas

Oleh karena itu korupsi membawa akibat-akibat yang buruk bagi kelancaran Pembangunan Nasional. Berikut saya paparkan beberapa akibat dari pada korupsi yang terjadi di Indonesia dilihat dari segi politik, ekonomi, dan dari segi hukum. Akibat Korupsi Ditinjau dari Segi Politik Kurangnya kepercayaan terhadap Pemerintah. Suatu pemerintah dimana pejabat-pejabatnya hanya korup akan mengakibatkan kurangnya kepercayaan terhadap pemerintah tersebut. Kurangnya kewibawaan pemerintah. Akibat Korupsi Ditinjau dari Segi Ekonomi

Pendapatan negara diperoleh dari sektor pungutan bea masuk dan bea ke luar serta penarikan pajak. Pendapatan negara bisa berkurang apabila pungutan bea masuk dan bea ke luar dan penerimaan pajak tidak dapat diselamatkan dari penyelundupan dan penyelewengan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Penyelewengan tersebut dapat terjadi karena adanya korupsi sehingga pendapatan suatu negara akan berkurang dan itu sangat merugikan negara. Akibat Korupsi Ditinjau dari Segi Hukum Negara kita adalah negara hukum dimana segala sesuatunya harus didasarkan kepada hukum jadi bukan didasarkan atas kekuasaan. Bahwa cita-cita terwujudnya tertib hukum tidak akan dapat dicapai jika korupsi merajalela di kalangan penegak hukum. Sehingga hukum tidak dapat ditegakkan terhadap pelaku-pelaku penyelewengan yang merongrong ketertiban hukum itu. Sehingga yang melakukan perbuatan hukum akan tetap bahagia dan tertawa sepanjang para penegak hukum masih bisa disuap dan hukum dapat dilumpuhkan dengan kekuatan uang. Fakta tersebut menyebabkan pembangunan dan pembinaan hukum nasional akan terhambat. ng menyangkut anggaran proyek reboisasi, PRPTE, transmigrasi, koperasi, perpajakan, kredit Bimas/ Inmas, departemen sosial, pajak daerah (dispenda), dan di sektor-sektor, lainnya yang menimbulkan kerugian bagi negara dalam jumlah milyaran rupiah. 2. Langkah-Langkah Pemberantasan Korupsi. Dalam rangka pemberantasan dan pencegahan berkembangbiaknya Perbuatan korusi ini, Pemerintah telah melakukan berbagai upaya baik dengan cara melakukan pendekatan-pendekatan dan pemecahan-pemecahannya (preventif), maupun dengan cara melakukan penindakan-penindakan terhadap para pelakunya sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku (represif), yaitu antara

lain: Preventif Dalam UU No. 24 Prp thn 1960 maupun dalam UU No. 3 tahun 1971 tidak terdapat peraturan tentang usaha preversi langsung terhadap kemungkinan terjadinya erbuatan korupsi. Peraturan yang tercantum dalam UU tersebut hanya merupakan prevensi tidak langsung yaitu agar supaya orang-orang lain tidak atau takut melakukan perbuatan korupsi atau yang bersangkutan (terpidana) merasa jera untuk mengulangi perbuatan korupsi dikemudian hari. Dalam rangka pencegahan timbulnya perbuatan korupsi mengenai langkah-langkah penindakan untuk pihak kejaksaan terhadap yang bersalah melakukan penyelewengan, korupsi dan sebagainya akan terus dilakukan. Pemerintah tidak akan bertindak setengah-setengah dalam hal ini. Langkah ini mendapat dukungan di kalangan masyarakat sehingga diharapkan berkembang pula sangsi sosial dan sangsi moral terhadap koruptor. Dengan demikian akan timbul sifat malu dan takut untuk melakukan korupsi. Sebagian besar pejabat dan pegawai negara telah melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Represif. UU No 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korup dan Penerapannya. Pembentukan tim pemberantasan Korupsi (TPK) UU No.24 Prp Th 1960 dikenal adanya lembaga tim pemberantasan Korup. Pembentukan Lembaga Tindak Pidana Khusus Pusat Operasi Intelejen Kejaksaan RI.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan. Faktor mental merupakan faktor yang paling dominan dari faktor lainnya yang mendorong terjadinya perbuatan korupsi. Perbuatan korupsi sangat merugikan keuangan/ perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional. Perbuatan korupsi merupakan perbuatan yang tidak bermoral dan menunjukkan akhlaq yang rendah, tetapi perbuatan korupsi di Indonesia banyak dilakukan oleh para pejabat negara. Saran. Dalam menunjuk atau mengangkat seorang pejabat pemerintah negara perlu dilakukan secara selektif dalam arti selain mutlak diperlukan syarat pendidikan formal, juga perlu diperhatikan persyaratan lainnya seperti mempunyai mental yang sehat serta mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap kelangsungan Pembangunan Nasional. Dalam pengelolaan keungan atau kekayaan negara yang dinilai masih sangat lemah perlu dilakukann penataan kembali, karena hal itu dapat memberi peluang terjadinya kebocoran-kebocoran yang merangsang dilakukannya perbuatan korupsi. Penjatuhan hukuman terhadap mereka yang terbukti melakukan tindak pidana korupai, disamping harus dapat menimbulkan rasa jera pada pelakunya (terpidana), juga harus dapat memberikan dampak yang lebih jauh yaitu berkembangnya sanksi sosial dan sanksi moral, sehingga timbul rasa malu dan taktu melakukan perbuatan korupsi. DAFTAR PUSTAKA Djoko Prakoso, S.H., Bambang Riyadilani, Amir Muhsin, Kejahatan-kejahatan yang

Merugikan dan Membahayakan Negara, Bina Asara, Jakarta 1987.