Anda di halaman 1dari 150

1

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEKERJA ASSEMBLING PT X BOGOR TAHUN 2010

SKRIPSI

Oleh :

Emi Maijunidah NIM 106101003319

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Desember 2010

Emi Maijunidah

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, Desember 2010 Emi Maijunidah, NIM: 106101003319 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Pekerja Assembling PT X Bogor Tahun 2010 xvi + 121 halaman, 18 tabel, 18 gambar, 2 bagan, 1 grafik, lampiran

ABSTRAK Keluhan musculoskeletal disorder (MSDs) adalah keluhan pada bagian otototot skeletal yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai berat. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan sakit permanen pada otot, sendi dan ligamen serta mengurangi produktivitas dan efisiensi kerja. Proses pekerjaan ditempat ini dipengaruhi oleh target produksi yaitu 10-20 unit per hari dengan estimasi waktu yang telah ditetapkan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan terhadap 10 pekerja assembling 90% diantaranya mengalami keluhan otot seperti nyeri atau pegal-pegal pada leher, bahu, pinggang, punggung, paha, betis dan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi keluhan musculoskeletal disorder (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor tahun 2010 yang terdiri dari faktor pekerjaan, usia, kebiasaan merokok dan masa kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember 2010. Sampel penelitian ini berjumlah 70 orang didapatkan dari hasil perhitungan sampel dengan rumus uji hipotesis beda dua proporsi. Penelitian ini menggunakan dua uji statistik yaitu chi square untuk melihat adanya hubungan antara variabel pekerjaan, usia dan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs sedangkan Mann-Whitney untuk variabel masa kerja. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar pekerja mengalami keluhan MSDs yaitu sebanyak 65 pekerja (92,9%) dan berdasarkan pengukuran faktor pekerjaan sebagian besar pekerja mengalami risiko pekerjaan tinggi (47,1%) dan sangat tinggi (34,3%). Pada Penelitian ini didapatkan faktor pekerjaan, usia, kebiasaan merokok dan masa kerja tidak berhubungan dengan keluhan MSDs. Untuk mengurangi keluhan MSDs, disarankan kepada perusahaan agar memberikan alat bantu penanganan pada pekerjaan manual handling yang membutuhkan tenaga besar. Memberikan training tentang risiko ergonomi dan tata cara bekerja yang sesuai dengan prinsip ergonomi, membuat standar ergonomi (SOP) untuk setiap jenis pekerjaan terutama yang memiliki risiko ergonomi sangat tinggi dan tinggi serta pemberdayaan SMK3 dengan meningkatkan pengawasan dan koordinasi program P2K3 yang terkait dengan ergonomi di perusahaan yang dapat digunakan pekerja untuk bekerja dengan aman dan nyaman. Daftar bacaan: 32 (1980-2010)

SYARIEF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis, December 2010 Emi Maijunidah, NIM: 106101003319 The Factors Affecting Complaint Musculoskeletal Disorders (MSDs) On Workers Assembling PT X Bogor Year 2010 xvi + 121 pages, 18 tables, 18 drawings, 2 charts, 1 graphics, attachments

ABSTRACT Musculoskeletal disorders (MSDs) are the complaint in the skeletal muscles that one feels complaint ranging from mild to very severe. If this condition occurs in a long time can cause permanent pain in muscles, joints and ligaments and reduce productivity and work efficiency. The process works in this place is influenced by production targets of 10-20 units per day with estimated time frames. Based on preliminary studies conducted on 10 workers assembling 90% of them experienced muscle complaint such as pain or stiffness in the neck, shoulders, waist, back, thighs, calves and feet. This study aims to identify many factors that influence the complaint musculoskeletal disorders (MSDs) in workers assembling in PT X Bogor in 2010, which consist of job factor, age, smoking habits and working period. This research is a quantitative research with cross sectional design conducted in August through December 2010.The sample was 70 people obtained from the calculation formula of the sample with two different hypothesis test proportions. This study used two statistical tests of chi square to analyse the correlation between variables job factors, age and smoking habits with symptoms of MSDs, and the Mann-Whitney test for variable working period. Based on the results of the study, most workers experience MSDs complaints which are 65 workers (92.9%) and job factors measured on the majority of workers experienced high-risk jobs (47.1%) and very high (34.3%). In this study, obtained a job factor, age, smoking habits and working period not associated with symptoms of MSDs. To reducing complaint musculoskeletal disorders (MSDs), advised the company to provide a tool handling in manual handling jobs that require great strength. Provide training about ergonomic risk and working procedures in accordance with the principles of ergonomics, making ergonomics standard (SOP) for each type of work, especially with very high risk and high ergonomics and empowerment SMK3 by improving supervision and coordination of programs related to ergonomics P2K3 in the company which can be used workers to work safely and comfortably. Reading list: 32 (1980 - 2010).

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi Dengan Judul

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDS) PADA PEKERJA ASSEMBLING DI PT X BOGOR TAHUN 2010 Telah disetujui, diperiksa, dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 16 Desember 2010 Mengetahui,

Iting Shofwati, ST, MKKK Pembimbing Skripsi I

DR. H. Arif Sumantri, SKM, MKes Pembimbing Skripsi II

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jakarta, 16 Desember 2010 Penguji I

Iting Shofwati, ST, MKKK

Penguji II

DR. H. Arif Sumantri, SKM, Mkes

Penguji III

Selamat Riyadi, MKKK

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama TTL Jenis Kelamin Status Agama Ponsel Alamat

: Emi Maijunidah : Lamongan, 4 April 1988 : Perempuan : Belum Menikah : Islam : (021) 93366900 : Jl. Harun No 11 B Rt 012/01, Tn. Kusir Jakarta Selatan 12240 : emy_april88@yahoo.co.id

E-mail

PENDIDIKAN FORMAL 1994 2000 2000 2003 2003 2006 2006 2010 : SDN. 09 Pagi Kebayoran Lama : SLTPN 31 Jakarta : SMPN 32 Jakarta : Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan karuniaNYA dan salam tak lupa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja assembling PT X Bogor Tahun 2010. Dalam pelaksanaan magang dan penulisan laporan magang, penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. My beloved family, orang tua tercinta yang telah banyak memberikan perhatian, dukungan secara moril dan materil, terima kasih atas doa, kasih sayang dan kesabaran yang tak terkira, kakak-kakakku dan adikku tersayang. 2. Bapak dr. Yuli Prapanca Satar, MARS, selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Jakarta. 3. Ibu Iting Shofwati, ST, MKKK, selaku dosen pembimbing I dalam penyusunan skripsi ini, yang telah banyak meluangkan waktu dan memberikan banyak masukan serta motivasi kepada penulis. 4. Bapak DR H Arif Sumantri, SKM, Mkes, selaku pembimbing II dalam penyusunan skripsi ini, yang juga telah meluangkan waktu dan memberikan banyak saran. 5. Direksi PT X Bogor beserta jajarannya yang telah memberikan izin serta fasilitas kepada penulis.

6. Bapak Ir. Didit Suwardi, selaku Ketua P2K3 dan Bapak Ir. Ari Abriyarto, selaku Sekretaris Umum P2K3, Bapak Dewo selaku manager dan Bapak Didi, selaku supervisor di lokasi penelitian yang banyak memberikan masukan kepada penulis. 7. Pak Suyono, Pak Damiri, Ibu Wuri, Mas Budi serta seluruh staf dan operator PT X Bogor, terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya. 8. Sahabat dan Saudaraku tersayang yang selalu membuat hariku ceria dan memberikan semangat (Desi, Nita, Heri Puji, Dita, Agita, Nisa, Rina, Lesy, Abel, Prit, Adit Prayudi, Angga, Eka Wahyuni, Rony, anak-anak Kosan, Mas Amir dan seluruh mahasiswa kesmas 3G angkatan 2006 UIN Jakarta. 9. Seluruh dosen dan civitas akademik FKIK UIN Jakarta, khususnya Pak Gozali yang sudah banyak membantu proses administrasi dan memberikan motivasi. 10. Dan seluruh pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat penulis sebutkan. Thank you for everythings. Semoga Allah membalas jasa-jasa kalian semuanya. Penulis menyadari bahwa sebagai manusia tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan baik. Akhir kata penulis berharap semoga skrpsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis, pembaca dan berbagai pihak yang memerlukan. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2010

Emi Maijunidah

10

DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................................ i ABSTRAK ................................................................................................................. ii LEMBAR PERSETUJUAN .................................................................................... iv LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................................... v DAFTAR RIWAYAT HIDUP ................................................................................. vi KATA PENGANTAR ............................................................................................... vii DAFTAR ISI .............................................................................................................. ix DAFTAR TABEL .................................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... xiii DAFTAR BAGAN ................................................................................................... xiv DAFTAR GRAFIK .................................................................................................. xv DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 5 1.3 Pertanyaan Penelitian ...................................................................................... 6 1.4 Tujuan .............................................................................................................. 7 1.4.1 Tujuan Umum ......................................................................................... 7 1.4.2 Tujuan Khusus.......................................................................................... 7 1.5 Manfaat .............................................................................................................. 8 1.5.1 Perusahaan ................................................................................................ 8 1.5.2 Peneliti ..................................................................................................... 8 1.5.2 Institusi Pendidikan ................................................................................. 8 1.6 Ruang Lingkup ................................................................................................. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor Risiko MSDs ........................................................................................ 10 2.1.1 Faktor Pekerjaan .................................................................................... 10 a. Postur Tubuh .......................................................................................... 10 b. Peregangan Otot yang Berlebihan ........................................................... 11 c. Aktivitas Berulang .................................................................................. 12 d. Force/Load ............................................................................................. 12 e. Durasi ..................................................................................................... 13 2.1.2 Faktor Invidu ......................................................................................... 13 a. Umur ....................................................................................................... 13 b. Jenis Kelamin ......................................................................................... 15 c. Kebiasaan Merokok ................................................................................ 16 d. Kesegaran Jasmani ................................................................................. 18 e. Kekuatan Fisik ........................................................................................ 19 f. Indeks Massa Tubuh ............................................................................... 21

11

g. Masa Kerja ............................................................................................. 22 2.1.3 Faktor Lingkungan ................................................................................ 22 a. Mikrolimat .............................................................................................. 22 b. Iluminasi ................................................................................................. 23 c. Vibrasi .................................................................................................... 24 2.1.4 Faktor Psikososial ................................................................................. 25 2.2 Musculoskeletal Disorders (MSDs) ...................................................................... 26 2.2.1 Definisi Musculoskeletal Disorders (MSDs) ........................................ 26 2.2.2 Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) ....................................... 29 2.2.3 Anatomi dan Fisiologi Organ dalam Sistem Musculoskeletal .............. 31 2.2.3.1 Muskuler/Otot ................................................................................ 31 2.2.3.2 Skeletal ........................................................................................... 32 2.2.3.3 Low back Region ............................................................................. 33 2.2.3.4 Intervertebral Disc ......................................................................... 34 2.2.3.5 Leher .............................................................................................. 35 2.2.3.6 Elbow/Siku ..................................................................................... 35 2.2.3.7 Shoulder/Bahu ................................................................................ 36 2.3 Metode Penilaian Ergonomi ................................................................................. 36 2.3.1 Pengertian Ergonomi ............................................................................. 36 a. Ergonomic Assesment Survey Method (EASY) ...................................... 38 b. Base Risk of Ergonomic Factor (BRIEF) .............................................. 38 c. Employee Survey (Survei Gejala) .......................................................... 39 d. Medical Survey (Survei Rekam Medis) ................................................. 39 e. Rapid Upper Limb Assesment (RULA) ................................................ 40 f. Rapid Entire Body Assesment (REBA) .................................................. 50 2.4 Pengendalian Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) ................................ 60 2.5 Kerangka Teori ..................................................................................................... 63 BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep ............................................................................................ 65 3.2 Definisi Operasional ......................................................................................... 69 3.3 Hipotesis .......................................................................................................... 71 BAB IV METODELOGI PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian ................................................................................................ 72 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................................... 72 4.3 Populasi dan Sampel ....................................................................................... 72 4.3.1 Populasi ................................................................................................. 72 4.3.2 Sampel .................................................................................................. 72 4.4 Instrumen Penelitian dan Sumber Data ........................................................... 74 4.5 Pengolahan Data .............................................................................................. 75

12

4.6 Analisis Data .................................................................................................. 84 4.6.1 Analisis Univariat .................................................................................. 84 4.6.2 Analisis Bivariat .................................................................................... 85 BAB V HASIL 5.1 Sejarah singkat perusahaan ................................................................................. 86 5.2 Departemen APC (Assembling Passenger Cars) ................................................ 86 5.3 Analisis Univariat ................................................................................................. 98 5.3.1 Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling ............................................. 98 5.3.2 Risiko Faktor Pekerjaan pada Pekerja Assembling ................................ 99 5.3.3 Risiko Faktor Pekerja pada Pekerja Assembling ................................ 100 5.4 Analisis Bivariat ................................................................................................. 101 5.4.1 Hubungan Faktor Pekerjaan dengan Keluhan MSDs ........................... 101 5.4.2 Hubungan Faktor Pekerja dengan Keluhan MSDs ............................ 102 BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Keterbatasan Penelitian ...................................................................................... 104 6.2 Keluhan Musculoskeletal disorders (MSDs) ......................................................... 105 6.3 Hubungan Faktor Pekerjaan dengan Keluhan MSDs ........................................ 108 6.4 Hubungan Faktor Pekerja dengan Keluhan MSDs ............................................. 111 6.4.1 Hubungan usia dengan Keluhan MSDs ............................................. 111 6.4.2 Hubungan kebiasaan merokok dengan Keluhan MSDs ...................... 113 6.4.3 Hubungan masa kerja dengan Keluhan MSDs ..................................... 116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 118 7.2 Saran ................................................................................................................... 119 7.2.1 Bagi Perusahaan .................................................................................. 119 7.2.2 Bagi Peneliti Selanjutnya ..................................................................... 120 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

13

DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Skor Grup A RULA .................................................................................. 44 Tabel 2.2 Skor Grand Total RULA ........................................................................... 45 Tabel 2.3 Skor Grup B RULA .................................................................................... 48 Tabel 2.4 Penilaian Skor Grup A REBA .................................................................... 55 Tabel 2.5 Penilaian Skor Grup B REBA..................................................................... 57 Tabel 2.6 Penilaian Skor Grup C dan Skor Aktivitas ................................................. 59 Tabel 2.7 Level Akhir Skor REBA ............................................................................. 59 Tabel 4.1 Contoh Penilaian Skor Grup A REBA ...................................................... 77 Tabel 4.2 Contoh Penilaian Skor Grup B REBA ....................................................... 79 Tabel 4.3 Contoh Penilaian Skor Grup C REBA ....................................................... 80 Tabel 4.4 Level Akhir Skor REBA ............................................................................. 81 Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling PT X Bogor tahun 2010 ............................................................... 98 Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Risiko Faktor Pekerjaan pada Pekerja Assembling PT X Bogor tahun 2010 ......................................... 99 Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Usia dan Kebiasaan Merokok pada Pekerja Assembling PT X Bogor tahun 2010 ....................................... 100 Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja pada Pekerja Assembling PT X Bogor tahun 2010 ............................................................. 100 Tabel 5.5 Distribusi Faktor Pekerjaan dengan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling PT X Bogor tahun 2010 ............................................................. 101 Tabel 5.6 Distribusi Responden Menurut Usia dan Kebiasaan Merokok dengan Keluhan MSDS pada Pekerja Assembling PT X Bogor tahun 2010 ............................................................................................................... 102 Tabel 5.7 Analisis Hubungan Masa Kerja dengan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling PT X Bogor tahun 2010 ............................................... 103

14

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagian-bagian Intervertebral disc ........................................................... 34 Gambar 2.2 Tulang Leher ........................................................................................... 35 Gambar 2.3 Otot Leher .............................................................................................. 35 Gambar 2.4 Otot dan Bagian Siku .............................................................................. 35 Gambar 2.5 Otot Bahu ................................................................................................ 36 Gambar 2.6 Postur Bagian Lengan Atas ..................................................................... 41 Gambar 2.7 Postur Bagian Lengan Bawah ................................................................. 42 Gambar 2.8 Postur Pergelangan Tangan ..................................................................... 43 Gambar 2.9 Postur Putaran Pergelangan Tangan ........................................................ 43 Gambar 2.10 Postur Leher .......................................................................................... 46 Gambar 2.11 Postur Punggung ................................................................................... 47 Gambar 2.12 Postur Kaki ............................................................................................ 47 Gambar 2.13 Penilaian Grup A Posisi Leher .............................................................. 53 Gambar 2.14 Penilaian Grup A Posisi Punggung ....................................................... 54 Gambar 2.15 Penilaian Grup A Posisi Kaki................................................................ 54 Gambar 2.16 Penilaian Grup B Posisi Lengan Atas ................................................... 56 Gambar 2.17 Penilaian Grup B Posisi Lengan Bawah ............................................... 56 Gambar 2.18 Penilaian Grup B Posisi Pergelangan Tangan ....................................... 57

15

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Teori .......................................................................................... 64 Bagan 3.1 Kerangka Konsep ....................................................................................... 68

16

DAFTAR GRAFIK

Grafik 5.1 Distribusi bagian tubuh yang dikeluhkan pada operator assembling PT X tahun 2010 ............................................................................................ 99

17

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuisioner Penelitian Lampiran 2 Hasil Uji Univariat Lampiran 3 Hasil Uji Bivariat Lampiran 4 Form REBA Lampiran 5 Form RULA Lampiran 6 Lay Out APC (Assembling Passenger Cars)

18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Keluhan musculoskeletal adalah keluhan pada bagian otot-otot skeletal yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai berat. Jika dalam hal ini otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama maka dapat menyebabkan kerusakan pada otot, saraf, tendon, persendian, kartilago dan discus intervetebrata (Tarwaka, 2004). Keluhan muskuloskeletal sering juga dinamakan MSDs (Musculoskeletal Disorder), RSI (Repetitive Strain Injuries), CTD (Cumulative Trauma Disorders), Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs), RMI (Repetitive Motion Injury). Biasanya MSDs mempengaruhi bagian-bagian tubuh yang terlibat dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Keluhan MSD yang sering timbul pada pekerja industri adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada pergelangan tangan, siku dan kaki. Tubuh bagian atas terutama punggung dan lengan adalah bagian yang paling rentan terhadap risiko terkena MSDs. Jenis pekerjaan seperti perakitan, pengolahan data menggunakan keyboard komputer, pengepakan makanan dan penyolderan adalah pekerjaan-pekerjaan yang mempunyai siklus pengulangan pendek dan cepat sehingga menyebabkan timbulnya MSDs. Pekerjaan-pekerjaan dan sikap kerja yang statis sangat berpotensi mempercepat timbulnya kelelahan dan nyeri pada otot-otot yang terlibat. Jika kondisi seperti ini berlangsung setiap hari dan dalam waktu yang lama (kronis) bisa menimbulkan sakit permanen dan kerusakan pada otot, sendi, tendon, ligamen dan

19

jaringan-jaringan lain. Selain itu, bekerja dengan

rasa sakit dapat mengurangi

produktivitas serta efisiensi kerja dan apabila bekerja dengan kesakitan ini diteruskan maka akan berakibat pada kecacatan yang akhirnya menghilangkan pekerjaan bagi pekerjanya. Terdapat lebih dari sepertiga dari seluruh waktu kerja yang hilang (lost time injuries) karena hal ini (Melissa, 2009). Cohen et al (1997) menyebutkan bahwa MSDs dapat terjadi karena faktor pekerjaan, personal, lingkungan dan psikososial. Faktor pekerjaan antara lain postur janggal, postur statis, peregangan otot yang berlebihan, aktivitas berulang, force/load, frekuensi, durasi dan alat perangkai/genggaman. Faktor pekerja antara lain umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kesegaran jasmani, kekuatan fisik, ukuran tubuh, masa kerja dan indeks massa tubuh. Faktor lingkungan antara lain mikrolimat (suhu), getaran, iluminasi. Sedangkan faktor psikososial antara lain kepuasaan kerja, stress mental dan organisasi kerja (Bridger, 1995; Tarwaka et al, 2004). Gangguan musculoskeletal adalah masalah kesehatan yang paling umum di Uni Eropa yaitu 25 27% dari pekerja Eropa mengeluh sakit punggung dan 23% nyeri otot. Kemudian 62% dari pekerja di Uni-Eropa 27 terekspos seperempat waktu atau lebih untuk gerakan tangan repetitif dan gerakan lengan, 46% ke posisi yang menyakitkan atau melelahkan, 35% gerakan membawa atau memindahkan beban berat. Data lainnya dari The Labour Force Survey pada tahun 2007/2008, diperkirakan 539.000 pekerja di Britania Raya menderita musculoskeletal disorders yang disebabkan oleh pekerjaan mereka saat ini maupun pekerjaan sebelumnya dalam waktu 12 bulan terakhir.

20

Menurut data Biro Statistik Departemen Tenaga Kerja Amerika (2001) pada periode tahun 1996 sampai 1998 terdapat 2.811.000 kasus, diantaranya adalah gangguan yang berhubungan dengan faktor risiko ergonomi. Data lainnya juga menyebutkan di Amerika terjadi sekitar 6 juta kasus per tahun atau rata-rata 300 400 kasus per 100 ribu pekerja. Masalah ini mengakibatkan pekerja harus istirahat dirumah (lost day) selama rata-rata 20 hari, dengan variasi mulai dari ringan hingga cacat permanen tentunya. Biaya yang harus dikeluarkan akibat MSDs ini mencapai rata-rata $ 14.726 (lebih dari 130 juta rupiah). Bagi perusahaan, angka ini tentu belum termasuk biaya terhentinya produksi dan hilangnya kepercayaan pekerja kepada jaminan keselamatan yang diberikan perusahaan (aspek moral) (ergoinstitute, 2008). Sedangkan di Indonesia berdasarkan dari hasil studi Departemen Kesehatan dalan profil masalah kesehatan di Indonesia tahun 2005, menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakita yang diderita pekerja sehubungan dengan pekerjaannya. Gangguan kesehatan yang dialami pekerja, menurut penelitian yang dilakukan terhadap 9.482 pekerja di 12 kabupaten atau kota di Indonesia, umumnya berupa penyakit musculoskeletal disorders (16%), kardiovaskuler (8%), gangguan saraf (3%) dan gangguan THT (1,5%) (Sumiati, 2007). Menurut penelitian Melyssa tahun 2007, tingkat resiko MSDs pada pekerja otomotif di section assembling I-line memiliki risiko cukup tinggi terutama pada proses kerja chassis 1 dengan jenis aktifitas yaitu pemasangan rear suspension, bolt front strut, protector muffler, hose fuel tank. Hal serupa juga diungkapkan pada penelitian Soleha tahun 2009, yang mengatakan bahwa risiko ergonomi pekerjaan di bagian cant plant memiliki medium risk dan high risk, dimana terdapat hubungan

21

antara variabel umur (Pvalue 0,024) dan variabel kebiasaan merokok (Pvalue 0,005) dengan keluhan MSDs pada operator Can Plant PT X tahun 2009. Selain itu didapatkan dari hasil penelitian bahwa operator yang mengalami keluhan MSDs lebih banyak dibandingkan dengan operator yang tidak mengalami keluhan. Sementara itu pada penelitian Ikrimah tahun 2010, menyatakan bahwa terdapat hubungan antara faktor pekerjaan (Pvalue 0,029), kebiasaan merokok (Pvalue 0,000), getaran (Pvalue 0,032) dengan keluhan MSDs. PT X merupakan salah satu produsen mobil yang ada di negara ini. Di pabrik ini di produksi dua jenis kendaraan yaitu Passenger Cars yang berada di plant Assembling Passenger Cars dan Commercial Vehicle atau chassis bus yang berada di plant Assembling Commercial Vehicle. Untuk perakitan chassis bus terdapat departemen Aggregate Assembly & Commponent yang khusus merakit mesin, gearbox dan axle yang nantinya akan digabungkan dengan chassis pada proses selanjutnya. Proses pekerjaan pada perakitan passenger cars memiliki beragam jenis kegiatan atau lebih bervariasi jika dibandingkan dengan proses pekerjaan pada commercial vehicle disertai dengan kegiatan berpindah tempat. Selain itu proses pekerjaan di tempat ini dipengaruhi oleh target produksi yang harus dikerjakan tiap harinya yakni 10 20 unit per hari yang tentu saja tiap pekerjaannya dilakukan berdasarkan estimasi waktu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Sehingga kemungkinan tubuh pekerja sering melakukan perputaran cepat dan terus menerus serta beragam tehnik atau gerakan diantaranya berdiri, berputar, membungkuk dan mengangkat beban.

22

Berdasarkan studi pendahuluan di perusahaan tersebut, diketahui bahwa 9 dari dari 10 operator diantaranya mengalami keluhan otot seperti nyeri atau pegalpegal yang umumnya sering dirasakan dibeberapa bagian tubuh seperti leher, bahu, pingggang, punggung, paha, betis dan kaki. Sepuluh operator ini mewakili dari setiap stasiun yang ada dan diambil secara acak. Selain itu menurut pernyataan pihak klinik, jumlah pekerja dibagian ini yang mengeluhkan nyeri otot atau pegal-pegal di klinik sekitar 15 orang per bulan. Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010.

1.2 Rumusan Masalah Proses pekerjaan di passenger cars yang memiliki beragam jenis kegiatan (bervariasi) jika dibandingkan dengan commercial vehicle dan banyak gerakan yang repetitif disertai dengan kegiatan berpindah tempat. Selain itu proses pekerjaan di tempat ini dipengaruhi oleh target produksi yang harus dikerjakan tiap harinya yakni 10 20 unit per hari yang tentu saja tiap pekerjaannya dilakukan berdasarkan estimasi waktu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Sehingga kemungkinan tubuh pekerja sering melakukan perputaran cepat dan terus menerus serta beragam tehnik atau gerakan diantaranya berdiri, berputar, membungkuk dan mengangkat beban. Berdasarkan studi pendahuluan diketahui bahwa 9 dari 10 operator

diantaranya mengalami keluhan otot seperti nyeri atau pegal-pegal yang umumnya sering dirasakan dibeberapa bagian tubuh seperti leher, bahu, pingggang, punggung,

23

paha, betis dan kaki. Selain itu jumlah pekerja dibagian ini yang mengeluhkan nyeri otot atau pegal-pegal di klinik sekitar 15 orang per bulan. Diperkirakan kejadian Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja dapat mempengaruhi produktivitas dan efisiensi kerja, meningkatkan risiko kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja serta target produksi yang telah ditetapkan perusahaan akan terganggu. Diperkirakan juga Faktor risiko keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja dibagian ini yaitu faktor pekerjaan dan pekerja (umur, kebiasaan merokok, masa kerja). Dengan demikian diperlukan adanya penelitian untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja sehingga upaya preventif akan lebih mudah dilakukan.

1.3 Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana gambaran keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 2. Bagaimana gambaran faktor pekerjaan pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 3. Bagaimana gambaran faktor pekerja pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 4. Apakah ada hubungan antara faktor pekerjaan dengan risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 5. Apakah ada hubungan antara faktor pekerja dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010.

24

1.4 Tujuan 1.4.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 1.4.2 Tujuan Khusus 1. Diketahuinya gambaran keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 2. Diketahuinya gambaran faktor pekerjaan pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 3. Diketahuinya gambaran faktor pekerja pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 4. Diketahuinya hubungan antara faktor pekerjaan dengan keluhan

Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010. 5. Diketahuinya hubungan antara faktor pekerja dengan keluhan

Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor Tahun 2010.

1.5 Manfaat 1.5.1 Perusahaan a. Dapat memberikan informasi mengenai faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja, agar perusahaan lebih meningkatkan perhatian pada permasalahan ergonomi.

25

b. Dapat memberikan solusi alternatif mengenai tindakan pencegahan terhadap risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja guna meningkatkan kesehatan dan kinerja pekerja. 1.5.2 Peneliti Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam dunia kerja khususnya tentang keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs), melakukan penilaian risiko MSDs dan permasalahanya di tempat kerja serta sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan bahan bacaan oleh peneliti selanjutnya. 1.5.3 Institusi Pendidikan Menambah referensi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja di industri perakitan kendaraan dalam bidang keilmuan K3 dan mahasiswa peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

1.6 Ruang Lingkup Penelitian ini dilakukan pada bagian passenger cars di PT X Bogor tahun 2010. Topik penelitian ini tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja, karena banyaknya kegiatan atau proses pekerjaan yang dilakukan pada bagian ini dan proses kerja yang dilakukan dengan cepat karena adanya target produksi yang harus dicapai tiap harinya yaitu 10 20 unit perhari. Sehingga kemungkinan tubuh pekerja sering melakukan perputaran cepat dan terus menerus serta beragam tehnik atau gerakan diantaranya berdiri, berputar, membungkuk, mengangkat beban, yang rentan terhadap postur kerja janggal.

26

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Desember 2010. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional yang terdiri dari beberapa variabel yaitu faktor pekerjaan dan pekerja (umur, kebiasaan merokok, masa kerja). Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh operator di Assembling Passenger Cars yang berjumlah 90 orang dan sampel penelitian ini berjumlah 70 orang yang didapatkan dari hasil perhitungan sampel dengan rumus sampel uji hipotesis beda dua proporsi. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebar kuisioner, observasi serta melakukan penilaian skor terhadap faktor pekerjaan dengan menggunakan metode pengukuran ergonomi yaitu metode REBA dan RULA.

27

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor Risiko MSDs 2.1.1 Faktor Pekerjaan a. Postur Tubuh Postur adalah orientasi relatif dari bagian tubuh dalam ruang. Postur manusia dalam keadaan melakukan kerjanya ditentukan oleh dimensi tubuh dan dimensi deasain kerjanya, jika tidak terdapat keselarasan dalam kedua dimensi tersebut maka akan timbul dampak jangka panjang dan dampak jangka pendek terhadap tubuh manusia (Pheasant, 1991). ILO (1998) mengkategorikan postur tubuh sebagai postur janggal adalah berdiri, duduk tanpa dukungan lumbar, duduk tanpa dukungan punggung, duduk tanpa footrest (tumpuan kaki) yang baik dengan ketinggian yang sesuai, duduk dengan mengistirahatkan bahu pada permukaan alat kerja yang terlalu tinggi, tangan bagian atas terangkat tanpa dukungan dari alas vertikal, tangan meraih sesuatu yang sulit terjangkau (jauh/tinggi), kepala mendongak, posisi membungkuk, punggung yang mengarah ke depan, membawa beban berat dengan cara memanggul atau memikul, semua posisi tegang, posisi ekstrim yang terus menerus setiap sendi. Sedangkan postur statis merupakan postur kerja fisik dalam posisi yang sama dimana pergerakan yang terjadi sangat minimal. Pada waktu diam, dimana pergerakan yang tak berguna terlihat, pengerutan supplai darah, darah tidak mengalir baik ke otot. Berbeda halnya, dengan kondisi yang dinamis, suplai darah segar terus tersedia untuk menghilangkan hasil buangan melalui kontraksi dan relaksasi otot.

28

Pekerjaan kondisi diam yang lama mengharuskan otot untuk menyuplai oksigen dan nutrisi sendiri, dan hasil buangan tidak dihilangkan. Penumpukan Local hypoxia dan asam latic meningkatkan kekusutan otot, dengan dampak sakit dan letih. Sifat yang khusus dari gangguan statik termasuk didalamnya menjaga usaha dalam level yang tinggi dalam 10 menit atau lebih, level menengah 1 menit atau lebih, atau usaha dengan level rendah 4 menit atau lebih. Contoh dari gangguan statik termasuk didalamnya: meningkatkan bahu untuk periode yang lama, menggenggam benda dengan lengan mendorong dan memutar benda berat, berdiri di tempat yang sama dalam waktu yang lama dan memiringkan kepala kedepan dalam waktu yang lama. Diperkirakan semua pekerjaan itu dapat di atur dalam beberapa jam per hari tanpa gejala keletihan dalam jika menggunakan gaya yang besar tidak boleh melebihi 8 % dari maksimum gaya otot (Graendjean, 1980). b. Peregangan otot yang berlebihan Peregangan otot yang berlebihan (over exertion) biasanya dialami pekerja yang mengalami aktifitas kerja yang menuntut tenaga yang besar seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik dan menahan beban yang berat. Peregangan otot yang berlebihan ini terjadi karena pengerahan tenaga yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering dilakukan, maka akan mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat menyebabkan terjadinya cidera otot skeletal (Peter Vi, 2000 dalam Tarwaka et al, 2004).

29

c. Aktivitas Berulang Aktifitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja secara terus menerus, tanpa memperoleh kesempatan untuk melakukan relaksasi (Peter Vi, 2000 dalam Tarwaka et al, 2004). Gerakan lengan dan tangan yang dilakukan secara berulang-ulang terutama pada saat bekerja mempunyai risiko bahaya yang tinggi terhadap timbulnya CTDs. Tingkat risiko akan bertambah jika pekerjaan dilakukan dengan tenaga besar, dalam waktu yang sangat cepat dan waktu pemulihan kurang (Ikrimah, 2010). d. Force/Load Force adalah jumlah usaha fisik yang digunakan untuk melakukan pekerjaan seperti mengangkat benda berat. Jumlah tenaga bergantung pada tipe pegangan yang digunakan, berat obyek, durasi aktivitas, postur tubuh dan jenis dari aktivitasnya. Massa beban/objek merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan otot rangka (Soleha, 2009). Untuk jenis pekerjaan angkat dan angkut, maka beban maksimum yang diperkenankan, agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja, sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No. Per.01/MEN/1978 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam penebangan dan pengangkutan kayu. Untuk laki-laki dewasa dengan pekerjaan terus menerus sebesar 40 kg dan pekerjaan sekalikali sebesar 15-18 kg dan untuk wanita dewasa dengan pekerjaan terus menerus sebesar 15 kg dan pekerjaan sekali-kali sebesar 10 kg. Sedangkan untuk tenaga kerja muda laki-laki dengan pekerjaan terus menerus sebesar 15 kg dan pekerjaan sekalikali sebesar 10-15 kg dan untuk tenaga kerja muda wanita dengan pekerjaan terus

30

menerus sebesar 10-12 kg dan pekerjaan sekali-kali sebesar 6-9 kg (Ramandhani, 2003). e. Durasi Durasi menunjukkan jumlah waktu yang digunakan dalam melakukan suatu pekerjaan. Semakin lama durasinya dalam melakukan pekerjaan yang sama akan semakin tinggi resiko yang diterima dan semakin lama juga waktu yang diperlukan untuk pemulihan tenaganya (NIOSH, pub 97-117, 1997). Bird (2005) mendefinisikan durasi dengan pengkategorian yaitu durasi singkat jika < 1 jam/hari, durasi sedang jika 1-2 jam/hari dan durasi lama jika > 2 jam/hari. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ikrimah tahun 2010 didapatkan hasil bahwa faktor pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs dengan Pvalue sebesar 0,029. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Soleha tahun 2009 didapatkan hasil bahwa faktor pekerjaan kurang memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs dengan Pvalue sebesar 0,148. 2.1.2 Faktor Individu a. Umur Prevalensi MSDs seseorang meningkat saat mereka mulai masuk bekerja. Pada umumnya keluhan muskuloskeletal mulai dirasakan pada umur 30 tahun dan semakin meningkat pada umur 40 tahun ke atas. Hal ini disebabkan perubahan biologis secara alamiah pada usia paruh baya kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun karena proses penuaan, misalnya degeneratif otot, tendon, ligamen dan sendi sehingga resiko terjadinya keluhan pada otot meningkat.

31

Pada usia 35, kebanyakan orang memiliki episode pertama mereka kembali sakit [Guo et al. 1995; Chaffin 1979]. Setelah di tahun-tahun kerja mereka (usia 2565), Namun, prevalensi relatif konsisten [Guo et al. 1995; Biering-Sorensen 1983]. Gangguan otot adalah salah satu gejala sebagian besar masalah kesehatan umum usia menengah dan tua Buckwalter et al [. 1993]. Namun, kelompok usia dengan tingkat nyeri punggung tertinggi compensable dan strain adalah kelompok umur 20-24 untuk laki-laki, dan kelompok umur 30-34 untuk perempuan. Selain penurunan fungsi muskuloskeletal karena perkembangan usia yang terkait gangguan degeneratif usia, kehilangan kekuatan jaringan dapat meningkatkan probabilitas atau tingkat keparahan kerusakan jaringan lunak (NIOSH, 1997). Sebagai contoh, Bettie et al (1989) telah melakukan studi tentang kekuatan statik otot untuk pria dan wanita dengan usia antara 20 sampai dengan di atas 60 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan otot maksimal terjadi pada saat umur antara 20-29 tahun, selanjutnya terus terjadi penururnan sejalan dengan bertambahnya umur. Pada saat umur mencapai 60 tahun, rata-rata kekuatan otot menurun sampai 20%. Pada saat kekuatan otot mulai menurun, maka resiko terjadinya keluhan otot akan meningkat. Riihimaki et al. (1989) menjelaskan bahwa umur mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kekuatan otot, terutama untuk otot leher dan bahu, bahkan ada beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa umur merupakan penyebab utama terjadinya keluhan otot (Tarwaka, et al. 2004). Beberapa studi menemukan usia menjadi faktor penting yang terkait dengan MSDs [Guo et a. 1995; Biering-Sorensen 1983; Inggris et al. 1995; Ohlsson et al. 1994; Riihimki et al; Toomingas et al 1989]. Misalnya pada penelitian Riihimaki et al. (1989) menemukan hubungan yang signifikan antara sciatica dan usia di

32

operator mesin, tukang kayu, dan pekerja yang menetap. Usia juga merupakan faktor risiko yang kuat untuk leher dan bahu gejala di tukang kayu, operator mesin dan pekerja berpindah-pindah. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Soleha tahun 2009 juga mendapatkan hasil yang serupa yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara faktor individu (umur) dengan keluhan MSDs dengan Pvalue sebesar 0,024. Namun beberapa penelitian juga mendapatkan hasil bahwa umur tidak memiliki hubungan dengan keluhan MSDs sebagai contohnya penelitian Torell et al. [1988] tidak menemukan korelasi antara usia dan MSDS pada prevalensi dalam populasi pekerja galangan kapal. Mereka menemukan hubungan yang kuat antara beban kerja (dalam kategori rendah, sedang, atau berat) dan gejala atau diagnosis MSDS. Hasil yang sama juga didapatkan pada penelitian Ikrimah tahun 2010 bahwa faktor individu (umur) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs dengan Pvalue sebesar 0,121. b. Jenis Kelamin Dalam pendesainan suatu beban tugas harus diperhatikan jenis kelamin pemakainya, Astarnd dan Rodahl (1977) menjelaskan bahwa kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Namun pendapat ini masih diperdebatkan oleh para ahli, namun beberapa hasil penelitian secara seginifikan menunjukkan jenis kelamin sangat mempengaruhi tingkat risiko keluhan otot. Hal ini terjadi karena secara fisiologis, kemampuan otot wanita memang lebih rendah dari pria. Hasil penelitian Bettie et al. (1989) menunjukkan bahwa rata-rata kekuatan otot wanita kurang lebih hanya 60% dari kekuatan otot pria, khususnya untuk otot lengan, punggung dan kaki. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Chiang

33

et al. (1993), Bernard et al. (1994), hales et al. (1994), dan Johansonb(1994) yang menyatakan bahwa perbandingan keluhan otot antara pria dan wanita adalah 1:3 (Tarwaka, et al. 2004). Penelitian, Lindman et al. [1991], menemukan bahwa wanita memiliki lebih banyak jenis serat otot di otot muscle daripada pria dan membuat hipotesis sakit miofasial berasal dalam serat otot tipe I. Ulin et al. [1993] mencatat bahwa perbedaan gender yang signifikan dalam sikap kerja yang terkait dengan sosok laki-laki atau perempuan. Namun prevalensi wanita yang lebih tinggi mengeluh MSDs daripada laki-laki dapat disebabkan karena bias pelaporan yang mungkin terjadi karena wanita mungkin lebih mungkin melaporkan rasa sakit dan mencari perawatan medis daripada laki-laki [Armstrong et al. 1993; Hales et al. 1994]. c. Kebiasaan Merokok Beberapa penelitian telah menyajikan bukti bahwa riwayat merokok positif dikaitkan dengan MSDs seperti nyeri pinggang, linu panggul, atau intervertebral disc hernia [Finkelstein 1995; Owen dan Damron 1984; Frymoyer et al. 1983; Svensson dan Anderson 1983; Kelsey et al.1984]. Meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan. Boshuizen et al. (1993) menemukan hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan keluhan otot pinggang, khususnya untuk pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot. Hal ini sebenarnya terkait erat dengan kondisi kesegaran tubuh seseorang. Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengonsumsi oksigen menurun dan sebagai

34

akibatnya tingkat kesegaran tubuh juga menurun. Apabila yang bersangkutan harus melakukan tugas yang menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot (Tarwaka, et al. 2004). Deyo dan [Bass 1989] mengamati bahwa prevalensi sakit punggung meningkat dengan jumlah paket-tahun merokok dan dengan tingkat merokok terberat. Dalam sebuah penelitian Finlandia usia 30-64, [Makela et al. 1991], nyeri leher ditemukan secara signifikan berhubungan dengan merokok saat ini (OR 1.3, CI 95% 1-1,61) ketika model logistik telah disesuaikan untuk usia dan jenis kelamin. Beberapa penjelasan untuk hubungan yang telah dirumuskan. Satu hipotesis adalah bahwa nyeri punggung disebabkan oleh batuk dari merokok. Batuk meningkatkan tekanan perut dan tekanan intradiscal dan meletakkan beban pada tulang belakang. Beberapa studi telah mengamati hubungan tersebut [Deyo dan Bass 1989; Frymoyer et al. 1980; Troup et al. 1987]. Mekanismenya dimulai dari nikotin yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke jaringan dan kandungan rokok

menyebabkan kandungan mineral tulang belakang berkurang dan menyebabkan microfractures. Hal serupa juga diungkapkan pada penelitian Soleha tahun 2009 dan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor individu (kebiasaan merokok) dengan keluhan MSDs dengan Pvalue sebesar 0,005. Sedangkan pada penelitian Ikrimah tahun 2010 didapatkan hasil bahwa faktor individu (kebiasaan merokok) juga memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs.

35

Jadi dalam hal ini perokok lebih memiliki kemungkinan menderita masalah punggung dari pada bukan perokok. Efeknya adalah hubungan dosis dan lebih kuat dari pada yang diharapkan dari efek batuk. Risiko meningkat sekitar 20% untuk setiap 10 batang rokok perhari (Pheasant,1991). Menurut Bustan tahun 1997, kebiasaan merokok dibagi menjadi beberapa kategori yaitu yang mempunyai kebiasaan merokok ringan (10 batang sehari), sedang (10-20 batang sehari), berat (> 20 batang sehari) dan tidak punya kebiasaan merokok. d. Kesegaran Jasmani Pada umumnya keluhan otot jarang dialami oleh seseorang yang dalam aktifitas kesehariannya mempunyai cukup waktu untuk beristirahat. Sebaliknya, bagi yang dalam pekerjaan kesehariannya memerlukan tenaga besar dan tidak cukup istirahat akan lebih sering mengalami keluhan otot. Namun, kurangnya aktivitas fisik juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap cedera dan setelah cedera, ambang batas untuk cedera lebih jauh berkurang. Disisi lain, beberapa rezim pengobatan standar telah menemukan bahwa gejala MSDs sering membaik oleh aktivitas fisik (NIOSH, 1997). Laporan NIOSH yang dikutip dari hasil penelitian Cady et al.(1979) menyatakan bahwa untuk tingkat kesegaran tubuh yang rendah, maka risiko terjadinya keluhan adlah 7,1%, tingkat kesegaran tubuh sedang adalah 3,2% dan tingkat kesegaran tubuh tinggi adalah 0,8%. Hal ini juga diperkuat dengan laporan Battie et al.(1989) yang menyatakan bahwa hasil penelitian terhadap para penerbang menunjukkan bahwa kelompok penerbang dengan tingkat kesegaran tubuh yang paling mempunyai risiko yang sangat kecil terhadap risiko cidera otot.

36

Namun beberapa studi epidemiologi kerja telah melihat pada kegiatan non fisik terkait dengan pekerjaan di atas kaki. Kebanyakan studi NIOSH [Hales dan Denda 1989; Kiken et al. 1990; Burt et al. 1990; Baron et al. 1991; Hales et al. 1994; Bernard et al. 1994] telah membuktikan MSDS karena cedera olahraga atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan non-pekerjaan atau cedera dan belum termasuk faktor-faktor dalam analisis. Singkatnya, meskipun kebugaran fisik dan aktivitas secara umum diterima sebagai cara untuk mengurangi MSDs yang berhubungan dengan pekerjaan, literatur epidemiologi saat ini tidak memberikan indikasi yang jelas seperti itu. Literatur kedokteran olahraga, bagaimanapun tidak memberikan indikasi yang lebih baik yang melibatkan aktivitas olahraga yang kuat, bersifat berulang (seperti tenis dan pitching baseball) yang berkaitan dengan MSDS (NIOSH,1997). e. Kekuatan Fisik Beberapa studi epidemiologi mengatakan ada hubungan antara cedera punggung dan ketidakkekuatan fisik dan tugas pekerjaan. Chaffin dan Park (1977) seperti yang dilaporkan oleh NIOSH menemukan keluhan punggung yang tajam pada para pekerja yang menuntut pekerjaan otot diatas batas kekuatan otot maksimalnya. Dan pekerja yang memiliki kekuatan otot rendah berisiko tiga kali lipat lebih besar mengalami keluhan otot dibandingkan pekerja yang memiliki kekuatan otot yang tinggi. Dalam studi lain, Troup et al. [1981] menemukan bahwa mengurangi kekuatan otot fleksor punggung adalah prediktor yang konsisten dari sakit punggung berulang atau terus-menerus, namun asosiasi ini tidak ditemukan untuk pertama kali terjadinya nyeri punggung.

37

Disisi lain, studi-studi lain tidak menemukan hubungan yang sama dengan kekuatan fisik. [Battie et al. 1989; Leino 1987] gagal untuk membuktikan bahwa kekuatan fisik ditentukan oleh kekuatan mengangkat isometrik, pekerja beresiko rendah untuk mengeluh sakit punggung. Battie et al. [1990] membandingkan nyeri punggung pekerja dengan pekerja lain pada pekerjaan yang sama dengan menguji kekuatan isometrik dan tidak menemukan bahwa pekerja dengan nyeri punggung yang melemah. Dalam dua studi dari perawat (Videman et al;. 1989, Mostardi et al. 1992) kekuatan mengangkat tidak merupakan prediktor yang dapat diandalkan sakit punggung. Oleh karena itu, jika dicermati bersama, studi yang menemukan hubungan yang signifikan antara kekuatan/pekerjaan tugas dan kembali sakit digunakan penilaian pekerjaan atau analisis yang lebih menyeluruh dan terfokus pada pekerjaan mengangkat manual. Namun, studi-studi ini hanya diikuti pekerja untuk jangka waktu satu tahun, dan apakah hubungan yang sama akan terus selama masa kerja lama, tentunya masih banyak yang tidak jelas dalam hal ini. Sedangkan studi yang tidak menemukan hubungan, meskipun mereka mengikuti pekerja untuk jangka waktu yang lebih lama, tidak termasuk pengukuran tingkat eksposur yang tepat untuk setiap pekerja, sehingga mereka tidak bisa menilai kemampuan kekuatan yang penting dalam pekerjaan individu. Oleh karena itu, mereka tidak bisa memperkirakan tingkat ketidakcocokan antara 'kekuatan pekerja dan tuntutan tugas (NIOSH, 1997). f. Indeks Massa Tubuh Walaupun pengaruhnya relatif kecil, ukuran tubuh juga menyebabkan keluhan otot skeletal. Berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (BMI) (rasio berat terhadap tinggi kuadrat), dan obesitas semua telah diidentifikasi dalam studi sebagai

38

faktor risiko potensial untuk MSDS tertentu, terutama CTS dan herniasi diskus lumbar. Dalam Werner et al. [1994] studi populasi yang membutuhkan evaluasi klinis elektrodiagnostik dari ujung kanan atas, pasien diklasifikasikan sebagai obesitas (BMI> 29) adalah 2,5 kali lebih besar dibandingkan pasien kurus (BMI <20) untuk didiagnosis dengan CTS. Werner et al. [1994] mengembangkan model regresi linier berganda CTS dengan perbedaan antara indra ulnaris latency dan median sebagai variabel dependen yang menunjukkan bahwa BMI adalah variabel yang paling berpengaruh, tapi tetap hanya menyumbang 5% dari varians dalam model. Pada model logistik Nathan 1994, indeks massa tubuh dicatat 8,6% dari total risiko. Hubungan CTS dan BMI telah disarankan untuk berhubungan dengan jaringan lemak meningkat dalam saluran karpal atau untuk meningkatkan tekanan hidrostatik sepanjang kanal karpal pada orang obesitas dibandingkan dengan orang yang ramping. Data antropometrik yang bertentangan, tetapi secara umum menunjukkan bahwa tidak ada korelasi kuat antara tinggi badan, berat badan, tubuh membangun dan nyeri pinggang. Obesitas tampaknya memainkan peran kecil tapi signifikan dalam terjadinya CTS. g. Masa Kerja Masa kerja adalah faktor yang berkaitan dengan lamanya seseorang bekerja disuatu perusahaan. Terkait dengan hal tersebut, MSDs merupakan penyakit kronis yang membutuhkan waktu lama untuk berkembang dan bermanifestasi. Jadi semakin lana waktu bekerja atau semakin lama seseorang terpajan faktor risiko MSDs ini maka semakin besar pula risiko untuk mengalami MSDs (Guo, 2004).

39

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ikrimah tahun 2010 didapatkan hasil bahwa masa kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs dengan Pvalue sebesar 0,313. Demikian juga dengan penelitian Soleha tahun 2009 yang menunjukkan bahwa masa kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs dengan Pvalue sebesar 0,439. 2.1.3 Faktor Lingkungan a. Mikrolimat Paparan suhu dingin maupun panas yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan, kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga gerakan pekerja menjadi lamban, sulit bergerak dan kekuatan otot menurun. Demikian juga dengan paparan udara yang panas. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh yang terlampau besar menyebabkan sebagian besar energi yang ada dalam tubuh akan termanfaatkan oleh tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Apabila hal ini tidak diimbangi dengan pasokan energi yang cukup, maka akan terjadi kekurangan suplai energi ke otot. Sebagai akibatnya, peredaran darah kurang lancar, suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme karbohidrat terhambat dan terjadi penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri otot (Sumamur, 1982; Grandjean, 1993 dalam Tarwaka et al. 2004). b. Iluminasi Iluminasi adalah datangnya cahaya ke suatu objek. Iluminansi merupakan besaran penerangan yang kaitannya erat dengan kuat penerangan penerangan. Iluminansi adalah penyataan kuantitatif jumlah cahaya yang dipantulkan oleh permuakaan pada suatu arah. (Muhaimin, 2001). Iluminansi suatu permukaan

40

ditentukan oleh kuat penerangan dan kemampuan memantulkan cahaya oleh permukaan. Penelitian yang dilakukan Escuyer dan Fontoynont, mengadopsi metode wawancara tidak langsung untuk mensurvey kecenderungan intensitas penerangan yang disukai oleh para pekerja di Perancis melalui lingkungan kerjanya. Hasilnya, 44% responden mengatakan bahwa memiliki pencahayaan alami yang sedikit adalah karakteristik utama pada sebuah kantor. Kadar pencahayan dapat dikategorikan berdasarkan jenis pekerjaannya yaitu: Tidak cermat (ex: menumpuk barang) = 80 170 lux Agak cermat (ex: memasang, tidak persis) = 170 350 lux Cermat/persis (ex: membaca, menggambar) = 350 700 lux Amat persis (ex: memasang, persis) = 700 10000 lux Jika tingkat iluminasi pada suatu tempat tidak memenuhi persyaratan maka akan menyebabakan postur leher untuk fleksi ke depan (menunduk) dan postur tubuh untuk fleksi (membungkuk) yang berisiko mengalami MSDs (Bridger, 1995). c. Vibrasi Getaran dengan frekuensi yang tinggi akan menyebabkan kontraksi otot bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan penimbunan asam laktat dalam alatalat dengan bertambahnya panjang waktu reaksi. Rasa tidak enak menjadi sebab kurangnya perhatian. Rangsangan-rangsangan pada system retikuler di otak menjadi sebab mabuk. (Sumamur, 1982). Paparan dari getaran lokal terjadi ketika bagian tubuh tertentu kontak dengan objek yang bergetar, seperti kekuatan alat-alat yang menggunakan tangan. Paparan getaran seluruh tubuh dapat terjadi ketika berdiri atau duduk dalam lingkungan atau

41

objek yang bergetar, seperti ketika mengopeasikan kendaraan atau mesin yang besar (Cohet et al, 1997). Disamping rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh goyangan organ pada seluruh tubuh, menurut beberapa penelitian telah dilaporkan efek jangka lama yang menimbulkan osteoarthritis tulang belakang (J.M. Harrington, 2003:187-188). Menambahnya tonus otot-otot oleh karena getaran dibawah frekuensi 20 Hz menjadi sebab kelelahan. Getaran menjadi faktor risiko jika pekerja terpapar secara terus menerus atau berada pada intensitas tinggi, yang mungkin didapat dari penggunaan peralatan. Pekerja yang mengalami getaran dapat menyebabkan kelelahan, letih, mati rasa dan peningkatan sensitifitas terhadap dingin (Nurmianto, 2004). 2.1.4 Faktor Psikososial Faktor psikososial yaitu kepuasaan kerja, stress mental, organisasi kerja (shift kerja, waktu istirahat, dll) (Dinardi, 1997 dalam Soleha 2009). Sejumlah faktor psikososial tempat kerja dapat mempengaruhi gangguan ekstemitas atas seperti kepuasaan kerja, kerja monoton, dukungan sosial tempat kerja, tuntutan kerja yang tinggi, stres kerja dan emosional di tempat kerja. Persepsi dari kemampuan seseorang untuk bekerja juga berhubungan dengan nyeri punggung untuk waktu yang akan datang. Ada semakin banyak bukti dalam literatur kesehatan kerja yang menyatakan faktor psikososial dapat mempengaruhi perkembangan masalah muskuloskeletal, termasuk low back dan gangguan ekstremitas atas (Bongers et al, 1993). Faktor Psikososial kerja didefinisikan sebagai aspek lingkungan kerja (seperti peran kerja,

42

tekanan kerja, hubungan di tempat kerja) yang dapat memberikan kontribusi pengalaman stres dalam individu (Lim dan Carayon 1994; ILO 1986). Penelitian terbaru yang lebih kuat menggunakan teknik statistik inferensial titik lebih kuat ke pengaruh faktor pekerjaan psikososial pada ekstremitas atas gangguan muskuloskeletal antara pekerja kantor. Misalnya, Lim dan Carayon (1994) menggunakan metode analisis struktural untuk menguji hubungan antara faktorfaktor kerja psikososial dan ekstremitas atas ketidaknyamanan muskuloskeletal dalam sampel 129 pekerja kantor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor psikososial seperti tekanan kerja, kontrol tugas dan kuota produksi prediktor dapat menimbulkan ekstremitas atas ketidaknyamanan muskuloskeletal, terutama di daerah leher dan bahu,. Demografi faktor (umur, jenis kelamin masa jabatan dengan majikan, jam menggunakan komputer per hari) dan faktor perancu lain (self-laporan tentang kondisi medis, hobi dan menggunakan keyboard di luar pekerjaan) yang dikontrol dalam penelitian dan tidak berhubungan dengan masalah ini (ILO, 2010). Namun, bukti hubungan sebab akibat antara faktor risiko psikososial kurang umum. Secara umum, faktor psikososial berkaitan dengan daerah non-fisik pekerjaan (misalnya tekanan waktu, dianggap beban kerja, dukungan sosial dari rekan-rekan dan manajemen, tingkat kontrol, dll). Tidak adanya definisi universal dan objektif dalam mengukur faktor psikososial telah membuatnya sulit untuk melakukan studi untuk menyelidiki penyebab-akibat di konteks MSDs (Sauter dan Swanson 1996).

43

2.2 Musculoskeletal Disorders (MSDs) 2.2.1 Definisi Musculoskeletal Disorders (MSDs) Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan salat satu penyakit yang berkaitan dengan jaringan otot, tendon, ligamen sistem saraf, struktur tulang dan pembuluh darah. Bagian tubuh yang menjadi fokus penelitian dari MSDs adalah leher, bahu, lengan bawah, lengan atas, pergelangan tangan dan kaki. MSDs pada awalnya menyebabkan sakit, nyeri, mati rasa, kesemutan, bengkak, kekakuan, gemetar, gangguan tidur dan rasa tebakar. (Humantech, 1995). Sedangkan menurut NIOSH (1997) MSDs adalah sekumpulan kondisi patologis yang mempengaruhi fungsi normal dari jaringan halus sistem musculoskeletal yang mencakup syaraf, tendon, otot, dan struktur penunjang seperti discus intervertebral. Menurut WHO didefinisikan sebagai salah satu gangguan terkait yang timbul ketika seseorang terkena aktivitas kerja dan kondisi kerja yang signifikan berkontribusi pada pengembangan atau eksaserbasi tetapi tidak bertindak sebagai satu-satuya determinan penyebab. MSDs dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk pada bagian tubuh dengan gejala dan penyebab yang berbeda-beda, seperti kondisi-kondisi yang dijelaskan dibawah ini: Tendinitis merupakan peradangan hebat atau iritasi pada urat/sendi yang berkembang ketika otot secara berulang-ulang terpajan oleh penggunaan berlebih dan kejanggalan penggunaan tangan, pergelangan, lengan dan bahu. Carpal Tunnel Syndrome (CTS) berupa tekanan pada syaraf di pergelangan tangan yang dikelilingi jaringan dan tulang yang dapat menyebabkan pernutup sendi/urat ataupun urat sendi yang mengalami iritasi dan pembengkakan.

44

Gejalanya ditandai dengan seperti rasa sakit pada pergelangan tangan, perasaan tidak nyaman pada jari-jari dan mati rasa/kebas. CTS dapat menyebabkan sulitnya seseorang menggenggam sesuatu pada tangannya. Trigger Finger berupa tekanan yang berulang pada jari-jari (pada saat menggunakan alat kerja yang memiliki pelatuk) dimana menekan tendon secara terus menerus hingga ke jari-jari dan mengakibatkan rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari. Tenosynovitis yaitu sebuah peradangan hebat atau iritasi pada penutup urat/sendi yang berhubungan dengan gerakan flexion dan extension dari pergelangan tangan. Synovitis yaitu peradangan atau iritasi lapisan synovial (lapisan tulang sendi). DeQuervains disease yaitu tipe synovitis yang terjadi pada ibu jari kaki atau nyeri pada telapak tangan. Penyebabnya yaitu gerakan repetitif pada tangan dan gripping dengan menggunakan tenaga. Bursitisis yaitu peradangan atau iritasi, kaku, nyeri yang terjadi pada jaringan penyambung di sekitar sendi, biasanya terjadi pada bahu dan disebabkan karena gerakan berulang. Epicondylitis sakit pada siku berhubungan dengan rotasi berlebih dari lengan bawah atau membengkokan pergelangan tangan secara berlebih. Thorac Outlet syndrome yaitu tekanan pada system syaraf atau saluran pembuluh darah antara tulang iga pertama, clavicle (tulang leher), otot-otot thorax dan bahu. Gejalanya berupa nyeri, mati rasa dan bengkak pada tangan. Penyebabnya karena membawa beban, flexion pada bahu dan bekerja dengan posisi lengan diatas bahu terus menerus.

45

Cervical radiculapathy yaitu tekanan dasar system syaraf pada leher yang ditandai dengan gejala Ischaemania dan rasa sakit seperti oedema. Penyebanya postur statis dan beban statis.

Ulnar nerve entapment yaitu tekanan pada syaraf ulnar pada pergelangan.

Sumber: Epidemiology of musculoskeletal diorders due to biomechanical overload (Pulat, 1997; Grieco, 1998; Canadian Centre of Occupational Health and Safety (CCOHS), 2005). 2.2.2 Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja (Fitrihana, 2008). Sedangkan menurut Tarwaka et al (2004) keluhan musculoskeletal adalah keluhan pada bagianbagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament, dan tendon. Keluhan otot skeletal pada umumnya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan akibat pemberian beban kerja yang terlalu berat dengan durasi pembebanan yang panjang. Sebaliknya, keluhan otot kemungkinan tidak terjadi apabila kontraksi otot hanya berkisar antara 15-20% dari kekuatan otot maksimum. Namun apabila kontraksi otot melebihi 20%, maka peredaran darah ke otot berkurang menurut tingkat kontraksi yang dipengaruhi oleh besarnya tenaga yang diperlukan. Suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme karbohidrat

46

terhambat dan sebagai akibatnya terjadi penimbunan asam laktat yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri otot. Akobundu et al (2008) mengatakan bahwa rasa sakit pertama adalah sinyal bahwa otot tendon mulai merasakan sakit dan harus beristirahat serta memulihkan. Jika sebuah cedera dapat menjadi lama dan kadang-kadang ireversibel. Semakin cepat seseorang mengenali gejala, semakin septa mereka harus menanggapinya agar keluhan MSDs dapat segera diatasi. Gejalanya terdiri dari sensasi terbakar di tangan, berkurangnya kekuatan pegangan di tangan, pembengkakan atau kekakuan pada sendi, nyeri di pergelangan tangan, lengan, siku, leher atau kembali diikuti dnegan rasa tidak nyaman, pengurangan berbagai gerakan di bahu, leher atau punggung, gatal, kering, sakit pada mata dan kram. Sedangkan menurut Week et al (1991) tanda awal yang menunjukkan MSDs yaitu bengkak (sweeling), gemetar (numbnes), kesemutan (tingling), sakit (aching) dan rasa terbakar (burning pain). Gejala-gejala ini dapat berlangsung secara bertahap dari ringan sampai parah. Gejala MSDs biasanya sering disertai dengan keluhan subjektif sehingga sulit untuk menentukan derajat keparahan tersebut. Grandjean (1997) dan Akobundu et al (2008) mengungkapkan gejala terjadinya MSDs terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Tahap 1 atau awal: Sakit atau pegal-pegal dan kelelahan pafa bagian tubuh yang tertentu selama jam kerja tapi biasanya menghilang setelah waktu kerja usai atau di malam hari. Tidak berpengaruh terhadap performa kerja. Efek ini pulih setelah istirahat. Tahap 2 atau intermediate: Gejala tetap ada setelah melewati waktu satu malam setelah bekerja atau sakit dan kelelahan pada bagian tubuh tertentu yang muncul pada awal shift kerja dan bertahan di malam hari. Tidur mungkin

47

terganggu, kadang-kadang menyebabkan menurunnya performa kerja secara bertahap. Tahap 3 atau akhir: Gejala atau sakit, kelelahan dan kelemahan tidak menghilang meskipun sudah istirahat, nyeri terjadi ketika bekerja secara repetitif. Tidur terganggu, sulit melakukan pekerjaan bahkan pekerjaan yang ringan, kadang-kadang tidak sesuai kapasitas kerja. Pemulihan pada tahap ini bisa berlangsung selama 6-24 bulan. Tidak semua orang melewati tahap ini dengan cara yang sama. Bahkan, mungkin sulit untuk kapan tepatnya satu tahap berakhir dan tahap berikutnya mulai. 2.2.3 Anatomi dan Fisiologi Organ dalam Sistem Musculskeletal 2.2.3.1 Muskuler/Otot a. Otot Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi. Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Fungsi sistem muskuler/otot: Pergerakan. Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi. Produksi panas.

b. Tendon Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersifat fleksibel, yang terbuat dari fibrous protein (kolagen). Tendon berfungsi melekatkan tulang dengan otot atau otot dengan otot.

48

c.

Ligamen Ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan

jaringan elastis penghubung yang terdiri atas kolagen. Ligamen membungkus tulang dengan tulang yang diikat oleh sendi. 2.2.3.2 Skeletal a. Tulang/rangka Skeletal disebut juga sistem rangka, yang tersusun atas tulang-tulang. Tubuh kita memiliki 206 tulang yang membentuk rangka. Bagian terpenting adalah tulang belakang. Fungsi Sistem Skeletal: 1. Memproteksi organ-organ internal dari trauma mekanis. 2. Membentuk kerangka yang yang berfungsi untuk menyangga tubuh dan otototot yang. 3. Melekat pada tulang 4. Berisi dan melindungi sum-sum tulang merah yang merupakan salah satu jaringan pembentuk darah. 5. Merupakan tempat penyimpanan bagimineral seperti calcium daridalam darah misalnya. 6. Hemopoesis b. Sendi Persendian adalah hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya gerakan. 1. Synarthrosis (suture) : Hubungan antara dua tulang yang tidak dapat digerakkan, strukturnya terdiri atas fibrosa.

49

2. Amphiarthrosis : Hubungan antara dua tulang yang sedikit dapat digerakkan, strukturnya adalah kartilago. Contoh: Tulang belakang. 3. Diarthrosis : Hubungan antara dua tulang yang memungkinkan pergerakan, yang terdiri dari struktur sinovial. 2.2.3.3 Low Back Region a. Struktur Ruas tulang punggung dikelompokkan menjadi: 1. Cervical/leher 7 ruas 2. Thoracalis/punggung 12 ruas 3. Lumbalis/pinggang 5 ruas 4. Sakralis/kelangkang 5 ruas 5. Koksigeus/ekor 4 ruas b. Fungsi Low back region berfungsi untuk menegakkan/menopang postur struktur tulang belakang manusia. Postur tegak juga meningkatkan gaya mekanik struktur tulang belakang lumbrosakral. c. Komponen punggung 1. Otot punggung Ditunjang oleh punggung, perut, pinggang dan tungkai yang kuat dan fleksibel. Semua otot ini berfungsi untuk menahan agar tulang belakang dan diskus tetap dalam posisi normal. 2. Diskus Merupakan bantalan tulan rawan yang berfungsi sebagai penahan goncangan. Tiap diskus mengandung cairan yang mengalir ke dalam dan keluar diskus.

50

Cairan ini berfungsi sebagai pelumas sehingga memungkinkan punggung bergerak bebas. 2.2.3.4 Intervertebral Disc Pada tubuh manusia terdapat 24 buah Intervertebral disc. Tulang rawan ini berfungsi sebagai penyangga agar vertebra tetap berada pada posisinya dan juga memberi fleksibilitas pada ruas tulang belakang ketika terjadi pergerakan atau perubahan posisi pada tubuh. Gambar 2.1

Gambar bagian-bagian Intervertebral disc


Sumber: www.anakfkmui.blogspot.com

2.2.3.5 Leher Tulang leher terdiri dari tujuh ruas, mempunyai badan ruas kecil dan lubang ruasnya besar. Pada taju sayapnya terdapat lubang tempat lajunya saraf yang disebut foramen tranvertalis. Ruas pertama vertebra serfikalis disebut atlas yang memungkinkan kepala mengangguk. Ruas kedua disebut prosesus odontois (aksis) yang memungkinkan kepala berputar ke kiri dan ke kanan. Ruas ketujuh mempunyai taju yang disebut prosesus prominan. Taju ruasnya agak panjang.

51

Gambar 2.2 Tulang leher

Gambar 2.3 Otot leher

Sumber: www.anakfkmui.blogspot.com

2.2.3.6 Elbow (Siku) Siku adalah suatu titik yang sangat komplek di mana terdapat tiga tulang yaitu humerus, radius dan ulna. Ketiga tulang tersebut bekerja secara bersama-sama dalam suatu gerakan flexi, extensi dan rotasi. Gambar 2.4 Otot dan bagian siku

Sumber: www.anakfkmui.blogspot.com

2.2.3.7 Shoulder (Bahu) Tulang-tulang pada bahu terdiri dari: Clavicula (tulang selangka), merupakan tulang berbentuk lengkung yang menghubungkan lengan atas dengan batang tubuh.

52

Scapula (tulang belikat), merupakan tulang yang berbentuk segitiga. Sendi glenohumeral, merupakan penghubung antara tulang lengan atas dengan scapula.

Sedangkan otot bahu hanya meliputi sebuah sendi saja dan membungkus tulang pangkal lengan dan scapula. Gambar 2.5 Otot bahu

Sumber: www.anakfkmui.blogspot.com

2.3 Metode Penilaian Ergonomi 2.3.1 Pengertian Ergonomi Terdapat beberapa pengertian ergonomi, baik dari segi bahasa maupun dari segi ilmu pembahasannya. Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu Ergon yang berarti kerja dan Nomos yang berarti peraturan atau hukum. Jadi secara harfiah ergonomi diartikan sebagai Ilmu aturan tentang Kerja atau dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering dan desain/perancangan. Ergonomi berhubungan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah ataupun di tempat rekreasi. Menurut Iftikar Z. Sutalaksana, et al. (1979) ergonomi didefinisikan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai

53

sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu, dengan efektif, aman dan nyaman. Oleh Sritomo Wignjosoebroto (1995) ergonomi didefinisikan sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari manuasi dalam kaitan pekerjaannya. Menurut Stephen Pheasant, 1999, ergonomi adalah ilmu kerja yang membahas beberapa komponen dalam pekerjaan, termasuk pekerjaannya, bagaimana pekerjaan itu dilakukan, alat dan perlengkapan yang digunakan, tempat kerja, aspek psikologi dalam lingkungan kerja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ergonomi merupakan suatu ilmu terapan yang mempelajari dan mencari pemecahan persoalan yang menyangkut faktor manusia dalam proses produksi. Secara praktis ergonomi adalah sebagai teknologi untuk mendesain atau mengatur kerja, sedang ruang lingkup ilmu ergonomi meliputi sejumlah aplikasi beberapa ilmu lain yang saling mendukung, seperti ilmu anatomi, ilmu faal, imu psikologi, imu tehnik dan sejumlah ilmu lainnya yang secara bersama-sama menempatkan faktor manusia sebagai fokus utama dalam rangkaian kerja yang terdapat dalam sistem kerja (Ramandhani, 2003). a. Ergonomic Assesment Survey Method (EASY) EASY metode adalah suatu cara yang dapat digunakan untuk menilai tingkat risiko ergonomi terhadap suatu kegiatan kerja. Metode ini terdiri dari tiga jenis survey yang masing-masing memiliki skor yang berbeda. Ketiga skor tersebut yaitu BRIEF survey (4 skor), employee survey (1 skor) dan medical survey (2 skor). Hasil akhir dari EASY berupa rating yang diperoleh dari penjumlahan skor yang didapatkan dari ketiga survey diatas (maksimal 7 skor). Rating tersebut akan

54

menunjukkan prioritas pengendalian yang perlu dilakukan. Semakin besar skornya, maka tindakan pengendaliannya pun semakin besar (Melyssa, 2007). b. Base Risk Identification of Ergonomic Factor (BRIEF) BRIEF survey adalah suatu alat yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko ergonomi pada suatu pekerjaan dengan menggunakan sistem rating untuk mengidentifikasikan bahaya ergonomi yang diterima oleh pekerja dalam kegiatannya sehari-hari. Terdapat empat faktor yang perlu diketahui dalam metode ini yaitu: 1) Postur : yaitu sikap anggota tubuh yang janggal sewaktu melakukan pekerjaan. 2) Gaya : beban yang harus ditanggung oleh anggota tubuh pada saat melakukan postur janggal dan melampaui batas kemampuan tubuh. 3) Lama : lamanya waktu yang digunakan dalam melakukan postur janggal. Setiap postur dipertahankan selama atau lebih dari 10 detik. 4) Frekuensi : jumlah postur yang berulang dalam satuan waktu (menit) yaitu lebih dari atau sama dengan 2 kali per menit. Dalam survey ini, setiap faktor risiko yang melanggar kriteria standar (Humantech, 1995 dalam Melyssa 2007), maka akan mendapatkan skor 1. Semakin banyak skor yang didapatkan dalam suatu pekerjaan, maka pekerjaan tersebut semakin berisiko dan memerlukan penanggulangan segera. Skor maksimal yang bisa didapatkan pada survey ini yaitu sebesar 4 skor. c. Employee Survey (Survei Gejala) Tujuan metode ini adalah untuk mengetahui keluhan nyeri (gangguan kesehatan) pada pekerja yang dialami pada saat melakukan suatu kegiatan. Ketika pekerja melaporkan rasa sakit yang terus menerus pada bagian tubuhnya, informasi ini dimasukkan dalam metode EASY. Dalam metode ini dapat diketahui tahapan

55

kegiatan mana yang paling berat (berisiko) untuk dikerjakan terkait dengan keluhan kesehatan yang selama ini muncul pada pekerja. Survey ini dpat dilakukan dengan menyebarkan kuisioner atau wawancara pada para pekerja (Melyssa, 2007). Survey ini mendapatkan skor 1 apabila pekerja mempunyai mengenai pekerjaannya dan skor 0 bila pekerja tidak mengalami keluhan apapun (Humantech, 1995). d. Medical Survey (Survei Rekam Medis) Medical survey didapatkan dari hasil laporan rekam medis pekerja berupa kertu sakit dan data kunjungan pada poliklinik perusahaan atau pelayanan kesehatan lain. Data ini merupakan data yang paling dapat dipercaya, namun sulit didapatkan karena faktor kerahasiaan dan kebijaksanaan dari perusahaan. Pemberian skor pada metode ini diberikan secara berurutan yaitu 0 bagi pekerja yang tidak mengalami gangguan musculoskeletal, 1 bagi pekerja yang mengalami gangguan musculoskeletal namun tidak kehilangan hari kerjanya dan 2 (tertinggi) bagi pekerja yang mengalami gangguan atau kelainan pada sistem musculoskeletal dan kehilangan hari kerjanya. e. Rapid Upperl Limb Assesment (RULA) Metode ini dapat digunakan untuk menilai kegiatan dimana pekerja banyak menggunakan upper limb. Khususnya, pekerja duduk atau berdiri tanpa banyak pergerakan. Contoh kegiatan yang cocok menggunakan RULA seperti aktivitas yang memakai komputer, manufaktur dan aktivitas kasir (Albugis, 2009). Metode RULA fokus terhadap pengukuran biomekanik dan beban postur pada masing-masing individu sehingga faktor risiko yang diukur dan dianalisis dengan menggunakan metode ini adalah postur, beban, penggunaan otot, durasi dan frekuensi (Mc Atammey dan Corlet, 1993; Corlett, 1998; Lueder, 1996 ). RULA memberikan sebuah kemudahan dalam menghitungkan rating dari beban kerja otot

56

dalam bekerja dimana orang mempunyai risiko pada bagian leher dan beban kerja pada anggota tubuh bagian atas seperti postur dari bahu/lengan atas, siku/lengan bawah, pergelangan tangan, leher, dan pinggang yang biasanya pada pekerjaan yang dilakukan dalam posisi duduk atau berdiri tanpa adanya perpindahan. Selain itu, RULA juga mempertimbangkan adanya beban dan perpindahan yang dilakukan dalam penilaiannya serta menilai posisi kaki stabil atau tidak. Pengukuraan dengan metode RULA dilakukan dengan cara observasi secara langsung pekerja atau operator saat bekerja selama beberapa siklus tugas untuk memilih tugas (task) dan postur untuk pengukuran. Alat ini memasukan skor tunggal sebagai gambaran foto dari sebuah pekerjaan, yang mana rating dari postur, besarnya gaya atau beban dan pergerakan yang diharapkan. Risiko adalah hasil perhitungan menjadi suatu nilai atau skor 1 (rendah) sampai skor tinggi (7), skor tersebut adalah dengan menggolongkan menjadi 4 level gerakan atau aksi itu memberikan sebuah indikasi dari kerangka waktu yang mana layak untuk mengekspektasi pengendalian risiko yang akan diajukan (Staton et al, 2005 dalam Ikrimah 2010). Langkah penilaian skor RULA adalah sebagai berikut: 1. Langkah pertama: a. +1 Untuk 20 extension hingga 20 flexion b. +2 Untuk extension lebih dari 20 atau 20 - 45 flexion c. +3 Untuk 45 - 90 flexion d. +4 Untuk 90 flexion atau lebih Keterangan: a. b. + 1 jika pundak/bahu ditinggikan + 1 jika lengan atas abducted

57

c.

-1 jika operator bersndar atau bobot lengan ditopang

Gambar 2.6 Postur Bagian Lengan Atas

2. Langkah kedua Rentang untuk lengan bawah dikembangkan dari penelitian Grandjean dan Tichauer. Skor tersebut yaitu: a. + 1 untuk 60 - 100 flexion b. +2 untuk kurang dari 60 atau lebih dari 100 flexion

Keterangan: a. + 1 jika lengan bekerja melintasi garis tengah badan atau keluar dari sisi

Gambar 2.7 Postur Bagian Lengan Bawah 3. Langkah ketiga Panduan untuk pergelangan tangan dikembangkan dari penelitian Health and Safety Executive, digunakan untuk menghasilkan skor postur sebagai berikut: a. + 1 untuk berada pada posisi netral b. + 2 untuk 0 - 15 flexion maupun extension c. + 3 untuk 15 atau lebih flexionmaupun extension

58

Keterangan: a. +1 jika pergelangan tangan berada pada deviasi radial maupun ulnar

Gambar 2.8 Postur Pergelangan Tangan 4. Langkah keempat Putaran pergerakan tangan (pronation dan supination) yang dikeluarkan oleh Health and Safety Executive pada postur netral berdasar pada Tichauer. Skor tersebut adalah: b. +1 jika pergelangan tangan berada pda rentang menengah putaran c. +2 jika pergelangan tangan pada atau hampir berada pada akhir rentang putaran

Gambar 2.9 Postur Putaran Pergelangan Tangan

59

5. Langkah kelima Gambar sikap kerja yang dihasilkan dari postur kelompok A yang meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran pergelangan tangan diamati dan ditentukan skor unutk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan dalam tabel A untuk memperoleh skor A.

Table 2.1 Skor Grup A 6. Langkah keenam Skor penggunaan otot Tambahkan nilai +1, apabila terjadi : a. Postur statis, berlangsung selama 10 menit atau lebih. b. Gerakan berulang 4 kali atau lebih dalam 1 menit.

7. Langkah ketujuh Skor untuk penggunaan tenaga atau beban

60

0 Beban < 2 kg, intermiten 2 Beban 2-10 kg, statis atau repetitif

1 Beban 2-10 kg, Intermiten 3 Beban > 10 kg, Refetitif atau kejutan

dengan

8. Langkah kedelapan Tetapkan lajur pada table C

Table 2.2 Grand Total Score Table 9. Langkah kesembilan Kelompok B, rentang postur untuk leher didasarkan pada studi yang dilakukan oleh Chaffin dan Kilbom et al. Skor dan kisaran tersebut adalah: a. +1 untuk 0 - 10 flexion b. +2 untuk 10 - 20 flexion c. +3 untuk 20 atau lebih flexion d. +4 jika dalam extention Apabila leher diputar atau dibengkokkan Keterangan : a. +1 jika leher diputar atau posisi miring, dibengkokkan ke kanan atau kiri.

61

Gambar 2.10 Postur Leher 10. Langkah kesepuluh Kisaran untuk punggung dikembangkan oleh Druy, Grandjean dan Grandjean et al: a. +1 ketika duduk dan ditopang dengan baik dengan sudut paha tubuh 90atau lebih b. +2 untuk 0 - 20 flexion c. +3 untuk 20 - 60 flexion d. +4 untuk 60 atau lebih flexion Punggung diputar atau dibengkokkan Keterangan: a. +1 jika tubuh diputar b. +1 jika tubuh miring kesamping

62

Gambar 2.11 Postur Punggung 11. Langkah kesebelas Kisaran untuk kaki dengan skor postur kaki ditetapkan sebagai berikut: a. +1 jika kaki tertopang ketika duduk dengan bobot seimbang rata. b. +1 jika berdiri dimana bobot tubuh tersebar merata pada kaki dimana terdapat ruang untuk berubah posisi. a. +2 jika kaki tidak tertopang atau bobot tubuh tidak tersebar merata.

Gambar 2.12 Postur Kaki 12. Langkah kedua belas Gambar sikap kerja yang dihasilkan dari postur kelompok B yaitu leher, punggung (badan) dan kaki diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan ke dalam tabel B untuk memperoleh skor B.

63

Tabel 2.3 Skor Grup B 13. Langkah ketiga belas Skor penggunaan otot Tambahkan nilai +1, apabila terjadi : a. b. Postur statis, berlangsung selama 10 menit atau lebih. Gerakan berulang 4 kali atau lebih dalam 1 menit.

14. Langkah keempat belas Skor untuk penggunan tenaga atau beban.

0 Beban < 2 kg, intermiten 2 Beban 2-10 kg, statis atau repetitif

1 Beban 2-10 kg, Intermiten 3 Beban > 10 kg, Refetitif atau dengan kejutan

15. Langkah kelima belas Tetapkan lajur pada table C

64

Penetapan skor final yaitu dengan memasukkan nilai postur kelompok A (arm and wrist analysis) kedalam kolom vertikal tabel C, lalu memasukkan nilai postur kelompok B (neck, trunk, and leg analysis) ke dalam kolom horizontal tabel C. Setelah diperoleh grand score, yang bernilai 1 sampai 7 menunjukkan level tindakan (action level) sebagai berikut: a. Action Level 1: Skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur dapat diterima selama tidak dijaga atau berulang untuk waktu yang lama. b. Action Level 2: Skor 3 atau 4 menunjukkan bahwa penyelidikan lebih jauh dibutuhkan dan mungkin saja perubahan diperlukan. c. Action Level 3: Skor 5 atau 6 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan segera. d. Action Level 4: Skor 7 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan sesegera mungkin (mendesak).

Metode ini memiliki keterbatasan dalam pengukurannya, diantaranya (Corlett, 1998): a. Tangan : metode ini tidak bisa mengukur gerakan tangan menggenggam, meluruskan, memutar, memerlukan tekanan pada telapak tangan.

65

b. Tempat kerja : metode ini tidak mengukur antropometri tempat kerja yang dapat menyebabkan terjadinya postur janggal. c. Ketidaknyamanan : metode ini tidak mengukur derajat ketidaknyamanan akibat dimensi fisik tempat kerja. Meskipun begitu, metode ini juga memiliki banyak keuntungan yaitu mudah digunakan, cepat, praktis, dapat dikombinasikan dengan metode lainnya dan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan investigasi lebih lanjut tindakan perbaikan. f. Rapid Entire Body Assesment (REBA) REBA atau Rapid Entire Body Assessment dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottinghams Institute of Occuptaional Ergonomic). Rapid Entire Body Assissment (REBA) adalah suatu metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja. Metode ini juga dilengkapi dengan faktor coupling, beban eksternal, dan aktivitas kerja. Penilaian dengan menggunakan REBA tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melengkapi dan melakukan scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan postur kerja operator (Mc Atamney, 2000). Dalam metode ini, segmen-segmen tubuh dibagi menjadi dua grup, yaitu grup A dan Grup B. Grup A terdiri dari punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sedangkan grup B terdiri dari lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Penentuan skor REBA, yang mengindikasikan level resiko dari postur kerja, dimulai dengan menentukan skor A untuk postur-postur grup A ditambah dengan skor beban

66

(load) dan skor B untuk postur-postur grup B ditambah dengan skor coupling. Kedua skor tersebut (skor A dan B) digunakan untuk menentukan skor C. Skor REBA diperoleh dengan menambahkan skor aktivitas pada skor C. Dari nilai REBA dapat diketahui level resiko cedera. Pengembangan Rapid Entire Body Assissment (REBA) terdiri atas 3 (tiga) tahapan, yaitu: 1. Mengidentifikasikan kerja 2. Sistem pemberian skor 3. Skala level tindakan yang menyediakan sebuah pedoman pada tingkat yang ada, dibutuhkan untuk mendorong penilaian yang lebih detail berkaitan dengan analisis yang didapat. REBA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti khusus. Ini memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan pemeriksaan dan pengukuran tanpa biaya peralatan tambahan. Pemeriksaan REBA dapat dilakukan di tempat yang terbatas tanpa menggangu pekerja. Pengembangan REBA terjadi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, tahap kedua adalah penentuan sudutsudut dari bagian tubuh pekerja, tahap ketiga adalah penentuan berat benda yang diangkat, penentuan coupling, dan penentuan aktivitas pekerja. Dan yang terakhir, tahap keempat adalah perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan. Dengan didapatnya nilai REBA tersebut dapat diketahui level resiko dan kebutuhan akan tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan kerja. Penilaian postur dan pergerakan kerja menggunakan metode REBA melalui tahapan-tahapan sebagai berikut (Hignett dan McAtamney, 2000) :

67

1. Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan merekam atau memotret postur tubuh pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya. 2. Penentuan sudut-sudut dari bagian tubuh pekerja. Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan besar sudut dari masing masing segmen tubuh yang meliputi punggung (batang tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki. Pada metode REBA segmen segmen tubuh tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data sudut segmen tubuh pada masingmasing grup dapat diketahui skornya, kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk masingmasing tabel. Penilaian posisi leher yaitu skor 1 (posisi leher 0o- 20o ke depan), skor 2 (posisi leher > 20o ke depan dan ke belakang), skor + 1 (jika leher berputar atau miring ke kanan dan atau ke kiri, serta ke atas dan atau ke bawah).

68

Gambar 2.13 Penilaian grup A posisi leher

Sumber: www.nur-w.blogspot.com/rapid-entire-body-assessment-reba.html

Penilaian posisi punggung adalah skor 1 (posisi punggung lurus atau 0o), skor 2 (posisi 0o- 20o ke depan dan ke belakang), skor 3 (posisi 20o-60o ke depan dan > 20o ke belakang), skor 4 (posisi > 60o ke depan), skor + 1 (jika punggung berputar atau miring ke kanan dan atau ke kiri, serta ke atas dan atau ke bawah). Gambar 2.14 Penilaian grup A posisi punggung

Sumber: www.nur-w.blogspot.com/rapid-entire-body-assessment-reba.html

Penilaian posisi kaki yaitu skor 1 (tubuh bertumpu pada kedua kaki, jalan, duduk), skor 2 (berdiri dengan satu kaki, tidak stabil), skor + 1 (jika lutut ditekuk 30-60 ke depan), skor + 2 (jika lutut ditekuk >60 ke depan). Gambar 2.15

69

Penilaian grup A Posisi Kaki

Sumber: www.nur-w.blogspot.com/rapid-entire-body-assessment-reba.html

Penilaian Skor A dalam tabel 2.4 mengikuti tabel pengumpulan data. Tabel 2.4 Penilaian Skor Tabel A

Tabel A merupakan penggabungan nilai dari group A untuk skor postur tubuh, leher dan kaki. Sehingga didapatkan skor tabel A. Kemudian skor tabel A dilakukan penjumlahan terhadap besarnya beban atau gaya yang dilakukan operator dalam melaksanakan aktifitas. Skor A adalah penjumlahan dari skor tabel A dan skor beban atau besarnya gaya. Skor tabel A ditambah 0 (nol) apabila berat beban atau besarnya gaya dinilai <

70

5 Kg, ditambah 1 (satu) bila berat beban atau besarnya gaya antara kisaran 5-10 Kg, ditambah 2 (dua) bila berat beban atau besarnya gaya dinilai > 10 Kg. Pertimbangan mengenai tugas atau pekerjaan kritis dari pekerja, bila terdapat gerakan perputaran (twisting) hasil skor berat beban ditambah 1 (satu). Setelah perhitungan skor tabel A selesai dilakukan, perhitungan untuk skor tabel B dapat dilakukan yaitu lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Penilaian posisi bahu (lengan atas) yaitu skor 1 (posisi bahu 0o 20o ke depan dan ke belakang), skor 2 (posisi bahu > 20o ke belakang, dan 200-40o ke depan), skor 3 (posisi bahu antara 45o-90o), skor 4 (posisi bahu > 90o ke atas), skor + 1 (jika lengan berputar atau bahu dinaikkan atau di beri penahan), skor 1 (jika lengan dibantu oleh alat penopang atau terdapat orang yang membantu). Gambar 2.16 Penilaian grub B posisi lengan atas

Sumber: www.nur-w.blogspot.com/rapid-entire-body-assessment-reba.html

Penilaian area siku yaitu skor 1 (posisi lengan 600-100o ke depan), skor 2 (posisi lengan antara 0o 60o ke bawah, dan > 100o ke atas). Gambar 2.17 Penilaian Grup B Posisi Lengan Bawah

71

Sumber: www.nur-w.blogspot.com/rapid-entire-body-assessment-reba.html

Penilaian area pergelangan tangan yaitu skor 1 (posisi pergelangan tangan 0015o ke depan dan ke belakang), skor 2 (posisi pergelangan tangan > 15o ke depan dan ke belakang), skor + 1 (jika terdapat penyimpangan pada pergelangan). Gambar 2.18 Penilaian Grup B Posisi Pergelangan Tangan

Sumber: www.nur-w.blogspot.com/rapid-entire-body-assessment-reba.html

Kemudian untuk menghasilkan skor B mengikuti tabel lembar pengumpulan data untuk grup B :

72

Tabel 2.5 Penilaian Skor Tabel B

Tabel B merupakan penggabungan nilai dari group B untuk skor postur lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan. Sehingga didapatkan skor tabel B. Kemudian skor tabel B dilakukan penjumlahan terhadap perangkai atau coupling dari setiap masing-masing bagian tangan. Skor B adalah penjumlahan dari skor tabel B dan perangkai atau coupling dari setiap masing-masing bagian tangan. Skor tabel B ditambah 0 (nol) yang berarti good atau terdapat pegangan pada beban dan operator mengangkat beban hanya dengan mengunakan separuh tenaga, ditambah 1 (satu) yang berarti fair atau terdapat pegangan pada beban walaupun bukan merupakan tangkai pegangan dan operator mengangkat beban dengan dibantu mengunakan tubuh lain, ditambah 2 (dua) yang berarti poor atau tidak terdapat pegangan pada beban, dan ditambah 3 (tiga) yang berarti unacceptable tidak terdapat pegangan yang aman pada beban dan operator mengangkat beban tidak dapat dibantu oleh angota tubuh lain. Skor C adalah dengan melihat tabel C, yaitu memasukkan skor tersebut dengan skor A dan skor B. Kemudian skor REBA adalah penjumlahan dari skor C dan skor aktivitas. Berikut ini adalah tabel skor C dan skor aktivitas.Tabel 2.6

73

Penilaian Skor Tabel C dan skor aktivitas

Skor C ditambah 1 (satu) dengan skor aktifitas apabila satu atau beberapa bagian tubuh bergerak secara statis untuk waktu yang lebih dari satu menit, terdapat beberapa pengulangan pergerakan 4 (empat) kali dalam satu menit (belum termasuk berjalan), dan pergerakan atau perubahan postur lebih cepat dengan dasar yang tidak stabil. Tahap terakhir dari REBA menilai action level dari hasil final skor REBA. Berikut ini adalah tabel Action level dari metode REBA. Tabel 2.7 Level Akhir dari Skor REBA Level Aksi 0 1 2 3 Skor REBA 1 2 atau 3 4-7 8-10 Level Risiko Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Aksi (Termasuk Tindakan Penilaian) Risiko masih dapat diterima dan tidak perlu dirubah Mungkin diperlukan perubahanperubahan Butuh pemeriksaan dan perubahan Kondisi berbahaya, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan dan perubahan dengan segera Perubahan dilakukan saat itu juga

4 11 + Sangat Tinggi Kelebihan dari metode REBA adalah:

a. Metode ini dapat menganalisa pekerjaan berasarkan posisi tubuh dengan cepat. b. Menganalisa faktor-faktor risiko yang ada dalam melakukan pekerjaan.

74

c. Metode ini cukup peka untuk menganlisa pekerjaan dan beban kerja berdasarkan posisi tubuh ketika bekerja. d. Tehnik penilaian membagi tubuh kedalam bagian-bagian tertentu yang kemudian diberi kode-kode secara individual berdasarkan bidang-bidang geraknya untuk kemudian diberikan nilai. e. Hasil akhir dari penilaian REBA dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, untuk menentukan prioritas penyelidikan dan perubahan yang perlu dilakukan. f. Fasilitas kerja dan metode kerja yang lebih baik dapt dilakukan ditinjau dari analisa yang telah dilakukan. Metode ini juga memiliki kelemahan yaitu (Staton et al, 2005): a. Hanya menilai aspek postur dari pekerja. b. Tidak mempertimbangkan kondisi yang dialami oleh pekerja terutama yang berkaitan dengan faktor psikososial. c. Tidak menilai kondisi lingkungan kerja terutama yang berkaitan dengan vibrasi, temperatur, dan jarak pandang.

2.4 Pengendalian Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Tarwaka et al (2004) mengemukakan langkah-langkah untuk mengatasi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) berdasarkan rekomendasi dari Occupational Safety and Health Administration (OSHA), yaitu tndakan ergonomi untuk mencegah adanya sumebr penyakit adalah dengan dua cara, yakni: 1. Rekayasa Tehnik Rekayasa tehnik pada umumnya dilakukan melalui pemilihan beberapa alternatif yaitu:

75

a. Eliminasi : menghilangkan sumber bahaya yang ada, namun jarang dilakukan karena mengingat kondisi dan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan untuk menggunakan peralatan yang ada. b. Substitusi : mengganti alat atau bahan lama dengan alat atau bahan baru yang aman, sehingga dapat menyempurnakan proses produksi dan menyempurnakan prosedur penggunaan alat. c. Partisi : melakukan pemisahan antara sumber bahaya dengan pekerja. d. Ventilasi : menambah ventilasi untuk mengurangi risiko sakit, seperti suhu udara yang terlalu panas. 2. Rekayasa Manajemen a. Pendidikan dan pelatihan : diharapkan dengan diadakan upaya ini pekerja akan lebih memahami lingkung dan alat kerja sehingga dapat melakukan penyesuaian dan inovatif dalam melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap risiko sakit akibat kerja. b. Pengaturan waktu kerja dan istirahat yang seimbang : pengaturan ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan kerja dan karakteristik pekerjaan, sehingga dapat mencegah paparan yang berlebihan terhadap sumber bahaya. c. Pengawasan yang intensif : diharapkan dengan pengawasan yang intensif dapat dilakukan pencegahan lebih awal terhadap kemungkinan terjadinya risiko sakit akibat kerja. Sebagai contoh, berikut ini diberikan gambaran tindakan untuk mencegah dan mengatasi terjadinya keluhan otot skeletal pada berbagai kondisi dan aktivitas, yaitu sebagai berikut:

76

1. Akitivitas angkat-angkut material secara manual: a. Usahakan meminimalkan aktivitas angkat-angkut secara manual b. Upayakan agar lantai kerja tidak licin c. Upayakan menggunakan alat bantu kerja yang memadai seperti crane, kereta dorong, pengungkit, dll. d. Gunakan alat apabila harus mengangkat di atas kepala atau bahu e. Upayakan agar beban angkat tidak melebihi kapasitas angkat pekerja 2. Berat bahan dan alat a. Upayakan untuk menggunakan bahan atau alat yang ringan b. Upayakan menggunakan wadah atau alat angkut dengan kapasitas < 50 kg 3. Alat tangan a. Upayakan agar ukuran pegangan tangan sesuai dengan lingkar genggam pekerja dan karakteristik pekerjaan (pekerjaan berat atau ringan). b. Pasang lapisan peredam getaran pada pegangan tangan c. Upayakan pemiliharaan yang rutin sehingga alat selalu dalam kondisi layak pakai d. Berikan pelatihan sehingga pekerja terampil dalam mengoperasikan alat.

2.5 Kerangka Teori Paparan dari faktor risiko ergonomi di tempat kerja dapat menyebabkan atau memberi konstribusi bagi perkembangan musculoskeletal disorders atau disebut faktor risiko MSDs. Musculoskeletal disorders (MSDs) dapat terjadi sebagai akibat dari faktor pekerjaan, pekerja, lingkungan dan psikososial (Cohen et al, 1997).

77

Faktor-faktor risiko MSDs yaitu faktor pekerjaan yang terdiri dari postur tubuh, peregangan otot yang berlebihan, aktivitas berulang, force/load dan durasi. Faktor individu meliputi umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kesegaran jasmani, kekuatan fisik, ukuran tubuh (antropometri), masa kerja dan indeks massa tubuh. Faktor lingkungan terdiri dari mikrolimat, ilmunasi dan getaran. Sedangkan faktor psikososial yaitu kepuasaan kerja, stress mental dan organisasi kerja (Bridger, 1995; Tarwaka et al, 2004). Beberapa penelitian terdahulu juga menyampaikan hal serupa mengenai faktorfaktor yang berkaitan dengan keluhan MSDs. Faktor individu yang terkait dengan MSDs adalah usia (Guo et al. 1995; Chaffin 1979; Biering-Sorensen 1983; Inggris et al. 1995; Ohlsson et al. 1994; Riihimki et al; Toomingas et al 1989), jenis kelamin (Bettie et al.1989; Chiang et al.1993; Bernard et al.1994; Hales et al. 1994;

Johansonb 1994; Lindman et al. 1991; Armstrong et al. 1994), kebiasaan merokok (Finkelstein 1995; Owen dan Damron 1984; Frymoyer et al. 1983; Svensson dan Anderson 1983; Kelsey et al.1984; Boshuizen et al. 1993), kesegaran jasmani (Cady et al. 1979; Bettie et al. 1989), kekuatan fisik (Chaffin dan Park, 1977; Troup et al. 1981; Bettie et al. 1989; Leino 1987), indeks massa tubuh (Wener et al. 1994) dan masa kerja (Guo, 2004). Faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap kejadian MSDs diantaranya adalah mikrolimat (Sumamur, 1982; Grandjean, 1993), iluminasi (Bridger, 1995) dan getaran (Cohen et al, 1997; J.M. Harrington, 2003; Nurmianto, 2004). Sedangkan faktor psikososial (Bongers et al, 1993; Lim dan Carayon 1994; ILO 1986; Sauter dan Swanson 1996).

78

Berikut adalah bagan kerangka teori tersebut:


Faktor Pekerjaan : 1. postur tubuh 2. peregangan otot yang berlebihan 3. aktivitas berulang 4. force/load 5. durasi Faktor individu : 1. umur 2. jenis kelamin 3. kebiasaan merokok 4. kesegaran jasmani 5. kekuatan fisik 6. masa kerja 7. indeks massa tubuh. Faktor Lingkungan : 1. Mikrolimat 2. Iluminasi 3. Getaran Faktor Psikososial : 1. Kepuasaan kerja 2. Stress mental 3. Organisasi kerja

Keluhan Muculoskeletal Disorders (MSDs)

Bagan 2.1 Kerangka Teori

79

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor. Kerangka konsep ini terdiri dari variabel dependen dan variabel independen yang mengacu pada kerangka teori yang telah disebutkan sebelumnya. Variabel independen terdiri dari faktor pekerjaan dan faktor pekerja dan variabel dependen dari penelitian ini adalah keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs). Sedangkan variabel yang tidak diteliti yaitu: a. Jenis kelamin Jenis kelamin tidak diteliti dalam penelitian ini karena populasi di tempat penelitian homogen atau dengan kata lain semua responden adalah laki-laki. b. Kesegaran jasmani Kesegaran jasmani tidak diteliti dalam penelitian ini karena populasi di tempat kerja homogen yaitu mendapatkan perlakuan yang sama (pemanasan atau olahraga terlebih dahulu sebelum bekerja). c. Kekuatan fisik Kekuatan fisik tidak diteliti dalam penelitian ini karena secara fisiologis tiap orang dilahirkan dengan struktur otot yang berbeda-beda yaitu ada yang dilahirkan dengan struktur otot yang mempunyai kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan lainnya. Dalam kondisi kekuatan yang berbeda ini, apabila harus melakukan pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot, jelas

80

yang mempunyai kekuatan rendah akan lebih rentan terhadap risiko cidera otot. Selain itu pengukuran kekuatan uji memerlukan serangkaian pengukuran yang cukup rumit, mahal, melibatkan banyak waktu dan biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian dibidang ini. d. Indeks Massa Tubuh (IMT) Variabel ini tidak diteliti karena pengaruhnya yang relatif kecil atau kurang signifikan meskipun merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan keluhan MSDs dan tidak langsung berhubungan dengan keluhan MSDs yang terjadi. e. Lingkungan Variabel lingkungan tidak diteliti karena untuk mikrolimat atau suhu yang dianggap sama atau homogen untuk seluruh pekerja di bagian yang akan diteliti karena mereka bekerja di ruangan atau tempat yang sama sehingga secara otomatis lingkungan kerja mereka sama. Sedangkan untuk iluminasi tidak diteliti karena proses pekerjaan di bagian ini tidak tetap pada satu tempat, dikarenakan pekerjaan dibagian ini selalu berpindah tempat untuk memasang bagian-bagian pada kendaraan yang sedang dirakit sehingga akan sulit menentukan posisi pekerja yang tetap dan

pencahayaannya akan sulit diukur. Sedangkan untuk getaran tidak diteliti karena keterbatasan kemampuan peneliti untuk mengukur getaran, serta keterbatasan biaya dan alat. f. Psikososial Variabel psikososial yang terdiri dari kepuasaan kerja, stress mental dan organisasi kerja tidak diteliti karena variabel ini dipengaruhi oleh faktor-

81

faktor yang terdiri dari faktor internal dan eksternal pekerja yang sehingga akan sulit diukur. Tidak adanya definisi universal dan objektif dalam mengukur faktor psikososial telah membuatnya sulit untuk melakukan studi untuk menyelidiki penyebab-akibat di konteks MSDs (Sauter dan Swanson 1996). Menurut Terry Beehr dan John Newman (dalam Widyasari, 2009) memaparkan mengenai 3 gejala umum stres yang terjadi pada individu, yaitu gejala psikologis, gejala fisiologis dan gejala sikap atau perilaku yang masing-masing memiliki ciri-ciri khusus dan membutuhkan keahlian khusus atau seseorang yang memiliki kemampuan dibidang ini untuk melakukan penilaian pada masing-masing gejala yang berkaitan dengan keluhan MSDs. Selain itu stress mental atau kelelahan mental dapat dikatakan sebagai kelelahan semu (tidak kasat mata) yang timbul dalam perasaan pekerja. Kelelahan ini terlihat dengan tingkah laku atau pendapat-pendapatnya yang sudah tidak konsekuen lagi serta jiwanya yang labil dengan adanya perubahan dalam kondisi lingkungan atau kondisi tubuhnya. Sedangkan untuk organisasi kerja tidak diteliti karena seluruh pekerja berada pada organisasi kerja yang sama atau bekerja di perusahaan yang sama. Kerangka konsep ini mengacu pada kerangka teori yang telah disebutkan pada bab II yang mengacu pada penelitian-penelitian terdahulu. Seperti yang

disampaikan oleh Cohen et al pada tahun 1997, menyatakan bahwa musculoskeletal disorders (MSDs) dapat terjadi sebagai akibat dari faktor pekerjaan, pekerja, lingkungan dan psikososial. Hal serupa juga disampaikan oleh Bridger pada tahun

82

1995 yaitu faktor-faktor risiko musculoskeletal disorders yaitu faktor pekerjaan yang terdiri dari postur tubuh, peregangan otot yang berlebihan, aktivitas berulang, force/load dan durasi. Faktor individu meliputi umur, jenis kelamin, kebiasaan

merokok, kesegaran jasmani, kekuatan fisik, ukuran tubuh (antropometri), masa kerja dan indeks massa tubuh. Faktor lingkungan terdiri dari mikrolimat, ilmunasi dan getaran. Sedangkan organisasi kerja. Kerangka konsep terdiri dari variabel dependen dan variabel independen. Variabel independen yaitu faktor pekerjaan, usia, kebiasaan merokok, dan masa kerja. Sedangkan keluhan MSDs ditetapkan sebagai variabel dependen. Dalam penelitian ini tidak semua variabel pada masing-masing faktor risiko MSDs diteliti karena kondisi dan keadaan yang tidak memungkinkan serta beberapa alasan lain yang telah dijelaskan diatas. Variabel yang tidak diteliti seperti jenis kelamin, kesegaran jasmani, kekuatan fisik dan indeks massa tubuh pada faktor individu, faktor lingkungan serta faktor psikososial. Berikut ini adalah bagan kerangka konsep.
Faktor Pekerjaan postur tubuh peregangan otot yang berlebihan aktivitas berulang force/load durasi Faktor pekerja: Umur Kebiasaan merokok Masa kerja

faktor psikososial yaitu kepuasaan kerja, stress mental dan

Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs)

Gambar 3.1 Bagan Kerangka Konsep

83

3.2 Definisi Operasional Variabel No . 1. Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Definisi Alat Ukur Kuisioner Cara ukur Wawancara operator kepada Hasil Ukur 0. Mengeluh 1. Tidak mengeluh Skala Ordinal

2.

Nyeri pada bagian otot berupa pegal-pegal dan ketidaknyamanan pada sistem otot dan tulang yang dirasakan pekerja/operator. (Tarwaka et al, 2004) Faktor Pekerjaan Skor akhir dari hasil identifikasi postur operator dengan menggunakan metode REBA dan RULA

1. 2. 3. 4.

Busur Stopwatch Kamera Timbangan

1. Observasi kegiatan yang dilakukan operator dan merekamnya dengan kamera serta menghitung lamanya waktu melakukan suatu pekerjaan 2. Menilai postur operator dengan metode REBA dan RULA serta mengukur sudutnya dengan

0. Sangat tinggi level 4) 1. Tinggi (Act 3) 2. Sedang (Act 2) 3. Rendah (Act 1)

(Act Ordinal level level level

84

3.

Umur

4.

Kebiasaan merokok

5.

Masa kerja

Lama hidup operator yang dihitung dari tanggal lahir hingga penelitian berlangsung Kegiatan menghisap rokok yang dilakukan berulang kali, teratur dan sulit untuk dilepaskan Lama operator bekerja sebagai perakit dari perusahaan ini maupun dari perusahaan sebelumnya hingga saat penelitian berlangsung

Kuisioner

busur 3. Menimbang beban yang diangkat oleh operator Menyebarkan kuisioner kepada operator Menyebarkan kuisioner kepada operator

Kuisioner

0. 35 tahun Ordinal 1. < 35 tahun (Guo et al, 1995; Chaffin, 1979) 0. Merokok Ordinal 1. Tidak merokok

Kuisioner

Menyebarkan kuisioner kepada operator

Bulan

Ratio

85

3.3 Hipotesis 1. Ada hubungan antara faktor pekerjaan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs). 2. Ada hubungan antara umur dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs). 3. Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs). 4. Ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs).

86

BAB IV METODELOGI PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross

sectional karena pada penelitian ini variabel independen dan variabel dependen diukur pada waktu yang sama untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja assembling di PT X Bogor tahun 2010. 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT X Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian ini pada bulan Agustus sampai Desember 2010.. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh operator atau pekerja yang bekerja di assembling passanger cars PT X yang berjumlah 90 orang. 4.3.2 Sampel Jumlah sampel diperoleh berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus jumlah sampel uji hipotesis dua propors. Metode pengambilan sampel adalah simple random sampling untuk mendapatkan sampel kasus yang mewakili populasi induknya. Dengan asumsi dari penelitian sebelumnya yaitu proporsi pada populasi yang mengeluh MSDs akibat umur operator 35 tahun (P1) adalah 80,5% dan proporsi

87

yang mengeluh MSDs akibat umur operator < 35tahun (P2) adalah 47,1% (Soleha, 2009). Pada penelitian ini, peneliti menginginkan tingkat kepercayaan 95%, derajat kemaknaan 5% dan kekuatan uji 80%. Rumus besar sampel uji hipotesis beda dua proporsi : Sampel (n) = [ Z1- /2 x (2P(1 P)) + Z1- x (P1(1- P1) + P2 (1- P2))] (P1 P2) Keterangan : n : Besar sampel minimum yang dibutuhkan dalam penelitian

Z1- : Derajat kepercayaan (confident interval CI) : Derajat kemaknaan (5 %)

Z1- : Kekuatan uji (80%) P : Rata-rata proporsi pada populasi

P1 : Proporsi yang mengeluh MSDs akibat umur operator 35 tahun P2 : Proporsi yang mengeluh MSDs akibat umur operator < 35tahun Berdasarkan rumus diatas maka besar sampel yang dibutuhkan sebesar: n = [ 1,96 2 x 0,64 (1 0,64) + 0,84 0,805 (1- 0,805) + 0,471 (1- 0,471)] (0,805 0,471) n = 1,33 + 0,33 + 0,25 0,11 n = 33,27 n = 34 Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus uji hipotesis dua proporsi diatas, diperoleh besar sampel sebesar 34 sampel. Kemudian sampel tersebut dikali dua

88

sehingga sampel yang dibutuhkan adalah 68 sampel atau dibulatkan menjadi 70 sampel. 4.4 Instrumen Penelitian dan Sumber Data Kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden mengenai keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs), umur, kebiasaan merokok, masa kerja dan pekerjaan dengan menggunakan form REBA dan RULA yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti. Selain kuisioner, pada penelitian juga memakai beberapa peralatan lain seperti kamera, busur, stopwatch dan timbangan. a. Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Variabel Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) diukur dengan metode Nordic Body Map (NBM) dengan melihat dan menganalisis peta tubuh NBM maka dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja. b. Pekerjaan Variabel pekerjaan didapatkan dari pengukuran dengan menggunakan dua metode yaitu REBA untuk pekerjaan yang dilakukan dengan berdiri dan RULA untuk pekerjaan yang dilakukan dengan duduk. Peralatan yang digunakan dalam pengukuran ini terdiri dari kamera, busur, stopwatch dan timbangan. Dimulai dengan observasi pada pekerjaan, memilih postur yang akan dinilai, memberi nilai pada postur, memproses nilai, menetapkan nilai REBA dan RULA kemudian menentukan nilai action level.

89

c. Untuk variabel umur, kebiasaan merokok dan masa kerja didapatkan dari jawaban kuisioner yang diisi oleh responden. 4.5 Pengolahan data Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti kemudian akan diolah dengan menggunakan program komputer meliputi: a. Editing Sebelum diolah data diteliti apabila ada kesalahan diteliti lagi dan dibetulkan apabila masih ada kesalahan serta memerikasa kelengkapannya. b. Coding Data yang sudah dikumpulkan diberi kode pada setiap variabel untuk memudahkan pemasukan, mengelompokan dan pengolahan data. Pengkodean pada masing-masing variabel yaitu sebagai berikut: a. Keluhan MSDs : mengeluh 0, tidak mengeluh 1 b. Faktor pekerjaan: Sedangkan untuk faktor pekerjaan pengkodeannya dilakukan setelah penilaian metode REBA dan RULA. Mula-mula setelah proses kerja direkam dan diambil gambar dengan menggunakan kamera digital dan postur kerja yang telah ditentukan kemudian diukur dengan menggunakan busur derajat untuk mengetahui sudut untuk menentukan besar posisi janggal dan melakukan pengisian skor pada form REBA dan RULA. Langkah-langkah untuk REBA adalah sebagai berikut:

90

1.

Memberi skor pada grup A yang terdiri dari leher, punggung, dan kaki. Nilai tersebut dimasukkan ke tabel A. Kriteria penilaian postur grup A adalah: a. Kriteria penilaian area leher : a) Skor 1 = Posisi leher 0o- 20o ke depan. b) Skor 2 = Posisi leher > 20o ke depan dan ke belakang. c) Skor + 1, jika leher berputar atau miring ke kanan, dan atau ke kiri, serta ke atas dan atau ke bawah. b. Kriteria penilaian area punggung : a) Skor 1 = Posisi punggung lurus atau 0o. b) Skor 2 = Posisi 0o- 20o ke depan dan ke belakang. c) Skor 3 = Posisi 20o-60o ke depan dan > 20o ke belakang. d) Skor 4 = Posisi > 60o ke depan. e) Skor + 1, jika punggung berputar atau miring ke kanan, dan atau ke kiri, serta ke atas dan atau ke bawah. c. Kriteria penilaian area kaki : a) Skor 1 = Tubuh bertumpu pada kedua kaki, berjalan, duduk. b) Skor 2 = Berdiri dengan satu kaki, tidak stabil. c) Skor + 1, jika lutut di tekuk 30o-60o ke depan, dan skor + 2, jika lutut di tekuk > 60o ke depan. Setelah didapatkan skor postur punggung, leher dan kaki, kemudian

dimasukkan ke dalam tabel penilaian skor A. Dapat dilihat pada tabel 4.1.

91

Tabel 4.1 Skor postur kaki Contoh Penilaian Skor Tabel A Skor postur

Skor postur punggung

Skor tabel A Kemudian skor tabel A dijumlahkan dengan berat beban yang diangkat. Penilaian beban dilakukan dengan pengukuran langsung menggunakan timbangan. Kriteria penilaian beban : a. b. c. d. 2. Skor 0 = Berat beban < 5 kg. Skor 1 = Berat beban 5 10 kg. Skor 2 = Berat beban > 10 kg. Skor + 1, jika disertai dengan pergerakan yang cepat.

Memberi nilai dari grup B yang terdiri dari bagian lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan, untuk bagian kanan dan kiri tubuh. Kriteria penilaian postur grup B adalah: a. Kriteria penilaian area lengan atas : a) Skor 1 = Posisi lengan atas 0o 20o ke depan dan ke belakang.

92

b) Skor 2 = Posisi lengan atas > 20o ke belakang, dan 200-40o ke depan. c) Skor 3 = Posisi lengan atas antara 45o-90o. d) Skor 4 = Posisi lengan atas > 90o ke atas. e) Skor + 1, jika bahu berputar atau bahu dinaikkan atau di beri penahan. f) Skor 1, jika lengan dibantu oleh alat penopang atau terdapat orang yang membantu. b. Kriteria penilaian area lengan bawah : a) Skor 1 = Posisi lengan 600-100o ke depan. b) Skor 2 = Posisi lengan antara 0o 60o ke bawah, dan > 100o ke atas. c. Kriteria penilaian area pergelangan tangan : a) Skor 1 = Posisi pergelangan tangan 00-15o ke depan dan ke belakang. b) Skor 2 = Posisi pergelangan tangan > 15o ke depan dan ke belakang. c) Skor + 1, jika terdapat penyimpangan pada pergelangan tangan. Setelah skor leher, punggung, dan kaki didapat maka dimasukkan ke tabel skor B. Dapat dilihat pada tabel 4.2.

93

Tabel 4.2. Contoh Penilaian Skor Tabel B


Skor postur tangan

Skor postur pergelangan tangan

Skor postu r bahu

Skor tabel B

Tahap selanjutnya dijumlahkan dengan nilai genggaman tangan. Kriteria penilaian cara memegang : a. Skor 0 = Memegang beban dengan dibantu oleh alat pembantu. b. Skor 1 = Memegang beban dengan mendekatkan beban ke anggota tubuh yang dapat menopang. c. Skor 2 = Memegang beban hanya dengan tangan tanpa mendekatkan beban ke anggota tubuh yang dapat menopang. d. Skor 3 = Memegang beban tidak pada tempat pegangang yang disediakan.

94

3.

Setelah nilai dari grup A dan grup B didapat, maka dimasukkan ke tabel C. dapat dilihat pada tabel 4.3. Tabel 4.3. Contoh Penilaian Skor C Hasil skor C

4.

Kemudian diperoleh nilai C dan dijumlahkan dengan nilai aktivitas. Kriteria nilai aktifitas yaitu: a. Skor + 1, jika salah satu atau lebih dari anggota tubuh statis > 1 menit. b. Skor + 1, jika melakukan gerakan berulang > 4 kali dalam waktu 1 menit. c. Skor + 1, jika perubahan postur dengan cepat atau tidak stabil.

95

Setelah didapat skor tabel C dijumlahkan dengan skor aktifitas, maka diperoleh skor akhir REBA, level perubahan yang harus dilakukan serta didapatkan juga pengkodean untuk faktor pekerjaan yaitu sangat tinggi 0, tinggi 1, sedang 2, rendah 3 dan sangat rendah 4. Hasil skor tabel C dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4. Skor Akhir REBA Level Aksi 0 1 2 Skor REBA 1 2 atau 3 4-7 Level Risiko Sangat rendah Rendah Sedang Aksi (Termasuk Tindakan Penilaian) Risiko masih dapat diterima dan tidak perlu dirubah Mungkin diperlukan perubahanperubahan Butuh pemeriksaan dan perubahan Kondisi berbahaya, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan dan perubahan dengan segera Perubahan dilakukan saat itu juga

3 4

8-10 11 +

Tinggi Sangat Tinggi

Sedangkan langkah-langkah untuk RULA adalah sebagai berikut: 1. Memberi skor pada grup A yang terdiri dari lengan atas dan lengan bawah serta pergelangan tangan. Setelah didapatkan skor postur lengan atas, lengan bawah, serta pergelangan tangan, kemudian dimasukkan ke dalam tabel penilaian skor A untuk mendapat skor A.

96

2. Menambahkan skor penggunaan otot dan skor untuk penggunaan tenaga atau beban. 3. Member skor pada grup B yang terdiri dari leher, punggung (badan), dan kaki. Setelah didapatkan skor postur leher, punggung (badan), dan kaki, kemudian dimasukkan ke dalam tabel penilaian skor B untuk mendapatkan skor B.

4. Menambahkan skor penggunaan otot dan skor untuk penggunaan tenaga atau beban.

97

5. Penetapan skor final yaitu dengan memasukkan nilai postur kelompok A (arm and wrist analysis) kedalam kolom vertikal tabel C, lalu memasukkan nilai postur kelompok B (neck, trunk, and leg analysis) ke dalam kolom horizontal tabel C.

Setelah diperoleh grand score, yang bernilai 1 sampai 7 menunjukkan level tindakan (action level) dan pengkodeannya sebagai berikut : Action Level 1: Skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur dapat diterima selama tidak dijaga atau berulang untuk waktu yang lama. Action Level 2: Skor 3 atau 4 menunjukkan bahwa penyelidikan lebih jauh dibutuhkan dan mungkin saja perubahan diperlukan. Action Level 3: Skor 5 atau 6 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan segera. Action Level 4: Skor 7 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan sesegera mungkin (mendesak). Untuk faktor pekerjaan pengkodeannya dilakukan setelah didapatkan skor dari hasil pengukuran REBA dan RULA yang kemudian dikelompokan menjadi dua kategori berdasarkan action level masing-masing metode dan tindakan penanganan yang harus

98

dilakukan yaitu sebagai berikut: tinggi (action level 3 dan 4) dan 2) 1. c. Umur : 35 tahun 0, < 35 tahun 1 d. Kebiasaan merokok: merokok 0, tidak merokok 1 e. Masa kerja: Bulan c. Entry

0, rendah (action level 1

Data yang sudah diberi kode kemudian dimasukkan dalam program computer untuk diolah. d. Cleaning Proses pengecekan kembali data yang sudah dientry apakah ada kesalahan atau tidak, sehingga data tersebut telah siap diolah dan dianalisis. 4.6 Analisis Data 4.6.1 Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian ini untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase yaitu meliputi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs), faktor pekerjaan, faktor personal (umur, kebiasaan merokok dan masa kerja).

4.6.2 Analisis Bivariat Analisis bivariat untuk membuktikan hipotesis dalam penelitian ini dengan menggunakan uji chi-square dimana variabel independen dan dependen dalam penelitian ini berupa data kategorik. Persamaan Chi Square :

99

X = ( 0 E ) E Keterangan : X = Chi Square 0 = nilai yang diamati E = nilai yang diharapkan Jika Pvalue > 0,05 maka tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel pekerjaan, umur dan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs. Sebaliknya jika Pvalue 0,05 maka terdapat hubungan yang bermakna antara variabel pekerjaan, umur dan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs. Untuk mencari hubungan antara variabel masa kerja dengan keluhan MSDs, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data untuk mengetahui apakah variabel ini berdistribusi normal atau tidak. Setelah dilakukan uji normalitas data, jika data berdistribusi normal maka dilanjutkan dengan uji T-test sedangkan jika data tidak berdistribusi normal maka digunakan uji beda 2 mean independen (MannWhitney).

100

BAB V HASIL

5.1 Sejarah singkat perusahaan PT. X merupakan salah satu industri dibidang perakitan kendaraan bermotor yang memproduksi dua kendaraan yaitu, kendaraan untuk pribadi (passenger cars) dan chassis untuk kendaraan commercial. Perusahaan ini adalah agen resmi dan perakit semua produknya di Indonesia serta bertanggung jawab untuk pemasaran semua produknya di Indonesia. Selain itu perusahaan ini merupakan perusahaan patungan antar perusahaan asing dan indonesia. Kegiatan perusahaan ini di Indonesia dimulai tahun 1970-an dan pada tahun yang sama didirikan pula sebuah perusahaan sebagai perakit dan pembuat produk untuk perusahaan ini. Saat ini Indonesia memiliki tiga perusahaan serupa yang lokasinya disekitar Jakarta dengan jumlah karyawan keseluruhan lebih dari 583 orang, yaitu pabrik perakitan kendaraan, layanan purna jual dan perusahaan distribusi. 5.2 Departemen APC (Assembling Passenger Cars) PT. X terbagi atas beberapa departemen, dua diantaranya merupakan departemen yang berkaitan dengan pekerjaan assembling yaitu produksi passenger cars yang terdapat di APC dan commercial vehicle atau chassis bus yang terdapat di ACV (Assembling Commercial Vehicle). Untuk departemen APC terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu trimming line, mechanical line, rectification dan finishing. Penelitian ini fokus pada bagian trimming line dan mechanical line.

101

Bagian trimming line merupakan bagian awal dalam proses produksi passenger cars. Pada bagian ini dilakukan bermacam-macam pekerjaan yang berkaitan dengan pemasangan interior dan exterior parts pada passenger cars. Proses pekerjaan dibagian ini menggunakan bermacam-macam peralatan dan mesin, diantaranya ada yang memiliki risiko dan bahaya yang cukup signifikan terkait ergonomi pada pekerja. Bagian trimming line terdiri dari 10 stasiun dan didukung oleh dua stasiun lainnya yaitu cockpit dan doors. Gambaran proses pekerjaan pada trimming line adalah sebagai berikut: 1. Pre Stasiun : merupakan stasiun paling awal pada bagian ini dengan pekerjaannya yaitu pemasangan engine roof, tutup bagasi, karet dan spring pada cabin. Pada pemasangan engine roof dan tutup bagasi pada cabin, pekerja mengangkat part tersebut secara manual yang beratnya sekitar 10 kg. Ketika pengangkatan punggung pekerja membungkuk dan saat pemasangan lengan atas dan bawah pekerja tidak lurus atau membengkok. Pada kegiatan ini didapatkan skor REBA 11 sehingga masuk ke dalam kategori sangat tinggi. 2. Stasiun 0 : pekerjaan pada stasiun ini yaitu pemasangan air cover, bumper cross member, lampu dan proses markier, mal dan seting bonet pada cabin. Pada proses markier pekerja harus mengangkat alat markier dan mal secara manual dengan berat 15 kg dan 20 kg dengan posisi punggung membungkuk dan leher tertekuk. Pada proses ini didapatkan skor REBA 12 yang berarti pekerjaan ini memiliki risiko ergonomi sangat tinggi dan merupakan proses pekerjaan yang memiliki skor REBA tertinggi jika dibandingkan dengan pekerjaan lainnya di stasiun ini.

102

3. Stasiun 1 : pekerjaan pada stasiun ini yaitu pemasangan spare will dengan berat sekitar 15 kg, plug, proses sealing atau proses pengeleman dengan alat yang memiliki berat sekitar 5 kg dan alat pemberatnya dengan berat sekitar 60 kg, pipa kecil dan tanki dengan berat sekitar 30 kg yang seluruhnya diangkat dan dipasang secara manual serta posisi punggung yang membungkuk, lengan membengkok dan leher tertekuk, ada juga posisi leher in extension pada proses pengangkatan tanki. Pada proses sealing didapatkan skor REBA 11 dan pada proses pengangkatan tanki didapatkan skor REBA 12 sehingga kedua proses ini termasuk dalam kategori pekerjaan dengan risiko ergonomi sangat tinggi. 4. Stasiun 2 : pekerjaan pada stasiun ini yaitu pemasangan plug, shock becker dan dumping. Pada pekerjaan ini posisi punggung agak membungkuk dan leher yang menekuk dan ada juga posisi leher in extension pada proses pemasangan plug pada engine roof. Skor REBA pada proses ini yaitu 8 sehingga termasuk kategori pekerjaan dengan risiko ergonomi tinggi. 5. Stasiun 3 : pekerjaan pada stasiun ini terbagi menjadi dua yaitu 3A dan 3B. Pekerjaan pada stasiun 3A adalah pemasangan kabel-kabel yang berhubungan dengan electric control dan RBA kabel, airbag control unit dan RBA passenger compartment rear. Pada pemasangan kabel-kabel tersebut pekerja harus mengangkatnya secara manual dengan berat sekitar 40 kg dan posisi punggung yang agak membungkuk dan leher in extension dengan skor REBA 9 sehingga termasuk kategori pekerjaan dengan risiko ergonomi tinggi. Sedangkan pekerjaan pada stasiun 3B adalah pemasangan booster rem, kabelkabel engine hood, kabel harness, pedal rem/sub assy pedal system, pipa AC.

103

Pada proses pemasangan pedal rem, pekerjaan dilakukan dengan duduk, posisi punggung membungkuk, leher menekuk dan lengan atas bawah membengkok dengan skor RULA 6 sehingga termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. Sedangkan pada proses pemasangan pipa AC posisi punggung membungkuk dan agak miring ke kanan, leher menekuk dan lengan bawah atas membengkok dengan skor REBA 9 sehingga termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. 6. Stasiun 4: pekerjaan pada stasiun ini juga terbagi menjadi dua yaitu 4A dan 4B. Pekerjaan pada stasiun 4A adalah pemasangan window bag, control unit plate of firewall dan sub assy cockpit pada cabin. Pada pemasangan cockpit, pekerja mengangkatnya secara manual dengan berat sekitar 60 kg ke dalam cabin dengan posisi punggung yang membungkuk, leher in extension, kaki menekuk dan lengan atas bawah yang membengkok serta mengangkat beban berat. Skor REBA pada pekerjaan ini 13 sehingga termasuk pekerjaan dengan kategori risiko ergonomi sangat tinggi. Sedangkan pada proses pemasangan cockpit karena dilakukan didalam cabin maka dilakukan dengan posisi duduk dan didapatkan skor RULA 7 sehingga termasuk kategori risiko ergonomi sangat tinggi. Sedangkan pekerjaan pada stasiun 4B adalah pemasangan park handle, brake pipe, air duct firewall, battery frame engine. Pada pemasangan battery frame engine posisi punggung agak membungkuk dengan leher menekuk dan agak miring ke kiri, posisi kaki menekuk dan kadang berdiri dengan satu tumpuan kaki saja, lengan atas & bawah membengkok. Pada proses ini didapatkan skor REBA 9 yang termasuk pekerjaan dengan kategori risiko ergonomi tinggi.

104

7. Stasiun 5 : proses pekerjaan di stasiun ini juga terbagi menjadi dua yaitu 5A dan 5B. Pekerjaan pada stasiun 5A yaitu pemasangan part untuk interior seperti seat belt driver, part pd roof atau atap mobil, lampu, gear shift, handles roof. Proses pekerjaan pada stasiun ini banyak dilakukan di dalam cabin, sehingga pekerja bekerja dengan cara duduk atau terkadang setengah berdiri di dalam cabin seperti pada pemasangan lampu di dalam cabin dan part interior. Posisi punggung dan leher in extension, lengan atas dan bawah terangkat keatas. Pada proses ini dapatkan skor RULA 7 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi sangat tinggi. Sedangkan untuk pekerjaan pada stasiun 5B yaitu pemasangan karpet bawah (panel), ABS untuk rem atau sistem kendali, safety hook bonet, rubber sealing bonet, cooling water tank, warning triangle compl, shock becker. Proses pekerjaan di staisun ini banyak dilakukan diluar cabin, seperti pada pemasangan shock becker pekerja harus merunduk dengan punggung membungkuk, leher in extension dan agak miring serta posisi lengan yang membengkok. Skor REBA pada pekerjaan ini adalah 9 yang termasuk pekerjaan dengan kategori risiko ergonomi tinggi. 8. Stasiun 6 : proses pekerjaan pada stasiun ini yaitu glozing in rear glass, pemasangan glass atau kaca depan dan belakang, whipped system, covering aggregate, water deflector, shielding partition panel. Pekerjaan di bagian ini lebih terfokus pada pemasangan glass yang terdiri dari beberapa kegiatan, seperti memberi lem pada tepi glass, mengangkat glass kemudian dipasang pada bagian depan dan belakang cabin. Postur tubuh pada proses pekerjaan

105

tersebut bermacam-macam, seperti punggung yang membungkuk saat mengangkat glass dan mengolesi lem pada tepi glass, leher menekuk dan agak miring, lengan atas dan bawah terangkat ke atas serta mengangkat beban sekitar 15 kg. Untuk proses ini didapatkan skor REBA 10 yang termasuk pekerjaan dengan kategori risiko ergonomi tinggi. 9. Stasiun 7 : proses pekerjaan pada stasiun yaitu terdiri dari pemasangan perlengkapan berbagai cover seperti cover rain-light sensor dan cover c-pillar, air intake (pendingin), engine compaqment, rear floor carpet, handle rem, side bag rear. Pekerjaan pada bagian ini lebih banyak dilakukan didalam cabin dengan posisi duduk atau jongkok, punggung agak membungkuk, leher menekuk, lengan atas terangkat. Dari proses ini didapatkan skor RULA 5 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. 10. Stasiun 8 : proses pekerjaan pada stasiun ini terbagi menjadi dua yakni stasiun 8A dan 8B. Pekerjaan pada stasiun 8A terdiri dari pemasangan cover under dashboard, accelerator pedal , cover side panel, cockpit side cover, seat belt house, sandaran jok belakang, lampu atas jok belakang. Pekerjaan pada bagian ini ada yang dilakukan didalam cabin dan luar cabin. Di dalam cabin seperti sandaran jok belakang dan lampu diatas jok belakang dengan posisi jongkok, punggung membungkuk, leher in extension, lengan atas dan bawah terangkat, kaki menekuk. Dari proses ini didapatkan skor REBA 13 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori sangat tinggi. Adapun pekerjaan diluar cabin seperti pemasangan pedal yang dilakukan dengan posisi setengah berdiri, punggung membungkuk, leher in extension, kaki menekuk. Dari proses ini didapatkan

106

skor REBA 11 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. Sedangkan pekerjaan pada stasiun 8B yaitu pemasangan front seat, rear seat backrest, karet pada pemasangan pintu, list pintu, edge protecting. Pengangkatan dan pemasangan seat ke troley dan ke dalam cabin merupakan salah satu pekerjaan di bagian ini yang memiliki risiko ergonomi cukup signifikan karena postur tubuh yang berisiko serta beban sekitar 25-30 kg yang harus diangkat secara manual berkali-kali dalam satu hari. Skor REBA yang didapatkan dari proses ini adalah 13 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi sangat tinggi. 11. Stasiun 9 :proses pekerjaan pada stasiun ini terdiri dari pemasangan rear safety belt, rear seat cushion, sill cover, door lock striker, front door dan dumping under rear seat serta ISTK yaitu penggabungan beberapa software dalam satu control unit pada kendaraan. Pekerjaan pada bagian ini terdapat bermacammacam postur tubuh yang berisiko diantaranya ketika pengangkatan jok dudukan belakang sekitar 8-10 kg, dengan punggung membungkuk, kaki menekuk, lengan atas bawah terangkat. Pada proses tersebut didapatkan hasil skor REBA adalah 11 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi sangat tinggi. 12. Stasiun 10 : proses pekerjaan pada stasiun ini tidak terlalu berat seperti pekerjaan pada stasiun lain. Pekerjaannya terdiri dari quality control, seperti pengecekan apakah part atau komponen kendaaran dirakit atau dipasang dengan benar dan memeriksa fungsional masing-masing part. Dari proses ini

107

didapatkan skor REBA 6 yang berarti termasuk pekerjaan dengan kategori risiko ergonomi sedang. Selanjutnya adalah bagian mechanical line yaitu bagian assembling yang berkaitang dengan perakitan aggregates parts, yaitu seperti engine, rear dan front axle dan semua komponen yang berkaitan dengan engine pada kendaraan. Selain itu terdapat perakitan tires, fluid filling dan electrical checking. Bagian ini terdiri dari 9 stasiun yakni stasiun 11 sampai 19. Gambaran proses pekerjaan pada mechanical line adalah sebagai berikut: 1. Stasiun 11 12 : proses pemasangan hoist crane pada cabin untuk proses selanjutnya yaitu married engine atau pemasangan komponen engine pada cabin atau body mobil. Diawali dengan proses pendorongan untuk memasukkan mesin (pengepasan lubang baut), pada proses ini didapatkan hasil skor REBA 11 yang termasuk pekerjaan dengan kategori risiko ergonomi tinggi. Setelah itu dilanjutkan dengan pemasangan front dan rear axle pada cabin, pemasangan stearing connection dan connected working bottom, wish bone, lempengan besi/cover (heat shield fuel tank, heat shield MSD RH, heat shield catalist), propeller shaft (batang penghubung rear dan front axle, engine), propeller shaft center bearing dan plug. Seluruh pemasangan bagian tersebut dilakukan dibawah cabin dengan postur tubuh pekerja rata-rata yaitu leher in extension, punggung in extension, lengan atas dan bawah over head dan kaki tegak lurus. Seperti pada pemasangan front axle dan front rear axle didapatkan skor REBA 8 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi tinggi.

108

2. Stasiun 13: proses pekerjaan pada stasiun ini terdiri dari pemasangan exhaust system front (knalpot) dengan berat sekitar 15 kg yang diangkat secara manual sedangkan exhaust pipe front beratnya sekitar 5 8 kg. Postur pekerja saat mengangkat knalpot leher in extension, punggung membungkuk, lengan atas dan bawah posisi terangkat dan kaki lurus. Dari pekerjaan ini didapatkan skor REBA 10 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. Selanjutnya pemasangan shifftening bagian depan dan belakang dengan berat > kg, gearbox brackets, connection at radiator, radiator covering, temperatur sensor, cable, harness transmission, strut (lempeng besi panjang), tunnel strut, sprig strut cap dan covering under body. Pemasangan komponenkomponen tersebut juga dilakukan dibawah cabin. Seperti pada pemasangan shifftening depan dan belakang, dengan postur tubuh pekerja leher in extension, punggung in extension, lengan atas dan bawah terangkat keatas dan kaki sedikit menekuk dan didapatkan hasil skor REBA 10 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. 3. Stasiun 14: proses pekerjaan pada stasiun ini tidak dilakukan dibawah cabin lagi seperti pada stasiun 11-13, namun terdapat beberapa pekerjaan yang dilakukan dengan duduk. Prosesnya terdiri dari pemasangan front module diikuti dengan pengencangan baut yang menggunakan moment 90 nm 180o dengan postur tubuh leher menekuk, punggung membungkuk, kaki membengkok, lengan atas dan bawah terangkat dalam posisi menarik moment dan didapatkan skor REBA 10 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. Kemudian pemasangan rear bumper fitting dengan berat sekitar 10 kg diangkat

109

secara manual, brake house, activated charcoal filter (pompa bahan bakar, filler nech fitment), tutup bensin, tanki whipped depan, fluid reservoir, induction pipe, screen plate ESD. Misalnya pemasangan brake house postur pekerja leher in extension, punggung sedikit membungkuk dan agak miring, lengan atas dan bawah terangkat dan kaki dalam posisi duduk. Dari pekerjaan ini didapat skor RULA 7 yang berarti pekerjaan tersebut termasuk kategori risiko ergonomi sangat tinggi. 4. Stasiun 15 : proses pekerjaan pada stasiun ini terdiri dari pemasangan tires dengan moment 130 nm, bumper depan dengan berat sekitar 10 kg, lampu depan, grill (pasang setir), engine complied (cover engine) dengan moment 33nm. Kemudian pemasangan connection brake pipe wheel arch front, brake pipe rear, covering wheel house, wheels front dan rear, tighten spring strut. Pada pemasangan tires, sebelumnya tires diangkat secara manual dari troley ke cabin dengan berat sekitar 15 kg dan punggung in extension, leher in extension, tangan dan lengan terangkat ke atas pada posisi mengangkat tires serta kaki sedikit membengkok, didapatkan skor REBA 10 yang berarti pekerjaan ini termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. Kemudian proses moment tires dengan menggunakan moment 130 nm posisi punggung membungkuk, leher in extension, lengan atas dan bawah terangkat dengan beban yang dipegang

sekitar 2-3 kg dan kaki menekuk, didapatkan skor REBA 9 yang berarti pekerjaan ini termasuk kategori risiko ergonomi tinggi. Pemasangan bumper depan diawali dengan mengangkat bumper ke cabin secara manual, posisi punggung membungkuk, leher in extension, lengan atas dan bawah terangkat

110

dalam posisi mengangkat bumper dan kaki lurus, didapatkan skor REBA 11 yang berarti pekerjaan ini memiliki risiko ergonomi sangat tinggi. Sedangkan pada pemasangan lampu depan posisi punggung lurus, leher in extension, lengan atas dan bawah terangkat ke atas dan kaki lurus, didapatkan skor REBA 9 yang berarti pekerjaan ini memiliki kategori risiko ergonomi tinggi. 5. Stasiun 16 : proses pekerjaan pada stasiun ini terdiri dari pengencangan untuk bagian setir mobil, pengangkatan dan pemasangan ban serep secara manual dengan berat sekitar 30 50 kg, setting bonet (engine hood) dengan special tool, vacuum pipe engine compartment, trunk floor. Untuk setting bonet, didapatkan skor REBA 5 yang berarti pekerjaan ini memiliki risiko ergonomi sedang. 6. Stasiun 17 : proses pekerjaan pada stasiun ini yaitu berupa filling vehicle atau pengisian fuel dan cairan seperti, bahan bakar, minyak rem, isi culler radiator, freon AC, oli stearing, air whipper dan tes kebocoran. Proses pekerjaan pada stasiun ini memiliki skor REBA 2 yang termasuk dalam kategori risiko ergonomi rendah. Hal ini karena pekerjaan pada stasiun ini hanya filling vehicle yang terdiri dari beberapa cairan dan fuel yang sudah ada alat khusus untuk mengerjakannya sehingga pekerja tidak perlu menggunakan peralatan yang menggunakan tenaga besar. 7. Stasiun 18 : proses pekerjaan pada stasiun ini hanya diagnosis fungsional pada kendaraan atau disebut juga dengan ISTK. Proses bertujuan untuk memastikan dan memeriksa sistem komputerisasi dan connection pada kendaraan sudah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hal serupa juga dilakukan pada

111

bagian trimming line yaitu pada stasiun 9 dan pekerjaan ini juga memiliki risiko ergonomi yang rendah dengan skor REBA 3, karena pekerjaannya hanya diagnosis dan lebih banyak berhadapan dengan komputer. 8. Stasiun 19 : stasiun ini merupakan stasiun terakhir pada keseluruhan proses assembling. Pekerjaannya terdiri dari pemeriksaan quality secara fungsi dan visual pada kendaraan yang telah selesai dipasang semua komponennya, apakah sudah sesuai dengan ketentuan atau masih ada perbaikan. Setelah itu dibuat laporan dan pemberian stempel yang menyatakan bahwa kendaraan tersebut sudah sesuai dengan kualitas yang telah ditentukan. Proses pemeriksaan visual pada kendaraan dilakukan secara menyeluruh di dalam maupun di luar kendaraan, sehingga tidak jarang pekerja harus membungkuk dengan leher tertekuk untuk memeriksa bagian dalam mobil, pada proses ini didapatkan skor REBA 7 yang berarti pekerjaan ini termasuk kategori risiko ergonomi sedang.

5.3 Analisis Univariat 5.3.1 Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling PT. X Bogor tahun 2010 Keluhan Mengeluh Tidak mengeluh Jumlah Jumlah (n) 65 5 70 Persentasi (%) 92,9 7,1 100

112

Berdasarkan tabel 5.1, diketahui bahwa sebagian besar reponden mengalami keluhan MSDs yaitu sebanyak 65 (92,9%) responden. Sedangkan responden yang tidak mengalami keluhan MSDs sebanyak 5 (7,1%) responden. Grafik 5.1 Distribusi bagian tubuh yang dikeluhkan pada operator assembling PT X tahun 2010
60% 50% 47% 46% 49% 43%

persentase

40% 30% 23% 20% 10% 0%

41% 34%

19% 14% 10%

24% 24% 21% 20% 16% 14% 14% 14% 11% 14% 10% 10% 6%

14% 16% 14% 14%

Dari grafik 5.1 diketahui bagian tubuh yang paling dikeluhkan yaitu betis kiri dengan persentase 49%. Frekuensi yang cukup besar pada bagian tubuh lainnya yaitu bahu kiri sebesar 47 %, bahu kanan sebesar 46 %, betis kanan sebesar 43 % dan pinggang sebesar 41 %.

leher bahu kanan bahu kiri lengan atas kanan lengan atas kiri punggung pinggang bokong pantat siku kanan siku kiri lengan bawah kanan lengan bawah kiri pergelangan tangan pergelangan tangan kiri jari-jari kanan jari-jari kiri paha kanan paha kiri lutut kanan lutut kiri betis kanan betis kiri pergelangan kaki kanan pergelangan kaki kiri jari-jari kaki kanan jari-jari kaki kiri
Bagian tubuh

113

5.3.2 Risiko Faktor Pekerjaan pada Pekerja Assembling Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Risiko Faktor Pekerjaan pada Pekerja Assembling PT. X Bogor tahun 2010 Risiko Jumlah (n) Persentasi (%) Sangat Tinggi 24 34,3 Tinggi 33 47,1 Sedang 11 15,7 Rendah 2 2,9 Jumlah 70 100

Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa responden yang memiliki tingkat risiko sangat tinggi sebanyak 24 orang (34,3%), tinggi sebanyak 33 orang (47,1%), sedang sebanyak 11 orang (15,7%) dan rendah sebanyak 2 orang (2,9%). 5.3.3 Risiko Faktor Pekerja pada Pekerja Assembling a. Usia dan Kebiasaan Merokok Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Usia dan Kebiasaan Merokok pada Pekerja Assembling PT. X Bogor tahun 2010
No 1 Usia Variabel Kategori 35 tahun < 35 tahun 2 Kebiasaan merokok Merokok Tidak merokok Jumlah (86) 41 29 36 34 Persentase (%) 58,6 41,4 51,4 48,6

Berdasarkan tabel 5.3 diketahui sebagian besar responden berusia 35 tahun


yaitu sebanyak 41 orang (58,6%) dan responden yang berusia < 35 tahun sebanyak 29 orang (41,4%). Untuk kebiasaan merokok 36 orang (51,4 %) merokok, dan 34 orang (48,6%) tidak merokok.

114

b. Masa Kerja Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja pada Pekerja Assembling PT. X Bogor tahun 2010 Rata-Rata Variabel SD Min-Max Masa Kerja Masa kerja 147,39 124,670 4 384 (dalam bulan)
Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa rata-rata masa kerja pekerja adalah 147,39 bulan dengan standar deviasi 124,670 bulan serta masa kerja terendah 4 bulan dan masa kerja tertinggi 384 bulan. 5.4 Analisis Bivariat

5.4.1 Hubungan Faktor Pekerjaan dengan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling Tabel 5.5 Distribusi Faktor Pekerjaan dengan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling PT. X Bogor tahun 2010
Keluhan MSDs Variabel Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Mengeluh n 22 31 10 2 Faktor pekerjaan % 91,7 93,9 90,9 100 Tidak mengeluh n % 2 2 1 0 8,3 6,1 9,1 0 Total (70) n 24 33 11 2 % 100 100 100 100 0,927 P value OR 95% CI

Berdasarkan tabel 5.5, dapat diketahui bahwa responden yang memiliki risiko pekerjaan sangat tinggi dan mengalami keluhan MSDs sebanyak 22 orang (91,7%), responden yang memiliki risiko pekerjaan tinggi dan mengalami keluhan MSDs sebanyak 31 orang (93,9%), responden yang mengalami resiko pekerjaan sedang dan mengalami keluhan MSDs sebanyak 10 orang (90,9 %), dan responden yang mengalami

115

resiko pekerjaan rendah dan mengalami keluhan MSDs sebanyak 2 orang (100 %) Berdasarkan hasil uji statistic Chi Square didapatkan Pvalue sebesar 0,927 artinya pada = 5% dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara keluhan MSDs dengan responden yang memiliki risiko pekerjaan tinggi dan rendah. 5.4.2 Hubungan Faktor Pekerja dengan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling a. Usia dan Kebiasaan Merokok Tabel 5.6 Distribusi Responden Menurut Usia dan Kebiasaan Merokok Dengan Keluhan MSDs Pada Pekerja Assembling PT. X Bogor tahun 2010
Keluhan MSDs Variabel Kategori Mengeluh N 35 tahun Usia Pekerja < 35 tahun 25 32 33 86,2 88,9 97,1 4 4 1 13,8 11,1 2,9 29 36 34 100 100 0,358 100 (0,026-2,288) 40 % 97,6 Tidak Mengeluh n 1 % 2,4 Total (70) n 41 % 100 0,152 (0,676-60,573) 6,400 Pvalue OR 95% CI

Merokok Kebiasaan Merokok Tidak merokok

0,242

a. Hubungan antara usia dengan keluhan MSDs Berdasarkan tabel 5.6, dapat diketahui bahwa responden yang berusia 35 tahun sebagian besar mengalami keluhan MSDs yaitu sebanyak 40 orang (97,6%). Sedangkan responden yang berusia < 35 tahun sebagian besar juga mengalami keluhan MSDs yaitu sebanyak 25 orang (86,2%).

116

Berdasarkan hasil statistik Chi Square diketahui usia responden tidak memiliki hubungan yang bermakna (Pvalue > 0,05) dengan keluhan MSDs, dengan Pvalue = 0,152. b. Hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs Berdasarkan tabel 5.6, dapat diketahui bahwa responden yang merokok sebagian besar mengalami keluhan MSDs yaitu sebanyak 32 orang (88,9%). Sedangkan responden yang tidak merokok sebagian besar mengalami keluhan MSDs sebanyak 33 orang (97,1%). Berdasarkan hasil statistik Chi Square diketahui kebiasaan merokok tidak memiliki hubungan yang bermakna (Pvalue > 0,05) dengan keluhan MSDs, dengan Pvalue = 0,358. b. Masa Kerja Analsis bivariat keluhan MSDs berdasarkan masa kerja pada pekerja assembling dengan menggunakan uji Mann-Whitney diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 5.7 Analisis Hubungan antara Masa Kerja dengan Keluhan MSDs pada Pekerja Assembling PT. X Bogor Tahun 2010 Keluhan MSDs Mengeluh Tidak mengeluh N 65 5 p-value 0,160

Berdasarkan tabel 5.7 diketahui bahwa pekerja yang mengeluh MSDs sebanyak 65 orang dan pekerja yang tidak mengeluh MSDs sebanyak 5 orang. Berdasarkan hasil uji didapatkan p-value sebesar 0,160 yang berarti tidak ada hubungan yang signifkan antara keluhan MSDs dengan masa kerja pada pekerja assembling.

117

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data primer yang didapatkan dengan observasi langsung pada pekerja atau operator untuk faktor pekerjaan (REBA dan RULA) serta menggunakan kuesioner untuk survei pekerja. Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu: 1. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional yang tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat, hanya menjelaskan hubungan keterkaitan serta hanya menggambarkan variabel yang diteliti, independen maupun dependen pada waktu yang sama. 2. Observasi langsung pada faktor pekerjaan sulit dilakukan, terutama pada pengambilan video atau gambar tidak dari segala arah hanya pada arah yang memungkinkan saja karena situasi dan prosedur di tempat kerja. 3. Hasil penelitian untuk variabel keluhan MSDs bersifat subjektif karena sangat dipengaruhi kejujuran responden. 4. Pengumpulan data untuk variabel keluhan MSDs tidak dilakukan dalam waktu yang sama, sebagian pekerja diambil datanya pada pagi hari dan sebagian lainnya pada siang atau sore hari. Sehingga kemungkinan akan mempengaruhi informasi yang didapatkan khususnya untuk variabel keluhan MSDs. Pengumpulan data seharusnya dilakukan setelah 4 jam kerja atau sebelum pekerja beristirahat.

118

5. Adanya recall bias yaitu bias dalam mengingat kembali kapan merokok dan berhenti merokok pada variabel kebiasaan merokok sehingga dapat

mempengaruhi jawaban responden. 6. Variabel lingkungan kerja seperti mikrolimat dan suhu tidak diteliti karena dianggap homogen untuk seluruh pekerja sedangkan untuk ilumunasi atau pencahayaan tidak diteliti karena proses pekerjaan dibagian yang diteliti tidak tetap pada satu tempat sehingga sulit menentukan posisi pekerja yang tetap dan pencahayaannya akan sulit diukur dan untuk getaran tidak diteliti karena keterbatasan alat dan biaya. 7. Variabel psikososial tidak dimasukkan dalam penelitian ini karena variabel ini dipengaruhi faktor internal dan external pekerja dan tidak adanya definisi universal dan objektif dalam mengukur variabel ini sehingga membuatnya sulit untuk melakukan studi untuk menyelidiki penyebab akibat pada konteks MSDs.

6.2 Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Keluhan musculoskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (musculoskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja (Fitrihana, 2008). Sedangkan menurut Tarwaka et al (2004) keluhan musculoskeletal adalah keluhan pada bagianbagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Akobundu et al (2008) mengatakan bahwa rasa sakit pertama adalah sinyal bahwa otot tendon mulai merasakan sakit dan harus beristirahat serta memulihkan.

119

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap para pekerja assembling didapatkan hasil bahwa sebagian besar (92,9%) pekerja mengalami keluhan MSDs. Sedangkan pekerja yang tidak mengalami keluhan MSDs sebesar (7,1%) pada

pekerjaan yang memiliki risiko sedang dan beberapa diantaranya tinggi, namun pekerja yang tidak mengeluh ini sebagian besar berusia < 35 tahun dengan masa kerja sekitar 12 tahun dan diantaranya ada yang tidak merokok. Gangguan yang paling banyak dikeluhkan pekerja yaitu pada bagian betis kiri dengan persentase 49%, bahu kiri

sebesar 47 %, bahu kanan sebesar 46 %, betis kanan sebesar 43 % dan pinggang sebesar 41 %. Keluhan MSD pada bagian tersebut adalah bagian tubuh yang sering timbul pada pekerja industri seperti perakitan yang pekerjaannya lebih banyak dilakukan dengan posisi berdiri dan mempunyai siklus pengulangan pendek dan cepat sehingga menyebabkan timbulnya MSDs. Menurut Sastrowinoto (1985), bekerja dengan posisi berdiri terus menerus sangat mungkin akan terjadi penumpukan darah dan berbagai cairan tubuh pada kaki yang dapat menyebabkan MSD pada bagian kaki. Selain bekerja dengan posisi berdiri, ada beberapa pekerjaan yang dilakukan dengan posisi duduk dan biasanya dilakukan didalam cabin. Pekerja yang melakukan pekerjaan dengan posisi duduk biasanya bagian tubuh yang dikeluhkan pada bagian pinggang, punggung dan leher. Posisi duduk pada otot rangka (musculoskeletal) dan tulang belakang (vertebral) terutama pada pinggang (sacrum, lumbar, dan thoracic) harus dapat ditahan oleh sandaran kursi agar terhindar dari nyeri (back pain) dan terhindar cepat lelah (fatique). Selain itu, ketika duduk kaki harus berada pada alas kaki dan dalam sikap duduk bergerak dengan relaksasi. Namun berdasarkan observasi kegiatan pekerja dengan posisi duduk terutama dalam cabin tidak

120

terdapat sandaran atau sesuatu yang dapat menahan punggung atau pinggang pekerja serta sikap duduk yang tidak bergerak untuk relaksasi karena ruang gerak didalam cabin sangat terbatas dan posisi kaki yang tertekuk. Risiko MSDs pekerja juga dipengaruhi oleh peralatan kerja yang digunakan. Seperti pekerjaan manual handling pada pengangkatan komponen yang akan dirakit yang umumnya memiliki berat lebih dari lima kilogram namun dilakukan tanpa alat bantu. Pada pekerjaan seperti ini, cidera yang paling banyak terjadi adalah cidera yang bersifat akumulatif dan tidak langsung disebabkan karena satu insiden tunggal. Selain itu terdapat ketidaknyamanan saat bekerja yaitu ketika bekerja dengan posisi dan dimensi tubuh yang kurang sesuai dengan tempat dan alat kerjanya, misalnya pekerjaan yang jangkauannya tinggi seharusnya dilakukan oleh pekerja yang memiliki postur tubuh yang tinggi sehingga pekerja yang memiliki postur tubuh lebih rendah tidak kesulitan. Untuk mengatasi keluhan MSDs akibat hal tersebut diperlukan upaya pencegahan dan minimalisasi timbulnya MSDs pada pekerja dengan cara memberikan alat bantu yang sesuai dengan pekerjaannya terutama untuk pekerjaan manual handling yang membutuhkan tenaga besar untuk mengangkat beban komponen yang akan dirakit, rotasi pekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh, umur dan risiko ergonomi pekerjaan, bekerja dalam posisi atau postur normal dan waktu istirahat atau peregangan untuk pemulihan dalam kerja atau sesudah kerja, hal ini sangat penting karena untuk pekerjaan yang terus menerus seperti perakitan sekalipun bersifat dinamik namun selalu diikuti dengan kelelahan yang kemudian dapat menjadi MSDs. Level MSD dari yang paling ringan hingga yang berat akan menggangu konsentrasi dalam bekerja,

121

menimbulkan kelelahan dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas dan efisiensi kerja. Gejala MSDs biasanya sering disertai dengan keluhan subjektif sehingga sulit untuk menentukan derajat keparahan tersebut. Untuk itu bagi peneliti selanjutnya perlu diperhatikan dalam pengambilan data terkait keluhan MSDs, terutama pada waktu pengambilannya, karena dimungkinkan perbedaan waktu pengambilan data pada pagi, siang dan sore hari mempengaruhi jawaban pekerja. Selain itu jawaban pekerja juga dapat dipengaruhi oleh pekerja yang lain, sehingga pastikan jawaban dan informasi yang didapat bersumber langsung dari pekerja yang bersangkutan serta dapat lebih objektif dalam melakukan penelitian terkait keluhan MSDs.

6.3 Hubungan Antara Faktor Pekerjaan Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada penelitian ini cara melihat faktor pekerjaan dengan melakukan pengukuran risiko ergonomi pada pekerjaan dengan menggunakan dua metode yaitu REBA untuk pekerjaan yang dilakukan dengan posisi kerja berdiri dan RULA untuk pekerjaan yang dilakukan dengan posisi kerja duduk. Berdasarkan observasi, para pekerja melakukan beberapa pekerjaan di setiap stasiun. Maka dilakukan pengukuran risiko ergonomi pekerjaan pada setiap pekerjaan. Sehingga dalam setiap pekerjaan pada masing-masing stasiun memiliki nilai risiko atau action level yang berbeda. Nilai risiko atau action level yang diambil dalam penelitian ini adalah nilai risiko atau action level tertinggi yang dilakukan pekerja pada setiap pekerjaan.

122

Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa keluhan MSDs banyak dialami oleh pekerja dengan risiko pekerjaan tinggi dan sangat tinggi. Berdasarkan hasil analisis sebagian besar operator mengalami gangguan MSDs atau mengeluh MSDs dan memiliki risiko perkerjaan tinggi sebesar 93,9% dan operator mengalami gangguan MSDs atau mengeluh MSDs dan memiliki risiko perkerjaan sangat tinggi sebesar 91,7 %. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang kurang signifikan antara faktor pekerjaan dengan keluhan MSDs. Walaupun tidak ada hubungan yang signifikan tetapi jika dilihat dari REBA dan RULA banyak pekerjaan yang memiliki risiko tinggi. Oleh karena itu diperlukan investigasi ulang untuk meninjaui kembali faktor pekerjaan dan dilakukan pengendalian secepatnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soleha (2009) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara risiko ergonomi pekerjaan dengan keluhan MSDs. Berdasarkan observasi pekerja yang memiliki pekerjaan risiko rendah, juga melakukan pekerjaan dengan risiko tinggi ketika sedang ada rolling atau pertukaran pekerja antar stasiun pada waktu tertentu misalnya ketika ada produk baru yang mengharuskan salah satu pekerja mengikuti training dan pekerjaannya digantikan dengan pekerja lainnya. Hal ini dimungkinkan karena risiko MSDs bersifat akumulatif yang berarti meskipun saat penelitian pekerja melakukan pekerjaan yang berisiko rendah namun jika sebelumnya pekerja pernah melakukan pekerjaan dengan risiko tinggi maka dimungkinkan pekerja tersebut mengalami keluhan MSDs. Selain itu postur tubuh pekerja saat bekerja banyak diantaranya merupakan postur janggal misalnya duduk tanpa sandaran punggung atau pinggang, duduk tanpa tumpuan kaki yang baik ketika sedang bekerja dalam cabin, tangan bagian atas terangkat

123

tanpa dukungan dari alas vertikal seperti bekerja dalam dan dibawah cabin, kepala mendongak, posisi punggung membungkuk dan ke depan, mengangkat dan membawa beban berat dengan cara memanggul tanpa alat bantu. Menurut ILO (1998) semua posisi tersebut merupakan posisi janggal yang dapat menyebabkan MSDs. Namun tidak semua posisi tersebut dapat diambil gambarnya dengan baik, karena situasi dan prosedur di tempat kerja yang tidak memungkinkan sehingga hasil gambar yang didapatkan kurang maksimal. Untuk itu bagi peneliti selanjutnya agar lebih memastikan pengambilan gambar atau video terkait postur tubuh pekerja di tempat penelitian dapat dilakukan dari segala arah. Walaupun tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor pekerjaan dengan keluhan MSDs, namun dari hasil obervasi dan perhitungan REBA dan RULA banyak pekerjaan yang memiliki risiko sangat tinggi dan tinggi. Oleh karena itu untuk mencegah risiko MSDs yang lebih berat pada pekerja, maka diperlukan investigasi ulang untuk meninjau kembali faktor pekerjaan dan dilakukan pengendalian secepatnya. Menurut Macleod (1999) ada beberapa prinsip ergonomi yang dapat diterapkan untuk mencegah dan menanggulangi risiko ergonomi termasuk pada proses pekerjaan perakitan yang terbagi menjadi beberapa pengendalian yaitu secara engineering control dan administrative. Engineering control dengan penggunaan alat bantu penanganan

material, terutama pada pekerjaan manual handling yang membutuhkan pengerahan tenaga besar sehingga massa beban yang diangkat dapat berkurang. Sedangkan secara administrative dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan atau training pada pekerja mengenai risiko ergonomi dan tata cara bekerja yang sesuai dengan prinsip ergonomi serta pihak perusahaan dapat membuat SOP yang dapat

124

digunakan oleh pekerja untuk menciptakan sistem kerja yang aman, nyaman dan tetap sehat bagi pekerja saat bekerja, misalnya pengaturan penempatan pekerja sesuai dengan dimensi tubuhnya. Disamping itu pemberdayaan SMK3 yang ada di perusahaan perlu ditingkatkan lagi untuk pengawasan dan koordinasi program P2K3 yang terkait dengan ergonomi di perusahaan. Semua hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan karyawan untuk memberikan ide dan pendapat agar sistem kerja menjadi lebih baik.

6.4 Hubungan Antara Faktor Pekerja (Usia, Kebiasaan Merokok, Masa Kerja) Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) 6.4.1 Hubungan usia dengan keluhan MSDs Prevalensi MSDs seseorang meningkat saat mereka mulai masuk bekerja. Peningkatan usia berhubungan dengan penurunan kapasitas fisik. Bertambahnya umur akan diikuti dengan penurunan VO2 max sehingga akan menurunkan kapasitas kerja. Hal ini disebabkan perubahan biologis secara alamiah pada usia paruh baya kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun karena proses penuaan. Dalam penelitian ini usia dikategorikan menjadi dua kategori yaitu 35 tahun dan < 35 tahun karena umumnya keluhan sakit punggung atau MSDs mulai dirasakan oleh pekerja pada usia kerja dan episode pertama untuk kembali sakit biasanya dirasakan pada usia 35 tahun (Guo et al, 1995 & Chaffin, 1979 dalam NIOSH 1997). Berdasarkan tabel 5.6 diketahui bahwa keluhan MSDs banyak dialami oleh pekerjayang berusia 35 tahun. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dengan keluhan MSDs. Hal ini sejalan dengan penelitian Ikrimah (2009) yang menyatakan bahwa usia tidak berhubungan dengan keluhan MSDs

125

pada pekerja. Penelitian Rahma (2004) juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dengan gejala awal CTD. Menurut NIOSH (1997), kelompok usia dengan tingkat nyeri punggung tertinggi compensable dan strain adalah kelompok umur 20-24 untuk laki-laki, dan kelompok umur 30-34 untuk perempuan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Bettie et al (1989) telah melakukan studi tentang kekuatan statik otot untuk pria dan wanita dengan usia antara 20 sampai dengan di atas 60 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan otot maksimal terjadi pada saat umur antara 20-29 tahun, selanjutnya terus terjadi penururnan sejalan dengan bertambahnya umur. Pada saat umur mencapai 60 tahun, rata-rata kekuatan otot menurun sampai 20%. Pada saat kekuatan otot mulai menurun, maka resiko terjadinya keluhan otot akan meningkat. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya kelompok umur yang banyak mengalami keluhan MSDs adalah pekerja dengan usia 35 tahun. Namun pada kelompok umur < 35 tahun banyak diantara mereka yang juga mengalami keluhan MSDs dan melakukan pekerjaan dengan risiko ergonomi tinggi. Jadi meskipun pekerja yang berusia 35 tahun banyak mengalami keluhan MSDs, namun karena pekerja yang berusia < 35 tahun banyak juga yang melakukan pekerjaan dengan risiko ergonomi tinggi atau sangat tinggi sehingga menyebabkan pada penelitian ini usia tidak berhubungan secara signifikan dengan keluhan MSDs. Disamping itu faktor usia memiliki korelasi yang cukup signifikan dengan

bertambahnya jumlah tahun kerja (masa kerja) sehingga meskipun ada pekerja dengan usia muda namun sudah bekerja cukup lama dimungkinkan pekerja tersebut juga dapat mengalami keluhan MSDs. NIOSH 1997 juga mengungkapkan bahwa meskipun pekerja

126

yang lebih tua telah ditemukan memiliki kekuatan kurang dari pekerja muda, namun Mathiowetz et al (1985) menunjukkan bahwa kekuatan tangan tidak menurun dengan penuaan, hal ini dibuktikan dengan skor rata-rata genggaman tangan yang tetap relatif stabil dalam populasi dengan kisaran usia 29-59 tahun. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukan Torell et al (1988) dalam penelitiannya yang mendapatkan hasil bahwa umur tidak memiliki hubungan dengan keluhan MSDs. Mereka menemukan hubungan yang kuat antara beban kerja (dalam kategori rendah, sedang, atau berat) dan gejala atau diagnosis MSDs. Selain itu banyak peneliti tidak menemukan usia merupakan faktor signifikan yang berkaitan dengan MSDs karena terdapat pelaporan kembali mengenai prevalensi sakit atau kejadian MSDs (Bigos Riesbold & Greenland 1985; et al 1991), Daltroy et al. (1991) menunjukkan bahwa pekerja pos muda yang berisiko tinggi untuk mengalami kejadian MSDs (OR = 3,0).

6.4.2 Hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs Beberapa penelitian sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai hubungan yang telah dirumuskan dalam satu hipotesis bahwa meningkatnya keluhan MSDs berhubungan dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. Semakin tinggi frekuensi merokok dan lama seseorang merokok, maka semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan. Beberapa studi telah mengamati hubungan tersebut yakni Deyo dan Bass 1989; Frymoyer et al. 1980; Troup et al. 1987. Mekanismenya dimulai dari nikotin yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke jaringan dan kandungan rokok menyebabkan kandungan mineral tulang belakang berkurang dan menyebabkan

127

microfractures. Selain itu, keterkaitan antara kebiasaan merokok dan keluhan otot pinggang sebenarnya berkaitan dengan kesegaran jasmani seseorang karena kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan akibatnya tingkat kesegaran tubuh juga menurun. Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa pekerja yang merokok sebagian besar mengalami keluhan MSDs. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara merokok dengan keluhan MSDs. Hal ini dimungkinkan karena banyak juga pekerja yang tidak merokok tapi mengalami keluhan MSDs. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soleha (2009) dan Ikrimah (2009) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara merokok dengan keluhan MSDs. Meskipun banyak penelitian yang menyatakan bahwa merokok memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs, misalnya seperti yang dilakukan oleh Boshuizen et al (1993) yang menemukan hubungan antara kebiasaan merokok dan nyeri punggung hanya dalam pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik, kemudian disusul oleh (Finkelstein 1995; Owen dan Damron 1984; Frymoyer et al. 1983; Svensson dan Anderson 1983; Kelsey et al.1984) yang membuktikan bahwa kebiasaan merokok berpengaruh terhadap nyeri pinggang, linu panggul (intervertebral disc hernia). Akan tetapi ada juga beberapa penelitian yang menyatakan bahwa merokok tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan MSDs yaitu penelitian yang dilakukan oleh Heliovaara et al. 1991; Rihimaki et al. 1989 pada kalangan pekerja konstruksi beton dan pelukis rumahan. Hal serupa juga diungkapkan pada penelitian Toomingas et al. 1991 yang juga tidak menemukan hubungan antara beberapa hasil kesehatan (termasuk

128

ketegangan leher, CTS atau masalah di leher dan tulang belikat atau bahu/lengan atas) dengan kebiasaan merokok pada platers, perakit dan pekerja kantoran. Wieslander et al (1989) juga menemukan bahwa merokok atau menggunakan tembakau tidak terkait dengan CTS yang merupakan salah satu jenis MSDs. Brage et al (1996) pada penelitiannya di Norwegia menyatakan bahwa merokok memiliki hubungan signifikan dengan MSDs setelah disesuaikan dengan gender, usia, morbiditas, tekanan mental, gaya hidup dan faktor terkait pekerjaan. Berdasarkan obervasi banyak diantara pekerja yang tidak merokok ternyata mereka juga mengalami keluhan MSDs, hal ini dikarenakan pekerja yang tidak merokok banyak yang melakukan pekerjaan dengan risiko ergonomi tinggi dengan demikian kemungkinan pekerja tersebut mengalami keluhan MSDs akibat dari pekerjaan yang mereka lakukan. Di sisi lain ada juga pekerja yang merokok bahkan telah merokok lebih dari satu tahun namun mereka tidak mengalami keluhan MSDs, hal ini dimungkinkan karena beberapa diantaranya berusia < 35 tahun sehingga efek dari rokok tersebut belum signifikan mempengaruhi fisik mereka dan ada juga diantara mereka yang tidak melakukan pekerjaan dengan risiko ergonomi tinggi sehingga mereka tidak mengalami keluhan MSDs. Oleh karena itu, meski kebiasaan merokok berperan untuk menyebabkan nyeri tulang namun pengaruh dari merokok juga didukung faktor lain seperti usia, gender, tekanan mental dan faktor pekerjaan. Namun dalam pengambilan data pada variabel kebiasaan merokok, sering kali pekerja kesulitan untuk mengingat kapan pertama kali merokok dan berhenti merokok, berapa banyak batang rokok yang dihabiskan dalam satu hari. Untuk itu perlu diperhatikan bagi peneliti selanjutnya agar dapat meminimalisasi hal ini. Selain itu agar

129

dapat dibuat pengkategorian kebiasaan merokok berdasarkan frekuensi merokok dan berapa banyak batang rokok yang dihisap. Hal ini bertujuan untuk melihat hubungan merokok dengan keluhan MSDs lebih jauh lagi, sehingga dapat dilihat perbedaannya berdasarkan frekuensi merokok dan jumlah rokok yang dihisap.

6.4.3 Hubungan Masa kerja dengan keluhan MSDs Masa kerja adalah faktor yang berkaitan dengan lamanya seseorang bekerja disuatu perusahaan. Terkait dengan hal tersebut, MSDs merupakan penyakit kronis yang membutuhkan waktu lama untuk berkembang dan bermanifestasi. Jadi semakin lana waktu bekerja atau semakin lama seseorang terpajan faktor risiko MSDs ini maka semakin besar pula risiko untuk mengalami MSDs (Guo, 2004). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara masa kerja dengan keluhan MSDs. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Soleha (2009) dan Ikrimah (2009) dimana mereka menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan keluhan MSDs. Berdasarkan observasi pekerja yang memiliki masa kerja rendah juga mengalami keluhan MSDs, hal ini dikarenakan pekerja yang memiliki masa kerja rendah banyak yang melakukan pekerjaan dengan risiko ergonomi tinggi dan sangat tinggi. Selain itu banyak diantara mereka juga yang memiliki kebiasaan merokok sehingga meskipun masa kerjanya masih rendah namun mereka juga dapat mengalami keluhan MSDs.

130

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Gambaran keluhan MSDs pada pekerja assembling PT X Bogor tahun 2010, sebagian besar pekerja mengalami keluhan MSDs (92,9%) jika dibandingkan dengan pekerja yang tidak mengalami keluhan MSDs (7,1%). 2. Gambaran faktor pekerjaan pada pekerja assembling PT X Bogor tahun 2010, berdasarkan metode REBA dan RULA, sebagian besar pekerja mengalami risiko pekerjaan yang tinggi (47,1%) dan sangat tinggi (34,3%). 3. Gambaran faktor pekerja antara lain: a. Pekerja yang berusia 35 tahun lebih banyak daripada pekerja yang berusia < 35 tahun. b. Pekerja yang memiliki kebiasan merokok lebih banyak daripada pekerja yang tidak memiliki kebiasaan merokok. c. Pekerja memiliki rata-rata masa kerja 147 bulan dengan masa kerja terendah 4 bulan dan tertinggi 384 bulan. 4. Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor pekerjaaan, pekerja (usia, kebiasaan merokok dan masa kerja) dengan keluhan MSDs pada pekerja assembling PT X Bogor tahun 2010.

131

7.2 Saran 7.2.1 Bagi Perusahaan Untuk menanggulangi dan mencegah keluhan MSDs pada pekerja pihak perusahaan dapat melakukan upaya-upaya sebagai berikut: a. Engineering control 1. Memberikan alat bantu penanganan material yang sesuai dengan pekerjaannya, terutama pada pekerjaan manual handling yang membutuhkan pengerahan tenaga besar. b. Administrative control 1. Memperbaiki metode kerja agar posisi janggal pekerja pada pekerjaan yang berisiko tinggi dapat diminimalisasi. 2. Melakukan rotasi pekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh, umur dan risiko ergonomi pekerjaan 3. Memberikan pelatihan kerja atau training tentang risiko ergonomi di tempat kerja dan tata-tata cara bekerja yang sesuai dengan prinsip ergonomi. Training ini dapat dilakukan dengan metode TOT (Training of Trainer) misalnya pelatihan diberikan dahulu pada supervisor kemudian supervisor dapat memberikan pelatihan serupa kepada pekerja. 4. Membuat SOP terkait ergonomi untuk setiap jenis pekerjaan terutama pekerjaan yang memiliki risiko ergonomi tinggi. 5. Pemberdayaan SMK3 yang ada di perusahaan perlu ditingkatkan lagi untuk pengawasan dan koordinasi program P2K3 yang terkait dengan ergonomi di perusahaan.

132

7.2.2

Bagi Peneliti Selanjutnya a. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti variabel-variabel lain yang kemungkinan memiliki hubungan signifikan dengan keluhan MSDs yang tidak diteliti pada penelitian ini, seperti variabel pekerja (jenis kelamin, kesegaran jasmani, kekuatan fisik dan indeks massa tubuh), lingkungan (mikrolimat, iluminasi, getaran) dan psikososial (kepuasaan kerja, stress dan organisai kerja). b. Disarankan untuk lebih melihat aktifitas yang dilakukan pekerja selama bekerja dari segala arah, sehingga pengambilan gambar atau video guna pengukuran faktor pekerjaan dapat lebih maksimal. c. Pengambilan data pada keluhan MSDs diharapkan dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan pada seluruh sampel penelitian. d. Pengkategorian variabel kebiasaan merokok berdasarkan frekuensi dan jumlah batang rokok yang dihisap. e. Metode lain yang dapat digunakan untuk menilai risiko ergonomi dengan sumber data yang lebih lengkap dan akurat yaitu dengan metode Ergonomic Assesment Survey Method (EASY), karena pada metode ini sumber data berasal dari tiga survei yaitu BRIEF survey (4 skor), employee survey (1 skor) dan medical survey (2 skor) yang masing-masing memberikan informasi berbeda terkait pekerja, pekerjaan dan keluhan yang dialami secara akurat.

133

f. Untuk peneliti selanjutnya, sebaiknya dapat lebih objektif meneliti tentang MSDs yaitu secara diagnosis. g. Untuk design studi, dapat digunakan case control yaitu meneliti perbedaan eksposur pada sampel pekerja yang terkena MSDs sebagai kasus dan pekerja yang tidak terkena MSDs sebagai kontrol.

134

DAFTAR PUSTAKA

Akobundu, Uzoamaka et al. 2008. Hubungan Gangguan Bekerja dengan Musculoskeletal Penyebab dan Pencegahan. Konsultasi fisioterapi,Hopeville Fisioterapi Klinik, 40 Julius Nyerere Crescent, Asokoro, Abuja Albugis, Dina Yasmin. 2009.Tingkat Risiko (risk level) Muculoskletal Disorders (MSDs) workshop steel tower berdasarkan metode Rapid Entire Body Assesment (REBA) di PT BUKAKA Tehnik Utama tahun 2009. Skripsi; Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Aprilia, Melissa. 2009. Tingkat Risiko Ergonomi Terkait Keluhan Musculoskletal Disorders pada Pekerja Konstruksi PT Waskita Karya tahun 2009. Skrpsi; Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Bridger, R.S. 1995. Introduction to Ergonomics. Singapore: mcGraww Hill, Inc. Budiono, Sugeng A.M (dkk). 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Edisi ke 2. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Cohen, Alexander L. et al. 1997. Elements of Ergonomics Programs. A Primer Based on Workplace Evaluation of Musculoskeletal Disorders. Amerika: U.S Department of Health and Human Services. NIOSH. Darwati, Naniek. Murti, Bhisma. Hubungan Antara Keanggotaan Asuransi Kesehatan dan Kebiasaan Merokok tahun 2006. Ecamuti.2010. Perancangan sistem kerja dan ergonomi. Lebih dekat dengan beban mental. Dalam Situs Web http://megabagus.com/perancangan-sistem-kerja-danergonomi/lebih-dekat-dengan-beban-mental/#more-394 available at 7 Juni, pukul 08:10 WIB. Fitrihana, Noor. 2008.Upaya mengurangi risiko Musculoskeletal. Dalam situs Web http://batikyogya.wordpress.com/2008/08/30/ available at 7 Juni, pukul 9:09 WIB. Grandjean, E.1993.Fitting the task to the man. A Textbook of Occupational Ergonomics. 4th Ed. London. Taylor & Francis.

135

Humantech Inc. 1995. Applied Ergonomic Training Manual. Berkeley Vale Australia: Protector and Gamble Inc. Ikrimah, Nur. 2010. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Musculoskletal Disorders (MSDs) pada Pekerja Konveksi Sektor Usaha Informal di Wilayah Ketapang Cipondoh Tangerang Tahun 2009. Skripsi; Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarief Hidayatullah. Lim, Soo Yee et al. 1994. Gangguan Otot. Dalam situs http://www.ilo.org/safework_bookshelf/english?content&nd=857170462 available at 7 Juni, pukul 11:05 WIB. Web

Melyssa. 2007.Gambaran Tingkat Risiko Musculoskletal Disorders pada Pekerja Section Assembling I Line di PT Indomobil Suzuki International (PT ISI) Tambun II. Skripsi; Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. M.N, Bustan. 1997. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Rineka Cipta. Jakarta. NIOSH.1997. Musculoskeletal Disorders and Workplace Factors:A Critical Review of Epidemiologic Evidence for Work Related Musculoskeletal Disorders. Nurmianto, Eko. 2004. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi ke 2. Guna Widya. Surabaya. Nursatya. Mugi. 2008. Gambaran faktor risiko MSDs pada pekerja catering PT. Pusaka Nusantara cabang Jakarta tahun 2008. Skripsi; Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Pheasant, Stephen. 1991. Ergonomics, Work, and Health. Aspen Publisher Inc, USA. Raharjo, Suwandi.2008. Risiko Ergonomi dan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Pekerja Panen Kelapa Sawit di PT X Sumatera Selatan 2008. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Santoso, Gempur. 2004. Ergonomi, Manusia, Peralatan dan Lingkungan. Jakarta: CV Haji Masagung. Sastrowinoto, Suyatno. 1985. Meningkatkan Produktivitas dengan Ergonomi. Jakarta. PT Pustaka Binaman Pressindo.

136

Soleha, Siti. 2009. Hubungan Faktor Risiko Ergonomi Dengan Keluhan Musculoskeletal disorders (MSDs) Pada Operator Can Plant PT. X, Plant Ciracas Jakarta Timur Tahun 2009. Skripsi; Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarief Hidayatullah. Sue Hignett and Lynn McAtamney.2000. Technical: REBA. Applied Ergonomics. Cornell University of Ergonomics. http://www.REBA/cutools.htm Sumamur, P.K. 1989. Ergonomi Untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: Prestasi Pustaka. Sumamur, P.K. 1980. Hygiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung. Jakarta. Sumiati. 2007. Analisa Risiko Low Back Pain (LBP) pada Perawat Unit Darurat dan Ruang Operasi di RS. Prikasih Jakarta Selatan. Skripsi; Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Stanton, Neville et al. 2005. Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods. London: CRC Press. Tarwaka, et al. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Produktivitas. Surakarta: UNIBA Press. Taylor & Francis. Jurnal Ergonomi Vol. 50, No 2, Februari 2007, 261-274. Dalam situs Web http://www.tandf.co.uk/journals available at 27 Juli 2010, pukul 11:56 WIB ., 2008. Cedeta Otot Rangka. Dalam situs Web http://www.ergointitute.com available at 4 Mei 2010, pukul 15:22 WIB. http://osha.europa.eu/en/topics/msds available at 7 Juni, pukul 09:02 WIB.

137

LAMPIRAN

138

No Kuisioner :

KUISIONER

Assalamualaikum, Wr. Wb,, Dengan hormat, perkenalkan saya Emi Maijunidah, mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syahid Jakarta, prodi Kesehatan Masyarakat peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Saat ini saya sedang melakukan penelitian untuk penyusunan tugas akhir (skripsi) mengenai Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keluhan Musculoskeletal Disorders pada pekerja Assembling Passenger Cars (APC) PT Mercedes Benz Indonesia Wanaherang Bogor Tahun 2010 sebagai syarat untuk penyelesaian studi program sarjana. Berkenaan dengan hal tersebut, saya memohon kesediaan Bapak/Saudara untuk mengisi formulir kuisioner ini dengan sebaik-baiknya. Jawaban Bapak/Saudara sangat bermanfaat dalam penelitian ini dan sekaligus dapat juga digunakan sebagai masukan terhadap pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja perusahaan ini, khususnya berguna untuk para pekerja dibagian ini. Jawaban dan data Bapak/Saudara akan terjamin kerahasiaannya dan tidak akan mempengaruhi penilaian kinerja Bapak/Saudara. Silakan Bapak/Saudara mengisi kuisioner ini dengan mengisi jawaban atau memberikan tanda () pada tiap jawaban yang Bapak/Saudara pilih. Diharapkan Bapak/Saudara mengisi kuisioner ini dengan lengkap dan jujur dan tidak perlu menanyakan atau berdiskusi kepada rekan Bapak/Saudara terhadap jawaban yang dipilih. Terima Kasih

139 No 1. 2. 3. 1. 2. 3. Karakteristik I. Karakteristik Pekerja Nama Responden Tanggal Lahir Stasiun II. Masa Kerja Sudah berapa lama Anda bekerja di perusahaan ini Sudah berapa lama Anda bekerja di APC Apakah sebelumnya Anda pernah bekerja di bagian atau departemen lain di perusahaan ini 4. Apakah sebelumnya Anda pernah bekerja sebagai perakit di Jika Ya, berapa lama Ya Ya Jika Tidak, lanjut ke no 5 Tidak Tidak perusahaan lain III. Kebiasaan Merokok 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apakah Anda pernah Merokok Jika Ya, apakah sekarang Anda masih merokok Jika Ya, berapa banyak rokok yang Anda habiskan setiap hari (batang) Sudah berapa lama Anda merokok Jika Tidak, sudah berapa lama Anda berhenti merokok Saat Anda masih merokok, berapa banyak rokok yang Anda habiskan setiap hari IV. Keluhan MSDs 1. Apakah pernah selama Anda bekerja Ya Tidak merasakan pegal-pegal, Jika Tidak, SELESAI Jika Ya, berapa lama Ya Tidak Ya Tidak Jawaban

nyeri, kesemutan, mati rasa, kaku, kramp, gatal dan sakit pada bagian tubuh

140

Mohon jawab dengan memberikan tanda () dan mohon jawab setiap pertanyaan yang Bapak/Saudara pernah alami/rasakan pada bagian tubuh Bapak.

L (Kiri), R (Kanan).

NO JENIS KELUHAN

Selama bekerja berapa kali Anda merasakan sakit atau nyeri pada bagian tubuh Setiap Hari 1-3 kali 1-3 kali 1-3 kali /minggu /bulan /tahun

1 Sakit/kaku di leher 2 & 3 Sakit di bahu 4 & 6 sakit pada lengan atas 5 sakit punggung 7 Sakit pada pinggang 8 Sakit pada bokong 9 Sakit pada pantat 10 & 11 Sakit pada siku 12 & 13 sakit pada lengan bawah 14 & 15 sakit pada pergelangan tangan 16 & 17 sakit pada jari-jari 18 &19 sakit pada paha 20 & 21 sakit pada lutut 22 & 23 sakit pada betis 24 & 25 sakit pada pergelangan kaki 26 & 27 sakit pada jari kaki

141

142

A. Univariat 1. Pekerjaan
Statistics act level N Mean Median Std. Deviation Minimum Maximum Valid Missing

70 0 ,87 1,00 ,779 0 3


act level Frequency 24 33 11 2 70 Percent 34,3 47,1 15,7 2,9 100,0 Valid Percent 34,3 47,1 15,7 2,9 100,0 Cumulative Percent 34,3 81,4 97,1 100,0

Valid

sangat tinggi tinggi sedang rendah Total

2. Umur
Statistics umur responden N Valid Missing Mean Median Std. Deviation Minimum Maximum

70 0 ,41 ,00 ,496 0 1


umur responden

Valid

>= 35 < 35 Total

Frequency 41 29 70

Percent 58,6 41,4 100,0

Valid Percent 58,6 41,4 100,0

Cumulative Percent 58,6 100,0

143

3. Kebiasaan merokok
N Valid Missing Mean Median Std. Deviation Minimum Maximum 70 0 ,49 ,00 ,503 0 1

Valid

merokok tidak merokok Total

rokok2ktgri Percent Frequency 36 51,4 34 48,6 70 100,0

Valid Percent 51,4 48,6 100,0

Cumulative Percent 51,4 100,0

4. Masa kerja Uji normalitas


Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 ,0%

masa kerja dlm bln

Valid N Percent 70 100,0%

Total Percent 70 100,0%

Descriptives masa kerja dlm bln Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Statistic 147,39 117,66 177,11 142,47 174,00 15542,501 124,670 4 384 380 195 ,329 -1,090 Std. Error 14,901

Lower Bound Upper Bound

,287 ,566

Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. ,200 70 ,000


a

masa kerja dlm bln

Shapiro-Wilk Statistic df ,876 70

Sig. ,000

a. Lilliefors Significance Correction

144

5. Keluhan MSDs
N Mean Median Std. Deviation Minimum Maximum Valid Missing 70 0 ,07 ,00 ,259 0 1

Valid

mengeluh tidak mengeluh Total

Frequency 65 5 70

Percent 92,9 7,1 100,0

Valid Percent 92,9 7,1 100,0

Cumulative Percent 92,9 100,0

B. Bivariat 1. Pekerjaan

keluhan MSDs
Case Processing Summary Cases Valid N Missing Percent 100,0% N 0 Percent ,0% N 70 Total Percent 100,0%

act level * msds 2ktgri

70

act level * msds 2ktgri Crosstabulation

act level

sangat tinggi tinggi sedang rendah

Count % within act level Count % within act level Count % within act level Count % within act level Count % within act level

msds 2ktgri tidak mengeluh mengeluh 22 2 91,7% 31 93,9% 10 90,9% 2 100,0% 65 92,9% 8,3% 2 6,1% 1 9,1% 0 ,0% 5 7,1%

Total mengeluh 24 100,0% 33 100,0% 11 100,0% 2 100,0% 70 100,0%

Total

145

Chi-Square Tests

Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases ,326(a) ,465 ,045 70

df 3 3 1

Asymp. Sig. (2-sided) ,955 ,927 ,831

a 5 cells (62,5%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,14.

2. Umur

keluhan MSDs
Cases Valid N Percent 70 100,0% N 0 Missing Percent ,0% N 70 Total Percent 100,0%

umur responden * msds 2ktgri

umur responden * msds 2ktgri Crosstabulation

msds 2ktgri tidak mengeluh mengeluh umur responden >= 35 < 35 Total Count % within umur responden Count % within umur responden Count % within umur responden Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2-sided) 1 1 1 ,069 ,178 ,067 ,152 3,254 70 1 ,071 Exact Sig. (2-sided) 40 97,6% 25 86,2% 65 92,9% 1 2,4% 4 13,8% 5 7,1%

Total mengeluh 41 100,0% 29 100,0% 70 100,0%

Value Pearson Chi-Square Continuity Correction(a) Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 3,301(b) 1,811 3,353

df

Exact Sig. (1-sided)

,090

146

a Computed only for a 2x2 table b 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,07. Risk Estimate

Value Lower Odds Ratio for umur responden (>= 35 / < 35) For cohort msds 2ktgri = mengeluh For cohort msds 2ktgri = tidak mengeluh N of Valid Cases 6,400 1,132 ,177 70

95% Confidence Interval Upper ,676 ,971 ,021 Lower 60,573 1,319 1,502

3. Kebiasaan merokok

keluhan MSDs
Cases Valid Missing Percent 100,0% N 0 Percent ,0% N 70 Total Percent 100,0%

N rokok2ktgri * msds 2ktgri 70

rokok2ktgri * msds 2ktgri Crosstabulation

msds 2ktgri tidak mengeluh mengeluh rokok2ktgri merokok tidak merokok Total Count % within rokok2ktgri Count % within rokok2ktgri Count % within rokok2ktgri Chi-Square Tests 32 88,9% 33 97,1% 65 92,9% 4 11,1% 1 2,9% 5 7,1%

Total mengeluh 36 100,0% 34 100,0% 70 100,0%

Pearson Chi-Square 1 Continuity ,743 1 ,389 Correction(a) Likelihood Ratio 1,886 1 ,170 Fisher's Exact Test ,358 ,197 Linear-by-Linear 1,735 1 ,188 Association N of Valid Cases 70 a Computed only for a 2x2 table b 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,43.

Value 1,760(b)

df

Asymp. Sig. (2-sided) ,185

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

147

Risk Estimate 95% Confidence Interval Upper ,026 ,805 ,444 Lower 2,288 1,042 32,128

Value Lower Odds Ratio for rokok2ktgri (merokok / tidak merokok) For cohort msds 2ktgri = mengeluh For cohort msds 2ktgri = tidak mengeluh N of Valid Cases ,242 ,916 3,778 70

Masa kerja mann-whitney


N masa kerja dlm bln msds 2ktgri 70 70 Mean 147,39 ,07 Ranks msds 2ktgri mengeluh tidak mengeluh Total Risk Estimate Test Statistics(b) masa kerja dlm bln 101,000 116,000 -1,406 ,160 ,169(a) N 65 5 70 Mean Rank 36,45 23,20 Sum of Ranks 2369,00 116,00 Std. Deviation 124,670 ,259 Minimum 4 0 Maximum 384 1

masa kerja dlm bln

Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

a Not corrected for ties. b Grouping Variable: msds 2ktgri

148

149

150