Anda di halaman 1dari 86

PENDAHULUAN

Permainan peresean memang hanya ada di Lombok, kebudayaan khas masyarakat Sasak tempo dulu. Akan tetapi, permainan yang mirip peresean tidak hanya ada di Lombok. Permainan ketangkasan mengunakan tongkat atau toya yang lebih dikenal sebagai stick fighting merupakan salah satu permainan tua yang sudah ada sejak awal-awal peradaban manusia, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa prasasti yang memperlihatkan adanya permainan stick fighting di mesir kuno yaitu di makam Merire II di El Amarna sekitar tahun 1350 SM1. Di berbagai belahan dunia permainan ketangkasan memainkan tongkat ini juga banyak sekali jenisnya, di Iran ada permainan b-Bz, di Irlandia ada permainan bata, di India ada permainan gatka2.

Jonathan Wayne Riddle, Ancient Egyptian Stick Fighting Analysis and Reconstruction of the Sport, Journal of Combative Sport, Aug 2007
2

http://www.alliancemartialarts.com

Di Indonesia juga banyak permainan stick fighting yang hampir sama dengan peresean. Di Bali ada permainan serupa yang disebut dengan gebug ende, sebuah permainan yang menampilkan dua orang laki-laki yang saling memukul dengan menggunakan rotan atau penjalin (untuk anak-anak

menggunakan pelepah pisang) sepanjang 1-2 meter, sambil membawa ende atau tameng terbuat dari kulit sapi yang dikeringkan dan dianyam berbentuk lingkaran untuk bertahan (RCTI, 2007, Buletin Siang)3. Permainan gebug ende di Bali merupakan ritual meminta hujan, masyarakat percaya hujan akan turun apabila permainan memercikan darah.4 Selain di Bali permainan serupa juga ada di Sumbawa yang disebut Karaci. Karaci biasanya dilakukan pada waktu malam hari oleh dua orang pria dewasa yang memakai pakaian pembungkus khusus agar tidak sakit jika terkena pukulan, masing-masing memegang tongkat pemukul yang disebut Semambu dan sebuah perisai yang disebut Empar berbentuk
3 4

Lihat juga http://www.isi-dps.ac.id/berita/tradisi-gebug-ende http://balitv.tv/btv2/index.php/program/pesona-wisata-mainmenu-37/4443-gebug-ende-tradisi-unikturunkan-hujan

bulat lonjong yang terbuat dari kulit kambing atau kerbau. Masing-masing pria jagoan mewakili kelompok yang diawali dengan gerak tari yang disebut ngumang serta berpantun atau Balawas, mencari tandingan atau musuhnya. Setelah

menjumpai lawan yang seimbang, maka mereka mulai pertarungan dengan saling mencari kesempatan untuk dapat memukul lawannya, atau berpukul-pukulan, di antara mereka terdapat 2 orang wasit pemisah yang masing-masing memegang tongkat pemisah disebut pagala yang panjangnya sekitar 3-4 meter. Selama permainan ini berlangsung tetap diiringi oleh gendang atau beduk dan gong. Permainan dilakukan dalam 2 tarungan, yang mula-mula dengan Oker Owe yaitu saat ujung tongkat pemukul bersentuhan lebih dahulu. Tarungan kedua mencari kesempatan untuk memukul lawan dengan mengalahkannya, kemudian menari-nari atau ngumang di depan obor Bambu atau bekas untuk

memperagakan tubuhnya apakah ada bekas pukulan (bilar) atau tidak.5 Di flores ada permainan Caci, permainan ini juga hampir sama dengan peresean yaitu mengunakan tameng yang disebut nggiling dan cambuk/cemeti dari rotan yang disebut larik. Berbeda dengan peresean yang antar pemain saling pukul dalam permainan caci kesempatan memukul diberikan secara bergantian sehingga apabila salah satu pemain diberikan kesempatan memukul (lebat, paki cako) maka pemain lainnya dalam posisi menangkis pukulan lawan (taang) dengan mengunakan dengan sebatang busur (agang) dan perisai (toda, nggiling). Sasaran pukulan cambuk yang paling dicari adalah pergelangan tangan dan muka. Setelah yang menyerang mencambuk satu kali, ia menjadi penangkis dan seterusnya. Jika muka seorang pemain dilukai (beke), dihitung kalah.6 Di pulau Jawa juga dikenal permainan yang hampir sama yang disebut Ujungan. Seni ini lahir dari kebiasaan para
5 6

http://lsotour.blogspot.com/2012/02/karaci-stick-fighting.html http://chyntia-abbo.blogspot.com

pendekar atau jawara silat dalam memilih dan menyeleksi yang paling sakti. Ada juga yang mengartikannya sebagai pertandingan antara jawara silat dalam mengadu ketahanan fisik, agar mendapatkan tempat dan status sosial di masyarakat. Jawara-jawara yang bertanding diuji dengan mengadu pukulan tongkat rotan dengan menggunakan teknik pencak silat dari perguruannya masing-masing, dan puncaknya mereka mengambil satu juara yang paling sedikit mendapat pukulan dan paling banyak memberikan pukulan atau dapat

menaklukan lawan. Namun belakangan Ujungan bukan lagi sebagai media untuk menyeleksi jawara yang terbaik, melainkan hanya sebagai hiburan rakyat semata.

Di zaman penjajahan kesenian ini dimaksudkan untuk membina mental dan fisik para pejuang, agar tidak takut dalam menghadapi Belanda dan Jepang.7

Pikiran Rakyat, Kamis, 15 Oktober 2009.

PERESEAN DARI MASA KE MASA Tulisan yang mengupas khusus tentang peresean tidak penyusun temukan, hanya berdasarkan tuturan masyarakat (folklore)8, beberapa reportase televisi dan tulisan di internet akan penyusun tuturkan kembali, ditambah dengan hasil observasi dan menyaksikan langsung beberapa peristiwa permainan peresean. Walaupun menuju pada satu kesepakatan bahwa peresean hanya ada di Lombok, namun asal-usul peresean Lombok mempunyai beberapa versi cerita yang unik, dalam hal ini penyusun membagi dalam dua masa yaitu peresean zaman dulu dan sekarang. a. Zaman Dulu Tidak ketahui secara pasti bagaimana awal mula permainan peresean ada karena memang tidak adanya bukti tertulis tentangnya. Selain itu ada beberapa versi tentang awal mula peresean, versi pertama adalah sebagai ritual meminta hujan, hal ini didasarkan pada
8

Folklore is a word very musch like culture; its represents a tremendous spectrum of human expression that can be studied in a number of ways and for a number of reason (Toelken, 1979; 28). Lebih lanjut baca juga Stuart (2004) dalam Witchcraft a History.

berbagai perbandingan dengan permainan serupa seperti Gebug Ende dan Permainan Caci yang merupakan ritual meminta hujan. Hal ini juga banyak disampaikan oleh beberapa tokoh Peresean yang menyatakan bahwa pada masa lalu orang beranggapan bahwa darah yang keluar dari kepala, pelipis atau wajah pepadu dianggap representasi dari air hujan. Versi yang lain ada yang menyatakan bahwa peresean adalah kegiatan yang dilaksanakan sebagai pengisi waktu luang setelah panen. Waktu itu, jumlah penduduk masih sedikit sehingga hasil panen waktu musim penghujan selalu cukup, bahkan lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai musim kemarau kedepan tiba. Akibatnya banyak penduduk yang mempunyai waktu luang di sela-sela aktivitas bertani, sehingga untuk mengisi waktu luang (leisure time) tersebut mereka lantas membuat kegiatan yaitu bermain peresean. Peresean untuk fungsi ini masih menggunakan alat-alat yang sederhana. Sebagai pemukul digunakan

penjalin rotan yang dipotong sampai dua meter, dan perise yang dibuat dari kulit berbau, sapi atau kijang berukuran 0,5 meter yang diletakkan pada kayu berbentuk segi empat. Dua orang lelaki akan maju ke depan tanpa diminta dan dikitari penonton di sawah mereka yang kering. Selain untuk pengisi waktu luang, peresean digunakan juga untuk adu kekuatan mantra atau adu kekebalan tubuh bagi masing-masing pepadu. Pada masa inilah dikenal istilah bebadong (jimat), yaitu sejenis sugesti akan kekebalan atau kekuatan yang didapat dari melafalkan bacaan atau menyimpan sesuatu seperti lembaran tulisan Arab atau Sasak, juga barang seperti batu akik dan besi kuning berbentuk pedang atau keris. Peresean juga dilakukan pada malam hari ketika bulan purnama dengan tujuan untuk melatih ketangkasan dan kekebalan tubuh. Konon, sampai akhir tahun 19501960an ketika penduduk Pulau Lombok masih sedikit,

banyak orang yang terbunuh atau dibunuh, namun pada waktu itu pelakunya belum tersentuh oleh hukum. Orang yang dibunuh digeletakkan dan dikubur begitu saja di pinggir jalan. Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya penduduk yang terbunuh, Belanda mengubah alat pemukul peresean yang semula terbuat dari besi diganti dengan bahan rotan dan peresean boleh dilaksanakan pada waktu siang hari serta dibuatkan lapangan khusus. Tujuan peresean tetap digunakan untuk latihan ketangkasan dan melatih kekebalan. Pada masa lampau, peresean ada hubungannya dengan merariq (membawa perempuan sebagai syarat untuk dinikahi), karena orang yang berani bermain peresean akan tersugesti untuk berani membawa perempuan yang sama (pesaing). Pada waktu itu perempuan juga merasa senang jika diperistri pepadu, karena merasa ada yang melindungi. Selain itu, pepadu juga sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat.

Versi yang menyatakan bahwa peresean adalah merupakan arena seleksi yang diselenggarakan oleh para raja Lombok pada masa lalu untuk memilih prajurit perang yang handal. Selain peresean ada beberapa cara seleksi prajurit yang dilakukan yaitu : a. Begelepukan : Dengan alat keris dan besi tanpa tameng. b. Beladukan : dengan alat besi gegitik dengan

ujungnya kayu ada besi. c. Ngorek : untuk menguji kekebalan dan

kesaktiannya dengan menusuk-nusuk badannya sendiri dengan keris. d. Betajap : alat hamper sama dengan peresean namun pada ujung rotan diberikan besi. Dari berbagai versi atau persepsi tentang Peresean tersebut persepsi bahwa Peresean dianggap sebagai arena seleksi prajurit dan ritual untuk meminta hujan ketika musim kemarau melanda daerah Lombok adalah persepsi

10

yang paling banyak diutarakan berbagai kalangan. Persepsi tentang peresean ini masih berlanjut hingga sekarang, namun demikian tetap terjadi perubahan dan tujuan ekonomi masuk didalamnya9.

b.

Zaman Sekarang Di zaman sekarang, permainan peresean masih digemari masyarakat Sasak. Mereka masih sering

memainkannya, walaupun hanya di desa-desa tertentu dan pada peristiwa-peristiwa tertentu, namun antusiasme warga untuk menyaksikan permainan masih sangat tinggi, di tengah ocehan sebagian masyarakat yang menganggap bermain peresean hanya buang-buang waktu dan ajang mabuk-mabukan serta menyakiti diri. Mereka bukan hanya hobi tetapi memang mereka orang-orang berani, kalau tidak berani tidak mungkin juga mereka ikut.
9

Mirip denga cerita ini, TV One dalam program acaranya Katulistiwa (6 Januari 2009) menayangkan seni pojian dari Desa Blimbing, Bondowoso. Ritual seni pojian ini ditujukan untuk mengenang Mbah Singo Ulung. Konon, dia adalah jawara dari desa tersebut yang berani melawan Belanda, namun sekarang ritual ini ditujukan untuk bersih desa. Dalam ritual tersebut terlihat 2 orang laki-laki yang saling berperang menggunakan bambu, darah yang keluar dari tubuh mereka dipergunakan untuk sedekah bumi agar subur.

11

Penyusun melihat sendiri bagaimana para warga berbondong-bondong menuju sepetak tanah yang hanya dilingkupi oleh jahitan karung beras sebagai dinding, beralas tanah, dengan tiket masuk seharga 2000 rupiah dan tanpa pembatas keamanan antara penonton dan pepadu (bisa saja pepadu yang kalap akan lari ke arah penonton seperti banteng yang lari dalam petunjukan matador). Laki-laki, perempuan, tua, muda, dewasa dan anak-anak berduyun-duyun menuju lapangan mendekati sumber suara gamelan Sasak yang terus mengalun rancak, gamelan yang berbunyi dianggap masyarakat sebagai isyarat bahwa permainan akan segera dimulai, apalagi ketika sudah terdengar suara bok.bok.bunyi perise yang beradu, pertanda permainan dimulai. Peresean saat ini menjadi permainan yang ditunggu bagi sebagaian orang, dan sebaliknya dihujat pula oleh sebagian yang lain. sebagai sebuah permainan tradisional hal ini wajar, karena permainan tradisional di negeri ini

12

masih dianggap sebagai peninggalan zaman dulu yang masih berbau mistis. Mistis yang dimaksud adalah sebuah konsep yang belum rasional dan agamis. Rasional adalah ukuran orang sekarang (modern) untuk suatu perilaku manusia (dalam hal ini permainan peresean), sedangkan agamis adalah konsep yang menempatkan Tuhan di atas segala kehidupan manusia, dan sesuatu yang berbau mistis dianggap menduakan Tuhan (syirik). Pola pikir ini menghantam permainan peresean, karena Lombok mayoritas masyarakatnya beragama Islam, walaupun Islam mereka tergolong tradisional yang sedikit banyak masih mengadopsi konsep mistis, namun mereka tetap menolak sisi-sisi tertentu dalam peresean seperti

penggunaan mantra oleh pepadu atau pekembar. Namun demikian, nampaknya peresean mempunyai

penggemarnya sendiri, ketika tradisi Sasak lain yang juga didera oleh anggapan mistis yang sama perlahan mulai hilang, peresean masih banyak yang menonton, bahkan

13

orang tertentu sangat fanatik. Keadaan yang tidak penyusun temui pada tradisi Sasak lainnya seperti cilokaq, wayang sasak atau gendang beleq. Namun, di zaman modern ini peresean tidak ada lagi hubungannya dengan merariq karena perempuan lebih memilih laki-laki yang tampil trendy, tampak modern, berpendidikan, dan kaya, tidak lagi mempertimbangkan kelelakian yang biasanya ditujukan dalam permainan peresean. Dan banyak pula perempuan yang tidak mau diperistri pepadu karena citra negatif pepadu yang suka beristri lebih dari satu. Realitas inilah yang penyusun kira membuat permainan peresean tetap eksis, karena masyarakat mendahulukan otonominya (otonomy subject dalam bahasa Foucault, 1987) dalam menilai sesuatu, dan mengalahkan kekuasaan religiusnya, walaupun mereka memeluk itu. Peresean saat ini dikatakan banyak orang sebagai permainan masyarakat ekonomi menengah ke bawah

14

(baca: miskin), karena mayoritas yang girang (senang) main adalah para buruh tani, tukang ojek, pekerja bangunan, dan pengangguran bekas TKI. Kesan itu memang wajar karena memang demikian adanya, akan tetapi bukan berarti orang kaya tidak ada yang jadi pepadu. Rizal atau Kamandanu itu juragan sapi dan haji. Khairil itu punya sawah luas dan sudah haji pula. Inggah yang jadi pekembar dari Marong itu PNS dan sudah haji juga. Maka, sebenarnya pepadu yang ekonominya kurang beruntung menginginkan adanya tindak lanjut setelah beradu, misalnya ada pembinaan dan pemberian

pinjaman modal untuk usaha dari organisasi Peresean. Peresean bukan bagi golongan rendah, tapi bagi mereka yang hobi dan berani itu yang penting, walaupun mereka bukan keturunan pepadu. Anak-anak kecil Sasak sekarang juga sudah malas bermain peresean, mereka lebih suka main play station dan menenteng handphone. Para remaja dan pemuda

15

enggan mendekat. Bagi mereka, peresean itu menyakiti diri dan uangnya tidak seberapa, lebih menarik

nongkrong, pacaran atau balap motor.

16

FILOSOFI PERESEAN

Permainan peresean bagi masyarakat sasak bukan sekedar permainan adu kekuatan dan adu keterampilan atau ketangkasan namun lebih dari itu permainan peresean juga dianggap sebuah permainan sakral yang bernuansa magis. Di dalam permainan peresean terkandung beberapa nilai kearifan lokal suku sasak. Nilainilai tersebut antara lain : a. Nilai Silaturahmi : Peresean adalah salah satu permainan yang bertujuan menjalin silaturahmi antar anggota masyarakat. Dalam permainan peresean biasanya pepadu yang diundang berasal dari berbagai desa/wilayah yang ada di pulau Lombok sehingga silaturahmi antara pepadu tetap terjalin sehingga memang sangat jarang terjadi ada peresean yang

mengakibatkan terjadinya konflik atau perkelahian. Peresean juga menjadi ajang berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat tidak mengenal umur, jabatan, dan strata social mereka samasama berdesak-desakan untuk menyaksikan peresean.

17

Dalam permainan peresean meskipun para pepadu saling berpukulan di arena namun selesai permainan mereka sudah seperti saudara tidak ada sedikitpun permusuhan atau kebencian diantara mereka. b. Nilai Fair play Dalam kamus Inggris-Indonesia kata fair dapat berarti terang, adil, wajar, cantik.10 Menurut William Halsey serta Victoria Neufeldt dan Fernando M. Vianna, kata fair dapat disamaartikan secara singkat dengan clear, bright, sunny, beautiful, pleasing in appearance, moderately good or acceptable. Istilah fair dapat pula diartikan: (1) free from prejudice, (2) according to accepted rules or standards. 11 Dalam kamus yang sama untuk istilah fair play diberi pengertian permainan yang sportif, perlakuan atau tindakan yang wajar terhadap semua orang. Sedangkan dalam dunia olahraga fair play dapat diartikan sebagai semangat olahragawan sejati atau
10

Echols, John M. dan Hasan Shadily. (1988). Kamus Inggris-Indonesia. Cetakan XXVI. Jakarta: Penerbit PT Gramedia hlm 230. 11 Halsey, William D (Editorial Director). (1987). School Dictionary. USA: MacMillan Publishing Company hlm 134

18

semangat olahragawan ksatria, yang dapat pula dimaknai dengan istilah the finest sportmanship. Seorang olahragawan dapat dikatakan fair play, apabila dia melakukan sesuatu perbuatan terpuji yang mencakup lebih daripada sekedar tunduk 100% pada peraturan tertulis. Pelaksanaan fair play harus ditandai semangat kebenaran dan kejujuran, dengan tunduk kepada peraturan, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Fair Play dalam permainan peresean sebagai konsep moral, penghargaan terhadap lawan serta harga diri, berisi: (1) keinginan yang tulus ikhlas, agar lawan tandingnya memperoleh kesempatan yang benar-benar sama dengan dirinya, (2) sangat teliti menimbang cara-cara mendapatkan kemenangan, sehingga akan dengan tegas menolak kemenangan yang sembarangan. Lawan main harus dilihat sebagai partner, sebagai kawan bertanding (friendly rival), yang diikat oleh rasa silaturahim, sehingga suatu pertandingan dapat berlangsung dengan semestinya.

19

Dalam pengertian ini terkandung makna: jujur, adil, hormat, rendah hati, serta makna-makna baik sejenis itu. Fair play adalah semangat besar hati terhadap lawan, yang pada gilirannya dapat menimbulkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan hangat. Keputusan wasit/juri yang menguntungkan dirinya akan ditolak, apabila ternyata diketahui salah. Seorang pepadu yang mengalami bocor meskipun tidak dilihat oleh lawan atau pekembar akan secara ksatria menyatakan dirinya bocor dan kalah. Demikian juga seorang pepadu tidak akan memukul lawannya yang jatuh atau penjalinnya jatuh atau endenya jatuh.

Selain sarat dengan nilai-nilai Peresean juga memiliki tiga unsur penting yaitu Wirasa, Wiraga dan Wirama. Seorang pepadu yang hebat tidak hanya dinilai dari kemampuan mengalahkan lawannya atau membuat bocor kepala lawannya namun adalah pepadu yang bisa mengkolaborasikan antara wirasa, wirama dan wiraga. Peresean tidak hanya merupakan sebuah permainan belaka,

20

namun lebih dari itu peresean adalah sebuah seni dan juga refleksi dari falsafah hidup masyarakat sasak tentang sportifitas, tenggang rasa dan sikap ksatria. WIRAGA Wiraga dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah dasar wujud lahiriah badan beserta anggota badan yang disertai keterampilan geraknya. Wiraga sangat terkait penguasaan teknik-teknik memukul dan menahan serangan lawan. Seorang pepadu yang hebat (bagus) juga harus bisa menghibur penonton dengan gerak tari. Peresean tidak hanya menampilkan permainan saling pukul seperti hanya tinju, thai boxing, atau anggar namun juga harus menghibur penonton dengan tari atau gerakan. Wiraga artinya mengajarkan manusia untuk menjaga raga (tubuh), dengan demikian perisean ditujukan untuk olahraga (olah

kanuragan). WIRAMA Wirama meliputi irama gerak, irama gamelan/gending maupun ritme gerak permainan. Irama gerak pepadu menyesuaikan dengan irama

21

gending termasuk suasana. Perisean mengajarkan manusia untuk bersenang-senang, bergembira, menari, sambil bermain. Peresean adalah sarana relaksasi social. Di tengah berbagai kesibukan pekerjaan dan berbagai masalah yang mendera, masyarakat sasak menyediakan sarana untuk sedikit melupakan ketegangan-

ketegangan di dalam masyarakat melalui peresean. WIRASA Wirasa adalah gerak tidak saja harus sesuai irama, namun harus dilakukan dengan rasa (jiwa). Dalam permainan peresean tidak hanya kemenangan yang dicari oleh seorang pepadu, namun lebih dari itu permainan peresean mengajarkan sikap tenggang rasa dan sikap ksatria seorang pepadu tidak akan menyerang atau memukul lawan yang tidak berdaya (jatuh, jatuh penjalin atau jatuh ende). Seorang pepadu juga akan dengan ksatria mengakui kekalahan orang mungkin tidak tahu kalau kepalanya bocor terkena pukulan karena tertutup sapuq tetapi seorang pepadu dengan sikap ksatria akan dengan sportif menyatakan kalah karena apabila kepalanya bocor. Dalam permainan peresean meskipun adu fisik dan saling pukul

22

namun jarang terjadi ada konflik, rusuh atau perkelahian antar suporter atau pepadu sebagaimana terjadi dalam permainan sepak bola. Itulah permainan perisean, gabungan dari olahraga, menata hati dan menata kegembiraan. Peresean mengajarkan manusia untuk menjaga raga, menyelaraskan diri dengan lingkungan, mendidik hati, mengendalikan emosi, sikap sportivitas, ksatria dan sikap tenggang rasa tanpa dendam.

23

AKTOR-AKTOR DALAM PERESEAN

1. PEPADU Pepadu berasal dari akar kata adu, meng-adu, beradu yang berarti saling. Bisa saling memukul, menendang, menampar, berteriak dan segala sesuatu yang biasa dalam pertarungan. Dalam hal ini tambahan awalan pe- menunjuk pada orang dan hanya dimaksudkan untuk peresean, karena orang Sasak punya istilah umum untuk menyebut kegiatan saling beradu lainnya, yaitu bebadosan. Pepadu adalah manusia biasa, namun dalam

permianan peresean mereka aktor utamanya karena tanpa pepadu, peresean tidak akan tergelar. Rata-rata mereka menjadi pepadu karena keturunan, namun tidak sedikit pula yang belajar sendiri (otodidak), hasil dari sering menonton, panas hati ingin memukul, akhirnya terus mencoba dan berani. Mereka main peresean sejak usia belasan dan beberapa dari mereka berani mencoba karena dorongan

24

orang tua. Penyusun menemukan tiga macam pepadu dalam peresean, antara lain: 1. Mereka menyebut istilah pepadu eksibisi (Pepadu Umbaran), pepadu yang dimainkan untuk pameran latihan dengan tujuan mencari bibit baru. Pepadu ini mendapat bayaran atau mereka menyebutnya uang tengah untuk yang menang per permainan. 2. Pepadu pilih tanding, yaitu pepadu yang sebelum bertanding disuruh berdiri untuk dipilihkan lawan tandingnya yang dianggap seimbang oleh pekembar. Pepadu ini mendapat uang uang tengah per permainan baik yang kalah maupun yang menang, yang menang biasanya mendapat 2 (dua) kali lipat jumlahnya daripada yang kalah. 3. Pepadu mati tanding, yaitu pepadu siap tanding melawan siapapun tanpa diberdirikan terlebih dahulu. Pepadu ini mendapat uang tengah baik yang kalah maupun yang menang per permainan. Pepadu mati tanding dibayar

25

sama karena dijadikan hiburan penyemangat bagi penonton dan para pepadu yang bertanding itu sendiri. Selain uang tengah, pepadu yang bermain bagus biasanya akan mendapat tambahan uang saweran yang dilemparkan penonton ke tengah lapangan. Uang itu akan dibagi rata untuk kedua pepadu yang bertanding, uang saweran ini berlaku untuk ketiga macam pepadu di atas. Ketiga macam pepadu tersebut selalu ada dalam setiap permainan, kesepakatan antara pekembar dan panitia12. Pepadu eksibisi belum mempunyai julukan, akan tetapi bagi pepadu pilih dan mati tanding masing-masing mempunyai nama julukan. Julukan itu berasal dari penonton dan pekembar dengan melihat gaya bermain pepadu. Penonton terkadang berteriak bangga ketika permainan sedang berlangsung. Seperti Layar Muter, karena sang pepadu selalu memutar-mutar perise untuk bertahan dan memukul.
12

Meskipun sudah terjadi kesepakatan, pada tanggal 9 Agustus 2008 penyusun melihat salat satu pekembar ingkar janji. Pekembar tersebut hanya membawa pepadu-pepadu eksebisi dan pilih tanding saja, itupun pepadu amatiran. Perilaku tidak sportif pekembar ini menyebabkan permainan tidak menarik, pepadu beradu dengan tidak seimbang, sehingga permainan cepat selesai, penonton tidak puas dalam menonton dan merasa rugi membeli karcis, panitia pun menjadi sasaran cemoohan penonton.

26

Kamandanu, sang pepadu dalam imajinasi penonton seperti tokoh Arya Kamandanu dalam layar televisi. Hujan Rintis, dalam persepsi penonton pepadu memukul tanpa jeda seperti hujan rintis (hujan rintik). Jangger Lapangan, sang pepadu selalu menari seperti jangger setelah memukul. Guntur Telu, jika memukul selalu tiga kali dengan keras bak guntur. Cikararat, berarti delman tanpa kusir, berlari tanpa arah, memukul, mengelak dan meliuk. Atau dijuluki Selak (leak) Marong, pepadu yang hitam legam, berambut keriting gondrong seperti leak dari Desa Marong. Julukan-julukan ini begitu sarkatis dan dramatis. Tampaknya julukan-julukan ini untuk mempermainan mental pepadu, pekembar dan emosi penonton.

2. PEKEMBAR TENGAQ (WASIT) Aktor penting selanjutnya adalah Pekembar Tengaq ada sebagian yang menyebutnya sebagai Carisae, tugasnya tidak jauh beda dengan wasit-wasit dalam pertandingan

27

olahraga apapun, intinya adalah mengatur pertandingan agar berjalan dengan sportif sesuai aturan (awig-awig) yang berlaku. Syarat menjadi Pekembar Tengaq selain harus paham betul tentang peresean juga karena peresean mempunyai unsur seni, Pekembar Tengaq peresean

diharapkan dapat menari tradisional Sasak karena musik pengiring peresean menuntut untuk menari. Pekembar Tengaq yang dapat menari akan membuat suasana tegang dalam permainan peresean menjadi cair, sehingga bisa menghibur pepadu dan penonton, namun terkadang juga justru mengundang emosi penonton. Dalam permainan peresean juga dikenal Pekembar Tengaq curang, artinya Pekembar Tengaq yang memihak salah satu pepadu atau dikenal sebagai Kikire Wate. Bentuk pemihakan tersebut ditunjukkan dengan cara membiarkan pepadu yang dia sukai dan ia jagokan memukul terus pepadu yang bukan jagoannya, walaupun terlihat salah satu pepadu sudah kewalahan untuk melawan. Pembiaran itu tidak

28

berlangsung lama, akan tetapi cukup membuat pepadu yang kewalahan terluka parah dan akhirnya kalah. Namun, jika kejadian ini sering terjadi, penonton dan pekembar akan mencaci maki Pekembar Tengaq tersebut karena mereka cukup jeli memperhatikan tingkah laku Pekembar Tengaq dan untuk selanjutnya, Pekembar Tengaq yang sering berbuat curang tidak akan pernah ditunjuk untuk memimpin peresean. Seorang Pekembar Tengaq harus memiliki dua criteria yaitu : a. Waget (Jeli) Seorang Pekembar Tengaq harus jeli yang meliputi Waget Paningal (Jeli Pengelihatan), Waget

Panarungu (Jeli Pendengaran) dan Waget Awiku (kemampuan mengambil sikap atau keputusan terbaik)

29

b. Satria Wasis artinya seorang Pekembar Tengaq harus mempunyai keberanian, kejujuran dan tidak pilih kasih. Selain itu seorang Pekembar Tengaq tidak boleh memiliki sifat Kikire Wate (berat sebelah) sebagaimana yang telah di bahas diatas juga Pasemu Daye (memotong nilai tanpa alasan) dan Aje Impat ( mengada-ada atau keluar dari aturan yang ada).

3. PEKEMBAR SEDI (MANAGER PEPADU) Penyusun melihat aktor penting ketiga dalam

permainan peresean adalah pekembar sedi, dari asal kata kembar (berpasangan). Seperti pepadu, awalnya pe- pada pekembar menunjuk pada orang, yang berarti orang yang bertugas memasangkan pepadu yang akan beradu13. Tugas ini sangat penting karena jika pekembar sedi salah dalam memasangkan, maka pertarungan tidak seimbang dan
13

Trans 7 dalam program acara Jejak Si Gundul (25 April 2009) menayangkan permainan peresean yang digelar di kecamatan Kopang, Lombok Tengah. Dalam acara itu, masyarakat Lombok Tengah menyebut orang yang bertugas memasangkan pepadu yang akan beradu dengan sebutan pengadok (orang yang bertugas mengadu). Istilah pekembar justru digunakan untuk menyebut Pekembar Tengaq peresean.

30

berpengaruh negatif bagi pepadu dan penonton, pepadu akan cepat luka dan selesai, sehingga penonton akan kecewa dan pulang. Syarat menjadi pekembar sedi adalah orang yang paham betul tentang peresean, sehingga kebanyakan mereka yang jadi pekembar sedi adalah mantan pepadu. Dari pengalamannya, pekembar sedi akan tahu mana pepadu yang cocok dan tidak untuk di kembarkan atau di pasangkan. Namun, saat ini ketika sudah sedikit pepadu yang yang mau jadi pekembar sedi, maka pekembar sedi tidak harus mantan pepadu. Pekembar sedi bisa berasal dari orang banyak tahu banyak tentang pepadu dan peresean, dan itu biasa siapa saja yang sering menonton peresean dan kemudian di angkat oleh komunitas di desa para pepadu. Selama permainan berlangsung, pekembar sedi meminta panitia menyediakan rokok (biasanya tiga bungkus, satu untuk pekembar sedi dan dua untuk pepadu) serta minuman untuk pepadu (biasanya

31

satu teko air putih). Aktor permainan peresean berikutnya adalah belian.

4. BELIAN Penyusun mencermati, belian, dukun atau pawang adalah aktor penting keempat dalam permainan peresean.. Tanpa belian, legitimasi permainan peresean yang sakral menjadi berkurang bahkan menghilang, karena kekuatan kedua setelah keberanian pepadu adalah belian. Dalam peresean, tugas belian adalah menghitung hari pasaran yang tepat untuk beradu, menyiapkan sesaji dan ritual kesaktian, menyiapkan bebadong, menentukan posisi duduk dalam arena. Masing-masing pepadu membawa belian, jabatan ini dipegang oleh orang tersendiri, biasanya orang yang sudah berumur tua (Sasak: papuk mame), akan tetapi ada juga pekembar yang sekaligus bertugas menjadi belian. Pada zaman dulu, tugas belian tampak dramatis, konon sehari sebelum permainan di mulai, sang belian akan

32

mencari kerbau atau sapi, tujuannya adalah memindahkan tenaga kerbau atau sapi tersebut kedalam tubuh pepadu. Kerbau atau sapi tersebut akan tertidur dan baru bangun lagi setelah permainan pepadu tersebut usai.

I.

PERLENGKAPAN 1. LAPANGAN/KALANGAN/WIDEN/ARENA PERTANDINGAN Sebagaimana permainan atau olahraga lainnya dalam permainan perisaian memerlukan sebuah arena

pertandingan yang biasanya disebut sebagai Kalangan atau Widen. Kalangan dalam permainan perisaian selama ini tidak ada aturan baku biasanya yang penting ada sebuah tanah lapang yang cukup untuk tempat pertandingan dan penonton. Luas arena pertandingan atau Kalangan rata-rata berukuran 10 x 10 meter, seringkali semakin menyempit karena penonton yang mengelilingi kalangan merangsek kedepan. Di dalam arena, penonton duduk melingkar, tidak ada pemisahan yang jelas, tua-muda, anak-anak, orang tua,

33

laki-laki,

perempuan

bercampur,

berdiri

mendongak,

sedangkan penonton yang dibarisan depan jongkok atau duduk lesehan. Di sela-sela penonton (biasanya dipojok) berkumpul rombongan para pepadu, pekembar Sedi (official) dan pendukung/suporter yang mereka bawa dari kampung asal pepadu. Pekembar sedi berada di depan sendiri yang diapit perise dan penjalin serta belian, duduk dibelakangnya para pepadu yang akan bermain, dan selanjutnya pendukung dan penonton lainnya. Penentuan letak duduk untuk berkumpul ditentukan oleh pekembar sedi berdasar nasihat belian dari hitungan hari Sasak (seperti hari pasaran Jawa), karena posisi menentukan kemenangan mereka dalam bertarung. Di antara lingkaran untuk penonton, rombongan satu bagian Sasak depan yang

dikhususkan

pemusik

berjumlah enam orang. Masing-masing dari mereka bertugas memainkan satu gendang, satu rincik, dua petug, satu seruling dan gong.

34

2. PAKAIAN Atribut seperti Sapuq, dodot, atau ikat pinggang bagi pepadu sebenarnya adalah representasi budaya yang umum, karena biarpun mereka tidak menjadi pepadu, atribut-atribut ini juga biasa dipakai oleh para pemuda atau orangtua Sasak yang menikah atau mengikuti upacara tradisi seperti tujuh belasan. Namun, ketika atribut-atribut tersebut dipakai saat beradu maka maknanya akan berbeda, apalagi ditambah dengan bebadong atau jimat. Pada masa lalu pepadu peresean mengunakan pakaian Leang (kain panjang) yang dijadikan kancut (kain panjang disilangkan di selangkangan dan dililitkan di pinggang) dan mengunakan sapuq. Pada masa sekarang pakaian model kancut dianggap tidak pantas lagi digunakan sehingga pepadu sekarang mengunakan pakaian adat yang terdiri dari Sapuq, Dodot dan Bebet.

35

a. Sapuq Sapuq arti singkatnya adalah ikat kepala.

Sepemahaman penyusun, Sapuq di Sasak ada dua model, yaitu Sapuq resmi dan tidak. Sapuq resmi berbentuk unik dan khas, Sapuq model ini hanya dipakai untuk acara adat resmi seperti merariq. Sapuq tidak resmi adalah jenis ikat kepala yang hanya diikatkan sekenanya di kepala. Walaupun terlihat sekenanya, namun bagi para pepadu Sapuq model ini penting karena Sapuq yang dipakai sudah diberi mantra oleh pekembar atau dukun mereka. Penyusun melihat Sapuq tersebut biasanya hanya satu dan dipakai bergantian oleh setiap pepadu yang akan bertarung. Sapuq pepadu tidak harus bermotif batik, tetapi kain apa saja, cara mengikatkannyapun asal menempel di kepala. Namun, untuk pepadu yang baik, Sapuq seharusnya juga yang resmi, karena dengan memakai Sapuq resmi berarti menghormati tradisi nenek moyang. Sapuq yang dipakai oleh pepadu

36

adalah Sapuq Tekap Pindang atau juga yang mengunakan Sapuq Lepek. Pepadu yang baik harusnya Sapuqnya juga yang baik, bukan asal ikat kepala. Kalau asal-asalan, itu pepadu yang masih belajar (amatiran). Sapuq di kalangan pepadu selain menjadi atribut yang vital, juga bisa menjadi pembeda antara pepadu senior dan junior. Selain untuk menunjukkan semangat penghargaan mereka terhadap tradisi, secara praktis Sapuq berfungsi sebagai penahan pukulan agar kepala tidak mudah berdarah atau luka, pekembar sedi dan pawang selalu menyelipkan bebadong dibalik lipatan Sapuq, ini berbeda dengan dodot.

b. Dodot Fungsi dodot tampak hanya sebagai pakaian pelengkap dan pemanis, namun dalam upacara adat, dodot wajib dipakai. Dodot adalah sejenis kain yang dipakai di pinggang menggelantung dan menjuntai ke depan. Dodot

37

juga ada yang resmi dan tidak, dodot yang resmi akan dibentuk dan dipakai dengan rapi, bermotif batik atau tenun Sasak. Para pepadu amatir (junior) akan memakai dodot bermotif batik atau kain sarung sekenanya, asal

menggelantung dipinggang dan terlihat wajar sebagai pepadu, bahkan ada yang tidak memakai dodot sama sekali, cukup dengan celana yang dipakai. Pepadu yang peduli budayanya, menganggap hal itu sebagai pengaruh budaya barat dan tidak bagus. Dodot terkadang terlihat menjadi kurang berfungsi karena pepadu hanya akan memakai bebet atau ikat pinggang saja. Namun bagi pepadu senior, dodot harus mereka pakai sebagai bentuk penghargaan mereka terhadap tradisi nenek moyang.

c. Bebet Bebet atau ikat pinggang pepadu nampak biasa saja, sejenis kain selendang panjang bermotif batik, tenun Sasak atau kain biasa, dililitkan dua atau tiga kali ke pinggang. Para

38

pepeadu junior hanya memakai bebet saja tanpa dodot, fungsi bebet labih banyak daripada dodot, bebet yang tebal akan menahan pukulan yang mengenai pinggang atau perut. Selain itu, para pekembar dan pawang akan menyelipkan bebadong atau jimat mereka dibalik lipatan bebet. Bagi pepadu, bebadong itu sangat meningkatkan kepercayaan diri mereka ketika beradu. Penyusun melihat bebet tampak lebih penting daripada dodot, bahkan hampir wajib, namun tetap yang paling penting bagi pepadu adalah bebadong.

d. Bebadong Bebadong arti gampangnya adalah jimat, modelnya dapat berupa bacaan yang dilafalkan sesaat sebelum maju ke tengah arena dan ditiupkan pada penjalin, perise atau tubuh pepadu. Ada juga yang berbentuk tulisan rajah berbahasa Arab atau Sasak yang ditulis dikertas kecil dan diselipkan pada lipatan Sapuq dan bebet. Bebadong juga dapat berupa barang atau sesuatu yang memang sudah

39

dimiliki oleh pepadu adalah orang-orang yang sudah bergelut dengan ilmu-ilmu kesaktian. Mereka belajar itu untuk bekal hidup, namun tidak jarang mereka justru menyalahgunakannya untuk berbuat keburukan, seperti mencuri, merampok, berkelahi atau menjaga diri ketika mereka pergi menjadi TKI sewaktu masih muda dulu, tidak jarang pepadu itu terlihat bertato dipunggung, lengan atau dada. Bebadong juga dapat berupa besi kuning berbentuk keris, tombak, kepala ular, foto Tuan Guru, atau burung. Barang-barang ini selalu dibawa ketika mereka akan pergi main peresean atau ngadu dalam bahasa mereka, namun bukan saat beradu. Mereka merasa lebih percaya diri beradu jika mempunyai bebadong. Bagi mereka, ngadu berfungsi untuk menguji ilmu, keberanian dan mencari uang. Walaupun demikian, tidak sedikit pula pepadu yang hanya mengandalkan keberanian karena mereka tidak memiliki bebadong sama sekali. Bagi mereka, ngadu

40

bertujuan untuk olahraga dan mencari uang. Dalam peresean, bebadong difungsikan untuk mengaburkan

pandangan lawan agar gampang dipukul.

3. ENDE (PERESE/PERISAI/TAMENG) Perise adalah istilah lain untuk menyebut tameng, Bahasa Sasaknya ende, dari sinilah nama peresean ini berasal, artinya permainan saling memukul dengan bertahan dibalik perise. Kenapa tidak disebut permainan ende? Sebenarnya sebagian masyarakat ada juga yang menyebut permainan ende, namun istilah perise lebih enak didengar telinga, sehingga banyak yang menyebut dan lebih populer sampai sekarang, selain juga bermaksud untuk membedakan dengan permainan yang di Bali, karena di sana disebut gebuk ende.

41

Perise atau ende, umumnya terbuat dari kulit kerbau, sapi atau kambing. Kerangka kayunya memakai kayu aru, dilekatkan dengan aspal dan dijahit dengan benang kenur serta dipaku, bagian belakang ditambah kayu besar yang dilubangi untuk pegangan tangan. Berat perise setelah jadi kurang lebih 4-5 kilogram, ketika dalam keadaan emosi, takut atau kelelahan tentu ini terasa sangat berat bagi pepadu. Perise dulu berukuran 60x80 cm karena orang dulu tinggi-tinggi, tapi sekarang karena orang makin pendek, perise berukuran 40x60 cm Setelah jadi, bagian muka perise diberi lukisan sedemikian rupa, kemudian dijemur beberapa hari agar kulit lebih kencang, sehingga jika dipukul bisa berbunyi bokbok, tanda perise sudah siap dipakai.

4. PENJALIN Emat atau penjalin adalah nama lain dari rotan. Penjalin dalam permainan peresean dipakai untuk memukul. Penjalin

42

yang dipakai peresean pada zaman dulu berukuran 150 cm, namun sekarang hanya 105 cm. Bagian bawah penjalin dililit benang kenur sepanjang 45 cm dan digunakan untuk pegangan tangan, bagian tengahnya dibiarkan kosong tanpa lilitan, kemudian bagian atas dililit benang lagi sepanjang 30 cm. Agar tidak terburai, pada setiap lilitan benang dilekatkan lem atau aspal. Agar keras, dilekatkan pula aspal. Namun, penyusun lihat bagian-bagian yang dililit benang itu hanya variasi dan tergantung selera pembuatnya saja, tidak ada aturan bakunya. Pada zaman dulu, aspal akan dicampur dengan pecahan beling atau pasir, tetapi sekarang sudah mulai dihilangkan, karena bisa merusak kepala, pelipis atau wajah. Berbeda dengan zaman dulu, saat ini untuk membuat penjalin tidak ada ritual dan hari khusus, sama dengan ketika membuat perise, pembuatannya hanya berdasar waktu luang dan pesanan saja. Dalam peresean, penjalin mempunyai dua model, yang pertama dipakai untuk pepadu

43

dan yang kedua untuk Pekembar Tengaq. Menurut pengakuan para pepadu, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, jika mereka terkena pukulan, namun tidak meninggalkan bekas merah di tubuhnya, justru lebih berbahaya dibandingkan jika ada bekasnya, karena dengan demikian berarti mantra pada penjalin tembus dalam tubuhnya.

5. GAMELAN (MUSIK PENGIRING) Beranggotakan 6 orang, memakai Sapuq, dodot, dan bebet, duduk bersila di depan alatnya masing-masing dan menghadap lapangan. Dua gendang berukuran sedang, petung (seperti kenong) berjumlah dua buah, suling panjang (belo), suling pendek (pontak/kontk), rincik (sejenis simbal kecil) berjumlah tiga pasang, dan gong menjadi alatnya. Penyusun dengar mereka memainkan nada yang rancak, sesuai denga irama pepadu beradu, pesaksakan bahasa Sasaknya.

44

Musik pengiring dalam peresean mempunyai peran penting selanjutnya. Tanpa musik, permainan peresean menjadi tidak bergairah dan terasa kurang lengkap. Musik pengiring haruslah musik tradisional Sasak dengan lagu-lagu Sasak. Mencari pemain musik pengiring peresean tidaklah sulit, karena penyusun lihat pemainnya adalah Pemain gendang beleq, begitu juga dengan alatnya tetapi tanpa gendang beleqnya. Saat ini banyak berdiri kelompokkelompok gendang beleq Lombok, mereka biasa dipanggil untuk mengiringi adat nyongkolan (arak pengantin) saat merariq (kawin lari). Rombongan musik pengiring berjumlah enam orang yang bertugas memainkan satu gendang, satu rincik, dua petug, satu seruling dan gong. Dalam memainkan irama, pengiring musik harus menyusaikan dengan suasana permainan pada setiap tarungannya karena itu akan membantu pepadu dalam menghadapi lawannya, selain itu

45

juga agar penonton tidak bosan, tetap semangat hingga permainan usai.

46

II.

ATURAN PERMAINAN 1. SUASANA PERMAINAN Permainan Perisaian dimulai dengan para pekembar sedi kedua belah pihak maju ke depan sambil membawa perise dan penjalin. Mereka bertugas memilah dan memilih pepadu yang akan diadu. Setelah dirasa seimbang, kedua pekembar sedi akan memukul perise, bokboktanda bahwa masing-masing pasangan pepadu siap diadu secara bergiliran. Ketika salah satu pepadu berdiri, akan segera disambut pepadu dari pihak lawan, keduanya lalu maju ke tengah lapangan, bertelanjang dada, berikat kepala, mengangkat perise, bersenjata penjalin sesekali berteriak hohasambil meloncat. Kemudian Pekembar Tengaq menghadapkan keduanya dan mempersilahkan untuk mulai beradu. Pada awal permainan, kedua pepadu biasanya saling menjaga jarak sambil sesekali memukul perisenya

47

hingga berbunyi bokbok ini nampaknya bertujuan untuk menjajaki mental dan kekuatan lawan. Lawan yang kuat akan menganggap itu sebagai hal yang biasa, namun bagi yang tidak, hal itu secara otomatis akan melemahkan mental yang akhirnya berujung pada kekalahan. Tidak jarang, mereka hanya mampu bertahan dalam satu tarungan permainan karena darah telah mengucur dari kepala dan wajah lawan, namun realitasnya yang paling banyak terkena sabetan adalah tangan, perut, pinggang, dan punggung. Namun, ada juga pepadu yang di awal permainan langsung saling memukul dengan sengit, dari atas ke bawah, kanan kiri atau sebaliknya, endenya berputar-putar, diangkat ke atas, ke bawah, dan ke samping. Kaki mereka bergerak cepat, bak kuda ketakutan, keduanya seperti kehilangan kontrol sehingga tanpa sadar tampak darah tiba-tiba menetes dari tubuh, pelipis, kepala atau tangan. Pada situasi seperti itu, pekembar tengaq dengan segera akan menghentikan permainan, namun jika pepadu

48

merasa masih mampu bermain lagi, pekembar tengaq akan melanjutkan permainan ke tarungan berikutnya. Luka darah pada kepala atau pelipis pepadu tidak hanya disebabkan oleh sabetan penjalin, namun bisa juga karena terkena ujung ende yang lancip dan tajam. Kejadian itu memang tidak disengaja oleh pepadu, namun secara umum penonton akan menganggap pepadu itu licik dan tidak sportif karena melukai lawan dengan ujung ende. Jika pepadu aduannya terkena pukulan dan tampak kewalahan menghadapi lawan, pekembar sedi akan masuk ke arena permainan, kemudian merangkul, memijit pundak pepadu itu, memberinya nasihat dan strategi baru. Pekembar sedi juga berusaha membakar semangat pepadu agar semakin kuat memukul lawan. Saat itu, sorak-sorai penonton terus menggema, mereka menyoraki pepadu agar beradu lagi. Namun, pekembar tengaq tidak pernah memaksakan keadaan, jika pepadu terluka parah dan sudah tidak kuat meneruskan permainan, pekembar tengaq akan segera menghentikan permainan.

49

Sebalikya, meskipun pepadu tampak terluka parah, namun ketika ditanya masih sanggup bertahan, permainan akan berlanjut kecuali jika keluar darah dari kepala (termasuk wajah, pelipis) maka pepadu yang keluar darah akan dinyatakan kalah. Musik akan mengiringi mereka bertarung selama 3-5 tarungan (1 tarungan kurang lebih 2-3 menit), sorak sorai penonton semakin ramai, jika merasa terhibur, mereka akan maju dan berjoget serta melemparkan uang saweran sebagai tanda penghargaan pada pepadu, uang itu akan dibagi dua, sama rata untuk pepadu yang sedang bertarung (kecuali apabila ditipu oleh panitia). Semakin lama, pepadu akan semakin panas, permainan-pun terkadang menjurus kasar, pekembar tengaq akan kewalahan memisahkan pepadu yang sedang emosi. Tidak jarang, sesama pekembar sedi akan bertarung singkat untuk memancing emosi kedua pepadu dan penonton. Bebadong (jimat) memang tidak terlihat, namun keberanian pepadu menandakan bahwa

50

memiliki itu. Bebadong, Sapuq (ikat kepala), dodot (kain pelapis celana pendek atau panjang) dan ikat peninggang itu adalah sebagian atribut pepadu yang sakral bagi pepadu dan pekembar.

2. JENIS PUKULAN DAN PENILAIAN PERTANDINGAN Dalam permainan perisaian dikenal beberapa jenis pukulan namun tidak ada standar baku karena antara satu daerah dengan daerah lain kemungkinan berbeda namanya. Beberapa jenis pukulan yang teridentifikasi antara lain : a. Mantoq lengkek (Mantoq Lengkek kiri dan Mantoq lengkek kanan) yaitu memukul bagian lengan bawah dari lawan. Pukulan ini cukup berbahaya karena apabila terkena bagian siku maka lengan akan lemas dan tidak bias lagi memegang ende/penjalin. b. Mantoq Tampen yaitu teknik memukul secara terus menerus tanpa henti.

51

c. Mantoq Pelewas yaitu memukul dari atas bagian kanan kepala lawan. d. Mantoq Tapur yaitu memukul dari atas bagian kiri kepala lawan. e. Mantoq Rumpak yaitu memukul dari atas ke bawah Sedangkan penilaian pukulan didasarkan kepada bagian yang terkena pukulan sebagai contoh pukulan yang mengenai kepala mendapatkan 3 poin, tangan 2 poin dan badan 1 poin. Khusus untuk bagian kepala apabila pukulan menyebabkan keluarnya darah (darah mengucur atau mengalir) maka pepadu akan dinyatakan kalah KO. Istilah darah keluar adalah darah terlihat mengalir dari wajah atau kepala sepanjang darah belum terlihat mengalir seperti halnya apabila pepadu mengunakan sapuq (ikat kepala) meskipun kepala sudah bocor namun darah tidak mengalir maka hal tersebut tidak dianggap darah keluar.

52

3. HAL-HAL YANG DILARANG Selain pukulan yang menghasilkan poin ada beberapa hal yang dilarang dalam permainan peresean yang dapat menyebabkan pengurangan poin bahkan sampai kekalahan TKO. Berikut beberapa larangan dan pengurang poin dalam permainan peresean : a. Jatuh penjalin. Penjalin merupakan senjata utama dalam permainan perisaian sehingga menjatuhkan penjalin sebanyak 3 (tiga) kali seorang pepadu akan dinyatakan kalah TKO. b. Mantoq Nujah yaitu memukul dengan mengunakan pangkal penjalin (bagian pegangan), biasanya pepadu yang Mantoq Nujah akan dikenai pemotongan poin. c. Memukul lawan yang terjatuh. Pepadu adalah seorang ksatria sehingga tidak layak memukul lawan yang tidak berdaya.

53

d. Menjatuhkan diri secara sengaja, seorang pepadu yang menjatuhkan dirinya secara sengaja 3 kali dapat dinyatakan kalah TKO. e. Memukul mengunakan ende, seringkali ada beberapa pepadu yang berbuat curang salah satunya dengan mendekatkan ende ke wajah lawannya sehingga lawan terkena ende, dalam permainan peresean hal ini merupakan salah satu yang dilarang. Selain menang KO karena bocor dan jatuh penjalin 3 (tiga) kali di dalam permainan Peresean dikenal istilah Ngecop, istilah ini hampir sama dengan lembar handuk dalam permainan tinju yaitu untuk memberikan tanda kepada lawan bahwa pepadu yang bersangkutan menyerah yaitu dengan mengucapkan kata cop, cop. Apabila hal tersebut terjadi maka pepadu yang Ngecop dinyatakan kalah mutlak atau KO.

54

III.

OLAH RAGA DAN SENI PERESEAN SEBUAH TAWARAN REVITALISASI PERESEAN MENUJU OLAHRAGA MODERN Revitalisasi peresean merupakan jalan untuk dapat melestarikan dan mengembangkan oleh raga dan seni peresean itu sendiri. Tanpa adanya revitalisasi kecil kemungkinan olahraga persean dapat berkembang dan terus menjadi olah raga tradisional yang lambat laun akan semakin ditinggalkan. Kita dapat meniru pencak silat yang dulunya adalah olahraga tradisional Indonesia sekarang telah menjadi olahraga modern yang dipertandingkan di berbagai event olahraga nasional dan internasional. Selain pencak silat juga terdapat olahragaolahraga tradisional lain yang berkembang menjadi olahraga modern seperti karate, thai boxing, wushu, taekwondo, sumo dan lain sebagainya. Berikut berbagai tawaran untuk

merevitalisasi peresean menjadi sebuah olah raga tradisional yang mampu bertahan di era moderninasi ini :

55

1. PERESEAN AMATIR DAN PERESEAN PROFESIONAL Meniru olahraga tinju peresean bisa dibagi menjadi 2 jenis yaitu Amatir dan Profesional. Peresean amatir akan lebih menitikberatkan kepada olahraga yang dapat diajarkan semenjak usia dini tanpa adanya rasa takut akan terluka seperti halnya pada permainan peresean peresean amatir kalah saat ini. Pada

menang pepadu ditentukan oleh

akumulasi nilai pukulan yang didapat oleh pepadu, sedangkan kemenangan KO terjadi apabila pepadu

menyerah atau pekembarnya yang menyerah. Dalam peresean amatir tidak dikenal KO karena bocor kepala karena pepadu akan dilengkapi dengan pelindung kepala dan pelindung badan (body protektor) selain itu penjalin juga harus direvitalisasi dengan mengunakan bahan pelapis yang jika terkena pada tubuh tidak menimbulkan bekas luka yang parah. Berbeda dengan peresean amatir, peresean profesional tetap mengunakan aturan permainan yang mirip yang ada

56

saat ini. Pepadu tetap mengunakan sapuq tanpa pelindung kepala, sehingga TKO karena bocor kepala tetap ada. Perbedaan dengan permainan peresean saat ini adalah penambahan pekembar adil (juri) yang tugasnya adalah melakukan penilaian terhadap poin pukulan yang

dikumpulan oleh pepadu, sehingga kalah menangnya pepadu ditentukan oleh pekembar adil tidak seperti saat ini yang kalah menang pepadu ditentukan oleh pekembar tengaq. Dalam peresean profesional dan peresean amatir yang ditawarkan tugas pekembar tengaq adalah memimpin pertandingan dan menyatakan kalah menang pepadu yang TKO seperti tugas wasit dalam pertandingan tinju, sedangkan pekembar adil menentukan kalah menang berdasar angka/poin sehingga juga mirip dengan juri dalam pertandingan tinju.

57

2. AKTOR DAN PERLENGKAPAN PERMAINAN Seiring dengan revitalisasi permainan peresean maka secara tidak langsung harus ada revitalisasi terhadap actor dan perlengkapan peresean sebagai berikut : a. AKTOR PERMAINAN Sejalan dengan proses revitalisasi tersebut maka terdapat sedikit perubahan terhadap aktor-aktor yang berperan dalam permainan peresean. Actor-aktor tersebut adalah : i. ii. iii. iv. Pepadu, Pekembar Sedi Pekembar Tengaq Pekembar Adil Berbeda dengan permainan peresean yang ada saat ini perubahan actor-aktor yang berperan hanya pada penambahan pekembar adil yang berperan sebagai juri pertandingan dan mencatat perolehan angka yang diperoleh oleh pepadu yang bertanding. Selain itu juga diperlukan beberapa actor tambahan yang bertugas

58

membantu jalannya pertandingan seperti timer, tenaga kesehatan, pemain gamelan dan asisten pertandingan.

b. PERLENGKAPAN PERMAINAN Dalam olahraga modern salah satu yang harus

distandarkan adalah perlengkapan dan sarana permainan oleh karena itu berikut beberapa tawaran standarisasi perlengkapan dan sarana permainan peresean : a. Lapangan/Kalangan/Widen/Arena Permainan (TABE tawaran nama baru) Istilah kalangan yang selama ini dipakai dalam permainan peresean seringkali kurang enak didengar, karena istilah kalangan identik dengan perjudian. Ada sebuah tawaran yang diajukan oleh Kapolda NTB Brigjen. Polisi Drs. Arif Wachyunadi untuk memberikan nama lain dari kalangan yaitu TABE. Kata TABE berasal dari singkatan Taoq Bedait yang artinya tempat bertemu.

59

Selama ini tidak ada standar luas arena pertandingan peresean, dari berbagai sumber yang didapat di lapangan luas ideal TABE adalah 15 x 15 meter dengan catatan aktor yang berada di dalam TABE hanya pepadu, pekembar sedi dan pekembar tengaq

sedangkan pekembar adil ditempatkan di sisi pinggir kalangan. Pepadu akan ada di dua sudut berbeda yaitu sudut biru dan sudut merah konsekwensinya tidak akan ada lagi pemilihan tempat duduk pepadu berdasarkan perhitungan belian namun berdasarkan undian. b. Ende Ukuran ende selama ini juga tidak ada standar baku oleh karena itu diperlukan standar baku ende dengan tawaran sebagai berikut : i. Ende untuk kelas remaja dan Dewasa berukuran 40 x 60 cm dengan berat antara 3-5 Kg.

60

ii.

Ende Untuk kelas usia dini berukuran 30 x 50 cm dengan berat antara 2-3,5 Kg.

c. Penjalin Revitalisasi penjalin dilakukan dengan menambahkan pelapis pada bagian ujung penjalin dengan bahan yang tidak menyebabkan luka yang parah apabila mengenai tubuh. Sedangkan ukuran penjalin adalah sebagai berikut : i. Penjalin untuk kelas remaja dan Dewasa berupa rotan berukuran panjang 105 cm dengan diameter ujung 1,5 2 cm ii. Penjalin untuk kelas usia dini berupa rotan berukuran panjang 95 cm dengan diameter ujung 1 1,5 cm d. Pakaian Untuk tetap mengangkat budaya Sasak yang ada maka pakaian para actor peresean harus tetap

61

dipertahankan

seperti

saat

ini,

untuk

pepadu

mengunakan Atribut seperti sapuq, dodot dan bebet (ikat pinggang) dan dilarang mengunakan celana panjang. Khusus untuk peresean amatir tidak helm

mengunakan

sapuq

namun

mengunakan

pelindung kepala dan body protector. Sebagai penanda pepadu selain bebet yang dipakai maka akan dipakaikan bebet tambahan yang berwarna merah atau biru sesuai dengan sudut yang ditempati. Sedangkan untuk pekembar juga mengunakan baju adat sasak berupa baju Godek Nungkik (bisa juga digantikan dengan kaos atau tidak bertelanjang dada), Sapuq, dodot, dan Bebet. 3. ATURAN PERMAINAN Permainan peresean tetap akan dipertahankan dengan sistem perorangan dan Beregu. Khusus untuk beregu setiap regu terdiri dari 5 orang pepadu dengan seorang pekembar sedi, penentuan lawan antar pepadu

62

tetap mengunakan sistem nanding yang selama ini ada dimulai dengan para pekembar sedi kedua belah pihak maju ke depan sambil membawa perise dan penjalin. Mereka bertugas memilah dan memilih pepadu yang akan diadu. Setelah dirasa seimbang, kedua pekembar sedi akan memukul perise, bokboktanda bahwa masing-masing pasangan pepadu siap diadu secara bergiliran. Peresean professional dan peresean amatir dewasa akan dilaksanakan dalam 3 tarungan dengan durasi 2 menit setiap tarungannya dan istirahat 1 menit. sedangkan untuk peresean amatir usia dini dan remaja dilaksanakan 3 tarungan. Tanda mulai dan berhenti pada setiap tarungan ditandai dengan pemukulan gong besar sedangkan untuk pekembar tengaq dalam memimpin pertandingan

mengunakan peluit sebagai tanda. Apabila terjadi kekalahan TKO dan KO maka merupakan kewenangan dari dari pekembar tengaq sedangkan apabila sampai akhir tarungan terakhir tidak ada

63

yang menang TKO/KO maka hasil penjurian dari pekembar adil yang dipakai. Sistem penilaian yang dipakai adalah sebagai berikut : a. Pukulan di Kepala b. Pukulan di tangan c. Pukulan di Badan 3 Poin 2 Poin 1 Poin

d. Penjalin jatuh 3 kali dinyatakan TKO e. Khusus untuk peresean profesional apabila Bocor Kepala (bagian tubuh di atas leher, termasuk wajah) dinyatakan kalah TKO. Yang dimaksud bocor kepala adalah apabila ada darah yang keluar dari bagian kepala. Aturan lebih lanjut terkait aturan permainan

peresean terdapat dalam Awiq-awiq Peresean terlampir.

64

Daftar Acuan: Foucault, M., 1987, Seks, Kekuasaan dan Sejarah Seksualitas, Jakarta: Gramedia Pustaka. Toelken, 1979, Witchraft a History, London: Harvard University Press. Jonathan Wayne Riddle, Ancient Egyptian Stick Fighting Analysis and Reconstruction of the Sport, Journal of Combative Sport, Aug 2007 http://www.alliancemartialarts.com Lihat juga http://www.isi-dps.ac.id/berita/tradisi-gebug-ende http://balitv.tv/btv2/index.php/program/pesona-wisata-mainmenu37/4443-gebug-ende-tradisi-unik-turunkan-hujan http://lsotour.blogspot.com/2012/02/karaci-stick-fighting.html http://chyntia-abbo.blogspot.com Pikiran Rakyat, Kamis, 15 Oktober 2009.

Program Televisi RCTI, 3 Juli 2007, program acara Buletin Siang, berita tentang permainan ende (perise) di Bali. TV One, 6 Januari 2009, program acara Khatulistiwa, meliput tentang seni Pojian (pujian/sanjungan) dari Desa Blimbing, Bondowoso. Trans 7, 25 April 2009, program acara Jejak Si Gundul, meliput tentang permainan perisean di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

65

AWIQ-AWIQ PERESEAN (PERATURAN PERMAINAN PERESEAN)

PENDAHULUAN Permainan Peresean dilakukan berdasarkan rasa persaudaraan dan jiwa kesatria dengan berdasarkan unsur-unsur Wirasa, Wiraga dan WIrama. Permainan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan kategori yang diatur dalam peraturan Permainan dan dipimpin oleh pelaksana teknis Permainan yang sah. Permainan peresean terdiri dari Peresean Amatir dan Peresean Profesional yang masing-masing terdiri dari beberapa kategori yang terdiri dari : I. Kategori TANDING PERORANGAN II. Kategori TANDING BEREGU

Untuk dapat melaksanakan Permainan Peresean dengan sebaikbaiknya sesuai dengan maksud dan tujuannya, ditetapkanlah Peraturan Permainan sebagai berikut :

BAB I PERATURAN PERMAINAN Pasal 1 Permainan terdiri dari :

66

1. Peresean Amatir 2. Peresean Profesional

Pasal 2 Permainan peresean terdiri dari berbagai kategori yaitu : 1. Kategori TANDING PEREORANGAN adalah : Kategori Permainan Peresean yang menampilkan 2 (dua) orang Pepadu dari kubu yang berbeda dan disertai seorang Pekembar Sedi. Kedua pepadu saling berhadapan menggunakan unsur pembelaan dan serangan yaitu menangkis/mengelak/memukul pada sasaran;

menggunakan taktik dan teknik, ketahanan stamina dan semangat juang untuk mendapatkan nilai terbanyak atau membuat lawan TKO. 2. Kategori TANDING BEREGU adalah : Kategori Permainan Peresean yang menampilkan 10 (sepuluh) orang Pepadu dari 2 (dua) kubu yang berbeda. Tiap kubu didampingi seorang Pekembar sedi yang bertindak sebagai promoter dan official dari pepadu.Pekembar sedi juga berperan memilihkan lawan untuk pepadunya (Nanding).

Pasal 3 Penggolongan Permainan dan ketentuan tentang umur

67

1. Penggolongan Permainan Peresean menurut umur untuk peresean amatir terdiri atas : a) Permainan Golongan USIA DINI untuk Pepadu berumur diatas 9 tahun sampai dengan 12 tahun. b) Permainan Golongan REMAJA untuk Pepadu berumur diatas 12 tahun Sampai dengan 18 tahun. c) Permainan Golongan DEWASA untuk Pepadu berumur diatas 18 tahun sampai dengan 50 tahun.

2. Peresean Profesional hanya boleh diikuti oleh pepadu dewasa yang berumur diatas 18 tahun sampai dengan 50 tahun. 3. Kebenaran tentang umur Pepadu yang mengikuti Permainan dibuktikan dengan KTP/Akte Kelahiran / Ijazah / paspor. 4. Umur Pepadu harus sesuai dengan penggolongan umur peserta (Usia Dini atau Remaja atau Dewasa) dengan berpedoman kepada umur yang bersangkutan pada waktu tanggal / hari pertama Permainan dimulai, artinya: Pepadu pada tanggal / hari pertama Permainan dilaksanakan berumur tepat pada batas ketentuan umur minimal atau maksimal dari golongan yang diikuti. Umur yang menyalahi mengakibatkan Pepadu dikenakan diskualifikasi dari Permainan. 5. Pemeriksaan Kesehatan diharuskan kepada seluruh Pepadu dan Dilakukan sekurang-kurangnya 6 (enam) jam sebelum dimulainya Permainan pertama dalam satu Kejuaraan. Pepadu yang karena

68

alasan yang sah tidak dapat mengikuti Pemeriksaan Kehesatan, tetapi telah memenuhi persyaratan pendaftaran, dapat diikutkan dalam undian dan masuk dalam jadwal Permainan, tetap dapat mengikuti Permainan bila telah melakukan Pemeriksaan

Kesehatan sebelum Permainan.

Pasal 4 Perlengkapan TABE dan Permainan 1. TABE (Arena Pertandingan) a) TABE berbentuk bujursangkar beralas yang keras dan tidak licin, dapat dilantai dan dilapisi matras dengan tebal maksimal 5 (lima) cm, permukaan rata dan tidak memantul, boleh ditutup dengan alas yang tidak licin, berukuran 17 m x 17 m dengan garis pembatas sesuai dengan keperluaanya,

disediakan oleh Komite Pelaksana dengan penjelasan sebagai berikut : Bidang tanding berbentuk segi empat bujur sangkar dengan ukuran : 15m x 15m dengan garis pembatas yang jelas. Bidang 2 meter diluar bidang tanding diperuntukan pekembar sedi dan pekembar adil b) Sudut Pepadu adalah ruang pada sudut bujur sangkar Tabe yang berhadapan yang dibatasi oleh bidang tanding terdiri atas : i. Sudut berwarna biru yang berada disebelah ujung kanan administrasi pertandingan. bagi

69

ii.

Sudut berwarna merah yan berada diarah diagonal sudut biru

iii.

Sudut berwarna putih yaitu kedua sudut lainnya sebagai sudut

iv.

netral

2. Perlengkapan TABE Perlengkapan TABE yang wajib disediakan oleh Komite Pelaksana terdiri dari : a) Meja dan kursi Permainan b) Gemelan pengiring dan Penabuh serta penembang c) Formulir Permainan dan alat tulis menulis d) Jam Permainan, gong (alat lainnya yang sejenis) e) Lampu tarungan atau alat lainnya untuk menentukan tarungan f) Bendera kecil warna merah dan biru, bertangkai, masingmasing dengan ukuran 30 cm x 30 cm untuk Pekembar Adil g) Penjalin Penjalin untuk kelas remaja dan Dewasa berupa rotan berukuran panjang 105 cm dengan diameter ujung 1,5 2 cm Penjalin untuk kelas usia dini berupa rotan berukuran panjang 95 cm dengan diameter ujung 1 1,5 cm h) Ende

70

Ende untuk kelas remaja dan Dewasa berukuran 40 x 60 cm dengan berat antara 3-5 Kg. Ende Untuk kelas usia dini berukuran 30 x 50 cm dengan berat antara 2-3,5 Kg. i) Papan Skor untuk Kategori TANDING BEREGU j) Perlengkapan pengeras suara (sound system) k) Ember dan gelas plastik, kain pel, kesat / keset kaki l) Alat perekam suara / gambar, operator dan perlengkapannya (alat ini tidak merupakan alat bukti yang sah dalam menentukan kemenangan) m)Papan nama : Ketua Permainan, Pekembar Adil, Pekembar Tengaq, pekembar sedi, Sekretaris Permainan, n) Pengamat Waktu, Dokter Permainan, Pekembar Adil sesuai dengan urutannya o) Scoring Board Digital p) Perlengkapan lain yang diperlukan Antara lain, dalam keadaan tertentu (penonton terlalu ramai dan suara pekembar tengaq tidak dapat didengar oleh Pepadu) maka Pekembar Tengaq dapat menggunakan pengeras suara / pembesar suara (wireless) q) Peluit Untuk pekembar tengaq. r) Helm pelindung kepala untuk Peresean Amatir. s) Bebet berwarna merah dan biru untuk pepadu yang bertanding.

71

BAB II KETENTUAN PERMAINAN Pasal 5 1. Perlengkapan bertanding a) Pakaian Peresean Amatir Pepadu memakai pakaian Peresean yang terdiri Dodot dan Bebet dan tidak mengunakan sapuq melainkan menggunakan helm pengaman/body protector yang disediakan komite pelaksana. Selain mengunakan bebet sendiri pepadu juga akan mengunakan Bebet merah atau biru untuk Pepadu sebagai tanda pengenal sudut juga disediakan komite pelaksana. b) Pakaian Peresean Profesional Pepadu memakai pakaian Peresean yang terdiri Dodot, Bebet dan mengunakan sapuq. Selain mengunakan bebet sendiri pepadu juga akan mengunakan Bebet merah atau biru untuk Pepadu sebagai tanda pengenal sudut juga disediakan komite pelaksana.

2. Tahapan Permainan Permainan menggunakan tahapan tarungan Permainan mulai dari penyisihan, seperempat final, semi final dan final tergntung pada jumlah peserta Permainan

72

3. Tarungan Permainan dan waktu a) Untuk Remaja dan Dewasa pada peresean amatir Permainan dilangsungkan dalam 3 (tiga) tarungan. Tiap tarungan terdiri atas 2 (dua) menit, Diantara tarungan diberikan waktu istirahat 1 (satu) menit b) Untuk Usia Dini pada peresean amatir Permainan

dilangsungkan dalam 3 (tiga) tarungan Tiap tarungan terdiri atas 1,5 (satu setengah) menit diantara tarungan diberikan waktu istirahat 1 (satu) menit. c) Untuk peresean profesional Permainan dilangsungkan dalam 3 (tiga) tarungan. Tiap tarungan terdiri atas 2 (dua) menit, Diantara tarungan diberikan waktu istirahat 1 (satu) menit

4. Pekembar Sedi a) Kategori Perorangan Setiap pepadu perorangan didampingi seorang pekembar sedi yang berperan sebagai official pepadu. b) Kategori Beregu Setiap regu pepadu didampingi seorang pekembar sedi yang berperan sebagai official pepadu dan juga akan memilihkan lawan (nanding) pepadu. c) Pakaian Pekembar Sedi adalah pakaian Peresean yang terdiri dari dodot, bebet, sapuq dan mengunakan baju atau kaos (tidak bertelanjang dada)

73

d) Pekembar sedi bertugas memberikan nasehat serta membantu keperluan Pepadu pada saat sebelum bertanding dan dalam waktu istirahat diantara tarungan e) Hanya seorang Pekembar Sedi yang boleh memasuki gelanggang (sudut Pepadu) pada saat tidak aktif bertanding

5. Tata cara Permainan a. Persiapan dimulainya Permainan diawali dengan masuknya Pekembar Tengaq dan Pekembar Adil ke gelanggang dari sebelah kanan Ketua Pertandingan. Sebelum memasuki gelanggang pekembar tengaq Dan pekembar adil memberi hormat dan melapor tentang akan dimulainya pelaksanaan tugas kepada Ketua Permainan b. Setiap Pekembar sedi dari regu atau pepadu yang akan bertanding setelah mendapat isyarat dari Pekembar Tengaq, memasuki gelanggang dari sudut masing-masing, kemudian memberi hormat kepada Pekembar Tengaq dan Ketua Permainan. c. Selanjutnya pekembar tengaq memerintahkan pekembar sedi untuk memasukan pepadunya ke gelangang/TABE. d. Khusus untuk kategori TANDING BEREGU selanjutnya dilakukan tahapan NANDING yaitu tahapan memilih lawan pepadu, dimana para pepadu duduk disudutnya masing-masing kemudian Pekembar tengaq memerintahkan Pekembar Sedi

74

dari Sudut biru untuk mendirikan seorang pepadu yang akan ditapilkan pertama, setelah berdiri kemudian gentian pekembar sedi dari sudut merah diminta mendirikan pepadu yang akan melawan pepadu dari sudut biru yang telah berdiri apabila sudah selesai diakhiri dengan pemukulan ende mengunakan penjalin oleh pekembar sedi masing-masing dan seterusnya dilakukan secara bergantian sehingga masing-masing pepadu mendapatkan lawan masing-masing. Setelah itu pepadu kembali ke tempat semula di sudut kontingen. e. Selanjutnya pekembar tengaq mengambil penjalin yang akan digunakan dan menyerahkan kepada masing-masing pekembar sedi. f. Untuk memulai Permainan, Pekembar Tengaq memanggil kedua Pepadu (pepadu sudah membawa ended an penjalin), seterusnya kedua Pepadu saling memberi hormat dan kemudian menghormat ke ketua pertandingan dan penonton dan kemudian siap untuk memulai Permainan g. Setelah Pekembar Tengaq memeriksa kesiapan semua petugas dengan isyarat tangan, Pekembar Tengaq memberi aba-aba kepada kedua Pepadu untuk memulai Permainan yang ditandai dengan pemukulan gong tanda permulaan tarungan dan peniupan peluit oleh pekembar tengaq.

75

h. Pada waktu istirahat antara tarungan, Pepadu harus kembali ke sudut masing-masing. Pekembar sedi melaksanakan fungsinya sesuai ketentuan pasal 5 ayat 4. i. Apabila salah satu penjalin rusak maka, kedua penjalin pepadu harus diganti, untuk pergantian penjalin permainan dihentikan sementara dan waktu juga dihentikan sementara sampai proses pergantian penjalin selesai. j. Setelah tarungan akhir selesai, kedua Pepadu kembali ke sudut masing-masing untuk menunggu keputusan pemenang.

Pekembar Tengaq memanggil kedua Pepadu pada saat keputusan pemenang akan diumumkan dan pemenang diangkat tangannya oleh Pekembar Tengaq, dilanjutkan dengan memberi hormat kepada Ketua Permainan k. Selesai pemberian hormat, kedua Pepadu saling berjabatan tangan dan meninggalkan gelanggang dan dilanjutkan dengan pertandingan berikutnya l. Setelah selesai menjalankan tugasnya Pekembar Tengaq dan Pekembar Adil yang member hormat dan melaporkan berakhirnya pelaksanaan tugas kepada Ketua Permainan. Pekembar Tengaq dan Pekembar Adil setealh melaporkan meninggalkan gelanggang dari sebelah kiri meja Ketua Permainan 6. Ketentuan Permainan a) Aturan Permainan

76

i.

Pepadu saling berhadapan dengan menggunakan unsur pembelaan dan serangan peresean yaitu menangkis / mengelak, dan memukul lawan, menerapkan kaidahkaidah Peresean serta mematuhi larangan-larangan yang ditentukan.

ii.

Dalam permainan juga harus memperhatikan unsur wirama (atau mengikuti irama gamelan pengiring di waktu tertentu) untuk menambah unsur seni dalam permainan.

iii.

Di tengah permainan pepadu diperbolehkan untuk menari sekali waktu dan pepadu lawan juga harus mengimbangi menari dan dilarang untuk menyerah pepadu yang sedang menari. Apabila terlalu lama menari pekembar tengaq harus menghentikan dan melanjutkan permainan.

iv.

pepadu harus menjunjung sikap ksatria dan sportivitas sehingga dilarang memukul pepadu yang terjatuh dan memukul mengunakan ende atau mengucapkan kata-kata kotor dan penghinaan.

b) Aba-aba Permainan i. ii. 1 peluit panjang untuk memulai permainan. Peluit pendek beberapa kali untuk menghentikan permainan karena pepadu jatuh atau pepadu bermain terlalu dekat sehingga dikhawatirkan pepadu terkena

77

ende atau ada pelanggaran lainnya yang dilakukan oleh pepadu. iii. Pada awal dan akhir Permainan setiap tarungan ditandai dengan pemukulan gong c) Sasaran Yang dapat dijadikan sasaran sah dan bernilai adalah bagian tubuh dari pinggang ke atas. d) Larangan Larangan yang dinyatakan sebagai pelanggaran : i. Pelanggaran Ringan a. Keluar dari gelanggang secara berturut-turut. Yang dimaksud dengan berturut-turut adalah lebih dari 3 (tiga) kali dalam 1(satu) tarungan. b. Kedua Pepadu pasif atau bila salah satu Pepadu pasif lebih dari 10 (sepuluh) detik c. Menyerang lawan sebelum aba-aba MULAI dan menyerang sesudah aba-aba BERHENTI dari

Pekembar Tengaq,namun tidak menyebabkan lawan cidera.

ii.

Pelanggaran Berat a. Mantoq Nujah b. Memukul lawan yang jatuh c. Memukul mengunakan ende

78

d. Menyerang lawan sebelum aba-aba MULAI dan menyerang sesudah aba-aba BERHENTI dari

Pekembar Tengaq, menyebabkan lawan cidera e. Menentang, menghina, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, meludahi, memancing-mancing dengan suara berlebihan terhadap lawan maupun terhadap Aparat Permainan (Ketua Permainan, Tengaq dan Pekembar Adil) Pekembar

e) Hukuman Tahapan dan bentuk hukuman : i. Teguran Teguran diberikan apabila Pepadu melakukan

pelanggaran ringan Teguran terdiri atas Teguran I dan Teguran II Teguran berlaku hanya untuk 1 (satu) tarungan saja ii. Peringatan. Berlaku untuk seluruh tarungan, terdiri atas : Peringatan I : diberikan bila Pepadu melakukan : a. Pelanggaran berat b. Mendapat teguran yang ketiga akibat pelanggaran ringan setelah Peringatan I masih dapat diberikan teguran terhadap pelanggaran ringan dalam

tarungan yang sama Peringatan II :

79

Diberikan bila Pepadu kembali mendapat hukuman peringatan setelah peringatan I. Setelah Peringatan II masih dapat diberikan teguran terhadap pelanggaran ringan dalam tarungan yang sama Peringatan III : Diberikan bila Pepadu kembali mendapat hukuman peringatan setelah peringatan II, dan langsung dinyatakan diskualifikasi Peringatan III harus

dinyatakan oleh Pekembar Tengaq

iii.

Diskualifikasi Mendapat peringatan setelah peringatan I (mendapat peingatan III) Melakukan pelanggaran berat dengan hukuman peringatan I dan lawan cidera tidak dapat melanjutkan Permainan atas keputusan Dokter Permainan Pepadu terkena Doping Diskualifikasi adalah gugurnya hak seorang Pepadu dalam melanjutkan Permainan apabila Pepadu tersebut sudah pada tarungan Semi Final dan Final. Dan apabila Pepadu tersebut terkena Doping, maka gugur seluruh haknya pada Permainan tersebut.

f) Penilaian i. Ketentuan Nilai :

80

Terkena pukulan di bagian kepala dan menyebabkan darah mengalir maka dinyatakan kalah teknik (TKO) Jatuh penjalin 3 (tiga) kali dinyatakan kalah teknik (TKO) Memukul di bagian kepala poin 3 Memukul di bagian tangan poin 2 Memukul di bagian badan poin 1

ii.

Nilai hukuman Ketentuan nilai hukaman : Nilai 1 (kurang 1 ) diberikan bila Pepadu mendapat Peringatan I Nilai 2 (kurang 2 ) diberikan bila Pepadu mendapat Peringatan II

g) Penentuan Kemenangan i. Menang Angka Bila jumlah Pekembar Adil yang menentukan menang atas seorang Pepadu lebih banyak dari pada lawan, Penentuan kemenangan dilaksanakan oleh masingmasing Pekembar Adil. Bila terjadi hasil nilai yang sama maka pemenang ditentukan berdasarkan Pepadu yang paling sedikit mendapat nilai hukuman.

81

Bila hasilnya masih sama, maka Permainan ditambah 1 (satu) tarungan lagi. Bila hasilnya masih sama, maka diadakan

penimbangan berat badan Pepadu yang lebih ringan timbangannya dinyatakan sebagai pemenang. Hasil penilaian Pekembar Adil diumumkan pada papan nilai, setelah tarungan terahir/penentuan kemenangan selesai dilaksanakan. ii. Menang Tekhnik (TKO) Karena lawan tidak dapat melanjutkan Permainan karena permintaan Pepadu sendiri/mengundurkan diri. Atas permintaan Pekembar Sedi Jatuh Penjalin 3 Kali iii. Menang Mutlak (KO) Pekembar Tengaq Menghentikan Permainan Menang karena Permainan tidak seimbang Menang Undur Diri Menang karena lawan tidak muncul di gelanggang (Walk Over). Pepadu Bocor. Menang Diskualifikasi yaitu a. Lawan mendapat Peringatan III setelah Peringatan II, b. Melakukan pelanggaran berat dengan hukuman peringatan I dan lawan cidera tidak dapat

82

melanjutkan Permainan atas keputusan Dokter Permainan c. Pepadu terkena Doping

BAB III KOMITE PERMAINAN Pasal 8 Susunan Komite Permainan terdiri dari : a. Seorang Ketua Permainan dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh : b. Seorang Wakil Ketua Permainan sesuai dangan keperluan c. Seorang Sekretaris Pertandingan yang dapat dibantu oleh d. seorang Asisten Sekretaris Permainan e. Pengamat Waktu sekaligus sebagai penabuh gong dan pemberi isyarat f. Pembantu gelanggang (menyiapkan ende dan penjalin) g. Seorang Pekembar Tengaq h. Tiga orang Pekembar Adil terdiri atas seorang Ketua dan dua orang anggota. i. Dalam satu kejuaraan minimal terdiri dari 3 orang pekembar tengaq dan enam pekembar adil j. Dokter Permainan dan Tim Kesehatan

Pasal 9

83

Kreteria, Tugas dan Tanggung Jawab Komiti Permainan 1) Ketua / Wakil Ketua Permainan a. Ketua / Wakil Ketua Permainan berasal dari unsur Pekembar Tengaq atau Pekembar Adil b. Tugas dan tanggung jawab : Mengatur dan bertanggung jawab atas kelancaran jalannya pertandingan Memimpin Rapat teknik dengan pimpinan kontingen peserta Permainan sebelum Permainan dimulai,

didampingi oleh Pekembar Tengaq-Pekembar Adil Untuk memperingatkan dan kalau diperlukan mengganti petugas teknik lainnya bila petugas bersangkutan tidak menjalankan tugasnya dengan semestinya sesuai dengan penugasan dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya Menghentikan jalannya Permainan jika diperlukan Memutuskan masalah Permainan di tingkat pertama setelah meminta pertimbangan dan Dewan Pekembar Tengaq-Pekembar Adil c. Dalam melaksanakan tugasnya, Ketua Permainan dibantu oleh Wakil Ketua Permainan untuk memimpin Permainan secara bergiliran d. Ketua Permainan bertanggung jawab dan ditunjuk oleh perkumpulan peresean atas usulan panitia kejuaraan.

84

2) Sekretaris Permainan a. Sekretaris Permainan adalah seorang yang berpengalaman dan menguasai masalah administrasi Permainan yang ditunjuk oleh Komiti Pelaksana kejuaraan Bertugas dan

membantu

Ketua

Permainan

dalam

penataan

pengelolaan masalah administrasi Permainan. b. Dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh seorang Asisten Sekretaris c. Sekretaris Permainan bertanggung jawab kepada Ketua Permainan sedangkan Asisten Sekretaris Permainan

bertanggung jawab kepada Sekretaris. 3) Pekembar Tengaq Pekembar tengaq bertugas memimpin permainan dan

bertanggungjawab atas jalannya permainan 4) Pekembar Adil Pekembar adil bertugas memberikan penilaian terhadap jumlah angka yang diperoleh oleh pepadu termasuk

potongan/pengurangan nilai. 5) Pengamat Waktu Pengamat waktu ditunjuk dan ditugaskan oleh Komiti Pelakasana dari merekayang menguasai tugas tersebut serta Menghidupkan dan mematikan jam Permainan sesuai dengan waktu Permainan yang ditentukan atau berdasarkan aba-aba Pekembar Tengaq

85

6) Dokter Permainan Setiap Permainan yang diselenggarakan harus dihadiri, disaksikan dan dijaga oleh Dokter dan Tim Kesehatan yang ditunjuk oleh Komiti Pelaksana Dokter Permainan dimaksud adalah dokter olahraga yang memahami kesehatan olahraga. Tim Kesehatan harus dilengkapi dengan ambulance dan oksigen Dokter Permainan harus menyaksikan Permainan dilaksanakan Pasal 10 Pakaian Komite Permainan Seluruh anggota komite permainan mengunakan pakaian minimal dodot, bebet, sapuq dan kaos/baju (tidak bertelanjang dada) pertama hingga Permainan terakhir selesai

BAB IV PENUTUP Pasal 11 Peraturan Permainan Peresean ini mulai berlaku sejak ditetapkan

86