Anda di halaman 1dari 9
 
 
 

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

HUBUNGAN KARAKTERISTIK KULIT BUAH DENGAN INTENSITAS PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA PISANG CAVENDISH

A. Marthin Kalay

Program Studi Agroekotek Fakultas Pertanian Unpatti Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka Ambon Email. marthinkalay@yahoo.com

ABSTRACT

Banana fruits are sometimes destroyed because of microorganism infections. The famous disease in banana fruits is Anthracnose which caused by Colletotrichum musae. The objective of this research was to know the characteristic components of the Cavendish peel to the attacking intensity of Anthracnose. Banana fruits were harvest from banana tree with the age of 8 and 10 weeks after cutting the heart flower. The variables of this research were the characteristic components of the fruit peel, such as: texture, moisture contents, total sugar and total tannin concentrations, and the attacking intensity of Anthracnose. Correlation analysis between characteristic components of banana peel and attacking intensity of the Anthracnose was used Stepwise Regression. The results of the research indicated that the texture of the banana fruits were increased the attacking intensity of the Anthracnose.

Keywords: Bananas, cavendish, colletotrichum musae,. anthracnose

1. PENDAHULUAN

Pisang merupakan salah satu komoditi pertanian yang cukup penting di Indonesia dan

dikenal sebagai tanaman hortikultura berproduksi tinggi dengan prospek pemasaran yang cukup

baik (Soedibyo, 1980), dan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil utama pisang di

dunia selain Brasil, India, Philipina, Cina, dan Equador (Dirjen Pertanian Tanaman Pangan

Departemen Pertanian, 1994).

Di Indonesia, daerah sentra produksi pisang khususnya jenis Cavendish adalah di

Lampung dan Maluku Utara. Potensi pengembangan jenis pisang Cavendish ini masih sangat

luas karena kondisi agroklimat yang sesuai dan prospek pemasaran sampai ke luar negeri

(Kismosatmoro, 1999).

Buah pisang sering mengalami kerusakan setelah panen. Kosiyashinda et al. (1990)

mengemukakan bahwa kerusakan pada buah pisang antara lain berupa luka pada permukaan

kulit buah, pembentukan warna kulit dan daging tidak sempurna, kandungan nutrisi kurang dan

bercak-bercak atau busuk pada permukaan buah akibat infeksi mikroorganisme. Kerusakan

buah pisang karena infeksi mikroorganisme dapat terjadi pada waktu pemetikan, pengangkutan,

penyisiran dan penyimpanan (Feakin, 1971). Buah pisang yang terinfeksi mikroorganisme

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 118

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

penampakannya sangat tidak menarik walaupun infeksinya baru dipermukaan kulit buah (Murtiningsih et al, 1993), dan mempengaruhi kualitas buah pisang saat diekspor (de Bellaire & Mourichon, 2003). Penyakit pada buah pisang yang terkenal adalah penyakit Antraknosa disebakan oleh jamur Colletotrichum musae (Stover & Simmonds, 1987). Jamur ini dulunya dikenal dengan nama Gloeosporium musarum (Stover, 1972). Selain menyerang buah pisang setelah panen, juga dapat menyerang tanaman di lapangan (Semangun, 1989). Daerah penyerangan C. musae hampir di semua daerah penghasil pisang (Satuhu & Supriyadi, 1998), terutama pada daerah tropis (Hindorf, 2003). Perkembangan C. musae dipengaruhi oleh berbagai unsur pada kulit buah pisang. Martoredjo (1983) mengemukakan bahwa unsur seperti karbohidrat dan tanin sangat berpengaruh terhadap perkembangan mikroorganisme di dalam bahan. Mengacu dari hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai komponen karakteristik dari kulit buah seperti tekstur, kadar air, kadar total gula dan kadar tanin terhadap intensitas penyakit antraknosa pada pisang Cavendish.

2. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Percobaan dilaksanakan di laboratorium hortikutura dan aneka tanaman BSBTPH Dinas Pertanian Jawa Barat. Buah pisang yang digunakan adalah buah pisang dari jenis Cavendish yang dipanen pada umur 8 dan 10 minggu setelah pemotongan jantung (SPJ) dan diperoleh dari perkebunan pisang Calvendish di Lampung.

Penyediaan Inokulum Colletotrichum musae Inokulum C. musae diperoleh dari buah pisang yang menunjukkan gejala permukaan buah ditutupi dengan noda gelap, terdapat titik-titik berwarna merah jambu. Dari permukaan kulit buah pisang yang menunjukkan gejala tersebut diambil inokulum dengan bantuan jarum ose kemudian dimasukan ke dalam cawan petri yang berisi media PDA, selanjutnya diinkubasikan selama 1 minggu pada suhu 28 o C ± 2 0 C. Jamur yang tumbuh selanjutnya dibuat biakan murni untuk digunakan dalam percobaan.

Penyiapan Buah Pisang dan Inokulasi C. musae Buah pisang Cavendish diperoleh dari perkebunan pisang Calvendish di Lampung. Pada tandan pisang yang berumur kurang lebih 3 minggu setelah jantung muncul dilakukan pemotongan jantung dan pembungkusan tandan dengan plastik berwarna biru muda, dan diberi tanda dengan ikatan tali plastik berwarna sesuai minggu pengamatan. Setelah buah pisang mencapai umur 8, dan 10 minggu SPJ dilakukan panen, pemotongan sisir, dicuci dengan air kran yang mengalir untuk membersihkan getah, dikering anginkan, dimasukkan dalam box

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 119

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

karton, diangkut ke tempat percobaan. Setelah tiba di tempat percobaan, sisir dipisah- pisahkankan berdasarkan perlakuan dan pengamatan, dicuci lagi dengan air kran yang mengalir

untuk membersihkan getahnya, dikering anginkan, kemudian pisang dibasahi secara merata dengan larutan ethrel (1,5 mL/L air) dengan cara disemprot, selanjutnya dibiarkan kering angin. Sebanyak 40 buah pisang dipisahkan menjadi dua bagian untuk berbagai umur panen. Tiap bagian diambil masing-masing 10 buah untuk pengamatan destruksi yaitu tekstur, kadar

air, kadar total gula dan kadar tanin dari kulit buah, dan satu bagian untuk pengamatan intensitas

penyakit sebanyak 10 buah. Inokulasi C musae dilakukan dengan cara buah pisang dibuat luka berbentuk bulatan (diameter 4 mm) dengan menggunakan carborundum sebanyak 8 bulatan luka per buah. Biakan murni C. musae sebanyak 5 petridish (Ø 9 cm) diencerkan dengan aquades dengan kepadatan 10 6 spora/mL sebanyak 100 mL, kemudian diinokulasi dengan cara meneteskan 1 tetes (0,05

mL) suspensi pada tiap tempat pelukaan, kemudian masukan dalam kotak karton berukuran 50

cm x 50 cm x 20 cm dengan memiliki penutup yang transparan, selanjutnya karton-karton tersebut disimpan pada rak penyimpanan.

Pengamatan Respons pengamatan adalah tekstur, kadar total gula, kadar tanin dan kadar air kulit buah pisang ; dan intensitas penyakit yang diukur pada saat buah pisang mencapai indeks kematangan VII (warna kulit kuning penuh dengan bercak coklat). Untuk melihat hubungan antara komponen karakteristik kulit buah dengan intensitas penyakit dilakukan dengan uji regresi bertatar (Stepwise Regression) menggunakan soft ware SigmaStat versi 2.01. Teknik pengamatan dan pengukuran dari masing-masing peubah respons sebagai berikut:

Intensitas Penyakit. Pengamatan intensitas penyakit dilakukan untuk mengetahui berapa persen luas serangan C. musae pada kulit buah pisang Cavendish. Pengukuran dilakukan menggunakan pendekatan seperti yang dikemukakan oleh Natawigena (1993), sebagai berikut :

P

=

Σ (.)

n v

Z

.

N

x 100%

dimana : P = Intensitas penyakit, n = Jumlah buah pisang yang menunjukkan kategori serangan tertentu, v = Nilai skala dari tiap-tiap kategori serangan, Z = Nilai skala tertinggi dari kategori serangan, N = Jumlah keseluruhan buah pisang yang diamati (N = 5). Nilai skala dari tiap-tiap kategori serangan mengukuti pendekatan Satuhu & Sabari (1989) yaitu nilai 0 = Tidak ada serangan (0 %), 1 = luas serangan 4 % dari rata-rata luas buah, 2 = luas serangan > 4% - 10% dari rata-rata luas buah, 3 = luas serangan >10% - 25% dari rata-

rata luas buah, luas serangan > 25% - 50 % dari rata-rata luas buah, 4 = luas serangan > 25% -

50 % dari rata-rata luas buah, dan 5 = luas serangan > 50 % dari rata-rata luas buah

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 120

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Tekstur. Pengukuran tekstur dilakukan untuk mengetahui kekerasan pada kulit buah pisang

Cavendish. Pengukuran tekstur dilakukan menggunakan alat penetrometer (metode Messtorff).

Kadar Total Gula. Pengukuran kadar total gula dilakukan bersamaan dengan pengukuran

tekstur, dengan menggunakan metode Luff Schoorl seperti yang dikemukakan oleh AOAC

(1984).

Kadar Tanin. Pengukuran kadar tanin dilakukan bersamaan dengan pengukuran tekstur,

dengan menggunakan metode Lowenthal-Procter seperti yang dikemukakan oleh Sudarmadji et

al. (1977).

Kadar air. Pengukuran kadar air dilakukan bersamaan dengan pengukuran tekstur, dengan

menggunakan metode gravimetri (pengeringan) seperti yang dikemukakan oleh Apriyantono et

al, (1989).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas penyakit, tekstur, kadar gula total dan kadar air pada kulit dari buah pisang

cavendish yang dipanen pada umur 8 dan 10 minggu SPJ menunjukkan bahwa intensitas

penyakit, tekstur, kadar gula total dan kadar air bertambah secara signifikan seiring

bertambahnya umur panen buah (Tabel 1).

Tabel 1. Intensitas Penyakit serta tekstur, Kadar Total Gula, Kadar Tanin, dan Kadar Air pada Kulit Buah Pisang Cavendis yang dipanen pada Umur 8 dan 10 Mingga SPJ

Variabel Pengamatan

Umur Panen

8 minggu SPJ

10 minggu SPJ

Intensitas Penyakit (%)

56,20 a*

80,10 b

Tekstur (mm/100 gr/dtk)**

11,73 a

10,47 b

Kadar total gula (%)

3,28 a

3,54 b

Kadar Tanin (%)

0,12 a

0,07 a

Kadar air (%)

76,76 a

77,32 b

Keterangan: * angka yang diikuti dengan huruf yang sama dalam baris yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan secara signifikan. ** makin besar nilai tekstur menunjukkan tingkat kekerasan semakin berkurang

Tingginya intensitas penyakit yang berbeda yang ditunjukkan pada Tabel 1, dapat

disebabkan oleh adanya bahan organik dan senyawa-senyawa tertentu yang terkandung di dalam

kulit buah. Senyawa organik yang berpengaruh terhadap perkembangan jamur penyebab

kerusakan pada suatu bahan adalah karbohidrat dan tanin (Martoredjo (1983). Kandungan kedua

senyawa organik ini juga berbeda untuk buah pisang yang dipanen pada umur berbeda (8 dan 10

minggu SPJ). Wahyono & Sugiharto (1998) mengemukakan bahwa buah yang telah terbentuk

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 121

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

sempurna memiliki kandungan karbohidrat lebih tinggi dibanding dengan buah yang belum

terbentuk sempurna.

Perbedaan kekerasan kulit buah yang signifikan terjadi pada buah pisang yang dipanen

berbagai umur 8 dan 10 minggu SPJ (Tabel 1) disebabkan kandungan organ yang tertimbun

dalam kulit buah seperti protopektin, asam-asam pektinat, pektin, selulosa dan asam pektat yang

terdapat dalam dinding sel dan lamela tengah. Mattoo et al. (1997) mengemukakan bahwa pada

buah pisang yang masih muda penimbunan organ seperti protopektin pada buah belum terjadi

secara sempurna, dan akan selalu bertambah selama perkembangan buah. Simmonds (1966)

menambahkan bahwa kandungan pektin dan selulosa berpengaruh pada tekstur buah.

Kadar total gula pada kulit buah pisang mengalami perbedaan yang signifikan yang

terjadi pada buah pisang dipanen pada umur 8 dan 10 minggu SPJ (Tabel 1), terjadi karena

akumulasi bahan-bahan organis hasil fotosintesis yang ditransfer keseluruh bagian tanaman.

Muchtadi (1992) mengemukakan bahwa selama penuaan buah terjadi akumulasi karbohidrat

dalam bentuk pati. Pati akan terurai menjadi gula, dan ini dapat terjadi pada kulit buah pisang

sebelum dipanen. Ridwan (1989) menambahkan, bahwa kadar gula lebih tinggi pada buah

pisang mentah yang dipanen pada umur lebih tua dibandingkan dengan yang dipanen pada umur

muda, karena sebagian pati sudah terlebih dahulu mengalami hidrolisis menjadi gula.

Selanjutnya dikemukakan juga bahwa umur panen pisang yang lebih tua selama proses

pematangan, kandungan pati lebih banyak terhidrolisis menjadi gula, dengan demikian umur

panen pisang yang lebih tua, kadar gulanya cenderung lebih tinggi.

Kadar tanin pada kulit buah pisang yang dipanen pada umur 10 minggu SPJ lebih

rendah dibandingkan dengan umur panen 8 minggu SPJ, namun tidak menunjukkan perbedaan

yang signifikan (Tabel 1). Rendahnya kandungan tanin ini disebabkan menjelang ketuaan, tanin

dalam kulit buah mengalami degradasi. Winarno & Wirakartakusumah (1981) mengemukakan,

bahwa pada buah-buahan, kadar tanin tertinggi terdapat pada buah yang masih muda, dan

setelah tua kandungan taninnya menurun.

Kadar air dalam kulit buah pisang yang dipanen pada umur 10 minggu SPJ secara

signifikan lebih tinggi dibandingkan kulit buah yang dipanen pada umur 8 minggu SPJ.

Perbedaan ini erat hubungannya dengan suplai air oleh tanaman dari tanah ke seluruh bagian

tanaman termasuk kulit buah. Ridwan (1989) mengemukakan bahwa, kadar air pada buah

pisang yang paling tinggi terdapat pada umur panen yang paling tua, baik pada buah pisang

yang masih mentah maupun pada buah pisang yang telah matang.

Hubungan Karakteristik Kulit Buah dengan Intensitas Penyakit Antraknosa Pada Pisang Cavendish

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 122

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Tingginya intensitas penyakit pada buah pisang Cavendish sangat erat hubungannya dengan komponen yang terkandung dalam kulit buah. Komponen yang memberikan pengaruh antara lain adalah tekstur, kadar total gula, kadar tanin dan kadar air. Analisis regresi bertatar (Stepwise Regression) dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh komponen X (tekstur, kadar total gula, kadar tanin, kadar air) terhadap komponen Y (intensitas penyakit). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa tekstur (kekerasan) kulit buah pisang secara signifikan berpengaruh terhadap intensitas penyakit. Dengan memperpanjang umur panen, kekerasan kulit buah berkurang sejalan dengan peningkatan intensitas penyakit. Simmonds (1966) mengemukakan bahwa, jamur C. musae berkembang lebih cepat pada tekstur buah yang lunak.

Kadar total gula, kadar air dan tanin di dalam kulit buah secara tidak signifikan berpengaruh terhadap intensitas penyakit antraknosa pada buah pisang Cavendish. Meskipun secara teori peranan gula merupakan sumber karbon yang baik bagi perkembangan jamur. Tanin dalam peranannya menekan perkembangan jamur. Dalam peneliotian ini, penurunan kadar tanin pada kulit buah pisang yang dipanen pada umur 10 minggu SPJ tidak mampu meningkatkan intensitas penyakit secara signifikan. Menurut Choong et al. (1990), tanin merupakan senyawa organik yang terdiri dari campuran senyawa polifenol kompleks. Selanjutnya dikemukakan oleh Oswald & Tampubolon (1981) bahwa senyawa fenol dapat bersifat desinfektan, dan dapat masuk ke dalam tubuh jamur untuk membentuk dinding sel baru sehingga terganggunya pembelahan sel menyebabkan pertumbuhan jamur menjadi abnormal. Selain itu juga dapat menyebabkan terhambatnya sporulasi, pertumbuhan jamur dan konidiofor menjadi lambat sehingga pembentukan konidia terganggu. Menurut Nurwantoro & Djarijah (1997), kadar air dalam suatu bahan pangan, mempengaruhi metabolisme mikroorganisme yang tumbuh pada bahan pangan tersebut. Kadar air yang rendah mengakibatkan nilai aktivitas air (a w ) juga rendah dalam bahan pangan. Dengan adanya penurunan nilai a w mempengaruhi aktivitas perkembangan mikroorganisme. Namun dalam penelitian ini, kadar air tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan intensitas penyakit pada buah pisang Calvendish yang dipanen pada umur 8 dan 10 minggu SPJ. 4. KESIMPULAN

Intensitas penyakit antraknosa, tekstur (kekerasan), kadar total gula dan kadar air di dalam kulit buah Cavendish berbeda secara signifikan antara buah yang dipanen pada umur 8 minggu SPJ dengan buah yang dipanen pada umur 10 minggu SPJ. Tekstur (kekerasan) pada kulit buah pisang secara signifikan berpengaruh terhadap intensitas penyakit. Sedangkan kadar total gula, kadar tanin dan kadar air tidak memberikan

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 123

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

pengaruh terhadap intensitas penyakit antraknosa pada buah pisang Cavendish yang dipanen pada umur 8 minggu SPJ dengan buah yang dipanen pada umur 10 minggu SPJ.

DAFTAR PUSTAKA

AOAC. 1984. Official Methods of Analysis of the Association of Official Analytical Chemists. AOAC, Washington DC. Apriyantono, A., Fardiaz. D., Puspitasari, N.L., Sedarmawati., dan S. Budiyanto. 1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Pendidikan Tinggi, PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor. Coong, E.T., Hemingway. R.W., Laks. P.E., dan S.S. Achmadi. 1990. Treatment of Wood with Condensed Tannins for Improved Dimensional Stability and Durability. Louisiana Agricultural Experiment Station, Baton Rounge, Louisiana (Project report) de Bellaire, L.L and X. Mourichon . 2003. The Biology of Colletotrichum Musae (Berk. Et Curt.) Arx and its Relation to Control of Banana Anthracnose. International Symposium on Banana in the Subtropics. Horticulturae 490. Dirjen Pertanian Tanaman Pangan Departemen Pertanian. 1994. Penuntun Budidaya Buah- Buahan (Pisang). Kerjasama Dirjen Pertanian Tanaman Pangan Departemen Pertanian RI dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, Bandung. Feakin, S.D. 1971. Pest Control Banana Pans Manual. Phytophat 9: 53 - 96. Hindorf, H. 2003. Colletotrichum Spp. Causing Anthracnose of Tropical Crops. International Society for Horticultural Science Conference on Fruit Production in the Tropics and Subtropics. Acta Horticulturae 531. Kismosatmoro. 1999. Penanganan Pascapanen Pisang. Buletin Pascapanen Hortikultura 1: 43 -

48.

Kosiyachinda, S., Pantastico. Er. B., Azizan. A.M., Abdullah. A., Acedo. A.L., and I.M. Dasuki.

1990. Physiological Disorders of Banana Fruts. In. Abdullah.H. and Er.B. Pantastico (Eds). Banana. ASEAN-COFAF, Jakarta. Martoredjo, T. 1983. Ilmu Penyakit Lepas Panen. Departemen Ilmu Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. Matto, A.K., Murata. T., Pantastico. Er.B., Chachin. K., dan C.T. Phan. 1997. Perubahan- Perubahan Kimiawi Selama Pematangan dan Penuaan. In Er. B. Pantastico, ed. Fisiologi Pascapanen Penanganan dan Pemanfaatan Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran Tropika dan Subtropika. Penterjemah : Kamariyani. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 124

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Muchtadi, D. 1992. Fisiologi Pasca Panen Sayuran dan Buah-Buahan (Petunjuk Laboratorium). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor. Murtiningsih.W., Yuliansingsih., Muhadjir. I., dan Tisnawati. 1993. Pengendalian Jamur Colletotrichum sp dan Botryodiplodia sp. Penyakit Pasca Panen Buah Pepaya. Penelitian Hortikultura 5: 58 - 64. Natawigena, H.H. 1993. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Penerbit Trigenda Karya, Bandung. Nurwantoro dan A.S. Djarijah. 1997. Mikrobiologi Pangan Hewani-Nabati. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Oswald, T. dan J. Tampubolon. 1981. Tumbuhan Obat. Penerbit Usaha Nasional, Surabaya. Ridwan, I.N. 1989. Effect of Harvesting Age of “Pisang Ambon Jepang” (Musa cavendishii Lambert). Jurnal of Agro-based Industry 6: 16-20. Satuhu, S dan S.D. Sabari. 1989. Pengaruh Perlakuan Sportak, Benlate dan Air Panas Terhadap Daya Simpan Pisang Raja Bulu. Penelitian Hortikultura 3 : 105 - 109. Satuhu, S. dan A. Supriyadi. 1998. Pisang, Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar. Penebar Swadaya. Jakarta. Semangun, H. 1989. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Simmonds, N.W. 1966. Bananas. Longman Inc, New York. Soedibyo, 1980. Pisang Sebagai Komoditi Ekspor dan Beberapa Hasil Olahannya. Warta Pertanian No. 60. Departemen Pertanian, Yogyakarta. Stover, R.H. 1972. Banana, Plantain and Abaca Diseases. Commonwealth Mycological Institute Kew. Surrey, England. Stover, R.H and N.W. Simonnds.1987. Bananas. John Wiley & Sons Inc, New York. Sudarmadji, S., Haryono. B., dan Suharti. 1977. Prosedur Analisis Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty Yogyakarta. Wahyono, A dan B. Sugiharto. 1998. Penundaan Proses Pemasakan Buah dengan Rekayasa Genetika Hormon Etilen. Jurnal Agribisnis 2: 1 - 8. Winarno, F.G dan M.A. Wirakartakusumah., 1981. Fisiologi Lepas Panen. Penerbit Sastra Hudaya, Jakarta.

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 125

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

ISBN : 978-979-1165-74-7

VIII - 126