Anda di halaman 1dari 2

Jawaban Psiter no.

5 Paul Hersey dan Ken Blanchard telah mengembangkan suatu model kepemimpinan yang disebut teori kepemimpinan situasional, yaitu suatu teori kemungkinan yang memusatkan perhatian pada kesiapan para pengikut. Menurut faktor ini gaya kepemimpinan selalu berbeda denga tuntutan situasi. Pimpinan sebelum bertindak dituntut untuk dapat mendiagnoosa situasi yang di hadapi. Oleh karena iti pimpinan dituntut mengubah perilaku sesuai dengan tuntutan situasi dan kenbutuhan saat itu.

Kepemimpinan situasional menggunakan dua dimensi kepemimpinan yaitu : 1. Perilaku Tugas Adalah kadar sejauhmana pimpinan menyediakan arahan kepada orang-orang dengan memberitahu mereka apa yang harus dilakukan, kapan melakukannya, dimana dan bagaimana melakukannya. Hal ini berarti pemimpin menyusun tujuan dan menetapkan peranan mereka. 2. Perilaku hubungan Adalah kadar sejauhmana pimpinan melakukan hubungan dua arah dengan orang-orangnya seperti menyediakan dukungan, dorongan, gambaran-gambaran psikologi dan memudahkan perilaku. Dalam menerapkan suatu gaya kepemimpinan ada anggapan bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang dianggap paling sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena gaya kepemimpinan pada situasi tertentu belum tentu sesuai dengan situasi lain. Hersey dan Blanchard yang diterjemahkan oleh Agus Dharma (1995-187) memberikan definisi tentang tingkat kematangan bawahan yang terdiri dari dua dimensi sebagai berikut : 1. Kematangan pekerjaan merupakan kemampuan dalam hal pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan sesuatu. Orang-orang yang memiliki kematangan pekerjaan yang tinggi dalam bidang tertentu memiliki pengetahuan kemampuan dan pengalaman untuk melaksanakan tugastugas tertentu tanpa arahan dari orang lain. 2. Kematangan psikologis merupakan kemauan untuk melakukan sesuatu. Hal ini erat kaitannya dengan rasa yakin dan berikatan, orang-orang yang sangat matang dalam bidang psikologis tanggungjawab merupakan hal yang penting serta memiliki rasa yakin terhadap diri sendiri dan

mereka tidak memerlukan dorongan ekstensif untuk mau melakukan hal-hal dalam bidang tersebut. Berdasarkan teori kepemimpinan situasional yang telah dijabarkan diatas dan dikaitkan dengan situasi pada soal, sebagai seorang manajer baru hal pertama yang dilakukan adalah mempelajari laporan keberjalanan perusahaan sehingga diketahui hal-hal apa saja yang telah dilakukan dan yang masih terkendala untuk dilakukan. Dengan mempelajari laporan tersebut, dapat muncul ide dan inovasi-inovasi yang dapat dilakukan untuk memajukan perusahaan. Seorang manajer baru juga harus mengenal para staf untuk mengetahui tingkat kematangan staf dan mempererat team bonding antara manajer baru dengan stafnya sehingga tercipta atmosfer yang baik dan kenyamanan dalam bekerja. Salah satu caranya dengan melakukan team building atau gathering kecil. Untuk mengeksplor lebih jauh tentang keberjalanan perusahaan perlu dilakukan brainstorming dengan para staf untuk mengidentifikasi apa saja kendala yang masih dihadapi sekarang dari sisi staffing, waktu kerja, pendanaan dan lain sebagainya kemudian menyusun strategi dan langkah apa saja yang harus dilakukan guna menyelesaikan masalah tersebut. Langkah-langkah yang akan ditempuh kemudian diuji feasibilitasnya dari berbagai aspek sehingga tidak berpotensi merugikan perusahaan. Selain itu seorang manajer baru dapat memberikan atnosfer baru dalam bekerja dengan meningkatkan kinerja staf dengan pemberian penghargaan atas pencapaian para stafnya, pemberian beasiswa untuk peningkatan kapasitas akademik staf atau keluarganya, serta memberikan budaya baru yang berbeda dari gaya kepemimpinan manajer sebelumnya. Dengan hal tersebut diharapkan kinerja staf lebih maksimal sehingga pencapaian perusahaan lebih baik dari tahun sebelumnya. Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/management/2271696-gayakepemimpinan/#ixzz1uWcO5P29, tanggal akses 11 Mei 2012
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=71279, tanggal akses 11 Mei 2012