Anda di halaman 1dari 8

RINOSINUSITIS MAKSILARIS DENTOGEN DENGAN KOMPLIKASI SELULITIS PERIORBITA

Abstrak Rinosinusitis dentogen merupakan suatu infeksi rongga sinus yang disebabkan oleh adanya penyebaran infeksi dari gigi. Secara anatomis apeks gigi-gigi rahang atas sangat dekat dengan dasar sinus, terutama sinus maksilaris. Gigi yang berlubang, adanya abses atau infeksi di sekitar gigi harus segera diobati sebab masalah gigi di rahang atas dapat menjalar sampai ke sinus. Komplikasi dari rinosinusitis dapat menyebar ke orbita dan intrakranial. Dilaporkan satu kasus rinosinusitis maksilaris detogen dengan komplikasi selulitis periorbita pada seorang wanita umur 17 tahun dengan keluhan utama keluar nanah yang berbau busuk dari lubang hidung dan adanya riwayat sakit gigi. Telah dilakukan pengobatan dengan antibiotik yang adekuat. Kata kunci: rinosinusitis dentogen, komplikasi selulitis periorbita, antibiotik.

PENDAHULUAN Rinosinusitis adalah peradangan pada satu atau lebih mukosa sinus paranasal.1,2,3 Penyakit rinosinusitis selalu dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks osteomeatal oleh infeksi, obstruksi mekanis atau alergi dan oleh karena penyebaran infeksi gigi.2,3 Secara anatomis apeks gigi-gigi rahang atas selain insisivus sangat dekat dengan dasar sinus maksila sehingga bila terjadi karies, abses atau infeksi di sekitar gigi dapat menjalar sampai ke sinus maksila.2,4 Rinosinusitis maksilaris dentogen merupakan 10-12% dari kasus rinosinusitis maksila.4,5 Diagnosis rinosinusitis odontogenik harus dipertimbangkan pada individu dengan gejala rinosinusitis maksila disertai riwayat infeksi odontogenik, bedah dentoalveolar, bedah periodontal, atau pada pengobatan yang resisten terhadap terapi sinusitis.5 Diagnosis biasanya membutuhkan evaluasi klinis gigi dan radiografi.4,5

ETIOLOGI Terjadinya rinosinusitis dentogen dapat melalui beberapa cara antara lain; (1) penjalaran infeksi gigi, infeksi periapikal gigi maksila dari kaninus sampai gigi molar tiga atas. Biasanya infeksi lebih sering terjadi pada kasus-kasus akar gigi yang hanya terpisah dari sinus oleh tulang yang tipis, walaupun kadang-kadang ada juga infeksi mengenai sinus yang dipisahkan oleh tulang yang tebal. (2) Prosedur ekstraksi gigi, misalnya terdorong gigi ataupun akar gigi sewaktu akan diusahakan mencabutnya, atau terbukanya dasar sinus sewaktu dilakukan pencabutan gigi. (3) Penjalaran penyakit periodontal yaitu adanya penjalaran infeksi dari membran periodontal melalui tulang spongiosa ke mukosa sinus. (4) Trauma, terutama fraktur maksila yang mengenai prosesus alveolaris dan sinus maksila. (5) Hubungan langsung gigi maksila dengan sinus maksila terutama gigi molar tiga terpendam. (6) Adanya benda asing dalam sinus berupa fragmen akar gigi dan bahan tambalan akibat pengisian saluran akar yang berlebihan. (7) Osteomielitis akut dan kronis pada maksila. (8) Kista dentogen yang seringkali meluas ke sinus maksila, seperti kista radikuler dan folikuler. (9) Neoplasma yang mengadakan infiltrasi ke dalam sinus maksila.4,5,12 PATOFISIOLOGI Kegagalan transpor mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan faktor utama berkembangnya rinosinusitis.3 Rinosinusitis dentogen dapat terjadi melalui dua cara yaitu yang pertama infeksi gigi yang kronis dapat menimbulkan jaringan granulasi di dalam mukosa sinus maksilaris, hal ini akan menghambat gerakan silia ke arah ostium dan berarti menghalangi drainase sinus. Gangguan drainase ini akan mengakibatkan sinus mudah mengalami infeksi. Cara lain yaitu kuman dapat menyebar secara langsung, hematogen atau limfogen dari granuloma apikal atau kantong periodontal gigi ke sinus maksila.2,4 Patofisiologi rinosinusitis adalah sebagai berikut: Inflamasi mukosa hidung menyebabkan pembengkakan dan eksudasi, yang mengakibatkan obstruksi ostium sinus.2,4,5 Obstruksi ini menyebabkan gangguan ventilasi dan drainase, resorbsi oksigen

yang ada di rongga sinus, kemudian terjadi hipoksia dimana terjadi penurunan oksigen, pH menurun dan tekanan intra sinus yang negatif, selanjutnya diikuti peningkatan permeabilitas kapiler, sekresi kelenjar meningkat kemudian transudasi, peningkatan eksudasi serous, penurunan fungsi silia, akhirnya terjadi retensi sekresi di sinus yang sangat cocok untuk pertumbuhan kuman.13 DIAGNOSIS Diagnosis rinosinusitis dentogen ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan nasoendoskopi dan pemeriksaan penunjang.2,3,13 Pada anamnesis didapatkan riwayat rinore purulen dan biasanya bau, adanya riwayat infeksi atau trauma pada gigi, sumbatan hidung, nyeri tekanan pada muka, nyeri kepala, demam, ingus belakang hidung, batuk, anosmia atau hiposmia, nyeri periorbital dan nyeri gigi. Pemeriksaan rinoskopi merupakan pemeriksaan rutin untuk melihat tanda patogen pada rongga hidung yaitu pada rinoskopi anterior didapatkan sekret purulen di meatus medius atau superior atau pada rinoskopi posterior akan tampak adanya sekret purulen di nasofaring. Pemeriksaan nasoendoskopi dilakukan untuk menilai kondisi kavum nasi hingga ke nasofaring. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan dengan jelas keadaan dinding lateral hidung. Pemeriksaan penunjang dapat berupa pemeriksaan foto sinus paranasal, pemeriksaan mikrobiologi, pemeriksaan gigi dan pemeriksaan CT scan sinus paranasal.2,13 Sesuai dengan kriteria American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery 1996, yang mana diagnosis rinosinusitis membutuhkan setidaknya 2 faktor mayor atau setidaknya 1 faktor mayor dan 2 faktor minor dari serangkaian gejala dan tanda klinis, riwayat penyakit gigi geligi, serta temuan radiologi sinus paranasal dan CT Scan. Selain itu, kadang diperlukan konsultasi dengan departemen kedokteran gigi untuk mendukung dan membuat diagnosis rinosinusitis dentogen serta penatalaksanaannya.2,13,14

PENATALAKSANAAN Prinsip penatalaksanan rinosinusitis dentogen adalah mengatasi masalah gigi, konservatif dan operatif.13,15 Penatalaksanaan konservatif menurut algoritma dan prosedur penatalaksanaan rinosinusitis akut, terapi konsevatif medikamentosa berupa antibiotik empirik selama 2 x 24 jam, diberikan antibiotik lini I seperti amoksisilin atau kotrimoksazol ditambah dengan terapi tambahan antara lain dekongestan, mukolitik dan analgetik.13,14 Bila ada perbaikan terapi diteruskan selama 7 14 hari, bila tidak ada perbaikan diberikan antibiotik lini II seperti amksilin klavulanat, ampisilin, sulbaktam, cefalosporin generasi ke II atau makrolid selama 7 hari. Bila ada perbaikan terapi diteurskan selama 7 14 hari, bila tidak ada perbaikan dilakukan pemeriksaan tambahan berupa rongen polos, CT scan dan pemeriksaan nasoendoskopi serta dilakukan kultur dan resistensi kuman. Terapi selanjutnya disesuaikan dengan hasil dari kultur resistensi kuman. Bila terdapat kemungkinan terjadinya sinusitis berulang maka dilakukan terapi sinusitis kronik.13,14,15 Tindakan operatif dilakukan apabila terapi konservatif tidak mengalami perbaikan. Pada tindakan operatif bisa dilakukan antara lain; antrostomi meatus inferior, Caldwell-Luc, etmoidektomi intra dan ekstra nasal, trepanasi sinus frontal dan bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF) yang merupakan perkembangan pesat dalam bedah sinus. Tehnik BSEF ini dianjurkan pertama kali oleh Messerklinger dan dipolpulerkan oleh Stammberger dan Kennedy. BSEF adalah operasi pada hidung dan sinus yang menggunakan endoskopi dengan tujuan menormalkan kembali ventilasi sinus dan drainase mukosiler dengan cara membuka dan membersihkan kompleks osteomeatal.13,16,17

ALGORITMA DAN PROSEDUR PENATALAKSANAAN SINUSITIS

Tabel. Algoritma penatalaksanaan sinusitis.14 KOMPLIKASI ORBITA Meskipun komplikasi rinosinusitis sudah jarang dijumpai pada era antibiotik sekarang ini, komplikasi serius masih dapat terjadi.4,12 Yang harus diingat komplikasi rinosinusitis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila tidak mendapatkan penanganan yang baik dan adekuat.13 Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab terjadinya komplikasi antara lain; terapi yang tidak adekuat, daya tahan tubuh yang rendah, virulensi kuman dan penanganan tindakan operatif terlambat dilakukan.13,15 Secara anatomi perbatasan daerah mata dan sinus sangat tipis yaitu batas medial sinus etmoid dan sfenoid, batas superior sinus frontal dan batas inferior sinus maksila.1,3 Rinosinusitis merupakan salah satu penyebab utama infeksi orbita. Pada era pre antibiotik hampir 50 % terjadi komplikasi ke mata, 17 % berlanjut ke meningen dan 20 % terjadi kebutaan.15,16 Komplikasi ke orbita dapat terjadi pada segala usia, tetapi pada anak-anak lebih sering.13 Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi dari ethmoiditis akut, namun sinusitis frontalis dan sinus maksilaris juga dapat menimbulkan komplikasi ke orbita. Komplikasi ini dapat melalui dua jalan antara lain secara langsung melalui dehisensi kongenital ataupun adanya erosi pada tulang barier terutama lamina papirasea dan secara retrograde tromboplebitis melalui anyaman pembuluh darah yang berhubungan langsung antara wajah, rongga hidung, sinus dan orbita.13,15 Chandler dkk. mengelompokkan lima jenis komplikasi ke orbita antara lain; (1) Selulitis periorbita ditandai dengan gejala yang tampak pembengkakan dan hiperemis daerah periorbita. (2) Selulitis orbita, tampak adanya proptosis, kemosis, penurunan gerak ekstra okuler. (3) Abses subperiosteal yaitu tertimbunnya pus diantara periorbita

dan dinding tulang orbita, gejala proptosis lebih jelas dan penurunan gerak bola mata. (4) Abses orbita dengan ditemukan pus yang tertimbun di dalam orbita, gejalnya optalmoplegi, proptosis dan kebutaan. (5) Trombosis sinus kavernosus, sama dengan gejala-gejala abses orbita yang disertai tanda-tanda meningitis.