Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Teori Evolusi merupakan sebuah teori yang dikemukakan Lamarck dan Charles Darwin. Teori Evolusi
didefinisikan sebagai perkembangan berangsur-angsur suatu benda sederhana menuju suatu yang
lebih sempurna dalam waktu yang lama. Teori menimbulkan kontroversial di kalangan masyakat.
Ada yang menyetujui teori ini dan ada pula yang menolak. Khususnya dalam ummat Islam juga
terdapat perbedaan perspektif. Sebagian yang membenarkan teori Evolusi mencoba menggunakan
dalil-dalil untuk membenarkannya. Begitu juga dengan yang menolak teori tersebut. Maka dari itu,
penulis mencoba memaparkan perselisihan perspektif kaum muslimin tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Apa teori evolusi itu?
Apa saja aliran teori evolusi itu?
Mengapa teori evolusi dijadikan sebagai dasar pencarian asal usul manusia.?
Bagaiman teori evolusi dalam perspektif islam?
1.3 Alasan Pemilihan Judul
Penulis memilih judul teori evolusi dalam perspektif islam, diterima atau ditolak karena penulis
ingin mencoba memberikan wawasan baru kepada pembaca tentang bagaimana pandangan islam
terhadap teori evolusi tersebut. Yang mana para filosouf islam sendiri berbeda pendapat dalam
memandang teori evolusi tersebut. Maka penulis mengharapkan agar karya ilmiah ini bisa
memaparkan sedikit pandangn filosouf islam dan membandingkannya
1.4 Ruang Lingkup Masalah
Karya ilmiah ini memiliki ruang lingkup penjelasan teori evolusi serta pandangan islam terhadap teori
tersebut.
1.5 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah studi pustaka.
1.6 Tujuan Penulisan
Karya ilimiah ini penulis selesaikan dengan tujuan agar masyarakat khususnya masyarakat muslim
bertambah wawasannya tentang teori evousi yang sudah lama dikenal dan dipercaya sebagai teori
yang menunjukkan asal-usul manusia.
Karya ilmiah ini ditulis sebagai pelengkap tugas ujian tengah semester (UTS) yang merupakan syarat
untuk mengikuti ujian akhir senester (UAS) kelak.
1.7 Manfaat Penulisan
Beberapa manfaat penulisan karya ilmiah ini adalah:
Menambah wawasan pembaca dan penulis tentang teori evolusi.
Mengetahui aliran teori evolusi.
Mengetahui alasan dijadikannya teori evolusi sebagai dasar pencarian asal-usul manusia.
Mengetahui bagaimana teori evolusi dalam perspektif islam
Menambah pengalaman penulis dalam menulis karya ilmiah


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Evolusi
2.1.1 Pengertian Teori Evolusi
Evolusi dari segi bahasa (Bahasa Inggris: evolution), berarti perkembangan. Dalam ilmu sejarah,
evolusi diartikan sebagai perkembangan social, ekonomis, politis yang berjalan sedikit demi sedikit,
tanpa unsur paksaan. Dalam ilmu pengetahuan, istilah evolusi diartikan sebagai perkembangan
berangsur-angsur dari benda yang sederhana menuju benda yang lebih sempurna.
Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks biologi
modern, evolusi berarti perubahan frekuensi gen dalam suatu populasi. Akumulasi perubahan gen
ini menyebabkan terjadinya perubahan pada makhluk hidup.
2.1.1.1 Teori evolusi menurut Jean Lamarck
Evolusi organik terjadi karena perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pengaruh
lingkungannya dapat diturunkan.
Organ yang mengalami perubahan karena terus menerus dipakai akan berkembang makin
sempurna dan organ yang tidak diperlukan lagi lama kelamaan perkembangannya menurun dan
akhirnya rudiment atau atrofi.
Teori Lamarck disanggah Weismann.
2.1.1.2 Teori evolusi menurut Charles Darwin
Spesies yang ada sekarang adalah keturunan dari spesies-spesies sebelumnya.
Seleksi alam sangat menentukan berlangsungnya mekanisme evolusi.
Seleksi alam merupakan gagasan murni dari Darwin. Sementara teori pertama di atas telah ada sejak
jama Yunani kuno, hanya saja Darwin menjelaskannya secara lebih tajam dan detil.
2.1.2 Sejarah Singkat Teori Evolusi

Pemikiran-pemikiran evolusi seperi nenek moyang bersama dan transmutasi spesies telah ada paling
tidak sejak abad ke-6 SM ketika hal ini dijelaskan secara rinci oleh seorang filsuf Yunani,
Anaximander. Beberapa orang dengan pemikiran yang sama meliputi Empedokles, Lukretius,
biologiawan Arab Al Jahiz, filsuf Persia Ibnu Miskawaih, Ikhwan As-Shafa, dan filsuf Cina Zhuangzi.
Seiring dengan berkembangnya pengetahuan biologi pada abad ke-18, pemikiran evolusi mulai
ditelusuri oleh beberapa filsuf seperti Pierre Maupertuis pada tahun 1745 dan Erasmus Darwin pada
tahun 1796. Pemikiran biologiawan Jean-Baptiste Lamarck tentang transmutasi spesies memiliki
pengaruh yang luas. Charles Darwin merumuskan pemikiran seleksi alamnya pada tahun 1838 dan
masih mengembangkan teorinya pada tahun 1858 ketika Alfred Russel Wallace mengirimkannya
teori yang mirip dalam suratnya "Surat dari Ternate". Keduanya diajukan ke Linnean Society of
London sebagai dua karya yang terpisah. Pada akhir tahun 1859, publikasi Darwin, On the Origin of
Species, menjelaskan seleksi alam secara mendetail dan memberikan bukti yang mendorong
penerimaan luas evolusi dalam komunitas ilmiah.
Perdebatan mengenai mekanisme evolusi terus berlanjut, dan Darwin tidak dapat menjelaskan
sumber variasi terwariskan yang diseleksi oleh seleksi alam. Seperti Lamarck, ia beranggapan bahwa
orang tua mewariskan adaptasi yang diperolehnya selama hidupnya, teori yang kemudian disebut
sebagai Lamarckisme. Pada tahun 1990-an, eksperimen August Weismann mengindikasikan bahwa
perubahan ini tidak diwariskan, dan Lamarkisme berangsur-angsur ditinggalkan. Selain itu, Darwin
tidak dapat menjelaskan bagaimana sifat-sifat diwarsikan dari satu generasi ke generasi yang lain.
Pada tahun 1865, Gregor Mendel menemukan bahwa pewarisan sifat-sifat dapat diprediksi. Ketika
karya Mendel ditemukan kembali pada tahun 1900-an, ketidakcocokan atas laju evolusi yang
diprediksi oleh genetikawan dan biometrikawan meretakkan hubungan model evolusi Mendel dan
Darwin.
Walaupun demikian, adalah penemuan kembali karya Gregor Mendel mengenai genetika (yang tidak
diketahui oleh Darwin dan Wallace) oleh Hugo de Vries dan lainnya pada awal 1900-an yang
memberikan dorongan terhadap pemahaman bagaimana variasi terjadi pada sifat tumbuhan dan
hewan. Seleksi alam menggunakan variasi tersebut untuk membentuk keanekaragaman sifat-sifat
adaptasi yang terpantau pada organisme hidup. Walaupun Hugo de Vries dan genetikawan pada
awalnya sangat kritis terhadap teori evolusi, penemuan kembali genetika dan riset selanjutnya pada
akhirnya memberikan dasar yang kuat terhadap evolusi, bahkan lebih meyakinkan daripada ketika
teori ini pertama kali diajukan.
Kontradiksi antara teori evolusi Darwin melalui seleksi alam dengan karya Mendel disatukan pada
tahun 1920-an dan 1930-an oleh biologiawan evolusi seperti J.B.S. Haldane, Sewall Wright, dan
terutama Ronald Fisher, yang menyusun dasar-dasar genetika populasi. Hasilnya adalah kombinasi
evolusi melalui seleksi alam dengan pewarisan Mendel menjadi sintesis evolusi modern. Pada tahun
1940-an, identifikasi DNA sebagai bahan genetika oleh Oswald Avery dkk. beserta publikasi struktur
DNA oleh James Watson dan Francis Crick pada tahun 1953, memberikan dasar fisik pewarisan ini.
Sejak saat itu, genetika dan biologi molekuler menjadi inti biologi evolusioner dan telah merevolusi
filogenetika.
Pada awal sejarahnya, biologiawan evolusioner utamanya berasal dari ilmuwan yang berorientasi
pada bidang taksonomi. Seiring dengan berkembangnya sintesis evolusi modern, biologi evolusioner
menarik lebih banyak ilmuwan dari bidang sains biologi lainnya. Kajian biologi evolusioner masa kini
melibatkan ilmuwan yang berkutat di bidang biokimia, ekologi, genetika, dan fisiologi. Konsep
evolusi juga digunakan lebih lanjut pada bidang seperti psikologi, pengobatan, filosofi, dan ilmu
komputer.
2.2 Aliran-Aliran Teori Evolusi
2.1.1 Lamarckisme
J. B. de Lamarck (1774-1829) adalah seorang sarjana Perancis, merupakan orang pertama yang
secara tegas menyatakan bahwa kehidupan berkembang dari tumbuh-tumbuhan menuju binatang,
dan dari binatang menuju manusia. Namun, pandangannya pada waktu itu belum mendapat banyak
perhatian.
Lamarck, merupakan seorang zoolog berkebangsaan Prancis, ini adalah biologis pertama yang telah
berhasil mengokohkan teori Evolusi berpijak di atas konsep-konsep ilmiah. Ia mendeklarasikan
teorinya itu pada tahun 1801 M. dengan menerbitkan bukunya yang berjudul Falsafeh-ye Janevar
Shenasi (Filsafat Zoologi). Ia tidak meyakini bahwa undang-undang yang berlaku di alam ini keluar
dari kehendak Ilahi yang azali. Tetapi ia berkeyakinan bahwa motor utama penggerak sebuah
kesempurnaan adalah sebuah power yang menjadi faktor keterwujudan spicies-spicies yang lebih
sempurna melalui kaidah pemanfaatan dan non-pemanfaatan anggota tubuh. Menurut Lamarck,
setiap makhluk hidup pada permulaannya sangat hina dan sederhana sekali. Lalu lantaran beberapa
kausa dan faktor, makhluk hidup itu mengalami evolusi menjadi spicies yang lebih sempurna. Faktor-
faktor tersebut adalah lingkungan hidup, pemanfaatan dan non-pemanfaatan anggota tubuh,
kehendak, dan perpindahan seluruh karakteristik yang bersifat akuisitif (iktisb).
Substansi klaim Lamarck adalah perubahan lingkungan hidup menyebabkan perubahan anggota
tubuh. Seekor binatang untuk menjalani kehidupan terpaksa harus memanfaatkan sebagian anggota
tubuhnya melebihi anggota tubuh yang lain. Dengan memperkuat fungsi sebagian anggota tubuhnya
dan meminimalkan fungsi sebagian anggota tubuh yang lain, ia melestarikan kehidupannya.
Dengan kata lain, perubahan kondisi kehidupan menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru. Jika
makhluk hidup tidak memperdulikan seluruh kebutuhan itu, maka ia akan musnah. Tetapi jika ia
harus memenuhi seluruh kebutuhan itu, maka ia memerlukan anggota tubuh yang sesuai. Dengan
demikian, sebuah evolusi dalam struktur tubuhnya akan terjadi. Jika ia memanfaatkan sebagian
anggota dalam jumlah yang minimal, maka anggota tubuh itu akan melemah dan kadang-kadang
akan musnah. Tetapi jika ia melakukan aktifitas dalam kadar yang maksimal, maka anggota-anggota
tubuh baru akan muncul. Pada akhirnya, perubahan-perubahan akuisitif (iktisb) ini akan diwarisi
oleh generasi-generasi makhluk hidup berikutnya.
Faktor lain evolusi itu adalah kehendak dan keinginan yang dimiliki oleh makhluk hidup. Artinya, ia
ingin mengadaptasikan diri dengan lingkungan hidup dan mengatasi seluruh kebutuhan hidupnya.
Untuk membuktikan hipotesisnya itu, Lamarck mengajukan analisa tentang mata seekor tikus yang
buta, paruh kuat yang dimiliki oleh sebagian burung, lenyapnya kaki ular, memanjangnya leher
jerapah, berubahnya kuda dari kondisi karnivora menjadi herbivora, dan contoh-contoh yang lain.
Menurut keyakinannya, semua itu terjadi lantaran faktor-faktor yang telah dipaparkan di atas.
2.2.2 Neo Lamarckisme
Teori Noe Lamarckisme muncul ke arena ilmu Biologi berkat usaha keras Gope, seorang ahli Biologi
berkebangsaan Amerika. Teori ini sangat serupa dengan teori Lamarck berkenaan dengan evolusi
spicies dan peran beberapa faktor penting seperti kondisi lingkungan hidup, pemanfaatan dan non-
pemanfaatan anggota tubuh, dan pewarisan karakteristik yang bersifat akuisitif (iktisb). Akan
tetapi, dalam menanggapi kehendak dan keinginan makhluk hidup untuk mengubah anggota
tubuhnya sendiri, teori ini tidak sejalan dengan teori Lamarck. Menurut teori Neo Lamarckisme,
makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan mengalami evolusi lantaran pengaruh langsung lingkungan
hidup. Generasi-generasi selanjutnya akan mewarisi seluruh perubahan yang bersifat akuisitas ini.
Zeo Frouy Saint Hailler, seorang ahli Biologi berkebangsaan Prancis, juga memiliki pemikiran seperti
Lamarck. Ketika bukunya yang berjudul Falsafeh-ye Tashrh beredar pada tahun 1818 M., banyak
sekali protes yang tertuju kepadanya pada paruh pertama abad ke-19.
2.2.3 Darwinisme
Teori ketiga dicetuskan oleh Charles Robert Darwin, seorang ahli Biologi berkebangsaan Inggris. Ia
lahir pada tahun 1809 M. Di permulaan usianya, ia menekuni ilmu kedokteran. Setelah itu, ia
mempelajari ilmu agama. Akan tetapi, ia tidak pernah memiliki keinginan untuk menekuni bidang
ilmu kedokteran dan juga tidak berminat untuk melakukan tugas-tugas seorang pendeta. Oleh
karena itu, ketika mendengar bahwa sebuah kapal laut ingin melancong keliling dunia, ia ikut
bersama kapal laut itu dengan tujuan untuk menjelajahi jagad raya ini. Ia menjelajahi lautan dan
daratan selama beberapa tahun lamanya. Di sela-sela penjelajahan itu, ia melakukan penelitian
ilmiah. Ia meneliti tentang tata cara penciptaan dan kondisi tumbuh-tumbuhan dan binatang. Ketika
telah kembali ke negaranya, ia merenungkan, memikirkan, dan meneliti seluruh penemuan yang
telah dicatat dalam buku hariannya selama dua puluh tahun.Dari konklusi seluruh hasil penelitiannya
ini, ia mengambil kesimpulan bahwa teori kuno harus ditinggalkan dan teori baru; yaitu teori Evolusi
Spicies, harus diterima. Menurut keyakinannya, seluruh makhluk hidup berubah menjadi bentuk
makhluk hidup yang lain lantaran sebuah proses evolusi dan penyempurnaan, dan tidak ada satu
makhluk hidup pun yang diciptakan tanpa adanya sebuah mukadimah dan secara mendadak dan
tiba-tiba.
Pada tahun 1837 M., Darwin menerbitkan sebuah koran dan memuat buah pemikirannya di koran
tersebut secara gradual. Pada tanggal 20 Juli 1854, ia berhasil menamatkan penulisan buku Mansha-
e Anva dan menerbitkannya pada tanggal 24 Oktober 1859.
Dalam membuktikan teori Tranformisme, Darwin mengajukan riset-riset yang telah dilakukannya
tentang embriologi binatang, periode-periode kesempurnaan nenek moyang makhluk hidup sesuai
dengan pembuktian fosilologi, dan keserupaan struktur janin manusia dengan ikan dan katak kepada
para ahli ilmu Biologi yang hidup semasa dengannya. Ia juga membawakan sebuah bukti bahwa klan
manusia masih memiliki hubungan kefamilian dengan klan binatang.
Pada karya tulis pertamanya, Darwin enggan memaparkan masalah penciptaan manusia. Akan
tetapi, pada tahun 1871 M., ia memaparkan sebuah pembahasan yang sangat detail tentang asal
usul penciptaan manusia dalam sebuah buku yang berjudul Tabar-e Insn (Asal Usul Manusia).
Dalam buku ini, ia menjelaskan beberapa sifat lahiriah manusia seperti bentuk wajah, gerakan
tangan dan kaki, dan cara berdiri, beberapa karakteristik jiwa seperti menggambarkan,
membayangkan, dan merenungkan, dan juga beberapa karakteristik spiritual seperti cinta sesama,
naluri cinta, lebih mementingkan kepentingan orang lain, dan karakteristik lainnya. Menurut
analisanya, semua itu terjadi berdasarkan perubahan gradual yang pernah dialami oleh nenek
moyangnya yang anthropoid, dan bahkan dialami oleh beberapa jenis binatang seperti kera, dalam
rangka mempertahankan keabadian diri dan memilih pilihan natural yang harus mereka pilih.
Perbedaan yang ada antara manusia dan binatang, baik dari sisi postur tubuh maupun kejiwaan, ia
yakini sebagai perbedaan kuantitas belaka, bukan kualitas. Hingga akhir usianya yang berlanjut
hingga 73 tahun, ia senantiasa melakukan berbagai kegiatan dan riset ilmiah. Ia meninggal dunia
pada tahun 1882 M.
Pada hakikatnya, teori Darwin adalah perluasan cakupan siasat ekonomi klasik terhadap dunia
binatang dan tumbuh-tumbuhan. Buku Malthus, seorang ekonom dan pendeta berkebangsaan
Inggris, tentang masyarakat banyak mempengaruhi pemikiran Darwin. Dalam bukunya itu, Malthus
ingin membuktikan bahwa masyarakat di muka bumi ini akan bertambah sesuai dengan ketentuan
progresi numeral (tashud-e handas). Hal ini padahal seluruh fasilitas ekonomi tidak mungkin dapat
menjamin seluruh kebutuhan manusia. Atas dasar ini, mayoritas manusia yang hidup dalam sebuah
generasi harus musnah lantaran sebuah bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus,
paceklik, perang, dan lain sebagainya sebelum mereka menggapai usia balig agar keseimbangan
antara jumlah masyarakat dan fasilitas ekonomi tersebut terwujud. Menurut sebuah riset, jumlah
umat manusia dalam tempo dua puluh lima tahun akan bertambah dua kali lipat. Jika penambahan
jumlah penduduk itu tetap berjalan dalam kurun waktu dua abad, maka jumlah penduduk bumi akan
mencapai lima milyard.
2.2.4 Neo Darwinisme
Teori keempat dari teori Evolusi adalah teori Neo Darwinisme. Teori ini dibangun oleh August
Wisman, seorang zoolog berkebangsaan Jerman. Ia mengkritik dan mengingkari adanya perpindahan
sifat-sifat akuisitif kepada generasi-generasi berikutnya. Akan tetapi, ia mengklasifikan sel-sel
makhluk hidup dalam dua kategori: (a) sel Germin (seks) dan (b) sel Soma (anatomi). Kemudian,
dengan mencetuskan teori Plasma Janin (Plasma Embryogenique) dan bahwa materi itu hanya
dimonopoli oleh sel-sel seksual, ia berhasil menafsirkan tata cara perpindahan sifat dan karakteristik
kepada generasi-generasi berikutnya. Ia menamakan materi ini dengan Materi Patrimonial.
Menurut Wisman, karena sel-sel Soma akan sirna setelah sebuah makhluk hidup mati, perubahan-
perubahan akuisitif tidak akan berpindah kepada generasi berikutnya melalui sel ini. Hanya
perubahan yang terdapat dalam sel-sel Germin dan tersimpan dalam kelenjar seksual akan
berpengaruh dan dapat berpindah kepada generasi berikutnya. Para penganut teori Neo Darwinisme
menggunakan Materi Patrimonial untuk melontarkan kritikan terhadap para penganut teori
Darwinisme. Mereka meyakini bahwa materi ini bersifat abadi, tak berubah-ubah, dan kebal
terhadap seluruh perubahan lingkungan hidup.
2.2.5 Mutasi
Teori Mutasi adalah teori kelima dari sekian teori Evolusi. Terori ini meyakini bahwa perubahan gen
yang terjadi dengan tiba-tiba dan sekaligus menyebabkan perubahan yang bersifat patrimonial
dalam diri spicies. Evolusi tumbuh-tumbuhan dan binatang terjadi melalui cara ini. Dengan
bersandar pada teori ini, para ilmuwan dapat menjustifikasi dan menafsirkan evolusi yang terjadi
pada berbagai spicies dengan lebih baik.
Teori ini dicetuskan oleh Hugo Deoufris, seorang botanis berkebangsaan Belgia. Teori ini mengklaim
bahwa sebagian biji tumbuh-tumbuhan, meskipun memiliki keserupaan yang sempurna dengan
spicies-spiciesnya, mengalami perubahan spicies dan karakteristik. Perubahan ini terjadi dengan
tiba-tiba, sekaligus, dan tanpa terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang terjadi di sekitar lingkungan
hidup. Perubahan ini akan berpindah kepada generasi berikutnya melalui jalan gen. Dari sejak ilmu
genetika berkembang pesat dikalangan para penggandrungnya, teori Mutasi sebagai sebuah teori
ilmiah menjadi pengganti seluruh teori yang lain.
2.3 Teori Evolusi Sebagai Landasan Pencarian Asal-Usul Manusia
2.3.1 Darwin dan Manusia
Darwin berkeyakinan bahwa perbedaan antara manusia dan binatang, baik dari sisi postur tubuh
maupun kejiwaan, hanya bersifat kuantitas. Ia tidak meyakini adanya perbedaan kualitas antara
kedua makhluk ini. Atas dasar ini, perasaan, pemahaman rasional, naluri, keinginan, rasa cinta dan
benci, dan lain sebagainya juga dimiliki oleh binatang-binatang hina dalam bentuk yang sangat
primitif dan kadang-kadang pula dalam bentuk yang sudah sempurna. Darwin bersiteguh bahwa
nenek moyang manusia yang berkaki empat pada mulanya berdiri dengan menggunakan dua kaki
belakangnya, tetapi tidak secara sempurna. Realita ini adalah permulaan ditemukannya makhluk
hidup berkaki dua. Pertikaian untuk kekal dan perubahan kondisi lingkungan hidup memiliki peran
yang sangat penting dalam evolusi manusia. Dalam perubahan kera berbentuk manusia menjadi
manusia, Darwin menegaskan bahwa faktor geografis dan ekonomis memiliki saham yang sama.
Penjelasannya adalah berikut ini:
Ketika bahan makanan berkurang pada saat pertikaian untuk kekal terjadi, manusia sudah terbiasa
mengkonsumsi bahan makanan yang beraneka ragam. Dengan berubah dari herbivora mutlak
menjadi omnivora, ia telah mengambil langkah fundamental menuju evolusi. Banyak sekali ilmuwan
yang menentang teori ini dan memilih persepsi yang lain. Sebagai contoh, Laille meyakini bahwa
manusia menjadi sempurna dengan mengalami mutasi yang tiba-tiba dan tak disangka-sangka.
Vallas mengklaim bahwa terwujudnya manusia harus dicari dalam bentuk tertentu dari sebuah
evolusi. Ia meyakini bahwa manusia dapat membebaskan dirinya dari cengkeraman alam materi
dengan bantuan kecerdasan dan kemampuannya untuk menyediakan pakaian, membuat senjata
dan seluruh sarana kehidupan, serta dengan kekuatan yang ia miliki untuk mengubah lingkungan
hidup dan susunan internal tubuhnya. Seluruh kemampuan dan kekuatan ini juga mampu mencegah
dunia luar untuk memaksa manusia seperti layaknya seluruh binatang yang lain berdamai dengan
lingkungan hidupnya. Atas dasar ini, dengan bersandar pada keistimewaan dan karasteristik yang
dimiliki oleh manusia, Vallas mengingkari bahwa teori pemilihan natural dapat dikomparasikan
dengan teori Evolusi manusia. Ia berkeyakinan bahwa roh manusia bukan hasil sebuah proses alam.
Dengan melontarkan perbedaan antara roh dan badan, serta keserupaan dan perbedaan
embriologis dan psikologis yang dimiliki oleh manusia dan binatang, Wismen juga mendeklarasikan
penentangannya terhadap teori Darwin.
2.3.2 Manusia Berasal dari Kera
Di dalam teorinya Darwin berpendapat bahwa manusia berasal dari perkembangan makhluk sejenis
kera yang sederhana kemudian berkembang menjadi hewan kera tingkat tinggi sampai akhirnya
menjadi manusia. Makhluk yang tertua yang ditemukan dengan bentuk mirip manusia adalah
Australopithecus yang diperkirakan umurnya antara 350.000 - 1.000.000 tahun dengan ukuran otak
sekitar 450 - 1450 cm3. Perkembangan dengan perubahan volume otak ini besar pengaruhnya bagi
kecerdasan otak manusia. Australopithecus yang mempunyai volume otak rata-rata 450 cm3
berevolusi menjadi manusia kera (Neandertal) yang mempunyai volume otak 1450 cm3. Dari
penelitian ini diperkirakan dalam waktu antara 400.000-500.000 tahun volume otak itu bertambah
1000 cm3. Tetapi anehnya perkembangan dari Neandertal ke manusia modern sekarang ini selama
100.000 tahun volume otaknya tidak berkembang. Teori ini tidak mengemukakan alasannya.
2.3.3 Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Asal Usul Manusia
a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Quran dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian
dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah
ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
Z e& Be #-}MET,~ ,=(,t u/t& ( ,=v)o. ('> .'~ &(T,,
#-!ve
Artinya: "Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan
manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)
e. BT(Zu|5 uHu-: Bie( =,=(,~~9 Be #-}MET,~, ,=v).+o- u9o)o(
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu adalah
surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah". (HR. Bukhari)
b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan
berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan
lawanjenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah sati
firman-Nya :
ec t\(=v0u|t e uBe0s- &P^TeO( uBe( #-{u|v ?\+/7eM^ Be0s-
2^=+- #-{u.u {=v,t #-!ve 6|o~,
Artinya: "Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa
yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS.
Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa ayat 1 yaitu
:
t~+kt- uveo; P+.+< Bie {o=v)o3'/ #-!ve u/|3'N #-?)^u#(
#-9Z- 4 uEeT,-!'| .OeZ# _eZ Be||kKu- u/t|s |- Be||kt-
u,=v,t #-!v )e| 4 u#-{u|vtHt /ee ?oT,-!'u9'u|t #-!ve #-!v u#-?)^u#(
_ ue6+- |t=v.3'N| .|t
Artinya: "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak..." (QS. An Nisaa (4) : 1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
"Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam" (HR. Bukhari-Muslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia
laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk
yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka
akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s.
Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Quran dan Al Hadits dapat pula ditinjau
secara medis.
Di dalam Al Quran proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui
firman-Nya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah ,
Pencipta Yang Paling Baik." (QS. Al Muminuun (23) : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
"Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang
diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio)
selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah.
Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah
beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat
(macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Quran dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para
ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang
dimaksud di dalam Al Quran dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan
manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari
tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya
menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka
terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian
berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat
diatas).

2.4 Teori Evolusi Dalam Perspektif Islam
2.4.1 Runtuhnya Teori Evolusi
Harun Yahya, salah seorang filosouf muslim dengan terang-terangan menolak teori evolusi. Hal
tersebut karena dalam tori evolusi banyak terdapat kerancuan-kerancuan ilmiah. Dengan
argumennya yang tajam, Harun Yahya menelurkan sebuah karya terkenal yaitu Runtuhnya Teori
Evolusi. Lewat karya inilah Harun Yahya menyampaikan kekeliruan-kekliruan Teori Evolusi.
1. Kekeliruan bahwa Manusia Diciptakan melalui Tahap-Tahap Evolusi

c_ uo-+# ! ?o|u|t e 9o3'/| B- __ &(uu## {o=v)o3'/| uo(
Artinya: {13}. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? {14}. Padahal Dia Sesungguhnya
telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian

Mereka yang mendukung penciptaan evolusi menafsirkan kata-kata "beberapa tingkatan kejadian"
sebagai "melalui tahap-tahap evolusi". Akan tetapi, menafsirkan kata bahasa Arab atwaran sebagai
tahap-tahap evolusi, yang tak lebih daripada sebuah pendapat pribadi, tidak secara umum disepakati
oleh semua ulama Islam.
Atwar (suasana, keadaan) merupakan bentuk jamak tawru, dan tidak muncul dalam bentuk itu pada
ayat Al Qur'an yang lain. Tafsiran dunia Islam atas ayat ini memperlihatkan fakta tersebut.
Dalam tafsirnya, Muhammad Hamdi Yazir dari Elmali menerjemahkan ayat itu sebagai: "Ia
menciptakanmu tahap demi tahap melalui beberapa keadaan."
Dalam uraiannya, ia melukiskan tahap-tahap ini sebagai "tahap-tahap evolusi". Akan tetapi,
penjelasan ini tidak berkaitan dengan evolusi yang menyatakan bahwa akar manusia terletak di
makhluk hidup lainnya. Nyatanya, sesudah itu Yazir segera mengatakan bahwa tahap-tahap tersebut
adalah:
Menurut penjelasan yang diberikan Ebus Suud, pertama datang unsur-unsur, lalu zat gizi, lalu
adonan/campuran, lalu sel mani, lalu segumpal daging, lalu daging dan tulang, dan ini akhirnya
dibentuk dengan penciptaan yang sepenuhnya berbeda. "Maka Mahasuci-lah Allah, Pencipta Yang
Paling Baik." (QS. Al Mu'minuun, 23: 14) Tidakkah Allah, Sang Pencipta yang Mahaperkasa, patut
dipuja dan diagungkan? Tidakkah Dia sanggup terus mengangkatmu lebih jauh dengan bentuk dan
penciptaan lain? Atau tidakkah Dia juga bisa menghancurkanmu dan melemparkanmu ke dalam
siksaan yang pedih? Mengapa tidak kaupikirkan semua hal ini?
Seperti ditunjukkan semua pernyataan di atas, ayat ini menggambarkan bagaimana manusia
mencapai rahim ibunya sebagai sebuah sel mani, berkembang sebagai janin dan lalu segumpal
daging, dan lalu tumbuh menjadi daging dan tulang sebelum lahir ke dunia sebagai manusia.
2. Kekeliruan Bahwa Al Qur'an Berisi Isyarat Akan Proses Evolusi
_ B].'u# v.- t3' 9oN| #-!-o|c Bie, e #-}MET,~ t?v
&At4 o~|
Artinya: Bukankah sudah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS. Al Insaan, 76: 1)


Orang-orang yang sama tersebut juga menggunakan ayat ini sebagai bukti evolusi. Dalam
terjemahan yang berdasarkan penafsiran pribadi, ungkapan "saat ia bukan sesuatu yang patut
disebutkan" diungkapkan sebagai pernyataan "keadaan-keadaan sebelumnya, saat manusia belum
menjadi manusia". Akan tetapi, pernyataan ini sama jauhnya dari kebenaran dengan pernyataan
pertama.
Mencoba menggunakan ungkapan ini sebagai bukti evolusi adalah benar-benar memaksakan kata-
kata. Nyatanya, para ulama Al Qur'an tidak menafsirkan ayat ini sebagai menandakan proses evolusi.
Misalnya, Hamdi Yazir dari Elmali membuat uraian berikut:
Awalnya adalah berbagai anasir dan mineral, lalu gizi tumbuhan dan hewan - "saripati tanah" (QS. Al
Mu'minuun, 23: 12) diciptakan dari semua itu dalam tahap-tahap. Lalu, sesuatu muncul amat lambat
dan bertahap dari sel mani yang disaring dari semua itu. Namun, itu bukan sesuatu yang disebut
manusia. Manusia tidak abadi, begitu juga zatnya; itu muncul kemudian. Manusia ada lama sesudah
permulaan waktu dan penciptaan alam semesta.
3. Kekeliruan bahwa Penciptaan Dari Air Adalah Tanda Penciptaan Evolusi
. /t# 0e\0- (o|\=(+o~ P+6|It=ee &B.t-8 P:(t> Be
#-}MET,~, ,=v).+o- )eP+-
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang
Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar
dan melihat. (QS. Al Insaan, 76: 2)

Mereka yang membela penciptaan evolusi mencoba menunjukkan, pernyataan-pernyataan dalam
banyak ayat bahwa manusia diciptakan dari air adalah bukti semua makhluk hidup muncul dari air.
4. Kekeliruan bahwa Penciptaan Itu yang Pertama dari Tanah Lalu dari Air Berarti Penciptaan Evolusi
o-At Be ,=v)o7 /e--!ve &.|N, 'tt-_v. uo\uu =,-e7.
9o. Zc uO u+17 O\N+ P:]t7 Be O\N+ ?\t#>5
Artinya: Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (QS. Al Kahfi, 18: 37)
Imam Tabari menguraikan ayat ini sebagai berikut ... Apakah engkau hendak mengingkari Allah yang
menciptakan ayahmu Adam dari tanah/debu, lalu menciptakanmu dari cairan lelaki dan perempuan,
lalu membungkusmu dalam bentuk manusia? Allah, Dia yang memberimu semua ini dan menjadikan
dirimu seperti saat ini, mewujudkanmu untuk membuatmu makhluk hidup lain setelah engkau mati
dan kembali ke tanah.
5. Kekeliruan Bahwa Manusia Pertama Diciptakan dalam Waktu yang Lama
_Z e& Bie 0o>,Z# ,~=e,7 )eToe 9e=(0=v~+_3ote u/7 o-At )e.
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesunguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah" (QS. Shaad, 38: 71)
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka
(cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah. Lalu jadilah ia. (QS. Al Baqarah, 2: 117)
Kekeliruan lain dalam penciptaan evolusi berasal dari penafsiran ayat di atas secara salah. Kaum
evolusionis menyatakan bahwa ruas kalimat yang digaris-bawahi di atas menunjukkan sebuah
penciptaan yang lamban dalam waktu lama. Akan tetapi, bahasa Arab yang asli jelas menegaskan
bahwa ini adalah murni pandangan sepihak dan seluruhnya bertentangan:
"innii khaaliqum basyaram min thiinin" berarti "Aku adalah Dia Yang menciptakan seorang manusia
dari tanah liat."
Ayat ini tidak mengatakan apa-apa yang seperti "Aku sedang menciptakan". Nyatanya, ayat ini
berlanjut, "Apabila Aku telah membentuknya dan meniupkan ruhKu kepadanya, tunduk sujudlah
kepadanya!" Jelas dari ayat ini bahwa kata kerja menciptakan di sini terjadi dalam sekejap.
2.4.2 Bantahan Terhadap Runtuhnya Teori Evolusi
Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003)
menanggapinya dengan mengatakan Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat
kebetulan dan materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas. Kita
menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat
evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat
di balik semua gerakan evolusi itu.Tentang prinsip survival of the littest (?), Bagir justru
membenarkannya dan kita harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan
sehari-hari dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alquran. Dingin dari dari dua
sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis. Tentunya dari kajian Bagir, kita harus melihat pula bahwa dari
penafsirannya di dalam ayat Alquran mana yang secara implisit atau eksplisit bahwa kandungan dari
teori Darwin tidak bertentangan, tentunya hal ini menjadi lebih complicated lagi.
2.4.3 Ayat Qauliah tentang Teori Evolusi

Teori evolusi yang seperti kita ketahui bukan berasal dari Islam, teatapi ada sebagian orang Islam
yang mencoba menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dn dijadikan sebagai dasar diterimanya teori evolusi
oleh Islam. Ayat-ayat tersebut mendapat penafsiran berbeda oleh setiap mufassirin. Adapun ayat-
ayat tersebut merupakan ayat Qauliyah (perbuatan). Berikut ini beberapa ayat-ayat yang dijadikan
dasar penerimaan Teori Evolusi dalam Islam:
_ #-{u(?v u/ve7 #-(O, 7e. . (oT,u+3 {=v,t #-!ve
Artinya: Sucikanlah nama Maha Pengaturmu Yang Maha Tinggi. Yaitu Yang mencipta dan
menyempurnakan (QS Al-Ala:1-2).
(o-eo# . ~|et 9o. (o)o\u#( Be (ee uPt|M^
u+|u. c &o.Hu\u|t 2^=N| #-9.0=v~+_3ot\ (oT,|
Artinya: Ingatlah tatkala Maha Pengaturmu berkata kepada malaikat, sesungguhnya Aku
menciptakan basyar dari tanah kering dari tanah hitam yang telah berubah. Maka apabila Aku telah
menyempurnakannya Kutiupkanlah ruh
(ciptaan)Ku ke dalamnya, lalu bertiaraplah mereka tunduk kepadanya (QS
Al-Hijr : 29-30).
u)e. ( ,=etZ #-{u|v e e~ )eToe 9e=(0=v~+_3ote u/ o-At
#-!-ceBt-!'u uoT(e7^ (ekt- .T Bt (ekt- &B.\~ o-9'u)#(
&(=vN )eToe) o-At ( 9o7 uP)ooe 2.tt0(e8 PT,7e uYet.
c ?o\|=v0u|t e Bt-
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
#-9Z- t~+kt- u,=v,t uveo; P+.+< Bie {o=v)o3'/ #-!ve u/|3'N
#-?)^u#( 4 uEeT,-!'| .OeZ# _eZ Be||kKu- u/t|s |- Be||kt- #-!v
)e| 4 u#-{u|vtHt /ee ?oT,-!'u9'u|t #-!ve #-!v u#-?)^u#( _
ue6+- |t=v.3'N| .|t
.
Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya/ Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang
dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(QS An-Nisa: 30)

Sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia sebaik-baik bentuk (QS 95:4).

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari uraian yang cuku panjang di atas dapat di simpulkan bahwa:

Teori Evolusi telah mengalami evolusi pula karena munculnya banyak ilmuan yang mencoba
membuktikan kebenaran teori Evolusi. Sehingga teori tersebut di tafsirkan dengan bebagai
pemahaman.
Teori Evolusi yang pada awalnya dipercaya sebagai teori asal usul manusia akhirnya mendapat
perlawanan dari para evolusionis sendiri. Perlawanan ini terjadi akibat munculnya peristiwa yang
membuktikan kesalahan Teori Evolusi tersebut.
Manusia bukanlah makhluk yang berasal dari nenek moyang yang sama dngan kera.
Harun Yahya dengan Runtuhnya Teori Evolusi, telah berhasil mengobok-obok Teori Evolusi
sehingga kejanggalan-kejanggalan dan kerancuan dalam teori tersebut terungkap
Dalam memahami sebuah teori, ummat Islam mempunyai berbagai macam perspektif dan dalam
perspektif tersebut dikaitkan dengan ayat Al-Quran atau Hadits. Yang menjadi perbedaan sehingga
timbul perselisihan adalah penafsiran orang tersebut terhadap ayat Al-Quran.
3.2 SARAN
Dalam memahami sebuah argumentasi hendaknya kita sebagai ummat Islam tetap berpegang
pada Al-Quran dan Sunnah.
Jangan sekali-kali menafsirkan Al-Quran sesuai kebutuhan, tapi sesuaikanlah kebutuhan tersebut
dengan Al-Quran dan Sunnah sehingga kita tidak keluar dari koridor agama.
Sebuah teori belum bisa dikatakan benar sehingga teori itu terbukti dan diakui oleh semua
kalangan, baik itu para ilmuan ataupun masyarakat awam.
DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo, Mukayat D. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Pope, Geoffey. 1984. Antropologi Biologi. Jakarta: Rajawali Press
Yahya, Harun. 2004. Pustaka Sains Populer Islami- Keruntuhan Teori Evolusi. Bandung: Dzikra
Nugroho, L. Hartanto. 2004. Biologi Dasar. Jakarta: Penebar Swadaya