Anda di halaman 1dari 9

Diplomasi TKI * Tanggapan atas Tulisan A Muhaimin Iskandar Oleh M Wahid Supriyadi PERHATIAN masyarakat atas TKI ilegal

di Malaysia, kini sudah menjadi masalah multidimensional yang melibatkan berbagai pihak. Kalau mau jujur, persoalan TKI ilegal sebenarnya sudah muncul sejak masa rekrutmen, cara masuk ke Malaysia, sampai ketika kembali ke Tanah Air. Masalah TKI ilegal ini begitu mendominasi pemberitaan media massa dan cenderung mengabaikan kenyataan bahwa pada soal yang sama ada sekitar 600.000 TKI legal yang tidak bermasalah dan keberadaan mereka mendapat sambutan hangat di Malaysia. Persoalan terhadap TKI ilegal mengemuka dengan meletusnya peristiwa kekerasan oleh sekelompok TKI di Johor Bahru dan Nilai, Desember 2001 dan Januari 2002. Peristiwa ini memicu Pemerintah Malaysia mengeluarkan UU Keimigrasian Maret 2002. Namun, sebelum memberlakukan UU ini, Pemerintah Malaysia memberi tenggang waktu pengampunan hingga 31 Juli 2002 bagi TKI ilegal yang bersedia pulang ke negara asal atas kemauan sendiri, tanpa diambil tindakan hukum. Dari sekitar 650.000 pendatang asing tanpa izin (PATI), diperkirakan 75 persen atau 480.000 berasal dari Indonesia. Sejak Pemerintah Malaysia mengumumkan UU baru itu, seluruh Perwakilan RI di Malaysia bergerak mengunjungi berbagai lokasi di mana ada konsentrasi besar TKI tanpa izin dan kepada mereka diserukan untuk siap-siap pulang sebelum UU itu diberlakukan. Mulai akhir Maret hingga akhir Juli 2002, seluruh perwakilan RI menghadapi rush. Lebih dari 200.000 TKI ilegal datang untuk mendapatkan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) dan bantuan pengurusan tiket serta transpotasi. Dengan jumlah staf yang terbatas, praktis Perwakilan bekerja marathon untuk melayani TKI selama 24 jam. Sejak itu sekitar 75 persen dari jumlah total TKI ilegal (sekitar 330.000) telah kembali ke Tanah Air tanpa insiden berarti. Diperkirakan 170.000 masih tertinggal di Malaysia dan mereka inilah yang akhirnya pada saat-saat terakhir mencoba kembali ke Indonesia. Memang tidak

semuanya akibat kesalahan mereka, karena sebagian masih ditahan oleh para majikan dan sebagian lain belum mendapat hak gaji mereka. Atas pendekatan dan lobi yang dilakukan Perwakilan RI, Pemerintah Malaysia akhirnya menyetujui untuk menangguhkan pemberlakukan UU baru sampai 31 Agustus 2002. Malaysia akhirnya juga mengizinkan TKI kembali ke Malaysia bila telah memiliki kelengkapan dokumen keimigrasian dan ada permintaan dari majikan, tanpa ha-rus menunggu selama enam bulan sebagaimana ketentuan semula. Berita terakhir, Pemerintah Malaysia membuka kembali kesempatan kepada para TKI, terutama yang bekerja di sektor konstruksi dan perkebunan.

"Kegagalan" penandatangan MOU Penanganan TKI secara menyeluruh sebenarnya telah disepakati pemerintah kedua negara dalam pertemuan Joint Commission tingkat menteri tanggal 20 Februari lalu. Pada kesempatan itu disepakati untuk menysusun pengaturan secara komprehensif dalam bentuk MOU yang lebih mengikat, yang mengatur seluruh aspek TKI dari rekrutmen, transportasi, perlindungan, dan sektor pekerjaan formal, dan informal. Sebagaimana diketahui, masalah penempatan TKI di Malaysia selama ini hanya didasarkan pada Note of Agreement untuk sektor formal dan Exchange of Note untuk sektor informal. Dari segi substansi, MOU ini melibatkan departemen teknis yaitu Depnakertrans. Rapat kabinet terbatas 4-5 Agustus juga memutuskan untuk melanjutkan pembahasan MOU yang lebih komprehensif dan membentuk satuan tugas yang diketuai Menko Kesra. Rapat memutuskan untuk tidak meneruskan penandatangan MOU tentang deportation of illegal workers saat kunjungan PM Mahathir Mohamad ke Bali 7-8 Agustus lalu, karena proses pemulangan TKI ilegal sendiri sudah berjalan. Dari sisi Indonesia, MOU itu-yang merupakan usul Malaysia-sebenarnya berkesan lebih merendahkan martabat pekerja Indonesia. Karena itu, pemerintah menganggap penting untuk membahas MOU yang lebih komprehensif dengan menekankan pada perlindungan TKI. Memang diperlukan waktu lebih lama mengingat masalah TKI bersifat lintas sektor dan harus dibicarakan

dengan instansi terkait. Dengan demikian, pembatalan MOU ini tidak dapat dikatakan sebagai lemahnya diplomasi RI, sebaliknya dimaksudkan agar kepentingan TKI di Malaysia benar-benar terjamin . TKI dan reformasi Deplu Perpindahan penduduk antarnegara merupakan dampak globalisasi yang tidak dapat dihindari. Ini berarti kian banyak orang Indonesia bepergian ke luar negeri dengan berbagai alasan. Hal ini tidak luput dari perhatian Deplu, sehingga dalam struktur organisasi yang baru, untuk pertama kalinya Deplu memiliki Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia. Direktorat ini antara lain bertugas memberi perlindungan kepada warga negara RI di luar negeri, tak terkecuali TKI, yang menghadapi berbagai persoalan, tentunya sesuai norma-norma hukum internasional dan Konvensi Wina tahun 1961 tentang hubungan diplomatik. Dalam kasus dengan Malaysia, misalnya, kita tidak dapat memaksakan kehendak, mengingat Malaysia merupakan negara berdaulat. Perlu diingat, Indonesia pun akan melakukan deportasi kepada semua pekerja asing yang kedapatan bekerja secara ilegal. Seiring bergulirnya arus globalisasi, perilaku diplomasi pun mengalami perubahan. Pada abad XVII, Sir Henry Wotton mengartikan diplomat sebagai "an honest man sent abroad to lie for his country". Pada masa itu belum berkembang teknologi yang memungkinkan orang berbicara langsung dari satu negara ke negara lain, dan mungkin orang akan percaya pada sosok seorang diplomat yang berbicara santun dan selalu berpakaian necis. Namun, dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, apakah audiens di luar negeri percaya lagi pada omongan seorang diplomat, sementara CNN pada saat yang sama secara gamblang menayangkan terjadinya kerusuhan di negaranya? Dengan kata lain, dalam dunia yang sudah menyatu ini, perilaku diplomasi kian bervariasi dan tidak lagi menjadi monopoli diplomat. Jangan lupa, saat ini politik luar negeri merupakan kepanjangan dari kondisi yang terjadi di dalam negeri, sepintar apa pun para diplomat melakukan diplomasi tanpa didukung kondisi yang kondusif di dalam negeri, niscaya tidak akan berarti banyak. Karena itu, jika republik ini ingin bangkit, maka

segala potensi bangsa harus bekerja secara sinergis, bukan saling menyalahkan, apalagi hanya menyalahkan satu departemen sementara masalah TKI adalah masalah kita semua. Inilah yang disebut Menlu Hassan Wirajuda sebagai total diplomacy. Sebagaimana dalam total football, amat tidak etis bila ada di antara pemain yang berpikiran untuk menjebol gawang sendiri. Hal lain yang penting dalam diplomasi adalah bargaining power, yang tidak melulu ditentukan oleh luasnya wilayah dan besarnya jumlah penduduk. Yang tidak kalah penting adalah kekuatan ekonomi. Sebuah negeri kecil dengan kekuatan ekonominya dapat saja diperhitungkan dalam percaturan internasional. Memang secara institusi Deplu bertanggung jawab terhadap pelaksanaan politik luar negeri RI. Di lain pihak, Deplu pun sadar tanpa partisipasi dan dukungan semua komponen bangsa, diplomasi tidak akan berjalan maksimal. Itu sebabnya sejak 16 Januari lalu Menteri Luar Negeri menggelar foreign policy breakfast secara rutin dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dari kalangan media, akademis, agama, bisnis, LSM dan tokoh nasional. Acara ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan sebanyak mungkin dari berbagai kalangan menyangkut banyak hal yang berkait dengan kebijakan luar negeri. Harus diakui ada unsur secrecy dalam diplomasi yang mungkin sulit dipahami publik. Di lain pihak ada faktor CNN effect yang menuntut Pemerintah memberi jawaban instant atas sesuatu yang terjadi yang langsung disaksikan publik secara live. Peristiwa penahanan Agus Budiman, ancaman hukuman pancung terhadap TKW Kartini di Timur Tengah, ditahannya tiga WNI di Filipina, menimbulkan reaksi keras di masyarakat, sementara upaya diplomasi yang dilakukan perwakilan dalam membebaskan mereka (kecuali seorang yang masih dalam proses hukum) seolah terlupakan dan terjadi dengan sendirinya. M Wahid Supriyadi, Direktur Informasi dan Media Departemen Luar Negeri

DEPARTMENT OF FOREIGN AFFAIRS OF THE REPUBLIC OF INDONESIA Siaran Pers Deplu No. 32/PR/VII/01 quote

Pertemuan 5 (lima) Menteri untuk membahas masalah Perlindungan TKI di Luar Negeri serta Rapat Koordinasi mengenai Perlindungan TKI di Luar Negeri dengan Para Kepala Perwakilan RI dI Negara Tujuan Penempatan TKI, Jakarta, 11-12 Juli 2001 Pada tanggal 11 Juli 2001, jam 13.00, bertempat di Departemen Luar Negeri berlansung Pertemuan 5 (lima) Menteri, yaitu Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Menteri Luar Negeri, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Keuangan serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Maksud pertemuan adalah untuk membahas masalah peningkatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Pertemuan dimaksud sebagai tindak lanjut Pertemuan antara Menteri Luar Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menteri Kehakiman dan HAM pada tanggal 11 April 2001, yang memandang bahwa : a. b. Permasalahan TKI adalah masalah nasional dan memerlukan perhatian serta komitmen bersama untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh; Program penempatan TKI ke luar negeri merupakan program nasional strategis dan merupakan salah satu unsure penunjang kesejahteraan rakyat, khususnya dalam upaya mengatasi terbatasnya kesempatan kerja di dalam negeri sekaligus penghasil devisa negara; Pelaksanaan penempatan TKI ke luar negeri perlu dikendalikan secara terkoordinasi untuk menekan sekecil mungkin ekses masalah yang merugikan kepentingan bangsa dan negara Indonesia di pergaulan Internasional;

c.

d. e.

Perlindungan TKI perlu dilakukan secara pro aktif, terpadu, tepat waktu, tepat guna serta tepat sasarang; Perlindungan TKI merupakan bagian tidak terpisahkan dari fungsi dan tugas Pemerintah RI untuk memberikan perlindungan yang maksimal kepada semua WNI yang bekerja ke luar negeri; Dipandang perlu untuk mewujudkan skema koordinatif yang lebih baik, terarah, terpadu dan pro aktif dalam rangka meningkatkan program penempatan dan perlindungan TKI.

f.

Bertalian dengan hal tersebut di atas, telah ditandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) mengenai Pembentukan Tim Penanggulangan Permasalahan Penempatan dan Perlindungan TKI ke Luar Negeri. Menurut rencana SKB ini akan ditandatangani oleh 5 (lima) Menteri tersebut di atas. Namun mengingat Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah harus mengikuti Dengar Pendapat dengan DPR RI, maka untuk sementara SKB tersebut ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan diparaf oleh wakil dari Menteri yang tidak dapat hadir. Susunan Tim yang diusulkan dalam SKB akan terdiri dari : a. Pengarah; akan terdiri dari para menteri penandatanganan SKB. Pengarah berfungsi untuk menyusun dan menetapkan kebijakan dasar mengenai penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri; Pelaksana Harian; akan dikoordinasikan oleh Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Depnakertrans RI, dengan terdiri dari Pejabat Eselon I masing-masing instansi terkait dengan dibantu oleh 2 (dua) orang pejabat Eselon II. Pelaksana Harian juga akan terdiri dari unsure asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga kerja Indonesia (PJTKI), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Serikat Pekerja dan unsur profesional yang berkompeten. Pelaksana harian berfungsi untuk (a) menetapkan strategi pelaksanaan mengenai penempatan dan perlindungan TKI dan

b.

(b) mengembangkan kerjasama secara sinergi guna meningkatkan penanganan masalah penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri; c. Satuan Tugas (Task Force); akan dipimpin oleh seorang Kepala yang ditunjuk oleh Koordinator Pelaksana Harian, dengan anggota para Pejabat Eselon II dari masingmasing instansi. Fungsi Satuan Tugas adalah memberikan masukan bagi usahausaha penanggulangan masalah-masalah yang berhubungan dengan penempatan dan perlindungan TKI. Satuan Tugas akan dilengkapi dengan Sekretariat dan fasilitas ruang kantor untuk menunjang kegiatan operasional besrta segala perlengkapannya termasuk peralatan komunikasi dan networking yang memadai agar dapat memantau perkembangan permasalahan TKI secara kongkrit dan efektif di lapangan. Dalam pelaksanaan tugas-tugas operasional sehari-hari, Satuan Tugas akan lebih banyak memegang perangan.

Salah satu bentuk komitmen Departeman Luar Negeri untuk mensukseskan program penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri adalah melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi dengan para Kepala Perwakilan RI di negara tujuan penempatan TKI, yang akan berlangsung di Departemen Luar Negeri pada tanggal 11-12 Juli 2001. Dalam Rakor tersebut, para Menteri akan memberikan pengarahan pada Rakor tersebut. Rakor akan diikuti oleh Duta Besar RI di Kuala Lumpur, Singapura, Bandar Sri Begawan, Seoul, Tokyo, KUAI RI Riyadh, Abu Dhabi, Kuwait dan Amman. Rapat Koordinasi juga dihadiri oleh Para Konsul Jenderal RI di Jeddah, Hongkong, Osaka, Johor Bahru, Kota Kinabalu, Penang serta Kepala Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan RI di Taipeh (Taiwan). Salah satu sasaran Rakor adalah untuk meningkatkan upaya peningkatan Perlindungan TKI di luar negeri, dengan penekanan kepada : a. Melakukan diplomasi kepada pejabat terkait di negara tujuan TKI (users) untuk mempertahankan atau meningkatkan kuota yang ada serta mencari peluang-peluang baru serta upaya peningkatan perlindungan TKI. b. Melakukan promosi secara pro aktif.

c.

Memantau perkembangan masalah ketenagakerjaan di negara tujuan TKI, baik yang menyangkut mengenai ketentuan-ketentuan di bidang ketenagakerjaan maupun permasalahan yang dihadapi oleh TKI, guna penyempurnaan kebijakan yang ada. d. Menyusun rekomendasi mengenai upaya perlindungan TKI di luar negeri, yang akan dijadikan sebagai pedoman bagi Perwakilan RI di luar negeri. Jakarta, Juli 2001

Menlu: Perlu Diplomasi Total Tangani Kasus TKI JAKARTA--MIOL: Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirayuda menekankan, perlu diplomasi total untuk menyelesaikan masalah TKI di mancanegara, sehingga tidak menimbulkan permasalahan berkepanjangan bagi Indonesia maupun Malaysia. "Diplomasi ke luar negeri, merupakan diplomasi yang mengatasnamakan satu nama yakni Republik Indonesia. Jadi siapapun yang melakukan diplomasi dalam masalah TKI hendaknya atas nama Indonesia, tentunya dilakukan secara koordinatif antar-instansi terkait," katanya di Jakarta, Senin. Ditemui usai "Foreign Policy Breakfast" ia mengatakan, koordinasi antarinstansi itu telah dilakukan pemerintah melalui pembentukan satuan tugas (satgas) untuk pemulangan TKI ilegal dari Malaysia ke Indonesia dengan dana sejumlah Rp25 miliar. Upaya diplomasi itu juga telah dilakukan masing-masing instansi terkait seperti Departemen Luar Negeri serta Departemen Kehakiman dan HAM. "Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra direncanakan bertemu Wakil Perdana Menteri/Mendagri Malaysia, Abdullah Badawi, untuk membahas masalah TKI terutama yang berkaitan dengan perlindungan hukum bagi TKI," ungkapnya.

Sementara itu, Deplu melalui diplomasi dengan Malaysia mengeluarkan sekitar 2.000 paspor per hari bagi para TKI yang ingin tetap bekerja di negeri jiran itu. "Jadi tidak benar, kalau pemerintah dalam hal ini Deplu dan instansi terkait lainnya tidak melakukan diplomasi atau upaya apapun dalam menyelesaikan masalah TKI," katanya. Dikemukakannya, saat ini tercatat sekitar 600 ribu TKI legal yang bekerja di Malaysia, dan sekitar 480 ribu orang TKI berstatus TKI ilegal. "Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen atau 320 ribu orang TKI ilegal telah kembali ke Indonesia dengan kondisi aman tanpa insiden apapun," tambah Menlu. (Ant/OL-01)