Anda di halaman 1dari 4

Sekedar Intelectual Exercise

Oleh: Moh Najib Buchori1


Bagi seorang muslim, tamassuk bisyariah adalah hal niscaya sebagai implementasi ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Salah satu bentuk tamassuk adalah mengadopsi pendapat para ulama dalam menetapkan hukum. Dengan aumsi bahwa pendapat para ulama didasarkan pada pemahaman terhadap teks Quran dan Hadis, maka mengikuti pendapat ulama masih terbilang merujuk pada dalil Quran dan Hadis. Pada tataran praktis, tidak seluruh tradisi muamalah yang berkembang di kalangan umat Islam merupakan produk implemetatif dari ketetapan hukum para ulama. Hal ini mengakibatkan sebagian tradisi muamalah yang berkembang di kalangan umat Islam tampak bertentangan dengan ketetapan hukum para ulama. Pada gilirannya hal tersebut memunculkan pertanyaan, legalkah menurut syara' tradisi muamalah tersebut, dan karenanya orang orang yang melakukan praktik muamalah tersebut berdosa karena telah melanggar ketentuan syara'? Ada dua model visi dalam mendekati permasalahan di atas. Pertama, pendekatan legal formal. Pendekatan ini menekankan keterpenuhan aspek legal-formal pada suatu praktik muamalah. Jika suatu muamalah tidak memenuhi aspek legal formal sebagaimana ditetapkan para ulama, maka muamalah tersebut fasid, dan yang melakukan muamalah tersebut berdosa, karena melakukan praktik muamalah yang fasid. Jika suatu praltik muamalah telah berlaku umum dan tampak bertentangan dengan hukum, maka pendekatan legal-formal menawarkan solusi hilah: yaitu menempuh cara atau jenis muamalah lain yang memenuhi aspek legal formal tetapi tetap bermuara pada hasil yang sama dengan muamalah yang fasid. Model kedua adalah pendekatan substansial. Pendekatan ini lebih menekankan pada terpenuhinya prinsip dan tujuan suatu muamalah dan lebih longgar dalam merumuskan aturan legal formal. Jika suatu praktik muamalah nyatanyata atau diduga kuat beseberangan dengan prinsip dan tujuan muamalah tersebut secara khusus atau prinsip dan tujuan muamalah secara umum, maka hukumnya fasid. Dalam merespon tradisi muamalah yang tampak bertentangan dengan syara' pendekatan substansial bersikap permisif: sepanjang tidak ada nash qath'iy yang melarang dan tidak terdapat hal yang bertentangan dengan prinsip dan tujuan muamalah secara umum maka muamalah tersebut hukumnya mubah. Untuk menjelaskan hal ini, akan dibahas contoh muamalah yang muaranya sekilas tampak bertentangan dengan syara' dan bagaimana kedua pendekatan mensikapi hal tersebut. Jual beli kotoran hewan untuk pupuk


(HR Buchori:2082, Muslim:2960, Tirmidzi:1218, Nasa'iy:4590, Ibnu Majah:2158, Ahmad:6702)


(HR Malik:1173, Buchori:2083, Muslim:2930, Tirmidzi:1218, Ibnu Majah:2150, Abu Daud:2974, Tirmidzi:1052, Nasa'iy:4218, Ahmad:16453)
1

Penulis adalah alumnus Ponpes Sarang Rembang tahun 1992, menyelesaikan S1 jurusan Tafsir di Al-Azhar University

Gabungan kedua Hadis di atas menegaskan keharaman memperdagangkan empat komoditas yang merupakan barang najis, yaitu: arak, bangkai, babi dan anjing. Dan diqiyaskan atas keempat barang najis teresbut seluruh barangbarang najis yang lain. Tentang hal ini asy-Syirazy berkata:

) (
(Nawawy, sayrh muhadzab, vol:9, hal:226). Atiyyah Shaqr dalam fatawa al-Azhar menegaskan Menyimpulkan Hadis Jabir di atas Atiyyah Shaqr berkata: hal yang sama.

:
Termasuk barang-barang najis adalah kotoran hewan baik yang digunakan untuk pupuk ataupun tidak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut Syafi'iyyah dan jumhuurl ulama, memperdagangkan kotoran hewan hukumnya haram dan transaksinya juga tidak sah. Persoalan muncul ketika fakta di lapangan menunjukkan bahwa perdagangan kotoran hewan untuk pupuk ternyata menjadi hal yang lumrah dan banyak terjadi. Untuk mengatasi persoalan ini syafi'iyyah menawarkan konsep naqlul yad atau pemindahtanganan, agar kotoran hewan untuk pupuk dapat dipindahtangankan tanpa harus melanggar syara'. Hak Intifa' dan Ikhtishas Dalam fikih muamalah terdapat dua konsep yang terkait dengan hak guna, yaitu: hak manfaat dan hak intifa'. Seseorang yang memiliki hak manfaat berhak memindahtangankan hak guna tersebut kepada orang lain, baik dengan atau tanpa imbalan, disamping juga berhak menggunakannya untuk diri sendiri. Contoh hak manfaat adalah hak guna atas barang yang disewa bagi penyewa. Oleh karena itu penyewa berhak menggunakan barang yang disewa dan boleh pula menyewakan atau meminjamkannya kepada orang lain. Sedangkan pemilik hak intifa' hanya berhak menggunakannya untuk diri sendiri. Contoh hak intifa' adalah hak atas barang yang dipinjam bagi peminjam. Oleh karena itu peminjam hanya berhak menggunakannya untuk diri sendiri dan tidak berhak meminjamkannya kembali kepada orang lain. Termasuk hak intifa' adalah makanan yang disuguhkan untuk para tamu. Tentang hal ini as-suyuthi berkata:

: : , . , . , , , . , . . , . , , . . . , . . , , . , , .
(As-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nadhaair, hal: 326) Dalam terminologi fiqh selain Hanafiyah hak intifa' disebut juga ikhtishas dan dalam fiqh Hanafiyah disebut haq. Ibnu Rajab al-Hanbali mendefinisikan ikhtishas sebagai berikut:

:
2

Sedangkan az-Zarkasy as-Syafi'iy membedakan milik dari ikhtishas dengan :mengatakan

: " " " "


Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hak intifa' atau ikhtishas adalah hak terbatas yang bukan bersifat kepemilikan atas pemanfaatan suatu barang. Termasuk ikhtishas adalah hak atas barang najis yang masih dapat dimanfaatkan selain manfaat yang diharamkan, seperti bangkai yang haram dimakan tetapi bisa diambil kulitnya untuk disamak dan kotoran hewan yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Ibnu Abdis Salam as-Syafi'iy menyebut :macam kedelapan dari ihktishas dengan mengatakan

: .
Ibnu Rajab al-Hanbaly menyebut salah satu contoh ikhtishas dengan :mengatakan

) ( .
Jika ikhtishas merupakan hak legal, dapatkah hak tersebut berpindah tangan ?baik dengan atau tanpa imbalan Perpindahan Hak Ikhtishas ,Hak ikhstishas atas barang najis bisa berpindah melalui pewarisan, wasiat hibah, sedekah dan transaksi lain yang tanpa ada imbalan. Menyinggung :pewarisan barang najis an-Nawawy mengatakan


Mengutip ar-Rawyany, an-Nawawy juga menyepakati diperbolehkannya hibah :dan sedekah barang najis. An-Nawawy berkata

)( )(
:Demikian pula tentang wasiat barang najis, an-Nawawy berkata

)(
Di sisi lain barang najis tidak diperhitungkan sebagai harta, dan karenanya menggasab atau merusak barang najis tidak menimbulkan tuntutan :mengembalikan atau ganti rugi. An-Nawawy berkata

)(
Sedangkan memindahtangankan barang najis dengan imbalan, sebagian .ulama memperbolehkannya

: .
3

(Sulaiman al-Bujayramy, Khasiyah al-Bujayramy ala al-Mnahaj) Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa barang najis dapat dipindahtangankan, baik dengan atau tanpa imbalan. Namun demikian kekuasaan atas barang najis yang diperoleh melalui pemindahtanganan tidak sama persis dengan kekuasaan yang didapat melalui pemindahan hak milik. Beberapa perbedaan yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: 1. Pemindahtanganan tidak berdampak kepemilikan. Sehingga di tangan siapapun, kekuasaan atas barang najis hanya sebatas ikhtishas 2. Wasiat barang najis sama sekali tidak mengurangi jatah tsuluts 3. Ketika diwaris barang najis tidak dibagi seperti harta warisan yang lain Catatan Atas Pemindahtanganan Barang Najis Dengan Imbalan Pertama, jika diperhatikan ada kontradiksi dalam pemindahtanganan barang najis dengan imbalan. Imbalan atau iwadl tentu diberikan sebagai penukar jasa atau barang. Jika imbalan itu dimaksudkan sebagai penukar jasa, maka obyek transaksi bukan lagi barang najis melainkan jasa, dan karenanya transaksi ini sudah keluar dari persoalan pemindahtangan barang najis dengan imbalan. Jika imbalan itu dimaksudkan sebagai penukar barang, maka di sinilah terjadi kontradiksi. Sebab barang najis tidak termasuk kekayaan. Dan yang bukan kekayaan tidak bisa ditukar dengan kekayaan. Bahkan orang yang merusakkannya pun tidak dituntut ganti rugi, meskipun tetap berdosa. Kedua, seperti telah disebutkan di atas bahwa Nabi melarang perdagangan barang najis. Jika pemindahtanganan barang najis diperbolehkan dengan imbalan, maka konsekwensi larangan Nabi, yaitu pertukaran barang najis, terjadi, meskipun dengan proses yang berbeda. Ketiga, dasar diperbolehkannya pemindahtanganan barang najis dengan imbalan adalah adanya kesamaan praktik dengan Nuzul anil wadlaif atau melepas hak atas suatu tugas. Dan seperti diketahui Nuzul anil wadlaif tidak melibatkan barang, melainkan sekedar hak intifa' yang dipindahtangankan@ Wallahua'lam Bishowab Tambakboyo, 26 Oktober 2010