Anda di halaman 1dari 21

Dizziness or Vertigo?

: Case Study
Sri Sutarni Sudarmadji
Sub Dept. Neuro Otology Dept. Neurology Fac. of Med. Gadjah Mada Univ./ Sardjito General Hospital Yogyakarta

CASE
Seorang laki-laki umur 25 tahun datang dengan keluhan utama pusing berputar. Keluhan dirasakan untuk yang ke-3 kalinya. Dua tahun yang lalu mengalami kecelakaan tanpa diikuti penurunan kesadaran. Dengan menutup mata keluhan berkurang, muntah 3 kali. Pemeriksaan nistagmus didapatkan tipe horisontal arah kiri

PERTANYAAN 1
Apakah kemungkinan diagnosis kasus tersebut ? a.Dizziness b.Light headeness c.Insufisiensi Vertebrobasilar d.Benign Paroxysmal Positional Vertigo e.Sinkope

JAWABAN
d. Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan suatu perasaan bergerak abnormal yang dipicu oleh posisi provokatif tertentu. Hal ini akan menimbulkan gerakan bola mata dalam bentuk nistagmus. Komponen cepat nistagmus horisontal mengarah ke topik yang sakit, tibatiba, sifat vertigo berat, berakhir dalam detik sampai menit (Mujeneb & Kahn, 2000)

PERTANYAAN 2
Dalam mendiagnosis BPPV kecuali anamnesis, salah satu pemeriksaan yang perlu dipertimbangkan adalah: a. Pemeriksaan darah rutin b. Tes Dix Hallpike c. Foto Toraks d. Pemeriksaan EKG e. Pemeriksaan Garpu tala

JAWABAN
(b) Tes Dix Hallpike: 1. Penjelasan, bahwa dengan tes ini mungkin keluhan vertigo akan muncul, tetapi menghilang setelah beberapa detik 2. Dudukkan pasien dekat ujung tempat tidur, kepala ekstensi 30-45 derajat, mata tetap terbuka 3. Kepala menengok ke kanan 45 derajat otolith di kupula semisirkularis posterior bergerak (Furman & Cass, 1996)

Dix Hallpike Test

PERTANYAAN 3

Kontra indikasi tes Hallpike adalah: a.Trauma kapitis b.Nyeri kepala c.Spondilosis Servikalis d.Sinkope e.Disequillibrium

JAWABAN (c) Spondilosis servikalis: 1. Pada kondisi Spondilosis servikalis posisi kepala ekstensi dan bergantung, akan memperbesar trauma yang mungkin ditimbulkan oleh manipulasi gerakan kepala 2. Hasil yang sama dapat dilakukan dengan posisi pasien Trendellenburg

PERTANYAAN 4

Terapi medikamentosa yang direkomendasikan : a.Anti histamine, anti emetik b.(a) + benzodiazepine c.(b) + H2 antagonis d.(c) + Epley Manuver e.(d) + Sermont Manuver

JAWABAN : (e)
1. Anti histamine diberikan berdasar evidence based medicine bahwa salah satu hipotesis kanalolitiasis merupakan suatu histamine like substance. Pemberian obat ini hanya berefek mengurangi gejala. Contoh: Betahistine mesylate, Promethasine 2. Anti emetik akan menghilangkan nausea sampai vomitus yang akan sangat mengganggu penderita, misalnya: metoclopramide

3. Benzodiazepine: diberikan dalam dosis rendah guna mengurangi efek kecemasan karena seringnya keluhan vertigo yang berulang 4. H2 antagonis direkomendasikan mengingat produksi asam lambung yang berlebihan memicu sistema proprioseptif, contoh: Omeprazole, Ranitidine 5. Epley Manuver: guna memindahkan otolith dari Kanalis Semisirkularis Posterior ke utrikulus

EPLEY MANEUVER

6. Semont Manuver: 6.1. BPPV pasien topik di kanalis posterior kiri arah berlawanan dengan topik kepala berpaling 45 derajat arah telinga kanan. 6.2. Badan dijatuhkan dengan cepat arah kiri selama 30 detik, telinga kiri di bawah . 6.3. Gerakan cepat ke arah berlawanan tanpa berhenti tunggu 30 detik 6.4. Manuver dilakukan minimal 3 kali dalam 1 hari

SEMONT MANEUVER

KESIMPULAN
1. BPPV merupakan keluhan Vertigo terbanyak pada pasien yang berobat ke Neurolog disamping Insufisiensi vertebrobasilar 2. Keluhan sangat mengganggu pasien karena sering berulang 3. Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis dan pemeriksaan nistagmus yang dijumpai

4. Managemen BPPV meliputi kausalis, simptomatis dan rehabilitatif 5. Edukasi terhadap pasien sangat penting mengingat berulangnya serangan dapat menimbulkan kecemasan

Terima kasih semoga bermanfaat