Anda di halaman 1dari 20

Modul 7 dan 8 Pengukuran

6.1. Tingkat Pengukuran (scales of measurement).

Variabel diturunkan dari teori yang didalamnya terdiri dari beberapa konsep, yang mana konsep-konsep tersebut masih abtrak, sehingga perlu dibatasi pengertiannya sesuai dengan obyek yang diteliti sehingga menjadi konstruk. Proses menginterpretasikan dan mengunakan konsep yang abstrak menjadi konstruk dalam mendekati masalah penelitian disebut dengan operasionalisasi konsep. Supaya dapat digunakan untuk meneliti opersionalisasi konsep tersebut diikuti dengan pengukuran (measurement) sehingga menjadi variabel, sedangkan operasionalisasi variabel dapat diterjemahkan sebagai gambaran hubungan antar variabel, yang nantinya digunakan sebagai dasar pengujian hipotesis. Dengan mengetahui variabel penelitian (sub variabel kalau diperlukan) dapat disusun dimensi, indikator, dan skala, sehingga dapat digunakan sebagai dasar penyusunan instrumen penelitian (alat pengumpulan data; apakah kuesioner atau pedoman observasi. Sedangkan mesurement (pengukuran) merupakan kesepakatan yang digunakan untuk memberikan bobot dengan menetapkan bilangan secara sistematis pada variabel penelitian. Misalnya meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dengan skala cm, termometer adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur suhu dengan skala derajat selcius dst. Sedangkan untuk mengukur fenomena sosial digunakan suatu instrumen misalnya skala Likert, skala sematik diferensial, skala Guttman, skala Borgadus, skala Thurstone) dsb. Tahap selanjutnya menentukan populasi dan/atau sampel yang mana observasi (baca: data terkumpul) sebagai tahap ketiga. Variabel seperti apa yang harus ada, konsep seperti apa yang valid ? Sebagai ilustrasi pendekatan biologik mungkin dapat membantu, apabila kita ingin mengambarkan manusia hidup , maka setidaknya harus hidup dan

memiliki kepala, leher, badan, kaki, tangan, telingga, rambut, jari, mata, mulut , hidung dsb. Coba pikirkan apabila tidak ada leher, apakah disebut manusia hidup, apabila tidak ada kepala apakah disebut dengan manusia hidup, apabila tidak punya tangan apakah manusia masih hidup...dsb. Semakin lengkap kita mengambarkan maka akan semakin mendekati fenomena yang sebenarnya, kalau bagian-bagian diatas adalah konsep-hubungan antar konsep yang kita lakukan maka semakin valid konsep tentang manusia hidup . Anda memiliki batas minimal bagian apa saja yang harus ada supaya dikatakan manusia, itulah gambaran konsep apa yang harus ada dalam mengambarkan fenomena-yang harus kita konseptualisasikan. Dalam melakukan pengukuran maka harus digunakan alat ukur yang mampu mengukur apa yang akan diukur. Apabila kita mengukur panjang maka akan velid jika mengunakan meteran, artinya tidak valid apabila diukur dengan timbangan atau termometer dsb. Kesesuaian antara alat ukur dengan apa yang diukur inilah yang disebut dengan validitas. Dalam ilmu sosial yang diukur adala h sikap-sikap sosial, opini, pendapat, mitivasi, perilaku, kiinerja, image dsb. Sehingga apabila kita akan mengukur motivasi harus menggunakan alat ukur yang dapat mengukur motivasi tersebut, yaitu teori atau konsep-konsep motivasi. Apabila kita akan mengukur kinerja maka harus mengunakan teori atau konsep kinerja. Kalau membuat instrumen penelitian harus mengambarkan bagian-bagian yang ada dalam fenomena tersebut, instrumen harus disusun dengan rapi dan baik sehingga memotivasi orang untuk mengisi dengan baik. Apabila instrumen untuk melakukan observasi maka instrumen tersebut tidak membingungkan apa yang akan diobservasi dst. Demikian juga instrumen penelitian misalnya sebagai alat ukur harus memiliki konsistensi apabila digunakan ditempat lain, apabila digunakan berkalikali akan diperoleh hasil yang sama atau sedekat-dekatnya-mendekati sama. Apabila ada alat ukur meteran yang dapat digunakan untuk mengukur fenomena panjang benda , apabila digunakan ditempat lain, oleh orang lain, digunakan berkali-kali harusnya tetap mampu mengukur fenomena panjang , kecuali rusak

meteranya. Demikian juga apabila ada instrumen yang dapat mengukur motivasi kerja, seharusnya memiliki konsistensi mengukur fenomena yang sama ditenpat dan waktu yang berbeda. Apabila tidak ada hasil yang sama bisa jadi ala t ukur tersebut sudah tidak mampu mengukur apa yang harus diukur, tidak memiliki konsistensi dalam pengukuran motivasi atau cara kita mengoperasionalkan alat ukur tersebut salah. Berbagai ilustrasi tersebut dalam metodologi penelitian berkaitan dengan kualitas instrumen penelitian. Instrumen penelitian harus memenuhi aspek validitas dan reliabilitas, sehingga akan menghasilkan data yang berkualitas pul a. Apabila hasil dari instrumen tersebut sudah valid dan reliabel, dan cara kita mengukur sudah benar, maka akan menghasilkan data yang benar. Apabila kita analisis, kesimpulan kita berdasar pada data yang benar. Apabila data tersebut salah, maka kesimpulan tersebut akan salah pula. Bagaimana kita yakin instrumen kita sudah berkualitas baik atau keyakinan kita saja sudah berkualitas baik pada hal belum ? Hal inilah yang harus dihindari yaitu kesalahan sistematis metodologis, supaya benar maka harus kita teliti dan kita uji instrumen tersebut dengan uji validitas dan reliabilitas. Pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan untuk memberikan bobot dengan menetapkan bilangan secara sistematis pada variabel penelitian. Misalnya meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dengan skala cm, termometer adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur suhu dengan skala derajat selcius dst. Sedangkan untuk mengukur sikap digunakan instrumen pengukuran sikap misalnya skala Likert, skala sematik diferensial, skala Guttman , skala Borgadus, skala Thurstone.

Jenis data: Nominal adalah tingkat pengukuran yang gunakan hanya membedakan kategori yang satu dengan kategori yang lain, dan tidak menunjukan jarak antar kategori.Contoh : laki-laki = 1 Perempuan = 2 ( angka 1 dan 2 hanya membedakan jenis kelamin)

Ordinal adalah tingkat pengukuran memungkinkan peneliti mengurutkan paling rendah sampai tingkat yang setuju = 5, Setuju = 4, ragu-ragu

yang tidak hanya membedakan tetapi juga pernyataan responden dari tingkat yang paling tinggi dan sebaliknya. Contoh : Sangat =3, Tidak setuju = 2, Sangat tidak setuju = 1.

Interval suatu tingkat pengukuran yang memungkinkan peneliti mengurutkan responden dan jarak antar obyek. Contoh : skor 80 100 = A, 70 80 = B+, 60 70 = B, 50 60 = C, <50 =D

Rasio adalah suatu tingkat pengukuran yang memungkinkan mengurutkan dan mengetahui jarak antar nilai dengan nilai nol mutlak.Contoh : Anak Aditya Murti beratnya 16 Kg, Anak Hansa beratnya 8 Kg, maka berat anak Aditya Murti 2x berat anak Hansa, Berat anak Aditya dan Hansa adalah 24 Kg dst ( dapat diberlakukan operasi perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan).

7.2. Teknik Pengumpulan Data 7.2. 1. Observasi

Observasi; pengamatan dengan melakukan pencatatan/pengkodean perilaku individu atau suasana (kondisi) dsb.

Menurut Jmes P. Chaplin, Observasi ialah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Observasi ialah pengujian secara intensional atau bertujuan sesuatu hal, khususnya untuk maksud pengumpulan data. Merupakan suatu verbalisasi mengenai hal-hal yang diamati (Kartini,Kartono,1996:157)

Sebagai metoda ilmiah observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung (Sutrisno Hadi, 1990:136).

Jenis observasi : a. Observasi partisipatif; b. Observasi sistematis (structured observation) c. Observasi eksperimental

7.2. 2. Wawancara

Wawancara; Teknik pengalian data ini lebih banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, walaupun tidak menutup kemungkinan digunakan dalam penelitian kuantitatif. Penggalian data dari responden ini dilakukan dengan bertanya langsung sesuai dengan obyek yang diteliti, permasalahan atau fokus penelitian. Wawancara berstruktur (dengan pedoman wawancara sudah dibuat dahulu). Wawancara tak berstruktur jenis wawancara bebas sesuai dengan tujuaan penelitian. Wawancara terarah, apabila pokok-pokok pertanyaan telah disiapkan.

7.2.3. Dokumentasi

Berbagai data yang sudah tersusun sebagai informasi yang terbukukan, terekam, atau tersimpan dapat digunakan sebagai sumber data. Hasil-hasil riset, data BPS, data institusi, data perusahaan, dsb. Sebagai contoh dalam marketing data penjualan bebepara tahun dapat dianalisis untuk menentukan estimasi penjualan pada tertentu, atau pertumbuhan penduduk beberapa tahun dapat digunakan untuk mengestimasikan jumlah penduduk pada tahun

tertentu, kalau dalam audit komunikasi data tentang data keluhan pelangan, email, surat, dsb. Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data, karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan meramalkan. (Moleong,2004:161)

7.2.4. Kuesioner

Kuesioner adalah seperangkat pertanyaan atau pernyataan alat untuk memperoleh/mengumpulkan data primer dari responden.

Kuesioner ada beberapa jenis;

a. kuesioner tertutup (jawaban telah disediakan, Misal: Jenis Kelamin : 1. Perempuan 2. Laki-laki ), b. kuesioner terbuka (jawaban disi sendiri oleh responden, Misalnya : Untuk jenis isi berita Nasoinal melalui media televisi yang biasa di tonton sesuai urutan adalah : 1...............2............3.............4............dst ), c. kuesioner terbuka-tertutup, dan semi terbuka ( Misalnya alasan meonton TV = 1. mencari informasi 2. mengisi waktu luang, 3. mencari hiburan, 4. menghilaangkan kejenuhan 5. Lainya........,.........,............(sebutkan dapat lebih dari satu).

7.2. 5. Focus Group Discution (FGD) dsb

FGD digunakan sebagai salah satu pengalian data (informasi) pada suatu casus spefisik, kontemporer, lintas disiplin dsb yang dilakukan dengan diskusi kelompok orang-orang yang kompeten/ahli dengan kasus tersebut atau berkaitan langsung dengan maslah atau fokus tertentu. Misalnya: penanganan banjir, strateg i komunikasi, strategi periklanan, perencanaan restrukturisasi perusahaan, managemen krisis dsb.

FGD adalah sebuah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif. Teknik ini dimaksudkan untuk memperoleh data dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada permasalahan tertentu (Bungin,2005:225). Lebih lanjut dikemukakan bahwa ...pertimbangan menentukan siapa yang terlibat dalam FGD berkaitan dengan bebepara hal;

a. keahlian atau kepakaran seseorang dalam kasus yang akan didiskusikan; b) pengalaman praktis dan kepedulian terhadap fokus masalah (c). pribadi terlibat dalam fokus masalah

(d). Tokoh otoritas terhadap kasus yang didiskusikan (e) masyarakat awam yang tidak tahu menahu dengan masalah tersebut, namun ikut merasakan persoalan sebenarnya....Pelaksanaan diskusi dipimpin oleh seorang pimpinan diskusi dan juga bisa dibantu oleh sekretaris yang akan mencatat jalanya diskusi. Namun, bisa saja pimpinan diskusi mencatat sendiri jalanya diskusi...(Bungin, 226-2327)

7.3. Data Primer dan Data Sekunder

7.3.1.a Data Primer Pertama adalah berbagai informasi tentang responden berkaitan dengan obyek penelitian. Data responden ini dapat dengan pertanyaan/pernyataan terbuka, tertutup atau gabungan tertutup terbuka. Data responden ini dapat digunakan untuk mengali informasi lebih dalam, fleksibel dan bervariasi tentang obyek penelitian pada responden yang tidak memungkinkan digali. Hal ini karena pada data primer kedua yang lazimnya untuk uji hipotesis terikat oleh pengukuran (penskalaan) yang kita gunakan, sehingga kuesioner terkesan kaku dan terbatas. Hasil data responden tentang obyek penelitian pertama ini lazimnya diolah dengan statistik diskriptif untuk bahan pembahasan (diskusi) temuan penelitian.

7.3.1.b. Dengan demikian, Data primer yang ke-dua adalah data primer yang merupakan item-item pernyataan responden yang diturunkan dari indikator, dimensi dan variabel penelitian yang biasanya digunakan untuk uji hipotesis. Berdasarkan indikator dan pengukuran (penskalaan) inilah kita susun kuesioner, yang mana setiap indikator minimal menjadi satu item pertanyaan/pernyataan. Lazimnya untuk memudahkan item berupa pertanyaan dikumpulkan dengan item pertanyaan, demikian juga item pernyataan.

Catatan : 1. Untuk penelitian diskriptif kuantitatif yang mungkin tidak ada hipotesisnya, maka data primer ke-dua adalah item-item pernyataan responden yang diturunkan dari indikator, dimensi dan variabel penelitian yang akan didiskripsikan).

2. Untuk penelitian kualitatif juga dapat mengunakan kuesioner terbukatertutup untuk melengkapi alat pengumpulan data lainnya, misalnya wawancara, dokumentasi, observasi dsb, hanya saja kuesioner dalam penelitian kualitatif tersebut tidak digunakan untuk menguji hipotesis dan tidak diturunkan dari variabel, karena dalam penelitian kualitatif tidak menguji hipotesis apalagi variabel.

7.3.2. Data sekunder adalah data pendukung yang berhubungan dengan tujuaan dan obyek penelitian, baik dari kepustakaan, instansi (Pemda, BPS, data Perusahaan, Kliping Koran, Internet, hasil riset peneliti lain dsb) atau yang terdokumentasikan.

8.1. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 8.1.1. Pengantar

Validitas internal (Internal validity) berkaitan dengan instrumen itu sendiri, apakah instrumen tersebut diturunkan dari teori-konsep yang valid, apak ah isi intrumen tersebut telah mengambarkan fenomena yang akan diukur, apakah instrumen tersebut telah tampak meyakinkan, apakah mampu mengali informasi yang tersembunyi bahkan memprediksikan susuatu dsb. Validitas eksternal (eksternal validity) berkaitan dengan apakah instrumen yang kita buat disusun berdasarkan data empiris, atau membandingkan antara suatu standart yang ditetapkan dengan data empiris instrumen yang akan kita gunakan. Misalnya kita membuat kuesioner, kuesioner tersebut kita uji cobakan pada minima l 30 responden dengan karakteristik sama/mendekati sama dengan responden penelitian kita. Hasilnya kita korelasikan dengan korelasi Product Moment (baca contoh cara menghitung dibawah), sedangkan hasil korelasi tersebut kita bandingkan deng an nilai tabel-signifikan atau tidak . Cara yang lain misalnya Azwar mengatakan kriter ia minimal skor korelasi 0,3 diangap item layak digunakan untuk meneliti, kalau kur ang direvisi atau tidak dipakai. Atau kalau peneliti menghendaki kualitas penelitian yang lebih baik dapat dengan kriteria lebih tinggi, misalnya 0,7 atau 0,8. Alat ukur dalam ilmu sosial yaitu Instrumen penelitian yang diturunkan dari variabel, dimensi, indikator dan skala yang digunakan. Sebagai alat pengumpulan data maka apakah kuesioner, observasi, wawancara, FGD, dsb berkaitan dengan ketepatan dan kecermatan mengukur apa yang kita ukur, dan memiliki konsistensi apabila digunakan untuk mengukur gejala yang sama pada waktu yang berbeda atau oleh peneliti lainnya. Uji validitas reliabilitas saya ambil contoh instrumen penelitian : kuesioner, sedangkan validitas-reliabilitas observasi dalam pembahasan analisis isi (content analisys) atau eksperimen. Sedangkan validitas reliabilitas wawancara, FGD seharusnya dibahas dalam metode penelitian kualitatif

8.1.2. Validitas

Ciri penelitian kuantitatif dengan langkah yang sistematis, terkontrol, terencana dsb. Kontrol metodologis atas instrumen kita yaitu dengan uji validita s reliabilitas. Apa bedanya dengan penelitrian kualitatif ? Penelitian kualitatif instrumen penelitiannya adalah peneliti itu sendiri, lalu bagaimana peneliti menguji validitas dan reliabilitas dirinya sendiri ? dalam penelitian kualitatif lebih mengenal keabsahan data , yang dapt diperoleh dengan: standart kredibilitas (mengikutkan peneliti lain, melakukan observasi sungguh-sungguh, trianggulasi, diskusi teman sejawat, dsb, sandart tranferabilitas, standart dependabilitas (konsistensi peneliti dalam proses pengumpulan data, standart konfirmabilitas (pemeriksaan kualitas dan kepastian hasil penelitian, apa benar data tersebut memang benar-benar dari lapangan). Kuesioner adalah seperangkat pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian, dan tiap pertanyaan merupakan jawaban yang mempunyai arti dalam menguji hipotesis (M. Nazir, 1988 : 248). Sedangkan setiap alat ukur (baca:kuesioner) senantiasa berhadapan dengan sejauh mana alat ukur tersebut mengukur apa yang diukur (validitas) dan konsistensi alat ukur (reliabilitas) tersebut bila digunakan dapat dipercaya. Menurut Azwar (1997,4-5) validitas berasal dari validity, yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Selanjutnya dikemukakan walaupun reliabilitas mempunyai berbagai nama lain, seperti : keterpercayaan, keterandalan, keajekan, konsistensi, dsb, ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Sugiyono (2006:115) mengemukakan ...instrumen-instrumen dalam bidang sosial walaupun telah teruji validitas analisis reliabilitasnya, tetapi b ila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin valid dan realiabel lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena gejala/fenomena sosial itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya. Instrumen tentang kepemimpinan mungkin valid untuk kondisi Amerika, tetapi mungkin tidak valid untuk Indonesia.

Validitas Konstruk (construct validity) adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau kontruk teoritis yang hendak diukurn ya, Alen & Yen (1979) dalam Azwar (1997:48). Apakah konstruk yang kita turunkan dari konsep tersebut sudah valid, sudah lengkap dan mampu menggambarkan fenomena yang akan kita teliti ?

Cara pertama, cara yang dapat dilakukan oleh peneliti, bahwa peneliti tersebut mengetahui perkembangan teori/konsep yang dioperasionalisasikan, dengan membaca buku atau jurnal-jurnal ilmiah nasional atau internasional. Cara kedua, meminta pendapat ahli yang kompeten dibidangnya, apakah konseptualisasi yang dilakukan pada fenomena tersebut telah lengkap dan valid, perlu tidak penambahan atau pengurangan dsb. Cara ketiga, gabungan keduanyya akan lebih meyakinkan. Hal ini mungkin penajaman pemahaman perbedaan penelitian kuantitatif dengan kualitatif tentang posisi teori dalam penelitian, apabila peneliti mengunakan pendekatan kuantitatif harus mengetahui deduksi teori-menguasai teori apa yang digunakan untuk mendekati fenomena atau problematika penelitian.

Validitas isi (content validity) merupakan validitas yang diperkirakan secara rasional bahwa isi tes tersebut telah mencakup keseluruhan elemen yang akan diuk ur, disajikan dengan bahasa yang singkat, jelas-mudah dipahami, sederha dsb. Pemahaman siapa yang akan mengisi kuesioner menjadi pertimbangan. Validitas Isi dapat dilakukan dengan pendapat ahli (profesional jugment).

Validitas Muka (appearance validity), sesuai dengan namanya test-test yang tampaknya meyakinkan akan menarik memotivasi orang yang akan mengisinya. Kemasan kuesioner yang baik tampilan dan sistematikanya berarti memenuhi kriteri a validitas muka.

Validitas Logik (Logig validity/sampling validity), instrumen yang dapat diterima akal dan hanya item-item pertanyaan/pernyataan yang berkaitan dengan atribut yang akan diukur, sedangkan atribut yang akan diukur berkaitan dengan ob yek penelitian pada atribut sampel, sehingga sering disebut dengan sampling validity .

Validitas berdasar Kriteria (Criterion validity), validitas ini dapat dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor tes dengan skor kriteria atau ukuran tertentu yang ditetapkan sebelumnya.

Validitas berdasar Kriteria (Criterion validity) ada dua, yaitu : a. validitas Prediktif (prediction validity) yaitu sejauh mana test-test mampu memprediksi kejadian yang akan datang. Misalnya sejauh mana tes UTS dan UAS dapat memprediksi kemampuan mahasiswa dalam menyusun Usulan Penelitian. Test performan kerja, sejauh mana test tersebut dapat memprediksi kemampuan dalam bekerja dsb

b. Validitas Konkuren, apabila skor test dan skor kriteria diperoleh pada waktu yang sama. Misalnya untuk mengukur kepuasan komunikasi karyawan kita gunakan instrumen ICA s Communication Satisfaction Questionnaire (CSQ) dan kriteria mengunakan instrumen Critical Incident Technique (CIT), hasilnya dikorelasikan, jika valid mana memenuhi aspek validitas konkuren Contoh: baca at

8.1.2.1. Jenis skala dan Jenis Alat analisa Data

Contoh skala yang digunakan adalah skala Likert: Sangat setuju, setuju; ragu-ragu tidak setuju; sangat tidak setuju. Skor yang diberikan pada setiap jawaban responden adalah : SS = 5; S = 4; R = 3; TS = 2; STS = 1,

Untuk pernyataan (item) yang positif. Apabila pernyataan bersifat negatif, maka skornya dibalik menjadi : SS = 1; S = 2; R = 3; TS = 4; STS = 5.

Supaya memperoleh pengujian hipotesis yang valid dan obyektif, diperlukan data yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Uji validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total dengan menggunakan rumus teknik korelasi product moment ( Ancok, dalam Singarimbun dan Effendi, 1989 : 138 ) yang rumusnya sebagai berikut :

) ) Y( YN ( ) )X ( - X N ( ) Y X ( - ) XY ( r2222S-SSSSSS= N

Keterangan : r = korelasi X = skor setiap item Y = Skor total item X. N = jumlah responden, Contoh berikut ini:

Contoh Menghitung validitas dengan program Excel :

Hasil korelasi product moment diatas menunjukan validitas kuesioner apakah vaditas tinggi atau rendah. Menurut Azwar (1995 : 153) korelasi minimal setiap item lebih besar atau sama dengan 0,30 (= 0,30) dengan demikian pernyataan yang memiliki skor korelasi lebih kecil dari 0,30 tidak digunakan. Sedangkan Jamaludin Ancok (1989:139) angka hasil korelasi bandingkan dengan r tabel, df = n-k ( n = jumlah responden, k=jumlah variabel), jadi df = 1 0 2 = 8, dengan derajad kepercayaan 10%, maka r tabel diperoleh 0,5494 . Kiesioner yang valid jika nilai r hitung > r tabel, dengan demikian yang tidak valid adala h kuesioner dengan korelasi r3, r4,r5, r6, r8. Yang tidak valid tidak dipakai, yan g vali disusun kembali dan dihitung reliabilitasnya.

8.1.2.2. Reliabilitas

Reliabilitas instrumen penelitian dapat mengunakan teknik split half dengan langkah sebagai berikut :

belah dua /

1. Membagi item yang valid ke dalam dua belahan yaitu item ganjil dalam belahan pertama dan item genap dalam belahan kedua. 2. Menjumlahkan masing-masing skor dalam belahan, sehingga diperoleh skor total masing-masing belahan. 3. Skor total ganjil dan genap dikorelasikan dengan korelasi product moment. Mencari reliabilitas semua item yang valid dengan cara menguji angka reliabilitas metode Belah Dua-Spearman Brown (Ancok, dalam Singgarimbun dan Effendi, 1989 : 144 ) yang diperoleh dengan rumus :

ttttrr. . tot1 ) (2 r. + = Keterangan : r.tot = angka reliabilitas item. r.tt = angka korelasi belahan pertama dengan belahan kedua.

Jadi Reliabilitas sebesar 0.9348, hasil tersebut konsultasikan dengan kriteria Guilford sehingga diperoleh informasi tentang reliabilitasnya. Kriteria Guilford yang dimaksud yaitu : < 0,20 = tidak ada korelasi. 0,20 -< 0,40 = korelasi rendah 0,40 - < 0,80 = korelasi sedang 0,80 -< 0,90 = korelasi tinggi 0,90- < 1,00 = korelasi tinggi sekali 1,00 = korelasi sempurna.

Apabila hasil reliabilitas menurut Kriteria Guilford dalam rentang korelasi rendah atau bahkan tidak ada korelasi maka rata-rata korelasi masing-masing item (validitasnya cenderung rendah), artinya alat pengalian data / kuesioner dat a primer ke-dua (pengkuantitatifan pernyataan responden yang sebenarnya kualitatif ) kurang lengkap atau kurang dapat dipahami oleh responden.

Validitas dan reliabilitas jenis pen-skalaan yang lain : - Skala Semantic differensial, biasanya lebih cocok untuk mengukur sifat-sifat subyek (baik.....buruk, senang.....tidak senang, kuat......lemah, sabar......pemarah dsb) .. skala interval - Skala dikotomis (ya tidak, benar salah) validitas dengan Korelasi Point Biserial (rpb) .

..Uji Reliabilitasnya dengan data sekurang-kurangnya ordinal teknik belah dua / split half (genap-ganjil) , Pembelahan dua secara random (jika item-item cenderung homogen), Matched - Random Subsets (item dengan tingkat kesukaran dan r dekat dipasangkan dalam 1 belahan), formula Rulon, Koefisien alfa. .. Uji Reliabilitasnya dengan data dikotomis skor 1 dan 0, dengan rumus Kuder Richarson atau Kr-20 (formula alfa yang disesuaikan).

Pustaka

Muler, J.Daniel, 1998, Mengukur sikap-sikap sosial,Lemlit Press,UNPAS, Bandung Singarimbun, Masri,1989, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta Sugiyono, 2006, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan RD, Afbaeta, bandung Azwar,Saifudin,1997, Reliabilitas dan Validitas, Pustaka Pelajar, Jogyakarta