Anda di halaman 1dari 3

2.

Metode kampanye yang paling tepat untuk Indoensia saat ini adalah media
massa. Penggunaan media televisi sebagai salah satu alat komunikasi pada kampanye
secara terbuka, telah dipergunakan dalam Pemilu 1999. Sebagai salah satu contohnya
adalah iklan televisi PDI Perjuangan yang mengunakan Megawati Sukarnoputri sebagai
tokoh utama iklan dan slogan “Banteng Hitam dalam Lingkaran Bulat”. Iklan ini dapat
dianggap media promosi yang baru digunakan pada kampanye partai politik di dalam
Pemilu Indonesia, dimana pada Pemilu sebelumnya keberadaan iklan politik kurang
mendapatkan perhatian, faktor ini diakibatkan pengeluaran dana besar ditambah lagi
dengan alasan utamanya yaitu belum adanya ketentuan penggunaan iklan sebagai media
kampanye partai politik secara khusus.
Iklan televisi marak dipakai pada Pemilu 2004, kurang lebih lima belas partai
partai politik peserta Pemilu 2004 menggunakan media ini. Beberapa diantaranya adalah
Partai Demokrat dengan agensi iklan Dharma Pena, mengangkat tema kemakmuran dan
kesejahteraan di Indonesia jika calon presiden dari partai ini terpilih. Lainnya adalah
Partai Keadilan Sejahtera menggunakan agensi 25 Frame menentukan tema “Bersih dan
Peduli” dari tema tersebut ditampilkan keterlibatan PKS dalam beberapa bencana alam di
Indonesia beberapa waktu sebelumnya.
Pada artikel di majalah Cakram Edisi Mei 2004/243, Membeli Citra Lewat
Pariwara halaman 44-45, pendekatan iklan PKS serupa dengan pendekatan iklan televisi
dari Partai Damai Sejahtera, dimana DDB Indonesia sebagai agensinya menggunakan
pendekatan non-hard sell pada iklannya.
Modernisasi dan Amerikanisasi adalah faktor yang mendasasri munculnya iklan politik di
Indonesia. Dalam hal modernisasi dan Amerikanisasi ada tiga konteks lahirnya teori-teori
modernisasi (Suwarsono & So, 2006; 7-8) adanya marshall plan yan membuat Amerika sebagai
kekuatan dominant dunia. Kedua, terjadinya perluasan gerakan komunisme dimana Uni Soviet
memperlebar pengaruh di Eropa Timur, dan beberapa Negara di Asia, seperti Cina dan Korea.
Hal itu membuat AS menyebarkan pengaruhnya untuk membendung ideology komunis. Ketiga,
munculnya Negara-negara Dunia ke tiga yang sedang mencari model-model pembangunan yang
mereka terapkan, sebuah situasi yang membuat Amerika mendorong para ilmuan sosialnya untuk
mempelajari permasalahan negar Dunia ke Tiga untuk menyiapkan bantuan pembangunan bagi
Negara-negara itu dalam rangka membendung arus komunisme dunia. Amerika kerap di pandang
sebagai Negara dengan tingaka modernisasi komunikas plitikn ya paling maju karena kerap di
pandang sebagai the roll model untuk menjelaskan perkembangan komunikasi politik di Negara-
negara demokrasi barat atau adanya iklan politik karena ada arus demokratisasi dan ledakan
interaksi global yang membuat setiap informasi, pengetahuan, dan teknologi dapat masuk ke
Indonesia secara bebas dan menyebabkan keterbukaan.

Iklan politik pertama dalam sejarah Pemilu di Indonesia itu, selain dimuat di televisi, juga dimua
dalam versi cetak di berbagai media cetak, seperti Majalah Ummat, Panji Masyarakat, Gatra,
dll. Di belakang PKB, menyusul partai-partai lainnya, seperti PDI Perjuangan, Partai Golkar,
Partai Amanat Nasional, Partai Daulat Rakyat, dan Partai Republik. Dari sisi content,
kebanyakan iklan-iklan politik televisi pertama itu berisi visi dan platform serta sosialisasi nomor
partai. Selain iklan-iklan yang digarap parpol, muncul juga sejumlah Iklan Layanan Masyarakat
(ILM ) yang membangun awareness dan menumbuhkan peran serta masyarakat dalam Pemilu.

Keberadaan iklan politik televisi dalam Pemilu 1999 sendiri haruslah dilihat sebagai suatu
kecelakaan sejarah. Artinya iklan-iklan itu muncul karena adanya inisiatif kreatif dari parpol
untuk menggunakan medium-medium yang tersedia demi kepentingan internal partai. Inisiatif itu
kemudian dipahami oleh biro-biro iklan yang mempunyai niat tulus untuk mengembangkan
komunikasi politik Indonesia yang lebih modern.

3. Selama ini kampanye di Indonesia pada umumnya dengan model pengumpulan


massa dengan mendatangkan artis ternama untuk berjoget ria atau konvoi arak-arakan
kendaraan. Kampanye modal ini cenderung mengarah pada nilai hura-huranya tetapi
miskin orientasi pencerdasan terhadap pemilih. Model kampanye seperti itu, selain
mahal tidak memberikan pencerdasan kepada masyarakat, karena masyarakat hanya
disuguhi hiburan tanpa mengerti substansi pemikiran para kontestan.

Model kampanye lainnya melalui pemasangan iklan di media cetak dan elektronik.
Tetapi model kampanye ini hanya mampu dilakukan secara optimal oleh kandidat yang
memiliki banyak dana dan pada akhirnya uang lebih dominan berperan dalam
membentuk citra. Padahal skenario iklan jarang diarahkan untuk pencerdasan,
seringkali hanya bertujuan agar masyarakat terpukau, terkesan dan terobsesi pada figur
sang kandidat. Bahkan iklan pun tidaklah mencerminkan kualitas kandidat yang
sebenarnya.

Di tengah kekahawatiran itu, ada secercah harapan, rencananya Pansus RUU Pilpres
DPR akan memasukkan klausul debat pasangan calon presiden dan wakil presiden
sebagai bagian dari kampanye, tentu hal itu patut diapresiasi. Bahkan Wakil Presiden
Jusuf Kalla mendukung usulan agar kampanye Pilpres 2009 lewat debat publik. Karena
debat publik dianggap lebih positif, lebih adil, lebih cepat dan lebih murah.

Dengan demikian, sudah saatnya perlu dipikirkan sebuah model kampanye baru yang
dapat mencerdaskan masyarakat. Sebuah model kampanye baru yang lebih memberi
ruang kepada kandidat negarawan dibandingkan kandidat hartawan. Tantangan ke
depan, khusunya pada Pemilu 2009, mampukah sistem pemilu kita mendorong
tumbuhnya model kampanye yang bersifat edukatif, efisien dan ekonomisl serta
demokratis?
Jadi kampanye yang bersifat dialogis lah yang dirasakan sangat edukatif bagi
masyarakat.dikarenakan masyarakat lebih mengetahui program – program kerja kampanye
tersebut.