Anda di halaman 1dari 18

Desain berorientasi iklim oleh : Ren Katili arsitektur muda indonesia

Bumi menawarkan kepada manusia bermacam macam ruang hidup dengan iklim yg berbeda. Mulai dari gurun pasir dan kutub yang bersuhu ekstrim hingga pesisir mediteran dan padang savanna yg beriklim ideal.

Manusia dituntut berjuang di dalamnya untuk tetap hidup dengan cara mereka masing masing.

Pada dasarnya manusia merespon suhu luar tubuh secara otomatis dengan merasakan sensasi dingin atau panas yg diterima oleh kulit. Sensasi inilah yg digunakan oleh otak untuk memberikan sinyal pada bagian tubuh lain untuk mempertahankan kondisi tubuh stabil pada suhu 37 derajat. Karena pada suhu inilah organ tubuh manusia dapat berfungsi dengan baik. Apabila suhu luar meningkat, tubuh merespon dengan mengeluarkan keringat untuk melepaskan panas. Apabila suhu luar berkurang, tekanan darah pun berkurang dalam upaya mengurangi panas yang keluar dari dalam tubuh. Dalam perjuangannya melawan keadaan iklim, inilah contoh yang telah dilakukan mereka mereka penghuni bumi yang diturunkan dari generasi ke generasi tanpa merusak lingkungan.

Penghuni belahan utara kutub menahan angin dingin dengan balok balok es berbentuk iglo. Dengan insulasi yg baik, secara efektif mereka dapat mempertahankan suhu ruangan di atas titik beku air dengan memanfaatkan panas tubuh mereka dan pasangannya. Penghuni beriklim gurun dan arid membangun hunian saling berdempetan untuk saling memberikan bayangan satu dengan yang lainnya, menghindari glare dan badai gurun. Menangkap angin untuk dialirkan ke dalam perut bumi sebelum masuk ke dalam hunian, merupakan cara terbaik mendapatkan udara sejuk dan lembab melawan kekeringan.

Penghuni yg berada di sisi equator beriklim tropis membangun rumah mereka berjauhan dan terbuka utk memberi kesempatan angin yang kecepatannya relatif rendah mengalir dengan bebas mempercepat penguapan. Meninggikan bangunan dengan panggung menghindari kelembaban yg sangat tinggi dari permukaan tanah. Menutup hunian dengan atap yang lebar di keempat sisi terluar menghindari curah hujan yang tinggi masuk ke dalam rumah. Meneduhkan atap hunian dengan tanaman yang berasal dari hutan tropis berdaun lebar dan tinggi. Secara kenyamanan thermal, inilah yg membuat hunian di daerah tropis ini menjadi idaman bagi para penghuni bumi yang lain.

Rumah Nol Energi/Emisi Salah satu perannya sebagai arsitektur adalah mencoba menerapkan pembangunan rumah dengan mengolah atau memanfaatkan rumah tersebut dari lingkunganny untuk mendapatkan energi.

Istilah rumah nol energi/emisi diterapkan untuk bangunan yang menggunakan sumber energi terbarukan di lokasi untuk menghasilkan energi untuk operasional, sehingga lebih dari setahun jumlah energi yang dihasilkan sama dengan jumlah energi yang dibutuhkan oleh bangunan

Sebagai contoh, sebuah rumah membutuhkan 5000kWh listrik untuk operasional selama satu tahun. Bangunan dapat dianggap nol energi/emisi bila kebutuhan tersebut dipenuhi dengan menggunakan sumber energi terbarukan misalnya panel photovoltaic yang menghasilkan listrik sebesar 5000kWh.

Rumah nol energi/emisi bermula dari ide untuk menggunakan listrik terbarukan yang dihasilkan di site tempat rumah tersebut didirikan, sehingga rumah nol energi/emisi adalah bahwa rumah tersebut relatif mandiri. Manfaat utama dari menciptakan rumah nol energi/emisi adalah strategi peningkatan efisiensi energi serta peningkatan kesadaran dan pemahaman bagi penghuni mengenai penggunaan energi.

PERANCANGAN RUMAH NOL ENERGI/EMISI

Merancang rumah nol energi/emisi dapat menjadi kompleks, karena masing-masing solusi desain harus disesuaikan dengan lokasi tertentu. Ini termasuk merancang dengan fitur dan kualitas dari site, merancang untuk persyaratan penggunaan bangunan, merancang dengan pemahaman tentang bagaimana menggabungkan sumber energi terbarukan di lokasi dan merancang dengan pertimbangan penggunaan energi yang sebenarnya, yang dipengaruhi oleh perilaku penghuni . Prinsip-prinsip dasar yang dapat diikuti untuk merancang rumah nol emisi mencakup:
1. Menggabungkan strategi efisiensi energi dengan pilihan energi terbarukan dari awal proyek. 2. Memilih lokasi yang memungkinkan peluang penggunaan energi terbarukan, serta mengurangi penggunaan transportasi. 3. Memaksimalkan strategi desain pasif dalam desain rumah untuk mengurangi pemakaian energi. 4. Mengurangi penggunaan air dalam hubungannya dengan mengurangi pemakaian air panas.

5. Memilih bahan yang digunakan secara tepat, dengan memasukkan bahan yang meningkatkan strategi desain pasif dan memiliki energi yang rendah dalam produksinya.
6. Mengurangi penggunaan energi di keseluruhan isi rumah.

Karbon Netral Gaya hidup kita dan hunian memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan. Untuk menyeimbangkan dan mengurangi tren tsb, kini mulai berkembang interest pada Karbon Netral Karbon netral bertujuan untuk menyeimbangkan jumlah keseluruhan CO2 yang diilepaskan ke atmosfer, dengan menghitung berapa banyak CO2 yang dilepaskan dari suatu kegiatan dan mengurangi jumlah yang setara CO2 dalam kegiatan lain.

Karbon dioksida (CO2) adalah gas alami di atmosfer. Sebelum revolusi industri tingkat CO2 di atmosfer secara konsisten antara 260 dan 280 bagian per juta (ppm). Sejak revolusi industri masyarakat manusia telah menjadi semakin tergantung pada pembakaran bahan bakar fosil batubara dan minyak dan sebagai akibat aktivitas manusia ini, telah meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer lebih dari 380 ppm

Kegiatan yang kita anggap sebagai biasa-biasa saja, seperti mengemudi mobil atau pendinginan ruangan dlm rumah dengan AC, terus memberikan kontribusi pelepasan CO2. Walaupun CO2 merupakan bagian kecil dari komposisi atmosfer, namun memainkan peran utama dalam menciptakan efek rumah kaca. Peningkatan kadar CO2 telah terbukti berhubungan dengan pemanasan global dan perubahan iklim, sementara itu pengurangan CO2 ke tingkat pra-industri yang dianggap sulit untuk dicapai. Oleh karenanya pengurangan CO2 dlm bentuk apapun akan membantu memperlambat perubahan iklim. Dan setiap rumah tangga dapat berkontribusi. Untuk diketahui, mengurangi penggunaan energi tidak sama dengan mengambil karbon dari atmosfer, melainkan hanya mengurangi jumlah CO2 yang dikeluarkan

MENJADI KARBON NETRAL Langkah pertama untuk menjadi karbon netral adalah mengurangi penggunaan energi dan jumlah CO2 yang dikeluarkan.

Mengurangi emisi CO2 dari rumah kita dapat dicapai dengan mengadopsi berbagai teknik dan prosedur, seperti: 1. Mengurangi penggunaan peralatan listrik dan mematikan lampu, ketika tidak diperlukan. 2. Memilih peralatan energi yang lebih kecil dan efisien dengan menggunakan daya rendah serta menghindari pembelian yang tidak perlu. 3. Mengurangi penggunaan air (pompa listrik), mengurangi pemakaian air panas dan memasang shower air yang efisien. 4. Memasang tirai/sunshading untuk mencegah pemanasan ruang oleh cahaya matahari. 5. Mengubah sumber bahan bakar sistem air panas. Misalnya beralih dari sistem pemanas air listrik panas ke sistem pemanas air dengan gas atau solar sistem. 6. Meningkatkan efisiensi energi ketika membangun rumah, renovasi, menyewa atau membeli melalui metode seperti: - Memastikan orientasi yang efektif dan tata letak untuk memaksimalkan strategi solar-pasif - Ukuran dan orientasi jendela yang tepat dan akurat 7. Menerapkan dan mengembangkan rumah Zero Energy

Sementara mengurangi emisi CO2 dalam gaya hidup kita bisa dicapai dengan:

1. Beralih ke pilihan transportasi yang memiliki dampak rumah kaca yang rendah seperti berjalan, bersepeda atau angkutan umum, jika perlu hanya menggunakan telepon atau email. dari rumah sebagai pengganti kerja dari kantor. Jika mobil menjadi sangat penting, gunakan yang berbahan bakar-efisien.
2. Lakukan komposting terhadap limbah makanan 3. Pembelian makanan, produk dan jasa lainnya tanpa melakukan perjalanan jarak jauh. 4. Meminimalkan limbah kemasan dan sampah dengan metode mengurangi, penggunaan kembali, daur ulang 5. Mengurangi pembelian produk non-esensial dengan bertanya pada diri sendiri apakah saya benar-benar membutuhkannya?" 6. Berlibur lebih dekat dari rumah daripada terbang ke tujuan yang jauh.

Teknologi mengubah cara membangun, namun tidak selalu menjadi baik Desain berkelanjutan adalah bukan konsep baru melainkan konsep yg sempat hilang. Alasan kita membuat bangunan hari ini adalah sama seperti alasan kita membangun di masa lalu yakni untuk tempat penampungan yang aman dan sehat yang melindungi kita dari angin dan hujan, yang dapat membuat kita tetap hangat ketika dingin, dan menjaga kita tetap dingin dan teduh ketika panas. Selama jangka waktu yang lama, dengan cara trial and error, orang telah berevolusi mencoba solusi dan membuktikan apa yang kita sebut dengan bangunan vernakular dan semua solusi yang mengandung elemen desain yang berkelanjutan.

Sejak manusia hidup di gua-gua dan menikmati manfaat dari suhu yang stabil dan ventilasi alami dengan "zero" dampak lingkungan, hingga kini kita telah menyempurnakan penggunakan material untuk peningkatan penyediaan tempat tinggal. Murah, mudah diakses, sumber energi fosil dan perkembangan baru teknologi dan bahan telah mendorong kita untuk memecahkan masalah bangunan secara berbeda - beda. Sayangnya, banyak dari metode baru malah mengurangi kemampuan planet kita untuk mendukung kita dalam jangka panjang atau bahkan menengah.

Teknologi telah berubah dan telah mengubah cara kita membangun, namun tidak selalu menjadi lebih baik. Kita telah menjadi terbiasa dengan gagasan bahwa bangunan dapat dipanaskan atau didinginkan seperti yang kita pilih hanya dengan pembakaran energi. Tanpa pilihan itu, anda akan mulai melihat bagaimana cara udara tetap hangat selama musim dingin dan bagaimana untuk menyingkirkan udara hangat selama musim panas, dan itulah yang dilakukan pendahulu kita. Bangunan vernakular Indonesia menggunakan jerami sebagai insulasi tingkat tinggi untuk berurusan dengan panas iklim tropis. Konsep terbuka memungkinkan ventilasi silang dari udara panas yg biasa menumpuk di ruang atap. Eave/overhang bangunan juga berkontribusi mengurangi panas. Prinsip-prinsip ini bekerja dalam bangunan tradisional yang juga merupakan contoh yang sangat baik arsitektur iklim responsif. Begitu juga penggunaan bahan massa termal rendah pada struktur, baik di dinding maupun di atas permukaan lantai bangunan, hal ini memungkinkan bangunan untuk merespon dengan cepat aliran angin untuk pendinginan.

Prinsip-prinsip berkelanjutan dari arsitektur vernakular ini sangat kontras dengan prinsipprinsip yang digunakan dalam sebagian besar rumah rumah di kota kota besar di Indonesia yg dibangun untuk bergantung pada energi fosil. Tantangan mendesak yang kita hadapi adalah menemukan kembali prinsip-prinsip yang hilang ini, lalu mengadaptasi dan menggabungkannya dengan teknologi saat ini yang sesuai dan menggunakannya secara konsisten dalam pembangunan hunian kita.