Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Perawatan jenazah adalah perawatan pasien setelah meninggal, perawatan termasuk menyiapkan jenazah untuk diperlihatkan pada keluarga, transportasi ke kamar jenazah dan melakukan disposisi (penyerahan) barang-barang milik pasien. Perawatan jenazah dimulai setelah dokter menyatakan kematian pasien, jika pasien meninggal karena kekerasan atau dicurigai akibat kriminalitas, perawatan jenazah dilakukan setelah pemeriksaan medis lengkap melalui otopsi. Perawatan jenazah adalah suatu tindakan medis melakukan pemberian bahan kimia tertentu pada jenazah untuk menghambat pembusukan serta menjaga penampilan luar jenazah supaya tetap mirip dengan kondisi sewaktu hidup. Perawatan jenazah dapat dilakukan langsung pada kematian wajar, akan tetapi pada kematian tidak wajar pengawetan jenasah baru boleh dilakukan setelah pemeriksaan jenasah atau otopsi dilakukan.. Perawatan jenasah perlu dilakukan pada keadaan adanya penundaan penguburan atau kremasi lebih dari 24 jam. Hal ini penting karena di Indonesia yang beriklim tropis dalam 24 jam mayat sudah mulai membusuk mengeluarkan bau dan cairan pembusukan yang dapat mencemari lingkungan sekitarnya. Dan perawatan jenasah dilakukan untuk

mencegah penularan kuman atau bibit penyakit kesekitarnya. Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu menerapkan kewaspadaan universal tanpa mengakibatkan tradisi budaya dan agama yang dianut keluarganya. Setiap petugas kesehatan terutama perawat harus dapat menasehati keluarga jenazah dan mengambil tindakan yang sesuai agar penanganan

jenazah tidak menambah risiko penularan penyakit seperti halnya HIV-AIDS, hepatitis B, hepatitis C, SARS, flu burung kolera dan sebagainya. Indonesia belum terlepas dari ancaman penyakit menular, hal yang masih umum terjadi di negara berkembang lainnya dimana sepanjang tahun 2011 tercatat beberapa kali terjadi wabah penyakit, seperti hepatitis, flu burung dan SARS. Saat ini, jumlah penderita hepatitis masih sangat tinggi, terutama hepatitis B dan C. Lebih dari 2 miliar penduduk dunia terinfeksi virus hepatitis B dan lebih dari 350 juta jiwa diantaranya pengidap hepatitis kronis. Sementara itu, penderita hepatitis C di seluruh dunia mencapai 130 juta hingga 170 juta jiwa dengan angka kematian 350 ribu orang per tahun. Di Indonesia, jumlah penderita hepatitis B dan C mencapai 30 juta jiwa. Selama Oktober 2007 hingga akhir 2009, lebih dari 18.000 orang terinfeksi virus hepatitis dan jumlahnya terus bertambah setiap tahunnnya. Hepatitis merupakan penyakit yang banyak merenggut nyawa penduduk Indonesia usia produktif Di pedesaan, hepatitis menjadi penyebab kematian nomor satu bagi penduduk berusia 15 - 44 tahun. Di perkotaan, penyakit tersebut menjadi penyebab kematian terbanyak ketiga. Demikian pula dengan angka kejadian flu burung di Indonesia. Menurut WHO (sejak tahun 2003 sampai dengan 30 April 2008), jumlah kasus flu burung pada manusia di Indonesia sebanyak 133 kasus dengan 108 di antaranya meninggal. Salah satu penyakit menular yang saat ini semakin menjadi perhatian di Indonesia adalah HIV-AIDS karena epideminya yang meningkat dengan sangat cepat. Sekitar 170.000 sampai 210.000 dari 220 juta penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS. Perkiraan prevalensi keseluruhan adalah 0,1% di seluruh negeri, dengan pengecualian Provinsi Papua, di mana angka epidemik diperkirakan mencapai

2,4%, dan cara penularan utamanya adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung. Jumlah kasus kematian akibat AIDS di Indonesia diperkirakan mencapai 5.500 jiwa. Epidemi tersebut terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang yang berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan pelanggan mereka, dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria. Tingginya angka kejadian penyakit menular di Indonesia memerlukan perhatian khusus dari semua pihak untuk mencegah semakin luasnya penularan penyakit tersebut. Para petugas kesehatan seperti dokter dan paramedis sebagai pihak yang sering berhubungan langsung dengan pasien yang mengidap penyakit menular juga sangat rentan untuk tertular, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam penanganan pasien-pasien tersebut. Demikian pula dengan perawatan jenazah pasien dengan penyakit menular tertentu, juga memerlukan suatu penanganan khusus yang sesuai sehingga risiko penularan terhadap para petugas kesehatan dapat diminimalisir.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENYAKIT MENULAR 1. FLU BURUNG


a. Definisi

Influenza burung atau avian influenza merupakan penyakit infeksi akibat virus influenza tipe A dan ditularkan melalui unggas. Penyakit flu burung disebabkan oleh virus avian influenza jenis H5N1. b. Cara penularan Penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui : 1) Binatang : Kontak langsung dengan unggas atau binatang lain yang sakit atau produk unggas yang sakit. 2) Lingkungan : Udara atau peralatan yang tercemar virus tersebut baik yang berasal dari tinja atau sekret unggas yang terserang Flu Burung.
3) Manusia : Sangat terbatas dan tidak efisien (ditemukannya beberapa

kasus dalam kelompok/cluster). 4) Makanan : Mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna di wilayah yang dicurigai atau dipastikan terdapat hewan atau manusia yang terinfeksi H5N1 dalam satu bulan terakhir. 2. HIV-AIDS a. Definisi

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang limfosit CD4 yang berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. b. Cara Penularan HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam sel atau media hidup. HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu : kontak seksual, kontak dengan darah atau sekret yang infeksius, ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan dan pemberian ASI (Air Susu Ibu), melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau tertusuk ke dalam tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV, melalui transplantasi organ pengidap HIV. 3. a. Hepatitis C Definisi

Hepatitis C adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). b. Cara Penularan

Penularan Hepatitis C biasanya melalui kontak langsung dengan darah atau produknya dan jarum atau alat tajam lainnya yang terkontaminasi. Resiko terinfeksi Hepatitis C melalui hubungan seksual lebih tinggi pada orang yang mempunyai lebih dari satu pasangan. 4. SARS a. Definisi

SARS singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome adalah sekumpulan gejala sakit pernapasan yang mendadak dan berat atau disebut juga penyakit infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus Corona Family Paramyxovirus. b. Cara Penularan

Metode penularannya melalui udara serta kontak langsung dengan pasien atau terkena cairan pasien. Misalnya terkena ludah (droplet) saat pasien bersin dan batuk. Dan kemungkinan juga melalui pakaian dan alat-alat yang terkontaminasi.

B. UNIVERSAL PRECAUTION 1. Definisi Alat Pelindung Diri adalah alat-alat yang mampu memberikan perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan. Alat Pelindung Diri harus mampu melindungi pemakainya dari bahaya-bahaya kecelakaan yang mungkin ditimbulkan, oleh karena itu, APD dipilih secara hati-hati agar dapat memenuhi beberapa ketentuan yang diperlukan. 2. Jenis-jenis Alat Pelindung Diri

a.

Sarung tangan Sarung tangan melindungi tangan dari bahan yang dapat

menularkan penyakit dan melindungi pasien dari mikroorganisme yang berada di tangan petugas kesehatan. Sarung tangan merupakan penghalang (barrier) fisik paling penting untuk mencegah penyebaran infeksi. Sarung tangan harus diganti antara setiap kontak dengan satu pasien ke pasien lainnya, untuk menghindari kontaminasi silang.
b.

Masker Masker harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian

bawah dagu, dan rambut pada wajah (Jenggot). Masker dipakai untuk menahan cipratan yang keluar sewaktu petugas kesehatan atau petugas bedah berbicara, batuk atau bersin serta untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut petugas

kesehatan. Bila masker tidak terbuat dari bahan tahan cairan, maka masker tersebut tidak efektif untuk mencegah kedua hal tersebut. Masker yang ada, terbuat dari berbagai bahan seperti katun ringan, kain kasa, kertas dan bahan sintetik yang beberapa di antaranya tahan cairan. Masker yang dibuat dari katun atau kertas sangat nyaman tetapi tidak dapat menahan cairan atau efektif sebagai filter. Masker yang dibuat dari bahan sintetik dapat memberikan perlindungan dari tetesan partikel berukuran besar (>5 m) yang tersebar melalui batuk atau bersin ke orang yang berada di dekat pasien (kurang dari 1 meter). Namun masker bedah terbaik sekalipun tidak dirancang untuk benar-benar menutup pas secara erat (menempel sepenuhnya pada wajah) sehingga

mencegah kebocoran udara pada bagian tepinya. Dengan demikian, masker tidak dapat secara efektif menyaring udara yang dihisap dan tidak dapat direkomendasikan untuk tujuan tersebut. c. Topi Topi digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit dan rambut tidak masuk ke dalam luka selama pembedahan Topi harus cukup besar untuk menutup semua rambut. Meskipun topi dapat memberikan sejumlah perlindungan pada pasien, tetapi tujuan utamanya adalah untuk melindungi pemakainya dari darah atau cairan tubuh yang terpercik atau menyemprot. d. Gaun Pelindung Gaun pelindung digunakan untuk menutupi atau mengganti pakaian biasa atau seragam lain, pada saat merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui droplet. Pemakaian gaun pelindung terutama adalah untuk melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi, ekspirasi. Ketika merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular tersebut, petugas kesehatan harus mengenakan gaun pelindung setiap memasuki ruangan untuk merawat pasien karena ada kemungkinan terpercik atau tersemprot darah, cairan tubuh, sekresi atau ekskresi. Pangkal sarung tangan harus menutupi ujung lengangan

sepenuhnya. Lepaskan gaun sebelum meninggalkan area pasien. Setelah gaun dilepas, pastikan bahwa pakaian dan kulit tidak kontak dengan bagian yang potensial tercemar lalu cuci tangan segera untuk mencegah berpindahnya organisme.

e. Apron

Apron yang terbuat dari karet atau plastik, merupakan penghalang tahan air untuk sepanjang bagian depan tubuh petugas kesehatan. Petugas kesehatan harus mengenakan apron di bawah gaun penutup ketika melakukan perawatan langsung pada pasien, membersihkan pasien, atau melakukan prosedur dimana ada risiko tumpahan darah, cairan tubuh atau sekresi. Hal mencegah cairan tubuh pasien ini penting jika gaun pelindung tidak tahan air. f. Pelindung Kaki Pelindung kaki digunakan untuk melindungi kaki dari cedera akibat benda tajam atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak sengaja ke atas kaki. Oleh karena itu, sandal, "sandal jepit" atau sepatu yang terbuat dari bahan lunak (kain) tidak boleh dikenakan. Sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan lebih banyak perlindungan, tetapi harus dijaga tetap bersih dan bebas kontaminasi darah atau tumpahan cairan tubuh lain.

Prinsip Kewaspadaan Universal adalah memperlakukan setiap cairan tubuh, darah, dan jaringan tubuh manusia sebagai bahan infeksius. Air yang dipakai harus klorin supaya virus yang berpotesi menularkan bibit penyakit bisa mati. Untuk percikan darah dianjurkan menggunakan Klorin dari bahan pemutih dengan pengenceran 1:10 sampai 1:100. Cara ini akan meminimalkan risiko terpajan darah atau cairan tubuh. Hal lain yang juga harus diperhatikan, yakni seperti pastikan air bekas memandikan jenazah bisa langsung mengalir

ke got atau saluran pembuangan, dan jangan sampai tergenang. Sebab, genangan tersebut memungkinkan terjadinya penularan virus lain. C. PERAWATAN JENAZAH DENGAN PENYAKIT MENULAR Perawatan jenazah adalah perawatan pasien setelah meninggal, perawatan termasuk menyiapkan jenazah untuk diperlihatkan pada keluarga, transportasi ke kamar jenazah dan melakukan disposisi (penyerahan) barangbarang milik pasien. Perawatan jenazah dimulai setelah dokter menyatakan kematian pasien, jika pasien meninggal karena kekerasan atau dicurigai akibat kriminalitas, perawatan jenazah dilakukan setelah pemeriksaan medis lengkap melalui otopsi. Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu menerapkan kewaspadaan universal tanpa mengakibatkan tradisi budaya dan agama yang dianut keluarganya. Penatalaksanaan terhadap jenazah dengan penyakit menular dilakukan secara khusus sesuai dengan Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular : 1. Memperhatikan norma agama atau kepercayaan dan perundangan yang berlaku. 2. Pemeriksaan terhadap jenazah dilakukan oleh petugas kesehatan. 3. Perlakuan terhadap jenazah dan penghapus-hamaan bahan dan alat yang digunakan dalam penatalaksanaan jenazah dilakukan oleh petugas kesehatan. Peralatan dan Perlengkapan dalam Perawatan Jenazah meliputi : 1. Kasa atau perban 2. Sarung tangan

3. Penganjal dagu 4. Pads 5. Kapas 6. Plastik jenazah 7. 3 buah label indikasi 8. Plester 9. Tas plastik 10. Air dalam baskom 11. Sabun 12. Handuk 13. Selimut mandi 14. Kain kafan 15. Daftar barang 16. Peniti 17. Sisir 18. Baju bersih 19. Celemek 20. Bengkok 21. Tempat pakaian kotor 22. Waslap Jenazah tidak akan menimbulkan ancaman kesehatan jika ditangani secara benar. Sebaliknya, jenazah bisa menimbulkan penyakit jika

penanganannya tidak memadai. Menurut Departemen Kesehatan RI, urutan

perlakuan yang diberikan pada jenazah pasien dengan penyakit menular adalah berikut : 1. Luruskan tubuh pasien. 2. Lepaskan alat kesehatan yang terpasang pada tubuh pasien. 3. Tutup mata, telinga, dan mulut dengan kapas maupun plester kedap air. 4. Setiap luka harus diplester dengan rapat. 5. Jenazah ditutup dengan kain kafan atau bahan dari plastik (bahan tidak tembus air). Dapat juga jenazah ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar. 6. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
7. Jenazah tidak boleh dibalsem ataupun disuntik pengawet (formalin atau

formaldehida) kecuali oleh petugas khusus yang telah mahir dalam hal tersebut. 8. Jika jenazah akan diautopsi, maka akan dilakukan oleh petugas khusus dan autopsi dapat dilakukan jika sudah ada izin dari pihak keluarga dan direktur rumah sakit. 9. Jenazah hanya boleh diangkut oleh mobil jenazah. 10. Jenazah tidak boleh disemayamkan lebih dari 4 jam di dalam pemulasaran jenazah. 11. Jenazah dapat dikubur dalam tempat pemakaman umum dan dapat disaksikan oleh seluruh anggota keluarga setelah semua prosedur di atas telah dilalui. Beberapa pedoman perawatan jenazah dengan penyakit menular adalah sebagai berikut :

a. Tindakan di luar kamar jenazah


1) Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan. 2) Memakai pelindung wajah dan jubah. 3)

Luruskan tubuh jenazah dan letakkan dalam posisi terlentang

dengan tangan di sisi atau terlipat di dada.


4) Tutup kelopak mata dan/atau ditutup dengan kapas atau kasa; begitu

pula mulut, hidung dan telinga.


5) Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada

rembesan darah atau cairan tubuh lainnya.


6) Tutup anus dengan kasa dan plester kedap air. 7) Lepaskan semua alat kesehatan dan letakkan alat bekas tersebut

dalam wadah yang aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan universal.


8) Tutup setiap luka yang ada dengan plester kedap air. 9) Bersihkan tubuh jenazah dan tutup dengan kain bersih untuk

disaksikan oleh keluarga.


10)Pasang label identitas pada kaki. 11)Beritahu petugas kamar jenazah bahwa jenazah adalah penderita

penyakit menular.
12) Cuci tangan setelah melepas sarung tangan.

b. Tindakan di kamar jenazah


1)

Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan sebelum memakai sarung tangan.

2)

Petugas memakai alat pelindung:


-

Sarung tangan karet yang panjang (sampai ke siku),

3)

Sebaiknya memakai sepatu bot sampai lutut, Pelindung wajah (masker dan kaca mata), Jubah atau celemek, sebaiknya yang kedap air.

Jenazah dimandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah memahami cara membersihkan/memandikan jenazah penderita penyakit menular.

4)

Bungkus jenazah dengan kain kafan atau kain pembungkus lain sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut.

5)

Cuci tangan dengan sabun sebelum memakai sarung tangan dan sesudah melepas sarung tangan.

6) 7)

Jenazah yang telah dibungkus tidak boleh dibuka lagi. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk pengawetan kecuali oleh petugas khusus yang telah mahir dalam hal tersebut.

8)

Jenazah tidak boleh diotopsi. Dalam hal tertentu otopsi dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pimpinan rumah sakit dan dilaksanakan oleh petugas yang telah mahir dalam hal tersebut.

9)

Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:


- Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air mengalir bila

terkena darah atau cairan tubuh lain.


- Dilarang memanipulasi alat suntik atau menyarumkan jarum suntik

ke tutupnya. Buang semua alat/benda tajam dalam wadah yang tahan tusukan.
- Semua permukaan yang terkena percikan atau tumpahan darah dan/

atau cairan tubuh lain segera dibersihkan dengan larutan klorin 0,5%.

- Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses

dengan urutan: dekontaminasi, pembersihan, desinfeksi atau sterilisasi.


- Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam

kantong plastik.
- Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesuai cara

pengelolaan sampah medis. Berikan barang-barang milik pasien kepada keluarga atau bawa barang tersebut ke kamar jenazah. Jika perhiasan atau uang diberikan kepada keluarga, pastikan ada petugas/perawat lain yang menemani. Minta tanda tangan dari anggota keluarga yang sudah dewasa untuk untuk vertifikasi penerimaan barang berharga. Berikan support emosional kepada keluarga yang ditinggalkan dan teman dan kepada pasien lain yang sekamar.

Commonwealth of Australia Interim Pandemic Influenza Infection Control Guidelines tidak merekomendasikan untuk membalsem jenazah pasien korban flu burung apabila terjadi pandemi flu burung. Namun jika ini harus dilakukan untuk alasan budaya dan sosial, maka pembalseman dapat dilakukan dengan syarat : 1. Petugas yang melakukan pembalseman harus memiliki sertifikat dari institusi yang disetujui oleh direktur umum dari Departemen Kesehatan New South Wales (NSW).

2. Petugas yang melakukan pembalseman harus mengenakan alat perlindungan diri yang lengkap (masker N95, baju panjang, sarung tangan, penutup kepala, dan kaca mata khusus). Sebenarnya pelarangan Departemen Kesehatan RI terhadap penggunaan formalin terhadap jenazah pasien flu burung sudah tidak tepat, karena ini akan membuat risiko petugas yang mengurus jenazah untuk tertular flu burung menjadi lebih besar. Jika jenazah pasien flu burung bisa diformalin, maka akan menurunkan risiko menularnya virus flu burung karena virus ini mudah mati dalam formalin. Menurut WHO, apabila jenazah akan diautopsi maka jenazah dapat disimpan dalam lemari pendingin. Apabila anggota keluarga ingin menyentuh tubuh jenazah, hal itu dapat diizinkan dengan memakai apron dan sarung tangan setelah sebelumnya keluarga mencuci tangan dengan sabun dan tubuh jenazah yang disentuh sebelumnya dibersihkan dengan antiseptik standar (alkohol 70%). Petugas di pemulasaran jenazah harus menjalankan prosedur universal precaution, yaitu dengan memakai alat pelindung diri. Apabila alat-alat ini setelah dipakai harus direndam dalam larutan pemutih pakaian dengan perbandingan 1:10 selama 10 menit. Setelah merawat jenazah pasien tersebut, petugas wajib mencuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah membuka sarung tangan.

BAB III KESIMPULAN


1. Perawatan jenazah adalah perawatan pasien setelah meninggal, perawatan

termasuk menyiapkan jenazah untuk diperlihatkan pada keluarga, transportasi ke kamar jenazah dan melakukan disposisi (penyerahan) barang-barang milik pasien.
2. Penatalaksanaan terhadap jenazah dengan penyakit menular dilakukan

secara khusus sesuai dengan Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular.
3. Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu

menerapkan kewaspadaan universal.


4. Prinsip Kewaspadaan Universal adalah memperlakukan setiap cairan tubuh,

darah, dan jaringan tubuh manusia sebagai bahan infeksius.


5. Petugas di pemulasaran jenazah harus menjalankan prosedur universal

precaution, yaitu dengan memakai alat pelindung diri saat melakukan perawatan terhadap jenazah, seperti sarung tangan, pelindung wajah (masker dan kacamata), gaun pelindung, apron, dan pelindung kaki seperti sepatu bot.
6. Alat-alat ini yang telah dipakai untuk perawatan jenazah harus direndam

dalam larutan klorin dengan perbandingan 1:10 selama 10 menit.


7. Setelah merawat jenazah pasien dengan penyakit menular, petugas wajib

mencuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah membuka sarung tangan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Pedoman Penatalaksanaan Flu Burung di Rumah Sakit. Availablefrom:http://www.depkes.go.id/downloads/flu_H1N1/tata_laksana_a vian_influenza.pdf. Accesses : 25 Maret 2012. Anonim. 2009. Tatalaksana Jenazah. Available from :http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=930. Accessed : 25 Maret 2012. Anonim. 2010. Perawatan Jenazah dengan HIV-AIDS. Available from : http://spiritia.or.id/li/pdf/LI930.pdf. Accessed : 25 Maret 2012. Anonim. 2010. Tatalaksana Jenazah Dengan flu Burung. Available from : http://www.scribd.com/doc/25785459/Tatalaksana-Jenazah-Kasus-FluBurung. Accessed : 25 Maret 2012. Anonim. 2011. Perawatan Jenazah. Available from : http://friska11.wordpress.com/2011/02/28/kdpk-perawatan-jenazah. Accessed : 27 Maret 2012 New South Wales Goverment, Departement of Health. 2003. Handling Bodies by Funeral Director During an Influenza Pandemic 2 0 0 3 . A v a i l a b l e f r o m : http://www.health.nsw.gov.au/factsheets/ gen eral/handling_flu_bodies.html. Accessed : 27 Maret 2012. Pedoman Tatalaksanaan Klinis Infeksi HIV di Sarana Pelayanan Kesehatan halaman 198-199, terbitan PPM dan PL Depkes 2001.