Anda di halaman 1dari 26

ANALISIS KETAHANAN PANGAN DI JAWA TIMUR (The Food Security Analysis in East Java) Oleh: Jabal Tarik Ibrahim

Aris Soelistyo Nuhfil Hanani A. PENDAHULUAN Pentingnya penciptaan ketahanan pangan sebagai wahana penguatan stabilitas ekonomi dan politik, jaminan ketersediaan pangan dengan harga yang terjangkau dan menjanjikan untuk mendorong peningkatan produksi. Pemenuhan pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau oleh seluruh rumah tangga merupakan sasaran utama dalam pembangunan ekonomi. Permintaan pangan yang meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, mendorong percepatan produksi pangan dalam rangka terwujudnya stabilisasi harga dan ketersediaan pangan, sehingga ketahanan pangan sangat terkait dengan kemampuan pemerintah untuk menjaga stabilisasi penyediaan pangan serta daya dukung sektor pertanian. Namun kepadatan penduduk yang diperkuat dengan penyusutan areal tanam, khususnya penurunan luas lahan pertanian produktif akibat konversi lahan untuk kepentingan sektor non-pertanian, serta kecilnya margin usaha tani yang berkonsekuensi pada rendahnya motivasi petani untuk meningkatkan produksi, serta adanya kendala dalam distribusi pangan sebagai akibat keterbatasan jangkauan jaringan sistem transportasi, ketidaktersediaan produk pangan sebagai akibat lemahnya teknologi pengawetan pangan, diperkuat lagi dengan kakunya (rigid) pola konsumsi pangan pangan. sehingga Kondisi menghambat yang upaya pencapaian makin kemandirian/ketahanan demikian tersebut

memperpanjang fenomena kemiskinan dan ketahanan pangan yang dihadapi. Berdasarkan peta orang lapar yang dibuat oleh Food and Agricultural Organization (FAO), hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah rawan pangan atau miskin. Sementara itu, Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pada pasal 1 ayat 17, menyebutkan

ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dalam UU ini, ketahanan pangan ditujukan kepada kebutuhan rumah tangga, karena asumsi bahwa rumah tangga adalah bentuk kesatuan masyarakat terkecil di Indonesia. Bandingkan definisi ini dengan pengertian food security (ketahanan pangan) yang tertera dalam Rome Declaration and World Food Summit Plan of Action, yaitu: food security exists when all people, at all times, have access to sufficient, safe and nutritious food to meet their dietary needs for an active and healthy life. B. TUJUAN Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengidentifikasi kondisi ketahanan pangan di wilayah Jawa Timur. 2. Menganalisis kecukupan ketersediaan pangan; stabilitas ketersediaan pangan; keterjangkauan terhadap pangan; serta kualitas pangan. 3. Menentukan variabel-variabel yang menjadi indikator yang dapat menimbulkan masalah ketahanan pangan; C. TINJAUAN PUSTAKA a. Konsep Ketahanan Pangan Ketahanan pangan diartikan sebagai akses setiap rumah tangga atau individu untuk memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup sehat (FAO/WHO,1992) kemudian dikembangkan dengan memasukan komponen persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat. Sementara itu, berdasar Undang-undang No.7 tahun 1996 tentang pangan, mengartikan ketahanan pangan rumah tangga adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pemaknaan lain atas ketahanan pangan yaitu kemampuan untuk memenuhi pangan anggota rumah tangga dalam jumlah, mutu dan ragam sesuai budaya setempat dari waktu ke waktu agar hidup sehat, dan atau kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan anggotanya dari produksi sendiri, dan atau membeli dari waktu ke waktu

agar dapat hidup dan kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan anggotanya dari waktu ke waktu agar hidup sehat. b. Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia Kondisi saat ini, pemenuhan pangan sebagai hak dasar masih merupakan salah satu permasalahan mendasar dari permasalahan kemiskinan di Indoensia. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 menggambarkan masih terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, yaitu belum terpenuhinya pangan yang layak dan memenuhi syarat gizi bagi masyarakat miskin, rendahnya kemampuan daya beli, masih rentannya stabilitas ketersediaan pangan secara merata dan harga yang terjangkau, masih ketergantungan yang tinggi terhadap makanan pokok beras, kurangnya diversifikasi pangan, belum efisiensiennya proses produksi pangan serta rendahnya harga jual yang diterima petani, masih ketergantungan terhadap import pangan. Data yang digunakan MDGs dalam indikator kelaparan, hampir dua-pertiga dari penduduk Indonesia masih berada di bawah asupan kalori sebanyak 2100 kalori perkapita/hari. Hal ini menunjukan bahwa permasalahan kecukupan kalori, di samping menjadi permasalahan masyarakat miskin, ternyata juga dialami oleh kelompok masyarakat lainnya yang berpendapatan tidak jauh di atas garis kemiskinan. c. Ketahanan Pangan dan Demokrasi. Sesungguhnya ruh dari program ketahanan pangan adalah ketersediaan dan aksesibilitas masyarakat terhadap bahan pangan secara adil dan merata. Ketersediaan mengandung nilai semangat produktifitas, adapun aksesibilitas mencakup bagaimana pemenuhan hak asasi serta keterjangkauan termasuk dayabeli seluruh rakyat akan pangan. Produktifitas mengandung nilai kemandirian dan keberdayaan. Adapun pemenuhan hak asasi rakyat akan pangan berhubungan bagaimana proses demokratisasi pemerintahan berjalan dengan baik. Demokrasi membuka ruang publik agar rakyat berani mengemukakan pendapat, keluhan dan masalahnya dalam koridor norma hukum yang berlaku. Demokrasi juga membuka ruang untuk membangun tata kelola kepemerintahan atas dasar partisipasi rakyat, egalitarian, transparansi, dan akuntabel. Dengan demikian, demokrasi dipercaya merupakan salah satu solusi akseptabilitas pembangunan ketahanan pangan. Demokrasi yang genuin dapat diwujudkan 3

apabila hak dasar akan pangan pada seluruh masyarakat sudah terpenuhi secara adil dan merata. Terdapat hubungan timbal balik antara ketahanan pangan atau perkembangan kemajuan ekonomi dengan kualitas demokrasi di suatu bangsa. d. Ketahanan Pangan dan Kemandirian Konsep kemandirian dalam ketahanan pangan bukanlah kemandirian dalam keterisolasian. Dengan demikian, masalah kemandirian tidak didasarkan pada paradigma ketergantungan yang banyak dibicarakan terutama di negara-negara berkembang di Amerika latin tahun 1950 dan 1960-an. Kemandirian dalam konteks kini (global) menuntut adanya kondisi saling ketergantungan (interdependency) antara lokal-global, traditional-modern, desa-kota, rakyat-pemerintah, pertumbuhanpemerataan, serta antar lembaga sesuai fungsinya. Kemandirian dengan demikian adalah paham pro-aktif dan bukan reaktif atau defensif. Kemandirian ketahanan pangan dalam era globalisasi hanya dapat diwujudkan tatkala paradigma pembangunan yang dikembangkan baik di pusat maupun di daerah mampu memadukan antara tuntutan global dengan pemberdayaan masyarakat. Di sinilah fungsi dan peran demokratisasi ekonomipolitik dan sosial pada semua tingkatan pemerintahan dan lembaga masyarakat menjadi sangat penting apakah arus globalisasi ini merupakan peluang untuk menjadi suatu kekuatan atau ancaman.

D. METODE PENELITIAN a. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian Upaya penguatan ketahanan pangan berbasis pengembangan sektor agribisnis ditujukan untuk menghasilkan suatu rencana strategis dan program kerja penanggulangan kemiskinan serta penguatan sektor agribisnis. Terdapat tiga komponen/kegiatan utama yang perlu dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi : 1) Identifikasi dan analisis kondisi eksisting masing-masing kabupaten yang ada di Wilayah Jawa Timur; 2) Identifikasi potensi dan permasalahan kerawanan pangan petani di Wilayah Jawa Timur; 3) Penyusunan skenario penanggulangan rawan pangan.

b. Alat Analisis Penelitian ini menggunakan beberapa alat analisis untuk menjawab tujuan penelitian dan output yang ingin dicapai/target dalam penelitian. Alat analisis tersebut meliputi: 1) Indek Daya Beli (IDB) Untuk mendapatkan indeks daya beli petani, dirumuskan suatu indeks yang diperoleh dari besaran PDRB per kapita petani yang telah dideflate dengan suatu indeks harga, dalam hal ini dipakai Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks Daya Beli (IDB) dirumuskan sebagai hasil bagi besaran PDRB per kapita atas dasar harga berlaku dengan IHK. IDB Indeks_ PDRB per Kapita_ ADHB = ----------------------------------------------IHK = Indeks Daya Beli; = Indeks Harga Konsumen. = Atas Dasar Harga Berlaku

dimana: I DB IHK ADHB 2)

Nilai Tukar Petani Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) dinyatakan dalam persentase. Secara konsepsional NTP adalah pengukur kemampuan tukar barang-barang produk pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang dikonsumsi oleh rumahtangga petani dan keperluan mereka dalam menghasilkan produk pertanian. Formula untuk penghitungan Nilai Tukar Petani yaitu :

Keterangan : NTP = Nilai Tukar Petani It Ib = Indeks harga yang diterima petani = Indeks harga yang dibayar petani Di dalam penelitian ini analsis regresi digunakan untuk menganalisis faktorfaktor yang diduga mempengaruhi ketersediaan pangan di Propinsi Jawa Timur.

3) Analisis Regresi Linear Berganda

Setelah semua data yang diperlukan telah dikumpulkan, maka dilakukanlah analisis berdasarkan rumus seperti di bawah ini: Y1 = a + b1 x1 + b3 x3 + b4 x4.......... + b12 x12 + b13 x13 + Y2 = a + b2 x2 + b3 x3 + b4 x4.......... + b9 x9 + b11 x11 + b12 x12 + b13 x13 + Dimana : Y1 = Produksi padi Y2 = Produksi jagung a b = Intersep = Koefisien variabel X6 = Kesuburan X7 = Jumlah penduduk X8 = Realisasi KUT X9 = Jumlah penyuluh X10 = Harga beras X11 = Inflasi padi-padian X12 = Nilai tukar petani X13 = Indeks dibayar petani = Error

X1 = Luas lahan padi X2 = Luas lahan jagung X3 = Jumlah tenaga kerja X4 = Jumlah pupuk X5 = Curah hujan

E. HASIL PENELITIAN a. Ketahanan Pangan 1. Ketersediaan Pangan Ditinjau dari ketersediaan pangan per kapita per hari dengan ukuran 2200 kcal/kapita/ per hari dengan data tahun 2006 secara agregat hampir diseluruh kabupaten sudah melebihi standard yang dianjurkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ketersediaan pangan di Jawa Timur tidak menghadapi permasalahan serius. Berikut ini gambaran ketersediaan kalori per kapta masyarakat berdasarkan masing-masing kabupaten di Jawa Timur.

Gambar 1 Ketersediaan Kkal per Kapita per Hari Masing-masing Kabupaten Di Wilayah Jawa Timur

2. Produksi pangan Ketersediaan pangan merupakan salah satu indikator ketahanan pangan suatu wilayah. Jawa Timur merupakan salah satu propinsi yang berperan sangat vital dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Kondisi dapat terlihat dari tingkat produktivitas masing-masing komoditi yang cederung menunjukkan trend meningkat dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan komoditi pangan yang paling tinggi selama enam tahun terakhir adalah komoditi jagung. Komoditi ini mengalami pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 3.73% dalam enam tahun terakhir. Sedangkan komoditi yang rata-rata pertumbuhannya paling rendah dalam kurun waktu yang sama adalah komoditi padi, dalam kurun enam tahun terakhir padi hanya mengalami pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 0.19%.

Tabel 1 Produksi Komoditas Pangan Jawa Timur


Komoditas 2001 2002 2003 2004 9002025 4133762 212325 318929 3963478 165039 83245 2005 9007265 4398502 208749 335106 4023614 150564 95527 Padi 8672791 8803878 8914995 Jagung 3529968 3692146 4181550 Kacang tanah 176889 188001 194676 Kedele 349188 300184 287205 Ubi kayu 4016330 3919854 3786882 Ubi Jalar 189666 168776 167611 Kacang hijau 86747 77021 95709 Sumber : Pusat data dan Informasi, Deptan, 2007 Pert/th (%) -0,39 4,35 2,63 -2,17 1,85 -3,70 2,91

Berdasarkan analisis 10 propinsi dengan luas panen padi terbesar di Indonesia menunjukkan bahwa Jawa Timur adalah terbesar kedua setelah Jawa Barat dengan luas areal panen padi sebesar 1,69 juta ha. Dalam rangka diversifikasi pangan akan sangat baik bila pangan lokal dikembangkan kembali dan diupayakan dibangkitkan dari potensi lokal sehingga mengurangi ketergantungan pada beras. Fortifikasi pangan atas pangan lokal dapat dikenalkan teknologinya sehingga masyarakat dapat mengakses peluang usaha produktif baru dan dapat dikembangkan sebagai sumber income keluarga (agroindustri pedesaan). Namun yang perlu diingat adalah bahwa kegiatan produksi ini harus bersifat market driven dan mendasarkan pada preferensi konsumen. Potensi komoditas non-pangan yang diusahakan petani di Jawa Timur menunjukkan kinerja yang relatif tinggi pula. Hal ini menunjukkan potensi pertanian di jawa Timur yang sangat besar dan merupakan sumber income bagi sebagian besar masyarakat di jawa Timur. Dengan demikian dukungan penyediaan infrastruktur pertanian dan kewilayahana untuk memperlancar sistem distribusi dan pemasaran hasil pertanian akan sangat membantu meningkatkan income petani. Jawa Timur mempunyai peran yang sangat besar terhadap penyediaan pangan pangan nasional. Diperkirakan Jawa Timur merupakan propinsi yang secara nyata menyumbang pangan nasional 20-30 persen kebutuhan aneka ragam nasional. Produksi pertanian telah melebihi dari kebutuhan domestik masyarakat Jawa Timur. Surplus pangan utama baik itu padi maupun jagung merupakan potensi perdagangan bagi Jawa Timur. 3. Kemandirian Pangan Jawa Timur 8

Kebutuhan pangan di Jawa Timur memang hampir dapat dipenuhi semua dari potensi domestik, kecuali untuk komoditas kedelai yang masih mengalami defisit sebesar 110.648 ton. Sedangkan untuk beras, jagung, kacang maupun ubi mengalami surplus. Surplus pangan di jawa Timur selain didukung sumberdaya alam yang sesuai, juga potensi sumberdaya manusia dan adanya dukungan infrastruktur ekonomi yang lebih baik. Kemandirian pangan di Jawa Timur dari sisi ketersediaan ini dapat diketahui lebih rinci dari tabel berikut ini. Selain mempertimbangkan ketersediaan dan konsumsi komoditi pangan utama yaitu beras, jagung, kedelai, kacang-kacangan dan umbi-umbian, Jawa Timur juga merupakan sumber bahan pangan lainnya yang bersumber dari ternak dan ikan yaitu beberapa jenis bahan makanan lainnya seperti daging, telur, susu dan ikan. Tabel 2 Perkembangan Ketersediaan dan Konsumsi Bahan Pangan di Jawa Timur Ketersediaan Konsumsi Surplus/ Komoditas (ton) (ton) defisit (ton) Beras 5,225,372 3,441,232 1,784,140 Jagung 3,634,680 293,827 3,340,853 Kedelai 291,431 402,079 -110,648 Kacang Tanah 194,414 28,720 165,694 Kacang Hijau 75,467 19,883 55,584 Ubi Kayu 3,368,956 771,019 2,597,938 Ubi Jalar 145,234 105,674 39,560 Potensi produksi jenis komoditas ini (bersumber dari ternak dan ikan) relatif lebih besar dibandignkan kebutuhan konsumsinya sehingga dapat menciptakan surplus bahan pangan tersebut. Secara lebih lengkap hal ini disajikan dalam tabel berikut ini. Tabel 3 Perkembangan Ketersediaan dan Konsumsi Bahan Pangan di Jawa Timur Ketersediaan Konsumsi Surplus/ No Komoditas (ton) (ton) defisit (ton) 1 Daging 199,305 117,089 82,216 2 Telur 261,591 179,720 81,871 3 Susu 200,350 46,025 154,325 4 Ikan 478,574 462,096 16,478 4. Konsumsi, Status Gizi dan Keamanan Pangan

No 1 2 3 4 5 6 7

Sumber : Badan ketahanan Pangan Jawa Timur, 2005

Salah satu paradigma baru pembangunan pangan setelah diberlakukannya Undang-Undang otonomi daerah adalah perencanaan penyediaan pangan yang semula sentralistik dan lebih dominan pada pertumbuhan ekonomi menjadi desentralistik dengan pertimbangan yang lebih komprehensif, sehingga tujuantujuan pemantapan Ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat lebih terakomodasi. Untuk itu sangat diperlukan pemahaman dan penyediaan data Neraca Bahan Makanan (NBM) dan Pola Pangan Harapan (PPH) di masing-masing daerah. Penyusunan NBM dan PPH Jawa Timur sudah dilaksanakan sejak tahun 1984 sampai sekarang, dimana dari hasil analisis NBM dan PPH ini menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan pangan dan gizi di tingkat wilayah. Tabel 4 Ketersediaan dan Konsumsi Pangan Strategis di Propinsi Jawa Timur Tahun 2005 dan 2006
Tahun 2005 No Komoditas Ketrsdiaan Konsumsi Plus/ Minus 1.749.533 3.570.647 (100.644) 2.640.593 25.662 161.980 66.351 59.784 56.569 156.026 16.478 Ketersedia an 5.332.449 3.928.371 304.441 3.482.900 129.738 204.938 86.874 255.007 218.663 205.102 Tahun 2006*) Konsumsi Plus/ Minus 1.853.455 3.631.320 (102.080) 2.703.421 22.904 175.903 66.773 135.330 35.008 158.059

1 Beras 5.228.527 3.478.994 3.478.994 2 Jagung 3.867.698 297.051 297.051 3 Kedelai 305.847 406.491 406.491 4 Ubi kayu 3.420.072 779.479 779.479 5 Ubi jalar 132.496 106.834 106.834 6 Kacang tanah 191.015 29.035 29.035 7 Kacang hijau 86.452 20.101 20.101 8 Daging 178.158 118.374 119.677 9 Telur 238.261 181.692 183.655 10 Susu 202.557 46.531 47.043 11 Ikan 490.966 453.820 Sumber : Badan Ketahanan Pangan Propinsi Jatim Keterangan: *) Angka Ramalan II: Beras, Jagung, Kedele, Ubikayu, Ubijalar, Kacang Tanah,Kacang hijau

Konsumsi energi penduduk Jawa Timur mencapai sebesar 1900 kkal/kap/hr atau mencapai 95,0 % dari anjuran Angka Kecukupan Energi (AKE) berdasarkan Widyakarya Pangan dan Gizi VIII tahun 2005 sebesar 2000 kkal/kap/hr. Konsumsi energi tahun 2005 sebesar 1900 kkal/kap/hr atau 95,0 % dari AKE lebih tinggi dari dari konsumsi energi tahun sebelumnya sebesar 1889 kkal/kap/hr atau 85,9 % dari AKE. Konsumsi energi penduduk didukung oleh konsumsi energi penduduk perkotaan dan pedesaan sebesar 11902 kkal/kap/hr dan 1901 kkal/kap/hr. Konsumsi energi penduduk perkotaan sebesar 1902 kkal/kap/hr meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 1889 kkal/kap/hr, kecenderungan yang sama terjadi pada konsumsi energi penduduk pedesaan sebesar 1901 kkal/kap/hr meningkat

10

dari tahun sebelumnya sebesar 1893 kkal/kap/hr. Nampak bahwa konsumsi energi penduduk perkotaan relatif sama dengan konsumsi energi penduduk pedesaan. Tabel 5 Rata-rata Konsumsi Energi Penduduk tahun 2002 dan 2005 2002 2005 Uraian Energi % AKE Energi % AKE (kkal/kap/hr) (kkal/kap/hr) (kkal/kap/hr) (kkal/kap/hr) Perkotaan 1889 85,8% 1902 95,1% Perdesaan 1893 86,1% 1901 95,0% Jawa Timur 1889 85,9% 1900 95,0%

No. 1 2 3

Sumber data : Angka Susenas 2002 dan 2005 Jawa Timur, BPS (diolah BKP Propinsi Jatim 2006) Keterangan : Angka Kecukupan Energi (AKE) rata-rata tahun 2002 = 2200 Kkal/Kap/Hari Angka Kecukupan Energi (AKE) rata-rata tahun 2005 = 2000 Kkal/Kap/Hari

Ditinjau dari Tingkat Konsumsi Energi (TKE) yang mengacu pada standar yang ditetapkan Departemen Kesehatan tahun 2006, ternyata konsumsi energi penduduk Jawa Timur tahun 2005 mencapai sebesar 95,0 % yang berarti tergolong normal karena berada pada kategori Tingkat Konsumsi Energi (TKE) 90-119%. Sedangkan konsumsi protein penduduk Jawa Timur mencapai sebesar 62,30 gr/kap/hr atau meningkat sebesar 2,20 gr/kap/hr atau 3,66 % dari konsumsi protein tahun sebelumnya sebesar 60,10 gr/kap/hr. Konsumsi protein tersebut ternyata melampaui 10,30 gr/kap/hr (19,61% ) dari angka kecukupan protein yang dianjurkan 52 gr/kap/ hr. Konsumsi protein tersebut didukung dengan peningkatan konsumsi protein penduduk pedesaan yang cukup besar dari konsumsi protein penduduk pedesaan tahun sebelumnya. Konsumsi protein penduduk perkotaan dan pedesaan mencapai sebesar 60.70 gr/kap./hr dan 64,5 gr/kap./hr. Konsumsi protein penduduk perkotaan sebesar 60,7 gram/kap/hr menurun sebesar 6,7 gram/kap/hr atau 9,95 % dari tahun sebelumnya sebesar 67,4 gram/kap/hr. Sedangkan, konsumsi protein penduduk pedesaan sebesar 64,5 gram/kap/hr meningkat 6,3 gram/kap/hr atau 10,82 % dari tahun sebelumnya sebesar 58,20 gram/kap/hr. Peningkatan konsumsi protein penduduk pedesaan dikarenakan adanya peningkatan konsumsi pangan hewani berupa: ikan, daging ruminansia, telur dan susu. Oleh karena itu, upaya percepatan gerakan penganekaragaman diarahkan di daerah perkotaan yang difokuskan pada keanekaragaman konsumsi pangan nabati non beras/tepung terigu beruapa umbiumbian, sayur dan buah, kacang-kacangan, serta konsumsi pangan hewani yang berigizi dan berimbang.

11

Tingkat dan kualitas konsumsi pangan semakin baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan oleh keragaman konsumsi pangan penduduk dengan skor PPH 77,8 lebih tinggi dibandingkan dengan Skor PPH tahun sebelumnya sebesar 71,0. Meskipun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kualitas konsumsi pangan semakin meningkat, namun masih terdapat asupan gizi dari beberapa kelompok bahan makanan berada dibawah rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Hampir semua kelompok pangan dikonsumsi dalam jumlah yang belum memadai, kecuali kelompok padi-padian. Sumbangan energi kelompok padi-padian terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada tahun 2005 cukup besar mencapai 57,9 %, sedangkan proporsi idealnya sebesar 50 %. Sumbangan energi kelompok pangan yang masih jauh dari proporsi idealnya adalah : kelompok pangan hewani, kelompok sayur dan buah, serta kelompok umbi-umbian. Hal ini menggambarkan bahwa pola konsumsi pangan penduduk Jawa Timur belum memenuhi kaidah kecukupan gizi yang dianjurkan dan konsep pangan yang beragam, bergizi dan berimbang. Tabel 6 Rata-rata Konsumsi Pangan Tingkat Rumah Tangga Tahun 2002 dan Tahun 2005
tahun 2002 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok Pangan Padi-Padian Umbi-umbian Pangan Hewani Lemak dan Minyak Bauh/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lainnya Gram/ Kap/Hr 283.1 69.1 61.6 21.4 10.7 33.8 30.6 197.4 50.8 Energi (Kkal) 1,129.70 78.6 100.4 190 58.7 98 111.1 80.8 41.7 % AKE*) 51.4 3.6 4.6 8.6 2.7 4.5 5.1 3.7 1.9 Gram/ Kap/Hr 283.5 53.5 73.1 20.2 10.4 32.1 26.9 203 42.3 tahun 2005 Energi (Kkal) 1.139 61 134 180 57 93 97 86 38 % AKE**) 57 3.1 6.7 9 2.9 4.7 4.9 4.3 1.9 94.3 PPH Nasional 2020 50 6 12 10 3 5 5 6 3 100

Jumlah 1,889 85.9 1,886 Sumber : Angka Susenas 2002 dan 2005 Jawa Timur, BPS (diolah BKP Prop.Jatim,2006) Keterangan : *) Angka Kecukupan Energi (AKE) = 2200 Kkal/Kap/Hari **)Angka Kecukupan Energi (AKE) = 2000 Kkal/Kap/Hari

Konsumsi pangan kelompok padi-padian didominasi oleh beras, dan ternyata konsumsi beras masih cukup tinggi yaitu sebesar 94,35 kg/kap/thn (data diolah dari Susenas 2005) meningkat sebesar 0,89 kg/kap/thn dibandingkan dengan konsumsi beras tahun sebelumnya sebesar 93,46 kg/kap/thn (data diolah dari Susenas 2002). Demikian pula, konsumsi terigu masih cukup tinggi mencapai sebesar 8,43 kg/kap/thn meningkat sebesar 1,60 kg/kap/thn dibandingkan dengan

12

konsumsi terigu tahun sebelumnya sebesar 6,83 kg/kap/thn. Peningkatan konsumsi beras dan terigu nampaknya mempengaruhi konsumsi tepung umbi-umbian. Konsumsi umbi-umbian hanya mencapai sebesar 19,52 kg/kap/thn menurun sebesar 5,70 kg/kap/thn dibandingkan dengan konsumsi tahun sebelumnya sebesar 25,22 kg/kap/thn. Hal ini merupakan tantangan yang harus menjadi fokus penanganan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya percepatan penganekaragaman pangan di Jawa Timur. Karena selain dari beras, sebenarnya sumber karbohidrat dapat diperoleh dari berbagai bahan pangan pokok lainnya yaitu serealia selain beras (jagung, sorghum), umbi-umbian (singkong/ubi kayu, ubi jalar, kentang, bentul, talas, uwi, garut, ganyong dan sebagainya), buah-buahan (sukun, pisang). b. Tingkat Kerawanan Pangan Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami daerah, masyarakat atau rumah tangga pada waktu tertentu untuk memenuhi standart kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat. Kerawanan pangan dapat terjadi secara berulang-ulang pada waktuwaktu tertentu (kronis), dan dapat pula terjadi akibat keadaan darurat seperti bencana alam maupun bencana sosial (transien). Kondisi kerawanan pangan dapat disebabkan karena: tidak adanya akses secara ekonomi bagi individu/ rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup, tidak adanya akses secara fisik bagi individu/ rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup, tidak tercukupinya pangan untuk kehidupan produktif individu/ rumah tangga, tidak terpenuhi pangan secara cukup dalam jumlah, mutu, ragam, keamanan serta keterjangkauan harganya. Kerawanan pangan dan kelaparan berpeluang besar terjadi pada petani skala kecil, nelayan, dan masyarakat sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya pada sumberdaya alam yang miskin dan terdegradasi. Kerawanan pangan sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang ditentukan tingkat pendapatannya. Rendahnya tingkat pendapatan memperburuk konsumsi energi dan protein. Tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat digunakan sebagai salah satu indikator aksesabilitas rumah tangga terhadap pangan. Hal ini juga berkorelasi dengan kemampuan dan daya beli rumah tangga itu sendiri. meningkatkan pendapatannya. Oleh karena itu, penciptaan lapangan pekerjaan perlu dikembangkan agar masyarakat mampu Selain itu, walaupun daya beli rumah tangga 13

mencukupi, apabila terdapat kelangkaaan pangan akibat distribusi yang tidak lancar maka akses rumah tangga secara fisik akan terganggu bahkan menjadi lebih buruk. Indikator yang sangat dekat menggambarkan daya beli masyarakat adalah berkenaan dengan kemiskinan masyarakat Jawa Timur. Tingkat kemiskinan di Jawa Timur masih berkisar sebesar 20 persen. ketahun. Ketersediaan pangan secara makro tidak sepenuhnya menjamin ketersediaan pada tingkat mikro. Masalah produksi yang hanya terjadi di wilayah tertentu dan pada waktu-waktu tertentu mengakibatkan konsentrasi ketersediaan di sentra-sentra produksi dan pada masa-masa panen. Pola konsumsi yang relatif sama antar-individu, antar- waktu, dan antar-daerah mengakibatkan adanya masamasa defisit dan lokasi-lokasi defisit pangan. Dengan demikian, mekanisme pasar dan distrubusi antar lokasi serta antar waktu dengan mengandalkan stok akan berpengaruh pada keseimbangan antara ketersediaan dan konsumsi yang berpengaruh pada harga yang terjadi di pasar. Faktor keseimbangan yang tereflekasi pada harga sangat berkaitan dengan daya beli rumah tangga terhadap pangan. Dengan demikian, meskipun komoditas pangan tersedia di pasar namun apabila harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau daya beli rumah tangga, maka rumah tangga tidak akan dapat mengakses pangan yang tersedia. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan kerawanan pangan. Penduduk rawan pangan didefinisikan sebagai mereka yang rata-rata tingkat konsumsi energinya antara 7189 persen dari norma kecukupan energi. Sedangkan penduduk sangat rawan pangan hanya mengkonsumsi energi kurang dari 70 persen dari kecukupan energi. Dengan menggunakan kriteria tersebut pada tahun 2005 terdapat sekitar 25 persen dari penduduk perkotaan yang rawan pangan dan sebesar 37,0 persen dari penduduk perdesaan yang mengalami rawan pangan. Di samping itu masih terdapat sekitar 2-4 persen rumah tangga yang sangat rawan pangan atau kelaparan. Mereka adalah rumah tangga miskin yang tingkat pengeluarannya tidak lebih dari Rp 150 ribu per bulan. Jumlah anak balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang di relative masih tinggi masih tinggi. Tingginya proporsi rumah tangga rawan pangan dan anak balita kurang gizi menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu berarti bahwa tingkat ketahanan pangan di rumah tangga dan individu juga terpenuhi. Masalahmasalah distribusi dan mekanisme pasar yang berpengaruh terhadap harga, daya 14 Namun demikian walaupun ada perubahan yang kecil nampaknya ada trend mengalami penurunan dari tahun

beli rumah tangga yang berkaitan dengan kemiskinan dan pendapatan rumah tangga, dan tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi sangat berpengaruh Gambar 2 Tingkat Konsumsi Energi Propinsi Jawa Timur kepada konsumsi dan kecukupan pangan dan gizi rumah tangga.

Sumber : Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur, 2006 (diolah)

Hubungan tentang kerawanan pangan dengan tingkat pendapatan relatif cukup erat baik ditinjau dari kecukupan energi maupun kualitas pangan. akan menyebabkan Pada gambar berikut ditunjukkan bahwa semakin rendah pendapatan seseorang maka rendahnya kecukupan energi maupun skor PPHnya seperti terlihat pada gambar berikut.

15

Gambar 3 Skor PPH Propinsi Jawa Timur

Sumber : Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur, 2006

c. Prediksi Produksi Dan Konsumsi Pangan Dalam rangka melihat kemandirian pangan di Jawa Timur, maka dilakukan peramalan sampai tahun 2030. Asumsi yang digunakan disajikan dalam Tabel sebagai berikut: Tabel 7 Asumsi Dalam Peramalan Neraca Pangan Jawa Timur
Komoditi Padi Produksi Luas panen menurun setiap tahun 0.2 %/tahun akibat adanya konversi lahan ke non pertanian. Produktifitas padi 5,34 ton/ha, konservasi padi ke beras 0,62418 Luas panen menurun setiap tahun 0.237 %/tahun. Produktifitas 3,645 ton/ha Luas panen menurun setiap tahun 0.237 %/tahun. Produktifitas 1,3 ton/ha Luas panen menurun setiap tahun 0.2 %/tahun. Produktifitas 15,9 ton/ha Produksi daging total naik dengan laju 5,296 %/tahun Produksi telur naik dengan laju 5,296 %/tahun Produksi susu naik dengan laju 5, 748 % Produksi ikan naik dengan laju 2, 589 % Konsumsi Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi beras 109,22 kg/kapita/tahun Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi 6.44 kg/kapita/tahun Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi 10,93 kg/kapita/tahun Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi 19,52 kg/kapita/tahun Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi 2,4 kg/kapita/tahun Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi 5,42 kg/kapita/tahun Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi 1,52 kg/kapita/tahun Jumlah penduduk meningkat dengan laju 0,83367 % pertahun Konsumsi 12,24 kg/kapita/tahun

Jagung Kedele Ubikayu Daging Telur Susu Ikan

16

Berdasarkan kondisi di atas beberapa skenario ke depan dilakukan dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan Jawa Timur. Secara rinci kemandirian pangan Jawa Timur diuraikan sebagai berikut: 1. Beras Jawa Timur merupakan propinsi penyangga beras nasional. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk akan meningkatkan konsumsi beras, di sisi lain akan terjadi konversi lahan sehingga menyebabkan ketersediaan beras akan semakin berkurang. Hasil peramalan di Jawa Timur disajikan dalam berikut. Gambar 4 Ramalan Kemandirian Beras di Jawa Timur
r ibu ton
60 00

tingkat

gambar

50 00 40 00

30 00

20 00 10 00

21 06

20 01

20 02

20 03

20 04

20 05

20 06

20 07

20 08

20 09

21 00

21 01

21 02

21 03

21 04

21 05

21 07

21 08

21 09

22 00

22 01

22 02

22 03

22 04

22 05

22 06

22 07

22 08

22 09

23 00

0 produk si K onsum si

Gambar di atas menunjukkan bahwa produksi beras Jawa Timur

23 01

terus

menurun sejalan dengan penurunan luas tanam, sementara konsumsi beras terus meningkat. Jawa Timur diramalkan akan mengalami devisit beras pada tahun 2028 jika tidak ada intervensi pemerintah. Usaha- usaha yang dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan demikian adalah: 1) Menekan laju konversi lahan khususnya untuk areal pertanam,an padi; 2) Meningkatkan produktifitas relatif cukup tinggi 2. Jagung Jawa Timur termasuk pemasuk jagung pada daerah lain cukup besar. Estimasi neraca pangan jagung di masa datang sebagaimana disajikan dalam gambar berikut. padi; 3)Melakukan diversifikasi pangan untuk menekan konsumsi beras yang saat ini

17

Gambar 5 Ramalan Kemandirian Jagung di Jawa Timur


ribu t on
5000 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 2001 2003 2004 2005 2006 2007 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2002 2008 0

produksi

konsum si

Ramalan kemandirian Jagung di Jawa Timur relatif cukup mantap. gambar di atas menunjukkan bahwa produksi jagung Jawa Timur relatif stabil, begitu juga dengan konsumsinya. Produksi jagung jauh lebih besar dari konsumsinya sehingga Jawa Timur terus akan terjadi surplus jagung. Oleh karena itu usaha-usaha pengendalian harga serta usaha mencari pasar baru patut dilakukan agar petani jagung dapat memanfaatkan dari hasil surplus jagung yang terjadi. 3. Kedelai Berbeda dengan jagung, ramalan Timur justru akan terjadi defisit kemandirian tentang kedele di Jawa yang semakin meningkat. Gambar di bawah

menunjukkan bahwa produksi kedele Jawa Timur relatif terjadi penurunan, sebaliknya konsumsinya terus mangalami peningkatan. Usaha-usaha yang dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan demikian adalah: (a) meningkatkan luas areal tanam dan (b) meningkatkan produktifitas. Gambar 6 Ramalan Kemandirian Kedele di Jawa Timur
ribu ton 600 500 400 300 200 100 0 2 1 00 2 2 00 2 03 0 2 04 0 20 05 20 6 0 20 7 0 20 8 0 2 9 00 2 0 01 2 11 0 2 12 0 21 03 20 4 1 20 5 1 2 6 01 2 7 01 2 18 0 2 19 0 22 00 20 1 2 20 2 2 2 3 02 2 4 02 2 5 02 2 26 0 2 27 0 20 8 2 20 9 2 20 0 3 2 1 03

produksi

konsumsi

18

4. Daging Ramalan tentang neraca pangan untuk mengukur kemandirian daging di Jawa Timur disajikan dalam gambar berikut. Jawa Timur tampaknya di masa datang akan surplus daging. Hal ini terjadi karena konsumsi daging per kapita di Jawa Timur sangat rendah. Yakni sebesar 2.4 kg/kapita/tahun. Gambar 7 Ramalan Kemandirian Daging di Jawa Timur
ribu ton 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2018 2020 2022 2024 2026 2028 2030 2014 2016 0

produksi

konsumsi

Sebagai gambaran pada tahun 2000, konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 3,5 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia (36,7 kg), Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg) (International Poultry, 2003). Konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 10 gram/kapita/hari, sedangkan Malaysia 100 gram/kapita/hari. Oleh karena itu usaha-usaha perbaikan gizi masyarakat melalui peningkatan konsumsi daging harus dilakukan. 5. Telur Ramalan yang ada ini pada kondisi normal, dimana tidak terjadi permasalahan yang berkaitan dengan adanya kasus flu burung ataupun kasus lain yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi. Kemandirian telur di Jawa Timur dapat ditunjukkan bahwa produksi telur jauh lebih besar dari konsumsinya sehingga Jawa Timur terus akan terjadi surplus telur.

19

Gambar 8 Ramalan Kemandirian Telur di Jawa Timur


ribu ton
1200 1000

800

600

400

200

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2015

2016

2017

2018

2019

2021

2022

2023

2024

2025

2027

2028

2029

2030

produksi

konsumsi

Konsumsi

telur per kapita

di Jawa Timur sangat rendah yakni hanya

sebesar 5, 42 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Filipina 6,2 kg. Mengingat telur merupakan salah satu sumber protein dan lemah yang cukup tinggi, maka usaha-usaha dilakukan. d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan di Propinsi Jawa Timur Berdasarkan hasil analisis regresi, maka faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan di Propinsi Jawa Timur yang mengacu pada kerangka analisis adalah : 1. Faktor Produksi Faktor produksi yang mempengaruhi ketahanan pangan adalah luas lahan padi dan luas lahan jagung, sedangkan jumlah tenaga kerja sektor pertanian dan jumlah pupuk urea yang digunakan tidak terlalu berpengaruh. 2. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan yang mempengaruhi ketahanan pangan adalah curah hujan dan jumlah penduduk, sedangkan kesuburan tanah tidak terlalu berpengaruh. 3. Faktor Kondisi Makro Faktor kondisi makro yang mempengaruhi ketahanan pangan adalah harga beras dan Nilai Tukar Petani, sedangkan inflasi padi-padian dan indeks dibayar petani tidak terlalu berpengaruh. meningkatkan konsumsi telur patut

2031

2014

2020

2026

20

F. KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis ketahanan pangan Jawa Timur, ada beberapa temuan yang dapat disimpulkan sebagai berikut: Rata-rata pertumbuhan komoditi pangan yang paling tinggi selama enam tahun terakhir adalah komoditi jagung. Komoditi ini mengalami pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 3.73% dalam enam tahun terakhir. Sedangkan komoditi yang rata-rata pertumbuhannya paling rendah dalam kurun waktu yang sama adalah komoditi padi, dalam kurun enam tahun terakhir padi hanya mengalami pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 0.19%. Berdasarkan analisis 10 propinsi dengan luas panen padi terbesar di Indonesia menunjukkan bahwa Jawa Timur adalah terbesar kedua setelah Jawa Barat dengan luas areal panen padi sebesar 1,69 juta ha. Berdasarkan produktifitas komoditas jagung di Jawa Timur adalah tebesar keempat setelah Jawa Barat, Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Kebutuhan pangan di Jawa Timur memang hampir dapat dipenuhi semua dari potensi domestik, kecuali untuk komoditas kedelai yang masih mengalami defisit sebesar 110.648 ton. Sedangkan untuk beras, jagung, kacang maupun ubi mengalami surplus. Berdasarkan aspek distribusi menunjukkan bahwa ada empat kabupaten yang kecamatannya tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, yaitu Kabupaten Pacitan, Malang, Kediri, dan Sumenep. Salah satu kebijakan Pemerintah Propinsi Jawa Timur, untuk menjaga dan mengendalikan harga gabah dan bahan pangan lain yang layak dan tidak berfluktuasi secara tajam terutama pada saat terjadi panen raya, maka dilaksanakan kegiatan strategis pembelian gabah/bahan pangan lainnya. Konsumsi energi penduduk Jawa Timur mencapai sebesar 1900 kkal/kap/hr atau mencapai 95,0 % dari anjuran Angka Kecukupan Energi (AKE) berdasarkan Widyakarya Pangan dan Gizi VIII tahun 2005 sebesar 2000 kkal/kap/hr. Konsumsi energi tahun 2005 sebesar 1900 kkal/kap/hr atau 95,0 % dari AKE lebih tinggi dari dari konsumsi energi tahun sebelumnya sebesar 1889 kkal/kap/hr atau 85,9 % dari AKE. Sedangkan konsumsi protein penduduk Jawa Timur mencapai sebesar 62,30 gr/kap/hr atau meningkat sebesar 2,20 gr/kap/hr atau 3,66 % dari

21

konsumsi protein tahun sebelumnya sebesar 60,10 gr/kap/hr. Konsumsi protein tersebut ternyata melampaui 10,30 gr/kap/hr (19,61% ) dari angka kecukupan protein yang dianjurkan 52 gr/kap/ hr. Berdasarkan hasil prediksi produksi dan konsumsi pangan, ada beberapa temuan yang dapat disimpulkan sebagai berikut: Hasil estimasi menunjukkan bahwa produksi beras Jawa Timur terus menurun sejalan dengan penurunan luas tanam, sementara konsumsi beras terus meningkat. Jawa Timur diramalkan akan mengalami devisit pada tahun 2028 jika tidak ada intervensi pemerintah. Ramalan kemandirian Jagung di Jawa Timur relatif cukup mantap, produksi jagung Jawa Timur relatif stabil, begitu juga dengan konsumsinya. Produksi jagung jauh lebih besar dari konsumsinya sehingga Jawa Timur terus akan terjadi surplus jagung. Ramalan kemandirian tentang kedele di Jawa Timur justru akan terjadi defisit yang semakin meningkat. Produksi kedele Jawa Timur relatif terjadi penurunan, sebaliknya konsumsinya terus mangalami peningkatan. Kemandirian ubi kayu di Jawa Timur dapat diandalkan, produksi ubi kayu Jawa Timur jauh lebih besar dari konsumsinya sehingga Jawa Timur terus akan terjadi surplus ubi kayu. Ramalan tentang neraca pangan untuk mengukur kemandirian daging di Jawa Timur tampaknya di masa datang akan surplus daging. Kemandirian telur di Jawa Timur dapat ditunjukkan bahwa produksi telur jauh lebih besar dari konsumsinya sehingga Jawa Timur terus akan terjadi surplus telur. Berdasarkan hasil faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan di Propinsi Jawa Timur, ada beberapa temuan yang dapat disimpulkan sebagai berikut: Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa produksi padi di Jawa Timur dipengaruhi secara signifikan oleh luas lahan padi, curah hujan, jumlah penduduk, dan harga beras. beras

22

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa produksi jagung di Jawa Timur dipengaruhi secara signifikan oleh luas lahan jagung dan nilai tukar petani.

b. Saran Sesuai dengan perkembangan era globalisasi dan liberalisasi perdagangan, beberapa komoditas pangan telah menjadi komoditas yang semakin strategis, karena dinamika ketidakpastian dan ketidakstabilan produksi nasionalnya, sehingga tidak senantiasa dapat mengandalkan pada ketersediaan pangan di pasar dunia. Oleh karena itu, sebagian besar negara-negara menetapkan Sistem Ketahanan Pangan untuk kepentingan dalam negerinya, termasuk Indonesia. Pembangunan ketahanan pangan di wilayah Jawa Timur harus dipandang sebagai bagian tidak terlepaskan dari wawasan ketahanan pangan nasional. Sebagai wilayah potensial pangan yang penting, keberhasilan Ketahanan Pangan di Jawa Timur sebagai wilayah yang surplus pangan telah menjadi tolok ukur keberhasilan ketahanan Pangan nasional. Oleh karena itu pemerintah Jawa Timur berupaya terus memacu pembangunan ketahanan pangan melalui program program yang benar-benar mampu memperkokoh ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mencapai tujuan program ketahanan pangan Jawa Timur maka arah kebijakan ketahanan pangan sebagai berikut : 1. Pemantapan penanganan kelaparan dan kemiskinan ditujukan untuk mengurangi jumlah penduduk yang kelaparan, kemiskinan dan penanggulangan gizi buruk. 2. Pemantapan ketersediaan pangan (1) (2) menjamin kelangsungan produksi pangan sebagai penyangga meningkatkan daya saing produk dan produktifitas, serta pangan nasional, meningkatkan nilai tambah produksi (3) pangan melalui penanganan pasca

panen dan agroindustri dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani, mengembangkan kemampuan penataan kelembagaan cadangan pangan yang lebih baik,

23

(4)

meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas

sumberdaya alam

dan air, serta menjaga kelestariannya dalam rangka mempertahankan ketahanan pangan. 3. Pemantapan distribusi pangan (1) mengembangkan sarana dan prasarana distribusi pangan untuk untuk meningkatkan efisiensi pemasaran, (2) mengembangkan kelembagaan pemasaraan di pedesaan meningkatkan efisiensi dan efektifitas distribusi (3) meningkatkan efisiensi pemasaran, mengembangkan informasi pasar dan stabilisasi harga untuk kesejahteraan petani 4. Pemantapan konsumsi (1) menjamin pemenuhan pangan sampai tingkat rumah tangga dalam jumlah dan kualitas yang memadai sehingga aman dikonsumsi dan bergizi seimbang, (2) mengembangkan dan memanfaatkan pangan lokal (3) mendorong, mengembangkan dan membangun serta memfasilitasi peran masyarakat dalam pemenuhan pangan, (4) meningkatkaan pengetahuan masyarakat tentang hidup sehat dan makanan beragam dan gizi seimbang, (5) meningkatkan peran kelembagaan dimasyarakat , (6) menjaga keamanan pangan bagi konsumen.

24

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2005. Pedoman Umum Program Aksi Desa Mandiri Pangan. Badan Bimas Ketahanan Pangan Departemen Pertanian. Jakarta. Anonimous. 2007. Laporan Kinerja Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur. Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Timur. Surabaya. Anderson, Sue 1990, Core Indicators of Nutritional State for Difficult to sample Population, Journal of Nutrition 120. Braun Von,J.H. Bouls. S.Kumar and R.Panja-Lorch, 1992, Improving Food Security of The Poor: Concept, Policy and Programs. IFRI, Washington.,D.C. Chung,K,L, Haddad, J.Ramakhrisma and F.Riely,1997, Identifying the food Insecure : The Application of Mixed Method Approach in India IFPRI, Washington D.C. De Janvry,Alain and Elisabeth Sadoulet,1991,Food Self Sufficiency and Food Security in India: Achievements and Contradictions, In National and Regional Self Sufficiency goal: Implications for International Agriculture, edited by Ruppel and Kellogg. Boulder, Colo: Lynne Rienner. Dethier,Jean Jacques1989, Note on the Analysis of The Impact of Agricultural Policy Reform in Algeria,, Agricultura and Rural Development Departement, World Bank FAO,1996, Food Security Assesment (Document WFS 96/Tech/7). Rome. Hayami and Ruttan, 1985, Agriculture Development: An International Perspective . Baltimore: John Hopkins University Press. Hanani, Nuhfil; Jabal Tarik Ibrahim. 2003. Evaluasi Akhir Program Pembelian Gabah di Propinsi Jawa Timur. Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur. Surabaya. Hanani, Nuhfil; Jabal Tarik Ibrahim. 2003. Evaluasi Kinerja Proyek Pemberdayaan Kelembagaan Pangan di Pedesaan di Pulau Jawa. Jurnal Ilmu Pertanian Agrivita Volume 25 Nomor 2 Juni 2003. Fakultas Pertanian Unibraw. Malang. Intriligator,1996,Econometric Models, International,Inc, New Jersey Technique, and Applications, Prentice-Hall

Lave, Lester,1962, Emperical Estimates of technological Change in United States Agriculture, 1850-1958 Journal of Farm Economics 44,941-52 Maxwell, Simon and Timothy R. Frankerberger,1996, Household Food Security: Concept, Indicators, Mesurements. A Technical Review. Unicef and IFAD, New York and Rome Maxwell,D.C.1996, Measuring Food Security: The Frequency and Severity of Coping Strategis. Food Policy Reutlinger,Shiomo 1986, Poverty and Hunger: Issues and Options for Food Security in Developing Countries, Washington,D.C;World Bank

25

Valdes, Alberto and Konandreas,1981,Assessing Food Security Based on National Aggregates in Developing Countries, In food Security for Developing Countries, Edited by Valdes, Boulder, Colo: Westview Press World Bank, 1994. Indonesia : Stability, Growth and Equity in Repelita VI, Country Departement II, East Asia World Bank. 2008. Agriculture for Development : World Development Report. The World Bank. Washington DC.

26