Anda di halaman 1dari 90

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan, Pemodelan dan Upaya Pengendalian

Disusun Oleh:
Eko Winar Irianto R. W. Triweko

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

SAMBUTAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

Diiringi dengan rasa syukur kehadirat Allah SWT, saya menyambut baik atas penerbitan buku Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan, Pemodelan dan Upaya Pengendalian. Melalui buku ini dapat diperoleh informasi bagi masyarakat, khususnya para pemangku kepentingan waduk dan danau, sehinggan waduk dan danau yang merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya air terpadu di Indonesia dapat tetap dijaga kelestarian dan kelangsungan fungsifungsinya. Karena itu, pembangunan infrastruktur SDA untuk mengelola waduk dan danau tersebut, sebaiknya merupakan suatu konsep pengembangan wilayah yang berwawasan dan terpadu. Saya berharap kiranya buku ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan pedoman atau acuan bagi masyarakat pemakai dan pihak-pihak terkait lainnya, dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur bidang sumber daya air yang ramah lingkungan. Dengan informasi ini diharapkan masyarakat pemakai dapat ikut berperan serta dalam upaya-upaya pengelolaan SDA serta pengamanan infrastruktur tersebut dengan baik agar dapat meningkatkan manfaat pengelolaan sumber daya air untuk kesejahteraan rakyat. Jakarta, April 2011 Menteri Pekerjaan Umum

Djoko Kirmanto
i

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

1-ii

ii

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG

Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan kerja keras para Peneliti Balai Lingkungan Keairan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air bekerja sama dengan staf pengajar Pasca Sarjana Universitas Parahyangan dan Jurusan Teknik Lingkungan ITB, telah diterbitkan buku Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan, Pemodelan dan Upaya Pengendalian. Buku Ini memberikan informasi, data teknis dan upaya pengendalian pemasalahan eutrofikasi pada waduk dan danau, yang merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya air secara terpadu. Waduk dan Danau memiliki fungsi-fungsi yang penting diantaranya, sebagai sumber penyedia air baku, pengendalian banjir, pembangkit energi, dan merupakan bagian dari daur hidrologi yang harus dijaga kelestariannya. Semoga dengan terbit dan disebarluaskannya buku Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan, Pemodelan dan Upaya Pengendalian ini, Badan Litbang PU dapat memberikan andil penting dalam pembangunan infrastruktur bidang sumber daya air di Indonesia. Kepada Pusat Litbang Sumber Daya Air, kami sampaikan ucapan terima kasih atas upaya penelitian ini sehingga menjadi buku acuan yang dapat dimanfaatkan secara luas demi kesejahteraan rakyat dan pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Jakarta, April 2011 Badan Litbang Pekerjaan Umum,

Ir. Mohamad Hasan, Dipl. HE NIP. : 19530509 197811 1 001


iii

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

iv

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

SAMBUTAN KEPALA PUSAT LI TBANG SUM BER DAYA AIR

Pembangunan bidang sumber daya air, merupakan salah satu tugas Kementerian Pekerjaan Umum, termasuk di dalamnya pengelolaan dan pengembangan sumber daya air sebagai salah satu komponen yang hakiki. Oleh karena itu, pola pengembangan sumber daya air terkait pada strategi yang berlingkup nasional maupun regional. Dalam program pemerintah diperlukan perhatian khusus tentang pengelolaan sumber daya air dan potensi lahan dan lingkungannya serta sumber daya manusia yang terkait dengan kuantitas dan kualitas air itu sendiri. Ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air serta untuk berbagai sektor dalam suatu tata ruang, masih menjadi masalah nasional dan menjadi tugas serta tanggung jawab kita bersama baik secara inter-Kementerian maupun antar-Kementerian. Dalam rangka menunjang program pemerintah dalam bidang IPTEK penyediaan air baku, PUSAT LITBANG SUMBER DAYA AIR, BADAN LITBANG PEKERJAAN UMUM, KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM telah berpartisipasi dalam kegiatan penelitian dan menerbitkan buku berjudul : Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan, Pemodelan dan Upaya Pengendalian Sebagaimana diketahui, waduk dan danau adalah bagian penting dari system sumber daya air yang kita miliki, yang harus dijaga kelestariannya, baik secara ekosistem maupun fungsi-fungsi teknis lainnya. Karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan tentang penyebab, model-model pengelola, dan upaya pengendalian eutrofikasi yang telah terjadi pada waduk dan danau di Indonesia. Diharapkan dengan adanya buku ini dapat dihasilkan usulan kebijakan maupun program kegiatan yang menunjang keberlanjutan fungsi-fungsi waduk dan danau.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Atas segala bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak, diucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya khusus bagi penulis, Ir. Eko Winar Irianto, MT, Peneliti Balai Lingkungan Keairan Puslitbang SDA, Prof. Ir. R. W. Triweko, M.Eng, PhD. Selain itu, ucapan terima kasih kami sampaikan pula kepada Dr. Doddi Yudianto, MSc, sebagai Pengajar Pasca Sarjana Universitas Parahyangan, dan Dr. Ir. Priana Soedjono, M.Sc, Pengajar Jurusan Teknik Lingkungan ITB yang telah menjadi mitra bestari buku ini. Mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan menjadi bahan masukan dalam menunjang program pemerintah dalam pengembangan potensi sumber daya air dan pengendalian daya rusak sumber daya air. Bandung, April 2011 Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air,

Dr. Ir. Arie Setiadi Moerwanto, M.Sc. NIP. 19580125 198603 1 001

vi

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

PRAKATA
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, penulis telah menyelesaikan Tulisan tentang Permasalahan Waduk dan Danau. Waduk dan danau merupakan bagian dari sumber daya alam yang harus dilestarikan keberadaannya, agar kehidupan di alam termasuk manusia tetap dapat menjalankan fungsinya dan memenuhi kebutuhannya secara wajar. Namun demikian, akibat tingginya kerusakan pada DAS termasuk tingginya beban pencemaran pada badan air yang menyebabkan timbulnya kerusakan ekosistem waduk dan danau, terutama permasalahan eutrofikasi. Terkait dengan permasalahan tersebut, penulis berupaya menyampaikan gagasan untuk mengidentifikasi permasalahan-permsalahan dan upaya untuk mengurangi dampak terjadinya eutrofikasi melalui langkah pengelolaan ekosistem waduk dan danau secara terpadu, mulai dari ekosistem DAS, ekosistem sempadan maupun ekosistem pada perairan waduk dan danau. Karena itu, tulisan ini diberi judul Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan, Pemodelan dan Upaya Penanganan, Melalui tulisan ini, penulis berharap para pembaca dapat lebih memahami konsep-konsep pengelolaan ekosistem waduk dan danau secara terpadu, sehingga dampak permasalahan eutrofikasi yang timbul pada badan air dapat dikurangi. Penulis menyadari bahwa, tulisan ini tidak mungkin diselesaikan tanpa bantuan dan dukungan pihak-pihak yang telah memberikan bantuan berupa wawancara, data-data maupun makalahmakalah hasil kajian yang bermanfaat dalam penyusunan tulisan ini. Karena itu, pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima-kasih kepada pihak-pihak yang membantu penulisan ini, terutama kepada: a. Dr.Ir.Arie Setiadi Moerwanto,MSc., selaku Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air beserta jajarannya yang telah mengizinkan penulis untuk menggunakan data-data dan kajian-kajian yang ada di Puslitbang SDA; b. Dr.Ir Badruddin Machbub, Dipl.HE., profesional dan Ahli Peneliti Utama Bidang Lingkungan Keairan yang telah memberikan waktunya untuk berdiskusi dan membagi pengalamannya dengan penulis; c. Dr. Simon Brahmana,CES., Peneliti Utama Bidang Teknik Lingkungan Sumber Daya Air yang bersedia berbagi data dan makalah hasil kajian untuk melengkapi tulisan ini;

vii

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

d. Ir. Ratna Hidayat, Peneliti Madya Bidang Teknik Lingkungan Sumber Daya Air yang juga bersedia berbagi data serta hasil kajian untuk mengembangkan tulisan ini; dan e. Berbagai pihak yang telah membantu, namun belum disebutkan dalam tulisan ini; Semoga bermanfaat, dan Selamat Membaca.

Bandung, April 2011 Penulis

viii

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

DAFTAR ISI
Halaman KATA SAMBUTAN - Sambutan Menteri Pekerjaan Umum .......................................................................................... - Sambutan Kepala Badan Litbang Pekerjaan Umum ............................................................... - Sambutan Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air.................................................................. PRAKATA. .............................................................................................................................................. DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... DAFTAR TABEL .................................................................................................................................... DAFTAR GAMBAR................................................................................................................................. DAFTAR KOTAK..................................................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................................... 1.1 Latar belakang....................................................................................................................... 1.2 Tujuan dan Manfaat Penulisan ......................................................................................... 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ............................................................................................ 1.4 Sistematika Pembahasan ................................................................................................... BAB II KONDISI DANAU DAN WADUK DI INDONESIA ............................................................... 2.1 Kondisi danau dan waduk ............................................................................................... 2.1.1 Kondisi Fisik.............................................................................................................. 2.1.2 Kondisi Kualitas Air ................................................................................................. 2.2 Manfaat danau dan waduk............................................................................................... 2.3 Permasalahan danau dan waduk .................................................................................. 2.4 Peranan danau dan waduk sebagai pengendali kualitas air .................................. 2.4.1 Profil Longitudinal Kualitas Air ........................................................................... 2.4.2 Variasi Kualitas Air Bulanan .................................................................................. i iii v vii ix xii xiv xvi 1-1 1-1 1-3 1-4 1-4 2-1 2-1 2-1 2-5 2-6 2-7 2-13 2-13 2-22

ix

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

BAB III KRITERIA, INDIKATOR DAN PARAMETEREUTROFIKASI ............................................... 3.1 Kriteria Status Mutu Air Danau dan waduk.................................................................. 3.2 Penerapan SMED pada Waduk........................................................................................ 3.3 Klarifikasi Eutrofikasi ........................................................................................................... 3.4 Indikator Potensial yang Harus Dikontrol .................................................................... 3.4.1 Parameter Fisika...................................................................................................... 3.4.2 Parameter Kimia ..................................................................................................... BAB IV PEMICU EUTROFIKASI PADA WADUK DAN DANAU ..................................................... 4.1 Kelimpahan plankton......................................................................................................... 4.2 Peningkatan Zat Hara ........................................................................................................ 4.2.1 Senyawa Nitrogen ................................................................................................. 4.2.2 Senyawa Fosfor ....................................................................................................... 4.3 Fenomena Kolam Jaring Apung...................................................................................... 4.4 Pencemaran Daerah Aliran Sungai................................................................................. BAB V PEMODELAN EUTROFIKASI ................................................................................................... 5.1 Korelasi Parameter Eutrofikasi ......................................................................................... 5.2 Penentuan Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) .......................................... 5.2.1 Penentuan DTBP Pada Danau dan aduk .......................................................... 5.2.2 DTBP Budidaya Perikanan Keramba Jaring Apung ....................................... 5.3 Model Aplikasi Pengelolaan Danau dan Waduk......................................................... 5.3.1 Model CE-Qual-W2 ................................................................................................. 5.3.2 Model Aplikasi Water Quality S imulation Program......................................... 5.4 Pemodelan Dinamik Eutrofikasi ...................................................................................... 5.5 Pemodelan Tunak Senyawa Nutrien dan Organik..................................................... 5.6 Pemodelan Penginderaan Jauh ...................................................................................... BAB VI DAMPAK DAN UPAYA PENGENDALIAN EUTROFIKASI................................................. 6.1 Dampak Eutrofikasi ............................................................................................................. 6.1.1 Pencemaran Air Baku ............................................................................................ 6.1.2 Penurunan Produksi Perikanan ..........................................................................
x

3-1 3-1 3-7 3-12 3-16 3-17 3-18 4-1 4-1 4-3 4-3 4-5 4-7 4-10 5-1 5-1 5-3 5-3 5-5 5-8 5-8 5-10 5-13 5-14 5-17 6-1 6-1 6-1 6-1

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

6.1.3 Penurunan Kualitas Sumber Air Minum .......................................................... 6.1.4 Gangguan Ekosistem dan Estetika Perairan.................................................... 6.1.5 Gangguan Transportasi dan Operasi dan Pemeliharaan Waduk .............. 6.2 Upaya Pengendalian Eutrofikasi .................................................................................... 6.2.1 Upaya Alami ............................................................................................................. 6.2.2 Upaya Fisika-Kimia-Biologi................................................................................... 6.2.3 Peningkatan Peran Masyarakat Dalam Pengelolaan Waduk ..................... 6.3 Pengendalian Pencemaran DASTerpadu .................................................................... BAB VII STRATEGI PENGELOLAAN TERPADU EKOSISTEM DANAU DAN WADUK............... 7.1 Strategi Nasional Terpadu Pengelolaan Waduk dan Danau................................... 7.2 Pengendalian Pencemaran Terpadu Daerah Tangkapan Air Waduk/Dana. 7.3 Analisis SWOT Pengendalian Pencemaran DAS dan Waduk/Danau Terpadu.................................................................................................................................... 7.3.1 Identifikasi Analisis SWOT.................................................................................... 7.3.2 Strategi Hasil Analisis SWOT ............................................................................... 7.3.3 Indikator Kinerja Komponn Hasil SWOT........................................................... BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................................. 8.1 Kesimpulan ........................................................................................................................... 8.2 Saran-saran ...........................................................................................................................

6-3 6-4 6-5 6-6 6-6 6-7 6-13 6-15 7-1 7-1 7-5

7-11 7-11 7-13 7-16 8-1 8-1 8-3

xi

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

DAFTAR TABEL No Tabel Tabel 1-1 Tabel 2-1 Tabel 2-2 Tabel 2-3 Keterangan Perbandingan karakteristik antara danau dan waduk .................................... Klasifikasi danau dan waduk berdasarkan luas dan volume ......................... Hubungan antara tipe danau dan karakteristik pencampuran Air .............. Kondisi kualitas air di Sungai Citarum bagian hulu sebagai input Waduk Saguling di Musim kering, 2001 ............................................................................. Tabel 2-4 Rentang konsentrasi minimum-maksimum tiap parameter pada epilimion dan hipolimnion pada danau dan waduk di Indonesia ............... Tabel 2-5 Tabel 2-6 Tabel 3-1 Tabel 3-2 Tabel 3-3 Tabel 3-4 Tabel 3-5 Tabel 3-6 Tabel 3-7 Karakteristik fisik dan kualitas air danau di Indonesia...................................... Karakteristik fisik dan kualitas air waduk di Indonesia..................................... Nilai skor parameter yang tidak memenuhi standar ........................................ Penentuan status mutu air berdasarkan Metode Storet ................................. Parameter kualitas air untuk penentuan status korosifitas perairan ........... Kriteria Status Ekosistem Akuatik........................................................................... Kriteria Status Ekosistem Sempadan..................................................................... Kriteria Status Ekosistem Daerah Tangkapan ..................................................... Penerapan Kriteria Status Ekosistem pada Waduk Saguling dan Waduk Sutami ............................................................................................................................ Tabel 3-8 Tabel 3-9 Tabel 3-10 Tabel 3-11 Tabel 3-12 Tabel 5-1 Kategori Status Trofik Wetzels ............................................................................... Kriteria klasifikasi status trofik untuk perairan danau dan waduk ................ Kategori Status Trofik Danau Metode UNEP-ILEC............................................. Kategori Status Trofik Danau Metode Carlson ................................................... Hasil pengukuran kualitas air di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur..... Aplikasi Daya Tampung Beban Pencemaran Air (DTBPA) Waduk Untuk Budidaya Perikanan KJA (Machbub,2007)........................................................... Tabel 7-1 Program dan Kegiatan pengelolaan Danau Berkelanjutan masingmasing Kementerian .................................................................................................
xii

Halaman 1-1 2-2 2-3

2-8

2-9 2-10 2-11 3-2 3-2 3-4 3-4 3-6 3-7

3-8 3-13 3-13 3-14 3-15 3-22

5-6

7-2

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Tabel 7-2 Tabel 7-3

Kondisi danau dan kebutuhan rencana aksi ...................................................... Sumber Pencemaran Tersebar pada DAS dan Permasalahan

7-5

Lingkungan dan Upaya Pengendalian ................................................................ Tabel 7-4 Sumber pencemaran dan zat pencemar pada ekossistem DAS, sempadan dan waduk/danau ................................................................................

7-6

7-9

xiii

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

DAFTAR GAMBAR
Nomor gambar Gambar 2-1 Gambar 2-2 Keterangan Halaman 2-3

Skema pelapisan sempurna pada Waduk atau Danau ................................... Distribusi Suhu, DO, pH, Konduktivitas dan Turbiditas Waduk Sutami Bulan Juni 2003 ..........................................................................................................

2-4 2-6

Gambar 2-3 Gambar 2-4

Kondisi marak alga di Waduk Sutami................................................................... Diagram permasalahan external dan internal yang berpengaruh terhadap kondisi waduk dan danau di Indonesia...........................................

2-12 2-14 2-15 2-16

Gambar 2-5 Gambar 2-6 Gambar 2-7 Gambar 2-8

Skema Waduk Kaskade Citarum dan lokasi pengambilan sampel ............. Skema profil longitudinal waduk kaskade Citarum ......................................... Profil kadar organik, fecal coli dan logam berat sepanjang S.Citarum....... Profil kadar Oksigen Terlarut (DO), Senyawa Nutrien dan Partikel Tersuspensi Sepanjang S.Citarum.........................................................................

2-17 2-19

Gambar 2-9 Gambar 2-10

Profil pH Sepanjang Sungai Citarum................................................................... Variasi bulanan kadar organik, oksigen terlarut dan pH sebelum dan sesudah Waduk Kaskade .........................................................................................

2-20

Gambar 2-11

Variasi bulanan senyawa nutrien (nitrogen dan phosphor) sebelum dan sesudah Waduk Kaskade ......................................................................................... 2-21 2-23 2-23 2-24 4-3 4-5 4-7

Gambar 2-12 Gambar 2-13 Gambar 2-14 Gambar 4-1 Gambar 4-2 Gambar 4-3 Gambar 4-4

Kondisi kualitas air di sekitar tubuh bendung Waduk Saguling................... Kondisi kualitas air di sekitar intake Waduk Cirata........................................... Kondisi kualitas air di sekitar tubuh bendung Waduk Jatiluhur .................. Model dinamik Eutrofikasi akibat biomassa plankton .................................... Diagram senyawa nitrogen pada badan air ....................................................... Diagram senyawa nitrogen pada badan air ....................................................... Diagram pola hubungan antara petani jaring apung dan pengelola waduk............................................................................................................................

4-10 5-1 5-2

Gambar 5-1 Gambar 5-2 Gambar 5-3

Korelasi antara fosfor dan klorofil-a...................................................................... Korelasi transparansi (kedalaman Sechi) dan klorofil-a.................................. Pendekatan skematik untuk memprediksi variable status trofik berdasarkan prediksi model beban fosfor..........................................................

5-2

Gambar 5-4
xiv

Model penghitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

dan Waduk................................................................................................................... Gambar 5-5 Model penghitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau untuk Limbah Budidaya Perikanan....................................................................... Gambar 5-6 Contoh pembuatan grid dan segmentasi model aplikasi CE-QUAL-W2 pada Danau Wako, Amerika Serikat ..................................................................... Gambar 5-7 Contoh potongan vertikal grid dan segmentasi model aplikasi CE QUAL-W2 pada Danau Wako, Amerika Serikat ................................................. Gambar 5-8 Gambar 5-9 Gambar 5-10 Gambar 5-11 Hubungan parameter kualitas air pada model WASP..................................... Kerangka kerja model aplikasi WASP................................................................... Diagram model dinamik pengelolaan waduk................................................... Model kinetika interaksi pada siklus alga, senyawa Nitrogen (N) dan Fosfor (P) pada model aliran tunak Waduk dan Danau .................................. Gambar 5-12 Perbandingan hasil sebelum proses dan setelah proses dengan kanal Band-5 untuk menentukan wilayah interes....................................................... Gambar 5-13 Penentuan wilayah interes (a) Hasil rasio antara kanal biru dan Inframerah Tengah pada Waduk Cirata....................................................................... Gambar 5-14 Estimasi dan zonasi kandungan klorofil-a di Waduk Cirata (a), Waduk Saguling (b), Waduk Jatiluhur (c), and Waduk Wonogiri reservoir .............. Gambar 5-15 Gambar 5-16 Gambar 6-1 Estimasi dan zonasi klorofil-a pada Waduk Sutami.......................................... Korelasi antara angka digital dan konsentrasi klorofil ................................. Skema kejadian kematian ikan secara masal pada perairan waduk dan danau hipereutrofik .................................................................................................. Gambar 6-2 Mikrostrainer untuk pra pengolahan air baku tercemar akibat eutrofikasi .................................................................................................................... Gambar 6-3 Gangguan ekowisata dan estetika perairan akibat eutrofikasi pada Waduk Sutami pada tahun 2003 ........................................................................... Gambar 6-4 Gambar 6-5 Gambar 6-6 Gambar 6-7 Gangguan transportasi akibat eutrofikasi pada Inlet Waduk Saguling ..... Skema penghambatan zona epilimnion dengan sirkulasi air....................... Pelaksanaan pengendalian eutrofikasi dengan Alum .................................... Pengelolaan IPAL penduduk bersama dengan masyarakat di sekitar Waduk Sutami ........................................................................................ Gambar 6-8 Kerjasama penghijauan lahan kritis dan pemanfaatan sabuk hijau di DASBrantas.................................................................................................................

5-5

5-7

5-9

5-10 5-12 5-12 5-13

5-15

5-18

5-18

5-19 5-19 5-20

6-2

6-4

6-5 6-6 6-9 6-11

6-14

6-15
xv

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Gambar 6-9

Pelaksanaan pengelolaan DAS secara terpadu untuk perlindungan badan air....................................................................................................................... 6-16 6-17

Gambar 6-10 Gambar 6-11

Aplikasi proses biodigester, sederhana untuk energi alternatif................... Pemanfaatan proses anaerobic dan filter tetes untuk pengendalian pencemaran peternakan rakyat ............................................................................

6-18 7-3 7-4

Gambar 7-1 Gambar 7-2 Gambar 7-3

Kondisi Danau Tempe saat musim kering dan musim hujan........................ Danau Limboto yang makin dangkal ................................................................... Identifikasi sumber-sumber pencemar dan permasalahan yang terjadi pada ekosistem DAS, eksosistem sempadan dan ekosistem waduk..........

7-8

Gambar 7-4

Sasaran pengendalian pecemaran DAS terpadu untuk perbaikan ekosistem waduk/danau dan pemangku kepentingan terkait .................... 7-10

Gambar 7-5

Komponen

dan

indikator

pendukung

keberhasilan

program 7-15

pengendalian pencemaran DASdan waduk/danau secara terpadu .........

DAFTAR KOTAK Nomor gambar Kotak 2-1 Kotak 3-1 Keterangan Permasalahan Waduk DAS Citarum............................................................... Contoh aplikasi kriteria STORET untuk menetapkan status mutu perairan waduk ................................................................................................... Kotak 3-2 Kotak 7-1 Kotak 7-2 Evaluasi korosifitas Waduk Saguling dan Cirata ........................................ Permasalahan dan penanganan Danau Tempe......................................... Permasalahan dan Penanganan Danau Limboto pada DASLimboto 3-3 3-4 7-4 7-5 Halaman 2-12

xvi

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

BAB I P EN D A H U L U A N
1.1 Latar Belakang Danau dan waduk merupakan sumber daya air tawar yang berada di daratan yang berpotensi sangat besar serta dapat dikembangkan dan didayagunakan bagi pemenuhan berbagai kepentingan. Secara prinsip, danau dan waduk adalah sebagai habitat air tergenang yang merupakan cekungan yang berfungsi menampung air dan menyimpan air yang berasal dari air hujan, air tanah, mata air ataupun air sungai. Perbedaan antara danau dan waduk adalah bentuk kejadiannya, yaitu danau karena peristiwa alam, sedangkan waduk merupakan buatan manusia. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 28/2009 Pasal 1 menyatakan bahwa danau adalah wadah air dan ekosistemnya yang terbentuk secara alamiah termasuk situ dan wadah air yang sejenis dengan sebutan istilah lokal. Waduk adalah wadah air yang terbentuk akibat dibangunnya bendungan dan berbentuk pelebaran alur atau badan atau palung sungai. Adapun perbedaan selengkapanya antara waduk dan danau adalah terlihat pada Tabel 1.1. Tabel 1.1 Perbandingan karakteristik antara danau dan waduk (Hartoto, 2001) Karakteristik Danau Waduk atau Bendungan

Proses pembentukan Usia geologis Terbentuk akibat pengisian Posisi di Daerah Aliran Sungai Bentuk Kedalaman maksimum Waktu tinggal teoritis (R) Sedimen dasar Gradien longitudinal Saluran outlet Fluktuasi tinggi permukaan air Hidrodinamika Penyebab perubahan muka air

Alamiah Tua Cekungan Sentral atau di tengah Teratur Dekat bagian tengah Lebih lama Otohtonus Dipicu oleh angin Permukaan Lebih kecil Lebih teratur Alamiah

Oleh Manusia Relatif muda (=40 tahun) Lembah-lembah sungai Marjinal (di pinggiran) Dendritik Di dekat bendungan Lebih singkat Alohtonus Dipicu oleh aliran sungai Di tempat dalam Lebih besar Sangat bervariasi Dikendalikan manusia

1-1

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Tabel 1 menunjukkan proses pembentukan danau yang lebih lama daripada waduk, sehingga ekosistem danau terutama bagian dalam yang lebih stabil daripada ekosistem waduk. Hal tersebut disebabkan saluran outlet danau yang berada di permukaan, sedangkan outlet waduk berada di tempat dalam. Berdasarkan fluktuasi muka air, danau memiliki fluktuasi muka air yang lebih kecil daripada fluktuasi muka air waduk. Perubahan muka air danau terjadi secara alami, sedangkan muka air waduk dikendalikan oleh manusia, yang menyebabkan hidrodinamika waduk lebih bervariasi daripada danau. Meskipun demikian, danau dan waduk mempunyai potensi strategis dan manfaatnya bersifat serbaguna, baik secara ekologis maupun ekonomis (Lehmusluto, dkk,1995). Waduk memiliki fungsi utama untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi dan pencegah banjir. Selain itu, perairan waduk dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah-tangga atau domestik, industri, transportasi, perikanan dan pariwisata (Machbub dkk, 2003). Sebagai bagian dari lingkungan dan sebagai sumber air, waduk merupakan tempat berkumpulnya air secara alami melalui aliran permukaan maupun air tanah (Straskaba dan Tundisi, 1999). Di negara berkembang seperti Indonesia, pada umumnya daerah aliran sungai (DAS) telah mengalami degradasi lingkungan yang serius akibat kegiatan manusia atau anthropogenic, terutama pada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, industri dan pariwisata (Mukerjee, 2009). Pada saat yang sama, International Council for the E xploration of the Sea atau ICES (2009) menyatakan bahwa pada DAS terdapat berbagai kegiatan yang membuang limbah secara langsung maupun tidak langsung masuk kedalam perairan waduk, sehingga berbagai unsur pencemaran air dari DAS serta sempadan waduk yang terbawa aliran permukaan maupun tanah akan masuk ke dalam perairannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Mukerjee (2009) menyarankan perlunya dilakukan upaya pengelolaan DAS secara terpadu melalui program aksi yang melibatkan partisipasi masyarakat untuk mengurangi beban pencemaran yang masuk ke dalam waduk atau danau. Upaya terpadu khususnya pengendalian pencemaran pada DAS diperlukan agar tidak makin mencemari badan air penerima. Upaya terpadu tersebut diperlukan, karena beban pencemaran dari berbagai sektor pada DAS cenderung terus meningkat bila tidak segera dilakukan upaya penanganan (Bukit, 1995). Machbub, dkk (2003) juga mengingatkan bahwa pencemaran yang cenderung makin meningkat dapat mengakibatkan kelestarian fungsi ekosistem perairan waduk di Indonesia terganggu. Masalah pendangkalan atau sedimentasi serta permasalahan pencemaran air dari air

1-2

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

limbah akibat aktivitas manusia, yaitu domestik, industri, pertambangan, pertanian dan peternakan akan mengakibatkan timbulnya eutrofikasi maupun perubahan fungsi lainnya. Permasalahan eutrofikasi danau dan waduk terjadi akibat pencemaran limbah penduduk dan juga sedimentasi yang mengandung senyawa nutrient atau zat hara. Proses penyuburan perairan waduk dan danau dapat terjadi secara alamiah maupun kultural. Brahmana, dkk (1993) menjelaskan bahwa eutrofikasi alamiah adalah terjadi secara alamiah atau tanpa pengaruh aktifitas manusia. Sedangkan eutrofikasi kultural adalah eutrofikasi yang dipengaruhi oleh limbah penduduk, limbah pertanian, limbah industri dan sebagainya. Karena itu, permasalahan penurunan kualitas lingkungan yang terjadi pada danau dan waduk menjadi perhatian secara global. Perhatian global terhadap persoalan waduk dan danau ini dijelaskan oleh Jorgensen (2001) yang menyatakan bahwa permasalahan utama waduk dan danau di seluruh dunia diantaranya: (a) terjadinya sedimentasi yang tinggi pada danau dan waduk yang disebabkan oleh erosi tanah akibat perubahan atau penggunaan lahan yang tidak terkendali pada DAS; (b) terdeteksinya proses asidifikasi danau akibat adanya hujan asam yang dapat mengganggu perikanan dan degradasi ekosistem; (c) terdegradasinya kualitas perairan waduk dan danau akibat pencemaran air limbah, organisme dengan zat pencemar beracun atau toksik yang berasal dari limbah pertanian dan limbah industri; (d) timbulnya proses eutrofikasi akibat masuknya senyawa nitrogen dan/atau fosfor hasil dari kegiatan industri, pertanian, domestik, limpasan permukaan dan-lainnya, dan menimbulkan marak atau bloom pada fitoplankton, pencemaran air dan penurunan biodiversitas; dan (e) terjadi perubahan total (completetly collapse) pada ekosistem akuatik pada kasus ekstrim Karena itu, diperlukan kerjasama yang baik antara pemangku kepentingan dan kajian yang menyeluruh mengenai permasalahan dan penanganan eutrofikasi di kawasan danau dan waduk sebagai implementasi pelaksanaan pengelolaan SDA secara terpadu dan kemudian dimanifestasikan menjadi pedoman-pedoman pengelolaan kawasan danau atau waduk. Dengan demikian, kelestarian lingkungan hidup yang didalamnya terdapat manusia dan alam tetap terjamin. 1.2 Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan penulisan ini adalah memberikan informasi tentang permasalahan eutrofikasi yang sering terjadi pada danau dan waduk, yang menjadi perhatian secara global. Tulisan ini juga dapat dijadikan acuan upaya pengelolaan danau dan waduk yang terintegrasi dalam pengelolaan DAS, sebagaimana konsep pengelolaan sumber daya air secara terpadu, seperti
1-3

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

yang telah diamanatkan dalam UU Nomor: 4 Tahun 2004. Selain itu, tulisan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengelolaan ekosistem di sekitar kawasan danau dan waduk, dan menjadi pedoman terwujudnya langkah-langkah pengelolaan danau dan waduk secara efisien untuk mencegah timbulnya penyuburan yang berlebihan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan serta keterpaduan antar sektor. Tulisan ini diharapkan juga memberi manfaat antara lain: (1) teridentifikasinya potensi dan permasalahan terjadinya proses eutrofikasi atau penyuburan di kawasan danau dan waduk; (2) terwujudnya strategi pengelolaan danau dan waduk yang berwawasan lingkungan terutama untuk mencegah timbulnya penyuburan berlebihan; (3) terumuskannya kebutuhan sarana dan prasarana yang mendukung pengembangan dan pengelolaan danau dan waduk; serta (4) terbentuknya acuan pengelolaan waduk dan danau secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan Dalam tulisan ini akan dibahas permasalahan eutrofikasi pada danau dan waduk, pemodelan serta upaya pengendaliannya, yang mencakup:
a. b. c. d. e.

Kondisi danau dan waduk di Indonesia; Manfaat, peranan dan permasalahan danau dan waduk di Indonesia; Kriteria, indikator serta parameter timbulnya eutrofikasi; Fenomena penyebab, pemodelan dan langkah penanganan eutrofikasi; serta Strategi pengelolaan waduk dan danau yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

1.4

Sistematika Pembahasan Tulisan dimulai dengan Bab Pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan,

tujuan dan manfaat kajian, ruang lingkup pembahasan, serta sistematika isi. Pada Bab II dijelaskan kondisi danau dan waduk di Indonesia, manfaat danau dan waduk, permasalahan yang sering terjadi pada danau dan waduk. Pada bab ini juga dijelaskan tentang peranan danau dan waduk sebagai pengendali kualitas air serta kondisi kualitas air danau dan waduk. Untuk mengidentifikasi permasalahan pada danau dan waduk diperlukan pengetahuan tentang kriteria, indikator dan parameter eutrofikasi. Pada Bab III ini dijelaskan kriteria status ekosistem danau, indikator potensial timbulnya eutrofikasi, serta klasifikasi eutrofikasi berdasarkan standar yang telah ditetapkan, baik secara nasional maupun internasional. Penyebab timbulnya eutrofikasi dibahas pada Bab IV. Dalam bab ini dibahas beberapa penyebab timbulnya eutrofikasi, antara lain meningkatnya kelimpahan plankton yaitu
1-4

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

fitoplankton dan zooplankton, meningkatnya zat hara yang terdiri dari konsentrasi senyawa nitrogen terlarut serta senyawa fosfor sebagai faktor pembatas. Selain itu, pada bab ini juga dibahas sumber pencemaran dari kolam jaring apung (KJA) dan pencemaran DAS yang terdiri dari berbagai sumber, yaitu sumber alami, perkotaan, pertanian dan peternakan. Untuk dapat melakukan pengelolaan dengan baik diperlukan pengetahuan tentang proses terjadinya eutrofikasi, yang dijelaskan dengan pemodelan secara matematik. Masalah tersebut dibahas dalam Bab V yang membahas korelasi antara parameter eutrofikasi, penentuan daya tampung beban pencemaran, contoh model aplikasi seperti CE-Qual-2E dan WASP (Water Analysis S imulation Programs) juga pemodelan dinamik untuk pengambilan keputusan dan pemodelan kualitas air waduk melalui teknologi penginderaan jauh. Timbulnya permasalahan eutrofikasi pada danau dan waduk menyebabkan berbagai dampak terhadap estetika, ekologi, kesehatan manusia serta dampak secara fisik dan ekonomi. Dengan teridentifikasinya dampak permasalahan eutrofikasi, maka dapat dilakukan upaya-upaya pengendaliannya. Upaya-upaya yang dibahas dalam penulisan ini adalah upaya secara alami, secara fisika-kimia dan upaya terpadu melalui pengelolaan DAS. Permasalahan dan upaya pengendalian eutrofikasi tersebut dibahas dalam Bab VI pada laporan ini. Pada Bab VI ini juga dibahas mengenai pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan untuk menghindarkan waduk dan danau dari ancaman eutrofikasi. Sedangkan strategi untuk pengelolaan terpadu ekosistem waduk dan danau, baik dalam lingkup nasional maupun dalam skala DAS, dibahas pada Bab VII. Pada Bab VII tersebut dibahas pula analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada tiap komponen pendukung keberhasilan pengendalian pencemaran DAS dan waduk atau danau secara terpadu. Penulisan ini diakhiri pada Bab VIII dengan bab penutup yang berisi kesimpulankesimpulan yang bermanfaat untuk pengembangan pengelolaan danau dan waduk yang berwawasan lingkungan terutama dalam rangka mencegah atau bahkan mengatasi timbulnya permasalahan eutrofikasi.

1-5

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

DAFTAR PUSTAKA

Brahmana, Moelyo,M, Rahayu,S.1993. Eutrofikasi Waduk Saguling, Jurnal litbang Pengairan. 8 (28). Puslitbang Pengairan, Bandung Bukit, N.T., 1995. Water Quality Conservation for The Citarum River in West Java. Water Science Technology Vol.31(9), Pergamon, London, pp.1-10. ICES.2009. Human Induced Eutrophication is Minimized Especially Adverse Effect. Final Report, European Commision Jorgensen (2001) Lehmusluto,P., B.Machbub, Bukit,.N.T., Rusmiputro. S., F.Achmad., L.Boer., Brahmana, S., 1995. National Inventory of The Major Lakes and Reservoir in Indonesia, Expedition Indodanau Technical Report, In Cooperation RIWRD and University of Helsinky (direvisi 1997) Machbub,B., Fulazzaky, M.A., Brahmana, S. dan.Yusuf, I.A., 2003. Eutrophication of Lakes and Reservoir and Its Restoration in Indonesia. Jurnal Litbang Pengairan Vol.17(50) , Puslitbang Pengairan, Bandung. Mukerjee,A,2009. Lake watershed management in developing countries through community participation: a model. Proseding Konferensi Danau Berkelanjutan,13-15 Agustus. Bali Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 28/2009 Pasal 1 Straskraba,M and Tundisi, J.G. Guidelines of Lake Management Volume 9: Reservoir Water Quality Management, ILEC,1999 Hartoto,D.I., 2001. Dinamika Populasi Plankton Sebagai Indikator Pencemaran pada Perairan Waduk, Pusat Penelitian Limnologi-LIPI, Cibinong Undang-undang Nomor: 24 tahun 2007 tentang Sumber Daya Air

1-6

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

BAB II KONDISI WADUK DAN DANAU DI INDONESIA


2.1 Kondisi Umum Danau dan Waduk 2.1.1 Kondisi Fisik Bemmelen (1949) dalam (Lehmusloto dkk, 1995) menggambarkan bahwa di Indonesia terdapat kurang lebih danau kategori besar dengan luas lebih dari 50 hektar sebanyak 500 buah. Danau tersebut tersebar pada beberapa pulau besar yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan Sulawesi, Papua serta Pulau Bali. Namun demikian, lokasi waduk sebagian besar berlokasi di Pulau Jawa. Selain danau dengan kategori besar juga terdapat danau-danau kecil yang jumlahnya ribuan dan waduk kecil yang dikenal dengan sebutan embung. Danau kecil sering disebut sebagai situ yang berukuran besar. Di Provinsi Jawa Barat terdapat 354 buah situ, di Provinsi Jawa Timur 438 buah situ. Danau terbesar di Indonesia adalah Danau Toba yang terletak 905 meter di atas permukaan laut (dpl), panjang 275 km, lebar 150 km dengan luas 1.130 km2, dengan kedalaman maksimum 529 m di bagian utara dan 429 m di bagian selatan. Danau Toba merupakan danau terdalam ke sembilan di dunia dan merupakan danau tipe vulkanik kaldera yang terbesar di dunia. Danau yang terdalam di Indonesia adalah danau Montana di Sulawesi Tengah dengan kedalaman maksimum 590 m dan merupakan danau terdalam ketujuh di dunia Kedalaman danau di Indonesia bervariasi antara 50 200 meter, namun banyak juga yang berkedalaman kurang dari 50 meter. Sebagaian besar danau-danau tersebut belum diketahui volumenya dengan pasti sampai saat ini. Demikian juga halnya presipitasi, evaporasinya serta debit aliran masuk dan aliran keluar. Sebab itu, waktu tinggal air danau secara pasti tidak diketahui, sehingga daya tampung beban pencemaran sebenarnya juga tidak diketahui. Hal tersebut berakibat pemanfaatan bagi danau untuk berbagai keperluan sulit untuk diprogramkan. Lain halnya dengan waduk, pembangunan waduk jelas diprogramkan untuk berbagai keperluan antara lain pembangkit listrik, irigasi, pengendalian banjir, sumber air baku air minum, air industri, penggelontoran, air perikanan, atau tempat pariwisata. Jumlah tenaga listrik yang dihasilkan dari tenaga air yang berasal dari air waduk ada sebanyak 3,4% dari total dari kebutuhan nasional (Machbub,dkk.,2003). Waduk sering juga disebut danau buatan yang besar. Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2010 tentang Bendungan menyatakan bahwa bendungan atau waduk besar adalah bila tinggi bendungan lebih dari 15 meter dengan daya tampung minimal 500.000 m3. Sedangkan
2-1

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

embung merupakan waduk kecil dan tinggi bendungannya kurang dari 15 m. Embung banyak dibangun di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pembangunan waduk besar di Indonesia sampai tahun 1995 kurang lebih 100 buah, yang sekitar 80% nya berlokasi di Pulau Jawa. Sejak terjadi krisis moneter pada tahun 1998, pembangunan waduk besar di Indonesia belum dilakukan lagi, kecuali perencanaan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Sistem tata air waduk berbeda dengan sistem tata-air danau alami. Pada waduk, komponen tata airnya telah direncanakan sedemikian rupa sehingga volume, kedalaman, luas, presipitasi, debit inflow/outflow, serta waktu tinggal air diketahui dengan pasti. Sedangkan pada danau masih diperlukan penelitian yang lebih mendalam tentang dimensi danau sebenarnya yang dilakukan melalui suatu upaya pemeruman (echo sounding).

Tabel 2.1 Klasifikasi Danau dan Waduk Berdasarkan Luas dan Volume (ILEC, 1999) Klasifikasi Besar Medium Kecil Sangat Kecil
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2008

Luas (Km2) 10.000 1.000.000 100-10.000 1-100 <1

Volume (Juta m3) 10.000 100.000 100-10.000 1-100 <1

Berdasarkan luas dan volume nya danau dan waduk dapat diklasifikasikan menjadi danau atau waduk besar, medium, kecil dan sangat kecil sebagaimana terlihat pada Tabel 2.1. Luas dan volume waduk dan danau tersebut sangat berpengaruh dengan kondisi hidraulik aliran. Kondisi hidraulik aliran tersebut berpengaruh pada waktu tinggal aliran serta tingkat pencampuran air yang pada akhirnya juga berpengaruh pada kondisi trofik waduk atau danau, seperti terlihat pada Tabel 2.2. Pada Tabel 2.2 diperlihatkan danau atau waduk dengan waktu tinggal kurang dari 20 hari, yang dikategorikan sebagai danau atau waduk berarus cepat, yang sekaligus memiliki sifat pencampuran yang sempurna. Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan plankton. Sedangkan pada danau atau waduk yang memiliki waktu tinggal 20 sampai dengan 300 hari cenderung terjadi stratifikasi atau pelapisan dan mulai terjadi proses eutrofikasi. Sedangkan

2-2

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

waduk yang memiliki waktu tinggal lebih dari 300 hari, cenderung terjadinya stratifikasi sempurna seperti terlihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Skema Pelapisan Sempurna pada Waduk atau Danau (Chapra, 1997)

Tabel 2.2. Hubungan Antara Tipe Danau dan Karakteristik Pencampuran Air (ILEC,1999) Karakteristik Waktu tinggal Tingkat Pencampuran Air Tingkat trofik Arus Air Cepat R <= 20 hari Pencampuran Air Sempurna Aliran air menghambat pertumbuhan plankton Arus Air Sedang 20 < R<= 300 hari Mulai terjadi Stratifikasi Pengaruh arus air tidak dominan, mulai terjadi proses trofik Arus Air Lambat R > 300 hari Stratifikasi terjadi Sempurna Terjadi tingkat trofik

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2008; R : Waktu tinggal air (Hari)

Adanya pelapisan sempurna pada badan air sangat berpotensi menimbulkan proses eutrofikasi atau penyuburan. Sedangkan Gambar 2.2 merupakan contoh terjadinya proses pelapisan di Waduk Sutami. Pada Gambar 2.2 tersebut ditunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan pada parameter-parameter suhu, Oksigen Terlarut, Turbiditas (kekeruhan), dan Daya Hantar Listrik (konduktifitas) terhadap kedalaman, sehingga terlihat seperti terbentuk
2-3

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

lapisan. Kondisi tersebut sangat mendukung timbulnya eutrofikasi. Untuk mencegah terjadinya kondisi tersebut, maka pengelolaan badan air dengan waktu retensi yang tinggi seperti danau dan waduk memerlukan pengelolaan yang terintegrasi dengan daerah aliran sungai (DAS) badan air tersebut.
pH 7 ,5 0 5 ) m ( 1 0 n a m1 a 5 l a d2 e 0 K 2 5 3 0 8 8 ,5 9 9 ,5

D (m/L O g)
Sh (oC uu )

0
2 4 0 5 1 0 1 5 2 0 2 5 3 0
Kedalaman (m)

1 0

1 5

2 6

2 8

3 0

0
Kedalaman (m)

5 1 0 1 5 2 0 2 5 3 0 S su 1 ta i n S su 2 ta i n S su 3 ta i n

S su 1 ta i n S su 2 ta i n S su 3 ta i n

S s n1 ta iu S s n2 ta iu S s n3 ta iu

Konduktivitas (uS/cm) 260 0 5


Kedalaman (m)

Turbiditas (NTU)

280

300

320

340
0 5
) m ( n a m a l a d e K

50

100

150

10 15 20 25 30 Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

10 15 20 25 30

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Gambar 2.2. Distribusi Suhu, DO, pH, Konduktivitas dan Turbiditas Waduk Sutami Bulan Juni 2003 (Sulastri, dkk, 2004)

Karena itu, perlu dikembangkan kolam-kolam retensi dengan waktu tinggal aliran kurang dari 20 hari untuk mencegah timbulnya eutrofikasi. Kolam-kolam retensi tersebut selain membantu mengurangi potensi terjadinya banjir, juga sebagai sarana konservasi sumber air sekaligus sebagai fasilitas umum atau sosial di lingkungan permukiman maupun perkotaan.

2-4

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

2.1.2 Kondisi Kualitas Air Machbub, dkk (2003) melaporkan bahwa penelitian kualitas air waduk dan danau telah dilakukan oleh Puslitbang Sumber Daya Air bekerjama dengan Pemerintah Finlandia, yaitu Universitas Finlandia sejak tahun 1990 yang hasilnya menunjukkan bahwa kualitas air waduk dan danau sudah banyak menurun. Penurunan kualitas air waduk dan danau tersebut disebabkan oleh pencemaran organik, terutama senyawa nitrogen dan fosfor yang berasal dari air limbah industri, penduduk, pertanian dan aktifitas perikanan kolam jaring apung (KJA). Tingkat pencemaran waduk yang diakibatkan senyawa nitrogen, fosfor, dan zat organik dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu penyuburan amat sangat berat (hypereutrofic), penyuburan berat (eutrofic), dan penyuburan sedang (oligotrofic), dan mesotrofic atau belum mengalami penyuburan . Dari penelitian tersebut diketahui bahwa waduk yang masuk tingkat eutrofik adalah Waduk Saguling, Cirata, Karangkates, dan Sengguruh. Kategori oligotrofik adalah Waduk Lahor, Jatiluhur, Muara Nusa Dua, Mrica, Kedungombo, dan yang termasuk mesotrophic adalah Waduk Palasari, Wlingi, Malahayu, dan lain-lain (Machbub, dkk., 2003). Lehmusluto (2006) menyatakan bahwa pada tahun 2004-2005 telah dilaksanakan penelitian pada 10 waduk di Pulau Jawa, terutama waduk yang mengalami pencemaran dan penyuburan yang sangat berat dan berat, menunjukkan bahwa pencemaran waduk makin berat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sebagai contoh Waduk Saguling, kadar oksigen pada lapisan hypolimnion-nya sangat rendah yaitu kurang dari 3 mg/L. Padahal secara umum kadar oksigen pada lapisan tersebut mendekati kadar oksigen pada lapisan epilimnion (lapisan dengan sinar-matahari dapat tembus sampai kedalaman tersebut). Selain itu kualitas airnya telah tidak memenuhi baku mutu untuk keperluan sebagai sumber air baku, air perikanan, air industri, air irigasi. Contoh waduk lain yang mengalami pencemaran berat adalah Waduk Sutami di Malang yang sering mengalami marak alga (alga bloom). Akibat marak alga tersebut, air Waduk Sutami mulai berwarna hijau pekat yang berubah menjadi coklat, ikan mati,timbul bau busuk, mesinmesin PLTA makin cepat mengalami korosi atau berkarat, sebagaimana terlihat pada Gambar 2.3. Pencemaran air Waduk Sutami yang menyebabkan terjadinya alga bloom adalah limbah penduduk, peternakan dan pertanian. Brahmana, dkk (2002) menyatakan bahwa dampak yang paling serius dari alga bloom pada waduk adalah produksi toksin oleh ganggang Microcystis yang disebut Mycrocystein yang dapat menyerang syaraf dan mengakibatkan kematian.

2-5

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Gambar 2.3 Kondisi Marak Alga di Waduk Sutami (Sukistiyono, 2004)

2.2 Manfaat Waduk dan Danau Danau dan waduk secara teknis berfungsi sebagai sumber air baku, tempat hidup berbagai biota air, pengatur dan penyeimbang tata air, pengendali banjir dan sungai pembangkit tenaga listrik dan lainnya. Selain itu, danau dan waduk juga bersifat multi fungsi, yaitu fungsi ekologi, ekonomi, lingkungan hidup, sosial budaya, dan keagamaan. Karena itu, melalui Kesepakatan Bali tentang Pengelolaan Danau Berkelanjutan adalah mempertahankan, melestarikan dan memulihkan fungsi danau dan waduk berdasarkan prinsip keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungannya. Komitmen sembilan departemen terkait melalui tujuh butir program strategis danau ditandatangani oleh empat menteri pada acara Konferensi Nasional Danau Indonesia I dengan tema Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan Iklim di Denpasar, Provinsi Bali, pada tanggal 1315 Agustus 2009. International Lake Environment Committee atau ILEC menegaskan kembali tentang prinsip visi danau, yaitu: (1) hubungan yang harmoni antara manusia dan alam atau lingkungan; (2) daerah tangkapan danau adalah starting point pengelolaan DAS; (3) pendekatan jangka panjang untuk pencegahan kerusakan danau; (4) penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan dan pengambilan kebijakan; (5) prinsip keberlanjutan untuk menghindari konflik; (6) partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan; serta (7) tata-kelola berdasarkan keadilan, transparansi dan pemberdayaan seluruh pemangku kepentingan Ke tujuh visi tersebut memberikan gambaran bahwa keberadaan ekosistem danau dan waduk memberikan fungsi yang mensejahterakan kehidupan manusia, yaitu terjadinya kegiatan

2-6

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

domestik, industri, dan pertanian. Meskipun, jika dibandingkan dengan habitat laut dan daratan, danau dan waduk merupakan salah satu bentuk ekosistem yang menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi.. Fungsi danau secara ekosistem, sebagaimana dinyatakan oleh Cornel dan Miller (1995) diantaranya adalah: (a) sebagai sumber plasma nutfah yang berpotensi sebagai penyumbang bahan genetik; (b) sebagai tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora dan fauna yang penting; (c) sebagai sumber air yang dapat digunakan oleh masyarakat sekitarnya (rumahtangga, industri dan pertanian); (d) sebagai tempat menampung kelebihan air yang berasal dari air hujan, aliran permukaan, sungai-sungai atau dari sumber-sumber air bawah tanah; (e) sebagai pemelihara iklim mikro, di mana keberadaan ekosistem danau dapat mempengaruhi kelembaban dan tingkat curah hujan setempat; (f) sebagai sarana tranportasi dari tempat satu ke tempat lainnya; (g) sebagai penghasil energi melalui PLTA; dan (h) sebagai sarana rekreasi dan objek pariwisata. Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 2007, Pasal 1 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sumber air ialah semua wadah alamiah dan yang telah dibuat oleh orang, seperti sungai, danau, waduk, mata air, dan sebagainya. Sebab itu, pengelolaan DAS secara terpadu harus memasukkan danau dan waduk sebagai salah satu unsur sumber air yang harus dikelola secara terintegrasi, termasuk pula langkah-langkah pemanfaatannya. Pemanfaatan waduk dan danau sebagai sumber air menurut Pasal 29 ayat (3) pada UU Nomor 4/2007, memiliki tiga prioritas. Prioritas pertama digunakan untuk air minum, rumah tangga, pertahanan dan keamanan nasional, peribadatan dan usaha perkotaan, misalnya mencegah kebakaran, penggelontoran, menyiram tanaman, dan lain sebagainya. Prioritas kedua dimanfaatkan untuk pertanian, pertanian rakyat, dan usaha pertanian lainnya, peternakan, perkebunan dan perikanan. Prioritas ketiga dimanfaatkan untuk ketenagaan, industri, pertambangan, lalu lintas air dan rekreasi. 2.3 Permasalahan Waduk dan Danau Hasil penelitian Machbub, dkk (2003) menjelaskan bahwa beberapa danau mengalami permasalahan antara lain terjadinya sedimentasi yang mengakibatkan berkurangnya kedalaman, berkurangnya volume, berkurangnya luas genangan; timbulnya masalah eutrofikasi, yaitu tingginya kadar nitrogen dan fosfor akibat limbah domestik maupun pertanian dan sisa pakan ikan; terjadinya pencemaran limbah cair dan limbah padat pada perairan waduk, dan meningkatnya laju erosi dari sungai tinggi, sehingga mengurangi masa layan waduk .
2-7

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Contoh hasil penelitian kualitas air dari waduk tercemar yang mengalami proses eutrofikasi adalah 3 waduk tercemar berat yaitu: Saguling, Cirata, Jatiluhur dengan total beban 80 ton BOD per hari dan sampah 1000 m3/ hari. Adapun contoh penurunan kualitas air akibat pencemaran dari DAS Citarum bagian hulu adalah pada Waduk Saguling sebagaimana

diperlihatkan pada Tabel 2.3 (Machbub, dkk., 2003). Sementara itu, rentang konsentrasi minimum dan maksimum tiap parameter pada lapisan epilimnion dan hipolimnion pada danau dan waduk di Indonesia adalah terlihat pada Tabel 2.4. Tabel 2.3 menunjukkan bahwa Waduk Saguling mendapat input beban pencemar zat organik sebesar 71,1 Ton BOD/hari dan 161,16 Ton COD/hari. Sedangkan beban limbah senyawa nutrien yang mencemari waduk tersebut adalah masing-masing 5,74 Ton Nitrogen/hari dan 0,5 Ton Fosfor/hari. Kondisi tersebut menyebabkan Waduk Saguling mengalami pencemaran yang amat sangat berat, sekaligus penyuburan yang berlebihan. Tabel 2.4 menunjukkan rentang konsentrasi, minimum dan maksimum, kualitas air waduk dan danau. Hasil pengukuran parameter kualitas air tersebut dibandingkan dengan kategori UNEP (United Nation of Environmental Protection) menunjukkan bahwa parameter transparansi berada pada rentang mesotrofik-hipereutrofik, meskipun terdapat danau yang masih oligotrofik. Parameter khlorofil-a juga menunjukkan bahwa status trofik waduk dan danau di Indonesia berada dalam rentang mesotrofik-eutrofik. Sedangkan kadar oksigen terlarut pada hipolimnion cenderung dalam kondisi anaerobik atau anoksik, baik pada waduk maupun danau. Kandungan senyawa nutrien diukur sebagai total nitrogen dan total fosfor menunjukkan kategori mesotrofik-eutrofik. Parameter zat organik dan partikel tersuspensi pada waduk dan danau di Indonesia berada dalam kategori klas I sampai III. Tingkat keasaman yang terukur pada perairan waduk dan danau di Indonesia umumnya berada pada kondisi normal, meskipun cenderung basa terutama pada lapisan hipolimnion.

2-8

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Tabel 2.3 Kondisi Kualitas Air di S Citarum Bagian Hulu Sebagai Input Waduk Saguling di Musim Kering, 2001 No. Parameter Satuan Konsentrasi Input Sungai (Ton/hari) 1 Padatan terlarut mg/l 232 2 Padatan tersuspensi mg/l 284 3 Kekeruhan NTU 52 4 pH 7,8 5 DO mg/l 0,55 6 BOD mg/l 30,0 71,099 7 COD mg/l 68,0 161,157 8 Total Nitrogen (T-N) mg/l 2,42 5,735 9 Total Fosfor (T-P) mg/l 0,21 0,498 10 Kesadahan (CaC03) mg/l 346 11 Deterjent (MBAS) mg/l 0,40 9,6.105 12 E.Coli Bakteri per 1OO ml 13 Debit aliran m3/s 27,43
Sumber : Machbub, dkk., 2003

Tabel 2.4 Rentang Konsentrasi Minimum-Maksimum Tiap Parameter pada Epilimion dan Hipolimnion pada Danau dan Waduk di Indonesia
Parameter Kualitas Air Tranparansi (Kedalaman Secchi) Klorofil-a ( Chl-a) Temperatur (t) Oksigen terlarut (O2) Karbon Dioksida (CO2) Alkalinitas pH Daya Hantar Listrik (EC) + Amonia (NH4 dan NH3-N) Satuan m mg/m3 0 C mg/L mg/L meq/L umho/cm mg/L Epilimnion 0,4-20,0 0,15-7,33 21,42-30,20 5,40-10,34 0-33,0 0,19-3,70 6,8-8,8 22-1811 0-1,117 Danau Hypolimnion <100m >100m 20,11-28,80 0-5,00 24,03-26,80 0-0,97 Waduk Epilimnion 0,5-5,0 0,46-6,08 25,89-30,80 5,00-14,2 0-15,1 1,02-3,20 7,6-9,0 97-386 0-0,100 Hypolimnion 22,62-29,21 0-8,41 0-21,8 1,00-3,10 6,5-8,7 131-1570 0-0,420

0-43,1 3,5-18,0 0,19-3,70 1,00-2,60 6,8-8,9 6,1-7,6 26-1797 198-314 0,0002-0,929 0,019-1,450

Nitrit nitrogen (NO2-N) mg/L 0-0,018 0-0,037 0-0,027 0-0,007 0-0,043 Nitrat nitrogen (NO2-N) mg/L 0-0,270 0,010-0,890 0-0,760 0-1,500 0-1,500 Organik nitrogen (Org-N) mg/L 0,020-1,042 0-0,360 0,100-0,828 0-0,620 0-1,180 Total nitrogen (Tot-N) mg/L 0,116-1,310 0,212-1,010 0,160-1,724 0,020-1,560 0,050.-1,780 Fosfat fosfor (PO4-P) mg/L 0-0,080 0-0,060 0-0,110 0-0,002 0-0,015 Total Fosfor (Tot-P) mg/L 0-0,085 0-0,080 0-1,411 0-0,006 0-0,018 N/P-ratio (Total) 1,9-49,5 2,7-485 3,2-27,3 3,3-665 8,3-610 Chemical oxygen demand (COD) mg/L 1.8-18 5.0-17 2,2-10 4,0-10 4,0-36 Padatan Terlarut mg/L 16-1540 18-1530 90-166 62,178 100-485 Padatan Tersuspensi mg/L 3.0-36 4.0-40 3 - 30 3 - 12 4,0 - 210 Turbiditi NTU 0.9-22 2.0-22 1,6-18 1,5- 7,9 2,0-150 Potensial Oksidasi-Reduksi mV -209 -323 -413 -147 -282 Silicat (SiO2) mg/L 3.6-68 7,7-68 Agust-40 tt tt Kalsium (Ca) mg/L 1.9-32 1,8-35 13-33 8,1-35 9,4 - 36 Klorida (CI) mg/L 1.0-225 1,5-323 1,3-8,5 4 - 26 5,4 - 27 Kalium (K) mg/L 0.45-22 0,50-20 0,2-2,4 1,1 - 3,7 1,0 - 4,1 Natrium (Na) mg/L 1,3-350 1,3-340 0,9-18,5 2,3 - 25 2,3- 44 Magnesium (Mg) mg/L 0,87-61 0,85-66 2,4-21 2,2 - 14 2,3 - 14 Sulfat (SO4) mg/L 0,35-650 0,35-650 0.40.18.9 1,2 - 35 1,2 - 30 Hidrogen Sulfida (H2S) mg/L tt tt 0-1,5 tt tt Cadmium (Cd) mg/L tt tt tt tt tt Chromium (Cr) mg/L tt tt tt tt tt Tembaga (Cu) mg/L tt tt tt tt tt Besi (Fe) mg/L 0,08- 0,82 0,1 - 2,5 0,18 - 4,59 0,1 - 0,9 0,15 -130 Manganese (Mn) mg/L 0-0.14 0 - 0,3 0.05-0.34 0,01 - 0,12 0,01 - 0,19 Nikel (Ni) mg/L tt tt tt tt tt Timbal (Pb) mg/L tt tt tt tt tt Seng (Zn) mg/L 0,03 0 - 0,34 0,05 - 0,14 0 - 0,25 0 - 0,30 Sumber: Lehmusluto, dkk. 1997. National Inventory of Major Lakes and reservoir in Indonesia, 1997; tt : tidak terdeteksi

2-9

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Data pada Tabel 2.5 dan 2.6 menggunakan pengukuran transparansi kedalaman minimum yang terukur dengan cakram sechi. Keasamann waduk dan danau diukur pada lapisan epilimnion dengan pH meter dan dicatat nilai pH maksimumnya. Parameter nitrogen diukur sebagai Total Nitrogen, yaitu pada konsentrasi L= 0-0,250 mg/l, M= 0.250-0.500 mg/l dan H= >0.500 mg/l. Parameter fosfor diukur sebagai Total P yaitu dinyatakan dengan tingkat konsentrasi pada: L= 0 0,025 mg/l, M= 0,025-0,050 mg/l dan H= >0,050 mg/l. Sedangkan status trofik (ST) dinyatakan dengan klasifikasi Status Trofik: O = oligotrofik, M = mesotrofik, E = eutrofik dan H= Hipereutrofik.

Tabel 2.5 Karakteristik Fisik dan Kualitas Air Danau di Indonesia Danau Batur Bratan Buyan Diatas Dibawah Kerinci Limboto Maninjau Matano Poso Ranau Rawa Pening Sentani Singkarak Tamblingan Tempe Toba Tondano Towuti Luas (A) km2 15,9 3,8 3,9 12,3 11,2 46 56 97,9 164,1 323,2 125,9 25 93,6 107,8 1,9 350 1130 50 561,1 Dalam Zmax M 88 22 87 44 309 97 2.5 169 590 450 229 14 42 268 90 5 529 20 203 Volume DHL (V) N Min/max 3 Km 0,82 0,049 0,16 TD TD TD TD 10,4 TD TD 21,95 0,052 TD 16,1 0,027 TD 240 TD TD 780 25 280/750 90 90 77 550 120/200 200/305 135/200 200 260/500 250 160 165/250 220 180 250/730 175/400 M H M M L M H M M M L H L M H H L M .. M pH P L L L L M M M L L, L H L L L L M L L L Max 8,8 8 7,8 7,5 8,5 6,8 8,8 8,4 8,5 8 8,5 7,5 8,3 8,7 8,7 7,4 8,2 8,3 8,2 Trans Min 3 1,8 2,3 5,5 6,5 1,5 0,4 9,6 15,5 7,5 8,8 0,7 2,6 2,1 2,7 0,6 15 2.5 20 ST O O O O O M E O O O O M M M O E O M O

Sumber : Lehmusluoto, dkk.(1995) ; TD : tidak diketahui

Data-data yang tercantum pada Tabel 2.5 dan 2.6 memberikan gambaran bahwa waduk maupun danau di Indonesia memiliki kecenderungan mesotrofik dan eutrofik dan beberapa hipereutrofik. Dengan demikian, dapat diketahui status mutu perairan waduk maupun danau, sehingga dapat ditentukan program prioritas penanganan kualitas perairan serta penentuan
2-10

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

peruntukan air waduk dan danau. Brahmana, dkk (1993) menyarankan pemanfaatan air waduk dan danau agar disesuaikan dengan status mutu airnya, yaitu: a. Waduk Oligotrofik, adalah waduk yang kandungan nutrien dan produktivitasnya sedang. Waduk dengan status trofik tersebut sangat cocok untuk perikanan dan pemanfaatan lainnya; b. Waduk eutrofik, adalah waduk yang kandungan nutrient dan produktivitasnya tinggi, sedangkan kandungan oksigen pada lapisan hipolimnion rendah. Waduk dengan status trofik tersebut cocok untuk perikanan dan irigasi; serta c. Waduk hipereutrofik, adalah waduk yang mengandung banyak material humus, kandungan oksigennya rendah, dan jumlah spesies ganggang sedikit. Waduk dengan status trofik tersebut hanya cocok untuk irigasi; Tabel 2.6. Karakteristik Fisik dan Kualitas Air Waduk di Indonesia Danau Cacaban Cirata Darma Jatiluhur Kedung Ombo Lahor Mrica Palasari Riam Kanan Saguling Selorejo Sempor Sutami . Wlingi W onogiri Luas (A) km2 TD 62 4 83 46 2.6 70 3 92 53,4 4 ND 15 3.8 90 Dalam (Z) max M TD 6 4 90 90 30 100 36 TD 90 32 42 50 6 TD Volume (V) Km3 0,086 2,16 0,004 2,97 0,72 0,037 TD 0,006 1,2 0,93 0,062 0,052 0,34 0,024 0,74 DHL Min/max N P TD L L L L L L L TD L L L L L TD pH Max TD 8,7 9 8,4 8,2 8,9 8,8 TD TD 8,7 9 8,5 8,7 7,9 TD Trans Min TD 1,5 1,5 2.6 5 1,5 3,6 0.8 TD 0,5 0,8 1,9 1,9 1,3 TD ST TD M M H M E M M TD M E M M E TD

TD TD 200 . L M 95/770 M 190 310/720 M 220 H 230/580 H H 270 TD TD M 200 L 260 180/270 M H 380 H 360 TD TD

Sumber : Lehmusluoto, dkk.(1995)

Karena itu, perairan waduk yang status trofiknya termasuk kategori eutrofik atau hypereutrofik, maka perairan tersebut tidak layak digunakan untuk sumber baku air minum, perikanan, tempat berkreasi, transportasi air dan peruntukan lainnya. Hal ini disebabkan kualitas fisika, kimia dan biologi dari air waduk tersebut sudah sangat jelek Sukimin (2004) menjelaskan bahwa permasalahan eutrofikasi waduk atau danau disebabkan adanya pencemaran dari sumber eksternal dan internal. Pencemararan eksternal
2-11

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

berasal dari DAS yang disebabkan oleh adanya kegiatan manusia, yaitu permsalahan urbanisasi, pertambahan penduduk dan industri (Gambar 2.4). Permasalahan eksternal tersebut menyebabkan penggunaan air yang berlebihan, pemanfaatan lahan yang tidak terkendali dan peningkatan laju erosi. Gambar 2.4 juga menunjukkan permasalahan yang menyebabkan timbulnya beban pencemaran internal pada waduk atau danau yaitu berkembangnya budidaya keramba jaring apung (KJA). Beban pencemaran dari eksternal maupun internal sangat berpengaruh terhadap kualitas air waduk. Permasalahan utama kualitas air adalah timbulnya eutrofikasi, terjadinya siltasi ke dasar waduk, terlarutnya zat-zat yang bersifat racun atau toksik, turunnya keanekaragaman hayati, serta turunnya elevasi air akibat evapotranspirasi yang berlebihan.

Urbanisasi

Penggunaan Air Berlebih


Pemanfaatan Lahan Berlebih Peningkatan Erosi

Eutofikasi Siltasi

Pertambahan Penduduk

Kualitas Air

Bahan Toksik Biodiversiti Elevasi Air

Industri

Jenis Ikan

Terlarut Asimilasi

Budidaya Keramba Jaring Apung

Pakan

Dimakan Ikan Sisa Metabolisme

Unit KJA

Tidak Dimakan

Total Bahan Organik

Gambar 2.4. Diagram Permasalahan Eksternal dan Internal yang Berpengaruh Terhadap Kondisi Waduk dan Danau di Indonesia (Sukimin, 2004)

2-12

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Kotak 2.1 : Permasalahan Waduk DAS Citarum Daerah aliran sungai (DAS) yang telah mengalami degradasi lingkungan. mengakibatkan penyuburan Waduk Saguling yang sangat cepat, karena banyaknya limbah penduduk dan industri yang masuk ke Sungai Citarum. Di DAS Saguling dihuni sebanyak 6 juta orang, dan terdapat 300 buah industri (75% tekstil) dan sisanya adalah industri kulit, makanan kertas, obatobatan dan sebagainya. Limbah penduduk dibuang secara langsung sebanyak 50% ke Sungai Citarum. Demikian juga, hampir 50 % air limbah industri air buangannya belum diolah atau belum diolah secara sempurna Sumber: Macbub (1987) pada Brahmana (1993), Eutrofikasi Waduk Saguling, Jurnal Litbang Pengairan No. 28 Th. 8 , Puslitbang Pengairan, Bandung

2.4. Peranan Danau dan Waduk Sebagai Pengendali Kualitas Air Peranan danau dan waduk sebagai pengendali kualitas air adalah memperbaiki kualitas air melalui proses alami sedimentasi maupun dekomposisi yang terjadi akibat waktu tinggal yang relatif lama pada tampungan tersebut. Parameter-parameter kualitas air yang dipengaruhi bahkan dapat diperbaiki serta fenomena-fenomena yang menyertai dapat dilihat pada contoh kasus pada waduk kaskade di DAS Citarum. Tinjauan fenomena-fenomena tiap parameter kualitas air pada contoh kasus tersebut, dilihat berdasarkan tinjauan secara longitudinal kulitas air maupun variasi bulanan. 2.4.1 Profil Longitudinal Kualitas Air a. Fenomena Perubahan Kualitas Air Data kualitas air S.Citarum pada bagian hulu (sebelum Waduk Saguling) menunjukkan telah terjadi pencemaran berat oleh paramater organik (BOD dan COD), amonium dan bakteri patogen (Eschericia coli). Selain itu juga terjadi pencemaran oleh deterjen dan logam berat. Perbandingan kadar parameter air sepanjang sungai dan waduk-waduk dari hulu sampai hilir, menunjukkan adanya perbaikan kualitas air oleh waduk, karena terjadinya proses penguraian dan pengendapan. Kadar zat pencemar yang menurun karena proses penguraian adalah senyawa organik (BOD dan COD), senyawa nutrien (N dan P), dan bakteri. Sedangkan parameter zat pencemar yang menurun karena proses pengendapan adalah parameter besi, mangan dan seng.

2-13

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

INDONESIA

4 Km

SCALA

Cit aru m

R.

10

West Java

LEGEND :

9
RIVER RESERVOIR CITY

8 7

CATCHMENT BOUNDARY SAMPLING LOCATION

du l R. Cikun

6
u und ap
. R ng

Cim ahi Cib R. eur eum R. C

Ci keru h

R.

ik

C i sa ng kuy

1
C

tarik R. Ci

Gambar 2.5 Skema Waduk Kaskade Citarum dan Lokasi Pengambilan Sampel (Irianto, 2006)

2-14

it

aru mR ive r

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Gambar 2.6 Skema Profil Longitudinal Waduk Kaskade Citarum (Irianto,2006)

b. Dekomposisi Polutan Organik dan Deterjen Gambar 2.6 menunjukkan bahwa parameter organik (sebagai BOD dan COD) mengalami perbaikan yang cukup berarti setelah melewati waduk kaskade. Sedangkan Gambar 2.7 juga menunjukkan menurunnya kadar detergen. Perbaikan kadar parameter organik dan detergen tersebut akibat adanya penguraian oleh bakteri dan pengenceran selama berada didalam waduk mengingat waktu retensi di dalam waduk yang berlangsung selama beberapa bulan. Gambar 2.6 dan 2.7 juga menunjukkan adanya peningkatan kadar organik dan detergen pada tahun 2000. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya pencemaran organik dan detergen pada sebelah hulu, sejalan dengan bertambahnya penduduk di wilayah tersebut. Kondisi tersebut dapat menyebabkan beban pencemaran organik dan detergen yang makin tinggi, terutama di Waduk Saguling.

2-15

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

2-16

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Gambar 2.8 Profil Kadar Oksigen Terlarut (DO), S enyawa Nutrien dan Partikel Tersuspensi S epanjang S Citarum (Irianto, 2006) .

2-17

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

c.

Penguraian Senyawa Nutrien Pada penelitian ini, penguraian senyawa nutrien diwakili oleh amonium, nitrit dan fosfor.

Gambar 2.7, menunjukkan bahwa kandungan amonium, nitrit dan fosfor mengalami peningkatan pada tahun 2000. Amonium, nitrit dan fosfor pada bagian hulu. Bahkan pada tahun 2000 telah terjadi akumulasi amonium di ketiga waduk tersebut. Namun demikian, kadar nutrien secara umum mengalami penurunan yang cukup berarti setelah melewati ketiga waduk tersebut. Gambar 2.7 juga menunjukkan adanya peningkatan kadar amonium pada titik 9 dan 10 yang diduga sebagai akibat beroperasinya industri pupuk di sekitar lokasi tersebut. d. Pengendapan Pencemar Logam Berat Gambar 2.6 memperlihatkan bahwa kadar Mn dan Zn di sepanjang Citarum Hulu cenderung meningkat dalam 10 tahun terakhir, sedangkan kadar Fe relatif hampir sama. Ketiga paramater tersebut cenderung mengalami akumulasi di ketiga waduk tersebut. Hal ini dapat dilihat pada titik 8 yang mana kadar ketiga parameter tersebut menurun drastis. Peningkatan pada titik selanjutnya adalah diduga sebagai akibat adanya industri logam yang ber operasi disekitar titiktitik tersebut. e. Pengurangan Bakteri Pencemar Kadar bakteri coli cenderung menurun pada waduk. Kadar fecal coli pada S.Citarum bagian hulu semula 0,9.104 1,8104 per 100 ml (tahun 2000) dan 0,9.106-1,2,106 per 100 ml (1990) menurun menjadi 1.104 1.105 (1990) dan 0,9.102-0,8.103 per 100 ml (2000). Hal ini disebabkan oleh desinfeksi sinar matahari pada permukaan air waduk (lihat Gambar 2.6). Kadar Fecal Coli pada Sungai Citarum mengalami perbaikan yang cukup berarti pada tahun 2000 yang diduga karena adanya fasilitas sanitasi, terutama pemakaian septik tank dan beroperasinya IPAL Domestik Bojongsoang. Sedangkan masih tingginya kadar Fecal Coli di ketiga waduk tersebut sebagai akibat adanya penduduk yang tinggal di sekitar waduk, serta tingginya kepadatan ikan yang dipelihara pada kolam jaring apung. Setelah melewati ketiga waduk tersebut, kadar bakteri meningkat kembali oleh limbah penduduk di hilir S.Citarum. f. Penurunan pH Gambar 2.9 menunjukkan profil pH sepanjang Sungai Citarum yang cenderung basa tahun 1990 dan makin meningkat kebasaannya pada tahun 2000 terutama pada bagian hulu. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya pencemaran limbah industri tekstil di sepanjang Sungai Citarum bagian hulu. Kondisi cenderung basa juga terlihat pada ketiga waduk tersebut

2-18

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

pada tahun 1990, karena ketiga waduk tersebut mempunyai daerah tangkapan yang secara geologis berlokasi pada daerah yang berkapur. Sedangkan pada tahun 2000, pH pada ketiga waduk cenderung menuju netral, kemungkinan telah terjadi pengenceran. Kondisi pH cenderung menuju netral juga terlihat setelah melewati waduk kaskade tersebut, baik pada tahun 1990 dan 2000.

9 8.5 8 H p 7.5 7 6.5 6 1 2 3 4 5 6 Sampling Locations 7 8 9 10

1990

2000

Gambar 2.9 Profil pH Sepanjang Sungai Citarum (Irianto,dkk.,2006)

Reaksi yang cenderung mengasamkan air waduk sehingga pH air waduk menjadi netral pada tahun 2000, disebabkan oleh peruraian pakan organik dari kolam jaring apung. Tepung pakan ikan cenderung menurunkan pH air menjadi asam, karena proses penguraian zat organik (Machbub, 2003). Namun, apabila perkembangan jaring apung tidak terkendali dan pH air sungai netral, maka dikhawatirkan akan terjadi pengasaman air waduk dan bersifat korosif pada PLTA.

2-19

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Gambar 2.10 Variasi bulanan kadar organik, oksigen terlarut dan pH sebelum dan sesudah Waduk Kaskade (Irianto, 2006)
2-20

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Gambar 2.11 Variasi Bulanan S enyawa Nutrien (Nitrogen dan Fosfor) S ebelum dan S esudah Waduk Kaskade (Irianto, 2006)

2-21

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

g. Erosi dan Sedimentasi Hasil monitoring parameter partikel tersuspensi atau suspended solid yang tercantum pada Gambar 2.9 menunjukkan adanya sedikit perbaikan pada tahun 2000 dibandingkan tahun 1990. Hal ini kemungkinan sebagai akibat adanya perbaikan alur Sungai Citarum bagian hulu, sehingga, tingkat erosi dari sungai berkurang. Sedangkan pada lokasi 8 (sesudah waduk kaskade) terdapat perubahan kadar sedimen oleh adanya waduk, yaitu menunjukkan adanya penurunan kadar suspended solid dibandingkan sebelum memasuki waduk kaskade yang disebabkan oleh pengendapan partikel lumpur di ketiga waduk. Gambar 2.9 juga menunjukkan bahwa pada pada titik 9 dan 10 (lokasi Tanjungpura dan Rengasdengklok) terlihat adanya kenaikan yang sangat tinggi dari partikel tersuspensi terutama pada tahun 1990, yang dimungkinkan karena adanya penambangan pasir rakyat. Sedangkan pada tahun 2000, kadar partikel tersuspensi terlihat adanya perbaikan daripada sebelumnya. 2.4.2 Variasi Kualitas Air Bulanan

a. Kapasitas Penyangga pH Perubahan pH air berasal dari air limbah dan air hujan yang secara tidak langsung dipengaruhi juga oleh pencemaran udara. Dari hasil monitoring yang terlihat pada Gambar 2.10 menunjukkan bahwa waduk kaskade tersebut ternyata memiliki peranan untuk menstabilkan pH. Pada lokasi Nanjung terlihat bahwa pH berfuktuasi namun rata-ratanya adalah 7,4 (1990) menjadi 7,5 pada tahun 2000. Sedangkan pada lokasi Bendung Curug cenderung stabil dengan rata-rata 7,6 pada tahun 1990 menjadi 7,4 pada tahun 2000. Gambar 2.9 juga memperlihatkan bahwa kestabilan pH waduk-waduk tersebut bahkan berlangsung sepanjang musim dan berlangsung selama 10 tahun (1990-2000), meskipun pH di sungai sangat bervariasi oleh fluktuasi beban pencemaran dan musim. Data pH di kedua lokasi tersebut juga menunjukkan bahwa fenomena hujan asam yang diakibatkan oleh kegiatan industri, lalu-lintas (kendaraan bermotor) yang berada di sekitar DPS Citarum belum berpengaruh pada kualitas air waduk, mengingat daerah tangkapan waduk sebagian adalah pada daerah yang berbukit kapur. b. Kenaikan Beban Polutan Organik Hasil penelitian kualitas air pada lokasi Nanjung, yang terlihat pada Gambar 2.10 memperlihatkan bahwa sepanjang tahun kualitas air waduk tersebut rata-rata 11 mg/L BOD pada tahun 1990. Sedangkan pada tahun 2000 terlihat bahwa kadar organik cenderung mengalami peningkatan dibandingkan tahun 1999 pada bulan yang sama, yaitu 20 mg/L BOD
2-22

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

pada tahun 2000. Kondisi ini menunjukkan bahwa beban pencemaran organik di Citarum terutama bagian hulu, mengalami peningkatan. Namun, bila dilihat pada Gambar 2.10 lokasi Bendung Curug menunjukkan adanya perbaikan kandungan zat organik S.Citarum setelah melewati waduk kaskade, yaitu rata-rata 2 mg/L (1990) menjadi 5 mg/L BOD pada tahun 2000. Gambar 2.10 juga memperlihatkan bahwa pengaruh musim kurang menunjukkan perubahan yang berarti, yang dapat dilihat bahwa pada musim kemarau kadar pencemaran organik tinggi. Demikian juga pada musim hujan, tingkat pencemaran juga tetap tinggi atau tidak terjadi pengenceran. Hal ini kemungkinan akibat adanya pencemaran dari sumber tersebar atau non point source dari limbah domestik, pertanian, peternakan, dan terutama limbah pakan ikan dari jaring apung.

Gambar 2.12 Kondisi Kualitas Air di Sekitar Tubuh Bendungan Waduk Saguling

Gambar 2.13 Kondisi kualitas air di sekitar intake Waduk Cirata

2-23

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

c. Kandungan Oksigen Terlarut Parameter DO pada tahun 2000 di lokasi Nanjung rata-rata 2 mg/l juga terlihat makin memburuk dibandingkan pada tahun 1990 sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau, yaitu 1 mg/l, seperti terlihat pada Gambar 2.8. Walaupun sebenarnya kadar DO pada tahun 1990 juga dalam kondisi stabil buruk, namun lebih tinggi yaitu rata-rata 3,7 mg/L. Pada lokasi Bendung Curug dapat dilihat bahwa ketiga waduk tersebut ternyata berfungsi untuk menyeimbangkan dan sekaligus memperbaiki kadar oksigen terlarut atau meningkatkan kesegaran air, sehingga kadar DO pada tahun 1990 rata-rata 6,6 mg/L, sedangkan pada tahun 2000 relatif stabil rata-rata 5,2 mg/L. d. Senyawa Nutrien Gambar 2.9 pada lokasi Nanjung menunjukkan bahwa kandungan amonium menurun pada tahun 2000, yaitu rata-rata 0,4 mg/L dibandingkan tahun 1990 yaitu rata-rata 1,28 mg/L. Sedangkan bila ditinjau di lokasi B.Curug menunjukkan bahwa kandungan amonium meningkat, yaitu dari rata-rata 0,06 mg/l pada tahun 1990 rata-rata 0,09 mg/L pada tahun 2000. Kondisi tersebut diakibatkan oleh perikanan jaring apung yang jumlahnya meningkat pada saat level muka air waduk meningkat pada musim hujan.

Gambar 2.14. Kondisi kualitas air di sekitar tubuh bendung Waduk Jatiluhur (Perum Jasa Tirta II, 2004)

Kandungan nitrit pada lokasi Nanjung berfluktuasi dengan rata-rata 0,093 mg/L pada tahun 1990 menjadi 0,065 mg/L pada tahun 2000. Namun pada B.Curug terjadi peningkatan, yaitu ratarata 0,008 mg/L pada tahun 1990 yang menjadi 0,014 mg/L pada tahun 2000. Hal tersebut juga diduga karena adanya penguraian organik dari limbah pakan ikan dan sisa ekskreta ikan yang dikelola dengan cara jaring apung.
2-24

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Kandungan fosfor berhubungan dengan efisiensi pemakaian pupuk. Namun terjadi peningkatan kandungan fosfor juga diduga adanya perikanan jaring apung sepanjang musim. Dari data kualitas air pada 3 waduk di S.Citarum, yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur berpotensi perbaikan kualitas air permukaan khususnya Sungai Citarum yang telah tercemar berat sejak dari bagian hulu. Pada umumnya, kualitas air yang dapat diperbaiki terutama adalah kadar organik (sebagai BOD dan COD), deterjen, pH, partikel tersuspensi dan logam berat. Namun demikian, terjadi penurunan kualitas air pada ketiga waduk, terutama akibat sisa pakan ikan yang dipelihara melalui sistem perikanan jaring apung dan metabolisma dari ikan. Mengingat pada Sungai Citarum terdapat waduk-waduk dan parameter N dan P adalah parameter pencemaran penting pada waduk, disarankan kadar N dan P dicantumkan dalam standar air limbah pada semua jenis industri di Citarum selain parameter lainnya. Dengan demikian, agar beban pencemaran yang akan memasuki waduk kaskade Citarum tidak semakin berat, maka diperlukan langkah-langkah pengendalian pencemaran terutama pada bagian hulu dari S.Citarum yang merupakan input dari Waduk Saguling. Selain itu, perikanan kolam jaring apung hendaknya dikendalikan untuk tidak melebihi kuota yang telah ditetapkan. sisa

2-25

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

DAFTAR PUSTAKA Brahmana, Moelyo,M, Rahayu,S.1993. Eutrofikasi Waduk Saguling, Jurnal litbang Pengairan. 8 (28). Puslitbang Pengairan, Bandung Irianto, E.W., Yuasa. A, Machbub,B., Sudjono,P., 2006. The Influence of Cascade Reservoirs in The Citarum Watershed to The Water Quality of Citarum River. Dipresentasikan pada The fourth Southeast Asian Water Environment, 6-8 Desember,AIT Bangkok-Thailand, Lehmusluto,P., B.Machbub, Bukit,.N.T., Rusmiputro. S., F.Achmad., L.Boer., Brahmana, S., 1995. National Inventory of The Major Lakes and Reservoir in Indonesia, Expedition Indodanau Technical Report, In Cooperation RIWRD and University of Helsinky (direvisi 1997) Lehmusluto,P., B.Machbub, Bukit,.N.T., Rusmiputro. S., F.Achmad., L.Boer., Brahmana, S., 1995. National Inventory of The Major Lakes and Reservoir in Indonesia, Expedition Indodanau Technical Report, In Cooperation RIWRD and University of Helsinky (direvisi 1997) Lehmusluto,P.,2006. From Assumptions to Knowledge-Based Water Resources Management Ecological and Environmental Issues of Lakes as Examples. Proceeding on International Seminar Celebration the 70th Anniversary of the Research Center for Water Resources, Bandung Machbub,B., Fulazzaky, M.A., Brahmana, S. dan.Yusuf, I.A., 2003. Eutrophication of Lakes and Reservoir and Its Restoration in Indonesia. Jurnal Litbang Pengairan Vol.17(50) , Puslitbang Pengairan, Bandung. Sukimin, S. 2004. Pengelolaan Waduk Kaskade Sungai Citarum: Tinjauan Aspek Ekologi Perairan. Sulastri, Ami A Meutia dan Tri Suryono, 2004. Blooming Algae Dinoflagelata Ceratium hirudinella di Waduk Karangkates, Malang Jawa Timur., Proseding Kolokium Puslitbang SDA, Bandung

2-26

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

BAB III KRITERIA, INDIKATOR DAN PARAMETER EUTROFIKASI


3.1 Kriteria Status Mutu Air Danau dan Waduk Pengelolaan lingkungan perairan danau diperlukan sebagai suatu petunjuk untuk menilai perairan tersebut apakah masih layak digunakan sesuai dengan peruntukannya atau tidak, mengingat kebutuhan akan air bukan saja dari segi kuantitas, tetapi juga dalam hal kualitas harus baik. Selain itu, usaha pengendalian pencemaran perairan danau sangat diperlukan data, informasi dan masukan mengenai tingkat pencemaran yang terjadi di perairan tersebut. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: 28/2009 Tentang Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan/atau Waduk, Pasal 1 menyatakan bahwa status mutu air adalah tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan baku mutu air atau kelas air yang ditetapkan. Sedangkan status trofik adalah status kualitas air danau berdasarkan kadar zat hara dan kandungan biomasa fitoplankton atau produktivitasnya. Salah satu faktor yang perlu diketahui untuk menentukan status kelas air dan status mutu air danau dan waduk adalah kedalaman waduk dan danau. Danau sangat dangkal yang memiliki kedalaman kurang dari 10 meter cukup ditentukan satu baku mutu air pada semua kedalaman danau. Danau yang memiliki kedalaman 10-50 meter harus ditentukan dua baku mutu air, yaitu status baku mutu lapisan epilimnion dan hipolimnion. Sedangkan danau dalam yang memiliki kedalaman lebih dari 50 meter harus ditentukan satu baku mutu air pada lapisan epilimnion dan dua baku mutu air untuk lapisan hipolimnion, yaitu pada bagian tengah danau dan pada bawah danau yang contoh airnya diambil pada kedalaman 2 meter di atas dasar danau. Penentuan status mutu air danau atau waduk ditentukan setelah diketahui jumlah kebutuhan status mutu air yang ditetapkan berdasarkan kedalaman air danau atau waduk. Setelah jumlah status mutu perairan diketahui, selanjutnya dilakukan pengukuran parameterparameter kualitas air. Hasil dari pengukuran kualitas air, pada titik-titik lokasi yang telah ditentukan tersebut dibandingkan dengan parameter standar. Hasil perbandingan tersebut digunakan untuk perhitungan skor pada kriteria STORET (Store and Retrieval), sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: 114/2003 tentang Pedoman Pengkajian untuk Menetapkan Kelas Air.

3-1

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

a.

Kriteria STORET Kriteria STORET dibutuhkan untuk menentukan status mutu air berdasarkan hasil

pengukuran parameter-parameter kualitas air. Nilai yang terukur tersebut dibandingkan dengan standar baku mutu kualitas air sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pengendalian Pencemaran Air. Hasil perhitungan menggunakan Tabel 3.1 selanjutnya dibandingkan dengan kriteria STORET seperti tercantum pada Tabel 3.2.

Tabel 3.1 Nilai Skor Parameter yang Tidak Memenuhi Standar No. Jumlah Contoh Air < 10 Nilai Parameter Maksimal Minimal Rata-rata Maksimal Minimal Rata-rata Faktor Bobot tiap Kelompok Parameter Fisika Kimia Biologi -1 -2 -3 -1 -2 -3 -3 -6 -9 -2 -4 -6 -2 -4 -6 -6 -12 -18

> 10

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2008

Keterangan: - Nilai negatif. bila angka parameter melampui standar - Nilai nol, bila angka parameter memenuhi standar - Nilai parameter biologi = 3 x nilai parameter fisik

Tabel 3.2 Penentuan Status Mutu Air Berdasarkan Metode Storet No 1 2 3 4 Status Mutu Perairan Baik sekali Baik Sedang Buruk Jumlah Skor 0 - 1 s.d. 10 -11 s.d. 30 > - 31

Sumber: Kementrian Lingkungan Hidup , 2008

3-2

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Kotak 3.1 : Contoh aplikasi kriteria STORET untuk menetapkan status mutu perairan waduk Data pengukuran kualitas air dengan 8 contoh air (kurang dari 10 contoh air) sebagai berikut:
Parameter a. Fisika Residu Tersuspensi Residu Terlarut b. Kimia pH BOD COD DO Total Fosfat NO3 H2S Deterjen c. Biologi Total coliform Jumlah Skor Satuan mg/ l mg/ l S sampel kor rata-rata -3 -3 -6 -6 -6 -6 -6 -6 -6 -6 -9 Konsentrasi terukur 60 600 7,5 8 15 5 0,5 4 0,003 0,22 7500 Standar klas 2 S tandar klas 2 Standar klas 3 S tandar klas 4 Nilai skor Nilai skor Nilai skor Nilai skor 50 1000 6-9 2 10 6 0,2 10 0,002 0,2 1000 -3 0 0 -6 -6 -6 -6 0 -6 -6 -9 -48 50 1000 6-9 3 25 4 0,2 10 0,002 0,2 5000 -3 0 0 -6 0 0 -6 0 -6 -6 -9 -36 400 1000 6- 9 6 50 3 1 20 0,002 0,2 10000 0 0 0 -6 0 0 0 0 -6 -6 0 -18 400 2000 5-9 12 100 0 5 20 0,002 0,2 10000 0 0 0 0 0 0 0 0 -6 -6 0 -12

mg/ l mg/ l mg/ l mg/ l mg/ l mg/ l mg/ l Jml/100 ml

Kesimpulan: Hasil perhitungan skor dibandingkan dengan kriteria STORET menunjukkan bahwa status mutu perairan tersebut tidak sesuai untuk peruntukan baku mutu Klas 1 dan Klas 2 atau tercemar berat, namun masih cukup baik untuk peruntukan Klas 3 dan 4 atau tercemar sedang.

b. Kriteria Korosivitas Kriteria korosivitas secara resmi memang belum ditetapkan. Namun kriteria ini perlu diperhitungkan, mengingat banyak bangunan operasional waduk yang telah mengalami permasalahan korosi. Karena itu, sebelum kriteria korosivitas ditetapkan untuk status mutu perairan waduk, maka digunakan standar DIN 1969 seperti yang digunakan oleh Brahmana dan Achmad (2001) untuk penelitian di Waduk Saguling dan Cirata sebagaimana diperlihatkan pada Kotak 3.2. Adapun parameter kualitas air yang harus diukur untuk menentukan tingkat korosivitas perairan waduk diperlihatkan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Parameter Kualitas Air untuk Penentuan Status Korosifitas Perairan Kriteria Korosifitas Merusak Sedikit Merusak Banyak Merusak Hebat pH 6.5 - 5.5 5.5 - 4.5 > 4.5 CO2 Agresif 15 30 30 60 > 60 NH4 15 30 30 60 > 60 Mg 100 300 300 - 1500 > 1500 SO4 300 600 600 - 3000 > 3000

Sumber: Standar DIN 1969 pada Brahmana dan Achmad, 2001.

3-3

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Kotak 3.2: Evaluasi korosifitas Waduk Saguling dan Cirata Hasil pemantauan kualitas air menunjukkan bahwa perairan Waduk Saguling dan Waduk Cirata berpotensi terjadinya korosivitas, berdasarkan evaluasi korosivitas air dengan standar DIN 1969. Evaluasi air waduk terhadap beton menunjukkan bahwa perairan Waduk Saguling dan Waduk Cirata bersifat korosif rendah. Namun air pada dasar dan outlet Waduk Saguling dan Waduk Cirata berpotensi korosivitas yang kuat. Karena itu, pelestarian kualitas air waduk dengan melakukan pengendalian pencemara air waduk harus dilakukan, agar keamanan bendungan dan termasuk bangunan operasional lainnya misalnya turbin pembangkit listrik bangunan operasional lainnya dapat terjamin keberlangsungan operasionalnya. Sumber: Brahmana, S dan Firdaus Achmad, 2001. Korosifitas Air Waduk Saguling dan Waduk Cirata Terhadap Turbin Dan Beton, Jurnal Litbang Pengairan 15 (46), Puslitbang Pengairan, Bandung c. Kriteria Status Ekosistem Akuatik Untuk menentukan status ekosistem akuatik atau ekosistem perairan, yaitu dalam kondisi ekosisten yang baik, terancam dan rusak perlu ditetapkan lebih dahulu kelas air dan baku mutu air danau, penentuan status mutu air serta penentuan status trofik danau. Adapun parameter lainnya adalah keanekaragaman hayati, jejaring makan, alga/ganggang biru (microcystis) dan limbah pakan perikanan budidaya, seperti terlihat pada Tabel 3.4. Pada tabel tersebut juga ditunjukkan indikator-indikator status pada tiap-tiap parameter. Sebagai contoh, status trofik perairan hasil pengukuran adalah eutrofik berarti status eksosistem perairan danau maupun waduk dalam kondisi terancam

3-4

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Tabel 3.4 Kriteria Status Ekosistem Akuatik Parameter Danau Ekosistem Akuatik Status Trofik Status Mutu Air Keanekaragaman Hayati Status Ekosistem Danau Terancam Eutrof Tercemar sedang Berkurangnya jenis fauna/flora endemik dan asli (indigenous) Tingkat trofik tidak seimbang

Baik Oligotrof Mesotrof Tidak tercemar Masih terdapat jenis fauna/flora endemik dan asli

Rusak

Hypereutrof Tercemar berat Hilangnya jenis fauna/flora endemik dan asli; banyak dan ditemukan jenis introduksi/ invasive Tidak terjadi tingkat trofik

Jejaring Makan (food web)

Tingkat trofik seimbang (produsen primer/ sekunder, konsumer/ tersier) Terkendali tidak menyebar dan tidak mengganggu fungsi danau Sedikit

Tutupan Tumbuhan Air

Kurang terkendali dan mengganggu fungsi danau

Menyebar tidak terkendali sangat menganggu fungsi danau

Alga/ganggang biru (Microcystis) Limbah Pakan Perikanan Budidaya

Sedang

Marak (blooming)

Jumlah produksi ikan dan penggunaan pakan sesuai dengan daya tampung danau dan perizinan

Jumlah produksi ikan dan penggunaan pakan melebihi daya tampung danau akan tetapi memenuhi perizinan

Kegiatan budidaya dan pemakaian pakan tidak terkendali, tidak memenuhi perizinan dan tidak memenuhi daya tampung danau.

Sumber: Kementerrian Lingkungan Hidup, 2008

Penentuan status ekosistem sempadan ditentukan dengan menggunakan kriteria status ekosistem sempadan, seperti diperlihatkan pada Tabel 3.5. Parameter-parameter yang digunakan untuk penentuan status mutu ekosistem sempadan danau adalah kondisi sempadan, kondisi pasang surut, pembuangan limbah dan pemanfaatan air danau. Tabel 3.6 menunjukkan parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan status ekosistem danau yang berasal

3-5

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

dari daerah tangkapan atau daerah aliran sungai (DAS) yang berpengaruh terhadap kondisi ekosistem danau.

Tabel 3.5 Kriteria Status Ekosistem Sempadan Parameter Danau Ekosistem S empadan Sempadan Danau Status Ekosistem Danau Baik Tidak ada bangunan a).Tidak ada bangunan b).Tidak ada pengolahan tidak ada lahan, dan perkebunan dan sawah dengan pemupukan Terancam Mulai ada sedikit bangunan Ada pengolahan lahan untuk perkebunan dan sawah serta pemupukan. Ada pembuangan limbah, dan tidak ada sistem pengendalian pencernaran air, akan tetapi tidak melampaui daya tampung pencemaran air danau Rusak Banyak bangunan a). Ada bangunan b). Ada pengolahan lahan dan ada perkebunan dan sawah dengan pemupukan Ada pembuangan limbah, dan sistem pengendalian pencemaran air tidak ada atau kurang baik, serta telah melampaui daya tampung pencemaran air danau

Sempadan Pasang Surut

Pembuangan Limbah

Tidak ada pembungan limbah

Pemanfaatan Air Danau Tidak mengubah karakteristik pasangsurut karakteristik pasang-surut muka air dan tidak mengganggu ekosistem akuatik Tidak mengubah karakteristik pasangsurut muka air dan tidak menggangu ekosistem akuatik Mengubah karakteristik pasang-surut muka air akan tetapi tidak mengganggu ekosistem akuatik Mengubah karakteristik pasang-surut muka air akan tetapi tidak mengganggu ekosistem akuatik Mengubah hidrologi dan neraca air sehingga air danau surut drastis dan mengganggu ekosistem akuatik Mengubah hidrologi dan neraca air sehingga air danau surut drastis dan mengganggu ekosistem akuatik

Pemanfaatan Tenaga Air PLTA

Pengambilan Air Baku

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2008

Ke tiga kriteria status mutu ekosistem tersebut telah menunjukkan kajian yang cukup lengkap status mutu suatu perairan danau. Meskipun terdapat kesamaan karakteristik antara
3-6

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

danau dan waduk, namun demikian karena ada beberapa perbedaan karakteristik antara ekosistem danau dan waduk, maka penerapan kriteria SMED untuk penentuan status mutu ekosistem waduk, masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Tabel 3.6 Kriteria Status Ekosistem Daerah Tangkapan Parameter Danau Status Mutu Ekosistem Danau (SMED) Terancam Rusak

Baik Ekosistem Terestrial Daerah Tangkapan Air Danau Penutupan vegetasi pada DAS >75% atau lahan DTA Koefisien regim sungai (Qmax/Qmin) masuk danau Erosi lahan DAS atau DTA Dampak Pendangkalan Pembuangan Limbah <50

30-75%

<30%

50-120

>120

Tingkat erosi masih dibawah toleransi Tidak terjadi pendangkalan Ada pembuangan limbah dan ada sistem penegendalian pencemaran air, serta sesuai dengan daya tampung pencemaran air danau

Tingkat erosi telah menyamai batas toleransi Pendangkalan rata-rata <2% tahun dari kedalaman danau Ada pembuangan limbah dan tidak ada sistem pengendalian pencemaran air, tetapi tidak melampaui daya tampung pencemaran air danau

Tingkat erosi telah melebihi batas toleransi Pendangkalan ratarata > 2% tahun dari kedalaman danau Ada pembuangan limbah dan tidak ada sistem pengendalian pencemaran air, tetapi tidak melampaui daya tampung pencemaran air danau

Sumber: Pedoman pengelolaan ekosistem danau, Kementerian LH, 2008

3.2 Penerapan SMED pada Waduk Berdasarkan hasil analisis data sekunder, diketahui bahwa Waduk Saguling dan Waduk Sutami memiliki status eutrofik-hipereutrofik yang artinya telah terjadi proses penyuburan marak alga yang sangat berat sebagaimana dinyatakan oleh Brahmana (1999) dan Sulastri,dkk.(2004). Dari segi keanekaragaman hayati di kedua waduk telah mengalami

gangguan komposisi ikan serta kematian masal ikan (Sukimin,2004).

3-7

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Pencemaran kedua waduk tersebut cenderung meningkat. Tingginya konsentrasi zat hara serta terdeteksinya senyawa H2S dan ammonia menunjukkan bahwa proses pembusukan di dalam waduk telah terjadi (Brahmana, dkk., 2002). Permasalahan kualitas air pada kedua waduk tersebut menyebabkan maraknya tumbuhan enceng gondok yang telah menggangu operasional waduk. Bukit (2001) dan Brahmana, dkk (2002) melaporkan bahwa maraknya tumbuhan enceng gondok terutama disebabkan pencemaran limbah domestik dan industri yang melebihi daya tampung badan air penerima. Permasalahan rezim aliran sungai pada kedua waduk tersebut telah dilaporkan oleh Pawitan (2007), yaitu rasio aliran maksimum dan minimum input Waduk Saguling adalah 84 yang berarti termasuk dalam kategori terancam, karena luas kawasan lindung yang sehat pada DAS Citarum bagian hulu adalah 19,5% (Sobirin, 2008). Sedangkan rezim aliran sungai pada Waduk Sutami adalah 18,5 atau kondisi ekosistem DAS masih baik, karena luas tutupan vegetasi lahan sekitar 33% dari daerah tangkapan air (Soekistijono.,2004). Machbub, dkk (2003) dan Sukistijono (2004) melaporkan bahwa laju sedimentasi pada kedua waduk telah melampaui kapasitas rencana waduk. Kondisi tersebut menyebabkan persentase volume terisi tampungan mati (dead storage) Waduk Saguling dan Waduk Sutami masing-masing telah mencapai 72% dan 93,3%. Hasil kajian dan uji-coba penerapan status ekosistem waduk disajikan pada Tabel 3.7. Berdasarkan hasil kajian penerapan status mutu ekosistem danau (SMED) di atas, ditinjau berdasarkan kriteria ekosistem akuatik, sempadan dan daerah tangkapan, diketahui bahwa kedua waduk tersebut umumnya dalam kondisi terancam. Karena itu, komitmen untuk

mengelola DAS secara benar memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin keberlanjutan fungsi waduk. Kriteria SMED umumnya dapat diterapkan untuk penentuan kondisi ekosistem waduk. Namun demikian, perlu dilakukan penyempurnaan agar kriteria-kriteria tersebut dapat diterapkan dengan lebih baik. Kriteria-kriteria tersebut menjadi indikator keberhasilan pengelolaan DAS, karena beberapa kriteria berkaitan erat dengan pengelolaan DAS. Sebagai contoh, koefisien rezim sungai, tutupan vegetasi, erosi lahan serta sistem pengelolaan limbah pada DAS merupakan indikator-indikator utama dalam pengelolaan DASsecara terpadu.

3-8

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Tabel 3-7. Penerapan Kriteria Status Ekosistem pada Waduk Saguling dan Waduk Sutami Kriteria Status Trofik Status Mutu Air Keanekaragaman Hayati Waduk Saguling Kondisi Status EutrofikTerancam Hipereutrofik rusak Terdeteksi H2S dan Terancam Amonia Komposisi ikan Terancam terganggu dan terjadi kematian masal Mengganggu Terancam keseimbangan trofik Eceng-gondok dominan dan ganggu fungsi waduk Marak(Blooming) alga dan Microcystis Melebihi daya tampung Tidak ada bangunan Tidak ada bangunan dan ada pengolahan lahan sawah ada pemupukan Ada pembuangan limbah dan tidak ada pengolahan limbah, belum melampaui daya tampung Terancam Waduk Sutami Kondisi Status EutrofikTerancamHipereutrofik Rusak Terdeteksi H2S dan Terancam Amonia Gangguan Terancam ekosistem perairan dan kematian masal Mengganggu Terancam keseimbangan trofik Eceng-gondok Terancam dominan dan mengganggu fungsi waduk Marak (Blooming) Rusak algae dan Microcystis Perikanan Baik Tangkap, sesuai daya tampung Tidak ada Baik bangunan Tidak ada Terancam bangunan dan ada pengolahan lahan sawah ada pemupukan Ada pembuangan Terancam limbah dan tidak ada pengolahan limbah, masih sesuai daya tampung Sesuai rencana desain, tidak mengubah karakteristik pasang surut Sesuai rencana desain, tidak mengubah karakteristik pasang surut Baik

Jejaring Makanan (Food web) Tutupan Tumbuhan Air

Alga/Ganggang Biru (Microcistis) Limbah pakan budidaya perikanan Sempadan waduk Sempadan pasang surut

Rusak

Rusak

Baik Terancam

Pembuangan Limbah di sempadan

Terancam

Pemanfaatan Air Danau Pemanfaatan PLTA Sesuai rencana desain, tidak mengubah karakteristik pasang surut Pengambilan Air Baku Sesuai rencana desain, tidak mengubah karakteristik pasang surut

Baik

Baik

Baik

3-9

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Tutupan vegetasi pada DAS Koefisien rezim sungai (Qmax/Qmin) masuk waduk Erosi lahan pada DAS

<30% 50<(455/5,4) <120

Rusak Terancam

Tinggal 33% (866/46,6) <50

Terancam Baik

5,4 Juta m3/th melebihi disain rencana 4 Juta m3/th Mengurangi dead storage s/d 72%

Rusak

Dampak pendangkalan waduk

Rusak

Pembuangan Limbah pada DAS

Ada pembuangan limbah domestic dan industry, tetapi sangat sedikit pengolahan limbah,melampaui beban tampungan limbah

Rusak

5,4 Juta m3/th melebihi disain rencana 0,95 Juta m3/th Mengurangi kapasitas tampungan 43% dan dead storage efektif tinggal 6,7% Ada pembuangan limbah domestik dan industry dan efisiensi pengolahan rendah,sehingga melampaui beban tampungan limbah

Rusak

Rusak

Rusak

Usulan indikator untuk penyempurnaan kriteria yang terdapat pada SMED untuk pengelolaan ekosistem waduk antara lain : (a) Penggabungan indikator alga biru, jejaring atau rantai makanan (food web) dan keanekaragaman hayati menjadi indikator keanekaragaman hayati; (b) Penyesuaian kriteria pada indikator erosi lahan dikaitkan dengan perkiraan awal tingkat erosi waduk; (c) Penggantian indikator dampak pendangkalan danau dengan indikator dampak pendangkalan waduk; (d) Penggabungan indikator pengambilan air untuk PLTA dan air baku menjadi indikator pemanfaatan air waduk; (e) Penyesuaian perhitungan jumlah kolam jaring apung yang diperbolehkan pada perairan waduk; (f) Penyesuaian indikator status mutu air dikaitkan dengan baku-mutu air yang telah ditetapkan; (g) Penambahan indikator korosivitas; (h) Penambahan indikator kualitas sedimen dasar waduk; (i) Penambahan indikator kualitas sedimen dasar waduk. Penggabungan indikator alga biru, jejaring atau rantai makanan (food web) dan keanekaragaman hayati menjadi indikator keanekaragaman hayati atau biodiversitas karena keterkaitan ketiganya sangat erat. Keanekaragaman hayati atau biodiversitas yang rendah berarti telah terjadi dominasi salah satu jenis mikroalga, misalny kelompok Cyanophita pada rantai makanan (Haarcoryati, 2008). Dominasi salah satu jenis mikroorganisme berakibat
3-10

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

terganggunya keseimbangan rantai makanan pada waduk. Indeks keanekaragaman plankton yang makin tinggi menunjukkan kualitas perairan waduk yang makin baik, karena indeks keanekaragaman plankton menunjukkan fluktuasi dari makroinvertibrata bentos (Macbub, 1982). Salah satu indek keanekaragaman hayati yaitu Indeks Shanon-Wienner yang digunakan oleh Brahmana (1999) untuk mengidentifikasi keanekaragaman hayati di Waduk Saguling dan Waduk Jatiluhur. Penyesuaian kriteria pada indikator erosi lahan dikaitkan dengan perkiraan awal tingkat erosi waduk. Penyesuaian kriteria tersebut diperlukan, karena besarnya erosi dan sedimentasi yang tertampung pada waduk sangat menentukan masa layan waduk. Ilyas (1995) juga menyimpulkan bahwa laju sedimentasi yang tinggi menyebabkan umur layanan waduk menjadi pendek. Kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan membandingkan antara laju sedimentasi rencana yang diperbolehkan masuk ke dalam waduk dengan laju sedimentasi aktual (Lubis dan Ilyas, 1989). Penggantian indikator dampak pendangkalan danau dengan indikator dampak pendangkalan waduk yang dikaitkan dengan prosentase volume terisi tampungan mati waduk. Kapasitas operasional tampungan waduk akan berkurang, apabila kapasitas tampungan mati waduk lebih cepat terisi akibat laju erosi-sedimentasi yang melebihi kapasitas rencana. Sukistyono, dkk (2005) menyatakan bahwa untuk mempertahankan kapasitas tampungan efektif, pengelola waduk di DAS Brantas harus melakukan penggelontoran sedimen sebanyak dua kali setahun. Hal tersebut tentunya dapat membawa dampak pada ekosistem sebelah hilir waduk. Dampak yang terjadi pada ekosistem sebelah hilir waduk tersebut diantaranya adalah kekeruhan yang tinggi dan perubahan warna selama penggelontoran, sehingga menyebabkan kematian ikan. Kapasitas tampungan mati yang telah penuh menyebabkan berkurangnya volume efektif waduk, sehingga ada volume air yang termanfaatkan (Pangesti dan Isnugroho,1989) Penggabungan indikator pengambilan air untuk PLTA dan air baku menjadi indikator pemanfaatan air waduk yang dikaitkan dengan desain rencana hidrologi, neraca air dan tinggi muka air waduk, karena dalam mendesain waduk telah memperhitungkan neraca air waduk. Selain itu, penggabungan indikator juga dimaksudkan agar penentuan status ekosistem waduk dapat lebih efektif, karena memiliki kesamaan dalam hal debit keluar air waduk. Penyesuaian perhitungan jumlah kolam jaring apung yang diperbolehkan pada perairan waduk, mengingat pada beberapa waduk telah terjadi pertumbuhan kolam jaring apung (KJA)

3-11

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

secara berlebihan. Soemarwoto (2004) menyarankan jumlah KJA yang diperbolehkan sebesar maksimum 1% dari luas perairan waduk dan lokasi KJA tersebut menyebar. Penyesuaian indikator status mutu air dikaitkan dengan baku-mutu air yang telah ditetapkan, sehingga status mutu air waduk dapat dievaluasi. Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) UNPAD (2002) menggunakan metoda STORET untuk mengevaluasi status mutu air Waduk Saguling sesuai Kepmen LH 115/2003 tentang penentuan status mutu air. Pada waduk terstratifikasi, penentuan status mutu air disesuaikan dengan stratifikasi waduk, yaitu status mutu lapisan epilimnion dan status mutu lapisan hipolimnion. Penambahan indikator korosivitas, mengingat banyaknya bangunan operasional waduk yang mengalami korosi. Untuk mengukur tingkat korosivitas perairan waduk diusulkan menggunakan Indeks Korosivitas Langilier. Indeks korosivitas tersebut telah digunakan oleh Brahmana dan Ahmad (2001) untuk penentuan korosivitas perairan Waduk Saguling dan Cirata . Penambahan indikator kualitas sedimen dasar waduk, mengingat logam berat dan senyawa fosfor dapat terikat secara mudah dengan partikel tererosi dari DAS dan selanjutnya terakumulasi di dalam waduk. Senyawa-senyawa yang terikat pada sedimen tersebut berpengaruh pada ekosistem waduk bila terlepas pada perairan. Untuk itu diusulkan, agar parameter yang diukur untuk penentuan kualitas sedimen adalah senyawa fosfor, karena dapat memicu eutrofikasi (Lerman, 1974), sedangkan kandungan logam berat yang dianalisis pada sedimen dasar waduk meliputi Cr, Cu, Pb, Cd dan Hg. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Sutrisno, dkk (2002) diketahui bahwa akumulasi kandungan logam berat pada sedimen dasar di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur terdeteksi lebih besar daripada kandungan logam berat dalam tubuh ikan. Agar usulan-usulan tersebut di atas dapat digunakan sebagai tolok ukur pengelolaan ekosistem waduk dan pengambilan keputusan, maka diperlukan sejumlah kajian lebih lanjut. Pengkajian yang dilakukan meliputi indikator-indikator serta dampak yang ditimbulkan secara kuantitatif. Dengan demikian, penentuan status mutu ekosistem waduk secara lebih terukur dapat dilakukan melalui suatu pemantauan kualitas air. 3.3 Klasifikasi Eutrofikasi Eutrofikasi berasal dari bahasa Junani yang terdiri dari dua kata yakni Eu = baik dan Trophe=makanan. Kedua kata tersebut bila disatukan diartikan sebagai pemberi makanan yang baik atau penyuburan.Proses penyuburan perairan waduk dandanau dapat terjadi secara .alamiah atau kultural. Eutrofikasi alamiah adalah eutrofikasi yang terjadi secara alamiah alau

3-12

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

tanpa pengaruh aktifitas manusia, sedangkan eutrofikasi kultural adalah eutrofikasi yang dipengaruhi oleh limbah penduduk, limbah pertanian, limbah industri dan sebagainya.

Tabel 3.8 Kategori Status Trofik Wetzels Tingkat Trofik Ultrotrofi k Oligotrofik Oligomesotrofik Mesoeutrofik Eutrofik Hypertrofik Fosfat Total mg/l 0,001-0,005 0,005-0,01 0,01 - 0,03 0,03-5 Nitrogen Total mg/l 0,01-0,25 0,25-0,60 0,50-1,1 0,5-15 50-300 250-1000 > 1000 PP mg C/m3/hr Klorofil-a mg/l 0,01-0,5 0,3-3 2-15 10-500

Sumber: Brahmana, dkk; PP: Produktifitas Primer. JLP. No. 28 Th. 8 - KW.II, 1993

Eutrofikasi disebabkan oleh proses meningkatnya kadar zat hara, terutama parameter nitrogen dan fosfor, pada air danau dan atau waduk. Wetzel (1975) pada Brahmana,dkk (1993) membagi tingkat eutrofikasi waduk atau danau dalam beberapa tingkatan yaitu : mesotrofik, oligotrofik, eutrofik dan hypereutrofik (dystrofik). Waduk mesotrofik adalah waduk yang kandungan nutrien dan produktivitasnya rendah. Umumnya waduk yang umurnya masih muda termasuk kategori tersebut. Waduk. oligotrofik adalah waduk yang kandungan nutrien dan produktivitasnya sedang. Jenis waduk tersebut sangat cocok untuk perikanan dan pemanfaatan lainnya. Waduk eutroflk adalah waduk yang kandungan nutrient dan produktivitasnya tinggi dan kandungan oksigen pada lapisan hipolimnion rendah. Waduk hypereutrofik adalah waduk yang mengandung banyak material humus, kandungan oksigennya rendah, dan jumlah spesies ganggang sedikit atau keanekaragaman hayati rendah. Sedangkan parameter dan tingkat trofik kategori Wetzels selengkapnya terlihat pada Tabel 3.8. Sedangkan Sulastri, dkk (2004) menggunakan metoda Riding dan Rast (1989) untuk menentukan trofik Waduk Sutami di Malang, seperti terlihat pada Tabel 3.9.

3-13

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Tabel 3.9 Kriteria Klasifikasi Status Trofik untuk Perairan Danau dan Waduk (Ryding & Rast, 1989). Parameter Oligotrofik Total Fosfor (ug/L) Rata-rata Kisaran Jumlah contoh (n) Total Nitrogen (ug/L) Rata-rata Kisaran Jumlah contoh (n) Kedalaman Secchi (m) Rata-rata Kisaran Jumlah contoh (n)
Sumber: Sulastri, dkk. (2004)

Status Trofik Mesotrofik Eutrofik 26,7 10,9 95,6 21 753 361 1387 8 4,2 1,5 8,1 20 84,4 16,2 - 386 71 1875 393 - 6100 37 2,45 1,5 7,0 70

Hipereutrofik 750 - 1200 0,4 0,5 -

8,0 3,0 17,7 21 661 307- 1630 22 9,9 5,4 28,3 13

Dari berbagai kategori status trofik tersebut diatas, Kementerian Lingkunga Hidup menetapkan Pedoman Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2008), yang terdiri empat kategori status trofik dari UNEP (Tabel 3.9) berdasarkan kadar unsur hara dan kandungan biomasa atau produktivitasnya yaitu: a. Oligotrofik, adalah status trofik air danau dan atau waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar rendah. Status ini menunjukkan kualitas air masih bersifat alamiah belum tercemar dari sumber unsur hara nitrogen dan fosfor. b. Mesotrofik, adalah status trofik air danau dan atau waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar sedang. Status ini menunjukkan adanya peningkatan kadar Nitrogen dan Fosphor namun masih dalam batas toleransi, karena belum menunjukkan adanya indikasi pencemaran air. c. Eutrofik, adalah status trofik air danau atau waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar tinggi, status ini menunjukkan air telah tercemar oleh peningkatan kadar nitrogen dan fosfor. d. Hipereutrofik, adalah status trofik air danau atau waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar sangat tinggi, status ini menunjukkan air telah tercemar berat oleh peningkatan kadar nitrogen dan fosfor.

3-14

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Tabel 3.10 Kategori Status Trofik Danau menurut Metode UNEP-ILEC Status Trofik Kadar Rata-rata Total N (pg/1) Kadar Rata-rata Total P (pg/1) Kadar Rata-rata Khiorofil-a (pg/1) < 2.0 < 5.0 < 15 > 200 Kecerahan Rata-rata (m) >10 >4 >2.5 <2.5

Oligotrofik Mesotrofik Eutrofik Hyperetrofik

<650 <750 >1900 > 1900

<10 < 30 < 100 >100

Sumber: Pedoman pengelolaan ekosistem danau, KLH 2009, Modifikasi OECD 1982,

Menurut UNEP-IETC/ILEC (2001), fosfor membatasi proses eutrofikasi jika kadar nitrogen lebih dari delapan kali kadar fosfor, sementara nitrogen membatasi proses eutrofikasi jika kadarnya kurang dari delapan kali kadar fosfor. Sedangkan Goldman & Horne (1983) menyatakan bahwa bila rasio N dan P lebih besar dari 12, maka sebagai faktor pembatas adalah unsur Fosfor, sedangkan rasio N dan P lebih kecil dari 7, maka sebagai pembatas adalah senyawa N. Rasio N dan P yang berada antara 7 dan 12 menandakan bahwa N dan P bukan sebagai faktor pembatas (non-limiting factor). Pedoman pengelolaan danau juga memberikan alternatif lain penentuan status trofik dari beban limbah yang mengandung unsur hara yang masuk air waduk atau danau, yaitu melalui Metoda Carlson, seperti terlihat pada Tabel 3.10 dan persamaan sebagai berikut:

TSI-TP = 14,42 x Ln[TP] + 4,15 TSI-Klorofil-a = 30,6 + 9,81 x Ln[Khlorofil-a] TSI-SD = 60 14,41 x Ln[Secchi] Rata-rata TSI = (TSI-P + TSI-Cl-a + TSI-SD)/3

(3.1) (3.2) (3.3) (3.4)

Dimana : TSI-TP : trofik Status Indeks untuk Total Fosfor, dalam ug/L TSI-Klorofil-a : nilai Trofik Status Indeks untuk klorofil-a, dalam ug/L TSI-SD : nilai Trofik Status Indeks untuk kedalaman cakram Sechi, dalam meter.

3-15

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Hasil perhitungan rata-rata nilai Trofik Status Indeks dibandingkan dengan status trofik seperti terlihat pada Tabel 3.11, sehingga diketahui tingkat status trofik danau atau waduk .

Tabel 3.11 Kategori Status Trofik Danau menurut Metode Carlson TSI rata-rata < 30 30-40 40-50 50-60 60-70 70-80 Hypereutrof > 80 Status Trofik Ultraoligotrof Oligotrof Mesotrof Eutrof ringan Eutrof sedang Eutrof berat Keterangan Air jernih, kadar unsur hara sangat rendah Air jernih, kadar unsur hara rendah Kecerahan air sedang, kadar unsur hara sedang Penurunan kecerahan air, kadar unsur hara. Meningkat Marak alga (Microcystis) kandungan unsur hara tinggi Marak alga dan pertumbuhan gulma air secara cepat, kadar unsur hara sangat tinggi Marak alga, keadaan perairan dalam kondisi anoxia yang menyebabkan kematian ikan secara massal, kadar unsur hara amat sangat tinggi

Sumber: Carlson's (1977), Kementerian Lingkungan Hidup (2009)

3.4 Indikator Potensial yang Harus Dikontrol Menurut Goldmen and Horne (1983) pada Brahmana (1993) eutrofikasi perairan danau dapat terjadi secara alami atau natural eutrophication dan secara kultural atau cultural eutrophication. Eutrofikasi alami terjadi karena adanya proses alami yang menimbulkan proses eutrofikasi perairan. Sedangkan aktivitas manusia menyebabkan terjadinya proses peningkatan unsur hara di perairan, sehingga terjadi eutrofikasi kultural. Sedangkan proses masuknya zat hara ke perairan waduk dan danau dapat melalui input sungai yang tercemar oleh zat hara maupun dari lapisan tanah yang mengandung unsur hara dan tererosi masuk ke perairan waduk dan danau. Pencemaran tersebar (diffuse source) adalah zat pencemar yang terbawa akibat limpasan hujan juga menjadi penyebab terjadinya pencemaran waduk dan danau. Novotny,dkk (2004) menjelaskan bahwa sumber pencemaran tersebar di antaranya berasal dari : (1) emisi zat pencemar tersebar yang masuk ke badan air akibat peristiwa meterologi; (2) emisi timbulan limbah yang tersebar pada suatu lahan dan masuk ke air permukaan maupun terinfiltrasi ke air tanah; (3) emisi pencemar tersebar yang sulit dimonitor dan dikendalikan dari sumber asal; (4) emisi zat pencemar akibat kondisi geologis lahan yang tergerus; (5) emisi zat pencemar tersebar

3-16

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

dari suatu kegiatan yang menghasilkan partikel tersuspensi, zat hara, bakteri patogen dan senyawa beracun. Machbub, dkk (2003) mengemukakan bahwa terjadinya eutrofikasi di suatu perairan danau dan waduk dapat dideteksi melalui berbagai indikator, yaitu: (1) menurunnya konsentrasi oksigen terlarut di zona hipolimninion; (2) meningkatnya zat hara yaitu nitrogen dan fosfor badan air; (3) menurunnya transparansi perairan, serta (4) meningkatnya padatan tersuspensi, terutama yang mengandung bahan organik. Indikator-indikator tersebut merupakan tanda umum, namun pemantauan paramater kualitas air tetap harus dilakukan, terutama parameter terkait dengan proses eutrofikasi. 3.4.1 Parameter Fisika a. Suhu Adanya penyerapan cahaya oleh air danau akan menyebabkan terjadinya lapisan air yang mempunyai suhu yang berbeda. Bagian lapisan yang lebih hangat biasanya berada pada daerah eufotik (bagian atas), sedangkan lapisan yang lebih dingin biasanya berada di bagian afotik (bagian bawah). Menurut Goldman & Horne (1989), bila danau tersebut tidak mengalami pengadukan oleh angin, maka kolam air danau terbagi menjadi beberapa lapisan, yaitu lapisan epilimnion, lapisan hipolimnion dan metalimnion. Lapisan epilimnion adalah yang hangat dengan kerapatan jenis air kurang. Lapisan hipolimnion adalah lapisan yang lebih dingin dengan kerapatan air kurang, dan lapisan metalimnion adalah lapisan yang berada antara lapisan epilimnion dan hipolimnion. Pada daerah metalimnion terdapat lapisan termoklin, yaitu lapisan dimana suhu akan turun sekurang-kurangnya 10C dalam setiap 1 meter kedalaman (Jorgensen & Volleweider, 1989). b. Padatan Tersuspensi (Suspended Solid) dan Padatan Terlarut (Dissolved Solid) Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. Padatan tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan, karena menghalangi penetrasi cahaya ke dalam badan air, sehingga menghambat proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air. Sedangkan padatan terlarut pada badan air berhubungan dengan kadar salinitas perairan.

3-17

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

c. Kekeruhan dan Transparansi Kekeruhan perairan umumnya disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi seperti tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik terlarut, bakteri, plankton dan organisme lainnya. Kekeruhan yang tinggi menyebabkan penurunan penetrasi cahaya secara mencolok, sehingga aktivitas fotosintesis fitoplankton dan alga menurun, yang berakibatn produktivitas perairan menjadi turun. Transparansi perairan ditentukan secara visual dengan menggunakan cakram Sechi. Kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh keberadaan padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikel-partikel dan warna air. Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran sungai dapat mengakibatkan tingkat kecerahan air danau menjadi rendah, sehingga dapat menurunkan nilai produktivitas perairan. d. Warna Perairan Warna perairan dikelompokkan menjadi warna sesungguhnya (true Color) dan warna tampak (apparent color). Warna sesungguhnya dari perairan adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan terlarut, sedangkan warna tampak adalah warna yang disebabkan oleh bahan tersuspensi dan juga disebabkan oleh bahan organik dan anorganik yang sulit terlarut. Warna tampak umumnya dapat di turunkan melalui proses koagulasi (Sawyer, dkk., 2003). Bahan-bahan organik seperti tanin, lignin dan asam humus dapat menimbulkan warna kecoklatan di perairan. Perairan yang berwarna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air, sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 907/Menkes/SK/VII/2002 warna air sebaiknya tidak melebihi 15 unit PtCo. Sedangkan pada PP Nomor 82/2001 tidak mengatur tingkat warna air baku. 3.4.2 Parameter Kimia a. Derajat Keasaman (pH) Sawyer (2003) menyatakan bahwa derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen dalam perairan. Nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Tingkat keasaman merupakan faktor yang penting dalam proses pengolahan air untuk perbaikan kualitas air. Kondisi perairan bersifat netral apabila nilai pH sama dengan 7, kondisi perairan bersifat asam bila pH kurang dari 7, sedangkan pH lebih dari 7 kondisi perairan bersifat basa Menurut Benjamin (2002) tingkat keasaman mempengaruhi nilai BOD5, fosfat, nitrogen dan nutrien lainnya. Adanya karbonat, bikarbonat
3-18

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

dan hidroksida juga menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman suatu perairan (Canter, 1992). Nilai pH dapat mempengaruhi spesiasi senyawa kimia dan toksisitas dari unsur-unsur renik yang terdapat di perairan, sebagai contoh H2S yang bersifat toksik banyak ditemui di perairan tercemar dan perairan dengan nilai pH rendah. Karena itu, nilai pH maksimum untuk air minum adalah 6,5 8,5 sesuai Permenkes Nomor: 907/Menkes/SK/VII/2002. Pada air baku untuk klas 1 sampai 3 nilai pH adalah 6-9, sedangkan klas IV adalah 5-9, seperti terlihat pada PP Nomor: 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. b. Karbondioksida (CO2) Agresif Karbondioksida bebas merupakan istilah untuk menunjukkan CO2 yang terlarut di dalam air. CO2 agresif dalam perairan alami merupakan hasil proses difusi dari atmosfer, air hujan, dekomposisi bahan organik dan hasil respirasi organisme akuatik. Tingginya kandungan CO2 agresif pada perairan dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota perairan dan cenderung bersifat korosif. Oleh karena itu, CO2 agresif menjadi salah satu senyawa indikator timbulnya proses korosivitas perairan (Brahmana, 2001) c. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen, DO) Sawyer (2003) menjelaskan bahwa oksigen terlarut dalam perairan merupakan faktor penting sebagai pengatur metabolisme tubuh organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Adanya pergolakan massa air akibat adanya angin atau gelombang membantu meningkatkan kandungan oksigen terlarut karena meningkatnya proses difusi oksigen dari atmosfer ke badan air. Sebagian besar oksigen pada perairan danau dan waduk merupakan hasil sampingan aktivitas fotosintesis. Pada proses fotosintesis, karbondioksida direduksi menjadi karbohidrat dan air mengalami dehidrogenasi menjadi oksigen, yang dapat dinyatakan sebagai berikut: 6 CO2 + 6 H2Os C6H12O6 + 6 O2 Pada perairan danau ataupun waduk, oksigen lebih banyak dihasilkan oleh proses

fotosintesis alga yang banyak terdapat pada zona epilimnion, sedangkan pada perairan tergenang yang dangkal dan banyak ditumbuhi tanaman air pada zone litoral, keberadaaan oksigen lebih banyak dihasilkan oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air. Keberadaan oksigen

3-19

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

terlarut di perairan sangat dipengaruhi oleh suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer (Sawyer,2003). Berdasarkan PP Nomor 82 tahun 2001, badan air dengan kadar oksigen terlarut lebih besar dari 6 mg/l masuk dalam kategori Klas 1, kadar oksigen terlarut antara 4-6 termasuk dalam kategori Klas 2, kadar oksigen terlarut 3-4 mg/l berkategori Klas 3, sedangkan kadar oksigen terlarut kurang dari 3 termasuk dalam kategori Klas 4. d. Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand, BOD5) dan Kebutuhan Oksigen Kimia (Chemical Oxygen Demand, COD) Adanya pencemaran pada badan air yang berasal dari bahan organik dapat diindikasikan dengan parameter BOD5.. Bahan pencemar organik yang tinggi akan distabilkan secara biologik dengan melibatkan mikroba melalui sistem oksidasi aerobik dan anaerobik, sehingga meningkatkan nilai BOD5 Kondisi anaerob atau tidak adanya oksigen pada perairan dapat mengakibatkan kematian organisme akuatik. Hal tersebut disebabkan berlangsungnya proses oksidasi secara aerobik yang melibatkan mikroorganisme pengurai, sehingga menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut di perairan sampai pada tingkat terendah. Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 menegaskan bahwa kadar pencemar organik BOD pada badan air dengan Kategori klas 1 adalah maksimum 2 mg/l, kategori Klas 2 yaitu 3-6 mg/l, Klas 3 yaitu dari 6-12 mg/l, sedangkan Klas 4 atau tercemar berat bila kadar BOD lebih dari 12 mg/l. Kadar pencemar organik dalam badan air juga dapat diketahui dari nilai indikator COD atau Chemical Oxygen Demand. Selain BOD5, kadar bahan organik juga dapat diketahui melalui nilai COD. Sawyer, dkk (2003) menjelaskan bahwa COD adalah jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan pencemar organik secara kimiawi, baik yang dapat maupun sukar didegradasi secara biologi menjadi CO2 dan H2O. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa indikator COD paling baik dalam menggambarkan kandungan zat organic, baik yang dapat didekomposisi secara biologis maupun yang tidak. e. Senyawa-senyawa Nitrogen Nitrogen di perairan terdapat dalam bentuk gas N2, NO2 -, NO3 -, NH3 dan NH4
+

serta

sejumlah N yang berikatan dalam organik kompleks (Sawyer, 2003). Sumber nitrogen terbesar berasal dari udara, sekitar 80% dalam bentuk nitrogen bebas yang masuk melalui sistem fiksasi biologis dalam kondisi aerobik. Menurut Chester (1990), keberadaan nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrogen anorganik terdiri atas ion nitrit (NO2-), ion
3-20

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

nitrat (NO3-), ammonia (NH3), ion ammonium (NH4+) dan molekul N2 yang larut dalam air, sedangkan nitrogen organik berupa protein, asam amino dan urea akan mengendap dalam air. Proses reduksi nitrat berjalan optimal pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). Dinitrogen oksida (N2O) adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah, sedangkan molekul nitrogen (N2) adalah produk utama dari proses denitrifikasi pada kondisi anaerob. Proses denitrifikasi akan berkurang atau lambat pada kondisi pH dan suhu rendah, tetapi akan berjalan optimum pada suhu rata-rata danau pada umumnya. Kondisi anaerob pada lapisan sedimen membuat proses denitrifikasi lebih besar, yaitu dengan laju ratarata 1 mg/L per hari (Jorgensen, 1980). Kadar nitrogen yang tinggi dalam perairan dapat merangsang pertumbuhan algae secara tak terkendali (blooming). Berdasarkan PP Nomor 21/2008, kandungan zat hara persenyawaan nitrogen dalam perairan adalah maksimum kadar senyawa nitrat (NO3-) adalah 10 mg/l untuk Klas 1 dan 2, sedangkan untuk Klas 3 dan 4 maksimum adalah 20 mg/l. Parameter nitrit (NO2-) kandungan maksimum pada badan air adalah 0,06 mg/l, lebih dari angka tersebut masuk kategori klas 4. Sedangkan kandungan amonia (NH3-N) maksimum adalah 0,5 mg/l, untuk perikanan tidak lebih dari 0,02 mg/l. Sedangkan standar kualitas air untuk air minum, menurut Permenkes Nomor: 907/Menkes/SK/VII/2002 menegaskan bahwa kadar maksimum amonia dan amonium masing-masing adalah 1,5 mg/l dan 0,2 mg/l. e. Fosfat Fosfor dalam perairan tawar ataupun air limbah pada umumnya dalam bentuk fosfat, yaitu ortofosfat, fosfat terkondensasi seperti pirofosfat (P2O7), metafosfat (P3O93-) dan polifosfat (P4O13 6dan P3O105-) serta fosfat yang terikat secara organik. Senyawa ini berada sebagai larutan, partikel atau detritus atau berada di dalam tubuh organisme akuatik (AWWA, 1995). Fosfat dalam perairan yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik adalah dalam bentuk ortofosfat, yaitu hasil hidrolisis dari polifosfat sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfor. Perairan yang mengandung kadar fosfat yang cukup tinggi melebihi kebutuhan normal organisme akuatik akan menyebabkan terjadinya proses eutrofikasi. Berdasarkan PP Nomor 21/2008, kandungan zat hara Total Fosfat dalam perairan maksimum adalah 0,2 mg/l untuk klas 1 dan 2, sedangkan untuk klas 3 dan 4 masing-masing maksimum 1 mg/l dan 5 mg/l. Sedangkan standar kualitas air untuk air minum parameter fosfor tidak diatur.

3-21

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

f. Pestisida Limpasan dari daerah pertanian, aliran dari persawahan, buangan limbah domestik, limbah perkotaan dan industri merupakan sumber Pestisida yang masuk ke badan air Pada umumnya pestisida dalam badan air terserap pada partikel tersuspensi dan partikel yang diam atau terpisah ke dalam subtrat organik. Penggunaan dampak negatif yang berlebihan terutama pada bidang pertanian dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan, baik lingkungan perairan, tanah dan udara maupun mahluk hidup yang bukan sasaran. Pestisida cenderung sulit mengalami degradasi atau persisten, dan akan terakumulasi, meskipun ada yang bersifat terdegradasi secara alami. Kadar pestisida yang tinggi dapat menimbulkan kematian organisme akuatik secara langsung (keracunan akut), yaitu kontak langsung atau melalui jasad lainnya seperti plankton, perifiton dan bentos, sedangkan kadar rendah dalam badan air kemungkinan besar menyebabkan kematian organisme dalam waktu yang lama, yaitu akibat akumulasi pestisida dalam organ tubuhnya (Soemarwoto et al., 1979). Pada umumnya, pestisida memperlihatkan sifat lebih toksik terhadap zooplankton dan bentos dengan tingkat toksik yang bervariasi, tergantung jenis pestisida dan tingkat stadia komunitas yang bersangkutan. g. Parameter Mikrobiologi Keberadaan parameter mikrobiologi terutama bakteri digunakan sebagai indikator untuk menilai tingkat higienisitas suatu perairan. Mikroorganisme pathogen atau mikroorganisme yang bersifat berbahaya dari berbagai sumber, seperti permukiman, pertanian dan peternakan mudah, masuk dan mencemari perairan. Bakteri coli merupakan kelompok bakteri yang sangat sering digunakan sebagai indikator pencemaran badan air. Sedangkan Escherichia coli, yang tergolong bakteri koli yang hidup normal di dalam kotoran manusia dan hewan, sehingga kehadirannya dalam perairan menjadi petunjuk adanya pencemaran dari manusia atau hewan. Pencemaran bakteri sangat tidak dikehendaki, baik ditinjau dari segi estetika, kebersihan, sanitasi maupun kemungkinan terjadinya infeksi berbahaya. Berdasarkan PP Nomor 21/2008, kandungan Total coliform dan Fecal coliform dalam perairan adalah maksimum masing-masing 1000/100 ml dan 100/100 ml untuk klas 1, untuk klas 2 masing-masing maksimum 5000/100ml dan 1000/100 ml, sedangkan untuk klas 3 dan 4 masing-masing maksimum adalah 10000/ml dan 5000/100 ml. Sedangkan standar kualitas air untuk air minum menurut Permenkes Nomor: 907/Menkes/SK/VII/2002 dikatakan bahwa kandungan Total coli maupun Fecal Coli adalah 0.

3-22

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Table 3.12. Hasil Pengukuran Kualitas Air di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Parameter Padatan Terlarut Saguling Cirata Jatiluhur Unit Permukaan 20m Permukaan 20m Permukaan 20 m Dalam air Dalam air Dalam Air mg/L 74 10 6,0 7,.2 mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L 4,9 3,0 8,5 0,244 0,198 31 0,048 0 0 . . 92 12 6,5 6,6 0 3,4 9,7 1,47 0,222 37 0,042 0,58 0 99 6 2,9 7,8 5,5 3,6 9,5 0,103 0,172 42 0,057 0 0,003 129 10 5,6 7,7 0 2,4 7,5 0,852 0,240 56 0,050 0,85 0,017 126 6 2,2 8,4 8 4 10 0,222 0,178 62 0,025 0 0,012 132 7 4 8.1 0 2.6 8 1,026 0.20 61 0,016 0,80 0,046

Padatan Tersuspensi mg/L Kekeruhan pH DO BOD COD Total N Total P Kesadahan Deterjen Sulfida (S2-) Ammonia bebas (NH3-N) NTU

Sumber : Machbub, dkk.., 2003.

3-23

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Lingkungan Hidup, 2009. Peraturan Meneter Lingkungan Hidup Nomor : 8/2009 Tentang Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan Waduk Kementerian Lingkungan Hidup, 2003. Keputusan Men LH Nomor 114/2003 tentang Pedoman Pengkajian untuk Menetapkan Kelas Air Brahmana, S. dan Achmad,F., 2001. Korosifitas Air Waduk Saguling dan waduk Cirata terhadap Turbin dan Beton. Jurnal Litbang Pengairan Vol.15(46), Bandung Brahmana, dkk,1993, PP: Produktifitas Primer. Jurnal Litbnag Pengairan. Pengairan, Bandung Brahmana,S. Moelyo,M dan Rahayu, S (1993). Eutrofikasi Waduk Saguling. Jurnal Litbang Pengairan, 8(28), Puslitbang Pengairan, Bandung Sulastri, Ami A Meutia dan Tri Suryono, 2004. Blooming Algae Dinoflagelata Ceratium hirudinella di Waduk Karangkates, Malang Jawa Timur., Proseding Kolokium Puslitbang SDA, Bandung UNEP-IETC-ILEC, 2001. Lakes and Reservoir Water Quality: The Impact of Eutrophication, ShigaJapan. Vol.3, ISBN: 4-906356-31-1 Machbub,B., Fulazzaky, M.A., Brahmana, S. dan.Yusuf, I.A., 2003. Eutrophication of Lakes and Reservoir and Its Restoration in Indonesia. Jurnal Litbang Pengairan Vol.17(50) , Puslitbang Pengairan, Bandung. Novotny, V.,Campbell,N., DArcy,B., Frost,A dan Sansom,A.,2004., Diffuse Pollution, An Introduction to The Problems and Sollutions. IWA Publishing, UK. 28( 8), Puslitbang

3-24

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

BAB IV PEMICU EUTROFIKASI PADA WADUK DAN DANAU


4.1 Kelimpahan Plankton Di alam ini termasuk pada badan air terdapat suatu mata rantai makanan atau biasa disebut dengan siklus makanan. Fitoplankton merupakan dasar dari rantai makanan atau biasa disebut dengan produsen primer pada badan air. Meningkatnya biomassa jenis organisme primer merupakan gejala terjadinya eutrofikasi pada perairan danau atau waduk. Gejala tersebut biasanya juga ditunjukkan dengan menurunnya jenis konsumer akibat melimpahnya

konsentrasi unsur hara dan perubahan parameter kimia lainnya seperti oksigen terlarut (OT), kadar klorofil-a, turbiditas serta produktivitas primer (Vesjak,dkk,1997). Meningkatnya konsentrasi biomasa di bagian epilimnion dan tingginya laju pengendapan alga pada dalam kolom air, menyebabkan timbulnya kondisi anaerobik pada daerah hipolimnion danau. Pertumbuhan populasi fitoplankton yang terdiri dari karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen dan fosfor merupakan salah satu indikator utama terjadinya eutrofikasi di suatu perairan. Pengaruh dari eutrofikasi pada danau dan waduk selain pertumbuhan fitoplankton dan alga yang berlebihan, juga kekeruhan, penurunan kadar oksigen badan air. Komposisi fitoplankton pada badan air tidak konstan tapi dapat menggambarkan konsentrasinya dalam badan air (Vesjak,dkk,1997) Pada fitoplankton terdapat klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air yang digunakan sebagai dasar kehidupan. Populasi fitoplankton yang berlebih, terutama yang bersifat toksik yang berada pada ekosistem perairan, dapat menyebabkan berkurangnya oksigen di dalam air yang dapat menyebabkan kematian berbagai makhluk air lainnya. Fakta menunjukkan bahwa beberapa jenis fitoplankton yang mempunyai potensi marak adalah yang bersifat toksik (Wiadnyana, 1996). Mengingat dampak kerugian ledakan fitoplankton yang tinggi, di beberapa negara maju permasalahan tersebut mendapat prioritas penanganan yang serius. Dampak utama dari ledakan populasi fitoplankton adalah timbulnya Harmful Algae Blooms (HABs), yaitu fenomena marak fitoplankton toksik pada suatu badan air yang menyebabkan kematian biota lain (Anderson, dkk, 2008). Semua jenis fitoplankton yang beracun di atas dijumpai pada beberapa perairan pesisir Indonesia. Racun-racun tersebut sangat berbahaya, karena di antaranya menyerang sistem saraf manusia, pernapasan, dan pencernaan (Praseno dan Sugestiningsih, 2000). Faktor yang dapat memicu ledakan populasi fitoplankton berbahaya antara lain adanya
4-1

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

upwelling yang mengangkat massa air kaya unsur-unsur hara; adanya hujan lebat, dan masuknya air ke badan air dalam jumlah yang besar (Wiadnyana, 1996). Fitoplankton adalah organisme mikroskopik yang hidup melayang, mengapung di dalam air serta memiliki kemampuan gerak yang terbatas (Horne dan Goldman, 1994). Fitoplankton berperan sebagai salah satu bio indikator yang mampu menggambarkan kondisi suatu perairan, kosmopolit dan perkembangannya bersifat dinamis, karena dominasi satu spesies dapat diganti dengan lainnya dalam interval waktu tertentu dan dengan kualitas perairan yang tertentu pula. Perubahan kondisi lingkungan perairan akan menyebabkan perubahan pula pada struktur komunitas komponen biologi, khususnya fitoplankton. Zat hara, yaitu nitrogen dan fosfor, merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Oleh karena itu, ketersediaan zat hara di perairan waduk, menjadi faktor pembatas yang mengontrol keberadaan kelimpahan dan biomasa fitoplankton dari zona inlet atau muara sungai sampai zona waduk. Klorofil-a merupakan pigmen yang hampir ditemukan pada semua jenis fitoplankton dan merupakan pigmen yang paling maksimal dalam menyerap cahaya matahari untuk proses fotosintesis. Respon fitoplankton sebagai produsen utama perairan, terhadap unsur hara terjadi pada lapisan perairan eufotik menentukan eksistensi fitoplankton. Pengaruh biologi juga terjadi apabila terdapat perbedaan laju pertumbuhan spesies fitoplankton dan zooplankton yang memangsa (grazing) fitoplankton, yang akhirnya akan mempengaruhi pengelompokan fitoplankton di perairan. Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan suatu kajian ekologi mengenai komposisi dari kelimpahan dan dominasi fitoplankton terkait dengan kondisi fisika-kimia perairan di perairan tergenang untuk menentukan kualitas perairan pada kondisi muka air waduk yang minimum, sehingga dapat digunakan untuk menentukan daya dukung serta upaya pengelolaan yang tepat. Pengaruh biomasa plankton terhadap timbulnya eutrofikasi dapat dilihat pada Gambar 4.1

4-2

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Gambar 4.1. Model dinamik Eutrofikasi akibat biomassa plankton (Anderson pada Gunawan, 2005)

4.2 Peningkatan Zat Hara 4.2.1 Senyawa Nitrogen Senyawa nitrogen yang dialirkan ke badan air terutama berasal dari kegiatan manusia. Manusia dan binatang menghasilkan unsur-unsur nitrogen. Sedangkan dari sumber pencemar tersebar (non point sources) berasal dari pertanian atau pengolahan lahan dengan pemupukan dan lahan permukiman yang menimbulkan senyawa nitrogen yang berlebihan. Dalam bentuk anorganik, senyawa nitrogen berperan penting dalam kehidupan akuatik. Senyawa tersebut dibutuhkan dalam jumlah besar untuk perkembang-biakan sel dan dikenal sebagai Makronutrien bersama dengan senyawa karbon, fosfor, oksigen, sulfur, silika dan besi. Sedangkan

4-3

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

senyawa yang dibutuhkan dengan jumlah yang kecil untuk pengembangan sel adalah mangan, tembaga dan seng yang dikenal sebagai Mikronutrien. Bentuk utama senyawa nitrogen di alam adalah nitrogen bebas (N2), amonium (NH4+) atau amonia (NH3), nitrit (NO2) atau nitrat (NO3) dan organik nitrogen. Seperti terlihat pada Gambar 4.2, senyawa nitrogen dapat terbagi menjadi komponen partikulat maupun terlarut. Pada

gambar tersebut diperlihatkan dinamika proses senyawa nitrogen pada badan air, yang meliputi (Chapra, 1997) :

Asimilasi Amonia dan Nitrat: termasuk dalam ini adalah pengambilan dari nitrogen anorganik oleh fitoplankton, meskipun fitoplankton juga memanfaatkan amonia dan nitrat.

Ammonifikasi: Proses transformasi dari nitrogen organik menjadi amonia. Ini adalah proses yang komplek mencakup beberapa mekanisme proses. Termasuk dalam proses ini adalah dekomposisi bakteri, eksresi zooplankton, dan autolisis langsung sesudah kematian sel.

Nitrifikasi: yaitu proses oksidasi dari amonia menjadi nitrit, selanjutnya nitrit menjadi nitrat. Proses ini dibantu oleh kelompok bakteri aerobik, digambarkan melalui proses kimia orde satu. Pada kenyataannya trasnformasi dari nitrit menjadi nitrat merupakan proses yang sangat cepat pada suatu model rantai makanan.

Denitrifikasi: Proses ini terjadi pada kondisi anaerobik, misalnya terjadi pada sedimen dan lapisan hipolimnion anoksik (tidak ada oksigen). Akhir proses ini adalah Nitrogen bebas (N2).

Fiksasi Nitrogen: Sejumlah organisme dapat memfiksasi unsur nitrogen. Kelompok mikroorganisme ini adalah kelompok alge biru-hijau (blue-green algae). Adanya kelompok bakteri ini menyebabkan fitoplankton atau mikroorganisme non fiksasi nitrogen akan tersingkir karena rendahnya kadar nitrogen. Sedangkan alge biru-hijau dapat menggunakan nitrogen dari udara, sehingga beban pencemar fosfor yang tinggi pada waduk atau danau menyebabkan pertumbuhan alga hijau-biru yang dominan atau marak alga. Kondisi tersebut menyebabkan turunnya kualitas air waduk dan danau, bahkan dapat terbentuk gumpalan-gumpalan (scum).

Meskipun senyawa nitrogen sama pentingnya dengan fosfor dalam siklus kehidupan perairan termasuk menjadi pemicu timbulnya eutrofikasi, namun ada perbedaan pada

keduanya yaitu (Chapra,1997):

4-4

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Nitrogen memiliki fase gas, sedangkan alga hijau-biru mampu memfiksasi nitrogen dari udara, sehingga alga hijau-biru menjadi dominan di badan air. Nitrogen anorganik tidak menyerap kuat nitrogen yang terikat pada zat partikulat seperti senyawa fosfor. Kondisi tersebut menyebabkan nitrogen dalam bentuk partikulat tetap terbawa sedimen melalui proses pengendapan. Bentuk nitrogen anorganik (khususnya nitrat) bersifat lebih mudah tersebar terutama pada air tanah.

Denitrifikasi hanya terjadi pada senyawa nitrogen atau tidak terjadi pada fosfor. Karena proses ini hanya terjadi pada kondisi anaerobik, hal tersebut berakibat terjadinya kondisi anoksik pada sedimen.

Gambar 4.2. Diagram senyawa nitrogen pada badan air (Chapra, 1997)

4.2.2 Senyawa Fosfor Senyawa fosfor sangat penting untuk kehidupan. Fungsi-fungsi tersebut di antaranya berperan pada sistem genetis dan sebagai penyimpan dan transfer energi pada sel mikroorganisme. Dalam tinjauan kualitas air, senyawa fosfor adalah penting, karena selalu dalam jumlah yang kecil dibandingkan senyawa makronutrien lainnya. Kelangkaan ini adalah akibat beberapa faktor, antara lain:

4-5

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Senyawa fosfat tidak banyak di kulit bumi, dan fosfat mineral tidak dalam kondisi terlarut; Senyawa fosfat tidak dalam bentuk gas atau tidak ada di atmosfer, berbeda dengan nitrogen dan karbon; serta Senyawa fosfat cenderung terserap kuat pada partikel halus. Fosfat dapat terikat kuat secara kimiawi pada partikel sedimen yang mengandung oksigen.

Meskipun secara alami senyawa fosfat langka, tetapi banyak aktifitas manusia yang menghasilkan fosfat dan dibuang ke lingkungan. Manusia dan hewan secara substansial juga menghasikan limbah yang mengandung senyawa fosfat. Deterjen yang digunakan untuk kebutuhan domestik juga mengandung senyawa fosfor. Pertanian dan permukiman juga berkontribusi sebagai sumber pencemar tersebar senyawa fosfor termasuk dari aktifitas

pemupukan terkait dengan penggunaan bahan kimia untuk pengolahan lahan. Erosi lahan juga berpotensi meningkatkan tranport fosfor ke badan air. Senyawa fosfat dalam badan air alami terdapat dalam berbagai bentuk (Chapra, 1997):

Soluble R eactive Phosphorous (SRP) atau Fosfor Reaktif yang Berguna (FRB) atau biasa disebut dengan ortofosfat atau senyawa P anorganik, yaitu bentuk fosfor yang langsung dapat digunakan pada tanaman. Senyawa ini terdiri dari H2PO4-, HPO42- dan PO43- ;

Particulat organic P atau P organik partikulat, partikel ini terbentuk terutama dari tanaman hidup, hewan dan bakteri juga detritus organik; Non-particulat organic P. Senyawa ini terdiri zat terlarut dan koloid organik yang mengandung fosfor. Senyawa ini berasal dari dekomposisi organik P partikulat; Particulat inorganic P atau P anorganik partikulat yang terdiri mineral fosfat, ortofosfat terjerap dan fosfat komplek pada zat padat; serta Nonparticulat inorganic. Kelompok ini adalah termasuk fosfat terkondensasi seperti yang ditemukan pada deterjen.

Diagram senyawa fosfor dalam badan air seperti terlihat pada Gambar 4.3. Pengukuran senyawa fosfat dalam badan air terutama diukur sebagai ortofosfat atau fosfat terlarut dan sebagai Total Fosfat yang sering digunakan untuk mengetahui kondisi eutrofikasi badan air.

4-6

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Gambar 4.3. Diagram senyawa nitrogen pada badan air (Chapra, 1997)

4.3 Fenomena Kolam Jaring Apung Soemarwoto (2004) menyatakan bahwa jaring apung bermula dari analisis dampak lingkungan (ADL) rencana pembangunan Bendungan Saguling tahun 1979-1980. ADL pembatasan daerah dan bidang studi pembangunan adalah untuk

menggunakan empat prinsip, yaitu ekosistem, (pelingkupan),

identifikasi dampak dengan bagan alir dan

masyarakat. Soemarwoto (2004 juga menyatakan bahwa hanya 3,8% penduduk yang mau transmigrasi 96,2% tidak mau, sehingga perlu diberikan mata pencaharian. Selanjutnya

diperkenalkan teknologi jaring apung dapat diterima penduduk dan berkembang amat pesat melalui penelitian bersama dengan Lembaga Penelitian Perikanan Darat di Danau Lido, Bogor dan penyuluhan dilakukan di Waduk Saguling. Jaring apung sangat produktif dan memiliki keuntungan yang besar, namun menimbulkan dampak sosial-ekonomi dan biogeofisik. Dampak sosial-ekonomi KJA meliputi: (a)

ketergantungan pada benih dan pakan; (b) petani ikan tidak menguasai pasar; dan (c) masuknya modal besar dari luar daerah dan berakibat marjinalisasi pengusaha lokal. Sedangkan dampak biogeofisik adalah pencemaran oleh sisa makanan dan kotoran ikan, terjadinya kematian massal ikan pada waktu terjadi pembalikan dan terjadinya eutrofikasi, pertumbuhan masal ganggang
4-7

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

microcystis, masukan zat pencemar dari DAS hulu dan kandungan zat racun dalam pakan (Soemarwoto, 2004) Eutrofikasi yang sangat cepat pada waduk dan danau di Indonesia tersebut diyakini oleh banyak peneliti dipicu dan dipacu oleh aktivitas manusia yang memanfaatkan badan air tersebut sebagai areal produksi ikan dalam KJA yang berlebihan. Disamping itu, aktivitas-aktivitas lainnya pada daerah aliran sungai yang membuang limbah yang pada akhirnya masuk ke dalam waduk. Sisa pakan yang terakumulasi di dasar perairan akan terdekomposisi menjadi nitrogen. Zahidah (2007) pada penelitiannya di Waduk Cirata menyatakan bahwa bahwa indeks keanekaragaman fitoplankton pada semua stasiun di semua kedalaman menunjukkan angka yang sangat rendah, yaitu kurang dari 0,5 bahkan angka rata-ratanya untuk semua stasiun kurang dari 0,3. Rendahnya nilai indeks keanekaragaman menunjukkan ekosistem berada dalam kondisi yang tidak stabil sebagaimana yang dilaporkan oleh Odum (1992) pada Zahidah (2007). Keanekaragaman yang rendah menunjukkan di ekosistem tersebut terdapat jenis tertentu yang memiliki kelimpahan sangat tinggi, atau dengan kata lain terdapat kecenderungan dominasi. Adanya kecenderungan dominasi terlihat dari tingginya kelimpahan genus Microcystis pada seluruh stasiun dengan nilai persen dominansi berkisar antara (60 99). Haarcoryati, (2008) juga menyatakan bahwa terdapat kaitan yang erat antara rasio nitrogen dan fosfor dengan dominasi kelompok mikroalga pada waduk dan danau di Indonesia. Rasio N/P kurang dari 10 maka pertumbuhan kelompok Cyanophyta dengan spesies Microcystis sp akan mendominasi perairan (Ryding dan Rast, 1989 ). Zahidah (2007) menjelaskan bahwa kualitas air Waduk Cirata berada dalam status eutrofik, diperkuat juga dengan banyaknya fitoplankton dari kelas Cyanophyceae (terutama Microcystis sp) memiliki rasio antara N (dalam bentuk NO3) dan P (dalam bentuk PO4) dengan nilai rendah, Hal ini sesuai dengan pendapat Reynold (1990) yang menyatakan bahwa Cyanophyceae adalah kelompok fitoplankton yang mampu bertahan dan berkembang dengan baik pada kondisi N/P yang rendah. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kemampuan kelas ini untuk bertahan dan memenangkan persaingan serta berkembang biak lebih cepat didukung oleh kemampuan fiksasi nitrogen dari atmosfir pada sebagian jenis Cyanophyceae serta adanya fenomena Luxury consumption of Phosphorous pada hampir semua jenis Cyanophyceae. Zahidah (2007) menyatakan bahwa kondisi kualitas air yang buruk tidak hanya ditemukan pada zona KJA, tapi juga pada zone non KJA. Hal ini terutama ditunjukkan oleh melimpahnya fitoplankton dari kelas Cyanophyceae, terutama Microcystis.
4-8

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

Untuk mencegah timbulnya eutrofikasi berlebihan akibat fenomena jaring apung ini adalah pengaturan KJA yaitu maksimum hanya 1% luas permukaan dan jarak antara jaring minimum 50 meter. Sedangkan Sukimin (2004) mengusulkan adanya penentuan daya tampung waduk dan danau terhadap pencemaran pakan untuk mencegah timbulnya pencemaran badan air tersebut sebagaimana tercantum dalam Pedoman Pengelolaan Danau yang telah ditetapkan pada tahun 2009. Langkah yang dapat dilakukan oleh petani jaring apung adalah menggunakan teknologi aerasi, terutama pada saat tengah malam sampai menjelang fajar dan terutama sekali setelah terjadi umbalan (upwelling). Selain itu, dengan pengaturan pola makan ikan, pemakaian jaring yang mengurangi pengendapan sisa pakan dan metabolit ikan, pengaturan kepadatan benih dan tidak menggunakan rumah jaga sebagai hunian keluarga adalah tindakan yang baik demi terjaganya kualitas air waduk (Irianto, dkk, 2001). Sedangkan Fahmijani, dkk (2009) mengusulkan menggunakan pola KJA berlapis, untuk mengurangi pakan ikan yang terbuang agar dimakan ikan pada lapis bawahnya. Pengelola waduk berkewajiban sebagai regulator, terutama dalam hal menetapkan lokasi termasuk jarak antar jaring apung, pemantauan kualitas air secara kontinyu, dan pengelolaan lingkungan di sekitar waduk. Selain itu, pengelola waduk dapat berperan sebagai fasilitator dalam hal pengembangan pemasaran, sehingga pendapatan petani meningkat, maka para petani jaring apung tersebut akan lebih mudah untuk diajak peduli dan menjaga kualitas lingkungan di sekitar waduk. Koordinasi dengan instasi terkait juga sangat diperlukan dalam hal pengelolaan waduk/danau setingkat DAS (Irianto, dkk., 2001). Sedangkan pola hubungan antara petani jaring apung dan pengelola waduk adalah terlihat pada Gambar 4.4.

4-9

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Pengelola Waduk Sebagai Regulator


- Penempatan dan pengaturan lokasi - Pengelolaan DPS dan lingkungan waduk - Pemantauan rutin kualitas air - Penanggulangan gulma - Memfasilitasi usaha jaring apung yang berwawasan lingkungan

Kualitas Air Terjaga

Operasional Waduk Berjalan Lancar

Petani Jaring Apung Sebagai Produsen


- Managemen pakan yang teratur - Pengaturan kerapatan benih - Pemakaian jaring dia (0,5-1)" - Memakai teknologi aerasi - Membantu menanggulangi gulma - Tidak untuk rumah hunian

Hasil Memuaskan

Gambar 4.4 Diagram pola hubungan antara petani jaring apung dan pengelola waduk (Irianto, dkk, 2001)

4.4 Pencemaran Daerah Aliran Sungai Straskaba dan Tundisi (1999) ekosistem perairan waduk dan danau cenderung mengalami degradasi, karena kurang kepedulian dan kesungguhan profesional dalam pengelolaannya. Banyak diantaranya terancam, baik dari segi kuantitas maupun kualitas airnya, termasuk juga dari kelangsungan hidup biotanya. Hal ini disebabkan terutama oleh meningkatnya kegiatan manusia di perairan maupun daerah tangkapan. Kondisi tersebut menyebabkan waduk akan sulit sekali dipulihkan kondisinya apabila tercemar dan rusak, perlu waktu yang lama untuk pemulihannya dengan biaya yang tidak sedikit. ICES (2009) menyatakan bahwa keterkaitan antara badan air waduk dengan DASsedemikian eratnya, sehingga kerusakan ekosistem DAS akan berdampak negatif pada ekosistem danau dan waduk. Oleh karena itu, danau dan waduk sebagai unit ekologis tidak dapat dipisahkan pengelolaannya berdasarkan batasan administratif serta diperlukan satu dasar pengetahuan yang komprehensif untuk dapat mengelola danau secara baik dan benar, sehingga pemanfaatan danau dapat berlangsung secara berkelanjutan Sebagaimana dinyatakan oleh Rees (2009), aktifitas-aktifitas manusia pada DAS yang dapat berdampak pada sistem sumber daya air diantaranya (a) deforestasi dan urbanisasi akan
4-10

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

merubah limpasan permukaan dan rejim aliran yang mempengaruhi penggunaan air, resiko banjir dan kelongsoran; (b) kuantitas, waktu dan lokasi pengambilan air baik permukaan maupun tanah berdampak pada penggunaan sumber daya air pada sebelah hilir; (c) perubahan tata-guna lahan dapat merubah laju evapotranspirasi, laju sedimentasi dan pengambilan air dapat mempengaruhi kestersediaan dan biaya suplai air bersih; (d) produk air limbah pertanian, air limbah industri dan rumah-tangga akan berpengaruh pada kualitas air pada air tanah dan air di hilir. Hal tersebut berpengaruh pada pengolahan air limbah, menurunkan produksi pertanian, ekonomi, lingkungan dan penggunaan rekreasi. Berdasarkan pedoman pengelolaan danau (Kementerian Lingkungan Hidup, 2008), ekosistem danau terdiri dari ekosistem perairan (akuatik), ekosistem sempadan (sebagai ekosistem peralihan) dan ekosistem daratan (terestrial). Ketiga ekosistem tersebut menghadapi berbagai kerusakan lingkungan yang berdampak pada keberlanjutan dan fungsi waduk sebagai sumber daya air. Berbagai sumber dan dampak permasalahan tersebut telah merusak ekosistem waduk juga berpotensi dan telah terjadi pada beberapa waduk di Indonesia. Machbub, dkk (2003) menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi pada danau dan waduk di Indonesia antara lain (a) pendangkalan dan penyempitan sempadan, yang dapat merusak ekosistem; (b) pencemaran kualitas air yang menggangu pemanfaatan air dan pertumbuhan biota akuatik; (c) kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity); (d) pertumbuhan gulma air dan marak alga disebabkan proses penyuburan air waduk sebagai akibat pencemaran limbah organik dan zat hara (unsur nitrogen dan fosfor) dan zat penyubur; (e) perubahan fluktuasi muka air danau, yang disebabkan oleh kerusakan DAS serta pengambilan air dan tenaga air tanpa memperhatikan keseimbangan hidrologi dapat mengganggu keseimbangan ekologis daerah sempadan. Karena itu pengelolaan lingkungan daerah aliran sungai menjadi penting dalam ramgka perlindungan waduk dan danau dari permasalahan tersebut diatas. Dari penjelasan diatas menunjukkan bahwa sumber-sumber zat hara yang masuk ke perairan waduk atau danau terutama adalah bersumber dari kegiatan manusia meliputi kegiatan domestik, industri, pertanian dan peternakan yang limbahnya tidak terkelola dengan baik, sehingga memicu timbulnya permasalahan eutrofikasi. Sumber-sumber pencemar tersebut dapat berupa sumber pencemar titik maupun sumber pencemar tersebar. Selain itu, kegiatan perikanan budidaya atau kolam jaring apung pada perairan waduk dan danau juga menjadi pemicu kelimpahan plankton karena limbah pakan berlebihan yang terakumulasi pada sedimen dasar. Pengendalian pencemaran untuk mencegah masuknya zat hara secara berlebihan pada waduk atau danau memerlukan perencanaan yang komprehensif dengan memperhatikan
4-11

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

karakteristik masing-masing waduk atau danau, yang selanjutnya diimplementasikan secara benar dalam suatu kerangka kebijakan.

4-12

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, D,M., J,M, Burkholder., W,P, Cochlan., P,M, Gilbert., C,J, Gobler., C,A, Heil., R,M, Kudela., M,L, Parsons., J,E, Jack Rensel., D,W, Townsend., V,L, Trainer., G,A, Vargo., 2008, Harmful Algall Blooms And Eutrophication: Examining Linkages From Selected Coastalregion Of The United Stated, Harmful Algae., 8, 39-53. Astuti, Bambang.1992. Sistem Terpadu Dalam Pengelolaan Lingkungan Waduk/S itu

Saguling/Cirata. Puslitbang Perikanan, Jakarta Chapra, Steven.C., 1997. Surface Water Quality Modelling. Mc Graw Hill Book Inc, NewYork Fahmijani,Trijanto, A.Lukman, dan.Meutia,A., 2009. Keramba Jaring Apung Ramah Lingkungan, Konferensi Danau Berkelanjutan. Denpasar-Bali Gunawan,W., Zahidah dan Mulyanti,W., 2006. Model Eutrofikasi untuk Merancang Kebijakan Pengelolaan Waduk yang Berkelanjutan melalui Sistem Dinamik. Laporan Riset DIKTI. Haarcoryati, A.,2008. Hubungan Rasio N/P dengan kecenderungan dominasi komunitas mikroalga pada waduk-waduk di DAS Citarum., Buletin Keairan Vol.1(1), Puslitbang SDA, Bandung Goldman,C.Rdan Horn, A.J.,1994. Limnology. 2nd. Mc Graw Hill.Inc ICES.2009. Human Induced Eutrophication is Minimized Especially Adverse Effect. Final Report, European Commision Irianto,E.W., Machbub,B,. Ilyas, M.T. dan Sudarna.,A.,2001 . Konsep pengelolaan jaring apung peduli lingkungan dalam Rangka menjaga kualitas air waduk Buletin Keairan 2001, M.Vesjak, T.Savsek, dan E.A. Stuhler.1997. System Dynamik of Eutrophication process in Lakes. European Journal of Operational research. Elsevier Science, London, hal.442-451. Machbub,B., Fulazzaky, M.A., Brahmana, S. dan.Yusuf, I.A., 2003. Eutrophication of Lakes and Reservoir and Its Restoration in Indonesia. Jurnal Litbang Pengairan Vol.17(50) , Puslitbang Pengairan, Bandung. Praseno, D,P. dan Sugestiningsih., 2000, Red tide di perairan Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI, Jakarta Rees, J.A.,2008. Urban Water and Sanitation Services; An IWRM Approach. Global Water partnership Technical Committee. Straskraba,M and Tundisi, J.G. Guidelines of Lake Management Volume 9: Reservoir Water Quality Management, ILEC,1999
4-13

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Sumarwoto,O.2004. Pengelolaan Jaring Apung. Seminar Pengelolaan Waduk dan Danau. Seminar Pengelolaan Waduk dan Danau, 12 Oktober, Puslitbang SDA Wiadnyana, N,N., 1996, Mikroalga berbahaya di Indonesia. Oseanology dan Limnology di Indonesia, 29, 15 28. Zahidah , 2007. Komunitas Fitoplankton di Zona Karamba Jaring Apung (KJA) dan Non KJA di Waduk Cirata, Laporan Teknis Fakultas Perikanan dan Kelautan UNPAD, Bandung.

4-14

Eutrofikasi Waduk dan Danau: Permasalahan

BAB V PEMODELAN EUTROFIKASI


5.1 Korelasi Parameter Eutrofikasi Tingkat kesuburan perairan danau atau waduk dapat dihitung berdasarkan beberapa parameter yang sangat berpengaruh terhadap kesuburan danau sesuai dengan perhitungan Indeks Status Trofik atau Trofik Status Index (TSI), yaitu Total Fosfor, klorofil-a, dan kecerahan menggunakan pengukuran cakram sechi (Sechi Disk). Penentuan ketiga parameter tersebut berdasarkan adanya keterkaitan yang erat dari masing-masing parameter, dimana unsur pencemar yang masuk ke perairan danau yang berupa fosfor akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan fitoplankton pada perairan tersebut, yang ditandai dengan adanya konsentrasi klorofil-a. Kepadatan klorofil-a tersebut akan menyebabkan terhambatnya cahaya yang masuk kedalam perairan danau yang ditandai dengan makin rendahnya kecerahan perairan. Hubungan antara kadar Total Fosfor (TP) dengan konsentrasi klorofil-a memiliki korelasi positif seperti ditunjukkan pada Gambar 5.1, sedangkan korelasi antara kosnentrasi klorofil-a dengan transparansi terlihat pada Gambar 5.2.

Gambar 5.1 Korelasi antara fosfor dan klorofil-a (Bartsch &Gaksleter,1978 pada Chapra, 1997)

5-1

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

Gambar 5.2 Korelasi transparansi (kedalaman Sechi) dan klorofil-a (Rast & Lee,1978 pada Chapra, 1997)

Gambar 5.3 Pendekatan skematik untuk memprediksi variable status trofik berdasarkan prediksi model beban fosfor (Chapra,1997)

Gambar 5.3 menunjukkan skema penentuan status eutrofik melalui suatu model korelasi antara konsentrasi senyawa fosphor, transparansi dan klorofil-a.
5-2