Anda di halaman 1dari 38

LIPIDA A. TUJUAN Melakukan analisis secara kualitatif terhadap lipid B. DASAR TEORI C. ALAT-ALAT 1.

Analisis Kualitatif Alat yang digunakan Tabung reaksi Penjepit Rak tabung reaksi Pemanas air Gelas beker Pipet Pipet tetes Mortir

Bahan yang digunakan dan Reagen Uji Akrolein Uji Penyabunan Uji Salkowski : KHSO4,lemak,alpukat. : KOH alkoholis 10%, lemak/minyak. : Klorofrom anhidrus, H2SO4

Uji Ketidakjenuhan : Minyak olive,gajih,lesitin,klorofrom,etanol,larutan brom dalam klorofrom. Uji Peroksida klorofrom. :Minyak olive,minyak lemak,asam asetat glasial,

Lemak/ minyak yang digunakan Minyak jagung Minyak kelapa Minyak wijen Alpukat Minyak Kedelai

Minyak kelapa sawit

D. LANGKAH KERJA 1. Analisis Kualitatif a. Uji Akrolein

Memasukkan minyak jagung,minyak kelapa,minyak wijen,serta 0,5 gram alpukat ke dalam 4 tabung reaksi.

Menggerus 0,5 gram KHSO4 dan memasukkannya ke dalam ke empat tabung reaksi .

Memanaskan ke empat tabung reaksi di atas api bunsen.

Memperhatikan bau yang tercium.

b. Uji Penyabunan

Memasukkan minyak jagung,minyak kedelai,minyak kelapa sawit dam alpukat ke dalam 4 tabung reaksi.

Menambah 10 mL KOH alkoholis ke dalam masing-masing tabung reaksi .

Mengocok dan memanaskan di atas penangas air hingga 1 tetes larut sempurna.

Menambah 10 mL air dan memanaskan lagi di atas penangas air didih sampai semua alkohol menguap.

c. Uji Salkowski Melarutkan beberapa miligran kolesterol di dalam 3 mL Klorofrom anhidrus.

Menambah volume yang sama asam sulfat pekat.

Mengocok perlahan-lahan dan membiarkan lapisan cair terpisah, amati warnanya.

d. Uji Ketidakjenuhan Memasukkan lemak/minyak dalam tabung reaksi.

Menambahkan 1mL klorofrom/etanol ke dalam tabung.

Memasukkan 1mL Klorofrom ke dalam tabung (sebagai blanko).

Meneteskan larutan brom (dalam klorofrom) ke semua tabung sampai.

Mencacat jumlah tetes yang diperlukan.

e. Uji Peroksida

Melarutkan 1 mL minyak / lemak di dalam 1mL klorrofrom.

Menambahkan 2mL asam asetat glasial dan 1 tetes larutan KI 10%.

Mengaduk dengan baik dan membiarkan selama 5menit.

Mengulangi percobaan dengan minyak/lemak lainnya.

E. DATA HASIL PENGAMATAN 1. UJI AKROLEIN Nama kelompok Terhadap Kelompok 1 Minyak kedelai Minyak wijen Minyak tengik Minyak kelapa sawit Bau tengik, ada endapan Bau tengik tidak menyengat, warna keruh, ada endapan Bau tengik menyengat, ada endapan hitam Uji akrolein Hasil Bau kedelai, ada endapan

Gliserol Sampel (lemak kambing) Kelompok 2 Minyak kelapa Minyak wijen Minyak jagung Sampel (lemak sapi) Kelompok 3 Minyak jagung Minyak kelapa Minyak wijen Sampel (susu) Kelompok 4 Minyak olive Minyak wijen Minyak kelapa santan Kelompo 5 Minyak tengik

Bau sangat menyengat Bau amis, menggumpal

Bau tengik agak sedikit menyengat

Bau tengik agak menyengat

Bau tengik kurang menyengat

Bau tengik yang cukup menyengat

Bau tengik yang agak menyengat

Bau tengik yang cukup menyengat

Bau tengik kurang tercium

Baunya tetap seperti susu, tidak ada bau sangit Bau menyengat, ada endapan warna hitam Bau tengik, tidak menyengat, warna keruh, ada endapan Bau tengik, ada endapan

Bau santan, agak tengik Bau menyengat, ada endapan hitam

Minyak olive Sampel (kemiri) Kelompok 6 Minyak jagung Minyak kelapa Bau tengik Alpukat Kelompok 7 gliserol Lemak ayam

Berbau menyengat, ada endapan hitam Berbau kemiri, kurang menyengat

Bau tengik yang agak menyengat

Bau tengik yang cukup menyengat

Bau tengik yang kurang tercium Langu, sangit Bau menyengat, warna dari jernih ke kuning Bau menyengat, bening jadi kekuningan

Kelompok 8

Minyak olive Minyak tengik

Bau tengik, warna tidak berubah Bau tengik, warna tidak berubah

Kacang tanah Bau kacang, warna tidak berubah

2. UJI PENYABUNAN Nama kelompok Terhadap Kelompok 1 Minyak kedelai Minyak wijen Minyak Uji Penyabunan Hasil Terbentuk 2 lapisan berwarna: orange kental dan bening Terbentuk 2 lapisan, atas: kuning-orange kental, bawah: kuning bening Terbentuk 2 lapisan berwarna orange dan

tengik Minyak kelapa sawit Gliserol

kuning Terbentuk 2 lapisan, atas: kuning orange kental, bawah: kuning bening Terbentuk 2 lapisan, atas: kuning bening, bawah: bening

Sampel (lemak kambing) Kelompok 2 Minyak kelapa Minyak wijen Minyak jagung Sampel (lemak sapi) Kelompok 3 Minyak jagung Minyak kelapa Minyak kedelai Sampel (susu) Kelompok 4 Minyak jagung

Terbentuk dua lapisan, atas: putih susu, bawah: putih bening

Terbentuk 2 lapisan, berwarna kuning keruh

Terbentuk 2 lapisan, atas: kuning orange kental, bawah: kuning bening Terbentuk 2 lapisan, berwarna kuning orange Warna coklat

Tedapat dua lapisan, bawah kuning

Baunya wangi, dikocok berbusa, warna kuning keruh Warna bawah bening, atas putih keruh, dikocok berbusa Berbau sabun, setelah dipanaskan dan dikocok terbentuk busa Larut, tidak ada busa

Minyak olive Minyak wijen Minyak kelapa Kelompok 5 Minyak tengik Minyak olive Sampel (kemiri) Kelompok 6 Santan

Larut, ada busa Putih keruh(bagian bawah), kuning

bening(bagian atas), berbusa, larut Larut, berbusa

Ada busa

Ada busa Ada busa

Putih keruh(bagian bawah), putih kental bagian atas), berbusa, larut

Minyak jagung

Ada 2 lapisan, lapisan bawah, berwarna kuning bening, putih keruh kekuningan, ada gelembung (+++)

Minyak kedelai

Ada 2 lapisan, lapisan bawah putih bening, lapisan atas putih kerut, ada gelembung sedikit (++)

Minyak kelapa sawit

Ada 2 lapisan, lapisan bawah putih bening, lapisan atas putih keruh, ada gelembung sangat sangat sedikit(+)

Kelompok 7

Alpukat

Ada 2 lapisan, lapisan bawah kuning kehijauan keruh, lapisan atas kuning

kehijauan bening, dan ada gelembung di atas(+++) Minyak jagung Minyak olive Larut, ada busa Kelompok 8 Minyak Putih keruh(bagian bawah), kuning Larut, tidak ada busa

wijen Minyal kelapa Gajih (lemak) ayam

bening(bagian atas), berbusa, larut Larut, ada busa

Larut, tidak ada busa

3. Uji salkowski Nama kelompok Terhadap Kelompok 1 Minyak kedelai Minyak wijen Minyak tengik Minyak kelapa sawit Gliserol Uji Salkowski Hasil Terbentuk 3 lapisan berwarna: kuning bening, coklat, coklat kehitaman Terbentuk 3 lapisan berwarna: putih kekuningan, coklat, coklat kehitaman Terbentuk 3 lapisan berwarna: kuning bening, coklat, coklat tua Terbentuk 3 lapisan berwarna: kuning bening, coklat, putih keruh Terbentuk 3 lapisan berwarna: kuning bening, putih keruh, coklat tua Sampel (lemak kambing) Kelompok 2 Minyak kelapa Minyak Terbentuk 2 lapisan berwarna, coklat muda, coklat tua kehitaman, coklat bening Terbentuk 3 lapisan berwarna, kuning Terbentuk 3 lapisan berwarna: bening, putih keruh, putih kemerahan

wijen Minyak jagung Sampel (lemak sapi) Kelompok 3 Kolesterol Sampel (susu) Kolesterol Kelompok 4 Margarin

bening, tak berwarna, merah tua Terbentuk 2 lapisan berwarna, hitam pekat dan merah tua Terbentuk 2 lapisan berwarna, atas bening kekuningan, bawah bening kemerahan Terbentuk warna hitam pekat Terdapat 3 lapisan, lapisan1:susu/putih, lapisan 2: bening dan lapisan 3:coklat pekat Terbentuk warna hitam pekat Bawah kuning bening, tengah ada cincin coklat tua, atas kuning pekat

Minyak wijen Santan Minyak jagung Kelompok 5 Minyak tengik

Bawah coklat tua bening, atas coklat kehitaman Bawah coklat muda, atas putih Bawah endapan hitam, atas coklat hitam bening Awal: warna kuningbening, tidak ada endapan, hangat Akhir: terdapat 2 lapisan, atas: merah kecoklatan, bawah: orange

Minyak olive

Awal: kuning bening, tidak ada endapan, hangat Akhir: Terdapat 2 lapisan, atas: merah kehitaman, bawah: orange, hangat

Sampel

Awal: putih kekuningan, terdapat endapan,

(kemiri)

hangat Akhir: terdapat 2 lapisan, atas: orange, bawah: merah kecoklatan, hangat

Kelompok 6

Minyak kelapa Minyak olive

Bawah

kuning,

tengah

cincin

hitam

kecoklatan, atas coklat bening Coklat bening, bawah coklat tua bening, atas hitam pekat

Alpukat

Ada 2 lapisan, lapisan bawah berwarna hitam, lapisan atas putih keruh

Kolesterol Kelompok 7 Margarin

Tidak ada lapisan warna hitam pekat Bawah kuning bening, tengah ada cincin coklat tua, atas kuning pekat

Minyak wijen Santan Kelompok 8 Minyak jagung Minyak kelapa Minyak olive

Bawah coklat tua bening, atas coklat kehitaman Bawah coklat muda, atas putih Bawah endapan hitam, atas coklat hitam bening Bawah kuning, tengah cincin hitam

kecoklatan, atas coklat bening Coklat bening, bawah coklat tua bening, atas hitam pekat

4. Uji ketidakjenuhan Nama kelompok Terhadap Kelompok 1 Minyak kedelai Uji Ketidakjenuhan Jumlah tetesan Diperlukan 3 tetes Br2

Minyak wijen Minyak tengik Minyak kelapa sawit Gliserol Sampel (lemak kambing) Kelompok 2 Minyak olive Lemak sapi Kloroform (blanko) Kelompok 3 Minyak olive Minyak kedelai Kloroform Sampel (susu) Kelompok 4 Minyak olive Minyak jagung Minyak wijen Minyak kelapa

Diperlukan 4 tetes Br2

Diperlukan 3 tetes Br2

Diperlukan 2 tetes Br2

Diperlukan 3 tetes Br2 Diperlukan 2 tetes Br2

Diperlukan 1 tetes Diperlukan 1 tetes Diperlukan 1 tetes

Kuning semua, diperlukan 1 tetes Kuning semua, diperlukan 1 tetes

Kuning semua, diperlukan 1 tetes Kuning semua, diperlukan 1 tetes

1, menjadi kuning 5 menjadi kuning

5 menjadi kuning

10 menjadi kuning

santan Kelompok 5 Minyak tengik Minyak olive

6 menjadi kuning Ditetesi 3 tetes Br2 dalam kloroform, berubah warna menjadi kuning permanen Ditetesi 3 tetes Br2 dalam kloroform, berubah warna menjadi kuning permanen

Sampel (kemiri) Kelompok 6 Minyak olive Alpukat Kelompok 7 Minyak olive Minyak jagung Minyak wijen Minyak kelapa Gajih/lemak ayam Kelompok 8 Minyak olive

Ditetesi 3 tetes Br2 dalam kloroform, berubah warna menjadi kuning permanen 1 menjadi kuning 6 menjadi merah kekuningan 1 menjadi kuning 5 menjadi kuning

5 menjadi kuning

10 menjadi kuning

5 menjadi kuning

Kacang tanah 1 Kloroform 1

Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi Iod Hubl. Berdasarkan percobaan yang dilakukan dihasilkan bahwa yang mengandung asam lemak jenuh adalah minyak olive, minyak wijen, minyak kelapa, santan, minyak olive.

Sedangakan minyak jagung, kacang tanah, santan, lemak ayam, dan alpukat merupakan asam lemak tak jenuh. Larutan brom dalam kloroform ini digunakan sebagai indikator perubahan. Asam lemak yang diuji ditambah kloroform sama banyaknya. Tabung dikocok sampai bahan larut. Setelah itu, tetes demi tetes pereaksi larutan brom dalam kloroform dimasukkan ke dalam tabung sambil dikocok dan perubahan warna yang terjadi terhadap campuran diamati. Asam lemak jenuh dapat dibedakan dari asam lemak tidak jenuh dengan cara melihat strukturnya. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus hidrokarbonnya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan timbulnya warna merah ketika iod Hubl diteteskan ke asam lemak, lalu warna kembali lagi ke warna awal kuning bening. Warna merah yang kembali pudar menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai hidrokarbon asam lemak. 5. UJI PEROKSIDA Nama kelompok Terhadap Kelompok 1 Minyak kedelai Minyak wijen Minyak tengik Minyak kelapa sawit Gliserol Sampel Warna larutan bawah bening, atas kuning keruh dengan gelembung Kuning bening, tidak ada minyakdi atasnya, bawah bening Warna bening, bawah bening Keruh, ada minyak Uji Peroksida Hasil Warna kuning bening, ada minyak, bawah bening Warna coklat

(lemak kambing) Kelompok 2 Minyak olive Terbentuk 2 lapisan, atas: kuning bening, bawah: kuning keruh Minyak tengik Kelompok 3 Minyak olive Terbentuk 2 lapisan, atas: kuning susu, bawah: lebih keruh dari lapisan atas Terdapat 2 lapisan, bawah: kuning keruh, atas: putih keruh Minyak tengik Terdapat 3 lapisan, bawah: putih bening (encer), tengah: putih keruh, atas: kuning bening Sampel (susu) Kelompok 4 Minyak jagung Minyak tengik Kelompok 5 Minyak tengik Warna awal: kuning bening Warna akhir: terdapat 3 lapisan, atas sedikit kuning, tengah bening, bawah kuning Minyak olive Warna awal: kuning bening Warna akhir: terdapat 3 lapisan, atas orange, tengah bening, bawah orange Sampel (kemiri) Warna awal: putih Warna akhir: putih susu Terdapat 2 lapisan, bawah: putih bening, atas: putih pekat Terbentuk 2 lapisan, atas kuning bening, bawah kuning keruh Bawah endapan putih, atas kuning bening

Kelompok 6

Minyak olive

Ada 2 lapisan, lapisan bawah kuning keruh, lapisan atas putih keruh

Minyak tengik

Ada 3 lapisan, lapisan bawah putih bening, lapisan tengah putih keruh, lapisan ketiga kuning bening

alpukat Kelompok 7 Minyak olive

Warna putih keruh tidak ada lapisan Larutan menjadi 2 lapisan atas bening, bawah kuning bening

Minyak tengik Minyak jagung Minyak kelapa Kelompok 8 Minyak olive

Larutan menjadi 2 lapisan atas kuning bening, bawah keruh seperti ada gumpalan 3 lapisan dari atas kuning jernih, kuning muda, dan keruh Tiga lapisan, bawah jernih kuning, tengah seperti suspensi Adanya lapisan ataskeruh oranye, bawah bening oranye pekat(merah bata)

Minyak tengik

Ada 2 lapisan atas kuning bening, bawah kuning tua bening

Kacang tanah Putih keruh dan terdapat endapan Pembahasan Uji ini untuk menentukan derajat ketidak jenuhan asam lemak. Iodium dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak ikatan rangkap, makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terbentuknya larutan ungu kehitaman yang merupakan uji positif untuk peroksida. Pembentukkan peroksida dapat terjadi tergantung dengan tipe dan jumlah radikal bebas dalam minyak. Pembentukkan peroksida akan bertambah dengan bertambahnya derajat ketidakjenuhan.

F. PEMBAHASAN 1. Uji akrolein digunakan untuk menguji keberadaan gliserin atau lemak. Pada data percobaan, dihasilkan minyak olive, minyak wijen, minyak kelapa, minyak tengik, gliserol, serta sampel santan, alpukat, lemak ayam, lemak sapi, menghasilkan bau tengik.Hal ini dapat terjadi karena dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak menghasilkan aldehid akrilat atau akrolein. Sementara sampel (lemak kambing), sampel susu dan sampel kemiri tidak menimbulkan bau tengik, hal tersebut berarti lemak kambing dan susu berekasi negatif dan tidak membentuk akrolein

Ketika lemak dipanaskan setelah ditambahkan agen pendehidrasi (KHSO4) yang akan menarik air, maka bagian gliserol akan terdehidrasi ke dalam bentuk aldehid tidak jenuh atau dikenal sebagai akrolein (CH2=CHCHO) yang memiliki bau seperti lemak terbakar dan ditandai dengan asap putih. Namun, pada kacang tanah, lemak kambing, susu dan kemiri tidak tercium bau tengik. Padahal menurut teori, kacang tanah memiliki kandungan lemak.

CH2OH HCOH CH2OH +KHSO4

H C=O CH CH2 + H2O

2. Uji Penyabunan Uji penyabunan untuk asam-asam lemak dilakukan dengan menambahkan 10 ml KOH alkoholis 10% kedalam minyak yang hendak diuji, kemudian dikocok. Pencampuran ini menghasilkan larutan berwarna kuning muda yang tidak saling campur. Setelah itu minyak dan KOH alkoholisis 10% dipanaskan diatas penangas air. Pada proses pemanasan ini minyak dapat larut dalam KOH alkoholisis dan larutan berwarna kuning muda kemudian ditambahkan H2O sehingga diperoleh minyak olive, minyak wijen, minyak kelapa, minyak jagung, minyak kedelai, minyak kelapa sawit, minyak kelapa sawit, lemak kambing, lemak sapi, susu, kemiri menghasilkan busa. Dan untuk sampel yang dipakai yakni santan, alpukat dan kacang tanah juga berbusa. Untuk sampel gajih dan margarin tidak menghasilkan busa setelah ditambah H2O. Reaksi yang terjadi dikenal dengan reaksi penyabunan(saponifikasi).

Reaksi ini bertujuan untuk pengambilan asam-asam lemak dari minyak, sehingga dihasilkan campuran sabun dan gliserol yang mudah larut dalam air dan alkohol. Pada pengambilan asam lemak ini, minyak dihidrolisis dengan larutan alkali yaitu KOH (Kalium hidrosida). Proses hidrolisis yang menggunakan basa disebut proses penyabunan. Jumlah mol basa yang digunakan dalam proses penyabunan ini tergantung pada jumlah mol asam lemak. Untuk lemak dengan berat tertentu,jumlah mol asam lemak tergantung pada panjang rantai karbon pada asam lemak tersebut. Apabila rantai karbon itu pendek,maka jumlah mol asam lemak besar,sebaliknya apabila rantai karbon itu panjang,jumlah mol asam lemak kecil. Jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan 1 gram lemak disebut bilangan penyabunan. Jadi besar atau kecilnya bilangan penyabunan ini tergantung pada panjang atau pendeknya rantai karbon asam lemak atau dapat dikatakan juga bahwa besarnya bilangan penyabunan tergantung pada berat molekul lemaktersebut. Makin kecil berat molekul lemak,makain besar bilangan penyabunannya. 3. Uji Salkowski Uji Salkowski merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan kolesterol. Kolestrol paling banyak terdapat pada lipid hewan sedangkan lemak tumbuhan biasanya nonkolesterol. Pada percobaan dihasilkan bahwa kolesterol, margarin terbentuk lapisan warna yakni bagian bawah kuning dan atas coklat kehitaman. Kolesterol dilarutkan dengan kloroform anhidrat lalu dengan volume yang sama ditambahkan asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai pemutus ikatan ester lipid. Pada teori apabila dalam sampel tersebut terdapat kolesterol, maka lapisan kolesterol di bagian atas menjadi berwarna merah dan

asam sulfat terlihat berubah menjadi kuning dengan warna fluoresens hijau (Pramarsh 2008). 4. Uji Ketidakjenuhan Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi Iod Hubl. Berdasarkan percobaan yang dilakukan dihasilkan bahwa yang mengandung asam lemak jenuh adalah minyak olive, minyak wijen, minyak kelapa, santan, minyak olive. Sedangakan minyak jagung, kacang tanah, santan, lemak ayam, lemak kambing, lemak sapi, susu, dan alpukat merupakan asam lemak tak jenuh. Larutan brom dalam kloroform ini digunakan sebagai indikator perubahan. Asam lemak yang diuji ditambah kloroform sama banyaknya. Tabung dikocok sampai bahan larut. Setelah itu, tetes demi tetes pereaksi larutan brom dalam kloroform dimasukkan ke dalam tabung sambil dikocok dan perubahan warna yang terjadi terhadap campuran diamati. Asam lemak jenuh dapat dibedakan dari asam lemak tidak jenuh dengan cara melihat strukturnya. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus hidrokarbonnya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan timbulnya warna merah ketika iod Hubl diteteskan ke asam lemak, lalu warna kembali lagi ke warna awal kuning bening. Warna merah yang kembali pudar menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai hidrokarbon asam lemak. 5. Uji Peroksida Uji ini untuk menentukan derajat ketidak jenuhan asam lemak. Iodium dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak ikatan rangkap, makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terbentuknya larutan ungu kehitaman yang merupakan uji positif untuk peroksida. Pembentukkan peroksida dapat terjadi tergantung

dengan tipe dan jumlah radikal bebas dalam minyak. Pembentukkan peroksida akan bertambah dengan bertambahnya derajat ketidakjenuhan

ANALISA KUANTITATIF A. Tujuan B. Dasar Teori 1. Angka penyabunan Hidrolisa lipid sederhana biasanya dilakukan dengan alkali panas ( penyabunan ), karena umumnya lipid tidak larut dalam air maka hidrolisis alkali berlangsung lambat.

Dari reaksi tersebut menunjukkan bahwa 1 mol alkali diperlukan untuk setiap mol ester yang dihasilkan pada reaksi penyabunan. Jadi jumlah alkali yang diperlukan untuk menghidrolisa sempurna suatu sampel lipid tergantung pada jumlah ikatan ester yang terkandung di dalam molekul sampel tersebut. Pemakaian alkali oleh lipid dinyatakan dengan angka penyabunan. Angka penyabunan adalah banyaknya mg KOH yang dipakai untuk menyabunkan sempurna 1 gr lemak/minyak. Reaksi Penyabunan :

2. Angka Iod

Lipid mengandung berbagai asam lemak tak jenuh yang bereaksi dengan iod. Jumlah iod yang diabsorbsi menunjukkan jumlah ketidakjenuhan dalam lipid. Angka iod adalah banyaknya gram iod yang diabsorbsi oleh 100 gram lipid. Benyaknya iod yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap. Semakin banyak iodium yang digunakan semakin tinggi derajat keidakjenuhan. Biasanya semakin tinggi titik cair semakin rendah kadar asam lemak tidak jenuh dan demikian pula derjat ketidakjenuhan (bilangan iodium) dari lemak yang bersangkutan. Asam lemak jenuh biasanya padat dan asam lemak tidak jenuh adalah cair, karenanya semakin tinggi bilangan iodium semakin tidak jenuh dan semakin lunak lemak tersebut. C. Alat dan Bahan 1. Penentuan Angka Iod Alat-alat - Neraca analitik - Erlemeyer - Gelas ukur Bahan-bahan - Lipid - Kloroform - Larutan iodin hanus - Larutan KI 15 % - Na2S2O3 0,1 N - Larutan kanji 1 % - Statif dan buret - Pipet tetes

2. Penentuan Angka Iod Alat-alat - Neraca analitik - Erlemeyer - Gelas ukur Bahan-bahan - Lipid - Kloroform - Larutan iodin hanus - Larutan KI 15 % - Na2S2O3 0,1 N - Larutan kanji 1 % - Statif dan buret - Pipet tetes

D. Cara Kerja 1. Penentuan Angka Penyabunan

2. Penentuan Angka Iod

0,125 g lemak

5 ml kloroform

15 ml iodine Hanus

Erlemeyer

Didiamkan selama 30 menit sambil sesekali dikocok-kocok

Menambahkan 5 ml KI 15%, mengocok lagi dengan kuat

Menambahkan akuades yang telah dididihkan 50 ml

Larutan Blanko
5 ml kloroform 15 ml iodine Hanus

Erlemeyer

Menambahkan 5 ml KI 15% dan akuades yang telah dididihkan 50 ml

Mentitrasi iodine dengan Na2S2O3 0,1 N sampai warna kuning jerami Menambahkan 1 ml kanji 1%

Meneruskan titrasi

E. Data Hasil Pengamatan 1. Penentuan angka penyabunan a. Sampel lemak kambing Berat sampel lemak kambing Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 b. Sampel kacang tanah Berat sampel kacang tanah : 1,25 gram : 1,25 gram : 21 ml : 13 ml : 11 ml

Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 c. Sampel Santan Berat sampel Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2

: 30 ml : 5 ml : 15 ml

:1,25 gram : 21 ml : 12 ml : 11 ml

d. Sampel Lemak Sapi Berat sampel Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 e. Sampel lemak susu Berat sampel Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 f. Sampel lemak alpukat Berat sampel Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 : 1,25 gram : 39 ml : 13 ml : 1,25 gram : 22 ml : 53 ml : 55 ml : 1,25 gram : 22 ml : 9 ml : 13 ml

Volume titrasi sampel 2

: 20 ml

2. Penentuan angka iod a. Sampel lemak kambing Berat sampel lemak kambing Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 b. Sampel kacang tanah Berat sampel kacang tanah Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 : 0,125 gram : 33 ml : 10 ml : 9 ml : 4 ml : 10 ml : 0,125 gram : 22 ml : 14 ml : 18 ml

c. Sampel Santan Berat sampel Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel d. Sampel Lemak Sapi Berat sampel Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 e. Sampel lemak susu Berat sampel Volume titrasi blanko : 0,125 gram : 32 ml : 0,125 gram : 33 ml : 7,5 ml : 8,5 ml : 0,125 gram : 20 ml : 18 ml

Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2 f. Sampel lemak alpukat Berat sampel Volume titrasi blanko Volume titrasi sampel 1 Volume titrasi sampel 2

: 8,8 ml : 7,2 ml

: 0,125 gram : 33 ml : 30 ml : 32 ml

F. Analisis Data 1. ANGKA PENYABUNAN ( ( ) )

N HCl BM KOH Berat sampel

: 0,5 N : 56 : 1,25 gram

a. Sampel lemak santan ( )

b. Sampel lemak sapi ( )

c. Lemak Kacang tanah Angka Penyabunan 1


( )

= 561

Angka Penyabunan 2
( )

= 336,6 = 448,8

Angka penyabunan rata-rata adalah d. Sampel lemak kambing Angka Penyabunan 1


( )

= 179,52

Angka Penyabunan 2
( )

= 224,4 = 201,96

Jadi, angka penyabunan rata-rata adalah e. Sampel lemak alpukat

Angka Penyabunan 1
( )

= 583,44

Angka Penyabunan 2
( )

= 426,36 = 504,9

Jadi, angka penyabunan rata-rata adalah f. Sampel lemak susu Angka Penyabunan 1
( )

= -695,64

Angka Penyabunan 2
( )

= -740,52
( )

Jadi, angka penyabunan rata-rata adalah

= -718,08

2. Penentuan Angka Iod ( ) ( )

N Na2S2O3= 0,1 N Berat sampel 0,125 gram

a. Sampel santan ( )

b. Sampel lemak sapi ( )

c. Sampel kacang tanah Volume titrasi 1 = 10 ml Volume titrasi 2 = 9 ml Volume titrasi rata-rata = Volume titrasi 1 = 4 ml Volume titrasi 2 = 10 ml Volume titrasi rata-rata = Angka Iod
( )

= 9,5 ml

= 7 ml

= 238,6

Angka Iod
( )

= 263,9

d. Sampel lemak kambing o Larutan sampel Volume titrasi 1 = 14 ml Volume titrasi 2 = 18 ml Volume titrasi rata-rata = o Larutan blanko Volume titrasi blanko = 22 ml Berat sampel = 0, 125 gram o Angka Iod = 16 ml

= 60,9

e. Sampel lemak alpukat Larutan sampel Volume titrasi 1 = 30 ml Volume titrasi 2 = 32 ml Volume titrasi rata-rata = Larutan blanko Volume titrasi blanko = 33 ml Berat sampel = 0, 125 gram Angka Iod
( )

= 31 ml

= 20,3056

f. Sampel lemak susu a. Larutan sampel Volume titrasi 1 = 8,8 ml Volume titrasi 2 = 7,2 ml Volume titrasi rata-rata = b. Larutan blanko Volume titrasi blanko = 32 ml Berat sampel = 0, 125 gram c. Angka Iod
( )

= 8 ml

= 203,056

G. Pembahasan 1. Penentuan Angka Penyabunan

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan angka penyabunan dari sampel lipid. Bilangan penyabunan adalah jumlah milligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan satu gram minyak atau lemak. Sampel lipid yang digunakan adalah santan, lemak sapi, lemak kambing, alpukat, lemak kacang tanah, lemak susu, kemiri danAlat dan bahan yang digunakan yaitu labu refluks, Erlenmeyer, pipet ukur, pipet tetes, buret, statif, lemak/minyak, KOH alkoholis, fenilftalein, dan HCl. Untuk penentuan angka penyabunan, menggunakan sampel minyak/lemak 1,25 gram dan ditambahkan KOH alkoholis 12,5 ml. alcohol dalam KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisis supaya mempermudah reaksi dengan basa sehingga terbentuk sabun. Selanjutnya melakukan refluks larutan sampai benar-benar sempurna. Untuk mengetahui refluks telah sempurna, maka diambil satu tetes campuran lalu memasukkan ke dalam air. Jika air tidak keruh atau bening maka refluks telah sempurna karena sudah tidak mengandung minyak. Cairan tersebut kemudian didinginkan dan dititrasi menggunakan HCl sampai larutan menjadi kuning jerami, lalu menambahkan 3 tetes PP, maka larutan menjadi pink/merah dan cairan tersebut dititrasi kembali sampai larutan kuning jerami. Warna larutan harus sama dengan blanko. Larutan blanko terdiri dari 12,5 ml KOH alkoholis dan 3 tetes pp kemudian dititrasi menggunakan HCl sampai warna larutan menjadi kuning jerami. Larutan sampel dibuat secara duplo. Dari hasil titrasi yang diperoleh kemudian dilakukan analisis data atau perhitungan sehingga diperoleh angka penyabunan, dengan rumus ( ( ) )

Dari hasil perhitungan, diperoleh besar angka penyabunan yaitu Sampel Lemak sapi Lemak santan Lemak kambing Lemak kacang tanah Lemak alpukat Angka penyabunan 246,4 212,8 201,96 448,8 504,9

Lemak susu

-718,08

Tabel angka penyabanan berbagai lemak

Bilangan penyabunan setiap jenis minyak atau lemak berbeda bergantung pada jenis asam lemak yang menyusunnya. Reaksi penyabunan akan terjadi ketika KOH berlebih dalam alcohol ditambahkan ke dalam sejumlah contoh minyak atau lemak. Senyawa alkali tersebut akan bereaksi dengan asam lemak yang terikat dalam molekul trigliserida. Reaksi penyabunan adalah sebagai berikut:

Prinsip pengujian bilangan penyabunan ini adalah menentukan bilangan penyabunan dari suatu jenis minyak atau lemak dari jumlah ml titran (HCl) yang dibutuhkan untuk menetralkan KOH berlebih. Apabila HCl yang dibutuhkan untuk titrasi sedikit, maka jumlah KOH berlebih juga sedikit karena sebagian besar KOH bereaksi dengan asam lemak. Dengan demikian, bilangan penyabunan dari jenis minyak atau lemak tersebut tinggi. Sebaliknya, apabila HCl yang dibutuhkan banyak, maka jumlah KOH berlebih banyak karena hanya sebagian kecil KOH yang bereaksi dengan asam lemak sehingga bilangan penyabunannya juga rendah. Berdasarkan perhitungan, siperoleh angka penyabunan terbesar pada lemak alpukat, dan terendah pada lemak susu. Bilangan penyabunan lemak susu yang lebih rendah dibandingkan dengan lemak alpukat menunjukkan bahwa berat molekul lemak susu lebih tinggi daripada lemak alpukat.

2. Penentuan Angka Iod

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan angka iod dari sampel lipid. Bilangan iod merupakan parameter yang dibutuhkan dalam analisa produk minyak-lemak untuk mengetahui tingkat kejenuhannya. Sampel lipid yang digunakan adalah santan, lemak sapi, lemak kambing, alpukat, .. Alat dan bahan yang digunakan yaitu Erlenmeyer, pipet ukur, pipet tetes, buret, statif, lemak/minyak, kloroform, iodine Hanus, KI 15%, aquades yang telah dididihkan, Na2S2O3 0,1 N, dan larutan kanji. Pada pembuatan larutan sampel, langkah pertama yang dilakukan adalah memasukkan 0,125 gram lemak/minyak sampel ke dalam erlenmeter, kemudian ditambahkan 5 ml kloroform dan 15 ml iodine Hanus, selanjutnya didiamkan selama 30 menit sambil sesekali dikocok. Penambahan kloroform dalam uji iod berfungsi untuk melarutkan minyak atau lemak yang akan diuji. Dalam keadaan larut, minyak atau lemak tersebut akan memiliki luas permukaan reaksi yang lebih besar sehingga lebih mudah bereaksi dengan reagen yang diberikan. Selanjutnya penambahan cairan Hanus yang merupakan persenyawaan iodin bromida akan bereaksi dengan trigileserida di mana iodine akan berikatan dengan trigliserida tersebut dengan memecah ikatan rangkap yang ada. Jumlah ikatan rengkap dalam trigliserida menentukan seberapa banyak atom I yang dapat bereaksi. Setelah 30 menit, kemudian ditambahkan 5 ml KI 15% dan 50ml akuades yang telah didihkan. Kemudian mentitrasi dengan Na2S2O3 0,1 N sampai warna kuning dari larutan hamper hilang, selanjutnya ditambahkan 1ml kanji 1% dan titrasi dilanjutkan sampai warna putih. Penambahan KI akan memecah kembali ikatan iodine dengan trigliserida tersebut sehingga atom I yang sudah berikatan kembali terlepas dan membentuk senyawa I2. Senyawa I2 inilah yang dijadikan representasi jumlah ikatan rangkap pada minyak atau lemak melalui titrasi dengan Na2SO3. Campuran yang mengandung senyawa I2 di dalamnya cenderung memiliki warna kuning. Itulah sebab mengapa setelah dititrasi semakin lama akan terbentuk cairan dengan warna kekuningan. Adapun alasan penambahan amilum atau pati, adalah agar perubahan warna dapat dideteksi dengan mudah sehingga lebih akurat. Amilum akan membuat campuran yang mengandung iodine menjadi berwarna biru, sedangkan perubahan warna akan lebih mudah dideteksi dari biru menjadi bening daripada kuning bening menjadi bening/putih.

Bilangan iod merupakan parameter yang dibutuhkan dalam analisa produk minyak-lemak untuk mengetahui tingkat kejenuhannya. Kejenuhan suatu minyak menandai jumlah ikatan rangkap yang terdapat di dalamnya, menjadi acuan tingkat kemudahan suatu minyak-lemak teroksidasi, sekaligus mengindikasikan tinggi rendah titik cairnya. Semakin jenuh suatu minyak berarti semakin kecil pula jumlah ikatan rangkap dalam molekul trigliseridanya, semakin sulit minyak untuk teroksidasi, dan semakin tinggi titik cairnya. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya. Berikut data hasil percobaan penentuan angka iod: Sampel Sampel lemak sapi Sampel santan Sampel lemak kambing 60,9 Angka Iod

Sampel lemak kacang tanah

238,6 dan 263,9

Sampel lemak alpukat

20,3056

Sampel lemak susu

203,056

Besar angka Iod diperoleh dengan rumus ( ) ( )

Angka iod tertinggi pada lemak kacang tanah, sedangkan terendah pada lemak santan. Hal ini berarti lemak kacang tanah lebih tidak jenuh daripada lemak santan, yang juga berdampak pada titik cairnya yang rendah (encer pada suhu kamar). Sebaliknya minyak yang memiliki bilangan iod paling kecil adalah lemak santan. Hal ini berarti lemak santan merupakan lemak yang paling jenuh di antara minyak yang digunakan

dalam percobaan. Hal ini juga berarti lemak santan merupakan minyak yang memiliki titik cair paling tinggi dan paling sulit teroksidasi.

H. Kesimpulan Angka penyabunan adalah banyaknya mg KOH yang dipakai untuk menyabunkan sempurna 1 gr lemak/minyak. Bilangan penyabunan setiap jenis minyak atau lemak berbeda bergantung pada jenis asam lemak yang menyusunnya. semakin tinggi bilangan iodium semakin tidak jenuh dan semakin lunak lemak tersebut.