Anda di halaman 1dari 24

FILSAFAT

POLITIK

ERA

KONTRAK

SOSIAL:

THOMAS HOBBES, JOHN LOCKE, ZAMAN PENCERAHAN, DAN J.J. ROSSEAU A. THOMAS HOBBES

Thomas Hobbes merupakan seorang pemikir politik yang lahir dan mengalami proses intelektual dalam keadaan sosial politik anarkis pada abad ke XVII. Sejak lahir sampai akhir hidupnya, terjadi perang sipil dan perang agama, konfrontasi antara raja dengan dewan rakyat terjadi tanpa henti-hentinya. Kekerasan kekejaman, dendam dan ketakutan akibat peperangan agama dan perang sipil di Inggris mewarnai kehidupan Thomas Hobbes. Riwayat kehidupan Thomas Hobbes, seperti, melukiskan dirinya sebagai saudara kembar rasa ketakutan. Thomas Hobbes dilahirkan dalam kondisi premature. Dengan rasa ketakutan semakin dekatnya Armada Spanyol ke kawasan Inggris, begitu mencekam perasaan ibunya. Ketakutan mencekam itulah yang memaksa Thomas Hobbes lahir ke dunia. Pada waktu ia lahir, Ratu Elisabeth I Sedang sibuk menaklutkan kelompok agama Katolik

Hobbes menyatakan bahwa secara kodrati manusia itu sama satu dengan lainnya. Masing-masing mempunyai hasrat atau nafsu (appetite) dan keengganan (aversions), yang menggerakkan tindakan mereka. Appetites manusia adalah hasrat atau nafsu akan kekuasaan, akan kekayaan, akan pengetahuan, dan akan kehormatan. Sedangkan aversions manusia adalah keengganan untuk hidup sengsara dan mati.

Hobbes menegaskan pula bahwa hasrat manusia itu tidaklah terbatas. Untuk memenuhi hasrat atau nafsu yang tidak terbatas itu, manusia mempunyai power. Oleh karena setiap manusia berusaha untuk memenuhi hasrat dan keengganannya, dengan menggunakan power-nya masingmasing, maka yang terjadi adalah benturan power antarsesama manusia, yang meningkatkan keengganan untuk mati.

Hobbes menyatakan bahwa dalam kondisi alamiah, terdapat perjuangan untuk power dari manusia atas manusia yang lain. Dalam kondisi alamiah seperti itu manusia menjadi tidak aman dan ancaman kematian menjadi semakin mencekam.

Karena kondisi alamiah tidak aman, maka dengan akalnya manusia berusaha menghindari kondisi perang-satu-dengan-lainnya itu dengan menciptakan kondisi artifisial (buatan). Dengan penciptaan ini manusia tidak lagi dalam kondisi alamiah, tetapi sudah memasuki kondisi sipil. Caranya adalah masing-masing anggota masyarakat mengadakan kesepakatan di antara mereka untuk melepaskan hak-hak mereka dan menstransfer hak-hak itu kepada beberapa orang atau

lembaga yang akan menjaga kesepakatan itu agar terlaksana dengan sempurna. Untuk itu orang atau lembaga itu harus diberi hak sepenuhnya untuk menggunakan semua kekuatan dari masyarakat. Beberapa orang atau lembaga itulah yang memegang kedaulatan penuh. Tugasnya adalah menciptakan dan menjaga keselamatan rakyat (the safety of the people) [Hobbes: hal. 376]. Masyarakat sebagai pihak yang menyerahkan hak-hak mereka, tidak mempunyai hak lagi untuk menarik kembali atau menuntut atau mempertanyakan kedaulatan penguasa, karena pada prinsipnya penyerahan total kewenangan itu adalah pilihan paling masuk akal dari upaya mereka untuk lepas dari kondisi perang-satu-dengan-lainnya yang mengancam hidup mereka. Di lain pihak, pemegang kedaulatan mempunyai seluruh hak untuk memerintah dan menjaga keselamatan yang diperintah itu. Pemegang kedaulatan tidak bisa digugat, karena pemegang kedaulatan itu tidak terikat kontrak dengan masyarakat. Jelasnya, yang mengadakan kontrak adalah masyarakat sendiri, sehingga istilahnya adalah kontrak sosial, bukan kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah.

Untuk terselenggaranya perdamaian maka menurut Thomas Hobbes, manusia-manusia itu lalu mengadakan perjanjian, yang disebut perjanjian masyarakat, untuk membentuk suatu masyarakat yang selanjutnya negara, di mana setiap orang dalam negara itu dapat bekerja untuk memiliki sesuatu dan tidak selalu terancam jiwanya.

Menurut Thomas Hobbes perjanjian masyarakat sifatnya langsung, artinya orang-orang yang menyelenggarakan perjanjian itu langsung menyerahkan atau melepaskan haknya atau kemerdekaannya kepada raja. Jadi, tidak melalui masyarakat. Raja berada di luar perjanjian, jadi tidak merupakan pihak dalam perjanijian itu dan mempunyai kekuasaan yang absolute. Sedangkan sebab adanya perjanjian itu sendiri adalah rasa takut yang ada pada tiap-tiap manusia bahwa keselamatannya selalu terancam. Jadi, pengikatnya adalah nasib. (Soehino, 2005:100) B. JOHN LOCKE

Locke dilahirkan tahun 1632 di Wrington, Inggris. Dia memperoleh pendidikan di Universitas Oxford, peroleh gelar sarjana muda tahun 1656 dan gelar sarjana penuh tahun 1658. Selaku remaja dia tertarik sangat pada ilmu pengetahuan dan di umur tiga puluh enam tahun dia terpilih jadi anggota Royal Society. Dia menjadi sahabat kental ahli kimia terkenal Robert Boyle dan kemudian hampir sepanjang hidupnya jadi teman dekat Isaac Newton. Kepada bidang kedokteran pun dia tertarik dan meraih gelar sarjana muda di bidang itu meskipun cuma sekali-

sekali

saja

berpraktek.

Locke menyandarkan kewajiban politik pada kontrak sosial. Ia memulai risalahnya tentang filsafat politik dengan menempatkan keadaan alamiah asli yang ia sebut sebagai komunitas umat manusia alamiah yang besar. Kondisi ini, demikian ia menggambarkannya, adalah kondisi hidup bersama di bawah bimbingan akal tetapi tanpa otoritas politik. Meskipun keadaan alamiah adalah keadaan kemerdekaan, ia bukan keadaan kebebasan penuh. Ia juga bukan masyarakat yang tidak beradab, tetapi masyarakat anarki yang beradab dan rasional.

Locke mengakui perlunya beberapa aturan hukum lain selain yang ada bersifat moral karena hukum alam, sebagaimana hukum-hukum lain yang mengatur manusia di atas bumi, akan siasia jika tidak ada orang dalam keadaan alamiah yang mempunyai kekuasaan untuk melaksanakan hukum tersebut, dan juga untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah serta mencegah orang-orang yang ingin menyerang.

Dalam sistem sosial yang tergantung pada pelaksanaan sendiri dan hukum alam tersebut terdapat beberapa cacat, seperti pertama terdapat kebutuhan akan pelaksanaan hukum yang mapan, diketahui, yang diterima dan disetujui oleh kesepakatan bersama untuk menjadi standar benar dan salah, dan tindakan bersama untuk memutuskan semua pertentangtan di antara mereka; dan kedua, terterdapat kebutuhan akan hakim yang dikenal dan adil dengan otoritas memutuskan semua perselisihan menurut hukum yang baku. Di bawah kondisi seperti ini upaya manusia untuk menikmati hak pribadi dan hak miliknya menjadi tidak pasti dan tidak aman. Meskipun mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam keadaan alamiah, berbagai kekurangan dari kondisi tersebut mendorong manusia untuk bersatu dalam masyarakat politik.

Menurut John Locke, untuk menjamin terlaksananya hak-hak asasi manusia, manusia lau menyelenggarakan perjanjian masyarakat untuk membentuk masyarakat yang selanjutnya negara. Dalam perjanjian itu, orang-orang menyerahkan hak-hak alamiahnya kepada masyarakat, tetapi tidak semuanya. Masyarakat ini kemudian menunjuk seorang penguasa, dan kepada penguasa ini kemudian diberikan wewenang untuk menjaga dan menjamin terlaksananya hakhak asasi manusia tadi. Tetapi di dalam menjalankan tugasnya ini kekuasaan penguasa adalah terbatas. Yang membatasi adalah hak-hak asasi tersebut. Artinya, di dalam menjalankan kekuasaannya itu penguasa tidak boleh melanggar hak-hak asasi manusia. (Soehino, 2005:108) John Locke menjelaskan bahwa memang ada kontrak sosial antara rakyat dengan penguasa dalam mengelola perihal kenegaraan dan kewargaan. Untuk menjalankan hal taresebut, maka

negara pantas memiliki kekuasaan besar. Tetapi kekuasaan itu ada batasnya. Batasannya menurut John Locke adalah hak alamiah manusia yang melekat semenjak manusia itu lahir. Di antaranya adalah hak untuk hidup, hak atas kemerdekaan, hingga hak atas milik pribadi. (Leo Agustino, 2008:37). Locke melanjutkan, pemisahan kekuasaan harus dillakukan ke dalam tiga institusi besar, yakni: (i) lembaga legislatif, lembaga yang merumuskan berbagai kebijakan; (ii) lembaga eksekutif, sebagai lembaga yang mengimplementasikan atau menjalankan kebijakan-kebijakan yang telah dirumuskan dan ditetapkan oleh parlemen; dan (iii) lembaga federative, sebagai wujud adanya interaksi hubungan negara lain. Sistem yang ditawarkan Locke kemudian dikenal dengan istilah Monarki Beberapa sifat Konstitusional dari kontrak atau sosial Locke Monarki perlu Parlementer. dicatat, yaitu:

Pertama, prinsip yang mengerakkan di balik persetujuan ini bukanlah rasa takut akan kehancuran tetapi keinginan untuk menghindari gangguan keadaan alamiah. Orang-orang tidak lari dari kesulitan hidup dengan mencari perlindungan di balik kekuatan semua penguasa yang kuat. Kedua, individu tidak meneyrahkan kepada komunitas tersebut hak-hak alamiahnya yang substansial, tetapi hanya hak untuk melaksanakan hukum alam.

Ketiga, hak yang diserahkan oleh individu. Locke mendaftar empat pembatasan khusus dari kekuasaan legislatif: (1) ia wajib mengikuti hukum alam yang menjadi hukum abadi bagi semua orang, baik pembuat hukum atau orang lain; (2) Ia harus bertindak sesuai dengan hukum dan tidak boleh sewenang-wenang; (3) Ia tidak bisa menetapkan pajak terhadap harta milik rakyat tanpa persetujuan mereka; dan (4) Ia tidak mendelegasikan kekuasaan membuat hukum kepada pihak lain. pembatasan yang ditempatkan oleh Locke ini menunjukkan betapa kayanya gudang ide yang dikemukakannya bagi pemikiran politik Amerika.

(http://seedhieqz.wordpress.com/2010/02/02/pemikiran-politik-zaman-pencerahan-danreformasi-antara-hobbes-dan-locke/) Locke yakin bahwa perlindungan milik adalah tugas pokok, jika bukan satu-satunya, dari negara. Locke menjelaskan bahwa ketika ia menggunakan istilah properly (milik) yang ia maksudkan adalah kehidupan, kebebasan dan estate. Namun demikian, ia menempatkan hak milik pada tanah dan barang-barang pada kedudukan tertinggi di antara hak-hak prerogatif lainnya Locke berpendapat bahwa pemerintahan sipil tidak perlu jika tidak karena adanya gangguan alamiah gangguan yang menghalangi manusia dalam menikmati gak dan miliknya. Jadi, tugas

dan fungsi negara adalah kekuasaan yang terorganisir untuk menjamin keteraturan dan menyelesaikan perselisihan. Pemerintah juga turut wajib untuk melindungi milik, menjaga keteraturan menyediakan lingkungan yang aman di mana individu-individu bisa mencapai tujuan mereka dengan bebas.

Sebagaimana yang dinyatakan Locke, jika kekuasaan sipil dibatasi oleh hukum alam, hasil logis dan akhir dari filsafat politiknya pasti tergantung pada pemahamannya terhadap watak hukum ini. Locke berpendirian bahwa terdapat ketentuan moral tertentu yang ditetapkan oleh Tuhan yang bersifat valid, terlepas apakah ia diketahui oleh pemerintah atau tidak. Pendekatan Locke terhadap pengetahuan manusia, lebih khususnya pada kemampuan manusia untuk mengetahui hukum moral, sangat dibatasi. Empirisme Locke yang kaku menyebabkan menolak setiap habitus prinsip-prinsip moral dalam diri manusia dan menolak bahwa hukum alam bisa diketahui dan kecenderungan alamiahmanusia pada kebenaran dan kebajikan. C. ERA ZAMAN PENCERAHAN

Abad Pencerahan (Age of Enlightenment dalam literatur berbahasa Inggris) adalah suatu masa di sekitar abad ke-18 di Eropa yang diketahui memiliki semangat revisi atas kepercayaankepercayaan tradisional. Bertolak dari pemikirian ini, masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi dan pemikiran ilmiah. Semangat ini kemudian ditularkan pula kepada kolonikoloni Bangsa Eropa di Asia, termasuk Indonesia. Contoh nyatanya adalah pendirian Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Museum Gajah), suatu perhimpunan untuk menelaah ditinjau dari riset-riset ilmiah.

Zaman pencerahan di Eropa pada abad ke 18 sering dikaitkan dengan kemodernan Eropa, baik pemikiran maupun institusi politik dan sosial. Sebagai contoh, Revolusi Perancis yang tercetus pada 1789, dikatakan, sebagai pengaruh filsafat pencerahan, termasuk para filsof perancis, seperti Voltire, Holbach, DAlembert dan lainnya. Dimana perubahan pemikiran telah membawa kepada perubahan sosial dan institusional yang kemudian membawa eropa pada era modern. Menurut Immanuel Kant, pencerahan adalah bangkitnya manusia dari rasa ketidakmatangan. Orang-orang yang tercerahkan selalu berpikir ke depan dan selalu memikirkan kemungkinan yang lebih baik dari kondisi yang ada. Karena itulah mereka berani menggunakan pemahamannya sendiri dan membuang jauh-jauh pandangan-pandangan dari masa silam yang tak lagi relevan.

Perlu kita ketahui bahwa perubahan tersebut tidak terjadi dengan serta-merta, melainkan

didahului oleh beberapa rentetan peristiwa yang saling berkaitan satu sama lain, seperti zaman Renaissance dan gerakan Reformation di abad 16, juga Revolution of Science di abad ke 17. Rentetan atau rangkaian proses ini, kemudian disebut Rationalization oleh Max Weber. Rationalization terlihat pada adanya reinterpretasi agama katolik, rasionalisasi agama, bahkan, bagi kalangan tertentu, adalah penolakan agama, seperti filsafat ateis-nya David Hume dan DHolbach. Dalam Abad Pencerahan, fungsi dan peran negara berwajah multi. Namun dari kesemua pandangan tentang negara yang meluber pada Abad Pencerahan dapat kita tarik benang merah ide yang tertuang, yakni negara mengada demi kepentingan dan keuntungan rakyat itu sendiri. Misalnya apa yang disampaikan oleh Thomas Hobbes, mengenai pentingnya peran negara dalam menekan perseteruan manusia yang pada dasarnya memiliki state of nature (keadaan alamiah) yang negatif (senang berperang, rakus kekuasaan, keji, senang melukai, iri, pendusta, korup, dan lain-lain). D. J.J. ROSSEAU

Seperti halnya Hobbes dan Locke, Rousseau memulai analisisnya dengan kodrat manusia. Pada dasarnya manusia itu sama. Pada kondisi alamiah antara manusia yang satu dengan manusia yang lain tidaklah terjadi perkelahian. Justru pada kondisi alamiah ini manusia saling bersatu dan bekerjasama. Kenyataan itu disebabkan oleh situasi manusia yang lemah dalam menghadapi alam yang buas. Masing-masing menjaga diri dan berusaha menghadapi tantangan alam. Untuk itu mereka perlu saling menolong, maka terbentuklah organisasi sosial yang memungkinkan manusia bisa mengimbangi alam.

Seperti yang dikemukakan Rousseau bahwa manusia memiliki kebebasan penuh dan bergerak menurut emosinya. Kedaaan tersebut sangat rentan akan konflik dan pertikaian. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, manusia mengadakan ikatan bersama yang disebut kontrak sosial. Rousseau berpendapat bahwa negara merupakan bentuk nyata dari kontrak sosial. Individuindividu di dalamnya sepakat untuk menyerahkan sebagian dari hak-haknya untuk kepentingan bersama melalui pemberian kekuasaan kepada pihak-pihak tertentu di antara mereka. Kekuasaan tersebut digunakan untuk mengatur, mengayomi, menjaga keamanan maupun harta benda mereka. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai kedaulatan rakyat.

Hal yang pokok dari perjanjian masyarakat adalah menemukan suatu bentuk kesatuan yang

membela dan melindungi kekuasaan bersama di samping kekuasaan pribadi dan milik dari setiap orang, sehingga karena itu semuanya dapat bersatu. Akan tetapi, meskipun demikian masingmasing orang tetap mematuhi dirinya sendiri, sehingga orang tetap merdeka dan bebas seperti sedia kala. Pikiran inilah yang menjadi dasar dari semua pendapat-pendapat atau ajaran-ajaran selanjutnya. (Soehino, 2005:119)

Perbedaan teori kontak sosial dalam pandangan Hobbes dan Rousseau adalah Hobbes menyatakan bahwa setelah negara terbentuk sebagai suatu kontrak sosial, negara tidak terikat lagi dengan individu tetapi individulah yang terikat dengan negara dengan kata lain, negara dapat berbuat apa saja terhadap individu. Berbeda dengan Hobbes, Rousseau berpendapat bahwa negara adalah berasal dari kontrak sosial antara individu jadi negara merupakan representasi kepentingan individu-individu di dalamnya, negara harus berusaha mewujudkan kehendak umum bila kehendak itu diabaikan oleh negara, rakyat dapat mencabut mandatnya terhadap penguasa. Rousseau mendambakan suatu sistem pemerintahan yang bersifat demokrasi langsung di mana rakyat menentukan penguasa atau pemimpin mereka, membuat tata negara dan peraturan secara langsung. Demokrasi langsung hanya dapat dilaksanakan pada wilayah yang tidak terlalu luas . Menurut Roussau keanekaragaman pemerintahan di dunia adalah baik karena biasanya mengakomodasikan kepentingan beranekaragam bentuk, tradisi dan adat istiadat masyarakat yang berbeda-beda. Klasifikasi pemerintahan dan kriteria tolak ukur negara menurut Rousseau dapat dilihat berdasarkan jumlah mereka yang berkuasa.

Bila kekuasaan dipegang oleh seluruh atau sebagian besar warga negara (citizen magistrates lebih banyak dari ordinary privat citizen), maka bentuk negara tersebut adalah demokrasi. Tetapi bila kekuasaan dipegang oleh beberapa penguasa (ordinary privat citizen lebih banyak dari citizen magistrates) maka negara tersebut berbentuk aristokrasi. Apabila negara tersebut hanya terpusat pada satu orang penguasa, maka negara tersebut berbentuk monarki.

Rousseau juga berpendapat bahwa mungkin nanti terdapat bentuk negara campuran yang memadukan sistem dan bentuk negara demokrasi, aristokrasi dan monarki.

1. Thomas Hobbes Hobbes (1588-1679) hidup pada kondisi negaranya sedang kacau balau karena Perang Saudara; bahwa Hobbes menginginkan negaranya stabil dan Hobbes mempunyai ikatan karier dan politik dengan kalangan kerajaan, sehingga dalam persaingan kerajaan versus parlemen Hobbes memihak kerajaan dan antiparlemen yang dianggap sumber utama perang saudara. Hobbes justru tiba pada simpulan yang memberikan dasar pembenar pada model pemerintahan yang otokratik. Menurut Hobbes, yang hidup seabad sebelum Rousseau, dalam keadaan alami sebelum terbentuknya masyarakat negara setiap individu manusia akan berkebebasan secaratanpa batas. Dalam kehidupan natural-state itu, setiap individu manusia memiliki kebebasan untuk berbuat macam apapun dan/atau untuk menghaki objek macam apapun juga. Kebebasan tanpa batas seperti itu, wajarlah kalau akan berkonsekuensi pada terjadinya perkelahian oleh semua terhadap semua, bellum omnium contra omnes, dan setiap manusia akan berlaku sebagai serigala bagi sesamanya; homo homini lupus!Maka, demikian menurut penalaran Hobbes, situasi yang tidak menguntungkan ituhanya akan dapat diatasi apabila manusia-manusia yang masing-masing berkebebasan dalam keadaan alami itu bersedia membentuk suatu komunitas politik lewat suatu kontrak sosial. Lewat kontrak sosial itu, individu-individu manusia akan dapat menikmati hak-haknya sebagai warga komunitas, asal saja mereka bersedia untuk berlaku patuh pada hokum yang berhakikat sebagai hasil kesepakatan kontraktual, dan juga untuk tunduk mutlak kepadapenguasa yang bertugas menegakkan hasil kesepakatan kontraktual. Karena sang penguasa ini berposisi sebagai pihak ketiga yang bukan partisipan kontrak sosial, maka sang penguasa ini tak akan sekali-kali terikat pada kontrak sosial tersebut. Dari sinilah datangnya simpulan Hobbes, sebagaimana yang ia tulis dalam bukunya yang berjudulLeviathan, bahwa kontrak sosial yang bertujuan menjaga tertib sosial dengan memberikan mandat penuh kepada penguasa itu akan membenarkan penyelenggaraan pemerintahan otokratik yang absolut. Hobbes memulai dengan bertanya bagaimana jika tidak ada aturan-aturan sosial atau mekanisme yang sudah lazim diterima untuk menegakkan aturan-aturan tersebut. Dalam situasi ini, tiaptiap orang bebas berbuat semaunya. Hobbes menyebut situasi ini sebagai keadaan alam semesta (the state of nature). Lalu, apakah yang akan terjadi? Bagi Hobbes, keadaannya akan menakutkan. Mengapa demikian? Jawab Hobbes, masalahnya bukan karena manusia itu jelek,

melainkan karena empat fakta dasar menyangkut kondisi kehidupan manusia: (1). Kesamaan kebutuhan; (2). Kelangkaan; (3). Kesamaan esensial dalam kekuatan/kemampuan manusia; (4). Altruisme yang terbatas (Even if people are not wholly selfish, they nevertheless care very much about themselves; and you cannot simply assume that whenever your vital interest conflict with their vital interests, they will step aside).

Pemikiran Thomas Hobbes Thomas Hobbes hidup pada masa yang paling penuh gejolak kali dalam sejarah Eropa akibatnya, seharusnya tidak mengejutkan bahwa teori-teorinya itu benar-benar pesimis mengenai sifat manusia.

. Lahir dekat Malmesbury, awal kematian ayahnya, seorang pendeta lokal miskin, muda membawa Thomas Hobbes di bawah asuhan pamannya kaya nya. Pada usia empat belas tahun, ia masuk Magdalen College, Oxford, dan meraih gelar BA lima tahun kemudian. Dalam 1608, ia memperoleh jabatan sebagai guru bagi anak William Cavendish, Pangeran Devonshire. Ini memberikan dia waktu untuk mengabdikan dirinya kepada Classics. Aristotlean kecewa oleh akrobat, dengan penuh semangat merangkul Hobbes sejarawan Thucydides (buku yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam 1628). Setelah tur pertama di Eropa pada tahun 1610, ia berkenalan dengan Francis Bacon. Namun, ia hanya menjadi dikonversi kepada pandangan ilmiah di 1630s, setelah digoda oleh Euclids Geometry dan hobnobbing dengan ilmuwan Eropa (khususnya, lingkaran dari Abb Mersenne) selama tur ke benua.

. Hobbes sangat terpesona oleh visi reverse Galileo dinamika. Bertentangan dengan Buridan, Galileo menyatakan bahwa keadaan alami objek adalah salah satu gerak, bukannya istirahat. Things, dia berargumen selalu pindah kecuali sesuatu yang menghentikan mereka. Setelah bertemu Galileo pada 1636, Hobbes berusaha untuk menerapkan ide ini untuk filsafat sosial komprehensif. Dia membayangkan hal ini dalam tiga bagian. Dalam bagian pertama, dari tubuh, ia akan menghubungkan hukum gerak umum, dalam kedua, Manusia, ia akan menunjukkan bagaimana manusia dapat dianggap sebagai gerakan tubuh (termotivasi oleh sensasi, keinginan, selera, dll) dan bagaimana mereka dipengaruhi oleh gerakan eksternal; di bagian ketiga, Warga Negara, ia akan memberikan hasil yang dinamis ini interaksi manusia pada tubuh politik. . Mengingat eskalasi peristiwa antara Raja dan Parlemen di Inggris, Hobbes memutuskan untuk membalik urutan penampilan buku. Pada 1640, ia menerbitkan Elements (1640), yang berisi sketsa bagian kedua dan ketiga. Seperti bukunya tampaknya mendukung Raja terhadap klaim Parlemen, Hobbes mulai takut untuk kesejahteraan, dan sebagainya, kemudian pada tahun yang sama, berangkat ke Paris, di mana ia akan tetap bersembunyi selama sebelas tahun. Hobbes masuk ke dalam orbit lingkaran Mersenne sekali lagi dan, untuk beberapa waktu, menjabat sebagai guru matematika muda, pangeran pelarian yang kemudian menjadi Raja Charles II. Pada tahun 1642, Hobbes De Cive keluar, yang lebih rinci dan analisis formal dari bagian ketiga

dari skema. Melihat bahwa dampak itu kecil di Inggris, Hobbes berangkat menulis risalah baru yang akan menjelaskan teori yang lebih down-to -bumi cara. Hasilnya adalah Leviathan (1651). Adalah karya Hobbes jelas. Manusia tidak secara alami baik, Hobbes menyatakan, tetapi secara alami hedonis yang egois - dari tindakan sukarela dari setiap orang, tujuannya adalah baik untuk dirinya sendiri. Seperti motif manusia itu, dalam keadaan alam, dipandu oleh kurang beradab kepentingan pribadi, ini bisa, jika dibiarkan, memiliki konsekuensi yang sangat merusak. Waktu tidak terkendali, manusia, didorong oleh dinamika internal mereka, akan kecelakaan terhadap satu sama lain. Hobbes mencoba untuk membayangkan apa yang akan masyarakat seperti dalam keadaan alamiah - sebelum negara sipil atau supremasi hukum. despiriting Kesimpulannya adalah: hidup akan menyendiri, miskin, keji, kasar dan pendek, sebuah perang bagi setiap orang melawan setiap orang.

. Namun, karena semua orang sama (secara fisik bukan moral), yang memiliki cinta yang penuh gairah hidup (kanan alam) dan beberapa derajat rasionalitas (hukum alam), Hobbes menyimpulkan bahwa yang layak, bekerja masyarakat akan timbul sebagai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang bersaing ini. Logikanya sederhana. Setiap orang yang benar alam membenarkan kekerasan terhadap orang lain. Akibatnya, dalam kepentingan kelangsungan hidup pribadi, orang akan datang sekitar untuk menyetujui bahwa mereka harus melepaskan hak mereka untuk menggunakan kekerasan. Namun, ini menghasilkan sebuah ekuilibrium tegang dan tidak stabil. Pada saat salah satu pihak menyimpang dari janji mereka, semua akan menyimpang dan perang ulang.

. Untuk menjaga masyarakat akan dengan kedamaian dan keyakinan, maka kecerdasan - sebuah Leviathan - harus bekerja ke dalam kontrak sosial. Leviathan ini adalah Negara - baik dalam bentuk monarki mutlak atau parlemen yang demokratis, tidak apa-apa . Yang penting adalah bahwa Negara akan diberikan sebuah monopoli atas kekerasan dan otoritas mutlak. Sebagai balasannya, Negara berjanji untuk melaksanakan kekuasaan mutlak untuk mempertahankan keadaan damai (dengan cara menghukum deviants, dll) Menyadari bahwa kekuatan tergantung sepenuhnya pada kemauan warga untuk menyerahkan mereka, Negara itu sendiri akan memiliki insentif untuk tidak menyalahgunakan itu. Tentu saja, tidak ada jaminan bahwa tidak akan. Tapi ketika itu terjadi, itu harus menguatkan diri untuk konsekuensinya.

. Salah satu elemen menarik Hobbes cerita ini adalah bahwa konsep-konsep seperti moralitas, kebebasan, keadilan, properti, dll tidak memiliki alam, makna intrinsik atau abadi. Mereka

adalah murni konstruksi sosial. Mereka yang dihasilkan dan yang dipaksakan oleh Leviathan, melalui undang-undang dan lembaga, untuk menjaga perang dan kekacauan sosial di teluk. Seperti sejarah telah menunjukkan, tidak ada seperangkat nilai-nilai akan bertahan selamanya tetapi akan berkembang sebagai perubahan keadaan.

Hobbes sangat tertarik untuk dicatat bahwa hukum itu sendiri sangat tergantung pada kekuasaan. Sebuah hukum tanpa yang kredibel dan otoritas kuat di baliknya adalah hanya semata-mata bukanlah hukum dalam arti yang bermakna. Hobbes dengan demikian salah satu dari nenek moyang positivisme hukum, yaitu bahwa keadilan adalah apa pun yang dikatakan hukum itu. Sebuah hukum tidak adil hanyalah sebuah oxymoron. . Dalam konteks usia, teori Hobbes tampaknya DPR berpendapat bahwa pemberontakan itu tidak sah selama Charles menjadi raja. Tapi begitu kepala Raja Charles I jatuh, maka semua pemberontakan terhadap DPR menjadi tidak sah. Bagi Hobbes, kekuasaan legitimasi, kekuasaan adalah keadilan. Negara - apa pun bentuknya - adalah selalu, menurut definisi, benar, asalkan mampu menjaga perdamaian sipil. . Dituduh sebagai pembelot oleh royalis pengasingan di Perancis, Hobbes kembali ke Inggris segera setelah penerbitan Leviathan dan memperkenalkan dirinya di hadapan Dewan Negara. Tak lama kemudian, ia menerbitkan dua volume lainnya dari trilogi filosofis - De corpore (1655 ) dan De homine (1657).

. Untuk sebagian besar, berusaha hidup Hobbes menarik perhatian di London, tapi ia segera ditarik ke agak serangkaian debat bertele-tele. Yang pertama adalah dengan John Bramall, uskup Derry, tentang masalah kehendak bebas (lihat 1654, 1658 , 1682). Pada 1655, Hobbes telah menyatakan untuk dapat menyimpulkan luas lingkaran dengan integrasi. Para matematikawan John Wallis penolakan klaim-klaimnya dan Hobbes pergi pada melawan, menerbitkan serangkaian traktat (1656, 1657) mencela Wallis dan yang baru metode analisis matematis. Pada tahun 1661, ia melebar serangan untuk memasukkan Robert Boyle dan belum berpengalaman Royal Society. Hobbes disebut gencatan senjata dengan Mr Hobbes Considered (1662). Hobbes Dianggap (1662).

Setelah Restorasi 1660, Raja Charles II membuat Hobbes yang intim dan diberikan kepadanya sebagai uang pensiun. Dalam kebingungan setelah Kebakaran Besar 1666, Dewan Perwakilan Hobbes Leviathian ditempatkan pada bill of melarang buku-buku. Melalui campur tangan raja, RUU tidak lulus melalui para Penguasa, tetapi untuk selanjutnya, sang raja meminta agar dokter hewan Hobbes publikasi nya dengan dia dulu. Hobbes mematuhi dan sebagian besar karya

politik tersisa diterbitkan setelah kematiannya. Dua dari mereka layak disebutkan secara khusus: 1681 nya Dialog Common Law menyerang kerajaan dan mempertahankan hak prerogatif dan 1682 Behemoth, sejarah yang kontroversial Long Parlemen dan Perang Saudara. Nya tahuntahun terakhir dihabiskan di otobiografinya menulis dan menerjemahkan Illiad dan Odyssey dari Homer. Umumnya dianggap sebagai salah satu yang paling menonjol hukum alam filsuf abad ke-17, Hobbes punya dampak yang sangat besar Inggris berikutnya politik, sosial dan teori ekonomi. Kontrak Benthams utilitarianisme memiliki unsurSosial

Karena individu cenderung mencari perdamaian bagi kelangsungan dirinya dan karena akal menetapkan bahwa kehidupan yang teratur mungkin selama masih berlangsung keadaan alamiah, jelas manusia harus menemukan cara-cara yang bisa melepaskan mereka dari kondisi primitifnya. Menurut ajaran kedua hukum alam Hobbes manusia bisa menjamin penjagaan diri mereka hanya mereka bersedia membuat perjanjian dengan orang lain dengan menghapuskan hak alamiah absolut mereka pada semua hal.

Akan tetapi Hobbe tetap berasumsi bahwa manusia tidak dapat dipercaya karena memiliki kaadaan alamiah yang menyimpang. Oleh karena itu dia kembali

Unsur Hobbes hedonisme. Tentu saja, idenya mengenai keseimbangan sosial antara bertentangan dengan kepentingan diri sendiri adalah jelas mencolok dalam berbagai aspek dari Adam Smith (Smith walaupun kurang bersedia memberikan sedikit motivasi hedonistik) dan sisanya ke ekonomi modern. Hayek . Bagian terakhir tentang munculnya endogen dan evolusi moral dan norma-norma sosial itu mencubit oleh kedua Hume dan Hayek. Tandingan untuk Hobbes John Locke dan semakin optimis Prancis tradisi, terutama Jean-Jacques Rousseau dan inggris alterego, William Godwin.

TEORI KONTRAK SOSIAL DARI J.J. ROUSSEAU

Jean Jacques Rousseau (1712-1778), dilahirkan di Jenewa dalam keindahan pegunungan Alpen, dia dikenal termasuk pada golongan romantik, yaitu kecenderungan mendahulukan emosi daripada pemikiran atau kegunaan. Golongan ini dengan slogannya kembali ke alam, lebih menyukai suasana desa yang asri dan indah daripada suasana kota yang bising dan menjemukkan.

.....

Ibunya meninggal saat ia bayi dan ia diasuh oleh saudara ibunya dan ayahnya yang miskin. Masa kecilnya tidak begitu indah ketika meninggalkan sekolah pada umur 12 dan pada gilirannya meninggalkan Jenewa pada umur 16. Hidup Rousseau memang sangat aneh, juga ia memiliki kepribadian yang aneh pula. Ia adalah orang yang penuh perasaan, semangat, dan sangat blakblakan tentang dirinya. Apa yang dilihat orang lain, walaupun sejelek apapun, adalah pribadi sebenarnya darinya. Sifat ini dapat diamati dari bukunya yang berjudul Le Confessions (Pengakuan).

Kontrak

Sosial

Rousseau

Rousseau dengan romantik-nya dalam mengamati pendirian negara dan masyarakat juga dapat kita lihat pada bukunya Du Contrat Social (Perjanjian Sosial). Tulisan ini menggambarkan semangat kembali ke alam pedesaan yang asri, dengan meninggalkan perkotaan, perdagangan, industri, uang, dan kemewahan. Namun, Rousseau tidak asal menolak kota, ia setuju arti kota pada Yunani Kuno.

Dalam bukunya, Rousseau berpendapat bahwa dalam mendirikan negara dan masyarakat kontrak sosial sangat dibutuhkan. Namun, Rousseau berpendapat bahwa negara dan masyarakat yang bersumber dari kontrak sosial hanya mungkin terjadi tanpa paksaan. Negara yang disokong oleh kemauan bersama akan menjadikan manusia seperti manusia sempurna dan membebaskan manusia dari ikatan keinginan, nafsu, dan naluri seperti yang mencekamnya dalam keadaan alami. Manusia akan sadar dan tunduk pada hukum yang bersumber dari kemauan bersama. Kemauan bersama yang berkwalitas dapat mengalahkan kepentingan diri, seperti yang menjadi pokok permasalahan pemikiran Hobbes.

Konsep pertama Rousseau tentang negara adalah hukum (law). Rousseau menyebut setiap negara yang diperintah oleh hukum dengan Republik, entah bagaimanapun bentuk administrasinya. Selanjutnya, badan legislatif (the legislator) yang maha tahu membuat dasar aturan/ hukum namun sama sekali tidak memiliki kekuasaan memerintah orang. Menurutnya, kekuasaan legislatif harus di tangan rakyat sedang eksekutif harus berdasar pada kemauan bersama. Rakyat seluruhnya, dianggap sejajar dengan penguasa manapun, mengadakan sidang secara periodik dan ini meminggirkan fungsi eksekutif. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat yang seperti ini sulit terjadi pada kota yang sangat besar.

Rousseau tidak membenarkan adanya persekutuan, termasuk partai yang menurutnya hanya berujung pada penyelewengan. Selain itu, menurutnya, negara jangan terlalu besar dan terlalu kecil dengan masalahnya masing-masing, disarankan sebesar polis.

Kebaikan Teori Rousseau antara lain sebagai landasan demokrasi modern dan menonjolkan fungsi warga negara dalam masyarakat dan negara. Selain itu, Rousseau mengubah sistem politik

penuh kekerasan menjadi musyawarah. Teori dan perjanjian ini juga akan menunjukkan tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya. Teori Kontrak Sosial-nya menganut aliran pactum unionis, yaitu perjanjian masyarakat yang sebenarnya. Ia menghendaki bentuk negara di mana kekuasaanya di tangan rakyat, atau Demokrasi Mutlak.

Kelemahannya teori ini antara lain tidak berdasar historis dan setiap orang mau tidak mau terikat kontrak sosial, bukan sukarela. Namun, Rousseau seakan tidak konsekuen, dikarenakan ia mementingkan pungutan suara, padahal bersumber dari kwantitas. Selain itu, Rousseau tidak menjelaskan jika ada kemauan bersama yang telah disepakati namun ada beberapa orang yang merasa berbeda pendapat maka orang itu tidak dapat dikatakan dipimpin atas kemauan bersama. Pemikiran Rousseau tentang negara, di mana konsep negara sangat abstrak, juga dapat mempengaruhi terwujudnya pemerintahan yang totaliter, diktator.

Pemikiran Rousseau tentang agama sangat aneh, hal ini juga dilihat perubahan agamanya dari Calvinisme menjadi Katholik dan kembali Calvinisme. Ia dengan tegas menolak adanya agama Protestan di negaranya. Hal itu dikarenakan Protestan mementingkan isolasi diri dan berpotensi memecah-belah negara. Agama baginya adalah sebagai penguat negara, bukan sebaliknya. Rousseau lebih membenarkan negara seperti Nabi Muhammad dan khalifah-khalifahnya yang memiliki perpaduan antara rohaniah dan duniawiah.

Walaupun Rousseau sangat terkenal di Perancis, namun di Inggris tidak sama sekali. Pemikiran Locke tentang keterwakilan dilanjutkan oleh John Stuart Mill. Jika dilihat lebih lanjut, pemikiran Rousseau tentang kontrak sosial sebenarnya dapat dibandingkan dengan teori kontrak sosial sebelumnya, versi Thomas Hobbes dan John Locke.

Kontrak

Sosial

versi

Hobbes

dibandingkan

dengan

Rousseau

Thomas Hobbes (1558-1676) menggambarkan keadaan yang kacau balau, ketika setiap manusia berperang dengan manusia lain. Menurut Hobbes, setiap manusia memiliki keinginan yang sangat kuat untuk memiliki kekuasaan demi kekuasaan dan keinginannya hanya akan diberhentikan oleh ajal. Walaupun sebenarnya manusia juga berkeinginan untuk hidup damai dan

rukun, namun tingkatannya masih kalah dari kekuasaan. Akibat pandangan Hobbes bagi hidup bermasyarakat dan bernegara diungkapkannya dengan keadaan alami (state of nature), suatu keadaan di mana fitrah dan tabiat manusia terdapat tanpa ada hambatan dan restriksi apapun. Dengan sendirinya, potensi perselisihan dan perang dengan kekerasan sekalipun akan terjadi untuk mempertahankan kebebasannya, tentunya dengan menguasai akan lebih efektif. Wajar jika seperti itu, Hobbes melupakan pertimbangan akal budi manusia yang sebenarnya dapat mempengaruhi tindakan mereka.

Hobbes lantas memberi solusi berupa kontrak sosial dan manusia, yang selalu dihantui ketakutan, akan terdorong untuk melakukan perjanjian dengan memilih penguasa di antara mereka. Pihak-pihak yang berjanji menyerahkan kekuatan dan kekuasaannya kepada sang penguasa. Namun, menjadi masalah ketika sang penguasa tidak mengikatkan diri pada perjanjian, hal ini menyebabkan sang penguasa memiliki kekuatan dan kekuasaan yang absolut. Walaupun sang penguasa memiliki kekuasan absolut, menurut Hobbes seseorang dapat menentang jika sudah menyakiti secara jasmaniah.Teori Kontrak Sosial-nya menganut aliran pactum subyectionis.

Teori Kontrak Sosial Rousseau dan Hobbes sama-sama mengelompokkan manusia pada dua masa, pra-negara dan bernegara. Teori milik Rousseau yang menganut aliran pactum unionis, sangat berkebalikan dengan versi Hobbes dengan pactum subyectionis. Belum lagi nilai-nilai hewan pada diri manusia pada pemikiran Hobbes tidak berlaku pada Rousseau. Konsep penguasa pada pemikiran Hobbes yang tidak terikat janji berbeda dengan perjanjian yang mengikat semua pada pemikiran Rousseau. Penguasa versi Rousseau hanya sekedar pelayan dari kepentingan rakyat banyak, sedangkan menurut Hobbes sangat berkuasa.

Kontrak

Sosial

versi

Locke

dibandingkan

dengan

Rousseau

John Locke (1632-1704) bertentangan dengan Hobbes dalam hal ini. Tidak seperti pemikiran Hobbes yang memuat nilai-nilai hewan pada manusia, Locke menganggap adanya nilai kemanusiaan. Locke menganggap penguasa absolut yang notabene manusia biasa akan dapat terpengaruh sifat kotor manusia dan memperburuk kondisi. Oleh karena itu, solusi Locke adalah

menyusun badan legislatif yang membuat hukum, badan eksekutif yang melaksanakan, dan kekuasaan federatif yang menyangkut dalam pembuatan perjanjian dan persekutuan. Sempat menyinggung tentang pentingnya pengadilan, namun Locke melupakan badan yudikatif begitu saja.

Kelemahan pemikiran Locke adalah berkurangnya peran pemerintah, mengingat eksekutif tergantung legislatif. Selain itu, penyuburan dinasti ekonomi menyebabkan si miskin tanpa milik tidak memiliki suara. Locke juga jauh mementingkan masalah mayoritas daripada minoritas. Walaupun banyak kelemahan, pemikirannya sangat berpengaruh di negara-negara Barat, teorinya tentang pemisahan kekuasaan (separation of powers) dikembangkan oleh Montesquieu. Pemikiran Locke tentang Kontrak Sosial untuk selanjutnya diikuti oleh Rousseau, tentunya dengan perbedaan, seperti perbedaan mendasar Kontrak Sosial versi Locke dan Hobbes. Teori Kontrak Sosial-nya menganut aliran pactum unionis dan pactum subyectionis.

Jika ditilik, asal usul negara menurut Locke dan Rousseau hampir sama, yaitu kehidupan individu bebas dan sederajat. Teori Kontrak Sosial Rousseau dan Locke juga sama-sama mengelompokkan manusia pada dua masa, pra-negara dan bernegara. Keduanya juga memasukkan nilai kemanusiaan pada pemikirannya, tidak seperti Hobbes. Teori Kontrak Sosial Locke yang menganut kedua aliran, pactum unionis dan pactum subyectionis, bagi Rousseau cukup pactum unionis. Para penguasa menurut keduanya sama-sama berkurang kekuasaannya, tidak mutlak. Jika Locke mengenal keterwakilan rakyat, di mana legislatif merupakan amanah rakyat, tetapi Rousseau menginginkan rakyat sendiri dan ini bukan ide cemerlang untuk negara besar. Pemikiran Locke tentang kekuasaan legislatif dan eksekutif dipisahkan namun dapat saling mempengaruhi, Inggris menurutnya sebagai contoh terbaik, walaupun kenyataan berkata lain. Locke dan Rousseau sama-sama mengaburkan kekuasaan judikatif, namun pemikiran Locke memiliki rangka untuk dikembangkannya Trias Politika oleh Montesquieu.

Trias

Politika

dibandingkan

dengan

Kontrak

Sosial

Rousseau

Trias Politika (Tiga Pembagian Kekuasaan) adalah kekuasaan legislatif sebagai pembentuk undang-undang, kekuasaan eksekutif yang menjalankan undang-undang, dan kekuasaan judikatif

yang mengadili pelanggaran. Doktrin Trias Politika pertama kali disinggung oleh John Locke, dan untuk selanjutnya diperjelas oleh Montesquieu (1689-1755). Locke pernah menyinggung tentang eksekutif dan legislatif, namun melupakan judikatif, walaupun ia tahu pentingnya pengadilan. Giliran pada taraf Montesquieu ditafsirkan sebagai pemisahan kekuasaan (separation of powers) .

Latar belakang dari Trias Politika yaitu untuk menjamin adanya kemerdekaan, dan ketiganya harus terpisah-pisah dikarenakan jika:

Eksekutif Judikatif +

Legislatif +

= Legislatif

Tidak =

akan Tidak akan

terjadi terjadi

kemerdekaan. kemerdekaan.

Eksekutif

Judikatif + Legislatif = Kehidupan dan kemerdekaan negara dikuasai pengawasan suka-hati, hakim Judikatif + juga Eksekutif = Hakim membuat akan sangat keras undang-undang. dan menindas.

Legislatif pada Trias Politika harus terletak pada seluruh rakyat, dilakukan dengan perwakilan rakyat. Perwakilan bangsawan, Montesquieu juga bangsawan, terdiri dari dua kekuasaan, yaitu eksekutif dan judikatif. Kebebasan kekuasaan judikatif yang ditekankan Montesquieu di sinilah letak kemerdekaan individu dan hak azasi manusia dijamin dan dipertaruhkan. Berbeda dengan Locke yang memasukkan judikatif pada eksekutif, Montesquieu, sebagai seorang hakim, menganggap eksekutif dan judikatif adalah berbeda.

Doktrin Trias Politika Montesquieu banyak mempengaruhi orang Amerika saat undangundangnya dirumuskan, sehingga Amerika dianggap mencerminkan Trias Politika dalam konsep aslinya. Misalnya, presiden Amerika tidak dapat dijatuhkan Congress, dan sebaliknya. Presiden dan menteri dilarang merangkap sebagai anggota Congress, serta presiden tidak diperkenankan membimbing Congress. Mahkamah Agung berkedudukan bebas, sekali diangkat presiden, selanjutnya tergantung kelakuannya.

Jika Kontrak Sosial Rousseau dibandingkan dengan Trias Politika maka akan terdapat banyak perbedaan. Mengingat Trias Politika Montesquieu melanjutkan pemikiran John Locke, bukan

Rousseau. Pemikiran Locke dengan kekuasaan eksekutif, legislatif, dan federatif serta juga menganut keterwakilan rakyat inilah yang dimaksud. Rousseau dengan demokrasi absolutnya, berpikiran masyarakat seluruhnya sebagai pemegang kekuasaan yang sama dengan penguasanya. Kekuasaan eksekutif dan legislatif sangat tergantung pada rakyat. Padahal, pemikiran Trias Politika versi Montesquieu ini memisahkan kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan judikatif, khususnya dengan penyempurnaan segi judikatif. Tidak seperti Rousseau yang berpikiran kekuasaan rakyat mendominasi, Montesquieu menganggap kekuasaan harus dipisah dan tidak pada orang yang sama. Namun hal ini juga beresiko dominasi oleh tiap kekuasaan, oleh karena itulah ada checks and balance.

Checks

and

Balance

dibandingkan

dengan

Kontrak

Sosial

Rousseau

Amerika dianggap mencerminkan dipengaruhi doktrin Trias Politika Montesquieu dalam konsep aslinya. Walaupun ketiganya sudah dipisah sesempurna mungkin, namun para penyusun UUD Amerika Serikat masih menganggap perlunya menjamin bahwa masing-masing kekuasaan tidak melampaui batas. Oleh karena itu, solusi yang diambil Amerika Serikat adalah pengadaan sistem checks and balance (pengawasan dan keseimbangan) di mana setiap kekuasaan dapat mengawasi dan mengimbangi kekuasaan lainnya.

Dalam rangka checks and balance ini karakteristik Trias Politika Amerika Serikat berubah menjadi:

-Presiden diberi wewenang memveto rancangan undang-undang yang telah diterima -Congress, namun veto dapat dibatalkan Congress dengan dukungan 2/3 suara dari kedua Majelis. -Mahkamah Agung mengecek badan eksekutif dan legislatif melalui judicial review (hak uji). -Hakim Agung yang diangkat badan eksekutif dapat dibatalkan Congress jika terkena masalah kriminal. -Presiden -Presiden boleh juga dapat perjanjian di-impeach internasional oleh dianggap sah Congress. jika Senat

menandatangani

mendukungnya.

-Pengangkatan jabatan-jabatan yang termasuk wewenang Presiden perlu persetujuan Senat. -Pernyataan perang hanya boleh diselenggarkan Congress.

Jadi, sistem checks and balance ini mengakibatkan satu cabang kekuasaan dalam batas-batas tertentu dapat turut campur dalam tindakan cabang kekuasaan lain, tidak dimaksud untuk memperbesar efisiensi kerja (seperti di Inggris dalam fungsi dari kekuasaan eksekutif dan legislatif), tetapi untuk membatasi kekuasaan dari setiap cabang kekuasaan secara lebih efektif. Keanehan di Inggris, menurut Montesquieu yang merupakan suri-teladan dari Trias Politika sama sekali tidak ada pemisahan kekuasaan. Selain itu, negara berbasis komunis secara tegas menolak Trias Politika.

Mengamati dari beberapa negara yang menganut Trias Politika ada kesulitan dalam praktek penafsirannya. Ada kecenderungan untuk menafsirkan Trias Politika tidak lagi sebagai pemisahan kekuasaan (separation of powers), tetapi sebagai pembagian kekuasaan (division of powers) yang diartikan hanya fungsi pokok yang dibedakan menurut sifatnya serta diserahkan kepada badan yang berbeda (distinct hands), tetapi untuk selebihnya kerjasama di antara fungsifungsi tersebut tetap diperlukan untuk kelancaran organisasi.

Jika pemikiran Rousseau dibandingkan dengan Trias Politika yang sudah menganut checks and balance jelas berbeda. Pertama, Trias Politika Montesquieu menganut pemikiran Locke, yang agak berbeda dengan Rousseau. Kedua, checks and balance adalah pengembangan dari Trias Politika Montesquieu. Namun, pemikiran Rousseau, dengan tanggung jawab pemerintah kepada rakyatnya, musyawarah rakyat, merupakan landasan demokrasi modern yang juga

dipertimbangkan.

Kesimpulan

Pemikiran J.J. Rousseau adalah pemikiran yang cukup berbeda dengan pemikiran Hobbes dan Locke. Namun, dapat dikatakan jika Rousseau berusaha mencari konsep negara yang baik menurutnya. Hal itu mungkin dapat dihubung-hubungkan dengan kepribadiannya yang unik. Pemikiran Rousseau juga bukan merupakan dasar dari Trias Politika Montesquieu dan checks

and balance. Namun, pemikiran Rousseau, campur tangan masyarakat pada negara, dapat dikatakan cukup dipertimbangkan dalam tatanan demokrasi modern.

TEORI KONTRAK SOSIAL Secara histor is, kont rak sosial adalah perkembangan dar i teor i hukum alam, terutama pandangan Grot ius dan Puf fendor f . Dalam Leviathan karya T h oma s Ho b b e s , k o n t r a k s o s i a l s e c a r a j e l a s d i s e b u t k a n p a d a b a b l 3 s amp a i 8 0ArS,aning Arya, Janj i-janj i palsu pottnrodcrnisne dengan bab 15. Hobbes berpendapat bahwa keadaan dunia atau a lam pada awalnya adalah "sengketa terus menerus" , dimana keadaan ini menurut manusia yang rasional dan bermoral harus diakhi r i . Dasar dar i pemiki ra' Hobbes adalah pandangannya bahwa manusia secara psikologis dimot ivasi oleh kepent i , fuui ai r i sendi r inya saja. Hobbes berpendapat bahwa tanpa aturan morar , ki ta akan menjadi korban kepentingan orang lain. Kepentingan diri send iri manusia jugalah

yang mendorongnya untuk mengadopsi sepera.gkat aturan dasar yang memungkinkan diwujudkannya masyarakat beradab. Non',un at uran i'i iaru'Uisa menjamin keselamatan manusia bita rJilengkapi dengan alat pak saan. Maka dibentuklah sebuah perjanjian antar individu yang deng"an suk areia menyerahkan kekuasaannya kepada institusi baru hasil konirak Josial yang , n.n,punyoi kekuasaan untuk mcmbuat ntasing-masing in<Jividu nrentaati aturan hasit kesepakatan mereka yaitu hukum legal. ( Huijbers, 1990: 64 -67 ). Negara menurut Hobbes sejak awal berdirinya ditujukan untu k rnelindungi keselamatan dan kepentingan individu. Agar kewi bawaan dan kekuasaan negara dapat dipergunakan dalam mengont rol set iap kepent ingan individu, negara mempunyai kekuasaan penuh aatam mengatur k ehidupan bersama rakyatnya melalui hukurn dan aparatnya. Hobbes menganggap bahwa absolutisme negara adalah satu-satunya cara menyelamatkan m anusia dari kodratnya sebagai

"serigala".