Anda di halaman 1dari 26

Data lingkungan dan hidrologi untuk kajian hidro lingkungan rawa pening

Rawa Pening 10 Tahun Lagi Jadi Daratan


Amanda Putri Nugrahanti | yuli | Selasa, 15 Maret 2011 | 00:49 WIB

indotravelers.com

Waduk Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

SEMARANG, KOMPAS.com - Jika kondisi danau Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dibiarkan seperti sekarang, dalam jangka waktu 10 tahun ke depan, danau alami itu segera menjadi daratan.

Dengan kondisi demikian, pada tahun 2021, atau 10 tahun lagi, Rawa Pening diprediksi menjadi daratan. Jika tidak ingin hal itu terjadi, aksi harus dilakukan.
-- Tri Retnaningsih Soeprobowati, peneliti Undip Semarang

Karena itu, konservasi danau penyangga lingkungan itu harus dilakukan serius. Peneliti dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Diponegoro Semarang Tri Retnaningsih Soeprobowati mengungkapkan hal itu di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jateng, Senin (14/3/2011). Retnaningsih dalam rapat revitalisasi Rawa Pening yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup, menyebutkan, endapan di danau itu mencapai 270-880 kilogram per hari, atau 780 ton per tahun. Padahal, hampir 70 persen dari danau seluas 2.500 hektar itu kini ditutupi tumbuhan air enceng. Volume air juga sudah berkurang hingga 30 persen. Belum lagi, pertumbuhan daratan apung yang setiap tahun bertambah lima persen.

"Dengan kondisi demikian, pada tahun 2021, atau 10 tahun lagi, Rawa Pening diprediksi menjadi daratan. Jika tidak ingin hal itu terjadi, aksi harus dilakukan," ujar Retnaningsih. Ia mengatakan, selama ini sudah banyak penelitian yang dilakukan mengenai Rawa Pening. Namun, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan danau itu. Danau yang volume airnya mencapai 65 juta meter kubik itu kini tercemar dengan laju endapan yang sangat tinggi. Padahal, Rawa Pening menjadi tumpuan irigasi pertanian di sekitarnya. Saat ini saja, PLTA Jelok tidak lagi dapat memanfaatkan air danau sepanjang waktu karena volume air yang tinggi hanya pada waktu tertentu. Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, Retnaningsih mengungkapkan, perlu ada rencana besar untuk mengonservasi danau tersebut. Terutama, mengendalikan populasi enceng gondok. Ia mengusulkan, enceng gondok dijadikan sabuk hijau di pinggiran danau, dengan bagian tengah danau bersih dari enceng gondok. Dengan begitu, diharapkan, masalah sedimentasi dapat teratasi. Pengurangan enceng gondok juga dapat dilakukan dengan alternativ lain, yaitu memberi biocontrol,seperti memberi ikan grass capr yang memakan enceng gondok. Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Semarang A Hudaya mengatakan, Kabupaten Semarang saja tidak akan mampu mengatasi permasalahan Rawa Pening. "Ini sudah selayaknya menjadi perhatian pemerintah pusat," katanya. Deputi III Pengendalian Kawasan Lingkungan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Arief Yuwono mengatakan, Rawa Pening masuk dalam 15 danau yang menjadi prioritas untuk dikonservasi. Upaya konservasi Rawa Pening diharapkan menjadi proyek percontohan bagi danau-danau lain di Indonesia. "Dari kasus Rawa Pening, kami akan bahas bagaimana cara penanganannya, siapa penanggung jawabnya, hingga dana yang dibutuhkan. Setelah itu, danau yang lain akan mengikuti," kata Arief.

http://nasional.kompas.com/read/2011/03/15/00494155/Rawa.Pening.10.Tahun.Lag i.Jadi.Daratan

Danau Rawa Pening Perlu Diselamatkan


Written By GLOBAL POST on Sabtu, 19 Maret 2011 | 02:45

Semarang, Global Post

Anggota Komisi VII DPR RI Daryatmo sangat mendukung dibentuknya Panja (Panitia Kerja) untuk mendukung program penyelamatan Rawapening. Terpenting dibuat metrik intansi mana saja yang memiliki kewenangan menangani Rawapening. Jadi, nanti jelas terlihat intansi apa mengerjakan apa, untuk mendapatkan kesesuaian program agar efektif, kata Daryatmo, dalam rapat kerja Lingkungan Hidup, di Hotel Amanda Hill, Bandungan, Semarang, baru-baru ini. Sementara Tri Retnoningsih Suprobowati peneliti lingkungan hidup dari UNDIP menegaskan belum adanya Grand Design penyelamatan Rawapening menjadi masalah utama yang belum terpecahkan. Kalau dalam masalah batas pengelolaan Rawapening tidak sama dengan batas administrasi, akhirnya berakibat penanganan antar instansi kurang optimal. Menurutnya, program penyelamatan Rawapenging setidaknya harus melaksanakan 3 hal yakitu. Pertama Aplikasi Sains dan Tehnologi untuk remidiasi Rawapening (ekoteknologi) dan pengembangan kelembagaan untuk peningkatan pengelolaan Rawa Pening. Tak kalah pentingnya adalah Meningkatkan peran serta masyarakat sekitar Rawapening dalam kegiatan konservasi, jelas Retno. Di lain pihak, Joko Sutrisno Kep. Lingkungan Hidup Jawa Tengah mengungkapkan mengenai eceng gondok perlu diisolasi di kawasan khusus, supaya tidak menyebar. Seharusnya Eceng gondok di angkat dan di bersihkan dari Rawapening. Tapi mengingat banyaknya pengrajin yang membutuhkan eceng gondok sebagai bahan baku, mungkin cukup diisolasi saja, agar tidak tersebar kemana-mana. terang Joko. Joko juga mengapresiasi adanya masyarakat yang mengambil gambut di Rawapening. Meskipun kegiatan tersebut tidak mengurangi endapan-endapan Rawapening secara signivikan , namun cukup membantu memperlambat proses pendangkalan Rawapening. Ketika ditanya apakah Rawapening akan menjadi daratan dalam waktu dekat, Joko menyanggah. Rawapening masih bisa diselamatkan, pungkasnya. (Sis)

http://skuglobalpost.blogspot.com/2011/03/danau-rawa-pening-perludiselamatkan.html

Pendangkalan Rawa Pening Kian Parah

Ungaran, CyberNews. Penanganan masalah sedimentasi danau Rawa Pening diharapkan segera direalisasikan. Sejumlah kalangan masyarakat sekitar danau tersebut telah sampai pada titik jenuh, menunggu langkah riil pemerintah yang terkesan ditunda-tunda. Ketua Paguyuban Kelompok Tani dan Nelayan Sedyo Rukun Kasiyan mengatakan, danau seluas 2.667 hektare itu itu, kini kedalamannya hanya sekitar tujuh meter. Rawa Pening, menurutnya, tidak lagi dapat dinikmati seperti 20 tahun silam. "Tumbuh suburnya tanaman enceng gondok terlihat membentang seperti permadani hijau di permukaan Rawa Pening. Itu juga memicu semakin parahnya sedimentasi di danau tersebut," ungkapnya, ditemui di sekitar Danau Rawa Pening, Minggu (20/3). Disebutkan, pada masa mudanya dulu, kedalaman Rawa Pening masih mencapai sekitar 20 meter. Menurutnya, enceng gondok telah menjadikan air danau tersebut keruh dan bau. Hal itu karena batang enceng gondok dan gulma yang mati, akhirnya menjadi endapan di dasar Rawa Pening. Kondisi tersebut menyebabkan luasan tangkapan ikan para nelayan menjadi semakin sempit. "Kandungan oksigen lebih banyak diserap eceng gondok, sehingga populasi ikannya makin berkurang," jelasnya. Ketua Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong mengatakan, penelitian terkait penanganan Rawa Pening sudah dilakukan berkali-kali. Sebab itu, dia menyarankan pemerintah segera melakukan langkah riil untuk menangani masalah di Rawa Pening. "Kajian sudah cukup, jangan diulang-ulang. Sekarang saatnya melangkah secara riil," tegasnya.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/03/20/80766

SEKILAS DANAU RAWA PENING


Rabu, 04 Januari 2012 11:11

Rawa Pening ("pening" berasal dari "bening") adalah danau sekaligus tempat wisata air di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dengan luas 2.770 hektare ia menempati wilayah Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Rawa Pening terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Danau ini mengalami pendangkalan yang pesat. Pernah menjadi tempat mencari ikan, kini hampir seluruh permukaan rawa ini tertutup eceng gondok. Gulma ini juga sudah menutupi Sungai Tuntang, terutama di bagian hulu. Usaha mengatasi spesies invasif ini dilakukan dengan melakukan pembersihan serta pelatihan pemanfaatan eceng gondok dalam kerajinan, namun tekanan populasi tumbuhan ini sangat tinggi.. Salah satu pemanfaatan Rawa Pening adalah untuk PLTA, dengan daya terpasang 4x5,12 MW dan 3 x 4 MW dengan kemampuan maksimum 15 MW dan 10,5 MW, dikelola oleh PT. PLN (Persero). Selain dari itu Rawa Pening juga memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 20.067 ha sawah, air baku air minum sebesar 750 lt/dt, budi daya perikanan dan pariwisata. Rawa Pening juga berfungsi untuk mereduksi debit banjir yang melanda Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak melalui pintu pengatur Bendung Tuntang. Masyarakat setempat juga memanfaatkan Gambut dari Rawa Pening untuk kompos dengan rata rata produksi 11.500 m3/th. Selain berfungsi sebagai PLTA, kawasan Rawa Pening memiliki banyak fasilitas rekreasi yang memadai, seperi hotel dan bungalow, bar dan restaurant, perkemahan, kolam renang dengan water slide, sarana rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya. Di perairan Danau Rawa Pening ini juga terdapat budidaya ikan keramba jaring apung, yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau dalam keheningan malam kita dapat memancing penuh ketenangan sambil menikmati ikan bakar.

Usia Rawa Pening Tinggal Lima Tahun Lagi


Posted on May 9, 2010 by m3sultra

Kompas, Nusantara 2010-05-09 / Halaman 3 Usia waduk alami Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, semakin pendek akibat akumulasi tingginya sedimentasi dan pencemaran air. Tanpa ada upaya terpadu, danau seluas 2.600 hekter itu diperkirakan mengering dan berubah menjadi daratan pada tahun 2015 atau 2020. Akibatnya, 18.784 hekter sawah irigasi di Kabupaten Grobogan dan demak akan kesulitan air. Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok dan Timo di Kabupaten Semarang dengan kapasitas 25 megawatt tidak dapat beroperasi. Pengambilan air untuk industri dan PDAM juga tersendat, sementara perikanan rakyat seluas 500 hekter bakal terhenti. Peneliti Pusat Studi Pengembangan Kawasan Rawa Pening. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Royke R siahainenia, mengatakan itu di Salatiga, Sabtu (8/5). Prediksi pesimistis terhadap kelangsungan Rawa Pening didasarkan pada hasil citra satelit tahun 2001-2007 yang menunjukan makin menyempitnya waduk itu. Waduk berupa cekungan alami itu, kata Royke, semakin susut akibat tingginya sedimentasi dan lahan kritis di daerah tangkapan air. Dari sembilan subdaerah aliran sungai yang bermuara ke Rawa Bening dengan luas 25.079 hekter, potensi sedimentasi mencapai 778 ton per bulan. Kondisi itu diperparah pencemaran air di Rawa Pening yang semakin tinggi. Dari hasil uji coba laboratorium Badan Lingkungan hidup Jawa Tengah tahun 2008 terhadap air disebagian basar Sub-DAS Rawa Pening didapati kandungan oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD), dan kebutuhan oksigen kimia (COD) di sejumlah sub-DAS melebihi ambang baku. Artinya, kebutuhan oksigen untuk mengolah bahan organik dalam air semakin tinggi. Akibatnya, mahluk hidup di dalam Rawa Pening akan berebut oksigen. Bila terus berlangsung ikan dalam waduk ini juga tidak bisa hidup, kata Ketua Program Magister Biologi UKSW Salatiga Ferry Karwur. Tingginya bahan organik juga mendorong pertumbuhan eceng gondok lebih pesat karena zat organik yang dibutuhkan untuk hidup berlimpah. Eceng gondok yang mati akan menjadi sedimentasi sekaligus menambah kadar pencemaran organik air Rawa Pening. Tutupan eceng gondok saat ini diperkirakan sekitar 30 persen, melebihi batas aman 5 persen dari luas genangan. Menurut Royke, pemerintah Kabupaten dan provinsi masih saling lempar tanggung jawab dalam mengatasi persoalan Rawa Pening. Padahal, pengerukan untuk mengatasi eceng gondok dan membuat rencana tata ruang wilayah Rawa Pening mendesak dilakukan.

http://m3sultra.wordpress.com/2010/05/09/usia-rawa-pening-tinggal-lima-tahunlagi/

Daerah Aliran Sungai Jadi Pantauan


UNGARAN, suaramerdeka.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang secara resmi mengeluarkan Surat Keputusan Bupati guna menghadapi permasalahan perubahan iklim. Dalam surat bernomor 050/0487/2010 tersebut didalamnya mengatur tentang pembentukan Forum Peduli Perubahan Iklim (FPPI) Kabupaten Semarang. Keberadaan FPPI didalamnya terdapat unsur Pemkab, masyarakat, pemerhati lingkungan, swasta, dan media tersebut telah memetakan permasalahan lingkungan. Salah satunya melalui kegiatan pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Semarang pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang. Adanya produksi pertanian hortikultur di area Kopeng dan dan Getasan menyebabkan lahan tidak dapat menyerap air dengan baik. Akibatnya terjadi longsor, banjir, sedimentasi di Rawa Pening. Fokus penanganan pada DAS yang titikberatkan diharapkan dapat membantu mengurangi dampak yang ada, kata Bupati Kabupaten Semarang, Dr H Mundjirin, Jumat (23/3). Beberapa perusahaan yang terletak di Kabupaten Semarang telah aktif di dalam kegiatan FPPI, salah satunya adalah PT Bina Guna Kimia yang memberikan bantuan melalui FPPI untuk masyarakat berupa tanaman buah-buahan. Selain PT Guna Kimia, PT SidoMuncul juga diketahui

telah memberikan bantuan bibit jahe dan pupuk cair kepada masyarakat di sekitar DAS yang mengalir ke Rawa Pening. Kiprah semua kalangan sudah terlihat, termasuk dari Green Fund dan ERCA Jepang. Ini membuktikan bahwa kepedulian akan perubahan iklim harus dimulai sejak sekarang, lanjutnya. Perwakilan dari Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari), Amalia Wulansari menuturkan, selain fokus pada pengelolaan DAS, melalui FPPI pihaknya juga berusaha melakukan pendampingan pada masyarakat dalam mengelola lingkungan. Dengan melibatkan lima desa, FPPI bergerak untuk menjadikan desa tersebut menjadi desa percontohan dalam menerapkan wanatani, sebuah metode olah lahan yang beradaptasi terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim itu bukan terjadi pada angin, dan suhu saja, melainkan semuanya akan terkena dampak terutama kebutuhan air. Langkah ini diharapkan dapat dilanjutkan ke area lain yang notabene merupakan area kritis dan butuh penanganan, tuturnya.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/03/23/113325/Daera h-Aliran-Sungai-Jadi-Pantauan

Rawapening Tercemar Limbah Hotel


CARI IKAN: Seorang warga terlihat mencari

ikan dengan menggunakan sampan di danau Rawapening yang banyak ditumbuhi enceng gondok, Minggu (3/6). (suaramerdeka.com / Ranin Agung)

UNGARAN, suaramerdeka.com -Pencemaran limbah hotel dari Kabupaten Semarang yang masuk ke aliran sungai menuju danau Rawapening cukup mengkhawatirkan. Hal tersebut merupakan imbas dari buruknya pengelolaan limbah di masing-masing hotel, dan restoran. Terutama pada hotel dan restoran yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). "Kami mencatat ada pencemaran di Rawapening. Pencemaran tersebut semakin parah setelah masing-masing hotel dan restoran tidak memiliki IPAL, sehingga limbah yang ada langsung masuk ke aliran sungai dan bermuara di Rawapening," jelas Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Semarang, Supramono, Minggu (3/6). Menurutnya, jika mengacu pada ketentuan Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan sebenarnya sudah jelas, di mana penerapan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sudah sedemikian ketat. Termasuk dalam mengatur limbah yang mengancam lingkungan hidup termasuk manusia serta makhluk hidup lainnya. Dalam Upaya Pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) pihak BLH Kabupaten Semarang mewajibkan pengusaha untuk membuat sumur resapan air, melakukan reboisasi, dan melakukan pengolahan limbah cair maupun padat termasuk sampah.

"Petugas menemukan senyawa fenol yang masuk kategori bahan berbahaya beracun (B3) pada air Rawapening. Bila terakumulasi terus-menerus, senyawa fenol justru akan bersifat sebagai penyubur tumbuhan enceng gondok. Dari temuan itu, kami akan melakukan penelusuran dan kajian pada aliran sungai. Siapa yang terbukti melanggar tentu akan mendapatkan teguran untuk memperbaiki atau membangun IPAL," ujarnya. Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Semarang, Edi Djatmiko menjelaskan, temuan di lapangan memang benar, tidak semua hotel di Kabupaten Semarang belum mempunyai UKL dan UPL. Terlepas dari itu, pihaknya beranggapan syarat wajib UKL dan UPL baru saja dikeluarkan setelah penerbitan Peratuan serta Undang-undang yang mengatur lingkungan.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_smg/2012/06/03/120221/R awapening-Tercemar-Limbah-Hotel

~ Pemerintah Percepat Revitalisasi Rawapening


Kumpulan Artikel - 105 - Energi Sungai PLTA / Waduk / Bendungan

Percepatan Revitalisasi Rawapening Pemerintah Kabupaten Semarang mendorong pemerintah pusat dan Provinsi Jawa Tengah untuk mempercepat revitalisasi Rawapening yang daya tampungnya terus turun karena tingginya sedimentasi. Waduk alami itu untuk mengairi sekitar 20.000 hektar lahan persawahan dan Pembangkit Listrik Tenaga Air Jelok dan Timo. "Persoalan sedimentasi itu berat karena berasal dari sembilan subdaerah aliran sungai dan dari dalam Rawapening, yaitu dari endapan eceng gondok yang mati," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Semarang Warnadi Kamis (7/8), di Ungaran, Kabupaten Semarang. Menurutnya, sempat ada sosialisasi dari Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana, Rabu siang, tentang adanya pengerukan dan pemusnahan sebagian eceng gondok dengan anggaran Rp 8 miliar. Warnadi berharap ada upaya lebih lanjut mengingat pengerukan dengan dana itu bersifat sementara karena luas Rawapening 2.000 hektar. Tingkat sedimentasi per tahun, menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan, dan Energi Kabupaten Semarang, sebesar 1.189 ton per tahun. Volume tampung maksimal Rawapening kini kurang dari 49 juta meter kubik. Padahal, tahun 2000 masih mencapai 65 juta meter kubik. Penurunan daya tampung ini menyebabkan daerah sekitar Rawapening sering kebanjiran saat musim hujan dan kekurangan air saat kemarau. Dampaknya, menurut manajemen PLTA Jelok, tiap tahun terjadi penurunan produksi karena aliran air dari Rawapening berkurang. Tahun 2001, produksi PLTA 186 gigawatt (GW), 2002 turun menjadi 126 GW, dan 2007 hanya menyumbang 79 GW untuk interkoneksi jaringan Jawa- Bali. "Kami memperkirakan usia PLTA itu tidak akan sampai 10 tahun lagi karena Rawapening semakin parah jika tidak ada revitalisasi," kata Pengawas Senior PLTA Jelok dan Timo, Unit Bisnis Pembangkitan Mrica, PT Indonesia Power Bibit Sugiono. (GAL)

http://www.alpensteel.com/article/66-105-energi-sungai-plta--waduk-bendungan/1830--pemerintah-percepat-revitalisasi-rawapening.html

Lokalisasi Eceng Gondok Mendesak


| Kamis, 23 Desember 2010 | 05:02 WIB

Dibaca: 47 Komentar: 2

Share:

Semarang, Kompas - Lokalisasi eceng gondok dalam satu lokasi tertentu dengan jumlah terbatas di waduk alami Rawa Pening, mendesak untuk dilakukan. Selain bertujuan mengendalikan populasi, lokalisasi itu juga penting untuk mencegah kerugian di bidang pertanian akibat hama tikus. Demikian disampaikan Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Semarang Fadjar Eko di Ungaran, Rabu (22/12). Menurut dia, eceng gondok menjadi sarang tikus karena menyediakan makanan cadangan sekaligus aman dari manusia. Begitu eceng gondok terbawa arus menepi ke lahan pertanian di sekitar Rawa Pening, mereka langsung memakan tanaman padi. Selama tahun 2010, sekitar 100 hektar tanaman padi di sekitar Rawa Pening, terserang tikus, meski tidak semuanya puso, ujarnya. Selain itu, eceng gondok juga menyebabkan puluhan hektar lahan pertanian padi di Rowoboni, Tegaron, Banyubiru, Kebumen, Kebondowo, dan Ngapah di Kecamatan Banyubiru, sempat tidak bisa ditanami. Pasalnya, eceng gondok yang terbawa arus, mengendap di sawah saat genangan air menyurut. Dari sisi estetika juga akan lebih baik jika eceng gondok itu dikumpulkan di satu sisi Rawa Pening. Hanya saja, lokasinya harus dikaji terlebih dahulu, di mana paling tepat, ujarnya. Eceng gondok di Rawa Pening mencapai luasan 30 persen dari luas Rawa Pening, lebih kurang 2.000 hektar, melebihi batas aman 5 persen dari luas genangan. Eceng gondok berkembang pesat akibat kondisi air yang tercemar, sedangkan eceng gondok yang mati menurunkan kualitas air, sekaligus menjadi sedimentasi. Kendati demikian, eceng gondok itu juga memberi penghidupan kepada ratusan perajin eceng gondok. Mutiah (54), pengepul eceng gondok di Desa Kebondowo, Banyubiru, berharap eceng gondok tidak sepenuhnya dimusnahkan dari Rawa Pening. Kalau dimusnahkan semuanya sama saja mematikan pencaharian perajin di sini. Kalau hanya dikurangi tidak apa-apa, ujar Mutiah. Mutiah mengaku menampung sekitar 100 perajin yang menyetorkan eceng gondok dalam kondisi basah, sudah kering, atau yang sudah dijalin menjadi tali. Setiap hari, dia bisa mengirimkan 150200 kilogram eceng gondok kering ke Solo dengan harga Rp 5.200-Rp 5.500 per kilogram.

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/23/05023862/Lokalisasi.Eceng.Gondok. Mendesak

Kehidupan Rawa Pening Sebagai Sumber Kehidupan


REP | 05 September 2011 | 11:32 Dibaca: 218 Komentar: 3 1 dari 2 Kompasianer menilai menarik

Waktu menunjukan pukul 05:30, tanggal 1 September 2011 disaat mata luas memandang hamparan danau dengan kabut tipisnya. Rawa Pening di Kabupate Semarang, Jawa Tengah menjadi tujuan perjalanan kali ini. Udara dingin dan kabut yang berangsur melayang, menjebak mata akan eksotisme danau yang diapit gunung-gunung dari segala penjuru. Sinar mentari dari ufuk timur mulai menghangatkan permukaan danau dan menyinari organisme yang ada. Geliat kehidupuan mulai berdenyut seiring naiknya Sang Surya. Hamparan Eceng Gondong yang terhampar luas dan sebagian besar menutupi permukaan danau, seolah tak mengurangi rasa kagung Rawa Pening. Ada banyak sisi keindahan yang bisa dinikmati pagi ini.

Bergerak dari dermaga di dekat jembatan rel, pandangan mata tertuju pada sisi timur dan tenggara danau. Bukit-bukit yang membendung Rawa Pening mulai terlihat yang tersamar kabut tipis. Lapisan bukit-demi bukit yang disekat oleh uap air, terlihat indah. Sisi eksotik Rawa Pening mulai terlihat seiring Sang Surya yang semakin meninggi. Kabut mulai terkuak dan temaram cahaya matahari menghijaukan perbukitan. Lapis demi lapis mulai terpisah dan terlihat jelas. Warna-warni kehidupan mulai menampakan diri dan beberapa burung sudah berkeliaran untuk mencari makan.

Geliat masarakat di sekitar Rawa Pening mulai nampak. Sampan dan perahu-perahu motor mulai mengombang-ambingkan permukaan danau yang semula tenang. Riak-riak air dari mesin perahu tempel memecah lembutnya air danau menjadi gelombang yang serentak menggoyang hamparan Eceng Gondok. Nelayan mulai sibuk dengan aktivitasnya masingmaasing, baik memancing, menjala hingga memberi pakan ikan di karamba apung yang di tanam di pinggir danau. Hari semakin siang, semakin banyak orang yang mulai memasuki perairan danau yang dijadikan pegangan dalam mencari nafkah kehidupan. Rawa Pening mulai hidup untuk memberikan kehidupan untuk nelayan dan keindahan untuk penikmatnya.

Potensi sumber daya alam yang luar biasa untuk danau alam ini. Pengelolaan potensi danau akan berdampak pada kemajuan atau kerusakan Rawa Pening. Saat ini, fenomena eutrofikasi terjadi akibat akumulasi limbah rumah tangga dan pertanian yang benyak mengandung phospat. Ledakan alga, Eceng Gondong akibat kandungan phospat yang melimpah akan memperngaruhi ekosistem danau. Rawa Pening ibarat tempat penampungan limbah cari dari segala penjuru tempat, dan disaat daya dukung mulai goyah maka benih-benih bencana berkecambah. Dibalik kerusakan alam yang mulai semakin mengancam, maka keindahan seolah lah tak bergeming dan tetap memancarkan pesonanya. tak ada habisnya menikmati Rawa Pening dari beberapa sisi dan sudut pandang. Tugas kita

yang mengerti dan paham akan potensi besar ini untuk tetap menjaga danau alam ini agar tetap memiliki daya dukung yang baik.
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/09/05/kehidupan-rawa-peningsebagai-sumber-kehidupan/

Langkah Konkret untuk Rawa Pening


| Rabu, 22 Desember 2010 | 05:31 WIB Dibaca: 92 Komentar: 0

Share:

Semarang, Kompas - Komisi VII DPR akan mengawal komitmen pemerintah memulihkan Danau Rawa Pening di Kabupaten Semarang, yang masuk Rencana Aksi Nasional Terpadu 15 Danau Prioritas 2010-2015. Karenanya pemerintah diminta segera mengambil langkah konkret mengatasi persoalan kerusakan Rawa Pening. Demikian disampaikan Ketua Komisi VII DPR Teuku Riefky Harsya saat mengunjungi Rawa Pening di Kecamatan Tuntang, Selasa (21/12). Riefky hadir bersama sejumlah anggota Komisi VII dan didampingi Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim pada Kementerian Lingkungan Hidup Arif Yuwono, serta Bupati Semarang Mundjirin. Kami harapkan ada program nyata dari pemerintah, tidak hanya untuk danau ini (Rawa Pening), tetapi 15 danau prioritas. Dalam persidangan (DPR) berikutnya dengan Kementerian LH, kami akan minta dikonkretkan, ujar Riefky. Untuk Rawa Pening, penanganan lintas kementerian antara lain berupa penataan ruang, mempertahankan luas wilayah hutan minimal 30 persen dari wilayah daerah tangkapan air Rawa Pening, pengendalian pencemaran limbah, penataan sempadan sungai, serta pengendalian sedimentasi dan pengendalian pertumbuhan eceng gondok maksimal 1 persen. Sejak dulu tantangannya untuk bisa bekerja sama. Siapa tahu (kerja sama pemulihan) Rawa Pening bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya, ujar Arif Yuwono. Namun, Arif belum bisa menyebutkan komitmen pendanaan. Kondisi Rawa Pening diakui semakin parah, antara lain ditandai dengan keberadaan gulma air yang meluas. Penelitian dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga menunjukkan, tutupan eceng gondok di Rawa Pening mencapai 30 persen dari total luas danau sekitar 2.000 hektar. Sejumlah indikator kualitas air menunjukkan Rawa Pening sudah tercemar. Padahal, air Rawa Pening menjadi sumber penggerak turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air Jelok dan Timo di Kabupaten Semarang, irigasi 20.000 hektar sawah di Demak dan Grobogan, serta tempat mencari nafkah ribuan nelayan. Harus ada pendanaan yang jelas dari pusat untuk memulihkan Rawa Pening, yang semula berupa mangkuk sudah menjadi piring akibat sedimentasi. Pemkab Semarang dan Pemprov

Jateng tidak sanggup, ujar The Hok Hiong, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang. (GAL)

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/22/05315289/Langkah.Konkret.untuk.Ra wa.Pening

Luapan Air Rawa Pening Genangi Permukiman Warga


| Kamis, 20 Mei 2010 | 11:48 WIB Dibaca: 34 Komentar: 1

Share:

SEMARANG, KOMPAS - Luapan air waduk alami Rawa Pening menggenangi sekitar 200 rumah warga di Dusun Rowoganjar (Rowoboni), Ngrapah (Banyubiru), dan Tegalwuni di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Hal ini menyebabkan kondisi sosial dan ekonomi warga di daerah tersebut semakin terganggu. Dalam pantauan Kompas di Dusun Rowoganjar, Selasa (18/5), ketinggian air berkisar 15-40 sentimeter. Di dusun ini terdapat sekitar 150 rumah warga. Air masuk ke rumah sebagian warga hingga mereka menyingkirkan sebagian besar perabot rumah tangganya. Namun, ada pula warga yang memanfaatkan luapan air tersebut untuk mencuci pakaian. "Airnya sudah sempat agak surut, tetapi dua hari terakhir ini meluap. Sebetulnya sudah dua bulan terakhir air meluap dan surut sebentar," kata Salbiah (50), warga Dusun Rowoganjar. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, ia juga kehilangan tanaman padi seluas 7.500 meter persegi dari lahan garapannya. Salbiah hanya mendapat gabah sekitar 50 kilogram, tetapi itu pun masih harus dibagi dua karena ia menggarap tanah orang lain dengan sistem bagi hasil. Seharusnya bila panen baik, ia bisa mendapat satu ton gabah kering panen. Kondisi ini juga cukup menyulitkan warga mendapat air bersih. Menurut Sarmi (65), air di sumur terganggu luapan air itu sehingga warga hanya bisa bergantung dari aliran air yang diambil dari sumber Muncul di Banyubiru. Setiap tahun, kata Sarmi, kondisi ini semakin parah. Saat ia masih berusia belasan tahun, Rowoganjar masih belum terkena dampak luapan Rawa Pening. Namun, saat ia berusia sekitar 30 tahun, air mulai menggenangi perkampungan. Beberapa tahun terakhir, air sampai masuk ke dalam rumah. Menurut sejumlah warga, tempat tinggal mereka bukan daerah genangan Rawa Pening, tetapi lahan bersertifikat. Camat Banyubiru Lalu Muhammad Maladi mengatakan, selain di Rowoganjar, sekitar 50 rumah warga juga terkena genangan air di Ngrapah dan Tegalwuni.

"Tetapi yang berat itu akibat luapan air dari Rawa Pening, eceng gondok menepi dan menutupi sawah warga. Setelah banjir ini surut, warga akan kesulitan mengolah lahan karena harus memindahkan kerumunan eceng gondok," ujar Maladi. (GAL)

http://nasional.kompas.com/read/2010/05/20/11480346/Luapan.Air.Rawa.Pening.G enangi.Permukiman.Warga

Tak Ada Anggaran Rawa Pening


| Rabu, 12 Mei 2010 | 13:23 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Meski ancaman kerusakan Rawa Pening semakin parah, Pemerintah Kabupaten Semarang tidak menyediakan alokasi khusus untuk penanganan waduk alami tersebut. Pemerintah Kabupaten Semarang menilai hal tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Semarang Ririh S Rahardjo, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (11/5), dalam 3-4 tahun terakhir tidak ada anggaran khusus yang disediakan dari APBD Kabupaten Semarang untuk penanganan fisik Rawa Pening. Pemkab Semarang, kata dia, hanya mendampingi program dari Pemprov Jateng atau pemerintah pusat untuk penanganan Rawa Pening. Program Pemkab terhadap Rawa Pening lebih mengarah pada pembinaan perajin eceng gondok dan nelayan, tidak bersentuhan langsung dengan penanganan fisik Rawa Pening. "Status Rawa Pening itu secara kelembagaan berada di bawah Pemprov Jateng. Artinya, segala sesuatu bersangkutan keberadaan Rawa Pening, diharapkan ada konsep penanganan dari pemprov," ujarnya. Peran sentral Rawa Pening memiliki peran sentral. Sekitar 18.000 hektar sawah di Kabupaten Demak dan Grobogan bergantung pada air irigasi Rawa Pening. Sementara 500 hektar perikanan rakyat ada di waduk tersebut. Hal ini belum termasuk pengambilan air untuk Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Semarang, maupun pemanfaatan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air Jelok dan Timo. Kajian pesimistis dari citra satelit, menyebutkan waduk alami ini terus mendangkal dan menyempit, sehingga diprediksi bakal menjadi "daratan" pada tahun 2015-2020. Hal ini disebabkan tingginya sedimentasi, gulma air, serta pencemaran air di waduk tersebut. Sementara itu, penanganan yang dilakukan masih terbatas, misalnya pengangkatan sebagian eceng gondok. "Tidak bisa hanya Kabupaten Semarang (yang menangani permasalahan Rawa Pening). Di samping kemampuan anggaran tidak mungkin (terbatas), jika anggaran diarahkan ke sana, masyarakat lain tidak akan bisa menikmati pelayanan pembangunan," kata Asisten III, Sekretariat Daerah Kabupaten Semarang Supardjo. Menurut Supardjo, untuk merehabilitasi total Rawa Pening, paling tidak memerlukan dana Rp 5 triliun. Dana ini digunakan untuk membiayai mulai dari membangun dam di sekeliling waduk ini, hingga pengerukan dan penanganan sembilan sub-daerah aliran sungai yang bermuara ke Rawa Pening. Sementara APBD Kabupaten Semarang dalam setahun hanya sekitar Rp 700 miliar, yang 60-70 persen di antaranya untuk biaya aparatur.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Semarang The Hok Hiong, menilai belum ada keseriusan Pemkab Semarang menangani Rawa Pening. Hal ini terlihat dari ketiadaan program Rawa Pening pada rencana kerja perangkat daerah dalam kebijakan umum anggaran maupun prioritas dan plafon anggaran sementara. "Padahal, ini sudah menjadi masalah karena (Rawa Pening) semakin dangkal. Kalau kemarau PLTA terganggu. Kalau hujan merugikan petani karena sawah kebanjiran akibat air tidak tertampung. Seharusnya pemkab intens meminta dukungan dana alokasi khusus dengan jumlah yang sesuai untuk menghadapi persoalan ini," katanya. (GAL)

http://nasional.kompas.com/read/2010/05/12/13232728/Tak.Ada.Anggaran.Rawa.P ening

PENGGUNAAN TEKNIK INDERAJA UNTUK KAJIAN PERKEMBANGAN DANAU DAN KERAPATAN VEGETASINYA (Studi Kasus di DTA Rawapening Kabupaten Semarang)
PENGGUNAAN TEKNIK INDERAJA UNTUK KAJIAN PERKEMBANGAN DANAU DAN KERAPATAN VEGETASINYA (Studi Kasus di DTA Rawapening Kabupaten Semarang) Oleh: Tjaturahono Budi Sanjoto Dosen Jurusan Geografi FIS UNNES tjaturahono@yahoo.co.id

INTISARI

Penelitian ini dilakukan di Daerah Tangkapan Air Rawapening Kabupaten Semarang. Tujuannya untuk mengetahui perkembangan danau Rawapening mulai tahun 1994, 1998, 2002 dan 2007. Alat dan Software utama yang digunakan meliputi adalah (1) Citra Satelit Landsat 5 pemotretan tahun 1994, 1998, Citra Landsat 7 tahun 2002 dan citra SPOT 4 tahun 2007. (2) Global Positioning System (GPS) dan (5) Software Image Proccesing dengan program ERMapper versi 7.0, dan Software Arcview versi 3.2. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada tahun 1994 dan tahun 2002 pada kondisi musim yang sama luasan kerapatan vegetasi pada kategori Sangat Rapat mengalami pengurangan 3611,97 hektar. Pada kategori kelas Rapat mengalami pengurangan 3315,33 hektar. Pada kategori kelas Cukup Rapat mengalami penambahan 3950,10 hektar. Pada kategori kelas Tidak Rapat mengalami pengurahan seluas 2743,25 hektar. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada tahun 1998 dan tahun 2007 pada kondisi musim yang sama, luasan kerapatan vegetasi pada kategori Sangat Rapat mengalami pengurangan 1398,22 hektar. Pada kategori kelas Rapat mengalami pengurangan 590 hektar. Pada kategori kelas

Cukup Rapat mengalami penambahan 2142,05 hektar. Pada kategori kelas Tidak Rapat mengalami pengurahan seluas 659,31 hektar. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah: (1) dalam kurun waktu 9 tahun pada kondisi musim yang sama DTA Rawapening mengalami perubahan kerapatan vegetasi yang cenderung lebih rendah, sehingga perlu monitoring dan pengawasan yang ketat agar kualitas DTA Rawapening tetap terjaga dengan baik. (2) Penggunaan citra penginderaan jauh sistem satelit dapat membantu dalam kegiatan monitoring tersebut. Saran yang diajukan adalah perlunya dibuat perencanaan tataguna lahan yang di DTA Rawapening yang mempunyai kekuatan hukum, sehingga setiap aktifitas yang berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan harus melalui persyaratan yang ketat. Kata kunci: Citra Satelit, Kerapatan Vegetasi, Daerah Tangkapan Air

Dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatam Geografi Indonesia (PIT IGI) Tanggal 22-23 Nopember 2008 di Padang Sumatera Barat PENDAHULUAN Rawapening merupakan danau alam yang terletak di Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 40 km ke arah selatan Kota Semarang. Kawasan Rawapening merupakan salah satu kawasan prioritas di Jawa Tengah dan memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh kawasan lainnya, sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu kawasan andalan. Danau alam Rawapening mempunyai banyak fungsi diantaranya sebagai sumber irigasi pertanian bagi Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak. pengendali banjir bagian hilir, sumber pembangkit listrik, tempat usaha perikanan darat, penyedia air baku, dan tempat wisata. Namun kondisi Rawapening saat ini mengalami penurunan dalam hal daya dukung dan fungsi utama sebagai akibat sedimentasi dan pendangkalan akibat enceng gondok yang mati dan hasil erosi dari air sungai yang masuk. Eceng gondok selain mengakibatkan sedimentasi, secara tidak langsung juga menyebabkan kapasitas air waduk menurun. Selain itu masuknya muatan hasil erosi yang masuk melalui sungai yang bermuara di waduk ini, mempercepat menurunnya kapasistas air, yang berarti makin dangkal kedalaman waduk tersebut. Erosi ini diakibatkan karena adanya penggundulan hutan dan berubahnya penggunaan tanah menjadi permukiman. Makin dangkal waduk berakibat daya tampung semakin sedikit, sehingga pada saat datang hujan, kemungkinan banjir tidak terelakkan lagi. Kemudian fungsi waduk sebagai sumber bagi PLTA dan irigasi pun ikut menurun. Seterusnya akan menurunkan pula potensi perikanan, perkebunan, dan pertanian yang akhirmya berpengaruh menurunnya tingkat kemampuan ekonomi masyarakat di sana (Dinas PSDA, 2003). Selain itu, permasalahan peningkatan aktifitas manusia juga memicu percepatan proses degradasi lingkungan Rawapening. Peningkatan berbagai aktifitas manusia, selain mengganggu keseimbangan alam juga tidak mustahil dapat menimbulkan berbagai macam konflik. Hal ini bertambah rumit ketika dihadapkan dengan siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan wilayah Rawapening. Guna mengatasi permasalahan di atas, maka perlu diadakan penelahaan secara komperhensif meliputi daerah hilir hingga hulu. Salah satunya adalah dengan mengkaji faktor yang mempengaruhi perkembangan danau rawa pening yaitu berkaitan dengan bagaimana kondisi penggunaan lahan dan tingkat kerapatan vegetasi di Daerah Tangkapan Air (DTA) Rawapening. Rawapening sebagai wilayah yang dapat diunggulkan secara komparatif, perlu didayagunakan secara optimal dan berkelanjutan. Salah satu upayanya adalah dengan mencegah Rawapening menjadi daratan sebagai dampak sedimentasi yang sangat berat. Proses sedimentasi yang berat ini berlangsung karena adanya terjadinya perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali terutama pada daerah atas (hulu). Tujuan kajian ini adalah ingin mengetahui pola perkembangan danau Rawapening dan tingkat

kerapatan vegetasi DTAnya melalui interpretasi citra satelit seri waktu yaitu citra satelit tahun 1994, tahun 1998, tahun 2002, dan tahun 2007. KAJIAN PUSTAKA Citra penginderaan jauh merupakan sarana yang paling efektif dan effisien untuk memperoleh informasi tentang penutup lahan, termasuk tingkat kerapatan vegetasinya. Citra penginderaan jauh menggambarkan keadaan muka bumi seperti ujud aslinya, dengan menggunakan alat yang disebut sensor untuk merekam energi pantulan ataupun gelombang pancaran obyek di permukaan bumi dengan berbagai spectrum panjang gelombang. Setiap obyek di muka bumi mempunyai karakteristik tersendiri dalam menyerap, memantulkan, dan meneruskan obyek tenaga yang diterima (Lillesand dan Kiefer, 1990). Pada citra digital informasi yang direkam disajikan dalam bentuk nilai piksel. Setiap piksel merupakan presentasi dari nilai pantulan atau pancaran obyek di muka bumi seukuran resolusi spasial citra satelit. Untuk obyek mempunyai ukuran lebih kecil dari resolusi spasialnya, maka nilai kecerahan piksel merupakan gabungan dari berbagai pantulan atau pancaran obyek. Nilai kecerahan piksel tersebut juga akan bervariasi sesuai dengan spektrum yang digunakan untuk merekam. Untuk obyek lahan terbuka kering, maka akan mempunyai nilai kecerahan piksel tinggi pada citra saluran hijau atau merah. Vegetasi akan mempunyai nilai piksel tinggi pada citra saluran inframerah dekat. Dengan cara memadukan antara berbagai saluran citra yang mempunyai tanggap spectral yang bervariasi diharapkan dapat diperoleh suatu formula yang merupakan gabungan dari berbagai pantulan atau pancaran obyek. Citra satelit Landsat-5, Landsat-7 dan SPOT-XS merupakan citra satelit sumberdaya alam yang mempunyai resolusi spasial 30 m dan x 30 meter (Landsat) dan 20 m x 20 m (SPOT-XS) dan merekam dalam multi spektral. Masing-masing saluran citra satelit peka terhadap respons atau tanggapan spektral obyek pada julat panjang gelombang tertentu, dan hal ini yang menyebabkan nilai piksel pada berbagai saluran spectral sebagai cerminan nilai tanggapan spectral pun bervariasi. Adanya variasi tanggapan spectral pada setiap saluran merupakan salah satu kelebihan dari citra satelit Landsat , sebab dengan memadukan berbagai saluran tersebut dapat diperoleh citra baru dengan informasi baru pula. Berdasarkan citra satelit Landsat saluran hijau dan inframerah tengah (TM2 dan TM5), dapat diturunkan informasi kerapatan vegetasi (Suharyadi, 2000) Indeks vegetasi merupakan suatu algoritma yang diterapkan citra multisaluran, untuk menonjolkan aspek kerapatan vegetasi ataupun aspek lainnya yang berkaitan dengan kerapatan, misalnya biomassa konsentrasi klorophyl (Projo Danoedoro,1989), dan lainnya. Secara praktis indeks vegetasi ini merupakan suatu transformasi matematis yang melibatkan beberapa saluran sekaligus, dan menghasilkan citra baru yang lebih representative dalam menyajikan fenomena vegetasi. James (1996, dalam Hartono, dkk, 2005) menyatakan indeks vegetasi merupakan suatu ukuran kuantitatif berdasarkan nilai digital citra satelit untuk mengukur biomasa suatu vegetasi. Salah satu indeks vegetasi adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang merupakan kombinasi antara teknik penisbahan dengan teknik pengurangan citra. Berbagai penelitian mengenai perubahan liputan vegetasi di berbagai tempat banyak menggunakan transformasi ini. Foster (1991) mengadakan penelitian pemanfaatan citra Landsat TM untuk memantau perubahan lahan di daerah pinggiran kota Sidney, Australia. Teknik pengolahan citra yang digunakan untuk transformasi spectral adalah dengan pendekatan indeks vegetasi, digabungkan dengan analisis temporal terhadap tutupan lahannya. Dasar pertimbangan pemanfaatan transformasi indeks vegetasi, karena nilai indeks vegetasi menunjukkan kerapatan vegetasinya, nilai indeks vegetasi +1 menunjukkan vegetasi rapat dan -1 untuk lahan sangat jarang vegetasinya. Area yang berkembang menjadi daerah terbangun diasumsikan liputan vegetasinya berkurang. Formula indeks vegetasi yang digunakan adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Kesimpulan yang dihasilkan dari pemanfaatan indeks vegetasi adalah formula NDVI dapat digunakan untuk memantau perubahan penggunaan lahan pada area yang sempit dan kepadatan rendah. PROSEDUR PENELITIAN

Untuk mengetahui kerapatan vegetasi pada daerah penelitian digunakan citra Landsat 5 TM Landsat7 dan citra SPOT XS. Ke tiga citra ini diolah dengan menggunakan software ER Mapper 7.0 dan Arc View 3.2. Langkah-langkah pengolahan data dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut. 1. Koreksi Radiometrik citra satelit Landsat dan SPOT XS Secara sederhana teknik koreksi radiometrik adalah melakukan koreksi nilai kecerahan piksel hasil rekaman sensor dengan nilai kecerahan akibat penyimpangan pantulan. Besarnya nilai penyimpangan dihitung berdasarkan nilai terendahnya. Teknik ni dilakukan dengan asumsi, nilai pancaran piksel tertentu seharusnya mempunyai nilai nol, tetapi karena adanya gangguan atmosfer nilai tersebut bergeser menjadi lebih besar dari nol (Jensen, 1986). Algoritme untuk memperbaiki nilai kecerahan piksel setiap saluran citra inderaja adalah, sebagai berikut. output BV i,j,k = input BV i,j,k - bias dimana : output BV i,j,k = nilai kecerahan piksel pada baris I, kolom j, dan saluran k setelah terkoreksi input BV i,j,k = nilai kecerahan piksel pada baris I, kolom j, dan saluran k sebelum terkoreksi. 2. Koreksi Geometrik citra satelit Landsat dan SPOT XS Koreksi geometrik pada citra Landsat maupun SPOT-XS merupakan upaya memperbaiki kesalahan perekaman secara geometrik agar citra yang dihasilkan mempunyai sistem koordinat dan skala yang seragam, dan dilakukan dengan cara translasi, rotasi, atau pergeseran skala. 3. Cropping Area of Interest Cropping berarti melakukan pemotongan citra sesuai denan daerah yang dikehendaki. Pemotongan dilakukan karena setiap satu scene citra Landsat mengkover daerah seluas 185 km x 185 km sedangkan SPOT-4 seluas 60 km x 60 km, sehingga perlu pemotongan sesuai dengan daerah kita teliti. Dengan memotong citra berarti daerahnya menjadi lebih sempit dan hal ini akan lebih meringankan beban komputer dalam mengolah citra. 4. Analisis Kerapatan Vegetasi (NDVI) Setelah kegiatan koreksi radiometrik dan geometrik dilakukan, maka secara citra siap untuk diolah lebih lanjut yaitu melakukan ekstraksi kerapatan vegetasi daerah penelitan. Analisis kerapatan vegetasi daerah penelitian dengan menggunakan formula NDVI (Normalized Difference Vegetation Indexs), yaitu: IM - M NDVI = IM + M Dimana : NDVI : Normalized Difference Vegetation Index IM : Citra satelit saluran inframerah dekat M : Citra satelit saluran merah 5. Uji Lapangan Peta tingkat keRapatan vegetasi yang diperoleh dari hasil transformasi NDVI dan pengolahan citra Landsat TM digital. Hasil pemetaan NDVI melalui interpretasi citra secara digital tersebut perlu dilakukan uji akurasinya. Pada dasarnya uji akurasi dilakukan dengan cara membandingkan antara peta hasil interpretasi dengan data acuan yang telah diketahui kualitasnya melalui pengukuran lapangan. Diagram alir penelitian dapat ditunjukkan pada gambar 1.

Citra Satelit Rawapening multi temporal thn 1994, 1998, 2002 dan thn 2007

Koreksi: Radiometrik geometrik

Citra Satelit Rawapening terkoreksi

Interpretasi

Klas Klas Klas Klas

keRapatan keRapatan keRapatan keRapatan

Vegetasi Vegetasi Vegetasi Vegetasi

1994 1998 2002 2007

Danau Danau Danau Danau

Rawapening Rawapening Rawapening Rawapening

tahun1994 tahun1998 tahun2002 tahun2007

Hubungan Kondisi Danau dengan Kerapatan vegetasi DTA HASIL DAN PEMBAHASAN a. Gambaran Umum daerah Penelitian Daerah penelitian merupakan Daerah Tangkapan Air Rawapening. Sebagai danau alami, input airnya (inlet) berasal dari sembilan sungai kecil yang ada di perbukitan yang mengelilingi rawa tersebut yaitu sungai Kedungringin, sungai Ringis, sungai Sraten, sungai Parat, sungai Legi, sungai Galer, sungai Torong, dan sungai Panjang. Sedangkan outlet waduk Rawapening mencakup sungai Tuntang di bagian timur dan sungai Progo di bagian Barat.

Gambar 1. Peta Lokasi Daerah penelitian b. Citra Satelit DTA Rawapening Tahun 1994 2007 Citra satelit yang digunakan untuk analisis kerapatan vegetasi DTA Rawapening tahun 1994, 1998 adalah citra LANDSAT-5, tahun 2002 LANDSAT-7 yang mempunyai mempunyai resolusi spasial mencapai 30 meter dan tahun 2007citra SPOT XS yang mempunyai resolusi 20 m. Waktu pengambilan gambar (akuisisi) secara berturut turut adalah tanggal 20-06-1994, 23-02-1998, 2108-2002, dan 13-01-2007. Dari keterangan tanggal akuisis tersebut dapat diperkirakan bahwa citra tahun 1994 dan 2002 di ambil pada saat kondisi musim kemarau, sedangkan citra tahun 1998 dan 2007 saat musim penghujan. Kualitas citra tahun 1994 adalah yang paling baik dengan hampir tidak ada liputan awan, sebaliknya citra tahun 2007 adalah yang terjelek karena di beberapa tempat tertutup oleh awan. Untuk lebih jelas kondisi ke empat citra tersebut dapat dilihat pada gambat berikut.

Gambar 2. Perbandingan keadaan citra satelit tahun 1994 2007 DTA Rawapening Melihat kondisi citra tersebut maka perbandingan kondisi danau Rawapening dan Kerapatan Vegetasi diakukan dengan memperhatikan kondisi musim, yaitu untuk musim penghujan digunakan citra tahun 1998 dan tahun 2007, sedangkan untuk musim kemarau digunakan citra tahun 1994 dan tahun 2002. Berikut deskripsi hasil kajian perkembangan Danau Rawa pening berdasarkan hasil interpretasi secara visual, disusul hasil analisis kerapatan vegetasi berdasarkan perhitungan indek vegetasi NDVI. b. Kondisi Danau Rawapening Kondisi Rawapening dari tahun ke tahun mengalami pendangkalan dan penyempitan luasannya. Bertambah dangkalnya Waduk Rawapening disebabkan karena adanya sedimentasi yang dihasilkan oleh tanaman eceng gondok yang mati dan limbah yang masuk melalui sungai berupa muatan hasil dari erosi. Menurut sumber dari BAPPEDA Semarang laju sedimentasi sampai 780 ton per tahun. Dari beberapa penyebab terjadinya sedimentasi di atas, eceng gondok memberikan sumbangan yang cukup berarti. Apalagi dari data Landsat menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun pertambahan eceng gondok di Rawapening mempunyai laju yang cukup tinggi, selain itu terlihat pula bahwa luas danau mengalami penurunan. Lihat tabel berikut. Tabel 1. Luas Area Danau Rawa Pening Berdasarkan Analisis Citra (dalam Ha) Tahun Enceng gondok Danau/Perairan Area Total 1994 495.921 1215.227 1711.148 1998 774.356 872.545 1646.901 2002 549.114 1001.134 1550.248 2007 819.373 775.085 1594.458 Dari tabel di atas terlihat bahwa pada musim kemarau (citra tahun 1994 dan 2002) luas total danau Rawapening mengalami penyempitan sekitar 160,90 hektar.. Pada saat yang sama tanaman enceng gondok juga mengalami perkembangan luasan sebesar 53,193 ha. Sebaliknya luas permukaan air danau Rawapening mengalami penyempitan 214,093 ha. Kemudian pada musim penghujan (citra tahun 1998 dan 2007) luas total danau Rawapening mengalami penyempitan sekitar 52,443 hektar.. Pada saat yang sama tanaman enceng gondok juga mengalami perkembangan luasan sebesar 45,017 ha. Sebaliknya luas permukaan air danau Rawapening mengalami penyempitan 97,46 ha. Terus bertambahnya eceng gondok, tentu membawa akibat yang tidak menguntungkan. Kapasitas air yang terus menurun menyebabkan daya PLTA dan jangkauan air irigasi untuk mengairi sawah di sekitarnya menurun pula. Selain itu dengan bertambahnya eceng gondok, tikus yang bersarang di dalamnya makin bertambah sehingga bisa merusak sawah-sawah di sekitar Rawapening yang berakibat produksi pertanian menurun. Produksi pertanian menurun menyebabkan penghasilan para petani menurun pula. Eceng gondok selain mengakibatkan sedimentasi, secara tidak langsung juga menyebabkan kapasitas air waduk menurun. Selain itu masuknya muatan hasil erosi yang masuk melalui sungai yang bermuara di waduk ini, mempercepat menurunnya kapasistas air, yang berarti makin dangkal kedalaman waduk tersebut. Erosi ini diakibatkan karena adanya penggundulan hutan dan berubahnya penggunaan tanah menjadi permukiman. 1994 1998 2002 2007

Gambar 3. Perkembangan Danau Rawapening dari tahun 1994 - 2007 c. Kerapatan Vegetasi DTA Rawapening Tahun 1994 dan Tahun 2002 (musim kemarau) Dari hasil pengolahan data citra satelit tahun 1994 dan 2002, daerah penelitian mempunyai tingkat kerapatan yang bervariasi mulai dari sangat rapat (hijau tua), rapat (hijau), cukup rapat (hijau muda) hingga tidak rapat (kuning). Adapun sebaran setiap kelas kerapatan dapat dilihat pada gambar peta kerapatan vegetasi yang ada gambar 5 di bawah ini. Gambar 4. Peta Klasifikasi Kerapatan Vegetasi (NDVI) Daerah Penelitian Tahun 1994 dan 2002 Pada kurun waktu 8 tahun dengan kondisi musim yang relatif sama (kemarau), tingkat kerapatan vegetasi di DTA Rawapening mengalami perubahan yang cukup luas pada semua kelas. Pada kelas Sangat Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1994 seluas 6800.22 ha menjadi seluas 3188.25 hektar pada tahun 2002, atau terjadi pengurangan luas daerah yang sangat rapat sebesar 3611,97 hektar (53%).. Pada kelas Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1994 seluas 14463.45 ha menjadi seluas 11148.30 hektar tahun 2002, atau terjadi pengurangan luas daerah yang Rapat sebesar 3315,33 hektar (23%). Pada kelas Cukup Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1994 seluas 4230.63 ha menjadi seluas 8180.73 hektar tahun 2002, atau terjadi penambahan luas daerah yang cukup rapat sebesar 3950,1 hektar (93%). Pada kelas Tidak Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1994 seluas 2307.15 ha menjadi seluas 5054.40 hektar tahun 2002, atau terjadi pengurangan luas daerah yang tidak rapat sebesar 2747,25 hektar (119%). Dari uraian di atas maka berkurangnya luas lahan pada kelas Sangat Rapat, dan Rapat mempunyai pengertian/bermakna negatif, yaitu terjadinya peningkatan lahan yang terbuka yang dapat menjadi penyebab meningkatnya erosi dan sedimentasi di wilayah Danau Rawapening. Sebaliknya berkurangnya luas lahan pada kelas Tidak Rapat justru mempunyai makna yang positif. Berbeda dengan kelas tersebut di atas, maka pada kelas Cukup Rapat terjadi penambahan luas wilayah menjadi 8180.73 hektar atau bertambah 93%. Penambahan jumlah wilayah yang cukup banyak ini oleh karena adanya akumulasi perubahan kerapatan vegetasi dari kelas Sangat Rapat, kelas Rapat, dan juga dari kelas yang Tidak Rapat. Untuk lebih jelasnya perubahan kerapatan dari tahun 1994 ke tahun 2002 Daerah tangkapan Air Rawapening dapat dilihat pada tabel berikut dan grafik perbandingan antar tahun di bawahnya. Tabel 7. Perubahan Kerapatan Vegetasi Tahun 1998 dan Tahun 2002 di DTA Rawapening Tahun Sangat Rapat Rapat Cukup Rapat Tidak Rapat Jumlah Total (ha) Jumlah th 1994 6800.22 14463.45 4230.63 2307.15 27801.45 Jumlah th 2007 3188.25 11148.30 8180.73 5054.40 27571.68 Sumber : Hasi analisis c. Kerapatan Vegetasi DTA Rawapening Tahun 1998 dan Tahun 2007 (musim hujan) .Dari hasil pengolahan data citra satelit tahun 1998 dan 2007, daerah penelitian mempunyai tingkat kerapatan yang bervariasi mulai dari sangat rapat (hijau tua), rapat (hijau), cukup rapat (hijau muda) hingga tidak rapat (kuning). Adapun sebaran setiap kelas kerapatan dapat dilihat pada

gambar peta kerapatan vegetasi yang ada gambar 5 di bawah ini.

Gambar 5. Peta Klasifikasi Kerapatan Vegetasi (NDVI) Daerah Penelitian Tahun 1998 dan 2007 Pada kurun waktu 9 tahun dengan kondisi musim yang relatif sama (hujan), tingkat kerapatan vegetasi di DTA Rawapening mengalami perubahan yang cukup luas pada semua kelas. Pada kelas Sangat Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1998 seluas 13026,78 ha menjadi seluas 11628,56 hektar, atau terjadi pengurangan luas daerah yang sangat rapat sebesar 1398,22 hektar (10,73%).. Pada kelas Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1998 seluas 9025,02 ha menjadi seluas 8435,60 hektar, atau terjadi pengurangan luas daerah yang Rapat sebesar 590 hektar (6,54%). Pada kelas Cukup Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1998 seluas 3250,89 ha menjadi seluas 5392,84 hektar, atau terjadi penambahan luas daerah yang cukup rapat sebesar 2142,05 hektar (65,91%). Pada kelas Tidak Rapat terjadi perubahan yang semula pada tahun 1998 seluas 2345,67 ha menjadi seluas 1686,36 hektar, atau terjadi pengurangan luas daerah yang tidak rapat sebesar 659,31 hektar (28,10%). Dari uraian di atas maka berkurangnya luas lahan pada kelas Sangat Rapat, dan Rapat mempunyai pengertian/bermakna negatif, yaitu terjadinya peningkatan lahan yang terbuka yang dapat menjadi penyebab meningkatnya erosi dan sedimentasi di wilayah Danau Rawapening. Sebaliknya berkurangnya luas lahan pada kelas Tidak Rapat justru mempunyai makna yang positif. Berbeda dengan kelas tersebut di atas, maka pada kelas Cukup Rapat terjadi penambahan luas wilayah menjadi 5392 hektar atau bertambah 65,91%. Penambahan jumlah wilayah yang cukup banyak ini oleh karena adanya akumulasi perubahan kerapatan vegetasi dari kelas Sangat Rapat, kelas Rapat, dan juga dari kelas yang Tidak Rapat. Untuk lebih jelasnya perubahan kerapatan dari tahun 1998 ke tahun 2007 Daerah tangkapan Air Rawapening dapat dilihat pada tabel berikut dan grafik perbandingan antar tahun di bawahnya. Tabel 7. Perubahan Kerapatan Vegetasi Tahun 1998 dan Tahun 2002 di DTA Rawapening Tahun Sangat rapat Rapat Cukup rapat Tidak Rapat Luas (Ha) Tahun 1998 13026.78 9025.02 3250.89 2345.67 27648.36 Tahun 2007 11628.56 8435.60 5392.84 1686.36 27143.36 Sumber: Hasil Analisis

KESIMPULAN dan SARAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: 1. Bahwa dalam kurun waktu 9 tahun DTA Rawapening mengalami perubahan kerapatan vegetasi yang cenderung lebih rendah, sehingga perlu monitoring dan pengawasan yang ketat agar kualitas DTA Rawapening tetap terjaga dengan baik. 2. Penggunaan citra penginderaan jauh sistem satelit dapat membantu dalam kegiatan monitoring tersebut. Kemudian saran yang diajukan adalah perlunya dibuat perencanaan tataguna lahan yang di DTA

Rawapening yang mempunyai hukum, sehingga setiap aktifitas yang berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan harus melalui persyaratan yang ketat. DAFTAR PUSTAKA Aronoff, S. 1989. Geographic Information Sistem: A. Management Perspective. Canada : WDL Publications, Ottawa. Burrough, PA. 1990. Methods of Spatial Analysis in GIS. International Journal of GIS. Vol 4. Congalton, R.G., 1991. A review of assessing the accuracy of classification of remotely sensed data. American Society for Photogrammetry and Remote Sensing, Maryland Danoedoro, Projo (editor). 2004. Sains Informasi Geografis. Joyakarta: Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh Fakultas Geografi UGM Dinas PSDA, Sistem Pengelolaan Air Rawapening, 2003 ESSRI, 1988, Understanding GIS, New York: REDLAND Elmaadi, A.R., 1999. Pemodelan Interpretabilitas Citra Berdasarkan Pengolahan Secara Dijital untuk Wilayah Perkotaan. Skripsi. Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta. Forster, B., 1991. Aplication of Normalized Vegetation Index forUrban Change Monitoring. Asian Association on Remote Sensing Hartono, dkk. 2005. Analisis Data Penginderaan Jauh dan SIG Untuk Studi Sumberdaya Air Permukaan DAS Rawa Biru Merauke Papua. Seminar Nasional FMIPA UI. Kusumowidagdo, M., Tjaturahono, Eva B, Dewi LS., 2007. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Kerjasama Pusdata Inderaja LAPAN dan Jurusan Geografi UNNES. Lillesand, T.M., dan R.W. Kiefer, 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra (terjemahan) Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Suharyadi. 2000. Transformasi spektral citra dijital Landsat TM untuk pemetaan kepadatan bangunan di Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UGM