Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian Jumlah penduduk Indonesia saat ini terbesar ke 4 di dunia dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49 %, suatu tingkat pertumbuhan yang masih tinggi. Berdasarkan publikasi Biro Pusat Statistik, pada bulan Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah 237.556.363 jiwa(la ki-laki 119.507.580 dan perempuan 118.048.783)1. Apabila laju pertambahan penduduk masih 1,49 persen maka jumlah penduduk Indonesia pada 2045 menjadi sekitar 450 juta jiwa, hal ini berarti satu dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia. Pertambahan

penduduk yang tinggi secara otomatis akan menjadi beban pemerintah dalam menyediakan anggaran untuk kesehatan, pendidikan, pangan, sandang, papan dan lainnya yang dapat terkait dengan kebutuhan rakyat. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi penggerak ekonomi yang kuat jika penduduknya berkualitas, namun jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah akan menjadi beban pembangunan. Data dari Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI, 2007) memperlihatkan pencapaian program KB yang belum menggembirakan dimana penggunaan

kontrasepsi hanya mencapai 61,4%, angka unmet need meningkat menjadi 9,1%. Jumlah penduduk yang besar ini tentu saja akan berdampak besar terhadap perkembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.2 Salah satu upaya strategis untuk menekan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan melaksanakan Keluarga Berencana (KB). Pelayanan KB sendiri

merupakan salah satu aspek dari pelayanan kesehatan reproduksi esensial. Pada tingkat nasional tanggung jawab terhadap pengendalian pertumbuhan penduduk di Indonesia, secara khusus dan spesifik di bawah koordinasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dalam menurunkan risiko kematian juga Program KB selain untuk memiliki peranan penting

ibu melalui pencegahan kehamilan,

penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan dengan sasaran utama adalah Pasangan Usia Subur (PUS). Secara konseptual untuk mengatasi ini salah satu intervensi yang dapat dilakukan dengan cara mengurangi kemungkinan seorang perempuan menjadi hamil dengan upaya Keluarga Berencana.3 Berdasarkan data dari SDKI , angka kematian ibu di Indonesia telah berhasil diturunkan dari angka 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002/2003 menjadi 248 pada tahun 2007. Angka ini bila dilihat dari target Millennium Development Goals (MDGs) yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, maka AKI saat ini masih tinggi dan diperlukan upaya yang sungguhsungguh untuk menurunkannya. AKI sendiri merupakan keberhasilan sistem kesehatan sebuah negara
1,2

indikator kunci

Dibandingkan dengan AKI di

negara ASEAN maka AKI di Indonesia 3-6 kali lipat lebih tinggi, sedangkan bila dibandingkan dengan AKI di negara maju, jumlah AKI di Indonesia mencapai pulluhan kali lipat. Karena itu, upaya penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu tetap merupakan salah satu kesehatan.3,4,5 prioritas utama dalam bidang

Keberhasilan program keluarga berencana merupakan program yang harus diupayakan keberhasilannya dalam upaya menahan laju pertumbuhan penduduk yang cepat dan tidak terkendali. KB juga berperan besar dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan ibu salah satunya melalui pemakaian kontrsepsi. Berbagai alat dan cara kontrasepsi telah dikenalkan kepada masyarakat sejak program KB dilaksanakan dan diakui keberhasilannya dalam menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Alat / cara kontratrasepsi yang dikenal hingga saat ini meliputi, antara lain pantang berkala, koitus interuptus, kondom, pil KB, suntik KB, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra uterine device (IUD), Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) / implant / susuk KB, Kontrasepsi

mantap yaitu vasektomi / Metoda Operatif Pria (MOP) dan tubektomi / Metoda Operatif Wanita (MOW) / sterilisasi). Kontrasepsi jangka panjang seperti

implant, AKDR dan kontrasepsi mantap , disebut juga metoda kontrasepsi efektif terpilih (MKET) dan kontrasepsi jangka pendek disebut non MKET.5,6,10 Dari hasl SDKI juga didapatkan bahwa pelayanan KB di RS Pemerintah mengalami penurunan dari 6,2 % (SDKI, 2002/2003) menjadi 4,9% (SDKI, 2007) sedangkan pada RS Swasta terjadi penurunan dari 3,4% menjadi 2,2%.14 Rumah Sakit merupakan salah satu tempat yang strategis dalam upaya meningkatkan keberhasilan program KB adalah rumah sakit, khususnya rumah sakit pemerintah. Di Propinsi Sumatera Selatan Oktober 2009 tercatat sebanyak 1.171.310 dan peserta KB aktip pada bulan 77,85% dari jumlah ini

merupakan pasangan usia subur (PUS) sebesar 1.504.599. Peserta KB IUD sebanyak 43.893 (3,79%), sedangkan MOW dan MOP kurang dari 0,5% dari

akseptor KB pasangan usia subur. Cakupan pemakaian IUD di Kabupaten/ Kota berkisar 3-5% .11 Dari data ini terlihat bahwa pemakaian kontrasepsi jangka panjang cakupannya rendah. Peran Rumah Sakit besar sekali dalam upaya pelaksanaan layanan kontrasepsi jangka panjang mengingat fasilitas dan sumber daya manusia yang tersedia leboih memadai. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Mohammad Hoesin Palembang, merupakan rumah sakit rujukan propinsi yang juga melaksanakan pelayanan KB melalui Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit (PKBRS). PKBRS

melaksanakan promosi KB dan layanan KB rawat jalan serta layanan KB untuk ibu pascapersalinan. Semua jenis layanan KB dapat dilaksanakan di rumah sakit ini. Saat ini cakupan layanan PKBRS dirasakan masih rendah suatu kondisi yang harusnya tidak terjadi, mengingat saat tersebut calon akseptor masih berada di rumah sakit sehingga perlu diupayakan peningkatan cakupan tersebut, terutama layanan KB jangka panjang. Perlu dicari penyebab rendahnya cakupan tersebut. Salah satu yang perlu diketahui adalah pilihan kontrasepsi apa yang paling diminati oleh ibu pascapersalinan serta faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan kontrasepsi ibu pascapersalinan tersebut terhadap pilihan kontrasepsinya,

khususnya di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Dari hasil penelitian ini nantinya didapatkan masukan sehingga dapat dibuat strategi yang sesuai dan rasional untuk mengatasinya. Dapat dilakukan revitalisasi pelayanan KB di RS sehingga mutu layanan terus ditingkatkan. Karakteristik yang perlu diteliti tersebut meliputi variabel umur, pendidikan, penghasilan, tempat tinggal, agama,

pola bayar, kasus rujukan/bukan dan variabel variabel dengan kontrasepsi . Berdasarkan keadaan di atas

yang berhubungan

perlu dilakukan penelitian untuk meneliti

pilihan kontrasepsi pada ibu pascapersalinan yang diduga berperan erat dengan rendahnya cakupan tersebut dan dicari jalan keluar yang yang rasional dalam

upaya meningkatkan cakupan tersebut. Judul yang penulis pilih untuk penelitian tersebut adalah Pilihan kontrasepsi ibu pascapersalinan di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. 1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Bagaimanakah gambaran pilihan metoda kontrasepsi ibu pascapersalinan di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. 1.2.2. Bagaimanakah hubungan karakteristik ibu pascapersalinan dengan pilihan kontrasepsinya di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.

1.3.1 1.3.2

Tujuan Penelitian Tujuan Umum Melakukan analisis terhadap pilihan kontasepsi ibu pascapersalinan di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.

1.3.3

Tujuan Khusus

1.3.2.1. Diketahuinya pilihan kontrasepsi pada ibu pascapersalinan di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. 1.3.2.2. Diketahuinya hubungan karakteritik dengan pilihan kontrasepsi ibu pascapersalinan di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.

1.3.2.3. Didapatkan strategi untuk meningkatkan cakupan akseptor KB pada PKBRS RSUP Palembang..

1.4.

Kegunaan Penelitian

1.4.1. Aspek teoritis (keilmuan) Diperoleh masukan data akademik mengenai pilihan kontrasepsi ibu pascapersalinan, khususnya di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. 1.4.2. Aspek praktis (gunalaksana) Bagi ibu pascapersalinan didapatkan informasi dan pilihan kontrasepsi serta layanan kontrasepsi yang diperlukannya. Bagi pengelola program PKBRS didapatkan masukan jenis kontrasepsi yang diminati ibupascapersalinan dan strategi meningkatkan cakupan akseptor KB di PKBRS RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Bagi peneliti, mendapatkan wawasan keilmuan dan praktis dalam mengelola Keluarga Berencana di Rumah Sakit.