P. 1
Struktur Kayu

Struktur Kayu

|Views: 337|Likes:
Dipublikasikan oleh Riksan Tjan

More info:

Published by: Riksan Tjan on Jun 12, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2014

pdf

text

original

Struktur Kayu

STRUKTUR KAYU Daftar isi : 1. Pendahuluan - Material kayu - Tegangan bahan kayu - Dasar perencanaan 2. Batang tarik 3. Batang tekan. 4. Batang lentur (balok) 5. Balok kolom 6. Perencanaan truss 7. Sambungan Literatur : 1. SNI-5, 2002 2. Awaludin, A., Irawati, I.S., 2005, Konstr Kayu. I. MATERIAL KAYU Kayu  Sebagai salah satu bahan struktur sudah lama dikenal.  Tetap terjaga jika hutan dikelola scr lestari. Keuntungan:  Berat jenis ringan  Pengerjaan dg peralatan sederhana  Dapat terurai sempurna, shg tidak ada limbah. Masa lalu: Perancangan dilakukan berdasar intuitif dan coba-coba, shg pemanfaatan kayu kurang optimal. Saat ini: Berkembangnya teknik analisis dan perencanaan, maka perenc konstr kayu dpt dilakukan scr rasional dan mengikuti kaidah yang berlaku. 1. Anatomi Kayu Senyawa utama penyusun sel kayu: selulosa (50%), hemiselulosa (25%), dan lignin (25%) (Desch dkk,1981). Kelompok sel kayu bergabung membentuk anatomi pohon spt Gambar 1. Kayu: bahan alam yg tdk homogen, disebabkan oleh pola pertumbuhan batang dan kondisi lingkungan yg tdk sama. Hal ini menyebabkan sifat fisik dan mekanik kayu berbeda pada arah longitudinal, radial, dan tangensial ( bahan ortho-tropik) 2. Sifat Fisik Kayu a. Kandungan air. Kayu mrpk material higroskopis artinya memiliki kaitan yang erat dg air. Kemampuan menyerap dan melepaskan air tergantung dari kondisi lingkungan spt temperatur dan kelembaban udara.

Pada bagian batang kayu terjadi perbedaan kandungan air, dimana pada kayu gubal lebih banyak dp kayu teras. Air yg terdpt pd batang kayu tersimpan dlm dua bentuk : air bebas (free water) yg terletak diantara sel-sel kayu, dan air ikat (bound water) yg terdpt pd dinding sel. b. Kepadatan dan berat jenis Kepadatan (density) : berat per unit volume. Pengukuran kepadatan bertujuan utk mengetahui porositas atau persentase rongga pada kayu. Caranya : membandingkan berat kering dg volume basah. Berat jenis: perbandingan antara kepadatan kayu dengan kepadatan air pada volume yang sama. Berat jenis kayu memiliki korelasi positif dg kekuatan kayu, spt terlihat pada pers. berikut. F = KGn dg : F adlh parameter kekuatan kayu, G adlh berat jenis, K dan n adlh konstanta c. Cacat kayu Cacat atau kerusakan kayu dapat mengurangi kekuatan. Cacat kayu : retak (cracks), mata kayu (knots), dan kemiringan serat (slope of grain). 3. Jenis-jenis Penggunaan Kayu Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu dan persyaratan teknis. Jenis kayu dan macam penggunaannya dpt dilihat pada Tabel 1. Selain digunakan untuk material konstruksi, kayu juga dpt digunakan sbg bahan baku non struktur spt: kayu lapis, particle board, dll. Beberapa jenis elemen non struktur (Tabloid Rumah edisi 63,2005): a. Particle board (Chipboard) b. MFC (Melamine Face Chipboard) c. MDF (Medium Density Fiberboard) d. HDF (High Density Fiberboard) e. Blockboard f. Teakblock g. Kayu lapis (Plywood) Tabel 1. Jenis kayu dan macam penggunaannya (sumber : Departemen Kehutanan, http://www.dephut.go.id) Macam Penggunaan Persyaratan teknis Jenis kayu Bangunan (Konstruksi) Kuat, keras, mempunyai keawetan alam yang tinggi Balau, lara, bangkirai, jati, cengal, kapur, kempas, keruing, rasamala. Veneer biasa Kayu bulat berdiameter besar, bebas cacat, dan beratnya sedang Meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang. Veneer mewah Disamping persyaratan veneer biasa, kayu harus bernilai dekoratif Jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru, sonokembang. Perkakas (mebel) Berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, dibubut, dilem, disekrup, dan dikerat. Jati, rengas, eboni, kuku, mahoni, ramin, meranti, sonokeling, sonokembang Lantai Keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku, dan cukup kuat Balau, bangkirai,

kuku, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati Bantalan KA Kuat, keras, kaku, awet Balau, bangkirai, kempas, belangeran, bedaru, ulin, bintangur Alat OR Kuat, tidak mudah patah, ringan, tekstur halus, serat halus, serat lurus dan panjang, kaku, cukup awet Bedaru, melur, merawan, nyatoh, salimuli, sonokeling, teraling Alat musik Tekstur halus, berserat lurus, tidak mudah belah, daya resonansi baik Cempaka, merawan, nyatoh, jati, lasi, eboni Tiang listrik dan telpon Kuat menahan angin, ringan, cukup kuat, bentuk lurus Balau, giam jati, kulim, lara, merbau, tembusu, ulin Beberapa bahan perekat yang biasa digunakan: casein, urea formaldehyde, phenol formaldehyde, phenol- resorcinol formaldehyde, dan melamine-urea formaldehyde. Penurunan kekuatan bahan perekat maupun material kayu dlm waktu yg lama dpt disebabkan oleh peningkatan temperatur, kandungan air, dan serangan mikro organisme, spt terlihat pada Gambar berikut. 5. Pengawetan Kayu Pengawetan : kegiatan untuk memperpanjang umur pakai kayu baik secara fisika maupun secara kimia dg cara meningkatkan ketahanannya terhadap serangga perusak, kembang susut akibat perubahan kandungan air, dsb. Beberapa macam metode pengawetan kayu : perendaman, laburan, rendaman panas dan dingin, dan vacum tekan. II. TEGANGAN BAHAN KAYU 1. Definisi. Tegangan atau kekuatan : kemampuan bahan untuk mendukung gaya luar atau beban yg berusaha merubah ukuran dan bentuk bahan (deformasi). Jika tegangan yg bekerja kecil, maka deformasi yg terjadi juga kecil. Puncak garis kesebandingan antara kenaikan tegangan dg regangan disebut batas sebanding. Di luar batas sebanding regangan akan meningkat lebih besar dibanding tegangan. Jika tegangan yg didukung melebihi gaya dukung serat maka serat-serat akan putus (keruntuhan). Fleksibilitas : Kemampuan benda untuk merubah bentuk dan kembali pada bentuk semula. Kekakuan : Kemampuan benda untuk menahan perubahan bentuk. Modulus Elastisitas : Nilai yg mengukur hub antara tegangan dg regangan pada batas sebanding. Makin besar nilai Mod Elastisitas : kayu lebih kaku dan sebaliknya. Keuletan : Kemampuan kayu utk menyerap sejumlah tenaga yg rel besar atau tahan thd kejutan2 atau

Penggolongan kelas kuat pada kandungan air stdr 15% menurut SNI-5 (2002) dpt dilihat pada Tabel 1. Pengujian Laboratorium Pengujian Lapangan Pengujian Laboratorium Keuntungan Kerugian Keuntungan Kerugian . Dari data beban dan lendutan diperoleh nilai Mod El Lentur (MOE). Sistem Pemilahan (Grading). Observasi visual 2. keberadaan jamur. Pemilahan kelas kuat kayu: 1. Tabel 1. mata kayu. kemiringan serat. dan retak. Metode Pengujian.tegangan2 yg berulang yg melampaui batas sebanding serta mengakibatkan perubahan bentuk yg permanen dan kerusakan sebagian. Kekerasan : Kemampuan kayu utk menahan gaya yg membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi).Hanya menirukan saja 3.Penyebaran variabel mebuat biaya meningkat . serangga perusak.Faktor luar sulit dikendalikan .Kondisi mirip dg penggunaan .Waktu lama . Pengujian dg grading machine Observasi visual Grading machine Berhub erat dg kekuatan: lebar cincin tahunan. Tegangan lain juga dpt diperoleh berdasar pers empirik dari nilai MOE.Menghasilkan data yg cepat . Pengujian Lapangan 2. Nilai kuat acuan (MPa) berdasar pemilahan secara masinal pada kadar air 15% Kode mutu Modulus Elastisitas Lentur • Ew Kuat Lentur Fb Kuat tarik sejajar serat Ft Kuat tekan sejajar serat Fc Kuat Geser Fv Kuat tekan Tegak lurus Serat Fc^ E26 E25 E24 E23 E22 E21 E20 . 2. Ada 2 alt utk menentukan kekuatan kayu : 1. Prinsip: pengujian lentur statik.

E19 E18 E17 E16 E15 E14 E13 E12 E11 E10 E9 E8 E7 26000 25000 24000 23000 22000 21000 20000 19000 18000 17000 16000 15000 14000 13000 12000 11000 10000 9000 8000 7000 71 67 64 61 58 54 51 48 45 41 38 35 32 29 25 .

5 .9 6.7 6.22 19 16 12 9 65 63 60 57 54 51 48 45 42 39 36 33 30 27 24 21 18 15 12 9 54 53 52 50 48 47 45 43 41 40 39 36 35 33 31 29 28 26 24 22 6.8 6.

1 24 23 22 21 20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 11 10 9 8 7 6 Dimana: Ew : Mod Elastisitas Lentur Fb : Kuat Lentur Ft : Kuat tarik sejajar serat Fc : Kuat tekan sejajar serat Fv : Kuat geser Fc∟ : Kuat tekan tegak lurus serat Nilai Ew (MPa) dpt diperkirakan dg pers.9 5.7 Dengan G : BJ kayu pada k.a 15% .1 5.4 6.4 5.1 5.3 4.3 5.8 4.5 4.6 5. Ew = 16.0 4.7 4.2 4.2 6.6.500G0.7 5.

letak.a 15% adalah. 2. Kekuatan yg dihasilkan dg beban jangka pendek ini lebih tinggi dari hasil beban jangka panjang. Kandungan air Merupakan faktor yg mempengaruhi seluruh kekuatan kayu. Str kayu yg mengalami peningkatan temperatur akan mengalami penurunan kekuatan.a sampel : 2. teg tarik//. Pengujian kekuatan kayu di Laboratorium biasanya dg beban jangka pendek (± 5 mnt). 70%. Hampir semua kekuatan kayu meningkat jika kandungan air diturunkan.Contoh : Dari hasil pengukuran berat basah dan berat kering sampel kayu dg ukuran spt Gambar berturutturut adalah 1. Pengaruh waktu Kekuatan kayu merupakan fungsi waktu (time dependent).a 15% : 4. maka dibutuhkan waktu yang lama agar api dpt membakar bag dlm kayu (Malhotra. Pengaruh temperatur Kayu tergolong material yg mudah terbakar (combustible material). BJ dasar : 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tegangan Kayu a. K. Pada mata kayu. 1981).3 gr. dan jenis. 5. BJ pd ka m% : 4. 1. teg lentur. Angka penyebaran panas/thermal conductivity kayu relatif kecil dan kandungan air. Perilaku Kayu Thd Temperatur dan Waktu 1. BJ pd k. maka BJ pd k. Beban yg dpt didukung kayu hingga 10 th ad beban yg menyebabkan tegangan sebesar 60% dr . Kemiringan serat Pada kemiringan serat 15o. 80% dari teg serat lurus (Desch dkk. d. teg tekan// berkurang sampai 45%. b. Nilai kerapatan : 3. Kepadat Pengaruh kepadatan thd kekuatan kayu memiliki korelasi yg baik spt teg sejajar serat. dan kekerasan. Mata kayu Mata kayu mempengaruhi kekuatan kayu dg tingkat yang berbeda tergantung ukuran. serat-seratnya miring dan tdk teratur. teg lentur.6 gr dan 1. Contoh peristiwa rangkak (creep) pada rak buku.1980). 1982 Gbr berikut menunjukkan penurunan kekuatan beberapa macam material akibat peningkatan temperatur (Kubler. tapi tdk secara linier melainkan cenderung berbentuk lengkung. Hal ini disebabkan adanya arang sbg pelindung kayu bag dalam shg str terhindar dari keruntuhan seketika (brittle collapse). c.

0×1.tegangan yg diperoleh dari pengujian selama 5-10 mnt (Hoyle.An T’ = CMCtCptCFCrtFt.8 x 51 = 40. Secara umum. BATANG TARIK Komponen str yg mendukung beban aksial tarik dan tekan dijumpai pada str rangka kuda-kuda.000/19.0×1.8xAn An ≥ 66.80 T’ = tahanan tarik a.8xAn Kebutuhan luas netto (An) : Tu ≤ λФtT’ 66 ≤ 0.0×40. perencanaan komponen str tarik bertujuan utk mengetahui luas penampang minimum yg diperlukan. 1978). adalah komponen str yg terdiri dari dua atau lebih elemen sejajar yg digabungkan dari bahan dg tahanan dan kekakuan yg sama. III. terjadi pengurangan luas tampang shg distribusi tegangan tarik menjadi tidak merata.0. Perilaku ini harus diperhitungkan dlm analisis dan perenc konstr kayu.6×0. termasuk batang majemuk rangka atap. dan komponen str serupa. Batang AB dari kayu kelas mutu A dg kode mutu E21. Tahanan tarik sejajar serat. T’ = 1.An .8 Ft (rasio tahanan kayu mutu A = 0.0×1. 2.8 MPa Tahanan tarik terkoreksi (T’) : T’ = Ft’. Gunakan kombinasi pembebanan 1. Ft’ = CMCtCptCFCrtFt b. maka perkuatan mekanis hrs diadakan utk memikul gaya tarik yang terjadi. Asumsi semua nilai faktor koreksi bernilai 1. Contoh Perencanaan Renc dimensi bt tarik AB. Tahanan tarik tegak lurus serat. Penyelesaian: Kuat tarik sejajar serat acuan (Ft’) Ft’ = 0.0×1. 1.1 mm2 . Tahanan komponen str tersusun hrs ditent sbg jumlah dari tahanan masing-masing elemen selama tahanan sambungannya juga dpt menjamin terjadinya distribusi gaya tarik aksial diantara elemen2 tsb. Batang Tarik Tersusun Komponen str tersusun.4D.Фt .8×40.8) Ft’ = 0. batang penyokong.T’ dengan : Tu = gaya tarik terfaktor λ = faktor waktu Фt = faktor tahanan tarik// = 0.Perencanaan bt tarik harus didasarkan pada luas penampang netto. Pada daerah sambungan. jika gaya tarik tegak lurus serat tdk dpt dihindari. T’ = Ft’ . 3.584 An ≥ 3370. batang diafragma. Perencanaan Batang Tarik Batang tarik harus direncanakan utk memenuhi sbb: Tu ≤ λ. alat sambung dari baut.

 Kebanyakan kolom memiliki nilai kelangsingan diantara nilai ekstrim tsb (intermediate column).623 mm2 Dimensi batang AB dipilih 50/100 mm dg luas Ag = 5000 mm2 > 4571 mm2 Kontrol tahanan tarik : Tu = λФtFt’.6×0. jadi luas penampang bruto yg dibutuhkan: Ag = 1. Defleksi aksial sangat kecil .25 An = 4212.7 x 5000 = 3500 mm2 Kontrol tahanan tarik batang AB : Tu = λФtFt’.  Perenc lebih rumit dari batang tarik karena adanya perilaku tekuk lateral yg menimbulkan momen sekunder selain gaya aksial tekan. shg An = 0.Ag = 0.44 KN > 66 KN ……………(Ok!) Contoh 2 Apabila batang AC pada soal 1 disambung ke batang AB dengan sistem takikan. Gaya bekerja pd titik berat penampang c.75)x5000 = 73440 N = 73. e. Kolom lurus b.8 x 40.8×40. 1.  Pada Frame dikenal sebagai KOLOM. Gaya Tekan Kritis Beberapa anggapan yang dipakai : a. IV.5 KN > 66 KN ………………. BATANG TEKAN  Elemen str ini dijumpai pada Truss atau Frame.8x(0.7. Defleksi lateral hanya akibat momen tekuk saja.Contoh 1 lanjutan Menent luas penampang bruto (Ag) : Pengurangan luas akibat alat sambung diperkirakan 25%.  Jika nilai kelangsingan kecil (kolom pendek/stocky column). Jadi dimensi batang AB masih dapat digunakan.  Jika nilai kelangsingan tinggi (kolom langsing/long column). Perilaku bahan kayu bersifat linier d.An Tu = 0.(Aman).An = 0.  Tekuk lateral dipengaruhi oleh nilai kelangsingan (nilai banding antara panjang efektif dg jarijari girasi).. maka serat-serat kayu akan gagal tekan (crushing failure). maka kolom akan mengalami kegagalan tekuk dan serat-serat belum mencapai kuat tekannya bahkan masih pada kondisi elestis (lateral buckling failure). check kembali dimensi batang AB 50/100 mm masih dpt dipergunakan ? Penyelesaian: Menghit luas netto batang AB (An) : Pengurangan luas maks akibat takikan adalah 30%.8 x 3500 = 68544 N = 68.6 x 0.

tumpuan sendi-sendi : .tumpuan jepit-jepit : Apabila L diganti dg KeL dengan Ke faktor panjang tekuk (Ke = 1 utk sendi-sendi.5 jepit-jepit). Panjang Efektif Kolom Panjang efektif kolom hrs diambil sebagai KeLl. .85 Nilai modulus elastisitas terkoreksi pd persentil ke-5 dihitung sbb: .Gaya tekan kritis Euler (Pe). dimana Ke adalah faktor panjang tekuk yg tergantung dari perletakan ujung kolom. Ke = 0..90 (faktor tahanan tekan sejajar serat) P’ = tahanan terkoreksi 3. maka kuat tekan Euler : 2. 2002) : Pu ≤ λ Фc P’ dengan : Pu = Gaya tekan terfaktor λ = Faktor waktu Фc = 0. Nilai Ke untuk beberapa jenis kondisi kekangan ujung dpt ditentukan menggunakan hub pada Gbr berikut Tabel nilai Ke str tekan : Kelangsingan kolom = Jari2 girasi penampang persegi: Jari2 girasi penampang bulat : 4. Perencanaan Batang Tekan Batang tekan hrs direnc sbb (SNI-5.80 untuk batang masif Фc = faktor tahanan tekan = 0. Tahanan Kolom Prismatis Tahanan tekan kolom terkoreksi : Faktor kestabilan kolom (Cp) : Keterangan: A = luas pnp bruto Fc* = Kuat tekan terkoreksi // serat (stlh dikalikan semua faktor koreksi kecuali Cp) E05’ = Nilai modulus elastisitas lentur pd persentil ke-5 Pc = Tahanan tekuk elastis (Euler) pd arah yg ditinjau P0’ = Tahanan tekan aksial terkoreksi // serat pd kelangsingan kolom sama dg nol c = 0.90 Фs = Faktor tahanan stabilitas = 0.

Pada bid sb bahan : l1/d1 ≤ 80 2.143 tetapi ≤ 7 Mpa 0. Ks = 0. Dimensi 50/120 mm L = (1252 + 1502)0.50 ((l1/d1)-11)*0. Berat jenis kayu (G) Ks(Mpa)* G ≥ 0. Tidak memerlukan klos lapangan.121 tetapi ≤ 6 Mpa 0.00 x 1. Kolom Berspasi Ada 2 sumbu utama yg melalui titik berat penampang yaitu sumbu bebas bahan dan sumbu bahan.4 = 13.00 x 1. Fc = 0. Asumsi buhul ad sendi.2887. Pada bid sb bebas bahan : l2/d2 ≤ 50 Alat sambung dimasing-masing bid kontak antara klos tumpuan dan komponen str kolom di setiap ujung kolom berspasi harus mempunyai tahanan geser sbb : Z’ = A1Ks Tabel Konstanta klos tumpuan (Ks).50 ≤ G ≤ 0.00 = 32 MPa P0’ = A.4 mm Kelangsingan = (KeL)/r = (1 x 195)/14. Renc batang tekan AC pd contoh soal bt.8.atau: E05’ = 0. Contoh Soal 1.69 Ew = 0.8 x 40 = 32 MPa Ew = 0.100 tetapi ≤ 5 Mpa G ≤ 0. Tarik. Jari2 girasi (r) = 0.69 x 16000 = 11040 MPa E05’ = E05CMCtCpt = 11040 MPa Menghit tahanan tekan terkoreksi (P’): P’ = CpP0’ = 0.8 x 20000 = 16000 MPa Menghit faktor kestabilan kolom (Cp): Fc* = FcCMCtCptCF = 32 x 1.42 ≤ G ≤ 0.00 x 1.60 ((l1/d1)-11)*0. Fc* = 50 x 120 x 32 = 192 kN E05 = 0.42 ((l1/d1)-11)*0.5 = 195 mm. Pada bid sb bahan : l3/d1 ≤ 40 3.69 Ew’ 5.56 Menghit kuat tekan sejajar serat acuan (Fc) dan modulus elastisitas lentur acuan (Ew) akibat rasio tahanan mutu kayu A sebesar 0.99 x 192 = 190 kN . Penyelesaian: Trial 1.074 tetapi ≤ 4 Mpa NB : * Untuk l1/d1 ≤ 11. Perbandingan panjang thd lebar maks: 1.b = 14.60 ((l1/d1)-11)*0.

9 x 190 97.6 x 0. Data sambungan: Diameter baut (D) = 12. faktor waktu (λ) = 0. Hitunglah tahanan tekan dari batang tekan berspasi disamping bila kayu yg digunakan dg kode mutu E18.6 kN ………………. spasi 1400 ksi.5D<127 mm (lihat Catatan 2 dan 3) Beban Tegaklurus Arah Serat Ketentuan Dimensi Minimum Jarak Tepi (bopt) Tepi yang dibebani Tepi yang tidak dibebani Jarak Ujung (aopt) Spasi (sopt) Spasi dalam baris alat pengencang Jarak antar baris alat pengencang: lm/D £2 2<lm/D a. Penyelesaian: Kontrol persyaratan kolom berspasi: Asumsi terdpt klos tumpuan dimasing2 ujung dan satu klos di lapangan pd setengah tinggi kolom. dan pertimbangkan faktor koreksi layan basah (CM) akibat k. Nilai pd tabel ini cukup aman untuk diameter baut < 1 inchi.5 mm .00.7 mm.5D atau 1/2 jarak antar baris alat pengencang tegak lurus serat 7D 4D 4D 1. l1/d = 3000/60 = 50 (< 80) l3/d = 1500/60 = 25 (< 40) l2/d2 = 3000/100 = 30 (6 Jarak Ujung (aopt): Komponen Tarik Komponen Tekan Spasi (sopt) Spasi dalam baris alat pengencang Jarak antar baris alat pengencang 1.5 kN ≤ 102.Kontrol tahanan tekan terfaktor: Pu ≤ λФcP’ 97.5 kN ≤ 0. (OK!) Contoh 2.. Contoh menghit (Cg) menurut SNI-5 (2002). maka klmpk alat sambung baut dianggap terdiri dari 2 baris dg baris pertama terdiri dari 10 baut dan baris kedua tediri dari 5 baut. jarak antar baut 5D = 63. maka gunakan Am/As 2.a yg lebih tinggi dari 19oC. Jika b/4 1.5D yang terbesar dari 1.8. Jika b/4 a. maka klmpk alat sambung baut dianggap terdiri dari 2 baris dg 10 baut tiap satu baris.

Bila spasi dlm baris alat pengencang (s) ≥ sopt (Tabel 3).00 Bila Spasi dalam baris alat pengencang. maka CΔ = 1. Contoh Analisis Sambungan Baut.7)1.00 Bila IV. maka CΔ = 1.133 kN/mm = 11133 N/mm Menghit nilai ai Bila i = 1 (baris paku ke-1).96 2. Hitunglah besarnya tahanan lateral acuan Zu ? Penyelesaian: Menghit tahanan lateral acuan satu baut (Z) Data sambungan: Diameter baut (D) = 12.5 = 11.7 mm Sudut sambungan θ = 0o (samb perpanjangan) Tebal kayu sekunder (ts) = 40 mm Tebal kayu utama ™ = 80 mm Tahanan lentur baut (Fyb) = 320 N/mm2 Kuat tumpu kayu sekunder dan kayu utama dg berat jenis 0. Sebuah sambungan perpanjangan spt Gambar. Pada baris paku ke-2 (i = 2).8. Jarak ujung. Bila jarak ujung (a) ≥ aopt (pada Tabel 3). Faktor koreksi geometri (CΔ).96. shg: Tahanan lateral acuan (Z) Moda kelelehan Im Moda kelelehan Is Moda kelelehan IIIs . Tahanan lateral acuan harus dikalikan dg faktor geometri (CΔ).Kayu utama 8/12. faktor waktu λ = 0.246(12. maka (EA)m = 20000 x 80 x 120 = 192 x 106 N Kayu samping 2×4/12. maka n1 = 5 dan a1 = 4. γ = 0. Contoh 1.1: Fes// = Fem// = 61. n2 = 5 dan a2 = 4. (EA)s = 20000 x 2 x 40 x 120 = 192 x 106 N Penyelesaian. tersusun dari kayu dg berat jenis 0. Diameter baut 12. dengan CΔ adalah nilai terkecil dari faktor geometri yg dipersyaratkan untuk jarak ujung atau spasi dlm baris alat pengencang.8.7 mm.8 N/mm2 .8 dpt dilihat pada Tabel 13.

s pada gambar = 60 mm sopt = 50.85): Fes// = 65.8.867 x 1. tm = 100 mm Kuat tumpu kayu (G = 0.5 As = 40 x 120 = 4800 mm2 ~ 7.9 mm .8 kN Contoh 2.66 N/mm2 Fem// = 42 N/mm2 Re = Fem/Fes = 0.00 x 8 x 27119 Zu = 97810 N ~ 97.44 in2 As = 5 in2 .65 x 0.Z Zu ≤ 0.00 b. U. Cg = 0.8 x 0. maka CΔ = 1.84 As = 12 in2 .Moda kelelehan IV Menghit nilai koreksi:  Faktor aksi kelompok (Cg) Dari Tabel 4 NDS. Cg = 0. Jarak ujung pd gambar (a) = 100 mm Jarak ujung optimum (aopt) = 7D = 88.8 mm Karena s > sopt .64 Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 44342 Im 69321 Is 32543 IIIs 31097 IV . maka :  Nilai koreksi geometrik (CΔ) a.92 As = 7. Sebuah sambungan buhul spt gambar tersusun dari kayu dg berat jenis 0. Spasi dlm baris alat pengencang (s). Diameter baut yg digunakan 15. maka CΔ = 1. Cek apakah sambungan mampu mendukung beban yg bekerja? Penyelesaian: Menghit tahanan lateral acuan satu baut (Z).44 in2 .9 mm. Data sambungan: D = 15.λ.85. faktor waktu λ = 0.S: As/Am = 0.00 Menent Tahanan lateral acuan ijin (Zu): Zu ≤ Фz.nf. Jarak ujung.9 mm Karena a > aopt . θ = 90o Fyb = 320 N/mm2 ts = 50 mm .Cg.44 in2 Interpolasi nilai Cg untuk As = 7.CΔ.

625 in2 As = 5 in2 . Apabila diameter baut yang dipergunakan adalah 15. Menghitung tahanan lateral acuan satu baut (Z).65 x 0.λ.C.8 N/mm2 Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 21749 Im 44511 Is 28824 IIIs 35366 IV Jadi tahanan lateral acuan adalah 21749 N.00.9 kN > 55 kN …OK! Contoh 3.98 As = 12 in2 . Menent tahanan lateral acuan ijin (Zu): Zu ≤ Фz.9 = 6.8. maka jarak antar baris alat pengencang adalah 5D = 79.625 in2 Interpolasi nilai (Cg) untuk As = 11. Jarak ujung: batang horizontal tdk terputus (menerus).99 As = 11. Sambungan spt di bawah ini. Sambungan 2 irisan antara batang 1 dg batang 2 (1-2-1).00.8: Fes// = 61. Jarak antar baris pengencang pd gambar adalah 80 mm.9 mm sebanyak 2 bh.Z Zu ≤ 0. Gunakan faktor waktu λ = 0.5 mm.S (Tabel 4): As/Am = 0. Cg = 0. c. Cg = 0. cek apakah sambungan mampu mendukung beban2 yg bekerja. D = 15.nf.989 x 1. tersusun dari kayu dg berat jenis 0.9 mm θ = 45o Fyb = 320 N/mm2 ts = 40 mm tm = 30 mm Kuat tumpu kayu dg berat jenis 0. b.43 N/mm2 Fem// = 61.Cg. sedangkan yg paling belakang adalah batang 5.8 N/mm2 Fem45o = 47. As = 50 x 150 = 7500 mm2 ~ 11.5D = 24 mm) b. U.3. Jarak antar baris alat pengencang: lm/D = 100/15.Menghit nilai koreksi:  Faktor aksi kelompok (Cg) NDS.8. dan faktor koreksi sambungan 1.5 .00 x 4 x 31097 = 66. maka  Nilai koreksi geometrik (CΔ) a. Penamaan batang 1 sampai batang 5 menjelaskan letak batang yg disambung.8 x 0. maka faktor koreksi ujung tdk dihitung. Jadi CΔ = 1.625 in2 . a.43 N/mm2 . Batang yg terletak paling depan adalah batang 1. Jarak tepi: jarak tepi dg beban = 70 mm (> 4D = 64 mm) jarak tepi tanpa beban = 30 mm (> 1.8: Fes45o = 47. Sambungan 2 irisan antara batang 2 dg batang 3 (2-3-2) D = 15.9 mm θ = 45o Fyb = 320 N/mm2 ts = 30 mm tm = 80 mm Kuat tumpu kayu dg berat jenis 0.

Sambungan 2 irisan antara batang 3 dg batang 2 (3-2-3) D = 15. terutama yg terletak jauh dr tumpuan dan berada pd sisi tarik. Apabila balok diletakkan secara tidur.Bentang renc digunakan utk menghitung momen lentur. dan lendutan. gaya geser. . Konstr sistem lantai terdpt tiga atau lebih balok kayu yg tersusun dg jarak tdk lebih dr 600 mm (pusat ke pusat) kemudian disatukan dg sistem penutup. maka bentang renc ad bentang bersih ditambah setengah kali panjang tumpuan pada masing2 ujung.Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 44511 Im 43497 Is 27909 IIIs* 35366 IV * Moda kelelehan ini tdk mungkin terjadi c. BATANG LENTUR (BALOK) 1. maka tahanan lentur acuan dpt dikalikan dg faktor koreksi pembagi beban (Cb) = 1. V. maka kekuatan konstr tdk sepenuhnya tergantung pd masing2 tahanan lentur satu balok (semua balok bekerja bersama). dengan: Mu = Momen lentur terfaktor Vu = Gaya geser terfaktor M’ = Tahanan lentur terkoreksi V’ = Tahanan geser terkoreksi λ = Faktor waktu Фb = Faktor tahanan lentur = 0. maka tahanan lentur acuan dpt dikalikan dg faktor koreksi penggunaan datar (Cfu) spt pd tabel berikut.43 N/mm2 Fem// = 61.15.Takikan pada balok harus dihindari. Perencanaan Batang Lentur Direnc untuk dpt mendukung gaya momen dan gaya geser.85 Фv = Faktor tah Str berbentang sederhana yg tdk menyatu dg tumpuannya. Untuk mempertimbangkan perilaku ini. shg menderita tegangan lentur pada sb lemahnya.8 N/mm2 Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 21749 Im 89022 Is 43842 IIIs* 35366 IV * Moda kelelehan ini tdk mungkin terjadi Jadi Tahanan lateral acuan adalah 21749 N (nilai terkecil antara b dan c) Menentukan tahanan lateral acuan ijin sambungan (Zu).8: Fes45o = 47.9 mm θ = 45o Fyb = 320 N/mm2 ts = 80 mm tm = 30 mm Kuat tumpu kayu dg berat jenis 0.

Pengaku lateral (Bracing) Balok yg memiliki perbandingan tinggi terhadap lebar lebih besar dari dua dan dibebani thd sb kuatnya harus memiliki pengaku lateral pada tumpuan-tumpuannya untuk mencegah terjadinya rotasi atau peralihan lateral. d). b.15 1. Kedua sisi tekan dan tarik dikekang scr bersamaan pd seluruh panjang. 6 < d/b 7 . shg rasio kelangsingan (Rb) tdk melebihi 50 spt pers.10 1. tdk diperlukan pengekang lateral.05 150 mm 1. d/b < 2 . 2 < d/b < 5 . Tahanan lentur terkoreksi dr balok berpenampang prismatis yg terlentur thd sb kuatnya (x – x) adalah: M’ = Mx’ = Sx Fbx’ dengan: M’ = Mx’ = tahanan lentur terkoreksi thd sb kuat Sx = modulus penampang thd sb kuat Fbx’ = kuat lentur terkoreksi thd sb kuat dg nilai faktor koreksi Cl = 1. 5< d/b < 6 .00 Tahanan lentur terkoreksi dr balok berpenampang prismatis yg terlentur thd sb kuatnya (y – y) adalah: M’ = My’ = Sy Fby’ dengan: M’ = My’ = tahanan lentur terkoreksi thd sb lemah . Tahanan lentur balok yg terkekang dlm arah lateral Anggapan bahwa balok yg terkekang penuh dlm arah lateral dijumpai pd kondisi berikut: 1). bujur sangkar. semua tumpuan hrs dikekang menggunakan kayu masif pd seluruh ketinggian balok. Balok berpenampang bundar atau bujur sangkar 2). c).15 1.05 250 mm 1.00 125 mm 1. Untuk balok kayu masif.10 a. sisi tekan hrs dikekang scr menerus sepanjang balok. Balok berpenampang persegi panjang yg terbebani pd arah sb lemahnya saja.Lebar Tebal/tinggi 50 mm dan 75 mm 100 mm 50 mm dan 75 mm 1. persegi panjang yg mengalami lentur thd sb lemahnya saja.20 1. Balok berpenampang persegi panjang yg terbebani pd arah sb kuat dan memenuhi persyaratan pengaku lateral. Pengaku lateral tdk diperlukan pd balok bundar. kekangan yg digunakan untuk mencegah rotasi atau peralihan lateral ditent berdasarkan nilai perbandingan tinggi nominal terhadap tebal nominal (d/b) sbb: a). b). 3). Pengaku lateral hrs diadakan pd semua balok kayu masif persegi panjang.00 100 mm 1.05 200 mm 1.10 1. berikut.

c.Sy = modulus penampang thd sb lemah Fby’ = kuat lentur terkoreksi thd sb lemah dg nilai faktor koreksi Cl = 1. Tahanan lentur balok tanpa pengekang lateral penuh.k penggunaan datar (Cfu) dan f. Gaya Geser Apabila beban yg mengakibatkan lentur bekerja pd muka balok yg berlawanan dg muka tumpuan maka seluruh beban yg terletak di dlm jarak d (tinggi balok) dr bid muka tumpuan tidak perlu diperhitungkan dlm menent gaya geser perlu (Gambar. cb = 0. Tahanan lentur balok tanpa pengekang lateral penuh. dan 1.k stabilitas balok (CL). Me = momen tekuk lateral elastis yg besarnya sbb: 2. 2) Tahanan Geser terkoreksi (V’) dihitung sbb: Dengan : Fv’ = kuat geser sejajar serat terkoreksi I = momen inersia balok b = lebar penampang balok Q = momen statis penampang thd sb netral .40 (komponen str berpenampang persegi panjang yg terlentur thd sb diagonal). Tahanan lentur terkoreksi thd sb kuat (x – x) dr balok berpenampang prismatis persegi panjang tanpa pengekang lateral atau bagian yg tak terkekang dr balok tsb adalah: M’ = CLSxFbx* Faktor stabilitas balok (CL) dihitung sbb: Sx = modulus pnp utk lentur thd sb kuat Mx* = tahanan lentur thd sb kuat dikalikan dg semua faktor koreksi kecuali f.95 Фs = 0.00 Tahanan lentur terkoreksi thd sb kuat (x –x) hrs dikalikan dg faktor koreksi bentuk (Cf) sebesar 1.15 (utk komponen str berpenampang bundar selain utk tiang dan pancang).85 (faktor tahanan stabilitas).00 Tahanan lentur terkoreksi thd sb kuat (x –x) hrs dikalikan dg faktor koreksi bentuk (Cf) sebesar 1.40 (komponen str berpenampang persegi panjang yg terlentur thd sb diagonal). Tahanan lentur terkoreksi thd sb kuat (x – x) dr balok berpenampang prismatis persegi panjang tanpa pengekang lateral atau bagian yg tak terkekang dr balok tsb adalah: M’ = CLSxFbx* Tahanan lentur terkoreksi dr balok berpenampang prismatis yg terlentur thd sb kuatnya (y – y) adalah: M’ = My’ = Sy Fby’ dengan: M’ = My’ = tahanan lentur terkoreksi thd sb lemah Sy = modulus penampang thd sb lemah Fby’ = kuat lentur terkoreksi thd sb lemah dg nilai faktor koreksi Cl = 1. c. dan 1.15 (utk komponen str berpenampang bundar selain utk tiang dan pancang).

maka tahanan geser terkoreksi dihitung sbb: b. Contoh Perencanaan Batang Lentur Contoh 1. dan jarak ke bid tumpu dr ujung kolom (la) > 75 mm. Lendutan Lendutan sebuah batang lentur (Gbr. maka dpt diasumsikan terdpt kekangan lateral pd kedua ujungnya setinggi balok dan kekangan pd sisi tekan (sisi atas) balok sepanjang bentang. 6) maka kontrol tegangan tekan hrs dilakukan sbb: 5. pers diatas bisa disederhanakan sbb: a. dan tinggi d. Balok dr sistem lantai mendukung beban mati terbagi merata sebesar 5 kN/m’ (termasuk b. tahanan geser terkoreksi pd pnp bertakik dihitung sbb: d = tinggi balok tanpa takikan dn = tinggi balok di daerah takikan Apabila pd ujung takikan terdpt irisan miring dg sudut θ (Gbr. kontrol apakah balok memenuhi persyaratan tahanan lentur. 1) thd arah serat kayu.Utk pnp persegi panjang dg lebar b. 4) disebabkan oleh beberapa faktor : gaya luar yg bekerja. Apabila dimensi balok kayu 80/200 dg kode mutu E19. Lendutan ijin (konstr terlindung) = L/300 (konstr tak terlindung) = L/400 4. Tahanan geser di daerah sambungan Apabila sambungan pd balok persegi panjang menyalurkan gaya yg cukupbesar shg menghasilkan lebih dr setengah gaya geser disetiap sisi sambungan maka tahanan geser terkoreksi dihitung sbb: dengan: de = tinggi efektif balok pd derah sambungan (Gbr.s). geser. Pada pnp disepanjang takikan dr sebuah balok persegi panjang setinggi d. bidang kontak antara balok dg tumpuan atau dg gaya2 luar harus direncanakan sbb: Apabila panjang bid tumpu (lb) dlm arah panjang komponen str ≤ 150 mm. Perencanaan Tumpuan Balok kayu pd bagian tumpuan atau pd lokasi dimana gaya luar bekerja scr langsung menderita tegangan tekan tegak lurus serat (Gbr. momen inersia. Gunakan f.k bidang tumpu (Cb) sebesar Apabila bid kontak antara tumpuan dg balok tdk tegak lurus serat. bentang. melainkan bersudut θ (Gbr. Tahanan geser di daerah takikan. dan modulus elastisitas terkoreksi. 3) 3. 5). dan lendutan.00.k CM = Ct = Cpt = CF = 1. Penyelesaian: Karena balok dari sistem lantai. Jadi . maka tahanan tekan tegak lurus serat dpt dikalikan f.

333 x 44 = 23.00. Kontrol lendutan. Berdasar kombinasi pembebanan 1.6 x 0. dan nilai d/b (150/60 = 2. E’ = Ew.faktor koreksi stabilitas balok (CL) tdk perlu diperhitungkan Analisis str dg kombinasi pembebanan 1.88 kN ……….5) lebih besar dari 2.6.Ct.4D Trial 1.V’ 8. tentukan dimensi balok yg memenuhi persyaratan lentur dan geser.Mx’ 5. dimensi balok bisa diperkecil bila diinginkan.00 = 18000 MPa Lendutan ijin = L/300 = 2500/300 = 8. Penampang balok 60/150.73 = 26.4D dan faktor waktu (λ) = 0. Penyelesaian: Analisa str dg pembebanan 1.Фb.47 kNm Momen lentur terfaktor (Mu) Mu ≤ λ.00 x 1.Фv. Walaupun demikian. Beban terbagi merata dan beban titik berasal dr beban mati (D). Fbx’ = Fbx = 47 MPa (semua f koreksi dianggap = 1.75 x 59. Kontrol tahanan geser.00) . Kontrol tahanan lentur.97 kNm …………(Ok!) b. Pada balok tdk terdpt pengaku lateral baik pd kedua ujungnya maupun pd sisi tekan.3 mm Lendutan maks (Δ): Jadi balok 80/200 memenuhi persyaratan.00 x 1. Gaya geser terfaktor (Vu). Balok dg sistem pembebanan spt Gbr. maka kontrol tahanan lentur ditent dg pers berikut: Kontrol tahanan lentur.4D: Momen lentur maks = Gaya geser maks = a.6 x 0.85 x 23.CM. balok terlentur pd sb kuatnya.Cpt = 18000 x 1. terbuat dr kayu dg kode mutu E20.47 = 11. Vu ≤ λ.47 kNm ≤ 0. Contoh 2.75 kN ≤ 0.(Ok!) c. Modulus penampang (Sx) : Tahanan momen lentur terkoreksi (Mx’): Mx’ = Sx Fbx’ = 533. Karena tdk ada pengekang lateral.

Fbx’ = 0.6La + 0. maka balok tdk diperlukan kekangan lateral. menerima beban pd kedua sumbunya ( sb x-x dan sb y-y).575 mm lu/d = 3000/150 = 20 Karena lu/d ≥ 14.5625 kNm Mx(W) = 0.2D + 1.8 < 2.2×32/8 = 0.8My(W) = 1.94 kNm ………(Ok!) Kontrol thd geser.Modulus penampang (Sx). Faktor koreksi stabilitas balok (CL) = 1.6 x 0.38 kNm Momen lentur terfaktor (Mu) Mu ≤ λ. Gunakan faktor koreksi CM = Ct = Cpt = 1.6 x 0.Фb.000 x 47 = 10.Fbx’ = 225.5×3/4 = 0.4 kNm Momen lentur terfaktor (Mu).5×32/8 = 0. Renc dimensi gording dg kombinasi 1. Mu ≤ λ.38 = 12.8 MPa Tahanan geser terkoreksi (V’): Gaya geser terfaktor (Vu): Contoh 3.55 kNm ≤ 0. Fbx’ = 540.85 x 25.00 = 5. Sx.2My(D) + 1.00.63lu + 3d = 1.225 kNm My(W) = 0 Mx(La) = 0.85 x 10.4 = 5.Mx’ 11.Ct.75×32/8 = 0. Sx = bd2/6 = (60 x 150)2/6 = 225.000 mm2 Menghit faktor stabilitas balok (CL).Фb.Mx’ 11.275 kNm Tegangan acuan kayu (kode mutu E17): Ew = 16000 MPa.8x ¾ = 0.8Mx(W) = 2.1 kNm Muy = 1. Kontrol tahanan lentur: Fbx’ = 47 MPa Sx = bd2/6 = (100 x 180)2/6 = 540.CM.000 x 47 = 25.987 x 225. Dimensi balok 100/180.000 mm3 Mx’ = Sx.8W.3 kNm………(No!) Trial 2. Mx(D) = 0.6My(La) + 0.00 x 1.0.6Mx(La) + 0. Digunakan kayu E17. dan Fb = 38 MPa Pers tegangan lentur: . Mx’ = Cl. maka: le = 1. Nilai d/b = 180/100 = 1.Cpt = 5.000 x 47 = 10.8 x 1. Mx* = Sx.3 .6 kNm My(La) = 0.55 kNm ≤ 0. Balok gording dr rangka atap dg bentang 3 m. My(D) = 0.844 kNm.2Mx(D) + 1.00 x 1.63 x 3000 + 3 x 150 = 5340 mm Rasio kelangsingan (Rb). Fv’ = Fv.375 kNm Penyelesaian: Momen terfaktor: Mux = 1. Tahanan momen lentur terkoreksi (Mx’).00.

CF.Ct.00. maka pada balok tdk diperlukan pengekang lateral.Fby’ = 160.Ct. perenc balok kolom hrs didasarkan pers (1) kemudian dpt digambarkan menjadi diagram (Gambar 2) berikut: dengan: Tu = Gaya tarik terfaktor Mux = Momen lentur terfaktor Ms’ = Tahanan lentur terkoreksi arah sb-x (Mx’) dg faktor stabilitas (CL) = 1. 1.000 x 38 = 11.000 mm3 Karena nilai banding d/b = 1.00. CL = 1. Pada balok kolom.Cpt = 16000 MPa Lendutan pada sb kuat (Δx) = Lendutan pada sb lemah (Δy) = Lendutan total (Δ) = Jadi dimensi balok 80/150 dpt digunakan. tekan (atas) dan tarik (bawah) Pada sisi tarik (bawah) dari kondisi a dan b. Kombinasi momen lentur dg gaya aksial tarik Berdasarkan besarnya gaya tarik aksial.CM.Fbx = 38 MPa Mx’ = Sx. Kombinasi .4 kNm Fby’ = Fby = 38 MPa My’ = Sy. Фt = 0. dua macam gaya bekerja bersamaan yaitu momen lentur dan gaya aksial (tekan atau tarik).00.Fbx’ = 300.80 .000 x 38 = 6.000 mm3 Sy = 150×802/6 = 160. Fbx’ = CM. VI.4 x 106 mm4 Sx = 1502×80/6 = 300. ada 2 kondisi : a.08 kNm Kontrol tegangan lentur : Kontrol lendutan balok: Lendutan ijin (Δmax) : L/300 = 3000/300 = 10 mm (gording : konstr terlindung) Lendutan akibat beban tetap: E’ = Ew.5 x 106 mm4 Iy = 150×803/12 = 6. contohnya Balok Kolom.Trial 1. (dimensi kayu b = 80 mm dan d = 150 mm) Ix = 1503×80/12 = 22. jika perlu dpt diperkecil lagi.Cpt. BALOK KOLOM Komponen struktur seringkali menderita kombinasi beberapa macam gaya.875 ≤ 2. Seluruh penampang mengalami tarik b.

tdk ada gaya transversal diantara kedua ujungnya maka pd arah bidang lentur yg sedang ditinjau berlaku: M1/M2 = perbandingan momen ujung terkecil thd momen ujung terbesar. faktor d/6 (d = tinggi komp str) diganti dg Sx/A1 (perbandingan modulus pnp thd sb kuat dan luas bruto). maka momen terfaktor Mmx ditent menggunakan metode pembesaran momen yg memperhit faktor pembesaran thd momen orde pertama akibat beban terfaktor yg tdk menimbulkan goyangan (Mbx) dan faktor pembesaran thd momen orde pertama akibat beban terfaktor yg menimbulkan goyangan (Msx). Komp str tekan yang: . Balok kolom hrs direnc berdasar pers 3 berikut. semua suku hrs diambil positif.terkekang thd rotasi pd kedua ujungnya . dengan: Pu = gaya tekan aksial P’ = tahanan tekan terkoreksi utk tekuk thd sb lemah bila beban yg bekerja adlh gaya tekan murni Mmx = momen terfaktor termasuk pengaruh orde kedua Mx’ = tahanan lentur terkoreksi dg faktor koreksi (Cb) = 1. = bernilai negatif utk kondisi kelengkungan tunggal. Keterangan: Bbx & Bsx = faktor pembesaran momen.terkekang thd semua translasi pd sambungan2nya . Jika komponen str dpt bergoyang (tanpa pengaku) = dihitung dg pers disamping Komponen str yg tdk dpt bergoyang (dg pengaku). Komponen str tdk persegi panjang. Koefisien Cmx ditent sbb: a). 2. . Фc = 0. Kombinasi momen lentur dg gaya aksial tekan.85 T’ = Tahanan tarik terkoreksi Perenc sisi tekan (atas) dr kondisi (b) hrs didasarkan pd pers 2. Balok kolom dg beban merata pd arah lateral dan gaya tekan aksial hrs diperhit thd pengaruh pembesaran momen lentur akibat timbulnya defleksi lateral (P-Δ effect). Bsx = 0 dengan: Pex = tahanan tekuk kritis thd sb kuat ( x – x ) ΣPu = jumlah gaya aksial tekan terfaktor akibat gravitasi utk seluruh kolom pd satu tingkat yg ditinjau ΣPex = jumlah tahanan tekuk kritis kolom bergoyang pd satu tingkat yg ditinjau.00.90 Bila tdk digunakan analisis orde kedua.Фb = 0.

Fbx’ = 1/6 (50 x 1202) x 56 = 6. Beban merata dr kombinasi pembebanan 1. dan Ft = 47 MPa.4D.Sx. maka kontrol tahanan lentur (Mx’) dihit dg memperhatikan faktor koreksi stabilitas balok (CL).6L.63 x 3000 + 3 x 120 = 5. Semua batang tekan terbuat dr kayu dg mutu E21. Penyelesaian: Hasil analisis str pd kolom tengah: Gaya tekan terfaktor (P) = 80 kN Momen terfaktor yg tdk menimbulkan goyangan (Mbx) = 0 kNm .00 x 47 x 0.72 kNm lu/d = 3000/120 = 25 Karena lu/d ≥ 14. Balok kolom dg pembebanan spt gambar terbuat dari kayu 50/120 dg kode E21. Gunakan faktor waktu (λ) = 0.00.000 x 56 = 6. Cm = 1. – Komponen str yg kedua ujungnya terkekang thd rotasi.Cpt.25 kNm Kontrol sisi tarik (bawah): T’ = CM.b).45 kNm Contoh 2. Apabila semua faktor koreksi dianggap = 1.00. sedangkan beban aksial tarik dr kombinasi pembebanan 1.4 ≥ 2.72 kNm Pers interaksi : Kontrol sisi tekan (atas): Karena nilai d/b = 2. Menghit faktor stabilitas balok (CL). Contoh perenc balok kolom.80. Analisis kolom tengah pd portal bergoyang dg beban terfaktor seperti di bawah.000 x 56 = 6.Fbx’ = 0.000 mm3 Mx* = Sx. Cm = 0.00 x 1.00 x 1.85 — Komponen str yg kedua ujungnya tak terkekang thd rotasi. sb-y) dianggap tdk terjadi.75 x 50 x 120 = 211. dan tdk ada pengekang lateral pd balok.CF.15 kN Fbx’ = Fbx = 56 MPa Ms’ = Sx.63lu + 3d = 1.96 x 120.Fbx’ = 120. 3.00 x 1. Tekuk kolom tegak lurus bidang gambar (pada sb bebas bahan.3 maka: le = 1.00. Momen akibat beban terbagi merata: Mux = wL2/8 = (2 x 30002)/8 = 2. Sx = (bd2)/6 = (50 x 1202)/6 = 120.250 mm Rasio kelangsingan (Rb): Tahanan momen lentur terkoreksi (Mx’) Mx’ = CL. balok terlentur pd sb kuatnya.Cr.Ft’An (luas netto diasumsikan 75% luas bruto) = 1.2D+1. Contoh 1. tunjukkan apakah balok kolom mampu mendukung beban tsb? Penyelesaian: Data kayu mutu E21 : Fb = 56 MPa.

dua irisan. dst. Penyimpangan arah serat 3.5×200) = 1. • Memiliki nilai banding antara kuat dukung sambungan dengan kuat ultimit batang yang disambung yang tinggi. • Menunjukkan perilaku pelelehan sebelum mencapai keruntuhan (daktail) • Memiliki angka penyebaran panas rendah • Murah dan mudah dalam pemasangan Jenis-jenis sambungan: Menurut jumlah batang yang disambung:  Sambungan satu irisan. tarik. Pengurangan luas tampang 2.333. Menurut sifat gaya yang bekerja:  sambungan desak.333.33/(0. PENGENALAN ALAT SAMBUNG KAYU PERLUNYA SAMBUNGAN: Memperpanjang batang kayu (alasan geometrik) : overlapping connection Menggabungkan beberapa batang kayu pada buhul/joint.000 mm2 Modulus penampang (Sx) = Ix/0.Fbx’ = 1.333.33 x 56 = 74.333. 2002): 1. Terbatasnya luas sambungan Ciri-ciri alat sambung yang baik: • Pengurangan luas tampang relatif kecil atau bahkan nol.5d = 133.33 mm3 Jari2 girasi (r ) = Angka kelangsingan = Menghit faktor pembesaran momen (Bsx) Menghit momen terfaktor termasuk pengaruh orde ke-2 (Mmx) Menghit tahanan lentur terkoreksi (Mx’): Karena balok telentur pd sb-x yg merupakan sb lemah penampang. maka tahanan lentur terkoreksi arah x dihitung tanpa meninjau faktor stabilitas balok (CL) Fbx’ = Fbx = 56 MPa Mx’ = Sx. dan momen . Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kekuatan sambungan pada konstruksi kayu ( Awaludin.333.67 kNm Pers interaksi kolom tengah: DASAR-DASAR PERENCANAAN SAMBUNGAN KAYU VII.333.Momen terfaktor yg menimbulkan goyangan (Msx) = 30 kNm Menghit tahanan tekan terkoreksi (P’) Luas bruto penampang kolom (A) = 2x(100×200) = 40.

Terbuat dari kayu yang sangat keras. Alat sambung baut biasanya dipergunakan pada sambungan dua irisan dengan tebal minimum kayu samping 30 mm dan kayu tengah 40 mm dan dilengkapi cincin penutup. di bawah atau sama dengan 0. Alat sambung mekanik (Mechanical connector).5‖ dan 4‖. Cincin belah (split ring). dan rangka.Ditempatkan pada masing-masing kayu yang disambung. • Baut Umumnya terbuat dari baja lunak (mild steel) dengan kepala berbentuk hexagonal. pelat geser.Jenis-jenis alat sambung Racher (1995). Agar terhindar dari pecahnya kayu.75 mm sampai 8 mm dan panjangnya antara 40 mm sampai 200 mm. b. lantai. 2. melakukan pengujian beberapa macam alat sambung yaitu membandingkan kurva beban vs sesaran/slip seperti terlihat pada gambar berikut. lem termasuk alat sambung yang bersifat getas. cincin belah. 2. Diameter baut berkisar ¼‖ sampai dengan 1. . Untuk kemudahan pemasangan.Diameter relatif besar sekitar 10 cm dan tebal 5 cm.Disebut cincin belah karena cincin ini tidak utuh shg mudah mengikuti kembang susut kayu yang disambung.Terbuat dari pressed steel dengan bentuk lingkaran.Berasal dari Jerman .6 (D = diameter paku). Umumnya diameter paku berkisar antara 2. . . paku dan baut).9D untuk kayu dengan Bj. lubang baut diberi kelonggaran 1 mm. Berdasarkan interaksi gaya-gaya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: a. Umumnya dipergunakan pada struktur balok susun. cincin belah. Lem Bila dibandingkan dengan alat sambung yang lain. Keruntuhan yang terjadi tanpa adanya peristiwa pelelehan. dan pelat geser . .6 dan diameter 0. Pelat geser (Shear plate). dome. Kelompok alat sambung yang kekuatannya berasal dari interaksi kuat lentur alat sambung dengan kuat desak atau geser kayu (contoh.25 ―.Terbuat dari besi dengan diameter 2. Pasak kayu Koubler. spikes • Paku Sering dijumpai pada struktur dinding. square. berbentuk silinder dengan diameter bagian tengah lebih besar. • Timber connector 1. 1. 3. atau flat seperti pada Gambar. di atas 0. shg pemindahan gaya dilakukan sepenuhnya oleh baut Gambar alat sambung pasak Koubler. pemasangan paku dapat didahului dengan lubang penuntun yang berdiameter 0. Kelompok alat sambung yang kekuatannya ditentukan oleh luas bidang dukung kayu yang disambungnya (contoh: pasak kayu Koubler.75D untuk kayu dengan Bj. atau produk kayu laminasi. . .

Tabel 1.Umumnya terbuat dari pelat galvanise dengan tebal antara 0. Kuat lentur paku bulat dpt dilihat pd Tabel 3 (ASCE. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada sambungan. joist hanger.Alat ini sudah tidak diproduksi lagi.4.9 mm sampai 2. 3.Adanya mata kayu dapat menurunkan kekuatan tarik dan tekan. maka sesaran berikut berupa gaya perlawanan (tahanan lateral) dari alat sambung.Mudah untuk kayu lunak. Mata kayu . 3. Tahanan Lateral Acuan Sambungan satu irisan dan dibebani tegak lurus sumbu alat pengencang dan dipasang tegak lurus sumbu komponen struktur diambil sebagai nilai terkecil dari persamaan yang dihitung sesuai Tabel 1 dan dikalikan dengan jumlah alat pengencang (nf). . ANALISIS SAMBUNGAN PAKU I. diambil sebesar dua kali tahanan lateral acuan satu irisan terkecil. . VIII. jika tidak akan timbul momen yang dapat menurunkan kekuatan sambungan 2.Terbuat dari lembaran besi berbentuk melingkar dengan permukaan dikedua sisinya tajam atau runcing 6. 5. Tahanan lateral acuan satu paku (Z) pada sambungan dengan satu irisan yang menyambung dua komponen Moda Kelelehan Persamaan yang berlaku Is IIIm .Diameter antara 38 mm sampai 165 mm.Contoh: kokot Buldog dan Geka. Spike grids .Dapat dianggap sebagai pengurangan luas tampang kayu. nail plate.Umumnya berbentuk lingkaran dan segi empat dengan lubang di tengah (untuk penempatan baut pengaku). untuk kayu keras dibantu dengan palu/hammer. panjang. .Contoh: punched plate. Eksentrisitas . . . . Sesaran/slip. . Setelah sesaran awal terlampaui.Titik berat kelompok alat sambung harus terletak pada garis kerja gaya. Sambungan dua irisan. 1. 1997).5 mm.Sesaran yang terjadi dapat dibagi 2 yaitu searan awal yang diakibatkan oleh adanya lubang kelonggaran untuk mempermudah penempatan alat sambung. dan circular. dpt dilihat pd Tabel 4. .Terdiri dari tiga bentuk yaitu flat. Metal plate connectors . Dimensi paku yg meliputi diameter.Berkembang tahun 1960an – saat ini. . Nilai kuat tumpu kayu untuk beberapa nilai berat jenis dpt dilihat pd Tabel 2. single curve. dan angka kelangsingan. . Single atau double sides toothed plate.Pada kelilingnya terdapat gigi berbentuk segi tiga. Toothed ring .

10 D : pelat sisi dari kayu . II.5 D pada tepi yg tidak dibebani . Kedalaman penetrasi (Cd).4 mm. Cd = 2. Spasi antar baris (b). Tahanan lateral acuan dikali-kan dg faktor kedalaman penetrasi (p). spasi minimum antar baris adalah 5 D.10 D : pelat sisi dari baja . Pd semua arah garis kerja gaya thd arah serat kayu: spasi minimum antar alat pengencang dlm satu baris diambil sebear 10 D bila digunakan pelat sisi dari kayu dan minimal 7 D untuk pelat sisi dari baja. tahanan lateral acuan hrs dikalikan dg faktor paku miring Ctn = 0. Jarak ujung (c).p ≥ 12D .38 D + 0. Faktor Koreksi Sambungan Paku 1.83.5 D : pelat sisi dari baja Jarak tepi (jarak tepi dg beban.00 . Cd = 1. dan jarak tepi tanpa beban.3 mm < D < 6. untuk alat pengencang yg ditanam ke dalam serat ujung kayu. Nilai faktor koreksi ini umumnya lebih besar dari 1. = 0. Geometrik Sambungan Paku Spasi dlm satu baris (a).15 D : pelat sisi dari kayu .6D ≤ p ≤ 12D .p ≤ 6D .00.2 untuk D £ 4. Faktor koreksi ini hanya berlaku untuk sambungan rangka kayu dg plywood spt pd str diafragma atau shear wall. untuk beban tarik lateral: b.10 D pada tepi yg dibebani III. Sambungan paku miring (Ctn). e). untuk beban tekan lateral: .3 mm. Contoh soal 1. sbb: . Pada semua arah garis kerja gaya thd arah serat kayu.0 untuk D ³ 6.56 untuk 4. 4. KD = 2. = 3. . Pada sambungan spt ini.IIIs IV Catatan: Re = Fem/Fes p = kedalaman penetrasi efektif batang alat pengencang pada komponen pemegang(lihat Gambar 20). Serat ujung (Ceg).67. d.4 mm. Sambungan diafragma (Cdi). Cd = p/12D . Jarak minimum dr ujung komponen str ke pusat alat pengencang terdekat diambil sbb: a. Jarak minimum dari tepi komponen str ke pusat alat pengencang terdekat diambil sbb: . Tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan faktor serat ujung Ceg = 0.

536 Z’ = Cd. berat jenis kayu 0.2 (diameter paku 12 D (12 x 3.jarak antar baris (b) : 5D = 21 mm ~ 30 mm . Paku 3‖BWG10.00 Z’ = Cd. P ≤ nf.00 x 0.λ.8.00 Tebal kayu penyambung (tebal kayu terkecil) = 30 mm Kedalaman penetrasi (p) = 76 – 30 = 46 mm KD = 2. maka Fes = Fem = 31. Diameter paku (D) = 4. dan Ctn tdk diperhitungkan) = 0. Menghit tahanan lateral acuan satu paku (Z).jarak ujung (c) : 15D = 63 mm ~ 75 mm . Penyelesaian : Dicoba paku 4’’BWG8 (diameter 4.2 = 50. Kayu penyusun sambungan memiliki berat jenis 0.11 N/mm2 dan Re = 1.4 = 0.Фz.Z ≤ 12 x 1.Z (Cdi .2 = 25.55 dan faktor waktu (λ) = 1.jarak tepi tdk dibebani (e) : 5D = 21 mm ~ 30 mm Contoh soal 2. Z = 1.4 mm).8 mm) .2 mm Kuat lentur paku (Fyb) = 620 N/mm2 Kuat kayu samping dan utama dianggap memiliki berat jenis yg sama.65 x 1622 = 12651 N Jadi gaya tarik maks adalah 12.5.2 mm) < 12D (12 x 4. diameter 3.00.4 mm dan panjang 76 mm Kuat lentur paku (Fyb) = 689 N/mm2 Kuat tumpu kayu Fes = Fem = 38.Rencanakan sambungan perpanjangan (lihat Gambar) dg menggunakan alat sambung paku. Hitunglah gaya tarik Pmaks yg dijinkan dari sambungan satu irisan spt gambar.spasi dlm 1 baris (a) : 10D = 42 mm ~ 50 mm .8 x 0.Фz. Ceg . Penyelesaian: Tahanan lateral acuan satu baut (Z). jadi Cd = 1.4 = 40.98 N/mm2 dan Re = 1.536 x 8442 = 4525 N Tahanan lateral ijin satu paku (Zu).00 x 1622 = 1622 N Gaya tarik maks sambungan (P). Tebal kayu samping (ts) = 25 mm Penetrasi pd komponen pemegang (p) = 102 – 25 – 50 = 27 mm KD = 2.65 x 4525 = 2353 N Menghit jumlah paku (nf).2 (untuk paku dg diameter 6D (6 x 4. (dipasang 10 bh paku spt Gambar) Ketent penempatan paku: .2 mm dan panjang 102 mm).Z’ = 0. Zu = λ. Paku yg digunakan 3‖BWG10.651 kN .00. maka: Cd = p/12D = 27/50. Asumsikan nilai (λ) = 0.

 Dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu: • Sambungan gigi tunggal • Sambungan gigi majemuk/rangkap Dalam perhitungan kekuatan sambungan gigi. Z2u = λФzZ2’ Z2u = 1.6 = 0. 1.5‖BWG11. gesekan antara kayu dg kayu harus diabaikan.5‖BWG11. Asumsikan nilai faktor waktu (λ) = 0.85 N Karena paku pada lingkaran r1 lebih dekat jaraknya ke pusat konfigurasi.  Gaya tekan terfaktor (Nu) dpt dihitung dg pers: .4 mm) KD = 2.2 (untuk paku dg diameter 6D = 16.6 mm. kayu diagonal harus dipotong menyiku dg sudut 90o.1 mm dan panjang 63 mm Kuat lentur paku (Fyb) = 689 N/mm2 Kuat tumpu kayu Fes = Fem = 44.73 N/mm2 dan Re = 1.1 = 18. Penyelesaian: Tahanan lateral acuan satu baut (Z) satu irisan. maka Cd = p/12D = 26/33. diameter 3. Sambungan gigi.6 dan paku 2. II. dalamnya gigi ™ ≤ 1/3 h (h adalah tinggi komponen str mendatar)  Panjang kayu muka (lm) . Sambungan Gigi Tunggal  Pada sambungan gigi tunggal. Paku 2.  Pada bagian pertemuan (takikan).80.5 h ≤ lm ≤ 200 mm.8 mm < 12D = 33.  Nama lain .65 x 1409 = 915.0 x 0.00 Tebal kayu samping (ts) = 30 mm Kedalaman penetrasi (p) = 63 – 30 = 33 mm Kontrol overlapping (v) v = 2 x (p – 0. Z1u = 915.2 mm KD = 2. 1.6 mm) 4D = 11.5tm) = 2 x (33 – 25) = 16 mm > 4D (4 x 3.77 Z2’ = Cd. SAMBUNGAN TAKIKAN  Diperoleh dg cara membuat takikan pd bagian pertemuan kayu. termasuk sambungan tradisional dimana penyaluran gaya tdk menggunakan alat sambung tetapi memanfaatkan luas bidang kontak.1 = 12. Hitunglah besarnya gaya tarik P dari sambungan buhul spt gambar yg tersusun dari kayu dg berat jenis 0.2 (diameter paku 6D (6 x 3. maka tahanan lateral yg diperoleh di atas harus diberi faktor koreksi menjadi : Menghitung tahanan momen.85 N Menghitung tahanan lateral ijin paku pd lingkaran r1 (Z1u).Z2 Z2’ = 0.77 x 1830 = 1409 N Menghitung tahanan lateral ijin (Z2u).Contoh soal 3.

Apabila kedalaman gigi tm = 50 mm.9 N/mm2. maka dpt dicoba sambungan gigi majemuk/rangkap spt gambar berikut.8. Dengan:  Nu = gaya tekan terfaktor  α = sudut antara komponen str diagonal thd komp str mendatar. 2.75. Nilai faktor koreksi masa layan dianggap 1. Jadi : Menghitung eksentrisitas (em): Menghitung gaya tekan (Nu): .  Фv = faktor tahanan geser = 0.  em = eksentrisitas pd penampang netto akibat adanya coakan sambungan.  Fv’ = kuat geser sejajar serat terkoreksi. berapakah gaya tekan terfaktor (Nu) maks dg faktor waktu λ = 0. Sambungan gigi majemuk juga disarankan untuk sudut sambungan melebihi 45o. tm2 ≥ tm1 + 20 mm dan tm2 ≤ 1/3 h panjang kayu muka pertama. dan panjang lm = 200 mm.00. Sambungan gigi tunggal spt gambar tersusun dari kayu dg kode mutu E21.  b = lebar komponen str mendatar. tm1 ≥ 30 mm dalamnya gigi kedua.  lm = panjang kayu muka.  λ = faktor waktu sesuai jenis pembebanan. Pada sambungan gigi majemuk terdapat dua gigi dan dua panjang muka yg masing2 diatur sbb: dalamnya gigi pertama. Penyelesaian: Kuat geser sejajar serat (Fv) kayu mutu E21 adalah 5. Sambungan Gigi Majemuk Apabila gaya tekan terfaktor (Nu) melebihi kemampuan dukung sambungan gigi tunggal. lm1 ≥ 200 mm dan lm1 ≥ 4 tm1 Gaya tekan terfaktor (Nu) bagian kayu muka pertama: Gaya tekan terfaktor (Nu) bagian kayu muka kedua: Dengan: lm = panjang kayu muka rerata lm1 = panjang kayu muka pertama lm2 = panjang kayu muka kedua em = eksentrisitas rerata pd pnp netto em1 = eksentrisitas bagian kayu muka pertama em2 = eksentrisitas bagian kayu muka kedua Fm1 = luas bidang tumpu kayu pertama = Fm2 = luas bidang tumpu kayu kedua = Contoh 1. Kayu horizontal dan diagonal memiliki ukuran 8/15 dg sudut yg dibentuknya 35o.

Dimensi kayu horizontal dan diagonal 8/15.Contoh 2. Penyelesaian: Fv’ = Fv = 5.80. Gaya tekan terfaktor (Nu) berdasar kedalaman kayu muka pertama.00 dan faktor waktu λ = 0. Hitunglah besarnya gaya tekan terfaktor maksimum! Asumsikan nilai faktor koreksi masa layan 1. Gaya tekan terfaktor (Nu) berdasar kedalaman kayu muka kedua. Nilai tm1 = 30 mm. Menghitung luas tumpu (Fm). dan tm2 = 50 mm. . Jadi gaya tekan terfaktor (Nu) maksimum adalah 74 kN. Sambungan gigi majemuk spt gambar tersusun dari kayu E21 dg sudut sambungan 45o.9 N/mm2 Menghitung eksentrisitas (em) : Menghitung panjang kayu muka (lm). lm1 = 200 mm.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->