Anda di halaman 1dari 11

HIPERKALSEMIA 1.

Definisi Hiperkalsemia mengacu pada kelebihan kalsium pada plasma, atau suatu keadaan dimana konsentrasi kalsium dalam darah lebihdari 10,5 mg/dl darah. Kondisi ini merupakan ketidakseimbangan yang berbahaya bila berat, pada kenyataannya, krisis krisis hiperkalsemia mempunyai angka mortalitas 50% jika tidak diatasi dengan cepat. Penyebab umum hiperkalsemia adalah penyakit neoplastik malignan dan hiperparatiroidisme. Tumor malignansi dapat menyebabkan hiperkalsemmia melalui berbagai mekanisme. Sekresi hormon paratiroid berlebih yang berkaitan dengan hiperparatiroidisme menyebabkan meningkatnya pelepasan kalsium dari tulang an meningkatnya penyerapan kalsium pada usu dan ginjal. Mineral tulang akan hilang selama imobilisasi, kadang menyebakan kenaikan kalsium total ( dan secara khusus terionisasi ) dalam aliran darah. Hiperkalsemia simtomatik akibat imobilisasi, bagaimanapun jarang terjadi, bila memang terjadi hal ini tampaknya terbatas pada individu dengan angka kepulihan kalsium yang tinggi ( seperti pada remaja selama pertumbuhan yang cepat ). Sebagian besar kasus hiperkalsemia sekunder terhadap imobilitas terjadi setelah fraktur hebat atau multipel atau paralisis traumatik yang luas. Diuretik tiasid dapat menyebabkan sedikit kenaikan kadar serum kalsium karena diuretik ini memperkuat kerja hormon paratiroid pada ginjal, yang mengurangi ekskresi kalsium urine. Sindrom susu alkali dapat terjadi pada pasien dengan ulkus peptikum yang di obati dalam waktu lama menggunakan antasida susu dan alkalin, terutama kalsium karbonat. Intoksikasi vitamin A dan D, juga penggunaan litium, dapat menyebabkan kelebihan kalsium. Disamping itu meningkatnya kalsium dalamdarah juga didukung dengan asupan kalsium yang memang tinggi sertameningkatnya penyerapan kalsium pada sluran cerna.

2. Manisfestasi Klinis Secara umum, gejala gejala hiperkalsemia adalah sebanding dengan tingkat kenaikan kadar kalsium serum. Hiperkalsemia mengurangi eksatabilitas

neuromuskular karena hal ini menekan aktivitas pertemuan mioneural. Gejala gejala sperti kelemahan muskular, inkoordinasi, anoreksia, dan konstipasi dapat karena penurunan tonus pada otot lurik dan polos. Anoreksia, mual, muntah, dan konstipasi adalah gejala yang umum dari hiperkalsemia. Dehidrasi terjadi pada mual, muntah, anoreksia, dan penyerapan kalsium yang bwrkaitan dengan natrium pada tubulus renalis proksimal. Nyeri abdomen dan tulang dapat terjadi. Distensi abdomen dan paralitik ileus dapat menyulitka krisis hiperkalsemia hebat. Rasa haus yang hebat dapat terjadi sekunder terhadap poliuria yang disebabakan oleh beban zat terlarut ( kalsium ) yang tinggi. Pasien dengan hiperkalsemia dapat mengalami gejala yang menyerupai gejala ulkus peptikum karena hiperkalsemia meningkatkan sekresi asam dan pepsin oleh lambung. Konfusi mental, kerusakan memori, bicara tidak jelas, letargi, perilaku psikotik akut, atau koma dapat terjadi. Gejala yang lebih hebat cenderung untuk timbul bila kadar kalsium serum mendekati 16mg/dl atau lebih. Bagaimanapun beberapa pasien dapat menjadi sangat terganggu dengan kadar serum kalsium hanya 12mg/dl. Gejala ini akan mereda dengan kadar kalsium serum kembali pada normal setelah pengobatan. Urinasi berlebih karena gangguan fungsi tubulus ginjal yang disebabkan oleh hiperkalsemia dapat saja terjadi. Standstill jantung dapat terjadi ketika kalsium serum adalah sekitar 18 mg/dl atau lebih. Efek inotropik digitalis ditingkatkan oleh kalsium, karenanya, toksisitas digitalis diperberat oleh hiperkalsemia. Krisis hiperkalsemia mengacu pada kenaikan akut kadar serum kalsium hingga 17mg/dl atau lebih tinggi. Rasa haus yang hebat atau poliuria secara khas ada. Temuan lainnya dapat mencakup kelemahan muskular, mual yang tidak dapat dihilangkan, kram andomen, obstipasi ( konstipasi yang sangat hebat ) atau diare, gejala gejala ulkus peptikum, dan nyeri tulang. Letargi, konfusi mental, dan koma juga dapat terjadi. Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan henti jantung. 3. Evaluasi Diagnostik Kadar kalsium serum lebih tinggi dari 10,5mg/dl ( SI: 2,6mmol/L ). Perubahan perubahan kardiovaskuler dapat mencakup beragam disritmia dan perpendekan

interval QT dan segmen ST. Interval PR kadang memanjang. Uji antibodi hormon paratiroid ganda mungkin dilakukan untuk membedakan antara hiperparatiroidisme dengan malignansi sebagai penyebab hiperkalsemia. Kadar hormon paratiroid meningkat pada hiperparatiroidisme primer atau sekunder dan ditekan paa malignansi. Temuan rontgen dapat menunjukan adanya osteoporosis, kavitasi tulang, atau batu saluran kemih.

4. Penatalaksanaan Tujuan terapeutik pada hiperkalsemia mencakup menurunkan kadar kalsium serum dan memeperbaiki proses yang menyebabkan hiperkalsemia. Mengatasi penyebab yang mendasari ( kemoterapi untuk malignansi atau paratirodektomi parsial untuk hiperparatiroidisme ) adalah penting. Tindakan umum termasuk pemberian cairan untuk mengencerkan kalsium serum dan menungkatkan eksresinya oleh ginjal, memobilisasi pasien, dan membatasi masukan kalsium melaui diet. Pemberian larutan natrium klorida 0.9% intravena secara temporer mengencerkan kadar kalsium dan meningkatkan ekskresi kalsium urin dengan menghambat reabsorbsi kalsium ditubular. Furosemid ( lasix ) sering digunakan dalam kaitannya dengan pemberian salin, selain menyebabkan dieuresis, furosemid meningkatkan ekskresi kalsium. Kalsitosin dapat digunakan bagi pasien dengan penyakit jantung atau ginjal yang tidak apat mentoleransi beban natrium yang besar. Kalsitosin mengurangi resorpsi tulang, meningkatkan defosit kalsium dan fosfor dalam tulang, dan meningkatkan ekskresi kalsium dan fosfor urine. Meskipun tesedia dalam beberapa bentuk, kalsitosin yang didapatkan dari salmon umumnya digunakan. Pemeriksaan kulit untuk alergi terhadap kalsitosin salmon penting untuk dilakukan sebelum kalsitosin diberikan. Reaksi alergi sistemik mungkin terjadi karena hormon ini merupakan protein, resistensi terhadap medikasi ini dapat berbentuk kemudian karena pembentukan antibodi. Kalsitosin diberikan melalui suntikan IM ketimbang dengan subkuta karena pasien dengan hiperkalsemia mempunyai perfusi jaringan subkutan yang buruk. Bagi pasien dengan penyakit malignan, pengobatan diarahkan pada pengendalian kondisi melalui pembedahan, kemoterapi, atau terapi radiasi. Kortikosteroid mungkin

digunakan untuk menurunkan pergantian tulang dan reabsorbsi tubular bagi pasien dengan sarkoidosis, mieloma, limfoma, dan leukimia, pasien dengan tumor padat kurang responsif. Bifosfonat menghambat aktivitas osteoklas. Pamidronat ( Aredia ) adalah agen yang paling paten dari preparat ini dan diberikan secara intravena, obat ini menyebabkan pireksia transien, ringan, menurunkan jumlah SDP, dan miralgia. Etidronat ( didronel ) adalah bifosfonat lainnya yang diberikan secara intravena, tetapi kerjanya lambat. Mitharamycin, suatu antibiotik sitotoksik, menghambat resorpsi tulang dan dengan demikian menurunkan kadar kalsium serum. Preparat ini harus digunakan secara hati hati karena memiliki efek samping yang signifikan, termasuk trombositosenia, nefrotoksisitas, dan hepatotoksistas. Garam fosfat inorganik dapat diberikan secara oral atau melalui selang nasogastrik (dalam bentuk phosbo-soda atau neutra-Phos), secara rektal ( sebagai enema retensi ), atau secara intravena. Terapi fosfat intravena dilakukan dengan sangat hati hati dalam mengobati hiperkalsemia karena hal ini dapat menyebabkan klasifikasi dalam beragam jaringan, hipotensi, tetani, dan gagal ginjal akut. 5. Intervensi Keperawatan Penting untuk memanatau kekambuhan hiperkalsemia pada pasien yang beresiko terhadap kelainan ini. Melakukan intervensi, seperti meningkatkan mobilitas pasien dan memperbanyak cairan, dapt membantu mencegah hiperkalsemia, atau setidaknya meminimalkan keparahannya. Pasien dirawat yang bereriko tehadap hiperkalsemia diberikan dorongan untuk ambulasi secepat mungkin, pasien rawat jalan dan mereka yang dirawat dirumah diinformasikan tentang pentingnya ambulasi yang sering. Ketika memperbanyak cairan oral, perawat harus mwmpertimbangkan kesukaan dan ketidaksukaan pasien. Cairan yang menganduing natrium harus diberikan, kecuali dikontraindikasikan oleh kondisi lainnya, karena natrium memudahkan ekskresi kalsium. Pasien yang dirawat dirumah didorong untuk minum 3 sampai 4 quart air setiap hari, jika memungkinkan. Bulk yang adekuat harus diberikan dalam diet untuk mengurangi kecenderungan terhadap konstipasi. Tindak kewaspadaan dilakukan sesuai kebutuhan, ketika gejala gejala mental akibat hiperkalsemia timbul. Pasien dan keluarga diinformasikan bahwa perubahan mentak ini dapat pulih dengan pengobatan. Kalsium yang meningkat menguatkan efek digitalis, karenanya pasien

dikaji terhadap tanda dan gejala toksisitas digitalis. Perubhan EKG dapat terjadi (PVC, PAT, dan blok jantung) , karenanya nadi pasien dipantau terhadap segala abnormalitas.
DEFINISI Hiperkalsemia (kadar kalsium darah yang tinggi) adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalsium dalam darah lebih dari 10,5 mgr/dL darah. PENYEBAB Hiperkalsemia dapat disebabkan oleh meningkatnya penyerapan pada saluran pencernaan maupun karena meningkatnya asupan kalsium. Orang-orang yang mengkonsumsi sejumlah besar kalsium (seperti yang kadang dilakukan oleh penderita ulkus peptikum yang minum banyak susu dan juga mengkonsumsi antasid yang mengandung kalsium), dapat menderita hiperkalsemia. Suatu overdosis vitamin D dapat mempengaruhi konsentrasi kalsium darah, yaitu dengan meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran pencernaan. Penyebab paling sering dari hiperkalsemia adalah hiperparatiroidisme, yaitu suatu keadaan dimana terjadi pengeluaran hormon paratiroid secara besar-besaran oleh satu atau lebih dari keempat kelenjar paratiroid. 90% penderita hiperparatiroidisme primer memiliki tumor jinak (adenoma) pada salah satu kelenjarnya. 10% sisanya memiliki kelenjar paratiroid yang membesar dan menghasilkan terlalu banyak hormon. Pada kasus-kasus yang jarang, kanker kelenjar paratiroid menyebabkan hiperparatiroidisme. Hiperparatiroidisme lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Juga lebih mungkin terjadi pada orang-orang tua dan pada mereka yang menerima terapi penyinaran di leher. Kadang-kadang hiperparatiroidisme terjadi sebagai bagian suatu sindroma neoplasia endokrin multipel, yang merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi. Penderita kanker sering mengalami hiperkalsemia. Kanker ginjal, kanker paru atau kanker ovarium (indung telur), sering mengeluarkan sejumlah besar protein yang memiliki efek yang mirip dengan hormon paratiroid. Efek ini dikenal sebagai sindroma paraneoplastik. Kanker juga menyebar (bermetastasis) ke tulang, menghancurkan sel-sel tulang dan melepaskan kalsium tulang ke dalam darah. Hal ini sering terjadi pada kanker prostat, payudara dan paru-paru. Mieloma multipel (kanker yang melibatkan sumsum tulang) juga dapat menyebabkan penghancuran tulang dan mengakibatkan hiperkalsemia. Kanker yang lain juga meningkatkan konsentrasi kalsium darah, dengan mekanisme yang belum sepenuhnya dapat dimengerti.

Pada penyakit-penyakit dimana terjadi penghancuran atau penyerapan sel-sel tulang (misalnya penyakit Paget), juga bisa terjadi hiperkalsemia. Orang-orang yang tidak banyak bergerak (misalnya penderita paraplegia (lumpuh kedua bagian bawah tubuh), kuadriplegia (lumpuh keempat anggota gerak) atau yang berbaring di tempat tidur dalam waktu lama, juga dapat menderita hiperkalsemia karena jaringan tulang diresorbsi. GEJALA Gejala paling awal dari hiperkalsemia biasanya adalah konstipasi (sembelit), kehilangan nafsu makan, mual-muntah dan nyeri perut. Ginjal mungkin secara abnormal akan menghasilkan air kemih dalam jumlah banyak. Akibat pembentukkan air kemih yang berlebihan ini, cairan tubuh akan berkurang dan akan terjadi gejala dehidrasi. Hiperkalsemia yang sangat berat sering menyebabkan gejala kelainan fungsi otak seperti kebingungan, gangguan emosi, delirium (penurunan kesadaran), halusinasi, kelemahan dan koma. Dapat juga diikuti dengan irama jantung yang abnormal dan kematian. Pada penderita hiperkalsemia menahun bisa terbentuk batu ginjal yang mengandung kalsium. Bila terjadi hiperkalsemia berat dan menahun, kristal kalsium akan terbentuk di dalam ginjal dan menyebabkan kerusakan yang menetap. DIAGNOSA Hiperkalsemia biasanya ditemukan pada saat melakukan pemeriksaan darah rutin. Penyebabnya sering terlihat dari riwayat penderita dan kegiatannya yang terakhir (misalnya minum sejumlah besar susu dan mengkonsumsi tablet antasid yang mengandung kalsium). Untuk membantu menentukan penyebabnya, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan rontgen. PENGOBATAN Pengobatan tergantung pada tingginya kadar kalsium darah dan penyebabnya. Jika konsentrasi kalsium tidak lebih dari 11,5 mgr/dL darah, pengobatannya cukup dengan menghilangkan penyebabnya. Orang-orang yang memiliki fungsi ginjal normal dan kecenderungan mengalami hiperkalsemia biasanya disarankan untuk minum banyak cairan yang akan merangsang ginjal untuk mengeluarkan kalsium dan membantu mencegah dehidrasi. Bila konsentrasi kalsium sangat tinggi (lebih dari 15 mgr/dL darah) atau bila timbul gejala kelainan fungsi otak, diberikan cairan intravena asalkan ginjalnya berfungsi dengan baik. Obat-obat diuretik seperti furosemid, meningkatkan pembuangan kalsium melalui ginjal dan merupakan terapi yang utama. Dialisa adalah terapi yang sangat efektif, aman dan dapat diandalkan, dan biasanya dilakukan pada

penderita hiperkalsemia berat yang tidak dapat diobati dengan cara lainnya. Hiperparatiroidisme biasanya diatasi dengan pembedahan untuk mengangkat satu atau lebih kelenjar paratiroid. Agar hasilnya baik, semua jaringan paratiroid yang menghasilkan hormon dalam jumlah yang sangat besar harus diangkat Angka keberhasilan operasi ini mendekati 90%. Beberapa obat lainnya dapat digunakan untuk mengobati hiperkalsemi bila metode lain gagal dilakukan: - plicamycin - galium nitrate - calsitonin - biphosphonates - corticosteroid. Obat-obat tersebut terutama bekerja dengan memperlambat pemindahan kalsium dari tulang. Hiperkalsemia yang disebabkan oleh kanker sulit untuk diobati. Jika kankernya tidak dapat dikendalikan, biasanya hiperkalsemia akan kambuh kembali meskipun telah dilakukan pengobatan yang terbaik.
Jakarta, 28 Sep 2008

Hipokalsemia
HIPOKALSEMIA

Hipokalsemia adalah berkurangnya kadar kalsium (Ca2+) serum tubuh kita. Dengan etiologi yang beragam dan satu sama lain bisa saling mempengaruhi. Faktor kausal. Kurang adekuat diet harian bisa menjadi penyebab defisit Ca2+. Dan Hampir 46% Ca2+ serum terikat protein, utamanya dengan albumin hingga penurunan kadar albumin tubuh akan menyebabkan hypokalsemi. Hipokalsemia dengan penurunan kalsium bentuk ion lepas sajalah (Ca2+) yang akan berkorelasi timbulnya gejala dan simptom pada kita. Diet protein tinggi (protein > 0,9 1,0 mg/kgBB) berpengaruh pada level Ca2+ tubuh, karena hanya bentuk ion Ca2+ yang bisa lepas dari jaringan tulang dan bisa dikeluarkan melalui urin. Mekanisme rendahnya rasio kalsium dan fosfor pada diet tinggi protein, bisa dijelaskan dengan mekanisme timbal balik antara level kalsium dan fosfor, dimana tubuh akan kehilangan Ca2+ lebih banyak. Faktor lain yang berkontribusi menyebabkan hipokalsemi, adalah:

Penggunaan sitrat atau koreksi alkalasis yang berlebihan dalam darah Pengangkatan sekaligus ke 4 kelenjar dari Tyroid Kurang konsumsi vit D, atau kurang terpapar sinar matahari, terutama usia bayi dan usia lanjut Hiperfosfatemia karena gagal ginjal

Obat-obatan yang menyebabkan pengeluaran kalsium, misal (diuretik kerja kuat), kafein, antikonvulsan, heparin, laxatif dan nikotin

Pengaruhnya.

Pada Bayi dan Anak: berisiko tinggi dan mudah terserang patah tulang Pada Ibu hamil: bayi dalam kandungannya akan hipokalsemi juga dan si ibu akan berisiko tinggi mengalami keguguran atau pre-eklamsi (keracunan kehamilan) Pada Usia Lanjut: mudah terkena osteomalasia dan osteoporosis, terutama pada wanita yang sudah menopaus.

Gejala Klinis hypokalsemi.

Neuromuskuler

Irritabilitas otot rangka (twiching, cramping, tetany) Serangan akut Hiper refleksi tendon dalam Adanya tanda Trosseaus atau Chvosteks Parestesia Cemas, Psikosis

Respiratori

Nafas pendek Gagal nafas (tetani dan serangan akut)

Kardiovaskular

Denyut jantung meningkat dan gangguan irama (disritmia) Hpotensi Denyut nadi melemah

Gastrointestinal

Bising usus meningkat Kejang perut Diare Penegakan Diagnosa. Hipokalsemi ditegakkan dengan serum Ca2+ < 9 mg/dL (< 4.5 mEq/L). Dimana nilai normalnya adalah 9 11 mg/dL (4,5 5,5 mEq/L) Bila ekskresi kalsium > 150 mg/hari, berarti pasien disertai juga dengan hiperkalsiuria. Ekskresi yang berlebihan ini juga menandai adanya suatu proses perusakan pada tulang. Level serum Ca2+ yang turun menyebabkan lemahnya kontraksi otot jantung, ditandai dengan memanjangnya fase isoelektrik Q-T pada EKG. Pemeriksaan radiografi tidak bisa menjelaskan kerusakan yang terjadi pada tulang sampai lebih dari 25% tulang termineralisasi. Pemeriksaan yang lebih sensitif adalah menggunakan bone-testing, misal dengan densitometer atau foton absorpsimeter yang bisa mendeteksi kerusakan tulang lebih awal.

Tatalaksana medis. Praktisi akan mengobati gejala hipokalsemia dengan mencari etiologi dan penyakit dasar yang menyertainya secara holistik. Pilihan terapi Ca2+ bisa dengan preparat oral dan infus, yang rutenya tergantung berat ringannya gejala. Untuk pasien dengan fungsi ginjal baik, direkomendasikan terapi penggantian Ca2+ elemental sebanyak 1-2 g perhari, dalam bentuk gabungan dengan sitrat, glukonat, karbonat atau laktat. Pemberian vit-D secara bersamaan juga diperlukan tuk membantu penyerapan kalsium. Untuk mencegah kanker pada saluran reproduksi dianjurkan pemeberian hormon progesteron (Terapi Pengganti Hormon/HRT). Pada kehilangan fase akut, disarankan pemberian infus ca-glukonas 10%, 30-60 mL dalam 1000 mL selama 6 sampai 12 jam. Terapi ini sangat perlu apalagi bila pasien sudah kejang (tetani atau konvulsi). Dan pada kasus gawat darurat bisa diberikan bahkan dalam hitungan menit. Sepuluh mililiter dari 10% ca-glukonas mengandung 4,65 mEq atau 93 mg kalsium. Karena pasien hipokalsemia biasanya disertai hipomagnesemia pula, tatalaksana defisiensi magnesium pada pasien sebaiknya juga perlu diberikan. Referensi: Lee, AB Carla, et all; Fluids and Electrolytes A Practical Approach, 4thEd; FA Davis Company, Philadelphia; 1996; p: 98-103;

Dr. Budhi Santoso Sr. Medical Advisor budhi@ho.otsuka.co.id DEFINISI Hipokalsemia (kadar kalsium darah yang rendah) adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalsium di dalam darah kurang dari 8,8 mgr/dL darah. PENYEBAB Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah. Hipokalsemia paling sering terjadi pada penyakit yang menyebabkan hilangnya kalsium dalam jangka lama melalui air kemih atau kegagalan untuk memindahkan kalsium dari tulang. Sebagian besar kalsium dalam darah dibawa oleh protein albumin, karena itu jika terlalu sedikit albumin dalam darah akan menyebabkan rendahnya konsentrasi kalsium dalam darah.

Penyebab Hipokalsemia Penyebab Kadar hormon paratiroid rendah Keterangan Biasanya terjadi setelah kerusakan kelanjar paratiroid atau karena kelenjar paratiroid secara tidak sengaja terangkat pada pembedahan untuk mengangkat tiroid

Kekurangan kelenjar paratiroid bawaan Pseudohipoparatiroidisme

Penyakit keturunan yg jarang atau merupakan bagian dari sindroma DiGeorge Penyakit keturunan yg jarang; kadar hormon paratiroid normal tetapi respon tulang & ginjal terhadap hormon menurun Biasanya disebabkan oleh asupan yg kurang, kurang terpapar sinar matahari (pengaktivan vitamin D terjadi jika kulit terpapar sinar matahari), penyakit hati, penyakit saluran pencernaan yg menghalangi penyerapan vitamin D, pemakaian barbiturat & fenitoin, yg mengurangi efektivitas vitamin D Mempengaruhi pengaktivan vitamin D di ginjal Menyebabkan menurunnya kadar hormon paratiroid Terjadi dengan atau tanpa kekurangan vitamin D Terjadi jika kelebihan asam lemak dalam darah karena cedera pada pankreas, bergabung dengan kalsium Mengurangi jumlah kalsium yg terikat dengan albumin tetapi biasanya tidak menyebabkan gejala, karena jumlah kalsium bebas tetap normal

Kekurangan vitamin D

Kerusakan ginjal Kadar magnesium yg rendah Asupan yg kurang atau malabsorbsi Pankreatitis

Kadar albumin yg rendah

GEJALA Hipokalsemia bisa tidak menimbulkan gejala. Seiring dengan berjalannya waktu, hipokalsemia dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan gejala-gejala neurologis seperti: - kebingungan - kehilangan ingatan (memori) - delirium (penurunan kesadaran) - depresi - halusinasi. Gejala-gejala tersebut akan menghilang jika kadar kalsium kembali normal. Kadar kalsium yang sangat rendah (kurang dari 7 mgr/dL) dapat menyebabkan nyeri otot dan kesemutan, yang seringkali dirasakan di bibir, lidah, jari-jari tangan dan kaki. Pada kasus yang berat bisa terjadi kejang otot tenggorokan (menyebabkan sulit bernafas) dan tetani (kejang otot keseluruhan).

Bisa terjadi perubahan pada sistem konduksi listrik jantung, yang dapat dilihat pada pemeriksaan EKG. DIAGNOSA Konsentrasi kalsium abnormal biasanya pertama kali ditemukan pada saat pemeriksaan darah rutin. Karena itu hipokalsemia sering terdiagnosis sebelum gejala-gejalanya muncul. Untuk menentukan penyebabnya, perlu diketahui riwayat lengkap dari keadaan kesehatan penderita, pemeriksaan fisik yang lengkap dan pemeriksaan darah dan air kemih lainnya. PENGOBATAN Pengobatan hipokalsemia bervariasi tergantung kepada penyebabnya. Kalsium dapat diberikan baik secara intravena maupun per-oral (ditelan). Hipokalsemia menahun diperbaiki dengan mengkonsumsi tambahan kalsium per-oral. Mengkonsumsi tambahan vitamin D dapat membantu meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran pencernaan.