Anda di halaman 1dari 38

Bab 10 Reaksi Pasar Modal terhadap Pelaporan Finansial Tujuan Pembelajaran Setelah menyelesaikan bab ini maka pembaca

harus dapat: memahami peranan riset pasar modal dalam menilai konten informasi penjelasan akuntansi; memahami asumsi-asumsi efisiensi pasar yang diadopsi dalam riset pasar modal; memahami perbedaan antara riset pasar modal yang melihat konten informasi pelaporan akuntansi, dan riset pasar modal yang menggunakan data share price sebagai sebuah benchmark untuk mengevaluasi penjelasan akuntansi; menjelaskan mengapa earning akuntansi yang tidak diharapkan dan share price return yang abnormal diharapkan saling berkaitan; menguraikan hasil-hasil utama riset pasar modal ke dalam akuntansi finansial dan penjelasan akuntansi. Isu Pembuka Andaikan terdapat lima perusahaan dari industri yang sama dengan tanggal neraca yang sama, 31 Desember. Semua lima perusahaan ini harus membuat earning announcement untuk tahun finansial (announcement dilakukan di bulan Februari), tapi earnings announcement disebar dalam kurun waktu dua minggu, dengan tidak ada dua perusahaan yang mengumumkan earning mereka pada tanggal yang sama. (a) Apakah kau mengharapkan earning announcements yang dibuat oleh masingmasing perusahaan akan memberikan dampak terhadap share prices (harga saham) mereka, dan jika ya, mengapa? (b) Jika ditemukan bahwa harga saham dari beberapa entitas berubah lebih banyak di sekitar tanggal earning announcements dibandingkan dengan entitas lain, apa kirakira yang menyebabkan diferensial efek-harga ini? (c) Apakah kau mengharapkan harga saham dari perusahaan yang lebih besar atau perusahaan yang lebih kecil akan relatif lebih terkena dampak dari sebuah earning announcement?

(d) Setelah perusahaan pertama dalam sampel lima perusahaan tersebut melakukan earning announcements-nya, apakah kau berharap announcement ini akan memberikan dampak terhadap harga saham empat perusahaan lainnya? Mengapa? Pendahuluan Dalam beberapa bab sebelumnya kita telah memperhitungkan beragam preskripsi normatif mengenai bagaimana akuntansi seharusnya dilaksanakan. Sebagai contoh, Bab 4 membahas teori-teori yang telah dikembangkan untuk menguraikan bagaimana akuntansi seharusnya dilaksanakan dalam masa-masa harga naik (misalnya, General Price Level Accounting, Current Cost Accounting dan Continuously Contemporary Accounting), Bab 5 membahas tentang peranan Conceptual Framework dalam menyediakan preskripsi (framework semacam ini dapat mengatakan pada kita tentang tujuan akuntansi; karakteristik kualitatif apa yang seharusnya dimiliki oleh informasi akuntansi; bagaimana elemen-elemen akuntansi seharusnya didefinisikan dan dikenali; dan bagaimana aset serta liabilitas harus diukur). Bab 9 memberikan wawasan tentang beragam pendekatan yang diadopsi untuk menyingkapkan informasi mengenai performa sosial dan lingkungan sebuah organisasi (yang menjadi area dimana riset akuntansi telah tumbuh dengan pesat dalam beberapa tahun terakhir). Meski bab-bab yang telah disebutkan diatas memberikan sejumlah besar preskripsi, mereka cenderung untuk tidak memberikan argumen teoretis apapun seperti misalnya motivasi bagi manajer dalam membuat disclosure (penyingkapan/penjelasan). Kekosongan ini diisi oleh Bab 7 dan 8 yang memberikan perspektif teoretis yang berbeda mengenai apa yang menggerakkan manajemen untuk melakukan disclosure. Bab 7 membahas Positive Accounting Theory dan mengindikasikan bahwa dimana manajemen memiliki peluang untuk memilih sebuah pendekatan tertentu dalam akuntansi, baik argumen efisiensi dan oportunistik dapat dikembangkan untuk menjelaskan dan memprediksi pilihan-pilihan akuntansi manajemen. Bab 8 memberikan penjelasan alternatif perilaku manajemen. Bab ini menunjukkan pilihan sebuah metode akuntansi tertentu yang dapat dilakukan untuk mengembalikan legitimasi sebuah organisasi (dari Legitimacy Theory), atau karena disclosure semacam ini dibutuhkan untuk mempertahankan support dari stakeholder yang kuat (dari Stakeholder Theory).

Meski materi-materi diatas memberikan sebuah perspektif mengenai apa yang memotivasi manajer untuk menyediakan informasi akuntansi tertentu, materi ini tidak mempertimbangkan isu-isu mengenai bagaimana individu, atau sekelompok individu secara jamak, bereaksi terhadap penjelasan akuntansi (accounting disclosure). Bab ini dan Bab 11 memberikan materi yang menanggapi isu ini. Bab ini dan Bab 11 memeriksa tentang dampak akuntansi finansial dan keputusan disclosure dalam user laporan finansial. Secara spesifik, kita akan melihat riset-riset yang memfokuskan diri pada dampak alternatif akuntansi dan pilihan-pilihan disclosure dari keputusan investasi user laporan finansial seperti misalnya investor sharemarket, analis finansial, petugas lending bank, dan auditor. Profit yang dilaporkan akan tergantung pada beragam keputusan akuntansi finansial. Manajer memiliki banyak jangkauan dalam memilih antara metode akuntansi alternatif dan asumsi-asumsi akuntansi. Sebagai contoh, mereka akan memilih antara straight-line atau mengurangi depresiasi neraca; mereka akan menggunakan keleluasaan dalam kaitannya dengan estimasi akuntansi seperti misalnya masa hidup aset yang akan didepresiasikan; dan lain sebagainya. Selain itu, keputusan-keputusan harus dibuat dalam kaitannya dengan berapa banyak informasi yang akan diungkapkan, medium untuk disclosure (pengungkapan), dan dalam beberapa situasi, apakah mengakui item tertentu dalam laporan finansial, atau hanya menyingkapkan mereka dalam catatan kaki laporan. Keputusan pelaporan finansial memberikan dampak terhadap informasi yang disediakan bagi user laporan finansial. Hal ini akan memberikan implikasi untuk keputusan-keputusan yang dibuat oleh user. Terdapat dua cara untuk menilai dampak keputusan pelaporan finansial: (a) menentukan dampak informasi dalam keputusankeputusan user informasi individu (riset perilaku), dan (b) menentukan apa yang memberikan dampak perilisan informasi terhadap harga saham (riset pasar modal). Dalam bab ini kita akan memperhitungkan riset pasar modal (yang termasuk reaksi pada level agregat atau level market). Dalam Bab 11 kita akan mengkaji riset perilaku yagn dilakukan pada level individual.

Sebuah kajian riset pasar modal Riset pasar modal mengeksplorasi peranan akuntansi dan informasi finansial lainnya dalam pasar ekuitas. Tipe riset semacam ini akan melibatkan pemeriksaan hubungan statistik antara informasi finansial, dan harga saham atau return. Reaksi investor dibuktikan dalam transaksi pasar modal mereka. Reaksi yang positif terhadap informasi dianggap akan dimunculkan dengan sebuah peningkatan harga di sekuritas tertentu, sementara reaksi negatif terhadap informasi akan ditampilkan dalam penurunan harga. Tidak adanya perubahan harga di sekitar waktu perilisan informasi mengimplikasikan tidak adanya reaksi terhadap informasi (perilisan tidak memberikan hal yang baru). Kesimpulan-kesimpulan mengenai reaksi pasar terhadap rilis informasi atau peristiwa tertentu pada umumnya didasarkan pada bukti dari sejumlah besar perusahaan, dengan rentang data beberapa tahun. Tipe riset ini seringkali digunakan untuk memeriksa reaksi pasar ekuitas terhadap announcements informasi perusahaan, dan untuk menilai relevansi akuntansi alternatif dan pilihan-pilihan disclosure untuk investor. Jika hargaharga sekuritas berubah di sekitar waktu perilisan informasi tertentu, dan megnasumsikan bahwa informasi dan bukan beberapa event lain menyebabkan perubahan harga, maka informasi tersebut dianggap relevan dan berguna untuk pengambilan keputusan investasi. Berkebalikan dengan riset perilaku (dibahas dalam Bab 11) yang menganalisa respon-respon individual terhadap pelaporan finansial, riset pasar modal menilai efek agregat pelaporan finansial, khususnya pelaporan dalam earning (laba), terhadap investor. Dengan menganalisa reaksi harga saham terhadap perilisan informasi finansial, jumlah keputusan investor individu akan ditangkap secara agregat. Tapi ketika mempertimbangkan riset semacam ini, sebuah pertanyaan yang mungkin muncul di pikiran adalah mengapa melaksanakan banyak studi rist yang terfokus pada respon pasar terhadap accounting earnings announcement? Brown (1994, p. 24) menyediakan satu jawaban terhadap isu masalah ini. Dia berpendapat: Empat alasannya adalah, menurut Financial Accounting Standards Board, informasi mengenai earning (laba) dan komponennya adalah tujuan utama pelaporan finansial; earning berorientasi pada kepentingan pemegang saham yang merupakan sebuah grup penting user laporan finansial; earning adalah

angka yang paling banyak dianalisa dan diprediksi oleh analis sekuritas; dan data yang dapat dipercaya dalam earning sudah banyak tersedia. Perbedaan penting lain antara pasar modal dan riset perilaku adalah bahwa riset pasar modal hanya memperhitungkan investor, sementara riset perilaku seringkali digunakan untuk memeriksa pengambilan keputusan oleh tipe user laporan finansial lainnya seperti misalnya manajer bank, petugas peminjaman (loan officers) atau auditor. Riset pasar modal mengandalkan pada asumsi-asumsi bahwa pasar ekuitas termasuk efisien. Efisiensi pasar didefinisikan sesuai dengan Efficient Market Hypothesis (EMH) sebagai sebuah pasar yang beradaptasi cepat pada informasi tertampung ke dalam harga-harga saham ketika informasi dirilis (Fama et al., 1969). Riset pasar modal dalam akuntansi berasumsi bahwa pasar ekuitas termasuk efisien dalam bentuk semi-kuat (semistrong form efficient). Yakni, semua informasi yang tersedia secara publik, termasuk yang tersedia dalam laporan finansial dan disclosure finansial lainnya, dengan cepat dan sepenuhnya ditampung ke dalam harga saham dalam cara yang tidak berbias ketika dirilis. Informasi yang relevan tidak akan diabaikan oleh pasar. Efisiensi bentuk semi-kuat adalah hal yang paling relevan untuk riset pasar modal dalam akuntansi, karena hal ini terhubung dengan penggunaan informasi yang tersedia secara publik. Hipotesis lain megnenai efisiensi pasar adalah perspektif efisiensi bentuklemah (weak-form efficiency), dan perspektif efisiensi bentuk-kuat (strong-form efficiency). Bentuk lemah (weak-form) dalam efisiensi pasar berasumsi bahwa harga-harga sekuritas yang ada mencerminkan informasi mengenai harga-harga di masa lalu dan juga volume perdagangan. Bentuk kuat (strong-form) dalam efisiensi pasar berasumsi bahwa hargaharga sekuritas, dalam rata-rata, mencerminkan semua informasi yang dikenal oleh semua orang pada titik waktu tertentu (termasuk informasi yang tidak tersedia secara publik). Menurut Watts dan Zimmerman (1986, p. 19) bukti yang tersedia pada umumnya konsisten dengan bentuk semi-strong EMH. Pandangan bahwa pasar termasuk efisien tidak mengimplikasikan bahwa harga saham akan selalu memberikan sebuah prediksi akurat mengenai nilai cash flow di masa mendatang. Prediksi pasar kadang-kadang terbukti salah, sehingga membutuhkan

penyesuaian lebih lanjut. Seperti yang dinyatakan oleh Hendriksen dan Van Breda (1992, p. 177): Harus ditekankan bahwa efisiensi pasar tidak mengimplikasikan anggapan dalam segi pasar. Yang diimplikasikannya adalah bahwa pasar mencerminkan dugaan terbaik dari semua partisipannya, berdasarkan pada pengetahuan yang tersedia pada waktu itu. Informasi baru akan tampak sepanjang waktu dan membuktikan jika pasar tidak benar. Bahkan, sesuai definisi, pasar tidak akan bereaksi hingga pasar mempelajari sesuatu yang tidak diketahuinya di hari sebelumnya. Seseorang tidak dapat membuktikan ketidakefisienan pasar, oleh karenanya, dengan melihat kebelakang, dapat menggunakan benefit dari peninjauan masa lalu dan menunjuk ke tempat-tempat dimana pasar tidak benar (incorrect). Efisiensi pasar menyatakan bahwa harga-harga ditentukan dengan sesuai dan berbasis pada pengetahuan saat ini; bukti praktis menunjukkan bahwa dengan tinjauan masa lalu maka pasar akan selalu tidak benar. Asumsi efisiensi pasar merupakan hal yang sentral bagi riset pasar modal. Tapi mengapa asumsi efisiensi informasi ini sangat penting bagi riset pasar modal dalam akuntansi? Sederhananya, kecuali sebuah asumsi efisiensi diterima, akan sulit untuk membenarkan upaya-upaya untuk menghubungkan perubahan harga sekuritas dengan perilisan informasi. Sejumlah besar riset pasar modal mempertimbangkan hubungan antara harga saham dan perilisan informasi. Alasan melihat hubungan ini adalah karena harga saham dalam pasar yang efisien dianggap didasarkan pada ekspektasi terkait laba di masa mendatang (future earning). Jika informasi tertentu mengarah pada sebuah perubahan harga, maka asumsinya adalah informasi tersebut bermanfaat dan menyebabkan investor merevisi ekspektasi mereka mengenai future earning perusahaan yang bersangkutan. Yakni, harga saham dan return yang digunakan sebagai benchmark terhadap manfaat informasi finansial akan dinilai. Jika kita tidak mengasumsikan efisiensi pasar, maka akan tercipta ketidakmampuan untuk menjelaskan bagaimana atau mengapa harga saham berubah disekitar tanggal perilisan informasi. Jika pasar saham tidak efisien bentuk semi-

kuat, mereka tidak menyediakan benchmark yang akurat untuk menilai pilihan-pilihan pelaporan finansial alternatif. Secara keseluruhan, ketidakefisienan pasar akan memberikan hasil yang tidak meyakinkan dalam riset pasar modal, dan pada kondisi yang terburuk, sangat tidak dapat diandalkan, tergantung pada tingkatan ketidakefisienan yang ada. Asumsi-asumsi mengenai efisiensi pasar juga memberikan implikasi untuk akuntansi. Jika pasar termasuk efisien, mereka akan menggunakan informasi dari beragam sumber ketika memprediksikan future earnings, dan juga saat menentukan harga saham terkini. Jika informasi akuntansi tidak memberikan dampak pada harga saham, maka, dengan asumsi efisiensi bentuk semi-kuat, hal ini akan dianggap tidak memberikan informasi apapun selain dari yang sudah tersedia. Di tingkat yang ekstrim, kelangsungan akuntansi akan terancam. Sebuah reaksi harga saham terhadap perilisan informasi finansial dianggap mengindikasikan bahwa announcement memiliki konten informasi, sementara asosiasi yang tinggi antara informasi finansial dan harga saham atau return atas kurun waktu yang panjang mengindikasikan bahwa informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi mencerminkan informasi yang digunakan oleh pasar modal (dan informasi ini akan berasal dari beragam sumber). Masing-masing peranan untuk informasi akuntansi dalam pasar ekuitas ini dieksplorasi dalam section selanjutnya. Meski konten informasi dari beragam tipe informasi finansial dapat dinilai dengan menggunakan riset pasar modal, timbunan studi semacam ini telah terfokus pada earning sebagai pengukuran utama sistem akuntansi finansial. Sebagai contoh, salah satu isu yang telah menjadi subyek dari banyak paper riset adalah apakah earning announcement mengakibatkan sebuah perubahan dalam harga saham. Fokus ini terefleksikan dalam bahasan selanjutnya. Konten informasi dalam earning announcement Banyak paper riset telah menyelidiki reaksi pasar modal terhadap earning announcement. Yakni, ketika sebuah perusahaan mengumumkan (announce) earning-nya untuk tahun tersebut (atau paruh-tahun), apa dampaknya, jika memang ada, terhadap harga saham? Mengasumsikan bahwa pasar kapital termasuk efisien bentuk semi-kuat (mereka akan bereaksi dengan cepat dan dalam cara tanpa bias terhadap informasi yang tersedia secara publik), maka sebuah perubahan dalam harga saham dianggap mengindikasikan bahwa

informasi abru dalam public earning announcement telah dimasukkan ke dalam harga sekuritas melalui aktivitas investor di dalam pasar. Akan bermanfaat untuk menilai kembali cash flow entitas ini di masa mendatang. Sejumlah studi penelitian telah menunjukkan bahwa informasi terkait earning terhubung dengan perubahan-perubahan dalam harga sekuritas. Tapi, mengapa kita mengharapkan earning akuntansi dan harga saham akan saling berkaitan? Teori keuangan modern mengusulkan bahwa harga saham dapat ditentukan sebagai jumlah cash flow masa depan yang diharapkan dari dividen, didiskon ke nilai mereka saat ini menggunakan rate of return yang setaraf dengan level resiko perusahaan. Selain itu, dividen adalah sebuah fungsi earning akuntansi, karena mereka pada umumnya hanya dibayarkan untuk earning di masa lalu dan earning saat ini. Oleh karenanya jika cash flow terkait dengan (sebuah fungsi) earning akuntansi, maka harga sebuah saham di perusahaan i, yang dapat disimbolkan sebagai (Pi), dapat dipandang sebagai jumlah earning per saham untuk masa depan yang diharapkan ( E ), didiskon ke nilai mereka saat ini dengan menggunakan sebuah tingkat diskonto disesuaikan-resiko (ki). Yakni, untuk perusahaan i saat ini:

Pi = E t / (1 + k i )
t =1

(Persamaan 1)

Persamaan 1 menunjukkan bahwa sebuah hubungan eksis antara harga saham dan earning masa depan yang diharapkan. Secara umum, perusahaan-perusahaan dengan earning masa depan yang diharapkan (expected future earning) yang lebih tinggi akan memiliki harga saham yang lebih tinggi. Ekspektasi ini terbentuk, setidaknya sebagian, dalam basis earning historis untuk perusahaan yang bersangkutan. Meski demikian, semua informasi yang saat ini tersedia (misalnya, rilis media, laporan analis, statistik yang dihasilkan, survei pasar dsb) juga turut diperhitungkan ketika memprediksi future earnings. Revisi apapun yang terjadi dalam ekspektasi future earning per saham, termasuk yang dihasilkan dari informasi baru yang terkandung dalam announcement current earning, akan direfleksikan dalam sebuah perubahan harga saham. Revisi terhadap ekspektasi future earning per saham akan terjadi sebagai akibat dari informasi baru, karena berada dibawah asumsi pasar dengan efisiensi bentuk semi-kuat,

maka harga juga diasumsikan mencerminkan semua informasi yang sudah diketahui publik, termasuk ekspektasi mengenai current earnings. Oleh karenanya, hanya komponen yang tidak diharapkan dari current earning announcement yang akan membentuk informasi baru. Yakni, unexpected earnings, dan bukannya total earnings, diharapkan untuk diasosiasikan dengan sebuah perubahan dalam harga saham. Sebagai contoh, jika CMR Company mengumumkan annual earning mereka mencapai $11 juta ketika hanya $10.5 juta yang diekspektasikan, maka unexpected earnings akan setara dengan $0.5 juta. Reaksi harga saham apapun akan terjadi akibat dari unexpected earning dan bukannya dari total annual earning $11 juta, karena investor telah mengantisipasi jumlah ini. Perubahan dalam harga saham akan menghasilkan return bagi investor (Rit), karena return merupakan fungsi keuntungan atau kerugian modal, selain dividen (Dit) yang diterima. Sehingga, untuk sebuah investasi dalam perusahaan i selama satu periode holding (t-1 hingga t) maka return akan diasumsikan sebagai berikut:

Rit =

( Pit Pit 1 ) + Dit


Pit 1

(Persamaan 2)

Panjangnya waktu dimana return dihitung (periode return) akan tergantung pada fokus riset yang bersangkutan, tapi pada umumnya tidak lebih singkat dari satu hari, atau lebih lama dari satu tahun. Dalam periode return dimana tidak ada dividen yang dibayarkan, return dapat dengan mudah dihitung sebagai persentasi perubahan harga saham. Hal ini akan dilakukan ketika return dihitung dalam basis harian. Sebagai contoh, jika harga saham CMR Company bergerak dari $5.42 menjadi $5.56 selama hari dimana earning diumumkan, maka daily return (return harian) (RCMR) akan setara dengan ($5.56$5.42)/$5.42 atau 2.6%. Mengingat bahwa return adalah sebuah fungsi perubahan dalam harga saham (dari Persamaan 2) dan harga saham dapat diekspresikan sebagai sebuah fungsi expected future earnings (dari Persamaan 1), return akan terkait dengan perubahan dalam expected future earnings. Kaitan atau hubungan ini seringkali dirujuk sebagai hubungan earning/return. Untuk CMR Company, unexpected announcement dari tambahan $0.5 juta earning ini telah menghasilkan return terhadap investor sebesar kurang lebih 2.6%, seperti yang

diindikasikan dalam perhitungan diatas. Return positif ini mengindikasikan bahwa investor mengharapkan future earning lebih tinggi daripada yang sebelumnya diharapkan. Tentu saja, tidak semua return saham disebabkan oleh investor yang berdagang atas informasi mengenai perusahaan individual. . Harga saham cenderung untuk berubah dalam basis harian karena adanya berbagai hal yang mempengaruhi seluruh pasar, atau sektor pasar. Kita dapat menyebut hal ini sebagai perubahan sistematis systematic changes. Sebagai contoh, pasar modal Australia cenderung mengikuti pasar AS, dan daily return untuk perusahaan-perusahaan individu jelasnya mencerminkan hal ini. Model pasar (lihat Fama, 1976, untuk detil mengenai pengembangan awalnya), yang diperoleh dari Capital Asset Pricing Model (CAPM), digunakan untuk memisahkan perubahan harga saham spesifik-perusahaan dari perubahan pasar. CAPM menjelaskan bagaimana sebuah pasar harus memutuskan return yang sesuai dalam sebuah saham, mengingat resikonya. Model ini memprediksikan sebuah hubungan linier antara expected return dan systematic risk, dimana systematic risk adalah resiko sebuah aset ketika dipertahankan (held) sebagai bagian dari sebuah portofolio yang terdiversifikasi. Systematic risk adalah resiko non-diversifiable atau tidak terhindarkan yang dikompensasi oleh investor melalui peningkatan return. Model pasar ini diekspresikan sebagai berikut: Rit = it + itRmt + it (Persamaan 3)

dimana Rit adalah return untuk perusahaan i selama periode t, dihitung sesuai dengan Persamaan 2; Rmt adalah return untuk seluruh pasar selama periode t (seperti yang dikirakira oleh return rata-rata yang dihasilkan dari sebuah portofolio sekuritas terdiversifikasi yang sangat besar); dan it adalah level systematic risk perusahaan i, relatif terhadap perubahan (sistematis) pasar. it adalah sebuah konstanta yang spesifik bagi perusahaan i, sementara it adalah sebuah notasi error yang memberikan sebuah indikasi mengenai bagaimana return terhadap sebuah sekuritas akan terhubung atau bergerak terkait dengan event-event spesifik. Untuk model pasar, terdapat asumsi bahwa variasi dalam return sekuritas individual akan banyak yang disebabkan oleh faktor-faktor pasar. Ketika portofolio investasi mengalami peningkatan dalam diversitas/keragaman, maka non-systematic risk dari

portofolio terdiversifikasi (diukur oleh it + it) cenderung untuk menghilang, sehingga hanya meninggalkan return yang disebabkan oleh adanya perubahan gerak pasar (yakni itRmt). Model pasar membuat sejumlah asumsi, termasuk investor cenderung menghindari resiko dan investor memiliki ekspektasi yang homogen (mereka memiliki kemiripan pemikiran). Persamaan 3 menunjukkan bahwa return total atau aktual dapat dibagi ke dalam return normal (atau expected), mengingat gerakan perubahan harga pasar (it + itRmt) dan return abnormal (atau unexpected) yang disebabkan karena gerakan perubahan harga saham spesifik-perusahaan (it). Return normal diharapkan bervariasi dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya, tergantung pada level systematic risk terkait pasar, sementara return abnormal akan diharapkan bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tergantung pada apakah terdapat informasi baru mengenai perusahaan yang menyebabkan investor untuk merevisi ekspektasi mereka tentang future earning. Model pasar digunakan untuk mengontrol perubahan harga saham yang disebabkan oleh peristiwa pasar, memungkinkan peneliti untuk terfokus pada perubahan harga saham yang disebabkan oleh berita spesifik perusahaan. Sebagai contoh, sebagian dari 2.6% return yang diperoleh CMR Company dalam mengumumkan annual earning-nya dapat disebabkan karena adanya peningkatan menyeluruh dalam pasar saat hari pengumuman (announcement day). Seorang peneliti yang menganalisa dampak dari earning announcement akan mengontrol dampak dari peningkatan pasar dengan jalan menguranginya dari return CMR Company. Dengan mengasumsikan bahwa CMR = 0, CMR = 1, dan Rmt = 1%, maka perhitungan ini akan meninggalkan sebuah return abnormal (CMR) 1.6%. Adalah return abnormal atau perubahan harga saham spesifik perusahaan, yang dianalisa oleh peneliti untuk menentukan efek informasi announcement perusahaan. Riset pasar modal dalam hubungan earning/return menganalisa perubahan harga spesifik-perusahaan (return abnormal) pada waktu terjadinya earning announcement. Return abnormal ini digunakan sebagai sebuah indikator konten informasi di dalam announcement. Yakni, seberapa banyak, jika memang ada, informasi baru yang dirilis ke pasar modal. Jika tidak ada reaksi harga, maka diasumsikan bahwa announcement tersebut tidak memiliki informasi baru. Yakni, informasi telah dikenal atau diantisipasi oleh partisipan pasar.

Hasil riset pasar modal ke dalam pelaporan finansial Riset pasar model telah menjadi fokus utama riset akuntansi finansial selama tiga puluh tahun terakhir. Riset semacam ini telah menyelidiki konten informasi earning dan juga item akuntansi serta disclosure lainnya. Hasil dari riset ini akan berguna untuk akuntan praktek dan juga para profesional keuangan seperti misalnya analis sekuritas. Pengetahuan terhadap hasil-hasil ini dianggap sangat bermanfaat dalam kaitannya untuk membuat keputusan pelaporan finansial. Pilihan-pilihan yang lebih terinformasi antara alternatif akuntansi dan disclosure dapat dibuat jika expected impacts (dampak yang diharapkan) terhadap harga saham telah diantisipasi ketika membuat keputusan pelaporan finansial. Sebuah ringkasan yang terdiri atas beberapa hasil riset pasar model yang lebih penting adalah sebagai berikut. Historical cost income (pemasukan biaya historik) digunakan oleh investor Ball dan Brown (1968) dalam publikasi riset pasar modal pertama dalam akuntansi, menyelidiki kegunaan accounting earning dibawah model historical cost (biaya historik). Sebelum riset mereka, terdapat anggapan luas bahwa metode akuntansi historical cost menghasilkan informasi tak berguna yang tidak bermanfaat bagi investor dan user laporan finansial lainnya. Ball dan Brown melihat perlunya bukti empiris mengenai apakah accounting earnings, dihitung menggunakan prinsip akuntansi historical cost, akan memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor. Mereka menyatakan (p. 159): Jika, seperti yang diindikasikan oleh bukti, harga sekuritas beradaptasi dengan cepat terhadap informasi baru segera setelah informasi tersebut tersedia, maka perubahan dalam harga sekuritas akan mencerminkan aliran informasi terhadap pasar. Sebuah revisi yang teramati dari harga saham yang diasosiasikan dengan perilisan laporan income akan memberikan bukti bahwa informasi yang tercermin dalam angka income akan berguna. Menggunakan data dari 261 perusahaan AS, mereka menguji apakah perusahaanperusahaan dengan unexpected increase dalam accounting earnings memiliki return abnormal yang bernilai positif, dan perusahaan-perusahaan dengan unexpected decrease

dalam accounting earnings akan memiliki return abnormal negatif (dalam rata-rata). Unexpected earnings dihitung (cukup sederhana) ketika selisih antara current earning dan earning tahun lalu. Yakni, mereka mengasumsikan bahwa earning tahun ini diharapkan sama seperti earning tahun lalu. Data harga saham bulanan digunakan, dengan model pasar digunakan untuk menghitung return abnormal untuk masing-masing perusahaan. Cumulative abnormal return (CAR) kemudian dihitung untuk masing-masing (a) sampel full perusahaan-perusahaan, (b) perusahaan-perusahaan dengan unexpected increases dalam earning (announcement positif), dan (c) perusahaan-perusahaan dengan unexpected decreases dalam earning (announcement negatif), dengan jalan menjumlahkan return abnormal rata-rata untuk masing-masing grup ini seiring dengan waktu. Mereka menemukan bukti yang menyatakan bahwa informasi yang terkandung di dalam laporan tahunan digunakan dalam pengambilan keputusan investasi, meski adanya keterbatasan dalam sistem akuntansi historical cost. Hasil ini dibuktikan oleh CAR selama bulan dilakukannya earning announcement (bulan 0). Seperti yang dapat dilihat dalam Bagan 10.1, perusahaan-perusahaan dengan unexpected increase (peningkatan yang tidak diprediksikan) dalam earning (announcement positif/favourable), diwakili dengan garis atas (top line) di dalam grafik, memiliki return abnormal yang positif, sementara perusahaan-perusahaan dengan unexpected decrease (penurunan yang tidak diprediksikan), diwakili dengan garis dasar (bottom line) dalam grafik, memiliki return abnormal negatif selama bulan announcement (rata-rata). Sejak studi awal Ball dan Brown, riset ini telah direplikasi berulang kali dengan menggunakan data dan metode riset yang lebih maju. Hasilnya mengkonfirmasikan manfaat dari historical cost income bagi para investor. Hal ini bukan berarti sistem akuntansi historical cost merupakan sistem yang paling berguna, karena sistem akuntansi value atau current cost saat ini bisa jadi lebih berguna, tapi bukti ini hanya memberikan sejumlah kepercayaan pada metode historical cost. [GAMBAR] Bagan 10.1 Pergerakan dalam return abnormal kumulatif sebelum dan sesudah earning announcement

Sebelum sebuah perilisan earning, investor mendapatkan banyak informasi yang mereka butuhkan dari sumber-sumber lain Selain mengkonfirmasi manfaat model akuntansi historical cost, Ball dan Brown juga menemukan bahwa kebanyakan informasi yang terkandung di dalam earning announcement (85-90%) telah diantisipasi oleh investor. Slope bertahap dalam garis (yang mewakili return abnormal kumulatif) sebelum earning announcement (yang dibuat pada waktu 0) dalam Bagan 10.1 memberikan bukti akan hal ini. Antisipasi perubahan earning oleh investor mengindikasikan bahwa investor mendapatkan banyak informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi dari sumber-sumber selain earning announcement tahunan (mungkin diperoleh dari rilis media, rilis analis, informasi mengenai produksi industri dan trens penjualan, serta lain sebagainya). Hal ini tidaklah mengherankan mengingat sumber-sumber informasi alternatif seperti misalnya conference calls kepada analis, dan press release, pada umumnya lebih tepat waktu dibandingkan laporan tahunan, yang cenderung dipublikasikan beberapa minggu setelah tanggal neraca dan tidak terlalu sering dipublikaskan jika dibandingkan dengan beragam sumber informasi alternatif lainnya. Oleh karenanya, kita tidak pernah bisa berharap untuk menghasilkan pernyataan akuntansi yang dapat mengatakan pada investor apapun yang ingin mereka ketahui. Yakni, menyediakan semua informasi yang relevan untuk investor bukanlah basis yang bagus untuk regulasi atau praktek. Ketika mengambil keputusan pelaporan finansial, penting untuk diingat bahwa, meski akuntansi tampaknya merupakan sumber informasi yang penting bagi pasar saham, akuntansi (accounting) bukanlah satu-satunya sumber informasi. Dalam menyelesaikan pembahasan kita terhadap Ball dan Brown (1968) mungkin akan tepat untuk mengetahui bahwa paper ini pada awalnya diterima secara umum sebagai artikel akuntansi akademis yang paling banyak dikutip. Hal ini jelas memberikan semacam perubahan dari riset akuntansi sebelumnya, yang kebanyakan termasuk normatif. Bercermin pada signifikansi karya Ball dan Brown (1968), Brown (1994, p. 24) menyatakan: Sejumlah alasan telah diberikan untuk menjelaskan dampak utama paper terhadap literatur akuntansi sejak tahun 1968:

Paper dicetak dalam bentuk eksperimen tradisional: hipotesis, pengumpulan data, analisa data, kesimpulan. Paper mencerminkan sebuah pandangan yang menangkal kritirk GAAP (kritikkritik tersebut berpendapat bahwa informasi akuntansi historical cost tidaklah bermanfaat dan tidak berguna).

Paper tersebut merupakan permohonan awal untuk riset empiris. Paper menekankan penggunaan data untuk menguji sebuah keyakinan (belief). Paper mengadopsi perspektif informasi. Paper mengandung elemen-elemen dasar sebuah disain riset yang menjadi sebuah model untuk riset di masa mendatang: bentuk semi-kuat dari EMH adalah sebuah hipotesis yang dipertahankan, sehingga fokusnya terdapat pada perilaku pasar di sekeliling tanggal announcement, prediksi earning dimodelkan untuk mengidentifikasikan berita masuk, atau apa yang baru, laporan earning; GAAP earning dibandingkan dengan versi pertama cash flow yang beroperasi; dan return abnormal diukur dengan Model Pasar (Market Model) dan CAPM.

Paper termasuk eksperimen yang kuat, dalam artian paper telah direplikasi untuk perusahaan-perusahaan dengan tahun fiskal yang berbeda, di negara-negara yang berbeda dan di waktu-waktu yang berbeda.

Paper tersebut memicu munculnya paper-paper lain di area-area terkait. Seperti yang diindikasikan dalam Bab 7, Watts dan Zimmerman (1986) menghargai

pengembangan Positive Accounting Theory, setidaknya sebagian, ke pendekatan eksperimental awal yang diadopsi oleh Ball dan Brown (1968). Konten informasi dalam earning announcement akan tergantung pada tingkatan sumber-sumber informasi alternatif Riset mengindikasikan bahwa kandungan informasi dalam earning akan bervariasi antar negara dan antar perusahaan dalam satu negara. Sebagai contoh, Brown (1970) menemukan bahwa jika dibandingkan dengan pasar AS, pasar Australia memiliki penyesuaian yang lebih lambat selama tahun yang bersangkutan, dengan penyesuaian yang lebih besar terjadi di sekitar tanggal earning announcement. Hasil ini mengimplikasikan bahwa laporan

tahunan merupakan sumber informasi yang lebih penting bagi pasar modal Australia dibandingkan dengan pasar modal AS karena hanya terdapat sumber informasi alternatif yang lebih sedikit bagi perusahaan-perusahaan Australia. Perbedaan dalam tingkatan sumber informasi alternatif ini sebagian juga disebabkan karena adanya regulasi Australia yang mensyaratkan pelaporan semi-tahunan dan bukannya pelaporan kuartal, dan yang juga merupakan fungsi pembeda adalah ukuran rata-rata perusahaan antara dua negara. Perusahaan-perusahaan yang lebih kecil cenderung memiliki sumber informasi alternatif yang lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar, dan mereka juga cenderung tidak diikuti oleh analis sekuritas. Perbedaan dalam tingkat sumber informasi alternatif antara perusahaan kecil dan besar ini menyebabkan perbedaan manfaat yang diperoleh dari earning announcement, dengan laporan ini menjadi lebih bermanfaat bagi perusahaan-perusahaan kecil daripada perusahaan-perusahaan besar. Oleh karenanya, tingkatan sumber informasi alternatif harus dipertimbangkan ketika membuat keputusan pelaporan finansial. (Kita akan kembali ke isu ukuran perusahaan di bagian lain bab ini).

Dampak unexpected changes (perubahan tidak diprediksi) pasar modal dalam hal earning akan tergantung pada apakah perubahan ini diharapkan bersifat permanen atau sementara/temporer Mengikuti hasil yang ditemukan oleh Ball dan Brown bahwa arah perubahan unexpected earning terkait positif dengan arah return abnormal, riset lebih jauh dilakukan dalam hubungan antara magnitude (besar kecilnya) unexpected change dalam earning, atau laba per saham, dan magnitude return abnormal. Hubungan ini seringkali dirujuk sebagai koefisien respon laba (earning response coefficient). Hasil yang ada menunjukkan bahwa hubungan ini bukan hubungan one-on-one. Memang, sejumlah riset telah menunjukkan bahwa return abnormal rata-rata yang diasosiasikan dengan 1% unexpected change dalam earning hanyalah antara 0.1 hingga 0.15% (Beaver, Lambert dan Morse, 1980). Hubungan ini akan bervariasi, tergantung dari apakah perubahan dalam earning diharapkan bersifat permanen atau sementara/temporer. Peningkatan permanen diharapkan menghasilkan peningkatan dividen, dan karenanya juga meningkatkan cash flow di masa mendatang, dan

hal ini mengimplikasikan sebuah perubahan dalam nilai perusahaan. Di sisi lain, peningkatan temporer didiskontokan atau diabaikan, karena mereka tidak diharapkan untuk memberikan dampak yang sama terhadap dividen yang diharapkan di masa mendatang (Easton dan Zmijewski, 1989). Meski beberapa perubahan earning seperti yang terjadi karena beban restrukturisasi one-off jelas merupakan hal yang temporer, akan lebih sulit untuk menentukan apakah perubahan earning lain akan cenderung bertahan lama. Persistensi earning akan tergantung pada magnitude relatif komponen-komponen kas dan akrual dari current earnings Sistem akuntansi akrual akan berbeda dari akuntansi berbasis kas mengingat perbedaan dimana cash flow dikenali dalam laporan finansial. Dibawah sistem akrual, beberapa item dikenali sebelum cash flow diterima atau dibayarkan (misalnya, penjualan dan pembelian kredit), sementara item-item lain dikenali dalam basis periodik (misal., biaya aset tetap dikenali atas kegunaannya selama beban depresiasi periodik). Oleh karenanya, proses akrual melibatkan penyesuaian timing dimana inflow dan outflow kas dari sebuah perusahaan diketahui mencapai sebuah kesesuaian antara revenue (pemasukan) dan expense (pengeluaran). Earning, ringkasan pengukuran performa dalam sistem akrual, memiliki lebih sedikit masalah timing dan mismatching dibandingkan pengukuran performa yang didasarkan pada unadjusted cash flow (misal, cash flow dari operasional). Meski demikian, aplikasi sistem akrual dapat menjadi subyektif jika dibandingkan dengan sebuah proses obyektif, dan tergantung pada pilihan-pilihan yang dibuat, banyak angka earning yang berbeda yang dapat tercapai. Sebagai contoh, jika metode depresiasi pengurangan neraca dipilih dibandingkan metode straight-line, profit yang dilaporkan pada awalnya akan rendah, mengingat pengeluaran depresiasi yang besar. Meski demikian, earning yang dilaporkan akan lebih tinggi di tahun-tahun berikutnya karena adanya pengeluaran depresiasi yang lebih rendah. Sloan (1996) melakukan sebuah studi penelitian untuk melihat apakah harga saham berperilaku seperti jika investor terpaku pada earning yang dilaporkan tanpa mempertimbangkan bagaimana angka-angka tersebut ditentukan (yakni, metode akuntansi apa yang digunakan). Menurut Sloan (1996, p. 291):

Sebuah uji yang berguna untuk mengetahui apakah harga saham sepenuhnya mencerminkan informasi yang tersedia membutuhkan spesifikasi sebuah model ekspektasi naif alternatif, dimana digunakan untuk menguji efisiensi pasar nol. Model naif yang ditearpkan dalam studi ini adalah bahwa investor terpaku fixate pada earning dan gagal membedakan antara komponen akrual dan cash flow dari current earnings. Model nave earning expectation ini konsisten dengan hipotesis fiksasi fungsional, yang menerima dukungan empiris dalam pasar modal, riset perilaku dan riset eksperimental. Sloan memberikan bukti bahwa perusahaan-perusahaan dengan akrual besar yang relatif terhadap cash flow aktual mereka cenderung untuk tidak memiliki earning tinggi yang persisten, karena akrual berbanding terbalik sejalan dengan waktu, mengurangi future earnings. Meski demikian, harga saham ditemukan berperilaku seolah investor terpaku pada earning yang dilaporkan, sehingga gagal dalam memperhitungkan magnitude relatif komponen kas dan akrual dari current earnings (fixation/fiksasi mengimplikasikan tingkat ketidakefisienan pasar). Dalam menutup papernya, Sloan (p. 314) menyatakan: Paper ini menyelidiki apakah harga saham mencerminkan informasi mengenai future earnings yang terkandung dalam komponen akrual dan cash flow dari current earnings. Persistensi performa earning ditunjukkan tergantung pada magnitude relatif dari komponen kas dan akrual earning. Meski demikian, harga saham berperilaku seolah-olah investor gagal mengidentifikasi properti yang berbeda dalam dua komponen earning ini dengan benar. Sehingga, meski earning dapat dikelola hingga beragam discretionary accrual, hal ini tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan, dan earning pada akhirnya akan menjadi lebih rendah sejalan dengan akrual yang berbanding terbalik seiring waktu. Oleh karenanya, bisa jadi memungkinkan untuk menaikkan harga saham melalui pelaporan earning yang lebih tinggi, efek ini akan terbalik jika earning yang lebih rendah dilaporkan di masa mendatang. Meski earning yang lebih rendah disebabkan karena sifat berbanding terbalik dari akrual, bukti-bukti yang ada mengindikasikan bahwa pasar terfiksasi pada

earning yang dilaporkan lebih rendah (lower reported earnings) dan harga saham akan jatuh ketika akrual akhirnya berbanding terbalik. Konsep-konsep efisiensi pasar, seperti misalnya perspektif fiksasi fungsional, telah banyak diperdebatkan dalam literatur akuntansi. Earning announcement perusahaan lain dalam industri yang sama memiliki konten informasi Ketika sebuah perusahaan mengumumkan earning tahunannya, hal ini biasanya menghasilkan return abnormal tidak hanya bagi perusahaan yang bersangkutan, melainkan juga bagi perusahaan lain yang bergerak di bidang industri yang sama (Foster, 1981). Yakni, terdapat konten informasi untuk perusahaan-perusahaan yang serupa dan juga untuk perusahaan yang melakukan announcement. Fenomena ini, dikenal dengan istilah information transfer transfer informasi, mengurangi elemen surprise (ketidaktahuan) dalam earning announcement perusahaan lain dalam industri yang sama dan memilih untuk melakukan announcement di tanggal setelahnya. Arah reaksi pasar modal akan terkait pada apakah berita yang terkandung dalam announcement ini mencerminkan sebuah perubahan kondisi untuk seluruh industri, atau perubahan dalam market share relatif di dalam industri. Karena informasi diperoleh dari announcement perusahaan yang serupa, maka informasi yang dirilis terkait perubahan sales/penjualan dan earning akan menghasilkan reaksi harga untuk perusahaan lain dalam sebuah industri, serta untuk perusahaan yang membuat announcement tersebut (Freeman dan Tse, 1992). Oleh karenanya, dalam membentuk ekspektasi mengenai bagaimana perilisan informasi, seperti misalnya earning announcement, dapat mempengaruhi harga saham, penting untuk turut memperhitungkan timing perilisan informasi relatif terhadap perusahaan lain yang serupa, karena informasi mengenai sebuah perusahaan dapat diperoleh dari informasi yang dirilis dari perusahaanperusahaan lain yang sejenis. Firth (1976) menyelidiki isu transfer informasi. Dia mencari cara untuk menyelidiki dampak dari hasil perusahaan yang diumumkan secara publik terhadap perilaku harga saham perusahaan kompetitornya (p. 298). Hasil yang diperolehnya mengindikasikan bahwa ketika berita bagus dirilis terkait accounting earnings, harga saham dari perusahaan lain yang sejenis dalam industri yang sama akan bereaksi dengan cepat (pada hari yang sama) dengan menunjukkan peningkatan yang signifikan secara

statistik. Menariknya, tampaknya terdapat return abnormal di hari sebelum announcement (antisipasi terbatas) dan hari sesudah announcement. Yakni, kebanyakan penyesuaian tampaknya terjadi cukup cepat. Hasil yang serupa juga ditemukan terkait dengan berita buruk earning announcement. Harga saham dari perusahaan yang melakukan announcement di dalam industri ini cenderung untuk jatuh pada hari berita buruk earning announcement. Jika earning announcement oleh satu perusahaan memberikan dampak terhadap harga saham perusahan lain dalam industri yang sama, akan terdapat sebuah ekspektasi bahwa jika sejumlah perusahaan hendak merilis informasi earning, maka dengan semua hal lain dianggap sama, reaksi harga saham terbesar dapat dihasilkan oleh entitas yang melakukan perilisan pertama kali. Di waktu entitas terakhir merilis earning announcementnya untuk akhir tahun yang bersangkutan, maka dapat diharapkan bahwa sejumlah besar informasi ini sudah tertanam dalam harga saham dan juga announcement terakhir akan memiliki dampak yang relatif kecil terhadap harga saham. Ekspektasi ini dikonfirmasikan oleh Clinch dan Sinclair (1987). Dalam meringkas hasil mereka, mereka menyatakan (p. 105): Asosiasi direksional (arah) antara perubahan harga harian untuk perusahaan yang melakukan announcement dan perusahaan yang tidak melakukan announcement dan magnitude perubahan harga mengalami penurunan untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan announcement berikutnya di industri yang sama untuk periode pelaporan yang bersangkutan. Kita dapat menghubungkan pandangan bahwa announcement-announcement yang dibuat oleh satu perusahaan akan dapat memberikan dampak terhadap harga saham perusahaan lain seperti sebuah artikel surat kabar terkini terkait dengan bank. Exhibit 10.1 menunjukkan bahwa ketika satu bank merilis angka profitnya, hal ini tampaknya menyebabkan reaksi harga saham di saham bank-bank lain. Hal ini konsisten dengan hasil yang dilaporkan diatas. Prediksi earning memiliki konten informasi

Earning announcement yang diprediksi oleh analis manajemen dan sekuritas diasosiasikan dengan return saham. Yakni, tidak hanya announcement earning aktual akan tampak menyebabkan perubahan dalam harga saham, tapi announcement dari expected earning sjuga akan dapat menyebabkan perubahan harga. Serupa dengan earning announcements, prediksi earning juga diasosiasikan dengan return pasar dalam artian arah dan magnitudenya (Penman, 1980; Imhoff dan Lobo, 1984). Hasil-hasil ini tidaklah mengejutkan karena prediksi earning diharapkan mengandung informasi baru yang dapat digunakan dalam prediksi future earnings. Prediksi terhadap expected future earnings tampaknya merupakan sebuah cara yang efektif untuk mengkomunikasikan informasi ke dalam pasar saham. Selain itu, prediksi berita buruk terkait future earning yang lebih rendah dari yang diharapkan juga dapat berguna dalam menghindari tuntutan hukum pemegang saham yang potensial (Skinner, 1997). Prediksi earning juga telah dieksplorasi dalam artian fenomena transfer informasi yang dibahas diatas. Baginski (1987) memunculkan hasil yang menunjukkan bahwa harga saham perusahaan di dalam industri yang sama yang tidak menyediakan sebuah prediksi earning yang berkorelasi positif dengan perubahan ekspektasi earning yang diindikasikan oleh prediksi earning yang dirilis oleh manajer perusahaan lain dalam industri yang sama. Exhibit 10.2 memberikan sebuah contoh dimana sebuah prediksi profit akan mengarah pada peningkatan harga saham, konsisten dengan beberapa hasil riset yang dilaporkan diatas. Meski demikian, hal yang harus diingat dalam riset yang terfokus pada reaksi pasar di sekeliling events tertentu adalah sangatlah memungkinkan jika harga saham mungkin secara aktual bereaksi pada event kontemporer yang tidak diketahui (oleh peneliti) lainnya. Exhibit 10.1 Sebuah ilustrasi efek transfer informasi Perusahaan ANZ memberikan percikan akhir pada saham-saham bank Louise Brannelly dan jasa telegram Profit bersih full-year dari ANZ Banking Group Ltd yang kuat dan rencana yang tidak diprediksikan untuk buy-back saham $500 juta menimbulkan percikan dibawah saham-

saham perbankan yang oversold kemarin, membatasi ekspektasi earning untuk bank lain dalam sektor ini. Indeks perbankan mencapai 129.8 poin, atau hampir 2 persen lebih tinggi, menjadi 6752.8 dengan ANZ sebagai performer bintang, mengumpulkan 38.1c atau 3.61 persen, menjadi $10.94. ANZ membukukan profit bersih $1.48 milyar per 30 September 1999, naik dari $1.06 milyar di tahun sebelumnya, mewakili sebuah lonjakan 18 persen ketika disesuaikan (adjusted) untuk a $1.1 milyar preference share issue dan sebuah beban akuntansi untuk software. Hasil ini muncul di daftar atas ekspektasi analis dari $1.399 milyar menjadi $1.484 milyar profit bersih. Ini adalah hasil yang bagus mereka sudah menentukan tujuan mereka dan mencapainya, kata analis Hartley Poynton, Jamie Nicol. Dia tahu bahwa buy-back ordinary share $500 juta yang telah direncanakan merupakan sebuah kejutan. Untuk sektor ini secara keseluruhan, sebuah performa yang kuat di pasar obligasi offshore dan kelegaan bahwa peningkatan yang diekspektasi berada dalam suku bunga ofisial yang dibatasi pada 25 poin juga meningkatkan sentimen ini. National Australia bank, yang diharapkan oleh pasar untuk memberikan hasil yang kuat hari ini, melompat 58c ke $25.44, sementara Westpac, mengumumkannya besok, terangkat naik 18c ke $10.38 dan CBA meningkat naik 40c ke $26.70. Sektor ini mengalami oversold bulan lalu dan tiba-tiba dengan pandangan peningkatan inflasi dan pasar obligasi yang stabil, kau akan melihat investor-investor terfokus kembali pada sektor perbankan sebagai satu keutuhan, kata analis Wilson HTM, Mark Arnold. Dia mengatakan bahwa sektor ini diharapkan menyampaikan tambahan 13 persen dalam earning untuk musim pelaporan 1998-99, melambat hingga 10 persen di tahun 2000. Chief executive officer ANZ John McFarlane meyakini peningkatan hasil untuk grup ini di tahun mendatang, meski dia menolak berkomentar mengenai apakah paruh pertama atau paruh kedua yang lebih kuat.

Mr. McFarlane mengatakan bahwa hasil di tahun 1999 menunjukkan bahwa ANZ memenuhi janjinya untuk menghasilkan pertumbuhan earning yang kuat, mengurangi biaya, menurunkan resiko dan meningkatkan return on equity. Pada waktu yang sama, kami telah menyeimbangkan kembali mix bisnis kami menuju return yang lebih tinggi, dan resiko bisnis yang lebih rendah, katanya. Pendapatan bunga bersih mengalami peningkatan 3 persen menjadi $3.645 milyar dan pendapatn non-bunga naik 11 persen menjadi $2.32 milyar, sementara beban hutang buruk (bad debt) dan diragukan (doubtful debt) merangkak naik mencapai $510 juta ($487 juta). Rasio cost income menurun 55 dari 60.9 persen dan return on equity mengalami peningkatan 17.2 dari 14.6 persen di tahun 1998. Mr. McFarlane mengatakan buy-back hingga 48 juta ordinary share adalah langkah pertama dalam mengatasi surplus modal grup. Level modal internal tinggi yang dihasilkan dari pertumbuhan earning yang kuat, implementasi program reduksi resiko, dan isu preference share telah menciptakan sebuah surplus modal untuk grup, tambahnya. ANZ memiliki sebuah grup dalam meningkatkan satu rasio modal mencapai 7.9 persen, meningkat dari 7.2 persen di tahun sebelumnya, dan Mr. McFarlane mengatakan level 6 persen sudah dianggap bijaksana. Dia mengatakan ANZ telah menyelidiki sejumlah peluang akuisisi di Asia Tenggara, dan dengan pengecualian Panin Bank, semuanya tidak ada yang memenuhi kriteria terhambat di dalam grup. Salah satu analis mengatakan bahwa pasar telah merasa waspada jika ANZ dapat menggunakan posisi modalnya yang kuat untuk melakukan sebuah akuisisi. Buy back terhadap ordinary share merupakan hal yang positif untuk earning per share dan juga return on equity, katanya. Dividen akhir akan mencapai 30c, membuat dividen full-year mencapai 56c, naik 8 persen dari tahun 1998. The Courier Mail, Thursday 4 November 1999. Exhibit 10.2 Prediksi profit dan pengaruh potensialnya terhadap harga saham

Macquarie naik 30c dalam janjinya mendapat profit besar Andrew White Jasa Finansial Saham Macquarie Bank naik mencapai rekor saat ditutup kemarin ketika investor membanjir dalam isu hutang high-yield dan menunggu ledakan profit yang diharapkan hari ini. Saham mencapai $24.10, naik 30c untuk hari ini dan hampir 13 persen di bulan lalu ketika investor memanaskan prediksi profit rekor untuk bank investasi full service. Analis mengatakan komentar-komentar dari wakil direktur Richard Sheppard dalam konferensi investasi New York pada tanggal 15 Oktober memiliki ekspektasi berdasar untuk hasil rekor. Mr. Sheppard menyatakan semua divisi telah memberikan performa yang baik dalam enam bulan hingga tanggal 30 September dan terus saja sangat sibuk. Saham telah mengalami kenaikan dari $21 sejak saat itu, tapi analis mengatakan bahwa hasil aktual harus melebihi prediksi pasar untuk bisa memperoleh momentum terhadap harga saham. Hal ini telah berjalan dengan sangat bagus di bulan lalu dan akan sangat sulit untuk mempertahankan proyeksi ini tanpa melewati prediksi semua orang, kata salah satu analis. Profit diprediksikan antara $83 juta dan $96 juta, dari $80.5 juta di setengah tahun lalu. Dibangun dalam ekspektasi ini adalah kontribusi penuh dari jaringan broker ritel baru dan dua bulan operasi dari bank investasi Bankers Trust, dibeli dari Deutsche Bank sebesar $100 juta di bulan Juli. Posisi bank juga semakin diperkuat kemarin dengan penutupan income securities issue $400 juta. Isu ini dua kali lipat lebih besar dari estimasi awal dan akan digunakan untuk memperkuat neraca bank. Bendahara Macquarie Paul Robertson mengatakan issue ini dibagi secara merata antara investor ritel melalui jaringan broker ritel bank sendiri dan manajer dana yang bertanya tentang saham yang tersedia beberapa kali.

Catatan membayar 1.7 persen diatas bill rate bank dan dijamin setidaknya 7.25 persen untuk tiga tahun pertama. Mereka terdaftar untuk tanggal 25 November. The Australian, 16 November 1999, p. 24. Terdapat benefit yang diasosiasikan dengan pengungkapan informasi sukarela (voluntary disclosure of information) Pengungkapan informasi tambahan, melampaui yang disyaratkan oleh regulasi akuntansi, memiliki benefit di pasar modal. Voluntary disclosure (pengungkapan sukarela) termasuk inforamsi yang terkandung di dalam laporan tahunan, dan juga yang dibuat dengan melalui media lain seperti misalnya press releases, dan conference calls kepada analis sekuritas. Sebagai contoh, Lang dan Lundholm (1996) menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan kebijakan pengungkapan (disclosure) yang lebih informatif akan memiliki lebih banyak analis mengiktuinya dan memiliki prediksi earning analis yang lebih akurat. Mereka menyatakan bahwa benefit potensial terhadap pengungkapan akan termasuk meningkatnya jumlah investor yang mengikuti dan mengurangi ke-asimetris-an informasi. Selain itu, Botosan (1997) menunjukkan bahwa meningkatnya voluntary disclosure di dalam laporan tahunan diasosiasikan dengan penurunan biaya modal ekuitas, khususnya untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki sedikit analis pengikut. Untuk perusahaanperusahaan dengan sedikit-analis ini, pengungkapan informasi prediksi dan statistik nonfinansial pokok khususnya sangat penting, sementara untuk perusahaan dengan banyakanalis yang mengikuti, pengungkapan ringkasan informasi historik akan sangat menguntungkan. Oleh karenanya, benefit potensial dari peningkatan pengungkapan seharusnya tidak boleh diabaikan ketika memutuskan tentang tingkat pengungkapan sukarela. Rekognisi diterima berbeda dari semata-mata pengungkapan catatan kaki Mengakui (merekognisi) sebuah item dengan jalan mencatatnya di dalam laporan finansial dan memasukkan jumlah numeriknya di dalam total laporan finansial dianggap berbeda dari semata mengungkapkan jumlah ini dalam catatan kaki laporan. Sebagai contoh, Aboody (1996) menemukan bahwa dimana perusahaan-perusahaan industri gas dan minyak AS mengenali sebuah write-down dalam laporan finansial mereka, efek negative

pricing-nya cukup signifikan, sementara dimana perusahaan dalam industri yang sama mengungkapkan write-down semacam ini dalam catatan kaki, pricing effect tidaklah signifikan. Dengan kata lain, pasar menganggap recognised write-down sebagai indikasi penyusutan nilai daripada disclosed write-down. Selain itu, Cotter dan Zimmer (1999) menunjukkan bahwa semata-mata pengungkapan current value terhadap tanah dan bangunan akan mengindikasikan bahwa jumlahnya kurang pasti jika dibandingkan dengan current values yang direkognisi (recognised) dalam laporan posisi finansial (neraca) melalui sebuah reevaluasi aset. Hasil-hasil ini mengindikasikan bahwa investor lebih mengandalkan recognised amounts dibandingkan disclosed amounts. Oleh karenanya, meski tidak perlu merekognisi informasi di dalam neraca untuk kegunaannya, karena hanya dengan mengungkapkan (disclosing) informasi di dalam catatan kaki saja berarti sudah menyampaikan informasi kepada investor, informasi terungkap (disclosed information) dianggap kurang reliable daripada informasi terekognisi (recognised information). Ukuran (Size) Terdapat bukti bahwa hubungan antara earning announcement dan perubahan harga saham berbanding terbalik dengan ukuran sebuah entitas. Yakni, earning announcement dianggap secara umum memiliki dampak yang lebih besar pada harga-harga saham perusahaanperusahaan kecil relatif daripada perusahaan-perusahaan besar. Hal ini dijelaskan dalam basis pengertian bahwa perusahaan-perusahaan besar relatif memiliki lebih banyak informasi yang tersedia di pasar dan karenanya memiliki kecenderungan yang lebih besar bahwa proyeksi mengenai earning telah tertanam dalam harga saham. Earning announcement untuk perusahaan besar akan memiliki komponen yang relatif terbatas. Sebagai contoh, riset telah menunjukkan bahwa hubungan antara konten informasi di dalam earning announcement dan perubahan dalam harga saham cenderung signifikan untuk perusahaan-perusahaan kecil. Yakni, secara umum, earning announcement perusahaan-perusahaan besar cenderung memiliki konten informasi yang relatif lebih sedikit (sebagai contoh, Freeman, 1987; Collins, Kothari dan Rayburn, 1987). Hal ini konsisten dengan EMH dan dijelaskan oleh fakta bahwa perusahaan-perusahaan besar cenderung memiliki lebih banyak informasi untuk disirkulasikan tentang mereka sehingga menarik lebih banyak perhatian dari pihak-pihak seperti misalnya analis sekuritas. Oleh

karenanya, dalam rata-rata, earning announcement untuk perusahaan-perusahaan besar akan cenderung lebih diantisipasi dan karenanya juga sudah tertanam dalam harga saham sebelum earning announcement dilakukan. Grant (1980) juga mengeksplorasi isu ini. Dia menyelidiki konten informasi earning announcement sekuritas yang diperdagangkan di New York Stock Exchange, dan juga sekuritas-sekuritas yang diperdagangkan di tempat yang dikenal sebagai Over the Counter Market (OTC). Perusahaan-perusahaan yang berdagang di OTC biasanya merupakan perusahaan-perusahaan berukuran kecil dibandingkan dengan perusahaanperusahaan yang berdagang di New York Stock Exchange. Konsisten dengan efek ukuran yang dirasakan, harga sekuritas yang diperdagangkan di OTC akan lebih responsif terhadap earning announcement dibandingkan dengan harga-harga sekuritas yang diperdagangkan di New York Stock Exchange. Apakah current share prices (harga saham saat ini) mengantisipasi future accounting earning announcement (pengumuman laba akuntansi di masa mendatang)? Pembahasan sebelumnya dalam bab ini telah memberikan bukti bahwa accounting earnings announcement, karena konten informasinya yang potensial, dapat memberikan sejumlah dampak pada harga saham. Yakni, harga saham dalam kaitannya dengan informasi ketika informasi tersedia. Meski demikian, dampak ini tampaknya lebih signifikan untuk perusahaan-perusahan kecil. Seperti yang telah kita lihat, hal ini dijelaskan dalam basis bahwa terdapat kecenderungan adanya lebih banyak informasi yang tersedia untuk perusahaan-perusahaan yang lebih besar (misalnya, melalui analis yang memberikan perhatian khusus pada peruashaan-perusahaan besar). Sehingga, sejalan dengan peningkatan ukuran perusahan, perspektif umum yang diambil adalah harga saham memasukkan informasi dari sejumlah besar sumber (termasuk diantaranya, beragam prediksi mengenai earning entitas yang berukuran lebih besar) dan karenanya relatif terdapat lebih sedikit unexpected information ketika earning pada akhirnya diumumkan. Oleh karenanya, untuk perusahaan-perusahaan besar, kita dapat berpendapat bawha harga saham memang mengantisipasi future earning announcement dengan sejumlah tingkatan akurasi. Seperti yang dinyatakan oleh Brown (1994, p. 105), jika kita mengambil perspektif bahwa harga saham mengantisipasi earning announcement, maka kita secara efektif

looking back the other way melihat kembali ke arah lain dari perspektif-perspektif tradisional yang mengasumsikan bahwa earning announcement secara aktual menggerakkan perubahan harga saham. Sebuah fokus terkini dalam riset pasar modal menyelidiki seberapa baik informasi akuntansi, seperti misalnya earning tahunan, menangkap informasi yang relevan bagi para investor. Ini adalah sebuah fokus yang berbeda dari riset yang diperhitungkans sebelumnya dalam bab ini. Bukannya menentukan apakah earning announcement menyediakan informasi bagi investor, bentuk riset alternatif ini mencari cara untuk menentukan apakah earning announcement mencerminkan informasi yang sudah digunakan oleh investor dalam pengambilan keputusan. Yakni, riset semacam ini memandang harga pasar, dan karenanya juga return, sebagai leading accounting earning (laba akuntansi utama), sementara riset konten informasi (fokus sebelumnya dalam bab ini) memandang earning sebagai leading (atau driving/penggerak) market return. Kedua perspektif ini memiliki kelebihan, karena earning announcement cenderung mengandung sejumlah informasi mengenai aktivitasaktivitas sebuah perusahaan yang sebelumnya tidak diketahui oleh para investor, dan juga informasi-informasi yang telah ditentukan oleh investor (atau telah diantisipasi) dari beragam sumber alternatif. Dalam memperhitungkan mengapa harga-harga saham menyampaikan informasi mengenai future accounting earnings, Brown (1994, p. 106) berpendapat: Dalam sebuah dunia dengan ekspektasi rasional, event-event yang mempengaruhi future distribution bagi para pemegang saham akan tercermin dalam harga saham hari ini, dimana standar akuntansi seringkali membutuhkan agar rekognisi atas event-events tersebut ditunda hingga beberapa periode future accounting. Harga saham dan return (perubahan dalam harga dan dividen) oleh beberapa peneliti dianggap memberikan benchmark yang bermanfaat untuk menentukan apakah informasi akuntansi termasuk relevan untuk pengambilan keputusan investor. Harga saham dianggap mewakili sebuah pengukuran benchmark atas nilai perusahaan (per saham), sementara return saham mewakili sebuah pengukuran benchmark atas performa

perusahaan (per saham). Benchmark-benchmark ini secara bergantian digunakan untuk membandingkan manfaat akuntansi alternatif dan metode pengungkapan (disclosure method). Sebagai contoh, metodologi ini digunakan untuk menjawab pertanyaanpertanyaan seperti misalnya: apakah cash flow dari operasional merupakan pengukuran yang lebih baik atas performa perusahaan dibandingkan dengan earning yang dihitung dengan menggunakan sistem akrual? Masing-masing dari pengukuran akuntansi performa ini dibandingkan dengan pengukuran performa sesuai benchmark pasar (return) untuk menentukan pengukuran akuntansi mana yang lebih baik dalam mencerminkan assessment pasar performa perusahaan. Tipe riset pasar modal ini juga mengasumsikan bahwa pasar termasuk efisien, dan mengakui bahwa laporan-laporan finansial bukan merupakan satusatunya sumber informasi yang tersedia di pasar, dimana harga sekuritas akan mencerminkan informasi yang pada umumnya tersedia dari beragam sumber. Secara khusus, tipe ini mengasumsikan bahwa investor dan analis finansial secara aktif mencoba mencari informasi yang relevan ketika membuat keputusan atau rekomendasi investasi, dan bukannya menunggu perilisan laporan tahunan. Lebih jauh lagi, area riset ini memungkinkan peneliti untuk mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan mengenai pengukuran laporan posisi finansial. Sebagai contoh, apakah pengungkapan mengenai current values of assets (nilai aset saat ini) memang value-relevant? Yaitu, apakah mereka diasosiasikan atau terhubung dengan current market value perusahaan? Sekali lagi, terdapat sebuah asumsi bahwa nilai pasar mencerminkan semua informasi yang tersedia secara publik, termasuk, tapi tidak terbatas pada, informasi yang terkandung dalam laporan finansial. Area riset ini didasarkan pada sebuah framework teoretis yang diperoleh dari dasar alasan bahwa market value dan book value sama-sama merupakan pengukuran terhadap nilai perusahaan (stock of wealth), meskipun book value (nilai dalam buku) mengukur kekayaan tanpa luput dari sejumlah kesalahan. Yakni, pada poin waktu apapun, market value dari ekuitas perusahaan (MVit) akan setara dengan book value ekuitas pemegang saham (BVit) plus sejumlah kesalahan (error) (it): MVit = BVit + it (Persamaan 4)

Error atau kesalahan ini disebabkan karena adanya sifat konservatif dari sistem akuntansi. Book value (nilai dalam buku) pada umumnya diharapkan lebih rendah daripada market value untuk sejumlah alasan. Pertama, tidak semua aset dan liabilitas diakui atau direkognisi di dalam laporan finansial. Sebagai contoh, human resources, level kepuasan customer, dan goodwill yang dimunculkan secara internal tidak dimasukkan dalam laporan posisi finansial, juga bukan berarti value (nilai)nya diangsur dalam laporan performa finansial (laporan income). Kedua, beberapa aset diakui atau direkognisi kurang dari nilai mereka sesungguhnya. Sebagai contoh, aset tetap (fixed assets), yang tidak dinilai ulang, dan inventarisasi pada umumnya dicatat pada harga dibawah harga jual yang diharapkan. Jika pasar diasumsikan efisien, market value memberikan sebuah pengukuran benchmark terhadap mana pengukuran alternatif terhadap book value dapat dinilai. Seperti yang akan kita lihat disini, terdapat sejumlah besar riset yang mengevaluasi output sistem akuntansi dalam basis bagaimana informasi akuntansi terhubung atau terbanding dengan current market prices dari sekuritas perusahaan. Jika market value dan book value dari sebuah perusahaan dianggap sebagai stock of wealth, maka perubahan dalam masing-masing pengukuran kekayaan ini antara dua poin waktu dapat dianggap sebagai aliran flows of wealth. Sama saja seperti pengukuran market dan book terhadap stock of wealth akan setara dengan error, pengukuran market dan book terhadap flows of wealth (perubahan dalam value) akan dapat disamakan dengan sejumlah tingkat error: MVit = BVit + it (Persamaan 5)

Perubahan dalam market value (MVit) adalah selisih dalam kapitalisasi pasar sebuah perusahaan antara dua poin waktu (t-1 hingga t). Dalam basis per saham, hal ini dapat diekspresikan sebagai perubahan dalam harga satu saham. MVit / jumlah saham = Pit Pit-1 (Persamaan 6)

Perubahan dalam book value (BVit) adalah selisih antara pembukaan dan penutupan ekuitas pemegang saham total. Meski demikian, jika kita berasumsi bahwa tidak

terdapat kontribusi modal tambahan selama periode ini, maka (BVit juga dapat diukur dengan jalan menghitung perubahan dalam retained earning (laba ditahan) untuk periode tersebut. Dalam basis per saham, hal ini diukur sebagai earning per share (Eit) lebih sedikit dividen yang dibayarkan per saham (Dit): BVit / jumlah saham = Eit - Dit (Persamaan 7)

Formula ini didasarkan pada konsep clean surplus earning, yang mengasumsikan bahwa semua peningkatan dalam book value akan melewati laporan performa finansial. Clean surplus earning tidak selalu ada dalam prakteknya, karena item-item seperti misalnya inkremen revaluasi aset dikreditkan secara langsung pada ekuitas owner. Meski demikian, asumsi clean surplus sangatlah berguna untuk mensimplifikasikan analisa kita. Mensubstitusikan Persamaan (6) dan (7) ke dalam Persamaan (5) akan memberikan hasil: Pit Pit-1 = Eit Dit + it (Persamaan 8)

Yaitu, terdapat sebuah hubungan teoretis antara perubahan dalam harga dan perubahan dalam retained earning untuk periode yang bersangkutan. Dengan sejumlah kecil manipulasi, persamaan ini dapat diekspresikan untuk menghubungkan return to earning (hubungan return/earning). Pertama-tama, tambahkan dividen ke dua sisi persamaan, dan dibagi dengan harga awal periode, maka: Pit Pit 1 = E it / Pit 1 + "it Pit 1

(Persamaan 9)

Karena sisi kiri persamaan ((Pit Pit-1) + Dit)/Pit-1, akan setara dengan return (persamaan 2), maka kita ditingalkan dengan sebuah persamaan yang menghubungkan return terhadap earning: Rit = Eit / Pit-1 + it (Persamaan 10)

Persamaan 10 menunjukkan bahwa kita harus mengharapkan return (Rit) dan earning per saham dibagi dengan harga awal periode (Eit / Pit-1) sebagai komponen-komponen yang saling terkait. Pendek kata, perspektif ini mengatakan bahwa jika market value terkait dengan book value, maka return harus dikaitkan dengan accounting earning per share, dibagi dengan harga di awal periode akuntansi. Analisa ini memberikan sebuah alasan dasar mengapa kita harus mengharapkan return agar terkait dengan earning seiring dengan waktu. Meski demikian, akan menarik untuk mengetahui bahwa justru total earning per share dan bukannya unexpected earning per share yang diasosiasikan dengan return oleh framework teoretis ini. Hal ini berkontras dengan riset yang menilai konten informasi earning announcement dengan menganalisa asosiasi antara unexpected earnings per share dan return abnormal pada waktu announcement dilakukan. Kita akan melihat bahwa terdapat sejumlah studi penelitian yang mengevaluasi reported earning dalam basis seberapa dekat perubahan dalam reported earnings (atau EPS) dikaitkan dengan perubahan dalam harga saham. Beaver, Lambert dan Morse (1980) adalah sebuah paper awal yang mencari cara untuk menyelidiki seberapa efisien data terkait harga saham akan dapat memungkinkan peneliti untuk mengestimasikan future accounting earnings. Menerima fakta bahwa harga saham adalah nilai future earning yang terkapitalisasi, mereka meregresikan perubahan persentase tahunan dalam harga saham terhadap perubahan persentase di EPS tahunan. Konsisten dengan Persamaan 10, mereka menemukan bahwa harga saham dan return terkait akan terhubung pada accounting earning, tapi mereka juga menemukan bahwa harga saham di tahun t diasosiasikan positif dengan accounting earning pada tahun t+1 (harga saham memimpin accounting earnings). Sudah banyak diterima bahwa perubahan harga saham memberikan sebuah indikasi pergerakan masa mendatang (future movement) accounting earning. Karena beragamnya sumber informasi, harga-harga tampaknya mengantisipasi future accounting earning. Hasil-hasil ini juga dilaporkan dalam studi-studi penelitian terkini oleh Beaver, Lambert dan Ryan (1987) yang meregresikan perubahanperubahan dalam harga sekuritas pada perubahan persentase earning. Dalam pembahasan sebelumnya kami menunjukkan bahwa riset mengindikasikan bahwa harga saham perusahaan-perusahaan yang berukuran lebih besar tidak mengalami

penyesuaian (adjust) yang banyak terkait earning announcement seperti halnya yang terjadi dengan harga saham perusahaan-perusahaan yang berukuran lebih kecil. Hal ini dijelaskan dalam basis bahwa terdapat lebih banyak informasi yang tersedia dan dianalisa dalam kaitannya dengan perusahaan-perusahaan besar dan karenanya informasi mengenai earning sudah tertanam dalam harga saham mereka. Yakni, untuk perusahaan yang lebih besar, terdapat set informasi yang lebih luas dan lebih kaya, dan terdapat lebih banyak market trader serta lebih banyak analis yang mencari informasi (Brown, 1994, p. 110). Kini setelah kita mengadopsi posisi yang diambil dalam section ini dimana harga saham dapat secara aktual mengantisipasi earning announcement (looking back the other way), seperti yang diindikasikan dalam Beaver, Lambert dan Morse (1980) dan Beaver, Lambert dan Ryan (1987), maka mungkin harga saham mengantisipasi accounting earning dengan lebih efisien untuk kasus perusahaan-perusahaan besar. Collins, Kothari dan Rayburn (1987) menemukan bukti untuk mendukung pandangan ini ukuran memang berarti (size does matter), dengan harga saham menjadi indikator future earning yang lebhi baik di perusahaan-perusahaan besar. Seperti yang sudah dikatakan diatas, terdapat sejumlah studi penelitian yang menggunakan valuasi pasar saham seabgai basis untuk mengevaluasi informasi akuntansi. Dalam Persamaan 10 maka kita mengindikasikan bahwa, secara teoretis, market return seharusnya terhubung dengan earning. Dechow (1994) menginvestigasi seberapa baik accounting earning mencerminkan market return. Dia juga mempertimbangkan apakah pengukuran performa yang lain, berbasis cash flow, terhubung lebih baik pada return daripada earning berdasarkan sistem akuntansi akrual. Menurut Dechow (p. 12): Paper ini berasumsi bahwa pasar saham termasuk efisien dalam artian bahwa harga-harga saham secara tidak bias mencerminkan semua informasi yang tersedia dalam publik berkenaan dengan expected future cash flow perusahaan. Oleh karenanya, performa harga saham digunakan sebagai benchmark untuk menilai apakah earning atau cash flow yang terealisasi dapat meringkas informasi dengan lebih baik.

Menurut Dechow, earning diprediksikan sebagai sebuah pengukuran performa perusahaan yang lebih berguna dibandingkan cash flow karena mereka diprediksikan memiliki timing yang lebih parah dan permasalahan yang cocok (matching problems). Dalam kesimpulannya, dia menyatakan (p. 35): Paper ini menduga bahwa salah satu peranan akuntansi akrual adalah untuk menyediakan sebuah pengukuran performa jangka pendek yang lebih mencerminkan expected cash flow daripada realized cash flow. Hasil yang ditemukan konsisten dengan prediksi ini. Pertama, dalam interval pengukuran pendek maka earning lebih diasosiasikan dengan return saham (stock return) daripada realized cash flow. Selain itu, kemampuan dari realized cash flow dalam mengukur performa perusahaan akan meningkat relatif terhadap earning ketika interval pengukuran diperpanjang. Kedua, earning memiliki asosiasi yang lebih tinggi dengan stock return dibandingkan dengan realized cash flow dalam perusahaan yang mengalami perubahan besar di persyaratan modal kerja mereka dan investasi mereka serta aktivitas pembiayaan mereka. Dibawah kondisi-kondisi ini, realized cash flow memiliki timing yang lebih parah dan matching problem dan kurang dapat mencerminkan performa perusahaan. Menggunakan market value dari sekuritas perusahaan sebagai benchmark, sejumlah studi penelitian juga telah berusaha untuk menentukan pendekatan valuasi aset mana yang memberikan angka akuntansi yang paling baik dalam mencerminkan valuasi pasar (marketplace) dalam perusahaan. Perspektif yang diambil adalah book value memiliki kaitan yang lebih erat dengan market value (ditentukan melalui sebuah tinjauan harga saham) yang memberikan lebih banyak informasi yang relevan daripada pendekatan valuasi akuntansi lainnya. Barth, Beaver dan Landsman (1996) melakukan sebuah studi penelitian yang menyelidiki apakah estimasi fair value dari instrumen finansial bank (seperti yang disyaratkan di AS oleh SFAS No. 107) tampaknya memberikan sebuah penjelasan yang lebhi baik atas harga saham bank relatif terhadap value yang ditentukan dalam basis akuntansi historical cost. Hasil yang mereka peroleh mengindikasikan bahwa

pengungkapan SFAS No. 107 memberikan kekuatan explanatory yang signifikan untuk harga saham bank melampui yang disediakan oleh book value (p. 535), sehingga memberikan bukti bahwa value-value semacam ini adalah value-value yang relevan terhadap investor. Easton, Eddey dan Harris (1993) menyelidiki apakah revaluasi aset menghasilkan sebuah keselarasan antara informasi yang tercermin dalam laporan tahunan dan informasi yang implisit dalam harga saham dan return. Sekali lagi, data harga saham digunakan sebagai benchmark terhadap mana data akuntansi dinilai. Menurut Easton et al. (p. 16): Harga-harga digunakan untuk menilai tingkatan dimana laporan laporan finansial, termasuk revaluasi aset, mencerminkan kondisi perusahaan pada satu waktu, sementara return digunakan untuk menilai ringkasan perubahan dalam kondisi finansial yang diberikan dalam laporan finansial. Mereka menemukan bahwa revaluasi aset pada umumnya menghasilkan keselarasan yang lebih baik antara market dan book value. Dalam penutup paper mereka, mereka menyatakan (p. 36): Analisa kami mendukung kesimpulan bahwa book value yang termasuk asset revaluation reserves akan lebih selaras dengan market value perusahaan dibandingkan dengan book value tanpa revaluasi aset. Yakni, asset revaluation reserves seperti yang dilaporkan di bawah ketentuan GAAP Australia turut membantu dalam memberikan ringkasan yang lebih baik dari kondisi perusahaan saat ini. Sehingga, mengijinkan atau mensyaratkan perusahaan untuk melakukan revaluasi aset upward harus dipertimbangkan dengan seksama oleh organisasi-organisasi seperti misalnya UK Accounting Standard Boards, Japanese Ministry of Finance dan International Accounting Standard Committee ketika mereka memperdebatkan keuntungan beragam perubahan yang diusulkan dalam praktek revaluasi aset.

Konsisten dengan sebuah pandangan bahwa harga pasar (market prices) tampaknya mencerminkan current value dari aset entitas yang bersangkutan, seperti yang diindikasikan dalam riset yang dibahas sebelumnya, menarik untuk mengetahui bahwa revaluasi aset tidak tampak memberikan informasi terhadap investor melebihi informasi akuntansi historical cost. Yakni, beberapa studi penelitian telah mengindikasikan bahwa ketentuan current cost data dalam laporan finansial tidak memiliki konten informasi (Brown dan Finn, 1980). Hasil ini menyatakan bahwa investor dapat mengestimasi informasi current value sebelum informasi ini diungkapkan dalam laporan finansial. Oleh karenanya, meski ketentuan informasi current value tidak memberikan informasi baru bagi investor, hal ini tampaknya mencerminkan informasi yang digunakan oleh investor dalam membuat keputusan investasi mereka. Ringkasan Bab Dalam menutup pembahasan kita terkait riset pasar modal maka kita bisa melihat bahwa riset ini telah menyelidiki sejumlah besar isu. Penting bagi riset ini adalah asumsi-asumsi mengenai efisiensi pasar modal. Dalam studi penelitian konten informasi yang dibahas di bagian awal bab ini maka kita melihat bahwa peneliti menyelidiki reaksi pasar saham terhadap perilisan informasi, seringkali perilisan informasi akuntansi. Pandangan yang diambil adalah disclosure/penyingkapan akuntansi seringkali mengungkapkan informasi baru dan dalam sebuah pasar yang dianggap efisien informasi terkait dengan tindakan pada informasi baru, harga-harga saham akan bereaksi pada informasi ini. Dalam bagian akhir bab ini maka kita mempertimbangkan studi-studi penelitian yang menyelidiki apakah penyingkapan akuntansi (accounting disclosure) mencerminkan atau mungkin mengkonfirmasikan, informasi yang sudah tertanam di dalam harga saham. Perspektif yang diambil adalah dalam pasar modal yang secara informasional termasuk efisien, harga saham di pasar modal akan mencerminkan informasi dari beragam sumber. Jika informasi akuntansi tidak mencerminkan tentang informasi yang sudah tertanam di dalam harga saham, maka beberapa peneliti akan beranggapan bahwa data akuntansi yang tidak terkait dengan harga saham, dan perubahan dalam harga tersebut, dianggap defisien/tidak sempurna. Idenya adalah harga pasar mencerminkan informasi dari beragam sumber dan jika data yang terakumulasi memberikan sebuah sinyal tertentu, maka

penyingkapan akuntansi juga harus menyediakan sinyal-sinyal yang serupa. Seperti yang telah kita ketahui, pendekatan ini mengimplikasikan bahwa pasar akan benar ketika menentukan harga saham, dan karenanya juga dalam menentukan return. Dalam prakteknya, pasar tidak dapat diharapkan untuk selalu benar. Karena banyak pengetahuan mengenai performa sebuah entitas akan diperoleh dari sumber-sumber selain akuntansi, mungkin akan logis untuk mengharapkan bahwa informasi akuntansi harus terkait (tidak sempurna) dengan ekspektasi yang dipegang oleh partisipan pasar modal, seperti yang tercermin dalam harga-harga saham. Meski demikian, karena akan selalu ada unexpected information yang dirilis ketika hasil akuntansi dipublikasikan, kita dapat berharap bahwa tidak semua penyingkapan akuntansi akan memiliki sifat konfirmatif. Beberapa informasi dalam perilisan akuntansi akan termasuk baru, dan dalam sebuah pasar yang diasumsikan efisien informasi, beberapa revisi harga bisa diharapkan terjadi. Banyak studi penelitian harga saham telah menyelidiki reaksi pasar terhadap penyingkapan tertentu. Seringkali, jika tidak ada reaksi yang ditemukan, maka muncul anggapan bahwa informasi tersebut tidak berguna dan karenanya entitas tidak perlu bersusah payah terlibat dalam melakukan penyingkapan informasi semacam ini. Bentuk argumen ini telah digunakan untuk mengkritik regulator akuntansi dalam mewajibkan ketentuan penyingkapan tertentu. Hal yang harus diketahui adalah bahwa riset pasar modal menyelidiki reaksi agregat satu grup stakeholder saja, yakni para investor. Meski pasar saham adalah user penting terhadap informasi akuntansi, ketentuan informasi dalam pasar saham bukanlah satu-satunya fungsi dalam sistem akuntansi. Informasi akuntansi juga digunakan untuk tujuan monitoring (Jensen dan Meckling, 1976; Watts dan Zimmerman, 1990), dan karenanya laporan finansial memainkan peranan yang penting dalam kaitannya dengan proses contracting (lihat Bab 7). Laporan finansial memberikan sebuah cara yang relatif rendah biaya untuk mengukur performa manajer dan memonitor ketaatan terhadap syarat kontrak, sehingga membantu dalam mengurangi biaya agensi. Lebih jauh lagi, informasi laporan finansial dapat digunakan untuk memuaskan hak untuk tahu orangorang, yakni, untuk memenuhi tanggungjawab akuntabilitas (lihat bab 8 untuk sebuah kajian mengenai konsep akuntabilitas). Oleh karenanya, meski investor merupakan user penting laporan finansial, akan tidak bijaksana untuk hanya sepenuhnya terfokus pada

peranan informasi-investor dalam pelaporan finansial, dengan mengecualikan peranan monitoring/akuntabilitas.