Anda di halaman 1dari 18

Fraktur Radius Ulna (Or) Written by Hadian Rahman Friday, 16 September 2011 14:42

LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PASIEN Nama : Z Usia : 14 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Pelajar Alamat : Gangga, Lombok Utara Tanggal MRS : 7 November 2009 Tanggal Pemeriksaan : 7 November 2009 B. PRIMARY SURVEY 1. Jalan Napas (Airway) :Sumbatan jalan napas (-), secret pada mulut (-) 2. Pernapasan (Breathing) : Napas spontan, respirasi 20 x/menit 3. Sirkulasi (Circulation) : Tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 92 kali/menit 4. Deformitas (Deformity) : Vulnus laceratum pada regio brachii sinistra, terlihat tulang. Angulasi pada regio antebrachii sinistra 1/3 distal. 5. Keadaan Umum : sedang

6. Kesadaan : Compos Mentis 7. GCS : E4V5M6 C. SECONDARY SURVEY Keluhan Utama : Nyeri pada tangan kiri Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengeluhkan nyeri pada tangan kiri setelah terjatuh dari pohon mangga 4 jam sebelum MRS. Pasien terjatuh dari ketinggian kurang lebih 4 meter dengan posisi tangan kiri sebagai tempat bertumpu. Tidak ada riwayat pingsan. Tidak ada riwayat mual muntah. Pasien ingat kejadian. Tidak ada nyeri kepala. Terdapat luka robek pada lengan atas kiri dan terlihat tulang. Terlihat juga bentuk pergelangan tangan kiri tidak normal. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Pasien tidak mempunyai alergi terhadap obatobatan. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang sakit seperti ini Pemeriksaan Fisik Umum : Kepala Leher : bentuk dan ukuran normal, hematome (-), konjungtiva anemis (-), sklera ikterus (-), hematome pada leher (-), gerakan leher normal, nyeri saat leher digerakkan (-) Thorax Cardiovasculer : Inspeksi : thorax tampak simetris, hematome (-), gerakan napas simetris

Palpasi : gerakan napas simetris, nyeri tekan (-) Perkusi : Cor : batas jantung : batas atas pada ICS II linea parasternal sinistra, batas bawah kiri pada ICS V linea midclavicula sinistra, dan batas kanan bawah pada ICS IV linea parasternal kanan Pulmo : terdengar sonor pada semua lapang paru Auskultasi : Cor : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-) Pulmo : vesikuler +/+, ronchi -/-, wheezing -/Abdomen Pervic Inguinal : Inspeksi : abdomen datar, hematome (-) Auskultasi : bising usus (+) normal Palpasi : nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba. Perkusi : thympani pada keempat quadran abdomen Uro Genital : hematome pada regio CVA (-), nyeri tekan suprapubik (-), hematuria (-), genital tidak ada kelainan. Anal Perianal : tidak ada kelainan Extremitas atas Axilla : Pada extremitas kanan : Hematome (-), deformitas (-), gerakan normal, nyeri saat digerakkan (-). Pada extremitas kiri : vulnus laceratum (+) pada regio brachii 1/3 distal, terlihat tulang. Angulasi pada regio antebtachii 1/3 distal. Gerakan terbatas, nyeri saat digerakkan (+)

Extremitas bawah : hematome (-), deformitas (-), gerakan normal, nyeri saat digerakkan (-) Pemeriksaan Fisik Lokal (Status Lokalis) : Vulnus laceratum pada regio brachii sinistra, 4 cm diatas siku, ukuran 4 cm x 2 cm dengan dasar tulang. Terlihat tulang menonjol 1 cm dari permukaan luka. Tampak terjadi angulasi pada regio antebrachii sinistra 1/3 distal, terlihat seperti garpu, vulnus (-), hematome (-), krepitasi (-), gerakan terbatas, nyeri saat digerakkan (+). Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium: Hb : 12,3 mg% Leukosit : 19.600/mm3 Trombosit : 353.000/mm3 Hematokrit : 37,7 % Rontgen: Rontgen Humerus : fraktur suprakondiler humeri sinistra Rontgen antebrachii sinistra : fraktur radius dan ulna 1/3 distal C. RESUME Primary Survey : Jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi : normal. Deformitas pada extremitas atas sinistra. Secondary Survey :

1. Anamnesis : Pasien laki-laki, usia 14 tahun mengeluhkan nyeri pada tangan kiri. Luka robek (+), terlihat tulang (+). Pergelangan tangan kiri bengkok. 2. Pemeriksaan Fisik : Status generalis normal. Vulnus laceratum pada regio brachii sinistra, terlihat tulang. Terdapat angulasi pada regio antebrachii sinistra 1/3 distal. Krepitasi (-). Gerakan terbatas. 3. Pemeriksaan Penunjang Hb : 12,3 mg% Rontgen Humerus : fraktur suprakondiler humeri sinistra Rontgen antebrachii sinistra : fraktur radius dan ulna 1/3 distal D. DIAGNOSIS : 1) Fraktur suprakondiler humeri sinistra terbuka derajat II 2) Fraktur radius dan ulna 1/3 distal tertutup E. DIFERENSIAL DIAGNOSIS : (-) F. USULAN PEMERIKSAAN UNTUK : Diagnosis : (-) Rencana Terapi : DL, BT, CT, Rontgen Thorax G. RENCANA TERAPI : Operatif :

Reposisi terbuka dan fiksasi interna (open reduction and internal fixation) H. PROGNOSIS : Dubius ad Bonam TINJAUAN PUSTAKA A. FRAKTUR1 1. Definisi Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan. 2. Klasifikasi Fraktur Fraktur dapat dibagi menjadi: a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. b. Frakur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu: Derajat I: 1. Luka < 1cm 2. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk 3. Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif ringan 4. Kontaminasi minimal Derajat II: 1. Laserasi > 1 cm

2. Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulsi 3. Fraktur kominutif sedang 4. Kontaminasi sedang Derajat III: 1. Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. 3. Deskripsi Fraktur Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal-hal yang perlu dideskripsikan adalah: 1. Komplit/tidak komplit a. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. b. Fraktur tidak komplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti: 1. Hairline fracture (patah retak rambut) 2. Buckle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya, biasanya pada distal radius anak-anak 3. Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak 2. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma a. Garis patah melintang: trauma angulasi atau langsung b. Garis patah oblik: trauma angulasi

c. Garis patah spiral, trauma rotasi d. Fraktur kompresi: trauma aksial-fleksi pada tulang spongiosa e. Fraktur avulsi: trauma tarikan/traksi otot pada insersinya di tulang, misalnya fraktur patela 3. Jumlah garis patah a. Fraktur kominutif: garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan b. Fraktur segmental: garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal c. Fraktur multipel: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya fraktur femur, fraktur kruris, dan fraktur tulang belakang 4. Bergeser/tidak bergeser a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh b. Fraktur displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi: 1. Dislokasi ad longitudinum cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping) 2. Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut) 3. Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi) 5. Terbuka-tertutup a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan

dunia luar b. Frakur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. 6. Komplikasi-tanpa komplikasi, bila ada harus disebut. Komplikasi dapat berupa komplikasi dini atau lambat, lokal atau sistemik, oleh trauma atau akibat pengobatan Dalam menegakkan diagnosis fraktur harus disebut jenis atau bagian tulang yang mempunyai nama sendiri, kiri atau kanan, bagian mana dari tulang (proksimal, tengah, atau distal), komplit atau tidak, bentuk garis patah, jumlah garis patah, bergeser atau tidak bergeser, terbuka atau tertutup dan komplikasi bila ada. 4. Diagnosis a. Anamnesis Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci kapan terjadinya, dimana terjadinya, jenisnya, berat-ringan trauma, arah trauma, dan posisi pasien atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma). Jangan lupa untuk meneliti kembali trauma di tempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada, dan perut b. Pemeriksaan umum Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multipel, fraktur pelvis, fraktur terbuka; tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi c. pemeriksaan status lokalis Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang:

a. 1. Look, dicari apakah terdapat:


1) Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal(misalnya pada fraktur kondilus

lateralis humerus), angulasi, rotasi, dan pemendekan) 2) Functio laesa (hilangnya fungsi), misalnya pada fraktur kruris tidak dapat berjalan 3) Lihat juga ukuran panjang tulang, bandingkan kiri dan kanan, misalnya pada tungkai bawah meliputi apparent length (jarak antara umbilikus dengan maleolus medialis) dan true length (jarak antara SIAS dengan maleolus medialis)

a. 1. Feel, apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan nyeri sumbu tidak dilakukan lagi karena
akan menambah trauma.

2. Move, untuk mencari:


1) Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Tetapi pada tulang spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak terasa krepitasi. Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan karena menambah trauma 2) Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun pasif 3) Seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang tidak mampu dilakukan, range of motion (derajat dari ruang lingkup gerakan sendi), dan kekuatan 5. Penatalaksanaan Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernapasan (breathing), dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu terjadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian, lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan

yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto. Pengobatan fraktur bisa konservatif atau operatif. Terapi konservatif, terdiri dari: 1. Proteksi saja, misalnya mitela untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik 2. Imobilisasi saja tanpa reposisi, misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik 3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips, misalnya pada fraktur suprakondilus, fraktur colles, fraktur Smith. Reposisi dapat dalam anestesi umum atau lokal 4. Traksi, untuk reposisi secara perlahan. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel, traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk traksi dewasa/traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction. Terapi operatif, terdiri dari: 1. Reposisi terbuka, fiksasi interna. 2. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi eksterna Terapi operatif dengan reposisi anatomis diikuti dengan fiksasi interna (open reduction and internal fixation), artroplasti eksisional, ekssisi fragmen, dan pemasangan endoprostesis Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin. Penundaan waktu dapat mengakibatkan komplikasi infeksi. Waktu yang optimal untuk bertindak sebelum 6-7 jam (golden period). Berikan toksoid, antitetanus serum (ATS), atau tetanus human globulin. Berikan antibiotik untuk kuman Gram positif dan negatif dengan dosis tinggi. Lakukan pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur terbuka.

6. Komplikasi2 Komplikasi fraktur yang penting adalah : a. Komplikasi dini 1. Lokal 1) Vaskuler : compartment syndrome (Volkmann iskemia), trauma vaskuler. 2) Neurologis : lesi medula spinalis atau saraf perifer 2. Sistemik : emboli lemak b. Komplikasi lanjut 1. Lokal : 1) Kekakuan sendi/kontraktur 2) Disuse atropi otot-otot 3) Malunion 4) Nonunion/infected nonunion 5) Gangguan pertumbuhan (fraktur epifisis) 6) Osteoporosis post trauma B. FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERI2 1. Pendahuluan Fraktur pada ujung distal humerus bisa diklasifikasikan menjadi : (1) Fraktur Suprakondiler, (2) Fraktur Transkondiler, (3) Fraktur Interkondiler, (4) Fraktur Kondiler (lateral dan medial), (5)

Fraktur permukaan sendi (trochlea dan kapitelum), dan (6) Fraktur Epikondilus3. Bentuk tulang pada humerus 1/3 distal, terutama pada suprakondiler humerus berlainan anatominya. Di daerah ini terdapat titik lemah, dimana tulang humerus menjadi pipih disebabkan adanya fossa olecranon di bagian posterior dan fossa koronoid di bagian anterior. Maka mudah dimengerti di daerah ini merupakan titik lemah kalau ada trauma di daerah siku. Lebih-lebih pada anak-anak sering dijumpai adanya patah di daerah ini. 2. Mekanisme Trauma Ada dua macam mekanisme terjadinya patah yang menyebabkan dua macam tipe patah suprakondiler yang terjadi: a. Tipe ekstensi. Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah dalam posisi supinasi. Hal ini akan menyebabkan patah pada suprakondiler dimana fragmen distal akan mengalami dislokasi ke anterior dari fragmen proksimal humerus b. Tipe fleksi. Trauma terjadi ketika posisi siku dalam fleksi (40), sedang lengan bawah dalam posisi pronasi. Hal ini menyebabkan fragmen distal humeri mengalami dislokasi ke posterior dari fragmen proksimal humeri. Paling sering dijumpai adalah tipe fleksi. Karena ujung fragmen proksimal humeri menonjol ke anterior pada tipe fleksi, bisa terjadi kerusakan pada jaringan lunak yang berada di bagian anterior siku, yakni tertekannya atau terobeknya arteri brakhialis dan nervus medianus, atau sampai menembus subkutis dan kutis menyebabkan luka menjadi fraktur terbuka. Apabila terjadi arteri Brakhialis tertekan, dapat terjadi komplikasi yang disebut dengan Volkmanns iskemia. Tanda-tanda klinis adanya Volkmanns iskemia ditemukan adanya: 1. Sakit (pain) 2. Denyut nadi arteri Radialis yang berkurang (pulse lessness) 3. Pucat (pallor)

4. Rasa kesemutan (parestesia, baal) 5. Kelumpuhan (paralisis) 3. Gejala Klinis Pada tipe ekstensi posisi siku dalam posisi ekstensi. Daerah siku tampak pembengkakan kadang pembengkakan hebat sekali, kalau pembengkakan tidak hebat dapat teraba tonjolan fragmen distal di bawah subkutis. Pada tipe fleksi posisi siku dalam posisi fleksi (semi fleksi), kalau pembengkakan tidak hebat dapat teraba ujung fragmen humerus bagian proksimal, ditambah nyeri gerak, nyeri tekan. Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi AP/LAT, jelas dapat dilihat tipe ekstensi atau fleksi. 4. Penatalaksanaan Kalau pembengkakan tidak hebat dapat dicoba dilakukan reposisi dalam narkosa umum. Penderita tidur terlentang, siku dalam posisi ekstensi, penolong menekuk bagian distal, sedang asisten menahan bagian proksimal. Setelah tereposisi, posisi siku dibuat fleksi secara perlahan-lahan. Gerakan fleksi diteruskan sampai arteri radialis mulai tak teraba. Kemudian diekstensi siku sedikit untuk memastikan arteri radialis teraba lagi. Dalam posisi fleksi maksimal ini dilakukan imobilisasi dengan gips spal. Posisi fleksi maksimal dipindahkan karena penting untuk menegangkan otot trisep yang berfungsi sebagai internal splint. Kalau dalam pengontrolan dengan radiologi hasilnya sangat baik gips dapat dipertahankan dalam 3-6 minggu. Dalam pengontrolan pasca reposisi harus diikuti suara denyut arteri Radialis untuk menghindarkan terjadi komplikasi Volkmanns iskemia. Kalau dalam pengontrolan ditemukan tanda-tanda Volkmanns iskemia secepatnya posisi siku diletakkan dalam ekstensi, untuk

imobilisasinya diganti dengan skin traksi dengan sistem Dunlop. Pada penderita dewasa kebanyakan patah didaerah suprakondiler garis patahnya berbentuk T atau Y, yang membelah sendi untuk menanggulangi hal ini lebih baik dilakukan tindakan operasi dengan pemasangan internal fiksasi Fraktur suprakondiler pada orang dewasa biasanya diterapi mirip dengan pada fraktur batang humerus dengan gantungan lengan atau dengan bidai. Reduksi terbuka dan fiksasi internal (open reduction and internal fixation) dilakukan hanya pada adanya kerusakan neurovaskuler atau jika posisi yang memuaskan dari fraktur tersebut tidak bisa didapatkan dari metode tertutup3. Pemeriksaan neurovaskuler yang seksama pada lengan merupakan pemeriksaan dasar, terutama pada fraktur suprakondiler tipe ekstensi (angulasi apek ke enterior). Arteri brachialis bisa robek oleh fragmen fraktur proksimal, baik pada saat kecelakaan atau selama reduksi, dan sindrom kompartemen bisa muncul. Ketiga saraf utama yang menyilang siku bisa terluka, tetapi saraf median dan radius merupakan saraf yang paling banyak terkena3. Sekrup menyilang atau paku menyilang bisa digunakan dengan hasil yang baik. Sekrup atau paku harus ditempatkan pada bagian pilar medial dan lateral dan bisa mengikat korteks posterior tulang. Kami memilih menggunakan sekrup dengan mengebor fragmen distal sehingga terjadi penekanan saat sekrup tersebut ditautkan. Jika salah satu atau kedua colum mengalami fraktur kominutif, plat yang bisa dibentuk bisa digunakan untuk merekontruksi pilar humerus. Plat DuPont bisa digunakan pada colum lateral saja jika colum medial tidak mengalami fraktur kominutif, seperti yang dijelaskan oleh Waddell et all. Fiksasi internal yang kaku diperlukan jika menginginkan bisa menggerakkan siku dengan cepat. Jika dilakukan reduksi terbuka,tujuannya harus mantap yaitu dengan menggunakan fiksasi internal yang kaku.jika tidak, perlu direncanakan terapi nonoperatif3. Jika terdapat kontraindikasi operasi karena pembengkakan yang berat, terjadi trauma, kulit yang memar atau karena kondisi pasien sendiri, fraktur suprakondiler yang bergeser tersebut bisa diterapi dengan hasil yang memuaskan menggunakan traksi paku pada lengan atau pada bagian atas kepala olecranon sampai terapi operatif dapat dilakukan. Perawatan rumah

sakit yang lama dibutuhkan jika traksi merupakan terapi definitive3. 5. Komplikasi Volkmanns iskemia, terjepitnya arteri Brachialis yang akan menyebabkan nekrosis otototot dan saraf. Nekrosis akan terjadi mulai 6 jam terjadinya iskemik. Maka penaggulangan Volkmanns iskemia sangat penting sebelum 6 jam arteri harus sudah bebas. Kalau dilakukan perubahan posisi ekstensi denyut arteri radialis masih belum teraba perlu dilakukan arteriografi dulu, untuk menentukan lokasi sumbatannya, kemudian dilakukan operasi eksplorasi arteri Brachialis, dicari penyebabnya. Operasi dapat berupa repair arteri yang robek, atau kalau perlu reseksi arteri dan dilakukan vena graft. Kalau Volkmanns iskemia tidak ditolong segera akan menyebabkan Volkmanns kontraktur, dimana terjadi otot-otot fleksor lengan bawah menjadi nekrosis dan akhirnya fibrosis, sehingga tangan tidak dapat berfungsi lagi. Mal union cubiti varus (carrying angle berubah) dimana siku berbentuk O, secara fungsi baik, tetapi kosmetik kurang baik. Perlu dilakukan koreksi dengan operasi meluruskan siku dengan teknik French osteotomy. C. FRAKTUR RADIUS ULNA2 1. Pendahuluan Pada ulna dan radius sangat penting gerakan-gerakan pronasi dan supinasi. Untuk mengatur gerakan ini diperlukan otot-otot supinator, pronator teres, dan pronator kuadratus. Yang bergerak supinasi-pronasi (rotasi) adalah radius. 2. Mekanisme Trauma Umumnya trauma yang terjadi pada antebrachii adalah trauma langsung, dimana radius dan ulna patah satu level yaitu biasanya pada 1/3 tengah dan biasanya garis patahnya tranversal. Tetapi bisa pula terjadi trauma tak langsung yang akan menyebabkan level garis patah pada radius dan ulna tak sama dan bentuk garis patahnya juga dapat berupa oblique atau

spinal. 3. Diagnosis Patah radius ulna mudah dilihat, adanya deformitas di daerah yang patah, bengkak, angulasi, rotasi (pronasi atau supinasi), perpendekan. Pada pemeriksaan rontgen antebrachii AP/LAT ditemukan garis patahnya dan level garis patahnya serta dislokasinya 4. Penatalaksanaan Dilakukan reposisi tertutup. Prinsipnya dengan melakukan traksi ke arah distal dan mengembalikan posisi tangan yang sudah berubah akibat rotasi. Untuk menempatkan posisi tangan dalam arah yang benar harus dilihat letak garis patahnya. Kalau garis patahnya 1/3 proksimal, posisi fragmen proksimal selalu dalam posisi supinasi karena kerja otot-otot supinator. Maka untuk mendapatkan kesegarisan yang baik fragmen distal diletakkan dalam posisi supinasi. Kalau letak garis patahnya di tengah-tengah (1/3 tengah), posisi radius dalam posisi netral akibat kerja otot-otot supinator dan otot pronator seimbang. Maka posisi bagian distal diletakkan dalam posisi netral. Kalau letak garis patahnya 1/3 distal, radius selalu dalam posisi pronasi karena kerja otototot pronator quadratus, posisi seluruh lengan harus dalam posisi pronasi. Setelah ditentukan kedudukannya baru dilakukan immobilisasi dengan gips sirkular di atas siku. Gips dipertahankan 6 minggu. Kalau hasil reposisi tertutup tidak baik, dilakukan tindakan operasi (open reposisi) dengan pemasangan internal fiksasi dengan plate-screw (AO) 5. Komplikasi Dapat terjadi delayed union, non union, mal union

PEMBAHASAN Pada kasus ini pasien datang dengan keluhan nyeri pada tangan kiri setelah terjatuh dari pohon. Pada primary survey tidak didapatkan gangguan pada jalan napas, gangguan pernapasan, maupun gangguan sirkulasi. Namun didapatkan deformitas pada extremitas atas kiri. Pada kasus ini terdapat dua jenis fraktur yang diderita oleh pasien yaitu fraktur terbuka pada humerus sinistra dan fraktur tertutup pada radius dan ulna. Berdasarkan derajat fraktur terbuka, pada kasus ini didapatkan derajat fraktur pada humerus yaitu fraktur terbuka derajat II. Ini berdasarkan luas luka > 1 cm, terdapat kerusakan jaringan, dan adanya kontaminasi sedang. Terapi pada pasien ini yaitu tindakan operatif dengan teknik reposisi terbuka dan fiksasi interna. Terapi ini dipilih karena adanya fraktur terbuka derajat II pada humerus sinistra. Prognosis pada kasus ini yaitu dubius ad bonam karena pasien datang masih dalam golden period, sehingga resiko terjadinya infeksi minimal. DAFTAR PUSTAKA 1. Mansjoer, A (ed), 2001, Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga, Media Aesculapius FKUI, Jakarta 2. Reksoprodjo, S (ed), 1999, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Ilmu Bedah FKUI/RSCM. Binarupa Aksara, Tanggerang Canale, S.T (ed), 2003, Campbells Operative Orthopaedics volume three tenth edition, Mosby, Philadelphia