Anda di halaman 1dari 13

Tugas Makalah

Hak Politik Warga Negara

DISUSUN OLEH : 1. Muamar Azmar MF (D101 09 209) 2. Ruly Febriansyah (D 101 09 192) 3. Ahmad (D 101 09 199) 4. Cahya Cahyana (D 101 09 152) 5. Dedy Trihartono (D 101 09 205) 6. Fatur rahman (D 101 09 153) 7. Haerul (D 101 09 200)

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TADULAKO 2011


1

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan limpahan rahmat dan karuniahNya sehingga penulisan makalah ini dapat berjalan dengan lancar dan terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan tanpa banyak hambatan yang menghadang bagi penulis. Penulisan makalah ini disampaikan dengan maksud untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Hukum Parpol dan Pemilu. Dalam makalah ini penulis mencoba untuk membahas mengenai Hak Politik Warga Negara. Yang tidak lain membahas tentang hak-hak politik warga negara indonesia. Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya tidak lupa penulis haturkan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Walaupun penulis telah berusaha menuangkan buah pikiran kedalam makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun sebagai manusia, tentu isinya masih ada kekurangan. Untuk penyempurnaan baik dalam hal metode penulisan maupun isinya, maka kritik dan saran terutama dari dosen dan sesama mahasiswa untuk penulis sangat diharapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. terima kasih pula atas segala perhatian dan bimbingannya, mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan.

DAFTAR ISI Kata Pengantar.2 Bab 1 Pendahuluan4 1.1 1.2 1.3 1.4 Bab 2 Latar Belakang masalah.4 Identifikasi masalah..5 Tujuan Penulisan.5 Kegunaan Penulisan.5

Pembahasan.6 2.1 2.2 Hak dan Politik..6 Penyelenggaraan Pemilu..11

Bab 3

Penutup 3.1 3.2 Kesimpulan.12 saran13

Daftar Pustaka.....14

Bab I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu permasalahan pokok yang belum terpecahkan di dalam proses menjadi Negara-bangsa (nation-state) Indonesia setelah berusia lebih dari setengah abad adalah terbentuknya sebuah system politik demokratis yang cukup andal dan mampu beradaptasi dengan proses perubahan. Ketika Republik masih dalam tahun pembentukannya, yakni mulai proklamasi kemerdekaan sampai dasawarsa lima puluhan, persoalan ini telah muncul ke permukaan dan sempat mengancam keberadaan Negara kesatuan. Sebagaimana kita ketahui, percobaan untuk menerapkan system politik liberal pada kurun waktu tersebut telah memicu merebaknya politik aliran yang menjadikan perpolitikan nasional menjadi tidak stabil. Selain itu, munculnya permasalahan kesenjangan hubungan antara pusat dan daerah makin memperlemah bangunan politik yang masih sangat muda karena adanya kehendakkehendak untuk melepaskan diri dari ikatan Negara kesatuan, seperti yang kita saksikan dengan banyaknya gerakan-gerakan sparatis akhir-akhir ini. Ancaman-ancaman terhadap stabilitas politik tersebut mendorong sebagian elite politik untuk mengupayakan sebuah penyelesaian cepat, yaitu melakukan reformasi politik dan tindakan pengamanan yang dapat segera memulihkan keadaan. Pada suatu system politik yang bersifat otoriter wacana kewarganegaraan dimonopoli oleh negara atau bahkan seringkali diredusir mengikuti kemampuan sang pemimpin. Pihak yang terakhir ini merepresentasikan warga negara sehingga peran control menjadi hilang. Kewarganegaraan dalm konteks ini pun kehilangan nilai keutamaan publik karena apa yang baik bagi publik telah dimonopoli oleh negara. Keterlibatan warga negara, sepintas lalu, memang sangat tinggi dalam kehidupan politik karena negara dan masyarakat seolah-olah menjadi satu dan memahami politik secara bersama-sama. Namun jika ditilik lebih jauh, sejatinya yang terjadi adalah mobilisasi politik yang dikontrol oleh negara. Oleh karena itu, bahaya dari model wacana kewarganegaraan seperti ini adalah totalisme politik dalam artian bahwa semua dimensi kehidupan menjadi terpolitisasi. Hak-hak dasar individu dengan demikian menjadi suatu hal yang asing karena ia berarti melepaskan diri dari kolektivitas. Oleh karena itu, muncul kemudiana wacana kewarganegaraan yang menekankan pentingnya hak-hak dasar (rights) sebagai landasannya serta partisipasi aktif sebagai strategi artikulasinya. Benjamin Barber (1984) menekankan pentingnya partisipasi aktif warga negara untuk membentuk apa yang disebutnya sebagai system demokrasi yang kokoh. Dengan mendasarkan wacana kewarganegaraan pada hak-hak dasar tersebut, marshal menggambarkan munculnya demokrasi dan negara kesejahteraan sebagai buah perjuangan jangka panjang warga negara.
4

Dalam wacana ini struktur dan format politik yang dikembangkan harus berlandaskan pada hak-hak dasar warga negara, khususnya hak-hak berbicara, berkumpul, serta berorganisasi. Dengan alternatif seperti inilah maka paradigm integralistik dapat digantikan untuk seterusnya. Politik kewarganegaraan akan menitikberatkan pada kemandirian serta paritsipasi warga negara, baik tataran civil society maupun political society, dalam proses menentukan kemaslahatan umum. Dengan landasan ini, segala bentuk diskriminasi tidak mendapat tempat. Yang dimungkinkan adalah dibuatnya kebijakan-kebijakan affirmative actionsn bagi mereka yang masih tertinggal, baik karena sebab-sebab struktural maupun nonstruktural.

1.2

Identifikasi Masalah
Dalam penulisan makalah ini masalah-masalah yang akan dibahas oleh penulis antara

lain : 1. Apa yang dimaksud dengan hak dan politik ? 2. Bagaimanakah perkembangan hak politik secara historis ? 3. Apakah yang dimaksud dan tujuan dari penyelenggaraan pemilihan umum ?

1.3

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini secara umum adalah untuk menambah wawasan kita selaku kaum intelektual, dan secara khusus tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Menjelaskan yang dimaksud dengan hak dan politik. 2. Menjabarkan perkembangan hak politik secara historis. 3. Menjelaskan maksud dan tujuan dari penyelenggaraan pemilihan umum.

1.4

Kegunaan Penulisan

Makalah ini dibuat untuk digunakan sebagai bahan diskusi yang merupakan salah satu kegiatan dalam proses pembalajaran dari mata kuliah Hukum Parpol dan Pemilu. Selain itu makalah ini juga dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk mencapai tujuan umum dari penulisan makalah ini.

Bab II

PEMBAHASAN
2.1 Hak dan Politik

Harus dipahami bahwa Hak (right) adalah hak (entitelment). Hak adalah tuntutan yang dapat diajukan seseorang terhadap orang lain sampai kepada batas-batas pelaksana hak tersebut. Dia tidak mencegah orang lain mencegah hak-haknya. Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang dimiliki setiap manusia sebagai manusia. Hak-hak tersebut bersifat universal dan dimiliki setiap orang, kaya maupun miskin, laki-laki ataupun perempuan. Hak-hak tersebut mungkin saja dilanggar tetapi tidak pernah dihapuskan. Hak Asasi Manusia adalah hak dasar, ini berarti bahwa hak-hak tersebut adalah hak yang paling mendasar dalam diri manusia. Prinsip-prinsip mendasar yang melandasi Hak Asasi Manusia modern telah ada sepanjang sejarah. Namun sebagaimana dijelaskan secara lebih rinci di bawah, sampai abad ini masyarakat internasional tidak menyadari perlunya mengembangkan standar-standar minimun bagi perlakuan warga negara oleh para pemerintahnya. Alasan bagi kesadaran ini dinyatakan dengan sangat baik dalam Pembukaan Pernyataan Sejagat tentang Hak Asasi Manusia, yang diterima pada tahun 1948 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang baru dibentuk yaitu: Pengakuan martabat yang melekat dan.hak yang sama dan tak dapat dihapuskan dari seluruh anggota masyarakat manusia yang merupakan dasar bagi kebebasan ,keadilan , dan perdamaian dunia .. pengabaian dan pelecehan hak-hak asasi manusia telah menimbulkan tindakantindakan biadabhak ini bersifat esensial, jika manusia tidak terpaksa untuk menggunakan cara pemberontakan terhadap tirani sebagai jalan terakhir, maka hak asasi manusia itu harus dilindungi oleh rule of law Secara historis, apresiasi perjuangan pelembagaan HAM mengalami perkembangan dari waktu ke waktu juga dengan karakteristik berdasarkan tingkat pemahaman yang terbentuk pada masanya. Secara singkat, perkembangan konsep HAM dan dasar legitimasinya yang bersifat universal dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Magna Charta (Piagam Agung 1215) suatu dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan oleh raja John dari Inggris kepada beberapa bangsawan bawahannya atas tuntutan mereka. Naskah ini sekaligus membatasi kekuasaan Raja John. 2. Bill of Rights (Undang-Undang Hak 1689), suatu undang-undang yang diterima oleh Parlemen Inggris sesudah berhasil dalam tahun sebelumnnya mengadakan

3.

4.

perlawanan terhadap Raja James II, dalam suatu revolusi tak berdarah (The Glorius Revolution of 1688). Declaration des droits de lhomme et du citoyen (Pernyataan hakhak manusia dan warga negara, 1789) suatu naskah yang dicetuskan pada permulaan Revolusi Perancis, sebagai perlawanan terhadap kesewenangan dari rezim lama. Bill of rights (Undang-Undang Hak) suatu naskah yang disusun oleh rakyat Amerika dalam tahun 1789 (jadi sama tahunnya dengan Declaration Perancis) dan yang menjadi bagian dari Undang-Undang Dasar pada tahun 1971.

Hak-hak yang dirumuskan dalam abad ke 17 dan ke 18 ini sangat dipengaruhi oleh gagasan mengenai Hukum Alam (Natural Law), seperti yang dirumuskan oleh John Locke (1632-1714) dan Jean Jacques Rousseau (1712-1778) dan hanya terbatas pada hak-hak yang bersifat politis saja seperti kesamaan hak, hak atas kebebasan, hak untuk memilih dan sebagainya. Akan tetapi, dalam abad ke 20, hak-hak politik ini dianggap kurang sempurna dan mulailah dicetuskan beberapa hak lain yang lebih luas ruang lingkupnya.Yang sangat terkenal ialah empat hak yang dirumuskan oleh Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt pada permulaan Perang Dunia II waktu berhadapan dengan agresi Nazi-Jerman yang menginjak-injak hak-hak manusia. Hak-hak yang disebut oleh Presiden Roosevelt terkenal dengan istilah The Four Freedoms (Empat Kebebasan) Yaitu: Hak Asasi Manusia adalah hak hukum ini berarti bahwa hak-hak tersebut merupakan hukum. 1. Kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (Freedom of speech) 2. 3. 4. Kebebasan beragama (Freedom of religioun) Kebebasan dari ketakutan (Freedom of fear) Kebebasan dari Kemelaratan (Freedom of Misery).

Dengan merujuk pada the four freedoms seperti yang dikemukakan di atas, maka kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat adalah hak yang kerap berbenturan langsung dengan otoritas negara. Hak tersebut dalam banyak segi merupakan domain dari kekuasaan dan itu berarti bagian dari konfigurasi politik. Hanya saja pembicaraan publik terhadap wacana politik dilandasi dengan sikap apriori dan konklusian parsial. Akibatnya dunia politik serta merta dipandang sebagai mahluk yang sarat dengan kedustaan dan kenistaan. Itulah sebabnya politik penting dipahami karena tidak hanya terkait dengan sistem ketatanegaraan tetapi juga dengan kehidupan sehari-hari. Selama ini masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk memahami politik karena rekayasa politik yang dilakukan oleh penguasa yang sengaja menjauhkan masyarakat dari sistem control terhadap kekuasaan. Selain itu, buruknya perilaku politisi dan elit politik menjadi salah satu penyebab apatisme rakyat terhadap proses politik yang berlangsung. Oleh sebab itu pemahaman tentang politik
7

secara umum, sistem politik dan partai politik di Indonesia menjadi penting agar masyarakat memahami bahwa mereka merupakan bagian dari proses politik. Ini penting dilakukan agar masyarakat memahami arti Pemilu dan mau berperan aktif. Ada berbagai cara orang mendefinisikan atau mengartikan politik. Berikut ini beberapa pemaknaan yang dapat dijadikan referensi. Dilihat dari struktur dan kelembagaan, politik, dapat diartikan sebagai : Segala sesuatu yang ada relasi dengan pemerintahan (peraturan, tindakan pemerintahan, undang-undang, hukum kebijakan, kekuasaan dan lain-lain) Pengaturan dan penguasaan oleh pemerintah atau negara. Cara memerintah suatu teritorium tertentu. Organisasi, Pengaturan, taktik, strategi, tindakan negara/pemerintah dalam mengendalikan negara dan wilayah secara yuridis dan konstitusional. Ilmu pengetahuan mengenai kekuasaan. Oran Young membagi pengertian politik menjadi lima kategori yaitu: Secara Institusional dan hukum negara, yaitu merupakan negara dengan strukturstruktur dan sebagainya. Pemerintahan (nasional, regional,dan lokal) parlemen atau DPR, birokrasi dan lembaga pengadilan. Menekankan suatu kegiatan memerintah suatu teritorium yaitu perkumpulan atau organisasi politik, jika kekuasaan dan pengaturan/ ordenya berlangsung secara berkesinambungan dalam suatu teritorial tertentu; dengan menggunakan kekuasaan fisik dan ancaman-ancaman melalui suatu bentuk pemerintahan administratif. Menekankan pengertian kekuasaan yaitu menyangkut hakekat, tempat dan penggunaan kekuasaan. Pada kenyataannya kekuasaan tidak hanya terdapat pada pemerintah, tetapi juga pada masyarakat. Penekanan pada individu, artinya relasi individual dan interaksi politik dari individu serta kelompok menjadi persoalan paling utama. Bersifat teoritis, pemahaman ini menitikberatkan pada masalah produksi dan pembagian nilai-nilai yang menyangkut relasi hukum yang diinginkan oleh segenap manusia, yang dibedakan atas tiga fase yaitu pengambilan dan pelaksanaan keputusan, kebijakan dan penentuan kebijakan serta tujuan politik. Hoogerwerf and Vandale juga membagi pengertian politik menjadi lima kategori yaitu: Mengandung pengertian kebijakan Mengandung pengertian kekuasaan Mengandung pengertian negara Mengandung pengertian konflik dan kerjasama Mengandung pengertian distribusi

Pemahaman Dinamis, Fungsional dan Operasional Memaknai Politik sebagai: Segala keputusan dan penerapan upaya membangun masyarakat mendatang (Bram Peper dan Wiliam Wolters): Keputusan umum untuk laki-laki dan perempuan mengenai nasib sendiri (Deutsh). Aktivitas dan proses dinamis dari tingkah laku manusia dengan penekanan pada aspek-aspek politik dari masalah-masalah sosial. Aktivitas untuk menegakkan atau mengubah kondisi sosial yang sudah ada dengan menggunakan kekuasaan. Semua usaha dan perjuangan individu dan kelompok dengan menggunakan macam-macam alat, cara dan alternatif tingkah laku untuk mencapai tujuan sesuai dengan ide individu atau kelompok dalam satu sistem kewibawaan yang integral di wilayah Negara. Dengan memahami politik sebagai spektrum kekuasaan yang berimplikasi pada hubungan warganegara dengan penguasa, maka setiap warganegara mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum maupun pemerintahan (equal justice under law, equal oportunity for autority). Hak politik warga Negara sebagaimana diuraikan diatas merupakan hak yang bersifat universal sebagaimana ditegaskan dalam kovenan hak sipil dan politik PBB tahun 1966. yang telah diratifikasi Indonesia melalui UU No.12 tahun 2005. Dalam pasal 25 kovenan hak sipil dan politik ditegaskan : Setiap warga negara harus mempunyai hak dan kesempatan, tanpa pembedaan apapun sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 dan tanpa pembatasan yang tidak layak, untuk: (a) Ikut serta dalam pelaksanaan urusan pemerintahan, baik secara langsung ataupun melalui wakil-wakil yang dipilih secara bebas; (b) Memilih dan dipilih pada pemilihan umum berkala yang murni, dan dengan hak pilih yang universal dan sama, serta dilakukan melalui pemungutan suara secara rahasia untuk menjamin kebebasan menyatakan keinginan dari para pemilih; (c) Memperoleh akses pada pelayanan umum di negaranya atas dasar persamaan dalam arti umum. Ketentuan mengenai hak politik warga Negara dalam kovenan hak sipol tersebut diatas, sebetulnya juga diatur dalam UUD 1945. pasal 27 ayat 1. : Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Penegasan konstitusi hak politik warga Negara, tertuang dalam Undang Undang No.39 tahun 1999 tentang HAM khusus Pasal 43 : (1) Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum,

bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Setiap warga negara berhak turut serta dalam pemerintahan dengan langsung atau dengan perantaraan wakil yang dipilihnya dengan bebas, menurut cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Setiap warga negara dapat diangkat dalam setiap jabatan pemerintahan.

(3)

Berdasarkan Diskripsi tersebut diatas, dapatlah dipahami bahwa hak politik warga Negara dijamin oleh konstitusi dan peraturan hukum di Indonesia . Hak politik tersebut mencakup hak aktif dan hak pasif. Hak aktif adalah hak warga Negara untuk memilih wakil-wakilnya maupun pimpinan Pemerintahan Pusat dan Daerah melalui Pemilihan yang bersifat Luber dan Jurdil. Sedangkan hak pasif adalah hak warga Negara untuk dipilih sebagai wakil rakyat atau Pimpinan Pemerintahan Pusat maupun Daerah. Hak aktif warga Negara dalam sistem penyelenggaraan Pemilu antara lain hak untuk didata dan didaftar sebagai pemilih, hak untuk mendapat informasi secara luas dan objectif mengenai Pemilu, hak untuk memberikan suara dan mengadukan kepada pihak terkait jika ditemukan ada pelanggaran dan lain-lain. Sedangkan hak pasif warga negera dalam sistem penyelenggaraan Pemilu antara lain hak menjadi peserta Pemilu anggota legislative maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden sepanjang memenuhi syarat. Hak politik warga Negara tersebut tidak boleh diabaikan, diremehkan apalagi dihilangkan karena hal seperti itu merupakan pelanggaran HAM sebagaimana ditegaskan dalam pasal 1 butir 6 UU No.39 tahun 1999 :. Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Salah satu bentuk pelanggaran HAM yang sering sekali terjadi dalam bidang politik adalah diskriminasi. Hal ini telah ditegaskan dalam pasal 1 butir 3 UU No.39 tahun 1999 : Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan
10

baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.

2.2

Penyelenggaraan Pemilu

Secara teoritis, pemilihan umum merupakan salah satu ciri dari sebuah system politik yang demokratis. Dalam arti, lembaga-lembaga pemilihan umum dan badan legislative yang dihasilkannya merupakan satu-satunya penghubung yang sah antara rakyat dan pemerintah dalam suatu masyarakat modern. Sebagai prasyarat utama bagi rakyat untuk mengartikulasikan dan mengagregasikan kepentingan mereka, keberadaan pemilu beserta lembaga-lembaga terkaitnya merupakan sebuah keniscayaan. Bahkan, dari hasil-hasil pemilu selanjutnya ditentukan berbagai program pemerintah, termasuk di dalamnya pembangunan. Dengan kata lain, pemilu dan pembangunan sebenarnya merupakan sumber-daya politik (political resources) bagi sebuah rejim yang sedang berkuasa. Artinya, kegagalan untuk melakukan keduanya akan mengancam legitimasi kekuasaannya. (M. Dawam Rahardjo, 1996: 55) Meski secara konsepsional, system penyelenggaraan pemilu cukup beragam, namun tujuan penyelenggaraan pemilu itu sendiri umumnya mencakup 4 hal yaitu: 1. Untuk memungkinkan terjadinya peralihan kepemimpinan pemerintahan secara tertib dan damai. 2. Untuk memungkinkan terjadinya pergantian pejabat yang akan mewakili kepentingan rakyat di lembaga perwakilan. 3. Untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat, dan 4. Untuk melaksanakan prinsip hak-hak asasi warga negara. (Jimly Asshiddiqie, 2007: 754)

Merujuk pada tinjauan konseptual Pemilu tersebut diatas, maka dapatlah dipahami jika esensi penyelenggaraan Pemilu tidak lain adalah bentuk pengejawantahan kedaulatan rakyat atau warga negara dalam menentukan perangkat kerja kekuasaan Negara. Dalam hal ini warga Negara tanpa terkecuali mempunyai hak dalam proses politik. Sehingga hak politik hak politik warga dimaksud tidak lain merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM) yang wajib dihormati, dilindungi dan dipenuhi oleh siapapun yang terlibat dalam proses penyelenggaraan Pemilu.

11

Bab III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Setelah membaca uraian dan pembahasan di atas, maka dapat ditarik beberapa simpulan antara lain: 1. Hak adalah tuntutan yang dapat diajukan seseorang terhadap orang lain sampai kepada batas-batas pelaksana hak tersebut. 2. Dengan memahami politik sebagai spektrum kekuasaan yang berimplikasi pada hubungan warganegara dengan penguasa, maka setiap warganegara mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum maupun pemerintahan (equal justice under law, equal oportunity for autority). 3. Dapat dipahami bahwa hak politik warga Negara dijamin oleh konstitusi dan peraturan hukum di Indonesia . Hak politik tersebut mencakup hak aktif dan hak pasif.Hak aktif adalah hak warga Negara untuk memilih wakil-wakilnya maupun pimpinan Pemerintahan Pusat dan Daerah melalui Pemilihan yang bersifat Luber dan Jurdil. Sedangkan hak pasif adalah hak warga Negara untuk dipilih sebagai wakil rakyat atau Pimpinan Pemerintahan Pusat maupun Daerah. 4. Secara teoritis, pemilihan umum merupakan salah satu ciri dari sebuah system politik yang demokratis. Dalam arti, lembaga-lembaga pemilihan umum dan badan legislative yang dihasilkannya merupakan satu-satunya penghubung yang sah antara rakyat dan pemerintah dalam suatu masyarakat modern. 5. Meski secara konsepsional, system penyelenggaraan pemilu cukup beragam, namun tujuan penyelenggaraan pemilu itu sendiri umumnya mencakup 4 hal yaitu: 1. Untuk memungkinkan terjadinya peralihan kepemimpinan pemerintahan secara tertib dan damai. 2. Untuk memungkinkan terjadinya pergantian pejabat yang akan mewakili kepentingan rakyat di lembaga perwakilan. 3. Untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat, dan 4. Untuk melaksanakan prinsip hak-hak asasi warga negara. (Jimly Asshiddiqie, 2007: 754)

12

3.2

Saran

Setelah membaca dan memahami pembahasan dan uraian tentang hak politik warga negara di Indonesia dalam makalah ini, maka penulis menyarankan agar pengetahuan tersebut dapat dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam kehidupan politik kita. Selain itu, penulis juga menyarankan agar pengetahuan ini dapat di sosialisasikan, sebab masih banyak masyarakat yang belum tau perihal pengetahuan tentang hak politik warga negara di indonesia.

13