Anda di halaman 1dari 10

PENGERTIAN ETIKA KOMUNIKASI

Oleh: Kismiyati El Karimah

Yang menjadi pokok permasalahan adalah apakah mungkin semua aspek komunikasi dapat dibahas dalam satu kegiatan belajar untuk ditinjau dari sudut etika. Bagaimana mengadakan penilaian etis terhadap perilaku komunikator dan perilaku komunikan dalam berkomunikasi, apakah media yang digunakan untuk menunjang agar komunikasi itu efektif juga etis ?

Secara umum, penilaian terhadap perilaku seseorang apakah etis atau tidak dapat didasarkan pada tiga macam prinsip dalam mengambil keputusan. Prisip-prinsip tersebut menyingkapkan masalah pokok dalam etika (Kattsoff, 1992:353).

Prinsip-prinsip apakah yang dapat dipakai sebagai dasar membuat tanggapan kesusilaan? Perbuatan-perbuatan apakah yang dikatakan betul, artinya yang dibenarkan dari segi kesusilaan? Makna apakah yang dikandung oleh kata seharusnya, dan apakah yang merupakan sumber wajib?

Etika komunikasi akan mencoba mencari standar etika apa yang digunakan oleh komunikator dan komunikan dalam menilai diantara teknik, isi, dan tujuan komunikasi. Richard L. Johannesen dalam bukunya etika komunikasi memuat pertanyaanpertanyaan dasar yang dipakai sebagai alat untuk membuat penilaian etika komunikasi yang lebih sistematik dan memiliki dasar yang kuat, yaitu :

Mampukah saya menjelaskan dengan tepat3 apa kriteria, standar, atau perspektif etika yang diterapkan pada saya atau orang lain? Apakah dasar yang konkrit bagi penilaian etika? Mampukah saya membenarkan kelogisan dan relevansi standar ini untuk kasus tertentu? Mengapa kriteria etika yang sangat sepadan ini termasuk standar yang sangat potensial? Mengapa standar ini mendapat prioritas (setidaknya untuk sementara) diatas standar yang relevan lainnya? Mampukah saya menunjukan dengan jelas dalam hal apa komunikasi dinilai berhasil atau gagal dalam memenuhi standar-standar itu? Penilaian apa yang dibenarkan dalam kasus ini tentang derajat keetisan? Apakah penilaian yang paling cocok adalah penilaian yang memiliki sasaran yang spesifik dan terfokus sempit daripada penilaian yang luas, digeneralisasi dan serba mencakup?

Kepada siapakah tanggung jawab etis harus diberikan? Dengan cara apa dan sejauh mana? Tanggung jawab mana yang lebih utama? Apa tanggung jawab komunikator terhadap dirinya sendiri dan terhadap masyarakat luas? Bagaimanakah perasaan saya tentang diri sendiri berdasarkan pilihan etika ini? Dapatkah saya melanjutkan hidup dengan cara sendiri dengan mengikuti hati nurani? Apakah saya ingin orang tua saya atau pasangan saya mengetahui pilihan ini? Mampukah keetisan komunikasi ini dibenarkan sebagai refleksi yang melekat pada pribadi komunikator? Menurut etika, sejauh mana pilihan ini keluar dari karakter?

Jika diminta secara terbuka untuk membenarkan etika komunikasi saya, sejauh mana saya melakukannya? Apakah setiap alasan umumnya dapat diterima? Apakah preseden atau kasus yang serupa sebelumnya dapat saya gunakan untuk mendapatkan pedoman etika? Apakah yang membedakan aspek-aspek penting contoh ini dari yang lain? Berapa jauhkah alternatif dikembangkan sebelum menentukan pilihan tertentu? Mungkinkah alternatif ini kurang etis daripada beberapa pilihan yang dapat digunakan, tetapi segera ditolak atau diabaikan? Jika satu-satunya jalan menuju keberhasilan mencapai tujuan komunikator masyarakat digunakan beberapa tekhnik komunikasi yang tidak etis, adakah pilihan realistik (paling tidak untuk sementara) untuk menahan diri dari komunikasi atau untuk tidak berkomunikasi sama sekali?

Sebenarnya dalam membuat penilaian etika komunikasi tetap didasarkan pada pelaku komunikasi itu sendiri, baik komunikator maupun komunikannya. Kesadaran untuk membuat penilaian secara etis didasarkan pada suara hati atau hati nuraninya. Suara hati adalah kesada akan kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagai manusia dalam situasi konkrit. Pada saat inilah perspektif situasi akan berpengaruh dalam membuat penilaian etis (Magnis Suseno, 1987 : 54).

Richard L. Johannesen memaparkan adanya tujuan perspektif dalam penilaian etika komunikasi insani, yaitu : Perspektif Perspektif Perspektif Perspektif Perspektif Perspektif Perspektif Politik sifat manusia dialogis situasional religius utilitarian legal