Anda di halaman 1dari 17

PENGARUH KONVEGERHENSI IFRS TERHADAP PERPAJAKAN

Oleh : Adipradana R. (10312206)

FAKULTAS EKONOMI-AKUNTANSI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2011/2012

I.

Sejarah dan Pengertian IFRS


Di era zaman yang semakin hari semakin modern, masyarakat di berbagai belahan

dunia begitu mudahnya untuk berinteraksi, termasuk dalam interaksi dagang dan berinvestasi. Karena kemajuan teknologi tersebut mendorong kemudahan manusia di seluruh dunia untuk berkomunikasi tanpa ada batas wilayah Negara atau biasa kita sebut globalisasi. Dampak globalisasi yang semakin kuat dan berimbas kepada pasar pasar investasi membuat pihak yang terlibat berupaya untuk mempermudah dan menyeragamkan bahasa dalam berinvestasi (bahsa pelaporan keuangan dan standar keuangan). Standar pelaporan keuangan dan standar akuntansi haruslah standar yang dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat global. Sehingga diperlukan standar yang sama di seluruh dunia. 1970an Inggris, Kanada, US membentuk Accounting International Study Group (AISG) 1973 Organisasi professional akuntansi dr Belanda, Kanada,

Australia, Meksiko, Jepang, Prancis dan Selandia Baru membentuk International Accounting Standard Committee (IASC) dan menghasilkan International Accounting Standard (IAS) 2000 IASC restrukturisasi kelembagaan dan dibentuk IASC

Foundation (IASCF) yg membawahi International Accounting Standard Board (IASB) dan International Financial Reporting Intepretation Committee (IIFRIC). IASB mengeluarkan

International Financial Reporting Standards (IFRS).

International Financial Reporting Standards (IFRS) merupakan standar pelaporan keuangan internasional yang menjadi rujukan atau sumber konvergensi bagi standar-standar akuntansi di Negara-negara di dunia yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) pada 1 April 2001. Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).

Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi :

1.

Definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya.

2.

Pengukuran dan penilaian. Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada tanggal neraca).

3.

Pengakuan Merupakan kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan.

4.

Penyajian dan pengungkapan laporan keuangan Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan

Kerangka Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Berdasar IFRS

Elemen Laporan Keuangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Neraca Laporan Laba Komperhensif Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Arus Kas Catatan Atas Laporan Keuangan Laporan Posisi Keuangan pada Perioda Komparatif

Pemakai Laporan Keuangan. Pemakai Internal (Manajemen) Kepentingan Melihat besar kecilnya laba dan mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan. Dan Informasi dalam laporan keuangan dapat digunakan untuk menentukan plan dan strategi perusahaan. Eksternal (Investor) Pemberi Pinjaman (Biasanya Bank) Pemerintah dan Untuk menganalisa CAR perusahaan, sebagai Menilai prospek tidaknya perusahaan tersebut (Mengukur resiko-resiko investasinya) Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam

melunasi pinjamannya.

Badan Regulator pertimbangan kebijakan pajak, menghitung statistic Lain Supplier Pelanggan Karyawan pendapatan nasional. Untuk menentukan kebijakan kredit terhadap perusahaan. Mengetahui kelangsungan hidup perusahaan. Mengetahui kelangsungan hidup perusahaan serta

mengetahui perusahaan untuk memberikan balas jasa. Masayarakat (termasuk akademisi) Sebagai bahan pembelajaran dan ilmu pengetahuan. Selain itu dapat menjadi bahan dalam membuat tugas akhir, artikel, makalah, dan presentasi-presentasi.

Basis Pengukuran 1. 2. 3. 4. Biaya Perolehan Biaya Kini Nilai Realisasi dan Penyelesaian Nilai Sekarang.

IFRS di Berbagai Negara IFRS dianggap sebagai prinsip-prinsip berdasarkan peraturan luas terdiri dari: 1. Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) standar yang dikeluarkan setelah tahun 2001.

2. Standar Akuntansi Internasional (IAS) standar yang diterbitkan sebelum 2001. 3. Interpretasi berasal dari interpretasi Pelaporan Keuangan Internasional Komite (IFRIC) yang diterbitkan setelah tahun 2001. 4. Berdiri Interpretasi Committee (SIC) yang diterbitkan sebelum 2001. 5. Kerangka Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan. IFRS digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa, Hong Kong, Australia, Malaysia, Pakistan, negara-negara GCC, Rusia, Afrika Selatan, Singapura, dan Turki. Sejak 27 Agustus 2008, lebih dari 113 negara di seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa, saat ini membutuhkan atau mengizinkan pelaporan berdasarkan IFRS. Sekitar 85 negara-negara membutuhkan IFRS pelaporan untuk semua, perusahaan domestik yang terdaftar. Sedangkan di Indonesia sendiri baru akan diadopsi mulai tahun 2012 mendatang.

Standar Akuntansi yang menjadi dua kekuatan besar dunia : 1. Amerika = FASB dan US GAAP 2. Internasional = Eropa = dibentuk IASC yang kemudian berubah IFRS

IFRS di Amerika, terdapat standar yang terbagi dalam tiga era : 1. Standar ditentukan / disusun oleh manajemen, Standar ditentukan / disusun oleh manajemen karena yang membutuhkan adalah pihak manajemen. 2. Standar ditentukan / disusun oleh profesi, Standar ditentukan / disusun oleh profesi karena profesi yang bertugas untuk menyusun dan mengaudit laporan keuangan. 3. Financial Accounting Standard World (FASW), FASW lahir setelah orang menilai pihak kreditur terlalu dominant dalam menyusun standar akuntansi keuangan.

IFRS di Indonesia 1. Di Indonesia selama dalam penjajahan Belanda, tidak ada standar Akuntansi yang dipakai. Indonesia memakai standar (Sound Business Practices) gaya Belanda. 2. Sampai Thn. 1955 = Indonesia belum mempunyai undang undang resmi / peraturan tentang standar keuangan. 3. Thn. 1974 = Indonesia mengikuti standar Akuntansi Amerika yang dibuat oleh IAI yang disebut dengan prinsip Akuntansi. 4. Thn. 1984 = Prinsip Akuntansi di Indonesia ditetapkan menjadi standar Akuntansi.

5. Akhir Thn. 1984 = Standar Akuntansi di Indonesia mengikuti standar yang bersumber dari IASC. 6. Sejak Thn. 1994 = IAI sudah committed mengikuti IASC / IFRS. 7. Thn. 2008 = diharapkan perbedaan PSAK dengan IFRS akan dapat diselesaikan. 8. Thn. 2012 = Ikut IFRS sepenuhnya? Upaya untuk memperkuat Arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan, membuat International Accounting Standard Boards (IASB) melakukan percepatan harmonisasi standar Akuntansi internasional khususnya International Financial Reporting Standard (IFRS) yang dibuat oleh IASB dan Financial Accounting Standard Boards (badan pembuat standar Akuntansi di Amerika Serikat).

IFRS di Uni Eropa : 1. 1982 2. 1989 3. 1994 4. 1995 = IFAC mengendors IASC sebagai Global Accounting Standard. = Federasi Akuntansi Eropa mengendors IASC. = IASC Advisory Council Approved selaku oversight and finance. = IASC & IOSCO menandatangani perjanjian agar negara negara Uni Eropa

harus mengikuti IASs. 5. 1996 = US SEC endors IASC to initiate the dev of global accounting standards.

6. 1997 = IASC Forms SIC Standing Interpretation Committee, Forms SWP (Strategy Working Party). 7. 1998 = IFAC / IASC memperluas kenggotaan menjadi 140 bodies di 101 negara.

8. 1999 = G7 Finance Ministers and IMF Support IASs Strengthen International Financial Structure. 9. 2000 10. 2001 = IASB new chairman Sir David Tweedie appointed. = IASB dilahirkan sebagai pengganti IASC. Isinya untuk melakukan

convergensi ke global Accounting standards dengan kualitas : Single Set and High Quality. Transparant dan komparabel Laporan Keuangan. Berguna bagi pemain Pasar Modal dunia.

II.

Proses Penarapan Konvegerhensi IFRS International Financial Reporting Standard) merupakan pedoman penyusunan

laporaan keuangan yang diterima secara global. Sejarah terbentuknya pun cukup panjang dari terbentuknya IASC/ IAFC, IASB, hingga menjadi IFRS seperti sekarang ini. Jika sebuah negara menggunakan IFRS, berarti negara tersebut telah mengadopsi sistem pelaporan keuangan yang berlaku secara global sehingga memungkinkan pasar dunia mengerti tentang laporan keuangan perusahaan di negara tersebut berasal. Indonesia pun akan mengadopsi IFRS secara penuh pada 2012 nanti, seperti yang dilansir IAI pada peringatan HUT nya yang ke 51. Dengan mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkanIFRS. Adopsi penuh IFRS diharapkan memberikan manfaat : 1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK yang dikenal secara internasional 2. Meningkatkan arus investasi global 3. menurunkan biaya modal melalui pasar modal global

dan menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan Strategi adopsi yang dilakukan untuk konvergensi ada dua macam, yaitu big bang strategy dan gradual strategy. Big bang strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui tahapan tahapan tertentu. Strategi ini digunakan oleh negara negara maju. Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh negara negara berkembang seperti Indonesia. PSAK akan dikonvergensikan secara penuh dengan IFRSmelalui tiga tahapan, yaitu tahap adopsi, tahap persiapan akhir dan tahap implementasi.

Tahap

adopsi

dilakukan

pada

periode

2008-2011

meliputi

aktivitas

adopsi

seluruh IFRS ke PSAK, persiapan infrastruktur, evaluasi terhadap PSAK yang berlaku. Pada 2009 proses adopsi IFRS/ IAS mencakup : 1. IFRS 2 Share-based payment 2. IFRS 3 Business combination 3. IFRS 4 Insurance contracts

4. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations 5. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources 6. IFRS 7 Financial instruments: disclosures 7. IFRS 8 Segment reporting 8. IAS 1 Presentation of financial statements 9. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates 10. IAS 12 Income taxes 11. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates 12. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans 13. IAS 27 Consolidated and separate financial statements 14. IAS 28 Investments in associates 15. IAS 31 Interests in joint ventures 16. IAS 36 Impairment of assets 17. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets 18. IAS 38 Intangible assets

Pada 2010 adopsi IFRS/ IAS mencakup : 1. 2. IFRS 7 Statement of Cash Flows IFRS20 Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Assistance 3. 4. 5. 6. 7. IFRS24 Related Party Disclosures IFRS29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies IFRS33 Earnings per Share IFRS34 Interim Financial Reporting IFRS41 Agriculture

Sedangkan arah pengembangan konvergensi IFRSmeliputi : 1. PSAK yang sama dengan IFRS akan direvisi, atau akan diterbitkan PSAK yang baru 2. PSAK yang tidak diatur dalam IFRS, maka akan dikembangkan

PSAK industri khusus akan dihapuskan 3. PSAK turunan dari UU tetap dipertahankan

Pada 2011 tahap persiapan akhir dilakukan dengan menyelesaikan seluruh infrastruktur yang diperlukan. Pada 2012 dilakukan penerapan pertama kali PSAK yang sudah mengadopsi IFRS. Namun, proses konvergensi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dampak yang ditimbulkan dari konvergensi ini akan sangat

mempengaruhi semua kalangan, baik itu bidang bisnis maupun pendidikan.

III. Pengaruh IFRS terhadap Perpajakan


Konvergensi IFRS rupanya membuat panik berbagai pihak. Salah satunya adalah pihak-pihak yang berkepentingan dengan regulasi perpajakan, terutama adalah para mahasiswa. Dalam tulisan kali ini, saya akan memaparkan beberapa poin (tidak semua, namun yang cukup penting) terkait dampak konvergensi IFRS terhadap regulasi perpajakan (kata kunci: dampak konvergensi IFRS pajak). SAK Pasca Dicanangkan Konvergensi IFRS Setelah dicanangkannya konvergensi IFRS, Indonesia saat ini memiliki 3 SAK yaitu, SAK Umum (berbasis IFRS), SAK ETAP (berjiwa IFRS for SME), dan SAK Syariah (bernafaskan prinsip-prinsip syariah di Indonesia). Dampak terdapatnya 3 SAK bagi peraturan perpajakan adalah, dalam peraturan perpajakan, dinyatakan bahwa pembukuan (untuk tujuan pajak) menggunakan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali Peraturan Perpajakan menyatakan lain. Hal ini berarti, untuk tujuan pajak, digunakan perlakuan akuntansi sesuai dengan peraturan pajak, kecuali jika tidak diatur dalam peraturan perpajakan, maka pengaturan akuntansinya menggunakan SAK (KUP 28/2007). Dalam kondisi terdapatnya 3 SAK, yang mana 2 SAK mengatur entitas (SAK Umum dan SAK ETAP) dan 1 SAK mengatur transaksi (SAK Syariah), maka hal ini perlu dicermati oleh regulator perpajakan. Para petugas pajak harus memiliki pemahaman atas SAK ETAP dan SAK Umum. Jika wajib pajak merupakan entitas berakuntabilitas publik, maka wajib pajak tersebut akan menggunakan SAK Umum. Oleh karena itu, pemeriksa pajak harus memahami SAK Umum untuk pelakuan akuntansi atas hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan pajak. Namun, jika wajib pajak merupakan entitas tanpa akuntabilitas publik, maka wajib pajak tersebut akan menggunakan SAK ETAP (kecuali jika regulator menyatakan lain). Oleh karena itu, pemeriksa pajak harus memahami SAK ETAP untuk perlakuan akuntansi atas hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan pajak. Oleh karena adanya kemungkinan terjadi perbedaan pengaturan antara SAK ETAP SAK Umum Peraturan Perpajakan, maka regulator pajak perlu mengatasi perbedaan penafsiran yang sangat mungkin terjadi di lapangan. Sehingga, pemeriksa pajak yang satu dan yang lain tidak akan memiliki penafsiran yang berbeda cukup

signifikan atas suatu hal/item (item bisa digunakan dalam standar untuk menggantikan pos, unsur, atau hal-hal lain terkait transaksi/laporan keuangan) tertentu. 1. Aset Tak berwujud Contoh item yang tidak diatur dalam peraturan pajak dan oleh karena itu menggunakan SAK sebagai dasar adalah aset takberwujud. Dalam peraturan perpajakan, aset takberwujud mengacu ke SAK (dalam hal batasan dan pengakuan) sesuai dengan Pasal 28 UU KUP. Padahal, pengaturan aset takberwujud untuk SAK ETAP dan SAK Umum berbeda. Untuk SAK Umum, aset takberwujud dapat dihasilkan secara internal (dari proses

pengembangan/development) maupun eksternal (membeli lisensi, hak cipta, dll). Untuk SAK ETAP, aset takberwujud hanya yang dihasilkan secara eksternal saja. Perlakuan untuk amortisasi aset takberwujud berdasar UU KUP adalah 20 tahun atau mengikuti klasifikasi UU No.11 mengenai aset, sedangkan berdasar SAK Umum dapat berumur terbatas atau takterbatas, dan berdasarkan SAK ETAP umurnya terbatas.

2. Mata Uang Pembukan dan Mata Uang Pelaporan Terdapat perbedaan pengaturan dalam hal penggunaan mata uang pelaporan. Berdasarkan peraturan pajak dan SAK ETAP, mata uang pelaporan dan pembukuan dalam rupiah. Sedangkan dalam SAK Umum menggunakan mata uang fungsional sebagai mata uang pembukuan dan mata uang pelaporan rupiah. 3. Fair Value Accounting Seringkali yang ditakutkan dari dampak konvergensi IFRS terhadap peraturan perpajakan adalah mengenai diterapkannya Fair Value

Accounting (FVA). Namun, patut dicermati bahwa penerapan FVA atau penggunaan model revaluasi merupakan sebuah pilihan. Entitas boleh memilih akan menggunakan model biaya (historical cost model) atau model revaluasi (menggunakan FVA). Penggunaan FVA yang wajib hanya di kategori instrumenfair value through profit or loss (FVTPL). Selain itu, jika tidak ada marketnya, maka menggunakan valuation technique. Permasalahan FVA di Indonesia tidak sebesar kelihatannya. Selain itu, secara rasional bisnis akan cenderung bertahan di historical cost.

4. Revaluasi Berdasarkan SAK Umum, revaluasi merupakan pilihan dan tidak perlu seizin regulator. Berdasarkan peraturan perpajakan, PMK No.79/PMK.03/2008, revaluasi tidak dapat dilakukan setiap saat. Sedangkan berdasarkan SAK ETAP revaluasi harus seizin regulator. 5. Goodwill Berdasarkan peraturan perpajakan, goodwill diamortisasi. Berdasarkan SAK Umum, goodwill tidak diamortisasi namun diuji penurunan nilainya. Untuk kombinasi bisnis, SAK Umum sudah tidak mengizinkan pooling of interest method sesuai perlakuan dalam IFRS (kecuali untuk perlakuan transaksi entitas sepengendali).

6. Masa Transisi Dalam masa transisi dari penggunaan SAK lama ke SAK baru yang berbasis IFRS, banyak entitas yang tiba-tiba memiliki aset dalam jumlah besar, atau melakukan revaluasi sehingga nilai asetnya naik. Dalam kondisi sekarang ini, yang mana peraturan pajak dan petugas pajak masih saklek, rule based, dan jadul, entitas cukup dirugikan. Hal ini dikarenakan peningkatan aset atau laba tersebut terjadi bukan secara nyata, namun hanya karena pengaruh perubahan kebijakan akuntansi baru (berbasis IFRS) yang cukup ekstrim. Padahal, dasar pengenaan pajak adalah atas peningkatan penghasilan. Oleh karena itu, regulator perpajakan perlu menyikapi secara cepat untuk hal-hal terkait dengan transisi regulasi ini, sehingga entitas-entitas dapat melakukan transisi ke SAK Umum yang berbasis IFRS dengan tenang. Pada kenyataannya, cukup banyak entitas yang mengeluh untuk menerapkan SAK Umum atau untuk mengadopsi IFRS (sebagai contoh akan diadopsinya IAS 41: Agriculture), bukan karena rumitnya standar tersebut, namun lebih karena permasalahan pajak dalam masa transisi ini. Satu hal yang perlu diingat, konvergensi IFRS merupakan kesepakatan pemerintah dalam forum G-20. Konvergensi ini bukan merupakan pekerjaan DSAK-IAI saja. Regulator-regulator seperti Bank Indonesia, Bapepam, dan asosiasi-asosiasi industri telah menyelaraskan regulasi mereka dengan SAK Umum, sebagai bukti dukungan mereka terhadap komitmen pemerintah.

Sayangnya, regulator perpajakan merupakan regulator yang dinilai paling lambat dalam menyikapi konvergensi IFRS ini. 7. Perbedaan Akuntansi dan Pajak, Selamanya Di belahan dunia manapun, hingga saat ini, pengaturan akuntansi selalu berbeda dengan peraturan perpajakan. Hampir tidak ada peraturan akuntansi yang sama dengan peraturan perpajakan. Hal ini dikarenakan tujuan dari akuntansi dan tujuan perpajakan berbeda. Selain itu, prinsip-prinsip dari standar akuntansi dan peraturan perpajakan juga berbeda. Pengaturan dalam standar akuntansi berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi dan digunakan untuk pelaporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statement), sedangkan pengaturan dalam peraturan perpajakan berdasarkan aturan (rule based) dan bertujuan khusus (untuk penarikan pajak kepentingan si penarik pajak/pemerintah). Oleh karena itu, konvergensi IFRS tidak harus membuat peraturan perpajakan juga ikut konvergen (apalagi peraturan perpajakan induknya adalah undang-undang, yang mana jika ingin mengubah undang-undang proses birokrasinya sangat lama dan berbelit di DPR). Namun, walaupun perbedaan antara SAK dan Peraturan Perpajakan tidak akan pernah bisa dihilangkan, sebaiknya regulator perpajakan tetap melakukan tindakan untuk meminimalkan bentang perbedaan antara SAK yang ada saat ini (SAK Umum & ETAP) dengan Peraturan Perpajakan. Hal ini dikarenakan SAK sudah berkembang sangat pesat, sedangkan Peraturan Perpajakan sangat tertinggal jauh dalam hal penggunaan dasar akuntansinya. Perbedaan antara SAK Umum dengan SAK ETAP, dan SAK (Umum dan ETAP) dengan Peraturan Perpajakan, harus mulai disikapi oleh para petugas pajak, atau calon-calon petugas pajak yang saat ini sedang kuliah. Pemahaman atas SAK Umum dan SAK ETAP merupakan hal yang cukup penting. Secara umum, entitas yang menggunakan SAK ETAP jumlahnya lebih banyak daripada entitas yang menggunakan SAK Umum. Namun dari segi pemasukan pajak, entitas yang menggunakan SAK Umum lebih besar jumlahnya daripada SAK ETAP.

Pengaruh konvergensi IFRS terhadap Perpajakan Pengaruh konvergensi IFRS tidak hanya berpengaruh terhadap dunia bisnis saja,tetapi juga dalam dunia Perpajakan. Perbedaan IFRS dengan perpajakan salah satunya mencakup aset tetap (PSAK No.16). Berdasarkan PSAK No.16(Revisi 2007) perusahaan diperbolehkan memilih metode biaya atau metode revaluasi, sedangkan Peraturan Perpajakan, yaitu Peraturan Menteri Keuangan No.79/PMK.03/2008, metode penyustan aset tetap

menggunakan biaya perolehan sesuai Pasal 10 ayat (1) UU PPh, Menteri Keuangan. Masalah kewajiban perpajakan yang timbul atas revaluasi aset tetap adalah sebagai berikut: 1. Nilai hasil revaluasi akan lebih Hal ini disebabkan tinggi aset dari tetap nilai dilakukan perolehan berdasarkan awal. nilai

penilaian

pasar/nilai wajar tersebut yang ditetapkan oleh jasa penilai/appraisal independen yang disahkan oleh Menkeu. Sehingga atas hasil revaluasi ini akan muncul selisih revaluasi aset tetap dari perolehan yang lama. 2. Apakah atas hasil revaluasi dikenakan PPh bersifat final sebesar 10%?

Jawabannya ya, hal tersebut sesuai dengan ketentuan dimaksud pada pasal 5 PMK 79/PMK.03/2008 tentang penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan. Adapun tatacaranya dapat dilihat pada Per-12/PJ/2009. Obyek yang dikenakan tarif 10% tersebut adalah selisih dari nilai hasil revaluasi aset tetap. Contoh lainnya yang menjadi perhatian bagi pihak otoritas pajak, konvergensi IFRS yang berimplikasi dengan perpajakan adalah sebagai berikut: 1. Pada PSAK No. 1, pos? Pos dalam laporan laba rugi komprehensif, yaitu: beban keuangan, keuntungan atau kerugian darioperasi yang dihentikan,

diakui secara keseluruhan sedangkan pada perpajakan dilakukan koreksi fiskal atas perb edaan antara akuntansi dan Undang-Undang Pajak Penghasilan. 2. Pada No. PSAK 7, pengungkapan pihak pihak yang memiliki hubungan istimewa adalah pihak istimewa yang terkait denganpihak dalam transaksi yang wajar, pengakuan beban selama periode berjalan, klasifikasi pengungkapan atas pihak?pihak yang mempunyai

hubungan istimewa. Pada nama entitas induk, jika berbeda dengan entitas anak dan pihak yang mengendalikan. Jika entitas induk maupun pihak pengendali utama menghasilkan laporan keuangan yang tersedia untuk keperluan umum, nama entitas induk berikutnya yang paling pertama melakukannya juga harus diungkapkan.

Dari sisi perpajakan semua pihak istimewa harus diungkapkan dengan pengisian lampiran 3A atau 3B pada SPT PPh badan dan membuat TP Documentation sesuai Per?43/PJ/2010. 3. Pada PSAK No. 10, pengaruh perubahan nilai tukar valuta asing, pada laporan keuangan mata uang yang digunakan adalah:mata uang fungsional digunakan sebagai mata uang pengukuran dan penyajian bisa berlainan dengan mata uang fungsional.Sedan gkan pada perpajakan harus menggunakan rupiah atau US Dollar. 4. Pada PSAK No. 13, properti yang digunakan pada operating lease Diklasifikasikan

dan dicatat sebagai properti investasi,hanya jika sesuai dengan definisi dari properti investasi dan lessee menggunakan fair value model. Sedangkan pada perpajakan Tidak membedakan properti investasi dari aktiva tetap, Pengalihan tanah dan/bangunan dikena kan pajak penghasilan final.

IV.

Kesimpulan dan Saran PSAK yang sekarang berlaku, maupun nantinya diterapkan IFRS, ataupun SAK ETAP, undang-undang Perpajakan kita ataupun Ditjen Pajak juga berencana menyesuaikan perkembangan yang terjadi begitu cepat dari standar akuntansi yang diterbitkan oleh Dewan Standar Ikatan Akuntan Indonesia. Titik temunya adalah rekonsiliasi fiskal untuk menghitung laba kena pajak sebagaimana yang telah berlaku selama ini. Sebagai contoh penurunan nilai tercatat aset maupun pemulihan yang diperkenankan oleh standar-standar akuntansi yang berlaku tahun 2011, tentunya akan berpengaruh besar terhadap perhitungan laba rugi komersial entitas dan perhitungan laba rugi komersial entitas dan perhitungan PPh-nya. Semakin banyak pos yang akan direkonsiliasi menyesuaikan peraturan undang-undang pajak penghasilan

untuk menghitung laba kena pajak menurut fiskal. Kita dituntut belajar terus menerus menyesuaikan perkembangan standar akuntansi dan peraturan perpajakan, yang masing-masing berjalan dengan arahnya sendiri-sendiri. Sebagai kesimpulan bahwa tidak ada dampak IFRS konvegerhensi terhadap pelaporan pajak, karena laporan keuangan fiskal mengacu pada aturan pajak (Undang-Undang, Peraturan Menteri Keuangan, Peraturan Direktorat Jenderal, dll.) yang berbeda dengan

PSAK/IFRS/GAAP dan sebagainya.

Daftar Pustaka 1. http://acctbuzz.blogspot.com/2009/08/proses-konvergensi-ifrs-2012-di.html 2. http://gemaisgery.blogspot.com/2012/03/pengertian-ifrs-dan-penerapannya.html 3. http://stefanusariyanto.wordpress.com/2011/08/18/sejarah-international-financialreporting-standards-ifrs/

4. http://lisapurnamylullaby.blogspot.com/2012/03/sejarah-dan-pengertian-ifrs.html 5. http://rogonyowosukmo.wordpress.com/2011/03/24/dampak-konvergensi-ifrsterhadap-perpajakan/

6. http://akuntanonline.com/?p=3546