perdarahan Intrakranial

REP | 02 February 2011 | 20:01 5514 2 Nihil

Definisi Perdarahan Intrakranial adalah perdarahan di dalam tulang tengkorak. Perdarahan bisa terjadi di dalam otak atau di sekeliling otak: Perdarahan yang terjadi di dalam otak disebut perdarahan intraserebral • Perdarahan diantara otak dan rongga subaraknoid disebut perdarahan subaraknoid • Perdarahan diantara lapisan selaput otak (meningen) disebut perdarahan subdural • Perdarahan diantara tulang tengkorak dan selaput otak disebut perdarahan epidural.

Setiap perdarahan akan menimbulkan kerusakan pada sel-sel otak. Ruang di dalam tulang tengkorak sangat terbatas, sehingga perdarahan dengan cepat akan menyebabkan bertambahnya tekanan dan hal ini sangat berbahaya. Penyebab Cedera kepala merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada penderita perdarahan intrakranial yang berusia dibawah 50 tahun. Penyebab lainnya adalah malformasi arteriovenosa, yaitu kelainan anatomis di dalam arteri atau vena di dalam atau di sekitar otak.

Malformasi arteriovenosa merupakan kelainan bawaan, tetapi baru diketahui keberadaannya jika telah menimbulkan gejala. Perdarahan dari malformasi arteriovenosa bisa secara tiba-tiba menyebabkan pingsan dan kematian, dan cenderung menyerang remaja dan dewasa muda. Kadang dinding pembuluh darah menjadi lemah dan menonjol, yang disebut dengan aneurisma. Dinding aneurisma yang tipis bisa pecah dan menyebabkan perdarahan. Aneurisma di dalam otak merupakan penyebab dari perdarahan intrakranial, yang bisa menyebabkanstroke hemoragik (stroke karena perdarahan). Macam-Macam Perdarahan Intrakranial Perdarahan Intraserebral Perdarahan intraserebral merupakan salah satu jenis stroke, yang disebabkan oleh adanya perdarahan ke dalam jaringan otak. Perdarahan intraserebral terjadi secara tiba-tiba, dimulai dengan sakit kepala, yang diikuti oleh tanda-tanda kelainan neurologis (misalnya kelemahan, kelumpuhan, mati rasa, gangguan berbicara, gangguan penglihatan dan kebingungan). Sering terjadi mual, muntah, kejang dan penurunan kesadaran, yang bisa timbul dalam waktu beberapa menit. Biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan dan MRI untuk membedakan stroke iskemik dengan stroke perdarahan. Pemeriksaan tersebut juga bisa menunjukkan luasnya kerusakan otak dan peningkatan tekanan di dalam otak.

karena tubuh akan menyerap sisa-sisa darah. Perdarahan Subaraknoid Perdarahan subaraknoid adalah perdarahan tiba-tiba ke dalam rongga diantara otak dan selaput otak (rongga subaraknoid). Kadang aterosklerosis atau infeksi menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah sehingga pembuluh darah pecah. Perdarahan intraserebral merupakan jenis stroke yang paling berbahaya. seperti sakit kepala. nyeri wajah. Perdarahan subaraknoid jarang terjadi setelah suatu cedera kepala. Lebih dari separuh pendeirta yang memiliki perdarahan yang luas. terutama pada penderita tekanan darah tinggi menahun. sehingga menimbulkan pertanda awal. meskipun meninggalkan kelainan neurologis yang berat. Stroke biasanya luas. Perdarahan subaraknoid karena aneurisma biasanya tidak menimbulkan gejala. Penderita yang selamat biasanya kembali sadar dan sebagian fungsi otaknya kembali. tetapi paling sering menyerang usia 25-50 tahun. Pembedahan bisa memperpanjang harapan hidup penderita. Tujuan pembedahan adalah untuk membuang darah yang telah terkumpul di dalam otak dan untuk mengurangi tekanan di dalam tengkorak. Sumber dari perdarahan adalah pecahnya dinding pembuluh darah yang lemah (apakah suatumalformasi arteriovenosa ataupun suatu aneurisma) secara tiba-tiba. meninggal dalam beberapa hari. kecuali jika diduga terdapat meningitis atau infeksi lainnya. penglihatan ganda .Pungsi lumbal biasanya tidak perlu dilakukan. Kadang aneurisma menekan saraf atau mengalami kebocoran kecil sebelum pecah. Pecahnya pembuluh darah bisa terjadi pada usia berapa saja.

Darah dan cairan serebrospinal di sekitar otak akan mengiritasi selaput otak (meningen). setelah 6 bulan memiliki resiko sebanyak 5% untuk terjadinya perdarahan. bisa dilakukan pungsi lumbal untuk melihat adanya darah di dalam cairan serebrospinal. muntah dan pusing. yang seringkali diikuti oleh penurunan kesadaran sesaat. Sekitar 25% penderita memiliki kelainan neurologis. Dalam beberapa jam bahkan dalam beberapa menit. Angiografi dilakukan untuk memperkuat diagnosis dan sebagai panduan jika dilakukan pembedahan. Sekitar sepertiga penderita meninggal pada episode pertama karena luasnya kerusakan otak. Beberapa penderita mengalami koma. dengan perasaan bingung dan mengantuk. . Jika timbul gejala-gejala tersebut harus segera dibawa ke dokter agar bisa diambil tindakan untuk mencegah perdarahan yang hebat. yang biasanya berupa kelumpuhan pada satu sisi badan. Pertanda awal bisa terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa minggu sebelum aneurisma pecah. Jika diperlukan.atau gangguan penglihatan lainnya. Denyut jantung dan laju pernafasan sering naik turun. yang bisa menunjukkan lokasi dari perdarahan. dan menyebabkan sakit kepala. tetapi sebagian besar terbangun kembali. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan CT scan. 15% penderita meninggal dalam beberapa minggu setelah terjadi perdarahan berturut-turut. Pecahnya aneurisma biasanya menyebabkan sakit kepala mendadak yang hebat. kadang disertai dengan kejang. penderita kembali mengantuk dan linglung. Penderita aneurisma yang tidak menjalani pembedahan dan bertahan hidup.

Sebagian besar ahli bedah menganjurkan untuk melakukan pembedahan dalam waktu 3 hari setelah timbulnya gejala. kejang-kejang atau hemiplegia. Pembedahan ini sulit dan angka kematiannya sangat tinggi. Kadang dipasang selang drainase di dalam otak untuk mengurangi tekanan.Banyak penderita yang sebagian atau seluruh fungsi mental dan fisiknya kembali normal. Terbanyak perdarahan intrakranial sifatnya subaraknoidal dan disebabkan oleh pecahnya aneurisma sirkulasi willisii. bisa mengurangi resiko perdarahan fatal di kemudian hari. Perdarahan Intrakranial Selama Kehamilan Perdarahan intrakranial jarang dijumpai dalam kehamilan. Tersering perdarahan terjadi menjelang persalinan dan sesudahnya. Angiografi yang dilakukan 4-5 hari setelah terjadinya . disusul kemudian oleh koma. Menunda pembedahan sampai 10 hari atau lebih memang mengurangi resiko pembedahan tetapi meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan kembali. jarang dalam masa persalinan. Perdarahan intrakranial dapat juga dijumpai setelah serangan eklampsia. Pembedahan untuk menyumbat atau memperkuat dinding arteri yang lemah. Penderita segera dirawat dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. yang justru disertai tekanan darah paling tinggi. mual dan muntah. akan tetapi mempunyai mortalitas yang tinggi. terutama di bagian frontal dan oksipital. leher kaku. sebagian lain oleh angioma arteriovenosum dan diatesis hemoragik. Diagnosis pasti dibuat dengan fungsi lumbal : ditemukan banyak eritrosit dalam liquor serebrospinalis. terutama pada penderita yang mengalami koma atau stupor. Mula-mula penderita merasa nyeri kepala mendadak. tetapi kelainan neurologis kadang tetap ada. Obat pereda nyeri diberikan untuk mengatasi sakit kepala hebat. Funduskopi menunjukkan edema papil dan perdarahan.

tumor otak. Pengobatan sama dengan diluar kehamilan dan sebaiknya ditangani oleh spesialis bedah saraf. akan tetapi kala II sebaiknya diakhiri dengan cunam atau ekstraktor vakum. sebaiknya kehamilan diakhiri dengan seksio sesarea primer. Satu pertiga diantara penderita meninggal dalam 24 jam pertama. Pada perdarahan yang terjadi dalam masa persalinan. seksio sesarea. partusnya harus segera diselesaikan. setelah itu diberi pengobatan neurologik. Masalah lain yang harus dihadapi ialah apakah wanita yang pernah menderita perdarahan intrakranial boleh hamil lagi. Partus kala I dibiarkan karena kontraksi-kontraksi uterus tidak meningkatkan tekanan liquor serebrospinalis. dilakukan operasi pada hari ke 7 setelah perdarahan. Seksio sesarea dilakukan hanya atas indikasi obstetrik. Apabila penderita dapat mengatasi serangan perdarahan. meningitis. Yang masih menjadi pertentangan adalah mengenai penanggulangan obstetrik wanita yang dapat mengatasi serangan perdarahan. Sebaliknya ada pula yang bersifat konservatif. Walaupun kehamilan agaknya tidak memperbesar kemungkinan berulangnya perdarahan dan tidak merupakan kontraindikasi mutlak. Diagnosis direferensial harus dibuat dengan eklampsia. Ada yang menganjurkan abortus buatan dan apabila kehamilannya sudah cukup bulan. PERDARAHAN INTRAKRNIAL PADA NEONATUS . Abortus tidak dilakukan. namun perlu disadari bahwa resiko selalu ada.perdarahan. dapat menentukan lokalisasi sumber perdarahan. Apabila perdarahan terjadi dalam kehamilan lanjut. dan abses otak. jikalau perlu. maka pengobatannya tanpa pembedahan.

usaha yang lebih penting ialah profilaksis seperti perawatan prenatal. 3. Perdarahan Intrakrania ialah perdarahan dalam rongga kranium dan isinya pada bayi sejak lahir sampai umur 4 minggu. Menurut Saxena 13. Pada umumnya prognosis perdarahan intrakranial neonatus tidak terlalu menggembirakan. Untuk menurunkan angka kejadian perdarahan intrakranial neonatus. Sebabnya Perdarahan Intrakranial banyak. Perdarahan epidural. 2. Holt menemukan pada otopsi bayi-bayi lahir mati dan yang meninggal dalam 2 minggu pertama. INSIDENSI Dilaporkan angka berbeda-beda tentang insidensi PIN.Perdarahan intrakranial pada neonatus (PIN) tidak jarang dijumpai. PIN mempunyai arti penting karena dapat menyebabkan kematian atau cacat jasmani dan mental. Perdarahan Intrakranial meliputi 1. 4. Angka kematian PI pada .1% kematian perinatal oleh PI. pertolongan persalinan dan perawatan postnatal yang sebaik-baiknya. Perdarahan subdural. 30% PI. Sering Perdarahan Intrakranial tak dikenal/dipikirkan karena gejala-gejalanya tidak khas. Perdarahan intraserebral/parenkim dan intraventrikuler Penatalaksanaan dan penanggulangan Perdarahan Intrakranial Neontus masih kurang memuaskan. Perdarahan subaraknoid.

asfiksia. hipotermi. Pada perdarahan yang bukan karena trauma kelahiran.faktor dasar ialah prematuritas. • • Pemutaran/penarikan kepala yang berlebihan. 3. infeksi intrauterin.bayi prematur 5x lebih tinggi daripada bayi cukup bulan (BCB). perdarahan terjadi oleh kerusakan/ robekan pembuluh. pembuluh darah otak masih . Bukan trauma kelahiran: Umumnya ditemukan pada bayi kurang bulan (BKB). Disproporsi antara kepala anak dan jalan lahir sehingga terjadi mulase 2.pembuluh darah intrakranial secara langsung. juga hiperosmolaritas/hipernatremia Ada pula PIN yang disebabkan oleh penyakit perdarahan/gangguan pembekuan darah.9 : 1 (Banerjee) ETIOLOGI A. kejang-kejang. Partus biasa. Trauma kelahiran: 1. Partus presipitatus.7 (Saxena) 1. kelainan jantung bawaan. Partus buatan (ekstraksi vakum. pada bayi-bayi tersebut. B. cunam). Faktor dasar ialah prematuritas dan yang lain merupakan faktor pencetus PIN seperti hipoksia dan iskemia otak yang dapat timbul pada syok. Laki-laki : perempuan = 5 : 2. PATOGENESIS Pada trauma kelahiran.

gejala kenaikan tekanan intrakranial. insidensi perdarahan subdural sudah sangat menurun. jarang pada neonatus karena hanya terdapat pada trauma kepala yang sangat hebat (kecelakaan) . Di sini perdarahan terjadi akibat pecahnya vena-vena kortikal yang menghubungkan rongga subdural dengan sinus-sinus pada duramater. Perdarahan dapat berlangsung perlahan-lahan dan membentuk hematoma subdural. kadangkadang membentuk huruf U. Sehingga mudah sekali terjadi kerusakan bila ada faktor. Perdarahan epidural/ ekstradural terjadi oleh robekan arteri atau vena meningika media antara tulang tengkorak dan duramater.embrional dengan dinding tipis. perdarahan terjadi di rongga subaraknoid yang biasanya ditemukan pada persalinan sulit. Tetapi perdarahan subdural merupakan jenis PIN yang banyak dijumpai pada BCB. Keadaan ini terutama terjadi pada perdarahan intraventrikuler/periventrikuler. Adanya perdarahan subaraknoid dapat dibuktikan dengan fungsi likuor. Pada perdarahan intraserebral/intraserebeler. Pada robekan tentorium serebeli atau vena galena dapat terjadi hematoma retroserebeler. Gejala-gejala dapat timbul segera dapat sampai berminggu-minggu. memberikan gejala .faktor pencetus (hipoksia/iskemia). Perdarahan subdural lebih sering pada Bayi Cukup Bulan daripada Bayi Kurang Bulan sebab pada Bayi Kurang Bulan venavena superfisial belum berkembang baik dan mulase tulang tengkorak sangat jarang terjadi. jaringan penunjang sangat kurang dan pada beberapa tempat tertentu jalannya berkelok-kelok. perdarahan terjadi dalam parenkim otak. Keadaan ini jarang ditemukan pada neonatus. Pada perdarahan subaraknoid. Dengan kemajuan dalam bidang obstetri.

Perdarahan intraventrikuler dalam kepustakaan ada yang gabungkan bersama perdarahan intraserebral yang disebut perdarahan periventrikuler Dari semua jenis Perdarahan Intrakranial Neonatus. Gejala-gejala ini baru timbul • . Gejala-gejala berikut dapat ditemukan : Fontanel tegang dan menonjol oleh kenaikan tekananintrakranial. Sekitar 75–90% perdarahan peri ventrikuler berasal dari jaringan subependimal germinal matriks/jaringan embrional di sekitar ventrikel lateral. GAMBARAN KLINIK Gejala-gejala Perdarahan Intrakranial Neonatus tidak khas. • Iritasi korteks serebri berupa kejangkejang. opistotonus. meninggikan tekanan pembuluh darah otak yang diteruskan ke daerah anyaman kapiler sehingga mudah ruptur. karena frekuensi dan mortalitasnya tinggi pada bayi prematur. hiperosmolaritas pula dapat menyebabkan perdarahan intraventrikuler Hiperosmolaritas antara lain terjadi karena hipernatremia akibat pemberian natrium bikarbonat yang berlebihan/plasma ekspander. dan umumnya sukar didiagnosis jika tidak didukung. perdarahan periventrikuler memegang peranan penting. Selain hipoksia. misalnya pada perdarahan subaraknoid. Keadaan ini dapat meninggikan tekanan darah otak yang diteruskan ke kapiler sehingga dapat pecah.twitching. Bertambahnya aliran darah ini. oleh riwayat persalinan yang jelas. Pada perdarahan intraventrikuler. irritable. yang berperanan penting ialah hipoksia yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak dan kongesti vena.

Gejala gerakan lidah yang menjulur ke luar di sekitar bibir seperti lidah ular (snake like flicking of the tongue) menunjukkan perdarahan yang luas dengan kerusakan pada korteks Tonus otot lemah atau spastis umum. tonus otot akan segera pulih kembali. somnolen. . 4. • • • Cephalic cry (menangis merintih).Kadangkadang ada perdarahan retina. Nadi lambat/cepat. Apnea dapat berupa serangan diselingi pernapasan normal/takipnea dan sianosis intermiten.beberapa jam setelah lahir dan menunjukkan adanya perdarahan subdural . Menangis lemah. Mata terbuka dan hanya memandang ke satu arah tanpa reaksi. 3. flaksiditas akan berubah menjadi spastis yang menetap. 2. Kelumpuhan lokal dapat terjadi misalnya kelumpuhan otot-otot pergerakan mata. kadang-kadang juga perdarahan subaraknoid oleh robekan tentorium yang luas. sopor atau koma). Tidak mau minum. Hipotonia dapat berakhir dengan kematian bila perdarahan hebat dan luas. • Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan: 1. Jika perdarahan dan asfiksia tidak berlangsung lama. refleks cahaya lambat sampai negatif. otot-otot muka/anggota gerak (monoplegi/hemiplegi) menunjukkan perdarahan subdural/ parenkim. Gangguan kesadaran (apati. nistagmus dan eksoftal-mus. Pupil melebar. • Apnea: berat dan lamanya apnea bergantung pada derajatperdarahan dan kerusakan susunan saraf pusat. Tetapi bila perdarahan berlangsung lebih lama.

Keadaan ini dapat fatal bila tidak men dapat pertolongan segera. Saltatory Syndrome Gejala klinik dapat berlangsung berjam-jam/berhari-hari yang kemudian berangsur-angsur menjadi baik. Prognosis Perdarahan Intrakranial Neonatus bergantung pada lokasi dan luasnya perdarahan. 2. dapat terjadi herniasi unkus dan kerusakan batang otak. Perdarahan Intrakranial Neonatus oleh trauma kelahiran sudah sangat berkurang. Berdasarkan perjalanan klinik. Mortalitas Perdarahan Intrakranial Neonatus non traumatik 50–70%. Dapat serabuh sempurna tetapi biasanya dengan gejala sisa. Gejala klinik makin lama makin berat. cepatnya didiagnosis dan pertolongan. Pada penderita yang tidak meninggal. Kadang-kadang ada hipotermi yang menetap.5. gangguan bicara atau strabismus. dapat disertai spastisitas. Catastrophic Syndrome. umur kehamilan. Apabila gejala-gejala tersebut di atas ditemukan pada bayi prematur yang 24–48 jam sebelumnya menderita asfiksia. Pada perdarahan epidural terjadi penekanan pada jaringan otak ke arah sisi yang berlawanan. maka PI dapat dipikirkan. berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam dan akhirnya meninggal. Perdarahan Intrrakranial Neonatus dapat dibedakan 2 sindrom: 1. Perdarahan yang meliputi batang otak . Kalau ada gangguan serebelum dapat terjadi ataksi serebeler. PROGNOSIS Karena kemajuan obstetri.

Pada perdarahan intraventrikuler.Pada derajat 3–4 (sedang-berat).pada bagian formasi retikuler. retardasi mental dan hidrosefalus. Oleh karena itu. menurut Rabe dkk. PIN harus didiagnosis banding dengan beberapa penyakit pada neonatus yang memberikan gejala. angka kematian 10–25%.gejala yang diduga Perdarahan Intrakraial Neonatus . pernapasan tidak teratur dan demam tinggi. memberikan sindrom hiperaktivitet. sebagian besar sembuh sempurna. sebagian kecil dengan sekuele ringan. nadi cepat. mempunyai prognosis jelek. sekitar 20% kasus dengan gejala. epilepsi. Hidrosefalus merupakan komplikasi paling sering (44%) dari perdarahan periventrikuler DIAGNOSIS Diagnosis Perdarahan Intrakranial Neonatus sangat sukar. Khusus pada neonatus/BKB. .gejala yang hampir sama. Pada perdarahan subdural akibat trauma. terutama bila tidak ada hubungan dengan trauma kelahiran karena gejalagejalanya tidak khas. ternyata bukan.Pada derajat 1–2 (ringan-sedang). mortalitas bergantung pada derajat perdarahan. . Sekuele dapat berupa cerebral palsy. gangguan bicara. . mortalitas 50–70% dan sekitar 30% sembuh dengan sekuele berat. Perdarahan subdural dengan hilangnya kesadaran yang lama. misalnya Infeksi pada bayi baru lahir/neonatus yang dapat memberikan gejala-gejala kesukaran bernapas (apnea. hanya 40% dapat sembuh sempurna setelah dilakukan fungsi subdural berulang-ulang atau tindakan bedah.

hipotoni.Hepato splenomegali. Penyakit metabolisme (hipoglikemi) yang dapat memberikan kejang letargi. kejang . bradikardi. merintih(expiratory grunting). retraksi sternum dan kosta. muntah dan lainlain. infeksi perinatal pada ibu. Yang agak khas pada infeksi ialah .kejang akibat ketergantungan vitamin B karena ibunya sebelumnya mendapat pengobatan vitamin B dosis tinggi.takipnea.Ikterus. Respiratory distress of the newborn dengan apnea. Biasanya disertai kelainan kongenital lain. Kelainan kongetinal saraf pusat memberikan gejala kejang dan letargi. hipotermi. Untuk membedakan dengan PIN yaitu riwayat persalinan seperti ketuban pecah dini. Kecanduan obat dari ibu. . bayi mula-mula minum baik dan tiba-tiba sukar minum karena trismus dan gejala lain. ketuban keruh/berbau. Dibedakan dengan Perdarahan Intrakranial Neonatus berdasarkan anamnesis dan pengobatan ex juvan. Tetanus neonatorum dengan kejang-kejang. lemah (letargi). TN hampir selalu terjadi pada akhir minggu pertama. sianosis). Selain itu lekositosis. kejang-kejang. Dibedakan dengan Perdarahan Intrakranial Neonatus yaitu gejala gangguan pernapasan dan riwayat .tibus pada bayi.Pneumoni.kejang. fungsi lumbal pada PIN kadang-kadang ada perdarahan. antara lain bayi kejang . dibedakan dengan PIN karena partus tetanus neonatorum umumnya oleh dukun. sianosis. Ibunya penderita DM dan perlu pemeriksaan kadar glukosa darah bayi. .

LABORATORIUM · Pemeriksaan likuor terutama untuk perdarahan subaraknoid dan intraventrikuler/periventrikuler. .persalinan (ibu toksemia. Bila cairan likuor berdarah. diagnosis Perdarahan Intrakranial Neonatus ditegakkan berdasarkan : .pemeriksaan penunjang: CT Scan USG dan foto kepala. sebagai pengobatan (mengurangi tekanan intrakranial) dan untuk mencegah komplikasi hidrose-falus (fungsi lumbal berulang-ulang). prematuritas. seksio sesar.keadaan bayi sesudah lahir dan gejala-gejala yang mencurigakan. Mc Donald dkk mendapat kadar rendah fibrinogen. persalinan. perdarahan antepartum dan lain-lain). gejala-gejala : nerologik. kadar protein meninggi.anamnesis: riwayat kehamilan.pemeriksaan laboratorium: likuor dan darah. . Pada pemeriksaan likuor dapat dijumpai tekanan yang meninggi.pemeriksaan fisik: adanya tanda-tanda PI. · Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan: Ø Tanda-tanda anemi posthemoragik Ø Analisa gas darah (02 dan CO2 ) Ø Gangguan pembekuan darah terutama pada PIN yang non traumatik. Tujuan fungsi lumbal pada PIN untuk diagnostik. . fraktur tulang kepala dan tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial. warna merah/santokrom. dianjurkan CT Scan untuk mengetahui lokalisasi dan luasnya perdarahan. . Lebih jelas. kadar glukose menurun.

Cara ini tidak secara rutin karena biayanya sangat mahal PENATALAKSANAAN Diusahakan tindakan dibatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan/kelainan yang lebih parah . Derajat III & IV umumnya berprognosis buruk. · Pemeriksaan ultrasonografi banyak digunakan. Bayi dirawat dalam inkubator . Ø Derajat III : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel. bila tidak meninggal akan disertai komplikasi berat seperti hidrosefalus. lipatan-lipatan kulit kepala dan mulase. Ø Derajat II : perdarahan intraventrikuler. pada pemeriksaan ulangan 3-4 minggu kemudian biasanya tidak ditemukan kelainan lagi. Ø Derajat I : perdarahan hanya terbatas pada daerah subependimal. · Foto kepala tidak dapat menunjukkan adanya perdarahan. · Dengan computerized tomography (CT Scan) semua jenis. Derajat I & II umumnya ringan.trombosit. Faktor-faktor ini menjadi normal bila keadaan bayi membaik. Ø Derajat IV : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel dengan perluasan ke parenkim otak. Perdarahan Intrakranial Neonatus dapat diketahui. antitrombin III faktor VIII 10. Burstein dkk menentukan derajat perdarahan intraventrikuler sebagai berikut Ø Derajat 0 : tidak ada perdarahan intrakranial. Berdasarkan USG. hanya fraktur yang sukar dibedakan dengan sutura.

7. diuresis lebih dari 1 ml/kgBB/jam menunjukkan fungsi ginjal baik 3.9% 4:1 atau glukosa 5–10%dan Nabik 1. apalagi kalau penderita dalam koma diberikan 02.yang memudahkan observasi kontinu dan pemberian O2. suhu tubuh. denyut nadi dan diuresis. selanjutnya 4 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sambil perhatikan keadaan umum seterusnya.5–1 mg/kgBB/24 jam yang mempunyai efek baik terhadap hipoksia dan edema otak . 6. frekuensi jantung (bradikardi/takikardi). Pemberian obat-obatan : .5 mg/kgBB. Pemberian vitamin K serta transfusi darah dapat dipertimbangkan. kalau berhenti diberikan luminal 10 mg/kgBB (neonatus 30 mg). 5. tunggu 15 menit.3–0. frekuensi pernapasan.Dosis valium 0. Infus untuk pemberian elektrolit dan nutrisi yang adekuat berupa larutan glukosa (5–10%) dan NaCl 0.kortikosteroid berupa deksametason 0. 4 jam kemudian luminal per os 8 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis selama 2 hari. aktivitas motorik. derajat kesadaran. Bayi letak dalam posisi miring untuk mencegah aspirasi serta penyumbatan larings oleh lidah dan kepala agak ditinggikan untuk mengurangi tekanan vena serebral. besarnya dan reaksi pupil. Menjaga jalan napas tetap bebas.5% 4:1. . 2. Perlu diobservasi secara cermat: 1. kalau belum berhenti diulangi dosis yang sama. Diuresis kurang dari 1 ml/kgBB/jam berarti perfusi ke ginjal berkurang.valium/luminal bila ada kejang-kejang. 4.

like massive subdural haemorrhage or spinal cord injury. Pada perdarahan/hematoma subdural. evakuasi hematoma dengan irigasi menggunakan cairan garam fisiologik. anoxia and trauma. 8. It must be emphassied that trauma can be purely mechanical in origin. The injuries that lead to permanent damage range from the immediately obvious. tindakan explorative burrhole dilanjutkan dengan kraniotomi. evakuasi hematoma dan hemostasis yang cermat .. mengeluarkan darah. INTRACRANIAL HAEMORRHAGE There are three important and often interrelated causal factors. Other predisposing factors such as congenital anomalies of the brain or cerebral blood vessels must not be overlooked. Tindakan bedah darurat : Bila perdarahan/hematoma epidural walaupun jarang dilakukan explorative Burrhole dan bila positif dilanjutkan dengan kraniotomi. mental retardation. dilakukan shunt antara ventrikel lateral dan atrium kanan. pembukaan duramater. Fungsi lumbal untuk menurunkan tekanan intrakranial. mencegah terjadinya obstruksi aliran likuor dan mengurangi efek iritasi pada permukaan korteks. terutama bila ada manipulasi yang berlebihan.antibiotika dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. minor brain dysfunction syndromes or even mental illness. The associations between the main types of . through minor degress of intraventricular bleeding or cerebral oedema to those still obscure adverse influences on the brain which result in cerebral palsies. Pada perdarahan intraventrikuler karena sering terdapat obstruksi aliran likuor. namely prematurity.

Subdural taps may be required to drain large collections of blood. Large fatal subdural haemorrhages are now less common and intraventricural haemorrhage is the main form of trauma seen at autopsy (Levene et al 1985). All areas of the brain can be affected. gestational age and precipatiting events are shown in Table 37. cerebral irritation and a bulging anterior fotanelle due to cerebral oedema. precipitate labour. In flexed vertex presentation compression of the head occurs along the occipitofrontal diameter and in a face or brow presentation between vault and skull base (Menkes 1984). residual symptoms may range from none (50-80%) to a hyperalert state and sometimes focal signs with paralysis. Subarachnoid haemorrhage . The soft. causing rupture or thrombosis of engorged dural sinuses and cerebral veins. The tentorium. Excessive overriding of the parietal bones may lead to laceration of the sagittal sinus. or more rarely the falx cerebri.intracranial haemorrhage. cephalopelvic disproportion. usually where the two membranes join. Diagnosis is confirmed by ultra sound examination.in survivors. Types of haemorrhage Subdural haemorrhage This almost exclusively traumatic lesion is seen both at term and preterm (Volpe 1981). excessive compression of the fetal head during labour and forceps manoeuvres are predisposing factors. Supportive treatment is gerared towards controlling the consequences of asphyxia and raised intracranial pressure. Signs of subdural haemorrhage are those associated with severe asphyxia.2. compressible skull of the preterm infant. is stetched and torn.

The condition is suspected at lumbar puncture when the cerebrospinal fluid is uniformly bloodstained. Treatment involves the control of the consequences of asphyxia and the control of convulsions. of birth asphyxia or of the extension of a subependymal haemorrhage (see below). Intraparenchymal haemorrage may be complicated by destruction of cerebral tissue and the formation of porencephalic cysts.This haemorrhage occurs when small amounts of a capillary or venous bleeding take place in the subarachnoid space following mild trauma or asphyxia at delivery. The infant particularly at risk is one for . Intraparenchymal hemorrhage This is bleeding into the cerebral tissue and may be a complication of disseminated intravascular coagulopathy (see above). Hydrocephalus is a complication of subarachnoid hameorrhage and regular measurements of the occipitofrontal circumference should be made and chrted. A subarachnoid haemorrhage does not usually show up on ultrasound scan but a scan should still be perfomed to rule out other types of intracranial hemorrhage. Periventricular-intraventricular haemorrhage This is the mosr common and serious of all intracranial haemorrhages . It is a common cause of death in pteterm infants of less than 32 weeks’ gestation. Sighs include cerebral irritation and convulsions. It often goes undiagnosed as many babies are asymptomatic. of a central nervous system malformation. and optimism for the monger term must be guarded. Ultrasound examination of intracranial structures should be made if hydrocephalus is suspected. Diagnosis is usually made by ultra sound examination and computerized tomography (CT) scan. Trearment is usually symptomatic and aimed at controlling convulsions and cerebral oedema. consequently this form of haemorrhage appears less common than it rally is.

pneumothorax. An intrventicular haemorrhage develops when the subependymal haemorrhage ruptures into the ventricular system.prematurity . The germinal matrix is sometimes called thesubenpendymal layer.hypoxia or hyperkapnia . The stage of brain development in the preterm infant is a crucial factor in the aetiology of the periventricular-intraventricular haemorrhage.whom the delivery has been complicated by asphyxia at trauma and who then develops severe respiratory distress requiring ventilatory support.sevece respiratory distress . The germinal matrix surrounding the ventricles of the premature infant’s brain consists of actively dividing cells. Between about 24 and 32 weeks’ gestation the blood vessels supplying the matrix are very prominent as a large proportion of cerebral blood flows to this vital area. Bleeding usually occurs from rupture of the very fine capillaries around the germinal matrix giving rise to a per ventricular or subependymal haemorrhage. A subependymal haemorrhage can also extend into the cerebral tissue giving rise to a cerebral or intraparenchymal haemorrhage. After 32 weeks’ gestation the matrix becomes less and less prominent and by term has involuted almost completely. Predisposing factors include: .birth asphyxia trauma . .

tonic convulsions . which may well be fatal.poor peripheral circulation . The aim of management is to prevent the occurrence of a major intraventricular haemorrhage. If hemisphere (Fig. the clinical features may include the following: .decerebrate posturing . The majority of extremely low birth weight babies have some degree of haemorrhage which usually appears within a few hours of birth. 19978) it is termed a cerebral or parenchymal haemorrhage.pallor .increasing frequency and severity of apnoeic episodes .the appearance of divergent squinting Intracranial haemorrhage Intracranial haemorrhage may occur in preterm babies even after what has seemed an easy delivery.A small subependymal haemorrhage may have no clinical features. If the subependymal haemorrhage increases or extends. Episodes of hypotension or hypertension may result in intraventricular haemorrhage. Other factors which contribute to intraventicular haemorrhage include the obstruction of intracerebral veins and any abnormaliy in clotting. but it may be possible to prevent . Pretem babies are specially liable to haemorrhage into one of the lateral ventricles of the brain (interavenrtricular haemorrhage). Its occurrence is facilitated by intrauterine hypoxia and by the poor skull ossification and fragile blood vessels.

The results is the development of acute hydrocephalus. The prevention of pneumothoraces is another factor if great importance. that is periventricular laukomalacia which is caused by ischaemia. This includes control of blood pressure. This occurs when the blood in the ventricles clots and obstructs the flow of cerebrospinal fluid. 180). Drugs such as isosorbide and acetazoamide reduce the rate of cerebrospinal fluid production and may thereby reduce hydrocephalus. Perivetricular haemorrhage and laukomalacia (cysts) can be diagnosed by ultrasound scanning (see Fig.further bleeding by pro idling excellent supportive care. If the problem perists. Another cause of long-term problems which is often associated with intraventricular hameorrhage is reduction in the white mater arbund the ventricles. thereby influencing resporation. There is a very high incidence of spastic cerebral palsy associated . and thus emphasize the importance of preventing perinatal hypoxia. disseminated intravascular coagulation and pressure on parts of the brain concerned with the autonomic system. blood pressure and temperature control. Complications of intraventricular haemorrhage include shock. The prevention of asphyxia at delivery and pf respiratory failure at any time is crucial. Weindling et al (1985) suggest that intrapartum events may predispose to the onset of periventricular haemorrhage and leukomalacia. the insertion of ventricular shunts may be necessary. or when the viscosity of the cerebrospinal fluid is altered because it contains debris from the haemorrhage. Active resuscitation of all very low birth weight babies at birth and elective ventilation of most of these babies has proved helpful in reducing this problem. Episodes of deterioration associated with a pneumothorax after lead to the extension of an intraventicular haemorrhage. of blood gases and of coagulation. Regular lumbar puncture may be perfomed to relieve excess pressure.

keterbelakangan mental. Perdarahan Intrakranial Ada tiga hal penting dan faktor penyebab perdarahan intrakranial yaitu prematuritas. sindrom kecil kelainan fungsi otak bahkan mengganggu ingatan. melalui degress kecil dari perdarahan intraventrikuler atau edema serebral yang berpengaruh secara tersembunyi di otak yang menyebabkan stroke. Macam-Macam Perdarahan Perdarahan Subdural Lesi dari trauma dapat dilihat dari masa dan preterm ( Volpe 1981 ) Tengkorak yang lunak.with periventricular cysts (Armstrong and Norman. Hal ini bisa ditekankan bahwa traumamempengaruhi pada pusat. Cidera dapat menyebabkan kerusakan permanen. Faktor predisposisi lainya seperti anomali kongenital dari otak ataupembuluh darah otak tidak boleh diabaikan. CPD (Cephalopelvic Disproportion). anoxia. whereas a small confined periventricular haemorrhage . 1974). Akibat yang fatal dari perdarahan subdural yang kurang umum dan perdarahan intraventrikuler adalah bentuk dari trauma yang dapat di lihat dari otopsi. tekanan yang berlebihan dari kepala janin selama persalinan dan forsep merupakan faktor predisposisi. . dan trauma. seperti perdarahan subdural atau cidera tulang bagian spinal. preterm. Semua area dari otak dapat terpengaruhi.

Gejala sisa mungkin terbentang dari yang tidak ada ( 50%-80% ) ke akibat yang berlebihan dengan kelupuhan. Kondisi ini di duga dari tertusuknya lumbar ketika aliran serebrospinal mengalir. Akibatnya perdarahan lebih sering terjadi.Dalam fleksi. Perdarahan subarachinoid biasanya tidak memperlihatkan pada scan ultrasound tapi scan yang masih harus diteliti dari tipe-tipe perdarahan intrakranial denagn pencegahannya yaitu dengan mengontrol dari akibat asfiksia dan kontrol konvulsi. Tanda-tanda dari perdarahan subdural adalah berhubungan dengan asfiksia. biasanya kedua membran tersebut bergabung menyebabkan rupture atau trobosis dari sinus dural dan pembuluh darah serebral. tekanan presentasi vertek dari kepala terjadi sepanjang diameter occipitofrontalis dan pada presentasi wajah atau kening diantara glabella dan foramen magnum ( MenKes 1984 ) Tentorium atau lebih jarang falx serebri di stetched dan robekan. Perdarahan Subarachnoid Perdarahan ini terjadi ketika sedikitmya jumlah aliran darah dari satu kapiler atau pembuluh darah pada subarachnoid yang mengikuti trauma atau asfiksia. . Dampak yang berlebihan dari tulang parietal tersebut yaitu percabikan dari sinus saginital. Diagnosa ditegakkan dari pengujian ultrasound dan sadap subdural mungkin diperlukan. iritasi otak dan penonjolanfontanel akibat dari odema otak. Hal ini sering tidak terdiagnosa seperti pada bayi yang tanpa gejala. Hidrosefalus adalah komplikasi dari perdarahan subarachnoid dan pengukuran lingkar kepala occipitofrontalis harus dilakukan.

Perdarahan Periventrikuler-Intraventrikuler Merupakan pendarahan yang umum dan serius dari semua pendarahan intrakranial. Perdarahan Intraparensimal Perdarahan ini masuk ke jaringan otak dan dapat menjadi komplikasi pada koagulapati intravasikuler . Pengobatan seperti isosorbit dan asetozolamid dapat mengurangi hasil dari serebrospinal dan mungkin dapat mengurangi hidrosefalus. Hal ini adalah penyebab umum kematian pada bayi preterm yang kurang dari 32 minggu. Penyebab lain dari masalah jangka panjang adalah sering berhubungan dengan perdarahan intraventrikuler adalah . kelahiran dengan asfiksia atau ekstensi dari pendarahan sub epindimal. pemasangan susuk pada ventrikuler. Perdarahan parenteral merupakan komplikasi dari hancurnya jaringan serebral dn formasi dari bisul parencephalik. Pengobatan yang biasanya yang merupakan gejala dan mengontrol gangguan hebat dan oedema pada serebral. Jika perists masalah yang berlebihan. kecacatan pada sistem saraf pusat . mungkin perlu. Lubang lumar kecil bisa dilakukan untuk membebaskan desakan. Tanda-tandanya iritasi pada serebral dan konvulsi. pada bayi terutama dengan resiko yang di persulit dengan asfiksia akibat trauma dan gangguan pernafasan diperlukan ventilasi yang mendukung. Diagnosa biasanya ditegakkan dengan pengujian ultrasound dan CTScan.Pengujian ultrasound dari struktur intrakranial harus dibuat jika diduga hirosefalus.

pengurangannya. . Dengan demikian. Perdarahan periventrikuler dan laukomalacia (bisul) dapat didiagnosa oleh penelitian ultrasound Terdapat insiden yang sangat tinggi dari kelumpuhan kejang cerebral yang menghubungkan dengan bisul periventrikuler. Sedangkan kekecilannya membatasi perdarahan periventrikuler. kepentingan untuk mencegah hipoksia perinatal. Pada bilik jantung yaitu leukomia lacia periventrikuler yang disebabkan oleh iskemia. Weindling et al (1985) menyarankan bahwa peristiwa intrapartum mungkin mempengaruhi ke serangan dari permukaan periventrikuler dan leukomalacia dan tekanan.