Anda di halaman 1dari 4

A .

RIWAYAT KASUS Pada tanggal 15 Mei 2012 telah dilakukan pemeriksaan terhadap hewan babi: Nama pemilik Alamat Nama hewan Signalemen: Breed Sex Age : Ibu Rahayu : Jalan Kadipiro km 1 Jogjakarta : Yorkshire : Yorkshire : Betina : 2,5 tahun

Spesific patern : berwarna putih

B . ANAMNESA Delapan hari yang lalu melahirkan. Diberi pakan sisa (abattoir)

C . STATUS PEMERIKSAAN a. Keadaan umum : ekspresi muka lesu, badan gemuk b. Frekuensi nafas : 48 X per menit c. Frekeunsi pulsus : 82 X per menit d. Panas badan : 39,50C e. Kulit dan rambut : rambut halus mengkilat, putih. Kulit bersih. f. Selaput lendir : konjungtiva merah muda g. Kelenjar limfe : normal, pemeriksaan limfoglandula superficialis tidak ada kebengkakan h. Pernafasan : thoracoabdominal, auskultasi vesikuler (auskultasi pulmo) (normal) i. Peredaran darah : ritmis (systole diastole dapat dibedakan) (normal) j. Pencernaan : k. Kelamin dan perkencingan : vulva bengkak, merah, dan terdapat lender kemerahan l. Saraf : m. Anggota gerak :dapat berdiri dengan keempat kakinya n. Berat badan : 175 kg o. Pemeriksaan laboratorium: feses lunak (normal)

D . PEMBAHASAN Dari hasil inspeksi dilihat ekspresi muka nampak lesu, badan gemuk, badan bersih, karena didukung dengan kandang yang bersih juga. Lalu dilakukan penghitungan frekuensi nafas, pulsus dan suhu. Frekuensi nafas dapat dihitung dengan memperhatikan gerak rongga dada pada saat hewan istirahat, frekuensi nafas babi 48 kali/menit, frekuensi nafas ini termasuk 1

normal sesuai dengan referensi, frekuensi nafas normal babi adalah 32-58 kali/menit. Frekuensi pulsus babi yang didapat 82 kali/menit, menurut referensi hal ini normal. Pulsus babi normal menurut referensi adalah 70-120 kali/menit. Pengukuran suhu tubuh dilakukan dengan meletakkan termometer pada anus sapi, suhu tubuh sapi 39,50C, ini menunjukkan bahwa babitersebut masih dalam keadaan normal, karena kisaran suhu babi normal adalah 38,2oC39,2oC. Tabel Data Fisiologis Jenis Hewan Babi Suhu 38,2oC-39,2oC Pulsus 70-120 bpm Frekuensi Nafas 32-58 kali / menit

Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan kulit dan rambut. Pada pemeriksaan ini terlihat bahwa kulit tidak terdapat ektoparasit, kulit bersih, rambut mengkilat, putih. Pemeriksaan selaput lendir dilakukan dengan memeriksa konjungtiva babi berwarna pink. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan saluran pernafasan. Pemeriksaan paru-parudilakukan dengan auskultasi. Pada pemeriksaan ini diketahui pedet mengeluarkan suaravesikuler dengan tipe gerakan pernapasan thoracoabdominal. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan peredaran darah. Pemeriksaan dilakukan didaerah pekak jantung, saat diauskultasi suara sistole dan diastole dapat dibedakan (ritmis). Hal ini menunjukkan bahwa jantung, terutama katup jantung, tidak mengalami gangguan sehingga jantung terdengar ritmis, selain itu tidak terdengar suara-suara abnormal saat auskultasi. Dari pemeriksaan ini dibandingkan dengan literatur (Subronto, 2004) diketahui bahwa fungsi jantung normal. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan saluran pencernaan. Hal yang dilakukan pertama adalah memriksa area mulut untuk mengetahui ada tidaknya lesi dan ternyata normal, setelah itu palpasi esophagus dan tampak normal karena tidak adanya efek kesakitan saat dipalpasi. Langkah selanjutnya yakni mendengarkan gerakan peristaltik dengan cara auskultasi. Terdengar gerakan peristaltik yang seirama. Anus babi terlihat bersih, Hal ini menandakan bahwa babi tidak mengalami diare. Berdasarkan Subronto (2004), tidak terdengar suara apapun selain gerakan usus menandakan bahwa di usus tidak ada akumulasi gas atau ada gangguan di dalamnya. Berdasarkan Subronto (2004), pada kasus cacingan konsentrasi feses lunak. Sedangkan pada praktikum feses tampak normal (tidak lembek/tidak keras). Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kelamin dan perkencingan (urogenital), yaitu bersih, mukosa vulva bengkak kemerahan, dan terdapat lendir berwarna merah, urin kuning encer. Selanjutnya diilakukan pemeriksaan saraf. Reflek palpebra dengan cara menggerakkan tangan ke arah mata pedet, pedet menggerakan kelopak matanya. Pada pemeriksaan anggota gerak, dari 2

hasil inspeksi terlihat pedet berdiri tegak dengan keempat kakinya dan tidak bertumpu pada salah satu kakinya.

E . DIAGNOSA Diagnosa diambil berdasarkan anamnesa, pemeriksaan kondisi umum, dan gejala klinis. Hewan mengalami Metritis Post Partus.

Metritis Post Partum Merupakan radang pada uterus sesaat setelah melahirkan, kejadiannya biasanya akut, atau pada minggu pertama postpartus. Kejadian ini sering terjadi karena adanya kontaminasi dari agen infeksi oportunis yang memanfaatkan kelemahan induk untuk menginvasi ke dalam saluran reproduksi babi. Karena kejadian ini akut, maka hewan dapat merecovery dengan sendiri terhadap infeksi tersebut terutama pada saat masa puerpurium. Namun, jika invasi bakteri melebihi batas minimum infeksi, babi akan menimbulkan gejala yang lebih parah, oleh karena itu harus ditangani secara cepat. Jika tidak, babi dapat menimbulkan gejala dysagalactia syndrome.

F . PROGNOSA Fausta

G . TERAPI BETAMOX 7,5 ml Mengandung 150 mg/ml Amoxicillin. Kegunaan: merupakan antibiotic spectrum luar, penicillin semi-sintetik, untuk melawan bakteri gram negative seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Proteus species, Salmonella species, Staphylococci and Streptococci. Dan juga memberikan perlindungan jangka panjang, agar tidak terjadi infeksi sekunder.

HEMADEX 2,5 cc Komposisi Tipa ml mengandung : Iron Dextran 100 mg carbonyl iron 60 mg, folic acid 500 mcg, vitamin b12 6 mcg, zinc sulphate 11 mg. Kegunaan Untuk menangani anemia pada semua hewan akibat kekurangan zat besi, karena pakan yang kurang baik, infeksi parasit maupun penyakit infeksius. 3

Membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta membuat tubuh resisten terhadap penyakit infeksi.

ADE 3 cc Guaranteed Analysis VITAMIN A (MIN.) VITAMIN D3 (MIN.) VITAMIN E (MIN.) Per ml 50,000 IU 5,000 IU 50 IU Per 1L 50,000,000 IU 5,000,000 IU 50,000 IU

Kegunaan: Water soluble vitamin A, D, and E digunakan untuk mencegah defisiensi vitamin pada unggas, sapi, domba, babi, dan kuda. SARAN Kondisi tersebut dapat diantisipasi untuk memaksimalkan tujuan pemeliharaan ternak dengan memperhatikan beberapa faktor diantaranya : Seleksi genetik pada babi yang akan dipelihara Manajemen pakan yang baik sehingga memaksimalkan pertumbuhan sehingga

memaksimalkan produksi ternak dan mendukung kesuburan saluran reproduksi, karena jika terus menerus diberi pakan abatoir, dapat memicu kejadian zoonosis pada manusia. Didukung dengan pemberian ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak dan terpenuhi nilai-nilai gizinya. Apabila hal-hal tersebut dilaksanakan dengan baik, tidak menutup kemungkinan untuk menghasilkan produksi ternak yang maksimal dan hewan ternak akan sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, D.G. 2005. The Merck Veterinary Manual. Whitehouse Station NJ : USA Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Universitas Gadjah Mada Press : Yogyakarta Subronto dan Tjahajati, I. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II . Gadjah Mada University Press : Yogyakarta