Anda di halaman 1dari 7

Program rehabilitasi kerja Proses industrialisasi telah mendorong tumbuhnya industri di berbagai sektor dengan menerapkan berbagai teknologi

dan menggunakan bermacam-macam bahan. Hal ini mempunyai dampak khususnya terhadap tenaga kerja berupa risiko kecelakaan dan penyakit. Untuk mengurangi/mencegah dampak tersebut perlu dilaksanakan syarat keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja. Demikian pula pada pihak erusahaan wajib memberikan pengobatan, perawatan atau memberi kompensasi (misalnya melalui Jamsostek) bagi pekerja bila terjadi kecelakaan atau penyakit akibat kerja, termasuk juga upaya rehabilitasi. Banyak tenaga kerja yang setelah sembuh dari kecelakaan atau penyakit akibat kerja tidak dapat berfungsi kembali dengan aktivitas semula atau tidak dapat bekerja kembali. Keadaan ini dapat merugika tenaga kerja itu sendiri, demikian pula perusahaan akan kehilangan tenaga kerja yang terampil. Untuk itu maka perlu dilakukan rehabilitasi, khususnya rehabilitasi kerja.

DEFINISI, MAKSUD , DAN KEUNTUNGAN REHABILITASI KERJA Menurut The national Council on Rehabilitation, rehabilitasi didefinisikan sebagai proses pemulihan dari ketidakmampuan/ kecacatan sehingga seseorang dapat berfungi kembali secara mental, sosial, keterampilan bekerja dan ekonomi (Hipkins, et al 1983:135). Rehabilitasi kerja (occupational rehabiitation) menekankan proses pemulihan dari aspek pekerjaan, yaitu proses pemulihan seseorang dari kecelakaan atau penyakit untuk dapat bekerja kembali baik di tempat kerja semula atau di tempat kerja baru sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Rehabilitasi kerja merupakan bagian dari upaya rehabilitasi medik dilakukakn dengan maksud untuk mengurangi biaya kompensasi dan memperbiki berfungsinya kembali tenaga kerja sehingga mengurangi hilangnya waktu kerja.

Rehabilitasi kerja dapat menguntungkan baik bagi pengusaha maupun tenaga kerja yang bersangkutan. Keuntungan rehabilitasi kerja di pihak pengusaha adalah mengurangi biaya kompensasi, mengurangi hilangnya waktu kerja (lower absenteism), mengurangi biaya dalam merekrut, menyeleksi dan mengganti tenaga kerja, memperbaiki kondisi hubungan industrial, dan meningkatenaga kerjaan citra perusahaan. Sedangkan keuntungan bagi tenaga kerja antara lain : terhndarnya dari pemutusan hubungan kerja, hilangnya kecemasan, meningkatnya rasa percaya diri akibat cacat atau penyakityang diderita, dan dampak dalam kehidupan sosial dapat diatasi.

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM REHABILITASI KERJA Penanganan rehabilitasi kerja merupkan penanganan komperhensif yang melibatkan berbagai profesi baik medis maupun non medis, seperti dokter dan paramedis, tenaga pendidik, petugas sosial, pengurus perusahaan, organisasi pekerja, tenaga kerja yang bersangkutan, dan keluarga. Di negara maju atau di perusahaan besar peran dan tanggung jawab perusahaan, tenaga kerja, organisasi pekerja, sudah dijabarkan dalam kebijaksanaan perusahaan sehingga akan memberikan kejelasan pada berbagai pihak yang terlibat dalam rehabilitasi kerja. Berikut ini rincian peran dan tanggung jawab dalam rehabilitasi kerja di perusahaan. Perusahaan Menjamin keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerjanya dengan mengasuransikan tenaga kerjana terhadap kecelakaan dan peyakit Melaksanakan program rehabilitasi sehingga tenaga kerja dapat bekerja kembali, dan sedapat mungkin menghindari PHK akibat kecelakaan dan penyakit

Memonitor kesehatan dan perkembangan dari tenaga kerja yang kembali bekerja setelah mengalami rehabilitasi untuk mencega akibat yang buruk akibat pekerjaan yang dilakukannnya

Memberikan keringanan dalam tugas dan jam kerja pada tenaga kerja yang memunyai keterbatasan secara medis Membantu dalam pembiayaan bagi tenaga kerja yang sedang dirawat termasuk penyelesaian dengan pihak asuransi

Tenaga kerja Bertanggung jawab untuk mencegah perilaku kerja yang membahayakan diri sendiri dan orang lain Melaporkan setiap kecelakaan dan mengajukan kompensasi Berpartisipasi dalam program rehabilitasi di tempat kerjanya Bekerja sama dalam melakukan kembali bekerja Organisasi tenaga kerja / serikat pekerja Mendukung perusahaan dan tenaga kerja dalam melaksanakan mutasi kerja bagi tenaga kerja yang

kebijaksanaan dan program rehabilitasi Memberikan pendapat berkaitan daengan program rehabilitasi kerja bila diminta oleh tenaga kerja atau perusahaan Membantu mendorong pihak yang terlibat agar berpartisipasi dalam program rehabilitasi Dokter perusahaan Menentukan diagnosa kecelakaan / penyakit Membantu menyusun program rehabilitasi Melakukan evaluasi medis terhadap tenaga kerja setelah kembali bekerja Bekerjasama dengan dokter yang merawat/ mengobati

Pemerintah ;

Mengeluarkan

ketentuan/

kebijaksanaan

yang

berkaitan

dengan

rehabilitasi dalam rangka melindungi tenaga kerja, antara lain yang tertuang dalam: UU No 3 tahun 1992 tentang Jamsostek PP No 14 tahun 1993 tentang Penyelanggaraan Program Jamsostek UU No 4 tahun 1997 (pasal 14) tentang Kesempatan Kerja bagi Penyandang Cacat PP No 43 tahun 1998 (pasal 28) tentang Kewajiban

Mempekerjakan Penyandang Cacat Permen 03 tahun 1996 (pasal 2) tentang dilarangnya PHK selama tenaga kerja berhalangann karena sakit Mengawasi ditaatinya pelaksanaan peraturan yang berkaitan dengan hal tersebut diatas Mendukung setiap langkah yang dilakukan oleh perusahaan dalam proses rehabilitasi dan mengupayakan kemudahan dalam koordinasi pelaksanaan program ( misalnya rujukan untuk rumah sakit/ lembaga rehabilitasi/ balai latihan kerja milik pemerintah, dsb)

UPAYA PROGRAM REHABILITASI KERJA Program rehabilitasi kerja ditujukan kepada tenaga kerja yang mengalami

kecelakaan/ sakit agar mereka dapat pulih kembali untuk bekerja dan mempetahankan fungsinya semula, atau paling tidak dapat melkukan fungsinya sesuai kemampuan yang dimilikinya setelah mengalami kecelakaan/sakit. Penentuan pulihnya kondisi keshatan ini dilakukan oleh dokter yang merawat tenaga kerja tersebut (melalui medical certificate) yang menyatakan kondisi tenaga kerja untuk melakukan : pekerjaan/ tugas normalnya, atau dibatasi untuk pekerjaan tertentu, atau disarankan suatu pekerjaan alternatif, yaaitu pekerjaan lain yang berbeda dengan pekerjaan semula yang dianggap sesuai atau dinyatakan belum pulih kondisinya.

Upaya yang perlu dilakukan dalam rehabilitasi kerja meliputi beberapa program : Evaluasi Setelah dinyatakan pulih kesehatannya dan telah dilakukan erawatan untuk menurangi kelainan (impairment), ketidakmampuan (disability), dan kecacatan (handicap), maka perlu dilakukan evaluasi dari kemempuan, kecakapan, keterampilan, potensi, dan motivasi dari tenaga kerja yang bersangkutan. Sehingga akan memberikan kemudahan dalam

menempatkan pada pekerjaan yang sesuai. Bimbingan/ konseling Bimbingan ini bertujuan untuk memberikan arahan mengenai pekerjan yang mungkin dilakukan dan sesuai dengan kondisi tenaga kerja yang bersangkutan serta kemungkinan kesempatan/peluang kerja yang tersedia. Pelatihan Pada tenaga kerja yang mengalami cacat/ketidakmampuan sebagai akibat kecelakaan atau penyakit, perlu diberikan peatihan untuk mempersiapkan tenaga kerja terebut beradaptasi pada pekerjaan semula atau pada jenis pekerjaan lain yang memerlukan keterampilan khusus. Penempatan Penempatan tenaga kerja pada pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya merupakan hal penting dalam proses rehabilitais, karena hal tersebut juga mempengaruhi keberhasilan tenaga kerja dalam melaksanakan tugasnya. Penempatan tenaga kerja setelah rehabilitasi ditentukan antara lain oleh kemampuan tenaga kerja, jenis dan sifat pekerjaan, kesesuaian antara keterampilan dan pekerjaan. Jika sudah tidak memungkinkan bagi tenaga kerja untuk bekerja di tempat semula, maka perlu dilakukan mutasi sehingga dihindari terjadinya PHK, yaitu memindahkan tenaga kerja pada tempat kerja/pekerjaan yang sesuai.

EVALUASI PROGRAM REHABILITASI

Pelaksanaan program rehabilitasi ini perlu dievaluasi untuk menilai efektifitas program yang telah dilaksanakan. Hasil evaluasi tersebut akan memberikan masukan bagi pihak manajemen dalam merencanakan program rehavilitasi kerja yang lebih efektif. Berikut ini adalah contoh variabel yang perlu dipertimbangkan dalam mengevaluasi program rehabilitasi kerja 1. Hasil Berapa presentase kasus rehabilitasi kerja yang dapat kembali bekerja? Apakah program rehabilitasi kerja yang telah dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai? 2. Kualitas Lamanya waktu tenaga kerja dapat bertahan pada pekerjaan yang diberikan seteah mengalami rehabilitasi Kepuasan tenaga kerja terhadap program rehabilitasi yang telah dijalaninya Kepuasan tenaga kerja terhadap pekerjaannya setelah direhabilitasi Kepuasan pihak supervisor/manajer dengan proses dan hasil rehabilitasi 3. Efisiensi Waktu yang hilang sejak terjadinya kecelakaan/ penyakit hingga tenaga kerja bekerja kembali Jumlah biaya yang dikeluarkan dalam program rehabilitasi Lamanya program rehabilitasi Biaya yang dikeluarkan dalam pengobatan atau perawatan medis Jumla gaji yang dibayarkan selama pekerja tidak bekerja

KENDALA

DALAM

MENCAPAI

KEBERHASILAN

PROGRAM

REHABILITASI KERJA Pada dasarnya perusahaan wajib mempekerjakan tenaga kerjanya kembali setelah pulih kesehatannya akibat kecelakaan/penyakit sampai batas waktu yang ditentukan oleh peraturan. Namun, tidak semua tenaga kerja yang mengalami

kecelakaan/sakit dapat pulih keadaanya untuk dapat bekerja kembali. Kendala bagi tenaga kerja untuk kembali bekerja dapat berasal dari tenaga kerja itu sendiri atau faktor lain. 1. Faktor yang bersumber dari tenaga kerja (personal factors): Tingkat keparahan kecelakan/penyaki, sehingga tenaga kerja memang sudah tidak mungkin kembali bekerja Umur tenaga kerja sudah tidak memungkinkan lagi (menjelang pensiun), sehingga tidak sebanding dengan nilai investasi yang dikeluarkan perusahaan bila dilakukan rehabilitasi Keterampilan yang dimiliki tidak sesuai dengan pekerjaan semula dan peuang kerja memang sangat terbatas Psiko-sosial-kecemasan, rasa tidak percaya diri dan rendahnya motivasi untuk kembali bekerja 2. Faktor lain (external factors) Situasi perusahaan yang tidak mendukung tenaga kerja untuk kembali bekerja Pesangon/kompensasi yang ditawarkan bila tidak bekerja leih menguntungkan Diagnosis dan perawatan yang tidak tepat menghambat pemulihan tenaga kerja untuk dapat kembali bekerja Situasi ekonomi yang tidak menguntungkan dan tingginya angka pengangguran menghambat tenaga kerja yang kemampuannya terbatas untuk berkompetisi.